📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

ANALISIS PEMERATAAN LAYANAN PENDIDIKAN NEGERI DI KOTA BANDUNG BERBASIS SPATIAL EQUITY MELALUI INTEGRASI SUPPLY, ACCESSIBILITY, DAN DEMAND

Pemerataan layanan pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam mewujudkan pembangunan perkotaan yang berkeadilan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemerataan layanan pendidikan negeri berdasarkan prinsip spatial equity melalui integrasi aspek supply, accessibility, dan demand. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan Urban Analytics dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG), analisis jaringan jalan (service area), estimasi populasi WorldPop berbasis dasymetric mapping, pendekatan location-allocation, dan unit analisis grid heksagonal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi sarana pendidikan negeri di Kota Bandung masih belum merata dan cenderung semakin terkonsentrasi pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Analisis keterjangkauan berbasis jaringan jalan menunjukkan bahwa jenjang SD memiliki tingkat keterjangkauan tertinggi dengan cakupan layanan sebesar 93,68% wilayah Kota Bandung, diikuti SMA sebesar 91,70%, sedangkan SMP hanya mencapai 50,02% sehingga menjadi jenjang dengan tingkat keterjangkauan paling rendah. Integrasi antara aksesibilitas dan distribusi penduduk usia sekolah menunjukkan bahwa kesenjangan spasial layanan pendidikan terbesar terjadi pada jenjang SMP, dengan tingkat keterlayanan penduduk usia sekolah sebesar 84,54%, lebih rendah dibandingkan SD (98,82%) dan SMA (94,13%). Berdasarkan identifikasi wilayah prioritas, dilakukan pemodelan Maximum Coverage Location Problem (MCLP) untuk mengidentifikasi lokasi indikatif penambahan sarana pendidikan pada zona prioritas, yang menghasilkan 3 lokasi SD, 19 lokasi SMP, dan 6 lokasi SMA. Lokasi yang dihasilkan bersifat indikatif dan belum mempertimbangkan sekolah swasta, kapasitas sekolah, ketersediaan lahan, maupun aspek kelembagaan. Simulasi menunjukkan bahwa rekomendasi tersebut mampu meningkatkan cakupan penduduk usia sekolah terlayani menjadi 99,77% pada jenjang SD, 98,78% pada jenjang SMP, dan 99,63% pada jenjang SMA. Dengan demikian, temuan ini menunjukkan bahwa pemerataan layanan pendidikan negeri tidak cukup dinilai berdasarkan jumlah fasilitas semata, tetapi perlu mempertimbangkan kesesuaian antara sebaran sarana, keterjangkauan aktual melalui jaringan jalan, dan distribusi kebutuhan penduduk usia sekolah untuk menghasilkan perencanaan fasilitas yang lebih tepat sasaran dan berkeadilan.

2026
👤 Penulis: Gelby Calista Syahzwa
🏷️ Urban Analytics 🏷️ Pendidikan Negeri 🏷️ Kecerdasan Buatan

KAJIAN AKSESIBILITAS SARANA PENDIDIKAN PADA KAWASAN KAMPUNG KOTA (STUDI KASUS : KAMPUNG PELANGI 200, KOTA BANDUNG)

Pertumbuhan penduduk di kawasan perkotaan yang dipicu oleh urbanisasi meningkatkan kebutuhan terhadap lahan hunian dan penyediaan infrastruktur dasar. Kondisi tersebut mendorong muncul serta berkembangnya permukiman informal yang tidak sepenuhnya terlayani oleh sistem perencanaan formal. Salah satu pelayanan dasar yang penting bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat adalah pendidikan, karena pendidikan berperan dalam membuka peluang mobilitas sosial, memperkuat kapasitas sumber daya manusia, dan mengurangi kerentanan kelompok berpenghasilan rendah. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, akses pendidikan berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama Tujuan 4 tentang pendidikan berkualitas dan Tujuan 11 tentang kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. Pada tingkat nasional, penyediaan sarana pendidikan berkaitan dengan standar pelayanan dan kelayakan sarana prasarana, melalui SNI 03-1733-2004 tentang tata cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan serta Permendikbudristek Nomor 22 Tahun 2023 tentang standar sarana dan prasarana pendidikan, namun pemenuhan akses pendidikan pada permukiman informal masih menghadapi berbagai kendala yang berhubungan dengan keberadaan fasilitas, jarak, kualitas jalur, keamanan perjalanan, dukungan sosial, dan kemampuan ekonomi keluarga. Kampung Pelangi 200 di Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung merupakan salah satu permukiman informal perkotaan yang berada pada kawasan berkontur, padat, dan memiliki keterbatasan sarana pendidikan formal di dalam kawasan. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi hubungan antara ketersediaan, distribusi, dan kualitas sarana pendidikan terhadap akses pelayanan dasar masyarakat Kampung Pelangi 200. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, penyebaran kuesioner kepada 108 responden, wawancara dengan pengurus wilayah, komunitas, karang taruna, dan pengajar pengajian, serta pengumpulan data sekunder berupa data kependudukan, data sarana pendidikan, data spasial, dan DEMNAS. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif, analisis buffer untuk melihat jangkauan pelayanan sarana pendidikan, analisis topografi iilahan berdasarkan klasifikasi lereng Van Zuidam, serta analisis tipologi untuk menilai kualitas sarana dan tingkat akses fisik, akses sosial, dan akses ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sarana pendidikan formal yang digunakan pelajar Kampung Pelangi 200 berada di luar kawasan, namun secara radius pelayanan masih dapat menjangkau wilayah kampung. Meskipun demikian, keterjangkauan berdasarkan radius belum sepenuhnya mencerminkan kemudahan akses aktual karena jalur menuju sarana pendidikan masih dipengaruhi oleh gang sempit, tangga, tanjakan, kontur terjal, dan kondisi jalan yang licin saat hujan. Sarana pendidikan nonformal tersedia melalui aktivitas komunitas, namun pelaksanaannya belum rutin dan partisipasi pelajar belum merata. Sementara itu, sarana pendidikan informal seperti masjid dan pengajian memiliki keterjangkauan paling baik karena berada di dalam atau dekat kawasan, berbiaya rendah, dan terhubung dengan kehidupan masyarakat. Hambatan terbesar dalam akses pendidikan adalah hambatan fisik, diikuti hambatan ekonomi, serta hambatan kombinasi fisik dan ekonomi. Temuan ini menunjukkan bahwa ketersediaan sarana pendidikan saja belum cukup untuk menjamin akses yang setara apabila tidak didukung oleh jalur yang aman, dukungan sosial yang kuat, dan keterjangkauan biaya bagi keluarga rentan. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap ilmu perencanaan wilayah dan kota melalui pendekatan evaluatif yang menggabungkan dimensi spasial, sosial, dan ekonomi dalam membaca akses pendidikan pada permukiman informal.

