📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenDESAIN DAN IMPLEMENTASI RANGKAIAN PENGUKURAN RESISTANSI, PENGONDISIAN SINYAL, SERTA DESAIN PRINTED CIRCUIT BOARD UNTUK SISTEM DETEKSI KELAYAKAN TEKNIS KABEL BERBASIS RESISTANSI
Penelitian ini membahas desain dan implementasi sistem pengukuran resistansi kabel berbasis metode injeksi arus konstan yang dilengkapi dengan rangkaian pengkondisian sinyal serta perancangan printed circuit board (PCB) sebagai platform integrasi sistem. Sistem dirancang menggunakan sumber arus konstan sekitar 1 A, instrumentation amplifier untuk penguatan sinyal, low-pass filter untuk mereduksi noise terutama pada frekuensi 50–60 Hz, serta rangkaian penyearah sebagai tahap pengolahan sinyal sebelum akuisisi data. Desain PCB dilakukan dengan mempertimbangkan aspek grounding, penempatan kapasitor decoupling, serta constraint manufaktur agar rangkaian dapat direalisasikan secara praktis. Hasil pengujian menunjukkan sumber arus menghasilkan arus stabil sebesar 0,982 A dan estimasi error sistem keseluruhan sekitar 12%. Pengujian pada kabel dengan resistansi 21 m? menghasilkan tegangan keluaran rata-rata 2,3375 V dibanding nilai teoritis 2,1 V, yang menunjukkan error sekitar 11,31%. Error yang muncul cenderung bersifat sistematik sehingga masih dapat dikompensasi melalui proses kalibrasi pada sistem mikrokontroler
DESAIN DAN IMPLEMENTASI POWER SUPPLY DAN BATTERY STATE-OF-CHARGE UNTUK TONGKAT ADAPTIF TUNANETRA
Pengembangan tongkat adaptif untuk tunanetra saat ini masih sangat terbatas dalam hal pendeteksian objek di sekitar dan feedback yang kurang informatif. Tongkat adaptif yang sudah ada hanya bisa mendeteksi jarak dengan narasi suara jarak yang terdeteksi, yang mana kurang efisien dalam hal penerimaan feedback karena narasi suara dianggap terlalu lama. Sebagai solusinya, dikembangkan fitur deteksi objek dan mengubah sistem feedback menjadi lebih informatif. Untuk memenuhi kebutuhan akan daya dan menambah informasi, didesain dan diimplementasikan sebuah subsistem daya dan subsistem battery state-of-charge. Subsistem daya diimplementasikan dengan memasang battery shield yang mana merupakan BMS sekaligus power supply untuk keseluruhan sistem. Output dari subsistem ini berupa sumber daya yang memiliki tegangan di sekitar 5 volt. Subsistem state-of-charge diimplementasikan dengan metode open circuit voltage yang menggunakan LUT berdasarkan karakterisasi baterai yang digunakan pada sistem tongkat adaptif. Keluaran dari subsistem ini berupa rentang muatan baterai yang tersisa dengan lebar 10% dimulai dari 0% sampai 100%. Subsistem ini memiliki akurasi sebesar 91,61% yang mana dapat diimprovisasi dengan melakukan karakterisasi ulang dengan memperhatikan aspek temperatur atau menggunakan metode coulomb counting.
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SUBSISTEM PENDETEKSI KETERSEDIAAN SABUN DAN TISU UNTUK SISTEM MONITORING KONDISI TOILET PUBLIK
Kebersihan dan ketersediaan fasilitas di toilet umum merupakan indikator krusial dalam menjamin kesehatan lingkungan dan kenyamanan pengguna. Namun, pengelolaan fasilitas sanitasi sering kali menghadapi kendala inefisiensi akibat metode pemantauan manual yang bersifat reaktif. Berdasarkan data observasi awal, keluhan pengguna terkait ketidaktersediaan sabun dan tisu sering terjadi pada jam-jam sibuk, di mana petugas kebersihan tidak dapat memantau kondisi setiap saat secara real-time. Keterlambatan pengisian ulang logistik ini tidak hanya menurunkan tingkat kepuasan pengguna, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko penyebaran penyakit akibat kegagalan praktik sanitasi yang higienis. Oleh karena itu, Tugas Akhir ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan subsistem pemantauan ketersediaan sabun cair dan tisu secara otomatis berbasis Internet of Things (IoT) yang terintegrasi dalam sebuah sistem Smart Toilet. Pendekatan teknis yang digunakan dalam penelitian ini difokuskan pada pengembangan instrumen akuisisi data yang akurat namun tetap efisien dari segi biaya dan perawatan. Untuk subsistem sabun cair, digunakan sensor ultrasonik HC-SR04 yang bekerja dengan prinsip Time-of-Flight. Metode pengukuran non-kontak ini dipilih untuk menghindari kontak langsung antara sensor dengan cairan kimia sabun yang dapat menyebabkan korosi dan kerusakan komponen elektronik jangka panjang. Sensor dipasang pada tutup wadah sabun yang telah dimodifikasi desainnya menggunakan