📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenANALISIS KELAYAKAN KEUANGAN UNTUK PELUANG BISNIS REKRUTMEN DIGITAL B2B: STUDI KASUS LOKERKU
Perkembangan platform rekrutmen digital telah mengubah cara perusahaan dan pencari kerja berinteraksi dalam proses perekrutan. Di Indonesia, platform pencarian kerja berbasis digital memberikan akses yang lebih luas terhadap peluang kerja serta memungkinkan perusahaan menjangkau kandidat dalam jumlah yang lebih besar. Namun demikian, banyak perusahaan masih menghadapi inefisiensi rekrutmen akibat tingginya jumlah pelamar yang tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan serta keterbatasan kesiapan kandidat dalam memasuki dunia kerja. Kondisi ini menciptakan peluang bagi platform yang mampu meningkatkan efisiensi proses perekrutan sekaligus membantu meningkatkan kesiapan kandidat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan finansial dari Lokerku, yaitu platform rekrutmen digital berbasis B2B yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi perekrutan melalui sistem pencocokan kandidat yang lebih terkurasi serta dukungan persiapan karir yang terstruktur bagi pencari kerja tahap awal karier. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kelayakan bisnis dengan dukungan analisis strategis dan finansial. Analisis industri dilakukan menggunakan PESTEL dan Porter’s Five Forces, sementara kelayakan finansial dianalisis menggunakan metode Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model bisnis Lokerku layak secara finansial dan memiliki potensi untuk berkembang di pasar rekrutmen digital Indonesia.
EVALUASI KEBERLANJUTAN KAWASAN PERMUKIMAN PASCA PROGRAM PENANGANAN KUMUH DI KELURAHAN CIBADAK, KOTA BANDUNG
Sebagai bentuk komitmen terhadap pemenuhan hak seluruh masyarakat Indonesia terhadap permukiman yang layak huni, Pemerintah Indonesia memiliki sasaran untuk Indonesia bebas kawasan dari kumuh di tahun 2030. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah menyelenggarakan berbagai macam program peningkatan kualitas kumuh yang berorientasi pada prinsip berkelanjutan seperti Program KOTAKU di berbagai daerah termasuk Kota Bandung. Namun berdasarkan studi serupa, didapatkan bahwa Program KOTAKU hanya dapat mendukung kondisi permukiman yang ditingkatkannya hanya sebatas pada kondisi cukup berkelanjutan. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah Program KOTAKU yang hanya berfokus pada infrastruktur dan kondisi fisik lingkungan dapat mendukung terwujudnya suatu kawasan permukiman yang berkelanjutan sesuai dengan apa yang dirumuskan pada tujuan programnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat keberlanjutan permukiman yang telah ditangani oleh Program KOTAKU menggunakan metode RAPFISH yang dapat menentukan nilai keberlanjutan objek analisis dan faktor pengungkit dari variabel keberlanjutan yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan RW 07 Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astanaanyar memiliki tingkat keberlanjutan sebesar 64,598, dengan tingkat keberlanjutan dicapai pada aspek sosial dan hukum dan kelembagaan, tingkat keberlanjutan yang cukup pada aspek lingkungan dan infrastruktur, dan kurang berkeberlanjutan pada aspek ekonomi.
