📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

PERAN KONFIGURASI NITROGEN TERHADAP MEKANISME EMISI DAN ABSORBANSI PADA MATERIAL CARBON DOTS HASIL SINTESIS BEBAS PELARUT: STUDI EKSPERIMEN DAN DENSITY FUNCTIONAL THEORY

Carbon dots merupakan nanomaterial karbon berdimensi nol yang memiliki keunggulan karakterisitik diantaranya sifat fotoluminesensi dan absorbansi yang dapat dimodulasi, stabil secara kimia, toksisitas rendah, serta berpotensi dikembangkan untuk aplikasi optoelektronik, konversi spektral LED, sensor, dan biomedis. Meskipun demikian, pengembangan CDs beremisi panjang gelombang (kuning–merah) yang efisien masih menghadapi berbagai tantangan: (i) banyak rute sintesis masih mengandalkan pelarut dan kondisi pemrosesan yang kurang ramah lingkungan serta proses sintesis yang berlangsung lama, (ii) hubungan kausal antara sintesis bebas pelarut dengan pembentukan konfigurasi nitrogen tertentu (pyrrolic-N, pyridinic-N, graphitic-N) dan konsekuensinya terhadap penyempitan celah energi dan pergeseran emisi belum dievaluasi secara menyeluruh, dan (iii) pada sifat absorbansi, pengaruh posisi gugus donor–akseptor (amino dan karbonil) terhadap pergeseran serapan (redshift absorption) belum dirumuskan secara sistematis pada model CDs berbasis kerangka aromatik. Disertasi ini menawarkan kebaruan melalui integrasi dua pendekatan penelitian yang saling menguatkan: pengembangan sintesis bebas pelarut (solvent-free) berbantuan gelombang mikro untuk menghasilkan CDs multiwarna terdoping nitrogen dalam waktu reaksi sangat singkat, serta kajian teoritis DFT/TD-DFT untuk memetakan pengaruh posisi gugus amino (NH?) dan karbonil (C=O) terhadap struktur elektronik dan spektrum serapan. Secara metode, CDs disintesis melalui strategi bebas pelarut (solvent-free) berbantuan pemanasan gelombang mikro menggunakan prekursor nitrogen, kemudian dipisahkan menjadi fraksi beremisi kuning (y-CDs) dan merah (r-CDs). Karakterisasi optik dan struktur dilakukan menggunakan UV–Vis/PL serta HRTEM dan XPS untuk mengidentifikasi kontribusi konfigurasi nitrogen dan komposisi permukaan. Pada bagian komputasi, model CDs berbasis polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) difungsionalisasi oleh gugus NH? dan C=O pada berbagai posisi, kemudian dianalisis menggunakan DFT dan TD-DFT untuk mengevaluasi perubahan orbital frontier dan celah energi, dan karakter intramolecular charge transfer (ICT) yang terkait dengan pergeseran absorbansi (redshift). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintesis solvent-free mampu menghasilkan emisi kuning hingga merah secara cepat, dan analisis XPS mengindikasikan fraksi beremisi merah memiliki kontribusi konfigurasi nitrogen yang lebih terintegrasi pada domain sp² (ditunjukkan oleh pengayaan graphitic-N) yang berkorelasi dengan penyempitan celah energi dan perubahan sifat optik. Perbedaan komposisi nitrogen–oksigen pada permukaan juga berkaitan dengan perbedaan polaritas, yang memfasilitasi pemisahan fraksi y-CDs dan r-CDs tanpa modifikasi kimia tambahan. Pada sisi absorbansi, perhitungan DFT/TD-DFT menegaskan bahwa penataan posisi gugus donor (NH?) dan akseptor (C=O) mengendalikan pergeseran serapan melalui perubahan energi HOMO–LUMO dan penguatan mekanisme ICT. Pergeseran absorbansi (redshift) paling menonjol muncul ketika konfigurasi posisi memungkinkan kopling elektron–hole yang efektif, sedangkan konfigurasi yang kurang mendukung menghasilkan perubahan yang terbatas. Secara keseluruhan, disertasi ini memperjelas keterkaitan antara strategi sintesis bebas pelarut, konfigurasi nitrogen, serta posisi gugus fungsi terhadap sifat emisi dan absorbansi CDs. Temuan ini memberikan dasar mekanistik untuk memodulasi CDs beremisi panjang gelombang dan berpotensi mempercepat desain material untuk konversi spektral LED, sensor berbasis permukaan, serta pengembangan platform optik menuju wilayah tampak-merah hingga near-infrared (NIR).

2026
👤 Penulis: Reza Umami
🏷️ Karbon Dots 🏷️ Analisis Mekanisme Emisi Dan Absorbansi 🏷️ Dft/Td-Dft Dalam Kajian Karbon Dots

