📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenHIDROGEN YANG DIHASILKAN DARI ASAM FORMAT MENGGUNAKAN KATALIS BIMETALIK DENGAN DUKUNGAN
Penelitian ini mengevaluasi kinerja katalitik dari katalis monologam (Au) dan bimetalik (AuPt) yang didukung oleh Al?O? dan karbon (C) untuk produksi hidrogen melalui dekomposisi asam format pada berbagai konsentrasi (0,1 M, 1 M, 4 M) dan suhu (60°C, 80°C, 110°C). Di antara semua katalis yang diuji, AuPt/C menunjukkan hasil produksi hidrogen tertinggi, dengan urutan aktivitas katalitik sebagai berikut: AuPt/C > AuPt/Al?O? > Au/Al?O?, Au/C. Analisis kromatografi gas menunjukkan selektivitas hidrogen yang lebih tinggi pada katalis berbasis karbon. Hasil XRD menunjukkan dispersi logam yang lebih baik pada karbon, sementara XRF mengonfirmasi pemuatan logam yang konsisten. Aktivitas AuPt yang lebih tinggi dikaitkan dengan efek sinergis antara Au dan Pt, dan kinerja unggul dari penyangga karbon berasal dari luas permukaan yang lebih tinggi dan interaksi logam-penyangga yang lebih baik. Temuan ini menunjukkan potensi AuPt/C sebagai katalis yang efisien untuk produksi hidrogen bersih dari asam format.
ANALISIS RISIKO KEGAGALAN PIPA BAWAH LAUT PENYALUR MINYAK MENGGUNAKAN METODE FUZZY FAULT TREE ANALYSIS (FFTA)
Pipa bawah laut merupakan infrastruktur yang sangat krusial dalam sistem transportasi minyak, khususnya pada kegiatan produksi minyak dan gas di wilayah lepas pantai, karena berfungsi sebagai sarana utama untuk menyalurkan fluida hidrokarbon dari fasilitas produksi menuju fasilitas pemrosesan atau fasilitas darat. Keandalan sistem pipa bawah laut ini menjadi aspek yang sangat penting mengingat potensi kegagalan pipa dapat menimbulkan dampak signifikan baik dari sisi keselamatan, lingkungan, maupun kerugian ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan analisis risiko yang mampu merepresentasikan kondisi sistem secara lebih realistis, termasuk dalam menghadapi keterbatasan data kegagalan yang sering terjadi pada sistem perpipaan bawah laut. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah Fuzzy Fault Tree Analysis (FFTA), yang memungkinkan integrasi antara data kuantitatif dan penilaian pakar dalam bentuk linguistik untuk mengatasi ketidakpastian pada metode fault tree analysis konvensional. Dalam penelitian ini, metode FFTA diterapkan pada enam pipa minyak bawah laut yang beroperasi di wilayah Northwest Java dengan memanfaatkan data inspeksi dan operasional yang tersedia, serta mempertimbangkan interval inspeksi selama empat tahun dalam perhitungan laju kegagalan. Hasil analisis menunjukkan bahwa estimasi probabilitas kegagalan top event berupa kegagalan pipa berada pada rentang sekitar 0,01 hingga 0,06, yang mencerminkan perbedaan kondisi operasional, riwayat kebocoran, serta tingkat degradasi masing-masing pipa. Selain itu, hasil analisis juga mengindikasikan bahwa faktor riwayat kebocoran merupakan kontributor paling dominan terhadap potensi kegagalan pipa, diikuti oleh lamanya umur operasional pipa, dan kerusakan dinding pipa, sedangkan faktor tindakan pengendalian integritas preventif memiliki pengaruh yang relatif lebih kecil. Secara keseluruhan, penerapan metode FFTA menunjukkan kemampuan dalam menghasilkan estimasi probabilitas kegagalan yang lebih berbasis kondisi aktual (condition-based), sehingga dapat mendukung proses prioritisasi risiko dan pengambilan keputusan yang lebih efektif dalam pengelolaan integritas pipa minyak bawah laut.
