📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 31 dokumen

KAJIAN STRATEGI TRANSPORT DEMAND MANAGEMENT BERDASARKAN AKSESIBILITAS DAN PREFERENSI PERJALANAN COMMUTER DALAM PENGGUNAAN BUS RAPID TRANSIT DI DAERAH KHUSUS JAKARTA

Daerah Khusus Jakarta menghadapi permasalahan transportasi perkotaan berupa tingginya penggunaan kendaraan pribadi, kemacetan lalu lintas, serta rendahnya proporsi perjalanan menggunakan angkutan umum. Meskipun Bus Rapid Transit (BRT) Transjakarta telah berkembang menjadi sistem angkutan umum berbasis jalan terbesar di Indonesia, efektivitasnya dalam mendorong peralihan moda masih dipengaruhi oleh tingkat aksesibilitas layanan dan preferensi perjalanan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi Transport Demand Management (TDM) berdasarkan aksesibilitas dan preferensi perjalanan commuter dalam penggunaan BRT di Daerah Khusus Jakarta. Secara khusus, penelitian ini menganalisis konektivitas jaringan jalan, aksesibilitas halte BRT dan feeder terhadap asal–tujuan perjalanan, preferensi perjalanan pengguna BRT, serta merumuskan strategi TDM yang dapat meningkatkan penggunaan angkutan umum berbasis jalan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan paradigma positivistik. Data diperoleh melalui survei terhadap 410 responden commuter di Daerah Khusus Jakarta. Analisis dilakukan menggunakan metode Space Syntax untuk mengidentifikasi tingkat konektivitas dan integrasi jaringan jalan, metode Isochrone dan Service Area untuk mengevaluasi aksesibilitas halte BRT dan feeder, serta Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi preferensi perjalanan. Selanjutnya, strategi TDM disusun menggunakan analisis SWOT yang didukung matriks IFAS, EFAS, dan TOWS. Hasil analisis Space Syntax menunjukkan bahwa sebagian besar koridor BRT Transjakarta berada pada ruas jalan dengan tingkat konektivitas dan integrasi yang tinggi, khususnya pada kawasan Jakarta Pusat, sehingga berperan penting dalam struktur jaringan transportasi perkotaan. Analisis aksesibilitas menunjukkan bahwa sebagian besar asal dan tujuan perjalanan masyarakat telah terjangkau oleh halte BRT melalui akses berjalan kaki maupun layanan feeder. Namun demikian, masih terdapat ketimpangan aksesibilitas pada beberapa wilayah pinggiran Jakarta yang memiliki jangkauan pelayanan lebih rendah dan tingkat ketergantungan yang lebihiv tinggi terhadap kendaraan pribadi. Hasil survei menunjukkan bahwa hanya 11,22% responden yang menggunakan feeder menuju halte, sedangkan 47,56% responden masih menggunakan kendaraan pribadi untuk mencapai halte BRT. Hasil SEM-PLS menunjukkan bahwa Facilitating Condition berpengaruh positif dan signifikan terhadap Attitude (? = 0,352; p = 0,001) serta berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Disruption Response Perception (? = -0,262; p = 0,013). Information Perception berpengaruh positif dan signifikan terhadap Attitude (? = 0,291; p = 0,001), Disruption Response Perception (? = 0,295; p = 0,003), dan Usage Behaviour (? = 0,246; p = 0,008). Selain itu, Performance Expectancy (? = -0,204; p = 0,006), Effort Expectancy (? = 0,173; p = 0,033), dan Perceived Value of Time (? = -0,151; p = 0,028) terbukti berpengaruh signifikan terhadap Anxiety pengguna. Nilai koefisien determinasi menunjukkan bahwa model mampu menjelaskan variasi konstruk Usage Behaviour sebesar 59,7%, Attitude sebesar 54,5%, Anxiety sebesar 50,9%, Future Transit Use sebesar 49,6%, dan Disruption Response Perception sebesar 44,6%. Berdasarkan hasil analisis aksesibilitas dan preferensi perjalanan, strategi TDM yang direkomendasikan meliputi peningkatan konektivitas first-mile dan last-mile menuju halte BRT, penguatan integrasi layanan feeder, penyediaan informasi perjalanan secara real-time, peningkatan keandalan dan kenyamanan layanan, serta penerapan kebijakan pengendalian penggunaan kendaraan pribadi yang terintegrasi dengan pengembangan angkutan umum. Strategi tersebut diharapkan dapat meningkatkan penggunaan BRT Transjakarta, mendorong peralihan moda dari kendaraan pribadi ke angkutan umum, serta mendukung terwujudnya sistem transportasi perkotaan yang berkelanjutan di Daerah Khusus Jakarta.