cetak 3D berbahan PETG agar memiliki ruang yang cukup untuk modul sensor tanpa mengganggu estetika. Data jarak yang diukur kemudian dikonversi menjadi status ketersediaan sabun. Sementara itu, untuk subsistem ketersediaan tisu, digunakan pendekatan elektromekanik menggunakan microswitch yang dilengkapi dengan mekanisme flap pemberat berbahan PLA. Metode ini dipilih karena karakteristik permukaan tisu yang tidak rata sering kali menimbulkan noise jika diukur menggunakan sensor optik atau jarak. Sistem ini menghasilkan keluaran biner untuk mengindikasikan status "Tersedia" atau "Habis" (Empty). Seluruh data dari sensor diproses oleh mikrokontroler ESP32 dan ditransmisikan ke server pusat untuk ditampilkan pada dashboard pemantauan. Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan, subsistem sabun menunjukkan performa yang sangat baik dengan karakteristik respons yang linier, ditunjukkan oleh persamaan regresi y = 0,99x + 0,37. Meskipun resolusi pengukuran sensor ultrasonik terbatas pada 1 cm yang menghasilkan presisi sistem sebesar 9,09%, rata-rata kesalahan relatif (relative error) yang terukur hanya sebesar 4,94%, yang berarti sistem memiliki akurasi tinggi dalam memantau sisa volume sabun. Untuk subsistem tisu, pengujian fungsionalitas dilakukan melalui serangkaian skenario penggunaan, mulai dari kondisi penuh, setengah penuh, hingga habis total. Hasil pengujian menunjukkan tingkat keberhasilan (Success Rate) mencapai 100% dalam mendeteksi status ketersediaan tisu tanpa adanya kejadian false positive maupun false negative. Mekanisme flap pemberat terbukti efektif dalam memastikan sakelar tertekan dengan stabil selama tisu masih tersedia. Secara keseluruhan, sistem ini berhasil mengubah paradigma pemeliharaan fasilitas toilet dari yang sebelumnya berbasis pengecekan manual menjadi berbasis kebutuhan aktual (demand-based maintenance). Dengan adanya notifikasi real-time saat logistik menipis, petugas kebersihan dapat melakukan tindakan pengisian ulang secara tepat waktu, sehingga masalah kekosongan sabun dan tisu dapat diminimalisir secara signifikan. Implementasi sistem ini diharapkan dapat meningkatkan standar kebersihan fasilitas publik dan efisiensi operasional petugas.
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SUBSISTEM SERVER UNTUK SISTEM MONITORING KONDISI TOILET PUBLIK
Toilet publik merupakan fasilitas krusial yang memengaruhi kenyamanan dan kesehatan pengguna, terutama pada lingkungan dengan mobilitas tinggi seperti kampus. Perubahan kondisi (bau/amonia, lantai basah, serta habisnya tisu dan sabun) dapat terjadi cepat sepanjang hari, sementara pemeliharaan yang mengandalkan inspeksi manual cenderung reaktif, terlambat, dan sulit diaudit. Tugas akhir ini berkontribusi pada sistem monitoring toilet berbasis Internet of Things (IoT) dengan fokus pada subsistem server sebagai pusat penerimaan, pemrosesan, penyimpanan, dan distribusi informasi operasional. Subsistem server diimplementasikan menggunakan Node.js (Express) dan Type-Script. Telemetri dari node ESP32 dikirim melalui endpoint HTTPS (mis. POST /data) yang dilindungi autentikasi API key dan validasi payload agar hanya data sah yang dapat ditulis ke basis data. Data sensor kemudian dinormalisasi menjadi status semantik yang konsisten untuk dashboard dan notifikasi, disertai mekanisme anti-noise (debounce) untuk mencegah perubahan status sesaat akibat fluktuasi pembacaan. Penyimpanan menggunakan PostgreSQL dengan Prisma ORM dan dipisahkan menjadi tabel snapshot (status terbaru per perangkat) untuk akses cepat dashboard, serta tabel history (time-series) untuk audit, ekspor CSV, dan sumber scheduled report. Pembaruan real-time dikirim melalui WebSocket setelah ingest berhasil. Workflow operasional didukung Telegram Bot yang mengirim alert pada indikator yang paling actionable (terutama tisu/sabun), mengirim reminder ketika kondisi belum terselesaikan, serta mencatat acknowledgement petugas untuk supervisi. Deployment diperkuat dengan Nginx (TLS termination), kebijakan port minimal melalui firewall, dan process manager (PM2). Pengujian end-to-end menunjukkan konsistensi antara telemetri, database (snapshot/history), tampilan dashboard, dan pesan Telegram. Keterbatasan saat ini meliputi autentikasi berbasis shared secret dan ketergantungan konektivitas; pengembangan lanjut dapat mencakup identitas perangkat yang lebih kuat (mTLS) dan manajemen insiden yang lebih lengkap.
