📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenANALISIS FENOMENA KAVITASI DAN TRANSPOR GELEMBUNG UAP PADA BUTTERFLY VALVE DI SISTEM PEMIPAAN KONDENSAT PLTP
Kerusakan berupa erosi dan pitting pada impeller Hotwell Pump (HWP) di sistem pemipaan kondensat PLTP diduga berkaitan dengan pengoperasian butterfly valve pada bukaan kecil. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pembentukan kavitasi pada butterfly valve, kemampuan gelembung uap bertahan selama ditranspor menuju HWP, serta kondisi Net Positive Suction Head (NPSH) HWP pada sudut bukaan 28°, 29°, dan 30°. Evaluasi dilakukan secara analitis dengan meninjau kondisi liquid choked flow, tekanan minimum pada vena contracta, dan pemulihan tekanan di sisi hilir butterfly valve. Kemampuan gelembung bertahan selama transpor dievaluasi dengan membandingkan waktu kolaps berdasarkan penyederhanaan Persamaan Rayleigh–Plesset dengan waktu adveksi menuju HWP. Evaluasi kondisi sisi isap HWP ditentukan melalui perbandingan antara ???????????????????? dan ???????????????????? . Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh variasi bukaan mengalami liquid choked flow dan kavitasi lokal pada vena contracta. Pemulihan tekanan menyebabkan gelembung mengalami kolaps pada jarak sangat dekat di sisi hilir butterfly valve sehingga dipastikan tidak mencapai suction HWP. Namun, proses throttling menurunkan debit dan menggeser titik operasi HWP sehingga ???????????????????? menjadi lebih rendah daripada ???????????????????? . Dengan demikian, hipotesis transpor gelembung menuju impeller tidak terkonfirmasi. Kerusakan impeller lebih mungkin berkaitan dengan kavitasi yang terbentuk di dalam impeller HWP akibat kondisi NPSH tersebut.
PERANCANGAN SISTEM PRODUCTION ACTIVITY CONTROL (PAC) BERBASIS DIGITAL MODEL PADA PROSES INTEGRASI FUSELAGE CN-235 DI PT DIRGANTARA INDONESIA
x ABSTRAK PERANCANGAN SISTEM PRODUCTION ACTIVITY CONTROL (PAC) BERBASIS DIGITAL MODEL PADA PROSES INTEGRASI FUSELAGE CN-235 DI PT DIRGANTARA INDONESIA Tegar Iman Syahputra (13422115), Ester Naomi Sinaga (13422143), Ilouvi Syafna Latif (13422146) PT Dirgantara Indonesia (PT DI) memproduksi pesawat CN-235 melalui proses integrasi fuselage yang melibatkan banyak aktivitas kompleks seperti perakitan, inspeksi, serta penanganan defect dan rework. Proses ini mengalami deviasi jadwal yang signifikan, ditandai dengan keterlambatan mulainya task sebesar 183 hari dan keterlambatan penyelesaian hingga 97 hari dari target yang ditetapkan. Kondisi ini disebabkan oleh rendahnya granularitas pencatatan aktivitas produksi yang hanya dilakukan pada level operasi tanpa merekam kejadian pada level job ticket, serta pengambilan keputusan pengendalian produksi yang bersifat reaktif akibat rendahnya visibilitas kondisi aktual shop floor dan penanganan defect yang tidak terdokumentasi. Penelitian ini bertujuan merancang sistem Production Activity Control (PAC) berbasis digital model untuk menjawab permasalahan operasional yang ada pada proses integrasi fuselage CN-235. Sistem dikembangkan menggunakan metodologi Rapid Application Development (RAD), yang mencakup identifikasi kebutuhan pengguna, perancangan proses bisnis usulan, pengembangan modul, serta verifikasi, validasi, dan user testing. PAC yang dirancang terdiri atas empat modul, yaitu Shop Floor Data Collection (SFDC), Digital Reporting System, dashboard berbasis digital model, dan simulasi berbasis Discrete Event Simulation (DES). SFDC mencatat aktivitas produksi pada level job ticket, sedangkan Digital Reporting System mengelola findings, NCR, dan tindak lanjut defect. Dashboard menyediakan visibilitas produksi melalui enam KPI utama, yaitu schedule adherence, utilization efficiency, quality ratio, reject ratio, rework ratio, dan worker efficiency, serta visualisasi spasial status pekerjaan dan NCR pada representasi digital pesawat CN-235. Modul simulasi digunakan untuk mengevaluasi skenario produksi dan mendukung keputusan perencanaan. Hasil verifikasi dan validasi menunjukkan bahwa seluruh kebutuhan fungsional serta kebutuhan nonfungsional yang termasuk dalam ruang lingkup penelitian telah terpenuhi. Secara finansial, proyek ini layak diimplementasikan dengan nilai NPV sebesar Rp62.493.452, IRR sebesar 17,4%, dan payback period selama 3,27 tahun. Sistem PAC yang dirancang diharapkan dapat meningkatkan visibilitas proses produksi, mempercepat penanganan defect, serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih responsif dan berbasis data pada lingkungan manufaktur kedirgantaraan dengan kompleksitas tinggi.