2026
👤 Penulis: Khana Unsa Wibowo
🏷️ Transportasi Umum 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Jaringan

PERANCANGAN ULANG PARK AND RIDE MRT FATMAWATI DALAM MENDUKUNG FUNGSI KAWASAN BERORIENTASI TRANSIT FATMAWATI - DKI JAKARTA

Stasiun MRT Fatmawati merupakan simpul transit utama pada koridor selatan Jakarta dengan beban komuter yang tinggi. Fasilitas park and ride eksisting belum berfungsi sebagai titik parkir terpusat, sedangkan aktivitas drop-off, pick-up, dan tunggu layanan ride-hailing masih berlangsung di badan jalan sehingga menimbulkan hambatan samping. Kondisi ini menunjukkan bahwa park and ride belum dioptimalkan sebagai instrumen manajemen permintaan perjalanan atau transportation demand management untuk mendorong peralihan dari kendaraan pribadi ke angkutan umum. Penelitian ini bertujuan untuk merancang ulang fasilitas park and ride dengan fasilitas drop-off dan pick-up dan ruang tunggu penumpang yang terintegrasi dengan MRT Fatmawati. Penelitian menggunakan metode campuran sequential explanatory dengan data dari kuesioner terhadap 206 responden, wawancara, dan observasi. Analisis disusun atas kriteria user-oriented, connected, dan responsiveness pada tujuh elemen rancang kota Shirvani, dengan proyeksi permintaan parkir melalui regresi linear (tahun dasar 2026) dan kebutuhan loket melalui teori antrian M/M/1. Hasil analisis menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada keterbatasan kapasitas, melainkan pada keterpisahan ruang dan konflik aktivitas di badan jalan. Proyeksi tahun 2031 menghasilkan kebutuhan 191 satuan ruang parkir mobil dan 953 satuan ruang parkir motor. Konsep perancangan menyatukan tapak seluas 13.000 meter persegi dengan gedung parkir tiga lantai, sirkulasi satu arah yang dilengkapi underpass, area drop-off dan pick-up yang tertata, serta keterhubungan empat arah menuju MRT, Transjakarta, Jaklingko, dan ride-hailing. Sumbangan utama penelitian terletak pada pengintegrasian ruang tunggu ridehailing sebagai bagian dari sistem transit pada simpul berlahan terbatas yang dapat menjadi rujukan dalam pengembangan park and ride yang efisien dan terintegrasi.

2026
👤 Penulis: Zalfa Marsha Qutranada
🏷️ Transportasi Umum 🏷️ Manajemen Permintaan Perjalanan 🏷️ Hidrologi

STRATEGI PERANCANGAN INTERCHANGE HUB BERBASIS SOSIO-KULTURAL DI TERMINAL STASIUN HALL BANDUNG

Kemacetan merupakan persoalan paralel yang muncul sebagai bagian dari dinamika globalisasi dan modernisasi, terutama di kota-kota besar. Perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain umumnya difasilitasi oleh transportasi umum atau pribadi. Kecenderungan masyarakat dalam menggunakan transportasi pribadi adalah efek samping industrialisasi dan modernisasi yang pada akhirnya memicu kepadatan lalu lintas. Intervensi arsitektur pada simpul transportasi untuk menumbuhkan minat masyarakat dalam penggunaan transportasi umum menjadi alternatif solusi untuk menekan tingginya penggunaan transportasi pribadi. Salah satu simpul transportasi krusial di Kota Bandung adalah Stasiun Kereta Api Bandung, yang memiliki peran vital dalam pergerakan penumpang skala regional. Namun, meskipun melayani pergerakan penumpang dalam skala besar, konektivitasnya dengan Terminal Stasiun Hall di sisi selatan sangat minim. Minimnya integrasi antar moda transportasi ini memaksa pengguna untuk bergantung pada transportasi pribadi, terlebih pada perjalanan first-mile atau last-mile, yang pada akhirnya berkontribusi pada kemacetan di area sekitarnya. Selain itu, kondisi terminal yang tidak didukung oleh fasilitas memadai serta visualnya yang kumuh menunjukkan degradasi fungsional dan visual. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana mengangkat kondisi tersebut tanpa mengabaikan nilai sosio-kultural yang sudah melekat, terutama dengan adanya aktivitas usaha mikro yang menjadi bagian signifikan dari identitas kawasan. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengembangan kawasan terminal untuk mengatasi degradasi fungsional dan visual dengan tetap merujuk pada lokalitas dan identitas kawasan. Terminal ini akan ditransformasikan menjadi interchange hub yang responsif dan terintegrasi sehingga dapat berperan sebagai penghubung antar moda transportasi. Konsep interchange hub tidak hanya berfokus pada perpindahan fisik antar moda transportasi, tetapi juga bertujuan untuk mengembalikan vitalitas kawasan. Dengan mengintegrasikan ritel dan ruang publik, kawasan ini akan menjadi pusat kegiatan yang dinamis, memberdayakan ekonomi lokal, dan berkontribusi pada kehidupan sosio-kultural kota secara keseluruhan. Penjawaban isu-isu tersebut dilakukan melalui pendekatan holistik yang mencakup studi teoritis, observasi lapangan, analisis komparatif, dan metode partisipatif untuk memahami konteks, tapak, serta masyarakat sebagai pengguna. Tujuan perancangan ini adalah mentransformasi Terminal Stasiun Hall Bandung menjadi sebuah interchange hub yang responsif dan terintegrasi, yang tidak hanya menghubungkan dua moda transportasi, tetapi juga berfungsi sebagai katalisator bagi pertumbuhan ekonomi, sosial, dan budaya kawasan.