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SUBSISTEM PENDETEKSI KADAR AMONIA DAN GENANGAN AIR UNTUK SISTEM MONITORING KONDISI TOILET PUBLIK
Pemeliharaan kebersihan toilet publik di lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) saat ini masih menghadapi tantangan inefisiensi akibat metode patroli manual tanpa jadwal yang adaptif. Petugas kebersihan yang memiliki beban kerja ganda (multitasking) sering kali menghabiskan waktu untuk memeriksa fasilitas yang sebenarnya dalam kondisi baik, sementara lokasi lain yang membutuhkan penanganan justru terlambat ditangani. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan tersebut melalui pengembangan subsistem pendeteksi kadar amonia dan genangan air sebagai bagian dari sistem monitoring toilet berbasis Internet of Things (IoT). Subsistem ini dirancang menggunakan mikrokontroler ESP32 sebagai unit pemroses utama yang terintegrasi dengan sensor gas TGS-2602 untuk mendeteksi bau (amonia) dan sensor konduktivitas berbasis stiker aluminium kustom untuk mendeteksi genangan air di lantai. Metode pengukuran kadar amonia dilakukan dengan mengonversi perubahan resistansi sensor (????????/????0) menjadi satuan konsentrasi (ppm), sedangkan deteksi genangan air memanfaatkan prinsip shortcircuit pada elektroda grid. Data dari kedua sensor diproses secara real-time untuk memberikan notifikasi kondisi sanitasi yang objektif kepada petugas. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sensor amonia memiliki stabilitas tinggi dengan standar deviasi 0,011 ppm dan mampu mendeteksi konsentrasi gas dalam rentang 0,63–25,63 ppm, memenuhi spesifikasi desain 0–20 ppm. Namun, sensor ini memiliki keterbatasan sensitivitas silang (cross-sensitivity) terhadap gas organik lain seperti parfum. Pada subsistem deteksi genangan, sensor stiker berhasil memverifikasi area deteksi 10 x 10 cm dengan akurasi 100% pada kondisi kering dan kemampuan filter percikan sebesar 80%. Meskipun demikian, akurasi global sistem tercatat sebesar 60,83% dengan nilai F1-Score 0,6050. Penurunan akurasi ini disebabkan oleh sifat hidrofobik material aluminium dan desain geometris elektroda yang memengaruhi pembentukan genangan statis. Secara keseluruhan, sistem ini berhasil mendigitalkan parameter kebersihan fisik, namun memerlukan optimasi material sensor dan algoritma kompensasi lingkungan untuk meningkatkan keandalan deteksi di masa mendatang.
ANALISIS KURVA HAZARD (BAHAYA) GEMPA DI PULAU JAWA BAGIAN BARAT
Wilayah Jawa bagian barat merupakan kawasan dengan tingkat aktivitas kegempaan yang relatif aktif akibat pengaruh zona subduksi di selatan Pulau Jawa serta keberadaan sesar kerak dangkal aktif. Kondisi tersebut menyebabkan wilayah ini memiliki potensi bahaya gempa bumi yang dominan, sehingga diperlukan analisis bahaya gempa bumi yang mampu merepresentasikan karakteristik kegempaan secara kuantitatif dan bersifat probabilistik. Penelitian tugas akhir ini dilakukan untuk menganalisis bahaya gempa bumi di wilayah Jawa bagian barat menggunakan pendekatan Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA). Penelitian ini bertujuan untuk menghitung laju kegempaan berdasarkan estimasi b-value regional dan lokal pada masing-masing area sumber gempa untuk magnitudo ? Mc, menyusun kurva probabilitas gempa terlampaui sebagai fungsi magnitudo pada selang M 4,8–6,7, serta mengestimasi kurva bahaya gempa pada wilayah penelitian sebagai fungsi b-value regional dan lokal pada periode data jangka panjang dan jangka pendek. Wilayah penelitian mencakup Bogor, Bekasi, Jakarta, dan Purwakarta. Data yang digunakan berupa katalog gempa bumi dangkal dari Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) untuk periode 1963-2016 dan 2017-2022. Estimasi parameter seismisitas dilakukan menggunakan hubungan Gutenberg-Richter dengan metode Maximum Likelihood Estimation. Nilai tersebut digunakan untuk menghitung laju kemunculan gempa dan probabilitas kejadian gempa tahunan. Estimasi guncangan tanah dilakukan menggunakan model Ground Motion Prediction Equation (GMPE) Fukushima dan Tanaka (1992) dengan parameter magnitudo gempa dan jarak sumber ke titik observasi. Nilai Peak Ground Acceleration (PGA) digabungkan untuk memperoleh Mean PGA sebagai dasar penyusunan kurva bahaya gempa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju kemunculan dan probabilitas kejadian gempa menurun seiring peningkatan magnitudo. Kurva bahaya gempa menunjukan perbedaan tingkat bahaya seismik antar wilayah penelitian, dengan wilayah Purwakarta menunjukkan tingkat bahaya tertinggi dan wilayah Jakarta relatif lebih rendah. Estimasi menggunakan periode jangka panjang menunjukan hasil tingkat bahaya gempa yang lebih besar dibandingkan periode jangka pendek pada probabilitas terlampaui yang sama.
OPTIMASI ALOKASI PILOT DAN KONTROL DAYA SECARA TERPADU MENGGUNAKAN GRAPH ISOMORPHISM NETWORK (GIN) PADA CELL-FREE MASSIVE MIMO
Alokasi pilot dan kontrol daya secara terpadu merupakan aspek krusial untuk mengurangi kontaminasi pilot dan menjamin pemerataan Quality of Service (QoS) pada sistem cell-free massive MIMO (CF-mMIMO). Namun, optimasi terpadu tersebut merupakan masalah yang bersifat NP-hard. Pendekatan yang ada umumnya mengandalkan graph coloring (GC) berbasis heuristik yang dioptimasikan secara sekuensial, atau Deep Neural Networks (DNN) yang tidak memanfaatkan struktur graf, yang pada akhirnya kurang adaptif serta generalisasi yang buruk terhadap variasi ukuran jaringan. Dalam penelitian ini, kami mengusulkan suatu kerangka kerja unsupervised graph neural network untuk alokasi pilot dan kontrol daya secara terpadu menggunakan Graph Isomorphism Network (GIN). Terinspirasi oleh formulasi klasik GC, jaringan CF-mMIMO dimodelkan sebagai graf konflik UE–UE homogen, di mana atribut edge merepresentasikan metrik kontaminasi pilot dan hubungan geometris antar UE. Dengan mengintegrasikan atribut edge ke dalam proses message passing, model GIN yang diusulkan memungkinkan penentuan pilot dan kontrol daya yang terkoordinasi dalam satu arsitektur end-to-end. Kinerja GIN dievaluasi dengan membandingkannya terhadap pendekatan heuristik konvensional, model DNN, serta edge-weighted GNN (EW-GNN). Hasil numerik menunjukkan bahwa GIN mengungguli seluruh metode pembanding, pada kepadatan tinggi dengan jumlah UE K=96, efisiensi spektral pada tingkat keandalan 95% didapat sebesar 3.635 bps/Hz, dibandingkan dengan 3.403 bps/Hz untuk model EW-GNN dan 2.796 bps/Hz untuk model DNN. Hasil evaluasi generalisasi menunjukkan bahwa GIN dapat mempertahankan kinerja konsisten ketika diterapkan pada kepadatan UE yang berbeda dari kondisi pelatihan. Hal ini mengindikasikan bahwa GIN yang memperhitungkan atribut edge merupakan elemen kunci dalam mendukung optimasi alokasi sumber daya secara terpadu, berskala besar, dan merata pada sistem CF-mMIMO.