EVALUASI PENGARUH APLIKASI BIOFILTER BERBASIS BAKTERI NITRIFIKASI TERHADAP PROFIL KOMUNITAS BAKTERI DAN KUALITAS PERTUMBUHAN UDANG PUTIH (PENAEUS VANNAMEI) PADA TAMBAK UDANG DI INDRAMAYU, JAWA BARAT
Udang Putih (Litopenaeus vannamei) sebagai komoditas ekspor unggulan budidaya air payau membutuhkan optimasi untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi budidaya. Kontaminasi nitrogen dan vibriosis merupakan masalah utama yang menurunkan produktivitas budidaya udang. Metode filtrasi air yang masih konvensional, serta keterbatasan dalam penerapan metode optimasi budidaya dari segi teknologi dan biaya menjadi salah satu masalah utama penambakan di Indonesia. Biofilter berbasis bakteri nitrifikasi dikembangkan sebagai sistem filtrasi air yang berfokus pada reduksi kontaminan nitrogen dan Vibrio dari air sumber untuk dioptimalkan sebelum dialirkan menjadi media budidaya. Biofilter merupakan teknologi yang berkelanjutan, hemat energi, serta relatif sederhana sehingga dapat diaplikasikan secara luas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan efektivitas penggunaan sistem biofilter berbasis biofilm bakteri nitrifikasi dalam menurunkan kontaminan nitrogen dan Vibrio dari sumber air pesisir, serta implikasinya terhadap kualitas air dan hasil budidaya. Penelitian dilaksanakan pada tambak udang semi-intensif di Indramayu, Jawa Barat pada bulan Juni-September 2024. Pengambilan sampel dilakukan pada tiga titik, yaitu penampang panjang (air sumber), sistem biofilter dan tambak G7 (tambak perlakuan). Pengamatan dilakukan setiap minggu dalam rentang 76 hari budidaya dengan mengamati parameter fisikokimia, yaitu suhu, pH, dan DO menggunakan water multitester, serta konsentrasi TAN, nitrit, dan nitrat dengan Merck® Colorimetric Test Kit. Dilakukan juga analisis mikrobiologis pada medium TSA (Tryptic Soy Agar) untuk bakteri heterotrof dan TCBS (Thiosulfate Citrate Bile Salts Sucrose) untuk Vibrio dengan metode spread plate. Hasil penelitian menunjukkan efektivitas nitrifikasi biofilter dalam mereduksi kontaminan nitrogen dengan rata-rata konsentrasi TAN 0,11±0,29 ppm, lebih rendah dibandingkan pada air sumber (0,22±0,44 ppm). Biofilter juga mampu menjaga ratarata parameter kualitas air, yaitu suhu, pH, dan DO pada ambang optimal. Berdasarkan analisis korelasi Pearson diperoleh parameter suhu dan DO berkorelasi kuat dan berpengaruh signifikan terhadap kinerja biofilter. Kelimpahan bakteri heterotrof berkorelasi positif dengan Vibrio dan pertumbuhan keduanya berkorelasi dengan konsentrasi amonia dalam air. Peningkatan kelimpahan bakteri heterotrof juga berdampak pada penurunan oksigen terlarut dalam air. Analisis mikrobiologis menunjukkan biofilter mampu meningkatkan dan menjaga komposisi bakteri heterotrof pada sistem, serta menekan pertumbuhan bakteri Vibrio yang ditinjau dari kelimpahan absolutnya. Analisis klaster Bray-Curtis menunjukkan adanya pergeseran dinamika kelimpahan bakteri heterotrof yang mulai teramati pada DOC 48, mengindikasikan keberlangsungan proses suksesi yang ditandai dengan meningkatnya kemiripan struktur mikroba pada sistem biofilter dan tambak G7. Sebaliknya, dinamika Vibrio menunjukkan struktur yang berbeda pada masing-masing lokasi, ditinjau dari pembentukan kluster terpisah mulai DOC 55. Hasil ini didukung dengan analisis diversitas Shannon dan Simpson Vibrio yang menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada pola keanekaragaman dan dominansi Vibrio antar lokasi sampel mulai DOC 27 hingga akhir masa budidaya. Analisis ANOVA menunjukkan kesamaan dinamika Vibrio pada tambak G7 dengan biofilter pada pertengahan masa budidaya, sebelum akhirnya mengalami pergeseran yang signifikan pada akhir masa budidaya. Analisis diversitas juga menunjukkan biofilter mampu meningkatkan diversitas dan keanekaragaman populasi bakteri heterotrof serta menstabilkan struktur komunitas Vibrio dalam sistem. Berdasarkan analisis biologis, biofilter mampu mempengaruhi respons biologis budidaya melalui peningkatan kesintasan udang sebesar 51,5% dan produktivitas budidaya hingga 86% dibandingkan tambak tanpa perlakuan.