2026
👤 Penulis: Claudia Patricia Lianata
🏷️ Transportasi Umum 🏷️ Kawasan Terminal Stasiun 🏷️ Sosio-Kultural

REDESAIN PLAZA STASIUN BANDUNG DAN PERANCANGAN ELEVATED PUBLIC SPACE YANG MENGHUBUNGKAN UTARA-SELATAN

Redesain Plaza Stasiun Bandung dan perancangan elevated public space yang inklusif dan terintegrasi, bukan hanya berfungsi sebagai simpul transportasi utama, namun juga sebagai infrastruktur ruang publik yang menghubungkan kawasan utara dan selatan stasiun untuk mendukung mobilitas dan interaksi sosial masyarakat kota. Sejalan dengan SDG's ke-11 "Sustainable Cities & Communities" dan ke-9 "Industry, Innovation and Infrastructure", rancangan ini diharapkan mampu menyediakan ruang publik yang aman, memfasilitasi integrasi antarmoda, serta menghidupkan kembali aktivitas ekonomi lokal di sekitar kawasan stasiun. Topik ini untuk menjawab tantangan keterisolasian antara kawasan utara dan selatan Stasiun Bandung akibat teroutusnya akses oleh jalur rel kereta api yang merupakan masalah tata ruang yang dihadapi di kawasan tersebut. Masalah ini sering menjadi penghambat pergerakan pejalan kaki dan sirkulasi kendaraan karena kurangnya konektivitas ruang yang memadai, di sisi lain, kondisi plaza stasiun saat ini belum optimal dalam menampung pergerakan penumpang yang terus meningkat serta minimnya kualitas ruang tunggu publik. Bahkan, tingginya volume kendaraan dan pejalan kaki yang tidak terfasilitasi dengan baik di area tapak sering kali menimbulkan kemacetan dan ketidaknyamanan bagi para pengguna stasiun maupun warga sekitar. Objek studi ini merupakan area plaza stasiun dan ruang layang penghubung yang berkonsep elevated public space yang berlokasi di Stasiun Bandung. Pemilihan lokasi ini mempertimbangkan Stasiun Bandung sebagai pusat pergerakan transportasi terbesar dan berkarakter kuat di Kota Bandung. Sedangkan untuk penentuan besaran ruang dan kapasitas sirkulasi didasarkan pada studi literatur dan observasi jumlah pergerakan penumpang pada jam sibuk di stasiun. Pendekatan akan fokus pada konektivitas dan efisiensi ruang melalui metode perancangan Transit-Oriented Development (TOD), struktur jembatan layang pejalan kaki yang ramah disabilitas, integrasi ruang terbuka hijau, dan sirkulasi penumpang yang efisien supaya mengurai kepadatan di titik masuk stasiun. Selain itu, desain elevated public space yang multi-aktivitas memungkinkan pemanfaatan ruang layang untuk kegiatan sosial dan komersial yang diharapkan membantu menambah vitalitas kawasan. Proses perancangan ini berbasis pada studi literatur dengan melihat best-practice ruang publik layang stasiun internasional, analisis komparatif simpul transportasi, observasi kebutuhan penumpang dan masyarakat lokal, serta simulasi sirkulasi pergerakan untuk konsep elevated public space. Tujuan perancangan ini adalah menghasilkan desain ruang publik dan plaza stasiun yang terintegrasi, aman, dan nyaman, yang dapat menjadi solusi atas masalah keterbelahan kawasan utara dan selatan. Dengan demikian, rancangan ini bukan hanya memberikan solusi arsitektural dan sirkulasi, namun juga menjadi percontohan infrastruktur transportasi yang humanis, konektif, dan dekat dengan komunitas lokal yang dapat diterapkan di berbagai simpul transportasi di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Mohammad Dikla Farreli A
🏷️ Desain Ruang Publik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Transportasi Umum

