📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 16 dokumenPENATAAN KAWASAN TRANSIT RAMAH PEJALAN KAKI DI STASIUN BANDUNG-KEBON KAWUNG-PASIRKALIKI
Kawasan transit Stasiun Bandung berperan sebagai simpul transportasi publik yang strategis, namun saat ini menghadapi persoalan dalam menyediakan lingkungan yang ramah pejalan kaki. Penelitian ini bertujuan merumuskan arahan penataan kawasan transit yang ramah pejalan kaki di Stasiun Bandung–Kebon Kawung– Pasirkaliki. Pendekatan yang digunakan mengintegrasikan delapan indikator komponen Walk dan Connect dari ITDP TOD Standard 3.0 dengan analisis konfigurasional space syntax (segment integration dan segment choice) sebagai pendekatan komplementer. Hasil pengukuran menunjukkan ketidakselarasan sistematik kawasan studi. Komponen Connect mencapai skor agregat 88,89% (kategori sangat baik) yang menandakan kerangka jaringan permeabel, sementara komponen Walk berada pada skor 0% yang menandakan defisit menyeluruh kondisi mikro infrastruktur pejalan kaki. Analisis space syntax mengungkap struktur konfigurasional berupa "bingkai kotak" empat koridor utama (Pajajaran, Otto Iskandardinata, Kebon Jati–Suniaraja, dan Pasirkaliki) yang dilengkapi "poros tunggal" Pasirkaliki, serta ketidakselarasan konfigurasional Stasiun Bandung dengan kerangka utama kawasan. Sintesis lintas-pendekatan menghasilkan klasifikasi empat kategori peran segmen sebagai dasar prioritisasi penataan, yaitu Koridor Utama Konfigurasional, Zona Pengaruh Stasiun, Koridor Penghubung Sekunder, dan Jaringan Kapiler Permukiman. Penelitian ini memberikan kontribusi metodologis berupa integrasi pendekatan ITDP TOD Standard dengan space syntax, dan kontribusi substantif berupa diagnosis kawasan transit kolonial Indonesia: kawasan tidak menderita ketiadaan modal struktural, melainkan kegagalan mengaktualkan modal yang sudah tersedia menjadi pengalaman pejalan kaki yang nyata.
PERANCANGAN BUS LISTRIK MEDIUM LOW FLOOR UNTUK AKSESIBILITAS DAN MOBILITAS INKLUSIF PENGGUNA KURSI RODA DI BANDUNG RAYA
Transformasi menuju transportasi publik yang berkelanjutan melalui pengembangan bus listrik di berbagai kota Indonesia membuka peluang untuk meningkatkan aksesibilitas mobilitas perkotaan. Namun, desain bus perkotaan yang ada masih belum sepenuhnya mendukung kebutuhan pengguna kursi roda, terutama pada aspek kemudahan naik–turun kendaraan, ruang manuver, dan stabilitas tubuh selama berada di dalam bus. Penelitian ini bertujuan untuk merancang bus listrik medium low floor yang lebih inklusif dengan mempertimbangkan interaksi antara desain ruang kendaraan, gerakan tubuh pengguna, serta alur aktivitas saat mengakses bus. Metode penelitian menggunakan pendekatan campuran yang meliputi studi literatur, observasi lapangan pada beberapa kota, kuesioner pengalaman penumpang, wawancara pengguna kursi roda, proses perancangan desain, serta pengujian mockup skala 1:1 menggunakan analisis biomekanika tubuh dan evaluasi persepsi partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ramp yang lebih landai, ruang manuver yang lebih luas, serta penataan elemen interior yang ergonomis mampu meningkatkan performa aksesibilitas secara signifikan, ditunjukkan oleh peningkatan efisiensi waktu aktivitas dengan penurunan berkisar antara sekitar 30% hingga hampir 50%, pengurangan beban biomekanika tubuh sebesar sekitar 45–50%, serta peningkatan stabilitas gerakan pengguna. Pengujian mockup juga menunjukkan peningkatan signifikan pada keberhasilan aktivitas naik ramp, serta persepsi pengguna yang lebih positif terhadap aspek keamanan, kemudahan, dan kemandirian. Penelitian ini menegaskan bahwa desain bus yang inklusif tidak hanya bergantung pada penyediaan fasilitas aksesibilitas, tetapi pada integrasi antara ergonomi tubuh, stabilitas gerakan, dan rangkaian aktivitas pengguna. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan perancangan berbasis biomekanika dan aktivitas pengguna dapat menjadi dasar dalam pengembangan desain bus perkotaan yang lebih aksesibel, efisien, dan inklusif di Indonesia.
