📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5 dokumen

TRANSFORMASI RUANG KAMPUNG KOTA CILENGGANG DI TENGAH EKSPANSI PENGEMBANGAN KOTA BARU TANGERANG SELATAN

Ekspansi pengembangan kota baru di kawasan pinggiran metropolitan Jabodetabek menghasilkan fenomena kampung kota terjepit, permukiman organik yang terkepung perumahan formal. RT 010 dan RT 012 Kampung Cilenggang, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, termasuk kategori kampung terjepit berat dalam radius pengembangan BSD City. Penelitian ini menganalisis transformasi ruang secara temporal, karakter morfologi, serta faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi keberlanjutan kampung. Penelitian menggunakan pendekatan campuran deskriptif-eksplanatif dengan klasifikasi citra Landsat berbasis SVM pada tujuh titik waktu (1995–2025), analisis Urban Index (UI), Building Coverage Ratio (BCR), Street Pattern Analysis, kajian literatur dan wawancara, serta Sustainable Livelihood Approach (SLA) melalui kuesioner kepada 30 responden. Kawasan Terbangun Terencana berkembang dari 0 ha menjadi 125,08 ha sementara RTH/Pertanian menyusut dari 143,76 ha menjadi 97,91 ha dalam empat periodisasi: Pra-Ekspansi, Awal Ekspansi (1995–2005), Akselerasi dan Pengepungan (2005–2015), dan Konsolidasi Terjepit (2015–2025). UI tidak membedakan kampung dan kawasan formal pada skala makro, namun BCR kampung (45,14%) lebih tinggi dari kawasan formal (38,01%), mencerminkan densifikasi internal. RT 010 dan RT 012 menunjukkan pola cul-desac bukan sebagai produk desain, melainkan akibat penutupan akses historis oleh perumahan formal yang mengepungnya. Tidak ada instrumen RDTR yang melindungi permukiman organik eksisting. Analisis SLA menunjukkan Modal Sosial (+0,35) dan Modal Fisik (+1,13) meningkat, sementara Modal Alam (?1,00) dan Modal Manusia (?0,44) menurun. Seluruh responden berencana tetap tinggal, mengkonfirmasi ikatan sosial dan kesadaran historis sebagai faktor dominan kebertahanan kampung. Kebaruan penelitian terletak pada pendekatan tiga lapis integratif yaitu time-series tutupan lahan, morfologi multiskala, dan SLA. Kebertahanan Kampung Cilenggang bersifat kondisional dan bertumpu pada modal sosial, bukan perlindungan regulatif, mengimplikasikan perlunya instrumen perlindungan permukiman organik dalam regulasi tata ruang.

2026
👤 Penulis: Rahmania Afradiella Alifah
🏷️ Geografis 🏷️ Urban Planning 🏷️ Kecerdasan Buatan

PERANCANGAN KORIDOR JABABEKA II DENGAN PENDEKATAN ACTIVE-LIVING KORIDOR

Isu gaya hidup sedentari dan ketergantungan pada kendaraan bermotor menjadi tantangan kesehatan masyarakat global, termasuk di Indonesia. Fenomena ini juga terlihat di Koridor Jababeka II, sebuah kawasan industri strategis di Cikarang yang memiliki keberagaman fungsi lahan (industri, komersial, dan permukiman), namun belum didukung oleh infrastruktur yang memadai bagi pejalan kaki. Keterbatasan fasilitas pedestrian, konektivitas antar-zona yang terputus, serta dominasi kendaraan bermotor menjadikan kawasan ini kurang mendukung mobilitas aktif. Tesis ini bertujuan untuk merumuskan rancangan pengembangan Koridor Jababeka II dengan pendekatan Active-Living Corridor melalui konsep Pedestrian-Friendly. Metode perancangan yang digunakan adalah Metode Fragmental yang diadopsi dari Shirvani (1985), meliputi pengumpulan data, analisis deskriptif kualitatif, gap analysis untuk mengidentifikasi potensi dan masalah, serta teknik perancangan division by aspect. Hasil perancangan mengusulkan visi “Urban Active Corridor” yang dijabarkan ke dalam empat misi utama: Integrated Mobility (mobilitas terpadu), Pedestrian Safety & Comfort (keamanan dan kenyamanan pejalan kaki), Vibrant Community Hubs (pusat komunitas yang hidup), dan Place Identity (identitas tempat). Rancangan ini mengintegrasikan jalur pedestrian dan pesepeda yang menerus, mengaktifkan ruang publik melalui pocket park dan plaza komunitas, serta menata ulang elemen fisik koridor untuk menciptakan lingkungan yang inklusif, aman, dan menstimulasi aktivitas fisik sehari-hari bagi pekerja maupun warga sekitar.

