📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenSINTESIS KARBOKSIMETIL KITOSAN DALAM MEDIUM CAIRAN ION DAN STUDI POTENSINYA SEBAGAI ENKAPSULATOR GLIMEPIRIDE
Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit yang terjadi karena gangguan metabolisme glukosa darah, terdapat dua tipe DM yaitu DM tipe 1 dan DM tipe 2, dengan DM tipe 2 merupakan kontributor terbesar dalam kasus penyakit diabetes. DM tipe 2 dapat diminimalisasi dengan pemberian obat, glimepiride merupakan salah satu obat yang dapat menstimulasi sekresi insulin di dalam tubuh. Namun, glimepiride memiliki kelarutan yang rendah dalam air sehingga kinerjanya di dalam tubuh menjadi tidak optimal. Oleh karena itu agen penghantar obat diperlukan sebagai bagian dari drug delivery system (DDS). Salah satu agen penghantar obat adalah polimer yang dapat mengenkapsulasi zat terapeutik seperti glimepiride. Senyawa turunan kitosan, yaitu karboksimetil kitosan (CMCS), digunakan dalam penelitian ini karena bersifat lebih mudah terdegradasi dalam air, sehingga lebih mudah terdegradasi secara biologis. Dalam penelitian ini, CMCS disintesis dari kitosan yang diisolasi dari limbah kulit udang Litopenaeus vannamei. Sintesis CMCS dilakukan melalui reaksi karboksimetilasi dengan metode konvensional dan Microwave- Assisted Organic Synthesis (MAOS) menggunakan variasi medium cairan ion turunan imidazol, yaitu 1-butil-3-metilimidazolium klorida ([BMIm]Cl), 1-butil-3- metilimidazolium bromida ([BMIm]Br), 1-etil-3-metilimidazolium bromida ([EMIm]Br), dan 1-etil-3-metil imidazolium asetat ([EMIm]OAc). Karakterisasi terhadap CMCS dilakukan menggunakan spektrofotometri FTIR dan NMR, Particle Size Analyzer (PSA), dan Zeta Potential Analyzer (ZPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kitosan hasil isolasi memiliki nilai derajat deasetilasi (DD) sebesar 70,43%. Sintesis CMCS menggunakan metode MAOS dalam medium [BMIm]Cl menghasilkan produk dengan kelarutan terbaik dalam air dengan nilai derajat substitusi (DS) sebesar 0,67. Uji enkapsulasi menunjukkan bahwa penggunaan pengemulsi Tween 80 memberikan efisiensi enkapsulasi (%EE) tertinggi sebesar 94,3% dibandingkan dengan pengemulsi cairan ionik. Karakterisasi stabilitas partikel menunjukkan bahwa CMCS komersial memiliki stabilitas yang lebih baik daripada CMCS hasil sintesis. Studi pelepasan obat secara in vitro dengan metode uji disolusi dengan medium phosphate buffered saline (PBS) menunjukkan bahwa mekanisme pelepasan glimepiride mengikuti model difusi Fickian, yaitu obat dilepaskan secara perlahan melalui pori-pori matriks enkapsulator.
SINTESIS DODESIL-2-HIDROKSIBENZOAT DALAM MEDIUM CAIRAN ION 1-BUTIL-3-METILIMIDAZOLIUM KLORIDA ([BMIM]CL) DENGAN METODE MICROWAVE-ASSISTED ORGANIC SYNTH
Pengembangan senyawa amfifilik berbasis struktur aromatik merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan kandidat surfaktan. Penelitian ini bertujuan untuk menyintesis senyawa dodesil-2-hidroksibenzoat melalui reaksi esterifikasi antara asam salisilat dengan 1- bromododekana menggunakan cairan ion 1-butil-3-metilimidazolium klorida ([BMIm]Cl) sebagai medium reaksi. Sintesis dodesil-2-hidroksibenzoat dilakukan dengan metode pemanasan konvensional dan Microwave-Assisted Organic Synthesis (MAOS). Sintesis dilakukan melalui dua tahapan, yaitu sintesis cairan ion [BMIm]Cl dan reaksi esterifikasi untuk menghasilkan senyawa dodesil-2-hidroksibenzoat. Cairan ion [BMIm]Cl berhasil disintesis dengan rendemen sebesar 97,6% dan diperoleh sebagai cairan kental berwarna kuning. Produk dodesil-2-hidroksibenzoat diperoleh dengan rendemen sebesar 93,61% dan berbentuk cairan kuning bening pada suhu ruang dengan titik leleh 30–31 °C. Karakterisasi produk sintesis dilakukan menggunakan KLT, FTIR, 1H-NMR, 13C-NMR, HSQC, HMBC, dan spektrometri massa (HRMS TOF ESI?). Data FTIR menunjukkan puncak serapan khas gugus ester pada bilangan gelombang 1678 cm?¹ (regangan C=O) dan 1298 cm?¹ (regangan C–O). Pada spektrum 13C-NMR teramati sinyal karbonil ester pada daerah ???? 170,26 ppm yang mengonfirmasi terbentuknya gugus ester. Data 1H-NMR juga menunjukkan pergeseran sinyal proton metilena yang berikatan dengan oksigen. Hasil spektrometri massa menunjukkan puncak ion [M–H]? pada m/z 305,2115, yang sesuai dengan massa molekul teoritis dodesil-2- hidroksibenzoat sebesar 306,2195 g/mol dengan rumus molekul C19H30O3. Berdasarkan struktur molekul yang dihasilkan, senyawa dodesil-2-hidroksibenzoat ini memiliki karakter amfifilik akibat keberadaan rantai alkil hidrofobik dan gugus polar aromatik-ester, sehingga berpotensi dikaji lebih lanjut sebagai kandidat surfaktan.