PENGARUH TRANSPORTASI PUBLIK DALAM PENGEMBANGAN DAYA TARIK WISATA PERKOTAAN (STUDI KASUS : KAWASAN KOTA TUA, PROVINSI DKI JAKARTA)
Transportasi publik memiliki peran strategis dalam mengatasi permasalahan aksesibilitas yang ditimbulkan oleh kemacetan lalu lintas, sekaligus mendorong pengembangan pariwisata perkotaan yang berkelanjutan. Penerapan kebijakan Low Emission Zone di Kawasan Kota Tua Jakarta merupakan langkah strategis untuk mengintegrasikan mobilitas rendah emisi dengan peningkatan kualitas pengalaman wisatawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi wisatawan terhadap aksesibilitas transportasi publik, menganalisis pengaruhnya terhadap tingkat kepuasan kunjungan, serta menelaah persepsi manfaat kebijakan Low Emission Zone dari sudut pandang pengelola kawasan dan pelaku usaha lokal. Pendekatan penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods), yang mencakup analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) melalui pendekatan network analysis dengan model service area, survei kuantitatif terhadap 438 responden wisatawan, serta wawancara mendalam terhadap 10 informan kunci. Data kuantitatif dianalisis menggunakan analisis faktor eksploratori dan regresi linier, sedangkan data kualitatif diolah melalui teknik reduksi dan kategorisasi tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BRT berperan sebagai simpul transportasi utama dalam mendukung aksesibilitas kawasan wisata. Persepsi positif wisatawan terhadap aksesibilitas transportasi publik terbukti secara signifikan meningkatkan tingkat kepuasan kunjungan. Selain itu, kebijakan Low Emission Zone memberikan dampak positif berupa manfaat sosial dan ekonomi yang dirasakan oleh pengelola kawasan serta pelaku usaha lokal. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi pendekatan spasial dan berbasis persepsi dalam menilai dampak kebijakan lingkungan terhadap sistem pariwisata perkotaan. Temuan ini memberikan kontribusi konseptual dan praktis dalam pengembangan teori dan kebijakan pariwisata berkelanjutan berbasis integrasi transportasi publik.
ANALISIS FREKUENSI DAN TARIF TERHADAP RIDERSHIP PADA ANGKUTAN UMUM (STUDI KASUS: METRO JABAR TRANS KORIDOR 4D)
Tingginya ketergantungan masyarakat Kota Bandung terhadap kendaraan pribadi yang mencapai 95% dari total perjalanan menyebabkan kemacetan lalu lintas yang parah dan penurunan kualitas mobilitas perkotaan. Sebagai solusi transportasi publik, Metro Jabar Trans (MJT) hadir melalui skema Buy The Service (BTS). Namun, Koridor 4D masih menunjukkan tingkat keterisian (ridership) yang rendah, dengan rata-rata hanya 39 penumpang per bus per hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan mengoptimalkan frekuensi (headway) serta struktur tarif pada Koridor 4D MJT guna meningkatkan jumlah penumpang. Pendekatan yang digunakan adalah pemodelan transportasi makroskopis dengan bantuan perangkat lunak EMME. Data utama yang digunakan meliputi Matriks Asal Tujuan (MAT) Bandung Raya tahun 2022, data operasional MJT, dan jaringan transportasi eksisting. Melalui pemodelan skenario dan evaluasi kinerja, hasil penelitian menunjukkan bahwa penyesuaian headway dan tarif secara signifikan dapat meningkatkan jumlah penumpang dan efisiensi operasional. Skenario dengan headway 10 menit dan tarif tetap sebesar Rp5.000 terbukti paling ideal dalam meningkatkan ridership serta menyelaraskan layanan dengan kebutuhan mobilitas masyarakat Kota Bandung. Penelitian ini merekomendasikan strategi pengelolaan layanan yang lebih responsif terhadap permintaan aktual, terutama melalui pendekatan perencanaan berbasis operator.
STUDI KARAKTERISTIK PENGGUNA REGULER DAN NONREGULER LAYANAN BUS DI KOTA BANDUNG
Kota Bandung menghadapi tantangan transportasi publik akibat kepadatan penduduk, dominasi kendaraan pribadi, dan tingginya penggunaan transportasi daring, yang menjadikannya kota termacet di Indonesia. Meski layanan bus telah tersedia di Kota Bandung, minat masyarakat terhadap penggunaannya masih rendah dengan tingkat keterisian bus yang jauh di bawah standar. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik dan preferensi minat masyarakat dalam menggunakan layanan bus di Kota Bandung berdasarkan kategori pengguna reguler dan non-reguler, sebagai dasar perbaikan layanan transportasi publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis crosstab untuk melihat karakteristik pengguna dan pola perjalanannya, serta Confirmatory Factor Analysis (CFA) untuk menentukan faktor-faktor yang memengaruhi minat masyarakat dalam menggunakan layanan bus. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan karakteristik signifikan antara pengguna reguler dan non-reguler, terutama terkait domisili, persepsi jarak halte, dan moda menuju halte. Pengguna reguler lebih menganggap halte dekat dan mudah diakses, sementara pengguna non-reguler merasa halte jauh sehingga bergantung pada transportasi online. Perbedaan karakteristik ini turut memengaruhi preferensi masing-masing kelompok. Namun, Faktor keandalan operasional, seperti ketepatan waktu dan kapasitas bus, menjadi prioritas utama kedua kelompok.
