📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 11 dokumenSERENITY : HUNIAN LANSIA BERGAYA HIDUP AKTIF DENGAN INTEGRASI URBAN FARMING DI BANDUNG
Indonesia telah memasuki fenomena ageing population sejak tahun 2021, yaitu kondisi ketika presentase jumlah lansia mencapai lebih dari 10%. Fenomena serupa juga terjadi di Kota Bandung dengan 10,91% dari penduduknya merupakan lansia dan 66,4% di antaranya termasuk ke dalam golongan lansia muda. Golongan lansia muda saat ini cenderung lebih aktif, memiliki daya beli tinggi, dan sangat mengutamakan kualitas hidup. Seiring dengan kemandirian finansial yang semakin mapan, terjadi pergeseran karakteristik pada golongan menengah ke atas. Lansia dengan finansial stabil membutuhkan lingkungan dan hunian yang memfasilitasi berbagai aktivitas, interaksi komunitas, serta kemudahan terhadap akses layanan kesehatan demi mewujudkan kualitas hidup yang maksimal. Sebagai salah satu kota besar dengan gaya hidup yang tinggi, Kota Bandung memiliki permintaan pasar terhadap hunian lansia untuk kalangan menengah ke atas. Namun, pemenuhannya masih belum terakomodasi secara optimal. Menanggapi permasalahan tersebut, maka dirumuskan sebuah rancangan hunian lansia bergaya hidup aktif dengan integrasi urban farming. Proyek ini dirancang sebagai apartemen servis premium yang mengakomodasi segala kebutuhan lansia melalui berbagai fasilitas yang dapat mendukung kebugaran fisik, mental, dan sosial penghuni guna meningkatkan kualitas kesehatan lansia. Metode perancangan dilakukan melalui analisis pengguna, analisis tapak, studi literatur, dan studi preseden tipologi sejenis. Strategi perancangan diwujudkan melalui penyediaan ruang komunal yang tersebar di antara unit-unit hunian untuk menciptakan interaksi sosial pasif, optimalisasi pemanfaatan atap sebagai roof garden, dan mengintegrasikan urban farming sebagai elemen desain. Urban farming dipilih sebagai salah satu aktivitas utama karena memiliki banyak manfaat untuk lansia. Aktivitas ini dapat meningkatkan interaksi sosial, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta dapat menjadi terapi untuk mengurangi stres. Proyek ini selaras dengan SDGs nomor 3 tentang kesehatan dan well-being, serta SDGs nomor 11 tentang kota yang inklusif dan berkelanjutan. Proyek ini menggunakan kerangka force-based yang berfokus pada penyelesaian masalah serta menggunakan pendekatan perilaku pengguna untuk menciptakan lingkungan yang nyaman. Perancangan ini diharapkan dapat menjadi contoh model hunian lansia premium di Kota Bandung yang dapat meningkatkan kualitas hidup lansia.
DINAMIKA PENGARUH PENYINARAN GROW LIGHT - LED (LIGHT EMITTING DIODE) PADA SISTEM PRODUKSI BABY LEAF TERHADAP HASIL PERTUMBUHAN TANAMAN SELADA OAKLEAF HIJAU (LACTUCA SATIVA L. VAR. CRISPA)
Urban farming dengan budidaya sayuran merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi keterbatasan lahan pertanian dan menciptakan kondisi penanaman yang lebih stabil, sekaligus meningkatkan konsumsi sayuran serta kemandirian pangan masyarakat perkotaan. Selada (Lactuca sativa) sebagai sayuran yang kaya akan nutrisi berpotensi untuk dibudidayakan sebagai baby leaf, yaitu sayuran daun muda yang dipanen pada tahap awal pertumbuhan dengan kandungan gizi yang tinggi. Baby leaf merupakan istilah komersial untuk sayuran berdaun yang dipanen dan dijual pada tahap awal pertumbuhan, lengkap dengan tangkai daunnya. Pada studi yang ada sebelumnya, ditemukan bahwa paparan sinar dari LED dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman seperti pemanjangan batang, akumulasi klorofil, dan perluasan daun. Akan tetapi, perlakuan optimal sinar dari LED bagi baby leaf selada oakleaf hijau belum diidentifikasi. Dalam penelitian ini, baby leaf selada akan diberikan perlakuan waktu penyinaran yang berbeda-beda untuk diselidiki pertumbuhan yang optimal untuk budidaya selada. Penyinaran terdiri dari lima perlakuan yang berbeda: kontrol 24 jam dengan penyinaran matahari, 12 jam dengan penyinaran lampu LED dengan nilai DLI 7,78 mol m?