📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPENINGKATAN KONVERSI PEMBELIAN PADA PRODUK EKOWISATA DENGAN TINGKAT FAMILIARITAS RENDAH: STUDI KASUS WALKTOFOREST
Ekowisata semakin dipromosikan sebagai alternatif berkelanjutan terhadap pariwisata massal. Namun, di negara dengan keanekaragaman hayati tinggi seperti Indonesia, produk ekowisata tertentu—khususnya birdwatching—masih memiliki tingkat familiaritas dan adopsi yang rendah di pasar domestik. Penelitian ini mengkaji permasalahan bisnis yang dihadapi oleh Walktoforest, sebuah wirausaha sosial di Jawa Barat yang mengintegrasikan konservasi, pemberdayaan masyarakat lokal, dan pariwisata berbasis pengalaman. Meskipun memiliki visibilitas digital yang tinggi, tingkat konversi pemesanan produk birdwatching masih rendah dan berpotensi mengganggu keberlanjutan finansial organisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan pemecahan masalah diagnostik dengan kerangka kerja Pirate Metrics AAARRR (Awareness, Acquisition, Activation, Revenue, Retention, Referral) untuk menganalisis perilaku pelanggan sepanjang funnel digital. Data yang digunakan berupa revealed preference data dari analitik digital internal Walktoforest, meliputi wawasan Instagram, kinerja Meta Ads, log pertanyaan WhatsApp, dan data transaksi dalam periode pengamatan tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya kinerja penjualan tidak disebabkan oleh kualitas produk, harga, atau keterbatasan permintaan pasar, melainkan oleh hambatan adopsi perilaku akibat rendahnya familiaritas pengalaman. Hambatan utama mencakup penghindaran ketidakpastian, persepsi risiko pengalaman, dan kurangnya kejelasan pengalaman pada tahap keputusan. Meskipun tahap Awareness menghasilkan lebih dari 63.000 impresi, penurunan terbesar terjadi antara Activation dan Revenue, sementara tahap pascapengalaman menunjukkan kinerja yang kuat dengan tingkat rujukan sebesar 75%. Penelitian ini mengusulkan strategi optimalisasi funnel berbasis perilaku untuk meningkatkan konversi produk ekowisata niche.
MODEL PERSAMAAN DIFERENSIAL TUNDA DISKRET UNTUK INFLASI DAN PENGANGGURAN DI BRITANIA RAYA
Penelitian ini menganalisis hubungan antara inflasi dan tingkat pengangguran di Inggris menggunakan model Persamaan Diferensial Tunda (PDT) dari Veronika Novotn´a (2013). Tujuan utama adalah mengestimasi parameter-parameter model dengan data CPIH dan tingkat pengangguran UK dari Tahun 2008-2024. Berbagai pendekatan diuji, termasuk penggunaan data mentah dan data yang dihaluskan (smoothing), dengan estimasi parameter melalui regresi linear dan kuadratik, serta prediksi numerik menggunakan metode Euler dan RK4. Hasilnya menunjukkan bahwa model regresi linear lebih stabil dan akurat daripada regresi kuadratik. Menariknya, metode numerik Euler dan RK4 menghasilkan metrik evaluasi yang identik atau sangat mirip, sementara variasi waktu tunda (? ) tidak memiliki dampak signifikan terhadap akurasi model. Secara keseluruhan, model yang dihaluskan (smoothing) dengan jendela data yang lebih pendek cenderung memberikan kinerja prediksi terbaik, menunjukkan bahwa laju perubahan inflasi dan pengangguran dalam model ini sebagian besar didorong oleh konstanta.
