📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenEFEK SINERGIS SISTEM IONIK MULTIKOMPONEN TERHADAP STABILITAS MIKROEMULSI SURFAKTAN ANIONIK DAN PENURUNAN TEGANGAN ANTARMUKA: IMPLIKASI TERHADAP PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK MENGGUNAKAN ALKALI–SURFAKTAN
Implementing Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) via alkaline-surfactant flooding requires understanding how brine ionic composition affects surfactant behavior. This study evaluated the effects of multicomponent ionic systems on microemulsion formation, phase behavior, and interfacial tension (IFT) reduction to develop an optimum formulation for oil recovery. The performance of Linear Alkylbenzene Sulfonate and Alpha Olefin Sulfonate (LAS:AOS 50:50) and Sulfonated di-Alkyl Ester (SAE-2) was evaluated through IFT measurements, aqueous stability, phase behavior, and spontaneous imbibition tests at 65°C. Results indicated that monovalent cations increased IFT relative to base brine, whereas 200 ppm Mg²? achieved the lowest screening IFT of 0.082 mN/m. Conversely, carbonate ions significantly increased IFT, particularly when combined with divalent cations, reaching 0.225 mN/m. All screening formulations exhibited Winsor Type II phase behavior. Formulation optimization revealed that surfactant selection and salinity were critical for achieving ultra-low IFT. The optimum formulation comprising 0.75 wt% SAE-2, 1.5 wt% Na?CO?, 20,000 ppm NaCl, and 2 wt% Ethylene Glycol Monobutyl Ether successfully achieved an ultra-low IFT of 0.00804 mN/m. In spontaneous imbibition tests, this SAE-2 formulation yielded an oil recovery factor of 44.74%, significantly outperforming the optimized LAS:AOS formulation (13.17%) and base brine (4.13%), demonstrating its superior potential for CEOR applications.
RANCANGAN MODEL PERAMALAN HARGA BERBASIS DEEP LEARNING DAN INTEGRASI KE KEBIJAKAN PENGADAAN ADAPTIF UNTUK BAHAN BAKU NATIVE TAPIOCA STARCH DI PT X
PT X menggunakan native tapioca starch sebagai bahan baku produksi kertas dan karton dengan kebutuhan sekitar 72.000 ton per tahun. Pengadaannya menghadapi volatilitas harga, pola pasokan musiman, lead time impor 20–30 hari, kapasitas gudang 4.000 ton, dan minimum order quantity 500 ton. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model peramalan harga mingguan berbasis deep learning dan mengintegrasikan hasilnya ke dalam kebijakan pengadaan adaptif berbasis EOQ per Rezim. Lima arsitektur deep learning, yaitu DNN, RNN, LSTM, GRU, dan Stacked LSTM, dievaluasi pada skenario univariat dan multivariat menggunakan 469 observasi mingguan periode 2016–2024. Data dibagi secara kronologis menjadi 85% data pelatihan dan 15% data pengujian. Model dievaluasi menggunakan MAE, RMSE, MAPE, dan R². Forecast dari model terbaik distandardisasi menjadi skorz, diklasifikasikan ke dalam rezim low, normal, dan high, kemudian digunakan untuk menentukan alokasi volume dan EOQ per Rezim. GRU univariat menghasilkan kinerja terbaik dengan MAE 6,196 USD/ton, RMSE 8,243 USD/ton, MAPE 1,198%, dan R² 0,9595. Evaluasi tahun 2025 menunjukkan korelasi forecast terhadap harga aktual sebesar 0,8628, sehingga forecast digunakan sebagai sinyal harga relatif. Dengan parameter ? = 0,5, EOQ per Rezim menghasilkan 19 order per tahun, harga beli rata-rata tertimbang 436,60 USD/ton, dan menurunkan ongkos total dari USD 35.003.265 menjadi USD 34.572.710. Potensi penghematan yang diperoleh adalah USD 430.555 per tahun atau 1,23%.