ANALISIS PERBANDINGAN KLASIFIKASI AKUNTANSI DANA INVESTASI DAN DAMPAKNYA TERHADAP PENILAIAN KEUANGAN: STUDI KASUS PT ARGUSTARA PILAR UTAMA DI INDUSTRI KREDIT KARBON
Penelitian ini melakukan analisis perbandingan terhadap klasifikasi akuntansi dana investor dan dampaknya terhadap penilaian keuangan di PT Argustara Pilar Utama), sebuah perusahaan karbon kredit berbasis kehutanan di Indonesia yang menerima pendanaan operasional penuh dari satu investor melalui Perjanjian Layanan Proyek. Metode yang digunakan perusahaan saat ini untuk mengklasifikasikan dana tersebut sebagai pendapatan belum pernah secara formal diverifikasi sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku, yang mengakibatkan risiko pelaporan keuangan dan perpajakan. Dengan menggunakan analisis rasio keuangan, perbandingan skenario, dan penilaian arus kas diskonto (DCF) menggunakan pendekatan arus kas bebas untuk perusahaan (FCFF), studi kuantitatif ini mempertimbangkan dua situasi akuntansi selama periode proyeksi sepuluh tahun (2025-2034), yaitu - Skenario A (Pengakuan Pendapatan berdasarkan PSAK 72/IFRS 15) dan Skenario B (Pengakuan Ekuitas berdasarkan PSAK 50/IAS 32). Penerapan sistematis uji pengakuan pendapatan lima langkah PSAK 72 membuktikan bahwa perjanjian pendanaan memenuhi semua kriteria pengakuan pendapatan, tetapi gagal dalam uji klasifikasi ekuitas PSAK 50, sehingga Skenario A ditetapkan sebagai perlakuan yang tepat. Analisis perbandingan menunjukkan bahwa pilihan klasifikasi ini memiliki konsekuensi keuangan berantai: Skenario A menghasilkan laba operasional kumulatif positif, profil kredit peringkat investasi, dan nilai perusahaan positif yang signifikan, sementara Skenario B menghasilkan kerugian operasional yang persisten, peringkat kredit yang tertekan, dan nilai perusahaan negatif dengan perbedaan nilai ekuitas yang material antara skenario. Analisis pemegang saham menunjukkan bahwa Skenario A mempertahankan kepemilikan penuh meskipun terpapar pajak ganda, sedangkan Skenario B akan berarti dilusi kepemilikan yang hampir total. Skenario A dengan strategi optimasi pajak yang komplementer dan mekanisme perlindungan pemegang saham direkomendasikan oleh studi ini.
OPTIMIZATION OF HUB-SPOKE-FEEDER NETWORK FOR DOMESTIC INTER-ISLAND CONTAINER-GENERAL CARGO SEAPORT
Pelayaran domestik antarpulau di wilayah kepulauan menghadapi tantangan umum, yaitu pelabuhan-pelabuhan pulau memiliki hinterland yang marginal, sehingga peningkatan pelabuhan menjadi pelabuhan peti kemas tidak layak secara ekonomi, sementara arus barang tetap harus bergerak secara efisien di seluruh jaringan. Studi ini mengusulkan jaringan hub–spoke–feeder, di mana peti kemas diangkut dari hub ke pelabuhan spoke terpilih menggunakan kapal peti kemas, kemudian dilakukan de-kontainerisasi di spoke, dan selanjutnya didistribusikan ke pelabuhan feeder menggunakan kapal kargo umum berukuran lebih kecil. Studi ini mengembangkan model jaringan yang mengoptimalkan jumlah dan lokasi pelabuhan spoke serta mengalokasikan pelabuhan feeder ke spoke, berdasarkan pemaksimalan nilai fungsi objektif. Fungsi objektif dirumuskan dari perspektif pemerintah, yang terdiri dari manfaat sistem dari selisih biaya antara konfigurasi yang diusulkan dan sistem eksisting, dibagi dengan nilai relatif dari investasi yang dibutuhkan. Komponen biaya mencakup biaya operasional pelabuhan, biaya transportasi laut, dan biaya waktu muatan. Untuk menangkap volatilitas operasional yang umum terjadi pada pelayaran antarpulau, kerangka kerja ini diperluas dengan memasukkan pengiriman routing pada tingkat spoke–feeder, serta ketidakpastian permintaan dan cuaca melalui pemodelan stokastik. Model ini diterapkan pada studi kasus di Sulawesi Tenggara, Indonesia. Hasil eksperimen deterministik dan stokastik menunjukkan bahwa penerapan pengiriman routing dari spoke tunggal terpilih meningkatkan kinerja jaringan dibandingkan dengan sistem eksisting. Temuan juga menunjukkan bahwa konfigurasi multi-spoke dapat meningkatkan manfaat keseluruhan, namun perlu disesuaikan dengan ketersediaan anggaran pemerintah.
