📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 2 dokumenPEMASARAN AFILIASI SEBAGAI COMMERCIALIZED USER-GENERATED CONTENT: PENGARUH TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN ONLINE (STUDI KASUS PADA ACNENO)
Pasar skincare Indonesia kini bergeser ke perdagangan berbasis afiliasi di TikTok Shop dan Shopee, namun brand lokal terus mengeluarkan anggaran untuk kemitraan kreator tanpa hasil yang jelas tentang konten afiliasi seperti apa yang benar-benar mampu mengubah penonton menjadi pembeli. Brand skincare anti-acne lokal dengan merek Acneno menghadapi dilema yang sama, biaya afiliasi yang tinggi, hasil konversi tidak konsisten, dan belum ada kerangka tervalidasi yang menghubungkan eksekusi konten dengan perilaku pembelian. Penelitian ini menguji bagaimana Commercialized User-Generated Content (CUGC) memengaruhi Keputusan Pembelian Online konsumen Acneno, dengan Persepsi Otentisitas dan Persepsi Kredibilitas sebagai mediator serial dalam rantai persepsi konsumen. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-method, di mana fase kualitatif dengan cara wawancara semi-terstruktur yang digunakan untuk pengembangan instrumen survei sebelum fase kuantitatif menguji hipotesis. Data dikumpulkan dari 263 konsumen Acneno berusia 18-30 tahun yang pernah terpapar konten afiliasi di TikTok Shop dan Shopee, disaring dari 289 respons data awal melalui kriteria keterlibatan dan pengecekan perhatian. Analisis dilakukan menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) pada SmartPLS 4 dengan 5.000 sub-sampel bootstrap. Hasil analisis mengkonfirmasi kelima hipotesis. Commercialized UGC berpengaruh dominan terhadap Persepsi Otentisitas, yang menjadi gerbang masuk funnel afiliasi. Persepsi Kredibilitas merupakan prediktor langsung terkuat dari Keputusan Pembelian Online sekaligus pengungkit yang mengubah persepsi menjadi komitmen pembelian. Mediasi serial tersebut signifikan secara statistik, Commercialized UGC terlebih dahulu membentuk Persepsi Otentisitas yang kemudian meningkatkan Persepsi Kredibilitas, dan kredibilitas pada akhirnya menggerakkan keputusan pembelian online. Alur persepsinya konsisten, otentisitas sebagai pintu awal dan kredibilitas sebagai penutup keputusan. Penelitian ini menghasilkan tiga alat manajerial yang menerjemahkan rantai tervalidasi tersebut ke dalam praktik operasional Acneno. Standar pengararahan kreator mengkondifikasi isyarat eksekusi autentisitas dan kredibilitas pada tahap produksi konten. Rubrik Penilian Konten berfungsi sebagai gerbang kualitas pra-publikasi. Affiliate Scaling Formula mengubah dua sub-skor rubrik untuk otentisitas dan kredibilitas menjadi satu keputusan anggaran, sehingga anggaran yang keluar bisa mengikuti persepsi yang mendorong konversi. Modul advokasi terpisah menutup bagian terlemah funnel, yaitu niat referensial. Rencana bertahap selama dua belas bulan untuk meninjau di seluruh kreator, lembar Scaling Formula, dan siklus tinjauan bulanan.
PERAN JENIS KONTEN DALAM MEMBANGUN KEPERCAYAAN TERHADAP MEREK DI TIKTOK: EFEK MEDIASI DARI PERSEPSI TERHADAP AUTENTISITAS DAN PERAN PERBEDAAN GENERASI SEBAGAI MODERATOR
Pertumbuhan media sosial mengubah konsumen dari penerima pesan pasif menjadi pihak yang ikut membentuk narasi merek, dan User-Generated Content (UGC) pun dikenal sebagai jenis konten paling dipercaya karena dianggap sebagai murni pengalaman konsumen. Kondisi ini mendorong munculnya Business-Generated Content (BGC) yang sengaja dibuat menyerupai UGC agar tetap terlihat organik, seperti pada kampanye "Laundry Majapahit" Rinso di TikTok. Namun, penelitian sebelumnya hanya fokus membahas UGC dari sisi purchase intention, sementara peran perceived authenticity sebagai penghubung antara jenis konten dengan brand trust, dengan perbedaan generasi yang memoderasi, masih jarang diuji secara empiris. Penelitian ini bertujuan melihat perbedaan pengaruh UGC-styled BGC dan iklan resmi terhadap perceived authenticity, sejauh mana perceived authenticity memediasi hubungan konten dengan brand trust, serta apakah generasi (Gen Z vs Gen X) memoderasi hubungan tersebut. Data dikumpulkan dari 246 responden aktif TikTok (139 Gen Z, 107 Gen X) melalui kuesioner online dengan desain between-subject, lalu dianalisis memakai PLS-SEM dan Permutation MGA di SmartPLS 4. Hasilnya, jenis konten terbukti memengaruhi perceived authenticity secara signifikan, di mana UGC-styled BGC dinilai lebih autentik dibanding iklan resmi, dan pengaruh ini sepenuhnya dimediasi oleh perceived authenticity. Menariknya, ditemukan pola crossover antar generasi: Gen Z justru menilai iklan resmi lebih autentik karena transparansinya, sedangkan Gen X lebih percaya pada UGC-styled BGC karena terasa seperti testimoni asli. Temuan ini memperkuat SOR Theory dan Persuasion Knowledge Model, sekaligus menegaskan bahwa tidak ada satu strategi konten yang cocok untuk semua generasi, sehingga brand perlu menyesuaikan pendekatan komunikasinya berdasarkan segmen usia target audiens. Kata Kunci: User-Generated Content, Business-Generated Content, perceived authenticity, brand trust, perbedaan generasi, TikTok.