STUDI PENGARUH UJI ULANG REAKSI KALSINASI DAN KARBONASI BATU KAPUR TERHADAP KINERJA PENANGKAPAN GAS CO\TEXTSUBSCRIPT{2}

Peningkatan kadar gas karbon dioksida (CO2) di atmosfer menjadi isu lingkungan utama karena kontribusinya sebagai gas rumah kaca penyebab pemanasan global. Pada tahun 2020, United States Environmental Protection Agency (EPA) mencatat 16% emisi CO2 berasal dari sektor industri dengan industri semen menyumbang sekitar 8% emisi gas rumah kaca global, terutama dari proses kalsinasi dan pembakaran bahan bakar. Kalsinasi adalah reaksi dekomposisi batu kapur (CaCO3) menjadi kalsium oksida (CaO) dan karbon dioksida (CO2). Salah satu teknologi untuk mengurangi emisi ini adalah teknologi siklus kalsium, yang memanfaatkan proses kalsinasi dan karbonasi untuk menangkap dan menyimpan CO2. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penurunan daya serap sorben dari enam sampel batu kapur yang berasal dari enam sumber tambang batu kapur berbeda pada lima siklus kalsinasi dan karbonasi berulang dalam menangkap CO2, serta membandingkan efektivitas siklus kalsium pada sampel tersebut menggunakan reaktor fluidized bed. Karakterisasi material dilakukan menggunakan teknik difraksi sinar-X (XRD) dan SEM untuk menganalisis perubahan fase kristalin dalam material setelah perulangan beberapa kali siklus. Hasil penelitian menunjukkan keberhasilan reaktor fluidisasi sebagai kalsiner dan karbonator dengan untuk mendukung siklus kalsium. Pengujian XRD menunjukkan keberhasilan reaksi kalsinasi dan karbonasi menggunakan reaktor fluidized bed dengan parameter yang ditetapkan. Setelah lima siklus sampel batu kapur mengalami penurunan daya serap secara bertahap dengan sampel Citeureup, Tuban, Padang, Cilacap, Bayah, dan Narogong mengalami penurunan daya serap berturut-turut sebesar 29,63%, 23,62%, 26,19%, 22,75%, 23,49%, dan 23,99%. Analisis SEM memperlihatkan penurunan daya serap sorben disebabkan oleh fenomena sintering pada sampel batu kapur setelah uji ulang kalsinasi dan karbonasi

2026
👤 Penulis: Nadir Arrayyan
🏷️ Karbonasi Batu Kapur 🏷️ Teknologi Siklus Kalsium 🏷️ Analisis Material

PEMANFAATAN BIOKARBON ARANG KAYU CAMPURAN PADA PROSES REDUKSI SUHU TINGGI RESIDU BAUKSIT UNTUK PRODUKSI LOGAM BESI PADA TEMPERATUR 800 HINGGA 1200 °C

Tingkat permintaan aluminium terus meningkat seiring dengan pertumbuhan sektor transportasi, konstruksi, dan kemasan, yang mendorong peningkatan produksi alumina sebagai bahan baku utama aluminium. Produksi alumina melalui Proses Bayer menghasilkan limbah padat berupa residu bauksit (red mud) dalam jumlah besar, dimana setiap 1 ton alumina dapat menghasilkan sekitar 0,8-1,5 ton residu bauksit. Limbah ini berpotensi menimbulkan permasalahan lingkungan karena sifatnya yang sangat basa. Namun, residu bauksit masih mengandung unsur berharga, terutama besi sehingga berpotensi dimanfaatkan kembali melalui proses reduksi suhu tinggi. Pemanfaatan biokarbon dari arang kayu campuran sebagai reduktor diharapkan dapat menjadi alternatif reduktor serta mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan batubara. Serangkaian percobaan reduksi temperatur tinggi telah dilakukan untuk mempelajari pengaruh jenis reduktor dan temperatur terhadap karakteristik fasa logam dan terak yang terbentuk dari reduksi residu bauksit. Proses reduksi dilakukan menggunakan briket komposit residu bauksit dengan reduktor biokarbon atau batubara dalam horizontal tube furnace pada temperatur 800, 900, 1000, 1100, dan 1200°C dengan waktu penahanan 120 menit serta aliran gas argon sebesar 2 L/menit untuk menciptakan kondisi inert. Selama percobaan, massa awal dan massa akhir sampel dicatat sehingga perubahan massa dapat ditentukan secara kuantitatif sebagai indikasi berlangsungnya reaksi reduksi. Selanjutnya, produk hasil reduksi dianalisis menggunakan Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive Spectroscopy (SEM-EDS) untuk mengetahui morfologi dan komposisi unsur, serta X-Ray Diffraction (XRD) untuk mengidentifikasi fasa yang terbentuk. Persentase perubahan massa meningkat seiring kenaikan temperatur pada penggunaan kedua reduktor. Berdasarkan perbandingan perubahan massa aktual dan teoritis, reduksi residu bauksit menggunakan reduktor biokarbon menunjukkan persen konversi lebih tinggi yaitu maksimal 113%, sedangkan batubara sebesar maksimal 87,17%. Hasil pemetaan unsur menunjukkan pemisahan logam dan terak yang lebih baik pada penggunaan biokarbon. Kadar Fe tertinggi dari penggunaan biokarbon diperoleh pada temperatur 1000°C sebesar 99,24%, sedangkan batubara diperoleh pada 900°C sebesar 99,26%. Pada temperatur yang lebih tinggi, kadar Fe menurun akibat peningkatan kandungan silikon yang paling signifikan pada 1200°C, yaitu 5,61% pada biokarbon dan 3,90% pada batubara. Ukuran logam maksimum terbentuk pada 1200°C dengan nilai 77,15 ?m pada biokarbon dan 81,53 ?m pada batubara. Persentase area logam terbesar penggunaan reduktor biokarbon adalah sebesar 11,63% dan batubara sebesar 9,58%. Selain itu, fasa oksida dominan yang terbentuk pada kedua reduktor adalah fasa aluminosilikat.

2026
👤 Penulis: Mellisa
🏷️ Reduksi Suhu Tinggi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN BERBASIS FUZZY LOGIC PADA KOTA RAWAN MULTIHAZARD STUDI KASUS: KOTA PALU

