📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

PEMANFAATAN DATA INTERSITAS AKUSTIK DARI ALAT UKUR ARUS HIDRO AKUSTIK DOPPLER UNTUK PENENTUAN KEDALAMAN

Tugas akhir ini membahas kemampuan pendeteksian kedalaman menggunakan intensitas gelombang akustik terekam dari alat ukur arus Aquadopp. Perubahan maksimum intensitas terekam yang datang dari batas dua medium yang berbeda (kolom air dan dasar perairan) diidentifikasi sebagai dasar perairan. Intensitas yang digunakan untuk mendeteksi kedalaman merupakan intensitas terekam ratarata dari ketiga transduser dan telah dikonversi ke satuan dB. Perbedaan hasil ukuran kedalaman antara Aquadopp dengan perum gema digunakan untuk menguji kualitas Aquadopp. Pemodelan kesalahan pengukuran perum gema akibat geometri pancaran, yang besarnya merupakan fungsi dari kedalaman dan kemiringan dasar perairan, dibuat untuk memperkirakan kemampuan pendeteksian kedalaman perum gema. Dari model kesalahan yang dibuat ini didapatkan hasil bahwa kesalahan pengukuran perum gema sebesar 0.01m pada kedalaman 2.1m dan kemiringan 1.9°. Dari selisih rata-rata absolut didapatkan nilai sebesar 0.53m yang mengindikasikan bahwa pengukuran kedalaman Aquadopp tidak lebih baik dibandingkan dengan pengukuran kedalaman perum gema. Dengan melihat hubungan antara besar selisih kedalaman Aquadopp terhadap kedalaman dan kemiringan dasar perairan, dapat disimpulkan bahwa selisih pengukuran kedalaman Aquadopp dipengaruhi lemah oleh kedalaman dasar perairan dengan R = 0.61.

2026
👤 Penulis: Ryan Febriandani
🏷️ Integrasi Data Akustik 🏷️ Analisis Kedalaman Air 🏷️ Hidrologi Elektronika

EVALUASI KOMPARATIF ENERGY TRANSFER STATION PADA SISTEM DISTRICT COOLING BERBASIS KONEKSI LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG MELALUI SIMULASI MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK OPENMODELICA

Kebutuhan pendinginan pada kawasan kampus dengan beban termal besar dan berubah sepanjang waktu memerlukan sistem pendinginan yang efisien, andal, serta mampu menjaga kondisi operasi gedung. District Cooling System (DCS) menjadi salah satu alternatif melalui penyediaan air dingin secara terpusat, sedangkan Energy Transfer Station (ETS) berperan penting dalam menentukan performa perpindahan panas dan distribusi aliran antara jaringan district dengan sistem gedung. Oleh karena itu, evaluasi konfigurasi ETS diperlukan untuk memperoleh rancangan yang sesuai bagi penerapan DCS pada kawasan kampus. Kajian ini membandingkan lima konfigurasi ETS pada DCS untuk empat Gedung Laboratorium Teknologi Institut Teknologi Bandung, yaitu Koneksi langsung serta Koneksi tidak langsung menggunakan Plate Heat Exchanger (PHE) dengan aliran counterflow, parallelflow, dan Shell and Tube (S&T). Model disusun menggunakan OpenModelica dan disimulasikan selama 24 jam dengan interval satu jam berdasarkan profil beban pendinginan dinamis. Evaluasi dilakukan terhadap temperatur suplai dan balik, penurunan tekanan, selisih kapasitas kalor, nilai UA, serta keseimbangan massa dan hidraulik pada header suplai dan balik melalui turunan persamaan Navier-Stokes. Konfigurasi Koneksi langsung menghasilkan temperatur suplai 4.40-4.46 °C dan temperatur balik 10.41-12.35 °C. PHE Counterflow menghasilkan temperatur suplai 4.63-7.06 °C dan temperatur balik 11.33-13.4 °C dengan approach temperature 0.23-2.66 °C. Penurunan tekanan pada sisi gedung dan district berturut-turut sebesar 5.26-40 kPa dan 7.35-40.78 kPa, selisih kapasitas kalor sebesar 23.08-15,189.30 W/K, serta nilai UA sebesar 304.403-669.417 W/K. PHE Parallelflow menghasilkan temperatur suplai 5.87-17.33 °C dan temperatur balik 7-25.67 °C dengan penurunan tekanan 3.6-10.33 kPa pada sisi gedung dan 2.93-12.2 kPa pada sisi district. Nilai UA yang diperoleh sebesar 43,693.90-104,206 W/K. Konfigurasi S&T menghasilkan temperatur suplai 7.65-18.03 °C dan temperatur balik 10.21-28.29 °C, dengan penurunan tekanan 2.60-9.05 kPa pada sisi gedung dan 35.50-94.76 kPa pada sisi district. Seluruh konfigurasi menunjukkan keseimbangan massa dan hidraulik yang stabil pada header suplai dan balik. PHE Counterflow dipilih sebagai konfigurasi paling optimal.

