📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPERMASALAHAN DAN ANALISIS GEODESI BATAS DARAT RI DANMALAYSIA DI PULAU SEBATIK
Batas darat di Pulau Sebatik antara Indonesia dan Malaysia berdasarkan Konvensi 1891 adalah lintang astronomi 4º10’ LU, yang kemudian ditegaskan dengan Traktat 1915. Permasalahan perbatasan yang dihadapi Indonesia–Malaysia di Pulau Sebatik utamanya adalah adanya perbedaan antara koordinat pilar batas yang ditegaskan dalam Plan No.7276 dengan garis batas yang didefiniskan dalam Konvensi 1891. Salah satu alternatif penyelesaian kasus perbatasan ini adalah pihak Indonesia dan Malaysia perlu merekonstruksi kembali lintang astronomi 4º10’ LU sesuai Konvensi 1891 di lapangan. Rekonstruksi tersebut bisa dilakukan dengan metode penentuan astronomi GPS maupun metode pengamatan survey geodetik dengan GPS. Skripsi ini akan membahas dan mendiskusikan permasalahan rekonstruksi dengan menggunakan metode survei GPS. Pada rekonstruksi dengan metode survey GPS ini diperlukan nilai komponen defleksi vertikal untuk mentransformasikan koordinat astronomi menjadi koordinat koordinat geodetik. Dalam penelitian ini nilai defleksi vertikal terutama dihitung dari 8 model geopotensial global. Nilai defleksi vertikal juga dihitung dengan metode astrogeodetik menggunakan hasil survei GPS tahun 2012 dan koordinat astronomi pada Plan No.7276, sebagai pembanding untuk analisa hasil dari metode geopotensial global. Dalam hal ini terdapat perbedaan nilai defleksi vertikal dari 8 model geopotensial global dengan nilai defleksi vertikal yang diperoleh dengan metode astrogeodetik. Untuk komponen defleksi vertikal utara-selatan dari 8 model geopotensial tersebut rata-rata bernilai –1.2”, dan nilai defleksi vertikal dari metode astrogeodetik bernilai 2.9”; sehingga ada perbedaan nilai defleksi vertikal sebesara ± 4.1”. Karena nilai defleksi vertikal akan sangat menentukan lokasi garis batas di lapangan, maka nilainya harus ditentukan secara bersama dengan sebaik mungkin oleh pihak Indonesia dan Malaysia.
INOVASI LAYANAN TRANSPORTASI DARING MELALUI KECERDASAN GEOSPASIAL: KERANGKA STRATEGI PRODUK (STUDI: PT GOTO GOJEK TOKOPEDIA TBK)
Platform ride-hailing di Indonesia bergantung pada infrastruktur geospasial — peta digital, mesin perutean, prediksi ETA, dan kecerdasan lokasi — untuk setiap transaksi. Namun, manajer produk belum memiliki kerangka kerja sistematis untuk memprioritaskan investasi geospasial, dan literatur yang ada belum membahas bagaimana kapabilitas teknis geospasial diterjemahkan menjadi nilai bisnis di pasar negara berkembang. Penelitian ini mengatasi kesenjangan tersebut dengan mengembangkan Kerangka Strategi Produk Geospasial yang disesuaikan dengan pasar ride-hailing Indonesia, di mana sistem pengalamatan informal, dominasi transportasi roda dua (74,18% dari total perjalanan), dan geografi kepulauan menciptakan tantangan yang tidak terjawab oleh solusi global. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran yang mengintegrasikan teori Jobs-to-be-Done, Product-Market Fit, dan Platform Strategy dengan analisis empiris terhadap delapan wawancara ahli dan 4.806 ulasan pengguna. Pengkodean kualitatif menggunakan ATLAS.ti menghasilkan 275 kutipan dalam delapan keluarga kode, sementara analisis sentimen kuantitatif berbasis NLP mengungkapkan Frequency-Severity Disconnect: akurasi lokasi mendominasi volume keluhan (26,7%), namun permasalahan perutean mendapatkan penilaian keparahan tertinggi (rata-rata 1,55 bintang) dan berfungsi sebagai silent killer retensi pengguna. Tiga konsep emergen melandasi temuan: Invisible Product Paradox, di mana kapabilitas geospasial tidak disadari saat berfungsi namun sangat terlihat saat gagal; Silent Killer Effect, di mana penurunan kualitas menggerus kepercayaan sebelum tercermin dalam metrik standar; dan Frequency-Severity Disconnect antara frekuensi keluhan dan keparahan dampak. Konsep ini mendasari Three-Layer Integration Model yang terdiri dari Job-to-Geo Impact Matrix untuk prioritisas investasi, PMF Threshold Metrics Framework untuk tolok ukur kualitas, dan Build-vs-Buy Geospatial Sourcing Decision Framework untuk keputusan pengadaan teknologi. Kerangka kerja ini menawarkan alternatif terstruktur terhadap pengambilan keputusan geospasial ad hoc bagi pemimpin produk, serta berkontribusi pada literatur akademis mengenai strategi layanan berbasis lokasi di Asia Tenggara.