2026
👤 Penulis: Muhammad Faiz Naufal
🏷️ Urban Planning 🏷️ Active-Living Corridor 🏷️ Mobility Management

PENGEMBANGAN ROSTER PLANTER DAN COMPOSTER TERINTEGRASI BERBASIS BIOPHILIC DESIGN UNTUK HUNIAN DENGAN LAHAN TERBATAS

Meskipun kesadaran masyarakat terhadap kesehatan lingkungan serta minat terhadap aktivitas berkebun, pengelolaan sampah organik, dan interaksi dengan alam semakin meningkat, keterbatasan ruang hijau di kawasan urban padat—terutama pada hunian dengan lahan terbatas—masih menjadi tantangan. Padahal, fenomena Urban Heat Island semakin nyata di kota-kota panas Indonesia, dan penghijauan dalam skala sekecil apapun dapat memberikan dampak positif. Berdasarkan prinsip dan penerapan Biophilic Design, serta pemetaan kebutuhan penghuni urban, studi produk preseden, observasi lapangan di berbagai lokasi hunian, dan beberapa eksperimen pendukung, dikembangkanlah desain bata roster yang tetap menjalankan fungsi ventilasi dan pencahayaan, namun kini juga terintegrasi dengan tempat planter dan composter yang mendukung penghijauan, serta pengelolaan dan daur ulang sampah organik secara berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Alya Jasmine Gunawan
🏷️ Biophilic Design 🏷️ Urban Planning 🏷️ Hidrologi

ANALISIS POTENSI RISIKO LAND SUBSIDENCE TERHADAP RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA BANDUNG: STUDI KASUS KECAMATAN GEDEBAGE