DESAIN ARISITEKTUR PERANGKAT KERAS CONTACTLESS SMART CARD DAN IMPLEMENTASI PADA FPGA
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan kemandirian nasional dalam pengembangan teknologi smart card, khususnya untuk mendukung kegiatan riset dan pengembangan sistem paspor elektronik Indonesia. Sistem paspor elektronik merupakan infrastruktur kritis nasional karena terkait dengan keamanan data pemegang paspor. Namun, pengembangan paspor elektronik di dalam negeri masih bergantung pada produk smart card dari luar negeri yang sulit dievaluasi keamananya. Oleh karena itu, diperlukan suatu purwarupa smart card hasil rancangan dalam negeri sehingga keamanan smart card tersebut dapat diverifikasi dan dievaluasi. Penelitian ini bertujuan untuk merancang arsitektur contactless smart card sebagai purwarupa paspor elektronik yang dapat digunakan dalam kegiatan riset dan pengembangan di dalam negeri. Tujuan penelitian ini meliputi penyediaan komponen rangkaian digital yang diperlukan untuk mendukung komunikasi contactless smart card serta komputasi yang dibutuhkan pada sistem paspor elektronik, termasuk pemrosesan autentikasi dan operasi kriptografi. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan desain arsitektur contactless smart card pada platform FPGA sebagai proof of concept yang merepresentasikan tata letak sirkuit terpadu sebelum dilakukan implementasi pada teknologi ASIC. Evaluasi kinerja arsitektur yang diusulkan juga dilakukan untuk menilai fungsionalitas dan kelayakan sistem dalam mendukung kebutuhan paspor elektronik. Proses perancangan diawali dengan penentuan use case berdasarkan studi terhadap standar dan literatur terkait paspor elektronik, yang selanjutnya digunakan sebagai dasar penentuan spesifikasi sistem. Berdasarkan spesifikasi tersebut, dilakukan perancangan arsitektur contactless smart card yang mencakup pemilihan dan ii pengembangan komponen rangkaian digital, termasuk prosesor utama, koprosesor komunikasi, dan koprosesor komputasi. Kemudian, dilakukan tahapan simulasi, sintesis, dan implementasi dilakukan menggunakan perangkat lunak EDA Vivado 2025.1. Pemilihan prosesor utama dilakukan dengan mempertimbangkan aspek instruction set architecture yang bersifat terbuka, ketersediaan dukungan toolchain, komunitas pengembang, serta efisiensi implementasi silikon. Berdasarkan pertimbangan tersebut, prosesor PicoRV32 dipilih sebagai unit pemrosesan utama pada purwarupa contactless smart card yang dirancang. Untuk memastikan desain dapat dilanjutkan ke alur implementasi ASIC, seluruh kode perangkat keras ditulis dalam bahasa Verilog. Pemilihan bahasa ini dilakukan agar desain kompatibel dengan toolchain LibreLane yang digunakan untuk mengubah RTL menjadi GDSII. Pada kasus IP core yang hanya tersedia dalam bahasa VHDL, dilakukan konversi ke Verilog menggunakan GHDL. Kemudian smart card diimplementasi pada FPGA Xilinx Artix-7 XC7A100T yang terpasang pada custom development board untuk dilakukan pengujian. Hasil implementasi pada FPGA menunjukkan bahwa arsitektur contactless smart card yang dirancang memenuhi kebutuhan kinerja sistem paspor elektronik. Desain berhasil memenuhi target frekuensi kerja 13,56 MHz dengan worst negative slack (WNS) sebesar 30 ns dan worst hold slack (WHS) sebesar 0,018 ns, yang menunjukkan bahwa seluruh timing constraint terpenuhi. Selain itu, hasil sintesis dan implementasi menunjukkan bahwa sistem mampu beroperasi hingga frekuensi maksimum sebesar 23,3 MHz. Dari sisi pemanfaatan sumber daya, desain menggunakan 7.082 LUT, 7.022 flip-flop, dan 34 blok BRAM. Konsumsi daya total hasil estimasi sebesar 0,24 W. Hasil pengujian fungsional menunjukkan bahwa seluruh spesifikasi teknis yang dirumuskan pada tahap perancangan berhasil direalisasikan. Blok digital yang dirancang mampu melakukan proses encoding dan decoding sinyal sesuai dengan format modified Miller dan Manchester encoding, sehingga mendukung komunikasi contactless smart card sesuai standar ISO/IEC 14443 tipe A. Sistem juga berhasil melakukan komunikasi dengan ketentuan Frame Delay Time (FDT) yang sesuai. Dari sisi komputasi, koprosesor yang dirancang mampu melakukan operasi kriptografi yang dibutuhkan dalam skenario autentikasi Basic Access Control, yaitu perhitungan SHA-1, DES, serta pembangkitan bilangan acak. Selain itu, integrasi prosesor utama dengan modul memori instruksi dan memori data berhasil dilakukan, sehingga sistem mampu mengeksekusi instruksi, menyimpan data, serta melakukan pertukaran data antarblok.
