📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 43 dokumen

PEMODELAN TUTUPAN LAHAN BERBASIS SKENARIO KEBIJAKAN SPASIAL DAN IMPLIKASINYA TERHADAP POTENSI LIMPASAN PERMUKAAN DI KOTA SEMARANG

Urbanisasi di Kota Semarang mendorong perubahan tutupan lahan yang meningkatkan potensi limpasan permukaan dan risiko banjir pluvial. Meskipun RTRW berperan mengarahkan perubahan tersebut, implikasi berbagai skenario kebijakan terhadap kondisi hidrologi wilayah belum banyak dievaluasi. Penelitian ini bertujuan memodelkan perubahan tutupan lahan berbasis skenario kebijakan serta mengevaluasi implikasinya terhadap potensi limpasan permukaan di Kota Semarang. Tiga skenario yang dianalisis meliputi Business-as-Usual (S1), RTRW Compliant (S2), dan Active Resilience (S3). Penelitian menggunakan data citra Landsat-8 dan Sentinel-2, data curah hujan CHIRPS, peta Hydrologic Soil Group (HSG), serta variabel pendorong perubahan tutupan lahan lainnya. Analisis dilakukan melalui klasifikasi tutupan lahan menggunakan algoritma Random Forest, pemodelan proyeksi menggunakan metode Cellular Automata–Markov (CA-Markov), serta estimasi limpasan permukaan menggunakan model InVEST Urban Flood Risk Mitigation (UFRM) berbasis metode Soil Conservation Service– Curve Number (SCS-CN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode 2015–2025 luas lahan terbangun meningkat sebesar 2.625,84 ha (7,11%), sedangkan vegetasi non-pertanian berkurang sebesar 3.281,70 ha (8,89%). Proyeksi tahun 2030 menunjukkan bahwa S1 menghasilkan ekspansi lahan terbangun terbesar, S2 mampu mengendalikan perkembangan kawasan sesuai arahan RTRW dengan mengurangi lahan terbangun sebesar 1.104,04 ha dibandingkan S1, sedangkan S3 menghasilkan tutupan vegetasi non-pertanian tertinggi sebesar 14.579,80 ha, meningkat 614,62 ha dibandingkan kondisi tahun 2025. Evaluasi hidrologi menunjukkan bahwa S3 menghasilkan volume limpasan permukaan terendah dengan penurunan sebesar 1,86% dibandingkan S1. Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi kebijakan tata ruang dan peningkatan tutupan vegetasi lebih efektif dibandingkan pembatasan spasial semata, serta dapat menjadi masukan dalam evaluasi RTRW Kota Semarang menuju pembangunan yang lebih adaptif terhadap risiko hidrologi.

2026
👤 Penulis: Fahreza Nurkartika Hapsari
🏷️ Urbanisasi 🏷️ Analisis Potensi Limpasan Permukaan 🏷️ Kebijakan Tata Ruang

URBAN FOODSCAPE BANDUNG: INTEGRATED ARCHITECTURE TO RESTORE HUMAN–FOOD ATTACHMENT AND REDUCE FOOD DEPENDENCY

Urbanisasi di Kota Bandung menyebabkan meningkatnya ketergantungan terhadap pasokan pangan dari wilayah sekitar, sementara keterbatasan lahan produktif dan perubahan iklim meningkatkan kerentanan sistem pangan perkotaan. Kondisi tersebut turut mengurangi keterlibatan masyarakat dalam proses produksi pangan sehingga memunculkan keterputusan hubungan masyarakat dengan sistem pangan (urban food attachment). Penelitian ini bertujuan menghasilkan rancangan arsitektur yang mengintegrasikan sistem pangan perkotaan dengan aktivitas publik sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus membangun kembali keterhubungan masyarakat terhadap sumber pangannya. Perancangan dilakukan melalui pendekatan adaptive reuse terhadap bangunan mangkrak The Maj Dago Apartment di Kota Bandung menjadi Urban Foodscape Bandung, yaitu pusat urban farming terpadu yang mengintegrasikan fungsi pembibitan, budidaya, panen, pengolahan, distribusi, konsumsi, edukasi, dan komunitas dalam satu sistem ruang. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, observasi tapak, analisis preseden, serta pengembangan konsep dan simulasi desain. Strategi perancangan disusun berdasarkan alur siklus pangan (food journey), didukung penerapan sistem hidroponik berteknologi tinggi, prinsip ekonomi sirkular, pemanfaatan struktur eksisting, serta integrasi energi terbarukan melalui photovoltaic panel. Hasil perancangan berupa fasilitas urban farming terpadu yang menghubungkan aktivitas produksi pangan dengan ruang publik melalui pengalaman spasial yang berkesinambungan. Rancangan ini mengintegrasikan fungsi produksi, edukasi, distribusi, dan interaksi sosial dalam satu kesatuan sistem sehingga mendukung peningkatan ketahanan pangan perkotaan, pemanfaatan kembali bangunan eksisting, serta penguatan keterhubungan masyarakat dengan sistem pangan.

