📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenSTUDI PENGARUH DOPING TERHADAP ENERGETIKA PEMBENTUKAN DAN MOBILITAS VAKANSI OKSIGEN PADA MATERIAL KATODA BERBASIS LI0.55NIO2
Baterai litium-ion (LIB) merupakan salah satu sistem penyimpanan energi yang saat ini digunakan secara luas pada aplikasi perangkat elektronik, khususnya kendaraan listrik. Saat ini, katoda berbasis nikel berkandungan tinggi (Ni-rich) menjadi pilihan sebagai material katoda karena memiliki densitas energi yang lebih tinggi. Namun demikian, peningkatan kandungan nikel berbanding lurus terhadap menurunnya kestabilan termal material, khususnya akibat meningkatnya kecenderungan pelepasan oksigen pada kondisi terdelitiasi. Kehilangan oksigen tersebut memicu pembentukan dan difusi vakansi oksigen, migrasi kation logam transisi, serta transformasi fasa yang berujung pada penurunan kapasitas baterai. Pembentukan vakansi oksigen pada struktur bulk Li0.55NiO2 menjadi salah satu mekanisme utama yang berperan dalam degradasi material katoda. Vakansi oksigen yang terbentuk dapat berdifusi melalui perpindahan atom oksigen tetangga terdekat (nearest neighbor hopping) menuju situs vakansi yang ada, sehingga secara efektif dapat menyebabkan pengumpulan vakansi oksigen pada orientasi bidang kristalografi tertentu, yakni intralayer (003) dan (104), serta interlayer (104e). Akumulasi tersebut memicu terjadinya cracking dan transformasi fasa yang menjadi penyebab utama penurunan kapasitas baterai. Sehingga, pengendalian pembentukan dan difusi vakansi oksigen melalui substitusional doping menjadi pendekatan yang relevan untuk meningkatkan stabilitas struktur material katoda. Penelitian ini menganalisis pengaruh doping substitusional logam transisi (W, Mo, Cr) terhadap energi substitusi doping, energi formasi vakansi oksigen, dan energi aktivasi difusi. Simulasi dilakukan menggunakan pendekatan teori fungsional kerapatan (DFT) dengan perangkat VASP, fungsional PBE+U, dan metode CI-NEB. Hasil kalkulasi menunjukkan bahwa seluruh sistem terdoping meningkatkan nilai energi formasi dibandingkan sistem Li0.55NiO2 pristine. Namun, nilai energi aktivasi difusi vakansi oksigen pada sistem Li0.55NiO2 pristine sudah cukup tinggi, sehingga pengaruh doping justru menurunkan nilai energi aktivasi difusi vakansi oksigen. Hal ini dapat disebabkan karena adanya mekanisme lain seperti pembentukan dan kinetika dimerisasi oksigen. Sehingga, pembentukan vakansi oksigen mudah secara termodinamika, namun lambat secara kinetika. Berdasarkan hasil penelitian, doping W memberikan kestabilan termodinamika dan hambatan kinetika difusi vakansi oksigen yang lebih baik dibandingkan doping lainnya.
PERANCANGAN KONTROL REFERENSI HIBRIDA BERBASIS REINFORCEMENT LEARNING TD3 UNTUK PERBAIKAN KINERJA PENGONTROL PID PADA SISTEM TIGA TANGKI TERKOPEL DENGAN IMPLEMENTASI STANDAR IEC 61499
Sistem kontrol level fluida pada proses industri umumnya menggunakan pengontrol PID yang performanya dapat menurun akibat non linearitas plant dan saturasi aktuator. Penelitian ini mengembangkan pengontrol supervisori berbasis Twin Delayed Deep Deterministic Policy Gradient (TD3) dengan pendekatan Hybrid Reference Control (HRC) untuk memperbaiki kinerja PID pada sistem tiga tangki terkopel. Agen TD3 menghasilkan sinyal koreksi referensi secara adaptif tanpa mengubah struktur pengontrol PID yang sudah ada. Parameter model sistem diidentifikasi menggunakan Particle Swarm Optimization (PSO) dengan RMSE total 2,555 cm. Pengontrol PID dirancang menggunakan metode pembentukan kalang dengan phase margin 69° dan gain margin 44,31 dB. Pelatihan agen TD3 dilakukan melalui dua jalur yang dibandingkan yaitu Behavioral Cloning (BC) dari HRC manual terpilih sebagai inisialisasi start hangat sebelum penalaan halus TD3 dan melatih agen TD3 dari inisialisasi acak. Fungsi reward dirancang dengan lima komponen yang mencakup penalti galat pelacakan, penalti lonjakan, bonus tunak, penalti perubahan aksi katup, dan penalti pita mati dengan histerisis Evaluasi pada sembilan skenario kombinasi titik acuan dan kondisi awal menunjukkan bahwa agen BC-TD3 terpilih menghasilkan penurunan rata-rata lonjakan sebesar 50,70% (dari 4,33% menjadi 2,14%) dan penurunan rata-rata waktu tunak sebesar 22,68% (dari 1.347 s menjadi 1.042 s) dibandingkan PID acuan, sedangkan TD3 inisialiasi acak hanya unggul pada waktu naik tercepat (448 s) namun menghasilkan lonjakan dan steady-state error besar. Pengujian pada plant fisik menggunakan EcoStruxure Automation Expert menunjukkan sistem berhasil melakukan pelacakan titik acuan dengan steady-state error 0,51 cm. Sistem diimplementasikan pada arsitektur IEC 61499 menggunakan pengontrol Harmony BX1 melalui empat Basic Function Block, mengonfirmasi kelayakan penerapan algoritma deep reinforcement learning pada perangkat keras otomasi industri.
Di era digital abad ke-21, merek perlu mengadaptasi strategi komunikasi yang lebih relevan dengan perilaku konsumen pada saat ini. Platform seperti TikTok memberikan peluang bagi merek untuk menyampaikan cerita secara visual, singkat, dan mudah dipahami oleh audiens. Dengan menggunakan storytelling dari Shopee sebagai konteks penelitian, studi ini mengkaji elemen-elemen utama dalam storytelling merek, khususnya Brand Story (BS), serta pengaruhnya terhadap Brand Attitude (BA), Electronic Word of Mouth (eWOM), dan Consumer-Brand Identification (CBI). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan responden pengguna TikTok di Indonesia yang secara aktif mengakses konten Shopee (n = 122). Analisis data dilakukan menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS- SEM) melalui SmartPLS 4 dengan 5.000 bootstrap resamples. Hasil analisis menunjukkan bahwa model penelitian mampu menjelaskan variansi yang moderat pada BA serta variansi yang cukup substansial pada CBI. Penelitian menunjukkan bahwa BS memiliki pengaruh positif terhadap BA maupun CBI. Selain itu, eWOM juga terbukti memberikan pengaruh positif terhadap CBI. Namun demikian, BA hanya menunjukkan pengaruh yang relatif lemah terhadap CBI. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa BA tidak berperan sebagai mediator dalam hubungan antara BS dan CBI. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi merek untuk lebih memprioritaskan pengembangan narasi di TikTok yang autentik, relevan, dan mampu menarik perhatian audiens. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam mendorong keterlibatan konsumen, memicu munculnya user-generated content (UGC), serta memperkuat percakapan antar konsumen, dibandingkan apabila strategi komunikasi hanya berfokus pada upaya mengubah sikap konsumen terhadap merek. Kata Kunci: Visual Storytelling, TikTok, Brand Story, Brand Attitude, eWOM, Consumer-Brand Identification, Shopee, Indonesia.