TRANSFORMASI KONSEP ESTETIK DAN KAITANNYA DENGAN RELASI KEKUASAAN DALAM PERKEMBANGAN BATIK DI JAKARTA STUDI KASUS : PROSES KREASI MOTIF BATIK MARUNDA KARYA WENDY SIBARANI
Penelitian ini mengkaji transformasi konsep estetik dan proses kreasi dalam perkembangan batik di Jakarta dan kaitannya dengan relasi kekuasaan, dengan studi kasus proses kreasi motif batik Wendy Sibarani pada tahun 2015-2025. Batik di Jakarta tidak hanya dipahami sebagai warisan budaya, tetapi berkembang melalui berbagai pengembangan kreatif dalam konteks kebijakan dan dinamika sosial perkotaan. Proses kreasi menunjukkan adanya adaptasi visual sebagai bentuk negosiasi terhadap kebijakan dan regulasi yang berfungsi sebagai intervensi struktural dalam mengarahkan produksi dan pengembangan visual motif. Intervensi tersebut direspons oleh perancang melalui strategi adaptasi dan negosiasi kreatif, sehingga menghasilkan pengembangan motif batik berbasis konsep urban, yang mengindikasikan terjadinya transformasi pada konsep estetik batik. Studi ini bertujuan untuk memahami transformasi konsep estetik batik di Jakarta melalui studi kasus Batik Marunda, dengan menelaah bagaimana perubahan sosial, budaya, ekonomi, dan kebijakan memengaruhi proses kreasi serta mengarahkan perkembangan visual batik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, serta analisis visual terhadap karya motif batik rancangan Wendy Sibarani. Pemilihan sumber data dilakukan secara purposive sampling, dengan penerapan triangulasi sumber dan teknik untuk menjaga validitas data. Data primer diperoleh melalui observasi langsung dan wawancara, sedangkan data sekunder berasal dari kajian literatur, dokumentasi, arsip, dan sumber pendukung lainnya. Analisis data dilakukan dengan menggunakan kerangka teori transformasi, teori proses kreasi, dan teori kekuasaan untuk menelaah keterkaitan antara konteks kebijakan, proses kreasi, dan perubahan konsep estetik batik di Jakarta. Hasil penelitian ini membuktikan terjadinya transformasi konsep estetika batik di Jakarta, dengan studi kasus motif batik rancangan Wendy Sibarani untuk batik Marunda (2015–2025). Proses kreasi Batik Marunda Jakarta berlangsung dalam pengaruh kebijakan dan regulasi pemerintah sebagai bentuk intervensi struktural. Intervensi tersebut direspons oleh perancang melalui adaptasi dan negosiasi kreatif, yang tercermin pada pengembangan visual motif batik berbasis konsep urban. Temuan ini menunjukkan bahwa relasi kuasa bekerja secara aktif dalam proses kreasi, tidak hanya membatasi ruang estetik, tetapi juga mengarahkan pilihan visual dan narasi motif.
