📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 7 dokumen

IDENTIFIKASI HUBUNGAN KEBERADAAN BLUE-GREEN INFRASTRUCTURE TERHADAP INTENSITAS FENOMENA URBAN HEAT ISLAND DI KOTA BANDUNG

Urbanisasi yang tinggi di Kota Bandung mengakibatkan perubahan fungsi ruang dan lingkungan fisik kota karena meningkatnya lahan tertutup. Tutupan lahan perkotaan dapat menyerap radiasi yang tinggi yang berdampak terhadap peningkatan suhu permukaan, yang dapat menimbulkan fenomena Urban Heat Island (UHI). Sebagai upaya mitigasi efek UHI, Blue-Green Infratsructure dinilai memiliki efek pendinginan terhadap iklim mikro perkotaan, namun hubungan keduanya belum banyak dieksplorasi untuk kasus Kota Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan dan peran BGI terhadap fenomena UHI yang terjadi di Kota Bandung. Penelitian ini bersifat kuantitatif dan menggunakan data sekunder. Analisis Land Surface Temperature (LST) dilakukan dengan menggunakan citra Landsat dengan metode Single Channel Algorithm. Pemetaan terhadap LST dilakukan untuk mendapatkan intensitas UHI dengan klasifikasi Urban Thermal Variance Field Index (UTFVI). Untuk identifikasi BGI dilakuakn dengan menggunakan citra Sentinel-2 dengan metode supervised classification. Terakhir, hubungan antara keberadaan BGI dengan intenitas UHI dianalisis dmelalui korelasi pearson, analisis regresi linear, dan Geographically Weighted Regression (GWR). Hasil pemetaan LST menunjukan perubahan rata-rata suhu permukaan sebesar 4,18ºC dalam 20 tahun terakhir (2005-2025) dengan tahun 2025 suhu permukaan mencapai 29,44°C dan diprediksi akan meningkat 1-2°C pada tahun 2035. Intensitas UHI diidentifikasi dengan menggunakan UTFVI, didapatkan sebanyak 82 kelurahan di Kota Bandung mengalami intensitas UHI tinggi atau klasifikasi UTFVI ‘strongest’. Kota Bandung memiliki luas BGI sebesar 4.616,18 hektar (28%). Hasil analisis hubungan menunjukan korelasi yang kuat dengan hubungan negatif antara keberadaan BGI dengan UHI dan LST. Selain itu, hasil regresi linear menunjukan hubungan negatif yang diberikan oleh proporsi BGI terhadap UTFVI dan UHI dengan R² 76%. Terakhir, hasil GWR menunjukan Local R² dan koefisien yang berbeda-beda tiap kelurahan dengan sifat hubungan negatif.

2026
👤 Penulis: Naura Rafanissa Putri Budiman
🏷️ Urban Heat Island 🏷️ Blue-Green Infrastructure 🏷️ Analisis Geografis