2026
👤 Penulis: Aliyah Shafina
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

STUDI PENGARUH DOPING LOGAM ALKALI TANAH TERHADAP LAJU REKOMBINASI NON-RADIATIF PADA MATERIAL ABSORBER SEL SURYA CU2ZNSNS4

Material absorber sel surya Cu2ZnSnS4 (copper zinc tin sulfide, CZTS) merupakan salah satu material sel surya film tipis dengan potensi besar. Salah satu tantangan dari material ini adalah terbatasnya efisiensi karena rekombinasi non-radiatif dan efek band tailing yang disebabkan oleh cacat kisi intrinsik. Doping dengan logam alkali tanah dapat menurunkan konsentrasi cacat intrinsik, tetapi juga berpotensi untuk menjadi pusat rekombinasi. Perhitungan teori fungsional kerapatan menunjukkan bahwa dopan pada situs interstitial akan menyebabkan munculnya suatu defect state di tengah celah pita yang memungkinkan terjadinya rekombinasi non-radiatif. Dilakukan kalkulasi rekombinasi non-radiatif dalam batasan aproksimasi harmonik untuk vibrasi kisi. Hasil kalkulasi menunjukkan bahwa transisi (+1/0) pada dopan berilium memiliki penampang lintang tangkapan elektron yang besar, tetapi tidak memilki jalur rekombinasi hole secara non-radiatif. Sedangkan, transisi (+2/+1) pada dopan magnesium memiliki nilai koefisien dan penampang lintang yang cukup besar baik untuk penangkapan elektron dan hole sehingga memiliki jalur rekombinasi non-radiatif yang penuh. Hasil ini menunjukkan bahwa dopan berilium dan magnesium berpotensi menjadi pusat rekombinasi sedangkan kalsium cenderung kurang aktif dalam proses rekombinasi, sehingga memiliki potensi baik untuk digunakan sebagai dopan.

2026
👤 Penulis: Anarga Paritrana Widhi
🏷️ Kemurnian Material Sel Surya 🏷️ Rekombinasi Non-Radiatif 🏷️ Doping Logam Alkali Tanah

ADSORPSI ION PB(II) MENGGUNAKAN ADSORBEN GELATIN TERMODIFIKASI GLIOKSAL DAN MAGNETIT

Pencemaran logam berat, seperti timbal, di lingkungan perairan merupakan masalah serius yang dipicu oleh aktivitas industri. Ion Pb(II) bersifat toksik sehingga dapat membahayakan kesehatan manusia dan ekosistem. Salah satu metode yang efektif, murah, dan ramah lingkungan untuk mengatasi permasalahan ini adalah adsorpsi menggunakan material berbasis gelatin. Pada penelitian ini, telah disintesis adsorben berbasis gelatin yang dimodifikasi dengan glioksal sebagai agen pengikat silang dan magnetit (Fe3O4) untuk memberikan sifat magnetik sehingga mempermudah pemisahan adsorben setelah proses adsorpsi. Adsorben gelatin termodifikasi glioksal dan magnetit (gel/gli/Fe3O4) dengan variasi komposisi 1,164 gram gelatin, 0,4 mL glioksal 40% (b/v), dan 0,5 gram magnetit menjadi komposisi optimum adsorben dengan kapasitas dan %adsorpsi sebesar 4,56 mg/g dan 18,40%, serta nilai derajat penggembungan sebesar 126,19% yang menunjukkan peningkatan stabilitas fisik adsorben dalam air. Adsorben gel/gli/Fe3O4 dikarakterisasi menggunakan uji derajat penggembungan, Fourier Transform Infrared (FTIR), Scanning Electron Microscopy-Energy Dispersive X-Ray Spectroscopy (SEM-EDS), X-Ray Diffraction (XRD), dan Transmission Electron Microscopy (TEM). Spektrum FTIR menunjukkan adanya pergeseran bilangan gelombang gugus O–H dan C=O/C=N yang mengindikasikan terbentuknya ikatan silang antara gelatin dan glioksal serta keterlibatan gugus fungsional dalam pengikatan ion Pb(II). Citra SEM menunjukkan perubahan morfologi permukaan adsorben menjadi lebih halus setelah adsorpsi dan pada spektrum EDS terdeteksi unsur Pb setelah proses adsorpsi. Difraktogram XRD mengonfirmasi keberadaan magnetit dalam adsorben yang sesuai dengan standar JCPDS No. 19-0629. Citra TEM menunjukkan struktur internal dari adsorben yang mengonfirmasi terdapat magnetit yang terdispersi di dalam gelatin. Adsorpsi mencapai kondisi optimum pada pH 5, massa adsorben 0,05 gram, dan waktu kontak 120 menit. Adsorpsi mengikuti model kinetika orde satu semu dan isoterm Freundlich. Berdasarkan studi termodinamika, diperoleh bahwa proses adsorpsi berlangsung spontan dengan nilai ??° sebesar –10,28 kJ/mol pada 303 K, endotermik dengan nilai ??° sebesar 68,57 kJ/mol, dan meningkatkan ketidakteraturan sistem dengan nilai ?????° sebesar 260,23 J/mol.K. Kondisi optimum desorpsi dicapai dengan %desorpsi sebesar 95,83% menggunakan larutan pendesorpsi HNO3 0,01 M dalam waktu 0,25 jam. Berdasarkan penelitian ini, adsorben gel/gli/Fe3O4 diharapkan dapat digunakan sebagai adsorben yang lebih ramah lingkungan dan stabil, serta mudah dipisahkan secara magnetik untuk pengolahan limbah logam berat.