EFEK PRETREATMENT LIMBAH SAWIT DENGANCENDAWAN TERHADAP PERFORMA DAN EFISIENSIBIOKONVERSI LARVA LALAT TENTARA HITAM(HERMETIA ILLUCENS)
Bungkil inti sawit (BIS) merupakan salah satu limbah padat dari industri sawit yang memiliki kandungan lignoselulosa tinggi dan berpotensi dimanfaatkan melalui proses biokonversi. Salah satu organisme makro yang memiliki kemampuan biodegradasi tinggi terhadap limbah organik adalah larva lalat tentara hitam (LLTH), Hermetia illucens. Namun demikian, kandungan lignoselulosa yang kompleks pada BIS menjadi hambatan bagi proses biokonversi karena struktur lignin, selulosa, dan hemiselulosa yang sulit diuraikan menyebabkan penurunan ketersediaan nutrien bagi larva. Kondisi ini berdampak langsung pada pertumbuhan larva, efisiensi konversi substrat, dan performa pemeliharaan secara keseluruhan. Tantangan lain yakni saat BIS digunakan dalam metode total feeding system (TFS), yaitu sistem pemberian pakan satu kali di awal, karena kualitas substrat perlu stabil selama masa pemeliharaan. Untuk mengatasi kendala ini, dilakukan pretreatment biologis pada BIS menggunakan tiga jenis cendawan, yaitu Rhizopus oligosporus, Phanerochaete chrysosporium, dan Aspergillus niger, guna meningkatkan kecernaan substrat dan mendukung performa LLTH dalam sistem TFS. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pretreatment substrat berbasis lignoselulosa, dengan bungkil inti sawit (BIS) sebagai material uji, menggunakan cendawan sebagai pakan larva lalat tentara hitam (Hermetia illucens) dalam sistem Total Feeding System (TFS), yang mencakup parameter pertumbuhan, perkembangan, efisiensi konversi larva, efisiensi reduksi substrat, dan kualitas nutrisi biomassa yang dihasilkan. Proses fermentasi dilakukan selama sepuluh hari, kemudian substrat diberikan kepada LLTH berumur enam hari. Lima perlakuan digunakan dalam penelitian, yaitu BIS tanpa fermentasi (NF), BIS fermentasi Rhizopus oligosporus (RO), BIS fermentasi Phanerochaete chrysosporium (PC), BIS fermentasi Aspergillus niger (AN), serta pakan ayam komersial sebagai kontrol positif (K). Parameter yang diamati meliputi perubahan berat dan panjang larva, laju pertumbuhan, GR (growth rate), tingkat kelulushidupan,SR (survival rate), efisiensi konversi pakan (FCR_proxy), efisiensi konversi pakan tercerna (ECD_proxy), indeks reduksi limbah (WRI), serta hasil analisis proksimat pada substrat dan larva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh perlakuan mampu mempertahankan tingkat kelulushidupan LLTH pada kisaran 85,3–91,4%, dengan nilai tertinggi pada perlakuan kontrol positif dan fermentasi A. niger. Pola pertumbuhan larva menunjukkan kurva sigmoidal yang lazim ditemukan pada metode TFS. Perlakuan AN menghasilkan berat akhir dan laju pertumbuhan tertinggi di antara seluruh perlakuan BIS, yakni sebesar 6,42 ± 0,28 mg/larva/hari, mendekati K, sedangkan perlakuan NF menunjukkan laju pertumbuhan terendah 4.81 ± 0.21 mg/larva/hari. Hasil ini didukung oleh analisis proksimat substrat BIS, di mana fermentasi A. niger meningkatkan kadar karbohidrat dan menurunkan lemak juga serat kasar yang didukung oleh aktivitas enzim selulolitik seperti CMCase dan FPase. Perubahan komposisi nutrisi ini memberikan kontribusi terhadap peningkatan kecernaan substrat dan ketersediaan energi bagi larva. Hasil analisis proksimat larva menunjukkan bahwa pretreatment BIS menggunakan cendawan meningkatkan kandungan protein dan asam amino larva dibandingkan dengan kelompok non-fermentasi. Larva AN menunjukkan peningkatan kadar protein (33,82%) dan presentase asam amino lebih tinggi dibandingkan larva NF. Kandungan lemak juga meningkat setelah fermentasi, mengindikasikan peningkatan asimilasi nutrisi. Nilai ECD_proxy meningkat dari 20 ± SE% pada NF menjadi 23 ± SE% pada kelompok AN, dan nilai FCR_proxy lebih rendah pada kelompok AN (4,4 ± SE) dibandingkan kelompok NF (5,2 ± SE). Meskipun nilai WRI pada semua perlakuan BIS relatif rendah (2,3-2,8 %), perlakuan fermentasi secara konsisten menghasilkan degradasi limbah yang lebih tinggi dibandingkan BIS non-fermentasi. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pretreatment BIS menggunakan A. niger memberikan peningkatan signifikan pada performa pertumbuhan LLTH dalam sistem TFS dibandingkan perlakuan cendawan lain. Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan strategi biokonversi limbah lignoselulosa dalam skala industri, serta mendukung pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai sumber daya alternatif yang lebih bernilai di Indonesia. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pretreatment biologis melalui fermentasi cendawan merupakan strategi yang potensial dalam meningkatkan efisiensi biokonversi, stabilitas nutrisi substrat, dan performa larva pada sistem pemberian pakan total.