Perkembangan kawasan perkotaan pada wilayah rawan multi-bencana menghadirkan tantangan mendasar dalam praktik penataan ruang, terutama dalam memastikan bahwa ekspansi permukiman tetap selaras dengan daya dukung biofisik dan batas keselamatan geologis. Kota Palu merupakan salah satu kota yang berkembang pada lanskap tektonik aktif dengan ancaman majemuk berupa sesar aktif, likuifaksi, gerakan tanah, tsunami, dan banjir. Pasca-bencana tahun 2018, pemerintah menetapkan Peta Zona Rawan Bencana (ZRB) sebagai instrumen regulatif mitigasi bencana dalam penataan ruang. Namun demikian, pendekatan evaluasi kesesuaian lahan konvensional yang berbasis klasifikasi diskrit maupun agregasi linier kompensatoris berpotensi menghasilkan fenomena kompensasi antar-variabel, dimana nilai tinggi pada variabel utilitas ruang dapat menutupi tingkat kerawanan bahaya yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen evaluasi kesesuaian lahan permukiman berbasis logika fuzzy yang mampu mengintegrasikan dimensi potensi ruang dan kendala bahaya secara lebih terstruktur, serta mengevaluasi tingkat konsistensi spasial antara distribusi permukiman eksisting dan alokasi kawasan permukiman dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Palu terhadap indeks kesesuaian lahan yang dihasilkan. Penelitian menggunakan pendekatan deduktif-kuantitatif melalui pemodelan Spatial Multi-Criteria Evaluation (SMCE) berbasis Sistem Informasi Geografis. Variabel analisis disusun ke dalam dua sub-model utama, yaitu submodel potensi ruang yang mengintegrasikan parameter topografi dan aksesibilitas,ii serta sub-model kendala yang berbasis Zona Rawan Bencana. Transformasi variabel dilakukan menggunakan fungsi keanggotaan fuzzy untuk menghasilkan derajat kesesuaian kontinu pada rentang 0,0–1,0. Integrasi variabel potensi ruang dilakukan menggunakan operator Fuzzy Gamma, sementara zona bahaya ekstrem dan kawasan lindung RTRW diperlakukan sebagai pembatas absolut melalui mekanisme masking biner. Stabilitas model kemudian diuji melalui analisis sensitivitas terhadap variasi parameter gamma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model evaluasi yang dikembangkan mampu merepresentasikan distribusi spasial kesesuaian lahan secara konsisten dengan karakteristik fisik wilayah Kota Palu. Zona dengan tingkat kesesuaian tinggi terkonsentrasi pada wilayah dataran lembah Palu yang memiliki topografi relatif datar dan aksesibilitas yang baik, sedangkan wilayah perbukitan serta koridor sesar aktif menunjukkan nilai kesesuaian yang sangat rendah hingga nol mutlak. Hasil uji sensitivitas menunjukkan korelasi spasial antar-skenario parameter gamma di atas 0,997, yang mengindikasikan bahwa model memiliki tingkat stabilitas yang tinggi terhadap perubahan parameter integrasi. Evaluasi konsistensi spasial menunjukkan bahwa sebagian permukiman eksisting masih berada pada area dengan tingkat kesesuaian sangat rendah akibat persinggungan dengan zona pembatas, sementara alokasi kawasan permukiman dalam RTRW secara umum menunjukkan tingkat kesesuaian yang relatif sebanding dengan distribusi kesesuaian lahan eksisting. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan kerangka evaluasi kesesuaian lahan berbasis logika fuzzy yang secara eksplisit memisahkan variabel potensi ruang dan variabel pembatas bahaya dalam struktur model hierarkis, serta menempatkan regulasi Zona Rawan Bencana sebagai baseline normatif dalam proses evaluasi kesesuaian ruang. Pendekatan ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan metode evaluasi spasial yang lebih sensitif terhadap bahaya bencana dalam konteks perencanaan kota pada wilayah rawan multi-bencana.

2026
👤 Penulis: Ismail Djohan
🏷️ Kawasan Permukiman 🏷️ Penataan Ruang 🏷️ Zona Rawan Bencana

KAJIAN EKSPLORASI PRINSIP DAN KRITERIA PERANCANGAN BERBASIS PENGALAMAN RUANG MULTISENSORI STUDI KASUS: KAWASAN KOTA LAMA SURABAYA

Perancangan perkotaan cenderung berfokus pada aspek fisik dan dominasi indra visual, sementara pengalaman ruang multisensori yang melibatkan keseluruhan pancaindra lainnya belum banyak diperhatikan. Pengalaman ruang multisensori ini merupakan bagian penting dalam membantu pengembangan kawasan yang responsif terhadap pengalaman ruang pengguna. Jika tidak diperhatikan dengan baik, pengalaman ruang dalam kawasan dapat menuju placelessness yang timbul akibat homogenisasi, impersonalitas, dan hilangnya makna pada lingkungan perkotaan modern. Penelitian ini dilakukan dengan bertujuan merumuskan prinsip dan kriteria perancangan berbasis pengalaman ruang multisensori di Kawasan Kota Lama Surabaya. Metode yang digunakan adalah eksplorasi melalui sensory walking yang melibatkan 29 peserta pada tujuh koridor di tiga distrik Kawasan Kota Lama Surabaya: Ampel, Eropa, dan Pecinan. Data pengalaman ruang multisensori dikumpulkan melalui pencatatan stimuli pancaindra dan respons emosional, menghasilkan 2.961 input data yang dianalisis menggunakan diagram sankey dan spider web diagram. Penelitian ini mengidentifikasi 35 stimuli multisensori yang terkategorikan ke dalam lima kelompok, yaitu aktivitas pendukung, lingkungan binaan, infrastruktur, atmosfer, dan elemen alami/hidup. Temuan menunjukkan bahwa kualitas pengalaman ruang tidak ditentukan oleh dominasi elemen visual semata, melainkan oleh kekayaan dan keseimbangan stimuli multisensori secara terpadu. Selain itu, kawasan yang berorientasi pejalan kaki, humanis, serta memiliki aktivitas ruang yang hidup secara konsisten menghasilkan pengalaman yang positif. Proses perumusan prinsip dan kriteria perancangan dilakukan berlandaskan pada temuan-temuan empiris pengalaman ruang multisensori sensory walking. Hasil rumusan tersebut adalah SPHERAL, tujuh prinsip perancangan berbasis pengalaman ruang multisensori yang meliputi Safe & Secure, Pleasant, Human-Oriented, Engaging, Rich, Attractive, dan Legible. Masing-masing prinsip dalam SPHERAL kemudian diturunkan menjadi kriteria terukur untuk diadaptasi pada praktik perancangan ruang perkotaan yang lebih responsif terhadap pengalaman ruang pengguna untuk ruang kota yang lebih kaya dan bermakna.