2026
👤 Penulis: Elsa Deo Vanni Damanik
🏷️ Adsorpsi Ion Pb(Ii) 🏷️ Gelatin 🏷️ Magnetit

OPTIMASI EKSPRESI GEN PENGKODE ENDOGLUKANASE REKOMBINAN PADA SISTEM RAGI PICHIA PASTORIS

Endoglukanase merupakan enzim yang berperan dalam pemecahan selulosa, komponen utama dinding sel tumbuhan yang melimpah pada biomassa alam. Enzim ini memiliki peran krusial dalam industri kertas, tekstil, pengolahan limbah, dan bioenergi. Namun, produksi endoglukanase secara alami masih terbatas, sehingga pengembangan metode produksi efektif melalui pendekatan bioteknologi sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengekspresikan gen endoglukanase rekombinan menggunakan sistem ragi Pichia pastoris dan mengoptimasi kondisi produksi endoglukanase. Tahapan penelitian meliputi seleksi koloni transforman P. pastoris, induksi ekspresi gen menggunakan variasi konsentrasi metanol 1?3% (v/v) selama 5 hari inkubasi pada kepadatan awal sel OD1 dan OD5. Kuantifikasi protein selanjutnya ditentukan dengan metode Bradford. Aktivitas dilakukan dengan menentukan jumlah gula pereduksi hasil hidrolisis substrat carboxymethyl cellulose (CMC) 1% (b/v) menggunakan metode DNS. Analisis terhadap elektroforegram poliakrilamid SDS-PAGE mengonfirmasi keberhasilan sekresi protein rekombinan dalam sel P. pastoris dengan munculnya pita spesifik berukuran 38 kDa. Pada kelompok OD1, aktivitas spesifik tertinggi diperoleh dari perlakuan metanol 2,5% (v/v) sebesar 8,8 ± 1,2 U/mg, sedangkan pada kelompok OD5 aktivitas spesifik enzim optimal (9,2 ± 0,7 U/mg) diperoleh pada perlakuan metanol 2% (v/v). Oleh karena itu, pengujian fungsional menunjukkan bahwa puncak nilai aktivitas spesifik tertinggi dicapai pada hari ke-2 inkubasi untuk kedua variasi kerapatan sel walaupun pertumbuhan sel ragi paling optimal pada hari ke-4. Sejalan dengan hal tersebut, validasi statistik menggunakan Pareto Plot menegaskan bahwa faktor hari (waktu inkubasi) dan OD (kerapatan awal sel) merupakan dua parameter utama yang memberikan kontribusi paling dominan (Magnitude of Effect) dalam mengontrol fluktuasi aktivitas spesifik enzim endoglukanase rekombinan

2026
👤 Penulis: Luthfanada Adrini
🏷️ Bioteknologi 🏷️ Protein Rekombinan 🏷️ Optimisasi Proses

STUDI KOMPUTASI MEKANISME REAKSI REDUKSI OKSIGEN PADA KATALIS ATOM GANDA JANUS DENGAN VARIASI LINGKUNGAN GRAFITIK UNTUK KATODE SEL TUNAM

Dalam upaya perancangan katalis yang efisien dalam aspek performa dan biaya untuk reaksi reduksi oksigen (ORR) pada katode sel tunam, katalis atom ganda (DAC) janus telah muncul sebagai salah satu kandidat yang menarik karena memiliki struktur yang unik dan aktivitas ORR yang baik. Melalui serangkaian perhitungan teori fungsional kerapatan (DFT), diperoleh adanya peningkatan kestabilan DAC janus pada pinggiran grafitik zigzag, dengan situs aktif ortho yang cenderung lebih stabil dibandingkan situs aktif para. Melalui jalur reduksi empat elektron secara asosiatif, ORR pada DAC janus dimodelkan via adsorpsi O2 mode Pauling dan Yeager pada situs logam ganda, dengan pendekatan computational hydrogen electrode (CHE) untuk mendapatkan potensial onset. Di antara berbagai konfigurasi situs aktif ortho, (CoFe–N3O3)????@????1 menunjukkan kemampuan katalitik terbaik, dengan nilai potensial onset sebesar 0,50 V vs RHE via mekanisme Pauling pada situs Fe, nilai yang mendekati aktivitas katalis berbasis Pt. Meskipun dengan aktivitas ORR yang terbatas pada situs aktif para, keberadaan intermediet ?OH justru dapat mengaktivasi ORR lebih lanjut, dengan performa puncak sebesar 0,42 V vs RHE pada (CoFe–N3O3)????–OH@????1. Temuan ini membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut secara eksperimental maupun teoretis pada area ini, serta memberikan wawasan desain katalis yang strategis dalam aplikasi sel tunam.

2026
👤 Penulis: Teuku Beuraja Laksamana
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGARUH KANDUNGAN ALUMINIUM TERHADAP KINERJA KATALIS ZSM-48 HIERARKIS DENGAN CETAKAN MIKROKRISTAL SELULOSA DALAM PERENGKAHAN MINYAK TAMANU