ANALISIS PAJANAN PM2,5 TERHADAP SISWA SEKOLAH DASAR DI JAKARTA TIMUR
Polusi udara perkotaan, khususnya PM2,5, merupakan permasalahan kesehatan lingkungan yang signifikan di Jakarta dan berisiko tinggi bagi anak-anak sekolah dasar sebagai kelompok rentan. Kerentanan ini berkaitan dengan sistem pernapasan yang masih berkembang serta intensitas aktivitas harian yang meningkatkan peluang pajanan melalui inhalasi. Dalam konteks tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pajanan PM2,5 serta mengevaluasi potensi risiko kesehatannya pada siswa sekolah dasar di Jakarta Timur, sekaligus membandingkan konsentrasi antara Sekolah Dasar Negeri dan Sekolah Dasar Swasta sebagai dasar perumusan manajemen risiko. Penelitian melibatkan 42 siswa dengan pengukuran konsentrasi PM2,5 menggunakan alat pemantau kualitas udara PurpleAir dengan pendekatan Health Risk Assessment (HRA). Melalui pendekatan ini, nilai intake dihitung untuk selanjutnya dilakukan karakterisasi risiko non-karsinogenik menggunakan parameter hazard quotient (HQ). Analisis statistik turut dilakukan untuk menguji perbedaan konsentrasi antarjenis sekolah serta menilai hubungan antara intake PM2,5, fungsi paru, dan karakteristik antropometri siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi PM2,5 di Sekolah Dasar Negeri berada pada kisaran 20–46 µg/m³, lebih tinggi dibandingkan Sekolah Dasar Swasta yang berada pada kisaran 8–38 µg/m³, dengan perbedaan signifikan berdasarkan uji T. Secara rata-rata, konsentrasi di Sekolah Dasar Swasta masih memenuhi baku mutu udara dalam ruang, sedangkan di Sekolah Dasar Negeri melampaui baku mutu. Pola tersebut sejalan dengan nilai intake, di mana siswa Sekolah Dasar Negeri memiliki kisaran 0,00020–0,00028 mg/kg/hari, sementara Sekolah Dasar Swasta berkisar 0,00015–0,00027 mg/kg/hari. Meskipun demikian, seluruh nilai HQ ? 1 yang menunjukkan risiko non-karsinogenik rendah pada frekuensi pajanan 240 hari/tahun. Namun, mengingat sifat pajanan yang kumulatif, strategi manajemen risiko preventif tetap diperlukan. Analisis korelasi menunjukkan hubungan yang tidak signifikan antara intake PM2,5 dan fungsi paru, demikian pula antara karakteristik antropometri dan fungsi paru. Temuan ini mengindikasikan bahwa fungsi paru anak tidak hanya dipengaruhi oleh pajanan selama jam sekolah, tetapi juga oleh akumulasi pajanan dari mobilitas harian dan lingkungan rumah. Oleh karena itu, upaya pengendalian direkomendasikan melalui peningkatan filtrasi ruang kelas, pemantauan kualitas udara secara berkala, pemeriksaan kesehatan pernapasan, edukasi, serta penggunaan masker pada periode kualitas udara buruk.
PENDEKATAN COST BENEFIT ANALYSIS DALAM SKENARIO PENGEMBANGAN FASILITAS PENGOLAHAN SAMPAH KOTA PEKANBARU
Pengolahan sampah adalah salah satu biaya utama yang dikeluarkan oleh otoritas lokal di negara berkembang. Usaha pengolahan sampah selain dapat memberikan manfaat dan biaya secara ekonomi juga dapat memberikan manfaat dan biaya bagi lingkungan. Berdasarkan hasil analisis, sampah yang dihasilkan Kota Pekanbaru mencapai 592.961 kg/hari. DLHK Kota Pekanbaru membangun fasilitas pengolahan sampah berupa rumah kompos, TPS-3R dan bank sampah. Fasilitas ini dapat mereduksi sampah sekitar 2.871,16 kg/hari atau 0,48% dari total timbulan sampah di sumber. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan skenario fasilitas pengolahan sampah Kota Pekanbaru dengan pendekatan Cost Benefit Analysis (CBA). Berdasarkan hasil analisis pada skenario A (kondisi eksisting fasilitas pengolahan sampah), diperoleh nilai net value yaitu Rp332.913.313 dengan nilai Benefit Cost Ratio (BCR) yaitu 1,62, sedangkan pada skenario B (optimasi fasilitas pengolahan sampah) diperoleh nilai net value yaitu Rp2.110.282.201 dengan nilai BCR yaitu 2,90 dan pada skenario C (pengembangan fasilitas pengolahan sampah) diperoleh nilai BCR pada Tahun 2025 adalah 2,19 dengan nilai Net Present Value (NPV) yaitu Rp17.044.293.215. Skenario fasilitas pengolahan sampah yang memiliki nilai NPV paling tinggi adalah skenario C, sedangkan yang memiliki nilai BCR tertinggi adalah skenario B. Nilai net value dan NPV yang positif serta BCR> 1 menunjukkan bahwa setiap skenario fasilitas pengolahan sampah Kota Pekanbaru layak untuk dioperasionalkan dan memberikan keuntungan secara ekonomi. Hal ini dikarenakan dengan memasukkan perhitungan valuasi lingkungan, maka komponen manfaat dari usaha pengolahan sampah akan bernilai lebih besar daripada komponen biaya yang dikeluarkan, dengan nilai komponen manfaat langsung yang paling tinggi adalah retribusi pasar pada rumah kompos, sedangkan nilai komponen manfaat tidak langsung yang paling tinggi adalah manfaat dari pengurangan biaya dampak kesehatan.
