π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPEMODELAN LAND USE LAND COVER (LULC) DAN SIMPANAN KARBON BERBASIS SKENARIO PROTECTED AREA PROTECTION DAN PEATLAND PROTECTION DI PROVINSI RIAU PERIODE 1990β2040
Provinsi Riau merupakan salah satu wilayah paling terdampak akibat konversi hutan secara masif di Indonesia, dengan kehilangan hutan mencapai 4,63 juta ha periode 1990β2020, di mana seluas 2,18 juta ha terjadi pada lahan gambut yang memicu peningkatan emisi karbon secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis deforestasi, mengestimasi simpanan karbon dan carbon loss, serta memodelkan perubahan LULC pada tahun 2030 dan 2040 di Provinsi Riau. Estimasi simpanan karbon dilakukan menggunakan metode lookup table berbasis kombinasi NDVI dan peta tutupan lahan, sementara pemodelan LULC dilakukan secara spasial-temporal melalui modul Land Change Modeler (LCM) pada perangkat lunak TerrSet dengan metode CA-Markov. Pemodelan dikembangkan berdasarkan 4 skenario kebijakan, yaitu Business as Usual (BAU), Protected Area Protection (PAP), Peatland Protection (PP), dan Protected Area and Peatland Protection (PAPP). Sebanyak 10 faktor pendorong mencakup aspek biofisik, aksesibilitas, dan sosial digunakan sebagai input pemodelan setelah melalui uji Pearson. Validasi model dilakukan dengan membandingkan antara aktual dan hasil proyeksi tahun 2020 menggunakan uji Kappa yang menghasilkan nilai sebesar 0,66 (kuat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa deforestasi di Provinsi Riau periode 1990β2020 didominasi oleh konversi hutan alam menjadi perkebunan sebesar 2,58 juta hektar, sehingga luas hutan alam tersisa pada tahun 2020 hanya 1,57 juta ha. Kondisi ini menyebabkan penurunan simpanan karbon dari 1,13 Gt C pada tahun 1990 menjadi 0,66 Gt C pada tahun 2020, dengan total carbon loss sebesar 0,51 Gt C setara 1,86 Gt CO2e. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa skenario BAU memproyeksikan penurunan hutan alam menjadi 0,88 juta ha pada tahun 2040 dengan simpanan karbon 0,571 Gt C dan total emisi 271,6 Mt CO2e. Skenario PAP mampu mempertahankan hutan alam seluas 1,03 juta ha dengan simpanan karbon 0,593 Gt C dan total emisi 186,5 Mt CO2e, sedangkan skenario PP mempertahankan hutan alam seluas 1,33 juta ha dengan simpanan karbon 0,611 Gt C dan total emisi 196,2 Mt CO2e pada tahun 2040. Skenario PAPP memberikan hasil terbaik dengan mempertahankan luas hutan alam tertinggi sebesar 1,38 juta ha dan simpanan karbon sebesar 0,637 Gt C dengan total emisi terendah sebesar 169,2 Mt CO2e pada tahun 2040. Penelitian ini menyimpulkan bahwa skenario PAPP merupakan kebijakan yang paling efektif dalam menekan deforestasi dan carbon loss, sekaligus paling selaras dengan target FOLU Net Sink 2030, sehingga diharapkan dapat menjadi rujukan ilmiah bagi pengambil kebijakan dalam upaya mitigasi perubahan iklim di tingkat regional maupun nasional.
EVALUASI BERBASIS REGIME VOLATILITAS PADA MODEL PERAMALAN HARGA SAHAM LSTM, QUANTUM NEURAL NETWORK, DAN GEOMETRIC BROWNIAN MOTION
Peramalan harga saham merupakan tantangan dalam analisis keuangan kuantitatif akibat sifat deret waktu finansial yang nonlinear, tidak stasioner, dan rentan terhadap pergeseran rezim volatilitas. Studi komparatif yang ada umumnya mengandalkan metrik agregat yang tidak mengungkap perbedaan performa antar kondisi pasar. Penelitian ini membandingkan Quantum Neural Network (QNN), Long Short-Term Memory (LSTM), dan Geometric Brownian Motion (GBM) dalam meramalkan harga saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTAM) menggunakan kerangka evaluasi berbasis segmentasi rezim volatilitas. Data harga penutupan harian ANTAM tahun 2020β2024 digunakan sebagai data latih, dengan tahun 2025 dan 2026 sebagai data uji. Rezim pasar ditentukan dari volatilitas bergulir 20 hari menggunakan ambang batas persentil ke-33 dan ke-66, menghasilkan tiga kelas: Low, Medium, dan High Volatility. Secara global, LSTM mencapai MAPE terbaik (3,12%, R 2 = 0,9638), sementara QNN unggul di rezim Low Volatility (MAPE 1,14%) dan GBM menjadi model paling tidak bias (mean residual +0,26 Rp). Ketiga model menunjukkan residual leptokurtik (kurtosis ekses 15,98β17,34) dengan heteroskedastisitas kondisional antar rezim. Pengujian pada data 2026 mengungkap disosiasi diagnostik: MAPE tetap stabil (3,23β3,49%) sementara R 2 kolaps ke 0,55β0,65, sebagai sinyal concept drift dan pergeseran rezim struktural. Penelitian ini menegaskan bahwa evaluasi berbasis rezim volatilitas memberikan kerangka komparatif yang lebih informatif dan landasan empiris bagi pengembangan seleksi model adaptif berbasis kondisi pasar.