RANCANG BANGUN ALAT UJI ANALISIS KOEFISIEN KINERJA (COEFFICIENT OF PERFORMANCE) DARI THERMOELECTRIC COOLER DAN EFISIENSI KONVERSI TERMAL DARI THERMOELECTRIC GENERATOR
Modul termoelektrik adalah perangkat padat yang dapat berfungsi sebagai pendingin melalui efek Peltier atau pembangkit daya melalui efek Seebeck. Penelitian ini dilakukan karena adanya permasalahan terkait ketidaksesuaian performa pada modul termoelektrik yang terpasang pada alat pendingin (Larasati, 2016). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membangun instalasi alat uji performa guna menganalisis nilai koefisien performa (COP) pendingin termoelektrik dan efisiensi konversi pembangkit termoelektrik secara akurat antara nilai aktual dengan nilai teoretisnya. Alat uji yang dibangun dirancang untuk menguji modul berdimensi 40x40 mm dengan mengintegrasikan komponen blok air penukar panas ganda dengan fluida kerja air, blok perantara aluminium, dan sistem akuisisi data berbasis mikrokontroler dengan sensor temperatur, voltase, serta arus listrik. Pengujian pendingin dilakukan dengan memvariasikan tegangan masukan dan laju aliran massa air. Evaluasi keandalan instalasi dilakukan melalui analisis komparatif antara nilai COP aktual dari perhitungan neraca energi fluida terhadap nilai COP teoretis berdasarkan pemodelan Ferrotec. Hasil pengujian pendingin menghasilkan rentang perbedaan temperatur sebesar 2,88°C hingga 11,90°C, dengan deviasi antara COP aktual dan COP teoretis Ferrotec berkisar antara 99,75% hingga 100,00%. Tingginya deviasi ini disebabkan oleh kurangnya ketelitian instrumen pengukur temperatur untuk membaca perbedaan temperatur fluida yang sangat kecil, besarnya rugi-rugi panas secara lateral pada komponen blok perantara yang kurang terisolasi, serta tingginya hambatan kontak termal. Sementara itu, pengujian efisiensi pembangkit termoelektrik tidak dapat diselesaikan akibat penggunaan resistor tetap yang tidak mampu mengakomodasi fluktuasi hambatan dalam modul. Untuk pengembangan alat uji selanjutnya, sangat disarankan adanya peningkatan kualitas dan ketelitian alat ukur temperatur, penambahan isolasi termal, serta penggunaan beban elektronik dinamis untuk pengujian pembangkit termoelektrik.
ANALISIS FATIGUE LOKAL PADA KOMPONEN KRITIS BLADE TURBOPROP PROPELLER KOMPOSIT DENGAN STRUKTUR SPAR REINFORCEMENT
Struktur komposit pada propeller blade pesawat turboprop rentan terhadap kegagalan lelah (fatigue) akibat pembebanan dinamis yang berpusat pada komponen struktural utamanya. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi umur lelah pada dua komponen model blade tiruan Hamilton Standard 568F, yaitu struktur skin dan spar reinforcement. Analisis dilakukan menggunakan Metode Elemen Hingga (FEM) dengan pendekatan sub-modeling. Beban operasional yang diaplikasikan pada model merupakan kombinasi dari gaya aerodinamika, gaya sentrifugal, dan gaya gravitasi. Karena keterbatasan data empiris fluktuasi tegangan bawah pada saat operasional, evaluasi umur komponen dilakukan melalui studi parametrik menggunakan variasi stress ratio. Evaluasi degradasi material dihitung secara analitik menggunakan kriteria tegangan searah serat, koreksi tegangan rata-rata Goodman, model estimasi siklus lelah Basquin Power Law, serta akumulasi kerusakan Palmgren-Miner sesuai profil misi penerbangan. Untuk memungkinkan prediksi umur menggunakan kriteria Palmgren-Miner tersebut, material komposit pada penelitian ini diasumsikan berperilaku layaknya material isotropik seperti logam. Penelitian ini murni merupakan preliminary study, sehingga proyeksi rentang umur aman operasional, safe-life, yang dihasilkan tidak dapat dijadikan acuan untuk perancangan maupun perawatan struktur propeller di masa mendatang.