POTENSI PERDAGANGAN KARBON BERBASIS CO-BENEFITS DI BKPH MANGLAYANG BARAT
Sektor kehutanan berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon. Indonesia menargetkan net sink 140 juta ton CO?e pada 2030 melalui strategi FOLU Net Sink 2030 (KLHK, 2022). BKPH Manglayang Barat memiliki potensi implementasi perdagangan karbon, didukung oleh pendapatan yang didominasi hasil hutan bukan kayu dan ekowisata. Namun, proyek konservasi yang hanya menghitung karbon memiliki keterbatasan. Co-benefits yang mencakup layanan ekosistem, kesejahteraan sosial, dan pembangunan berkelanjutan dapat menjadi solusi lengkap dalam perdagangan karbon. Penelitian ini menganalisis kondisi perubahan karbon, profil co-benefits (biodiversitas, hidrologi, sosial-ekonomi), zonasi prioritas implementasi, dan proyeksi pendapatan dari penjualan kredit karbon di BKPH Manglayang Barat. Analisis karbon menggunakan Framework Comprehensive Assessment dan Land Use Land Cover approach. Co-benefits dianalisis melalui species richness (biodiversitas), Annual Water Yield (hidrologi), dan luas-kepadatan penduduk desa (sosial-ekonomi). Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) membobotkan ketiga co-benefits untuk integrasi dengan zonasi prioritas karbon. Proyeksi pendapatan dihitung dari kredit karbon dengan berbagai skenario harga. Hasil menunjukkan perubahan karbon BKPH Manglayang Barat stabil dengan laju sekuestrasi 0,75 tC/ha/tahun dan total kredit karbon 2.305-11.110 tCO?/tahun. Berdasarkan distribusi species richness, kawasan ini direkomendasikan menjadi empat zona pengelolaan, yaitu Zona Konservasi Prioritas I, Zona Konservasi Prioritas II, Zona Restorasi, dan Zona Investigasi. Zonasi ini bertujuan untuk mengarahkan perlindungan ketat, pemanfaatan terbatas, upaya pemulihan habitat, serta kebutuhan studi lanjutan. Dari jasa hidrologi, BKPH Manglayang Barat menghasilkan aliran air tahunan rata-rata 126,81 mm/tahun atau 5,24 juta m3/tahun yang berperan dalam stabilitas aliran, pengendalian banjir, dan ketersediaan air musim kering. Berdasarkan variasi kategori aliran air, kawasan ini dibagi menjadi Zona Konservasi, Zona Pemanfaatan Berkelanjutan, dan Zona Restorasi. Ketiga zona tersebut mengarahkan strategi perlindungan, pemanfaatan, dan pemulihan aliran serta fungsi hidrologi jangka panjang. Integrasi data persentase luas desa dalam BKPH Manglayang Barat dan kepadatan penduduk menghasilkan skor prioritas sosial-ekonomi yang menggambarkan tingkat ketergantungan dan tekanan potensial masyarakat terhadap kawasan BKPH. Dari 19 desa terdapat lima desa yang memiliki luas dalam BKPH yang signifikan dan kepadatan penduduk tinggi, sedangkan yang lainnya termasuk kategori sedang dan rendah. Masing-masing kategori diarahkan pada strategi pengelolaan yang berbeda, mulai dari pemberdayaan ekonomi, penguatan kesadaran, sampai monitoring lingkungan. Skema implementasi perdagangan karbon dibagi ke dalam empat zona prioritas yang membedakan fokus intervensi, mulai dari perlindungan kawasan dengan stok karbon tinggi, peningkatan stok melalui restorasi dan agroforestri, pengembangan zona riset dan pilot metodologi, hingga penguatan kapasitas sosial masyarakat. Proyeksi pendapatan karbon dasar mencapai Rp207.360.000-Rp999.900.000/tahun, sementara itu dengan co-benefits mencapai Rp10.824.870-Rp1.559.309.400/tahun.
ANALISIS TEKNO-EKONOMI IMPLEMENTASI CO-FIRING MIKROALGA (CHLORELLA VULGARIS) DALAM SKEMA KARBON SIRKULAR PADA PLTU 350 MW
Penelitian ini mengkaji jalur dekarbonisasi berbasis mikroalga pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara 350 MW dalam kerangka karbon sirkular, di mana sebagian CO2 gas buang dimanfaatkan untuk budidaya Chlorella vulgaris dan biomassa yang dihasilkan digunakan sebagai bahan bakar co-firing. Model tunak Aspen Plus yang dikalibrasi pada kondisi turbine maximum continuous rating (TMCR) digunakan untuk membandingkan dua konfigurasi dengan masukan panas boiler dijaga konstan: Skenario 1, co-firing menggunakan serbuk kayu dan mikroalga kering; sedangkan Skenario 2, co-firing menggunakan serbuk kayu dan amonia yang diproduksi dari mikroalga melalui proses gasifikasi dan sintesis. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kinerja termal boiler meningkat secara moderat pada kedua skenario co-firing, dengan efisiensi naik dari 85.60% menjadi 85.86% dan 86.99% masing-masing untuk Skenario 1 dan 2, terutama akibat berkurangnya kehilangan panas melalui gas buang kering dan kelembapan. Namun, pada tingkat pembangkit secara keseluruhan, kinerja menurun dikarenakan kebutuhan daya parasitik untuk proses kultivasi, pemanenan, pengeringan, dan—pada Skenario 2—kompresi serta pemisahan udara, sehingga menurunkan daya bersih yang dihasilkan dan meningkatkan net heat rate. Meskipun terdapat penalti tersebut, intensitas emisi CO2 spesifik menurun dari 0.64 kgCO2/kWh (baseline) menjadi masing-masing 0.60 dan 0.54 kgCO2/kWh pada Skenario 1 dan 2. Indikator karbon sirkular meningkat seiring integrasi sistem; indeks resirkulasi CO2 naik dari 16.73% menjadi 32.97%, meskipun dengan kebutuhan skala lahan dan air make-up yang signifikan. Kajian tekno-ekonomi menunjukkan bahwa kelayakan sangat dipengaruhi oleh produktivitas kolam. Pada produktivitas realistis 8.56 g/m2/d, kedua skenario belum menunjukkan keekonomian yang memadai; sedangkan pada produktivitas optimistis 20 g/m2/d, Skenario 1 menjadi cukup kompetitif secara ekonomi, sementara Skenario 2 tetap layak tetapi memerlukan investasi modal yang besar. Analisis ini mengungkap trade-off penting: konsumsi daya parasitik mendominasi neraca energi keseluruhan dan mengimbangi peningkatan efisiensi di tingkat boiler. Dengan demikian, kelayakan implementasi ditentukan oleh kombinasi produktivitas kolam yang tinggi dan mekanisme kebijakan yang tepat untuk mengimplementasikan sistem sirkular karbon.