KAJIAN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI VETERAN KOTA BANJARMASIN
Banjir pada sistem sungai pasang surut perkotaan dikendalikan oleh interaksi kompleks antara debit aliran dari hulu, pengaruh pasang surut di hilir, serta kontribusi limpasan lateral dari sistem drainase perkotaan. Kota Banjarmasin yang berada dalam sistem Sungai Martapura–Barito mengalami banjir ekstrem pada Januari 2021 dengan kedalaman genangan mencapai 1,2 m. Kawasan Sungai Veteran, sebagai kanal perkotaan yang terhubung secara hidraulik dengan Sungai Martapura, menjadi salah satu wilayah terdampak signifikan. Penelitian ini menganalisis karakteristik banjir Sungai Veteran melalui integrasi analisis hidrologi dan pemodelan hidraulik aliran tidak tunak. Analisis hidrologi menggunakan data curah hujan satelit Global Precipitation Measurement (GPM) yang telah dikoreksi bias dan divalidasi terhadap data BMKG Syamsuddin Noor. Transformasi hujan–aliran dilakukan menggunakan beberapa metode Hidrograf Satuan Sintetik (HSS), dan berdasarkan hasil kalibrasi terhadap karakteristik DAS, metode HSS Nakayasu dipilih sebagai metode yang paling representatif. Debit rencana yang diperoleh adalah Q25 sebesar 1219,433 m³/s pada Sungai Martapura, Q25 sebesar 3570,35 m³/s pada Sungai Barito, serta Q10 sebesar 22,06 m³/s sebagai total debit puncak lateral inflow Sungai Veteran. Analisis pasang surut menggunakan program PasutUGM dengan metode Least Square pada muara Sungai Barito dengan menggunakan data dari Pusat Hidro-Oseanografi TNI AL Tahun 2025 menghasilkan elevasi +1,421 m (HHWL), +0,000 m (MSL), dan -1,554 m (LLWL). Evaluasi kinerja sistem dilakukan melalui sembilan skenario pemodelan yang mengombinasikan tiga konfigurasi geometri, yaitu: (1) kondisi eksisting Sungai Veteran, (2) desain peningkatan kapasitas Sungai Veteran, dan (3) alternatif berupa penambahan tanggul sepanjang 6,8 km pada Sungai Martapura dalam wilayah WPG Veteran serta normalisasi subdrain Pengambangan, Banua Anyar, dan Aes Nasution; serta tiga kondisi pembebanan hidrologi–pasang surut, yaitu debit puncak Q25 Sungai Martapura yang bertepatan dengan kondisi HHWL, MSL, dan LLWL Sungai Barito. Pada kondisi eksisting dengan skenario kritis Q25–HHWL, luas genangan mencapai 312,228 ha. Penerapan desain peningkatan kapasitas Sungai Veteran mampu mengakomodasi aliran lateral Q10 secara penuh dari lima Sub DTA (Ahmad Yani 1, Ahmad Yani 2, Keramat, Kuripan, dan Sungai Gardu) dan menurunkan luas genangan menjadi 251,943 ha pada kondisi HHWL (reduksi 19,308%), 85,144 ha pada kondisi MSL (reduksi 44,084%), dan 30,962 ha pada kondisi LLWL (reduksi 74,015%). Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas Sungai Veteran efektif terhadap limpasan lokal, namun masih terbatas dalam mereduksi pengaruh debit regional dan backwater pasang surut. Alternatif pembangunan tanggul dan normalisasi subdrain menunjukkan peningkatan kinerja yang signifikan, dengan luas genangan berkurang menjadi 44,923 ha pada kondisi HHWL (reduksi 85,612%), 4,788 ha pada kondisi MSL (reduksi 96,856%), dan 0,116 ha pada kondisi LLWL (reduksi 99,903%). Genangan residual yang masih terjadi pada Sub DTA Sungai Gardu pada kondisi HHWL Alternatif mengindikasikan bahwa kontribusi aliran dari wilayah hulu di luar batas perencanaan tetap berpengaruh, sehingga efektivitas sistem pengendalian bersifat lokal sesuai lingkup studi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas pengendalian banjir di Sungai Veteran sangat dipengaruhi oleh kontrol debit regional Sungai Martapura dan dinamika pasang surut Sungai Barito, sehingga intervensi peningkatan kapasitas lokal saja tidak memadai tanpa pengendalian hidraulik pada sistem utama. Pendekatan pemodelan hidrodinamika terintegrasi berbasis skenario dalam penelitian ini memberikan dasar kuantitatif untuk perencanaan pengendalian banjir yang adaptif pada sistem sungai pasang surut perkotaan.