STUDI PARAMETRIK STABILITAS LERENG DENGAN VARIASI MUKA AIR TANAH DAN PERKUATAN LERENG MENGGUNAKAN PENDEKATAN PROBABILISTIK
Stabilitas lereng merupakan aspek penting dalam rekayasa geoteknik karena dipengaruhi oleh kondisi hidrologi, khususnya perubahan muka air tanah yang dapat meningkatkan tekanan air pori sehingga menurunkan kuat geser tanah dan kestabilan lereng. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi muka air tanah dan konfigurasi perkuatan terhadap stabilitas lereng menggunakan analisis transien dan pendekatan probabilistik. Studi kasus dilakukan pada Lereng No. 6 di kawasan Cisokan. Analisis rembesan transien dilakukan menggunakan SEEP/W untuk memperoleh distribusi tekanan air pori, yang kemudian digunakan sebagai masukan dalam analisis stabilitas lereng transien menggunakan SLOPE/W. Selanjutnya, analisis probabilistik dilakukan menggunakan SLIDE2 untuk mengevaluasi pengaruh ketidakpastian parameter tanah terhadap stabilitas lereng. Variasi yang dianalisis meliputi tiga kondisi muka air tanah, yaitu 7.6 m, 5.0 m, dan 1.2 m, serta tiga konfigurasi perkuatan, yaitu tanpa perkuatan, perkuatan satu baris, dan perkuatan dua baris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan muka air tanah menurunkan nilai Factor of Safety (FS) dan meningkatkan Probability of Failure (PoF), sedangkan penerapan perkuatan meningkatkan FS, menurunkan PoF, dan meningkatkan Reliability Index (RI). Konfigurasi perkuatan dua baris memberikan peningkatan stabilitas yang lebih baik dibandingkan perkuatan satu baris. Penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi analisis transien dan pendekatan probabilistik dapat memberikan evaluasi stabilitas lereng yang lebih komprehensif.
SIMULASI KINERJA SISI UDARA BANDARA I GUSTI NGURAH RAI BERBASIS PEMODELAN DISCRETE-EVENT SIMULATION
Bandara I Gusti Ngurah Rai merupakan salah satu bandara tersibuk di Indonesia. Namun, tingkat pemanfaatan sisi udaranya terhadap kapasitas maksimum belum diketahui secara pasti sehingga sulit menilai seberapa dekat sistem eksisting terhadap batas throughput maksimum sebelum kinerjanya menurun. Penelitian ini bertujuan membangun model simulasi operasi sisi udara dan mengestimasi throughput maksimumnya dengan mempertimbangkan interaksi antarfasilitas serta variabilitas operasional di lapangan. Pendekatan yang digunakan adalah Discrete-Event Simulation (DES) karena mampu memodelkan interaksi runway, taxiway, dan apron secara terintegrasi sekaligus merepresentasikan antrean dan variabilitas operasional. Model dikembangkan menggunakan perangkat lunak AnyLogic yang merepresentasikan seluruh rangkaian proses pesawat berdasarkan data observasi lapangan selama 17 jam operasi. Melalui analisis sensitivitas traffic, diperoleh estimasi throughput maksimum pada skenario komposisi pesawat eksisting (Mix Aircraft) sebesar 306 pesawat per 17 jam operasi tanpa latent demand. Analisis skenario komposisi pesawat menunjukkan variasi kapasitas yang signifikan, mulai dari 435 pesawat per 17 jam pada skenario armada seluruhnya propeller (All Propeller) hingga hanya 9 pesawat pada skenario armada seluruhnya super heavy (All Super Heavy). Temuan ini menunjukkan bahwa komposisi jenis pesawat berpengaruh signifikan terhadap throughput maksimum sisi udara, terutama melalui pengaruhnya pada kompatibilitas dan fleksibilitas penggunaan stand di apron.
