📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 3 dokumen

PENGARUH MORFOLOGI PERKOTAAN DAN AKTIVITAS SOSIO-EKONOMI TERHADAP SIKLUS HARIAN SUHU PERMUKAAN PADA ZONA FUNGSIONAL DI KAWASAN PERKOTAAN DKI JAKARTA

Pesatnya urbanisasi mendorong transformasi lingkungan perkotaan beriklim tropis yang memperparah fenomena Urban Heat Island (UHI). Namun, pemahaman mengenai variasi Land Surface Temperature (LST) berdasarkan fungsi kawasan dan dinamika hariannya masih terbatas, khususnya di DKI Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh morfologi perkotaan dan aktivitas sosio-ekonomi terhadap siklus harian LST berdasarkan Urban Functional Zone (UFZ) di DKI Jakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dan eksplanatif dengan blok UFZ sebagai satuan analisis. Data yang digunakan meliputi LST dari ECOSTRESS (Juni–Oktober 2025), variabel morfologi 2D dan 3D dari Sentinel-2A, Google Open Building, dan CHMv2, serta indikator sosioekonomi dari WorldPop dan SDGSAT-1. Pemodelan Ordinary Least Squares (OLS), Geographically Weighted Regression (GWR), dan Multiscale Geographically Weighted Regression (MGWR) digunakan pada studi ini untuk melihat pengaruh variabel tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LST siang hari membentuk pola clustering dengan konsentrasi panas pada kawasan industri dan permukiman padat di bagian utara Jakarta, sedangkan pada malam hari terbentuk gradien suhu utara–selatan dengan kawasan pesisir sebagai pusat retensi panas. Variasi LST pada siang hari dipengaruhi terutama oleh kepadatan penduduk yang diperkuat oleh dominasi karakteristik material terbangun, sementara pada malam hari faktor sosio-ekonomi menjadi pengendali utama melalui pelepasan panas antropogenik. Model MGWR secara konsisten memberikan kinerja terbaik dengan nilai R² mencapai 0,94, yang mengindikasikan adanya heterogenitas spasial dalam pengaruh morfologi perkotaan dan aktivitas sosio-ekonomi terhadap LST. Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi mitigasi UHI di Jakarta perlu dirancang secara spesifik sesuai karakteristik zona fungsional serta mempertimbangkan perbedaan mekanisme pembentukan suhu antara periode siang dan malam hari.

2026
👤 Penulis: Aisyah Syahidatunnisa
🏷️ Lingkungan Perkotaan 🏷️ Urban Heat Island (Uhi) 🏷️ Analisis Geografis

ANALISIS FLUKS AIR DAN ENERGI MENGGUNAKAN SURFACE URBAN ENERGY AND WATER BALANCE SCHEME (SUEWS) DI IBU KOTA NEGARA (IKN) NUSANTARA

Pengembangan kawasan urban yang semakin masif secara global berdampak pada keseimbangan lingkungan dan iklim lokal, termasuk pembentukan urban heat island (UHI) dengan mengubah neraca air dan energi. Untuk memodelkan dampak urban terhadap neraca energi dan air, Surface Urban Energy and Water balance Scheme (SUEWS) telah digunakan pada penelitian-penelitian di kota-kota besar dunia. Meskipun demikian, penelitian dengan metode ini pada wilayah beriklim tropis masih terbatas. Di sisi lain, Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara menjadi salah satu proyek pengembangan urban yang masif di wilayah beriklim tropis, Indonesia. Meskipun mengusung konsep forest-city yang ramah lingkungan, asesmen terhadap perencanaan proyek ini penting untuk dilakukan sehingga dampak lingkungan khususnya terkait neraca energi dan air dapat dimitigasi. Penelitian ini menggunakan SUEWS dalam memodelkan perubahan fluks energi dan air yang ditimbulkan akibat proyek ini. Penelitian ini memberikan analisis awal meliputi perubahan total fluks energi dan air yang diterima, perubahan evapotranspirasi dan limpasan, serta perubahan temperatur yang mengindikasikan terjadinya UHI. Lokasi studi secara spesifik adalah Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN Nusantara seluas 6671 hektar sebagai kawasan pertama yang dibangun. Pemodelan dilakukan dengan SUEWS-Spatial melalui plug-in Urban Multi-scale Environmental Predictor (UMEP) pada QGIS dengan resolusi spasial 1000x1000 meter. Variasi temporal diwujudkan dengan penggunaan data meteorologi jam-jaman selama 30 tahun yang bersumber dari data satelit ERA5. Mengingat proyek ini sedang dalam tahap perencanaan dan pembangunan yang simultan, penelitian ini memodelkan variasi spasial permukaan dan antrofogenik dengan data-data masterplan yang terbuka serta asumsi dan interpretasi terhadap regulasi yang berlaku, khususnya rencana detail tata ruang wilayah. Untuk dapat mengamati pengaruh kawasan urban baik secara fisik maupun aktivitas manusia secara komprehensif, penelitian ini mensimulasikan tiga skenario, yaitu undeveloped (U) yang menggambarkan kondisi pra-pembangunan; developed (D) yang menggambarkan kondisi masterplan dengan pengaruh aktivitas manusial; dan irrigated-developed (R) yang menambahkan input penggunaan air eksternal untuk irigasi taman pada skenario-D. ii Berdasarkan simulasi yang dijalankan, SUEWS dapat digunakan untuk memodelkan perubahan fluks energi dan air yang terjadi pada area studi. Perubahan fluks total energi masuk, ???????????? signifikan pada seluruh skenario terbangun (D dan R) akibat intensitas aktivitas manusia yang menimbulkan fluks energi antrofogenik, ????????. Sementara, adanya penggunaan air eksternal untuk irigasi, ???????? mengakibatkan perubahan fluks total air masuk, ???????????? yang signifikan pada skenario-R. Meskipun terjadi perubahan ???????? yang signifikan, perubahan evapotranspirasi ratarata pada seluruh skenario tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Namun, pola spasial menunjukkan perbedaan antara grid dengan evapotranspirasi terendah dan tertinggi berbeda dua kali lipat dan keduanya merupakan grid urban. Analisis terhadap pola musiman juga menemukan bahwa ???? pada studi ini sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air permukaan yang tersedia oleh ????????????. Selain ????, ???????????? berpengaruh signifikan terhadap distribusi, pola temporal, dan pola spasial fluks limpasan, ????. Meskipun demikian, dengan ???????????? yang identik, skenario-U memiliki median ???? yang lebih rendah daripada skenario-D. Analisis terhadap perubahan distribusi temperatur permukaan dan udara dilakukan untuk mengetahui adanya indikasi UHI. Analisis pada temperatur rata-rata permukaan menunjukkan adanya pergeseran distribusi pada skenario-D&R dengan peningkatan median masing-masing sebesar 3°???? dan 2°????. Pola spasial menunjukkan kemiripan dengan pola kepadatan penduduk, dimana perbedaan grid dengan temperatur rata-rata permukaan tertinggi dan terendah adalah sekitar 5°???? pada skenario-D dan 4°C pada skenario-R. Hal ini menunjukkan adanya indikasi UHI pada tingkat permukaan dan irigasi dapat membantu mengurangi intensitas UHI tersebut. Berbeda dengan temperatur permukaan, temperatur udara, baik maksimum maupun rata-rata, tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Hal ini mengindikasikan tidak terjadi UHI pada tingkat pemodelan ini. Secara keseluruhan penelitian ini telah memberikan gambaran awal terkait perencanaan konsep forest-city KIPP IKN Nusantara yang berpotensi mencegah terjadi UHI, dengan nilai evapotranspirasi dan limpasan yang bergantung pada suplai air eksternal. Meskipun demikian, peningkatan fluks air-energi yang masuk serta adanya UHI di tingkat permukaan direkomendasikan agar menjadi pertimbangan pada pemodelan, perencanaan, dan pengembangan yang lebih detail di IKN Nusantara.