2026
👤 Penulis: Tamara Shafira Sumirat
🏷️ Pendidikan 🏷️ Kawasan Perkotaan Informal 🏷️ Sustainable Development Goals (Sdgs)

PEMODELAN DAN ANALISIS GEOMEKANIKA 1D DAN 3D SEBELUM CO2 DIINJEKSIKAN PADA LAPANGAN X, SULAWESI TENGAH

Banggai Ammonia Plant (BAP) merupakan industri petrokimia yang memproduksi amonia dengan produk sampingan berupa CO2 dengan kemurnian yang sangat tinggi. Sejalan dengan kebijakan International Maritime Organization (IMO) dan standar green ports tahun 2026, BAP sedang bertransformasi untuk memproduksi blue ammonia melalui penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Tantangan utama dalam CCS adalah risiko kenaikan tekanan pori selama injeksi yang dapat memicu reaktivasi sesar dan kegagalan integritas batuan penudung (cap rock). Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kondisi geomekanika bawah permukaan di Lapangan X, Provinsi Sulawesi Tengah, untuk mengetahui kondisi mekanika lapangan penelitian sebelum diinjeksikan CO2. Metodologi penelitian dilakukan secara integratif menggunakan data 8 sumur dan data seismik post-stack tiga dimensi dalam kawasan waktu. Tahapan pengerjaan dimulai dengan analisis geomekanika satu dimensi pada seluruh sumur untuk memperoleh parameter mekanika batuan, tekanan pori, dan profil tegasan di lapangan penelitian. Selanjutnya, dilakukan inversi seismik untuk menghasilkan volume impedansi akustik (AI) yang menjadi basis dalam penyebaran properti fisik batuan. Tahap akhir adalah pembangunan model geomekanika tiga dimensi yang mengombinasikan data sumur dan data seismik untuk memberikan gambaran spasial yang komprehensif. Hasil dari penelitian ini mencakup model tiga dimensi komponen geomekanika, serta analisis rezim tegasan in-situ yang bekerja. Tegasan in-situ pada lapangan X berhasil dimodelkan dengan rezim tegasan yang bekerja pada lapangan X adalah strike slip fault regime, dengan besaran SHMax > Sv > Shmin. Model geomekanika tiga dimensi berhasil diperoleh dengan menyebarkan komponen geomekanika dari model geomekanika satu dimensi lubang sumur terhadap volume AI. Model geomekanika tiga dimensi sudah menunjukkan hasil yang sesuai terhadap model geomekanika satu dimensinya, meskipun terdapat interval yang kurang baik karena keterbatasan data sumur.

2026
👤 Penulis: Hezro Issybael Lixi Tobing
🏷️ Geomekani 🏷️ Carbon Capture And Storage (Ccs) 🏷️ Lapangan Minyak Dan Gas Alam

ANALISIS DAMPAK BANJIR TERHADAP JARINGAN JALAN DAN DISTRIBUSI BAHAN BAKAR MINYAK (STUDI KASUS: KABUPATEN ACEH UTARA)