PENGEMBANGAN AKSELERATOR RISC-V Q-LEARNING BERBASIS ALGORITMA RBED+ DENGAN TEKNIK PARALELISASI SPASIAL
Tesis membahas upaya pengembangan lanjut akselerator Q-Learning yang terintegrasi dengan inti Veer EL2. Pengembangan dilakukan melakukan modifikasi pada perangkat lunak dan keras. Modifikasi perangkat lunak dilakukan dengan mengembangkan metode pemilihan kebijakan yang awalnya menggunakan ?- greedy policy menjadi Epsilon Decay yang dapat memprioritaskan antara eksplorasi dan eksploitasi pada waktu yang sesuai. Diterapkan pula RBED+, yang menyesuaikan ? setiap kali agen mendapatkan imbalan kumulatif yang cukup dan saat agen mencapai tujuan. Modifikasi perangkat keras dilakukan dengan melakukan paralelisasi spasial pada akselerator untuk mempercepat proses QLearning. Pengetesan dilakukan pada dua tahap: pengetesan kebijakan, dan pengetesan perangkat keras dan lunak. Pengetesan kebijakan membandingkan QLearning yang menggunakan ?-greedy policy dengan Epsilon Decay (eksponensial, linear, RBED+). Pengetesan umum membandingkan performa Q-Learning terhadap akselerator dan kebijakan yang berbeda pada berbagai skala. Hasil menunjukkan bahwa Exponential Epsilon Decay dan RBED+ dapat mencapai konvergensi imbalan kumulatif dalam waktu tercepat. Terlihat pula bahwa jumlah total aksi yang agen perlu lakukan lebih kecil ketika kedua strategi tersebut diimplementasikan. RBED+ yang bergantung pada performa, dapat meningkatkan peluruhan dari 0.9898 menjadi 0.97364 tanpa adanya degradasi kualitas yang terlihat. Akan tetapi, waktu rata-rata Q-Learning RBED+ masih berada di bawah ?- greedy (0.2). Salah satu kemungkinan adalah karena implementasi RBED+ yang lebih kompleks sehingga memperlambat program. Hasil tes perangkat keras dan lunak menunjukkan bahwa Q-Learning dengan RBED+ menunjukkan performa terbaik, kecuali saat skala terbesar yang menggunakan akselerator. RBED+ juga memiliki hasil stabil tanpa divergensi, dibandingkan strategi lain yang menghasilkan 5-22.5% divergen. Desain akselerator baru tidak dapat menghasilkan peningkatan di atas 1%, karena percepatan dari paralelisasi jauh lebih kecil dari durasi Q-Learning secara keseluruhan. Akan tetapi, ditemukan adanya perbedaan performa akselerator terhadap strategi berdasarkan fokus pada eksploitasinya.
ANALISA INTEGRITAS DAN KEEKONOMIAN SUMUR: KOMPLESI MONOBORE SUMUR “HD”
Biaya operasi pemboran dan komplesi merupakan komponen biaya tertinggi dibandingkan dengan kegiatan operasional lainnya. Terdapat sekitar 70% dari belanja modal dialokasikan untuk kegiatan tersebut. Kondisi ini mendorong operator minyak dan gas untuk melakukan inovasi guna menekan biaya tersebut, salah satu inovasi tersebut adalah melalui upaya mengurangi waktu tidak produktif dalam suatu operasi. Salah satu waktu tidak produktif dalam suatu operasi adalah waktu penggunaan rig. Komplesi monobore merupakan desain penyelesaian sumur yang menggunakan internal diameter tubing yang sama dari bawah permukaan hingga permukaan. Desain yang lebih sederhana menjadikan metode ini lebih mudah untuk melakukan intervensi sumur dan stimulasi tanpa memerlukan rig pengeboran sehingga berdampak lansung pada pengurangan biaya operasional hingga 25 – 40%. Konsep komplesi monobore telah diterapkan secara luas pada operator migas baik pada lingkungan lepas pantai maupun darat, akan tetapi hingga saat ini penerapan monobore lebih diaplikasikan pada sumur baru atau operator melakukan pergeseran strategi dari yang sebelumnya menggunakan komplesi konvensional menjadi monobore. Oleh sebab itu, pada studi ini akan melakukan penelitian terhadap penerapan komplesi monobore pada sumur eksisting, mulai dari integritas sumur yang meliputi aspek beban burst, collapse, aksial, dan triaksial. Selain itu, analisis nodal dan keekonomian sumur juga akan dikaji. Kesimpulan dari hasil penelitian adalah pemodelan mampu memenuhi faktor keamanan minimum untuk semua skenario beban tertentu. Dan dari segi keekonomian, total biaya yang dibutuhkan pada jenis komplesi monobore terbukti lebih rendah dibandingkan dengan desain komplesi konvensional. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pertimbangan pada operator minyak dan gas dalam menerapkan strategi penyelesaian sumur, khususnya untuk memaksimalkan produksi dengan mempertimbangkan biaya operasional.