Ketergantungan pada sumber energi tak terbarukan, seperti bahan bakar fosil semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini. Hal ini mendorong pengembangan bahan bakar bio sebagai sumber energi alternatif dan terbarukan untuk mengatasi masalah tersebut. Minyak tamanu (Calophyllum inophyllum) merupakan minyak nabati non-edible yang sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai sumber bahan bakar bio melalui proses perengkahan katalitik. Zeolit ZSM- 48 menjadi salah satu katalis yang cocok digunakan dalam reaksi perengkahan karena memiliki selektivitas yang tinggi dalam menghasilkan fraksi gasolin. Namun, sistem pori satu dimensi pada ZSM-48 dapat menimbulkan keterbatasan difusi molekul berukuran besar menuju situs aktif dan mempercepat deaktivasi katalis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh variasi rasio Si/Al (25; 50; 100; dan 200) terhadap kinerja katalitik ZSM-48 hierarkis melalui templat mikrokristal selulosa (MC) untuk menghasilkan biogasoline dengan kualitas yang baik dan sesuai dengan acuan Kepdirjen Migas No. 110.K/MG.01/DJM/2022. Karakterisasi katalis yang telah berhasil disintesis dilakukan menggunakan X-ray diffraction (XRD), Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), Scanning Electron Microscope (SEM), Transmission Electron Microscopy (TEM), dan analisis fisisorpsi N2. Produk cair hasil perengkahan dianalisis melalui Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Uji perengkahan katalitik menunjukkan bahwa katalis SAR100 menghasilkan fraksi gasolin sebesar 92,23% (m/m) dengan nilai Research Octane Number (RON) 104 dan kandungan aromatik (36,73% (v/v)), benzena (1,37% (v/v)). Penambahan MC terbukti meningkatkan fraksi gasolin dan nilai RON, dengan perolehan tertinggi dihasilkan oleh katalis SAR100-MC sebesar 96,63% (m/m) dengan nilai RON 106 dan kandungan aromatik (39,72% (v/v)), benzena (1,10% (v/v)). Hasil ini menunjukkan bahwa pembentukan ZSM-48 hierarkis melalui MC dengan rasio optimum Si/Al 100 mampu meningkatkan fraksi gasolin dan kualitas bahan bakar yang dihasilkan dalam perengkahan katalitik minyak tamanu.

2026
👤 Penulis: Nailatul Zahrah Pradiwi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PEMODELAN DAMPAK JARINGAN DAN ANALISIS RISIKO PROBABILISTIK MENGGUNAKAN PENDEKATAN DETERMINISTIK-STOKASTIK BERBASIS DATA HISTORIS PENGGUNAAN LISTRIK UNTUK IMPLEMENTASI INFRASTRUKTUR SPKL CERDAS DI LINGKUNGAN KAMPUS ITB GANESHA

Penyediaan infrastruktur untuk transisi menuju kendaraan listrik (EV) di kampus ITB Ganesha menghadapi kendala keterbatasan infrastruktur pada SPKL yang tersedia serta potensi benturan beban daya dengan beban puncak gedung. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak penambahan beban pengisian EV terhadap stabilitas jaringan listrik kampus, menentukan infrastruktur SPKL optimal yang aman berdasarkan proyeksi penetrasi EV, dan mengevaluasi kelayakan ekonomi proyek peningkatan infrastruktur SPKL. Pemodelan dilakukan melalui pendekatan deterministik-stokastik menggunakan analisis aliran daya Newton-Raphson dan simulasi Monte Carlo berbasis data beban aktual pengukuran konsumsi listrik historis, serta hasil observasi penetrasi EV pada April 2026 di lingkungan kampus ITB Ganesha. Hasil simulasi menunjukkan seluruh skenario aman karena kelistrikan kampus memiliki sisa utilisasi daya sekitar 3.895 kVA saat beban puncak yang setara dengan 56,2% dari total kapasitas suplai 6.930 kVA. Skenario agresif dengan menggunakan 30 unit SPKL berkapasitas diatas 50kW hanya meningkatkan beban transformator maksimum sebesar 19,1% dengan tegangan bus minimum 0,9927 p.u. Implementasi pengisian cerdas berbasis perubahan waktu penggunaan (TOU) terbukti optimal menggeser beban pengisian dan menurunkan nilai Tingkat Pengurangan Efisiensi (EDI) dari 3,7% menjadi 3,3%. Secara finansial, integrasi SPKL tipe AC 22 kW terbukti jauh lebih menguntungkan dengan probabilitas NPV > 0 mencapai 98,2% dibandingkan tipe DC berdaya besar dengan spesifikasi 100 kW ke atas yang menghasilkan NPV negatif akibat beban investasi awal yang terlalu tinggi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keterbatasan utama implementasi SPKL di ITB adalah aspek ekonomis, bukan teknis kelistrikan karena secara kapasitas jaringan yang ada sudah sangat kuat.

2026
👤 Penulis: Muhammad Guinnot Raid Nabihfalah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

NANOKOMPOSIT BIFUNGSIONAL MXENE TI2N/N-CUO SEBAGAI ELEKTROKATALIS REAKSI EVOLUSI HIDROGEN DAN OKSIGEN PADA GLASSY CARBON ELECTRODE