ANALISIS PEMILIHAN MODA TRANSPORTASI PADA RUSUN ASN PUPR PASAR JUMAT SEBAGAI HUNIAN BERBASIS TOD
Pembangunan Rumah Susun Perkotaan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah dan ASN merupakan Proyek Prioritas Strategis Kementrian PUPR di Tahun 2020- 2024. Salah satu rusun yang telah dibangun adalah Rusun ASN PUPR Pasar Jumat yang berlokasi di Kelurahan Pondok Pinang, Kecamatan Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan. Rusun ASN PUPR Pasar Jumat merupakan hunian berbasis Transit Oriented Development (TOD), dengan tujuan utama untuk mendorong penggunaan transportasi publik. Meskipun demikian, kepemilikan kendaraan pribadi penghuni rusun masih tinggi, serta sebagian penghuni menggunakan transportasi online. Maka dari itu perlu dilakukan penelitian terkait preferensi penghuni rusun dalam memilih moda transportasi yang digunakan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemilihan moda penghuni rusun dalam perjalanan menuju Kantor Kementerian PUPR di Jl. Pattimura, Jakarta Selatan. Data dikumpulkan melalui survei sosioekonomi dan stated preference, kemudian dianalisis dengan Model Multinomial Logit (MNL) menggunakan RStudio dan paket Apollo, dengan MRT sebagai moda acuan. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa waktu tempuh, biaya perjalanan, dan kondisi cuaca berpengaruh signifikan terhadap pemilihan moda. Selain itu, jumlah anggota keluarga berpengaruh terhadap pemilihan moda mobil dan motor, sementara kepemilikan motor memengaruhi pemilihan moda motor. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa moda MRT sensitif terhadap perubahan moda lain, di mana kenaikan waktu tempuh dan biaya perjalanan moda lain akan meningkatkan probabilitas pemilihan MRT. Temuan ini menekankan pentingnya pengembangan layanan MRT yang efisien, integrasi antarmoda yang nyaman dan aman, serta strategi non-infrastruktur dalam mendorong peralihan ke transportasi publik.
POTENSI PENGEMBANGAN KAWASAN BERBASIS TRANSIT DI TITIK STASIUN SEPANJANG KORIDOR LRT JABODEBEK RUTE DUKUH ATAS – JATIMULYA (BEKASI LINE)
LRT Jabodebek Rute Bekasi Line (Dukuh Atas – Jatimulya), merupakan salah satu alternatif transportasi umum dengan jalur strategis untuk mendukung mobilitas masyarakat dari pusat kota Jakarta menuju kawasan penyangga dengan fokus permukiman di Kota Bekasi maupun sebaliknya demi menekan angka kemacetan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar. Penelitian ini juga dilatarbelakangi oleh strategi pengembangan tata ruang DKI Jakarta dan Kota Bekasi yang menekankan pentingnya integrasi transportasi publik dengan guna lahan maupun kawasan sekitarnya atau yang dikenal dengan kawasan berbasis transit/transit-oriented development (TOD). Namun, saat ini belum terdapat lokasi stasiun LRT yang secara spesifik ditetapkan sebagai kawasan berbasis transit, sehingga diperlukan identifikasi potensi pengembangannya. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan karakteristik masing-masing stasiun beserta guna lahan di sekitarnya, serta mengidentifikasi stasiun yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan berbasis transit. Pendekatan deskriptif kuantitatif merupakan metode yang digunakan pada penelitian ini dengan analisis evaluatif terhadap prinsip pemenuhan kawasan transit, yaitu walk, cycle, transit, mix, dan densify. Hasil analisis menunjukkan bahwa Stasiun LRT Dukuh Atas, Bekasi Barat, dan Rasuna Said memiliki potensi tertinggi dalam pengembangan kawasan transit, terutama dari prinsip mix (campuran guna lahan) dan densify (kepadatan kawasan). Namun, prinsip walk dan cycle masih rendah akibat infrastruktur pejalan kaki dan jalur sepeda yang kurang memadai. Berdasarkan temuan tersebut, rekomendasi yang dapat diberikan, yaitu peningkatan konektivitas infrastruktur pejalan kaki dan jalur sepeda, serta dorongan pengembangan kepadatan kawasan di sekitar stasiun. Upaya ini dimaksudkan untuk mewujudkan kawasan berbasis transit yang mendukung mobilitas berkelanjutan di wilayah Jabodetabek terutama koridor LRT Jabodebek – Bekasi Line.