Distribusi bahan bakar minyak (BBM) sebagai komoditas strategis memiliki ketergantungan tinggi terhadap kondisi jaringan jalan, sehingga rentan terhadap gangguan bencana yang mendegradasi kinerja jaringan jalan meskipun stok BBM berada pada level yang aman. Penelitian ini mengembangkan kerangka analisis terintegrasi berbasis jaringan yang menghubungkan estimasi cepat kedalaman genangan dengan evaluasi kinerja jaringan jalan dan sistem distribusi BBM, dengan studi kasus Kabupaten Aceh Utara pada kejadian banjir Sumatera November 2025. Kedalaman genangan diestimasi secara statis dari observasi aktual genangan hasil citra Synthetic Aperture Radar Sentinel-1 dengan data Digital Elevation Model, kemudian dikembangkan menjadi lima skenario kedalaman. Dampak genangan diterjemahkan ke dalam degradasi fungsional setiap ruas jalan menggunakan pendekatan berbasis graf, yang selanjutnya digunakan untuk mengevaluasi perubahan struktur dan aksesibilitas jaringan serta pengaruhnya terhadap redistribusi permintaan BBM yang dimodelkan berdasarkan kapasitas penyaluran dan hambatan waktu tempuh. Hasil menunjukkan bahwa pada kondisi terparah, connectivity index antar kecamatan turun hingga hanya sekitar seperenambelas kondisi normalnya, disertai fragmentasi spasial yang terdefinisi jelas antara kelompok kecamatan di wilayah barat dan timur. Fragmentasi ini memicu konsolidasi permintaan yang menghasilkan shortage di SPBU-SPBU tertentu, sementara terputusnya akses dari sejumlah kecamatan menuju seluruh SPBU menyebabkan terjadinya permintaan yang tidak tersalurkan sama sekali. Perbedaan ambang batas toleransi genangan antar jenis kendaraan menghasilkan kondisi di mana masyarakat lebih kesulitan mengakses SPBU dibandingkan kemampuan armada mobil tangki dalam menyalurkan pasokan. Dari sisi operasional, peningkatan waktu tempuh yang terjadi mengurangi kemampuan penyelesaian ritase harian setiap armada sehingga dibutuhkan lebih banyak armada pada kondisi banjir, meskipun seluruh SPBU tetap dapat dijangkau di semua skenario.

2026
👤 Penulis: Ahmad Raihan Adiwibowo
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan 🏷️ Kecerdasan Buatan

MODEL DEPLOYMENT SISTEM OTOMASI INSPEKSI KONTAINER DI PELABUHAN

Sektor logistik Indonesia masih menghadapi tantangan efisiensi dengan biaya logistik mencapai 14,29% dari PDB, lebih tinggi dibandingkan negara maju yang kurang dari 10%. Proses inspeksi peti kemas di pelabuhan masih bergantung pada metode manual berbasis checklist dan belum terintegrasi secara digital dengan alur kerja pelabuhan maupun sistem kepabeanan. Tugas akhir ini bertujuan merumuskan model deployment Sistem Inspeksi Kontainer Digital Terintegrasi yang andal di lingkungan PT IPC Terminal Petikemas (PT IPC TPK), Pelabuhan Tanjung Priok. Kendala utama meliputi keterbatasan konektivitas jaringan ke pusat data Pelindo, persyaratan keamanan data sesuai Kebijakan TI Holding Pelindo, serta integrasi non-disruptif dengan sistem operasional 24 jam (TOS, DAQ, OCR, LPR, WIM, RPM, dan Barrier Gate). Metode yang digunakan adalah Iterative Development yang dipandu Double Diamond Framework dan prinsip tata kelola COBIT. Kebutuhan dikumpulkan melalui wawancara dan observasi lapangan, lalu dilanjutkan analisis komparatif model deployment, perancangan arsitektur, serta evaluasi melalui pengujian CI/CD dan load testing. Hasil tugas akhir menunjukkan bahwa model hybrid on-premise tiga tingkat merupakan solusi paling layak. Tier 1 menempatkan AI service Docker di Server 1 GRAHA untuk inferensi lokal, Tier 2 menempatkan backend dan basis data di Cloud Pelindo Hub dengan dua lapis isolasi, sedangkan Tier 3 memanfaatkan Cloudflare Workers untuk frontend dashboard. Arsitektur teknis yang dirancang mencakup WireGuard VPN antar-tier, tiga pipeline CI/CD GitHub Actions independen, strategi backup MongoDB berbasis pointin- time recovery (PITR) dengan full backup berkala, serta stack pemantauan cAdvisor, Prometheus, dan Grafana. Evaluasi memverifikasi kesesuaian terhadap kontrol tata kelola utama, ketahanan pipeline terhadap delapan skenario kegagalan, latensi p95 sebesar 1,05 hingga 1,18 detik (?2 detik), dan integritas audit trail 100%. Interpolasi terkalibrasi-GPU mengestimasi kebutuhan komputasi lapangan ?815 sparse INT8 TOPS per gate dengan memori sebagai faktor pengikat. Model yang diusulkan layak secara teknis pada lingkup infrastruktur, konektivitas, CI/CD, pemulihan data, dan pemantauan, dengan validasi lanjutan diperlukan pada lingkungan produksi Pelindo.