PERANCANGAN SISTEM PRODUKSI BERKELANJUTAN KOPI ARABIKA (COFFEA ARABICA) DENGAN INOVASI FERMENTASI L.PLANTARUM DAN PENGERINGAN SCREEN HOUSE,
Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia dengan nilai ekonomi tinggi, baik di pasar domestik maupun internasional, dan menempatkan Indonesia pada posisi ke-4 sebagai produsen kopi terbesar dunia (USDA, 2024). Produksi kopi nasional bahkan mengalami kenaikan sebesar 6,44% menjadi 807.580 ton pada tahun 2024, jumlah tertinggi selama sepuluh tahun terakhir menurut Badan Pusat Statistik. Di antara berbagai jenis kopi, kopi arabika (Coffea arabica) kategori specialty, menjadi komoditas unggulan yang sangat diminati pasar global dengan pertumbuhan nilai jual dan konsumsi yang tinggi. Namun, metode pascapanen natural process yang umum digunakan masih mengandalkan fermentasi spontan selama pengeringan, sehingga mutunya cenderung tidak seragam dan tidak stabil antar kelompok pengeringan. Tahap pengeringan terbuka di bawah sinar matahari secara langsung juga sangat bergantung pada cuaca serta rentan terhadap pertumbuhan jamur, kontaminasi debu, dan serangan hama yang menurunkan mutu produk akhir. Selain itu, pengolahan buah kopi menghasilkan produk samping berupa kulit dan daging buah (cascara) dalam jumlah besar yang berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Oleh karena itu, PT MAS Jaya merancang industri pengolahan kopi arabika dengan inovasi kultur starter bakteri L.plantarum pada proses fermentasi dan penggunaan screen house pada proses pengeringan. Inovasi kultur starter bakteri L.plantarum bertujuan mengendalikan proses fermentasi, menstabilkan komunitas mikroba, menekan kontaminan, dan meningkatkan pembentukan senyawa volatil aromatik. Pengeringan dengan screen house dapat menghasilkan pengeringan kopi yang lebih seragam, higienis, dan terlindung dari paparan debu, serangga, dan curah hujan. Dengan inovasi tersebut, produk yang dihasilkan memiliki keunggulan berupa mutu specialty yang konsisten, profil sensori yang kompleks, tingkat higienitas dan keamanan yang lebih tinggi serta nilai tambah dan keberlanjutan melalui pemanfaatan cascara. Perancangan industri produk roasted bean dan teh cascara kopi arabika memiliki kapasitas produksi sebesar 1.000 kg ceri per batch. Produk yang dihasilkan berupa 172,58 kg roasted bean sebagai produk utama dan 69,22 kg cascara sebagai produk samping bernilai tambah. Tahap produksi kopi arabika roasted bean terdiri dari penerimaan, sortasi, pulping, fermentasi, pengeringan, hulling, penyimpanan green bean, roasting, dan penyimpanan produk akhir. Tahap 3 produksi teh cascara terdiri dari penerimaan, sortasi, pulping, pengeringan cascara, sortasi cascara, dan penyimpanan produk akhir. Perusahaan dirancang memenuhi sertifikasi SNI, Sertifikat Halal, Good Manufacturing Practices (GMP), ISO 9001, ISO 22000, ISO 17025:2017, dan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP). Perancangan industri ini layak dijalankan karena hasil analisis kelayakan usaha yang didapatkan menunjukan nilai Net Profit Margin (NPM) sebesar 30,334%, Net Present Value (NPV) sebesar Rp1.212.283.722, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 36%, dengan waktu pengembalian modal yaitu 2,17 tahun. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa usaha ini layak untuk dilakukan.