² d?¹, 16 jam dengan penyinaran lampu LED dengan nilai DLI 10,37 mol m?² d?, 20 jam dengan penyinaran lampu LED dengan nilai DLI 12,96 mol m?² d?, dan 24 jam dengan penyinaran lampu LED dengan nilai DLI 15,56 mol m?² d?. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan lima perlakuan dan lima ulangan. Parameter pertumbuhan yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, lebar daun, luas daun, bobot basah, bobot kering, kadar air, shoot-root ratio, kandungan klorofil, kandungan vitamin c, dan kandungan karotenoid. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan metode analysis of variance (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95% dan hasil yang berbeda signifikan diuji lanjut menggunakan metode Duncan dengan taraf 5%. Berdasarkan hasil yang didapatkan dalam penelitian ini, durasi penyinaran 20 jam menghasilkan efek positif terbaik pada tanaman baby leaf selada oakleaf hijau (Lactuca sativa var. crispa) diantara perlakuan durasi penyinaran lainnya dalam meningkatkan tinggi tanaman sebesar 106,41% (10,3 ± 1,36); luas daun sebesar 41,85% (22,47 ± 8,09); karotenoid sebesar 40,15% (74,7 ± 17,2); lebar daun sebesar 15,15% (3,8 ± 0,21); bobot basah total sebesar 12,96% (1,412 ± 0,8); kadar air sebesar 12,15% (91,01 ± 2,25); jumlah daun sebesar 10,14% (7,93 ± 0,86) dibandingkan pada sinar matahari (kontrol). Efek negatif penyinaran LED pada tanaman baby leaf selada oakleaf hijau (Lactuca sativa var. crispa) memberikan pengurangan vitamin c sebesar 23,52%; bobot kering total sebesar 5,10% dibandingkan pada sinar matahari (kontrol).
PERANCANGAN DESAIN INTERIOR PUSAT KOMUNITAS PERTANIAN PERKOTAAN SEBAGAI SARANA EDU- AGROWISATA DI KOTA BOGOR
Urban Farming merupakan solusi inovatif dalam menjawab tantangan ketahanan pangan untuk kehidupan yang sehat, aktif dan berkelanjutan di perkotaan. Perancangan Urban Farming Community Center di Kota Bogor bertujuan untuk menciptakan ruang edukatif dan agrowisata yang berfungsi sebagai pusat komunitas, tempat berbagi pengetahuan, serta sarana pemberdayaan sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat. Dengan mempertimbangkan potensi geografis Kota Bogor yang memiliki kondisi tanah dan iklim yang mendukung pertanian organik, proyek ini dirancang untuk mengintegrasikan berbagai aktivitas seperti edukasi pertanian, laboratorium hidup, pengolahan hasil panen, serta wisata agro- edukatif. Konsep desain yang diterapkan mengacu pada prinsip placemaking dan keberlanjutan, dengan mengutamakan pemanfaatan material lokal, efisiensi energi, dan desain yang mendukung interaksi sosial. Program ruang dalam pusat komunitas ini mencakup lahan percontohan, fasilitas edukasi, area komunitas, serta zona produksi dan distribusi pangan. Dengan pendekatan desain interior yang fleksibel, modular, dan berkelanjutan, diharapkan pusat ini dapat menjadi model urban farming yang dapat direplikasi di daerah perkotaan lainnya. Perancangan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pertanian perkotaan, mengurangi ketergantungan pada impor pangan, serta memberikan pengalaman agrowisata yang edukatif bagi wisatawan dan masyarakat lokal.