USULAN STRATEGI O2O TERINTEGRASI UNTUK MENJEMBATANI KESENJANGAN SENSORIK: STUDI KASUS PADA ALDIVA
Evolusi pesat ekonomi digital telah mendisrupsi lanskap ritel tradisional secara fundamental, khususnya dalam sektor modest fashion di Indonesia. Meskipun ecommerce menawarkan kenyamanan yang tak tertandingi, hal ini memunculkan hambatan kritis yang dikenal sebagai Kesenjangan Sensorik yaitu ketidakmampuan konsumen untuk menyentuh, merasakan, dan mencoba produk sebelum membeli. Bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) seperti Aldiva, kesenjangan ini mengakibatkan tingginya Risiko Persepsi di kalangan pelanggan, yang berujung pada keraguan pembelian dan pengabaian keranjang belanja. Meskipun memiliki kehadiran fisik dan saluran digital, Aldiva saat ini menghadapi tantangan strategis di mana operasionalnya berjalan secara terpisah (silo). Data awal menunjukkan bahwa meskipun pelanggan menginginkan perjalanan belanja hibrida meriset secara online dan membeli secara offline (Webrooming) infrastruktur Aldiva saat ini gagal memfasilitasi perilaku tersebut akibat ketidaksinkronan inventaris dan gesekan organisasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal pendorong kinerja bisnis, mengevaluasi kesiapan operasional perusahaan, dan merumuskan strategi komprehensif untuk menjembatani kesenjangan sensorik ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksplanatori sekuensial dengan desain studi kasus tunggal. Kerangka kerja penelitian didasarkan pada teori Stimulus-Organism-Response (S-O-R) untuk menganalisis pergeseran perilaku konsumen. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam semiterstruktur dengan dua kelompok kunci: manajemen internal untuk mengaudit kapabilitas operasional, dan konsumen yang aktif secara digital untuk memahami hambatan psikologis mereka terkait kualitas kain dan kecocokan ukuran. Analisis dilakukan melalui tiga tahap berurutan. Pertama, lingkungan eksternal dianalisis menggunakan PESTEL dan Analisis Pesaing, sedangkan kapabilitas internal dinilai menggunakan kerangka STP, Bauran Pemasaran 7P, dan VRIO. Kedua, temuan ini disintesis ke dalam Analisis SWOT untuk mendiagnosis posisi strategis Aldiva. Terakhir, Matriks TOWS digunakan untuk menghasilkan alternatif strategi yang dapat ditindaklanjuti. Hasil analisis komprehensif mengungkapkan bahwa kinerja bisnis Aldiva didorong oleh tren eksternal Webrooming yang kuat, di mana pelanggan secara aktif mencari validasi fisik untuk memitigasi risiko online. Namun, peluang ini terhambat secara signifikan oleh kelemahan internal. Secara khusus, studi ini mengidentifikasi “Silo Operasional” (insentif yang bertentangan antara tim online dan offline) dan “Ketidaksinkronan Inventaris” (sistem stok manual) sebagai hambatan utama yang mencegah perjalanan pelanggan yang mulus. Akibatnya, berdasarkan analisis SWOT, Aldiva menempati posisi strategis yang didefinisikan oleh Nilai Aset Tinggi (Toko Fisik) namun Kesiapan Operasional Rendah. Meskipun toko fisik berfungsi sebagai Jangkar Kepercayaan (Trust Anchor) yang kritis, aset ini masih kurang dimanfaatkan karena tidak adanya integrasi data realtime. Untuk mengatasi tantangan ini, penelitian ini merumuskan “Strategi Perdagangan O2O Terintegrasi” (The Integrated O2O Commerce Strategy). Berbeda dengan pendekatan multi-saluran tradisional, strategi ini menyatukan operasi online dan offline ke dalam satu ekosistem tunggal yang didukung oleh tiga pilar utama: (1) Integrasi Infrastruktur Digital melalui Cloud POS untuk memastikan visibilitas inventaris real-time; (2) Penyelarasan Organisasi melalui Model Insentif Berbasis Atribusi untuk membongkar persaingan internal; dan (3) Strategi Klik-dan-Ambil (Pick-Up & Fit) untuk mengamankan pendapatan di awal sekaligus memanfaatkan toko untuk validasi layanan. Studi ini berkontribusi pada literatur ilmu pemasaran dengan memvalidasi Resource-Based View (RBV) dalam konteks UKM. Studi ini menunjukkan bahwa di pasar yang mengutamakan digital, toko fisik bertindak sebagai sumber daya langka dan tidak tergantikan yang membangun kredibilitas merek dan membedakan merek tersebut dari pesaing yang murni online. Secara praktis, strategi yang diusulkan mengubah toko fisik dari sekadar titik transaksional pasif menjadi pusat pengalaman aktif, yang secara efektif menetralkan kesenjangan sensorik dan memastikan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