TEORI KODING BERBASIS GRAF
Pada teori koding klasik, informasi kerap kali direpresentasikan dalam bentuk vektor. Namun representasi vektor tidak selalu optimal pada sistem yang kompleks, seperti sistem penyimpanan terdistribusi. Oleh karena itu, dilakukan representasi informasi dengan objek graf pada sistem tersebut karena mendekati representasi alaminya. Tugas akhir ini bertujuan untuk menganalisis hubungan sifat kode linear klasik dengan graf dan mengonstruksi kode atas graf yang optimal, seperti kode Maximum Distance Separable (MDS). Melalui metode tinjauan pustaka, tugas akhir ini membahas mengenai konsep dasar teori koding, representasi graf menggunakan matriks ketetanggaan, hingga kemampuan koreksi kode terhadap penghapusan simpul. Tugas akhir ini menunjukkan bahwa kode graf optimal dapat dikonstruksi melalui kode hasil-kali simetris. Untuk mendapatkan kode yang bersifat eksplisit kuat, kode graf dikonstruksi dengan Kode Hasil-Kali Simetris dengan Diagonal Nol (HKSDN) berbasis kode Reed-Solomon. Selain itu dilakukan konstruksi Kode Penyambungan Simetris yang mampu melewati batas jarak relatif ? > 1 2 dengan tetap mempertahankan laju konstan yang asimtotik bernilai positif.
EFFITON : PERANCANGAN SERTA IMPLEMENTASI PEMANTAUAN PERUBAHAN WARNA SAMPEL MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER & PERANCANGAN SERTA IMPLEMENTASI CASING
Pengukuran dan analisis yang akurat terhadap perubahan warna pada sampel merupakan persyaratan penting dalam pendeteksian degradasi warna yang digunakan untuk pengolahan air limbah. Spektrofotometri adalah metode analitis yang digunakan untuk mengukur absorbansi dan transmitansi cahaya oleh sampel berwarna. Makalah ini memaparkan desain dan implementasi salah satu subsistem dalam EFFiton: sebuah spektrofotometer portabel, ringkas, dan berbiaya rendah. Sistem ini dilengkapi dengan lampu halogen 6V, lensa cembung, kisi difraksi 600 garis/mm, dua cermin, dan sensor TSL1401CL. Pengambilan dan pemrosesan data dari sensor TSL1401CL dilakukan menggunakan mikrokontroler ESP32, dengan spektrum yang dihasilkan ditampilkan pada lapisan antarmuka EFFiton. Mengingat kebutuhan untuk mengembangkan perangkat yang mampu melakukan pengujian degradasi dengan berbagai prosedur dalam satu unit, makalah ini juga membahas implementasi casing untuk mengintegrasikan seluruh subsistem EFFiton ke dalam satu unit. Untuk itu, makalah ini juga membahas implementasi desain casing guna menghasilkan produk berkualitas tinggi.
ANALISIS KONEKTIVITAS DAN AKSESIBILITAS JALUR PEDESTRIAN BAGI PENYANDANG DISABILITAS (PENGGUNA ALAT BANTU JALAN) DI KAWASAN KAMPUS ITB GANESHA
Aksesibilitas jalur pedestrian di kawasan Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) Ganesha belum sepenuhnya menerus dan dapat diakses secara mandiri oleh penyandang disabilitas fisik pengguna alat bantu jalan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi konektivitas dan aksesibilitas jaringan jalur pedestrian eksisting serta merumuskan kebijakan perbaikannya. Metode campuran digunakan, memadukan analisis kuantitatif berbasis teori graph (indeks konektivitas alpha, beta, gama) dengan analisis kualitatif dari wawancara dan kuesioner terhadap civitas akademik ITB Tahun Ajaran 2025/2026. Kawasan kajian dibagi menjadi empat zona sebagai simpul jaringan, dianalisis pada kondisi pengguna nondisabilitas dan disabilitas. Hasil menunjukkan angka siklomatik negatif pada kedua kondisi, dengan indeks konektivitas kondisi disabilitas (alpha -0,636; beta 0; gama 0) jauh lebih rendah dibandingkan kondisi nondisabilitas (alpha -0,091; beta 0,75; gama 0,333), menandakan jaringan antarzona belum terhubung bagi pengguna alat bantu jalan. Aksesibilitas ruas eksisting secara keseluruhan hanya 52,679%, dengan faktor pengaruh utama berupa geometri ramp (62,264%), hambatan pada ruas (47,17%), dan lebar ruas (25,472%). Berdasarkan temuan ini, diusulkan kebijakan perbaikan berupa pembangunan jalur beratap baru, perbaikan hambatan dan geometri ramp, penambahan curb ramp, serta pengadaan rambu dan papan petunjuk untuk mendukung mobilitas mandiri penyandang disabilitas di kawasan kampus.