INKLUSIVITAS RUANG PUBLIK KAWASAN KOTATUA JAKARTA DAN ADAPTASI MASYARAKAT MISKIN DALAM PEMBENTUKAN RUANG KOMUNAL DI PERMUKIMAN SEKITARNYA
Revitalisasi kawasan Kotatua Jakarta sejak diberlakukannya Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 36 Tahun 2014 telah meningkatkan kualitas fisik ruang publik di zona inti melalui penataan pedestrian, pengendalian aktivitas informal, serta penguatan citra kawasan sebagai destinasi pariwisata heritage. Namun, orientasi revitalisasi tersebut berpotensi menghasilkan inklusivitas yang terbatas bagi masyarakat miskin di sekitarnya. Kelompok ini secara geografis berada paling dekat dengan kawasan yang direvitalisasi, tetapi kurang memperoleh manfaat yang setara dalam pemanfaatan ruang publik. Penelitian ini menggunakan metode campuran dengan desain konvergen melalui wawancara mendalam terhadap warga di Kelurahan Pinangsia dan Kelurahan Ancol, observasi lapangan, dan kuesioner persepsi pengguna ruang publik di Taman Fatahillah dan koridor pedestrian Kali Krukut-Kali Besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat miskin memaknai ruang publik kawasan Kotatua sebagai ruang ekonomi dengan akses bersyarat dan berisiko, ruang sosial yang kurang berfungsi, serta ruang yang terasa asing. Kehadiran mereka di kawasan inti bersifat temporer dengan strategi adaptasi berupa pengaturan waktu, perpindahan lokasi, pembayaran pungutan tidak resmi, dan pemanfaatan jaringan informal. Sebagai respons, masyarakat mengembangkan ruang komunal di permukiman melalui pemanfaatan gang, teras, fasilitas bersama, dan ruang terbuka yang fleksibel. Pengukuran inklusivitas ruang publik formal menghasilkan indeks sebesar 70,10. Nilai ini termasuk dalam kategori tinggi, tetapi lebih merepresentasikan pengalaman pengguna umum kawasan wisata dibandingkan masyarakat miskin sekitarnya. Interaksi antara ruang komunal permukiman dan ruang publik formal membentuk pola relasi adaptif yang terdiri dari relasi substitutif, komplementer, negosiasi taktis, dan paralel. Temuan penelitian menegaskan bahwa peningkatan kualitas fisik ruang publik tidak selalu menghasilkan inklusivitas sosial. Oleh karena itu diperlukan pengakuan hak masyarakat miskin untuk mengakses dan memaknai ruang kota secara adil, serta keterlibatannya dalam penataan ruang publik yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
DETEKSI KAWASAN PERKOTAAN DENGAN DATA CITRA SATELIT MALAM DMSP - OLS( STUDI KASUS : PULAU JAWA DAN BALI )
Satu-satunya sensor satelit yang ada saat ini untuk mengumpulkan data citra low-light global yang cocok untuk pemetaan cahaya kota adalah US Air Force Defense Meteorological Satellite Program (DMSP) Operational Linescan System (OLS). Berkembangnya teknologi penginderaan jauh seperti adanya satelit malam DMSP-OLS yang unik dalam mencitrakan suatu kawasan pada malam hari berdasarkan cahaya/lampu malam, membuat produksi peta kawasan kota dapat menjadi lebih mudah dan cepat. Citra yang dihasilkan oleh satelit malam juga lengkap, akurat, dapat digunakan secara langsung, serta ekonomis. Untuk mengolah data citra satelit malam dan menjadikannya sebagai peta klasifikasi kawasan kota dalam wilayah studi Pulau Jawa dan Bali ini, Penulis menggunakan metode klasifikasi terbimbing (supervised classification) dan density slicing. Data citra satelit DMSP-OLS dapat mendeteksi kawasan perkotaan di Pulau Jawa dan Bali.
KUANTIFIKASI BIOMASSA BENIH KELAPA SAWIT (ELAEIS GUINEENSIS JACQ. VAR. DXP SIMALUNGUN) PADA BERBAGAI KOMBINASI KONSENTRASI BIOSTIMULAN EKSTRAK RUMPUT LAUT DAN DOSIS PUPUK ANORGANIK
Produksi minyak kelapa sawit di Indonesia tahun 2024 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2023. Pada tahun 2024 produksi minyak kelapa sawit hanya sebesar 45,44 juta ton, penurunan produktivitas tersebut menegaskan pentingnya penggunaan bahan alami untuk mendorong pertumbuhan kelapa sawit dalam rangka efisiensi penggunaan pupuk sintetik. Biostimulan ekstrak rumput laut (Gracilaria sp.) dinilai berpotensi mengurangi penggunaan pupuk sintetik sekaligus meningkatkan kualitas benih kelapa sawit, melalui perannya dalam meningkatkan nutrisi, ketahanan stres abiotik, dan kualitas tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan pengaruh kombinasi konsentrasi biostimulan dan dosis pupuk anorganik terhadap pertumbuhan tanaman, hasil biomassa tanaman, kadar klorofil daun, kadar nitrogen daun, perkembangan sistem perakaran dan shoot root ratio index tanaman kelapa sawit, serta menentukan neraca massa dan energi sistem budidaya benih kelapa sawit. Pada penelitian ini dilaksanakan di Shading nursery dan Laboratorium Teknik 1A ITB Jatinangor pada bulan Oktober 2025-Januari 2026 dengan menggunakan metode eksperimen Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan kombinasi 12 perlakuan dan 3 ulangan (n = 360 tanaman). Media tanam yang digunakan pada penelitian ini adalah pupuk kandang kambing dan tanah top soil dengan perbandingan volume (1:1). Pada penelitian ini perlakuan yang diberikan terdiri dari 4 taraf konsentrasi biostimulan ekstrak rumput laut (Gracilaria sp.) (0 mL/L, 5 mL/L, 10mL/L, dan 15 mL/L) dan 3 taraf dosis pupuk majemuk anorganik (25%, 50% dan 100%). Analisis statistika yang digunakan adalah One-Way ANOVA (? = 0,05) dan uji lanjut yang digunakan adalah Tukey-HSD pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan yang diberikan berpengaruh nyata terhadap parameter lebar daun tanaman (10 MST), panjang akar tanaman (12 MST), kadar nitrogen daun tanaman (12 MST), dan bobot segar tanaman (12 MST), dengan hasil terbaik diperoleh pada kombinasi konsentrasi biostimulan 15 mL/L & dosis pupuk anorganik 50% pada perlakuan 11 (P11) terhadap parameter lebar daun 10 MST sebesar 3,43 cm, bobot segar total tanaman 12 MST sebesar 3,88 gram, dan pertumbuhan akar tanaman 12 MST sebesar 18,66 cm. Pada perlakuan 1 (P1) dengan variasi konsentrasi biostimulan 0 mL/L & dosis pupuk anorganik 100% memberikan hasil terbaik terhadap parameter kadar nitrogen daun tanaman 12 MST sebesar 6,04%. Kombinasi konsentrasi biostimulan dan dosis pupuk anorganik yang diberikan tidak berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, kadar klorofil daun, dan bobot kering tanaman hingga 12 MST pertumbuhan tanaman kelapa sawit. Shoot-root ratio index tanaman kelapa sawit mengindikasikan dominansi tajuk dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman kelapa sawit. Penelitian produksi biomassa ini membagi sistem menjadi 3 unit neraca massa dan energi, yaitu unit produksi biostimulan, unit persiapan media tanam, dan unit budidaya benih kelapa sawit. Neraca massa total pada unit produksi biostimulan sebesar 10,00 kg/batch produksi dan neraca energi total sebesar 27,43 kJ/batch produksi. Neraca massa total pada unit persiapan media tanam sebesar 540,00 kg/kg seluruh media tanam dan neraca energi total sebesar 431,24 kJ/kg seluruh media tanam. Neraca massa total pada unit budidaya benih kelapa sawit 578,57 kg/siklus budidaya benih kelapa sawit dan neraca energi total sebesar 907,34 kJ/siklus budidaya benih kelapa sawit.