MAKING SENSE OF KNOWLEDGE HIDING FOR LEARNING
Pengetahuan diakui secara luas sebagai aset organisasi yang penting, yang nilainya bertambah melalui proses berbagi, integrasi, dan pemanfaatan ulang. Namun, keputusan untuk berbagi atau menahan pengetahuan pada akhirnya berada di tangan setiap individu karyawan; dan ketika pengetahuan tetap mengendap dalam ingatan pribadi alih-alih dialihkan menjadi memori organisasi, potensi nilainya pun terbatas. Dalam konteks inilah penyembunyian pengetahuan (knowledge hiding/KH) terus berlangsung sebagai perilaku yang dipersepsikan sengaja dilakukan dan mengganggu aliran pengetahuan. Penelitian terdahulu telah banyak mengkaji KH dari sudut pandang pihak yang menyembunyikan pengetahuan (knowledge hider), tetapi relatif sedikit yang menyoroti pengalaman pencari pengetahuan (knowledge seeker), yakni mereka yang meminta pengetahuan dan harus menyiasati penyembunyian yang dipersepsikan disengaja tersebut. Pemahaman tentang bagaimana pencari pengetahuan memaknai dan menyikapi KH—serta bagaimana respons mereka dapat melahirkan pembelajaran yang melampaui tataran individu—masih sangat terbatas. Penelitian ini berupaya mengisi kesenjangan tersebut melalui dua pertanyaan penelitian: (1) bagaimana pustakawan memaknai KH demi pembelajaran individu dan keberlangsungan pekerjaan, dan (2) mekanisme apa yang memungkinkan atau menghambat peralihan pembelajaran individu dari proses pemaknaan (sensemaking) menjadi pembelajaran organisasi (organizational learning/OL) serta keberlangsungan kerja organisasi. Penelitian ini menggunakan rancangan studi kasus tunggal kualitatif di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), lembaga yang berwenang membina pengembangan perpustakaan di seluruh Indonesia, dengan pendekatan abduktif. Data dihimpun melalui wawancara semiterstruktur terhadap 24 pustakawan fungsional dari lima divisi di lingkungan Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan serta Pusat Pendidikan dan Pelatihan—seluruhnya menempati peran yang menuntut koordinasi tinggi dan pertukaran pengetahuan yang intensif. Analisis data dilakukan dengan metodologi Gioia, yang bergerak secara sistematis dari konsep tingkat pertama (first-order concepts), tema tingkat kedua (second-order themes), hingga dimensi agregat yang dirangkai menjadi sebuah model teoretis berbasis data (grounded). Temuan penelitian mengungkap empat dimensi agregat yang saling berkaitan. Pertama, pustakawan menjalani siklus pemaknaan yang berulang: mencermati isyarat penyembunyian seperti penundaan, jawaban yang mengambang, dan sinyal nonverbal; menafsirkannya melalui beragam kerangka kognitif; menguji tafsiran itu lewat respons yang mereka ambil; lalu memperbaiki pemahaman berdasarkan hasilnya. Kedua, proses ini melahirkan luaran pada tataran individu dalam dua bentuk yang saling terkait, yaitu pembelajaran sosio-adaptif (socio-adaptive learning)—berupa meningkatnya kepekaan antarpribadi dan penataan ulang nilai- nilai profesional—serta keberlangsungan kerja individu yang tetap terjaga melalui improvisasi tugas, solusi mandiri (workaround), dan jejaring pengetahuan informal yang mem-bypass saluran formal yang tersumbat. Ketiga, terdapat tiga mekanisme yang memungkinkan pembelajaran individu berkembang menjadi kapabilitas kolektif: pembelajaran silang informal (informal cross-learning), dokumentasi pengetahuan individu, dan intervensi kepemimpinan yang menumbuhkan lingkungan yang aman secara psikologis. Keempat, tiga hambatan yang saling berkelindan justru membatasi peralihan tersebut, yakni sistem kerja yang tersekat (siloed) akibat evaluasi kinerja berbasis individu, keengganan berbagi yang berakar pada sikap melindungi diri secara kompetitif dan rasa takut tersorot di hadapan publik, serta tergerusnya pengetahuan tasit akibat rotasi dan purnatugas pegawai. Penelitian ini memberikan tiga kontribusi teoretis. Pertama, ia merinci cara kerja siklus pemaknaan ketika objeknya adalah perilaku yang ditafsirkan sebagai penyembunyian yang disengaja. Kedua, ia menelaah kondisi-kondisi yang memungkinkan pembelajaran individu beralih menjadi OL kolektif. Ketiga, ia memaknai ulang KH sebagai pemicu generatif yang potensial—suatu perilaku yang, kendati benar-benar merugikan, sekaligus dapat membangkitkan pemaknaan, menumbuhkan pembelajaran adaptif, dan menyingkap kerentanan sistemik. Secara praktis, temuan ini menyerukan penyelarasan ulang sistem evaluasi kinerja agar menghargai kolaborasi, pengurangan ketergantungan koordinasi yang kaku, pelembagaan pendampingan (mentoring) terstruktur untuk mengalihkan pengetahuan tasit, penguatan kepemimpinan yang mendorong keamanan psikologis, serta pemantapan sistem dokumentasi bersama. Pada akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa cara organisasi merespons KH— bukan sekadar munculnya KH itu sendiri—tampaknya menentukan apakah ia menjadi semata-mata merugikan atau justru sebagian produktif. Dengan demikian, KH dimaknai ulang bukan sekadar perilaku disfungsional, melainkan pemicu generatif yang potensial bagi pembelajaran, yang implikasi organisasionalnya bergantung pada sejauh mana pemaknaan individu dapat dialihkan menjadi kapabilitas kolektif.. Keywords: penyembunyian pengetahuan, sensemaking, pembelajaran individual, pembelajaran organisasi, keberlangsungan kerja, pustakawan, Perpusnas RI.