IDENTIFIKASI ORIENTASI REKAHAN MENGGUNAKAN INTEGRASI DATA MIKROSEISMIK DAN LOG FORMATION MICRO IMAGER (FMI) PADA LAPANGAN PANAS BUMI 'SEVERA'
Energi panas bumi merupakan sumber energi beremisi karbon rendah yang berperan strategis dalam transisi menuju energi bersih, namun pemanfaatannya masih belum maksimal karena kurangnya pengembangan lapangan panas bumi terutama dalam monitoring orientasi pada rekahan area panas bumi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi geometri, orientasi, dan dimensi rekahan bawah permukaan berdasarkan data mikroseismik di Lapangan Panas Bumi SEVERA serta memvalidasinya menggunakan data Formation Micro Imager (FMI). Analisis dilakukan dengan mengombinasikan algoritma Density-Based Spatial Clustering of Applications with Noise (DBSCAN) untuk pengelompokkan data, Elbow Analysis untuk menentukan jumlah rekahan optimal, metode Monte Carlo untuk estimasi awal orientasi rekahan (strike, azimuth, dip), Planar Projection untuk orientasi rekahan final dan perhitungan dimensi rekahan serra evaluasi kualitas model menggunakan Root Mean Square Error (RMSE) dan koefisien determinasi (R²). Hasil menunjukkan bahwa dari 582 data mikroseismik, sebanyak 506 event (86,9%) berhasil terklaster menjadi sembilan klaster utama dengan rasio keterwakilan 95,8%, yang didominasi oleh aktivitas seismisitas tinggi di area barat lapangan. Optimasi Monte Carlo mengindikasikan estimasi orientasi rekahan awal di dominasi berarah Barat Daya (SW) dan Barat Laut (NW) dengan sudut kemiringan relatif curam, sementara hasil Planar Projection menunjukkan orientasi rekahan final mengalami pergeseran berarah Barat Daya (SW) dan Timur Laut (NE), rekahan berdimensi juga terkonsentrasi di area barat, mengindikasikan keberadaan zona lemah struktural yang berperan penting dalam sistem panas bumi. Kesesuaian pola orientasi strike dan dip antara hasil mikroseismik dan data FMI menegaskan bahwa pendekatan terintegrasi ini mampu merepresentasikan jaringan rekahan secara andal dan relevan untuk mendukung pengembangan panas bumi berbasis data mikroseismik pada lapangan panas bumi “SEVERA”
KARAKTERISASI RESERVOIR KARBONAT KOMPLEKS UMUR OLIGO MIOSEN AWAL DENGAN METODE INVERSI DETERMINISTIK PADA AREA LEPAS PANTAI UTARA MADURA, CEKUNGAN JAWA TIMUR
Lapangan “ABBA” merupakan salah satu lapangan migas produktif di lepas pantai utara Cekungan Jawa Timur. Formasi Kujung yang tersusun atas batuan karbonat diketahui sebagai potensial target reservoir pada daerah ini. Temuan hidrokarbon di selatan lapangan mendorong penelitian ini melakukan karakterisasi reservoir guna optimalisasi pengembangan lapangan. Namun, kompleksitas dan heterogenitas batuan karbonat menjadi tantangan utama dalam prediksi aliran fluida. Sehingga, penelitian ini bertujuan menganalisis properti fisik sensitif dan karakteristik reservoir Formasi Kujung, memetakan persebaran reservoir berporositas baik, serta mengevaluasi metode inversi AI antara model based dan Linear Programming Sparse Spike (LPSS) berdasarkan resolusi dan konsistensinya terhadap data sumur. Studi ini menggunakan data seismik 3D full-stack yang diintegrasikan dengan 2 sumur pengembangan dan 4 sumur eksplorasi. Tahapan karakterisasi meliputi uji parameter sensitif dan transformasi volume porositas melalui hubungan log AI dan log porositas. Hasil analisis menunjukkan parameter AI sangat sensitif memisahkan porous dan tight carbonate dengan nilai cut-off 10.400 (m/s)(g/cc). Dalam evaluasi metode, model based relatif menghasilkan nilai lebih stabil dan memiliki validasi sumur lebih akurat dibandingkan metode LPSS yang cenderung overfit meskipun mampu menampilkan reflektivitas secara natural. Hasil analisis integrasi menunjukkan distribusi kualitas reservoir dikontrol oleh evolusi tektonostratigrafi dan lingkungan pengendapan. Interval Kujung I pada struktur tinggian merupakan zona paling prospektif karena pengaruh lingkungan shelf edge berenergi tinggi pada umur Miosen Awal yang mendukung perkembangan porositas primer (>20%). Sebaliknya, kualitas pada Kujung II dan III menurun seiring transisi ke lingkungan yang lebih dalam, di mana peningkatan porositas hanya terjadi secara lokal akibat diagenesis sekunder berupa dolomitisasi saat Oligosen. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengoptimalkan strategi pengembangan lapangan dan mitigasi risiko eksplorasi.