OPTIMASI PEMANFAATAN PRODUK SAMPING GAS HIDROGEN DARI PROSES ELEKTROLISIS CHLOR ALKALI PLANT DAN CHLORINE DIOXIDE PLANT DAN KAJIAN SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN HIDROGEN PEROKSIDA PADA PT X
Proses pembuatan BCTMP membutuhkan bahan kimia berupa hidrogen peroksida. Pabrik hidrogen peroksida pada PT X menggunakan bahan baku berupa gas hidrogen yang didapatkan dari steam methane reforming plant yang membutuhkan bahan baku berupa methane yang harganya relatif mahal dan menghasilkan emisi berupa gas karbon dioksida. PT X memiliki sumber gas hidrogen lainnya yang belum termanfaatkan sempurna dan sebagian hanya dibuang ke atmosfir. Sumber lain gas hidrogen pada PT X didapatkan dari hasil samping pabrik chlor alkali plant dan pabrik chlorine dioxide plant. Gas hidrogen hasil produk samping dari pabrik chlor alkali plant dan chlorine dioxide plant masih memiliki kandungan pengotor seperti NaOH dan Cl2 yang dapat merusak katalis palladium pada pabrik hidrogen peroksida sehingga diperlukan pemurnian lebih lanjut menggunakan teknologi yang sudah ada. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan kemungkinan terbaik pemanfaatan gas hidrogen produk samping dari pabrik chlor alkali plant dan chlorine dioxide plant sebagai bahan baku pembuatan hidrogen peroksida melalui proses pemurnian dan jalur pemanfaatan yang efektif. Metodologi penelitian ini meliputi studi literatur dari jurnal, pemanfaatan data operasional lapangan, analisa aktual kandungan gas hidrogen dari chlor alkali plant dan chlorine dioxide plant menggunakan gas chromatography, titrasi dan gas detector kemudian dilanjutkan dengan melakukan simulasi menggunakan microsoft excel pada setiap kemungkinan skema pemanfaatan gas hidrogen produk samping pabrik chlor alkali plant dan chlorine dioxide plant untuk mendapatkan hasil kemurnian gas hidrogen setelah proses pemurnian serta mendapatkan nilai total gas hidrogen yang dapat dimanfaatkan pada masing masing skema. Pada penelitian ini akan dilakukan analisa kelayakan aspek ekonomi, aspek lingkungan dan aspek operasional terhadap setiap skema pemanfaatan gas hidrogen untuk menemukan skema terbaik. Analisis ekonomi dilakukan dengan melihat nilai biaya operasional pada setiap skema, analisa sensitivitas setiap skema terhadap perubahan harga natural gas dan perhitungan serta perbandingan nilai Return on Investment (ROI), Payback Period (PBP), Net Profit Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR) untuk mengkaji kelayakan finansial dari masing masing skema pemanfaatan gas hidrogen. Analisa aspek lingkungan dilakukan untuk melihat pengurangan jumlah emisi CO2 dan H2 yang didapatkan pada masing masing skema pemanfaatan produk samping gas hidrogen akibat dari pengurangan pemakaian natural gas dan pemanfaatan gas hidrogen yang sebelumnya terbuang ke atmosfir. Analisa operasional juga dilakukan dengan melihat efek setiap skema terhadap produksi dan penggunaan bahan kimia pada existing plant serta membandingankan total resiko setiap skema melalui analisa resiko menggunakan matriks resiko pada PT X. Pengambilan kesimpulan skema terbaik dilakukan dengan menggunakan metode pembobotan pada setiap skema terhadap aspek ekonomi, aspek lingkungan dan aspek operasional dengan bobot 40%, 30% dan 30 % berdasarkan literatur untuk mendapatkan standar skema yang layak secara finansial, aman bagi lingkungan dan layak untuk dioperasikan. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan bahwa skema nomor 4 adalah skema terbaik pemanfaatan produk samping gas hidrogen baik dari chlor alkali plant maupun chlorine dioxide plant pada PT X di mana gas hidrogen dapat digunakan secara optimal sebagai bahan baku pembuatan hidrogen peroksida dan mendapat nilai tambah dari penambahan produksi HCl dan pengurangan konsumsi internal bahan kimia NaOH sebagai bahan penyerap gas Cl2 pada gas hidrogen yang akan di buang ke atmosfir pada chlorine dioxide plant. Skema 4 mendapatkan Nilai ROI 31,83 %, IRR 31,3 %, PBP 3,14 tahun jika dianggap gas hidrogen adalah produk samping sementara untuk gas hidrogen sebagai produk utama didapatkan nilai ROI 23,24 % IRR 22,07 %, PBP 4,3 tahun serta pengurangan GWP100 sebanyak 57,14 ton CO2e per hari.