PEMODELAN PREDIKSI PARAMETER BASS UNTUK ADOPSI INTERNET LINTAS NEGARA BERBASIS INDIKATOR SOSIOEKONOMI WDI MENGGUNAKAN LSTM
Penelitian ini mengembangkan model hibrida LSTM–Bass untuk memetakan deret indikator sosioekonomi ke parameter difusi adopsi internet lintas negara. Data terdiri atas 81 negara, 2.638 observasi negara-tahun, dan 30 indikator World Development Indicators (WDI) yang di- pilih dari data latih resmi. Nilai fitur terstandar digabung dengan masker observasi, kemudian diproses oleh jaringan rekuren satu lapis dengan 64 unit tersembunyi untuk memprediksi para- meter Bass p, q, dan K. Parameter tersebut digunakan untuk membentuk kembali kurva adopsi dan laju perubahan adopsi. Pada pembagian resmi 72/7/2, LSTM menghasilkan RMSE kurva adopsi 5,8123 pada da- ta latih, 7,6694 pada data validasi, dan 7,8741 pada data uji. Nilai R 2 masing-masing bagian adalah 0,8851, 0,9358, dan 0,9414. Hasil lima seed digunakan untuk menilai perilaku pelatihan dan kestabilan model. Validasi silang bersarang lima lipatan dengan tiga pengulangan membe- rikan bukti generalisasi tambahan: perbandingan berpasangan menunjukkan galat LSTM lebih rendah daripada ridge dan prediktor rata-rata, sedangkan LSTM, GRU, dan RNN belum dapat dipisahkan secara meyakinkan. Pada domain laju adopsi, rerata R 2 LSTM hanya 0,0558, yang menunjukkan bahwa perubahan tahunan lebih sulit direproduksi daripada kurva kumulatif. Eksperimen leave-IDN-out menghasilkan RMSE LSTM 10,9137 dan R 2 0,7509, tetapi dengan variasi antarseed yang besar. Model Bass yang dipasang pada 70% bagian awal seri juga sering gagal mengekstrapolasi bagian akhir. Ilustrasi persamaan panas menunjukkan manfaat struktur fisika yang diketahui, tetapi tidak digunakan untuk memvalidasi model adopsi internet. Hasil penelitian mendukung penggunaan LSTM terhadap pembanding sederhana pada protokol yang diuji, dengan batas utama berupa ukuran sampel negara, skema fitur tetap, variasi seed, lemahnya domain laju, dan asumsi parameter Bass statik.
PENGGUNAAN XILANASE GH43 REKOMBINAN UNTUK MEMPERCEPAT PROSES EKSTRAKSI MINYAK DARI BUAH SAWIT
Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan Indonesia sebagai sumber utama minyak nabati. Namun, proses ekstraksi minyak dari buah sawit masih kurang efisiensi. Masalah ini disebabkan oleh struktur dinding sel buah sawit yang kompleks. Dinding sel buah sawit tersusun atas lignin, selulosa, dan hemiselulosa. Salah satu molekul penyusun polimer hemiselulosa adalah xilan, yang menghambat pelepasan minyak dari buah sawit. Untuk mengatasi masalah ini, penggunaan enzim merupakan salah satu pendekatan yang mulai banyak diteliti. Enzim xilanase, diketahui mampu memecah rantai xilan secara acak melalui hidrolisis ikatan 1,4-? glikosidik dan kami telah memiliki klon rekombinan yang mengandung xilanase tetapi perannya dalam proses ekstraksi minyak sawit belum diketahui. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memproduksi xilanase GH43 dan menerapkannya dalam proses ekstraksi minyak dari buah sawit. Plasmid rekombinan yang mengandung gen pengode xilanase GH43 (xil43) dari Bacillus amyloliquefaciens ABBD ditransformasikan ke dalam sel inang Escherichia coli ArcticExpress (DE3). Ekspresi enzim diinduksi dengan IPTG (Isopropyl ?-D-1-thiogalactopyranoside), kemudian sel rekombinan dilisis untuk memperoleh ekstrak kasar enzim. Proses pemurnian enzim dilakukan dengan kromatografi afinitas menggunakan Ni-NTA agarosa. Aktivitas enzim ditentukan dengan metode uji gula pereduksi menggunakan xilan dari beechwood dan xilan dari bonggol jagung sebagai substrat. Konsentrasi xilanase diukur dengan metode Bradford. Proses selanjutnya adalah menginkubasi daging buah sawit yang sudah dihancurkan dengan enzim untuk mengekstraksi minyaknya. Gen xil43 berhasil diekspresikan ditunjukkan dengan adanya pita tebal dengan ukuran 54,8 kDa pada elektroferogram SDS-PAGE (Sodium Dodecyl Sulfate Polyacrylamide Gel Electrophoresis). Ekstrak kasar xilanase GH43 memiliki aktivitas spesifik sebesar 0,244 ± 0,009 U/mg untuk 1% (b/v) xilan dari beechwood dan 0,136 ± 0,022 U/mg untuk 1% (b/v) xilan dari bonggol jagung. Xilanase GH43 juga telah berhasil dimurnikan, ditunjukkan dengan adanya pita tunggal berukuran 54,8 kDa pada elektroferogram SDS-PAGE. Ekstrak kasar xilanase GH43 berhasil meningkatkan produksi minyak dari buah sawit sebesar 50% dibandingkan dengan perlakuan tanpa enzim (kontrol). Oleh karena itu, xilanase GH43 berpotensi sebagai enzim untuk mempercepat proses ekstraksi minyak sawit.