INVENTARISASI EMISI POLUTAN NOX,S O2, CO, CO2, PM10, PM2.5 DAN HC DIPELABUHAN TANJUNG PRIOK MENGGUNAKAN MODEL GAINS UNTUK SEKTOR TRANSPORTASI NON-ROAD
Pelabuhan Tanjung Priok merupakan pelabuhan utama dan tersibuk di Indonesia yang berkontribusi signifikan terhadap aktivitas logistik nasional maupun internasional. Tingginya intensitas kegiatan transportasi non-road, seperti kapal laut dan truk kontainer, menimbulkan emisi polutan udara yang berdampak pada kualitas lingkungan di sekitar kawasan pelabuhan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan inventarisasi emisi polutan utama berupa NOx, SO2, CO, CO2, PM10, PM2.5 DAN HC dari aktivitas non-road di Pelabuhan Tanjung Priok dengan pendekatan bottom-up menggunakan model GAINS. Metode penelitian mencakup pengumpulan data primer dan sekunder terkait aktivitas kapal dan truk, perhitungan konsumsi energi, serta pemodelan distribusi spasial emisi menggunakan GIS. Hasil yang diharapkan adalah estimasi kuantitatif beban emisi tahunan, identifikasi sumber dengan kontribusi terbesar, serta peta sebaran emisi di kawasan pelabuhan. Selain itu, penelitian ini juga mengevaluasi beberapa skenario mitigasi, termasuk penerapan shore power, penggunaan bahan bakar rendah sulfur, dan modifikasi teknologi mesin kapal. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar perumusan kebijakan yang efektif dan berkelanjutan dalam upaya menurunkan emisi udara di Pelabuhan Tanjung Priok serta mendukung pengembangan konsep green port di Indonesia.
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN TERHADAP KUANTITAS DAN KUALITAS AIR DASCISADANE
Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisadane merupakan sumber daya air penting bagi wilayah Bogor dan Tangerang yang mengalami tekanan akibat perubahan tutupan lahan dan aktivitas antropogenik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak perubahan tutupan lahan terhadap kuantitas dan kualitas air di DAS Cisadane selama periode 2017–2024. Analisis kuantitas air dilakukan menggunakan Soil and Water Assessment Tool (SWAT) dengan tiga skenario tutupan lahan, yaitu Skenario-0 (kondisi eksisting/baseline), Skenario-1 (pengelolaan berbasis konservasi), dan Skenario-2 (perubahan tutupan lahan yang didominasi kawasan permukiman). Kualitas air dianalisis menggunakan regresi linier berganda berdasarkan parameter Total Suspended Solids (TSS), Biochemical Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), dan nitrat. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan luas kawasan permukiman sebesar 10.645,39 ha (8,50%), yang diikuti oleh penurunan tutupan hutan sebesar 4.997,9 ha (?3,99%) dan lahan pertanian sebesar 5.162,56 ha (?4,12%). Simulasi SWAT+ menunjukkan bahwa Skenario-2 menghasilkan limpasan permukaan tertinggi (1263,2 mm) dan aliran dasar terendah (749,22 mm), yang mengindikasikan penurunan kapasitas infiltrasi DAS, sedangkan Skenario-1 meningkatkan kontribusi aliran bawah permukaan dan air tanah. Hasil regresi menunjukkan bahwa kawasan permukiman dan lahan pertanian berhubungan positif dengan peningkatan beban pencemar, sedangkan tutupan hutan berperan dalam menekan degradasi kualitas air. Temuan ini menegaskan bahwa rehabilitasi dan perlindungan hutan terutama di bagian hulu yang memiliki kelerengan >45% dan pengendalian ekspansi permukiman merupakan kunci untuk menurunkan limpasan pembawa pencemar sekaligus menjaga ketersediaan aliran musim kering.
