📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 2 dokumenKAJIAN WALKABILITY KAWASAN SEKITAR STASIUN MRT BLOK M DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN KAWASAN TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT (TOD)
Kawasan Transit-Oriented Development (TOD) memerlukan tingkat walkability yang baik agar pejalan kaki dapat mengakses simpul transportasi secara aman dan nyaman. Penelitian ini mengkaji walkability kawasan TOD Stasiun MRT Blok M di Jakarta Selatan menggunakan dua instrumen, yaitu Global Walkability Index (GWI) untuk mengukur kualitas fisik jalur pejalan kaki dan space syntax untuk menganalisis struktur jaringan pergerakan melalui Angular Segment Analysis di DepthmapX. Hasil kedua instrumen diintegrasikan melalui spatial join menjadi empat pola perbandingan, yang dipetakan ke dalam matriks struktur persoalan 3×3 berbasis tipologi design problems dan policy problems. Skor GWI berkisar antara 54 hingga 83 dengan rata-rata kawasan 73,75 (highly walkable). Sebanyak 12 dari 16 segmen masuk kategori highly walkable, sementara 4 segmen masuk kategori waiting to walk. Analisis space syntax menghasilkan empat tipologi, yaitu aksesibel (46,81%) untuk segmen yang mudah dijangkau namun bukan jalur utama, marginal (40,75%) untuk segmen berperan rendah dalam jaringan, dan strategis (12,44%) untuk segmen yang mudah dijangkau dan menjadi jalur lintasan utama, dan bottleneck (0%) untuk segmen jalur utama namun sulit dijangkau. Perbandingan GWI dan space syntax mengidentifikasi dua segmen Mismatch Kritis, yaitu segmen 6 (Jl. Wijaya dan permukiman sekitarnya) dan segmen 9 (area Blok M Square). Kedua segmen tersebut memiliki nilai integration radius 800 meter di atas rata-rata kawasan namun kualitas fisik jalur rendah, dengan skor GWI masing-masing adalah 54 dan 55. Kondisi ini paling merugikan karena pejalan kaki tidak memiliki alternatif selain melewati jalur berkualitas buruk tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi GWI dan space syntax menghasilkan diagnosis walkability yang lebih komprehensif dibandingkan penggunaan satu instrumen secara terpisah. Matriks struktur persoalan menunjukkan bahwa sebagian besar persoalan walkability di kawasan studi bersifat lintas kewenangan serta membutuhkan koordinasi antara beberapa instansi dan pengelola kawasan privat, karena peningkatan walkability tidak dapat dilakukan hanya melalui intervensi fisik, tetapi juga memerlukan sinergi antar pemangku kepentingan.
KOTA RAMAH PELARI: KORIDOR KOTA YANG RAMAH UNTUK AKTIVITAS OLAHRAGA BERLARI DENGAN PENDEKATAN WALKABILITY (STUDI KASUS: KOTA BANDUNG)
Kesehatan masyarakat di kawasan perkotaan semakin menjadi perhatian global seiring meningkatnya urbanisasi dan tuntutan gaya hidup aktif. Aktivitas berlari yang populer di daerah perkotaan telah terbukti memberikan manfaat signifikan baik untuk kesehatan fisik maupun mental. Di Kota Bandung, aktivitas berlari menjadi populer karena kondisi lingkungan yang sejuk dan adanya komunitas lari berskala besar sehingga Kota Bandung berpotensi menjadi kota yang ramah bagi pelari. Namun, berbagai kendala seperti kualitas trotoar yang buruk, penggunaan trotoar yang tidak semestinya, dan pencahayaan jalan yang gelap masih menghambat optimalisasi pengalaman berlari di kota ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kriteria prinsip desain koridor di Kota Bandung berdasarkan teori walkability, yang mencakup aspek keamanan, kenyamanan, daya tarik lingkungan, dan aspek – aspek lainnya. Penelitian dilakukan kepada koridor-koridor favorit di Kota Bandung yang diidentifikasi berdasarkan banyaknya pelari yang melintas di rute tersebut melalui aplikasi Strava. Data yang dianalisis adalah hasil observasi di koridor-koridor favorit dan juga hasil jawaban kuesioner dari responden yang pernah berlari di Kota Bandung. Dengan menganalisis hubungan dari teori walkability sebagai prinsip dasar perancangan koridor dengan data primer yang dianalisis, penelitian ini memberikan panduan bagi pengambil kebijakan dan perencana kota dalam merancang koridor perkotaan yang mendukung aktivitas berlari secara inklusif.