PERILAKU PEMILIHAN MODA TRANSPORTASI UMUM JAKARTA-BANDUNG SETELAH BEROPERASINYA KCJB

Sebelum adanya KCJB, terdapat beberapa pilihan moda transportasi dari Jakarta menuju Bandung seperti KA Konvensional dan Shuttle. Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) telah hadir dan diresmikan pada 2 Oktober 2023. Keunggulan dan kelemahan yang dimiliki setiap moda yaitu KA konvensional, Shuttle dan Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) dapat menjadi sebuah bahan pertimbangan yang akan diambil oleh setiap calon pengguna transportasi dalam memilih moda transportasi yang akan digunakan dari Jakarta - Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang paling berpengaruh dalam pemilihan moda transportasi umum dari Jakarta ke Bandung, membangun model pemilihan moda setelah beroperasinya Kereta Cepat Jakarta– Bandung (KCJB), serta mengevaluasi potensi pergeseran pengguna dari moda transportasi umum eksisting seperti kereta api konvensional dan shuttle menuju KCJB, termasuk dampak penghapusan kereta api konvensional terhadap peningkatan jumlah penumpang KCJB. Pengambilan data menggunakan jenis kuisioner Revealed Preference yang digunakan untuk merekam perilaku aktual responden berdasarkan pengalaman nyata mereka dalam melakukan perjalanan antara Jakarta dan Bandung dan stated preference yang digunakan untuk mengetahui pilihan deklaratif responden, responden diberikan pertanyaan mengenai moda mana yang pada akhirnya akan mereka pilih untuk perjalanan Jakarta–Bandung, serta teknik wawancara. Penelitian ini menggunakan teori discrete choice model (multinomial logic model). Model utilitas didapatkan dengan bantuan perangkat lunak berbasis python yaitu biogeme. Penelitian ini hanya mengkaji dari sisi pengguna yang sudah pernah menggunakan moda transportasi KA konvensional, Shuttle dan KCJB dari Jakarta menuju Bandung. Hasil penelitian menjelaskan bahwa KAP dan Shuttle memiliki nilai konstanta (ASC) negatif, yaitu –0.406 untuk KAP dan –1.18 untuk Shuttle. Ini menunjukkan bahwa, secara umum dan dengan asumsi variabel lainnya tetap, preferensi terhadap KCJB lebih tinggi dibandingkan dua moda lainnya. Koefisien untuk AD dan TC bernilai negatif pada semua moda, yang berarti bahwa semakin jauh jarak akses atau semakin tinggi total biaya perjalanan, maka utilitas moda tersebut akan menurun. koefisien total biaya (–0.0338) lebih besar dibandingkan koefisien access distance (–0.0152), mengindikasikan bahwa total biaya perjalanan adalah faktor yang paling berpengaruh dalam keputusan pemilihan moda. Berdasarkan analisis sensitivitas terhadap perubahan total biaya perjalanan KCJB, diketahui bahwa peningkatan biaya secara signifikan menurunkan probabilitas pemilihan KCJB dan meningkatkan preferensi terhadap moda lain seperti KAP, sehingga faktor total biaya memegang peranan penting dalam menentukan pilihan moda transportasi Jakarta–Bandung. Di sisi lain, didapatkan bahwa ketika probabilitas penggunaan KA Konvensional mendekati atau sama dengan nol, terjadi peningkatan probabilitas perpindahan pengguna ke Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang lebih tinggi dibanding probabilitas perpindahan ke Shuttle. Analisis elastisitas menunjukkan bahwa probabilitas pemilihan KCJB terhadap total biaya bersifat inelastik pada biaya minimum, namun semakin sensitif seiring kenaikan tarif, menandakan biaya mulai memengaruhi keputusan pengguna. Analisis point cross elasticity mengindikasikan bahwa kenaikan biaya KCJB sedikit mendorong peralihan ke KA Konvensional dan Shuttle, namun diperkirakan keunggulan waktu tempuh, kenyamanan, dan kualitas layanan membuat daya tarik KCJB tetap tinggi, sehingga potensi pergeseran pengguna dari moda eksisting relatif terbatas. Temuan ini juga menegaskan bahwa penghapusan KA Konvensional dapat meningkatkan jumlah penumpang KCJB secara signifikan, mengingat sebagian pengguna akan beralih ke moda tercepat dan paling nyaman.

2025
👤 Penulis: Princess Audrey Salsabila
🏷️ Transportasi Umum 🏷️ Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Kcjb) 🏷️ Analisis Discrete Choice Model

RANCANGAN SISTEM PEMESANAN TIKET KENDARAAN UMUM SEBAGAI SOLUSI KEMUDAHAN PEMESANAN TIKET BERBASIS MOBILE APPLICATION (STUDI KASUS : KOTA BANDUNG)

Kemacetan yang terjadi di Kota Bandung merupakan dampak dari rendahnya penggunaan transportasi umum oleh masyarakat. Salah satu penyebab utama adalah tidak tersedianya sistem informasi yang terintegrasi mengenai rute, jadwal, dan tiket moda transportasi publik yang tersedia. Tugas akhir ini bertujuan untuk merancang sebuah sistem pemesanan tiket kendaraan umum berbasis aplikasi mobile yang terintegrasi dengan informasi rute, estimasi waktu kedatangan, dan interaksi suara melalui teknologi voice bot. Metodologi yang digunakan adalah design thinking. Pada tahap desain solusi, perancangan model bisnis menggunakan framework Business Model Canvas (BMC), dan desain sistem menggunakan pendekatan Unified Modeling Language (UML) seperti use-case diagram, class diagram, sequence diagram, hingga deployment diagram. Evaluasi dilakukan dengan metode System Usability Scale (SUS) yang menunjukkan nilai rata-rata sebesar 82,12 yang dikategorikan sangat baik (grade A). Hasil validasi terhadap 152 responden menunjukkan bahwa sistem ini berpotensi meningkatkan frekuensi penggunaan transportasi umum, sehingga mampu menjadi solusi digital yang mendukung pengurangan kemacetan di Kota Bandung.