KLASIFIKASI PENYAKIT KARDIOVASKULAR MENGGUNAKAN METODE HYBRID DEEP LEARNING MEMANFAATKAN CITRA EKG
Penyakit kardiovaskular (Cardiovascular Disease, CVD) merupakan penyebab utama kematian global. Deteksi dini CVD melalui citra elektrokardiogram (EKG) berbasis kertas penting untuk membantu proses skrining, namun kualitas citra yang bervariasi seperti noise, artefak pemindaian, dan kontras yang rendah sering menurunkan kinerja sistem klasifikasi otomatis. Penelitian ini mengembangkan dan mengevaluasi kerangka klasifikasi citra EKG berbasis hybrid deep learning dengan memanfaatkan CNN pra-latih sebagai pembangkit representasi fitur, serta membandingkannya dengan pendekatan CNN end-to-end sebagai pembanding. Dataset yang digunakan terdiri atas empat kelas, yaitu Normal, Myocardial Infarction (MI), Previous Myocardial Infarction (PMI), dan Heart Block (HB). Tahap pra-pemrosesan mencakup cropping, konversi grayscale, Gaussian blur, Otsu thresholding, bitwise NOT, dan histogram equalization untuk menstandardisasi citra dan memperjelas pola gelombang. Ekstraksi fitur dilakukan menggunakan DenseNet201, ResNet50, dan InceptionV3, baik pada skenario fitur tunggal maupun feature fusion. Fitur kemudian diklasifikasikan menggunakan ANN (MLP), XGBoost, dan Random Forest, serta dievaluasi dengan akurasi, Matthews Correlation Coefficient (MCC), confusion matrix, dan waktu komputasi. Hasil menunjukkan bahwa skenario tanpa PCA memberikan performa terbaik, dengan kinerja tertinggi pada feature fusion DenseNet201 + InceptionV3 menggunakan ANN yang mencapai akurasi 0.9534 dan MCC 0.9375, sedangkan pada fitur tunggal kinerja terbaik mencapai akurasi 0.9427 dengan MCC 0.9234. Penerapan PCA berbasis cumulative explained variance 0.99 (n99) mampu menurunkan waktu komputasi, namun cenderung menurunkan performa terutama pada ANN. Pada pendekatan CNN end-to-end, model terpilih mencapai akurasi 0.9571, macro F1 0.9565, dan MCC 0.9425, sehingga menunjukkan bahwa pendekatan end-to-end dapat menjadi alternatif yang kompetitif ketika diinginkan pipeline yang lebih ringkas.
PREDIKSI KONSUMSI ENERGI LISTRIK BERBASIS INTERNET OF THINGS MENGGUNAKAN ANALISIS SPASIAL-TEMPORAL PADA GEDUNG LABTEK VI ITB
Konsumsi energi listrik pada bangunan gedung memiliki pola dinamis yang dipengaruhi oleh aktivitas gedung dan interaksi antar-lantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model prediksi konsumsi energi listrik yang akurat pada Gedung Labtek VI ITB dengan memanfaatkan integrasi data Internet of Things melalui analisis spasial-temporal. Pendekatan ini mengatasi keterbatasan model temporal yang hanya bergantung pada tren historis tanpa mempertimbangkan korelasi energi antar-lantai (spasial). Metode yang digunakan adalah model hibrida CNN-LSTM dengan teknik Dilated Convolution yang dioptimasi melalui Bayesian Optimization. Model mengintegrasikan berbagai fitur spasial dan temporal, mencakup data energi historis, suhu luar ruangan, serta fitur pembeda antar-lantai untuk menangkap dinamika gedung secara lebih efektif. Penelitian mengevaluasi dua skenario, yaitu skenario Temporal dan skenario Spasial-Temporal, dengan variasi sliding window 8 jam, 24 jam, dan 168 jam. Hasil menunjukkan bahwa skenario Spasial-Temporal secara konsisten lebih baik dari skenario Temporal di seluruh target prediksi. Peningkatan performa paling signifikan terlihat pada Lantai 1, di mana penggunaan fitur spasial berhasil meningkatkan nilai R2 dari 0,6385 menjadi 0,8912 serta menurunkan nilai RMSE dari 0,954 menjadi 0,524 pada sliding window 168 jam. Secara keseluruhan, model Spasial-Temporal terbaik dicapai pada Lantai 3 dengan nilai R2 sebesar 0,9509 dan MAPE sebesar 10,63%. Hasil ini membuktikan bahwa penambahan fitur spasial memberikan konteks gedung yang lebih lengkap bagi model untuk meningkatkan akurasi prediksi. Selain itu, analisis sliding window menunjukkan bahwa sliding window 8 jam memadai untuk lantai dengan pola konsumsi energi listrik stabil, sementara sliding window 168 jam diperlukan untuk menangkap variansi tinggi. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan analisis spasial-temporal dapat menjadi solusi efektif untuk meningkatkan kualitas prediksi konsumsi energi listrik pada gedung bertingkat, yang diharapkan dapat mendukung strategi efisiensi energi dan pengoperasian gedung yang lebih cerdas.
KESELARASAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG FORMAL DAN TRADISIONAL DI WILAYAH DESA ADAT (STUDI KASUS: TIGA DESA ADAT DI KABUPATEN BANGLI, PROVINSI BALI)
Kearifan lokal dalam penataan ruang yang tetap terwujud dan tetap lestari di Indonesia dapat dilihat di Provinsi Bali karena adanya pengakuan terhadap masyarakat hukum adat dalam bentuk desa adat atau desa pekraman dan falsafah Tri Hita Karana. Desa adat di Provinsi Bali memiliki hak otonom yang dilegalkan dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 3 Tahun 2001 yang meliputi hak untuk membuat awig-awig (peraturan desa adat), mengatur masyarakat desa adat, serta mengelola kekayaan desa dan lainnya. Eksistensi desa adat di Provinsi Bali menyebabkan adanya dualisme kelembagaan penataan ruang di wilayah desa adat. Desa Adat Penglipuran, Desa Adat Pengotan, dan Desa Adat Bayung Gede adalah desa adat tradisional di Provinsi Bali yang masih menggunakan konsep tata ruang tradisional. Kondisi ini menjadi daya tarik wisata dan membuat ketiga desa tersebut ditetapkan sebagai desa wisata dan Kawasan Strategis Desa Budaya Khusus. Hingga saat ini belum ada aturan tata ruang yang operasional dari segi formal untuk mengendalikan wilayah ketiga desa adat tersebut. .Studi ini dilakukan untuk mengidentifikasi keselarasan pengendalian pemanfaatan ruang tradisional dan pengendalian pemanfaatan ruang formal di ketiga wilayah desa adat. Identifikasi keselarasan tersebut dapat menjadi masukan untuk pemerintah daerah dalam melakukan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah desa adat yang memiliki aturan tata ruang tradisional. Untuk mencapai tujuan tersebut studi ini mengidentifikasi perangkat pengendalian pemanfaatan ruang tradisional dan formal melalui metode analisis deksriptif kualitatif, analisis komparasi, analisis isi, dan analisis stakeholder. Dari setiap hasil rumusan penyelarasan perangkat pengendalian, yaitu peraturan zonasi, perizinan, insentifdisinsentif, dan sanksi, dilakukan perumusan lebih lanjut mengenai, substansi, proses, dan keterlibatan setiap aktor dalam pengendalian formal dan tradisional. Hasil analisis menunjukkan terdapat perangkat pengendalian pemanfaatan ruang tradisional yang dapat selaras dalam peraturan zonasi, perizinan, insentif-disinsentif, dan sanksi dalam pengendalian pemanfaatan ruang formal. Selain itu, teridentifikasi pula aktoraktor yang harus terlibat dalam pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang formal dan tradisional. Keselarasan didapatkan pula dalam penyusunan dan penetapan ketentuan perangkat pengendalian serta penerapannya. Keselarasan dalam pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang tradisional dan formal menunjukkan bahwa dapat dilakukan kolaborasi antara ketiga desa adat dan Pemerintah Kabupaten Bangli.