MENYEMAI ASA: PUSAT PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN POTENSI PENYANDANG DISABILITAS INTELEKTUAL DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR PERILAKU
Penyandang disabilitas intelektual merupakan individu yang mengalami keterbatasan fungsi intelektual dan adaptif yang berimplikasi pada kemampuan berpikir, bersosialisasi, berbahasa, serta melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Meskipun begitu, mereka tetap memiliki potensi untuk berkembang secara optimal apabila memperoleh dukungan dan pelatihan yang tepat. Di Indonesia, khususnya di Kota Bandung, masih terdapat keterbatasan fasilitas yang mewadahi pendidikan lanjutan dan pengembangan potensi penyandang disabilitas intelektual setelah lulus dari Sekolah Luar Biasa (SLB), sehingga kemampuan yang telah dibentuk berisiko mengalami penurunan akibat tidak tersedianya wadah pengembangan berkelanjutan. Oleh karena itu, proyek ini bertujuan menyediakan fasilitas edukasi dan pengembangan potensi yang mendukung kemandirian serta peningkatan kualitas hidup penggunanya. Pendekatan perancangan yang diterapkan adalah arsitektur perilaku, yang menitikberatkan pada pemahaman karakteristik, kebiasaan, serta sensitivitas pengguna terhadap lingkungan binaan, dengan perumusan enam prinsip perancangan, yaitu legibility and wayfinding, territoriality and control, design for senses, prospect and refuge, privacy and choice, serta design for routine. Untuk mewujudkan lingkungan yang inklusif dan mudah diakses, perancangan juga mengadopsi pendekatan barrier-free design sebagai bagian dari desain universal. Selain itu, konsep arsitektur biofilik diterapkan sebagai respons terhadap konteks tapak perkotaan yang padat dan berpotensi menimbulkan stres, dengan mengacu pada tiga aspek desain biofilik yang dirumuskan oleh Terrapin Bright Green, yaitu nature in space, nature analogues, dan nature of the space, sehingga diharapkan tercipta lingkungan yang aman, nyaman, dan kondusif bagi pengembangan potensi penyandang disabilitas intelektual.
OPTIMASI PENGELOMPOKAN BENTUK LOG MENGGUNAKAN BERBAGAI METODE EKSTRAKSI FITUR DAN ALGORITMA CLUSTERING BERBASIS MACHINE LEARNING DI LAPANGAN NVS
Identifikasi elektrofasies sangat krusial untuk memahami heterogenitas internal reservoar, terutama pada lapangan dengan morfologi log yang kompleks di mana interpretasi manual seringkali bersifat subjektif. Penelitian ini mengembangkan alur kerja otomatis berbasis data yang mengintegrasikan metode ekstraksi fitur—Statistik, CNN Autoencoder, dan LSTM Autoencoder—dengan algoritma clustering: K-Means, BIRCH, dan Gaussian Mixture Model (GMM). Metodologi ini diaplikasikan pada data log Gamma Ray dari 66 sumur yang mencakup 16 reservoar di Lapangan NVS, Cekungan Sumatera Tengah, melalui tahapan pra-pemrosesan, ekstraksi fitur, clustering, serta evaluasi kinerja menggunakan Silhouette Score dan Davies–Bouldin Index. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LSTM Autoencoder menghasilkan representasi fitur yang paling tangguh dengan kemampuan menangkap pola sekuensial yang bergantung pada kedalaman. Model optimal yang dihasilkan berhasil mengidentifikasi struktur kelompok elektrofasies yang merepresentasikan lingkungan pengendapan Tidal Bar Axis (TBA), Tidal Bar Off-Axis (TBO), dan Tidal Bar Margin (TBM). Secara kuantitatif, stabilitas clustering tertinggi dicapai pada Reservoar H (Silhouette Score 0,6763), sementara Reservoar I mencatat skor terendah (0,3325) akibat kompleksitas geologi yang tinggi. Validasi eksternal mengonfirmasi akurasi geologi model, di mana hasil clustering secara akurat mampu mendelineasi tren pengendapan Barat Laut–Tenggara (NW-SE) yang selaras dengan interpretasi geologi dan garis korelasi ahli. Studi ini membuktikan bahwa kombinasi deep learning berbasis urutan (sequence-aware) dengan clustering mampu menghasilkan model yang stabil dan konsisten secara geologi untuk memetakan distribusi spasial litologi bawah permukaan, bahkan pada kondisi data yang terbatas.
METODE BARU DISAGREGASI DAYA LISTRIK UNTUK BEBAN RUMAH TANGGA
Sektor residental memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan konsumsi listrik, sehingga pemantauan beban menjadi sangat penting untuk efisiensi energi. Non-Intrusive Load Monitoring (NILM) memungkinkan estimasi konsumsi setiap peralatan dari satu sinyal agregat tanpa sub-meter. Namun, penerapannya dalam kondisi dunia nyata menghadapi tantangan karena heterogenitas karakteristik beban (Tipe I–IV), tumpang tindih operasi multi-beban, dan generalisasi yang terbatas di berbagai rumah. Sementara itu, sebagian besar studi hanya mempertimbangkan beberapa jenis beban dan mengevaluasi model hanya pada dataset publik, tanpa validasi pada data aktual. Studi ini mengusulkan arsitektur Multiscale CNN–GRU Hybrid (MCGH), yang menggabungkan ekstraksi fitur konvolusional multi-skala, pemodelan ketergantungan temporal dua arah dengan Gated Recurrent Units (GRU), dan mekanisme attention temporal. Pendekatan ini mampu merepresentasikan perilaku beban transien, steady-state, dan multi-state secara simultan. Model dievaluasi pada skenario intra-house dan cross-house menggunakan dataset REDD publik serta pada data actual residental. Dengan hasil disajikan sebagai rata-rata ± standar deviasi dari lima pengujian independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MCGH mengungguli metode benchmark NILM, dengan pengurangan MAE hingga 30% dan RMSE 25–50% pada dataset publik, serta MAE 20–90% dan RMSE 15–80% pada data aktual residental. Peningkatan paling signifikan terlihat pada beban daya rendah dan transien seperti lampu dan kipas angin, sementara kinerja tetap stabil untuk beban daya tinggi dan multi-state seperti pemanas air dan stopkontak listrik. Skor F1 model mendekati 1 dan signifikansi statistiknya dikonfirmasi melalui uji t berpasangan (p < 0,05). Hasil ini menegaskan potensi kuat MCGH untuk diterapkan pada sistem NILM perumahan nyata dengan kondisi beban yang kompleks dan bervariasi.
