📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenKELAYAKAN FINANCIAL ABC, USAHA PRODUKSI SERBUK KAYU YANG MENJADI PEMASOK BAGI INDUSTRI KERTAS KARTON
Pertumbuhan industri kertas dan paperboard di Indonesia terus meningkatkan permintaan terhadap serbuk kayu sebagai bahan aditif dalam proses produksi paperboard. PT XYZ saat ini membutuhkan sekitar 150–200 ton wood powder setiap bulan, namun sebagian besar pasokannya masih berasal dari pemasok di Jawa Timur, sehingga menyebabkan biaya transportasi yang lebih tinggi, waktu pengiriman yang lebih lama, serta risiko keterlambatan pasokan yang lebih besar. Untuk mengatasi tantangan tersebut, ABC berencana mendirikan usaha manufaktur serbuk kayu di Purwakarta, Jawa Barat, guna menyediakan pasokan lokal yang lebih andal bagi PT XYZ melalui kerja sama businessto-business (B2B). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan finansial usaha yang diusulkan menggunakan proyeksi keuangan selama 10 tahun, teknik capital budgeting, serta analisis risiko melalui Sensitivity Analysis dan Monte Carlo Simulation. Dengan kebutuhan investasi awal sebesar Rp644.187.369, usaha yang diusulkan menghasilkan Net Present Value (NPV) positif sebesar Rp291.843.774, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 21,57%, yang lebih tinggi daripada Weighted Average Cost of Capital (WACC) sebesar 12,33%, serta Discounted Payback Period (DPP) selama 6,69 tahun, sehingga memenuhi seluruh kriteria keputusan investasi. Sensitivity Analysis mengidentifikasi variabel-variabel yang paling memengaruhi nilai proyek, yang selanjutnya digunakan sebagai input dalam Monte Carlo Simulation dengan 10.000 iterasi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa proyek memiliki probabilitas sebesar 85,63% untuk menghasilkan NPV positif meskipun terdapat ketidakpastian pada berbagai asumsi keuangan dan operasional. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa pendirian ABC sebagai pemasok lokal serbuk kayu bagi PT XYZ layak untuk dijalankan secara finansial. Namun, variabel-variabel kritis yang telah diidentifikasi perlu dipantau dan dikelola secara berkelanjutan untuk menjaga kelayakan finansial usaha dalam jangka panjang. Kata Kunci: Industri pulp dan kertas, serbuk kayu, kelayakan finansial, analisis penganggaran modal, risiko dalam penganggaran modal.
SISTEM DRONE DENGAN KEMAMPUAN PENGENALAN OBJEK BERBASIS RADAR MICROWAVE IMAGING: IMPLEMENTASI LENSA DIELEKTRIK DAN KARAKTERISASI PENCITRAAN GELOMBANG MIKRO
Sistem pengenalan objek visual konvensional yang diintegrasikan pada platform Unmanned Aerial Vehicle (UAV) untuk misi pencarian dan penyelamatan (Search and Rescue / SAR) memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap kondisi pencahayaan optimal dan visibilitas atmosfer. Ketika dihadapkan pada skenario lingkungan dengan jarak pandang rendah akibat kabut tebal, asap, atau hambatan fisik berupa vegetasi / dedaunan, performa kamera optik akan mengalami penurunan fungsional. Untuk mengatasi batasan tersebut, teknologi microwave imaging berbasis gelombang milimeter menawarkan solusi yang tahan karena memiliki kemampuan penetrasi yang mampu menembus medium dielektrik non konduktif. Penelitian Tugas Akhir ini memfokuskan pada rekayasa dan karakterisasi perangkat keras sub-sistem sensor serta sistem navigasi gelombang mikro jarak dekat untuk menyediakan landasan pencitraan dua dimensi yang andal bagi UAV. Komponen penginderaan utama yang diimplementasikan dalam sistem ini adalah modul sensor Pulsed Coherent Radar (PCR) Acconeer XM112 yang beroperasi pada frekuensi 60,5 GHz dengan konsumsi daya maksimum rendah sebesar 81,3 mW. Meskipun frekuensi tinggi tersebut secara teoritis memberikan resolusi spasial yang tajam karena panjang gelombangnya yang sangat pendek (5 mm), sensor ini memiliki keterbatasan fisik bawaan berupa sudut pancaran setengah daya / Half- Power Beamwidth (HPBW) pada bidang horizontal yang relatif lebar, yaitu mencapai 70?. Sudut pancaran yang divergen ini menyebabkan gelombang elektromagnetik pancaran melebar saat menabrak target, yang dapat menyebabkan fenomena pikselasi berlebih yang membuat area yang memantulkan gelombang menjadi melebar (blooming) serta menurunkan ketajaman batas tepi objek. Masalah tersebut diselesaikan melalui perancangan komponen pembias berupa Integrated Lens Antenna (ILA) plano-konveks yang diperpanjang menggunakan material dielektrik padat Polylactic Acid (PLA) dengan indeks bias 1,57, yang didesain secara analitis mengacu pada prinsip optik geometris dan Hukum Snellius. Karakterisasi parameter fisik antena dilakukan melalui metode pengukuran pola radiasi monostatik di medan jauh dengan memanfaatkan corner reflector trihedral sebagai target pantul dengan nilai Radar Cross Section (RCS) tinggi. Pengambilan data daya terima dilakukan pada bidang horizontal (azimuth) dengan resolusi sudut antarsampel sebesar 10?. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa integrasi lensa dielektrik PLA berhasil memfokuskan berkas gelombang mikro secara signifikan, menyempitkan nilai HPBW pada bidang horizontal bawaan radar dari 71.44? menjadi 13,36?, atau merepresentasikan efisiensi pemfokusan sudut pancaran sebesar 81,31%. Pengujian performa pencitraan spasial selanjutnya dilakukan melalui pemindaian mekanis dua dimensi terhadap objek target konduktif berupa huruf ‘SOS’ berdimensi 20 x 12 cm yang diletakkan pada jarak 20 cm dibawah radar dengan interval pemindaian sebesar 2 cm hingga membentuk matriks citra resolusi 12 x 25 piksel. Tingkat kemiripan dan ketajaman citra spasial dianalisis secara kuantitatif menggunakan metrik Peak Signal-to-Noise Ratio (PSNR) terhadap matriks ideal melalui pembatasan jarak dan kuantisasi amplitudo 8 level. Berdasarkan hasil pengujian pada skenario tanpa penghalang (line-of-sight), penambahan lensa PLA terbukti meningkatkan nilai PSNR dari 10,41 dB menjadi 12,76 dB. Pada skenario penghalang styrofoam, lensa mempertahankan nilai PSNR tinggi pada angka 11,31 dB, sedangkan pada skenario penghalang daun-daun gugur, pemfokusan beamwidth sensor Acconeer oleh lensa mampu meminimalkan efek scattering oleh bahan organik dan membuat nilai PSNR citra pada level 9,547 dB. Keberhasilan rekayasa sub sistem ini secara langsung menghasilkan data citra spasial yang tajam, yang berfungsi sebagai penyedia input matriks amplitudo beresolusi tinggi untuk diproses lebih lanjut oleh sub-sistem data processing yang mengimplementasikan klasifikasi dengan Tiny Machine Learning (TinyML).