2026
👤 Penulis: Muhammad Faiz Atharrahman
🏷️ Teknologi Informasi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PERANCANGAN ARSITEKTUR SISTEM OTOMASI INSPEKSI KONTAINER DI PELABUHAN

Proses inspeksi kontainer di pelabuhan masih menghadapi fragmentasi informasi antarpemangku kepentingan, pencatatan hasil inspeksi yang belum terhubung dengan riwayat kontainer, serta keterbatasan bukti visual yang dapat dirujuk kembali. Kondisi tersebut membuat identitas kontainer, hasil pemeriksaan, dan bukti inspeksi berisiko tersebar pada media yang berbeda. Tugas akhir ini bertujuan merancang arsitektur sistem otomasi inspeksi kontainer yang mendukung identifikasi kontainer, pencatatan hasil inspeksi, pengelolaan bukti visual, dan penyajian riwayat kontainer dalam satu struktur informasi. Perancangan dilakukan dengan pendekatan Design Science Research yang mencakup identifikasi masalah, penetapan tujuan, perancangan artefak, demonstrasi melalui realisasi sistem, dan evaluasi hasil. Arsitektur sistem disusun dengan pendekatan berlapis yang mencakup lapisan presentasi, aplikasi, data, dan edge. Pada rancangan ini, komponen edge bertugas melakukan akuisisi aliran video dan inferensi awal, layanan API menangani orkestrasi serta persistensi data, sedangkan aplikasi web menyediakan antarmuka pemantauan hasil inspeksi. Pada aspek data, entitas kontainer ditempatkan sebagai pusat penghubung identitas, hasil inspeksi, manifes, dan bukti visual. Hasil realisasi sistem menunjukkan bahwa rancangan arsitektur dapat diwujudkan menjadi alur yang menghubungkan komponen edge, layanan API, penyimpanan data, dan antarmuka web. Evaluasi dilakukan melalui pengujian integrasi terhadap alur utama, meliputi pembentukan entitas kontainer melalui OCR, propagasi nomor kontainer ke alur pemindaian lain, penyimpanan hasil inspeksi pada model data inti, dan penyajian hasil pada aplikasi web. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, rancangan yang diusulkan mendukung pencatatan riwayat kontainer pada ruang lingkup realisasi internal tugas akhir. Kontribusi utama tugas akhir ini adalah rancangan arsitektur yang memetakan pembagian tanggung jawab antarkomponen, menempatkan entitas kontainer sebagai pusat informasi inspeksi, dan mengevaluasi kesesuaian rancangan terhadap realisasi sistem.

2026
👤 Penulis: Aththariq Lisan Q. D. S.
🏷️ Teknologi Informasi Dalam Manajemen Logistik 🏷️ Arsitektur Sistem Otomatis 🏷️ Pengelolaan Data Kontainer

EVALUASI DAN OPTIMASI PENGELOLAAN AIRTANAH PADA AREA OPERASIONAL PT XYZ

Peningkatan pengambilan airtanah dikhawatirkan memicu penurunan muka airtanah yang signifikan dan risiko degradasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak pemompaan serta mengoptimalkan debit pengambilan airtanah agar tetap mematuhi kriteria zonasi konservasi airtanah yang ditetapkan pemerintah. Penelitian menggunakan pendekatan pemodelan numerik aliran airtanah pada skala lokal dengan perangkat lunak MODFLOW-NWT. Untuk mencapai solusi ekstraksi yang paling efisien, dilakukan analisis optimasi otomatis menggunakan perangkat lunak GWM-VI (Groundwater Management – Version Independent) yang mengintegrasikan simulasi aliran ke dalam kerangka kerja optimasi berbasis fungsi tujuan dan batas teknis (constraints). Model dikonstruksi dengan mengintegrasikan data geologi, log pemboran, dan survei geofisika untuk merepresentasikan sistem akuifer multilapisan. Proses kalibrasi dilakukan pada kondisi tunak dan transien untuk memastikan akurasi model sebelum digunakan dalam simulasi skenario hingga tahun 2031. Hasil simulasi menunjukkan bahwa debit pemompaan maksimal berpotensi menyebabkan penurunan muka airtanah (MAT) melampaui ambang batas 40% pada tahun 2026, yang mengubah status menjadi zona rawan. Melalui pendekatan optimasi matematis berbasis matriks respons pada GWM-VI, didapatkan kombinasi debit optimal yang mampu menjaga seluruh titik pengamatan tetap berada dalam zona aman hingga akhir periode proyeksi. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa evaluasi kuantitatif respons sistem akuifer untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air di area industri.

2026
👤 Penulis: Moch. Shofiudin
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN JEMBATAN SEMI-INTEGRAL PRESTRESSED CONCRETE I GIRDER DAN EVALUASI KINERJA DENGAN PUSHOVER ANALYSIS

Konektivitas antarwilayah melalui infrastruktur jalan tol memerlukan elemen jembatan yang andal terhadap beban layan maupun beban seismik, mengingat Indonesia merupakan wilayah dengan aktivitas kegempaan tinggi. Penelitian ini membahas perancangan struktur jembatan semi-integral dengan PCI Girder setinggi 1,7 m sebagai struktur elevated pada ruas Jalan Tol Yogyakarta–Bawen Seksi 1, STA 74+750, serta evaluasi kinerjanya menggunakan Pushover Analysis. Struktur yang dirancang merupakan jembatan multi bentang tiga bentang dengan delapan PCI Girder per bentang sepanjang 30 m, dimodelkan menggunakan MIDAS Civil dengan pembebanan mengacu pada SNI 1725:2016 dan perencanaan tahan gempa sesuai SNI 2833:2016. Desain mencakup seluruh elemen struktur mulai dari abutment, pier, pierhead, PCI Girder beserta tendon prategang, diafragma, slab UHPC, pilecap, hingga pondasi tiang bor. Evaluasi seismik melalui Pushover Analysis menghasilkan performance point pada arah longitudinal dengan base shear 10.770 kN dan displacement kepala pier 251,3 mm, serta arah transversal dengan base shear 20.860 kN dan displacement 60,5 mm. Berdasarkan batasan drift mengacu pada ATC-40, level kinerja struktur pada gempa dengan probabilitas terlampaui 7% dalam 75 tahun adalah Life Safety (LS). Tinjauan mekanisme plastis menunjukkan bahwa first yield terjadi pada pangkal dan ujung atas pilar, sesuai prinsip hierarki plastifikasi yang mensyaratkan plastic hinge terbentuk pada elemen yang mudah diinspeksi dan diperbaiki, sehingga konektivitas dan keandalan struktur jembatan tetap terjaga pascagempa.