MODEL PENGENDALIAN PERSEDIAAN UNTUK PRODUK YANG MENGALAMI DETERIORASI DENGAN PERMINTAAN PROBABILISTIK DI BAWAH KEBIJAKAN PENUNDAAN PEMBAYARAN DAN KENDALA ANGGARAN
Pengelolaan persediaan untuk produk yang mengalami deteriorasi menjadi semakin kompleks ketika pelaku usaha menghadapi permintaan yang bersifat tidak pasti (probabilistik), kebijakan penundaan pembayaran dari pemasok, serta kendala anggaran. Dalam praktik bisnis ritel dan distribusi, keputusan persediaan masih sering didasarkan pada pendekatan heuristik, yang berpotensi menyebabkan tingginya biaya persediaan, terjadinya kekurangan stok, serta inefisiensi finansial. Sejalan dengan karakteristik permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model sistem pengendalian persediaan probabilistik bagi produk deteriorasi dalam satu kerangka pengambilan keputusan yang terintegrasi. Model yang diusulkan diformulasikan dalam kerangka optimasi dengan tujuan meminimalkan total biaya persediaan per unit waktu, yang mencakup biaya pemesanan, biaya penyimpanan, biaya deteriorasi, biaya kekurangan persediaan, biaya simpan finansial, serta bunga yang diperoleh dengan tetap mempertimbangkan penentuan ukuran lot pemesanan optimal, cadangan pengaman, dan titik pemesanan ulang secara simultan. Metode pengumpulan data dilakukan melalui studi lapangan pada satu pelaku usaha ritel dan distribusi, meliputi wawancara serta data sekunder berupa data historis permintaan dan parameter operasional yang digunakan sebagai input numerik dalam analisis model pada kedua skenario pembayaran. Penelitian ini mempertimbangkan dua skenario pembayaran, yaitu ketika periode pembayaran terjadi sebelum persediaan habis (M ? T) dan ketika periode pembayaran melebihi panjang siklus persediaan (M ? T). Pada skenario M ? T, diperoleh ukuran lot pemesanan optimal sebesar 448 unit, dengan cadangan pengaman sebesar 23 unit dan titik pemesanan ulang sebesar 38 unit. Sementara itu pada skenario M ? T total biaya persediaan menjadi lebih minimum dengan rekomendasi ukuran lot pemesanan optimal sebesar 483 unit, serta cadangan pengaman dan titik pemesanan ulang yang sama. Dibandingkan dengan kebijakan persediaan eksisting, model yang diusulkan mampu menurunkan total biaya persediaan sebesar 12,47% pada skenario M ? T dan 14,75% pada skenario M ? T. Temuan penelitian menegaskan pentingnya integrasi antara keputusan operasional persediaan dan kebijakan pembayaran kepada pemasok dalam meningkatkan efisiensi sistem persediaan, sekaligus menghasilkan kebijakan yang optimal secara matematis dan aplikatif secara bisnis
PERANCANGAN STRATEGI ADOPSI PENGGUNAAN UNBUNDLED RENEWABLE ENERGY CERTIFICATE BERDASARKAN FAKTOR PENDORONG DAN PENGHAMBAT PADA SEKTOR INDUSTRI GARMEN DAN ALAS KAKI DI PROVINSI JAWA TENGAH
Industri garmen dan alas kaki adalah salah satu sektor utama dalam ekspor di Indonesia namun juga menjadi kontributor emisi yang signifikan. Kedua industri tersebut menghadapi tekanan untuk mengurangi karbon dalam operasi perusahaan. Berkaitan dengan hal tersebut, Renewable Energy Certificate (REC) yang diterbitkan PLN hadir sebagai instrumen fleksibel untuk klaim penggunaan EBT. Namun, penggunaan REC di sektor-sektor prioritas di Jawa Tengah masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor pendorong dan penghambat adopsi EBT melalui REC di level mikro, menganalisis interaksi level makro dan meso dalam membentuk dinamika tersebut, serta merumuskan strategi peningkatan adopsi REC yang kontekstual bagi PLN. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus multi-kasus. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 12 perusahaan sektor alas kaki dan garmen yang dipilih berdasarkan status adopsi EBT dan pembelian REC. Analisis data dilakukan menggunakan thematic analysis dan dilanjutkan dengan cross-case analysis untuk mengidentifikasi pola dan perbedaan. Temuan penelitian mengonfirmasi menemukan bahwa buyer internasional adalah pendorong utama yang mampu mengatasi hambatan mikro seperti biaya tinggi. Secara khusus, adopsi REC terhambat oleh persepsinya sebagai biaya tambahan tanpa manfaat finansial langsung, kurangnya pengetahuan teknis, dan adanya persepsi legitimasi. Dinamika ini dibentuk oleh interaksi tekanan makro dari buyer menciptakan legitimasi, sementara variasi sumber daya di level meso seperti keuangan dan pengetahuan menyaring respon, menjelaskan mengapa perusahaan dengan sumber daya kuat memilih PLTS Atap sedangkan yang terbatas memilih REC. Berdasarkan analisis tiga level yaitu makro-meso-mikro, disimpulkan bahwa strategi peningkatan adopsi REC bagi PLN harus bersifat multilevel, terintegrasi, dan berurutan. Strategi tersebut mencakup pembangunan legitimasi melalui ko-kreasi regulasi dan diplomasi di level makro, segmentasi pasar berbasis sumber daya di level meso, serta intervensi di level mikro untuk mengubah persepsi nilai dan menyederhanakan akses. Implikasinya, PLN perlu bertransformasi dari seller menjadi market builder, didukung oleh percepatan regulasi pemerintah dan peningkatan kapabilitas industri.
