📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 2 dokumen“SAGU SALEMPENG DUA” PUSAT PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN ANAK KORBAN KEKERASAN DI KOTA AMBON: PENDEKATAN TRAUMA-INFORMED DESIGN DAN GENDER-SENSITIVE DESIGN
Kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan isu sosial yang kompleks dan perlu ditangani segera, baik secara global maupun nasional. Salah satu daerah dengan prevalensi kasus kekerasan tertinggi adalah kawasan Indonesia bagian Timur, termasuk Kota Ambon. Hal ini perlu ditangani segera karena dapat menimbulkan berbagai dampak negatif seperti trauma psikologis, menghambat partisipasi sosial-ekonomi, dan meningkatkan ketidaksetaraan gender. Dalam kerangka Sustainable Development Goals (SDGs), isu ini terkait langsung dengan SDGs 5 (Kesetaraan Gender), SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), serta SDGs 10 (Mengurangi Kesenjangan). Permasalahan utama terletak pada tingginya angka kekerasan yang tidak didukung dengan sarana perlindungan memadai, diperparah budaya patriarki dan stigma sosial yang menghalangi korban untuk mencari bantuan. Usulan topik ini berfokus pada perancangan pusat pemberdayaan yang berfungsi sebagai ruang aman untuk berlindung sekaligus ruang pemulihan holistik dan pemberdayaan berkelanjutan untuk perempuan dan anak korban kekerasan di Kota Ambon. Tipologi bangunan yang dipilih berupa hibrida antara shelter dan community center dengan tambahan fungsi healing space. Desain bertujuan mewadahi perjalanan pemulihan yang mencakup perlindungan fisik, konseling psikologis, advokasi hukum, hingga program pemberdayaan sosial-ekonomi. Pendekatan TraumaInformed Design diterapkan untuk menghindari potensi retraumatisasi dan membangun rasa aman. Dipadukan dengan Gender-Sensitive Design untuk memastikan kebutuhan spesifik perempuan dan anak terakomodasi. Metodologi yang digunakan mencakup pendekatan partisipatif dan metode kualitatif. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara dan FGD dengan pemangku kepentingan, analisis data lokal (LAPPAN Maluku dan Komnas Perempuan), studi literatur, serta observasi lapangan. Harapannya usulan ini dapat mewujudkan pusat pemberdayaan sebagai safe ecosystem yang mendukung pemulihan trauma, pemberdayaan sosial-ekonomi, serta integrasi kembali korban ke dalam masyarakat. Luaran yang diharapkan berupa rancangan arsitektur sensitif trauma dan responsif gender, sekaligus kontribusi teoretis berupa pengembangan model penerapan Trauma-Informed Design dalam tipologi pusat pemberdayaan di Indonesia.
RUMAH AMAN UNTUK REMAJA KORBAN KEKERASAN DI JAKARTA: TRAUMA-INFORMED DESIGN DAN THERAPEUTIC ARCHITECTURE DALAM MENDUKUNG PERTUMBUHAN DAN PEMULIHAN
Dilatarbelakangi oleh meningkatnya kasus kekerasan terhadap remaja di Indonesia, proyek ini merespons kebutuhan akan ruang yang aman, mendukung, dan sensitif secara psikologis bagi remaja korban kekerasan. Para korban kerap menghadapi tantangan emosional dan sosial yang kompleks, yang menghambat proses pemulihan dan pengembangan diri. Dalam konteks ini, arsitektur berperan tidak hanya sebagai pelindung fisik, tetapi juga sebagai medium pemulihan dan pemberdayaan. Isu perancangan utama yang diangkat meliputi perwujudan ruang yang aman untuk pemulihan, yang mencakup aspek keamanan fisik, privasi, dan ketenangan psikologis; serta integrasi ruang untuk pemberdayaan, melalui penyediaan ruang fleksibel, inklusif, dan mendorong partisipasi aktif dalam proses tumbuh-kembang. Dengan pendekatan Trauma-Informed Design dan Therapeutic Architecture, rancangan ini menekankan pentingnya pengalaman ruang yang mendukung pemulihan emosional melalui elemen seperti koneksi dengan alam, transisi ruang yang bertahap, dan lingkungan yang adaptif. Fasilitas seperti ruang konseling, ruang komunal, taman terapeutik, serta ruang pengembangan keterampilan diintegrasikan dalam sistem ruang yang aman dan memberdayakan. Melalui strategi perancangan ini, rumah aman tidak hanya menjadi tempat bernaung, tetapi juga menjadi ruang untuk tumbuh, pulih, dan kembali membangun harapan hidup yang lebih mandiri dan bermakna.