Produksi hidrogen hijau melalui metode pemecahan air secara elektrokatalitik (electrocatalytic water splitting) merupakan solusi strategis untuk mengatasi krisis energi fosil. Water splitting memecah molekul air menjadi gas hidrogen pada sisi katoda dengan reaksi evolusi hidrogen (Hydrogen Evolution Reaction/HER) dan oksigen pada sisi anoda dengan reaksi evolusi oksigen (Oxygen Evolution Reaction/OER). Namun, efisiensi teknologi ini dibatasi oleh tingginya barrier energi dan kinetika reaksi yang lambat pada HER dan OER. Meskipun Pt, Ir, dan Ru menunjukkan performa yang baik dalam HER dan OER, katalis standar tersebut masih memiliki keterbatasan karena mahal dan juga langka. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan elektrokatalis bifungsional yang ekonomis dan efisien berbasis komposit MXene Ti2N dan tembaga oksida nanopori (n-CuO). Sinergi material ini memanfaatkan konduktivitas listrik yang unggul dan luas permukaan tinggi dari MXene Ti2N, serta melimpahnya situs aktif dari n-CuO. Metode penelitian meliputi sintesis MXene Ti2N dari fasa MAX Ti2AlN, sintesis CuO nanopori, dan fabrikasi nanokomposit Ti2N/n-CuO pada permukaan Glassy Carbon Electrode melalui metode drop casting. Karakterisasi material dilakukan menggunakan X-Ray Diffraction (XRD) untuk mengetahui fase kristal dan struktur kristanilitas, Fourier Transform Infrared (FTIR) untuk mengetahui gugus fungsi dan jenis ikatan yang terbentuk, Scanning Electron Microscope (SEM) untuk mengetahui morfologi permukaan, dan isoterm adsorpsi-desoprsi gas N2 untuk mengukur luas permukaan spesifik dan total volume pori, Atomic Force Microscopy (AFM) untuk mengukur tingkat kekasaran material, sedangkan performa elektrokatalitik untuk HER dan OER dievaluasi melalui uji elektrokimia untuk mengetahui nilai potensial berlebih, Electrochemical Active Surface Area (ECSA), dan gradien Tafel, dengan empat variasi modifikasi elektroda, yaitu Bare GCE, GCE/Ti2N, GCE/n-CuO, dan GCE/Ti2N/n-CuO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan komposit Ti2N/n- CuO secara signifikan meningkatkan jalur transportasi elektron. Elektrokatalis komposit ini menunjukkan penurunan overpotensial, dengan nilai potensial berlebih sebesar 732 mV untuk HER dan 1116 mV untuk OER pada kerapatan arus 10 mA/cm2. Selain itu, komposit pada HER juga memiliki nilai ECSA dan Tafel slope yang lebih unggul dibandingkan pada OER dalam larutan yang sama, yaitu KOH 1 M. Kehadiran MXene juga terbukti efektif mencegah agregasi nanopori CuO, sehingga memberikan stabilitas jangka panjang yang sangat baik sebagai alternatif katalis logam mulia yang mahal.

2026
👤 Penulis: Shellen Restu Febila
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

Disertasi ini mengkaji bagaimana integrasi dan pengembangan budaya perusahaan pasca M&A mempengaruhi manajemen karyawan dan hubungan karyawan di industri pertambangan Indonesia, dalam konteks pembentukan holding yang didorong regulasi yang melibatkan anak perusahaan multinasional. Kerangka kerja yang ada selama ini mengabaikan bagaimana nilai-nilai bersama (shared values), keterlibatan karyawan (employee engagement), pelatihan- penguatan (training-reinforcement), dan kerangka nilai-nilai hibrida (hybrid values framework) melalui pendekatan yang seimbang beroperasi dalam konteks ekonomi berkembang dengan ekspektasi pemangku kepentingan yang nasionalistik dan dinamika sosial-budaya yang kompleks. Tiga pertanyaan penelitian memandu studi ini terkait dampak integrasi pengembangan budaya perusahaan terhadap pengelolaan karyawan dan hubungan industrial, kriteria dan indikator utama sebagai alat pemantauan efektivitas budaya perusahaan, serta model pengembangan dan integrasi paska-merger dan akuisisi dalam industri pertambangan. Desain metode campuran sekuensial—Systematic Literature Review (69 studi), wawancara dengan 11 eksekutif senior, dan PLS-SEM terhadap 105 responden survei—memperkenalkan model integrasi jalur tidak langsung (indirect-pathway integration model). Nilai-nilai bersama membutuhkan aktivasi sistematis melalui inisiatif keterlibatan dan program pelatihan-penguatan; jalur langsung dari komunikasi ke budaya terbukti tidak signifikan. Komitmen kepemimpinan berfungsi sebagai fasilitator proses, sementara kerangka nilai hibrida yang menyeimbangkan keunggulan teknis multinasional dengan akuntabilitas pemangku kepentingan BUMN melalui evolusi partisipatif terbukti sebagai jalur integrasi yang paling efektif. Temuan-temuan ini menantang asumsi M&A yang berpusat pada perspektif Barat dan menawarkan kerangka kerja yang dapat ditindaklanjuti—termasuk sistem pemantauan hierarkis dengan nilai-nilai bersama sebagai indikator awal (leading indicators) dan keterlibatan karyawan sebagai indikator akhir (lagging indicators)—bagi para eksekutif BUMN dan manajer integrasi di sektor pertambangan Indonesia. Kata Kunci: Integrasi budaya perusahaan, Merger dan akuisisi, Keterlibatan karyawan, Badan Usaha Milik Negara, Industri pertambangan, Penelitian metode campuran, Indonesia, Integrasi pasca-M&A, Pelatihan dan penguatan, Pengembangan budaya organisasi

2026
👤 Penulis: Iyas Kusnadi
🏷️ Integrasi Budaya Perusahaan 🏷️ Merger Dan Akuisisi 🏷️ Keterlibatan Karyawan