MENINGKATKAN KEPUASAN PENGALAMAN PELANGGAN DAN EFISIENSI OPERASIONAL MELALUI INOVASI MODEL BISNIS DENGAN PENDEKATAN DESIGN THINKING PADA SALEEYA FLORIST
Industri florikultura di Indonesia merupakan bagian dari sektor ekonomi kreatif yang terus berkembang. Permintaan tidak hanya dipicu oleh acara tradisional seperti pernikahan dan wisuda, tetapi juga oleh perubahan gaya hidup generasi milenial dan Gen Z. Bunga kini dipandang sebagai medium ekspresi diri, personal branding, dan estetika gaya hidup. Di Bandung, yang dikenal dengan ekosistem ekonomi kreatifnya, Saleeya Florist berdiri pada tahun 2023 dengan konsep unik Omakase, di mana pelanggan mempercayakan sepenuhnya desain rangkaian bunga kepada florist. Konsep ini membedakan Saleeya dari florist konvensional, namun juga menghadirkan tantangan yang menghambat pertumbuhan berkelanjutan. Tiga isu utama yang muncul adalah: pertama, banyak pelanggan kesulitan mengungkapkan preferensi mereka, sehingga terjadi kesenjangan antara ekspektasi dan hasil rangkaian. Kedua, ketergantungan pada pekerja paruh waktu tanpa pelatihan terstruktur atau alur kerja yang jelas menimbulkan inkonsistensi kualitas layanan, terutama pada musim sibuk. Ketiga, bisnis masih sangat bergantung pada puncak musim tertentu seperti Hari Valentine atau periode wisuda, yang mengakibatkan pendapatan tidak stabil dan sulit untuk ditingkatkan skala pertumbuhannya. Tantangan yang saling terkait ini menegaskan perlunya proses inovasi yang terstruktur, yang mampu menyeimbangkan kreativitas, kepercayaan pelanggan, dan efisiensi operasional. Penelitian ini menggunakan Design Thinking sebagai pendekatan metodologis utama dan Business Model Innovation (BMI) sebagai kerangka konseptual. Design Thinking, melalui tahapan iteratif—empathize, define, ideate, prototype, dan test— menyediakan proses berpusat pada manusia untuk mengidentifikasi masalah dan menciptakan solusi. Sementara itu, BMI yang dioperasionalkan melalui Business Model Canvas (BMC) serta pola disrupsi dari The Invincible Company (Osterwalder et al., 2020), memungkinkan konfigurasi ulang secara sistematis pada elemen frontstage (value proposition, customer segments, channels, relationships) maupun backstage (resources, activities, partnerships). Integrasi kedua kerangka ini memastikan solusi yang dihasilkan berorientasi pelanggan, layak secara operasional, dan berkelanjutan secara strategis. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pelanggan, wawancara internal dengan staf, observasi proses pemesanan melalui WhatsApp dan Instagram, serta benchmarking dengan florist dan dekorator acara lain. Analisis data dilakukan menggunakan empathy mapping dan business model mapping. Pendekatan multimethod ini memberikan pemahaman holistik atas pengalaman pelanggan dan praktik operasional, sehingga temuan yang dihasilkan kaya akan wawasan sekaligus relevan secara praktis. Hasil penelitian diharapkan mencakup tiga capaian utama: meningkatnya kepuasan pelanggan melalui alat yang lebih baik untuk menangkap preferensi dan komunikasi yang transparan, konsistensi operasional yang lebih terjamin melalui alur kerja terstruktur dan manajemen pekerja paruh waktu, serta pendapatan yang lebih stabil melalui diversifikasi layanan seperti workshop, langganan korporat, dan kolaborasi acara. Kontribusi penelitian ini terletak pada kemampuannya menunjukkan bagaimana bisnis kreatif skala kecil dapat mengintegrasikan Design Thinking dan BMI untuk menjawab tantangan umum dalam pengalaman pelanggan dan operasional. Secara konseptual, studi ini memperlihatkan bagaimana riset berorientasi empati dapat diterjemahkan menjadi inovasi model bisnis yang nyata. Secara praktis, penelitian ini menawarkan strategi yang jelas bagi Saleeya Florist untuk membangun ketahanan dan skalabilitas di industri yang kompetitif dan musiman.