ANALISIS HIDRODINAMIKA GELEMBUNG HIDROGEN DAN SIMULASI COMPUTATIONAL FLUID DYNAMICS (CFD) DALAM REAKTOR FASA GASCAIR UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH CAIR ARTIFISIAL
Pengolahan limbah cair secara anaerob sangat bergantung pada kondisi hidrodinamika di dalam reaktor untuk mengoptimalkan proses transfer massa. Penelitian ini bertujuan mengkaji karakteristik hidrodinamika gelembung dalam Circulating bed reactor (CBR) melalui eksperimen laboratorium dan simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD). Parameter yang dianalisis meliputi pengaruh variasi tinggi cairan (H = 30, 60, dan 90 cm) serta laju alir gas nitrogen (1–3 L/menit) terhadap ukuran gelembung, kecepatan naik gelembung (bubble rise velocity), gas hold-up, dan koefisien transfer massa CO? (kLa dan kL). Metode penelitian melibatkan pembentukan CO? secara in-situ dan proses desorpsi menggunakan nitrogen sebagai gas flushing. Simulasi CFD dilakukan menggunakan perangkat lunak COMSOL Multiphysics dengan pendekatan bubbly flow untuk merepresentasikan interaksi fase gas–cair. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan laju alir gas secara signifikan meningkatkan ukuran gelembung, kecepatan naik, dan gas hold-up, serta mendorong pergeseran rezim aliran dari homogen menuju transisi seiring meningkatnya kecepatan superfisial gas. Pada laju alir rendah (1 L/menit), peningkatan tinggi kolom cairan (H 90 cm) menghasilkan total recovery CO? tertinggi, mencapai 84%, akibat waktu tinggal gelembung yang lebih lama. Namun, pada laju alir tinggi, fenomena koalesensi gelembung membatasi efisiensi transfer massa. Simulasi CFD menunjukkan kesesuaian dengan hasil eksperimen dan berhasil memvalidasi distribusi kecepatan fase cair dengan nilai maksimum sekitar 0,15–0,16 m/s di pusat kolom. Kajian ini memberikan dasar penting bagi perancangan dan optimasi operasional reaktor fasa gas–cair untuk pengolahan limbah cair secara anaerob.
ANALISIS KESIAPAN KEBERLANJUTAN LINGKUNGAN PADA UMKM KULINER: STUDI KASUS UMKM DKI JAKARTA
Environmental, Social, and Governance (ESG) merupakan kerangka dalam menilai kinerja keberlanjutan perusahaan. Meskipun demikian, penerapan ESG pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di negara berkembang masih menghadapi berbagai keterbatasan konseptual dan struktural. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji kerangka penilaian keberlanjutan lingkungan berbasis ESG yang dikontekstualisasikan untuk UMKM kuliner di Jakarta melalui integrasi indikator lingkungan ESG dan model Knowledge–Attitude–Readiness– Practice (KARP). Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran dengan survei terhadap UMKM kuliner di lima wilayah administratif Jakarta yang dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLSSEM), serta wawancara terbatas untuk mengidentifikasi faktor eksternal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan berperan sebagai variabel mediasi utama dalam menerjemahkan pengetahuan dan sikap terhadap praktik keberlanjutan. Meskipun pengetahuan berpengaruh signifikan terhadap sikap dan kesiapan, sikap tidak secara langsung menghasilkan praktik tanpa dukungan kesiapan operasional. Selain faktor internal, kendala struktural seperti keterbatasan finansial, ambiguitas regulasi, dan lemahnya keselarasan antara kebijakan dan kondisi operasional UMKM turut membatasi implementasi ESG. Penelitian ini berkontribusi pada kesiapan dalam mendorong penerapan keberlanjutan lingkungan di sektor usaha kecil perkotaan.