ADSORPSI ION CR(VI) MENGGUNAKAN ADSORBEN GELATIN TERMODIFIKASI GLIOKSAL

Pencemaran air oleh logam berat, khususnya kromium dalmn bentuk Cr(VI) menjadi permasalahan lingkungan yang serius karena Cr(VI) bersifat toksik, karsinogenik, dan sulit terurai secara alami. Salah satu metode yang efektif untuk mengurangi pencemaran air oleh logam berat adalah adsorpsi. Gelatin merupakan biomaterial yang ramah lingkungan, tidak toksik, serta berasal dari kulit dan tulang hewan seperti babi, sapi, dan ikan. Keberadaan gugus fungsi amina, hidroksil, dan karboksil menjadikan gelatin berpotensi sebagai adsotben. Dalam penelitian ini, dipilih adsorben dengan perbandingan mo!8:4. Adsorben ini kemudian diuji derajat penggembungannya dan dikarakterisasi dengan menggunakan spektroskopi FTIR serta SEM-EDS. Spektrum FTIR menunjukkan adanya pergeseran sigoifikan pada bilangan gelombang sekitar 1600 cm-1 diduga akibat terbentuknya ikatan silang gugus amina gelatin dengan gugus aldehida glioksal pada proses modifikasi serta terjadinya interaksi antara Cr(VI) dengan gugus amina gelatin ketika adsorpsi dengan Cr(VI). Citra SEM menunjukkan adanya perubahan morfologi pennukaan dari halus menjadi lebih kasar, yang mengindikasikan keberhasilan modifikasi gelatin dengan glioksal. Karakterisasi EDS menunjukkan keberhasilan adsorpsi Cr(VI) yang ditunjukkan dengan munculnya atom Cr pada adsorben setelah dikontakkan dengan Cr(VI). Kondisi optimum adsorpsi ion Cr(VI) oleh adsorben gelatin termodifikasi glioksal diperoleh pada pH 2, massa adsorben 0,18 gram, dan waktu kontak 120 menit. Adsorpsi ion Cr(VI) menggunakan adsorben gelatin tennodifikasi glioksal mengikuti kinetika orde dua semu dan model isoterm Langmuir dengan q,,,.., sebesar 24,72 mg/g. Berdasarkan hasil termodinamika, proses adsorpsi ion Cr(VI) berlangsung secara eksotermik (AfI0 = -20,75 kJ/mol), meningkatkan ketidakteraturan sistem (AS0 = 13,17 J/mol.K), dan berlangsung dengan spontan (AG0 < 0). Desorpsi ion Cr(VI) menggunakan KC! 0, I M mencapai efisiensi desorpsi tertinggi pada waktu kontak 240 menit dengan %desorpsi sebesar 98,04%. Adsorben gelatin termodifikasi glioksal berpotensi dikembangkan lebih lanjut sebagai adsorben altematif pada aplikasi pengolahan limbah logam berat.

2026
👤 Penulis: Amanda Feriska
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

EVALUASI DAN REHABILITASI SEISMIK BANGUNAN RUMAH SAKIT EKSISTING DENGAN FLUID VISCOUS DAMPER (FVD)

Sebuah struktur eksisting dengan fungsi struktur berupa rumah sakit dibangun berdasarkan SNI 1726:2002. Dalam kurun hampir 2 dekade setelah standar ini ditetapkan, semakin banyak sumber gempa baru yang ditemukan dan berdampak kepada perubahan pendekatan dalam mendesain struktur tahan gempa sehingga diperkenalkan standar terbaru yaitu SNI 1726:2019. Standar ini lebih mengedepankan keseragaman dalam tingkat risiko kegagalan struktur yang ketika menghadapi gempa maksimum yang mungkin terjadi. Struktur yang dibangun dengan peraturan lama perlu dilakukan suatu evaluasi dengan menggunakan standar terbaru untuk memastikan bahwa struktur masih memenuhi persyaratan keselamatan atau justru memerlukan rehabilitasi seismik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja dari struktur eksisting dengan fungsi rumah sakit yang terletak di Jakarta berdasarkan SNI 9273:2025 yang mengadopsi ASCE 41-17. Penelitian ini juga merancang strategi rehabilitasi seismik yang tepat dengan menggunakan SNI 9273:2012 untuk meningkatkan ketahanan gedung terhadap gempa. Analisis awal adalah dengan melakukan verifikasi desain dengan menggunakan metode prosedur statik linier dengan menggunakan beban gempa SNI 1726:2002. Hasil analisis menunjukkan bahwa struktur eksisting yang didesain dengan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) justru tidak memenuhi kaidah strong column weak beam (SCWB) dan sebanyak 80 joint balok kolom mengalami kegagalan gaya geser joint. Struktur ini kemudian dilakukan analisis lebih lanjut dengan menggunakan metode prosedur dinamik nonlinier dengan beban gempa dengan periode ulang 225 tahun (BSE-1E) dan periode ulang 975 tahun (BSE-2E). Hasil analisis ini, walaupun secara simpangan antartingkat sudah memenuhi persyaratan dimana batas maksimum yang diizinkan adalah 2%, akan tetapi terdapat sendi plastis yang terbentuk mengalami level kinerja yang melebihi level yang diizinkan. Level kinerja sendi plastis yang diizinkan pada struktur dengan fungsi rumah sakit ketika dibebani beban gempa BSE-1E adalah Immediate Occupancy sedangkan untuk beban gempa BSE-2E adalah Life Safety. Struktur eksisting yang dibebani beban gempa BSE-1E masih terdapat elemen sendi plastis yang berada pada level Damage Control, sedangkan struktur eksisting yang dibebani beban gempa BSE-2E masih terdapat elemen sendi plastis yang berada pada level Collapse Prevention. Sendi plastis tidak hanya terbentuk pada elemen balok, namun juga terjadi pada elemen kolom. Sendi plastis yang terbentuk pada elemen kolom terjadi tak hanya pada dasar kolom lantai 1, melainkan juga terjadi pada ujung kolom atas lantai 1, dan kolom di lantai 2 dan 3. Hal ini mengindikasikan terjadinya column sway mechanism yang seharusnya dihindari dalam mekanisme kegagalan struktur. Untuk mengatasi defisiensi struktur yang ditemukan, dilakukan strategi rehabilitasi seismik menggunakan Fluid Viscous Damper (FVD). Metode ini dipilih karena perangkat damper pada umumnya mampu berfungsi sebagai pendisipasi energi tambahan pada struktur sehingga dapat mengurangi gaya dan deformasi yang terjadi pada struktur ketika mengalami gempa. Hasil analisis prosedur dinamik nonlinier menunjukkan bahwa penambahan FVD pada struktur eksisting sangat efektif dalam mendisipasi energi dalam mengalami beban gempa. Level kinerja sendi plastis baik pada struktur dengan beban gempa BSE-1E maupun BSE-2E berada pada level kinerja yang diizinkan. Pembentukan sendi plastis yang terjadi pada kolom hanya terjadi pada kolom lantai 1. FVD yang dipasang pada struktur mampu mendisipasi energi sebanyak 68.89% pada beban gempa BSE-1E dan 63.81% pada gempa BSE-2E. Hasil ini memastikan bahwa struktur eksisting yang telah dipasang FVD telah memenuhi kriteria penerimaan yang ditetapkan berdasarkan SNI 9273:2025 sehingga lebih aman dalam menghadapi gempa yang akan datang.