USULAN KEBIJAKAN JEDA ANTARDINASAN MASINIS: KAJIAN DI PT KERETA API INDONESIA (PERSERO)
Kelelahan merupakan salah satu faktor risiko utama yang mengancam keselamatan operasional perkeretaapian yang dapat dikendalikan melalui penentuan durasi jeda antardinasan yang tepat. Namun, PT Kereta Api Indonesia (Persero) hingga saat ini belum memiliki kebijakan jeda antardinasan yang didasarkan pada bukti empiris memadai. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kelelahan masinis, menentukan rekomendasi durasi jeda antardinasan yang optimal, serta mengusulkan strategi mitigasi risiko kelelahan masinis PT KAI. Pendekatan campuran (mixed methods) digunakan, meliputi pengukuran kuantitatif menggunakan instrumen objektif untuk mengukur kecepatan reaksi dan durasi kedipan mata (Psychomotor Vigilance Task/PVT dan Blink Duration) dan subjektif untuk mengukur tingkat kantuk dan kelelahan, serta beban mental yang dirasakan masinis selama dinasan (KSS, VAS, NASA-TLX, dan RSME) pada kru kedudukan dan kru tamu dengan jeda ?12 jam dan >12 jam, serta Focus Group Discussion (FGD) yang dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan seluruh instrumen konsisten mengindikasikan peningkatan kelelahan yang bermakna setelah dinasan pada kedua kru, dengan kelompok jeda ?12 jam mencatatkan akumulasi kelelahan yang lebih tinggi; durasi jeda berkorelasi negatif signifikan dengan Blink Duration. Temuan kualitatif mengidentifikasi enam tema penyebab kelelahan, meliputi ketidakcukupan jeda antardinasan, pola dinasan, fasilitas istirahat, kondisi kabin, faktor organisasional, serta dukungan manajemen. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan jeda antardinasan minimal >12 jam sebagai kebijakan baku, dengan rentang 10–12 jam untuk kru tamu dan 12–14 jam untuk kru kedudukan. Rekomendasi ini telah disepakati bersama PT KAI dan bersifat adaptif selama tidur efektif minimal 7 jam dan fasilitas istirahat kondusif terpenuhi. Implementasi rekomendasi ini didukung oleh strategi mitigasi berbasis model Fatigue Risk Control (Williamson) yang disusun secara berjenjang: pencegahan kelelahan sebelum dinasan melalui standardisasi jeda dan fasilitas istirahat, pengelolaan performa selama dinasan melalui perbaikan ergonomi kabin dan protokol pelaporan kelelahan, hingga mitigasi insiden sebagai jaring pengaman terakhir melalui kalibrasi sistem pemantauan dan optimalisasi perangkat keselamatan. Kajian lanjutan disarankan dilakukan secara longitudinal untuk memantau perubahan tingkat kelelahan masinis seiring implementasi kebijakan.
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM KONTROL GENERATOR DAN ANALISIS SINKRONISASI UNTUK GENERATOR MESIN PEMBAKARAN INTERNAL
Tugas akhir ini membahas perancangan dan implementasi sistem sinkronisasi generator untuk mengendalikan bukaan katup throttle secara otomatis sehingga keluaran generator dapat mencapai tegangan 220 V dan frekuensi 50 Hz serta memenuhi persyaratan sinkronisasi dengan sumber listrik lain sesuai standar PLN dan ISO 8528. Sistem dirancang untuk mengukur parameter kelistrikan yang meliputi tegangan, frekuensi, dan beda fasa sebagai umpan balik dalam pengendalian generator. Berdasarkan hasil pengukuran tersebut, sistem menyesuaikan bukaan throttle untuk mempertahankan frekuensi pada nilai acuan maupun menyesuaikan beda fasa terhadap sumber listrik lain. Selain itu, sistem juga mengendalikan solid state relay (SSR) dan kontaktor sebagai mekanisme perpindahan sumber daya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem pengukuran memiliki galat sebesar 1,23% untuk tegangan dan 0,16% untuk frekuensi. Sistem berhasil menghasilkan keluaran generator sebesar 220 V dan 50 Hz. Namun, pada steady-state, pengendalian frekuensi masih memiliki deviasi sekitar ±1 Hz sehingga sinkronisasi dengan sumber listrik lain belum dapat dilakukan secara andal. Fluktuasi frekuensi tersebut menyebabkan beda fasa terus berubah dan menghasilkan nilai simpangan baku tegangan, frekuensi, dan beda fasa yang masih relatif tinggi. Pada pengujian dengan beban 600 W, sistem memerlukan waktu sekitar 29 detik untuk mengembalikan frekuensi ke 50 Hz. Dari sisi proteksi, sistem telah mengimplementasikan proteksi overcurrent, overvoltage, dan overfrequency, sedangkan proteksi reverse power belum diterapkan karena sinkronisasi belum dapat direalisasikan secara stabil. Oleh karena itu, implementasi sistem pada penelitian ini difokuskan pada fungsi auto backup.