2026
👤 Penulis: Raia Rahmah Ramadani
🏷️ Urbanisasi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

KETENANGAN DALAM ARUS: PERPUSTAKAAN UMUM TERINSPIRASI AIR SEBAGAI RUANG TEDUH SEMENTARA DI GEDEBAGE, BANDUNG

Sifat air yang mengalir dan dapat berubah-ubah, merepresentasikan dualitas kehidupan manusia, baik yang tenang maupun yang penuh hambatan. Dalam proyek ini, air tidak hanya berperan sebagai elemen fisik, tetapi juga sebagai konsep dasar yang membentuk atmosfer, perilaku pengguna, maupun pengalaman ruang. Karakter air yang adaptif diterjemahkan ke dalam bentuk arsitektur untuk menciptakan perpustakaan umum yang memberikan ketenangan dan kenyamanan di tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan. Seperti air yang mengalir, perpustakaan ini didesain sebagai tempat perlindungan sementara dari tekanan kehidupan perkotaan dimana para pengguna dapat berhenti sejenak sebelum melanjutkan kehidupannya masing-masing. Sebagai salah satu pusat kota dan pendidikan yang terus berkembang di Indonesia, Bandung mengalami urbanisasi yang pesat, terutama di kawasan berkembang seperti Gedebage. Pertumbuhan ini membentuk lingkungan kota yang semakin padat dan berpotensi menimbulkan overstimulasi bagi penggunanya. Pada sisi lain, Indonesia juga sedang menghadapi penurunan tingkat literasi, serta fasilitas perpustakaan yang tidak memadai, terutama dalam segi distribusi layanan, dan tingkat kunjungan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya fasilitas pembelajaran umum yang tidak hanya berfungsi tetapi juga dapat membuat pengguna merasa lebih nyaman, tenang dan inklusif di lingkungannya. Untuk proyek ini, tipologi yang dipilih adalah perpustakaan umum karena perpustakaan dapat mengintegrasikan beberapa aktivitas, seperti membaca, belajar, dan berinteraksi antar pengguna. Namun, dalam proyek ini, perpustakaan dirancang bukan hanya sebagai fasilitas literasi, tetapi juga sebagai ruang publik yang merespons overstimulasi kota melalui pengaturan zona dan pengalaman ruang yang lebih tenang. Perpustakaan ini terletak di Gedebage, Bandung, di kawasan fasilitas publik yang kini sedang berkembang, sehingga memiliki posisi yang strategis untuk menjangkau lingkungan pendidikan, permukiman, serta masyarakat perkotaan di sekitarnya. Kondisi tapak yang berada di dataran rendah dan rawan banjir, menjadi peluang untuk menghadirkan air lebih dari sekedar elemen simbolis, tetapi juga sebagai bagian dari strategi desain yang merespons kondisi lingkungan secara langsung. Pendekatan desain dalam proyek ini mencakup pendekatan perilaku pengguna, zonasi sensorik, dan keberlanjutan. Ruang-ruang di dalam perpustakaan disusun berdasarkan tingkat stimulasi yang berbeda, sehingga pengguna dapat mengalami perpindahan secara bertahap dari suasana kota yang padat dan ramai menuju lingkungan yang lebih tenang, nyaman, dan fokus. Elemen air dihadirkan melalui kolam, courtyard, koneksi visual, bioswale, rain garden, serta evaporative cooling facade untuk membantu menurunkan suhu, mengelola air hujan, dan merespons kondisi pulau panas perkotaan. Dalam proses perancangannya, proyek ini menggunakan beberapa metode, seperti studi literatur mengenai arsitektur yang terinspirasi oleh air, analisis tapak, analisis aktivitas pengguna berdasarkan kelompok usia dan pola penggunaan, studi preseden perpustakaan publik, serta observasi terhadap perpustakaan eksisting di Bandung. Metode-metode ini menjadi dasar untuk merancang perpustakaan yang tidak hanya menjawab kebutuhan literasi, tetapi juga merespons isu sosial dan lingkungan di sekitarnya. Dalam proses perancangannya, proyek ini menggunakan beberapa metode, seperti studi literatur mengenai arsitektur yang terinspirasi oleh air, analisis tapak, analisis aktivitas pengguna berdasarkan kelompok usia dan pola penggunaan, studi preseden perpustakaan publik, serta observasi terhadap perpustakaan eksisting di Bandung. Metode-metode ini menjadi dasar untuk merancang perpustakaan yang tidak hanya menjawab kebutuhan literasi, tetapi juga merespons isu sosial dan lingkungan di sekitarnya.