2025
👤 Penulis: Vincent Winarta
🏷️ Transportasi Umum 🏷️ Sistem Informasi Terintegrasi 🏷️ Design Thinking

KAJIAN INTEGRASI ANTARMODA TRANSPORTASI UMUM DI JAKARTA MELALUI PENDEKATAN KONEKTIVITAS: STUDI KASUS PERGANTIAN MODA DARI STASIUN DI KAWASAN LEBAK BULUS, ASEAN, SENAYAN, DAN DUKUH ATAS

Fasilitas integrasi antarmoda adalah salah satu hal yang vital dalam suatu kawasan transit-oriented development. Dalam penelitian tugas akhir ini, integrasi antarmoda di kawasan transit di Jakarta akan dianalisis dengan fokus pada pengalaman penumpang dalam melakukan transfer moda dengan berjalan kaki. Tugas akhir penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengkaji tingkat konektivitas stasiun kereta transit berat dengan titik-titik pemberhentian dalam radius 400 meter dari stasiun secara temporal dan spasial dari kawasan-kawasan yang ditinjau dalam studi kasus penulisan tugas akhir ini. Metodologi yang digunakan dalam tugas akhir penelitian ini mencakup survey lapangan untuk mengukur waktu tempuh, kecepatan berjalan kaki, waktu antre di mesin stasiun, serta fasilitas integrasi eksisting. Hasil penelitian menunjukkan sebaran yang bervariasi untuk konektivitas temporal dan spasial yang melakukan transfer moda berdasarkan kawasan stasiunnya. Sebagai kesimpulan, tugas akhir penelitian ini memberikan rekomendasi perbaikan pada infrastruktur spasial dan temporal di lokasi-lokasi yang menunjukkan kekurangan dalam hasil pengolahan datanya. Dengan ini, integrasi antarmoda yang berdasarkan konektivitas temporal dan spasial dapat memberikan pengalaman yang lebih baik untuk penumpang yang melakukan transfer moda.

2025
👤 Penulis: Fairuzoya Auliazahra
🏷️ Transportasi Umum 🏷️ Konektivitas Antar Moda 🏷️ Analisis Transit Oriented Development

PERSEPSI AKSESIBILITAS DALAM INTERAKSI ANTARA PEMILIHAN TEMPAT TINGGAL DAN PERILAKU PERJALANAN KOMUTER PEKERJA DI KORIDOR LRT JABODEBEK

Kehadiran transportasi umum baru berupa LRT Jabodebek memberikan perubahan biaya gabungan transportasi yang pada gilirannya menyebabkan adanya indikasi dampak langsung pada perubahan perilaku perjalanan dan dampak tidak langsung perubahan guna lahan. Kedua dampak ini terjadi bukan tanpa alasan, namun karena adanya aksesibilitas sebagai penyebab keduanya. Penelitian ini menguji adanya dampak tersebut dengan memasukkan konsep aksesibilitas bukan hanya spasial, namun juga aksesibilitas yang dipersepsikan oleh komuter pekerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan model pemilihan bertahap dimulai dari MNL, Nested Logit, dan Mixed Logit Model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan terhadap fasilitas LRT juga berperan positif, sementara keterjangakauan harga memiliki dampak negatif terhadap pemilihan moda angkutan umum. Dalam pemilihan tempat tinggal, persepsi positif terhadap lingkungan yang nyaman, aman, dan bersih lebih cenderung memilih menetap, sedangkan persepsi baik terhadap LRT meningkatkan peluang pindah ke hunian alternatif. Studi ini juga kemudian menggali adanya residential self-selection hunian dengan pendekatan Joint Model yang menjelaskan interaksi dari kedua dampak tersebut dan menemukan bahwa persepsi aksesibilitas sebagai variabel-variabelnya terbukti dapat membuktikan adanya fenomena ini. Hasil penelitian ini memperkuat argumen bahwa persepsi aksesibilitas dan residential self-selection dapat mempengaruhi dampak langsung dan tidak langsung tersebut sehingga perlu diperhitungkan dalam mengevaluasi manfaat infrastruktur transportasi baru.

2025
👤 Penulis: Muhammad Rivan Zhafira
🏷️ Transportasi Umum 🏷️ Perilaku Perjalanan Komuter 🏷️ Manajemen Ruang