2026
👤 Penulis: Nabil Rizki Mulya Widodo
🏷️ Kawasan Kota Lama Surabaya 🏷️ Perancangan Ruang Multisensori 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Ruang

PENGEMBANGAN DAN VALIDASI METODE ANALISIS MULTIKOMPONEN ASAM AMINO PRIMER DENGAN KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI

Asam amino adalah komponen utama penyusun protein-protein dalam tubuh seperti protein struktural, enzim dan beberapa hormon dan neurotransmitters. Disamping merupakan sumber energi, asam amino terlibat dalam banyak metabolisme yang mempengaruhi tubuh. Sejalan peningkatan penggunaan multikomponen asam amino untuk terapi dan melengkapi kebutuhan diet masyarakat telah mendorong industri farmasi mengembangkan berbagai produk multikomponen asam amino. Berkaitan dengan pengembangan sediaannya, analisis multikomponen asam amino umumnya memiliki masalah dalam pemisahan dan deteksinya. Untuk mengatasi masalah pemisahan dapat digunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) sedangkan untuk mengatasi masalah deteksinya perlu dilakukan modifikasi struktur kimia asam amino melalui reaksi derivatisasi sehingga dapat dideteksi dengan detektor yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode analisis asam amino dengan KCKT dalam sediaan infus multikomponen asam amino. Modifikasi struktur kimia asam amino dilakukan dengan mengunakan pereaksi OPA/MPA, yang akan menghasilkan turunan senyawa indol. Pemisahan turunan senyawa indol dari masing-masing asam amino menggunakan kolom Zorbax Eclipse AAA (150 mm x 4,6 mm, ukuran partikel 5 mikron), dengan mengunakan campuran fase gerak A (dapar fosfat pH 7,8) dan fase gerak B (asetonitril- metanol-air (45:45:10)) dengan sistem gradien dan laju alir terprogram. Hasil pemisahan turunan senyawa indol hasil reaksi kemudian dideteksi pada panjang gelombang 335 nm. Hasil validasi metode menunjukkan linieritas kurva baku untuk asparagin, serin, histidin, arginin, lisin, metionin, valin, fenilalanin dan leusin berturut turut koefisien korelasinya (r) adalah 0,994; 0,994; 0,994; 0,995; 0,994; 0,996; 0,995; 0,994; 0,994. Batas deteksi asam amino tersebut berturut turut (mg/ml) adalah 0,185; 0,126; 0,131; 0,291; 0,769; 0,039; 0,151; 0,048; 0,086. Batas kuantisasi asam amino tersebut berturut-turut (mg/ml) adalah 0,617; 0,422; 0,438; 0,971; 2,566; 0,130; 0,505; 0,162; 0,287. Uji kesaksamaan AUC untuk asparagin, serin, histidin, arginin, lisin, metionin, valin, fenilalanin dan leusin berturut turut koefisien variasinya (KV %) adalah 0,94; 1,14; 1,22; 1,17; 1,65; 0,69; 1,39; 1,26; 1,13 sedangkan untuk koefisien variasi waktu retensinya (KV %) adalah 0,31; 0,36; 0,33; 0,18; 0,13; 0,22; 0,69; 0,17; 0,21. Perolehan kembali untuk asparagin, serin, histidin, arginin, lisin, metionin, valin, fenilalanin dan leusin adalah 92,93%; 89,99%; 87,04%; 89,90% 88,26%; 84,66%; 89,42%; 108,20%; dan 82,01%. Perolehan kadar dalam sediaan infus untuk asparagin, serin, histidin, arginin, lisin, metionin, valin, fenilalanin dan leusin adalah 86,47%; 102,73%; 130,89%; 149,43%; 100,06%; 105,66%; 91,10%; 62,40%; 95,09%.

2026
👤 Penulis: M Hatta Prabowo
🏷️ Kromatografi Cair Kinerja Tinggi 🏷️ Kimia Analisis Farmasi 🏷️ Validasi Metode Analisis