DINAMIKA PERKEMBANGAN RUANG KOMERSIAL DI KAWASAN PERI-URBAN: STUDI PERILAKU KONSUMSI RUANG DI KAWASAN KOMERSIAL PADA KELURAHAN SARIHARJO, KABUPATEN SLEMAN
Perkembangan pada kawasan peri-urban ditandai dengan terjadinya transformasi kawasan dari sifat rural menjadi urban, mulai dari transformasi spasial, ekonomi, dan sosial. Perkembangan tersebut mendorong terjadinya perubahan fungsi pemanfaatan ruang yang ditandai dengan meningkatnya aktivitas komersial sebagai akibat dari perubahan fiskal yang dialami. Berbeda dengan pola perkembangan komersial peri-urban yang umumnya terkonsentrasi di sepanjang koridor jalan utama, aktivitas komersial di Kelurahan Sariharjo berkembang menyebar pada jalan-jalan lokal di kawasan permukiman dan pertanian. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perubahan fungsi pemanfaatan ruang komersial, mengidentifikasi persepsi konsumen terhadap ruang komersial, serta menganalisis pengaruh faktor-faktor persepsi konsumen terhadap perkembangan lokasi ruang komersial di Kelurahan Sariharjo. Analisis dilakukan menggunakan analisis deskriptif spasial, analisis faktor menggunakan CFA dan analisis pengaruh menggunakan metode regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kelurahan Sariharjo mengalami transformasi dari kawasan yang didominasi fungsi pertanian menuju kawasan terbangun yang diikuti berkembangnya aktivitas komersial dengan pola persebaran ribbons development mengikuti koridor jalan utama maupun jalan lokal. Persepsi konsumen terhadap ruang komersial terbentuk oleh faktor form, activity, image dan lingkungan bisnis. Karakter visual fasad berpengaruh terhadap pemilihan lokasi ruang komersial pada jalan lokal.
PERANCANGAN SUBSISTEM SUMBER DAYA UNTUK SISTEM MONITORING KEBISINGAN LINGKUNGAN LUAR RUANGAN
Kebisingan lingkungan merupakan ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat yang hingga saat ini belum tertangani secara optimal di Indonesia, salah satunya akibat keterbatasan instrumen pemantauan yang terjangkau. Instrumen yang tersedia di pasaran, seperti Sound Level Meter kelas 1 dan Outdoor Noise Monitoring System, memiliki harga berkisar antara Rp68.000.000,00 hingga Rp125.000.000,00 per unit, jauh di luar jangkauan sebagian besar konsultan teknik dan pembuat kebijakan. Sebagai respons terhadap permasalahan ini, tim peneliti merancang sebuah sistem monitoring kebisingan lingkungan luar ruangan yang terjangkau, mampu beroperasi selama 24 jam setiap harinya, tahan terhadap kondisi cuaca luar ruangan, dan menampilkan data kebisingan secara real-time kepada pengguna melalui dashboard berbasis cloud. Sistem monitoring ini terdiri dari enam subsistem utama, yaitu akuisisi data, pengolahan sinyal, transmisi data, penyimpanan dan visualisasi data berbasis cloud, sumber daya, serta casing. Keenam subsistem tersebut terintegrasi dalam satu perangkat yang beroperasi di lapangan secara kontinu dan saling bergantung satu sama lain untuk menghasilkan data kebisingan yang akurat dan dapat diandalkan. Tugas akhir ini secara khusus mengerjakan subsistem sumber daya yang bertanggung jawab menyediakan pasokan daya yang stabil dan kontinu kepada seluruh komponen sistem, karena kegagalan pasokan daya akan berdampak langsung pada seluruh subsistem lainnya. Subsistem sumber daya berfungsi menyediakan tegangan stabil kepada seluruh komponen sistem, melakukan peralihan sumber daya secara otomatis antara adaptor DC dan power bank, serta memantau dan melaporkan status kapasitas power bank secara real-time ke dashboard cloud. Subsistem ini terhubung dengan subsistem lain melalui dua antarmuka, yaitu antarmuka daya yang menyuplai langsung Raspberry Pi 4B dan modem Wi-Fi dari keluaran konverter step-down, serta antarmuka data berupa komunikasi USB CDC antara ESP32-S3 dan Raspberry Pi 4B yang membawa data tegangan, arus, dan state-of-charge (SoC) untuk diteruskan ke cloud. Penulis merancang subsistem secara iteratif melalui lima iterasi. Iterasi pertama menggunakan modul switcher YX850 dan baterai Li-Ion 12 V dengan topologi distribusi daya DC-chain. Iterasi berikutnya berfokus pada perancangan sistem pemantauan kapasitas baterai, dengan beberapa pendekatan yang dievaluasi secara berurutan yaitu indikator visual, sensor I2C khusus baterai, dan pembagi tegangan dievaluasi secara berurutan namun ditemukan tidak memenuhi kebutuhan sistem. Sensor INA219 kemudian dipilih karena mampu mengukur ii tegangan dan arus secara bersamaan melalui antarmuka I2C. Modul switcher YX850 digantikan dengan konfigurasi OR-ing dua dioda Schottky 1N5822 karena modul tersebut memiliki jeda transisi sekitar 0,70 detik yang cukup untuk menyebabkan sistem mengalami reboot. Pada iterasi terakhir, baterai Li-Ion digantikan oleh power bank Robot RT32 dengan kapasitas nominal 111 Wh dan kapasitas aktual terukur sebesar 87,80 Wh, dan masalah fitur auto-sleep diatasi melalui pemilihan port USB A2 yang tidak memiliki fitur tersebut. Konfigurasi final subsistem sumber daya terdiri dari adaptor DC 14 V sebagai sumber primer, power bank Robot RT32 12 V sebagai sumber sekunder, dua dioda Schottky 1N5822 dalam konfigurasi OR-ing, modul decoy trigger USB Power Delivery, konverter step-down XY-3606, dan sensor INA219. Adaptor menggunakan tegangan 14 V agar selalu memiliki tegangan lebih tinggi dari power bank sehingga secara otomatis menjadi sumber aktif selama tersambung ke jala-jala listrik. Distribusi daya dari keluaran konverter step-down 5,20 V dihubungkan secara paralel ke Raspberry Pi 4B dan modem Wi-Fi, sementara ESP32-S3 mendapatkan daya dari port USB Raspberry Pi 4B untuk menjaga kompatibilitas jalur komunikasi USB CDC. Hasil pengujian menunjukkan tegangan keluaran konverter step-down terjaga stabil pada 5,10–5,20 V pada semua kondisi sumber dan beban, dengan tegangan masukan Raspberry Pi 4B terukur 5,00 V pada kondisi beban penuh, masih dalam rentang operasional yang direkomendasikan sebesar 4,75 V hingga 5,25 V. Peralihan sumber daya antara adaptor dan power bank terjadi secara instan tanpa menyebabkan reboot sistem, memverifikasi bahwa kontinuitas akuisisi data terjaga. Akurasi sensor INA219 dibandingkan multimeter Kyoritsu KEW 1021R menunjukkan selisih sekitar 3% pada kondisi beban penuh, yang tidak signifikan terhadap akurasi perhitungan akumulasi energi. Uji pengosongan penuh menunjukkan durasi operasional 17 jam 7 menit, melampaui target minimum 8 jam. Total biaya komponen satu perangkat sistem monitoring sebesar Rp4.107.100,00, berada di bawah target maksimal Rp5.000.000,00.