EVALUASI SISTEMATIS PENYESUAIAN SALINITAS DENGAN BANTUAN ALKALINE PADA SURFACTANT FLOODING BERBASIS ALKIL ESTER SULFONAT UNTUK MINYAK RINGAN LAPANGAN X: PERAN ALKALINE DALAM OPTIMASI PERILAKU FASA MIKROEMULSI DAN TEGANGAN ANTARMUKA
Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) is a promising tertiary recovery method for improving oil recovery from mature reservoirs. This study evaluated the effect of alkali type and concentration on the performance of a Polymeric Alkyl Ester Sulfonate (SAE–2) based alkaline-surfactant system for Field X, a light oil reservoir in East Kalimantan, Indonesia. A total of 22 formulations were prepared using NaOH, Na2CO3, and combined NaOH–Na2CO3 at concentrations ranging from 0.10 to 1.50 %wt, while maintaining constant SAE–2 at 0.50 %wt. Formulation performance was assessed through aqueous stability testing, phase behavior analysis, interfacial tension (IFT) measurements, and spontaneous imbibition experiments on Berea sandstone cores at reservoir temperature. The results demonstrated that alkali type had greater influence on formulation performance than concentration alone. NaOH formulations exhibited the broadest aqueous stability and achieved the highest recovery factor of 52.76% at 1.50 %wt of Na?CO? formulations demonstrated systematic phase behavior progression and generated multiple Winsor Type III microemulsion windows. The formulation containing 1.50 %wt Na2CO3 and 0.50 %wt SAE–2 produced the lowest IFT of 4.101 × 10?3 mN/m and achieved a recovery factor of 46.90%. The combined NaOH– Na2CO3 system showed poor stability and unfavorable phase behavior. Based on comprehensive evaluation, 1.50 %wt NaOH and 0.50 %wt SAE–2 was identified as the optimum formulation for Field X.
STUDI SENSITIVITAS PENGARUH VARIASI PARAMETER OPERASI TERHADAP KINERJA REAKSI KALSINASI-KARBONASI PADA PROSES CALCIUM LOOPING
Teknologi calcium looping merupakan salah satu metode penangkapan CO2 yang menjanjikan bagi industri semen, namun kinerja sorben CaO sangat dipengaruhi oleh kondisi operasi yang masih menunjukkan inkonsistensi dalam berbagai penelitian terdahulu. Belum terdapat data yang secara sistematis memetakan sensitivitas relatif antara parameter hidrodinamika dan kinetika makro dalam satu rangkaian eksperimen. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi kecepatan fluidisasi dan waktu tahan karbonasi terhadap konversi reaksi serta menentukan parameter operasi yang paling dominan dan kombinasi kondisi optimalnya. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan reaktor unggun terfluidisasi pada enam sumber batu kapur Indonesia dengan variasi kecepatan fluidisasi (1, 2, dan 3 kecepatan minimum) dan waktu tahan karbonasi (1, 3, dan 5 menit). Konversi massa dihitung secara gravimetri, sensitivitas dikuantifikasi melalui indeks ternormalisasi, dan validasi dilakukan melalui karakterisasi difraksi sinar-X, mikroskopi elektron, dan spektroskopi dispersi energi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan kecepatan meningkatkan konversi kalsinasi rata-rata dari 42,06% menjadi 73,62% dan konversi karbonasi dari 22,54% menjadi 40,35%. Kecepatan terbukti hampir lima kali lebih dominan daripada waktu tahan, dengan kondisi optimal pada kecepatan tertinggi dan waktu tahan terpendek. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa data kuantitatif pertama mengenai sensitivitas relatif parameter operasi pada material lokal.
