📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6 dokumenPENGEMBANGAN KURVA FRAGILITAS ANALITIK BANGUNAN HUNIAN TERHADAP BAHAYA LAHAR DAN JATUHAN TEFRA
Bahaya sekunder vulkanik berupa aliran lahar dan jatuhan tefra tercatat sebagai salah satu penyebab utama kerusakan bangunan hunian non-engineered di Indonesia. Sayangnya, fungsi kerentanan (fragility function) yang secara spesifik memodelkan respons struktur terhadap beban tersebut masih sangat terbatas. Penelitian ini mengembangkan kurva fragilitas analitik untuk lima tipologi dinding dan atap nonengineered (Unconfined Masonry, Confined Masonry, RC Infill Wall, rangka kayu, dan rangka baja ringan) menggunakan formulasi mekanika struktur yang diintegrasikan dengan Simulasi Monte Carlo (N=10.000). Hasil analisis menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas akibat pemendekan bentang mengikuti orde yang berbeda-beda tiap tipologi—mendekati kuadratik pada elemen kayu, lebih tajam pada RC Infill Wall (?1/L^2,5), namun mendekati linear pada Confined Masonry dan sambungan baja ringan—sehingga manfaat reduksi geometri tidak dapat digeneralisasi. Berdasarkan probabilitas keruntuhan 50%, Unconfined Masonry merupakan tipologi paling rentan terhadap lahar (0,66 m/s), diikuti dinding kayu (0,73 m/s), Confined Masonry (1,32 m/s), dan RC Infill Wall (1,66 m/s); sementara rangka atap kayu dan baja ringan memiliki ambang ketebalan tefra basah masing-masing 8,45 cm dan 9,5 cm. Evaluasi dispersi kurva turut menunjukkan bahwa Unconfined Masonry memiliki kurva paling curam (konsisten dengan sifat getas tanpa elemen pengekang), sedangkan Confined Masonry dan RC Infill Wall menghasilkan kurva lebih landai yang mencerminkan cadangan kapasitas dari mekanisme lentur dua arah dan efek busur. Temuan ini menegaskan bahwa evaluasi kerentanan bangunan non-engineered perlu mempertimbangkan lebar dispersi, tidak hanya kapasitas median, dalam penetapan strategi mitigasi bencana vulkanik.
IDENTIFIKASI MEKANISME LETUSAN FREATIK MENGGUNAKAN DATA CITRA SATELIT DAN INFILTRASI AIR GUNUNG TANGKUBAN PARAHU, JAWA BARAT
Erupsi freatik merupakan fenomena vulkanik yang memiliki prekursor yang cukup sulit untuk diprediksi, terutama pada gunungapi dengan sistem hidrotermal aktif seperti Gunung Tangkuban Parahu. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi mekanisme pemicu erupsi freatik melalui pendekatan multidisiplin yang mengintegrasikan data pengindraan jauh, pengukuran geologi lapangan, dan analisis hidrometeorologi. Metodologi yang diterapkan meliputi ekstraksi kelurusan geologi menggunakan modified Segment Tracing Algorithm (mSTA) pada citra Sentinel-1, analisis deformasi permukaan berbasis Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR), identifikasi mineral menggunakan Analytical Spectral Devices (ASD) dan Spectral Angle Mapper (SAM), serta uji laju infiltrasi air tanah di lapangan. Hasil analisis struktur geologi menunjukkan bahwa kawasan Kawah Ratu memiliki intensitas deformasi tektonik yang sangat tinggi, dibuktikan dengan ekstraksi total 1.164 kelurusan dari citra satelit orbit ascending dan descending. Pemetaan densitas kelurusan mengidentifikasi anomali tinggi di area kawah dengan nilai mencapai 9 count/km². Analisis statistik menunjukkan korelasi positif yang sangat kuat (R2 = 0,92) antara densitas kelurusan dan indeks kekasaran permukaan, yang mengonfirmasi bahwa morfologi kasar di area kawah merupakan manifestasi permukaan dari zona hancuran akibat struktur geologi. Uji infiltrasi lapangan memperlihatkan bahwa Kawah Ratu sebagai zona resapan utama dengan laju infiltrasi mencapai 170 meter/bulan. Nilai R2 = 0,72 antara laju infiltrasi dan densitas kelurusan menegaskan bahwa rekahan-rekahan batuan bertindak sebagai porositas primer yang memfasilitasi injeksi air meteorik secara cepat ke bawah permukaan. Manifestasi dari akumulasi tekanan tersebut terekam melalui teknologi InSAR, di mana terdeteksi adanya tren inflasi yang terpusat di zona dengan densitas kelurusan tinggi (Lf = 5–6 count/km²). Analisis curah hujan temporal periode 2017–2020 menyingkap bahwa kejadian erupsi freatik memiliki pola keterlambatan waktu (time lag) terhadap musim hujan. Peningkatan aktivitas vulkanik umumnya terjadi pada pertengahan tahun (Juni–Oktober).