PENINGKATAN KINERJA PREDIKSI LINK BERBASIS EMBEDDING DENGAN PENGELOMPOKAN VEKTOR

Knowledge graph digunakan untuk menyimpan sekumpulan fakta dalam bentuk triple SPO (subjek, predikat, objek) atau (entitas, relasi, entitas). Salah satu masalah yang umum terjadi pada KG adalah KG tidak lengkap yaitu terdapat salah satu bagian entitas atau relasi yang hilang. Penggunaan KG tidak lengkap dapat menurunkan akurasi suatu task. Relasi yang hilang merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi pada KG tidak lengkap. Untuk melengkapi link atau relasi yang hilang dapat menggunakan prediksi link. Seiring bertambahnya fakta yang perlu disimpan, ukuran KG juga bertambah besar, terdiri dari jutaan entitas dan relasi. Semakin besar KG, maka semakin besar juga peluang KG tersebut tidak lengkap dan waktu yang dibutuhkan untuk memprediksi relasi yang hilang juga semakin meningkat. Oleh karena itu, akurasi hasil prediksi dan efisiensi waktu prediksi pada metode prediksi link perlu ditingkatkan. Embedding merupakan salah satu pendekatan yang digunakan pada prediksi link. Embedding mengubah representasi entitas dan relasi sebagai vektor dalam ruang dimensi tertentu. Proses utama prediksi link berbasis embedding terdiri atas tiga tahap yaitu embedding, scoring, dan pemeringkatan. Embedding mengubah entitas dan relasi menjadi nilai vektor. Scoring menghitung skor setiap triple menggunakan scoring function tertentu dan pemeringkatan mengurutkan triple berdasarkan skor dari yang tertinggi hingga terendah. Hasil prediksi ditentukan dari skor setiap triple. Semakin tinggi skor, semakin besar kemungkinan triple tersebut valid. Clustering digunakan untuk mengelompokkan data berdasarkan kesamaan tertentu. Teknik ini dapat diterapkan pada prediksi link berbasis embedding untuk mengelompokkan vektor sehingga prediksi link dilakukan pada cluster tertentu. Dengan membatasi jumlah vektor yang perlu diproses pada proses scoring dan pemeringkatan triple, waktu yang dibutuhkan untuk proses prediksi menjadi lebih efisien dan meningkatkan peluang hasil prediksi yang lebih akurat. Eksperimen penelitian dilakukan pada tiga dataset: WN18RR, WN11 dan FB13. Teknik prediksi link berbasis embedding yang digunakan sebagai metode baseline adalah TransE dan eksperimen menggunakan beberapa dimensi embedding rentang 50 hingga 200. Pengelompokan vektor menggunakan dua skema yaitu Balanced Iterative Reducing and Clustering Using Hierarchies (BIRCH) dan pengelompokan berdasarkan kesamaan relasi. Kualitas cluster dievaluasi menggunakan Silhouette Coefficient (SC) dan akurasi prediksi link menggunakan Hits@N, Mean Rank (MR), Mean Reciprocal Rank (MRR). Pengukuran efisiensi waktu berdasarkan waktu yang digunakan untuk memprediksi seluruh data uji pada setiap dataset. Metode prediksi link berbasis embedding dengan pengelompokan vektor diberi nama Link Prediction Clustering (LPC). Hasil eksperimen menunjukkan bahwa kualitas cluster memiliki nilai rentang 0,86 hingga 0,93. Nilai ini mengindikasikan bahwa pengelompokan vektor mendekati nilai 1, yang berarti kualitas cluster yang dihasilkan bagus. Oleh karena itu pengelompokan vektor dapat digunakan untuk membatasi area prediksi link. Pemilihan kelompok vektor menggunakan pengukuran jarak terdekat antara triple yang akan diprediksi dengan cluster yang ada, menggunakan Euclidean dan Mahalanobis. Berdasarkan hasil perhitungan relatif terhadap metode baseline, penerapan kelompok vektor terbukti dapat meningkatkan akurasi hasil prediksi Hits@1 rentang 10% – 98% dan mempersingkat waktu prediksi rentang 62% - 99,96%. Berdasarkan hasil penelitian, LPC terbukti berhasil meningkatkan akurasi hasil prediksi link sekaligus mengurangi waktu prediksi link pada KG tidak lengkap dan berukuran besar. Kebaharuan dan orisinalitas penelitian ini terletak pada penerapan pengelompokan vektor hasil embedding. Kontribusi utama disertasi ini adalah menghasilkan metode prediksi link berbasis embedding yang lebih akurat dan waktu prediksi lebih efisien dengan pengelompokan vektor hasil embedding.

2026
👤 Penulis: Fitri Susanti
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

KAJIAN BATAS MARITIM INDONESIA - SINGAPURA PADA SEGMEN TIMUR

To maintain the integrity and ensure the sovereignty of the Unitary Republic of Indonesia, it is necessary to determine the boundary region firmness in Indonesia, especially the sea borders (maritime boundary). From the Indonesian side there are some cases of unresolved maritime borders, one of them is Indonesia towards Singapore's maritime boundary. Maritime boundary between these two country has been agreed to West and Central segments and it still leaves 1 (one) other segment, the Eastern segment, which until now has not been resolved and still being negotiated. In this study conducted maritime delimitation Indonesia - Singapore on East segment by using the principle of equal distance (Equidistant Principle) and assessed according to the 1982 UNCLOS. The results of this study was obtained 5 (five) median points which form the median line as the maritime boundary between Indonesia and Singapore. The median line is divided into 2 (two) segments, there are Eastern-1 and Eastern-2 segment due to the region of Trijunction Point. Another thing that is found in this study is the difference in geodetic datum which is used in the Eastern segment compared with the Central segment.

2026
👤 Penulis: Muhammad Hamdanis
🏷️ Geodesi 🏷️ Perjanjian Laut 🏷️ Pengaturan Batas Maritim

PENILAIAN KAPASITAS KOMUNITAS DALAM MENDUKUNG KEBERLANJUTAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO RIMBA LESTARI DI DESA GUNUNGHALU KABUPATEN BANDUNG BARAT

Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) merupakan salah satu bentuk alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi listrik masyarakat. Di Indonesia, pada awalnya PLTMH ini dikembangkan sebagai salah satu solusi untuk mengatasi kebutuhan elektrifikasi penduduk di daerah terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik nasional. Ketersediaan air yang melimpah serta teknologi yang relatif sederhana menjadi pertimbangan untuk diaplikasikannya PLTMH bagi masyarakat perdesaan. Dalam suatu program PLTMH pada umumnya setelah selesai pembangunan fisik, operasional dan pemeliharaan sepenuhnya diserahkan kepada masyarakat atau komunitas lokal penerima manfaat dari PLTMH tersebut. Oleh karena itu keberlanjutan suatu PLTMH sangat ditentukan dan tergantung pada kapasitas komunitas penerima manfaatnya. Dalam penelitian ini dilakukan suatu penilaian terhadap kapasitas komunitas dalam mendukung keberlanjutan PLTMH Rimba Lestari dengan metode deskriptif kualitatif menggunakan indeks kapasitas komunitas (IKK) yang dikembangkan oleh Bush dkk.(2002) namun disesuaikan terhadap konteks penelitian dengan domain utama terdiri dari kemitraan komunitas, transfer informasi, pemecahan masalah, dan infrastruktur. Pengumpulan data dilakukan melalui penilaian indeks dan wawancara terhadap perwakilan dari komunitas sendiri, pihak pemerintah serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Hasil dari penelitian menunjukan bahwa komunitas penerima manfaat PLTMH Rimba Lestari telah memiliki kapasitas yang cukup dalam hal kemitraan, transfer pengetahuan, pemecahan masalah, dan infrastruktur. Demikian pula halnya dengan tingkat keberlanjutan yang juga menunjukan bahwa komunitas cukup mampu untuk mempertahankan keberlanjutan dari program PLTMH Rimba Lestari ini, akan tetapi ada dua hal yang perlu mendapat perhatian khusus yaitu dalam aspek finansial serta kaderisasi. Hasil cukup yang didapatkan disini mengindikasikan bahwa komunitas memiliki cukup kapasitas dalam mendukung keberlanjutan program PLTMH Rimba Lestari namun masih tersedia ruang untuk peningkatan dan perbaikan.