USULAN STRATEGI IMC UNTUK LINI SPORT BMW MOTORRAD INDONESIA UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN MEREK DI SEGMEN SUPERBIKE
Industri sepeda motor premium di Indonesia sedang bergeser dari pasar fungsional menjadi sektor gaya hidup dengan keterlibatan tinggi. Dalam lanskap kompetitif ini, BMW Motorrad Indonesia mendominasi dengan seri Petualangan (GS), namun kesuksesan ini telah menciptakan ketidakseimbangan strategis internal di mana citra petualangan sangat mendominasi segmen sport. Akibatnya, lini unggulan sport (S1000RR dan M1000RR) mengalami rendahnya kesadaran top-of-mind dan kanibalisasi internal, meskipun memiliki teknologi produk yang unggul dan warisan merek global. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif-deskriptif untuk merumuskan strategi Komunikasi Pemasaran Terpadu (IMC) yang baru. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan pemangku kepentingan internal utama (General Manager, Penjualan, dan Pemasaran) dan wawancara mendalam dengan sepuluh responden eksternal dari target pasar. Data dianalisis menggunakan kerangka kerja strategis termasuk VRIO, Porter’s Five Forces, dan SWOT untuk diagnostik internal, sementara wawasan konsumen eksternal diproses menggunakan analisis tematik NVIVO untuk mengidentifikasi pendorong perilaku. Berdasarkan analisis tersebut, studi ini merancang strategi "Visibilitas Digital & Fisik Aktif" untuk mendisrupsi persepsi pasar dan memprioritaskan kesadaran merek. Strategi yang diusulkan mengintegrasikan empat komponen utama: Visual Decoupling untuk memisahkan identitas sport dari seri petualangan; Program Kemitraan Influencer untuk menembus algoritma sosial dengan konten gaya hidup; pameran Mobile M-Galleryuntuk kesadaran organik di jalanan; dan Open Riding Invasions untuk memanfaatkan bukti sosial (social proof). Rencana IMC terstruktur ini berfungsi sebagai peta jalan untuk meningkatkan kesadaran merek lini motor sport.
ANALISIS INVESTASI DAN MANFAAT EKONOMI DARI STRATEGI DEPRESURISASI UNTUK MENINGKATKAN KESTABILAN LERENG DAN OPTIMASI LERENG TAMBANG BATUBARA
PTBA menetapkan target peningkatan produksi batubara dari 50 juta ton pada tahun 2025 menjadi 100 juta ton pada tahun 2030 untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor, selaras dengan arah strategi manajemen. Namun demikian, kondisi geologi, hidrogeologi, serta keterbatasan ruang pada Pit BU menjadi tantangan yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui evaluasi teknis. Oleh karena itu, diperlukan suatu kajian kelayakan ekonomi yang komprehensif untuk memastikan bahwa strategi operasional yang dipilih layak dijalankan secara finansial dan mendukung tujuan bisnis jangka panjang perusahaan. Dengan mempertimbangkan keterbatasan yang dihadapi PTBA pada Pit BU, penilaian kelayakan investasi berbasis data teknis melalui skenario hipotetis strategi depresurisasi lereng dari perspektif geologi, hidrogeologi, dan perencanaan tambang menjadi aspek yang penting. Kompleksitas evaluasi teknis tersebut memerlukan pendampingan analisis finansial sebagai dasar pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun model finansial menggunakan metode Discounted Cash Flow dengan parameter utama berupa Payback Period, Discounted Payback Period, Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Profitability Index (PI). Selain itu, analisis sensitivitas dan simulasi Monte Carlo dilakukan guna menggambarkan pengaruh fluktuasi pasar dan risiko operasional terhadap kelayakan investasi. Hasil analisis risiko finansial berbasis NPV menunjukkan bahwa strategi depresurisasi (Opsi 2) memberikan potensi finansial yang lebih baik dibandingkan kondisi tanpa depresurisasi (Opsi 1), terutama ditinjau dari hasil base case yang lebih stabil dan tingkat probabilitas kegagalan finansial yang lebih rendah. Meskipun demikian, pada skenario worst case kedua opsi masih menunjukkan potensi ketidaklayakan karena tingginya sensitivitas terhadap harga batubara. Dengan demikian, strategi depresurisasi direkomendasikan sebagai solusi optimasi jangka menengah yang paling layak, disertai dengan evaluasi lanjutan terhadap struktur biaya penambangan, volatilitas harga komoditas, serta potensi strategi hilirisasi untuk memperkuat ketahanan ekonomi proyek di masa mendatang
ANALISIS DAN PERANCANGAN ANTARMUKA PENGGUNA YANG MEMAKSIMALKANPENGALAMAN PEMAIN DALAM GIM OVERWATCH 2
Perancangan antarmuka pengguna (User Interface/UI) dalam gim kompetitif berperan penting dalam menentukan kualitas pengalaman pemain. Overwatch 2 sebagai gim first-person shooter berbasis tim memiliki kompleksitas interaksi yang tinggi, sehingga desain antarmuka yang tidak optimal dapat menimbulkan masalah dalam efektivitas, efisiensi, serta kepuasan pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi antarmuka pengguna pada Overwatch 2, mengidentifikasi permasalahan yang ada, serta merancang solusi desain yang mendukung usability goals dan user experience goals. Metodologi penelitian menggunakan analisis literatur, observasi (non-partisipatif) terhadap perilaku pemain, serta evaluasi berbasis heuristic evaluation. Observasi dilakukan untuk memahami kebutuhan dan tantangan yang dihadapi pemain dalam konteks nyata, sementara evaluasi heuristik digunakan untuk mengidentifikasi permasalahan desain berdasarkan prinsip-prinsip Nielsen. Solusi yang diusulkan dikembangkan melalui pembuatan prototipe lowfidelity dan high-fidelity. Hasil yang dicapai dari penelitian ini adalah rancangan ulang antarmuka pengguna, khususnya pada elemen scoreboard dan HUD, yang lebih informatif, konsisten, serta mendukung kesadaran situasional pemain. Dengan pendekatan ini, penelitian dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan pengalaman bermain dalam Overwatch 2, sekaligus memperkaya kajian akademik terkait desain antarmuka dalam gim kompetitif.