APLIKASI PENYINARAN SINAR LED - GROWLIGHT PADA SISTEM PRODUKSI BIOMASSA BABY LEAF TERHADAP HASIL PERTUMBUHAN TANAMAN SELADA MERAH RED OLGA (LACTUCA SATIVA L. VAR. CRISPA CV. LOLLO ROSSA)
Urban farming menjadi alternatif pertanian yang dapat dilakukan dengan penyesuaian lingkungan kota. Plant Factory with Artificial Lighting (PFAL) dengan sistem budidaya baby leaf dapat dikombinasikan untuk kestabilan pemenuhan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak / pengaruh intensitas penggunaan sinar LED - growlight terhadap pertumbuhan, produktivitas, dan kualitas panen baby leaf selada merah (Lactuca sativa L. var. Lollo Rossa). Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan empat ulangan yaitu penyinaran LED Growlight 12 jam (P1), 16 jam (P2), 20 jam (P3), dan 24 jam (P4). Nilai Photosynthetic Photon Flux Density yang diberikan sebesar 180 ?mol/m2/s. Pengambilan data pertumbuhan dan kualitas panen dilakukan melalui uji laboratorium. Hasil analisis ANOVA menunjukkan bahwa beberapa perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap parameter seperti kadar vitamin C, total klorofil, kadar karotenoid, bobot basah dan kering, shoot root ratio, serta kadar air akar. Semua perlakuan memberikan pengaruh nyata terhadap panjang tajuk, luas daun, jumlah daun, tinggi tanaman, dan kadar air. Perlakuan P3 (penyinaran LED 20 jam) memberikan pengaruh terbaik terhadap parameter pertumbuhan dan biomassa dengan meningkatkan panjang tajuk 41,7%, tinggi tanaman 42,98%, luas daun 17,11%, banyak daun 19,06%, bobot basah tajuk 56,5%, bobot kering tajuk 33,3%, dan kadar air 0.09% dibandingkan perlakuan cahaya matahari. Penyinaran LED belum secara maksimal meningkatkan kualitas panen dimana selada dengan penyinaran sinar matahari unggul dalam kadar vitamin c dan kadar total klorofil.
APLIKASI KANVAS BISNIS MODEL KEBERLANJUTAN (SUSTAINABLE BUSINESS MODEL CANVAS) UNTUK BISNIS PRODUK GROW KIT BERBASIS PUPUK ORGANIK
Di perkotaan, sistem pertanian yang dapat dengan mudah diaplikasikan di kehidupan sehari-hari adalah pertanian dengan sistem urban farming. Urban farming adalah sebuah konsep bertani di perkotaan dengan menggunakan teknik tertentu, salah satunya adalah dengan memanfaatkan container farming yang menggunakan polybag. Namun, keberhasilan pertanian sistem ini sangat bergantung terhadap media tanam serta pupuk. Sebagian besar pertanian urban mengandalkan media tanam dan pupuk yang berasal dari daerah rural sehingga menurunkan tingkat keberlanjutan dari pertanian tersebut. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan memproduksi pupuk dengan pengolahan limbah organik perkotaan menggunakan agen hayati seperti mikroorganisme (seperti kompos) maupun makro fauna (seperti vermikompos dan kasgot). Seiring dengan pertumbuhan pertanian urban sebagai bagian dari kehidupan masyarakat kota, maka terdapat beberapa inovasi yang dapat dikembangkan untuk memenuhi pasar ini, yaitu Grow Kit (GK) yang merupakan sebuah KIT (Kotak Instrumen Terpadu). Grow Kit adalah sebuah produk yang berisikan media tanam berupa campuran tanah, arang sekam, dan pupuk kasgot, benih tanaman, polybag, kertas panduan, stik es krim, dan alat drip irrigation. Jika ditinjau dari perdagangan domestik, produk GK termasuk ke dalam sektor DIY (Do It Yourself atau barang yang dapat dirakit sendiri), pertamanan, dan juga hewan peliharaan. Pendapatan di segmen produk DIY, pertamanan, dan hewan peliharaan dan sektor ini diprediksi akan memiliki 10,27 juta pengguna dengan volume pasar sebesar $3,928.00 juta pada tahun 2027. Produk bisnis ini sendiri relatif masih baru di Indonesia dan belum terdapat suatu model bisnis yang dapat dijadikan dasr untuk menentukan kelayakan dan pengembangan bisnis ini. Pada penelitian ini, dilakukan penelaahan model bisnis Grow Kit dengan pendekatan SBMC (Sustainable Business Model Canvas). Berdasarkan hasil penelitian, bisnis GK layak untuk dijalankan sebagai sebuah bisnis pertanian. Bisnis ini memiliki Value Propositions sebagai produk DIY yang ramah pemula, fleksibilitas dalam lokasi untuk mengerjakan, dengan produk akhir berupa produk pangan bernutrisi tinggi yang dapat dikonsumsi. Model bisnis GK memiliki Payback Period dalam 5 tahun 5 bulan 16 hari, NPV senilai Rp937.568,479,55, Internal Rate of Retrun sebesar 24,91%, dan Benefit/Cost Ratio sebesar 1,56.