PENINGKATAN KINERJA TERMOELEKTRIK MELALUI MODIFIKASI STRUKTUR LOKAL PADA SENYAWA BERLAPIS BERBASIS BISMUT
Sebagai salah satu teknologi konversi energi yang menjanjikan, perangkat termoelektrik (TE) semakin mendapat perhatian luas karena kemampuannya dalam mengkonversi langsung energi panas menjadi energi listrik. Perangkat TE terdiri atas konfigurasi material semikonduktor tipe-n dan tipe-p yang disusun secara seri untuk mengalirkan aliran arus listrik, serta secara paralel untuk mengalirkan panas. Perangkat TE memerlukan nilai zT ? 1 supaya dapat bekerja dengan baik. Namun demikian, pengembangan perangkat TE masih menghadapi sejumlah tantangan teknis, antara lain oksidasi pada suhu tinggi, perubahan fasa, serta kesulitan dalam memperoleh pasangan material tipe-n dan tipe-p dari basis material yang sama. Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, material termoelektrik yang digunakan harus memenuhi sejumlah kriteria, termasuk kestabilan fasa yang tinggi, memiliki konduktivitas termal yang rendah, serta kemampuan untuk mengoptimalkan keseimbangan antara konduktivitas listrik dan koefisien Seebeck melalui optimasi konsentrasi pembawa muatan. Di antara material termoelektrik yang mempunyai sifat tersebut, material termoelektrik berstruktur lapisan memberikan performa yang baik karena keunikan sifat stukturnya. Perbedaan ikatan kimia di dalam lapisan dan antar lapisan menghasilkan anisotropi sifat struktur, transpor elektronik dan termal, sehingga memberikan peluang untuk memisahkan parameter termoelektrik yang saling terikat. Pada disertasi ini, peningkatan performa material termoelektrik berstruktur lapisan bismut dilakukan dengan memodifikasi struktur lokal pada lapisannya melalui pembentukan cacat kristal berupa doping, kekosongan atom, cacat titik, dislokasi dan nanoinklusi. Material pertama yang dikaji adalah material tipe-n Bi2Te3. Modifikasi struktur lokal dilakukan dengan menambahkan nanopartikel SnO2 dengan konsentrasi x = 0, 2, 3, 4, 6, dan 8 wt% pada matriks Bi2Te3. Hasilnya menunjukan bahwa nanopartikel SnO2 mengubah struktur lokal berupa panjang ikatan Bi β Te, sudut ikatan Te β Bi β Te, dan lebar celah van der Waals yang berdampak pada kinerja termoelektriknya. Hasil pengukuran transpor menunjukan penurunan konduktivitas listrik dan peningkatan koefisien Seebeck terhadap kenaikan konsentrasi x. Peningkatan koefisien Seebeck disebabkan oleh efek pemilihan level energi (energy filtering effect) oleh nanopartikel SnO2 yang meneruskan pembawa muatan berenergi tinggi dan menghamburkan pembawa muatan berenergi rendah. Pembawa muatan berenergi tinggi inilah yang berkontribusi dalam meningkatkan koefisien Seebeck. Selain itu, penambahan nanopartikel SnO2 juga berpengaruh terhadap konduktivitas termal. Konduktivitas termal menurun seiring dengan penambahan konsentrasi x. Penurunan nilai konduktivitastermal disebabkan oleh hamburan fonon dari nanoinklusi SnO2 dalam matriks. Selain itu, perbedaan frekuensi getaran kisi pada nanopartikel SnO2 dan matriks Bi2Te3 menyebabkan peningkatan hamburan fonon yang menurunkan konduktivitas termal kisi. Berdasarkan mekanisme efek pemilihan level energi dan hamburan fonon, nilai zT maksimum diperoleh pada sampel Bi2Te3 dengan SnO2 2 wt% sebesar ~1,1 pada suhu 473 K. Modifikasi struktur lokal yang kedua dilakukan di dalam lapisan oksida pada material tipe-n Bi2-xVxO2Se melalui doping V dengan x = 0; 0,01; 0,02; 0,05; 0,07 dan 0,10 pada posisi Bi. Hasil pengukuran transpor menunjukan peningkatan konduktivitas listrik seiring dengan kenaikan konsentrasi x. Peningkatan konduktivitas listrik disebabkan oleh donor elektron yang dihasilkan dari subtitusi Bi3+ oleh V4+ . Meningkatnya konsentrasi elektron di dalam sistem membuat koefisien Seebeck menurun seiring kenaikan konsentrasi x yang konsisten dengan hubungan antara koefisien Seebeck dan konsentrasi pembawa muatan pada material semikonduktor tidak terdegenerasi. Selain itu, doping V juga berpengaruh terhadap konduktivitas termal. Nilai konduktivitas termal kisi menurun seiring dengan bertambahnya nilai x. Peningkatan konduktivitas listrik, disertai dengan penurunan konduktivitas termal kisi meningkatkan nilai zT dari Bi2O2Se yang semula ~0,08 menjadi ~0,24 untuk sampel Bi1,90V0,10O2Se pada suhu 723 K. Modifikasi struktur lokal ketiga dilakukan di kedua lapisan oksida dan metalik pada material oksiselenida tipe-p BiCu1-xCrxSeO dengan x = 0; 0,02; 0,04; 0,06; 0,08 dan Bi0,925Ca0,075Cu1-yCrySeO dengan y = 0; 0,02; 0,04; 0,06; 0,08; 0,10 dan 0,12. Hasil yang diperoleh menunjukan peningkatan konduktivitas listrik dan penurunan koefisien Seebeck sering dengan kenaikan nilai x dan y. Peningkatan konduktivitas listik yang signifikan ini berasal dari optimalisasi konsentrasi pembawa muatan akibat adanya kekosongan atom Cu dan donor hole oleh atom Ca. Selain itu, konduktivitas termal kisi menurun seiring dengan kenaikan konsentrasi Cr. Penurunan konduktivitas termal kisi disebabkan efek hamburan cacat titik akibat adanya kekosongan atom Cu dan fase sekunder oksida kromium. Berdasarkan hasil diatas, doping atom Cr berperan dalam meningkatkan nilai zT pada rentang suhu rendah (300 β 600 K) sedangkan doping atom Ca berperan dalam meningkatkan nilai zT pada rentang suhu tinggi (600 β 800 K). Nilai zT maksimum diperoleh dalam sampel BiCu0,96Cr0,04SeO dan Bi0,925Ca0,075Cu0,96Cr0,04SeO masing-masing sebesar ~ 0,7 dan ~0,6 pada suhu 773 K.