HUBUNGAN VARIASI CURAH HUJAN INTERDECADAL DI PAPUA DENGAN FENOMENA IKLIM GLOBAL
Papua merupakan wilayah dengan karakter curah hujan tinggi dan kompleks di Benua Maritim Indonesia yang dipengaruhi oleh interaksi laut–atmosfer tropis, topografi, serta dinamika sirkulasi regional dan global. Selain variasi musiman dan antar-tahunan, curah hujan di Papua menunjukkan indikasi perubahan pada skala antar-dekade yang bersifat tidak stasioner. Pergeseran ini diduga berkaitan dengan variabilitas dekadal di Samudra Pasifik, namun pola spasial dominan, dinamika temporal, serta mekanisme atmosfer–laut yang menyertainya belum terkuantifikasi secara sistematis. Selain itu, keterkaitan mode dominan variabilitas hujan jangka panjang dengan fenomena iklim global utama di Pasifik masih memerlukan pengujian statistik yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola spasial dominan dan dinamika temporal variabilitas curah hujan antar-dekade di Papua periode 1945–2020 serta menguji keterkaitannya dengan fenomena iklim global di Pasifik, khususnya ENSO, PDO, dan Interdecadal Pacific Oscillation (IPO). Selain itu, penelitian ini menelusuri mekanisme fisik yang mendasari hubungan tersebut melalui analisis perubahan tekanan permukaan laut, suhu permukaan laut, dan transport kelembapan lapisan bawah. Evaluasi tambahan dilakukan terhadap kemungkinan pengaruh lintas-basin dan aktivitas Matahari tanpa menggeser fokus utama pada dinamika Indo-Pasifik. Data curah hujan utama menggunakan reanalisis ERA5 resolusi 0,25° × 0,25° yang dibandingkan terhadap data observasi independen untuk memastikan konsistensi variabilitas temporal jangka panjang. Hasil perbandingan menunjukkan korelasi positif yang cukup kuat antara kedua dataset (r ? 0,68), sehingga data layak digunakan dalam analisis lanjutan. Sinyal antar-dekade diekstraksi menggunakan penyaringan Lanczos dengan jendela 11 tahun untuk menghilangkan komponen musiman dan antar-tahunan. Pola spasial dominan diidentifikasi melalui analisis dekomposisi ortogonal empiris, sedangkan hubungan dengan indeks iklim global dianalisis menggunakan korelasi Pearson yang telah dikoreksi terhadap autokorelasi dan diuji signifikansinya menggunakan uji t-Student. Mekanisme fisik ditelusuri melalui analisis komposit fase positif–negatif dan korelasi spasial terhadap medan tekanan permukaan laut, suhu permukaan laut, dan fluks kelembapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga mode utama mampu menjelaskan sekitar 85% variansi total variabilitas curah hujan antar-dekade di Papua. Mode pertama merupakan mode dominan yang menjelaskan sekitar 50% variansi dan memperlihatkan pola spasial regional yang relatif koheren di sebagian besar wilayah Papua. Mode ini memiliki korelasi negatif yang signifikan dengan Interdecadal Pacific Oscillation (IPO), dengan koefisien korelasi berkisar antara r ? ?0,50 hingga ?0,60 dan signifikan pada tingkat kepercayaan 95% setelah koreksi autokorelasi. Korelasi negatif tersebut menunjukkan bahwa fase positif IPO berkaitan dengan penurunan curah hujan Papua, sedangkan fase negatif IPO berasosiasi dengan peningkatan curah hujan. Analisis mekanisme menunjukkan bahwa fase positif IPO berkaitan dengan peningkatan tekanan permukaan laut di wilayah Papua dan pelemahan transport kelembapan zonal menuju kawasan tersebut. Kombinasi kedua kondisi ini menciptakan atmosfer yang lebih stabil, memperkuat subsiden, dan menghambat perkembangan konveksi, sehingga curah hujan cenderung menurun. Sebaliknya, respon suhu permukaan laut lokal relatif lemah dan tidak menunjukkan struktur spasial yang konsisten, sehingga pengaruh IPO terhadap hujan Papua lebih dimediasi oleh dinamika atmosfer dibandingkan pemanasan laut lokal. Mode kedua dan ketiga menunjukkan pola yang lebih terlokalisasi serta tidak memiliki