IDENTIFIKASI EFEKTIVITAS GREEN ROOF DAN GREEN WALL PADA KAWASAN PERUMAHAN PADAT DALAM UPAYA MITIGASI URBAN HEAT ISLAND

Peningkatan temperatur udara di kawasan perkotaan akibat urbanisasi atau dikenal dengan Urban Heat Island (UHI) merupakan akumulasi kalor pada kawasan perkotaan padat seperti area perumahan, perkampungan, perdagangan, dan lainnya. Akumulasi kalor tersebut berakibat dari dominasi pemakaian material berat seperti beton dan bata merah pada bangunan yang menyerap serta melepaskan kalor ke udaa secara lambat. Salah satu teknologi mitigasi UHI adalah atap hijau (green roof) dan dinding hijau (green wall) yang dilaporkan mampu mengelola energi dari sinar matahari untuk kebutuhan evapotranspirasi dan fotosintesis. Penggunaan tanaman pada atap dan dinding bangunan berfungsi tidak hanya sebagai pelapis, tetapi juga sebagai penyerap energi dari matahari sehingga tidak terbaurkan ke udara. Namun, efektivitas penerapan dinding dan atap hijau untuk menurunkan intensitas UHI di kawasan permukiman perlu banyak kajian. Penelitian ini bertujuan mempelajari efektivitas atap dan dinding hijau untuk mengurangi intensitas Urban Heat Island Intensity (UHII) secara spasial dan temporal pada penggunaan tanaman Brekele (Philodendron burle-marxii) dan Pakis Pedang (Nephrolepis exaltata). Metode penelitian meliputi tiga tahap utama yaitu, (1) identifikasi kondisi lingkungan termal Kawasan Perumahan pada empat periode waktu (pagi, siang, sore, malam), (2) eksperimen efek penerapan atap dan dinding hijau berorientasi Timur dan Barat dengan pengukuran variabel temperatur udara (Ta), temperatur permukaan daun (Tls), temperatur radiasi (GT), kelembapan relatif (RH), kecepatan angin (v), dan radiasi matahari (SI), serta (3) simulasi spasial menggunakan ENVI-met 5.7.1 untuk memetakan distribusi panas dan keseimbangan energi kawasan secara tiga dimensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atap hijau memiliki kemampuan signifikan dalam menurunkan temperatur permukaan hingga 13,39°C dibandingkan atap beton (kontrol), meskipun menunjukkan kecenderungan memanaskan udara pada pagi hari. Sebaliknya, dinding hijau menunjukkan variasi kinerja berdasarkan orientasi dinding. Dinding Timur efektif menurunkan temperatur udara sebesar 1,19–2,54°C dengan penundaan puncak suhu (delay) hingga 37–68 menit dibandingkan dinding bata (kontrol), sedangkan penerapan dinding hijau pada dinding Barat menurunkan temperatur udara lebih besar hingga 2,04–2,82°C lebih dingin pada sore hari dengan fluktuasi kelembapan relatif 5–8% lebih tinggi dibandingkan kontrol. Perbedaan ini dipengaruhi oleh karakter tanaman dimana Pakis Pedang (Nephrolepis exaltata) dengan daun yang relatif tipis (0,2–0,4 mm), tinggi batang sekitar 40–90 cm, dan kerapatan daun yang renggang mampu menurunkan suhu dengan cepat namun menghasilkan pola penurunan lebih fluktuatif. Sebaliknya, Brekele (Philodendron burle-marxii) dengan daun yang lebih tebal (0,6–1,0 mm), tinggi tanaman sekitar 40–60 cm, serta daun yang lebih rapat lebih efektif dalam meredam penetrasi radiasi matahari dan menghasilkan penurunan yang lebih stabil. Simulasi spasial pada ENVI-met di mana sistem selubung tanaman dimodelkan dengan modifikasi parameter seperti Leaf Area Index (LAI) serta properti substrat dan media tanam, menunjukkan bahwa kombinasi atap dan dinding hijau secara bersamaan mampu menurunkan temperatur udara maksimum kawasan dari 34,94°C menjadi 34,54°C serta mengurangi area panas ekstrem (>34°C) sebesar 688 m² atau 19,6% dari total tapak. Distribusi panas kawasan menunjukkan pergeseran area panas tinggi menjadi kategori panas ringan (31–32°C), menandakan efek sinergis tanaman terhadap homogenisasi termal lingkungan. Secara konseptual, kombinasi tanaman horizontal dan vertikal membentuk mekanisme pendinginan dua lapis, yaitu atap hijau sebagai peredam panas vertikal dan dinding hijau sebagai penyebar panas horizontal yang bersama-sama memperkuat aliran udara sejuk antarpermukaan dan menurunkan puncak suhu harian. Hasil analisis juga mengindikasikan bahwa pengaruh kondisi cuaca juga terbukti berpengaruh, di mana peningkatan tutupan awan (cloud cover) hingga 60% ke atas menurunkan kapasistas evapotranspirasi harian. Temuan ini dapat dipahami karena tanaman tropis membutuhkan asupan radiasi matahari yang optimal terutama pada kondisi di atas 350 W/m² untuk mencapai proses evapotrapotranspirasi terbaik. Secara keseluruhan, dinding dan atap hijau merupakan teknologi mitigasi UHII untuk kawasan perumahan padat dengan iklim tropis lembap.

2026
👤 Penulis: Farhan Ramadhan
🏷️ Urban Heat Island 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGEMBANGAN STRATEGI MITIGASI URBAN HEAT ISLAND MELALUI FAKTOR GEOMETRI DAN MATERIAL PADA KAWASAN PERKOTAAN