2026
👤 Penulis: Sabrina Hessa Kalila
🏷️ Perpustakaan Umum 🏷️ Urbanisasi 🏷️ Desain Arsitektur

OPTIMASI SISTEM PROTEKSI PASIF DAN SARANA EVAKUASI KEBAKARAN PADA HUNIAN KAMPUNG PADAT PERKOTAAN (STUDI KASUS: KELURAHAN CIJERAH, KECAMATAN BANDUNG KULON, KOTA BANDUNG)

Risiko kebakaran pada permukiman padat perkotaan di Indonesia terus meningkat seiring laju urbanisasi yang tidak diimbangi oleh perencanaan spasial dan sistem keselamatan kebakaran yang memadai. Permukiman kampung kota umumnya berkembang secara organik dengan kepadatan bangunan tinggi, jarak antarbangunan yang sangat rapat, akses jalan lingkungan yang sempit, serta keterbatasan sarana proteksi kebakaran. Kondisi tersebut menyebabkan tingginya potensi penyebaran api dan asap sekaligus menghambat proses evakuasi penghuni. Kelurahan Cijerah, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung, merupakan salah satu kawasan dengan tingkat risiko kebakaran tinggi hingga sangat tinggi berdasarkan kajian Urban Premise Fire Risk Assessment (2025). Kawasan ini memiliki karakteristik khas kampung kota berupa jaringan gang yang tidak teratur, bangunan semi permanen yang saling berhimpitan, keterbatasan ruang terbuka, serta minimnya penerapan sistem proteksi pasif kebakaran. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik eksisting kawasan, menganalisis hubungan antara karakteristik fisik, spasial, dan perilaku penghuni terhadap risiko kebakaran dan keselamatan evakuasi, serta merumuskan strategi optimasi sistem proteksi pasif dan sarana evakuasi yang sesuai dengan kondisi kampung padat perkotaan. Penelitian menggunakan pendekatan mixed-method dengan mengombinasikan observasi lapangan, pemetaan spasial, wawancara penghuni, analisis Space Syntax, pemodelan Bayesian Network, simulasi kebakaran menggunakan Pyrosim, simulasi evakuasi menggunakan Pathfinder, serta analisis statistik inferensial. Analisis keselamatan dilakukan melalui pendekatan performance-based fire engineering dengan membandingkan Available Safe Egress Time (ASET) dan Required Safe Egress Time (RSET). Objek penelitian mencakup dua belas unit hunian pada RT 06 RW 07 Kelurahan Cijerah yang mewakili karakteristik kampung padat perkotaan. Strategi optimasi diuji melalui dua skenario intervensi, yaitu optimasi fisik berbasis ventilasi dan sekat parsial (P1), serta intervensi terintegrasi berupa kompartementasi penuh, perbaikan jalur evakuasi, dan peningkatan kapasitas masyarakat melalui edukasi dan simulasi evakuasi (P2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingginya risiko kebakaran merupakan akibat interaksi kompleks antara faktor fisik, spasial, dan sosial. Dari aspek fisik, mayoritas bangunan menggunakan material semi permanen dengan nilai Heat Release Rate (HRR) tinggi, tidak memiliki fire barrier, serta memiliki jarak antarbangunan yang sangat rapat. Dari aspek spasial, kawasan memiliki jaringan gang sempit dengan lebar rata-rata sekitar 1,1 meter, konektivitas dan integrasi yang tidak merata, nilai mean depth tinggi pada beberapa segmen, serta visibilitas rendah yang menyebabkan keterbacaan jalur evakuasi buruk dan memunculkan bottleneck pada koridor sempit. Dari aspek sosial, kapasitas mitigasi masyarakat masih rendah, ditandai oleh minimnya pengetahuan prosedur darurat, keterbatasan peralatan pemadam awal, serta tingginya probabilitas keterlambatan respons. Simulasi kondisi eksisting menunjukkan bahwa seluruh unit hunian berada pada kondisi tidak aman karena nilai ASET lebih kecil dibandingkan RSET. Nilai ASET hanya berkisar antara 18–52 detik, sedangkan nilai RSET berada pada rentang sekitar 120–360 detik. Parameter bahaya yang paling cepat mencapai kondisi kritis adalah penurunan visibilitas akibat akumulasi asap, yang terbukti lebih dominan dibandingkan peningkatan temperatur maupun konsentrasi gas beracun. Temuan ini menunjukkan bahwa kegagalan keselamatan kebakaran di kawasan tidak semata disebabkan oleh penyebaran api, melainkan terutama oleh cepatnya degradasi kondisi tenable akibat asap. Evaluasi strategi optimasi menunjukkan bahwa intervensi fisik berupa aktivasi ventilasi dan sekat parsial mampu meningkatkan nilai ASET hingga 3,39–271,35% dibandingkan kondisi eksisting, namun belum cukup untuk memenuhi kriteria keselamatan karena RSET masih lebih besar daripada ASET. Sebaliknya, skenario intervensi terintegrasi yang mengombinasikan kompartementasi penuh pada area dapur, penghilangan hambatan jalur evakuasi, reposisi bukaan, serta edukasi masyarakat berhasil meningkatkan margin keselamatan secara signifikan. Kompartementasi penuh mampu mempertahankan kondisi aman selama periode simulasi, sementara penguatan kapasitas masyarakat terbukti menurunkan waktu pre-movement dan mengurangi nilai RSET sekitar 30–45% pada sebagian besar unit hunian. Hasil tersebut menunjukkan bahwa peningkatan keselamatan kebakaran tidak dapat dicapai melalui intervensi tunggal, melainkan memerlukan kombinasi strategi fisik dan sosial yang saling melengkapi. Penelitian ini menghasilkan model optimasi sistem proteksi kebakaran berlapis berbasis pentahelix yang mengintegrasikan aspek spasial, teknis, dan perilaku dalam satu kerangka mitigasi yang adaptif terhadap keterbatasan fisik dan sosial kampung kota. Selain itu, penelitian ini menawarkan kontribusi metodologis melalui integrasi analisis Space Syntax, Bayesian Network, dan simulasi performance-based fire engineering untuk mengevaluasi risiko kebakaran secara holistik. Model yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah, akademisi, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya dalam merumuskan strategi mitigasi kebakaran yang kontekstual, aplikatif, dan dapat direplikasi pada kawasan permukiman padat perkotaan di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Anggun V. M Anes
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Urbanisasi