DINAMIKA PENGARUH PENYINARAN GROW LIGHT - LED (LIGHT EMITTING DIODE) PADA SISTEM PRODUKSI BABY LEAF TERHADAP HASIL PERTUMBUHAN TANAMAN SELADA OAKLEAF HIJAU (LACTUCA SATIVA L. VAR. CRISPA)
Urban farming dengan budidaya sayuran merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi keterbatasan lahan pertanian dan menciptakan kondisi penanaman yang lebih stabil, sekaligus meningkatkan konsumsi sayuran serta kemandirian pangan masyarakat perkotaan. Selada (Lactuca sativa) sebagai sayuran yang kaya akan nutrisi berpotensi untuk dibudidayakan sebagai baby leaf, yaitu sayuran daun muda yang dipanen pada tahap awal pertumbuhan dengan kandungan gizi yang tinggi. Baby leaf merupakan istilah komersial untuk sayuran berdaun yang dipanen dan dijual pada tahap awal pertumbuhan, lengkap dengan tangkai daunnya. Pada studi yang ada sebelumnya, ditemukan bahwa paparan sinar dari LED dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman seperti pemanjangan batang, akumulasi klorofil, dan perluasan daun. Akan tetapi, perlakuan optimal sinar dari LED bagi baby leaf selada oakleaf hijau belum diidentifikasi. Dalam penelitian ini, baby leaf selada akan diberikan perlakuan waktu penyinaran yang berbeda-beda untuk diselidiki pertumbuhan yang optimal untuk budidaya selada. Penyinaran terdiri dari lima perlakuan yang berbeda: kontrol 24 jam dengan penyinaran matahari, 12 jam dengan penyinaran lampu LED dengan nilai DLI 7,78 mol m?² d?¹, 16 jam dengan penyinaran lampu LED dengan nilai DLI 10,37 mol m?² d?, 20 jam dengan penyinaran lampu LED dengan nilai DLI 12,96 mol m?² d?, dan 24 jam dengan penyinaran lampu LED dengan nilai DLI 15,56 mol m?² d?. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan lima perlakuan dan lima ulangan. Parameter pertumbuhan yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, lebar daun, luas daun, bobot basah, bobot kering, kadar air, shoot-root ratio, kandungan klorofil, kandungan vitamin c, dan kandungan karotenoid. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan metode analysis of variance (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95% dan hasil yang berbeda signifikan diuji lanjut menggunakan metode Duncan dengan taraf 5%. Berdasarkan hasil yang didapatkan dalam penelitian ini, durasi penyinaran 20 jam menghasilkan efek positif terbaik pada tanaman baby leaf selada oakleaf hijau (Lactuca sativa var. crispa) diantara perlakuan durasi penyinaran lainnya dalam meningkatkan tinggi tanaman sebesar 106,41% (10,3 ± 1,36); luas daun sebesar 41,85% (22,47 ± 8,09); karotenoid sebesar 40,15% (74,7 ± 17,2); lebar daun sebesar 15,15% (3,8 ± 0,21); bobot basah total sebesar 12,96% (1,412 ± 0,8); kadar air sebesar 12,15% (91,01 ± 2,25); jumlah daun sebesar 10,14% (7,93 ± 0,86) dibandingkan pada sinar matahari (kontrol). Efek negatif penyinaran LED pada tanaman baby leaf selada oakleaf hijau (Lactuca sativa var. crispa) memberikan pengurangan vitamin c sebesar 23,52%; bobot kering total sebesar 5,10% dibandingkan pada sinar matahari (kontrol).