APLIKASI KANVAS BISNIS MODEL KEBERLANJUTAN (SUSTAINABLE BUSINESS MODEL CANVAS) UNTUK BISNIS PRODUK GROW KIT BERBASIS PUPUK ORGANIK
Di perkotaan, sistem pertanian yang dapat dengan mudah diaplikasikan di kehidupan sehari-hari adalah pertanian dengan sistem urban farming. Urban farming adalah sebuah konsep bertani di perkotaan dengan menggunakan teknik tertentu, salah satunya adalah dengan memanfaatkan container farming yang menggunakan polybag. Namun, keberhasilan pertanian sistem ini sangat bergantung terhadap media tanam serta pupuk. Sebagian besar pertanian urban mengandalkan media tanam dan pupuk yang berasal dari daerah rural sehingga menurunkan tingkat keberlanjutan dari pertanian tersebut. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan memproduksi pupuk dengan pengolahan limbah organik perkotaan menggunakan agen hayati seperti mikroorganisme (seperti kompos) maupun makro fauna (seperti vermikompos dan kasgot). Seiring dengan pertumbuhan pertanian urban sebagai bagian dari kehidupan masyarakat kota, maka terdapat beberapa inovasi yang dapat dikembangkan untuk memenuhi pasar ini, yaitu Grow Kit (GK) yang merupakan sebuah KIT (Kotak Instrumen Terpadu). Grow Kit adalah sebuah produk yang berisikan media tanam berupa campuran tanah, arang sekam, dan pupuk kasgot, benih tanaman, polybag, kertas panduan, stik es krim, dan alat drip irrigation. Jika ditinjau dari perdagangan domestik, produk GK termasuk ke dalam sektor DIY (Do It Yourself atau barang yang dapat dirakit sendiri), pertamanan, dan juga hewan peliharaan. Pendapatan di segmen produk DIY, pertamanan, dan hewan peliharaan dan sektor ini diprediksi akan memiliki 10,27 juta pengguna dengan volume pasar sebesar $3,928.00 juta pada tahun 2027. Produk bisnis ini sendiri relatif masih baru di Indonesia dan belum terdapat suatu model bisnis yang dapat dijadikan dasr untuk menentukan kelayakan dan pengembangan bisnis ini. Pada penelitian ini, dilakukan penelaahan model bisnis Grow Kit dengan pendekatan SBMC (Sustainable Business Model Canvas). Berdasarkan hasil penelitian, bisnis GK layak untuk dijalankan sebagai sebuah bisnis pertanian. Bisnis ini memiliki Value Propositions sebagai produk DIY yang ramah pemula, fleksibilitas dalam lokasi untuk mengerjakan, dengan produk akhir berupa produk pangan bernutrisi tinggi yang dapat dikonsumsi. Model bisnis GK memiliki Payback Period dalam 5 tahun 5 bulan 16 hari, NPV senilai Rp937.568,479,55, Internal Rate of Retrun sebesar 24,91%, dan Benefit/Cost Ratio sebesar 1,56.
PRA-RANCANGAN SISTEM BUDIDAYA PERMAKULTUR TERINTEGRASI DENGAN PENGOLAHAN LIMBAH ORGANIK PADA SET-UP URBAN FARMING
Urban farming melibatkan penggunaan lahan perumahan dan untuk menghasilkan sistem produksi pertanian yang berkelanjutan maka aplikasi pupuk organik dapat memanfaatkan limbah rumah tangga sebagai media pertanian, seringkali dengan memanfaatkan pupuk organik seperti kasgot yang dihasilkan dari larva BSF. Pakcoy, salah satu sayuran yang populer, menjadi pilihan utama dalam praktik urban farming karena kemampuannya untuk tumbuh dalam lahan yang terbatas. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan konsentrasi media tanam (kasgot 0%, 10%, 20%, dan 30%) dan 6 ulangan. Parameter pertumbuhan yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, panjang akar, bobot basah, dan bobot kering. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan metode analisis ragam (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95%, dan perbedaan signifikan diuji lebih lanjut dengan metode Uji Beda Nyata Jujur (BNJ/Tukey) dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kasgot menghasilkan perbedaan signifikan terhadap semua parameter. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa untuk tinggi tanaman, jumlah daun, dan luas daun adalah sebagai berikut: P0 (10,250 cm; 6,083 daun; 114,431 cm²), P1 (13,816 cm; 7,333 daun; 268,826 cm²), P2 (14,158 cm; 6,500 daun; 206,655 cm²), dan P3 (12,233 cm; 6,666 daun; 123,735 cm²). Untuk panjang akar, bobot basah, dan bobot kering, hasilnya adalah: P0 (18,042 cm; 11,450 g; 0,243 g), P1 (16,708 cm; 46,342 g; 0,9367 g), P2 (12,063 cm; 30,483 g; 0,6067 g), dan P3 (12,195 cm; 19,508 g; 0,4033 g). Budidaya Pakcoy dengan aplikasi pupuk kasgot akan layak dilaksanakan dalam skala komunal dengan BCR sebesar 1.320.
ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN PROGRAM BURUAN SAE BERKELANJUTAN DI KOTA BANDUNG, JAWA BARAT
Pertumbuhan dan pertambahan penduduk di perkotaan menjadi fenomena yang terjadi secara global. Jumlah penduduk di Kota Bandung pada tahun 2023 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya sebesar 0,99%, sehingga kepadatan penduduk di Kota Bandung mencapai 15200 jiwa/km2. Penggunaan lahan di Kota Bandung didominasi oleh pemukiman, industri, perdagangan, dan perkantoran. Sebesar 96% kebutuhan pangannya dipenuhi dari luar daerah Kota Bandung . Melihat fenomena tersebut, untuk memastikan ketersediaan, ketahanan, dan kemandirian pangan, Pemerintah Kota Bandung memulai urban farming terintegrasi yang disebut "Program Buruan Sae" yaitu kegiatan yang mengintegrasikan beberapa sektor di antaranya pembibitan, budidaya tanaman sayuran, tanaman buah, dan tanaman obat, peternakan, perikanan, pengolahan hasil, dan pengolahan sampah. Pelaksanaan Program Buruan Sae merupakan salah satu solusi untuk ketahanan dan ketersediaan pangan, keterbatasan lahan, dan pengolahan sampah di Kota Bandung. Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara observasi, wawancara, kuesioner, dan studi pustaka. Metode pengambilan sample dilakukan dengan menggunakan teknik stratified sampling, purposive sampling, dan snowball sampling. Analisis keberlanjutan menggunakan teknik ordinasi modifikasi Rap-Ur-Agri (Rapid Appraisal for Urban Agriculture) dengan metode MDS (Multidimensional Scaling). Faktor internal dan eksternal usaha diidentifikasi dengan matriks IFE (Internal Factor Evaluation) dan EFE (External Factor Evaluation) yang kemudian dijadikan dasar dalam perumusan strategi dengan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats). Pada tahap penentuan prioritas strategi pengembangan Program Buruan Sae dilakukan analisis QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). Hasil penelitian menunjukan status keberlanjutan Program Buruan Sae di Kota Bandung termasuk kedalam kategori cukup berkelanjutan pada dimensi ekonomi (53,81%), sosial (74,40%), dan kelembagaan (53,44%). Kemudian untuk dimensi ekologi (90,20%) dan teknologi (88,21%) termasuk kedalam kategori sangat berkelanjutan. Didapatkan dua belas strategi alternatif strategi pengembangan untuk meningkatkan keberlanjutan Program Buruan Sae, dengan lima strategi prioritas, yaitu 1.) kolaborasi antar pihak dalam membuat layanan komunikasi atau platform pemasaran online untuk menghubungkan produsen dengan konsumen, 2.) membangun jaringan komunikasi antar pengelola, lembaga pendanaan, Pemerintah Kota Bandung , rukun tetangga (RT) / rukun warga (RW) dan masyarakat melalui sharing informasi secara rutin, 3.) penerapan komunikasi terbuka dan penjadwalan secara rutin antara masyarakat dan pengelola, 4.) peningkatan kapasitas pengelolaan Program Buruan Sae melalui kegiatan penyuluhan dan pelatihan, dan 5.) peningkatan kapasitas pengelolaan hasil olahan yang melibatkan partisipasi masyarakat.