PENGEMBANGAN KERANGKA PENILAIAN RESILIENSI KOTA PULAU TERHADAP PERUBAHAN IKLIM: STUDI KASUS KOTA AMBON, PROVINSI MALUKU
Perubahan iklim global telah memicu peningkatan intensitas cuaca ekstrem dan kenaikan permukaan air laut yang signifikan, sehingga berdampak langsung pada penghidupan masyarakat terhadap wilayah pesisir. Kota Ambon, sebagai ibu kota provinsi di wilayah kepulauan, menghadapi dampak perubahan iklim berupa ancaman bencana geologi dan hidrometeorologi yang berulang di tengah keterbatasan lahan serta ketergantungan sumber daya. Meskipun pedoman resiliensi kota global telah tersedia, penilaian yang ada saat ini masih didominasi oleh karakteristik kota daratan besar dan belum secara spesifik mengakomodasi keunikan serta kerentanan kota di pulau kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka penilaian resiliensi perubahan iklim yang kontekstual bagi Kota Ambon sebagai representasi kota pulau. Pengumpulan data primer dilakukan melalui kuesioner dan wawancara, serta data sekunder melalui jurnal, buku, laporan resmi dan dokumen perencanaan lainnya yang dianalisa dengan pendekatan campuran (mixed methods). Metode kualitatif dilakukan melalui kajian dan sintesa literatur untuk mengidentifikasi variabel dan indikator pembentuk resiliensi kota pulau. Selanjutnya, metode kuantitatif diterapkan melalui metode skoring dan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan bobot tingkat kepentingan setiap variabel dan indikator berdasarkan karakteristik lokal kota Ambon sebagai kota pulau. Hasil penelitian ini akan menyajikan indikator dan variabel penilaian resiliensi Kota Ambon sebagai kota pulau terhadap perubahan iklim yang bersifat kontekstual, serta merumuskan kerangka penilaian resiliensi Kota Ambon terhadap perubahan iklim secara komprehensif. Kerangka ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi Pemerintah dalam skala lokal untuk merumuskan strategi resiliensi yang lebih tepat sasaran, sekaligus berfungsi sebagai acuan teoretis dalam pengembangan strategi resiliensi perubahan iklim bagi kotakota dengan karakteristik kepulauan yang serupa di Indonesia.
IDENTIFIKASI TIMBULAN DAN BENTUK PENGELOLAAN LIMBAH BATIK DALAM MENDUKUNG TRANSISI EKONOMI SIRKULAR DI KAMPUNG BATIK KAUMAN, KOTA PEKALONGAN
Kampung Batik Kauman merupakan sentra industri batik berbasis permukiman di Kota Pekalongan yang menghadapi tantangan pengelolaan limbah akibat aktivitas produksi yang berlangsung berdampingan dengan lingkungan permukiman. Meningkatnya tekanan lingkungan dari sektor tekstil mendorong perlunya transisi menuju ekonomi sirkular untuk meningkatkan efisiensi sumber daya dan mengurangi timbulan limbah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tingkat penerapan praktik ekonomi sirkular berdasarkan prinsip 9R, titik timbulan limbah produksi batik, serta bentuk pengelolaan limbah dalam mendukung transisi ekonomi sirkular di Kampung Batik Kauman. Penelitian menggunakan metode campuran (mixed-methods) dengan desain sequential explanatory. Data dikumpulkan melalui kuesioner, observasi, dan wawancara mendalam, kemudian dianalisis menggunakan analisis skoring berbasis prinsip 9R, Material Stream Mapping (MSM), dan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik ekonomi sirkular telah diterapkan secara parsial meskipun sebagian besar pelaku usaha belum memahami konsep ekonomi sirkular. Dari sembilan IKM yang menjalankan proses produksi, tujuh prinsip 9R telah diterapkan, sedangkan prinsip Refuse dan Recover belum ditemukan. Seluruh tahapan produksi menghasilkan limbah cair dan limbah padat, dengan limbah cair sebagai timbulan dominan. Bentuk pengelolaan limbah ditandai oleh praktik sirkular yang terbatas, keterlacakan material sisa melalui sektor informal dan IPAL komunal, serta dipengaruhi faktor teknis, perilaku, finansial, regulasi, dan pasar. Temuan menunjukkan bahwa sirkularitas di Kampung Batik Kauman telah berkembang secara organik, namun belum membentuk sistem terintegrasi yang mampu menutup siklus material secara menyeluruh. Penelitian ini berkontribusi sebagai dasar empiris perumusan strategi pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular, serta menjadi referensi bagi pemangku kepentingan dalam mendorong transisi dari praktik sirkular menuju sistem yang lebih terencana dan berkelanjutan.