2026
👤 Penulis: Permadi Mohamad Nurhikmah
🏷️ Kepemimpinan Komunitas 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi 🏷️ Analisis Kecerdasan Buatan

PENGEMBANGAN LAPORAN KEUANGAN BERBASIS IFRS 17/PSAK 117 PADA BPJS KESEHATAN

Penelitian ini mengkaji pengembangan penyajian laporan keuangan berbasis IFRS 17/PSAK 117 pada BPJS Kesehatan sebagai penyelenggara Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Transformasi dari IFRS 4 menuju IFRS 17 tidak hanya mereformasi aspek teknis akuntansi, tetapi juga menggeser paradigma pelaporan dari pendekatan berbasis premi menuju pendekatan berbasis jasa yang lebih mencerminkan substansi ekonomi kontrak asuransi. Dalam konteks BPJS Kesehatan, perubahan ini menuntut adanya penyesuaian konseptual mengingat karakteristik jaminan sosial yang bersifat nirlaba dan berbasis prinsip gotong royong. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan IFRS 17/PSAK 117 dalam pengukuran dan penyajian liabilitas asuransi pada BPJS Kesehatan, khususnya melalui pendekatan Premium Allocation Approach (PAA), serta mengevaluasi implikasinya terhadap transparansi dan akuntabilitas laporan keuangan. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif melalui analisis konseptual, komparatif, dan implikatif dengan memanfaatkan studi literatur serta data konseptual terkait komponen Liability for Remaining Coverage (LRC) dan Liability for Incurred Claims (LIC). Hasil analisis menunjukkan bahwa pendekatan PAA merupakan model pengukuran yang paling relevan untuk BPJS Kesehatan mengingat karakteristik kontrak yang bersifat jangka pendek dan berbasis iuran periodik. Penerapan IFRS 17 mendorong peningkatan kualitas pelaporan melalui pemisahan liabilitas secara lebih terstruktur, serta memperkuat transparansi melalui pengungkapan asumsi dan ketidakpastian risiko. Namun demikian, terdapat tantangan dalam mengadaptasi konsep-konsep utama seperti Contractual Service Margin (CSM), yang dalam konteks BPJS Kesehatan memerlukan reinterpretasi agar selaras dengan tujuan keberlanjutan program jaminan sosial. Dengan demikian, penerapan IFRS 17/PSAK 117 berpotensi meningkatkan kualitas, transparansi, dan akuntabilitas pelaporan keuangan BPJS Kesehatan, meskipun implementasinya memerlukan penyesuaian konseptual dan operasional agar tetap konsisten dengan mandat sosial Program Jaminan Kesehatan Nasional.

2026
👤 Penulis: Nova Nathania Muljohartono
🏷️ Ifrs 17 🏷️ Bpjs Kesehatan 🏷️ Analisis Konseptual

MODEL KONSEPTUAL ADOPSI INTELIGENSI ARTIFISIAL UNTUK ARSITEKTUR ORGANISASI

Arsitektur organisasi atau enterprise architecture (EA) merupakan abstraksi tentang kondisi organisasi saat ini, kondisi yang diinginkan di masa depan, serta tahapan transisi untuk mencapainya. Pada era Industri 4.0, perkembangan teknologi digital yang pesat menuntut organisasi memiliki arsitektur organisasi yang mampu memanfaatkan Inteligensi Artifisial atau Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data. EA yang ada seperti Zachman dan The Open Group Architecture Framework (TOGAF) telah banyak digunakan, namun sebagian besar belum mengadopsi AI secara menyeluruh di seluruh domain arsitekturnya. Keterbatasan tersebut menghambat organisasi dalam merespon perubahan lingkungan bisnis dan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model konseptual adopsi Inteligensi Artifisial untuk arsitektur organisasi yang mengadopsi AI ke dalam lima domain utama EA, yaitu arsitektur bisnis, arsitektur data, arsitektur aplikasi, arsitektur teknologi, dan arsitektur keamanan. Model konseptual ini dikembangkan untuk menjawab kebutuhan organisasi akan model arsitektur yang berorientasi pada pengambilan keputusan berbasis data. Metodologi penelitian yang digunakan adalah Design Science Research Methodology (DSRM) dengan tahapan identifikasi masalah, penentuan tujuan, desain dan pengembangan model, serta evaluasi awal terhadap konsep yang dikembangkan. Penelitian hingga tahap ini menghasilkan model konseptual adopsi AI ke dalam EA, yang memadukan TOGAF Architecture Development Model (ADM) sebagai kerangka utama dengan Business Architecture Body of Knowledge (BIZBOK) pada domain bisnis. Model ini menekankan adopsi AI dalam domain bisnis, data, aplikasi, teknologi, dan keamanan secara terintegrasi untuk membangun arsitektur organisasi yang berbasis data. Penelitian ini mengembangkan Model Konseptual adopsi AI dalam EA dengan memasukkan komponen adopsi AI ke dalam lima domain EA : arsitektur bisnis, arsitektur data, arsitektur aplikasi, arsitektur teknologi, dan arsitektur keamanan. Model konseptual ini dibangun dengan memadukan struktur domain EA (mengacu pada TOGAF dan BIZBOK) dengan tiga komponen utama adopsi AI: (1) Machine Intelligence Continuum (MIC), (2) AI Technologies; serta (3) AI Use. Integrasi ini menghasilkan model arsitektur yang tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga mampu mendukung keputusan berbasis data. Lapisan etika AI ditempatkan sebagai fondasi lintas domain untuk memastikan pemanfaatan AI selaras dengan prinsip akuntabilitas, transparansi, keadilan, perlindungan data, keamanan, dan keberlanjutan. Evaluasi model dilakukan melalui studi kasus observasional pada lima perguruan tinggi—tiga di Indonesia dan dua di luar negeri—dengan pendekatan pemetaan kondisi AS-IS dan perancangan kondisi TO-BE, analisis kesenjangan lintas domain EA, serta pemetaan praktik AI terhadap komponen MIC, AI Technologies, dan AI Use. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model konseptual ini layak digunakan sebagai kerangka analitis untuk mengkaji kesiapan, keterpaduan, dan peran AI dalam EA, khususnya pada konteks layanan akademik. Model yang dihasilkan memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan EA berbasis AI dan menjadi dasar bagi penelitian lanjutan, termasuk validasi pakar dan pengujian empiris pada lingkungan operasional nyata