EBSTAT: POTENSIOSTAT BERBASIS AFE LMP91000 UNTUK READER RESOLUSI TINGGI PADA SENSOR ELEKTROKIMIA
Metode biosensor elektrokimia menjadi salah satu alternatif diagnostik point-ofcare (POCT) karena sifatnya yang cepat dan hasilnya yng bersifat kuantitatif. Penelitian ini mengembangkan dan memvalidasi EBstat, sebuah instrumen potensiostat custom-built berbasis mikrokontroler nRF52840 dan IC analog frontend (AFE) LMP91000, dengan antarmuka pengguna berbasis aplikasi Android. EBstat dirancang untuk melakukan lima teknik voltametri, yaitu chronoamperometry (CA), cyclic voltammetry (CV), normal pulse voltammetry (NPV), differential pulse voltammetry (DPV), dan square ware voltammetry (SWV). Validasi dilakukan melalui pengukuran dummy cell, pengukuran larutan standar kalium ferisianida (K3[Fe(CN)6]) pada elektroda screen-printed carbon (SPCE). Performa EBstat dibandingkan dengan potensiostat komersial PalmSens4 dengan menggunakan analisis Bland-Altman, serta ditentukan resolusi pembacaannnya dalam bentuk limit of detection (LoD) dan limit of quantification (LoQ). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa EBstat mampu mengukur arus puncak pada metode CV, DPV, NPV, dan SWV dengan linearitas R2 sebesar 0.97- 0.99, sesuai dengan persamaan Randles–Šev?ík. Akan tetapi, pengukuran metode CA masih belum menyerupai performa PalmSens4 dan metode NPV tidak dapat dilakukan analisis Bland-Altman karena parameter yang digunakan membatasi profilnya pada PalmSens4. Analisis Bland-Altman menunjukkan bias pengukuran sebesar 0.66 ?A (LoA: -12.04 hingga 13.36 ?A) pada CV, bias persentase -119.11% (LoA: -102.57% hingga -135.65%) pada DPV yang mengindikasikan overestimasi arus secara konsisten, dan bias logaritmik sebesar -0.04 (setara rasio EBstat/PalmSens4 ? 0,96) pada SWV dengan rentang LoA yang cukup lebar. Nilai LoD dan LoQ EBstat pada metode DPV masing-masing sebesar 26.94 ?M dan 75.62 ?M, sedangkan pada SWV sebesar 89.81 ?M dan 252.07 ?M, menunjukkan DPV memberikan sensitivitas deteksi yang lebih baik dibandingkan dengan SWV. Secara keseluruhan, EBstat berpotensi menjadi alternatif potensiostat yang murah dan portabel untuk aplikasi POCT, dengan mekanisme pemilihan resistansi transimpedans (RTIA) yang diduga menjadi sumber utama bias pengukuran dan menjadi target perbaikan pada pengembangan selanjutnya.
PENENTUAN RUTE PENGIRIMAN LAST MILE UNTUK MEMINIMASI BIAYA TRANSPORTASI MENGGUNAKAN MODEL THREE-DIMENSIONAL LOADING SPLIT DELIVERY HETEROGENEOUS VEHICLE ROUTING PROBLEM WITH TIME WINDOWS AND SERVICE LEVEL CONSTRAINTS PADA DEPOT CAKUNG PT X
Industri Fast Moving Consumer Goods (FMCG) menuntut efisiensi tinggi dalam sistem distribusi last mile. PT X, sebuah perusahaan FMCG, menghadapi tantangan di Depot Cakung berupa tingginya tingkat penundaan pengiriman harian (rata-rata 16,7%) dan rendahnya utilisasi armada (rata-rata 57,8%), akibat penentuan rute manual yang tidak mempertimbangkan time windows, split delivery, dan dimensi fisik produk sehingga menimbulkan biaya penalti sewa kendaraan hingga Rp135.000.000 per bulan. Penelitian ini mengembangkan model Three-Dimensional Loading Split Delivery Heterogeneous Vehicle Routing Problem with Time Windows and Service Level Constraints (3L-SDHVRPTW-SL) untuk meminimalkan total biaya transportasi dengan mempertimbangkan kendaraan heterogen, split delivery, time windows, pemuatan tiga dimensi, dan service level sebagai hard constraint. Karena kompleksitas model menyebabkan metode eksak (Gurobi) hanya mampu menyelesaikan persoalan hingga 7 pelanggan, penyelesaian dilakukan dengan dua metode metaheuristik, yaitu Adaptive Large Neighborhood Search (ALNS) dan Genetic Algorithm (GA), yang pada pengujian data kecil menghasilkan solusi identik dengan solusi optimal (gap 0,00%) untuk 2 sampai 6 pelanggan, serta gap 0,00% (ALNS) dan 1,12% (GA) pada 7 pelanggan. Pada studi kasus 82 pelanggan tanggal 14 Desember 2023, solusi rute usulan ALNS dan GA masing-masing menekan total biaya transportasi menjadi Rp4.632.432 dan Rp4.804.646, atau penghematan sebesar 48,82% dan 46,92% dibandingkan biaya rute existing sebesar Rp9.051.829. Kedua solusi menggunakan 7 dari 12 kendaraan yang tersedia, memenuhi seluruh permintaan pelanggan dengan service level 100%, serta mengeliminasi seluruh pelanggaran time windows dan biaya pending kirim yang sebelumnya terjadi pada rute existing.