PENGEMBANGAN SENSOR ELEKTROKIMIA BERBASIS ELEKTRODA PASTA KARBON TERMODIFIKASI RGO/AUNPS/MIP UNTUK DETEKSI DOPAMIN
Dopamin merupakan neurotransmiter katekolamin yang berperan krusial dalam regulasi sistem saraf pusat, termasuk fungsi motorik, kognitif, dan emosional. Ketidakseimbangan kadar dopamin dalam tubuh berkaitan erat dengan berbagai kondisi neurologis dan psikiatris seperti Parkinson, skizofrenia, depresi, serta ADHD. Deteksi secara akurat dan sensitif menjadi penting untuk mendukung pemantauan kondisi kesehatan mental, namun tantangan utama terletak pada rendahnya konsentrasi dopamin fisiologis, serta kehadiran interferen biomolekul seperti asam askorbat dan asam urat yang sering terdapat bersama dopamin dalam matriks biologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sensor elektrokimia berbasis elektroda pasta karbon (EPK) yang dimodifikasi dengan reduced Graphene Oxide (rGO), nanopartikel emas (AuNPs), dan molecularly Imprinted Polymer (MIP) berbasis polipirol untuk deteksi dopamin secara selektif dan sensitif dengan menggunakan teknik Square Wave Voltammetry (SWV). Modifikasi rGO dilakukan melalui reduksi secara elektrokimia GO yang terdispersi dalam Na2SO4 pada potensial -1,0 V selama 120 detik sebanyak 15 siklus CV, keberhasilan modifikasi dikonfirmasi melalui spektra FTIR yang menunjukkan penurunan intensitas gugus fungsi beroksigen dan citra SEM-EDS yang memperlihatkan penurunan persentase atom oksigen dari 32% menjadi 2%. Deposisi AuNPs dilakukan pada potensial tetap -0,2 V dengan waktu elektrodeposisi 900 detik, menghasilkan distribusi nanopartikel emas berukuran 50- 80 nm pada permukaan rGO. Modifikasi MIP berbasis polipirol dilakukan dengan rasio molar dopamin : pirol sebesar 1 : 2, dengan 15 siklus elektropolimerisasi menggunakan teknik CV pada rentang potensial 0,0 – 0,8 V, dan 10 siklus pelepasan molekul dopamin dalam KOH 0,1 M untuk membentuk rongga pengenalan spesifik dopamin. Optimasi kondisi pengukuran menunjukkan bahwa teknik SWV memberikan respon arus puncak tertinggi dibandingkan LSV, CV, dan DPV. pH optimum larutan PBS yang digunakna untuk pengukuran adalah 6,5 dengan kemiringan hubungan linear Epa terhadap pH sebesar -0,0662 V, mendekati nilai teoritis Nernst -0,059 V yang mengindikasikan mekanisme oksidasi dopamin melibatkan jumlah proton dan elektron yang sebanding sebanyak 2 elektron. Studi laju pindai mengonfirmasi bahwa reaksi elektrokatalisis dikontrol oleh proses difusi dengan nilai slope hubungan Log V terhadap Log I sebesar 0,5442. Luas permukaan aktif elektrokimia (ECSA) dari EPK rGO/AuNPs/MIP meningkat sebesar 117,3% dari EPK tanpa modifikasi, yang mengonfirmasi adanya kontribusi nyata setiap tahap modifikasi terhadap peningkatan luas permukaan. Uji kinerja sensor menunjukkan rentang kerja linear yang sensitif pada konsentrasi dopamin 0,1 – 1 nM dengan nilai R2 sebesar 0,9996 dan limit deteksi terkecil (LOD) sebesar 0,021 nM dan limit kuantifikasi (LOQ) sebesar 0,071 nM. Elektroda EPK rGO/AuNPs/MIP juga menunjukkan selektivitas yang baik terhadap interferen asam askorbat hingga 100 kali konsentrasi lebih besar dari dopamin, dan interferen ion-ion anorganik, glukosa, dan urea hingga 1000 kali lipat lebih besar. Uji kebolehulangan (reproducibility) terhadap 10 elektroda, dan uji keberulangan (repeatability) sebanyak 50 kali pengukuran menunjukkan konsistensi respon yang baik. Elektroda juga menunjukkan stabilitas yang memadai hingga 28 hari penyimpanan dengan nilai %RSD lebih kecil dari RSD Horwitz. Validasi metode dilakukan menggunakan sampel keringat simulasi yang di-spike dengan dopamin 200 µM dan dianalisis menggunakan uji t-berpasangan. Nilai % recovery yang diperoleh sebesar 95,40% untuk teknik voltammetri, dan 95,29% untuk spektrofotometri UV-Vis, dengan nilai t hitung sebesar 0,0082 lebih kecil dari t tabel 4,303, menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua metode sehingga sensor dinyatakan valid untuk analisis dopamin dalam sampel nyata.
PENGARUH DOPING GANDA ION MG2+ DAN ZN2+ TERHADAP STRUKTUR DAN BIOAKTIVITAS BIFASIK KALSIUM FOSFAT
Bifasik kalsium fosfat (BCP), material komposit yang tersusun dari hidroksiapatit (HAp, Ca10(PO4)6(OH)2) dan ?-trikalsium fosfat (?-TCP, ?-Ca3(PO4)2) merupakan biomaterial alloplastik kandidat bone graft untuk prosedur socket preservation pada kasus kehilangan gigi. Namun, BCP konvensional belum sepenuhnya menyerupai apatit biologis yang mengandung berbagai ion substituen, sehingga modifikasi BCP melalui substitusi ion Ca2+ dengan ion Mg2+ dan Zn2+ perlu dilakukan untuk meningkatkan reaktivitas dan bioaktivitasnya. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh dopan ganda Mg2+/Zn2+ terhadap struktur, keseimbangan fase, dan bioaktivitas in vitro BCP. BCP disintesis melalui metode mekanokimia dengan komposisi 60% (b/b) HAp + 40% (b/b) ?-TCP dan disinter pada 800 °C selama 4 jam. Pada sampel BCP, konsentrasi ion Mg2+ divariasikan sebesar 1; 2,5; dan 5 mol% serta ion Zn2+ dipertahankan pada 2 mol%. Analisis Rietveld refinement dari data Powder X-ray diffraction powder (PXRD) menunjukkan bahwa dopan ion Mg2+ dan Zn2+ berhasil mensubstitusi ion Ca2+ pada struktur BCP, menyebabkan kontraksi parameter kisi. Doping tunggal ion Mg2+ meningkatkan transformasi sebagian fase HAp menjadi ?-TCP, sedangkan doping ganda Mg2+/Zn2+ mampu mempertahankan keseimbangan fase HAp dan ?-TCP yang mendekati BCP non- dopan. Uji bioaktivitas in vitro dalam larutan simulated body fluid (SBF) selama 28 hari menunjukkan bahwa sampel BCP-Mg2,5Zn2 menghasilkan peningkatan fraksi massa HAp tertinggi sebesar 7,01%, disertai pembentukan lapisan bone-like apatite yang tebal dan homogen, serta meningkatnya rasio (Ca+Mg+Zn)/P di permukaan menjadi 1,84 berdasarkan analisis SEM-EDX. Analisis AAS terhadap larutan SBF pasca perendaman menunjukkan perubahan konsentrasi ion Ca2+ yang mengindikasikan berlangsungnya mekanisme dissolution–reprecipitation selama pembentukan lapisan apatit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa doping ganda ion Mg2+ dan Zn2+ memberikan efek sinergis dalam mempertahankan keseimbangan fase sekaligus meningkatkan kemampuan pembentukan apatit pada BCP, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai material bone graft sintetik untuk aplikasi socket preservation.