EVALUASI KELAYAKAN AKSESIBILITAS JALUR PENGHUBUNG ANTARMODA DI KAWASAN PUMPUNAN MODA DUKUH ATAS
Transportasi publik memiliki peran penting dalam kegiatan mobilisasi yang dilakukan oleh masyarakat perkotaan. Salah satu pengembangan prasarana yang dapat dilakukan untuk mendukung kebutuhan tersebut adalah dengan melakukan pengembangan kawasan pusat simpul transportasi publik. Untuk memudahkan masyarakat melakukan perjalanan, kawasan pusat transportasi publik harus terintegrasi dari berbagai aspek agar perjalanan dapat dilakukan dengan mudah dan murah. Salah satu kawasan pusat transportasi publik dengan tingkat aktivitas tertinggi di Jakarta adalah Kawasan Pumpunan Moda Dukuh Atas yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat yang merupakan salah satu koridor jalan utama lokasi aktivitas ekonomi Indonesia. Kawasan ini memiliki enam simpul transportasi publik yang melayani lima moda transportasi dan rute yang berbeda. Agar kawasan dapat mengakomodasi kebutuhan transfer antarmoda dengan layak, kawasan harus memiliki konektivitas, integrasi, dan aksesibilitas yang baik. Masalah integrasi yang terdapat di kawasan ini berkaitan dengan aksesibilitas jalurjalur yang digunakan pengguna untuk melakukan perpindahan antarmoda. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui kelayakan aksesibilitas fasilitas jalur penghubung antarmoda Kawasan Pumpunan Moda Dukuh Atas untuk mengakomodasi kawasan tersebut sebagai pusat integrasi transportasi publik berdasarkan kriteria dan indikator perancangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mixed-methods yang menggabungkan antara metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Kriteria dan indikator perancangan diperoleh melalui tinjauan literatur dan studi kasus dari berbagai praktik yang sudah dilakukan sebelumnya. Dari studi tersebut, diperoleh lima kriteria perancangan yang harus dipenuhi agar kawasan dan fasilitas ini memiliki aksesibilitas yang layak, yaitu visibilitas, kenyamanan, keamanan, sirkulasi vertikal, dan wayfinding dan signage. Kelima kriteria ini diturunkan kembali menjadi sebelas komponen dan 45 indikator yang digunakan untuk menilai aksesibilitas pada fasilitas eksisting. Hasil penilaian digunakan untuk mengetahui kelayakan aksesibilitas dari lima jalur yang digunakan masyarakat untuk melakukan perpindahan moda di Kawasan Pumpunan Moda Dukuh Atas. Berdasarkan skor yang diperoleh, kriteria perancangan dengan kualitas yang paling sesuai dengan indikator yang ditetapkan secara berurutan adalah wayfinding dan signage, diikuti dengan visibilitas, kenyamanan, sirkulasi vertikal, dan keamanan.
TATA KELOLA DINAMIS: OPTIMALISASI KEBIJAKAN SUBSIDI ANGKUTAN UMUM DENGAN TARIF BERBASIS JARAK STUDI KASUS: LRT JABODEBEK PT KERETA API INDONESIA (PERSERO)
Masalah transportasi di wilayah Jabodebek, khususnya kemacetan, telah menjadi tantangan utama bagi mobilitas masyarakat. Kemacetan di Jakarta disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain keterbatasan jalan, ketergantungan pada kendaraan pribadi, dan meningkatnya jumlah kendaraan. Sebagai solusi, pemerintah Indonesia mengembangkan proyek LRT Jabodek dengan tujuan mengurangi kemacetan dan mengurangi ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi. LRT Jabodek mengintegrasikan teknologi Communication Based Train Control (CBTC) dan sistem operasi GoA 3 (tanpa pengemudi), serta menghubungkan kawasan strategis seperti Bekasi, Dukuh Atas, dan Cibubur dengan panjang total 44 km. Proyek ini juga terhubung dengan moda transportasi lain seperti KRL, BRT Transjakarta, dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Namun, proyek ini menghadapi berbagai hambatan, seperti pembebasan lahan, dampak pandemi COVID-19, dan keterlambatan konstruksi yang mengakibatkan penundaan operasional dari yang seharusnya pada 2019 menjadi 2023. Selain itu, proyek ini mengalami cost overrun sebesar Rp 2,6 triliun, yang berpotensi mempengaruhi kinerja keuangan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Untuk memastikan kelayakan finansial proyek, pemerintah memberikan subsidi yang bertujuan untuk mengurangi beban biaya operasional yang harus ditanggung oleh KAI. Penelitian ini mengusulkan penerapan sistem tarif berbasis jarak yang lebih mencerminkan biaya sesungguhnya dan memberikan fleksibilitas kepada penumpang untuk memilih perjalanan yang efisien. Selain itu, penelitian ini juga menekankan pentingnya sistem tarif berbasis zona, yang lebih sesuai dengan pola perjalanan penumpang dan memberikan lebih banyak fleksibilitas bagi pengguna. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dan penelitian kepustakaan untuk menganalisis kebijakan transportasi di wilayah Jabodek. Hasil uji Paired t-test menunjukkan bahwa sistem tarif berbasis jarak dan zona lebih disukai oleh penumpang dibandingkan tarif tetap. Skema tarif berbasis jarak meningkatkan minat sebesar 16,73%, sementara tarif berbasis zona meningkat sebesar 17,55%. Kedua skema ini dianggap lebih adil dan sesuai dengan jarak atau zona yang ditempuh. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa masyarakat lebih memilih penerapan sistem tarif berbasis jarak atau zona dibandingkan tarif tetap yang sebelumnya direncanakan. Preferensi ini muncul karena adanya rasa keadilan yang lebih besar, mengingat tarif berbasis jarak atau zona mencerminkan perjalanan yang sebenarnya ditempuh oleh pengguna, sehingga lebih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi perjalanan mereka. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa penerapan sistem tarif berbasis jarak dan zona dapat meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakan LRT Jabodek, karena skema ini dianggap lebih adil dan fleksibel. Temuan ini didukung oleh hasil uji statistik yang menunjukkan perbedaan signifikan dalam preferensi masyarakat terhadap sistem tarif berbasis jarak dan zona dibandingkan dengan tarif tetap. Konsep Dynamic Governance sebagai kebijakan subsidi (Public Service Obligation/PSO) juga memainkan peran penting, karena memungkinkan penyesuaian kebijakan subsidi secara fleksibel berdasarkan pola permintaan, kapasitas operasional, dan kondisi sosialekonomi yang dinamis. Dengan penerapan konsep dynamic governance, kebijakan subsidi LRT Jabodek dapat lebih responsif dan efisien, memastikan bahwa subsidi yang diberikan tepat sasaran dan tidak berlebihan, serta mengoptimalkan potensi pendapatan dari tarif yang disesuaikan. Dengan demikian, penerapan sistem tarif yang adaptif ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi ketergantungan pada subsidi, dan menciptakan sistem transportasi yang lebih berkelanjutan dan terjangkau bagi masyarakat
EVALUASI KINERJA PELAYANAN BUS RAPID TRANSIT (BRT) TRANS JOGJA BERDASARKAN KEPUASAN PENGGUNA (STUDI KASUS: JALUR 7 GIWANGAN - BABARSARI).
Trans Jogja Jalur 7 yang menghubungkan Giwangan dan Babarsari merupakan salah satu moda transportasi penting bagi masyarakat Kota Yogyakarta. Seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat dan banyaknya pilihan moda transportasi yang tersedia, evaluasi kualitas layanan Trans Jogja Jalur 7 menjadi krusial untuk memastikan layanan yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas layanan Trans Jogja Jalur 7 menggunakan metode Importance Performance Analysis (IPA) dan Customer Satisfaction Index (CSI). Parameter layanan yang dianalisis meliputi indikator headway, load factor, kecepatan, dan waktu tempuh. Analisis wilayah cakupan juga dilakukan untuk mengetahui sejauh mana Trans Jogja Jalur 7 melayani kebutuhan transportasi masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan beberapa masalah yang memengaruhi kinerja Trans Jogja Jalur 7, seperti informasi rute yang kurang jelas, kebersihan bus yang tidak maksimal, dan responsivitas petugas yang rendah. Analisis IPA menunjukkan bahwa dari enam dimensi yang terdiri dari 25 indikator, terdapat 4 indikator dengan kinerja dan harapan sesuai, 5 indikator dengan kinerja dan harapan rendah, 9 indikator dengan kinerja rendah namun harapan tinggi, serta 7 indikator dengan kinerja tinggi namun harapan rendah. Analisis CSI menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pelanggan berada pada kategori "Cukup Puas" dengan nilai indeks sebesar 58%. Evaluasi lebih lanjut terhadap indikator kinerja seperti headway, kecepatan, load factor, dan waktu tempuh menunjukkan bahwa meskipun beberapa indikator memenuhi harapan penumpang, masih ada area penting yang memerlukan perbaikan untuk memenuhi standar yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Minimum (SPM) berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia No. 27 Tahun 2015. Dengan demikian, peningkatan frekuensi layanan, kebersihan, responsivitas petugas, dan kejelasan informasi rute sangat diperlukan. Implementasi rekomendasi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan Trans Jogja Jalur 7 sehingga dapat memberikan kepuasan dan kenyamanan optimal bagi pengguna serta mematuhi regulasi yang ada.