2026
👤 Penulis: Muhammad Afiliandi Ulyansyah
🏷️ Teknologi Jembatan 🏷️ Analisis Seismik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

INKLUSIVITAS TRANSPORTASI UMUM BAGI TEMAN TULI PADA ERA DIGITALISASI DI DKI JAKARTA

Transportasi umum seharusnya dapat diakses secara setara oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk Teman Tuli yang menghadapi hambatan informasional dan komunikasional dalam sistem yang dirancang dengan asumsi seluruh penggunanya dapat mendengar. Di tengah pesatnya digitalisasi layanan transportasi di DKI Jakarta, sejauh mana transformasi digital tersebut berpihak pada kebutuhan Teman Tuli masih belum terjawab. Penelitian ini menganalisis karakteristik mobilitas, persepsi aksesibilitas, dan preferensi pemilihan moda transportasi umum oleh Teman Tuli pada era digitalisasi di DKI Jakarta, melibatkan 31 responden dari komunitas Gerkatin dan Sunyi Cafe melalui pendekatan kuantitatif yang didukung Focus Group Discussion dan observasi terarah. Temuan menunjukkan Teman Tuli adalah pengguna transportasi umum yang aktif namun menanggung biaya adaptasi tinggi karena sistem tidak dirancang untuk mereka: seluruh responden mengandalkan smartphone dan mayoritas menggunakan aplikasi navigasi sebagai pengganti informasi audio yang tidak dapat mereka akses. Persepsi aksesibilitas terbentuk dari empat dimensi utama yang seluruhnya mencerminkan ketidakpuasan konsisten terhadap informasi visual dinamis. Secara substantif, preferensi pemilihan moda Teman Tuli ditentukan bukan oleh efisiensi waktu atau tarif, melainkan oleh ketersediaan informasi keselamatan visual, kemampuan komunikasi petugas, dan aksesibilitas informasi visual selama perjalanan, menegaskan bahwa inklusivitas transportasi bagi Teman Tuli adalah soal kesetaraan akses informasi, bukan infrastruktur fisik. Penelitian ini berkontribusi pada kajian aksesibilitas transportasi inklusif di Indonesia dengan menghadirkan perspektif Teman Tuli yang selama ini tidak terwakili dalam literatur transportasi perkotaan Indonesia.

2026
👤 Penulis: Irda Naila Eliska
🏷️ Inklusivitas Transportasi Umum 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Informasi 🏷️ Kecerdasan Buatan

STRATEGI PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM SELEKSI SKENARIO PENGEMBANGAN UNTUK STRUKTUR KAYU MERAH DI LAPANGAN JATIBARANG, PT PERTAMINA EP