STRATEGI PEMASARAN DIGITAL UNTUK MENINGKATKAN PENJUALAN PRODUK CCTV DI TIKTOK
Pertumbuhan Tiktok yang sangat pesat sebagai platform e-commerce terbesar kedua Indonesia, tidak hanya memberikan impact positive terhadap beberapa pedagang Indonesia namun juga memberikan tantangan untuk bisa tumbuh di pasar yang penuh inovasi dibandingkan platform - platform lain pada umumnya. Reseller CCTV kesulitan menghasilkan penjualan signifikan karena kesenjangan kapabilitas sistematis. Penelitian ini mengembangkan strategi pemasaran digital komprehensif untuk meningkatkan pendapatan penjualan produk CCTV budget di TikTok melalui analisis gap triangulasi, kerangka strategis SWOT/TOWS, dan metodologi RACE (Reach-Act-Convert-Engage) yang diterapkan pada Eyesec CCTV, reseller kamera keamanan Indonesia. Analisis mengidentifikasi enam kesenjangan kapabilitas kritis: kurangnya penonton pada saat live stream (di bawah ambang minimum yang layak atau category performances), tidak ada kampanye video pre-heat, tidak ada kemitraan influencer, tidak ada optimasi GMV (kehilangan peningkatan traffic dan conversion boost), tidak ada stiker OBS interaktif (kehilangan peningkatan engagement), dan background 3D amatir (lebih rendah viewers untuk bisa klik live room). Kesenjangan ini mengarahkan pada masalah yang berupaya untuk diselesaikan yaitu penjualan. Analisis eksternal mengungkap peluang substansial dari pertumbuhan eksplosif TikTok dan permintaan keamanan kelas menengah yang belum terlayani (kesenjangan penetrasi), sambil menghadapi ancaman dari Bardi yang dominan, perang harga, dan volatilitas platform. Strategi terintegrasi tiga pilar mengatasi kesenjangan ini melalui Kerangka RACE untuk memastikan perusahaan mengeksekusi semua tahap funnel pemasaran dengan baik. Penelitian ini memvalidasi kerangka teoretis untuk kesuksesan perdagangan TikTok dalam konteks UKM Indonesia sambil menyediakan kerangka strategis yang actionable dan menyeimbangkan pertumbuhan dengan kehati-hatian finansial. Analisis gap triangulasi menawarkan metodologi penilaian kompetitif yang dapat direplikasi untuk perdagangan sosial. Kesuksesan bergantung pada eksekusi yang disiplin dan pembelajaran berkelanjutan, dengan tindakan segera sangat penting karena jendela peluang pasar menyempit selama fase konsolidasi.
PENGEMBANGAN KOLORIMETER BERBASIS CITRA DALAM RUANG WARNA CIELAB PADA KAMERA SMARTPHONE MENGGUNAKAN MODEL KOREKSI INTERPOLASI POLINOMIAL ORDE TINGGI
Perkembangan teknologi kamera pada smartphone membuka peluang pemanfaatannya sebagai alat ukur warna berbasis citra digital, tetapi reproduksi warna yang dihasilkan masih dipengaruhi oleh karakteristik sensor, pemrosesan citra internal, dan kondisi pencahayaan sehingga sering terjadi perbedaan dibandingkan dengan alat ukur standar seperti kolorimeter. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model koreksi warna untuk meningkatkan akurasi reproduksi warna kamera smartphone menggunakan pendekatan interpolasi polinomial dalam ruang warna CIELAB. Penelitian dilakukan dengan memanfaatkan kamera iPhone 13 sebagai sistem akuisisi citra dan kolorimeter sebagai alat referensi pengukuran warna. Data diperoleh dari objek berupa Macbeth chart dan kertas origami pada tiga kondisi pencahayaan, yaitu warm white, natural white, dan cool white. Nilai warna citra kamera dipetakan terhadap nilai referensi kolorimeter pada komponen L*, a*, dan b* dalam ruang warna CIELAB, kemudian dibangun model koreksi menggunakan interpolasi polinomial dengan penentuan orde optimal berdasarkan analisis mean absolute error (MAE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang dikembangkan mampu meningkatkan akurasi warna secara signifikan, dengan penurunan nilai rata-rata perbedaan warna (?E*) dari 19,587 menjadi 7,413 pada warm white, dari 21,784 menjadi 4,042 pada natural white, serta dari 4,671 menjadi 1,994 pada cool white, yang setara dengan peningkatan akurasi warna sebesar 30,447%, 59,763%, dan 67,579%. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan interpolasi polinomial efektif dalam memodelkan hubungan nonlinier antara nilai warna kamera dan referensi kolorimeter sehingga berpotensi meningkatkan keandalan kamera smartphone sebagai alternatif sistem kolorimetri yang lebih praktis dan ekonomis.