ANALISIS PENGGUNAAN JALUR PEMANDU BERUPA UBIN TAKTIL OLEH DISABILITAS LOW VISION PADA RUANG PUBLIK TERTUTUP, STUDI KASUS: STASIUN MRT JAKARTA
Indra penglihatan merupakan indra yang paling dominan dalam diri manusia. Kehilangan kemampuan pada indra ini dapat mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia. Dalam penelitian Marston & Golledge (2003) diperlihatkan bahwa mayoritas peserta yang memiliki gangguan penglihatan memiliki jumlah aktivitas yang terbatas serta keinginan terpendam untuk melalukan lebih banyak perjalanan secara mandiri dan menggunakan transportasi. Jalur pemandu berupa ubin taktil merupakan salah satu prasarana yang berfungsi untuk membantu manusia mendapatkan kembali kemampuan mereka untuk “melihat”. Pemasangan ubin taktil yang awalnya hanya pada trotoar atau luar ruangan kemudian dilanjutkan sampai pada dalam ruangan publik, termasuk Stasiun MRT Jakarta. Peletakan ubin taktil di dalam ruang publik seharusnya berbeda dengan peletakan di luar ruangan, terutama karena aspek spasial yang berbeda dan lebih kompleks arah tujuannya. Ruang publik tertutup, seperti stasiun MRT, harus dirancang untuk memenuhi kebutuhan semua penggunanya, termasuk penyandang disabilitas low vision. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan jalur pemandu berupa ubin taktil bagi disabilitas low vision pada Stasiun MRT Jakarta ASEAN untuk stasiun elevated dan Stasiun MRT Bendungan Hilir untuk stasiun underground. Penelitian juga bertujuan untuk mengetahui persepsi disabilitas low vision, untuk memberikan rekomendasi jalur pemandu yang dapat mengakomodasi kemandirian mobilisasi disabilitas low vision. Penelitian mengambil pendekatan kualitatif dengan melakukan peninjauan pada peraturan – peraturan di Indonesia dan negara lain sebagai acuan. Dilakukan pula peninjauan pada stasiun serupa di negara lain untuk memberikan perspektif peletakan jalur pemandu. Data terkait persepsi disabilitas low vision didapatkan melalui proses wawancara pada disabilitas low vision, yang bekerja sama dengan Komloving. Wawancara ini menjadi bagian dari keterlibatan publik dalam pengadaan fasilitas publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peletakan jalur pemandu berupa ubin taktil eksisting masih berdasarkan perspektif disabilitas totally blind, dimana pada kedua stasiun serupa, yaitu terdapat peletakan pada area lift, ujung tangga, serta ubin pengarah menuju toilet disabilitas, mesin tiket otomatis, serta area pintu keluar dan masuk gerbong MRT pada platform. Pada area platform, peletakan hanya di sekitar iii akses lift dan 4 pintu keluar – masuk gerbong terdekat dari arah lift. Kemudian, terdapat beberapa fasilitas lain seperti musala dan area komersil yang berlum terdapat ubin pengarahnya. Terdapat perbedaan signifikan pada warna, yaitu kuning untuk Stasiun ASEAN dan abu – abu gelap pada Stasiun Bendungan Hilir. Dalam hasil wawancara, didapatkan kesimpulan bahwa penggunaan ubin taktil oleh disabilitas low vision hanya pada kontras warna tanpa melihat bentuk atau pattern-nya, berbeda dengan disabilitas totally blind yang melihat jenis bentuknya. Oleh karena itu, perlu adanya perbedaan terkait jalur pemandu bagi disabilitas low vision dan totally blind. Selain itu, kontras warna pada Stasiun Bendungan Hilir masih belum terlihat, dikarenakan penggunaan ubin sekitar yang masih serupa dengan warna ubin taktil. Berdasarkan hasil wawancara serta peninjauan pada peraturan dan stasiun serupa, didapatkan bahwa peletakan jalur pemandu eksisting sudah cukup baik, namun terdapat potensi pengembangan yang dapat dilakukan. Rekomendasi jalur pemandu pada Stasiun MRT Jakarta diantaranya dengan memberikan pemandu ke fasilitas pada area concourse serta peletakan pemandu menuju area tangga dan eskalator, yang masih digunakan oleh disabilitas low vision, untuk mendukung kemandirian mobilitas. Jalur pemandu untuk ke area tangga dan eskalator dapat menggunakan ubin dengan warna yang serupa dengan ubin taktil untuk memberikan kesan konsisten dan harus kontras dengan ubin disekitarnya. Jalur pemandu untuk ke area fasilitas yang berpotensi digunakan, seperti musala dan area komersil dapat menggunakan ubin taktil agar disabilitas totally blind dapat menuju area tersebut sebagai bagian dari fasilitas penunjang stasiun.