2026
👤 Penulis: Leni Fitriani
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Enterprise Architecture (Ea) 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

MODEL PENILAIAN PARIWISATA BERWAWASAN LINGKUNGAN MELALUI LIFE CYCLE ASSESSMENT DI KOTA BUKITTINGGI

Sektor pariwisata berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan akibat aktivitas akomodasi, transportasi, dan rekreasi yang menyertai pergerakan wisatawan. Kota Bukittinggi, sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Sumatera Barat yang perekonomiannya sangat bergantung pada sektor pariwisata, memiliki keterbatasan daya dukung lingkungan. Pertumbuhan penduduk dan peningkatan intensitas pariwisata tanpa perencanaan yang memadai berisiko menurunkan kualitas lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak lingkungan aktivitas pariwisata di Kota Bukittinggi secara komprehensif menggunakan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA), mulai dari tahap inventori hingga analisis dampak dan perumusan strategi pengelolaan berkelanjutan. Unit fungsional yang digunakan adalah satu wisatawan yang melakukan aktivitas selama satu hari di Kota Bukittinggi, dengan cakupan sistem meliputi subsistem akomodasi, transportasi, wisata rekreasi, wisata kuliner, dan wisata belanja. Hasil analisis dampak midpoint menunjukkan bahwa kategori dampak yang paling dominan adalah Global Warming Potential (GWP) pada setiap unit fungsional, yang terutama berasal dari penggunaan listrik di akomodasi (1,34 kg CO2-eq), transportasi—khususnya kendaraan MPV (0,64 kg CO2-eq), penggunaan energi pada aktivitas wisata rekreasi (0,148 kg CO2-eq), penggunaan kayu bakar pada wisata kuliner (0,976 kg CO2-eq), serta aktivitas wisata belanja yang berkaitan dengan produk suvenir berbasis olahan pertanian (1,058 kg CO2-eq). Dampak lanjutan pada tingkat endpoint untuk setiap unit fungsional mencakup penurunan kesehatan manusia yang direpresentasikan oleh hilangnya hari sehat akibat disabilitas sebesar 0,007 DALY, degradasi kualitas dan keberlanjutan ekosistem yang ditunjukkan oleh potensi kehilangan ekosistem terestrial sebesar 1,029 × 10-5 species·year, kehilangan ekosistem air tawar sebesar 1,16 × 10-5 species·year, serta kehilangan ekosistem air laut sebesar 4,7 × 10-8 species·year, dan meningkatnya biaya pemulihan sumber daya alam sebesar 0,36 USD. Proyeksi tekanan lingkungan hingga tahun 2040 mengindikasikan peningkatan beban lingkungan yang semakin besar seiring pertumbuhan jumlah wisatawan dan penduduk, apabila tidak dilakukan intervensi kebijakan dan teknologi yang memadai. Pengembangan skenario wisata ramah lingkungan dilakukan untuk mengevaluasi potensi penurunan dampak lingkungan melalui penerapan teknologi dan perubahan praktik pengelolaan. Skenario optimis menunjukkan bahwa implementasi panel surya sebesar 60–70% pada fasilitas akomodasi, penerapan rain water harvesting sebesar 60%, minimisasi dan pengelolaan sampah sebesar 50–74,5%, penyediaan layanan transportasi listrik sebesar 52,3%, penggunaan bahan pangan beras organik sebesar 20%, penggantian kayu bakar dengan sumber energi yang lebih bersih sebesar 100%, serta peningkatan pembelian suvenir ramah lingkungan sebesar 72% mampu menurunkan berbagai kategori dampak lingkungan secara signifikan per wisatawan per hari. Penurunan tersebut mencakup dampak perubahan iklim, konsumsi energi fosil, penggunaan air, serta toksisitas terhadap manusia dan ekosistem. Sebagai tindak lanjut, penelitian ini menyusun roadmap pariwisata berkelanjutan Kota Bukittinggi periode 2026–2035 dengan pendekatan Three Horizons, yang mencakup tahapan stabilisasi, transformasi, serta integrasi. Roadmap ini menunjukkan bahwa penerapan skenario optimis secara bertahap berpotensi menurunkan dampak lingkungan per wisatawan per hari sekaligus menjaga daya saing destinasi wisata. Secara keseluruhan, hasil penelitian menyatakan bahwa integrasi pendekatan LCA ke dalam perencanaan dan kebijakan pembangunan pariwisata daerah merupakan langkah strategis untuk mewujudkan pariwisata Kota Bukittinggi yang berkelanjutan, rendah karbon, dan berdaya dukung jangka panjang.