PEMBUATAN ADSORBEN KALSIUM ALGINAT β FE3O4 β SERBUK BIJI PEPAYA DAN PENGGUNAANNYA SEBAGAI ADSORBEN ZAT WARNA METILEN BIRU
Limbah zat warna yang dihasilkan sejumlah industri telah mencemari lingkungan perariran dan membahayakan kehidupan organisme didalamnya serta manusia. Metilen biru merupakan zat warna yang umum digunakan namun bersifat karsinogenik dan beracun. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menanggulangi limbah zat warna metilen biru dalam limbah cair yaitu adsorpsi. Metode adsorpsi digunakan karena efektif, mudah, dan tidak menghasilkan limbah beracun lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengadsorpsi zat warna metilen biru menggunakan kalsium alginat β Fe3O4 β serbuk biji pepaya. Modifikasi alginat dengan menambahkan magnetit dilakukan untuk meningkatkan kapasitas adsorpsi. Adsorben yang telah disintesis dikeringkan menggunakan freeze-dry kemudian dikarakterisasi mengunakan FTIR dan SEM. Berdasarkan pola pergeseran bilangan gelombang pita serapan pada spektrum FTIR adsorben sebelum dan sesudah adsorpsi, sejumlah gugus fungsi yang berperan dalam proses adsorpsi metilen biru adalah gugus O-H, C=O, dan C-O. Keberadaan metilen biru setelah adsorpsi juga teridentifikasi pada bilangan gelombang 1606 cm?1 yang menunjukkan pita vibrasi gugus C=N. Karakterisasi SEM pada permukaan adsorben juga menunjukkan keberhasilan adsorpsi. Adsorpsi zat warna metilen biru menggunakan adsorben kalsium alginat - Fe3O4- Serbuk Biji Pepaya mencapai kondisi optimum pada pH 6, waktu kontak 4 jam, dan kapasitas adsorpsi maksimum sebesar 388,99 mg/g. Adsorpsi mengikuti model kinetika orde dua semu, model isoterm Langmuir, dan bersifat eksotermik. Penggunaan adsorben BPAM secara berulang menunjukkan potensi adsorben untuk menyisihkan metilen biru secara efisien.
PERANCANGAN PENGONTROL FINITE CONTROL SET MODEL PREDICTIVE CONTROL DENGAN DISTURBANCE OBSERVER UNTUK MENGATASI INTERMITENSI PADA SISTEM PANEL SURYA MANDIRI DI BAWAH KONDISI NAUNGAN SEBAGIAN
Pembangkit listrik tenaga surya merupakan salah satu solusi yang dapat mendukung kebijakan pemerintah dalam mengatasi ketergantungan terhadap sumber energi fosil. Namun terdapat berbagai tantangan teknis yang dapat menurunkan efisiensi sistem, sehingga sistem PV tidak bekerja di titik daya optimumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan pengontrol Finite Control Set Model Predictive Control untuk meningkatkan performa dan kerobasan dari sistem fotovoltaik yang terintegrasi dengan boost converter. Dalam perancangan algoritma pengontrol, efek gangguan itu akan diestimasi menggunakan Disturbance Observer untuk meningkatkan kerobasan sistem terhadap gangguan. Namun tantangan selanjutnya pada sistem PV terletak pada perubahan kondisi naungan modul fotovoltaik yang diakibatkan oleh pergerakan awan dan bayangan benda-benda sekitar, sehingga sistem PV akan memiliki beberapa puncak daya keluaran. Situasi ini dikenal sebagai kondisi naungan sebagian (PSC). Oleh karena itu pada penelitian ini digunakan metode Incremental Conductance-Modified Particle Swarm Optimization yang dapat melacak puncak global yang kemudian dijadikan arus referensi bagi mekanisme pengontrol. Hasil simulasi MATLAB/Simulink menunjukkan bahwa sistem mampu bekerja baik pada kondisi standar ataupun PSC. Pada kondisi standar dengan iradiasi seragam, sistem mencapai waktu tunak 0,42 detik, efisiensi 94,572%, dan akurasi daya 99,97%. Pada kondisi standar dengan variasi iradiasi dan beban, sistem menghasilkan waktu tunak rata-rata 0,330 detik, akurasi daya 99,904%, dan efisiensi rata-rata 93,933%. Pada kondisi PSC, sistem mampu mencapai waktu tunak 0,352 detik, akurasi daya 99,699%, dan efisiensi rata-rata 94,31%. Hasil ini menunjukkan bahwa integrasi Hybrid ICβMPSO dan FCSβMPC dengan Disturbance Observer mampu meningkatkan performa pelacakan titik maksimum daya dan menjaga efisiensi sistem PV mandiri di bawah kondisi naungan sebagian.
PENGARUH KOMPOSISI FURNISH (LONG FIBER, BCTMP, DAN FILLER) TERHADAP PROSES DEWATERING DAN KARAKTERISTIK KERTAS
Penelitian ini menganalisis pengaruh komposisi serat dan jenis bahan pengisi (filler) terhadap perilaku drainase pada proses pembuatan kertas serta keterkaitannya dengan karakteristik kertas yang dihasilkan. Komposisi furnish terdiri dari Short Fiber (SF), Long Fiber (LF), dan Bleached Chemi-Thermomechanical Pulp (BCTMP), sedangkan filler yang digunakan adalah Ground Calcium Carbonate (GCC) dan Precipitated Calcium Carbonate (PCC) dengan berbagai komposisi. Penelitian dilakukan karena proses forming dewatering sangat menentukan kestabilan pembentukan lembaran, efisiensi penghilangan air, konsumsi energi pengeringan, serta kualitas akhir kertas yang dihasilkan. Selain itu, penggunaan BCTMP sebagai bahan baku baru di industri kertas PT. XX beberapa kali menyebabkan ketidakstabilan proses dewatering, sehingga diperlukan evaluasi komposisi furnish yang optimum agar proses produksi dapat berjalan lebih stabil dan efisien. Penelitian ini menggunakan pendekatan kombinasi antara data operasional mesin kertas dan pengujian laboratorium menggunakan handsheet. Data operasional diambil pada mesin kertas PT. XX selama periode Agustus 2024 hingga Agustus 2025 untuk grade kertas offset 60 gsm dan 64 gsm. Variabel yang dianalisis meliputi komposisi LF, BCTMP, serta jenis dan rasio filler, sedangkan parameter utama yang diamati adalah waktu drainage (detik/500 mL), forming dewatering, dan karakteristik kertas seperti ketebalan, densitas, kekasaran, kekuatan tarik, internal bond, dan kecerahan. Hasil analisa data proses menunjukkan bahwa peningkatan komposisi LF meningkatkan nilai forming dewatering pada kedua grade kertas. Pada kondisi BCTMP 11% dan filler 22%, setiap kenaikan 1% LF meningkatkan forming dewatering sekitar 0,62 L/s pada 64 gsm dan 0,25 L/s pada 60 gsm. Sebaliknya, peningkatan komposisi BCTMP menunjukkan tren yang berlawanan, di mana setiap kenaikan 1% BCTMP menurunkan forming dewatering sekitar 1,19 L/s pada 64 gsm dan 0,61 L/s pada 60 gsm akibat struktur serat yang lebih kaku, porous, dan memiliki freeness tinggi sehingga permeabilitas jaringan meningkat. Penelitian ini juga menunjukkan adanya hubungan antara headbox drainage dan forming dewatering. Analisa regresi menghasilkan hubungan linear positif dengan persamaan y = 0,7659x ? 