keterkaitan kuat dengan indeks iklim global, yang mengindikasikan dominasi mekanisme regional dan pengaruh topografi pada variabilitas sekunder. Dibandingkan dengan penelitian sebelumnya yang umumnya berfokus pada skala antar-tahunan atau menggunakan pendekatan korelasi sederhana, penelitian ini mengintegrasikan penyaringan antar-dekade, analisis spasial–temporal, pengujian statistik terkoreksi autokorelasi, serta eksplorasi mekanisme atmosfer–laut secara terpadu. Kebaruan penelitian ini terletak pada penegasan bahwa variabilitas hujan Papua pada skala antar-dekade terutama dimediasi oleh perubahan tekanan permukaan dan transport kelembapan yang terkait dengan IPO, bukan oleh respon suhu permukaan laut lokal semata. Secara ilmiah, penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperjelas bentuk, kekuatan hubungan, dan mekanisme variabilitas hujan jangka panjang di wilayah maritim tropis, serta memperkuat pemahaman mengenai peran skala antar-dekade dalam sistem iklim regional. Temuan ini memperkaya khazanah klimatologi Indonesia bagian timur dan menyediakan dasar ilmiah bagi pengembangan strategi adaptasi berbasis informasi iklim jangka panjang di Papua.
PENGARUH PRETREATMENT LIMBAH KULIT PISANG TERHADAP PERFORMA PERTUMBUHAN, EFISIENSI BIOKONVERSI, DAN PROFIL ASAM LEMAK BLACK SOLDIER FLY
Kulit pisang merupakan limbah organik bernutrisi tinggi, tetapi pemanfaatannya sebagai pakan masih terbatas akibat tingginya lignoselulosa. Black Soldier Fly (BSF) berpotensi mengonversi limbah ini menjadi biomassa bernilai guna, namun diperlukan pretreatment untuk meningkatkan kualitas substrat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh pretreatment kulit pisang terhadap performa pertumbuhan, efisiensi biokonversi, dan profil asam lemak larva BSF. Larva BSF dipelihara pada pakan ayam sebagai kontrol, substrat kulit pisang tanpa fermentasi, dan substrat kulit pisang yang difermentasi untuk membandingkan respons tiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses fermentasi meningkatkan kadar protein substrat kulit pisang sekitar 1–3%, disertai penurunan karbohidrat sekitar 4–6% dan lemak sekitar 1–2%. Namun, peningkatan kualitas substrat ini tidak diikuti oleh perbaikan performa larva. Berat larva pada substrat nonfermentasi sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan substrat fermentasi dan tetap jauh di bawah kontrol. Pola serupa terlihat pada laju pertumbuhan harian dan efisiensi biokonversi, di mana nilai ECD_proxy (Efficiency of Conversion of Digested Food, indikator berbasis sistem), FCR_proxy (Feed Conversion Ratio, indikator berbasis sistem), dan WRI (Waste Reduction Index) menunjukkan kinerja terbaik pada perlakuan kontrol, diikuti oleh substrat non-fermentasi, dan terendah pada perlakuan fermentasi. Meskipun demikian, kelulushidupan larva tetap sangat tinggi mencapai lebih dari 98% pada seluruh perlakuan. Perkembangan menuju prepupa berlangsung lebih cepat pada substrat non-fermentasi, sedangkan fermentasi memperpanjang durasi perkembangan. Profil asam lemak larva didominasi oleh asam lemak jenuh, dengan peningkatan proporsi asam lemak tak jenuh pada perlakuan fermentasi. Secara keseluruhan, fermentasi meningkatkan kandungan protein substrat tetapi menurunkan performa larva dan efisiensi biokonversi, serta mengubah komposisi asam lemak larva. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kadar protein akibat fermentasi tidak selalu meningkatkan nilai ECD_proxy maupun efisiensi biokonversi pada tingkat sistem pemeliharaan larva BSF. Sebaliknya, ECD_proxy lebih dipengaruhi oleh ketersediaan energi tercerna bersih dan efisiensi alokasi nutrien pasca-pencernaan dibandingkan kadar protein absolut substrat, sehingga menantang asumsi umum mengenai efektivitas pretreatment fermentasi pada limbah berserat tinggi.