SIMULASI RESERVOIR DAN EVALUASI TEKNO-EKONOMI SISTEM ENHANCED GEOTHERMAL BERBASIS CO2 UNTUK APLIKASI CCUS
As the global population continues to increase, the demand for sustainable and reliable energy sources has become increasingly critical. Alongside rising energy demand, concerns regarding the environmental impact of energy production have also intensified. Enhanced Geothermal Systems (EGS) utilizing supercritical CO? as the working fluid, commonly referred to as CO?-based EGS, have been proposed as a promising approach to enhance geothermal energy production while simultaneously reducing carbon emissions. This study investigates the long-term production behavior of a CO?-based EGS using reservoir characteristics from the Qiabuqia geothermal field. A numerical simulation model was developed for a system consisting of two production wells and one injection well connected through hydraulic fractures. The analysis focuses on the sustainability of heat extraction and the evolution of reservoir thermal performance over time. In addition, a flow assurance study was conducted to investigate corrosion and other aspects of pipeline flow problems. An economic feasibility study was also conducted to assess the commercial viability of the geothermal project. The results indicate that the proposed CO?-based EGS system is capable of sustaining long-term operation over a 30-year project lifetime, demonstrating its potential as a reliable geothermal energy system integrated with carbon sequestration. Higher CO? circulation rates improve both energy generation and CO? storage performance, with the 80 kg/s circulation rate achieving the highest production of 534.21 GWh? of electricity and 2,982.46 GWh?? of thermal energy during 30 years of operation. The flow assurance analysis result indicates extreme corrosion, reaching up to 22.7 mm/year of corrosion rate during the project’s mid-life. Under the carbon credit economic condition, the highest obtained NPV is 2.77 MMUSD at a CO? circulation rate of 80 kg/s. Meanwhile, the carbon credit with favorable market conditions scenario results in substantially improved economic performance, with the highest NPV reaching 16.16 MMUSD at the same circulation rate. In contrast, the no carbon credit scenario yields negative NPVs for all evaluated circulation rates. Overall, the findings demonstrate the potential of CO?-based EGS as a sustainable geothermal technology capable of simultaneously supporting renewable energy generation and long-term CO? storage in fractured reservoir systems.
ANALISIS SENSITIVITAS GEOMETRI DAN LUAS POLA SUMUR TERHADAP KINERJA INJEKSI KIMIA PADA RESERVOIR KONSEPTUAL BERTIPE CHANNEL FINING-UPWARD
This study evaluates the performance of surfactant, polymer, and alkaline-surfactant-polymer (ASP) flooding in a conceptual channel fining-upward sandstone reservoir. The objectives are to identify the scenario with the highest recovery factor and the scenario with the best economic performance under consistent reservoir, operating, chemical, well-pattern, and screening-level economic assumptions. The study focuses on pattern geometry and pattern area as the main development variables, while maintaining a common chemical-slug design to support fair scenario comparison. A three-dimensional conceptual reservoir model was built with vertical permeability contrast to represent a channel fining-upward system. The waterflood base case was simulated from 2000 to 2020 and used as the reference case. CEOR scenarios applied water injection from 2000 to 2010, followed by a 0.3 porevolume- injected chemical slug and chase water until 2020. The scenario matrix included inverted five-spot and inverted nine-spot patterns at 96-acre, 24-acre, and 6-acre pattern areas. Performance was evaluated using recovery factor, incremental oil, pressure response, voidage replacement ratio, oil saturation distribution, and screening-level economic indicators. The waterflood base case reached 17.81% recovery factor and 1.48 MMbbl cumulative oil production. The highest technical recovery was obtained from Scenario 5-ASP, a 6-acre inverted five-spot ASP case, with 76.50% final recovery factor, 58.69% incremental recovery factor, and 4.88 MMbbl incremental oil. However, the highest recovery case was not the best economic case. Scenario 3-ASP, a 24-acre inverted five-spot ASP case, gave the highest NPV10 of 59.13 MMUSD and IRR of 62.80%. These results show that CEOR scenario selection should balance recovery improvement with development cost, well count, liquid-handling requirement, chemical cost, and the practical development intensity required to deliver the recovery target. Therefore, the preferred scenario should be selected from an integrated technical-economic ranking rather than recovery factor alone.