TATACARA PEMBAGIAN ATAU PENGKAPLINGAN TANAH DALAM SISTEM PERTANAHAN MENGGUNAKAN HUKUM ADAT DI KASEPUHAN CIPTAGELAR
Urusan tanah merupakan suatu hal yang penting bagi kehidupan kita. Karena tanah merupakan alas tempat kita tinggal dan bagi beberapa orang, tanah merupakan sumber penghidupannya. Begitu juga seperti yang dirasakan oleh warga adat Kasepuhan Ciptagelar. Bagi mereka tanah merupakan urusan "hidup-mati", karena mereka hidup bergantung pada alam. Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar memiliki kebiasaan yaitu melakukan perpindahan lokasi tempat tinggal (semi nomaden). Tempat tinggal atau lokasi tanah untuk mendirikan rumah dan lokasi untuk menggarap sawah pasti menjadi hal yang utama, mengingat mereka akan tinggal di tempat/daerah baru yang belum ada kepemilikan atas tanah pada tempat baru tersebut. Bagaimana tata cara pembagian tanah disana dan apa yang dijadikan batas antar suatu bidang tanah dengan tanah yang lainnya? Hal itu merupakan suatu hal yang penting dalam perolehan sebidang tanah garapan di Kasepuhan Ciptagelar. Diperlukan penelusuran mengenai aturan/hukum tentang pertanahan adat khususnya yang berkaitan dengan pembagian tanah, juga dilakukan penelusuran batas untuk setiap bidang tanah, dan mengetahui status tanah pada bidang garapan. Setelah itu dilakukan analisis dengan membandingkannya dengan konsep batas dan pengukurannya, juga terhadap hak-hak mengenai kepemilikan atas sebidang tanah garapan. Dari analisis yang dilakukan maka didapatkan suatu kesimpulan mengenai pembagian tanah di Kasepuhan Ciptagelar. Dan akan semakin jelas mengenai karakteristik pertanahan adat di Kasepuhan Ciptagelar yang meliputi identifikasi batas, status tanah, dan juga aturan/hukum adat yang mengatur tentang pembagian tanah adat di Kasepuhan Ciptagelar.
PENGEMBANGAN ZEOLIT ZSM-48 BERPORI HIERARKIS DIBANTU MIKROKRISTAL SELULOSA SEBAGAI KATALIS PADA PERENGKAHAN MINYAK TAMANU MENJADI BIOGASOLIN RON >100
Urgensi krisis bahan bakar fosil, khususnya bensin, terus meningkat seiring pertumbuhan konsumsi energi global. Hal ini mendorong peningkatan permintaan biogasolin sebagai alternatif bahan bakar terbarukan, sekaligus memacu pengembangan katalis yang lebih efisien dalam proses produksinya. Zeolit merupakan salah satu katalis yang umum digunakan dalam reaksi perengkahan katalitik untuk menghasilkan biogasolin karena memiliki selektivitas produk yang tinggi serta stabilitas termal yang baik. Di antara berbagai jenis zeolit, ZSM-48 dinilai paling berpotensi karena selektif terhadap fraksi gasolin dan memiliki situs asam moderat. Namun demikian, kadar fraksi gasolin yang dihasilkan dan nilai Research Octane Number (RON) masih perlu ditingkatkan untuk memenuhi standar bahan bakar yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menyintesis zeolit ZSM-48 berpori hierarkis sebagai katalis reaksi perengkahan yang mampu menghasilkan fraksi gasolin dengan RON tinggi. Sintesis dilakukan melalui metode bottom- up dengan memanfaatkan mikrokristal selulosa sebagai mesoporogen dalam empat variasi zeolit yakni zeolit tanpa penambahan mikrokristal selulosa (MC0), penambahan 1 gram mikrokristal selulosa (MC1), penambahan 2 gram mikrokristal selulosa (MC2) dan penambahan 4 gram mikrokristal selulosa (MC4). Katalis yang dihasilkan dikarakterisasi menggunakan X?Ray Diffraction (XRD), Fourier Transform Infrared (FTIR), Isoterm Fisisorpsi Nitrogen, Scanning Electron Microscopy (SEM), serta Transmission Electron Microscopy (TEM). Performa katalitik diuji melalui reaksi perengkahan minyak tamanu sebagai umpan minyak nabati. Produk cair hasil reaksi dianalisis dengan Gas Chromatography–Mass Spectrometry (GC-MS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa zeolit MC0 menghasilkan fraksi gasolin sebesar 92,23% (m/m), kadar aromatik 38,00% (v/v), dan RON 94. Sementara itu, zeolit MC2 meningkatkan fraksi gasolin menjadi 96,63% (m/m), kadar aromatik 39,72% (v/v), dan RON hingga 106. Penelitian ini menunjukkan bahwa pori hierarkis berperan signifikan dalam meningkatkan performa katalitik zeolit ZSM-48.
ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA BIOAKTIF DARI KAYU BATANG DEHAASIA CAESIA SERTA UJI AKTIVITAS ANTIDIABETES SEBAGAI INHIBITOR ENZIM ?-GLUKOSIDASE
Diabetes melitus (DM) merupakan gangguan metabolik kronis yang ditandai oleh kondisi hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Peningkatan prevalensi diabetes secara global serta tingginya jumlah kasus di Indonesia menunjukkan urgensi pengembangan agen antidiabetes yang lebih efektif dan aman. Salah satu pendekatan dalam pengendalian hiperglikemia, khususnya setelah makan, adalah melalui inhibisi enzim ?-glukosidase yang berperan dalam hidrolisis karbohidrat menjadi glukosa. Namun, penggunaan inhibitor ?-glukosidase komersial sering dikaitkan dengan efek samping gastrointestinal, sehingga mendorong pencarian alternatif yang lebih aman dari sumber bahan alam. Dalam hal ini, produk alami menjadi sumber yang menjanjikan karena keragaman struktur kimianya memungkinkan berbagai aktivitas biologis. Salah satu tumbuhan yang berpotensi adalah genus Dehaasia dari famili Lauraceae. Beberapa spesies Dehaasia telah dilaporkan mengandung alkaloid, seperti kelompok benzilisokuinolin, bisbenzilisokuinolin, aporfin, bisaporfin, fenantren, dan morfinan, yang diketahui menunjukkan aktivitas sitotoksik, antiplasmodial, antibakteri, dan antioksidan. Salah satu spesies yaitu Dehaasia caesia tersebar di Sumatera, Indonesia. Kayu D. caesia telah dimanfaatkan sebagai bahan bangunan serta daunnya digunakan secara tradisional untuk mengobati infeksi mikroba dan bisul. Meskipun demikian, kajian fitokimia terhadap spesies ini masih terbatas. Oleh karena itu, maka penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan melakukan karakterisasi metabolit sekunder dari kayu batang Dehaasia caesia serta mengevaluasi aktivitas antidiabetesnya melalui uji inhibisi enzim ?-glukosidase. Dalam penelitian ini, kayu batang D. caesia diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut aseton. Ekstrak aseton diuapkan pelarutnya menggunakan rotary evaporator, dan ekstrak pekat aseton kemudian dipisahkan dan dimurnikan melalui kromatografi cair vakum (KCV), kromatografi kolom gravitasi (KKG), dan kromatografi radial (KR). Senyawa hasil isolasi selanjutnya diuji kemurniannya menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) menggunakan tiga eluean yang berbeda. Struktur senyawa ditentukan berdasarkan data spektroskopi, yang meliputi data 1D-NMR dan 2D-NMR serta pengukuran putaran optik. Aktivitas antidiabetes dari ekstrak aseton dan senyawa hasil isolasi selanjutnya dievaluasi secara in vitro melalui inhibisi enzim ?-glukosidase. Pada penelitian ini dua senyawa berhasil diisolasi, yaitu turunan neolignan yaitu 7S,8R-licarin A dan turunan lignan yaitu asam dihidroguaiaretat. Meskipun kedua senyawa tersebut telah dilaporkan dari berbagai spesies anggota famili Lauraceae, Myristicaceae, Aristolochiaceae, dan Zygophyllaceae, tetapi penelitian ini merupakan laporan pertama keberadaan kedua senyawa tersebut pada kayu batang Dehaasia caesia Indonesia. Selanjutnya, evaluasi aktivitas antidiabetes melalui uji inhibisi enzim ?-glukosidase menunjukkan bahwa ekstrak kayu batang, 7S,8R-licarin A dan meso-asam dihidroguaiaretat memiliki aktivitas penghambatan yang rendah terhadap enzim maltase dan sukrase pada konsentrasi 100,0 ?M. Persentase penghambatan terhadap maltase berturut-turut sebesar 13,11%, 12,03%, dan 25,07%, sedangkan terhadap sukrase sebesar 13,99%, 17,76%, dan 23,22%. Dibandingkan dengan nilai persentase penghambatan senyawa akarbosa (kontrol positif) pada konsentrasi 12,5 ?M (senyawa kontrol) terhadap maltase dan sukrase yang menunjukkan nilai berturut-turut yaitu 67,39 dan 47,42, maka ekstrak kayu batang, 7S,8R-licarin A, serta meso-asam dihidroguaiaretat memiliki aktivitas lemah. Berdasarkan penelusuran literatur, aktivitas inhibisi ?-glukosidase dari 7S,8R-licarin A dan meso-asam dihidroguaiaretat dilaporkan untuk pertama kalinya dalam penelitian ini.