EVALUASI REGULASI KELAIKUDARAAN PESAWAT UDARA VTOL UNTUK IMPLEMENTASI DI INDONESIA BERDASARKAN STANDAR EASA, FAA, DAN CAAC
Penelitian ini mengevaluasi dan membandingkan kerangka regulasi kelaikudaraan pesawat Vertical Take-Off and Landing (VTOL)/electric VTOL (eVTOL) dari tiga otoritas, yaitu European Union Aviation Safety Agency (EASA) melalui SC-VTOL, Federal Aviation Administration (FAA) melalui pendekatan powered-lift dan AC 21.17-4, serta Civil Aviation Administration of China (CAAC) melalui special conditions berbasis kasus (mis. EH216-S). Analisis dilakukan dengan studi dokumen dan analisis isi kualitatif, dilengkapi pemetaan silang (crosswalk) antar-subpart serta penyusunan indikator tingkat detail persyaratan (Level 1–4) pada Subpart A–G untuk mengkarakterisasi tingkat eksplisititas arahan kepatuhan pada level pasal utama. Hasil menunjukkan bahwa EASA menyediakan kerangka yang relatif terstruktur melalui objektif keselamatan dan desain serta pengelompokan berbasis risiko (Basic/Enhanced), FAA menekankan kriteria berbasis kinerja (performance-based) dan fleksibilitas penetapan certification basis melalui Means/Methods of Compliance (MoC) yang diusulkan pemohon dan diterima otoritas, sedangkan CAAC menampilkan pendekatan berbasis kasus dengan penekanan yang lebih kuat pada aspek sistem dan batasan operasi unmanned aircraft system untuk konfigurasi tertentu. Secara agregat pada Subpart A–G, indeks tingkat detail berada pada 55,36% (EASA), 59,52% (FAA), dan 61,01% (CAAC), yang diinterpretasikan sebagai kepadatan detail pada pasal utama dan bukan ukuran “lebih aman”. Berdasarkan sintesis temuan kualitatif dan kuantitatif, pendekatan FAA direkomendasikan sebagai rujukan utama (baseline) pada fase awal penyusunan regulasi VTOL Indonesia karena konsistensi logika kepatuhan performance-based dan keterkaitannya dengan parameter pembuktian kepatuhan; EASA digunakan sebagai referensi pelengkap untuk pengelompokan risiko; dan elemen CAAC dimanfaatkan sebagai rujukan jalur unmanned yang dapat dipetakan dengan regulasi UAV nasional (mis. CASR 22). Rekomendasi implementasi mencakup adopsi kerangka sertifikasi bertingkat, penegasan batas applicability dan kapasitas kursi konservatif (?6) sebagai baseline awal, serta pengembangan mekanisme MoC dan kapasitas evaluasi kepatuhan secara bertahap sesuai konteks operasional Indonesia.
ANALISIS KONFIGURASI TERHADAP KAPASITAS VERTIPORT DUA PAD DENGAN PENDEKATAN DISCRETE EVENT SIMULATION
Vertiport merupakan infrastruktur pendukung utama dalam menyediakan sarana lepas landas dan pendaratan bagi pesawat dalam ekosistem Advanced Air Mobility (AAM). Pesatnya minat terhadap AAM khususnya di daerah perkotaan atau Urban Air Mobility (UAM) dihadapkan pada tantangan dalam membangun vertiport pada daerah dengan padat rintangan (obstacles) dan area yang terbatas. Penelitian ini merupakan pengembangan lanjutan yang bertujuan untuk menganalisis kapasitas vertiport dengan dua pad dengan melakukan variasi terhadap konfigurasi, jumlah stand, konsep operasi, serta variasi waktu turn around pesawat. Operasional vertiport dimodelkan dan disimulasikan dengan pendekatan Discrete Event Simulation (DES), pada konfigurasi vertiport Linear dan Satelit. Jumlah stand divariasikan sebanyak 4, 6, 8, dan 10 stand, dengan variasi waktu turnaround deterministik sebesar 5 sampai 30 menit dengan pertambahan 5 menit. Konsep operasi yang diuji untuk vertiport dengan konfigurasi Linear meliputi Independen dan Segregated. Selain itu, dilakukan simulasi dengan menambahkan efek stokastik pada waktu turnaround untuk melihat respons vertiport terhadap faktor operasional acak. Simulasi menunjukkan pada waktu turnaround 5 menit urutan pergerakan pesawat sangat rapat menyebabkan sejumlah stand mengalami delay bahkan kegagalan untuk melakukan taxi out. Terdapat penurunan kapasitas 6-28% pada vertiport linear segregated, 9-22% pada vertiport linear independen, dan 11- 28% pada vertiport satelit pada setiap varian jumlah stand terhadap penambahan waktu turnaround yang disimulasikan antara 15 30 menit. Penambahan jumlah stand memberikan keuntungan terhadap kapasitas vertiport untuk waktu turnaround panjang pada setiap konfigurasi yang disimulasikan, dengan peningkatan 100-120%. Vertiport linear independen dengan 4 stand memiliki kapasitas 1,9% lebih besar, dengan 6 stand memiliki kapasitas 3,6% lebih besar, dengan 8 stand memiliki kapasitas 9,5% lebih besar, dengan 10 stand memiliki kapasitas 19,3% lebih besar dari vertiport linear segregated. Secara umum kapasitas total vertiport linear mengalami penurunan dengan waktu turnaround stokastik. Vertiport linear independen memberikan kapasitas terbesar 163 dan 229 pesawat pada varian 4 dan 6 stand, dan vertiport satelit memberikan kapasitas terbesar 266 dan 299 pesawat pada varian 8 dan 10 stand.