ANALISIS DEFORMASI GUNUNGAPI LOKON BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS KONTINU TAHUN 2009-2013
Gunungapi Lokon merupakan salah satu gunungapi aktif yang berada di Indonesia. Terletak pada 1°21’30” LU dan 124°47’30” BT dengan ketinggian 1579.5 m di atas permukaan laut. Gunungapi ini memiliki satu kawah terletak di pelana antara puncak Gunungapi Lokon dan Empung yang dikenal dengan Kawah Tompaluan yang mempunyai kawah dengan garis tengah 400 m dan kedalaman lebih kurang 150 m. Awal erupsi dari Gunungapi ini dimulai sejak Februari 2011 dan masih tetap aktif sampai dengan hari ini. Gejala vulkanik dari sebuah gunungapi dapat diamati dengan berbagai metode. Metode yang digunakan adalah Deformasi. Deformasi pada Gunungapi Lokon diamati dengan menggunakan 3 data pengamatan titik GPS (Global Positioning System) kontinu dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2013 dengan sampling rate 15 detik. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan perangakat lunak Bernese 5.0. Dari hasil pengolahan data, terjadi perbedaan arah vektor pergeseran titik-titik pengamatan antara dua periode yaitu periode tahun 2009-2010 dan periode tahun 2011-2013. Pada periode tahun 2009-2010 arah vektor pergeseran mengarah mendekati pusat Kawah Tompaluan yang diperkirakan sebagai pusat magma, dengan kecepatan pergeseran antara 3,1 mm – 5,4 mm per tahun. Hal ini mengindikasikan adanya deflasi dari sumber magmatik Gunung Lokon. Sedangkan pada periode tahun 2011-2013, periode erupsi, arah vektor pergeseran menjauhi pusat Kawah Tompaluan dengan kecepatan pergeseran 5,7 mm – 1,1 cm per tahunnya yang mengindikasikan kemungkinan inflasi sumber magma.
ANALISIS DEFORMASI GUNUNGAPI LOKON BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS TAHUN 2009-2011
Indonesia merupakan salah satu kawasan di dunia yang memiliki banyak gunungapi aktif. Gunungapi Lokon merupakan salah satu gunungapi aktif yang terletak di jalur pegunungan berapi yang membentang di sepanjang Pulau Sulawesi. Salah satu letusannya yang tergolong besar berlangsung pada Oktober 1991 yang meninggalkan sumbat lava di dasar Kawah Tompaluan. Dalam kurun waktu antara tahun 2000 sampai dengan 2003 letusan berlangsung secara beruntun hampir setiap tahun dan secara bertahap sumbat lava 1991 terkikis. Adanya letusan tersebut mengindikasikan aktivitas vulkanik di Gunungapi Lokon.Salah satu metoda pemantauan aktivitas vulkanik gunungapi dengan metoda deformasi. Dalam melakukan penelitian deformasi yang terjadi pada Gunungapi Lokon, digunakan data pengamatan GPS (Global Positioning System) tahun 2009-2011. Data GPS lalu diolah, dan dihasilkan koordinat geosentrik dan standar deviasi serta koordinat geodetik. Koordinat ditransformasikan ke dalam sistem toposentrik. Setelah dilakukan uji statistik menggunakan uji -t dan nilai resultan pergeseran titik pengamatan dinyatakan lulus uji statistik, maka selanjutnya dilakukan plotting vektor pergeseran. Dari nilai pergeseran kemudian dihitung nilai regangan dan dilakukan plotting. Berdasarkan pola vektor pergeseran juga ditentukan posisi sumber magma.Titik POST merupakan titik referensi yang diasumsikan diam. Semua titik pengamatan diikatkan ke titik POST. Pergeseran horizontal yang terjadi pada titik pengamatan berkisar dari 1.7 cm/tahun sampai 7 cm/tahun. Pola deformasi yang dihasilkan dari vektor pergeseran dan regangan menunjukkan adanya inflasi. Hal ini mengindikasikan adanya aktivitas vulkanik pada Gunungapi Lokon. Aktivitas vulkanik Gunungapi Lokon juga dipengaruhi aktivitas tektonik.