PREFERENSI MODA AKSES BERJALAN KAKI TERHADAP TINGKAT LAYANAN TRANSPORTASI PUBLIK DAN KONDISI PEDESTRIAN (STUDI KASUS: JAKARTA)
Penelitian ini membahas tentang pengaruh tingkat layanan transportasi publik dan kondisi pedestrian terhadap moda akses berjalan kaki di Jakarta. Model pilihan diskrit dikembangkan untuk memodelkan preferensi berjalan kaki warga dalam mengakses transportasi publik, dengan mempertimbangkan variabel-variabel seperti jarak berjalan kaki, headway, waktu tempuh moda, kondisi trotoar, dan keberadaan pohon peneduh. Model multinomial logit digunakan dalam analisis ini, yang didasarkan pada data survei yang dikumpulkan dari responden di Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak jalan kaki, headway, waktu tempuh moda, kondisi trotoar, dan pohon peneduh memiliki pengaruh signifikan terhadap preferensi berjalan kaki. Selain itu, sikap terhadap berjalan kaki, tingkat pendidikan, dan kepemilikan mobil juga ditemukan berpengaruh signifikan. Model ini mengungkap bahwa peningkatan kualitas layanan transportasi publik dan kondisi pedestrian yang baik meningkatkan kemungkinan masyarakat untuk memilih berjalan kaki sebagai moda akses menuju transportasi publik. Oleh karena itu, pemerintah perlu memprioritaskan revitalisasi pedestrian dan perbaikan kualitas layanan transportasi publik untuk meningkatkan penggunaan transportasi publik di Jakarta.
KESADARAN BERMOBILISASI: PENGALAMAN SPASIAL UNTUK PRAKTIK KONTEMPLASI DAN KESEJAHTERAAN LAHIR DAN BATIN PADA PERSIMPANGAN TRANSPORTASI KAWASAN URBAN
Masyarakat urban merupakan bagian penting dari perkembangan global terutama pada bidang ilmu pengetahuan dan ekonomi. Sebesar 56,7% dari masyarakat Indonesia tinggal di perkotaan dan diproyeksikan bahwa pada tahun 2035, angka tersebut akan meningkat hingga 66,6%. Kawasan ini didominasi oleh aktivitas bisnis dan ekonomi yang mendorong gaya hidup modern dengan karakter serba cepat, peningkatan mobilisasi, seni multitasking, produktivitas, instan, dan praktis. Kondisi urban yang terus mendorong manusia untuk bergerak dan berkembang membuat manusia tidak memiliki waktu untuk diam. Hal ini berjalan bersamaan dengan fenomena urban stress yang diakibatkan aktivitas dan lingkungan perkotaan. Jakarta juga berada pada posisi ke-9 dan ke-13 pada tahun 2021 dan 2023 dalam urutan kota paling stress di dunia. Urban stress dan stress secara umum memiliki korelasi negatif dengan kualitas dan tingkatan well-being masyarakat kota. Well-being memiliki signifikansi yang tinggi pada lingkungan perkotaan karena korelasi positifnya dengan performa dalam bekerja. Aktivitas kontemplasi dinilai efektif dalam meningkatkan tingkat well-being praktisinya. Namun, hal ini sulit dilakukan karena karakteristiknya yang bertolak belakang dengan karakteristik masyarakat perkotaan. Hal ini menimbulkan urgensi pengadaan ruang kontemplasi bagi masyarakat kota. Peningkatkan intensitas mobilisasi oleh masyarakat urban mendorong peningkatan layanan transportasi publik serta menjadikannya sebagai elemen esensial bagi masyarkat kota. Hal ini ditunjukan melalui volume dan intensitas penggunaan transportasi publik yang tinggi, terutama KRL pada wilayah Jabodetabek. Meninjau kondisi dan karakteristik masyarakat kota serta signifikansi transportasi publik bagi masyarakat kota, diperlukan objek arsitektural yang mengintegrasikan ruang mobilisasi dengan ruang kontemplasi sebagai media penyembuhan. Integrasi dilakukan melalui objek stasiun pada Stasiun KRL Sudirman yang terletak pada kawasan segitiga emas dengan potensi tingkat stress tertinggi. Letaknya pada Kawasan Berorientasi Transit Dukuh yang terhubung dengan moda transportasi lain seperti LRT Jabodetabek, KA bandara, dan MRT berdampak pada peningkatan intensitas volume pengguna ruang. Perancangan stasiun akan membawakan narasi dengan pendekatan desain sensori untuk menciptakan stimuli serta memicu, meningkatkan kualitas, dan mempertahankan aktivitas kontemplasi.