PERANCANGAN “JAGAT KERTHI” LIVING HERITAGECENTER SEBAGAI PUSAT EDUKASI WARISAN BUDAYA BALI DENGAN PENDEKATAN NARATIF-MULTISENSORI
Perkembangan masif pariwisata di Bali selama beberapa dekade terakhir telah memicu krisis sosial yang tidak hanya berdampak pada degradasi ekosistem, tetapi juga pada terputusnya relasi manusia dengan nilai budaya yang selama ini menjadi dasar keharmonisan kehidupan masyarakat Bali. Alih fungsi lahan, degradasi lingkungan, dan overturisme pada ruang pariwisata telah menggeser praktik budaya dari sistem pengetahuan hidup menjadi komoditas simbol yang terlepas dari konteksnya. Kondisi ini menunjukkan kelemahan ruang edukasi publik dalam mentransmisikan makna budaya secara utuh, baik kepada masyarakat urban maupun wisatawan. Untuk menjembatani permasalahan tersebut, diperlukan sebuah pusat warisan budaya yang tidak hanya berfungsi sebagai wadah pelestarian budaya, tetapi juga dirancang untuk menerjemahkan nilai-nilai kearifan lokal Bali menjadi sebuah narasi ruang yang relevan terhadap kondisi masa kini dan dapat diapresiasi oleh pengunjung. Penelitian ini mengusulkan perancangan sebuah pusat warisan budaya sebagai fasilitas edukasi publik di Uluwatu, Bali, dengan fokus pada penciptaan ruang edukasi yang interaktif. Metode penelitian kualitatif berupa pengumpulan data studi literatur, observasi lapangan, dan studi preseden diterjemahkan ke dalam strategi desain interior berbasis naratif dan desain multisensori untuk membangun pengalaman belajar yang lebih imersif dan meningkatkan keterlibatan emosional pengunjung. Berlandaskan pada teori persepsi spasial yang memandang pengalaman ruang sebagai hasil interaksi antara stimulus lingkungan dengan proses kognitif dan sensorik pengguna, hasil perancangan menghadirkan desain interior yang mendukung aktivitas pembelajaran budaya Bali melalui pendekatan desain naratif-multisensori yang diimplementasikan pada materialitas, tata ruang, pencahayaan, tata suara, aroma, tekstur, serta sekuens antar program ruang.
PERANCANGAN “JAGAT KERTHI” LIVING HERITAGECENTER SEBAGAI PUSAT EDUKASI WARISAN BUDAYA BALI DENGAN PENDEKATAN NARATIF-MULTISENSORI
Perkembangan masif pariwisata di Bali selama beberapa dekade terakhir telah memicu krisis sosial yang tidak hanya berdampak pada degradasi ekosistem, tetapi juga pada terputusnya relasi manusia dengan nilai budaya yang selama ini menjadi dasar keharmonisan kehidupan masyarakat Bali. Alih fungsi lahan, degradasi lingkungan, dan overturisme pada ruang pariwisata telah menggeser praktik budaya dari sistem pengetahuan hidup menjadi komoditas simbol yang terlepas dari konteksnya. Kondisi ini menunjukkan kelemahan ruang edukasi publik dalam mentransmisikan makna budaya secara utuh, baik kepada masyarakat urban maupun wisatawan. Untuk menjembatani permasalahan tersebut, diperlukan sebuah pusat warisan budaya yang tidak hanya berfungsi sebagai wadah pelestarian budaya, tetapi juga dirancang untuk menerjemahkan nilai-nilai kearifan lokal Bali menjadi sebuah narasi ruang yang relevan terhadap kondisi masa kini dan dapat diapresiasi oleh pengunjung. Penelitian ini mengusulkan perancangan sebuah pusat warisan budaya sebagai fasilitas edukasi publik di Uluwatu, Bali, dengan fokus pada penciptaan ruang edukasi yang interaktif. Metode penelitian kualitatif berupa pengumpulan data studi literatur, observasi lapangan, dan studi preseden diterjemahkan ke dalam strategi desain interior berbasis naratif dan desain multisensori untuk membangun pengalaman belajar yang lebih imersif dan meningkatkan keterlibatan emosional pengunjung. Berlandaskan pada teori persepsi spasial yang memandang pengalaman ruang sebagai hasil interaksi antara stimulus lingkungan dengan proses kognitif dan sensorik pengguna, hasil perancangan menghadirkan desain interior yang mendukung aktivitas pembelajaran budaya Bali melalui pendekatan desain naratif-multisensori yang diimplementasikan pada materialitas, tata ruang, pencahayaan, tata suara, aroma, tekstur, serta sekuens antar program ruang.