PENGEMBANGAN TRANSPORTASI PUBLIK BERWAWASAN EKOWISATA UNTUK MENINGKATKAN AKSESIBILITAS DESA WISATA SITUS GUNUNG PADANG

Sektor pariwisata telah menjadi salah satu penggerak utama perekonomian global, dengan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berbagai negara, termasuk Indonesia. Pada tahun 2023, pariwisata menyumbang sekitar 3,9 persen kepada PDB Indonesia (Kemenparekraf, 2024). Namun, kesuksesan pariwisata erat kaitannya dengan transportasi, dan transportasi tercatat sebagai salah satu sumber konsumsi energi terbesar dalam aktivitas pariwisata, bahkan hingga 90 persen (Gossling, 2002). tingkat konsumsi energi yang ini juga sejalan dengan tingkat kerusakan lingkungan yang dihasilkan oleh transportasi di kawasan wisata seperti polusi air, udara, bahkan suara. Desa wisata merupakan kawasan yang khususnya rentan terhadap dampak dari transportasi yang tidak berkelanjutan. Penggunaan mobil pribadi sebagai moda transportasi wisatawan telah tercatat berkontribusi terhadap penurunan kualitas lingkungan di kawasan wisata dan sekitarnya di Indonesia. Dengan melakukan wawancara dengan stakeholder terkait, serta melakukan studi literatur dan studi lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang kendaraan untuk transportasi umum untuk meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas wisatawan sekaligus dengan menurunkan volume penggunaan kendaraan pribadi. Dengan menggunakan prisip ekowisata sebagai acuan, desain akhir menghasilkan kendaraan yang memaksimalkan kepuasan wisatawan dengan meminimalisir dampak buruk ke alam dan warga setempat.

2025
👤 Penulis: Radithya Hylmi Alfatih
🏷️ Pariwisata 🏷️ Transportasi Umum 🏷️ Ekowisata

STUDI PERSEPSI DAN PREFERENSI KELOMPOK LANJUT USIA TERHADAP TRANSPORTASI UMUM (STUDI KASUS: BRT TRANSJAKARTA, DKI JAKARTA)

Meningkatnya proporsi penduduk lansia di DKI Jakarta yang melebihi 11% dari total populasi, mendorong urgensi penyediaan sistem transportasi umum yang ramah bagi kelompok rentan ini. Transjakarta, sebagai BRT utama Jakarta, memiliki potensi mendukung mobilitas lansia, namun belum optimal memenuhi kebutuhan mereka. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi persepsi dan preferensi lansia terhadap Transjakarta serta faktor penentu pemilihan moda. Menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dan deduktif, data dikumpulkan melalui survei kuesioner dari 325 responden lansia. Analisis mencakup deskripsi persepsi, Principal Component Analysis (PCA) untuk mereduksi dimensi, dan Multinomial Logit Model (MNL) untuk preferensi moda, dilanjutkan analisis market share. Hasil menunjukkan lansia memiliki persepsi positif terhadap biaya dan keselamatan Transjakarta, namun mengkritisi akses fisik seperti handrail, rampa, dan lift. PCA mereduksi 12 variabel persepsi menjadi tiga faktor utama: kenyamanan dan keselamatan, aksesibilitas moda dan halte, serta keandalan waktu. Model MNL secara signifikan mengindikasikan atribut seperti ketersediaan kursi prioritas, handrail, dan lift dominan memengaruhi pemilihan moda. Karakteristik individu (usia, jenis kelamin, kepemilikan kendaraan, first mile) juga berpengaruh signifikan. Proyeksi market share menunjukkan moda dengan fasilitas lengkap memiliki probabilitas dipilih tertinggi sebesar 76%, sementara moda tanpa fasilitas hanya 8%, menegaskan preferensi kuat terhadap fitur aksesibilitas. Oleh karena itu, rekomendasi kebijakan menekankan standarisasi fasilitas ramah lansia di seluruh armada Transjakarta serta strategi adaptif untuk mengakomodasi heterogenitas kebutuhan mobilitas lansia.

2025
👤 Penulis: Rachel Eilena Mariska Siahaan
🏷️ Mobilitas Lansia 🏷️ Transportasi Umum 🏷️ Kecerdasan Buatan

PERANCANGAN DAN EVALUASI KELAYAKAN TRANSPORTASI MODA REL LRT BANDUNG

Kebutuhan akan sistem transportasi umum yang memadai diperlukan untuk mengatasi kemacetan di Kota Bandung. Salah satu bentuk transportasi umum yang dapat menjadi solusi adalah moda Light Rail Transit (LRT). Pada tugas akhir ini akan dilakukan estimasi penumpang, perancangan teknis, penentuan metode pelaksanaan konstruksi, dan evaluasi kelayakan finansial dan ekonomi terhadap konstruksi LRT di Kota Bandung pada trase tinjauan Terminal Dago – Terminal Leuwipanjang. Hasil pemodelan memperkirakan bahwa pada tahun 2030, 2040, dan 2050, moda transportasi LRT akan melayani total penumpang secara berturut-turut 22.360, 23.460, dan 24.550 penumpang/hari. Berdasarkan analisis, rel yang akan dibangun termasuk ke golongan Kelas Jalan Rel IV dengan lebar sepur 1435 mm. Jalan rel didesain sepanjang 10,3 km dengan sepur ganda dengan jarak antar rel 4 meter, radius 400 m dan 80 m, kecepatan operasional 40 km/jam, serta kecepatan tikungan 30 km/jam. Komponen yang direncanakan yakni rel tipe R-54, wesel W-12 Ex-Jepang, dan peron operasional sepanjang 35 meter dengan lebar 4 meter. Kereta beroperasi selama 16 jam dengan 50 perjalanan per arah per hari pada tahun 2030, 2040, dan 2050. Sistem drainase yang digunakan adalah drainase deck drain inlet pada sisi samping. Jembatan dirancang sepanjang 31 m dengan menggunakan gelagar beton PCU Girder tipe H-165 dan kolom dengan dimensi 3,25 m x 1,75 m. Estimasi biaya konstruksi pada trase tinjauan tahun 2026 mencapai Rp5,655,789,120,605. Analisis finansial dan ekonomi dilakukan dengan meninjau NPV, BCR, IRR, serta payback period. Didapatkan hasil proyek layak dengan tarif batas bawah Rp 7.500,- dengan subsidi pemerintah senilai Rp22.750,-.