2026
👤 Penulis: Muhammad Thirafi
🏷️ Seismik 🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Rehabilitasi Seismik

ANALISIS KINERJA CAMPURAN 2-MERKAPTOBENZOTIAZOL DAN L-SISTEIN SEBAGAI INHIBITOR KOROSI PADA BAJA KARBON DALAM LARUTAN NACL 1% (B/V)

Baja karbon berasal dari unsur besi dan karbon, dengan konsentrasi karbon terlarut sebesar 0,04% hingga 1,7%, sehingga memiliki sifat mekanik yang kuat, namun harganya tetap terjangkau. Di balik kelebihannya, baja karbon memiliki kelemahan fatal, yaitu korosi. Berbagai metode penanggulangan korosi, seperti injeksi inhibitor, telah dikembangkan untuk mengatasi masalah ini. Penggunaan inhibitor korosi tunggal memiliki keterbatasan, yaitu inhibisi hanya melalui satu mekanisme. Sehingga, campuran dari dua inhibitor sering kali diteliti untuk memetakan efek satu sama lain. Penelitian ini membahas kinerja 2-merkaptobenzotiazol, L-sistein, dan campuran keduanya sebagai inhibitor korosi pada baja karbon dalam larutan NaCl 1%. 2-merkaptobenzotiazol dilaporkan mampu menginhibisi baja karbon melalui mekanisme anodik, sedangkan L-sistein dilaporkan sebagai inhibitor korosi yang bekerja dengan tipe campuran, yaitu anodik dan katodik. Adapun tujuan penelitian ini yaitu menentukan konsentrasi optimum, interpretasi parameter sinergistik, serta mekanisme inhibisi 2-merkaptobenzotiazol, L-sistein, dan campurannya sebagai inhibitor korosi pada baja karbon dalam larutan NaCl 1% berdasarkan hasil Electrochemical Impedance Spectroscopy (EIS) dan Potentiodynamic Polarization (PDP). Berdasarkan penelitian ini, diperoleh konsentrasi optimum 2-merkaptobenzotiazol sebesar 20 ppm dan 50 ppm, konsentrasi optimum L-sistein sebesar 20 ppm dan 50 ppm, serta konsentrasi optimum campuran, yaitu 50 ppm 2-merkaptobenzotiazol dengan 20 ppm L-sistein, yang bersifat antagonis satu sama lain. Selain itu, didapatkan pula mekanisme inhibisi yang terlibat, yaitu mekanisme campuran antara inhibisi anodik dan katodik pada seluruh variasi konsentrasi.

2026
👤 Penulis: Vicky Faras Barunson P
🏷️ Korosi 🏷️ Baja Karbon 🏷️ Inhibitor Korosi

Gedung Labtek VI ITB merupakan fasilitas pendidikan berskala besar dengan beban pendinginan yang tinggi, sehingga estimasi beban pendinginan yang akurat menjadi penting sebagai dasar perancangan sistem tata udara maupun masukan bagi perencanaan sistem district cooling. Penelitian ini bertujuan menghitung beban pendinginan, menganalisis kondisi psikrometri, mengevaluasi kinerja cooling coil, serta meninjau pengaruh variasi temperatur chilled water terhadap kinerja sistem. Perhitungan beban pendinginan dilakukan menggunakan metode Radiant Time Series (RTS) melalui perangkat lunak DK-BIM dengan data cuaca NASA POWER tahun 2025, sedangkan analisis kinerja cooling coil menggunakan metode NTU-Effectiveness. Hasil perhitungan menunjukkan total beban pendinginan gedung sebesar 1.964,03 kW untuk 184 ruangan ber-AC, terdiri atas beban sensibel 1.429,73 kW dan beban laten 534,30 kW, dengan beban puncak terjadi pukul 14.00 sebesar 1.944,99 kW. Analisis psikrometri menghasilkan nilai Grand Sensible Heat Factor (GSHF) tiap lantai sebesar 0,655–0,790 dan Room Sensible Heat Factor (RSHF) sebesar 0,805–0,901. Pada kondisi eksisting (temperatur chilled water 7°C), cooling coil memiliki nilai UA 41,07–59,66 kW/K, NTU 1,36–1,44, dan efektivitas 0,68–0,70. Variasi temperatur chilled water 4–8°C menurunkan total kapasitas perpindahan panas dari 2.267,95 kW menjadi 1.862,72 kW dan menaikkan temperatur udara suplai secara hampir linear. Dibandingkan dengan rentang konvensional desain temperatur udara suplai 12–14°C, temperatur chilled water pada rentang 6–8°C masih menghasilkan kondisi udara suplai yang sesuai, sehingga memberikan fleksibilitas operasional untuk pemilihan temperatur chilled water sesuai kebutuhan trade-off antara kapasitas pendinginan dan efisiensi energi pada sistem AHU Gedung Labtek VI.