SEL SURYA PEROVSKITE, PASTA KARBON, POLYVINYLIDENE FLUORIDE, FREE-STANDING ?
Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat besar karena berada di wilayah khatulistiwa dan menerima paparan sinar matahari sepanjang tahun. Potensi energi matahari di Indonesia diperkirakan mencapai 4,8 kWh/m²/hari dan jika dikonversikan setara dengan 112.000 GWp berdasarkan luas lahan yang tersedia. Pengembangan teknologi konversi energi surya menjadi salah satu langkah strategis untuk mendukung transisi energi berkelanjutan. Salah satu teknologi yang berkembang pesat adalah sel surya perovskite karena memiliki efisiensi tinggi, proses fabrikasi sederhana, serta biaya produksi yang relatif rendah. Pada sel surya perovskite konvensional, elektroda logam mulia seperti emas masih umum digunakan sebagai elektroda belakang, namun biaya yang tinggi dan proses fabrikasi yang kompleks menjadi tantangan dalam pengembangan perangkat skala besar. Penggunaan elektroda karbon pada sel surya perovskite tanpa hole transport layer (HTL-free PSC) menjadi alternatif yang menjanjikan karena karbon memiliki fungsi kerja yang sesuai dengan pita valensi perovskite serta biaya yang jauh lebih rendah. Akan tetapi, performa elektroda karbon sangat dipengaruhi oleh formulasi pasta karbon, khususnya terkait struktur, konduktivitas, serta kualitas antarmuka dengan lapisan perovskite. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh parameter formulasi pasta karbon berbasis PVDF terhadap karakteristik struktur dan sifat listrik elektroda karbon, serta mengevaluasi performa pasta karbon tersebut pada sel surya perovskite tanpa HTL dibandingkan dengan pasta karbon komersial. Variasi yang dikaji meliputi perlakuan termal pada carbon black, jenis pelarut PVDF, temperatur annealing pasta karbon, serta komposisi karbon dan PVDF. Elektroda karbon disintesis menggunakan campuran grafit dan carbon black dengan rasio 3:1 dan binder PVDF. Sel surya perovskite difabrikasi menggunakan substrat fluorine-doped tin oxide (FTO), lapisan electron transport layer (ETL) SnO?, serta lapisan aktif methylammonium lead iodide (MAPbI?). Berbeda dengan metode konvensional, elektroda karbon dibuat secara free-standing kemudian diaplikasikan ke atas lapisan perovskite melalui proses hot pressing. Karakterisasi dilakukan menggunakan Raman spectroscopy, Four-Point Probe (FPP), Electrochemical Impedance Spectroscopy (EIS), pengukuran arus-tegangan (I–V), serta External Quantum Efficiency (EQE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter formulasi pasta karbon berbasis PVDF memberikan pengaruh yang signifikan terhadap struktur dan sifat listrik elektroda karbon. Analisis Raman menunjukkan bahwa perlakuan termal, jenis pelarut, temperatur annealing, dan komposisi karbon memengaruhi tingkat keteraturan struktur karbon yang ditunjukkan oleh perubahan rasio intensitas pita D terhadap pita G (ID/IG). Perlakuan termal pada carbon black mampu meningkatkan kualitas struktur karbon yang ditandai dengan munculnya puncak 2D pada spektrum Raman serta penurunan hambatan lembar dari 15,1 ?/sq menjadi 2,7 ?/sq. Pada variasi pelarut, dimethylformamide (DMF) menghasilkan pasta karbon yang lebih homogen dibandingkan ethyl acetate, dengan nilai hambatan lembar lebih rendah sebesar 6 ?/sq serta nilai resistansi seri (Rs) dan resistansi transfer muatan (Rct) yang lebih kecil. Variasi temperatur annealing menunjukkan bahwa suhu 120°C menghasilkan struktur karbon paling teratur dengan nilai ID/IG terendah sebesar 0,73, sedangkan temperatur 80°C memberikan karakteristik transport muatan terbaik berdasarkan nilai Rct sebesar 86,3 ? dan konduktivitas sebesar 26,3 S/cm. Pada variasi komposisi karbon, peningkatan kandungan karbon meningkatkan konduktivitas listrik dan menurunkan hambatan lembar elektroda. Komposisi 90 wt% menghasilkan konduktivitas tertinggi sebesar 26,3 S/cm dengan hambatan lembar terendah sebesar 2,7 ?/sq, namun komposisi 85 wt% memberikan keseimbangan terbaik antara nilai Rs, Rct, konduktivitas, dan stabilitas transport muatan sehingga menjadi kondisi optimum untuk aplikasi elektroda karbon pada PSC. Pengujian performa perangkat menunjukkan bahwa sel surya perovskite tanpa HTL berbasis pasta karbon PVDF masih memiliki performa yang lebih rendah dibandingkan pasta karbon komersial. Variasi terbaik diperoleh pada komposisi karbon 85 wt% dengan nilai Voc sebesar 0,427 V, Jsc sebesar 11,223 mA/cm², fill factor (FF) sebesar 30,93%, dan efisiensi konversi daya (PCE) sebesar 1,48%. Hasil analisis EQE dan respon spektral menunjukkan tren yang sejalan dengan pengukuran I–V, di mana komposisi 85 wt% juga menghasilkan nilai EQE maksimum dan spectral response tertinggi, masing-masing sebesar 41,31% dan 0,186 A/W. Hasil ini menunjukkan bahwa komposisi tersebut memiliki kemampuan paling baik dalam proses penyerapan cahaya, pembentukan pembawa muatan, serta konversi energi cahaya menjadi arus listrik. Meskipun demikian, nilai PCE yang diperoleh masih relatif rendah. Hal ini diduga dipengaruhi oleh rekombinasi muatan, hambatan transport muatan, serta degradasi antarmuka antara elektroda karbon dan lapisan perovskite selama proses hot pressing pada temperatur 90°C di luar glovebox. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan degradasi termal dan paparan oksigen pada lapisan MAPbI?, sehingga meningkatkan trap-assisted recombination dan menurunkan kualitas ekstraksi muatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa optimasi komposisi pasta karbon dan parameter fabrikasi elektroda memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas transport muatan dan performa sel surya perovskite berbasis karbon berbiaya rendah.