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM MANAJEMEN BATERAI DAN SELUBUNG PELINDUNG UNTUK SISTEM PRESENSI BIOMETRIK PORTABEL
Tingkat kehadiran mahasiswa dalam kegiatan perkuliahan telah terbukti memiliki korelasi yang kuat terhadap keberhasilan proses pembelajaran dan pencapaian akademik. Namun, metode pencatatan kehadiran yang digunakan di Institut Teknologi Bandung, baik melalui Sistem Informasi Akademik berbasis web maupun aplikasi mySIX, masih memiliki beberapa keterbatasan, seperti potensi terjadinya kecurangan dan belum tersedianya mekanisme autentikasi yang mampu memastikan identitas pengguna secara langsung. Selain itu, metode presensi menggunakan kertas masih memungkinkan terjadinya praktik penitipan tanda tangan sehingga mengurangi validitas data kehadiran. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dikembangkan sistem presensi biometrik portabel berbasis sidik jari bernama SIXSEVEN yang dapat dioperasikan secara mandiri dan diedarkan secara estafet di dalam kelas tanpa mengganggu jalannya proses pembelajaran. Tugas akhir ini merupakan bagian dari pengembangan sistem SIXSEVEN secara keseluruhan dengan ruang lingkup penelitian yang difokuskan pada perancangan, implementasi, dan pengujian Battery Management System serta Protective Casing. Kedua subsistem tersebut berperan dalam memenuhi kebutuhan portabilitas, keandalan, dan ketahanan perangkat sesuai konstrain yang ditetapkan pada dokumen kebutuhan produk, yaitu manufakturabilitas, portabilitas, kemudahan penggunaan, biaya yang terjangkau, serta ketahanan perangkat terhadap penggunaan berulang pada lingkungan perkuliahan. Spesifikasi teknis yang harus dipenuhi meliputi durasi operasi minimum selama 10 jam, massa perangkat kurang dari 600 gram, dimensi maksimum 20×10×5 cm³, serta kemampuan bertahan terhadap benturan dan percikan air. Subsistem Battery Management System dirancang menggunakan baterai Lithium Polymer 1S berkapasitas 5000 mAh dengan energi sebesar 18,5 Wh sebagai sumber daya utama. Proses pengisian baterai menggunakan modul IP2312 yang menerapkan metode Constant Current–Constant Voltage serta dilengkapi proteksi terhadap overcharge, over-discharge, over-current, dan short circuit. Tegangan keluaran baterai kemudian dinaikkan menjadi 5 V menggunakan konverter DC-DC boost berbasis IC MT3608 untuk menyuplai kebutuhan daya mikrokontroler ESP32, sensor sidik jari R503, LCD 20×4, keypad, dan modul pendukung lainnya. Analisis konsumsi daya dilakukan berdasarkan kebutuhan arus masing-masing komponen sehingga diperoleh estimasi waktu operasi teoritis sebesar 10,48 jam dengan asumsi efisiensi konverter sebesar 85%. Subsistem Protective Casing dirancang menggunakan perangkat lunak Autodesk Fusion 360 dengan konsep modular yang terdiri atas top cover dan base enclosure. Casing diproduksi menggunakan teknologi Fused Deposition Modeling berbahan PLA+ dengan ketebalan dinding sebesar 5 mm dan fillet beradius 5 mm untuk meningkatkan kekuatan mekanis serta mengurangi konsentrasi tegangan pada sudut-sudut struktur. Selain itu, casing dilengkapi PCB standoff, internal divider, alignment lip, dan foam gasket guna meningkatkan kekakuan struktur sekaligus memberikan perlindungan terhadap percikan air sesuai target IPX4. Implementasi dilakukan menggunakan metode penyolderan point-to-point permanen agar sistem memiliki keandalan yang lebih baik. Pengujian dilakukan terhadap seluruh spesifikasi yang ditetapkan, meliputi pengujian durasi operasi baterai, dimensi, massa, ketahanan mekanis, ketahanan terhadap percikan air, serta pengujian sistem terintegrasi pada proses registrasi dan presensi mahasiswa di lingkungan perkuliahan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Battery Management System mampu mempertahankan operasi perangkat selama 12 jam 50 menit. Waktu pengisian baterai dari kondisi kosong hingga penuh tercatat sekitar 4 jam 30 menit. Protective Casing berhasil direalisasikan dengan dimensi akhir 20×10×6,7 cm dan massa 548 gram. Meskipun tinggi perangkat mengalami deviasi terhadap spesifikasi awal akibat penambahan ruang pelindung sensor sidik jari dan penempatan modul elektronik bertingkat, perangkat tetap memenuhi kebutuhan portabilitas serta nyaman digunakan pada proses presensi di kelas. Pengujian free-fall yang diadaptasi dari standar IEC 60068-2-31 menunjukkan bahwa perangkat tetap berfungsi normal setelah dijatuhkan dari ketinggian hingga 1 meter, sedangkan pengujian ketahanan terhadap percikan air berdasarkan adaptasi IEC 60529 (IPX4) menunjukkan tidak adanya air yang masuk ke dalam kompartemen elektronik. Selain itu, pengujian sistem secara terintegrasi membuktikan bahwa proses registrasi, autentikasi sidik jari, penyimpanan data lokal, serta sinkronisasi menuju basis data cloud dapat berjalan dengan baik tanpa kehilangan data. Berdasarkan hasil perancangan, implementasi, dan pengujian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa subsistem Battery Management System dan Protective Casing berhasil memenuhi sebagian besar spesifikasi teknis serta konstrain produk yang ditetapkan. Kedua subsistem mampu mendukung pengoperasian perangkat presensi biometrik SIXSEVEN secara mandiri, portabel, aman, dan andal sehingga layak digunakan untuk mendukung proses presensi saat perkuliahan.