PERANCANGAN HUMAN RESOURCE INFORMATION SYSTEM UNTUK PT DONGSUH INDONESIA DENGAN METODE SYSTEM DEVELOPMENT LIFE CYCLE
Perkembangan industri yang semakin kompetitif menuntut setiap perusahaan memiliki sistem pengelolaan sumber daya manusia (SDM) yang efektif, efisien, dan terintegrasi. PT Dongsuh Indonesia, sebagai perusahaan di sektor industri kimia, masih menerapkan sistem manajemen HR secara manual dengan bantuan spreadsheet sederhana. Kondisi ini menimbulkan berbagai kendala, antara lain keterlambatan pemrosesan administrasi, tingginya potensi kesalahan pencatatan, duplikasi data, keterbatasan akses informasi secara real-time, dan kesulitan dalam penyusunan laporan kinerja yang cepat dan akurat. Keterbatasan ini berdampak langsung terhadap efisiensi operasional dan akurasi pengambilan keputusan strategis. Oleh karena itu, diperlukan Human Resource Information System (HRIS) yang mampu mengintegrasikan seluruh proses bisnis HR, meminimalkan kesalahan administratif, dan mendukung evaluasi kinerja berbasis data. Metode pengembangan yang dipilih dalam penelitian ini adalah System Development Life Cycle (SDLC). Pemilihan metode ini didasarkan pada karakteristik SDLC yang memiliki tahapan kerja terstruktur, dokumentasi lengkap, serta pengendalian kualitas di setiap fase, mulai dari perencanaan, analisis, perancangan, implementasi, hingga pemeliharaan. SDLC dinilai sesuai untuk pengembangan HRIS di PT Dongsuh Indonesia karena kebutuhan sistem yang relatif stabil, kebutuhan dokumentasi untuk kepatuhan regulasi seperti UU Perlindungan Data Pribadi, dan perlunya integrasi lintas modul HR yang kompleks. Dengan pendekatan ini, proses pengembangan dapat dikendalikan dengan baik, risiko dapat diminimalkan, dan hasil akhir lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna. Penelitian ini dilakukan melalui tahapan identifikasi kebutuhan fungsional dan nonfungsional, analisis proses bisnis eksisting, perancangan model proses menggunakan context diagram dan data flow diagram (DFD), pemodelan data dengan entity relationship diagram (ERD), serta perancangan physical design dan user interface tree. Selain itu, dikembangkan low fidelity prototype yang menampilkan rancangan antarmuka sistem sesuai peran pengguna, mencakup staf HR, manajer, direktur, karyawan, dan departemen keuangan. Penelitian ini juga menghasilkan rancangan Key Performance Indicators (KPI) yang relevan dengan manajemen SDM, seperti biaya perekrutan per karyawan, tingkat retensi karyawan, efektivitas pelatihan, kepuasan karyawan, dan efisiensi proses HR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa HRIS yang dirancang mampu meningkatkan integrasi data antarproses HR, mempercepat alur kerja, mengurangi kesalahan pencatatan, x dan menyediakan laporan kinerja berbasis data secara real-time. Dengan penerapan HRIS berbasis SDLC, PT Dongsuh Indonesia diharapkan dapat mengoptimalkan pengelolaan SDM, meningkatkan akurasi dan transparansi informasi, serta mendukung pengambilan keputusan strategis yang lebih cepat dan tepat. Implementasi sistem ini juga berpotensi memberikan dampak jangka panjang berupa peningkatan produktivitas, penguatan tata kelola, dan peningkatan daya saing perusahaan di tengah persaingan industri kimia yang semakin ketat.