PERANCANGAN BANGUNAN VERTICAL MIXED USE DI TOD DUKUH ATAS JAKARTA DENGAN PENDEKATAN URBAN REGENERATION

Urbanisasi yang pesat telah membawa dampak signifikan terhadap pertumbuhan kota, termasuk Jakarta. Dukuh Atas sebagai kawasan Transit Oriented Development (TOD) memiliki potensi besar, namun pemanfaatan lahan di kawasan ini belum optimal. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah pendekatan Urban Regeneration, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas ekonomi, sosial, dan lingkungan di kawasan perkotaan. Pembangunan bangunan Mixed Use dengan konsep Vertical Mixed Use diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan lahan sekaligus menyediakan hunian yang terjangkau bagi kelompok usia produktif yang membutuhkan aksesibilitas yang baik terhadap transportasi umum. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan desain arsitektur yang memaksimalkan pemanfaatan lahan di kawasan TOD Dukuh Atas dengan pendekatan Urban Regeneration, khususnya untuk memenuhi kebutuhan hunian yang sesuai dengan karakteristik dan gaya hidup masyarakat produktif. Melalui analisis kebutuhan pasar, program ruang, dan kriteria perancangan yang berbasis pada prinsip TOD, hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam merancang kawasan perkotaan yang lebih berkelanjutan dan inklusif. Diharapkan desain ini dapat menjadi acuan bagi pengembangan kawasan urban lainnya yang menghadapi tantangan serupa.