USULAN KEBIJAKAN JEDA ANTARDINASAN MASINIS: KAJIAN DI PT KERETA API INDONESIA (PERSERO)
Kelelahan merupakan salah satu faktor risiko utama yang mengancam keselamatan operasional perkeretaapian yang dapat dikendalikan melalui penentuan durasi jeda antardinasan yang tepat. Namun, PT Kereta Api Indonesia (Persero) hingga saat ini belum memiliki kebijakan jeda antardinasan yang didasarkan pada bukti empiris memadai. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kelelahan masinis, menentukan rekomendasi durasi jeda antardinasan yang optimal, serta mengusulkan strategi mitigasi risiko kelelahan masinis PT KAI. Pendekatan campuran (mixed methods) digunakan, meliputi pengukuran kuantitatif menggunakan instrumen objektif untuk mengukur kecepatan reaksi dan durasi kedipan mata (Psychomotor Vigilance Task/PVT dan Blink Duration) dan subjektif untuk mengukur tingkat kantuk dan kelelahan, serta beban mental yang dirasakan masinis selama dinasan (KSS, VAS, NASA-TLX, dan RSME) pada kru kedudukan dan kru tamu dengan jeda ?12 jam dan >12 jam, serta Focus Group Discussion (FGD) yang dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan seluruh instrumen konsisten mengindikasikan peningkatan kelelahan yang bermakna setelah dinasan pada kedua kru, dengan kelompok jeda ?12 jam mencatatkan akumulasi kelelahan yang lebih tinggi; durasi jeda berkorelasi negatif signifikan dengan Blink Duration. Temuan kualitatif mengidentifikasi enam tema penyebab kelelahan, meliputi ketidakcukupan jeda antardinasan, pola dinasan, fasilitas istirahat, kondisi kabin, faktor organisasional, serta dukungan manajemen. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan jeda antardinasan minimal >12 jam sebagai kebijakan baku, dengan rentang 10–12 jam untuk kru tamu dan 12–14 jam untuk kru kedudukan. Rekomendasi ini telah disepakati bersama PT KAI dan bersifat adaptif selama tidur efektif minimal 7 jam dan fasilitas istirahat kondusif terpenuhi. Implementasi rekomendasi ini didukung oleh strategi mitigasi berbasis model Fatigue Risk Control (Williamson) yang disusun secara berjenjang: pencegahan kelelahan sebelum dinasan melalui standardisasi jeda dan fasilitas istirahat, pengelolaan performa selama dinasan melalui perbaikan ergonomi kabin dan protokol pelaporan kelelahan, hingga mitigasi insiden sebagai jaring pengaman terakhir melalui kalibrasi sistem pemantauan dan optimalisasi perangkat keselamatan. Kajian lanjutan disarankan dilakukan secara longitudinal untuk memantau perubahan tingkat kelelahan masinis seiring implementasi kebijakan.
PERANCANGAN JADWAL DAN RUTE DISTRIBUSI BAHAN BAKAR EXCAVATOR TAMBANG BERBASIS MODEL VEHICLE ROUTING PROBLEM DENGAN ALGORITMA METAHEURISTIK
Industri pertambangan batu bara mengoperasikan alat berat yang bekerja secara dependen, sehingga downtime dari satu unit excavator berdampak langsung pada seluruh dump truck yang dipasangkan dengannya. Di Distrik ABC PT X, pengisian bahan bakar excavator yang dilakukan di luar jendela waktu istirahat menjadi penyebab utama siklus abnormal. Permasalahan ini disebabkan oleh penjadwalan yang tidak selaras dengan jendela waktu serta penentuan rute yang dilakukan secara tidak sistematis oleh pengemudi fuel truck. Penelitian ini bertujuan untuk merancang model penjadwalan dan penentuan rute distribusi bahan bakar bagi fuel truck yang meminimumkan siklus abnormal akibat pengisian bahan bakar excavator di luar jendela waktu istirahat sekaligus meminimumkan biaya operasional armada. Permasalahan dimodelkan sebagai Multi-Depot Fleet Multi-Trip Vehicle Routing Problem with Soft Time Windows (MDMT-VRPSTW). Mengingat kompleksitas permasalahan, digunakan metode metaheuristik dengan algoritma genetika untuk menghasilkan solusi yang mendekati optimal global dalam waktu komputasi yang efisien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang dikembangkan berhasil mengeliminasi seluruh siklus abnormal akibat pengisian bahan bakar di luar jendela waktu istirahat, dari semula 5 kejadian dengan total durasi 33 menit menjadi 0 kejadian. Jadwal usulan dapat dioperasikan hanya dengan 6 unit fuel truck, berkurang 4 unit dibandingkan kondisi existing, dengan total biaya operasional sebesar Rp5.495.093 per hari atau penghematan sebesar 36,69% dari kondisi existing. Solusi tersebut dihasilkan dalam waktu komputasi 356,6 detik.
ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EMISI GAS RUMAH KACA PADA KEGIATAN TRANSPORTASI PEKERJA URBAN MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN MESIN
Perjalanan komuter perkotaan merupakan sumber emisi gas rumah kaca yang signifikan di kota-kota metropolitan seperti Jakarta. Namun, studi tentang prediksi pada tingkat komuter masih terbatas. Studi ini bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran mesin beresolusi tinggi untuk memprediksi emisi CO? dari komuter pegawai negeri sipil (PNS) Indonesia di Jabodetabek dengan menggunakan Extreme Gradient Boosting (XGB), Artificial Neural Network (ANN), dan Support Vector Regression (SVR). Model ini mengintegrasikan perilaku perjalanan, jadwal kerja, cuaca, dan variabel kualitas udara untuk menangkap hubungan non-linear kompleks yang memengaruhi emisi. Hasil menunjukkan bahwa XGB mengungguli ANN dan SVR dengan R² sebesar 0,999428 untuk memprediksi emisi komuter harian. Analisis SHAP menunjukkan bahwa pendorong emisi dominan adalah jarak komuter, moda transportasi, dan usia. Hasil ini memberikan informasi yang berguna bagi perencana kota dan/atau manajemen kantor, menunjukkan bahwa kebijakan yang menekankan jadwal kerja fleksibel untuk kelompok tertentu ini mungkin merupakan taktik yang sangat berhasil untuk menurunkan emisi Jakarta.
KAJIAN PERSEPSI AKSESIBILITAS PEREMPUAN TERHADAP PERJALANAN MULTIMODA DENGAN TITIK TRANSIT STASIUN MRT PADA KAWASAN BERORIENTASI TRANSIT JAKARTA
Penelitian ini mengkaji persepsi aksesibilitas perempuan terhadap perjalanan dari dan menuju stasiun MRT di Kawasan Berorientasi Transit (TOD) MRT Jakarta. Analisis dilakukan menggunakan metode kuantitatif melalui survei 216 responden, Analisis Faktor Eksploratori (EFA) dan uji komparatif nonparametrik. Temuan penelitian menunjukkan karakteristik dan persepsi perjalanan perempuan dari dan menuju stasiun MRT, serta perbedaannya dengan kelompok laki-laki. Persepsi aksesibilitas perempuan dan laki-laki secara umum dapat direpresentasikan oleh kemudahan akses dari dan menuju stasiun. Perempuan cenderung memilih untuk berjalan kaki dari atau menuju stasiun Kawasan Berorientasi Transit dalam jarak 800 m. Penggunaan lahan yang lebih beragam secara positif memengaruhi persepsi wanita mengenai potensi peluang perjalanan. Untuk pedestrian perempuan, persepsi mereka terfragmentasi menjadi dua faktor yang direpresentasikan oleh persepsi keamanan dan kemudahan berjalan kaki. Perempuan pada umumnya terbukti merasa jauh lebih tidak aman pada malam hari dibanding laki-laki, terutama di kawasan komersial yang minim pengawasan pasif setelah jam kerja. Dengan itu, penelitian ini merekomendasikan standardisasi infrastruktur pejalan kaki pelindung cuaca, regulasi bauran tata guna lahan dengan fasilitas 24 jam untuk mendukung aktivitas malam, peningkatan jangkauan layanan pengumpan, serta penyediaan fasilitas angkutan lanjutan yang aman.