EKSPLORASI SUMBER AIR BAWAH TANAH MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK DENGAN KONFIGURASI SCHLUMBERGER DI DESA PEKUNCEN, KECAMATAN JATILAWANG, KABUPATEN BANYUMAS
Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, merupakan wilayah yang sering mengalami kekurangan air bersih pada musim kemarau. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi sumber air bawah tanah dengan memetakan struktur bawah permukaan serta menentukan lokasi dan kedalaman akuifer potensial menggunakan metode geolistrik konfigurasi Schlumberger. Pengukuran dilakukan pada tiga lintasan dengan panjang bentangan bervariasi menggunakan 32 elektroda. Data resistivitas semu diolah dan diinversi menggunakan perangkat lunak Res2Dinv hingga diperoleh model penampang resistivitas 2D. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur bawah permukaan daerah penelitian tersusun atas tiga lapisan utama, yaitu lapisan permukaan berupa lempung dan tuf halus (resistivitas < 26,9 ?m), lapisan akuifer berupa tuf pasiran hingga breksi halus (resistivitas 7,48 – 168 ?m), dan batuan dasar berupa andesit atau breksi vulkanik kompak (resistivitas > 1045 ?m). Potensi air tanah ditemukan pada kedalaman bervariasi di setiap lintasan. Secara umum, zona akuifer dangkal di daerah penelitian berada pada kedalaman 3 hingga 30 meter, dengan Lintasan 1 dan 3 merupakan target utama pengembangan sumber air tanah. .
USULAN IMPLEMENTASI MANAJEMEN KINERJA BERBASIS HASIL DI INSTANSI PEMERINTAH (KEMENTERIAN, LEMBAGA, DAN PEMERINTAH DAERAH)
Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) merupakan sistem yang bertujuan memastikan setiap instansi pemerintah dapat mewujudkan suatu hasil (kinerja) dari mandat yang diberikan dan anggaran yang digunakan dengan memenuhi prinsip efektif dan efisien. Agar dapat menerapkan SAKIP dengan baik, instansi pemerintah diharuskan mampu menerapkan manajemen berbasis hasil. Kementerian PANRB menilai tingkat implementasi SAKIP pada instansi pemerintah setiap tahun. Dari hasil evaluasi SAKIP tahun 2024, sebanyak 468 instansi pemerintah (74%) masih berkategori B kebawah dengan nilai dibawah 70.00. Hal ini mengindikasikan mayoritas instansi pemerintah belum menerapkan sistem manajemen kinerja secara memadai karena belum dapat memastikan hubungan antara penggunaan anggaran dengan outcome yang dihasilkan, dan belum dapat memastikan validitas data laporan kinerja sebagai bentuk akuntabilitas dan pertanggungjawaban. Penelitian ini berupaya mendalami permasalahan yang menjadi penyebab mayoritas instansi pemerintah belum mengimplementasikan manajemen kinerja secara optimal melalui analisis kesenjangan, yaitu dengan memetakan standar ideal dari literatur akademis, identifikasi permasalahan pada setiap tahapan implementasi manajemen kinerja dari laporan hasil evaluasi SAKIP tahun 2024 instansi pemerintah dengan nilai dibawah 70.00, dan menganalisis faktor-faktor yang menjadi penyebab adanya gap implementasi sistem manajemen kinerja melalui wawancara semi-terstruktur kepada evaluator SAKIP dan personil pengelola SAKIP di instansi pemerintah. Selanjutnya penelitian ini mensintesis hasil gap analisis, teori-teori result based management (RBM), dan praktik baik implementasi manajemen kinerja pada instansi pemerintah serta organisasi sektor publik yang telah menerapkan RBM untuk mengidentifikasi kriteria dan faktor kunci untuk merumuskan kerangka kerja implementasi manajemen kinerja yang diusulkan menjadi model penerapan manajemen kinerja instansi pemerintah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya permasalahan pada konektivitas perencanaan kinerja dengan program, kegiatan, dan anggaran yang karena penyusunan pohon kinerja instansi pemerintah belum terhubung secara logis, dan sebagian tidak memanfaatkan pohon kinerja dalam menyusun dokumen perencanaan. Selain itu, ditemukan permasalahan fundamental seperti penetapan kinerja organisasi yang masih sebatas output dan kegiatan, indikator kinerja yang tidak relevan dengan outcome dan cenderung mengukur output dan kegiatan, serta sistem pengukuran kinerja yang belum terkelola dengan baik. Tiga penyebab utama permasalahan karena ketidakpahaman SDM pengelola SAKIP terhadap RBM, tidak adanya petunjuk teknis implementasi manajemen kinerja, dan regulasi yang belum mendukung perencanaan program, kegiatan, dan anggaran yang berbasis hasil. Pada penelitian ini, penulis menyampaikan usulan Kerangka Kerja Implementasi Manajemen Kinerja Berbasis Hasil (Result-Based Performance Management Implementation Framework/RB-PMIF) sebagai kerangka kerja implementasi manajemen kinerja di Instanti Pemerintah, beserta kriteria dan faktor kunci sebagai panduan teknis implementasi manajemen kinerja di instansi Pemerintah.