ANALISIS GLUKOSA MENGGUNAKAN ELEKTRODA PASTA KARBON TERMODIFIKASI RGO DAN PADUAN LOGAM CUNI
Diabetes merupakan salah satu gangguan metabolik dengan tren prevalensi yang terus melonjak secara global, dan Indonesia menjadi salah satu negara dengan penderita diabetes terbanyak di dunia. Penyakit ini diakibatkan oleh ketidakmampuan insulin dalam mengontrol kadar glukosa dalam tubuh, hal ini dapat memicu komplikasi menyeluruh pada berbagai sistem tubuh, baik pada jaringan mikrovaskular maupun makrovaskular. Oleh karena itu, pengembangan metode analisis glukosa yang handal dan cepat dengan sensitivitas, selektivitas dan stabilitas yang tinggi sangat dibutuhkan untuk mencegah dan mengurangi terjadinya komplikasi pada penderita diabetes. Sensor elektrokimia berbasis non-enzimatik menjadi salah satu metode yang banyak digunakan, dimana pada sistem ini elektroda kerja memegang peranan penting karena sangat mempengaruhi proses transfer elektron dan aktivitas katalitik selama reaksi oksidasi glukosa berlangsung. Elektroda yang banyak dikembangkan saat ini adalah elektroda pasta karbon (EPK) karena mudah difabrikasi, ekonomis, serta mudah dimodifikasi. Oleh karena itu pada penelitian ini, EPK akan dimodifikasi menggunakan rGO dan Paduan Logam CuNi untuk meningkatkan performa kinerjanya. Penggunaan rGO dapat meningkatkan transfer elektron serta memperbanyak situs aktif karena memiliki luas permukaannya yang besar. Di sisi lain, paduan logam transisi seperti Cu dan Ni diketahui memiliki aktivitas elektrokatalitik yang baik terhadap oksidasi glukosa pada media alkali. Logam Ni berperan sebagai pusat aktif redoks melalui pembentukan spesies NiOOH yang mampu mengoksidasi glukosa, sedangkan Logam Cu berperan dalam meningkatkan mobilitas elektron dan memodifikasi struktur elektronik Ni sehingga kinetika transfer elektron menjadi lebih optimal. Pertama, modifikasi EPK dengan rGO secara elektrodeposisi menggunakan Cyclic Voltammetry (CV) pada potensial tetap -1,0 V, selama 120 s sebanyak 15 siklus. Selanjutnya paduan logam CuNi dideposisikan dengan metode yang sama dengan perbandingan komposisi optimum CuNi 20:80 mM pada potensial tetap -0,6 V, selama 100s. Keberhasilan modifikasi pada permukaan elektroda dikonfirmasi melalui hasil karakterisasi menggunakan FT-IR, Raman, XRD dan SEM-EDS serta evaluasi kinerjanya menggunakan voltammetri. Berdasarkan hasil kinerjanya, EPK/rGO/CuNi memiliki sensitivitas yang baik dalam menganalisis glukosa. EPK/rGO/CuNi memiliki nilai batas deteksi dan batas kuantifikasi pada 3 daerah linier secara berturut-turut adalah sebesar 0,018 µM dan 0,062 µM (0,1–1 µM), 4,849 µM dan 16,166 µM (1–100 µM), kemudian 90,44 µM dan 301,468 µM (100–1000 µM µM). EPK/rGO/CuNi juga memiliki selektivitas yang baik dalam analisis glukosa, dimana elektroda mampu mempertahankan respons arus yang stabil bahkan dengan keberadaan senyawa seperti NaCl, KCl, MgCl2, CaCl2 dan Urea hingga rasio konsentrasi analit terhadap senyawa pengganggu tersebut sebesar 1 : 1000 µM. Selain itu, EPK/rGO/CuNi juga mampu meminimalkan efek gangguan senyawa Asam Askorbat, Asam Urat dan Dopamine hingga rasio konsentrasi 1:100 µM secara efektif. Selanjutnya, EPK/rGO/CuNi memiliki stabilitas yang baik dengan hasil uji kebolehulangan 10 elektroda, serta satu elektroda dapat digunakan hingga 40 kali pengulangan, dengan nilai %RSD secara berturut-turut 3,89% dan 0,93%. Selain itu, EPK/rGO/CuNi juga dapat disimpan hingga 14 hari dengan %RSD 2,92% dengan perolehan arus 92,60% menunjukkan bahwa modifikasi permukaan elektroda tidak mengalami degradasi yang signifikan selama waktu tersebut. Pengukuran kadar glukosa secara voltammetri telah divalidasi menggunakan spektrofotometri UV-Vis, dibuktikan dengan nilai thitung < ttabel yaitu 1,665 < 4,303, yang artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua metode tersebut. Hasil pengukuran konsentrasi glukosa pada sampel nyata serum HumaTrol N dari hasil lifofilisasi dan stabilisasi serum sapi yaitu 0,108 mg/dL dengan %R 107,647. Hasil pengukuran ini telah memenuhi nilai target yang ditetapkan oleh produsen dengan %R yaitu 98,18%. Dengan demikian, kombinasi rGO dan paduan logam CuNi sebagai modifikasi EPK menghasilkan sensor elektrokimia non-enzimatik yang sensitif, selektif dan stabil untuk aplikasi analisis glukosa, dan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut.