1,4113 dan nilai RΒ² sebesar 0,6007. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan nilai headbox drainage yang mencerminkan resistansi aliran lebih tinggi akan meningkatkan nilai forming dewatering dan menyebabkan pelepasan air berlangsung lebih lambat. Selain itu, nilai forming dewatering juga memiliki hubungan langsung terhadap frekuensi pre dryer break. Nilai forming dewatering yang terlalu rendah menghasilkan web terlalu kering dan meningkatkan risiko crushing, sedangkan nilai terlalu tinggi menyebabkan web terlalu basah dan rentan mengalami sheet break. Rentang optimum forming dewatering berada pada kisaran 17β22,5 karena menghasilkan frekuensi pre dryer break paling rendah dan kestabilan operasi mesin yang lebih baik. Hasil pengujian laboratorium menunjukkan bahwa peningkatan proporsi BCTMP meningkatkan kinerja drainage dan mempercepat pelepasan air pada forming section. Hal ini disebabkan oleh karakteristik serat BCTMP yang lebih kaku, memiliki tingkat fibrilasi lebih rendah, serta membentuk struktur lembaran yang lebih terbuka dan porous dibandingkan LF. Peningkatan komposisi BCTMP menghasilkan lembaran yang lebih bulky, ditunjukkan dengan kenaikan ketebalan dari 141,93 menjadi 149,43 ?m, densitas dari 2,08 menjadi 2,19 g/cmΒ², dan kekasaran dari 575 menjadi 755 mL/min pada kertas 68 gsm. Sebaliknya, peningkatan komposisi LF dari 10% hingga 30% meningkatkan hambatan aliran air sehingga waktu drainage meningkat hingga 20,8 detik/500 mL. LF juga meningkatkan kekuatan tarik dan internal bond karena serat panjang mampu membentuk lebih banyak titik kontak dan ikatan hidrogen antarserat sehingga struktur lembaran menjadi lebih kuat dan kontinu. Jenis filler juga memberikan pengaruh signifikan terhadap perilaku drainage dan karakteristik kertas. PCC menunjukkan kemampuan meningkatkan ketebalan kertas dari 126,50 menjadi 141,10 ?m serta meningkatkan sifat optik berupa brightness dari 85,87% menjadi 87,22%. Hal ini berkaitan dengan morfologi partikel PCC yang lebih seragam dan memiliki brightness intrinsik lebih tinggi dibandingkan GCC, sehingga meningkatkan hamburan cahaya dan reflektivitas lembaran. Sebaliknya, GCC memiliki kandungan partikel halus lebih tinggi sehingga lebih efektif mengisi rongga antarserat dan menghasilkan permukaan kertas yang lebih halus. Interaksi antara komposisi serat dan jenis filler menunjukkan bahwa optimasi furnish tidak hanya menentukan performa dewatering, tetapi juga sangat memengaruhi kualitas akhir produk kertas. Waktu drainage optimum diperoleh pada variasi G3 sebesar 19,54 detik/500 mL dengan komposisi LF 20%, BCTMP 10%, SF 70%, dan PCC 85%. Komposisi tersebut menghasilkan keseimbangan terbaik antara kemampuan pelepasan air, kestabilan forming, dan karakteristik kertas yang dihasilkan. Nilai drainage yang terlalu tinggi menyebabkan lembaran masih terlalu basah sehingga meningkatkan risiko sheet break dan beban pengeringan, sedangkan drainage yang terlalu rendah menyebabkan lembaran terlalu cepat kering dan berpotensi mengalami crushing. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa optimasi komposisi furnish dapat meningkatkan efisiensi dewatering, menurunkan potensi reject, meningkatkan produktivitas mesin, serta mempertahankan kualitas kertas tanpa memerlukan modifikasi alat maupun penambahan teknologi berbiaya tinggi
PERANCANGAN PENGONTROL HIBRIDA MRAC-DDPG BERBASIS PEMODELAN NARX UNTUK PENGONTROLAN KADAR SULFUR SO_2 PADA UNIT DESULFURISASI
Unit desulfurisasi pada pabrik amonia memiliki peran krusial dalam mencegah deaktivasi katalis, namun pengontrolannya sangat menantang akibat karakteristik dinamika sistem yang nonlinier, multivariabel, dan adanya jeda waktu (time-delay). Model Reference Adaptive Control (MRAC) konvensional mampu menyesuaikan parameter secara dinamis, tetapi rentan terhadap fenomena parameter drift dan osilasi tinggi akibat gangguan eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk merancang, menguji, dan mengoptimalkan sistem pengontrol hibrida MRAC-DDPG berbasis pemodelan Nonlinier Auto-Regressive with Exogenous Input (NARX) guna meningkatkan akurasi regulasi kadar sulfur sekaligus memitigasi kelemahan mekanisme adaptasi konvensional. Dinamika plant diidentifikasi menggunakan jaringan saraf tiruan NARX berbasis Bayesian Regularization menggunakan data operasional riil (365 sampel harian kadar sulfur laboratorium dan 8.760 titik data variabel proses) dengan rasio data latih dan uji 80:20. Pada perancangan arsitektur pengontrolannya, MRAC ternormalisasi dengan modifikasi kebocoran ditetapkan sebagai pengontrol dasar (baseline) setelah melalui uji komparasi yang membuktikan keunggulannya dibanding mekanisme adaptasi lain, dengan capaian galat awal Root Mean Square Error (RMSE) sebesar 0,000829 PPM. Untuk menyempurnakan baseline tersebut, agen Reinforcement Learning Deep Deterministic Policy Gradient diintegrasikan guna menala laju adaptasi secara dinamis berdasarkan fungsi imbalan yang dioptimasi melalui Bayesian Optimization. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model NARX mampu mengestimasi kadar sulfur secara akurat tanpa indikasi overfitting (RMSE keseluruhan 0,00268 PPM). Implementasi hibrida MRAC-DDPG lebih lanjut terbukti sukses mereduksi RMSE kendali menjadi 0,000557 PPM, menghasilkan peningkatan akurasi sebesar 32,78%. Integrasi ini secara efektif mampu menjaga konsentrasi sulfur senantiasa berada di bawah batas kritis operasional yang diperbolehkan, memberikan rise time yang lebih cepat, dan mengeliminasi osilasi tanpa memicu chattering pada aktuator. .