SENSITIVITY ANALYSIS OF C7+ PSEUDO-COMPONENT ACENTRIC FACTOR ON CO? SATURATION, CO? SATURATION DISTRIBUTION, AND RECOVERY FACTOR AS A REPRESENTATION OF CO? MICROBUBBLE INFLUENCE
CO? microbubble injection is an alternative EOR strategy for sub-MMP reservoir conditions; however, commercial reservoir simulators do not yet provide a dedicated mode for this mechanism. This study extends previous work by conducting a sensitivity analysis of the acentric factor of the C7+ pseudocomponent within a three-dimensional proxy reservoir model to evaluate its influence on CO? saturation distribution and recovery factor as a representation of CO? microbubble injection, using an indirect PVT tuning approach in the tNavigator compositional simulator. A 200 × 200 × 30 Cartesian grid model representing depleted reservoir conditions was constructed, and CO? saturation matching was performed against the experimental trends of Xue et al. (2014). Five sensitivity scenarios were evaluated by reducing the C7+ acentric factor by 5%, 10%, 15%, 20%, and 25% from the base matched value. Results showed that reducing the acentric factor consistently increased average CO? saturation, improved CO? saturation distribution along the reservoir, and enhanced oil recovery as represented by the recovery factor. Quadratic polynomial correlations between the acentric factor and recovery factor were established at three injection evaluation points with R² values above 0.97, valid within the range of 0.2625 ? ? ? 0.35. These findings confirm that the acentric factor of the C7+ component is the dominant PVT parameter whose variation significantly influences CO? distribution and oil recovery in the context of CO? microbubble injection representation using the tNavigator simulator
“MERANCANG MODEL BISNIS BERKELANJUTAN BAGI PENGEMBANG PROPERTI: INTEGRASI PRINSIP ‘PEOPLE, PLANET, PROFIT’ UNTUK MENCAPAI KEUNGGULAN BERSAING JANGKA PANJANG” (STUDI KASUS: PT REKA BENTUK RUMAH)
Studi ini merancang model bisnis berkelanjutan bagi PT Reka Bentuk Rumah, pengembang properti skala menengah di Indonesia, dengan mengintegrasikan prinsip People, Planet, dan Profit ke dalam strategi keunggulan bersaing jangka panjang. Penelitian ini merespons tekanan urbanisasi, keterjangkauan hunian, degradasi lingkungan, tanggung jawab iklim, dan perubahan ekspektasi konsumen yang menunjukkan keterbatasan model pembangunan business-as-usual. Pada tingkat perusahaan, masalah bisnis utamanya adalah bahwa PT Reka Bentuk Rumah telah memiliki pengetahuan desain hijau, tetapi kapabilitas tersebut masih bergantung pada pendiri dan belum tertanam secara sistematis dalam mekanisme penciptaan, penyampaian, dan penangkapan nilai perusahaan. Dengan pendekatan kualitatif berbasis desain, penelitian ini menggunakan Design Thinking sebagai alur proses dan Triple-Layered Business Model Canvas (TLBMC) sebagai instrumen utama perancangan. Data diperoleh dari literatur, laporan industri, dokumen regulasi, data proyek internal dan pembanding, serta wawancara validasi dengan delapan ahli yang dipilih secara purposif dari bidang green building, perbankan dan pembiayaan perumahan, pengembangan properti, perumahan terjangkau, dan kebijakan publik. Temuan menunjukkan bahwa logika finansial green building berbasis premium harga kurang sesuai untuk segmen perumahan subsidi dan terjangkau yang harga jualnya dibatasi oleh regulasi atau daya beli konsumen. Sebagai alternatif, penelitian ini mengusulkan capital velocity sebagai mekanisme finansial utama: desain hijau pasif dapat meningkatkan kenyamanan, menurunkan biaya operasional, memperkuat kepercayaan pembeli, mendukung percepatan absorpsi penjualan, dan memperpendek siklus modal kerja tanpa menaikkan harga jual. TLBMC yang diusulkan menanamkan desain pasif, kesiapan sertifikasi, dokumentasi pembiayaan hijau, dan manfaat praktis bagi pembeli ke dalam model operasi perusahaan. Studi ini berkontribusi dengan menawarkan cetak biru kontekstual bagi pengembang skala menengah dan memposisikan keberlanjutan sebagai kapabilitas organisasi, keunggulan pasar, serta landasan menuju pengembangan regeneratif.
SSISTEM DRONE DENGAN KEMAMPUAN PENGENALAN OBJEK BERBASIS RADAR MICROWAVE IMAGING: PENGOLAHAN CITRA DAN PELATIHAN MODEL CNN
Sistem pengenalan objek visual konvensional pada kendaraan udara nirawak (unmanned aerial vehicle/UAV) dalam misi pencarian dan penyelamatan (search and rescure/SAR) rentan terhadap penfurunan kinerja dalam kondisi cuaca buruk dan pencahayaan yang kurang baik. Untuk mengatasi keterbatasan ini, pencitraan gelombang mikro (microwave imaging) menghadirkan alternatif yang kuat karena kemampuan penetrasinya yang dalam. Penelitian ini mengusulkan kerangka kerja pengenalan objek lokal yang ditujukan untuk aplikasi drone menggunakan sensor pulsed coherent radar (PCR) Acconeer XM112 yang beroperasi pada 60,5 GHz. Saat melakukan scanning, sistem harus dapat mengenali apakah objek yang telah dipindai merupakan bentuk ‘SOS’ atau tidak. Hal ini agar drone dapat mengenali landing pad—yang memiliki tulisan konduktif ‘SOS’ dan digelar oleh korban yang hilang—dan melakukan pendaratan pada landing pad tersebut untuk mengantarkan pertolongan dan mengirimkan koordinat lokasi ke ground station. Sistem pada penelitian ini bekerja dengan melakukan scanning menggunakan modul sensor Acconeer pada bentuk ‘SOS’ yang dibuat, mengolah data mentah yang direkam oleh sensor menjadi citra, dan memasukannya ke dalam model convolution neural network (CNN) yang dilatih untuk melakukan klasifikasi apakah citra input merupakan citra ‘SOS’. Dibuat modul yang berfungsi untuk mengolah data mentah output dari sensor dari bentuk format H5 yang terdiri atas data amplitudo, jarak, timestamp, dan parameter-parameter radar lainnya menjadi citra dalam bentuk matriks. Sensor Acconeer tersebut memiliki half-power beamwidth (HPBW) yang relatif lebar—sekitar 70°—sehingga berpengaruh pada kualitas citra yang dipindai. Untuk mengatasi HPBW yang lebar tersebut, didesain lensa berbahan material dielektrik polylactic acid (PLA) padat yang diintegrasikan untuk memfokuskan berkas elektromagnetik lensa. Untuk mengevaluasi kinerja lensa terhadap kualitas citra yang dihasilkan, dilakukan uji coba scanning dengan dua parameter: status lensa dielektrik terintegrasi (tanpa atau dengan lensa) dan jenis penghalang huruf ‘SOS’ (tanpa penghalang, dedaunan gugur, atau styrofoam). Untuk menguantisasi kemiripan masing-masing citra dengan ‘SOS’ ideal, dibuat modul pembanding menggunakan citra ‘SOS’ ideal yang diekstrak dari file PNG. Perbandingan tersebut dihitung menggunakan metode peak signal-to-noise ratio (PSNR). Hasil menunjukkan PSNR dengan rentang 8,096–12,76 dB, dengan PSNR terendah pada citra dengan parameter tanpa lensa dan jenis penghalang dedaunan gugur. Untuk kecerdasan objek, sebuah model CNN ringan dirancang dan dioptimalkan untuk penerapan Tiny Machine Learning (TinyML) pada mikrokontroler ESP32. Model dilatih pada kombinasi data scanning empiris dan matriks amplitudo sintetis untuk mengenali pola ‘SOS’. Pembuatan dan pelatihan model CNN meliputi pembuatan modul Python yang berfungsi untuk membuat data sintetis yang digunakan sebagai data latih, mendefinisikan arsitektur model CNN, dan melakukan validasi model menggunakan citra hasil scanning. Setelah data mentah H5 yang diambil diolah menjadi matriks, dilakukan tes recognition menggunakan model CNN yang sudah dilatih. Hasil menunjukkan huruf ‘SOS’ berhasil dikenali untuk semua kombinasi parameter, dengan rentang tingkat keyakinan 89,93–100%, kecuali untuk citra dengan parameter tanpa lensa dan jenis penghalang dedaunan gugur, yang memiliki tingkat keyakinan 7,35% sebagai antisipasi klasifikasi yang bersifat false positive. Sistem tertanam ini berhasil mengeksekusi inferensi real-time di tepi jaringan. Integrasi ini menunjukkan subsistem microwave imaging berdaya rendah yang mampu melakukan pengenalan bentuk ‘SOS’ sehingga menyediakan fondasi subsistem yang tahan terhadap gangguan jarak pandang untuk misi SAR.