PENGENDALIAN TRANSFORMASI STRUKTUR LAYERED-SPINEL PADA KATODA LI-RICH UNTUK PENINGKATAN STABILITAS SIKLUS PADA SUHU TINGGI
Li1,2Ni0,13Co0,13Mn0,54O2 (Li-rich) merupakan salah satu kandidat material katoda yang menjanjikan di masa depan karena mempunyai kapasitas spesifik tinggi (>200 mAh g-1). Hal ini karena Li-rich mempunyai aktivitas redoks anionik yang berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas spesifik. Selain itu, Li-rich mempunyai rentang tegangan kerja yang lebar (2-4,8 V) sehingga dapat meningkatkan densitas energi. Kelebihan lainnya ialah Li-rich lebih ramah lingkungan dan biaya produksinya rendah karena sedikitnya penggunaan ion kobalt. Akan tetapi, Li-rich mempunyai beberapa kelemahan, seperti rendahnya nilai kolumbik efisiensi pada siklus awal, penurunan tegangan (voltage decay), dan degradasi struktural sehingga menghambat stabilitas siklus. Pendekatan umum yang telah dilakukan untuk mengatasi kelemahan tersebut ialah pelapisan permukaan (coating) dan doping ionik. Namun, pendekatan ini membutuhkan prekursor tambahan serta proses sintesis yang kompleks. Dengan demikian, pendekatan alternatif seperti rekayasa evolusi struktur sangat diperlukan, salah satunya melalui kontrol parameter kalsinasi yang menghasilkan transformasi fase spinel secara in situ pada struktur layered Li-rich. Penelitian ini melaporkan mengenai integrasi fase spinel pada Li-rich yang dikontrol melalui variasi waktu kalsinasi (6-12 jam dengan interval 2 jam) untuk mempelajari pembentukan komposisi fase spinel pada Li-rich serta performa elektrokimianya. Hasil karakterisasi Raman menunjukkan bahwa material Li-rich layered-spinel terdiri dari fase layered C2/m Li2MnO3, layered R-3m LiMO2, dan spinel Fd-3m Li4Mn5O12. Hasil karakterisasi X-ray diffraction (XRD) menunjukkan bahwa material Li-rich layered-spinel mempunyai struktur utama layered ?-NaFeO2 dengan fase grup R-3m dan monoklinik dengan fase grup C2/m. Adapun keberadaan fase spinel dengan fase grup Fd-3m diidentifikasi melalui shoulder peak pada puncak (101) dan puncak kecil dekat (110) di sudut 37° dan 65°. Hasil analisis Rietveld refinement menunjukkan bahwa pemanjangan waktu kalsinasi meningkatkan komposisi pembentukan spinel Fd-3m Li4Mn5O12, dengan komposisi tertinggi sebesar 11,1 wt% pada sampel dengan waktu kalsinasi 12 jam. Lebih lanjut, morfologi partikel yang terbentuk semi-bulat tajam dengan ukuran partikel primer 140–480 nm. Ukuran partikel primer mengalami peningkatan seiring dengan pemanjangan waktu kalsinasi. Hasil analisis high-resolution transmission electron microscopy (HRTEM) menunjukkan bahwa pemanjangan waktu kalsinasi meningkatkan ketebalan lapisan spinel di permukaan, dari ~0,76 nm pada sampel dengan waktu kalsinasi 6 jam menjadi ~3,86 nm pada sampel dengan waktu kalsinasi 12 jam. Hasil ini sesuai dengan analisis Rietveld refinement. Selanjutnya, analisis charge-discharge menunjukkan bahwa peningkatan komposisi fase spinel menyebabkan penurunan kapasitas spesifik karena perubahan kontribusi dari rasio redoks anionik/kationik. Namun demikian, peningkatan komposisi fase spinel menyediakan jalur difusi ion 3D yang lebih efisien, sehingga mengurangi hambatan transfer muatan, seperti yang ditunjukkan oleh analisis electrochemical impedance spectroscopy (EIS). Sampel dengan waktu kalsinasi selama 6 jam mempunyai nilai hambatan transfer muatan sebesar 210,78 ?, sedangkan sampel dengan waktu kalsinasi 12 jam menurun menjadi sebesar 81,56 ?. Hal ini mendukung pengujian rate capability, sehingga sampel dengan waktu kalsinasi selama 12 jam mempunyai performa lebih tinggi dalam mempertahankan kapasitas pada densitas arus 5C. Sampel dengan waktu kalsinasi selama 12 jam mempunyai performa stabilitas siklus paling stabil dibandingkan dengan sampel lainnya karena mampu mempertahankan retensi kapasitas sebesar 87,54% pada suhu ruang dan 82,32% pada suhu operasi 50 °C setelah 200 siklus dengan densitas arus 0,5C. Hal ini menunjukkan bahwa pemanjangan waktu kalsinasi dapat meningkatkan komposisi fase spinel yang terintegrasi pada Li-rich, sehingga mampu meningkatkan stabilitas siklus dan kinetika difusi ion, khususnya pada kondisi suhu tinggi.
ANALISIS SPASIAL LOKASI SUMUR BOR DI WILAYAH PESISIR ( STUDI KASUS : LOKASI PEMBORAN RANCA JAWA RCJ-B )
Sebaran cadangan minyak bumi dan gas di Indonesia pada umumnya berada di wilayah pesisir. Kebutuhan akan energi terus bertambah seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Sebagai sumber daya alam yang tidak dapat pulih (non-renewable resources) dan suatu saat akan habis, maka dalam pencarian dan pemanfaatan cadangan minyak bumi harus dilakukan secara efektif dan efisien. Untuk mengetahui lokasi titik bor dan jalan akses menuju sumur bor, dilakukan identifikasi titik bor. Peta teknis lokasi diperoleh dengan cara melakukan pemetaan topografi. Untuk mengetahui objek-objek geografi dilakukan analisis spasial. Objek-objek geografi tersebut antara lain sungai, empang, rumah. Desain lokasi sumur bor dibuat tiga alternatif yaitu: alternatif 1 mempertimbangkan jarak terpendek; alternatif 2 mempertimbangkan luas pembebasan lahan; alternatif 3 menghindari pembangunan jembatan, mempertimbangkan jarak terpendek dan mempertimbangkan luas pembebasan lahan, sehingga terjadi pergeseran titik bor. Analisis penelitian dilakukan dengan membandingkan ketiga model desain alternatif dalam hal pekerjaan tanah dan luas pembebasan. Hasil penelitian ini diperoleh pekerjaan tanah untuk alternatif 1 adalah 59733 m3 (fill), alternatif 2 adalah 65793 m3 (fill) dan alternatif 3 adalah 65250 m3 (fill) serta luas pembebasan lahan alternatif 1 adalah 32040 m2, alternatif 2 adalah 23454 m2 dan alternatif 3 adalah 15467 m2. Desain lokasi sumur bor dan jalan akses yang paling optimum adalah alternatif 3.