IDENTIFIKASI KONTROL GEOLOGI PADA SISTEM GEOTERMAL GUNUNG UNGARAN, JAWA TENGAH BERDASARKAN ANALISIS VULKANOSTRATIGRAFI DAN GAYA BERAT
Gunung Ungaran yang terletak di Jawa Tengah merupakan salah satu gunung api strato di Pulau Jawa dan wilayah kerja panas bumi (WKP) yang sedang berada pada tahap eksplorasi. Pada tahap ini, diperlukan pemahaman yang menyeluruh dan tepat mengenai sistem geotermal di lokasi ini. Hasil laporan eksplorasi menunjukkan bahwa terdapat multikaldera yang mengelilingi Gunung Ungaran. Keberadaan multikaldera tersebut juga diperkirakan sebagai kondisi geologi yang mengontrol sistem geotermal di WKP ini. Akan tetapi, penelitian-penelitian lainnya serta persebaran manifestasi termal tidak menunjukkan keberadaan multikaldera yang dimaksud. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi geologi yang tepat yang mengontrol sistem geotermal di WKP ini. Metode analisis vulkanostratigrafi dan analisis gaya berat digunakan untuk mengidentifikasi kondisi geologi yang mengontrol sistem geotermal di WKP ini. Persebaran manifestasi di WKP ini sebagian besar berada pada Khuluk Ungaran. Kemunculan manifestasi-manifestasi tersebut diperkirakan berasosiasi dengan keberadaan struktur geologi berupa sesar yang memotong tubuh Khuluk Ungaran. Beberapa struktur geologi tersebut teridentifikasi juga pada hasil analisis first horizontal derivative (FHD) dan euler deconvolution. Hasil analisis vulkanostratigrafi dan gaya berat juga menunjukkan bahwa hanya ada satu kaldera yang mengelilingi Khuluk Ungaran, yaitu Kaldera Kaligetas. Dengan demikian, sistem geotermal pada WKP ini cenderung dikontrol oleh keberadaan zona permeabel pada tubuh Gunung Ungaran.
PEMODELAN STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN KAMCHATKA MONOGENETIC VOLCANIC FIELD (KMVF) MENGGUNAKAN DATA GRAVITASI DAN MAGNETIK
Gunung api monogenetik merupakan tipe gunung api yang unik, ditandai dengan volume erupsi kecil dan sejarah erupsi singkat. Daerah Kamchatka memiliki Monogenetic Volcanic Field (MVF) yang terdistribusi di sekitar kawasan Klyuchevskaya Volcanic Group (KVG). Di Daerah Kamchatka terjadi interaksi antar Lempeng Pasifik dan Lempeng Eurasia yang memicu aktivitas tektonik dan vulkanik yang signifikan. Penelitian ini berfokus pada fenomena penipisan kerak yang menunjukkan pembentukan MVF, di mana magma dari mantel bumi naik secara sporadis hingga menembus permukaan. Untuk menggambarkan pemodelan bawah permukaan, penulis menggunakan data satelit gravitasi GGMPlus dan magnetik EMAG2. Proses pengolahan data melibatkan koreksi Bouguer dan koreksi terrain pada data gravitasi disturbance untuk menghasilkan Anomali Bouguer Lengkap (CBA), serta reduksi ke kutub pada data magnetik untuk menghilangkan pengaruh medan magnet bumi. Hasil analisis menunjukkan bahwa densitas dan suseptibilitas mantel bumi masing – masing adalah 2,99 – 3,4 gr/cc dan 0,000001 - 0,0055 cgs, sementara untuk kerak bumi adalah 2,72 – 2,76 gr/cc dan 0,000004 – 0,060355 cgs. Pemodelan 2D memperlihatkan keberadaan dapur magma, aliran magma, serta variasi batas Moho antara 26 km hingga 35 km. Fenomena penipisan kerak paling signifikan terdeteksi pada kedalaman 26 km di bawah MVF. Penelitian ini memberikan wawasan baru mengenai dinamika vulkanik di Kamchatka, serta implikasinya terhadap interpretasi aktivitas tektonik dan vulkanik di zona subduksi. Temuan ini dapat digunakan sebagai referensi dalam studi serupa di wilayah vulkanik lainnya.