PERAN SEKTOR PERTANIAN, INDUSTRI PENGOLAHAN, DAN JASA DALAM DINAMIKA EKONOMI INDONESIA: PENDEKATAN MODEL INPUT-OUTPUT
Transformasi struktural merupakan proses penting dalam pembangunan ekonomi yang ditandai oleh pergeseran peran sektor-sektor utama dalam perekonomian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika peran sektor pertanian, industri pengolahan, dan jasa dalam perekonomian Indonesia, serta mengkaji pola keterkaitan antar sektor tersebut dalam kerangka transformasi struktural. Pendekatan yang digunakan adalah analisis Input–Output dengan memanfaatkan Tabel Input–Output Indonesia tahun 2010, 2016, dan 2020. Analisis difokuskan pada pengukuran keterkaitan ke belakang, keterkaitan ke depan, serta pengganda output guna mengidentifikasi sektor-sektor kunci dan perubahan struktur ekonomi dari waktu ke waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia secara kuantitatif telah mengalami pergeseran struktur dari dominasi sektor primer menuju sektor sekunder dan tersier. Sektor industri pengolahan memiliki peran yang relatif kuat dalam menciptakan permintaan input dari sektor lain, tercermin dari nilai keterkaitan ke belakang dan pengganda output yang tinggi. Sementara itu, sektor jasa berperan penting dalam keterkaitan ke depan sebagai penyedia jasa pendukung bagi aktivitas produksi sektor pertanian dan industri. Di sisi lain, sektor pertanian tetap berfungsi sebagai pemasok bahan baku utama, namun dengan keterbatasan dalam menciptakan nilai tambah lanjutan. Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa transformasi struktural di Indonesia masih bersifat parsial. Meskipun terjadi pergeseran kontribusi sektoral, keterkaitan antar sektor belum sepenuhnya terintegrasi secara optimal untuk mendorong peningkatan produktivitas agregat. Oleh karena itu, penguatan sinergi antara sektor pertanian, industri pengolahan, dan jasa menjadi kunci dalam mewujudkan transformasi struktural yang lebih berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar empiris bagi perumusan kebijakan pembangunan ekonomi yang lebih terintegrasi dan berbasis keterkaitan sektoral.
ANALISIS MANAJEMEN RISIKO PADA TAHAP PRELIMINARY WORK STUDI KASUS: MEGAPROYEK STRATEGIS NASIONAL
Tahap preliminary work pada megaproyek strategis nasional merupakan fase awal yang menentukan keberhasilan proyek secara keseluruhan. Risiko pada tahap ini akan bersifat propagated risk, apabila tidak dikelola secara sistematis, berpotensi menyebabkan pembengkakan biaya, keterlambatan jadwal, serta pengambilan keputusan yang kurang optimal pada fase berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan manajemen risiko pada tahap preliminary work serta mengkuantifikasi biaya risiko dan konsekuensi keterlambatan proyek sebagai dasar pengambilan keputusan proyek. Metode penelitian dilakukan melalui proses manajemen risiko yang mengacu pada kerangka kerja SNI ISO 31000, meliputi identifikasi, analisis, evaluasi, perlakuan, serta pemantauan risiko. Selanjutnya, dilakukan analisis biaya risiko dan konsekuensi keterlambatan proyek untuk menilai besarnya potensi dampak finansial dari risiko-risiko yang teridentifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa risiko utama pada tahap preliminary work memiliki eksposur biaya yang signifikan dan berpengaruh terhadap kelayakan serta strategi pelaksanaan proyek. Berdasarkan studi kasus, biaya preliminary work mewakili sekitar 0,02% dari total investasi atau sekitar 76 miliar rupiah. Meskipun kontribusinya relatif kecil, keputusan yang salah dapat mengakibatkan potensi kerugian hingga 586 triliun rupiah. Risiko dari preliminary work bersifat propagated risk yang dapat memicu dampak yang lebih besar, yang artinya manajemen risiko dan kualitas pengambilan keputusan memiliki peran penting dalam pelaksanaan megaproyek.