2025
👤 Penulis: Arsyidhiya Ulhaq H.P
🏷️ Transportasi Umum 🏷️ Analisis Finansial Dan Ekonomi 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN DAN EVALUASI KELAYAKAN TRANSPORTASI MODA REL LRT BANDUNG

Kebutuhan akan sistem transportasi umum yang memadai diperlukan untuk mengatasi kemacetan di Kota Bandung. Salah satu bentuk transportasi umum yang dapat menjadi solusi adalah moda Light Rail Transit (LRT). Pada tugas akhir ini akan dilakukan estimasi penumpang, perancangan teknis, penentuan metode pelaksanaan konstruksi, dan evaluasi kelayakan finansial dan ekonomi terhadap konstruksi LRT di Kota Bandung pada trase tinjauan Terminal Dago – Terminal Leuwipanjang. Hasil pemodelan memperkirakan bahwa pada tahun 2030, 2040, dan 2050, moda transportasi LRT akan melayani total penumpang secara berturut-turut 22.360, 23.460, dan 24.550 penumpang/hari. Berdasarkan analisis, rel yang akan dibangun termasuk ke golongan Kelas Jalan Rel IV dengan lebar sepur 1435 mm. Jalan rel didesain sepanjang 10,3 km dengan sepur ganda dengan jarak antar rel 4 meter, radius 400 m dan 80 m, kecepatan operasional 40 km/jam, serta kecepatan tikungan 30 km/jam. Komponen yang direncanakan yakni rel tipe R-54, wesel W-12 Ex-Jepang, dan peron operasional sepanjang 35 meter dengan lebar 4 meter. Kereta beroperasi selama 16 jam dengan 50 perjalanan per arah per hari pada tahun 2030, 2040, dan 2050. Sistem drainase yang digunakan adalah drainase deck drain inlet pada sisi samping. Jembatan dirancang sepanjang 31 m dengan menggunakan gelagar beton PCU Girder tipe H-165 dan kolom dengan dimensi 3,25 m x 1,75 m. Estimasi biaya konstruksi pada trase tinjauan tahun 2026 mencapai Rp5,655,789,120,605. Analisis finansial dan ekonomi dilakukan dengan meninjau NPV, BCR, IRR, serta payback period. Didapatkan hasil proyek layak dengan tarif batas bawah Rp 7.500,- dengan subsidi pemerintah senilai Rp22.750,-.

2025
👤 Penulis: Ilham Fahrezi Adrian
🏷️ Transportasi Umum 🏷️ Analisis Finansial Dan Ekonomi 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN DAN EVALUASI KELAYAKAN TRANSPORTASI MODA REL LRT BANDUNG

Kebutuhan akan sistem transportasi umum yang memadai diperlukan untuk mengatasi kemacetan di Kota Bandung. Salah satu bentuk transportasi umum yang dapat menjadi solusi adalah moda Light Rail Transit (LRT). Pada tugas akhir ini akan dilakukan estimasi penumpang, perancangan teknis, penentuan metode pelaksanaan konstruksi, dan evaluasi kelayakan finansial dan ekonomi terhadap konstruksi LRT di Kota Bandung pada trase tinjauan Terminal Dago – Terminal Leuwipanjang. Hasil pemodelan memperkirakan bahwa pada tahun 2030, 2040, dan 2050, moda transportasi LRT akan melayani total penumpang secara berturut-turut 22.360, 23.460, dan 24.550 penumpang/hari. Berdasarkan analisis, rel yang akan dibangun termasuk ke golongan Kelas Jalan Rel IV dengan lebar sepur 1435 mm. Jalan rel didesain sepanjang 10,3 km dengan sepur ganda dengan jarak antar rel 4 meter, radius 400 m dan 80 m, kecepatan operasional 40 km/jam, serta kecepatan tikungan 30 km/jam. Komponen yang direncanakan yakni rel tipe R-54, wesel W-12 Ex-Jepang, dan peron operasional sepanjang 35 meter dengan lebar 4 meter. Kereta beroperasi selama 16 jam dengan 50 perjalanan per arah per hari pada tahun 2030, 2040, dan 2050. Sistem drainase yang digunakan adalah drainase deck drain inlet pada sisi samping. Jembatan dirancang sepanjang 31 m dengan menggunakan gelagar beton PCU Girder tipe H-165 dan kolom dengan dimensi 3,25 m x 1,75 m. Estimasi biaya konstruksi pada trase tinjauan tahun 2026 mencapai Rp5,655,789,120,605. Analisis finansial dan ekonomi dilakukan dengan meninjau NPV, BCR, IRR, serta payback period. Didapatkan hasil proyek layak dengan tarif batas bawah Rp 7.500,- dengan subsidi pemerintah senilai Rp22.750,-.