2025
👤 Penulis: Tiara Amanda Salsabila
🏷️ Desain Arsitektur 🏷️ Urbanisasi 🏷️ Pemanfaatan Lahan

IDENTIFIKASI WILAYAH PERALIHAN KOTA-DESA (URBAN-RURAL FRINGE) DI KAWASAN METROPOLITAN BANDUNG RAYA

Urbanisasi yang berlangsung secara masif masih menjadi tantangan serius bagi wilayah-wilayah metropolitan, salah satunya terkait pengelolaan tata ruang yang responsif terhadap dinamika perubahan spasial. Kawasan Metropolitan Bandung Raya sebagai pusat kegiatan nasional dan pertumbuhan ekonomi mengalami perkembangan wilayah yang pesat, menciptakan kompleksitas spasial dan heterogenitas kawasan yang tinggi. Pemetaan urban–rural fringe yang mendelineasikan batas wilayah di luar batas-batas administratif menuntut adanya pengembangan metode dan pendekatan baru yang mampu merepresentasikan dinamika spasial secara lebih adaptif terhadap perubahan karakteristik kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi zonasi, karakteristik, serta transformasi spasio-temporal wilayah peralihan kota-desa (urban-rural fringe) melalui pemetaan wilayah menggunakan pendekatan Spatial Clustering K-Means di Kawasan Metropolitan Bandung Raya. Analisis difokuskan pada tiga variabel utama, yaitu proporsi lahan terbangun, kepadatan penduduk, dan intensitas cahaya malam, yang dikompilasi dalam grid spasial berukuran 500 x 500 m dengan cakupan analisis spasio-temporal selama periode sepuluh tahun (2015-2024). Hasil penelitian menunjukkan pola konsentris pada zona fringe yang terdistribusi mengelilingi kawasan pusat kota (urban core) serta koridor-koridor utama di wilayah metropolitan. Transformasi wilayah dari rural menuju fringe dan selanjutnya ke urban berlangsung secara bertahap, dengan ekspansi kawasan fringe paling intens terjadi pada periode 2015-2019, dan cenderung melambat pada 2019- 2024. Penelitian ini menghadirkan kebaruan dalam pemetaan wilayah urban-rural fringe dengan integrasi metode penginderaan jauh dan spatial clustering yang sebelumnya masih sangat terbatas dalam kajian spasial di Indonesia. Pemetaan urban-rural fringe yang dihasilkan dapat menjadi dasar informasi geospasial yang penting bagi pertimbangan dalam perumusan kebijakan tata ruang sebagai upaya untuk mengendalikan dan menekan urban sprawl serta mengoptimalkan distribusi pembangunan di seluruh Kawasan Metropolitan Bandung Raya.

2025
👤 Penulis: Zabrina Ramadhani Aristawati
🏷️ Urbanisasi 🏷️ Kawasan Metropolitani 🏷️ Pemetaan Geospasial

LANSKAP JALAN PERKOTAAN YANG MENERAPKAN SOLUSI BERBASIS ALAM (NBS) BERDASARKAN PERSEPSI DAN PREFERENSI PUBLIK (STUDI KASUS: JALAN LEBAK BULUS RAYA, JAKARTA SELATAN)

Fenomena Urban Heat Island (UHI) menjadi isu lingkungan signifikan di kota besar seperti Jakarta, diperparah oleh urbanisasi masif dan terbatasnya ruang hijau. Lanskap jalan, yang mencakup 25-35% lahan perkotaan, berpotensi besar untuk mitigasi UHI melalui Solusi Berbasis Alam (NBS). Namun, keberhasilan implementasinya sangat bergantung pada persepsi dan preferensi publik, sebuah aspek yang belum banyak dikaji di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi preferensi publik terhadap elemen NBS di lanskap jalan koridor transit padat, dengan studi kasus Jalan Lebak Bulus Raya, Jakarta Selatan. Menggunakan metode campuran, data primer dari survei daring kepada 115 responden valid dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan dukungan publik yang sangat kuat untuk transformasi ruang jalan. Teridentifikasi hierarki preferensi yang jelas, di mana elemen fungsional yang memberikan manfaat ekologis langsung seperti pohon jalan dan permeable paving menjadi prioritas utama, sementara elemen berisiko perawatan tinggi seperti pohon buah mendapat dukungan terendah. Temuan kunci yang paling signifikan adalah kesediaan tinggi responden, termasuk pemilik kendaraan pribadi, untuk mengorbankan 100% ruang parkir di tepi jalan demi ruang hijau. Studi ini juga mengidentifikasi persona publik sebagai "idealis pragmatis": memiliki aspirasi tinggi terhadap lingkungan hijau, namun diiringi skeptisisme mendalam terhadap kapasitas pemerintah dalam implementasi dan perawatan jangka panjang. Implikasinya adalah adanya mandat sosial yang kuat bagi perencana untuk merealokasi ruang jalan dari dominasi kendaraan menjadi ruang publik berorientasi manusia. Rekomendasi utama mencakup implementasi NBS secara bertahap dan kewajiban menyertakan protokol perawatan yang transparan untuk membangun kepercayaan publik.