PRA-RANCANGAN SISTEM BUDIDAYA PERMAKULTUR TERINTEGRASI DENGAN PENGOLAHAN LIMBAH ORGANIK PADA SET-UP URBAN FARMING
abstrak bisa dilihat di filenya
APLIKASI PERBEDAAN PERSENTASE PUPUK KASGOT TERHADAP TANAMAN SWEET BASIL (OCIMUM BASILICUM) DAN KELAYAKAN AWAL PENERAPAN PADA SKALA KOMUNAL
Pertumbuhan penduduk di Indonesia berbanding lurus dengan meningkatnya alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan pemukiman. Penurunan luas lahan pertanian dapat berdampak pada produksi dan ketahanan pangan nasional, sehingga perlu dilakukan upaya untuk menjaga keberlangsungan lahan pertanian dengan salah satu cara yaitu urban farming. Urban farming dapat dilakukan di lahan perumahan serta dikolaborasikan dengan limbah rumah tangga yang dijadikan pupuk organik kasgot yang memanfaatkan maggot/larva BSF. Sweet Basil merupakan tanaman herba yang dimanfaatkan menjadi bumbu masakan, obat-obatan, serta bahan pembuatan kosmetik. Tanaman ini dapat tumbuh baik pada lahan terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh perbedaan persentase pupuk organik kasgot pada media tanam tanah dan arang sekam terhadap pertumbuhan tanaman Sweer Basil (Ocimum basilicum) dan menentukan komposisi persentase pupuk organik kasgot pada media tanam tanah dan arang sekam terbaik bagi pertumbuhan Sweer Basil (Ocimum basilicum). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 taraf persentase pupuk kasgot dengan 1 kontrol (kasgot 0%, 10%, 20%, dan 30%) dan 6 ulangan. Parameter pertumbuhan yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot basah, dan bobot kering. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan metode analysis of variance (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95% dan hasil yang berbeda signifikan diuji lanjut menggunakan metode Uji Beda Nyata Jujur (BNJ/Tukey) dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan pemberian persentase pupuk organik kasgot memberikan perbedaan signifikan terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot basah, dan bobot kering. Dari penelitian ini pula didapatkan komposisi persentase pupuk kasgot terbaik terhadap hasil panen tanaman Sweet Basil (Ocimum basilicum) adalah perlakuan P2. Budidaya Sweet Basil dengan aplikasi pupuk kasgot akan layak dilaksanakan dalam skala komunal dengan BCR sebesar 42,82.
APLIKASI PERBEDAAN PERSENTASE PUPUK KASGOT TERHADAP TANAMAN BAYAM HIJAU (AMARANTHUS HYBRIDUS L.) DAN KELAYAKAN AWAL PENERAPAN PADA SKALA KOMUNAL
Urban farming dengan budidaya sayuran merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan dalam menanggulangi masalah keterbatasan lahan pertanian, meningkatkan konsumsi sayuran, serta meningkatkan kemandirian pangan masyarakat perkotaan. Urban farming dapat pula diintegrasikan dengan pengelolaan limbah organik rumah tangga dengan mengolahnya menjadi pupuk organik kasgot dengan bantuan larva black soldier fly. Tanaman bayam merupakan tanaman dengan daya adaptasi yang baik dalam berbagai lingkungan serta kaya akan berbagai vitamin dan serat sehingga sesuai untuk dibudidayakan dalam urban farming. Penelitian ini bertujuan menentukan n pengaruh komposisi media tanam tanah, arang sekam, dan pupuk kasgot terhadap pertumbuhan tanaman uji yaitu bayam (Amaranthus hybridus L.). Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) monofaktor dengan empat perlakuan dan 6 ulangan. Parameter pertumbuhan yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot basah, bobot kering, kadar air, dan shoot root ratio. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan metode analysis of variance (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95% dan hasil yang berbeda signifikan diuji lanjut menggunakan metode uji beda nyata jujur (BNJ/Tukey) dengan taraf 5%. Dianalisis pula kelayakan awal penanaman bayam dengan pupuk kasgot pada skala komunal dan bisnis dengan perhitungan cost benefit analysis. Berdasarkan cost benefit analysis, budidaya bayam hijau dengan aplikasi pupuk kasgot memiliki cost benefit ratio 2,24 yang lebih kecil daripada skala bisnis sehingga layak dilakukan pada skala komunal. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pemberian kasgot menyebabkan perbedaan signifikan terhadap tinggi tanaman, luas daun, bobot kering, bobot basah, dan kadar air tanaman bayam hijau. Perlakuan P3, yaitu komposisi media tanam 56% tanah, 14% arang sekam dan 30% pupuk organik kasgot memberikan pengaruh signifikan dan positif dalam meningkatkan tinggi tanaman, luas daun, dan bobot basah tanaman. Akan tetapi, pemberian dosis pupuk organik kasgot yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun dan shoot root ratio tanaman bayam hijau.