ANALISIS SPASIAL PENENTUAN KECAMATAN POTENSIAL UNTUK PENGEMBANGAN 15-MINUTE NEIGHBOURHOOD DI DKI JAKARTA
Perubahan iklim yang disebabkan tingginya emisi gas rumah kaca telah menjadi permasalahan dunia yang mendorong penerapan konsep pembangunan perkotaan yang lebih berkelanjutan. Salah satu pendekatan untuk mengatasi masalah tersebut adalah 15-Minute City, yaitu konsep tata kota yang memungkinkan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka dengan berjalan kaki sekitar 15 menit sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan bermotor. Sejalan dengan target DKI Jakarta untuk menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 50% pada tahun 2030 dan mencapai nol emisi pada tahun 2050, penelitian ini bertujuan menganalisis kecamatan yang memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan sebagai 15-Minute Neighbourhood. Pada penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan menggunakan pendekatan spasial. Pembobotan kriteria dan subkriteria 15-Minute Neighbourhood dilakukan menggunakan metode AHP, kemudian kondisi eksisting wilayah diidentifikasi berdasarkan dimensi 15-Minute Neighbourhood diantaranya adalah density, proximity, diversity, dan digitalization. Berdasarkan hasil AHP, proximity memiliki bobot global tertinggi, disusul oleh kepadatan penduduk dan keragaman fasilitas dasar. Bobot tersebut diintegrasikan ke dalam formula indeks komposit 15-Minute Neighbourhood untuk menentukan indeks pada setiap kecamatan. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa Kecamatan Cempaka Putih dan Kecamatan Tambora memperoleh nilai indeks tertinggi, sehingga menjadi kecamatan yang paling berpotensi untuk dikembangkan sebagai 15-Minute Neighbourhood di DKI Jakarta. Sebaliknya, sebagian besar kecamatan yang berada di wilayah pinggiran Jakarta cenderung memiliki nilai indeks yang lebih rendah yang disebabkan oleh tingkat aksesibilitas layanan, kepadatan, dan keragaman fasilitas yang relatif lebih rendah dibandingkan wilayah perkotaan yang lebih terpusat. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa kecamatan yang memiliki nilai tinggi pada satu indikator tertentu tidak selalu memperoleh nilai indeks yang tinggi. Beberapa kecamatan seperti Gambir, Tanah Abang, Kebayoran Baru, Menteng, dan Setiabudi menunjukkan performa yang baik pada dimensi tertentu, seperti keragaman guna lahan maupun keragaman fasilitas dasar, namun tidak termasuk ke dalam kelompok kecamatan dengan nilai indeks tertinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa pencapaian karakteristik 15-Minute Neighbourhood bergantung pada sinergi antar seluruh dimensi penilaian, sehingga performa yang5 tinggi pada satu dimensi saja belum cukup untuk menghasilkan tingkat kesiapan wilayah yang optimal. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan terkait pengembangan kajian 15-Minute Neighbourhood serta menjadi dasar perencanaan kebijakan untuk pembangunan perkotaan berkelanjutan di DKI Jakarta. Hasil penelitian juga memperkaya studi empiris mengenai pengukuran 15- Minute Neighbourhood melalui integrasi pembobotan AHP dan analisis spasial.
PERANCANGAN FONDASI DINAMIK TURBINE-DRIVEN PUMP BERDASARKAN ACI 351.3R-18 MENGGUNAKAN PEMODELAN METODE ELEMEN HINGGA 3-DIMENSI: STUDI KASUS KILANG MINYAK DI PULAU KALIMANTAN
Tugas Akhir ini berfokus pada perancangan fondasi dinamik untuk equipment Turbine-Driven Pump. Kondisi tanah dan spesifikasi mesin digunakan berdasarkan studi kasus dari sebuah kilang minyak yang terletak di Pulau Kalimantan. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk mengontrol frekuensi resonansi dan amplitudo getaran yang terjadi pada fondasi, serta mengoptimasi desain sesuai kriteria dan standard pada ACI 351.3R-18. Metode analisis yang digunakan adalah pemodelan 3 Dimensi dengan Metode Elemen Hingga (Finite Element Method). Proses optimasi dilakukan secara iteratif. Hasil pemodelan menunjukan fondasi blok dengan dimensi 6.5 ???? Γ 3 ???? Γ 0.9 ???? merupakan desain optimal karena memenuhi seluruh kriteria desain, baik kriteria dinamik maupun statik. Hasil analisis menunjukan frekuensi natural fondasi 31.9 Hz dengan frekuensi operasi mesin 49.52 Hz yang menjamin pemisahan frekuensi dari kondisi resonansi dengan perbandingan di luar rentang 0.8 sampai 1.2. Amplitudo getaran maksimum yang didapatkan sebesar 0.004 mm. Nilai tersebut memenuhi batas izin berdasarkan ACI 351.3R-18. Seluruh nilai tersebut didapatkan berdasarkan proses optimasi yang dilakukan dengan pemodelan elemen hingga (finite element modeling). Desain ini dinyatakan aman secara dinamik dan statik untuk beroperasi.