EFEKTIVITAS MATERIAL ZEOLIT DAN KARBON AKTIF SEBAGAI ADSORBEN UNTUK PENYISIHAN NUTRIEN PADA SEDIMEN TERKONTAMINASI (STUDI KASUS DI DANAU BATUR, BALI)
Danau merupakan perairan air tawar yang terletak di Bali dan memiliki peran serta fungsi penting dalam mendukung sektor pariwisata, pertanian, budidaya perikanan, holtikultira dan konservasi lingkungan di Bali. Namun, aktivitas di sekitar danau telah menyebabkan penurunan kualitas air akibat eurtrofikasi yang disebabkan oleh beban internal dan eksternal. Beban ekternal berasal dari masuknya limbah antropogenik dari kegiatan disekitar danau dan beban internal berasal dari pelepasan kembali nutrien terutama ortofosfat (PO4) dan Amonium (NH4) dari sedimen ke kolom air yang dapat menyebabkan eutrofikasi memicu alga bloomning serta kematian masal ikan endemik di danau Batur Bali. Teknologi sediment capping merupakan metode yang dapat digunakan dengan meletakan lapisan material capping diatas berupa adsorben yang mampu menyerap dan menahan pelepasan kembali kontaminan anorganik penyebab eutrofikasi berupa (PO4) dan (NH4). Penelitian ini bertujuan mengetahui kelayakan, kemampuan adsorpsi dan efektivitas zeolit dan karbon aktif sebagai material capping dalam teknologi sediment capping pada skala laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zeolit memiliki struktur kristalin berpori dengan rasio Si/Al yang mendukung kemampuan adsorpsi nutrien. Pada varisi pH zeolit mampu menyisihkan ortofosfat sebesar 67,50% pada pH 4 dan amonium sebesar 79,71% pada pH 8. Pada variasi dosis optimum 0,3 gr zeolit mampu menyisihkan 72,66% ortofosfat dan 79,71% amonium. Proses adsorpsi pada zeolit mengikuti model isoterm Freundlich dengan nilai R²= 0,9859 untuk ortofosfat dan R² = 0,9244 untuk amonium. Kinetika adsorpsi ortofosfat dan amonium menggunakan zeolit paling sesuai mengikuti model psedou orde dua dengan R 2 =0.9993 dan R2 = 0.9626. Karbon aktif memiliki struktur amorf berpori dan menunjukkan kemampuan penyisihan ortofosfat sebesar 72,04% pada pH 4 dan amonium sebesar 38,49% pada pH 8. Pada variasi dosis karbon aktif mampu menyisihkan 68,07% ortofosfat dengan dosis optimal 0,4 gr sedangkan penyisihan amonium lebih rendah yaitu 23,67% pada dosis optimal 0,3 gr. Adsorpsi ortofosfat pada karbon aktif mengikuti model isoterm Freundlich dengan R² = 0,8596 sedangkan adsorpsi amonium mengikuti model isoterm Temkin dengan R² = 0,9775. Kinetika adsorpsi ortofosfat dan amonium menggunakan karbon aktif paling sesuai mengikuti model psedou orde dua dengan R 2 =0.9999 dan R2 = 0.9409. Pada percobaan reaktor sediment capping zeolit menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan karbon aktif. Efektivitas zeolit pada ketebalan 1 cm dan 3 cm masing-masing sebesar 52,91% dan 64,40% untuk ortofosfat serta 39,96% dan 47,52% untuk amonium. Sementara itu karbon aktif menunjukkan efektivitas sebesar 17,07% dan 27,57% untuk ortofosfat serta 36,95% dan 33,87% untuk amonium. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa zeolit lebih efektif dan cocok dibandingkan karbon aktif sebagai material capping dalam upaya mengendalikan eutrofikasi di danau Batur Bali.