2026
👤 Penulis: Nofriya
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan 🏷️ Hidrologi

PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN NONCAGAR BUDAYA DALAM KAWASAN CAGAR BUDAYA KOTA BANDUNG

Kawasan Cagar Budaya di koridor Braga dan Asia Afrika merupakan identitas sejarah utama Kota Bandung yang saat ini menghadapi tekanan pembangunan yang sangat tinggi. Persoalan utama dalam penelitian ini adalah ketiadaan pedoman operasional yang konsisten bagi Bangunan Noncagar Budaya (BNCB), yang mengakibatkan munculnya anomali morfologi berupa ketidakkonsistenan garis sempadan bangunan dan dominasi visual bangunan masif yang mendegradasi karakter kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan pedoman pembangunan BNCB yang kontekstual dan aplikatif bagi Pusat Kota Lama Bandung. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptifeksploratori dengan teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan periode 2025-2026, wawancara mendalam dengan narasumber dari dinas terkait dan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), serta studi komparatif preseden internasional. Temuan penelitian menunjukkan bahwa di Koridor Braga, konsistensi ruko 2-3 lantai dan garis sempadan bangunan (GSB) nol meter tetap terjaga namun terancam oleh intensitas pembangunan tinggi dari regulasi zonasi. Sementara itu, Koridor Asia Afrika terfragmentasi menjadi dua karakteristik: Segmen 1 menghadapi ancaman dominasi visual menara tinggi yang memerlukan intervensi sistem podium empat lantai, sedangkan Segmen 2 mengalami ambivalensi morfologi akibat kebijakan parkir depan (setback) masa lalu yang memutus kontinuitas dinding jalan monumental. Kesimpulan penelitian ini merumuskan pedoman pembangunan BNCB melalui mekanisme pengendalian “Dual-Gate Permit” mengintegrasikan aspek administratif zonasi dengan audit sensitivitas desain oleh TACB. Pedoman ini menetapkan kewajiban pengembalian GSB nol meter secara mutlak, penerapan sistem podium dan desain step-back, serta penggunaan prinsip "To the Present" dengan transparansi kaca lantai dasar lebih dari 70% guna menjamin kualitas ruang publik pejalan kaki di kawasan bersejara.

2026
👤 Penulis: Muhammad Yusrizal Azhar
🏷️ Kawasan Cagar Budaya 🏷️ Desain Urbanisasi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Bangunan

RISK QUANTIFICATION OF TAIL STRIKE DURING TAKEOFF PHASE USING SUBSET SIMULATION

Keselamatan penerbangan senantiasa menjadi prioritas utama dalam industri dirgantara. Fase lepas landas merupakan fase yang sangat sensitif terhadap faktor manusia maupun teknis, yang berpotensi menghadirkan risiko langka namun kritis seperti peristiwa tail strike. Meskipun penelitian terdahulu telah meninjau risiko ini, sering kali terdapat keterbatasan dalam mengintegrasikan dinamika terbang dengan teknik probabilitas tingkat lanjut sehingga presisi dari kuantifikasi risiko menjadi terbatas. Penelitian ini menjawab keterbatasan tersebut dengan menerapkan kuantifikasi risiko probabilistik untuk mengevaluasi probabilitas insiden tail strike pada pesawat Boeing 747 saat fase lepas landas. Tujuan penelitian ini dicapai melalui pengembangan model dinamika untuk menghitung tail clearance serta penetapan limit state function, ????(????), yang didefinisikan sebagai tail clearance, di mana ????(????)?0 mendefinisikan sebuah kegagalan. Dengan menggunakan metode Subset Simulation untuk mengestimasi probabilitas di berbagai kondisi operasional, penelitian ini memperoleh nilai probabilitas kegagalan, ????????, sebesar 5.63×10?7, yang dikategorikan sebagai extremely remote failure oleh EASA. Hasil dari analisis sensitivitas manual mengidentifikasi bahwa ground speed merupakan faktor risiko utama, di mana rotasi di bawah kecepatan yang seharusnya (under speed rotation) memicu terjadinya tail strike. Selain itu, penggunaan defleksi elevator yang tidak terlalu agresif ditemukan efektif dalam menurunkan probabilitas kegagalan. Sebagai kesimpulan, risiko tail strike dapat dimitigasi secara efektif melalui manajemen kecepatan rotasi dan kontrol pitch yang disesuaikan dengan berat serta konfigurasi pesawat.

2026
👤 Penulis: Rangga Brava Ivanza
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Risiko 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PEMBUATAN PETA CO-TIDAL DAN CO-RANGE DI PERAIRAN PULAU JAWAUNTUK ANALISIS KERAPATAN STASIUN PASUT DARI DATA MODEL PASUTGLOBAL

Pengetahuan tentang pasang surut sangat penting untuk keperluan kegiatan di laut seperti transportasi laut, kegiatan di pelabuhan, pembangunan di daerah pesisir, perencanaan perekayasaan di laut, dan lain-lain. Data pasang surut diperoleh dari pengamatan yang dilakukan di stasiun pasang surut laut. Namun, jumlah stasiun pasut di Pulau Jawa dinilai kurang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan informasi pasut di perairan Pulau Jawa. Salah satu metode yang digunakan untuk menganalisa kerapatan stasiun pasut adalah dengan membuat peta co–tidal dan co–range karena peta co–tidal dan co–range dapat digunakan untuk memprediksi pasut yang merupakan hasil dari ekstraksi beberapa komponen pasut. Diperlukan beberapa langkah untuk dapat menganalisa kerapatan stasiun pasut. Langkah awal yang dilakukan adalah ekstraksi data pasut dari model pasut global. Dalam tahap ekstraksi tersebut dilakukan penyebaran titik koordinat di Pulau Jawa. Kemudian, beberapa titik dan komponen pasut diproses menggunakan TMD (Tide Model Driver) untuk mendapatkan amplitudo (co–range) dan fase (co–tidal). Tahap berikutnya adalah pembuatan peta co–tidal dan co–range dimana dari peta tersebut dapat dianalisa kerapatan dari stasiun pasut. Dari proses yang telah dilakukan, direkomendasikan bahwa stasiun pasut di pesisir utara Pulau Jawa perlu dibuat setiap 100 km karena karakteristik pasut yang terjadi di perairan utara Pulau Jawa memiliki kontur co–tidal yang rapat. Namun, pada selatan Pulau Jawa kontur co–tidal nya lebih renggang sehingga stasiun pasut dibuat setiap 500 km.

2026
👤 Penulis: Turangga Herlambang Paradipta
🏷️ Kartografi Pasut 🏷️ Analisis Kerapatan Stasiun Pasut 🏷️ Ekstraksi Data Pasut
Halaman 148 dari 6754
💬