IDENTIFIKASI MODEL PENGUJIAN SUMUR DAN ESTIMASI PARAMETER OTOMATIS MENGGUNAKAN SIAMESE NEURAL NETWORK DENGAN TRIPLET LOSS
In conventional Pressure Transient Analysis (PTA), engineers must visually identify the correct well test model from a log-log plot and then perform iterative regression matching to estimate the reservoir parameters. This process is time-consuming and dependent on the engineer's experience. Previous studies have applied a Convolutional Neural Network (CNN) to automate the model identification step, but the parameter estimation still has to be done manually from scratch. To address this gap, a deep metric learning approach is proposed. A large synthetic dataset consisting of log-log diagnostic plots is generated using analytical Laplace-domain solutions combined with Stehfest numerical inversion, covering four scenario classes: Homogeneous Infinite, Homogeneous One Fault, Dual Porosity Infinite, and Dual Porosity One Fault. The parameters are sampled using a Design of Experiments (DoE) methodology to ensure uniform coverage across the parameter space. A Siamese Neural Network (SNN) is trained to project these plots into a 128-dimensional embedding space where visually similar curves are placed close together. A k-Nearest Neighbors (k-NN) algorithm then retrieves the most similar curves from a reference database to simultaneously predict the scenario class and estimate the parameters through neighbor averaging. The model achieves a classification F1-Score of 0.986 on the test dataset. Parameter estimation accuracy is evaluated using Normalized Absolute Error (NAE), with the model showing generally low errors for permeability, skin factor, and wellbore storage. Higher deviations are observed for boundary distance and storativity ratio, which is consistent with the known non-uniqueness problem in well testing where certain parameter combinations produce visually identical curves. A test case validation confirms the model's applicability, with estimation errors consistently below 2% for permeability, below 4% for skin factor, and below 6% for wellbore storage across all four test cases. The proposed system serves as an initial guessing tool to provide engineers with informed starting values, which can be refined through analytical matching in commercial software.
PERANCANGAN KOMIK DIGITAL TENTANG BAHAYA MITOS HANTU INDONESIA UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN REMAJA TERHADAP KEPERCAYAAN TIDAK LOGIS
Mitos hantu merupakan bagian dari budaya lisan Indonesia yang diwariskan secara turun-temurun. Meskipun memiliki nilai budaya, berbagai mitos tersebut sering kali dipahami sebagai kebenaran mutlak sehingga memunculkan ketakutan, prasangka, dan perilaku yang tidak didasarkan pada pemikiran logis, terutama pada kalangan remaja. Di sisi lain, remaja merupakan kelompok usia yang aktif mengakses media digital sehingga membutuhkan media edukasi yang menarik dan sesuai dengan kebiasaan mereka. Penelitian ini bertujuan merancang sebuah komik digital yang mengangkat fenomena mitos hantu Indonesia sebagai media edukasi untuk meningkatkan kesadaran remaja terhadap pentingnya berpikir kritis dan rasional. Metode penelitian yang digunakan meliputi studi literatur, observasi, penyebaran kuesioner kepada remaja, serta analisis data untuk menentukan kebutuhan pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden telah mengenal mitos hantu Indonesia melalui keluarga, media sosial, dan film, serta menunjukkan ketertarikan terhadap media visual yang dikemas secara menarik. Berdasarkan temuan tersebut, dirancang komik digital dengan alur cerita yang menggabungkan unsur horor, drama, dan edukasi, disertai visual bergaya kartun berwarna yang dekat dengan preferensi target audiens. Diharapkan perancangan ini dapat menjadi media pembelajaran alternatif yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendorong remaja untuk memahami mitos secara lebih kritis tanpa mengabaikan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
PERANCANGAN FILM ANIMASI 3D MULTI-PANEL IMERSIF DALAM MENYAMPAIKAN MISPERSEPSI KELUARGA KEPADA USIA REMAJA HINGGA DEWASA MUDA