ANALISIS PERHITUNGAN BIOMASA DENGAN METODE SMA & NDVI DI WILAYAH CEKUNGAN BANDUNG
Metode penghitungan biomassa menjadi salah satu faktor penting dalam pemantauaan managemen hutan dan kebijakan dalam rangka memerangi pemanasan global. Metode penghitungan biomassa yang memanfaatkan teknologi pengindraan jauh, pada umumnya memanfaatkan metode indeks vegetasi, untuk kemudian dicari korelasinya dengan data pengukuran biomassa lapangan. Vegetasi indek yang banyak digunakan adalah Normalized difference vegetation Index (NDVI). Namun penghitungan biomassa dari indeks vegetasi atau pemanfaatan reflektansi, untuk penghitungan biomassa memiliki kelemahan yaitu kemampuanya yang tidak dapat mengidentifikasi komponen spektral campuran dari permukaan bumi untuk tiap pikselnya. Pada penelitian ini spektral campuran tersebut diuraikan untuk tiap pikselnya sebelum pembentukan model dari biomassa. Spektral Mixture Analysis (SMA) digunakan untuk menguraikan komponen spektral campuran dari citra Landsat 5 TM menjadi suatu citra fraksi. Selanjutnya dibentuk model regresi yang kemudian dicari hubungan dari data lapangan dengan nilai fraksi SMA. Hasil dari metode SMA ini kemudian dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dari NDVI. Hasilnya menunjukan metode SMA memberikan ketelitian yang lebih baik dengan nilai R2 0,842 dan RMSE 164,0723, dengan menggunakan band 1,2,3,4,5, dan 7 dari Landsat 5 TM.
PERAN INKLUSI KEUANGAN DALAM MEMBENTUK PENGELUARAN KONSUMSI RUMAH TANGGA DI JAKARTA, INDONESIA
Inklusi keuangan semakin penting sebagai instrumen kebijakan untuk meningkatkan akses rumah tangga terhadap layanan keuangan formal dan digital. Namun demikian, bukti empiris mengenai pengaruh inklusi keuangan terhadap pengeluaran rumah tangga dalam konteks transformasi digital masih menunjukkan hasil yang beragam. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji apakah pengeluaran konsumsi rumah tangga bulanan di Jakarta, Indonesia, berkaitan dengan inklusi keuangan yang diukur melalui kepemilikan rekening bank dan dompet digital. Penelitian ini menggunakan metode regresi Ordinary Least Squares (OLS) dengan standar error robust berdasarkan data mikro cross-sectional dari 12.600 rumah tangga yang bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2024. Pengeluaran konsumsi rumah tangga diukur menggunakan logaritma natural dari total konsumsi rumah tangga bulanan. Dua spesifikasi model diestimasi, yaitu: (1) model dasar yang hanya mencakup variabel inklusi keuangan, dan (2) model lanjutan yang mempertimbangkan ukuran rumah tangga dan wilayah tempat tinggal. Hasil estimasi menunjukkan bahwa inklusi keuangan memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan peningkatan pengeluaran konsumsi rumah tangga, bahkan setelah mengontrol ukuran rumah tangga dan wilayah tempat tinggal. Temuan ini memberikan implikasi kebijakan yang relevan dalam upaya memperkuat ekosistem keuangan yang inklusif dan bertanggung jawab di Indonesia, serta menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan tradisional dan digital berasosiasi dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga di Jakarta.
PENGARUH PERNYATAAN MORAL REBELS TERHADAP WILLINGNESS TO PAY KONSUMEN DENGAN PERSEPSI IN-GROUP DAN OUT-GROUP SEBAGAI VARIABEL MODERASI
Penelitian kuantitatif ini mengkaji apakah pernyataan yang bermuatan moral dibandingkan dengan yang tidak bermuatan moral yang disampaikan oleh merek yang bertindak sebagai moral rebels mempengaruhi willingness to pay konsumen, serta bagaimana persepsi keanggotaan dalam kelompok (in-group) versus luar kelompok (out-group) memoderasi hubungan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengatasi kesenjangan penelitian terkait penerjemahan pembingkaian pesan moral ke dalam valuasi ekonomi yang lebih tinggi oleh konsumen yang mengarah pada peningkatan willingness to pay, yang hingga saat ini belum diuji. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen between-subjects dengan moderator terukur untuk menguji pengaruh pernyataan bermuatan moral dibandingkan dengan yang tidak bermuatan moral terhadap willingness to pay konsumen. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pernyataan moral dibandingkan dengan non-moral tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap willingness to pay konsumen. Selain itu, persepsi keanggotaan in-group versus out-group juga tidak secara signifikan memoderasi hubungan tersebut. Hasil ini menunjukkan bahwa pembingkaian moral semata mungkin tidak cukup untuk mempengaruhi keputusan pembelian konsumen, khususnya ketika pesan moral tidak memiliki relevansi personal yang kuat atau tidak tertanam dalam identitas kelompok yang terinternalisasi secara mendalam. Penelitian selanjutnya perlu mengeksplorasi faktor mediasi dan moderasi alternatif, berbagai kategori produk, serta konteks lintas budaya untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai kondisi di mana moral framing dapat memengaruhi valuasi ekonomi.