2026
👤 Penulis: Nasywa Lathifah Mumtaz
🏷️ Pengendalian Panas Dalam Gedung 🏷️ Analisis Psikrometri 🏷️ Kinerja Coil Pendingin

EKSTRAKSI DAN KARAKTERISASI ULVAN DARI RUMPUT LAUT ULVA RETICULATA SERTA SINTESIS DAN KARAKTERISASI PELAPIS KERTAS BIODEGRADABLE BERBASIS KOMPOSIT ULVAN–PHB (POLI-(R)-3-HIDROKSIBUTIRAT) UNTUK APLIKASI KEMASAN PANGAN

Peningkatan limbah plastik sekali pakai mendorong pengembangan material kemasan pangan yang lebih ramah lingkungan, salah satunya kertas berpelapis biodegradable. Kertas memiliki keunggulan berupa sifat terbarukan, dapat didaur ulang, dan mudah terdegradasi, tetapi penggunaannya masih dibatasi oleh sifat hidrofilik selulosa yang menyebabkan ketahanan terhadap air rendah. Penelitian ini bertujuan mengembangkan pelapis kertas biodegradable berbasis komposit ulvan– PHB–PEG400 untuk meningkatkan sifat fungsional kertas sebagai material kemasan pangan. Ulvan diekstraksi dari rumput laut Ulva reticulata menggunakan metode air panas pada suhu 80–90 °C dengan variasi waktu ekstraksi 2, 4, 8, 12, 16, dan 20 jam. Ulvan hasil ekstraksi diuji kadar sulfat serta dikarakterisasi menggunakan FTIR dan ¹H NMR. Pelapis kertas dibuat menggunakan metode solvent casting pada kertas Whatman No. 1 dengan ulvan 3% sebagai matriks utama, PHB 1–3% sebagai komponen hidrofobik, dan PEG400 1–10% sebagai plasticizer. Produk kertas berpelapis kemudian dievaluasi melalui uji mekanik, sudut kontak, ketahanan cairan, biodegradabilitas, FTIR, dan SEM. Data kuantitatif dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut Tukey HSD pada tingkat signifikansi p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu ekstraksi berpengaruh signifikan terhadap rendemen ulvan. Rendemen tertinggi diperoleh pada waktu ekstraksi 12 jam sebesar 15,65±0,48%, sedangkan kadar sulfat ulvan sebesar 42,00±1,90%. Hasil FTIR dan ¹H NMR menunjukkan adanya gugus dan sinyal khas ulvan sebagai polisakarida tersulfatasi. Pelapis komposit ulvan–PHB– PEG400 berhasil terbentuk pada permukaan kertas, ditunjukkan oleh munculnya pita O–H, C–H, C=O ester PHB, serta C–O–C/C–O pada spektrum FTIR produk. Hasil SEM menunjukkan bahwa pelapisan mengubah morfologi kertas dari struktur serat terbuka dan berpori menjadi permukaan yang lebih tertutup, halus, dan kompak. Hasil ANOVA menunjukkan bahwa variasi konsentrasi PHB, PEG400, dan interaksi PHB-PEG400 berpengaruh signifikan terhadap beberapa sifat kertas berpelapis, terutama perpanjangan putus, ketebalan, sudut kontak, dan biodegradabilitas. Uji mekanik menunjukkan bahwa formulasi A1, yaitu ulvan 3%, PHB 1%, dan PEG400 1%, menghasilkan kuat tarik tertinggi sebesar 16,87±1,70 MPa dengan perpanjangan putus 8,44±1,52%. Uji sudut kontak menunjukkan bahwa penambahan PHB meningkatkan hidrofobisitas permukaan kertas, dengan nilai tertinggi secara numerik pada C5 sebesar 90,75±0,51°. Hasil uji aplikasi menunjukkan bahwa kertas tanpa pelapis tidak mampu menahan cairan, sedangkan kertas berpelapis mampu mempertahankan ketahanan terhadap cairan hingga sekitar 5 jam. Uji biodegradabilitas menunjukkan bahwa sampel berpelapis mengalami penurunan berat sebesar 64,74±0,81% hingga 90,05±0,11% setelah 35 hari penguburan dalam tanah, lebih tinggi dibandingkan kontrol sebesar 25,54±2,36%. Formulasi C10 menunjukkan biodegradabilitas tertinggi dan berbeda signifikan dibandingkan formulasi komposit lainnya. Secara keseluruhan, komposit ulvan–PHB–PEG400 berhasil meningkatkan sifat fungsional kertas, terutama kuat tarik, hidrofobisitas, dan ketahanan terhadap cairan, serta tetap mempertahankan kemampuan biodegradasi dalam tanah. Formulasi terbaik bergantung pada parameter yang diutamakan, yaitu A1 untuk kekuatan mekanik, C5 untuk hidrofobisitas dan ketahanan cairan, serta C10 untuk biodegradabilitas tertinggi. Dengan demikian, pelapis ulvan–PHB–PEG400 berpotensi dikembangkan sebagai pelapis kertas biodegradable untuk aplikasi kemasan pangan..

2026
👤 Penulis: Pricilia Amfotis
🏷️ Ulva Runtuncula 🏷️ Kertas Biodegradabel 🏷️ Pelapis Komposit
Halaman 122 dari 6754
💬