PERUMUSAN SEGMENTING, TARGETING, DAN POSITIONING (STP) PADA PERUSAHAAN X DENGAN MENGGUNAKAN ANALISIS CLUSTER
Persaingan pada industri food and beverage menuntut perusahaan untuk memahami karakteristik pelanggan agar strategi pemasaran dapat diterapkan secara lebih efektif. Perusahaan X masih menerapkan strategi pemasaran yang bersifat umum, padahal pelanggan memiliki karakteristik yang heterogen. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan jumlah cluster yang optimal, membentuk segmentasi pelanggan yang representatif, serta menginterpretasikan hasil segmentasi ke dalam strategi Segmenting, Targeting, dan Positioning (STP). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sebanyak 889 responden. Segmentasi pelanggan dilakukan menggunakan metode Hierarchical Cluster Analysis, kemudian karakteristik setiap cluster dianalisis melalui cross tabulation, One-Way ANOVA, dan uji Tukey. Hasil segmentasi selanjutnya diinterpretasikan ke dalam strategi STP dan digunakan sebagai dasar pemilihan strategi bersaing Focus Differentiation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cluster yang optimal adalah 15 cluster dengan karakteristik pelanggan yang berbeda secara signifikan (p-value < 0,001). Dimensi Media Sosial mendominasi 8 cluster, Performance mendominasi 5 cluster, dan Pesona Perusahaan X mendominasi 4 cluster, dengan Cluster 5 dan Cluster 8 memiliki dua dimensi dominan, yaitu Performance dan Media Sosial. Berdasarkan analisis STP, Cluster 3, Cluster 5, Cluster 6, dan Cluster 8 ditetapkan sebagai target primer. Positioning yang diusulkan adalah menjadikan Perusahaan X sebagai café yang menghadirkan kualitas produk dan pelayanan yang konsisten, membangun hubungan melalui komunikasi digital, serta menciptakan pengalaman pelanggan yang berkesan melalui tagline "Quality That Connects. Experience That Lasts." Penelitian ini menghasilkan rekomendasi strategi Focus Differentiation sebagai dasar penyusunan strategi pemasaran yang lebih efektif dan berbasis data.
ANALISIS SIMULASI NUMERIK PEMBAKARAN KOMBINASI BATU BARA DAN SERBUK KAYU PADA PLTU SURALAYA UNIT 5-7
Kebutuhan energi listrik di Indonesia terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi. Saat ini, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara masih menjadi kontributor utama dalam penyediaan energi listrik nasional. Namun, pembakaran batu bara menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) dalam jumlah yang signifikan sehingga diperlukan upaya untuk mengurangi dampak lingkungannya. Salah satu alternatif yang dapat diterapkan adalah co-firing, yaitu pembakaran dua atau lebih jenis bahan bakar secara bersamaan, yang pada penelitian ini menggunakan campuran batu bara dan serbuk kayu. Biomassa seperti serbuk kayu dianggap lebih ramah lingkungan karena bersifat karbon netral dan menghasilkan emisi gas buang yang lebih rendah dibandingkan dengan batu bara. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh co-firing batu bara dengan serbuk kayu pada boiler PLTU Suralaya Unit 5-7. Penelitian dilakukan dengan metode Computational Fluid Dynamics (CFD) menggunakan perangkat lunak ANSYS Fluent. Proses penelitian diawali dengan pemodelan 3D boiler PLTU Suralaya unit 5-7 yang merupakan boiler tipe Carolinatype pulverized coal boiler. Simulasi co-firing akan dilakukan dengan variasi rasio serbuk kayu sebesar 10%, 20%, dan 30% berbasis massa. Fokus analisis mencakup distribusi temperatur dalam boiler, komposisi gas buang, serta pengaruhnya terhadap daya keluaran turbin uap. Penerapan co-firing serbuk kayu memengaruhi karakteristik pembakaran, emisi, dan kinerja PLTU. Pada rasio co-firing 30%, kebutuhan udara pembakaran menurun dari 718,485 kg/s menjadi 615,422 kg/s akibat lebih rendahnya nilai air-to-fuel ratio (AFR) biomassa dibandingkan batu bara. Selain itu, emisi CO2, SO2, dan NOX masing-masing menurun dari 13,194% mol menjadi 12,806% mol, 1.259,514 mg/Nm³ menjadi 995,459 mg/Nm³, dan 617,464 mg/Nm³ menjadi 576,735 mg/Nm³ akibat kandungan karbon, sulfur, dan nitrogen biomassa yang lebih rendah. Namun, daya keluaran turbin menurun dari 594.987 kW menjadi 493.775 kW karena berkurangnya energi panas hasil pembakaran serta meningkatnya kandungan H2O pada gas buang yang menaikkan kapasitas panas spesifik (Cp). Kenaikan Cp menyebabkan lebih banyak energi panas terbawa oleh gas buang untuk mempertahankan temperatur gas buang yang konstan pada setiap variasi rasio co-firing, sehingga energi panas yang tersedia untuk pembentukan uap menjadi lebih sedikit.