2025
👤 Penulis: Putu Amarta Sadwika Sukma
🏷️ Hidrologi 🏷️ Urban Heat Island (Uhi) 🏷️ Perencanaan Kota Hijau

STRATEGI INTERVENSI ELEMEN RANCANG KOTA DALAM MENGATUR IKLIM MIKRO KORIDOR PERKOTAAN DI KEBONBARU CIREBON DENGAN BIOPHILIC URBANISM

Peningkatan aktivitas di perkotaan berasal dari urbanisasi yang terjadi dan membuat suatu kawasan menjadi padat. Kebutuhan akan ruang untuk beraktivitas juga selaras dengan pembangunan yang akhirnya mengurangi ruang hijau. Sementara ruang hijau menjadi penting dalam mengatasi pemanasan perkotaan yang sering disebut Urban Heat Island (UHI). Salah satu kota yang tengah mengalami fenomena UHI adalah Kota Cirebon. Dimana wilayahnya memiliki indeks kerapatan vegetasi yang sangat jarang dan juga suhu yang tinggi. Solusi yang befokus dengan iklim lingkungan dan perkotaannya adalah climate sensitive urban design (CSUD). Sementara untuk menghadirkan kembali ruang hijau diperlukan konsep yang sejalan yaitu biophilic urbanism. Sebagai konsep yang ingin menghadirkan kembali alam ke dalam kegiatan sehari-hari pengguna ruang kota, biophilic ini juga mampu dalam beradaptasi dengan perubahan iklim. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi intervensi elemen rancang kota yang mengatur iklim mikro koridor perkotaan di kawasan Kota Cirebon dengan konsep biophilic urbanism. Pendekatan penelitian ini menggunakan studi desain yang menggunakan simulasi perangkat ENVI-met untuk mengevaluasi alternatif-alternatif skenario dengan menggunakan elemen-elemen biophilic urbanism yaitu vegetasi, material perkerasan dan elemen air. Secara umum hasil dapat dikatakan bahwa skenario 2 yang mengombinasikan elemen vegetasi tajuk kolumnar, material dengan nilai albedo 0,7, atap hijau dan fitur air mancur mampu menurunkan suhu maksimumnya sebanyak 1,8oC. Kemudian jika dilihat secara spesifik, setiap segmen koridor di Kebonbaru yang diujikan memiliki kecocokan dengan skenario yang berbeda karena karakteristik yang bervariasi. Akan tetapi, skenario-skenario yang merupakan intervensi memiliki hasil kenyamanan termal yang termasuk kategori tidak nyaman. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konsep biophilic urbanism yang diterapkan pada Kebonbaru, Cirebon masih belum bisa secara optimal mengatur iklim mikronya. Sehingga diperlukan intervensi yang skalanya lebih dari mikro, atau dapat mengintervensi lebih banyak dari segi ketinggian bangunan, ruas jalan dan luas lahan bangunannya.

2025
👤 Penulis: Imas Nurrahmah Priandani
🏷️ Biophilic Urbanism 🏷️ Urban Heat Island (Uhi) 🏷️ Desain Perkotaan
💬