RESTRUKTURISASI PENGOPERASIAN ANGKUTAN KOTA (ANGKOT) SEBAGAI FEEDER BUS TRANS METRO PASUNDAN PADA RUTE LEUWIPANJANG–SOREANG
Tingginya angka pertumbuhan penduduk di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung (KPCB) berimplikasi pada peningkatan volume lalu lintas setiap tahunnya. Seiring dengan belum tersedianya alternatif transportasi publik yang memadai untuk melayani permintaan pergerakan yang terjadi, kemacetan telah menjadi salah satu isu yang cukup rumit di kawasan tersebut. Di KPCB, angkutan paratransit yang biasa disebut sebagai angkutan kota (angkot) menjadi transportasi publik yang paling banyak digunakan oleh masyarakat. Sayangnya, rendahnya kualitas pelayanan angkot telah menggeser preferensi penumpang untuk lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi. Sebagai upaya peningkatan performa transportasi publik, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Republik Indonesia telah mengembangkan Trans Metro Pasundan (TMP) dengan cakupan pelayanan di sekitar KPCB. Namun, diketahui bahwa telah terdapat aksi penolakan terhadap pengoperasian TMP, khusunya pada rute Leuwipanjang– Soreang yang menjadi salah satu faktor penyebab penurunan angka penumpang angkot. Berangkat dari permasalahan tersebut, penelitian ini berfokus untuk merumuskan suatu intervensi restrukturisasi angkot sebagai feeder dari TMP sebagai upaya dalam mewujudkan integrasi transportasi publik. Merujuk pada ketersediaan rute eksisting dan hasil perhitungan matriks asal tujuan yang menggambarkan potensi permintaan pergerakan di sekitar rute yang direncanakan, dirumuskanlah enam rute pelayanan angkutan feeder yang berfokus untuk melayani titik-titik pusat kegiatan yang ada. Selain itu, dirumuskan pula model bisnis pengoperasian angkutan feeder berupa standar kinerja operasional yang diharapkan dapat dijadikan panduan dalam mengoptimalkan kualitas pelayanan yang diberikan, serta perhitungan tarif pengoperasian yang didasarkan pada angka willingness to pay, angka ability to pay, dan biaya operasional kendaraan (BOK). Pemberlakuan tarif angkutan feeder yang bernilai sama dengan tarif jarak dekat angkot, yaitu sebesar Rp3.000,00 diharapkan dapat menjadikan angkutan feeder cukup menarik bagi penumpang.
EVALUASI KINERJA FASILITAS PERPINDAHAN ANTAR MODA PADA KAWASAN TERMINAL TERPADU MERAK
Terminal terpadu merak merupakan terminal antar moda yang dibangun dalam upaya meningkatkan konektivitas dan efisiensi trnapsortasi perkotaan serta mendukung upaya pembangunan sistem transportasi perkotaan yang berkelanjutan. Salah satu permasalahan yang ada di Kawasan Terminal Terpadu Merak adalah lokasi antar terminal yang cukup jauh sehingga banyak pejalan kaki yang enggan berjalan menuju terminal lain saat hendak menggunakan layanan angkutan lanjutan. Pemahaman terkait kesediaan berjalan kaki diperlukan agar dapat mengetahui perbaikan yang diperlukan dalam meningkatkan minat berjalan menuju layanan angkutan lanjutan di Kawasan Terminal Terpadu Merak. Penelitian bertujuan untuk mengembangkan model willingness to walk yang digunakan sebagai kerangka kerja dalam menganalisis preferensi pengguna terhadap jarak berjalan dan fasilitas perpindahan moda yang tersedia. Selain itu, sub tujuan dari penelitian adalah untuk mengidentifikasi jarak yang masih dapat diterima dan atribut fasilitas perpindahan moda yang mempengaruhi keputusan orang untuk mau berjalan lebih jauh dalam berpindah moda. Metode statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi logistik ordinal dengan data yang diperoleh dari hasil kuisioner menggunakan stated preference. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengguna cenderung malas untuk berjalan terlalu jauh pada kondisi fasilitas perpindahan antar moda eksisting, sehingga diperlukan peningkatan terhadap fasilitas perpindahan moda di Kawasan Terminal Terpadu Merak. Penambahan fasilitas seperti travelator, tempat istirahat, petugas, dan petunjuk arah merupakan fasilitas yang dapat mempengaruhi kecenderungan orang untuk mau berjalan lebih jauh. Dengan adanya penambahan fasilitas perpindahan antar moda kesediaan orang untuk berjalan di Kawasan Terminal Terpadu Merak semakin tinggi sehingga permasalahan lokasi terminal antar moda yang cukup jauh dapat diatasi.