ADSORPSI ION CU2+ MENGGUNAKAN RGO/GE–GLI TEROPTIMASI RESPONSE SURFACE METHODOLOGY– CENTRAL COMPOSITE DESIGN
Pencemaran ion logam di lingkungan perairan perlu dikendalikan karena dapat menurunkan kualitas ekosistem dan menimbulkan risiko kesehatan. Salah satu ion yang perlu mendapat perhatian adalah Cu²?. Tembaga merupakan unsur esensial pada konsentrasi rendah, tetapi bersifat toksik apabila terakumulasi pada konsentrasi tinggi. Adsorpsi banyak digunakan untuk menurunkan konsentrasi ion logam karena sederhana, ekonomis, dan efektif pada konsentrasi rendah hingga menengah. Keberhasilannya dipengaruhi oleh luas permukaan, porositas, gugus fungsi aktif, kestabilan adsorben dalam air, serta kemudahan pemisahannya. Grafena oksida tereduksi (rGO) berpotensi sebagai adsorben karena memiliki struktur dua dimensi, luas permukaan tinggi, dan gugus beroksigen residual yang dapat berinteraksi dengan ion logam. Namun, lembaran rGO yang halus cenderung beragregasi atau bertumpuk kembali sehingga luas permukaan aktif berkurang dan pemisahannya dari fase cair menjadi sulit. Sintesis grafena oksida secara konvensional dari grafit juga umumnya menggunakan oksidator kuat dan asam pekat. Biomassa limbah pertanian dipilih sebagai alternatif prekursor karbon karena terbarukan, murah, melimpah, dan dapat meningkatkan nilai guna limbah. Kulit pisang tanduk digunakan sebagai prekursor material berbasis grafena oksida karena merupakan limbah lignoselulosa dengan kandungan karbon tinggi. GO selanjutnya direduksi menggunakan ekstrak daun kelor sebagai agen pereduksi alami. Polifenol, flavonoid, dan senyawa antioksidan daun kelor berpotensi mendonorkan elektron untuk mereduksi gugus beroksigen pada GO. Daun kelor juga mudah diperoleh dan tersedia secara lokal. Untuk meningkatkan kestabilan serta memudahkan penanganan rGO, material tersebut diimobilisasi dalam matriks gelatin yang memiliki gugus amino, hidroksil, dan karboksil. Gelatin kemudian ditautsilangkan menggunakan glioksal melalui reaksi gugus aldehida dengan gugus amino sehingga terbentuk jaringan yang lebih stabil dan tahan air. Karena komposisi gelatin dan glioksal dapat memengaruhi kapasitas adsorpsi secara simultan dan nonlinier, optimasi dilakukan menggunakan Response Surface Methodology–Central Composite Design (RSM–CCD) untuk memperhitungkan interaksi antarfaktor secara efisien. Penelitian ini bertujuan menyintesis adsorben rGO yang diimobilisasi dalam matriks gelatin dan ditautsilangkan menggunakan glioksal (rGO/GE–GLI), menentukan komposisi optimum gelatin dan glioksal pada massa rGO tetap, mengarakterisasi sifat fisikokimianya, serta mengevaluasi kemampuan adsorpsi–desorpsi terhadap ion Cu²?. Kulit pisang tanduk dikarbonisasi dan diaktivasi menggunakan HCl untuk menghilangkan mineral pengotor dan abu, kemudian digunakan sebagai prekursor sintesis material berbasis GO. Material tersebut direduksi menggunakan ekstrak daun kelor untuk memperoleh rGO, selanjutnya diimobilisasi dengan gelatin dan ditautsilangkan menggunakan glioksal. Optimasi komposisi dilakukan melalui 13 percobaan CCD dengan massa rGO tetap sebesar 1 g, sedangkan massa gelatin dan glioksal digunakan sebagai variabel bebas dan kapasitas adsorpsi Cu²? sebagai respons. Model kuadratik yang diperoleh signifikan secara statistik (p < 0,05), dengan R² sebesar 98,60%, R² terkoreksi sebesar 97,60%, dan R² prediksi sebesar 90,05%. Analisis kanonik menghasilkan nilai eigen sebesar 0,1707 dan ?0,7441 yang berbeda tanda, sehingga titik stasioner merupakan titik pelana dan kondisi optimum ditentukan melalui optimasi numerik dalam rentang penelitian. Komposisi optimum rGO:gelatin:glioksal dalam rentang penelitian adalah 1:1,5858:1,4321, dengan kapasitas adsorpsi prediksi sebesar 7,52 mg/g dan composite desirability sebesar 0,9482. Validasi melalui empat eksperimen menghasilkan kapasitas adsorpsi rata– rata sebesar 7,67 mg/g. Hasil uji t pada tingkat kepercayaan 95% menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara nilai eksperimen dan prediksi model. Karakterisasi menggunakan FTIR, XRD, SEM–EDS, TG/DTG, BET–BJH, mengindikasikan terbentuknya material berbasis GO–like/rGO–like, dan rGO/GE– GLI serta menunjukkan perubahan pada gugus fungsi, struktur, morfologi, kestabilan termal, dan porositas material. Adsorben memiliki luas permukaan spesifik sebesar 1.986,726 m²/g, volume pori sebesar 1,6100 cm³/g, dan diameter pori sebesar 3,074 nm sehingga termasuk material mesopori. Potensial zeta rata– rata sebesar ?14,96 mV pada pH 4 menunjukkan bahwa permukaan adsorben efektif bermuatan negatif pada kondisi adsorpsi tersebut. Kondisi optimum adsorpsi Cu²? diperoleh pada pH 4, massa adsorben 0,15 g, waktu kontak 90 menit, dan kecepatan pengadukan 120 rpm. Kinetika adsorpsi paling sesuai dengan model orde satu semu dengan R² sebesar 0,9943. Kesetimbangan adsorpsi lebih baik dijelaskan oleh isoterm Freundlich dengan R² sebesar 0,9664 dan nilai n sebesar 2,9896 dibandingkan isoterm Langmuir. Hasil tersebut menunjukkan bahwa adsorpsi berlangsung menguntungkan pada permukaan heterogen dengan kemungkinan pembentukan multilapis, sedangkan model Langmuir menghasilkan kapasitas maksimum teoretis sebesar 21,89 mg/g. Nilai ?G° sebesar ?13,80 hingga ?12,48 kJ/mol pada suhu 303–323 K menunjukkan bahwa proses adsorpsi berlangsung spontan. Nilai ?H° sebesar ?33,83 kJ/mol dan ?S° sebesar ?66,11 J mol?¹ K?¹ menunjukkan bahwa adsorpsi bersifat eksotermik dan meningkatkan keteraturan sistem. HNO3 0,1 M merupakan larutan pendesorpsi terbaik dengan waktu optimum 60 menit. Pada siklus pertama, persentase adsorpsi dan desorpsi masing–masing mencapai sekitar 85% dan 88%, tetapi menurun menjadi sekitar 20% dan 27% pada siklus kedua. Dengan demikian, rGO/GE–GLI berpotensi digunakan sebagai adsorben berbasis biomassa untuk penyisihan ion Cu²?, meskipun kestabilan dan kemampuan regenerasinya masih perlu ditingkatkan.