Fenomena kenaikan temperatur udara di kawasan perkotaan, yang dikenal sebagai Urban Heat Island (UHI), dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain perubahan tata guna lahan atau Land Use Land Cover (LULC), transportasi perkotaan, urbanisasi, dan aktivitas antropogenik. Jika tidak ditangani, UHI dapat memberikan dampak negatif pada kehidupan perkotaan, termasuk memburuknya kesehatan masyarakat, peningkatan konsumsi energi bangunan, meningkatnya kejadian cuaca ekstrem, dan masalah lingkungan lainnya. Selama lima dekade terakhir, berbagai strategi mitigasi UHI telah dikembangkan, meliputi penataan geometri perkotaan, Urban Canopy (UC) dengan rasio tinggi-lebar atau height-width (H/W), penambahan vegetasi untuk meningkatkan Sky View Factor (SVF), penerapan atap dan dinding hijau, dan penggunaan material reflektif, serta perencanaan kota yang mempertimbangkan rasio ruang hijau. Namun, strategi mitigasi yang komprehensif geometri dan material untuk lingkungan tropis masih terbatas dan memerlukan penelitian lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi mitigasi UHI berdasarkan kinerja termal kawasan, dengan mempertimbangkan pengaruh geometri dan material pada lingkungan tropis. Rancangan penelitian diawali dengan identifikasi kawasan perkotaan berkepadatan tinggi, baik vertikal maupun horisontal, menggunakan citra satelit. Area yang dipilih meliputi kawasan di kota Jakarta: Sudirman, Thamrin, dan S. Parman, yang memiliki karakteristik geometri dan material berbeda. Intensitas Surface Urban Heat Island (SUHI) dianalisis menggunakan citra termal dan diverifikasi melalui pengukuran lapangan. Pengukuran lapangan dilakukan selama tiga hari (28–30 Juli 2022), dengan memantau variabel seperti temperatur udara (Ta), globe temperature (Tg), tingkat Solar Irradiance(solar irradiation-SI), kondisi langit (cloud cover), kecepatan angin (v), dan kelembapan (RH) pada waktu tertentu. Selanjutnya, strategi mitigasi UHI diuji menggunakan simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD) pada kawasan vertikal dan horisontal untuk mengamati pola pergerakan dan kecepatan angin. Analisis citra satelit mencakup interpretasi termal kawasan serta hubungan antara geometri dan material terhadap intensitas SUHI. Data hasil pengukuran lapangan dibandingkan untuk memahami kondisi termal kawasan dengan intensitas SUHI tinggi dan rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa geometri dan material kawasan sangat mempengaruhi intensitas SUHI. Kawasan dengan konfigurasi superblock vertikal memiliki intensitas SUHI lebih rendah akibat orientasi Timur-Barat-Utara-Selatan yang hampir sama (0,56–0,44), naungan yang besar (rata-rata 0,31 m²), indeks softscape tinggi (>0,3), dan penggunaan material reflektif seperti paving dan atap. Sebaliknya, kawasan grid horisontal dengan proporsi dinding Timur-Barat lebih lebar (0,8–0,2), naungan yang rendah (0,15–0,16 m²), indeks softscape kecil (<0,1), dan material berat seperti aspal menunjukkan intensitas SUHI lebih tinggi. Penelitian ini juga merumuskan dua indeks mitigasi UHI, yaitu Solar Heating Index (SHI) untuk mengukur perolehan kalor, dan Convective Cooling Index (CCI) untuk mengukur pendinginan konvektif. Kawasan vertikal menunjukkan SHI lebih rendah (21,7) dibandingkan kawasan horisontal (55,9), serta CCI yang lebih tinggi (0,62 dibandingkan 0,09). Hal ini menunjukkan bahwa konfigurasi cluster vertikal lebih efisien dalam mengurangi panas melalui peningkatan turbulensi udara. Strategi mitigasi yang melibatkan intervensi geometri dan material ini juga diuji melalui simulasi CFD, yang menunjukkan potensi peningkatan pendinginan konvektif pada siang dan sore hari. Strategi mitigasi UHI melalui peran geometri dan material kawasan perkotaan ini memperkaya strategi mitigasi UHI yang ada. Hasil penelitian ini memiliki potensi untuk diusulkan sebagai bagian dari panduan perencanaan kota (Urban Design Guideline – UDGL). Yaitu indeks SHI dan CCI sebagai alat bantu desain kawasan. Strategi ini berpotensi mengurangi konsumsi energi bangunan, meningkatkan kenyamanan termal aktivitas luar ruang, serta memberikan dampak positif pada kesejahteraan emosional masyarakat. Penelitian selanjutnya dapat mengembangkan simulasi konfigurasi geometri dan material dengan variasi yang lebih beragam untuk meningkatkan kualitas lingkungan termal perkotaan.