DETEKSI POLA PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN VEGETASI MENGGUNAKAN NDVIDARI CITRA NOAA-AVHRR (STUDI KASUS : PULAU SUMATERA, JAWA DANKALIMANTAN)
Vegetasi merupakan elemen penting dalam ekosistem darat. Tercatat hampir 70 persen tutupan lahan darat merupakan vegetasi. Indonesia sendiri memiliki kekayaan akan vegetasi yang melimpah dan sudah diketahui secara global. Namun tutupan lahan vegetasi di Indonesia telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu sehingga dibutuhkan suatu metode untuk mengetahui arah perubahan tersebut. Data citra NOAA-AVHRR (National Oceanic and Atmospheric Administration-Advance Very High Resolution Radiometric) sudah sering digunakan untuk mengidentifikasi tutupan lahan vegetasi. Dengan menggunakan data citra NOAA-AVHRR LAC (Local Area Coverage) 1 km komposit 10 harian maka perubahan tutupan lahan pada area studi yang mencakup Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan dapat diketahui perubahannya. Data citra ini nantinya akan diolah dengan indeks vegetasi NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) sehingga kerapatan vegetasi dari suatu area dapat diketahui. Rentang nilai NDVI yaitu berkisar antara -1 sampai dengan +1. Untuk mengetahui perubahan tutupan lahan vegetasi secara tahunan, dimana waktu untuk pendeteksian perubahan tutupan lahan adalah antara tahun 2001 sampai dengan 2010, dibutuhkan suatu metode pengompositan untuk menjadikan citra komposit 10 harian menjadi komposit tahunan. MVC (Maximum Value Composite) merupakan metode yang digunakan untuk pembuatan komposit tahunan tersebut. MVC dibuat dengan menggunakan nilai maksimum dari data citra NDVI yang telah diolah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi pengaruh dari efek atmosfer seperti awan. Dengan menggunakan metode ini maka didapatkanlah citra komposit tahunan antara tahun 2001 sampai dengan 2010. Dari hasil ini maka dilakukanlah pengurangan nilai dari DN (Digital Number) pada citra awal dan akhir sehingga didapatkanlah pola perubahan tutupan lahan vegetasi yaitu adanya indikasi penurunan tutupan lahan yang disebabkan beberapa faktor.
MANAJEMEN PROYEK YANG BERFOKUS PADA MANAJEMEN PEMANGKU KEPENTINGAN DALAM PROYEK PIPA BOYOLALI–PENGAPON PERTAMINA
Proyek pipa Boyolali–Pengapon merupakan inisiatif infrastruktur prioritas nasional yang dilaksanakan oleh PT Pertamina Patra Niaga untuk meningkatkan distribusi bahan bakar di Jawa Tengah. Proyek ini menghadapi tantangan pemangku kepentingan yang kompleks, termasuk pengurusan berbagai persetujuan regulasi, negosiasi pengadaan lahan, serta pengelolaan hubungan dengan masyarakat lokal. Dalam konteks tersebut, keterlibatan pemangku kepentingan yang efektif menjadi hal yang krusial untuk mencegah keterlambatan jadwal maupun pembengkakan biaya. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji bagaimana strategi keterlibatan pemangku kepentingan diterapkan dalam proyek Boyolali–Pengapon untuk mendukung kelancaran pelaksanaan proyek.. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan manajer proyek Pertamina, regulator pemerintah, perwakilan masyarakat lokal, serta mitra engineering proyek pipa, yang dilengkapi dengan analisis dokumen dan laporan proyek. Analisis tematik dilakukan dengan menggunakan alat pemetaan pemangku kepentingan (Stakeholder Salience Model dan Power–Interest Grid) yang selaras dengan proses keterlibatan pemangku kepentingan berdasarkan pedoman PMBOK dari PMI. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pemangku kepentingan kunci beserta kepentingannya, mengevaluasi praktik keterlibatan yang dilakukan, mendokumentasikan isu-isu terkait pemangku kepentingan, serta menilai bagaimana pendekatan manajemen pemangku kepentingan memengaruhi jadwal, biaya, dan penerimaan masyarakat terhadap proyek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen pemangku kepentingan yang proaktif memberikan manfaat. Keterlibatan awal pemangku kepentingan terbukti mencegah keterlambatan. Tantangan terkait perizinan dan lahan memang muncul, namun dapat ditangani melalui tindak lanjut yang konsisten, negosiasi, serta kolaborasi dengan pemerintah daerah. Biaya proyek dapat tetap terkendali karena terhindar dari penghentian pekerjaan maupun sengketa hukum, investasi kecil untuk hal ini terbukti memberikan manfaat yang lebih besar. Secara keseluruhan, studi ini menegaskan bahwa keterlibatan pemangku kepentingan yang terstruktur sangat penting untuk menjaga kepatuhan jadwal dan mengendalikan biaya..