DAMPAK KESADARAN PEMASARAN TERHADAP INDUSTRI MUSIK KLASIK: STUDI KASUS TALENTA MUDA DI INDONESIA
Industri musik klasik di Indonesia tetap menjadi bidang budaya khusus dengan visibilitas publik yang terbatas dan jalur pendidikan yang terfragmentasi. Sementara negara-negara dengan ekosistem musik klasik yang mapan terus menghadapi keterlibatan audiens yang lebih rendah, konteks Indonesia menghadirkan tantangan unik yang berakar tidak hanya pada infrastruktur industri yang lemah tetapi juga karena kurangnya fasilitas pendukung untuk pendidikan yang mudah diakses. Studi ini meneliti bagaimana kekuatan kesadaran pemasaran dapat digunakan untuk membina segmen audiens yang lebih mendukungan untuk pendidikan musik klasik, dan membantu membangun industri musik klasik yang berkelanjutan bagi generasi muda Indonesia. Penelitian ini menggunakan analisis kualitatif dan membandingkan berbagai wilayah untuk memahami bagaimana kesadaran, pendidikan, dan pengembangan industri saling terkait. Sistem yang lemah di Indonesia mempersulit pengembangan tenaga profesional terampil dan membatasi pertumbuhan industri. Studi ini menyoroti bahwa pertumbuhan musik klasik di Indonesia bergantung pada bakat yang belum terfasilitasi dan pembentukan audiens yang menghargai dan mendukung masa depan musik tersebut. Kesadaran pemasaran menawarkan pendekatan realistis untuk meningkatkan apresiasi budaya dan mempertahankan pertumbuhan talenta muda Indonesia. Keywords: Musik Klasik; Kesadqran Pemasaran; Generasi Indonesia; Industri Musik
ANALISIS PENGARUH KOMBINASI FITUR MULTI-DOMAIN TERHADAP DETEKSI ANOMALI PADA DATA TIME-SERIES (STUDI KASUS: PELANGGAN AMI SATU FASA PLN)
Deteksi anomali pada data time-series penting dilakukan untuk mengidentifikasi pola yang menyimpang dari perilaku normal, sebelum menimbulkan kerugian yang lebih besar. Kinerja deteksi anomali sangat dipengaruhi oleh representasi fitur yang digunakan. Namun, penelitian terdahulu umumnya masih mengintegrasikan fitur secara parsial, sehingga pengaruh kombinasi fitur yang lebih komprehensif termasuk fitur hasil rekayasa dari model unsupervised learning, belum banyak dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi pendekatan deteksi anomali berbasis rekayasa fitur pada domain statistik, waktu, peer-based, frekuensi, dan skor anomali dari model unsupervised learning. Sebagai studi kasus, digunakan data konsumsi listrik harian pelanggan Advanced Metering Infrastructure (AMI) satu fasa milik PLN tahun 2025, yang terdiri atas 13.877 pelanggan, yaitu 13.387 pelanggan normal dan 490 pelanggan anomali berdasarkan hasil inspeksi petugas lapangan Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL). Pendekatan yang diusulkan terdiri atas dua tahapan, yaitu deteksi pada level harian dan agregasi pada level pelanggan. Pada tahap level harian, dilakukan rekayasa fitur yang meliputi pembentukan fitur domain statistik z-score dan IQR, pembentukan fitur domain waktu yaitu akhir pekan dan hari libur, pembentukan fitur peer-based untuk mengelompokkan pelanggan dengan golongan tarif, daya, dan konteks waktu yang sama, pembentukan fitur domain frekuensi menggunakan Fast Fourier Transform (FFT) dengan window 30 hari, 90 hari, dan kombinasinya, serta fitur berupa skor anomali dari model unsupervised learning yaitu Local Outlier Factor (LOF), Isolation Forest, One-Class SVM (OCSVM), dan DBSCAN, yang digunakan sebagai input dari model supervised learning XGBoost untuk menghasilkan probabilitas anomali harian. Kemudian pada tahap level pelanggan, probabilitas anomali harian diagregasi menggunakan pendekatan top 2-2,5% mean probability berdasarkan konsep Multi-Instance Learning (MIL). Pendekatan mean probability tersebut digunakan sebagai keseimbangan antara responsivitas deteksi dan ketahanan terhadap noise pembacaan meter. Evaluasi kinerja model dilakukan dengan menggunakan metrik F1-score kelas anomali, F1-macro, dan AUC, karena lebih representatif pada ketidakseimbangan kelas yang signifikan antara pelanggan normal dengan anomali. Eksperimen dilakukan menggunakan kombinasi 10 kelompok fitur dan 3 varian dataset. Hasil terbaik adalah menggunakan kelompok fitur domain statistik, domain waktu, peer-based, domain frekuensi, dan fitur skor anomali DBSCAN pada varian dataset FFT dengan window 30 hari (FFT30), yang menghasilkan F1-score kelas anomali sebesar 0,539, F1-macro 0,761, dan AUC 0,920 pada data test. Hasil ini lebih baik dibandingkan dengan pendekatan fitur statistik yang menghasilkan F1-score kelas anomali 0,326. Pada evaluasi