2025
👤 Penulis: Yaseri Dahlia Apritasari
🏷️ Urban Heat Island 🏷️ Geometri Perkotaan 🏷️ Material Reflektif

IDENTIFIKASI PARTISIPASI RUMAH TANGGA DALAM MITIGASI DAN ADAPTASI FENOMENA URBAN HEAT ISLAND DI KOTA BEKASI

Kenaikan suhu bumi mencapai 0,20 Celcius terjadi pada setiap dekade. Heat waves lebih intens di wilayah perkotaan dibandingkan perdesaan terjadi sebagai efek urban heat island (UHI). Urbanisasi menyebabkan bertambahnya perubahan tutupan lahan, bangkitan kendaran, bertambahnya penggunaan energi listrik dan air, serta bertambahnya penghasilan limbah. Faktor-faktor tersebut akan berpengaruh terhadap pemanasan suhu permukaan kota. Kota Bekasi sebagai kota satelit Ibu Kota DKI Jakarta bertransformasi menjadi kawasan hunian bagi kaum urban. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi partisipasi rumah tangga di Kota Bekasi dalam mitigasi dan adaptasi fenomena urban heat island serta hubungannya dengan faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi. Pengumpulan data primer melalui kuesioner serta pengumpulan data sekunder melalui jurnal, buku, media popular, dan website. Metode analisis yang digunakan adalah analisis spasial, statistik deskriptif dan Rasch Model. Hasil dari penelitian ini adalah terjadi maladaptasi dan tingkat partisipasi mitigasi rumah tangga masih tergolong menengah cenderung rendah dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin dan pendapatan. Perlunya kesadaran masyarakat bahwa solusi UHI adalah dengan beralih pada penggunaan pada trasnportasi publik, pengelolaan air limbah di IPAL, dan penerapan prinsip daur ulang diterapkan pada berbagai pola konsumsi rumah tangga. UHI yang masih dan akan terus berlangsung memerlukan rencana strategis di tingkat kota untuk mencapai tujuan pendinginan kota.

2024
👤 Penulis: Lingga Bialfi
🏷️ Urban Heat Island 🏷️ Partisipasi Rumah Tangga 🏷️ Analisis Spasial

ANALISIS KEBUTUHAN RUANG HIJAU DALAM UPAYA MENCEGAH URBAN HEAT ISLAND DI KOTA BANDUNG

Efek perubahan iklim, urbanisasi, dan perencanaan tata guna lahan yang kurang baik dapat menyebabkan adanya peningkatan suhu lingkungan terutama di daerah perkotaan. Urbanisasi dan pembangunan yang masif juga terjadi di Kota Bandung yang telah menjadi daerah terpadat ketiga setelah Jakarta dan Surabaya. Hal itu menyebabkan minimnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Bandung. Pada penelitian ini, didapat bahwa luasan Ruang Terbuka Hijau tercatat tidak memenuhi standar minimal ruang hijau menurut WHO yaitu sebesar 9 m2/jiwa. Rata-rata luasan RTH di Kota Bandung masih sekitar 8,23 m2/jiwa selama periode 2012-2022. Rata-rata suhu permukaan lahan (Land Surface Temperature) diekstraksi dari Landsat MODIS (MOD11A2) Versi 6.1. Rata-rata suhu permukaan lahan (Land Surface Temperature) sebagai parameter analisis Urban Heat Island (UHI) meningkat sebesar 2,51°C selama periode 2003-2023 (berturut-turut 37,38°C dan 39,89°C pada 2003 dan 2023). Urbanisasi di Kota Bandung dianalisis lebih lanjut melalui metode Drivers-Pressures-State- Impact-Rensponses (DPSIR) untuk menentukan solusi ekosistem alami dalam rangka memperbaiki kualitas Ruang Terbuka Hijau dalam rangka mencegah peningkatan Urban Heat Island di Kota Bandung. Hasil analisis DPSIR menunjukkan bahwa diperlukan adanya pengelolaan lahan terutama green-blue space secara inklusif melalui implementasi Indeks Hijau-Biru Indonesia (IHBI).

2024
👤 Penulis: Billy Birrul Amri
🏷️ Urban Heat Island 🏷️ Manajemen Ruang Terbuka Hijau 🏷️ Analisis Dpsir

IDENTIFIKASI PERSEPSI DAN RESPONS MASYARAKAT TERHADAP PENINGKATAN SUHU DAN FENOMENA URBAN HEAT ISLAND (STUDI KASUS: KOTA BOGOR)