KARAKTERISTIK SPATIO-TEMPORAL KOREKSI ATMOSPHERIC PRESSURELOADING (APL) (SUDI KASUS :SUMATERA-JAWA)
Dalam deret waktu data pengamatan satelit geodesi terdapat sinyal tektonik dan non-tektonik, salah satu sinyal non-tektonik adalah Atmospheric Pressure Loading (APL). APL adalah pembebanan pada permukaan bumi padat oleh variasi tekanan di atmosfer, dimana variasi tekanan ini dapat mendeformasi permukaan bumi lebih dari 1 cm pada arah radial (vertikal) dan horizontal. Oleh karena itu, efek APL ini harus dihilangkan terutama pada data pengamatan untuk keperluan studi geodinamika yang memerlukan ketelitian pergeseran posisi umumnya dalam level mm. Jika tidak dihilangkan efek tersebut akan merambat ke parameter pengamatan lainnya. Untuk menghilangkan efek tersebut, diperlukan pemodelan fisis APL dan studi untuk mempelajari karakteristik spatio-temporal koreksinya. Pendekatan secara geofisik memerlukan proses konvolusi dari distribusi pembebanan aktual di seluruh permukaan bumi padat. Data yang diperlukan dalam pendekatan ini adalah tekanan permukaan global, referensi tekanan, posisi stasiun pengamatan, land-sea mask, load love numbers, dan nilai Green’s function. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada titik – titik sampel di pulau Sumatera dan Jawa, efek APL dapat mendeformasi pada arah vertikal dalam rentang -2,8 – 4.1 mm dan horizontal dalam rentang -1.9 – 3.1 mm. Untuk mempelajari karakteristik spatio-temporal dari koreksi APL dilakukan analisis efek lintang geografis, analisis efek Inverted Barometer, analisis klimatologi bulanan dan per jam, dan analisis spektral. Dari analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa koreksi APL di Sumatera dan Jawa memiliki variasi harian (diurnal dan semi-diurnal) dan musiman, serta besarnya koreksi APL tergantung lintang geografis dan jarak ke laut.
IDENTIFIKASI KOMPONEN PASUT SERTA PERHITUNGAN ARGUMENASTRONOMIS DAN KOREKSI NODALNYA UNTUK KEPERLUAN ANALISISDATA PASUT
Gelombang pasut merupakan penjumlahan dari gelombang-gelombang yang terjadi pada saat menjalarnya gelombang pasut tersebut. Tiap-tiap gelombang yang membentuk suatu gelombang pasut yang telah terinterferensi tersebut direpresentasikan oleh komponen-komponen pasut yang jumlahnya sangat banyak. Komponen pasut merupakan komponen-komponen gaya yang dapat membangkitkan pasut. Dengan adanya komponen ini dapat diketahui resultan dari amplitudo dan fase gelombang pasut di mana tiap-tiap komponen memiliki amplitudo dan fase tersendiri. Setiap komponen pasut memiliki nilai argumen astronomis dan koreksi nodal yang mempengaruhi nilai resultan amplitudo dan fase gelombang pasut dan nilai tersebut harus diketahui untuk dapat dilakukannya analisis pasut. Setiap komponen terjadi berdasarkan posisi bulan dan matahari terhadap bumi, sehingga argumen astronomis dan koreksi nodal suatu komponen pasut tersebut diekspresikan dalam fungsi elemen-elemen orbit matahari dan bulan. Terdapat komponen pasut utama di mana persamaan argumen astronomis dan koreksi nodalnya telah diketahui dengan pasti. Dari persamaan inilah didapat nilai-nilai argumen astronomis dan koreksi nodal suatu komponen pasut yang lainnya dengan melakukan perhitungan matematis sederhana yang disusun oleh Bernard Simon dari SHOM dan John Page dari IHO. Didapat sebanyak 408 jenis komponen pasut yang nantinya akan digunakan dalam kegiatan analisis dan prediksi pasut. Sebagiannya kecil dari jenis komponen ini nilai argumen astronomis dan koreksi nodalnya tidak didapat karena nilai komponen-komponen penyusunnya tidak diketahui.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN KONSUMEN DI BAWAH TEKANAN KOERSIF: STUDI TRANSISI MENUJU PERBANKAN SYARIAH DI ACEH
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh coercive pressure terhadap consumer decision-making dalam konteks implementasi perbankan syariah yang bersifat wajib di Provinsi Aceh. Berbeda dengan lingkungan pasar yang bersifat sukarela, penerapan Qanun Aceh No. 11 Tahun 2018 menghapuskan alternatif perbankan konvensional dan menciptakan sistem keuangan yang sepenuhnya teregulasi. Kondisi ini memberikan konteks unik untuk memahami bagaimana tekanan institusional membentuk perilaku strategis konsumen ketika pilihan dibatasi secara struktural. Penelitian ini mengusulkan bahwa coercive pressure tidak secara langsung menentukan Keputusan konsumen, melainkan bekerja melalui mekanisme pengalaman dan relasional, yaitu service quality, trust, dan accessibility. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) terhadap 200 responden nasabah bank syariah di Aceh. Hasil pengujian model pengukuran menunjukkan reliabilitas dan validitas yang memadai. Model struktural menunjukkan daya jelaskan yang moderat, dengan nilai R² sebesar 0.528 pada variabel Consumer Decision-Making. Hasil penelitian menunjukkan bahwa coercive pressure tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap consumer decision-making. Namun, coercive pressure berpengaruh signifikan terhadap service quality, trust, dan accessibility. Ketiga variabel tersebut selanjutnya berpengaruh signifikan terhadap consumer decision-making, dengan accessibility sebagai variabel yang memiliki pengaruh paling kuat, diikuti oleh trust dan service quality. Analisis mediasi menunjukkan bahwa service quality, trust, dan accessibility memediasi secara penuh hubungan antara coercive pressure dan consumer decision-making. Temuan ini menunjukkan bahwa penegakan regulasi saja tidak cukup untuk menghasilkan komitmen konsumen. Tekanan institusional hanya akan membentuk perilaku strategis apabila diterjemahkan ke dalam peningkatan kualitas layanan, penguatan kepercayaan, dan peningkatan aksesibilitas. Penelitian ini memberikan kontribusi pada literatur institusional dan perilaku konsumen dengan menegaskan pentingnya mekanisme pengalaman dalam mengubah kepatuhan struktural menjadi keterlibatan konsumen yang disengaja dalam sistem keuangan yang bersifat wajib.
ANALISIS DECISION MAKING PADA PENDAFTARAN DAN KURASI BOOTH DI COMIC FRONTIER
Pertumbuhan pesat konvensi budaya populer telah meningkatkan tingkat persaingan serta ekspektasi terhadap sistem pendaftaran exhibitor yang transparan dan efisien. Comic Frontier, sebagai salah satu acara pop culture terbesar di Indonesia, menghadapi ketidakpuasan exhibitor yang berulang terkait proses pendaftaran booth dan kurasi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi kesenjangan antara ekspektasi dan pengalaman exhibitor, (2) menentukan akar penyebab keluhan exhibitor, (3) mengkaji praktik terbaik dari acara sejenis berskala besar, dan (4) merumuskan perbaikan strategis untuk menciptakan sistem pendaftaran yang lebih efektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method dengan mengombinasikan analisis kuantitatif dan kualitatif. Data kuesioner dianalisis melalui gap analysis, Analysis of Variance (ANOVA), serta uji kecukupan faktor untuk mengidentifikasi perbedaan persepsi exhibitor berdasarkan tingkat pengalaman. Wawasan kualitatif diperoleh melalui wawancara dan Focus Group Discussion (FGD), yang kemudian disusun secara sistematis menggunakan metode Kepner-Tregoe (KT) dan diprioritaskan melalui analisis Pareto. Selanjutnya, matriks bobot dikembangkan untuk mengevaluasi tingkat kepentingan dan dampak relatif dari akar masalah yang teridentifikasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan signifikan antara ekspektasi dan pengalaman exhibitor, khususnya pada aspek kejelasan proses, transparansi komunikasi, dan mekanisme umpan balik. Hasil ANOVA menunjukkan perbedaan tingkat kepuasan yang signifikan secara statistik antar kelompok exhibitor berdasarkan pengalaman, yang mengindikasikan bahwa sistem yang ada saat ini cenderung kurang mengakomodasi exhibitor pemula. Analisis KT dan Pareto mengidentifikasi keterbatasan struktural—yakni ketidakseimbangan antara pertumbuhan jumlah pendaftar dan kapasitas organisasi—sebagai akar penyebab utama ketidakpuasan. Benchmarking terhadap acara sejenis menegaskan pentingnya struktur timeline yang jelas dan kriteria kurasi yang transparan dalam membangun kepercayaan dan persepsi keadilan exhibitor. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan dua solusi strategis: pengembangan kerangka pendaftaran yang terstruktur dan transparan sebagai prioritas jangka pendek, serta implementasi platform pendaftaran digital terintegrasi sebagai inisiatif transformasi jangka panjang. Solusi ini diharapkan mampu mengurangi ketidakpastian, meningkatkan kualitas komunikasi, dan memperkuat tata kelola proses pendaftaran. Secara keseluruhan, penelitian ini berkontribusi pada literatur manajemen acara dengan menunjukkan bahwa analisis masalah berbasis data dan desain sistem yang berorientasi pada pemangku kepentingan dapat meningkatkan pengalaman exhibitor serta keberlanjutan organisasi dalam penyelenggaraan acara budaya berskala besar.
PERANCANGAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU (TPST): PENGOLAHAN SAMPAH RESIDU DI TPA CIPAYUNG, KOTA DEPOK, JAWA BARAT
TPA Cipayung Kota Depok saat ini masih menerapkan sistem open dumping yang menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan dan operasional. Upaya pengurangan sampah melalui pengolahan eksisting belum mampu menekan timbulan residu secara signifikan, sehingga diperlukan teknologi pengolahan lanjutan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem insinerator sebagai pengolahan sampah residu di TPST Cipayung Kota Depok, dengan pendekatan konsep green building melalui optimalisasi tata letak fasilitas, efisiensi sistem, dan pengendalian dampak lingkungan. Berdasarkan hasil analisis, timbulan sampah yang masuk ke TPA Cipayung rata-rata mencapai 704,2 ton/hari dengan dominasi fraksi organik dan karakteristik yang masih memiliki potensi pembakaran. Sampah residu direpresentasikan dalam bentuk rumus empiris semu berdasarkan hasil ultimate analysis untuk keperluan perhitungan kebutuhan udara pembakaran dan estimasi gas buang. Insinerator yang dirancang menggunakan tipe controlled air dengan kapasitas pengolahan 28 ton/hari dan dilengkapi sistem Air Pollution Control berupa flue gas quench tower, venturi scrubber, mist eliminator, dan cerobong untuk memenuhi baku mutu emisi. Penerapan konsep green building diwujudkan melalui pengelompokan fungsi bangunan, efisiensi penggunaan energi dan air, serta pengendalian emisi dan residu. Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa total biaya investasi (CAPEX) sebesar Rp48,47 miliar, dengan CAPEX khusus fasilitas insinerator sebesar Rp44,51 miliar. Biaya operasional (OPEX) total sebesar Rp13,75 miliar per tahun, dengan OPEX khusus insinerator sebesar Rp6,78 miliar per tahun. Analisis payback period menunjukkan bahwa investasi insinerator dapat kembali dalam waktu kurang dari satu tahun pada seluruh skenario pendapatan. Dengan demikian, penerapan iv insinerator di TPST Cipayung dinilai layak secara teknis dan ekonomi serta mendukung prinsip pembangunan berkelanjutan dan green building.
STRATEGI SEGMENTASI PASAR, PENETAPAN TARGET, DAN PENENTUAN POSISI UNTUK PRODUK INOVATIF DAN BERKELANJUTAN: STUDI KASUS POREBLOCK OLEH RESERVOAIR
Pertumbuhan permukaan kedap air di wilayah perkotaan telah meningkatkan risiko banjir di kota-kota berkembang karena berkurangnya kemampuan infiltrasi air alami. Di Indonesia, meningkatnya kebutuhan akan solusi konstruksi berkelanjutan mendorong pengembangan paving berpori seperti Poreblock, namun tingkat adopsinya di kalangan arsitek dan kontraktor masih rendah meskipun memiliki keunggulan lingkungan. Penelitian ini menganalisis bagaimana strategi Segmentasi, Targeting, dan Positioning (STP) yang tepat dapat meningkatkan penetrasi pasar Poreblock di industri konstruksi profesional. Berdasarkan teori perilaku pembelian organisasi dan positioning berbasis nilai, penelitian ini berasumsi bahwa arsitek dan kontraktor berbeda dalam kesadaran terhadap isu banjir, orientasi keberlanjutan, sensitivitas harga, dan keterbukaan terhadap inovasi, yang memengaruhi niat pembelian. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi segmen pasar, mengevaluasi daya tariknya, serta menentukan target pasar yang paling sesuai secara strategis bagi Poreblock. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap 192 arsitek dan kontraktor dengan teknik purposive sampling. Exploratory Factor Analysis (EFA) dan analisis klaster digunakan untuk membentuk segmen homogen, yang kemudian diprofilkan melalui tabulasi silang berdasarkan firmografi, keterlibatan proyek, dan peran pengambilan keputusan. Hasil menunjukkan adanya perbedaan tingkat kepedulian lingkungan dan pertimbangan ekonomi antarsegmen, dengan satu segmen prioritas memiliki orientasi keberlanjutan tinggi serta kesediaan adopsi lebih besar meskipun dengan harga premium. Penelitian ini berkontribusi pada literatur pemasaran B2B berkelanjutan dengan mengintegrasikan persepsi nilai lingkungan ke dalam analisis STP serta memberikan rekomendasi strategis dalam memposisikan Poreblock sebagai produk infrastruktur perkotaan berkelanjutan.