DAMPAK INKLUSI KEUANGAN DIGITAL TERHADAP KINERJA UMKM DI MALAYSIA: BUKTI DARI SURVEI PERUSAHAAN BANK DUNIA 2024
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara inklusi keuangan digital (digital financial inclusion) dan pertumbuhan penjualan pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Malaysia. Dalam penelitian ini, inklusi keuangan digital diukur melalui penggunaan pembayaran elektronik (electronic payments), dengan fokus pada pembayaran yang diterima dari pelanggan serta pembayaran yang dilakukan kepada pemasok. Analisis menggunakan data tingkat perusahaan (firm-level data) yang bersumber dari World Bank Enterprise Survey (WBES) 2024 untuk Malaysia dan diestimasi menggunakan metode regresi ordinary least squares (OLS). Penelitian ini menggunakan tiga model analisis, yaitu binary adoption model, continuous-intensity model, dan hybrid model. Selain itu, ukuran perusahaan (firm size) dan usia perusahaan (firm age) dimasukkan sebagai variabel kontrol (control variables). Hasil penelitian menunjukkan bahwa adopsi pembayaran elektronik secara sederhana tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan penjualan. Namun demikian, perusahaan yang lebih sering menggunakan pembayaran elektronik dalam melakukan pembayaran kepada pemasok cenderung mengalami pertumbuhan penjualan yang lebih tinggi. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa inklusi keuangan digital lebih berperan melalui cara pembayaran elektronik digunakan, bukan sekadar apakah pembayaran tersebut telah diadopsi.
REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM POSISI DEWAN DIREKSI TERHADAP KINERJA PERUSAHAAN: BUKTI DARI BADAN USAHA MILIK NEGARA DI INDONESIA
Penelitian ini menganalisis bagaimana representasi perempuan yang menduduki posisi sebagai dewan direksi dapat memengaruhi kinerja keuangan 32 perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia yang terdaftar di situs resmi Kementrian BUMN Indonesia selama periode 2020 hinga 2024. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh dua faktor utama. Pertama, penelitian mengenai keberagaman gender dan kinerja perusahaan selama ini lebih banyak dilakukan di negara maju, sehingga bukti empiris dari konteks negara berkembang, termasuk Indonesia, masih relatif terbatas. Kedua, tingginya kesenjangan gender serta temuan empiris yang belum konsisten dalam konteks BUMN di Indonesia menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana representasi perempuan dalam posisi direksi berkontribusi terhadap kinerja perusahaan. Secara teoritis, penelitian ini berdasar pada Resource Dependence Theory dan Agency Theory dalam menjelaskan hubungan antara keberadaan dan komposisi direksi perempuan dengan kinerja perusahaan. Selain itu, Stakeholder Theory juga digunakan untuk memahami peran BUMN yang beroperasi dalam lingkungan tata kelola yang kompleks, mengingat karakteristik BUMN yang memiliki fungsi ekonomi sekaligus sosial. Representasi direksi perempuan diukur melalui proporsi perempuan dalam dewan direksi serta variable dummy yang menunjukkan keberadaan direksi perempuan. Adapun kinerja keuangan perusahaan diukur menggunakan Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE) yang diperoleh dari laporan tahunan tiap perusahaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling dan dianalisis menggunakan metode regresi Pooled Ordinary Least Squares (OLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi perempuan dalam dewan direksi memiliki hubungan negatif yang tidak signifikan. Temuan ini menghasilkan kesimpulan bahwa praktik GCG dan struktur kepemilikan serta fungsi ganda pada BUMN memengaruhi dinamika tata Kelola perusahaan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pembuat kebijakan dan pimpinan perusahaan dalam merumuskan strategi peningkatan keberagaman gender di sektor public.