Peningkatan suhu di area perkotaan disebabkan oleh perubahan iklim dan fenomena urban heat island (UHI), dan berdampak pada kesehatan serta produktivitas penduduk perkotaan. Penduduk perkotaan akan memiliki risiko tinggi pada kejadian cuaca dan iklim ekstrem, maka diperlukan upaya mitigasi dan adaptasi terhadap peningkatan suhu yang terjadi. Peningkatan suhu perkotaan seringkali luput dari perhatian, padahal dampak yang dirasakan akan semakin besar tanpa penanganan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi dan respons masyarakat di Kecamatan Bogor Barat dan Tanah Sareal, Kota Bogor, terhadap peningkatan suhu dan fenomena UHI. Kuesioner disebarkan untuk mengumpulkan data karakteristik responden, persepsi, serta strategi mitigasi dan adaptasi, sebagai respon terhadap situasi yang terjadi. Statistika deskriptif, estimasi karakteristik populasi, analisis asosiasi, analisis varians, analisis faktor, dan enumerasi digunakan untuk mengolah data yang diperoleh. Mayoritas penduduk wilayah studi diestimasikan telah merasakan peningkatan suhu meski belum pernah mendengar istilah UHI, dan ditemukan persepsi bahaya yang cenderung rendah pada responden. Peningkatan suhu memberikan dampak dengan nilai yang beragam, dengan hubungan dan perbedaan yang dapat diamati pada jenis kelamin, kelompok usia, dan pendidikan terakhir terhadap beberapa aspek persepsi, serta persepsi bahaya dengan variabel persepsi lainnya. Terdapat hubungan serta perbedaan terkait pengetahuan terhadap UHI dengan strategi mitigasi, serta respons dikelompokkan ke dalam 10 faktor. Penggunaan AC menjadi strategi dalam mengahdapi peningkatan suhu yang umum dilakukan, dengan kebiasaan yang beragam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan suhu telah dirasakan dan memberikan dampak yang beragam, meski pengetahuan terhadapnya masih kurang, serta respon masyarakat terhadapnya cukup beragam. Peran aktif masyarakat dan pemerintah diperlukan dalam upaya pengurangan suhu panas perkotaan.

2024
👤 Penulis: Aliza Puspa Salsabilla
🏷️ Urban Heat Island 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Faktor

PRINSIP PERANCANGAN KAWASAN TRANSPORTASI SESUAI DENGAN PRINSIP CLIMATE-SENSITIVE URBAN DESIGN (STUDI KASUS: KAWASAN DUKUH ATAS)

Perubahan guna lahan dari vegetasi menjadi perkerasan di lingkungan perkotaan merupakan kontributor terbesar dalam terjadinya fenomena Urban Heat Island, terutama di pusat kota. Kawasan Dukuh Atas yang terletak tepat di pusat Kota Jakarta Pusat memiliki simpul transit terbanyak di provinsi DKI Jakarta serta memiliki rencana desain kawasan yang kompak dan padat. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan prinsip perancangan kawasan Dukuh Atas yang lebih tanggap iklim untuk menciptakan lingkungan yang lebih nyaman secara termal bagi penduduk, pekerja, maupun commuter yang kerap mengunjungi Kawasan Dukuh Atas. Dengan menggunakan metode penelitian campuran, yakni analisis deskriptifkuantitatif, analisis kualitatif, dan analisis spasial, peneliti dapat mengetahui kondisi kenyamanan termal rencana pengembangan Kawasan Dukuh Atas berdasarkan prinsip-prinsip Climate-Sensitive Urban Design. Penelitian ini menggunakan aplikasi Envi-Met untuk mensimulasikan kondisi kenyamanan termal pada rencana pengembangan Kawasan Dukuh Atas dengan skala kenyamanan termal yang digunakan yaitu PMV (Predicted Mean Vote). Hasil simulasi aplikasi Envi-Met menunjukkan bahwa lokasi studi memiliki indeks PMV yang tergolong sangat tidak nyaman pada pagi hari yang didukung oleh tingginya temperatur udara dan temperatur radiasi (Mean Radiant Temperature). Selain itu, perancangan Rencana Kawasan Dukuh Atas belum sesuai dengan prinsip ClimateSensitive Urban Design sehingga berkontribusi terhadap kondisi kenyamanan termal yang tidak nyaman.Maka sebagai upaya penurunan indeks PMV kawasan sekaligus menurunkan efek dari Urban Heat Island terhadap iklim mikro kawasan, perumusan prinsip perancangan kawasan merekomendasikan untuk menciptakan desain kawasan dengan konfigurasi yang lebih terbuka, pembentukan superblok, peragaman tinggi bangunan, serta meningkatkan adanya pepohonan dan RTH pada kawasan.

2024
👤 Penulis: Fauza Nisa Al Qudsi
🏷️ Urban Heat Island 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi
💬