data validation menunjukkan bahwa penambahan fitur hasil rekayasa varian FFT30 memberikan peningkatan performa model yaitu, penambahan fitur statistik meningkatkan performa F1-score kelas anomali dari 0,125 menjadi 0,326, penambahan fitur domain waktu meningkatkan performa menjadi 0,333, penambahan fitur peer-based tidak meningkatkan performa model, penambahan fitur domain frekuensi meningkatkan performa menjadi 0,443, dan penambahan fitur skor anomali dari DBSCAN meningkatkan performa menjadi 0,479. Peningkatan performa yang cukup besar terlihat pada penambahan fitur statistik, yang disebabkan karena fitur z-score dan IQR dapat menangkap deviasi konsumsi pelanggan terhadap rata-rata golongan tarif-daya-nya, sehingga mampu mengkoreksi pola konsumsi normal atau tidak yang terjadi pada golongannya. Sedangkan peningkatan performa pada domain frekuensi disebabkan karena fitur tersebut mampu menangkap ketidakteraturan/periodisitas pola konsumsi pada periode waktu tertentu. Kontribusi penelitian ini terletak pada integrasi lima domain fitur secara komprehensif, termasuk pemanfaatan skor anomali dari model unsupervised learning pada konteks pelanggan AMI satu fasa. Hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa kombinasi fitur domain statistik, domain waktu, peer-based, domain frekuensi, dan fitur tambahan dari model lain dapat meningkatkan kinerja deteksi anomali dibandingkan metode konvensional berbasis statistik saja.
PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SUBSISTEM PENDUKUNG UNTUK REAKTOR FILTER ELEKTRO-FENTON HOMOGEN: PENYANGGA MEKANIK, KENDALI PEMANAS BERBASIS PID, SISTEM PEMOMPAAN, INTEGRASI PCB, DAN CASIS
Tugas Akhir ini membahas perancangan dan implementasi empat subsistem pendukung untuk reaktor filter elektro-Fenton homogen yang digunakan dalam purwarupa sistem pengolahan air limbah tekstil, yaitu penyangga mekanik, kendali pemanas berbasis PID, sistem pemompaan, integrasi PCB, serta desain casis kustom. Reaktor ini menggantikan proses foto-Fenton pada alat TA242501020 dengan proses elektro-Fenton homogen guna meningkatkan efisiensi degradasi zat warna sekaligus menghilangkan kebutuhan sumber sinar ultraviolet. Penyangga mekanik direalisasikan sebagai desain split-shell hasil cetak 3D berbahan PETG yang mengakomodasi dua elektroda, sensor pH, sensor suhu, sensor gas, serta selang pompa dalam satu reaktor bervolume 250 mL dengan jarak antar elektroda 3 cm. Sistem pemompaan terdiri atas tujuh pompa peristaltik independen dengan nilai PWM terkalibrasi per kanal untuk mengotomasi dosis reagen pada laju alir 30 mL/min serta sirkulasi sampel dan pembilasan pada laju alir 120 mL/min. Kendali suhu dua tahap memadukan pemanasan penuh dan pengendali PID untuk menjaga suhu reaktor pada rentang 25 - 40 °C. Seluruh sensor dan aktuator diintegrasikan pada satu PCB dua layer yang telah difabrikasi dan diuji. Hasil pengujian menunjukkan bahwa spesifikasi teknis subsistem tercapai, dengan kendala teknis seperti ketergantungan laju alir pompa terhadap frekuensi PWM dan kebocoran silang pada sambungan-T telah berhasil diidentifikasi dan diatasi.
PENINGKATAN SIFAT FISIKOMEKANIK KAOLIN MENGGUNAKAN AMILUM DAN AEROSIL MELALUI METODE KOPRESIPITASI DENGAN PENGARUH KONDISI ASAM
Tablet merupakan sediaan padat yang dibuat dengan mengempa atau mencetak zat aktif dan eksipien menjadi unit dosis seragam. Pada metode kempa langsung, pembuatan tablet hanya meliputi pencampuran serbuk dan pengempaan sehingga keberhasilan metode ini sangat ditentukan oleh performa eksipien yang digunakan. Eksipien harus memiliki karakteristik alir yang baik, kompresibilitas yang memadai, serta variasi ukuran partikel yang sesuai. Kaolin merupakan mineral yang murah, mudah diperoleh, inert, dan stabil secara kimia, namun kompaktibilitas atau kemampuan pemadatan kaolin bernilai rendah. Peningkatan karakteristik fisik dan mekanik kaolin dapat dilakukan melalui metode kopresipitasi menggunakan amilum dan aerosil. Hasil kopresipitasi menunjukkan peningkatan sifat fisikomekanik dan penurunan kerapuhan tanpa mengubah struktur kimia. Produk kopresipitasi kaolin dan amilum dengan rasio 5:5 menghasilkan tensile strength sebesar 1,87 ± 0,01 MPa. Produk kopresipitasi kaolin dan amilum dengan penambahan aerosil sebesar 0,4% menghasilkan peningkatan tensile strength menjadi 2,11 ± 0,304 MPa. Produk kopresipitasi juga menunjukkan perbaikan laju alir dan kompresibilitas melalui rasio Hausner sebesar 11,79 ± 3,75; indeks kompresibilitas 1,13 ± 0,05; dan sudut istirahat 25 ± 1,00°. Hasil karakterisasi fisikokimia serbuk kopresipitasi menggunakan FTIR, DSC, dan XRD menunjukkan tidak terjadi perubahan struktur kimia pada produk hasil kopresipitasi. Namun demikian, pengamatan menggunakan mikroskop polarisasi dan SEM memperlihatkan adanya perubahan morfologi permukaan partikel yang menjadi lebih kasar dan tidak beraturan yang berpotensi meningkatkan interaksi antar partikel. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa modifikasi kaolin melalui kopresipitasi dengan amilum dan aerosil menghasilkan eksipien dengan sifat fisikomekanik yang lebih baik tanpa mengubah karakter kimianya sehingga mendukung penggunaannya untuk formulasi tablet kempa langsung.