Miskomunikasi dalam keluarga merupakan permasalahan yang dapat memengaruhi hubungan emosional serta menghambat terbentuknya pemahaman antaranggota keluarga. Perbedaan pengalaman hidup, latar belakang emosional, dan gaya komunikasi, terutama antara figur pengasuh dan anggota keluarga yang lebih muda, sering kali memicu kesenjangan pemahaman yang berdampak pada dinamika keluarga secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang media storytelling dengan penyajian imersif melalui projection mapping pada tiga panel sebagai sarana reflektif dalam menyampaikan nilai-nilai keluarga (family values), khususnya empati, komunikasi, kasih sayang, dan pengorbanan. Metode perancangan dilakukan melalui kajian literatur, wawancara mendalam dengan narasumber, serta analisis dinamika komunikasi keluarga. Data tersebut digunakan untuk mengidentifikasi pola komunikasi, bentuk miskomunikasi, serta nilai-nilai keluarga yang menjadi landasan dalam pengembangan narasi. Proses perancangan mengikuti pendekatan design thinking untuk mengembangkan konsep visual dan storytelling yang relevan dengan isu yang diangkat. Hasil perancangan berupa film pendek animasi 3D yang disajikan menggunakan sistem projection mapping pada tiga panel sehingga menciptakan pengalaman visual yang lebih imersif melalui perpaduan narasi, visual, dan tata suara. Berdasarkan evaluasi terhadap audiens, pendekatan tersebut membantu menyampaikan konflik keluarga melalui sudut pandang setiap karakter tanpa menempatkan salah satunya sebagai pihak yang sepenuhnya benar atau salah, sekaligus mendorong pengalaman menonton yang lebih reflektif. Perancangan ini menunjukkan bahwa storytelling animasi 3D imersif dapat menjadi alternatif media komunikasi visual dalam menyampaikan nilai-nilai keluarga melalui pengalaman emosional yang mendukung refleksi audiens.
COMPARATIVE STUDY OF PASSENGER SAFETY BETWEEN CABLE BARRIERS AND W-BEAM GURDRAILS DURING CAR CRASHES
Pemilihan pembatas jalan raya di Indonesia saat ini masih didasarkan pada bukti komparatif yang terbatas, meskipun pembatas kabel, pagar pengaman W-beam, dan pembatas beton semuanya diakui dalam peraturan lalu lintas jalan nasional. Penelitian ini mengatasi kesenjangan tersebut dengan membuat dan membandingkan model tabrakan elemen hingga dari pembatas kabel dan pagar pengaman balok-W, yang masing-masing ditabrak oleh mobil sedan Toyota Camry model 2012 dalam kondisi uji TB32 yang ditentukan dalam EN 1317 (110 km/jam, 20°, 1.500 kg). Kedua simulasi dijalankan di Ansys LS-DYNA dan validitasnya diverifikasi melalui perilaku keseimbangan energi serta waktu intrusi sebelum hasilnya dapat diandalkan. Data percepatan dari setiap uji coba disaring — menggunakan filter Butterworth empat kutub tanpa fase berfrekuensi 13 Hz untuk Indeks Keparahan Percepatan (ASI), dan filter CFC60 untuk saluran kecepatan — serta digunakan untuk menghitung probabilitas cedera penumpang berdasarkan model korelasi Meng dan Untaroiu (2020). Penghalang kabel menghasilkan ASI sebesar 4,328, yang berarti probabilitas cedera AIS3+ berkisar antara 0,066 (paha) hingga 0,999 (dada). Pagar pengaman W-beam menunjukkan kinerja yang jauh lebih buruk dalam hal ini, dengan ASI mencapai 45,684 dan secara efektif probabilitas 1 di setiap bagian tubuh yang dievaluasi. Menariknya, pagar pengaman tersebut lebih efektif dalam meredam energi kinetik kendaraan: dalam waktu 79 ms, kecepatan mobil telah berkurang menjadi 27,288 m/s dan energinya menjadi 424,6 kJ, dibandingkan dengan 29,031 m/s dan 482,8 kJ untuk penghalang kabel. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun pagar pengaman tipe W-beam lebih kaku dan mampu menyerap lebih banyak energi dari benturan, kekakuan yang sama justru menimbulkan beban deselerasi yang jauh lebih berat bagi penumpang — sehingga pagar kabel menjadi pilihan yang lebih aman di antara keduanya dalam skenario tabrakan spesifik ini. Temuan-temuan ini dimaksudkan untuk mendukung pembahasan kebijakan di masa mendatang mengenai standar pagar pengaman untuk jalan tol di Indonesia.