📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenPEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA AIR UNTUK MENDUKUNG DESA WISATA
Pengembangan Desa Wonotoro, Kabupaten Probolinggo sebagai desa wisata menghadapi krisis air bersih akibat akses sumber air yang sulit, penurunan debit musim kemarau, dan ketiadaan data terintegrasi. Penelitian ini mengembangkan AQUAVISION, sistem informasi berbasis WebGIS dengan arsitektur Three-Tier (Django, GeoDjango, PostgreSQL/PostGIS, Leaflet.js) yang memadukan pemodelan potensi air tanah menggunakan AHP Weighted Overlay dengan parameter curah hujan, litologi, lineamen, elevasi, kemiringan, drainase, dan tutupan lahan, serta debit puncak aliran menggunakan metode SCS-CN dan rasional berbasis data topografi, curah hujan klimatologis 30 tahun, tutupan lahan, dan jenis tanah. Hasil menunjukkan zona potensi air tanah didominasi Moderate (58%) dan High (24%), sementara debit puncak tertinggi terjadi pada Februari (14,94 m³/s) dan terendah pada September (0,14 m³/s), yang mengindikasikan keterbatasan air permukaan saat kemarau. Karena keterbatasan data hidrogeologi dan debit observasi lapangan, validasi hasil pemodelan tidak dilakukan melalui verifikasi langsung dengan data aktual, melainkan menggunakan pendekatan komparatif terhadap penelitian referensi (Tesfa dan Sewnet, 2025 untuk GWPZ dan Nst, 2022 untuk debit puncak) dengan parameter topografi dan indeks Normalized Flow Variability (NFV) sebagai tolak ukur yang menunjukkan selisih relatif NFV hanya 2,36% di bawah ambang 25%. Pengujian sistem membuktikan seluruh fungsi berhasil diimplementasikan (feature completeness=1), performa sangat baik (GTmetrix Grade A dengan muat penuh 727ms–1,4s), kompatibel lintas perangkat, serta memperoleh penerimaan pengguna sangat baik (85,32–87,73%) pada standar ISO/IEC 25010. Kelayakan ekonomi menunjukkan BCR 3,6–16,5:1 dengan investasi desa hanya Rp6,5 juta.
PEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA AIR UNTUK MENDUKUNG DESA WISATA
Pengembangan Desa Wonotoro, Kabupaten Probolinggo sebagai desa wisata menghadapi krisis air bersih akibat akses sumber air yang sulit, penurunan debit musim kemarau, dan ketiadaan data terintegrasi. Penelitian ini mengembangkan AQUAVISION, sistem informasi berbasis WebGIS dengan arsitektur Three-Tier (Django, GeoDjango, PostgreSQL/PostGIS, Leaflet.js) yang memadukan pemodelan potensi air tanah menggunakan AHP Weighted Overlay dengan parameter curah hujan, litologi, lineamen, elevasi, kemiringan, drainase, dan tutupan lahan, serta debit puncak aliran menggunakan metode SCS-CN dan rasional berbasis data topografi, curah hujan klimatologis 30 tahun, tutupan lahan, dan jenis tanah. Hasil menunjukkan zona potensi air tanah didominasi Moderate (58%) dan High (24%), sementara debit puncak tertinggi terjadi pada Februari (14,94 m³/s) dan terendah pada September (0,14 m³/s), yang mengindikasikan keterbatasan air permukaan saat kemarau. Karena keterbatasan data hidrogeologi dan debit observasi lapangan, validasi hasil pemodelan tidak dilakukan melalui verifikasi langsung dengan data aktual, melainkan menggunakan pendekatan komparatif terhadap penelitian referensi (Tesfa dan Sewnet, 2025 untuk GWPZ dan Nst, 2022 untuk debit puncak) dengan parameter topografi dan indeks Normalized Flow Variability (NFV) sebagai tolak ukur yang menunjukkan selisih relatif NFV hanya 2,36% di bawah ambang 25%. Pengujian sistem membuktikan seluruh fungsi berhasil diimplementasikan (feature completeness=1), performa sangat baik (GTmetrix Grade A dengan muat penuh 727ms–1,4s), kompatibel lintas perangkat, serta memperoleh penerimaan pengguna sangat baik (85,32–87,73%) pada standar ISO/IEC 25010. Kelayakan ekonomi menunjukkan BCR 3,6–16,5:1 dengan investasi desa hanya Rp6,5 juta.
PEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA AIR UNTUK MENDUKUNG DESA WISATA
Pengembangan Desa Wonotoro, Kabupaten Probolinggo sebagai desa wisata menghadapi krisis air bersih akibat akses sumber air yang sulit, penurunan debit musim kemarau, dan ketiadaan data terintegrasi. Penelitian ini mengembangkan AQUAVISION, sistem informasi berbasis WebGIS dengan arsitektur Three-Tier (Django, GeoDjango, PostgreSQL/PostGIS, Leaflet.js) yang memadukan pemodelan potensi air tanah menggunakan AHP Weighted Overlay dengan parameter curah hujan, litologi, lineamen, elevasi, kemiringan, drainase, dan tutupan lahan, serta debit puncak aliran menggunakan metode SCS-CN dan rasional berbasis data topografi, curah hujan klimatologis 30 tahun, tutupan lahan, dan jenis tanah. Hasil menunjukkan zona potensi air tanah didominasi Moderate (58%) dan High (24%), sementara debit puncak tertinggi terjadi pada Februari (14,94 m³/s) dan terendah pada September (0,14 m³/s), yang mengindikasikan keterbatasan air permukaan saat kemarau. Karena keterbatasan data hidrogeologi dan debit observasi lapangan, validasi hasil pemodelan tidak dilakukan melalui verifikasi langsung dengan data aktual, melainkan menggunakan pendekatan komparatif terhadap penelitian referensi (Tesfa dan Sewnet, 2025 untuk GWPZ dan Nst, 2022 untuk debit puncak) dengan parameter topografi dan indeks Normalized Flow Variability (NFV) sebagai tolak ukur yang menunjukkan selisih relatif NFV hanya 2,36% di bawah ambang 25%. Pengujian sistem membuktikan seluruh fungsi berhasil diimplementasikan (feature completeness=1), performa sangat baik (GTmetrix Grade A dengan muat penuh 727ms–1,4s), kompatibel lintas perangkat, serta memperoleh penerimaan pengguna sangat baik (85,32–87,73%) pada standar ISO/IEC 25010. Kelayakan ekonomi menunjukkan BCR 3,6–16,5:1 dengan investasi desa hanya Rp6,5 juta.