EVALUASI KEBIJAKAN OPERASIONAL SISTEM PRODUKSI SEPABLOCK MENGGUNAKAN PENDEKATAN SIMULASI
Sepablock merupakan salah satu produk diversifikasi non semen dari PT Semen Padang. Sistem produksi Sepablock dijalankan dengan memaksimalkan kapasitas mesin pada setiap shift, tanpa penyesuaian terhadap fluktuasi permintaan. Berdasarkan data historis, rata-rata produksi harian sebesar 2.080 unit, sedangkan rata-rata permintaan harian hanya sebesar 990 unit, sehingga terbentuk inventori harian dengan rata-rata 1.090 unit. Kondisi ini menunjukkan terjadinya overproduction akibat kebijakan operasional yang tidak selaras dengan kebutuhan pasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh kebijakan operasional terhadap terjadinya overproduction serta menyusun kebijakan operasional yang lebih selaras dengan permintaan guna menurunkan tingkat overproduction. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah simulasi yang digunakan untuk memodelkan kondisi aktual sistem produksi dan menguji beberapa skenario alternatif dengan konfigurasi jumlah shift dan mesin. Evaluasi dilakukan berdasarkan indikator total produksi, tingkat persediaan, lost sales, utilisasi sumber daya, dan total biaya yang terdiri atas biaya simpan dan biaya kehilangan penjualan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa konfigurasi satu shift dan satu mesin menghasilkan produksi sebesar 376.000 unit dalam setahun dengan inventori akhir tahun sebesar 2.260 unit dan total biaya terendah sebesar Rp67.849.375,08, meskipun terdapat lost sales sebesar 11.934 unit namun menurunkan akumulasi persediaan dan total biaya secara signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa penyesuaian kebijakan operasional berbasis permintaan lebih efektif dalam menekan overproduction dibandingkan pendekatan berbasis kapasitas maksimum. Konfigurasi satu shift direkomendasikan sebagai kebijakan operasional yang paling efisien dalam menyeimbangkan produksi dan permintaan serta meminimalkan total biaya sistem.
HAMBATAN RELIGIUS TERHADAP INKLUSI KEUANGAN DI NEGARA ANGGOTA ORGANISATION OF ISLAMIC COOPERATION (OIC) SERTA PERAN KANTOR CABANG PERBANKAN SYARIAH
Tingkat inklusi keuangan pada masyarakat Muslim masih tergolong rendah, salah satunya disebabkan oleh larangan praktik riba dalam Al-Qur’an. Kehadiran perbankan syariah dipandang sebagai alternatif yang berpotensi mengurangi hambatan religius dalam mengakses layanan keuangan. Namun, penelitian sebelumnya masih terbatas karena hanya menggunakan satu periode data Global Findex serta belum tersedianya data yang terstandarisasi mengenai keberadaan cabang bank syariah di berbagai negara. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan penelitian terkait peran perbankan syariah dalam menurunkan hambatan keagamaan terhadap inklusi keuangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status negara anggota Organisation of Islamic Cooperation (OIC) dengan hambatan religius terhadap inklusi keuangan, serta menguji pengaruh keberadaan cabang perbankan syariah terhadap hambatan tersebut. Metode analisis yang digunakan adalah Pooled Ordinary Least Squares (Pooled OLS) untuk masing-masing hipotesis, dengan memanfaatkan data panel dari 109 negara dan subsampel khusus yang terdiri atas 10 negara dengan jumlah cabang bank syariah yang menonjol pada periode Global Findex tahun 2014, 2017, dan 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa negara-negara anggota OIC secara signifikan memiliki tingkat hambatan religius terhadap inklusi keuangan yang lebih tinggi dibandingkan negara non-OIC. Namun, keberadaan perbankan syariah, baik melalui status negara dengan cabang syariah yang dominan maupun melalui jumlah cabang pada negara-negara tersebut, tidak terbukti memiliki hubungan negatif yang signifikan terhadap hambatan religius dalam konteks penelitian ini. Temuan ini mengindikasikan bahwa hambatan religius terhadap inklusi keuangan tidak semata-mata dipengaruhi oleh keberadaan fisik cabang bank syariah, melainkan juga berkaitan dengan faktor-faktor lain di luar aspek tersebut. Penelitian ini berkontribusi pada literatur dengan menegaskan peran status negara OIC sebagai indikator tingginya populasi Muslim yang berkorelasi dengan hambatan religius terhadap inklusi keuangan, serta menekankan pentingnya eksplorasi faktor lain yang memengaruhi hambatan tersebut. Selain itu, hasil penelitian ini memberikan implikasi kebijakan bahwa pengembangan layanan perbankan syariah tidak hanya perlu difokuskan pada perluasan jaringan cabang fisik, tetapi juga pada penguatan saluran layanan alternatif lainnya.