Proyek pengembangan hulu minyak dan gas bumi memerlukan pengambilan keputusan strategis yang kompleks akibat adanya interaksi antara desain teknis, kelayakan ekonomi, keterbatasan regulasi, kesiapan infrastruktur, serta beragam kepentingan pemangku kepentingan. Di lingkungan PT Pertamina EP, pengembangan struktur gas Kayu Merah (KYM) di Field Jatibarang merupakan tantangan strategis yang signifikan. Meskipun telah teridentifikasi cadangan gas baru, proyek ini dihadapkan pada keterbatasan dalam pemanfaatan fasilitas produksi eksisting, peluang komersialisasi gas yang lebih kompetitif, ketentuan regulasi dan penggunaan lahan, serta risiko keterlambatan monetisasi. Kondisi tersebut menegaskan perlunya suatu kerangka pendukung keputusan yang terstruktur dan transparan untuk menentukan skenario pengembangan yang paling tepat, terutama ketika aspek teknis dan non-teknis harus dipertimbangkan secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendukung pengambilan keputusan strategis melalui identifikasi skenario pengembangan yang paling optimal untuk struktur gas KYM dengan menggunakan pendekatan analisis terintegrasi. Penelitian ini mengidentifikasi faktor internal dan eksternal utama yang memengaruhi kelayakan pengembangan, menerjemahkan nilai-nilai pemangku kepentingan ke dalam kriteria keputusan yang eksplisit, serta mengevaluasi secara sistematis berbagai alternatif skenario pengembangan. Proposisi utama penelitian ini adalah bahwa kerangka pengambilan keputusan berbasis nilai dan multi-kriteria dapat meningkatkan transparansi, konsistensi, dan ketahanan keputusan strategis dalam proyek pengembangan gas hulu, sekaligus mengurangi bias keputusan dan meningkatkan keselarasan antara tujuan strategis dan hasil implementasi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian integratif yang menggabungkan metode kualitatif dan kuantitatif. Lingkungan internal, eksternal, dan bisnis dianalisis menggunakan kerangka PESTEL dan SWOT untuk menangkap faktor pendorong makro serta kapabilitas organisasi yang relevan terhadap pengembangan KYM. Data primer dikumpulkan melalui survey, wawancara semi- terstruktur, diskusi kelompok terarah, dan pemetaan pemangku kepentingan. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari data internal perusahaan, dokumen regulasi, studi teknis, serta literatur akademik yang relevan. Berdasarkan hasil analisis lingkungan, pendekatan Value-Focused Thinking (VFT) digunakan untuk merumuskan secara eksplisit nilai dan tujuan pemangku kepentingan. Tujuan fundamental dan tujuan sarana diidentifikasi dan disusun ke dalam kriteria dan sub-kriteria evaluasi, sehingga kerangka keputusan yang dihasilkan selaras dengan prioritas strategis dan ekspektasi pemangku kepentingan. Alternatif skenario pengembangan yang layak untuk struktur gas KYM kemudian dirumuskan berdasarkan kriteria tersebut dengan memanfaatkan dokumen perencanaan internal, kajian teknis, masukan pemangku kepentingan, serta pembandingan dengan proyek gas sejenis. Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) digunakan sebagai alat utama pendukung keputusan kuantitatif untuk mengevaluasi dan memeringkat alternatif melalui perbandingan berpasangan. Pengujian rasio konsistensi dan analisis sensitivitas dilakukan untuk memastikan keandalan dan kestabilan hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Alternatif 1, yaitu pengaliran produksi dari sumur KYM-B dan KYM-C melalui pembangunan flowline baru yang diintegrasikan dengan produksi eksisting menuju Stasiun Pengumpul (SP) Randegan dengan peningkatan fasilitas, merupakan skenario pengembangan yang paling optimal. Alternatif ini memperoleh skor tertinggi dalam evaluasi AHP karena menunjukkan kinerja yang seimbang pada seluruh kriteria utama, yaitu efisiensi ekonomi, kelayakan teknis dan operasional, kepatuhan terhadap regulasi dan lingkungan, risiko implementasi proyek, serta keselarasan dengan pemangku kepentingan. Alternatif 1 menawarkan konfigurasi yang lebih praktis dan dapat diimplementasikan dengan tingkat kompleksitas yang lebih rendah, risiko integrasi yang lebih kecil, serta kesiapan implementasi yang lebih baik. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa alternatif terpilih tetap robust terhadap variasi bobot kriteria, meskipun alternatif dengan kinerja ekonomi yang lebih tinggi menjadi lebih kompetitif ketika kriteria finansial diprioritaskan secara dominan. Jalur pengembangan yang diusulkan didukung oleh jadwal implementasi yang realistis, dengan target persetujuan proyek pada kuartal kedua tahun 2026 dan pencapaian produksi penuh (onstream) pada kuartal keempat tahun 2028.

2026
👤 Penulis: Hermawan
🏷️ Pengambilan Keputusan Strategis 🏷️ Struktur Gas Huluh Minyak 🏷️ Analisis Multi-Kriteria

ANALISIS PENGAMBILAN KEPUTUSAN MULTIKRITERIA UNTUK MENINGKATKAN KEHANDALAN COOLING TOWER: PENERAPAN VALUE FOCUS-THINKING DAN ANALYTIC- HIERARCHY PROCESS DI PT. KILANG PERTAMINA INTERNASIONAL RU III PLAJU

Menara pendingin memainkan peranan penting dalam menjaga kontinuitas operasional kilang dengan menyediakan air pendingin untuk unit proses dan sistem utilitas. Struktur menara pendingin telah beroperasi selama lebih dari tiga puluh tahun menggunakan bahan struktural kayu dan telah mengalami deteriorasi progresif yang disebabkan oleh paparan jangka panjang terhadap kelembapan, lingkungan kimia, beban operasional, dan degradasi biologis. Frekeunsi kerusakan yang meningkat memerlukan kegiatan perbaikan pemeliharaan yang sering melalui penggantian sebagian dan sektoral. Karena menara pendingin adalah aset utilitas yang kritis, pemilihan strategi perbaikan yang paling tepat akan menjadi keputusan strategis penting bagi perusahaan. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi harapan pemangku kepentingan terkait keandalan operasional mendara pendingin, mengevaluasi alternatif pemeliharaan dan perbaikan yang tersedia, serta menentukans strategi yang paling tepat menggunakan pendekatan pengambilan keputusan multi-kriteria yang terstruktur. Penelitian ini mengadopsi pendekatan campuran yang mengintegrasikan Value-Focused Thinking (VFT), Analytic Hierarchy Process (AHP), dan Cost/Benefit Analysis (CBA). Integrasi metode-metode ini memungkinkan nilai-nilai pemangku kepentingan yang bersifat kualitatif dan evaluasi keputusan yang bersifat kuantitatif untuk digabungkan secara sistematis dalam proses pengambilan keputusan yang komprehensif. Lima kriteria evaluasi utama muncul dengan kontinuitas operasional diidentifikasi sebagai kriteria terpenting dan tiga alternatif strategis dihasilkan dan dievaluasi. Integrasi analisis Biaya/Manfaat dan dinormalisasi untuk integrasi ke dalam model sintesis AHP menunjukkan bahwa revitalisasi menara pendingin yang ada menggunakan struktur kayu adalah alternatif yang paling disukai. Kemudian, uji sensitivitas lebih lanjut dilakukan untuk mengevaluasi ketahanan model keputusan yang menghasilkan alternatif yang dipilih tetap menjadi opsi dengan peringkat tertinggi di semua kasus evaluasi, menujukkan model keputusan yang stabil dan dapat diandalkan.