2025
👤 Penulis: Vergio De Velas
🏷️ Transportasi Umum 🏷️ Analisis Finansial Dan Ekonomi 🏷️ Hidrologi

PERENCANAAN RUTE PRIORITAS ANGKUTAN UMUM UNTUK MENDUKUNG KONEKTIVITAS DESTINASI WISATA DI KABUPATEN PANGANDARAN

Transportasi merupakan bagian penting dalam mendukung pengembangan sektor pariwisata, khususnya melalui peningkatan aksesibilitas ke destinasi wisata. Kabupaten Pangandaran, sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Barat, memiliki potensi wisata, namun belum didukung oleh sistem transportasi umum yang memadai. Penelitian ini bertujuan merumuskan perencanaan rute layanan angkutan umum yang efektif dan efisien untuk meningkatkan aksesibilitas antar daya tarik wisata di Kabupaten Pangandaran. Metode yang digunakan adalah analisis jaringan (network analysis), memetakan simpul-simpul destinasi wisata, menganalisis kondisi eksisting layanan angkutan umum, dan merumuskan koridor prioritas pengembangan. Hasil kajian merekomendasikan pengembangan koridor utama (trunk line) untuk moda berkapasitas besar seperti BRT pada ruas jalan lebar, serta koridor pengumpan (feeder) yang dilayani angkutan desa pada jalan sempit, guna menjangkau destinasi sekunder. Strategi integrasi ini didukung oleh kolaborasi antar pemangku kepentingan serta penyediaan layanan yang terjangkau dan terintegrasi secara spasial maupun kelembagaan. Penerapan strategi ini diharapkan mampu meningkatkan mobilitas wisatawan dan masyarakat, mengurangi dominasi kendaraan pribadi, serta mendukung pertumbuhan pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Pangandaran.

2025
👤 Penulis: Nurul Aini
🏷️ Transportasi Umum 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Wisata 🏷️ Analisis Jaringan

ANALISIS PREFERENSI PENGGUNA TERHADAP ATRIBUT LAYANAN MODA TRANSPORTASI: STUDI KASUS ANGKUTAN UMUM DAN TRANSPORTASI ONLINE DI KORIDOR LAMPU 2 KUPANG–SIKUMANA

Penelitian ini menganalisis pemilihan moda transportasi antara angkutan online (Grab Car dan Grab Motor) dan angkutan umum untuk meningkatkan efektivitas dan kualitas layanan transportasi di Kota Kupang, dengan fokus pada rute Lampu 2 Kota Kupang Sikumana. Penelitian ini menggunakan model Multinomial Logit (MNL) untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pemilihan moda, termasuk biaya perjalanan, waktu tempuh, keamanan, kenyamanan, dan aksesibilitas. Hasil model menunjukkan bahwa biaya perjalanan dan waktu tempuh merupakan dua atribut utama yang secara signifikan memengaruhi keputusan pengguna dalam memilih moda transportasi. Analisis parameter MNL mengungkapkan bahwa kenaikan biaya perjalanan cenderung menurunkan probabilitas pemilihan moda, sedangkan waktu tempuh yang lebih cepat secara signifikan meningkatkan kemungkinan moda tersebut dipilih. Selain itu, variabel kenyamanan dan aksesibilitas juga memberikan kontribusi positif, meskipun tidak sekuat dua atribut utama tersebut. Lebih lanjut, hasil analisis probabilistik menunjukkan bahwa responden dengan pendapatan menengah dan tidak memiliki kendaraan pribadi memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk memilih transportasi online, khususnya GrabBike, dibandingkan dengan angkutan umum konvensional. Kelompok usia 18–34 tahun juga menunjukkan preferensi yang kuat terhadap moda daring karena kemudahan akses melalui aplikasi, fleksibilitas rute, dan kenyamanan layanan.Sebaliknya, angkutan umum masih diminati oleh kelompok pengguna tertentu, terutama karena biaya yang lebih terjangkau. Namun, kekurangan dalam waktu tunggu, ketidakpastian rute, dan kurangnya kenyamanan, membuat moda ini kurang kompetitif dibandingkan transportasi daring.Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan daya saing angkutan umum di Kota Kupang, khususnya di koridor Lampu 2–Sikumana, perlu dilakukan perbaikan strategis terhadap kualitas layanan, meliputi: peningkatan kenyamanan armada, pengurangan waktu tunggu, pengembangan sistem rute yang jelas dan terjadwal, serta menjaga keterjangkauan tarif. Dengan demikian, angkutan umum dapat menjadi alternatif yang lebih menarik dan berdaya saing terhadap moda transportasi berbasis aplikasi.

2025
👤 Penulis: Martha Elisa Kurniaty Gon
🏷️ Transportasi Umum 🏷️ Angkutan Online 🏷️ Analisis Multinomial Logit
Halaman 1 dari 3
💬