PERAN HUMAS PEMERINTAH DALAM KOLABORASI PEMANGKU KEPENTINGAN UNTUK PARIWISATA BERKELANJUTAN (STUDI KASUS GEOPARK CILETUH-PALABUHANRATU)
Penelitian ini mengkaji peran Government Public Relations (GPR) dalam membentuk kolaborasii pemangku kepentingan dalam tata kelola Ciletuh– Palabuhanratu UNESCO Global Geopark (CPUGGP), Jawa Barat, Indonesia. Sebagai anggota dalam jaringan UNESCO Global Geoparks, CPUGGP secara yuridis dan teoretis dimandatkan untuk berfungsi tidak hanya sebagai destinasi wisata unggulan, tetapi juga sebagai platform pembangunan holistik yang mengintegrasikan konservasi geologi, edukasi lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan melalui pendekatan bottom-up. Terlepas dari legitimasi institusional yang kuat dan struktur tata kelola yang berlapis, CPUGGP menghadapi kesenjangan implementasi yang signifikan dalam menjalankan kolaborasi pemangku kepentingan yang bermakna dan berkelanjutan sebagaimana prinsip dasar dari UNESCO Global Geopark. Temuan awal menunjukkan adanya stagnasi dampak sosial-ekonomi lokal, di mana tingkat keterisian homestay dan inisiatif berbasis masyarakat di area inti menunjukkan tanda-tanda penurunan dibandingkan dengan destinasi non-geopark. Hal ini menunjukkan bahwa branding simbolis saja tidak cukup untuk menghasilkan ketahanan jangka panjang tanpa arsitektur tata kelola yang kuat yang mampu mencetak inovasi baru. Penelitian ini berangkat dari asumsi mendasar bahwa rendahnya tingkat partisipasi pemangku kepentingan tidak disebabkan oleh ketiadaan program atau forum formal, melainkan oleh kegagalan komunikasi strategis untuk berfungsi sebagai instrumen inti tata kelola. Praktik GPR yang ada dalam manajemen Geopark masih terjebak dalam logika administratif yang memprioritaskan visibilitas seremonial dan diseminasi informasi satu arah dibandingkan pembangunan kapasitas relasional. Akibatnya, keterlibatan pemangku kepentingan sering kali terjebak dalam partisipasi yang tidak bermakna yakni partisipasi yang bersifat prosedural dan simbolis. Studi ini berargumen bahwa partisipasi harus didefinisikan ulang melampaui sekadar kehadiran fisik namun tentang penguatan peran para pemangku kepentingan dimulai dari faktor distribusi pengaruh dan kekuatan pengambilan keputusan di seluruh spektrum Pentahelix. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab tiga pertanyaan kritis: (1) memetakan level partisipasi aktor Pentahelix; (2) mengevaluasi efektivitas strategi GPR dalam mendukung tata kelola berkelanjutan; dan (3) mengidentifikasi kesenjangan struktural dan relasional yang menghambat kolaborasi. Untuk memberikan diagnosis yang mendalam, penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, mengintegrasikan wawancara mendalam dengan para aktor kunci, analisis dokumen, dan observasi lapangan. Kerangka analitis menggunakan Spektrum IAP2 (International Association for Public Participation), Matriks partisipasi digunakan untuk memvisualisasikan relasi kekuasaan yang asimetris antara pemerintah, aktor bisnis, akademisi, komunitas, dan media. Temuan mengungkapkan bahwa tata kelola CPUGGP masih bersifat hierarkis secara signifikan. Pemerintah menempati posisi "Empower" yang tersentralisasi, memegang otoritas penuh atas pengambilan keputusan dan sumber daya. Sebaliknya, aktor lain masih berada pada level rendah yakni "Inform" dan "Consult". Akademisi dimanfaatkan terutama sebagai legitimator teknis untuk validasi, bisnis terlibat melalui skema CSR berbasis proyek tanpa integrasi strategis jangka panjang; dan media berfungsi sebagai saluran diseminasi untuk narasi resmi. Komunitas lokal memandang diri mereka sebagai objek, bukan subjek pembangunan. Kondisi ini menghasilkan regresi partisipasi di mana keaktifan para pemangku kepentingan di awal terbentuknya Geopark menurun menjadi keterlibatan yang bersifat episodik dan seremonial. Sebagai solusi bisnis strategis, penelitian ini mengusulkan Pentahelix Orchestration Framework. Kerangka kerja ini dibangun di atas empat pilar: (1) transformasi GPR dari fungsi teknis-administratif menjadi arsitektur tata kelola relasional; (2) pembentukan Storynomics Living Lab sebagai platform penceritaan kreatif bersama; (3) pengembangan Tata Kelola Digital Terintegrasi (Digital Trinitas) untuk memastikan transparansi dan dialog berkelanjutan; dan (4) penerapan Tata Kelola Narasi Strategis untuk menyelaraskan tujuan kolektif. Kontribusi teoretis dari penelitian ini terletak pada reposisi Public Relations sebagai fungsi tata kelola strategis, bukan sekadar peran teknis komunikasi. Secara praktis, penelitian ini memberikan peta jalan bagi pengelola Geopark untuk merancang ulang keterlibatan pemangku kepentingan sebagai proses penghasil nilai. Dengan membingkai ulang partisipasi sebagai dinamika relasi kekuasaan dan penyelarasan narasi, penelitian ini menawarkan model yang dapat direplikasi bagi Geopark lain untuk mencapai pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan sesuai dengan target Pembangunan Berkelanjutan.