PENINGKATAN PURCHASE ACTION RATIO (PAR) MELALUI KAMPANYE INSTAGRAM YANG EFEKTIF DI NEGARA-NEGARA ASIA TERPILIH: STUDI KASUS GLOBAL MILLENNIAL MODEL UNITED NATIONS (GM MUN)
Perkembangan pemasaran digital telah mengubah cara organisasi membangun hubungan dengan audiens, khususnya melalui pemanfaatan media sosial sebagai sarana utama komunikasi pemasaran. Dalam konteks pemasaran internasional, keberhasilan suatu kampanye tidak lagi diukur semata-mata dari tingginya tingkat eksposur atau keterlibatan audiens, tetapi dari kemampuannya mengonversi kesadaran tersebut menjadi tindakan nyata. Salah satu indikator yang mencerminkan efektivitas proses ini adalah Purchase Action Ratio (PAR), yang menunjukkan perbandingan antara jumlah audiens yang terekspos dengan jumlah audiens yang melakukan tindakan aktual. Global Millennial Model United Nations (GM MUN), sebagai penyelenggara kegiatan Model United Nations berskala internasional, menghadapi tantangan signifikan berupa tingginya kesadaran merek internasional yang dihasilkan melalui Instagram, namun tidak diikuti oleh tingkat partisipasi internasional yang sebanding. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya konversi dari kesadaran audiens internasional menjadi tindakan pendaftaran pada GM MUN, serta mengevaluasi efektivitas strategi pemasaran internasional yang diterapkan melalui kampanye Instagram. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan orientasi utama kualitatif, yang memungkinkan peneliti untuk tidak hanya mengidentifikasi pola kinerja pemasaran secara kuantitatif, tetapi juga memahami secara mendalam proses, persepsi, dan dinamika pengambilan keputusan audiens internasional. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dengan pemangku kepentingan internal dan eksternal, observasi aktivitas pemasaran digital GM MUN di Instagram, serta analisis dokumen pendukung seperti data kampanye dan pendaftaran. Analisis penelitian ini didasarkan pada integrasi kerangka Marketing 5.0, komunikasi pemasaran, social media marketing, serta model perjalanan pelanggan 5A (Aware, Appeal, Ask, Act, Advocate). Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pemasaran GM MUN telah berhasil menciptakan tingkat kesadaran dan ketertarikan awal yang tinggi di kalangan audiens internasional, khususnya pada tahap Aware dan Appeal. Namun demikian, strategi tersebut masih bersifat awareness-driven dan belum dioptimalkan untuk mendorong audiens menuju tahap Ask dan Act. Hambatan utama konversi meliputi ketidakjelasan segmentasi internasional yang masih berfokus pada aspek geografis dan belum mempertimbangkan peran pengambil keputusan, lemahnya sinyal kredibilitas institusional di tingkat internasional, keterbatasan pesan persuasif dan call to action yang terstruktur, serta kurang optimalnya pengelolaan pengalaman audiens pada tahap lanjutan perjalanan pelanggan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rendahnya PAR GM MUN bukan disebabkan oleh kurangnya eksposur atau visibilitas internasional, melainkan oleh ketidakseimbangan antara strategi peningkatan kesadaran dan strategi konversi. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan pergeseran strategi pemasaran internasional menuju pendekatan yang lebih berorientasi pada konversi, melalui penyempurnaan segmentasi berbasis peran, penguatan kredibilitas institusional, optimalisasi komunikasi pemasaran yang persuasif, serta perbaikan pengelolaan perjalanan pelanggan internasional. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis bagi pengelola kegiatan pendidikan dan event internasional, serta memperkaya kajian akademik mengenai efektivitas pemasaran digital dalam konteks pasar lintas negara
ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM PENGADAAN DIGITAL UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI DI PT KILANG PERTAMINA INTERNASIONAL
Pengadaan digital menjadi kebutuhan strategis bagi industri minyak dan gas yang memiliki kompleksitas operasional tinggi. PT Kilang Pertamina Internasional (PT KPI) sebagai entitas strategis di sektor energi nasional menghadapi permasalahan berupa penggunaan 26 aplikasi pengadaan berbeda yang tersebar di berbagai Refinery Unit (RU) dan Kantor Pusat. Ini menyebabkan proses manual yang berlapis, rendahnya integrasi end-to-end, serta lamanya siklus persetujuan yang berdampak pada efektivitas pengadaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Sistem Pengadaan Digital di PT KPI serta merancang perbaikan sistem yang terintegrasi guna meningkatkan efektivitas proses pengadaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif yang diperkaya dengan analisis kuantitatif komparatif terhadap kinerja proses. Kerangka analisis utama yang digunakan adalah Six Sigma melalui metode DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control). Pada tahap Analyze, dilakukan Business Process Analysis (BPA) untuk memetakan kondisi as-is dan membandingkannya dengan rancangan to-be. BPA diperkuat dengan penerapan Business Analysis Techniques (BAT) yang meliputi MOST Analysis, Stakeholder Matrix, Cross-Functional Matrix, Gap Analysis, Five Whys, serta KPI Monitoring Framework untuk mengidentifikasi akar permasalahan, kesenjangan proses, serta indikator kinerja perbaikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem saat ini memiliki kesenjangan pada aspek integrasi sistem, standarisasi proses, kualitas data, dan visibilitas monitoring. Implementasi sistem pengadaan digital terintegrasi berpotensi meningkatkan efektivitas melalui penyederhanaan alur kerja, pengurangan duplikasi aplikasi, standarisasi proses, penguatan audit trail, serta peningkatan visibilitas real-time. Evaluasi menunjukkan adanya penurunan waktu siklus dan peningkatan konsistensi data sebagai indikator peningkatan efektivitas proses pengadaan. Secara kuantitatif, hasil perbandingan menunjukkan bahwa pengadaan barang mengalami efisiensi sebesar 50%, sedangkan pengadaan jasa menunjukkan efisiensi sebesar 43%.