2025
👤 Penulis: Tina Stephanie
🏷️ Urbanisasi 🏷️ Solusi Berbasis Alam (Nbs) 🏷️ Manajemen Ruang Jalan

PERANCANGAN PUSAT KOMUNITAS UNTUK ANAK-ANAK 6-15 TAHUN UNTUK MENDONG KREATIVITAS ANAK-ANAK DI KAWASAN URBAN

Urbanisasi di Indonesia memiliki Gambaran nyata permasalahan slum area, Dimana keterbatasan infrastruktur mengakibatkan minimnya akses terhadap fasilitas perkembangan kreativitas untuk anak-anak. Kondisi ini cukup memberikan dampak yang signifikan pada perkembangan anak-anak dalam segala aspek seperti perkermbangan sosial, kognitif, emosional hingga kreativitas. Berdasarkan hal tersebut, perancangan pusat komunitas anak usia 6–15 tahun di kawasan urban menjadi penting sebagai ruang alternatif edukatif yang merangsang daya cipta. Penelitian ini bertujuan untuk merancang fasilitas publik yang mendukung kreativitas anak dengan pendekatan teori Guilford mengenai perkembangan kreativitas dengan teori divergent thinking. Penelitian ini berfokus pada perancangan pusat komunitas bagi anak-anak 6-15 tahun yang berada di kawasan urban, untuk menjadikan solusi atas terbatasnya fasilitas publik edukatif dengan mengintegrasikan teori Guilford (1967) ke dalam perancangan guna menciptakan fasilitas yang dapat membantu perkembangan anak-anak dalam konteks kreativitas artistik dan performatif sehingga anak-anak dapat bereksplorasi. Selain itu, perancangan ini didasari atas teori Montessori yang memberikan kebebasan untuk anak-anak dalam memilih aktivitas yang bertujuan meningkatkan rasa percaya diri anak berdasarkan teori Piaget sehingga dapat membentuk karakteristik yang baik untuk anak-anak menjalani hidup di masa depan.

2025
👤 Penulis: Aghni Hartsa Maulana
🏷️ Urbanisasi 🏷️ Kreativitas Anak 🏷️ Teori Guilford

DINAMIKA URBAN SPRAWL DAN PENGENDALIANNYA DI KABUPATEN BANDUNG

Kabupaten Bandung merupakan wilayah penyangga dari Kota Bandung yang berbatasan langsung dengan bagian utara, timur dan selatan kota tersebut. Tingginya pertumbuhan ekonomi Kota Bandung mendorong ekspansi ruang kota dan berpengaruh pada perkembangan wilayah Kabupaten Bandung. Alih fungsi lahan terjadi secara masif yang ditunjukkan oleh penyusutan lahan sawah dari 31.161 hektar menjadi 28.747,68 pada tahun 2019-2024 dan hutan rakyat dari 10.454,54 menjadi 7.390,4 hektar pada tahun 2010-2023. Penelitian ini bertujuan merumuskan rekomendasi pengendalian urban sprawl berdasarkan identifikasi tipologi, faktor pendorong, dan pengendalian yang selama ini pemerintah implementasikan. Kebaruan utama dari penelitian ini adalah penggunaan grid heksagonal sebagai unit analisis untuk mengidentifikasi tipologi urban sprawl secara spasial-temporal berdasarkan 5 indikator melalui analisis skoring dan analisis regresi berganda (OLS) terhadap 19 variabel sosial-ekonomi dan fisik wilayah untuk mengetahui faktor pendorong terhadap urban sprawl di Kabupaten Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sprawl dengan intensitas tinggi tidak terjadi di wilayah perbatasan langsung Kota Bandung melainkan di wilayah selatan Kabupaten Bandung seperti Pangalengan, Rancabali, dan Kertasari. Pola sebaran urban sprawl terjadi secara polimorfik yaitu kondisi di mana satu wilayah bisa mengandung lebih dari satu bentuk sebaran atau pola urban sprawl seperti ribbon, leapfrog, maupun low-density development. Faktor utama pendorong sprawl meliputi harga lahan rendah, kedekatan fasilitas publik, dan kondisi geografis dengan elevasi tinggi. Sementara, wilayah dengan pertumbuhan penduduk dan kepemilikan kendaraan tinggi cenderung mengalami pembangunan yang lebih terkonsentrasi. Pengendalian spasial yang ada melalui Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) justru belum merespons wilayah-wilayah dengan intensitas sprawl tinggi pada wilayah selatan Kabupaten Bandung. Penelitian ini menyarankan pendekatan perencanaan yang responsif pada dinamika spasial dengan prioritas penyusunan RDTR pada wilayah rawan sprawl serta perumusan strategi pengendalian berjenjang dalam jangka pendek, menengah, dan panjang