PEMODELAN EKOSISTEM LAYANAN DIGITAL PADA IMPLEMENTASI REKAM KESEHATAN TERPADU
The digital transformation of healthcare increasingly depends on integrated data infrastructures to enable coordinated and sustainable service delivery across organizational boundaries. As digital technologies reshape how healthcare services are designed, delivered, and governed, research has progressively shifted from viewing healthcare as a service system toward a service ecosystem perspective that emphasizes multi-actor interaction, resource integration, and system-level value creation. Despite growing interest in service ecosystems and digital health, existing studies remain fragmented and largely descriptive, offering limited insight into how ecosystem concepts are operationalized in large-scale implementation contexts. This study conceptualizes Unified Health Record (UHR) implementation as a dynamic, multi-actor coordination process embedded within a digital health ecosystem. Using Indonesia’s SATU SEHAT initiative as an empirical context, the research adopts a multi-level perspective encompassing micro (citizen), meso (organizational) and macro (government) levels. Methodologically, the study employs a multi-phase, multi-method approach. The exploratory phase integrates clustering analysis to identify segmented citizen profiles and Soft Systems Methodology (SSM) to structure stakeholder perspectives and implementation challenges. The explanatory phase applies System Dynamics Modeling to capture non-linear interactions and feedback loops, complemented by mathematical programming to develop a resource allocation model for policy analysis. The findings demonstrate that successful UHR implementation depends not only
STRATEGI ORKESTRASI SUMBER DAYA DALAM UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN DIGITAL DAN KINERJA BISNIS PADA SETIAP MATA RANTAI NILAI KREATIF DI UKM DESAIN
Resource limitation presents a significant barrier for small and medium-sized enterprises (SMEs), particularly within Indonesia’s design-focused creative industry sub-sectors comprising architecture, product design, interior design, and graphic design. These SMEs struggle to effectively navigate digital economy due to challenges such as insufficient information access, lack of affordable digital infrastructure in order to navigate business performance amidst resource constraints. The study develops and tests a conceptual model integrating Resource Orchestration Theory and the Creative Value Chain (CVC) framework, positing that a firm's ability to structure, bundle, and leverage resources across the stages of creation, production, distribution, promotion, and consumption is critical for improved business performance that is critically mediated by digital capability (DC). Employing a mixed-method approach, that initially develops the research qualitatively using semi-structured interview and thematic analysis, continued by quantitative methodology, survey data gathered from qualitative were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM). The findings provide empirical support for the model, by specifying orchestration resources that are most impactful at different points in the CVC stages. The findings confirm Resource Orchestration (RO) as the comprehensive strategic driver of the CVC. RO's structuring resources
WISUDA ITB MARET 2006
Tidak ada deskripsi.
PENENTUAN RUTE OPTIMAL PERMASALAHAN DISTRIBUSI BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) DARI DEPOT KE LEMBAGA PENYALUR MENGGUNAKAN MODA TRANSPORTASI MULTI-COMPARTMENT DISKRIT DAN PENGALOKASIAN KENDARAAN KE LOADING BAY
Distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan permasalahan logistik kompleks yang melibatkan rute multi-kompartemen, pengangkutan multi-produk, penugasan kendaraan ke loading bay, serta keterbatasan fasilitas dan waktu operasi. Penelitian ini mengembangkan model Mixed-Integer Linear Programming (MILP) untuk menyelesaikan Multi-Compartment Vehicle Routing Problem (MCVRP) dengan mengintegrasikan keputusan routing, penugasan kompartemen dan produk, penjadwalan multi-trip, serta sequencing kendaraan pada loading bay dalam satu kerangka optimasi terpadu. Model mempertimbangkan biaya perjalanan, biaya tetap kendaraan, dan waktu menganggur (idle time) akibat antrean loading, sehingga mampu merepresentasikan proses distribusi BBM secara lebih realistis dalam horizon operasi 24 jam. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model MILP menghasilkan solusi optimal untuk dataset kecil, namun mengalami keterbatasan komputasi pada skala besar. Untuk mengatasi hal tersebut, dikembangkan algoritma greedy konstruktif yang membangun solusi secara bertahap berdasarkan prioritas pelanggan, produk, kompartemen, dan loading bay. Algoritma greedy mampu menghasilkan solusi dengan kualitas mendekati optimal (optimality gap 0–7%) dengan waktu komputasi yang jauh lebih singkat, serta tetap feasible pada skala besar ketika MILP tidak dapat diselesaikan secara eksak. Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi penugasan dan sequencing loading bay berperan penting dalam mengendalikan waktu tunggu kendaraan dan meningkatkan efisiensi operasional depot. Model MILP direkomendasikan sebagai alat perencanaan strategis dan benchmark optimalitas, sedangkan algoritma greedy sangat sesuai untuk implementasi operasional harian. Pendekatan yang diusulkan memberikan kontribusi pada pengembangan MCVRP berbasis biaya dan waktu serta menjadi dasar bagi penelitian lanjutan yang mempertimbangkan ketidakpastian dan perencanaan distribusi multi-periode.