EVALUASI KINERJA SEISMIK PASCA RETROFITTING PADA BANGUNAN EKSISTING 14 LANTAI TERHADAP STABILITAS STRUKTUR
Pertumbuhan pesat pembangunan gedung bertingkat di Indonesia menarik perhatian penulis dalam memastikan suatu struktur bangunan tinggi aman bagi kehidupan pengguna bangunan di dalamnya. Penelitian ini lahir dari kepedulian terhadap keselamatan bagi penghuni bangunan gedung bertingkat, dengan mengambil studi kasus pada sebuah bangunan apartemen eksisting 14 lantai di Kota Bandung. Pada bangunan yang ditinjau, terdapat ketidaksesuaian antara desain perencanaan dengan pelaksanaan di lapangan terkait mutu material dan tulangan terpasang, hal ini menunjukkan adanya indikasi kegagalan struktural dan tingginya ketidakberaturan geometri yang membuatnya sangat rentan terhadap guncangan gempa. Penelitian ini mengevaluasi kinerja seismik bangunan sebelum dan sesudah perbaikan (retrofitting) pada bangunan yang ditinjau. Evaluasi kelayakan ini dilakukan secara komprehensif melalui pendekatan Performance-Based Seismic Evaluation mengacu pada standar ASCE 41-17 dan Nonlinear Time History Analysis (NLTHA) dengan 11 pasang gempa yang telah diskalakan berdasarkan SNI 8899-2020. Analisis awal mengungkapkan struktur bangunan eksisting tidak aman karena adanya potensi mekanisme keruntuhan soft story di lantai dasar, terdapat beberapa kolom yang telah melampaui batas kritis Collapse Prevention (>CP) untuk tingkat gempa BSE-2E. Menghadapi kondisi ini, penerapan pelapis beton (concrete jacketing) pada kolom menjadi sebuah urgensi keselamatan yang dilakukan. Intervensi ini terbukti sangat efektif menyembuhkan defisiensi kapasitas kolom kritis yang sebelumnya terancam mengalami kegagalan akibat soft story. Bersamaan dengan itu, perkuatan CFRP berhasil meningkatkan kapasitas geser balok sebesar 119% - 134%. Evaluasi menunjukkan perbaikan kinerja struktur yang cukup efektif, tidak terdapat kolom dengan tingkat kinerja (>CP). Mayoritas elemen bangunan (98,71%) berhasil dipulihkan hingga mencapai tingkat kinerja Immediate Occupancy (IO), memastikan bahwa bangunan dapat segera dan aman digunakan kembali sebagai pelindung sesaat setelah gempa terjadi.
PENDEKATAN CUSTOMER DISCOVERY UNTUK MEMAHAMI PREFERENSI PERUMAHAN GENERASI Z DI PERKOTAAN JAKARTA UNTUK FAIZ WORKS SEBAGAI STARTUP ARSITEKTUR
perubahan gaya hidup menyebabkan Generasi Z memiliki kebutuhan hunian yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, layanan arsitektur konvensional di Indonesia belum sepenuhnya menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan Customer Discovery berdasarkan kerangka Steve Blank dengan desain metode campuran berurutan. Analisis PESTEL digunakan untuk mengkaji faktor lingkungan makro, sementara data primer dikumpulkan melalui survei terhadap 50 responden Generasi Z di Jakarta dan dilanjutkan dengan wawancara mendalam kepada lima calon pengguna untuk menguji dan menyempurnakan konsep layanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z memprioritaskan privasi, fleksibilitas, transparansi proses desain, serta interaksi sosial yang bersifat opsional. Asumsi mengenai kesepian emosional sebagai pendorong utama preferensi hunian serta layanan arsitektur yang sepenuhnya digital tidak terbukti secara empiris. Penelitian ini menghasilkan Business Model Canvas tervalidasi yang memosisikan layanan arsitektur sebagai layanan modular, transparan, dan hybrid. Studi ini memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan kewirausahaan arsitektur berbasis kebutuhan generasi muda perkotaan.