2025
👤 Penulis: Kholifah Nursa'diyyah R S P
🏷️ Urbanisasi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Geografis

PERAN TUTUPAN LAHAN DALAM MITIGASI FENOMENA URBAN HEAT ISLAND DI LINGKUNGAN KAMPUS ITB JATINANGOR

Abstrak bisa dilihat di filenya

2025
👤 Penulis: Irfie Lutfiah Aulia Rahman
🏷️ Geografi 🏷️ Urbanisasi 🏷️ Mitigasi Lingkungan

PROYEKSI PENGARUH PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAN PERUBAHAN IKLIM TERHADAP POLA HUJAN DI IBU KOTA NUSANTARA MENGGUNAKAN METODE PSEUDO GLOBAL WARMING

Studi sebelumnya menunjukkan bahwa adanya wilayah urban Ibu Kota Nusantara (IKN) mengakibatkan peningkatan temperatur yang menyebabkan Urban Heat Island (UHI) serta perubahan kecepatan angin. Perubahan parameter-parameter iklim ini berpotensi mengubah kestabilan udara dan konvergensi, yang dapat memengaruhi pembentukan awan dan presipitasi. Oleh karena itu, diperlukan suatu penelitian yang dapat memproyeksikan pengaruh perubahan tutupan lahan dan perubahan iklim terhadap pola hujan di IKN. Penelitian ini menggunakan model Weather Research and Forecasting (WRF) dengan pendekatan Pseudo Global Warming (PGW) untuk mengkuantifikasi dampak perubahan iklim masa depan. Simulasi dilakukan dengan empat skenario, yaitu HIST_noIKN, HIST_IKN, FUTR_noIKN, dan FUTR_IKN. Pendekatan ini memungkinkan analisis komprehensif terkait kontribusi relatif urbanisasi dan pemanasan global terhadap parameter meteorologi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa urbanisasi di IKN menyebabkan peningkatan temperature, terutama pada skenario FUTR_IKN suhu meningkat lebih dari 2,5°C. Kenaikan temperatur ini diikuti oleh perubahan signifikan pada distribusi spasial dan pola temporal curah hujan, dengan penurunan intensitas hujan yang paling dominan terjadi di wilayah barat IKN, sementara wilayah utara dan selatan, khususnya area laut, justru mengalami peningkatan curah hujan. Selain itu, distribusi temporal menunjukkan penurunan hujan terutama pada pagi hingga siang hari yang sebelumnya merupakan periode puncak presipitasi, sedangkan peningkatan hujan relatif lebih banyak terjadi pada malam hari. Pola ini konsisten dengan hasil analisis moisture flux convergence yang memperlihatkan pelemahan konvergensi dan munculnya zona divergensi akibat perlambatan angin di wilayah urban IKN.

2025
👤 Penulis: Rizky Aulia Rahayu
🏷️ Meteorologi 🏷️ Urbanisasi 🏷️ Pemanasan Global

DETEKSI KAWASAN PERMUKIMAN KUMUH KOTA BANDUNG MENGGUNAKAN METODE OBJECT-BASED IMAGE ANALYSIS (OBIA) DAN ANALISIS MULTIKRITERIA