2026
👤 Penulis: Willy Pradhana
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Biaya/Manfaat

ANALISIS KORESPONDENSI DISKRIMINAN UNTUK KLASIFIKASI TIPE SISTEM PIPA GAS BERDASARKAN KATEGORI PENYEBAB INSIDEN DI AMERIKA SERIKAT TAHUN 2005-2024

Sistem perpipaan gas memiliki karakteristik operasional dan pola penyebab insiden yang berbeda pada setiap tipe sistemnya. Penelitian ini menerapkan Discriminant Correspondence Analysis (DCA) untuk mengklasifikasikan dan memprediksi tipe sistem pipa gas menggunakan data insiden signifikan PHMSA periode 2005–2024. Penyebab insiden direpresentasikan dalam bentuk subkategori berkode biner dan dianalisis dalam kerangka tabel kontingensi. DCA memproyeksikan data ke dalam ruang diskriminan dua dimensi yang menunjukkan pemisahan jelas antara sistem Distribusi Gas, Pengumpulan Gas, dan Transmisi Gas. Kinerja model dievaluasi menggunakan kerangka klasifikasi model efek tetap dan efek acak, sedangkan kualitas pemisahan kelompok dianalisis menggunakan koefisien determinasi berbasis inersia dan uji permutasi. Hasil penelitian menunjukkan akurasi klasifikasi yang tinggi, yaitu 95,56% pada model efek tetap dan 88,89% pada model efek acak. Koefisien determinasi berbasis inersia sebesar 0,882 menunjukkan pemisahan kelompok yang kuat, dan uji permutasi menghasilkan diskriminasi yang signifikan secara statistik. Tumpang tindih parsial antara kelompok Pengumpulan Gas dan Transmisi Gas mengindikasikan adanya kemiripan pola penyebab insiden tertentu. Analisis juga mengidentifikasi karakteristik khas atau pembeda setiap kelompok, di mana Distribusi Gas terutama berkaitan dengan insiden akibat gangguan eksternal, Pengumpulan Gas dicirikan oleh kegagalan terkait korosi, sedangkan Transmisi Gas berkaitan dengan kegagalan teknis, struktural, dan faktor lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DCA efektif digunakan untuk klasifikasi, prediksi, dan identifikasi karakteristik penyebab insiden pada sistem perpipaan gas.

2026
👤 Penulis: Naura Dhia Inayah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data Kontingensi 🏷️ Model Efek Tetap

PEMILIHAN METODE KONSTRUKSI PROYEK UNTUK MENCAPAI TARGET OTOBOSOROR DI PROJECT BLUE AMMONIA

PT. Kilang Pertamina Internasional (PT KPI) harus mendukung Program Strategis Pemerintah terkait Perintis Ekonomi Hijau dan berencana untuk membangun Pabrik Blue Amonia. Proyek harus dilaksanakan tepat waktu, sesuai anggaran, sesuai spesifikasi, sesuai peraturan, dan sesuai pengembalian (OTOBOSOROR). Salah satu tonggak terpenting dalam pelaksanaan proyek adalah pemilihan Metode Konstruksi Proyek. PT KPI selama ini terbiasa menggunakan cara konvensional yaitu metode konstruksi stick built yang mengacu pada cara tradisional membangun struktur. Proses pengambilan keputusan dalam memilih metode konstruksi bersifat kompleks dan didasarkan pada beberapa faktor internal dan ekternal perusahaan. Dalam penelitian ini, metode konstruksi seperti Stick Built, Modularisasi, Pre- Assembly Unit (PSU), dan kombinasi ketiga metode tersebut akan dievaluasi dengan menggunakan metodologi integrasi SWOT dan Analytic Hierarchy Process (AHP). Target OTOBOSOROR diterjemahkan ke dalam faktor-faktor SWOT untuk mengidentifikasi bagaimana mengelola proyek, seperti memanfaatkan Kekuatan, memperkuat Kelemahan, menggunakan keunggulan Peluang, dan mengembangkan pertahanan terbaik terhadap Ancaman. Dalam AHP, faktor-faktor SWOT sebagai kriteria akan diberi peringkat dan diprioritaskan melalui perbandingan berpasangan, yang secara sistematis mengubah penilaian kualitatif Tim Proyek menjadi dasar numerik untuk pengambilan keputusan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 parameter pengaruh terbesar untuk memilih Metode Konstruksi proyek guna mencapai target OTOBOSOR, yaitu ketersediaan dan keahlian tenaga kerja, dukungan dari pemerintah, pengalaman dalam operasi proyek besar, dan kematangan teknologi. Lebih lanjut, Metode Konstruksi proyek terbaik untuk Project Blue Ammonia adalah kombinasi dari Konstruksi Rangka, Modularisasi, dan Unit Pra-Rakitan (PSU). Hasil ini sendiri cukup kuat dengan nilai bobot yang bervariasi pada kriteria berdasarkan analisis sensitivitas. Selain itu, rencana aksi tindak lanjut untuk memastikan keberhasilan realisasi metode konstruksi proyek yang dipilih adalah memperkuat kemampuan sumber daya manusia dan keahlian teknis, secara aktif berinteraksi dengan pihak berwenang terkait, memanfaatkan rekam jejak operasional yang telah terbukti, dan membangun kemitraan strategis dengan kontraktor EPC yang telah teruji.