Ancaman land subsidence di Kecamatan Gedebage berdasarkan hasil pantauan Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR) menunjukkan laju penurunan tanah 5 hingga > 8 cm/tahunnya. Penurunan tanah ini disebabkan oleh faktor litologi tanah lunak yang mudah terkompresi dan dipercepat oleh faktor penggunaan air tanah. Bahkan tanpa faktor penggunaan air tanah, Kecamatan Gedebage akan terus mengalami land subsidence akibat karakteristik tanahnya yang lunak. Meski demikian, Kecamatan Gedebage tetap direncanakan sebagai Pusat Pelayanan Kota (PPK) untuk melayani Kota Bandung bagian timur atau seluruhnya. Sebagai PPK yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, hal tersebut dapat meningkatkan kerentanan dari segi urban development. Adanya bahaya dari segi laju penurunan tanah dan kerentanan dari segi urban development sangat berpotensi meningkatkan risiko terhadap berbagai dampak yang dapat ditimbulkan akibat penurunan permukaan tanah, seperti kerusakan sarana dan prasarana, kerugian ekonomi, dan bahkan dapat berdampak hilangnya nyawa pada beberapa kasus ekstrem. Ancaman land subsidence ini juga berimplikasi terhadap rencana tata ruang yang telah disusun untuk Kecamatan Gedebage. Oleh karena itu, dilakukan penelitian dengan tujuan melihat potensi risiko land subsidence terhadap perencanaan tata ruang Kecamatan Gedebage, mencakup rencana struktur ruang dan pola ruang. Metode yang dilakukan dalam penelitian adalah mix method dengan menggabungkan antara pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan spasial. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, semua wilayah Kecamatan Gedebage berada pada ancaman bahaya land subsidence, dengan luas total wilayah 972 Ha, luas wilayah pada kelas bahaya tinggi 543 Ha dan luas wilayah pada kelas bahaya sangat tinggi 429 Ha. Sedangkan untuk kerentanan land subsidence di Kecamatan Gedebage terdiri atas 5 kelas kerentanan, yaitu kerentanan sangat rendah 19,4 Ha, rendah 161,3 Ha, sedang 367,73 Ha, tinggi 415,93 Ha, dan sangat tinggi sekitar 7,64 Ha. Berdasarkan hasil analisis risiko dengan mengalikan bahaya dan kerentanan, dihasilkan 4 kelas risiko, yaitu rendah 12 Ha, sedang 123 Ha, tinggi 635 Ha dan sangat tinggi 202 Ha. Kemudian untuk tingkat risiko land subsidence terhadap perencanaan tata ruang berdasarkan RTRW Kota Bandung Tahun 2022- 2042 melingkupi rencana struktur ruang dan pola ruang. Dari hasil analisis pada rencana struktur ruang yang terdiri atas infrastruktur dan jaringan, 14 infrastruktur yang berpotensi mengalami gangguan akibat land subsidence,1 pada risiko rendah, 2 sedang, 10 pada risiko tinggi dan 1 pada risiko sangat tinggi, sedangkan terhadap jaringan struktur ruang terdapat panjang jaringan 1,47 Km pada risiko rendah, 44,74 Km risiko sedang, 85,01 Km risiko tinggi, dan 36,89 Km pada risiko sangat tinggi. Untuk rencana pola ruang yang berpotensi mengalami risiko land subsidence terdiri atas 802 Ha kawasan budidaya dan 170 Ha kawasan lindung, terutama pada kawasan budidaya tepatnya kawasan perumahan di Kelurahan Cisaranten Kidul dan Rancabolang yang berada pada tingkat risiko tinggi hingga sangat tinggi.

2025
👤 Penulis: Andi Tenri Khalik Jabbar
🏷️ Geologi 🏷️ Urban Planning 🏷️ Risk Assessment

KONSEP ELEMEN BIOTIK SEBAGAI IDENTITAS KOTA: STUDI KASUS KOTA WATANSOPPENG

Literatur tradisional identitas kota dalam teori perencanaan banyak mendiskusikan mengenai elemen arsitektural dan lanskap geografis, sementara elemen biotik kurang mendapat perhatian. Disertasi ini bertujuan untuk mengungkap peran elemen biotik terhadap identitas kota, baik dalam konteks identity of urban, identity in urban, maupun identity for urban. Disertasi ini juga bertujuan untuk memberi penjelasan mengenai ketiga konsep identitas kota tersebut sehingga dapat lebih mudah dipahami dalam teori dan praktik perencanaan. Disertasi ini menerapkan strategi studi kasus dengan mengambil kasus tunggal di Kota Watansoppeng sebagai kota yang memiliki habitat kalong di pusat kota. Metode pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dokumentasi, dan pengorekan data di Google Review. Hasil disertasi adalah kerangka konsep identitas kota berupa identity of urban, identity in urban, dan identity for urban. Selain itu, disertasi ini menemukan bahwa elemen biotik memiliki peranan penting sebagai identity of urban Watansoppeng, pembentuk identitas masyarakat perkotaan (identity in urban) di Watansoppeng, dan bahan penjenamaan Kota Watansoppeng (identity for urban).

2024
👤 Penulis: Fitrawan Umar
🏷️ Identitas Kebijakan Publik 🏷️ Urban Planning 🏷️ Analisis Elemen Biotik
💬