Kota Bandung yang mengalami urbanisasi pesat mendorong munculnya kawasan permukiman kumuh yang terus berkembang dan sulit dikendalikan. Di Indonesia, identifikasi kawasan kumuh umumnya dilakukan melalui survei lapangan, sebuah metode konvensional yang seringkali membutuhkan sumber daya besar, baik dari segi waktu, tenaga, maupun biaya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi kawasan kumuh di Kota Bandung menggunakan pendekatan Object-Based Image Analysis (OBIA) berbasis citra satelit resolusi tinggi. Dalam pendekatan ini, analisis dilakukan dengan memanfaatkan objek citra yang dibentuk melalui segmentasi dan klasifikasi berdasarkan fitur spektral, spasial, dan tekstur. Sebagai pelengkap, digunakan metode Multi-Criteria Analysis (MCA) untuk menggabungkan berbagai kriteria kekumuhan ke dalam satu model analisis komprehensif. Validasi metode OBIA dilakukan dengan data kawasan kumuh dari program KOTAKU tahun 2023 sebagai ground truth. Hasil penelitian menunjukkan bahwa OBIA mampu mendeteksi kawasan kumuh dengan akurasi sebesar 79%, sementara MCA sebagai metode evaluasi tematik memberikan alternatif solusi dalam pemutakhiran data kekumuhan yang lebih kontekstual. Kesimpulannya, integrasi OBIA dan MCA dapat mendukung penanganan kawasan kumuh dengan memperkuat intervensi di wilayah-wilayah prioritas. Penelitian ini masih terbatas pada kondisi fisik dalam satu periode waktu, dan belum mengakomodasi dinamika multi temporal maupun aspek sosial-ekonomi.

2025
👤 Penulis: Kaulika Nabilah
🏷️ Analisis Multikriterium 🏷️ Object-Based Image Analysis (Obia) 🏷️ Urbanisasi

PEMODELAN DEMAND ENERGI DAN PRODUKSI EMISI PADA ZONA IKLIM LOKAL TERDAMPAK URBAN HEAT ISLAND DI KOTA BANDUNG

Urbanisasi di Kota Bandung telah memicu fenomena Urban Heat Island (UHI), yang meningkatkan permintaan energi untuk pendinginan dan menciptakan siklus umpan balik negatif melalui pelepasan Antrophogenic Heat Flux (AHF) dan emisi Gas Rumah Kaca. Namun, pemahaman mengenai variasi spasial dari dampak ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah model kuantitatif terpadu untuk menganalisis dan memetakan sensitivitas permintaan energi dan produksi emisi terhadap intensitas UHI di berbagai LCZ di Kota Bandung. Metodologi penelitian mengintegrasikan tiga pendekatan: (1) analisis geospasial untuk pemetaan LCZ dan UHI menggunakan data satelit Landsat; (2) Pemodelan Energi Bangunan Perkotaan (UBEM) dengan perangkat lunak City Energy Analyst (CEA) untuk mensimulasikan permintaan energi pada arketipe bangunan referensi; dan (3) analisis Geographically Weighted Regression (GWR) untuk membedah heterogenitas spasial. Hasil analisis menunjukkan korelasi kuat antara morfologi perkotaan dengan intensitas UHI, di mana LCZ 3 (Compact midrise) teridentifikasi sebagai kontributor utama peningkatan suhu. Model berhasil mengkuantifikasi "pajak energi" (energy penalty) akibat UHI, dengan demand energi pendinginan pada bangunan ritel di LCZ 2 menunjukkan sensitivitas tertinggi, yaitu meningkat sebesar +24.20 kWh/????2/tahun untuk setiap kenaikan satu unit Z-score UHI. Lebih lanjut, analisis GWR mengungkap heterogenitas spasial yang signifikan: kerentanan bangunan perumahan tertinggi terjadi di dekat zona komersial (efek tumpahan panas), sementara sensitivitas bangunan komersial mencapai puncaknya di koridor urban atau 'urban canyon' yang padat. Sebaliknya, bangunan industri terbukti hampir tidak merespons UHI eksternal dan berfungsi sebagai sumber panas utama. Studi ini menghasilkan sebuah kerangka kerja berbasis bukti yang mendetail untuk mendukung perumusan kebijakan mitigasi UHI dan perencanaan tata ruang yang lebih terfokus dan efektif di Kota Bandung.

2025
👤 Penulis: Yusuf Ridhan Muhammad
🏷️ Urbanisasi 🏷️ Analisis Geospasial 🏷️ Pemodelan Energi Bangunan Perkotaan

PETA KORELASI PENURUNAN MUKA TANAH DAN URBAN SPRAWL : STUDI KASUS KOTA JAKARTA

Tidak ada deskripsi.

2025
👤 Penulis: Fatimah Aufadin Aqila
🏷️ Geotopografi 🏷️ Urbanisasi

PETA KORELASI PENURUNAN MUKA TANAH DAN URBAN SPRAWL: STUDI KASUS KOTA JAKARTA

Tidak ada deskripsi.

2025
👤 Penulis: Adela Dwi Mutiara
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Data Geografis 🏷️ Urbanisasi
Halaman 1 dari 3
💬