2026
👤 Penulis: Hermawan Yudhistiro
🏷️ Konstruksi Proyek 🏷️ Pembangunan Pabrik Blue Ammonia 🏷️ Analisis Swot

PENINGKATAN KEBERLANJUTAN PENGGUNAAN MOBILE BANKING PADA WESTERN BANK: ANALISIS PERLUASAN MODEL PENERIMAAN TEKNOLOGI

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi global, industri perbankan Indonesia memasuki fase persaingan baru dalam ranah digital banking melalui aplikasi super mobile banking. Sebagai salah satu institusi keuangan regional terkemuka, Western Bank (bukan merupakan nama asli) meluncurkan aplikasi super mobile banking dengan capaian jumlah pengguna aktif yang menjanjikan di tahun pertama. Namun demikian, di balik potensi tersebut, terdapat sejumlah ulasan negatif dari pengguna yang tersebar di platform publik, yang sebagian besar menyoroti aspek kendala jaringan sistem serta proses transisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor perilaku yang memengaruhi niat penggunaan dan keberlanjutan penggunaan aplikasi super mobile banking Western Bank. Studi ini mengadopsi perluasan model penerimaan teknologi untuk mengidentifikasi determinan adopsi dan keberlanjutan penggunaan, dengan meliputi konstruk utama model penerimaan teknologi yang dilengkapi dengan persepsi kepercayaan, persepsi risiko, dan norma subjektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 270 responden melaui kuesioner terstruktur, serta dianalisis menggunakan metode pemodelan persamaan struktural kuadrat terkecil parsial. Hasil penelitian menunjukan bahwa konstruk perilaku seperti persepsi kegunaan, evaluasi keseluruhan pengguna, pengaruh sosial, dan persepsi risiko memiliki peran penting dalam membentuk keputusan adopsi serta keberlanjutan penggunaan mobile banking Western Bank. Berdasarkan hasil tersebut, penelitian ini menyediakan rekomendasi strategis untuk meningkatkan penggunaan dan retensi jangka panjang, antara lain melalui penguatan fitur finansial, peningkatan pengalaman pengguna yang positif, pemanfaatan pengaruh sosial, penguatan aspek keamanan, serta optimalisasi proses onboarding.

2026
👤 Penulis: Muhammad Fauzan
🏷️ Digital Banking 🏷️ Perilaku Pengguna 🏷️ Model Penerimaan Teknologi

IDENTIFIKASI SISTEM PENYEDIAAN DAN TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT PENGGUNA AIR BERSIH DI KAWASAN PERMUKIMAN INFORMAL (STUDI KASUS: KAMPUNG PELANGI 200, KOTA BANDUNG)

Pertumbuhan penduduk di kawasan perkotaan yang dipicu oleh urbanisasi meningkatkan kebutuhan terhadap lahan hunian serta penyediaan infrastruktur dasar. Kondisi tersebut kemudian mendorong muncul dan berkembangnya permukiman informal di berbagai wilayah perkotaan. Kawasan ini umumnya tumbuh secara bertahap dan masih menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan dasar, termasuk penyediaan air bersih. Air bersih menjadi kebutuhan pokok yang berperan dalam menjaga kesehatan masyarakat, mendukung kualitas hidup, serta menunjang keberlanjutan lingkungan tempat tinggal. Dalam konteks pembangunan global, penyediaan air bersih menjadi bagian dari target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada Tujuan 6 yang menekankan pemenuhan akses air minum dan sanitasi yang layak secara merata dan berkelanjutan. Pada tingkat nasional, penyelenggaraan layanan air bersih diatur melalui Peraturan Pemerintah Nomor 122 Tahun 2015 tentang Sistem Penyediaan Air Minum yang menekankan pemenuhan aspek kualitas, kuantitas, dan kontinuitas pelayanan. Namun, penyediaan air bersih pada kawasan permukiman informal masih menghadapi berbagai kendala yang berpengaruh terhadap kualitas layanan yang diterima masyarakat. Permasalahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kecukupan pasokan air, tetapi juga berhubungan dengan bagaimana masyarakat menilai layanan serta tingkat kepuasan yang dirasakan. Kampung Pelangi 200 di Kelurahan Dago, Kota Bandung merupakan salah satu kawasan permukiman informal perkotaan yang menjadikan layanan air bersih sebagai bagian penting dalam menunjang kebutuhan domestik sehari-hari. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi sistem penyediaan air bersih sekaligus mengidentifikasi tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan yang diterima. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, penyebaran kuesioner kepada 150 responden, wawancara dengan masyarakat dan pihak terkait, serta pengujian kualitas air di laboratorium. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan analisis deskriptif, analisis supply–demand air bersih, Importance–Performance Analysis (IPA), dan evaluasi kualitas air berdasarkan hasil pengujian laboratorium.

2026
👤 Penulis: Abbiya Syifa Allianjani
🏷️ Kawasan Permukiman Informal 🏷️ Penyediaan Air Bersih 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Air
Halaman 130 dari 6754
💬