ANALISIS PENGARUH LOKASI PENEMPATAN SENDI PLASTIS PADA BALOK TERHADAP LEVEL KINERJA GEDUNG BAJA EKSISTING DENGAN METODE NLTHA
Identifikasi aktivitas sesar aktif di wilayah daratan DKI Jakarta, khususnya Sesar Baribis-Kendeng, serta pemutakhiran peta sumber gempa nasional dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah paradigma risiko seismik terhadap infrastruktur perkotaan. Gedung baja eksisting yang didesain berdasarkan peraturan lama memerlukan evaluasi mendalam untuk memastikan ketahanannya terhadap peningkatan seismic demand terbaru. Salah satu parameter kritis dalam analisis nonlinear gedung baja adalah pemodelan sendi plastis pada elemen balok, yang secara teoritis menentukan pola disipasi energi dan mekanisme keruntuhan struktur secara keseluruhan. Penelitian ini difokuskan pada analisis level kinerja gedung baja eksisting setinggi 49,5 meter di DKI Jakarta dengan mempertimbangkan variasi lokasi penempatan sendi plastis pada elemen balok guna mendapatkan prediksi mekanisme kerusakan yang lebih akurat. Metodologi penelitian ini dilakukan melalui simulasi numerik berbasis Nonlinear Time History Analysis (NLTHA). Sebagai input beban dinamik riwayat waktu, digunakan 11 pasangan rekaman gempa asli yang telah melalui proses spectral matching dan disesuaikan dengan orientasi Rotational Doubleperiod 100 (RotD100) sesuai standar ASCE 7-16 untuk menangkap respon amplifikasi maksimum arah horizontal. Evaluasi dilakukan pada dua model komparatif, yaitu Model A dengan penempatan sendi plastis pada muka kolom dan Model B dengan penempatan sendi plastis pada jarak dua kali tinggi efektif kolom dari muka kolom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun pemutakhiran parameter kegempaan tahun 2024 meningkatkan beban seismik pada struktur, gedung eksisting tersebut masih memiliki kapasitas cadangan yang memadai dan masih memenuhi kriteria aman yang disyaratkan dalam SNI 1726:2019. Model B terbukti memberikan hasil yang lebih unggul dalam memprediksi perlindungan zona sambungan kritis melalui mekanisme disipasi energi yang lebih stabil dibandingkan Model A. Urutan pelelehan elemen secara konsisten dimulai dari elemen balok (first yield), yang mengonfirmasi pemenuhan kriteria Strong Column-Weak Beam (SCWB) aktual sehingga risiko keruntuhan tingkat (story collapse) dapat dihindari. Berdasarkan kriteria penerimaan komponen yang ditetapkan dalam ASCE 41-17, level kinerja global gedung berada pada kategori Life Safety (LS). Dengan demikian, gedung baja eksisting tersebut disimpulkan masih aman dan layak beroperasi tanpa memerlukan perkuatan struktur terhadap ancaman gempa terbaru.
ANALISIS TUMPUKAN TOLERANSI PADA MESIN CNC BENCH LATHE 2 AXIS
Mesin CNC bench lathe 2 axis adalah mesin perkakas berukuran compact yang dituntut memiliki tingkat keakurasian geometrik yang tinggi sebagaimana mesin perkakas atau mesin CNC bubut lainnya. Akurasi geometrik mesin sangat berpengaruh terhadap kualitas hasil permesinan, sehingga perlu dilakukan pengujian keakurasian geometrik berdasarkan standar ISO 1708:1989. Pengujian ini dilakukan terhadap dua puluh kriteria pengujjian, hasilnya adalah sembilan belas dari dua puluh pengujian yang dilakukan tidak memenuhi batas toleransi yang diizinkan, hal ini menunjukan bahwa mesin tidak lolos standar dan perlu dilakukan redesign karena kondisi mesin yang tidak bisa dilakukan adjustment. Hal tersebut diduga karena adanya permasalahan pada dimensi dan toleransi geometrik komponen penyusun mesin yang berpengaruh terhadap akurasi keseluruhan hasil perakitan karena seluruh toleransi komponen mesin tersebut menggunakan toleransi umum pada saat proses perancangannya. Untuk mengatasi masalah tersebut, analisis tumpukan toleransi diperlukan agar setiap komponen memiliki toleransi yang tepat dan sesuai sehingga ketika dilakukan redesign, rework, dan reassembly pada mesin, hasil pengujian ulang geometri berdasarkan ISO 1708, mesin akan memenuhi standar. Analisis tumpukan toleransi sudah dilakukan dan analisis ini diawali dengan identifikasi fitur pada setiap komponen mesin, kemudian pembuatan Liaison Diagram, kemudian penentuan key characteristic yang diadaptasi dari ISO 1708. Pada saat tahap analisis, terdapat enam key characteristic (KC) yang digunakan yang masing-masing diambil dari pengujian geometrik G2, G6, G7, G10, G11, dan G13. Hasil akhir dari penelitian ini berupa penentuan nilai toleransi geometri dan dimensi yang diperlukan pada setiap fitur komponen. Dengan demikian, gambar produksi yang dihasilkan telah dilengkapi spesifikasi toleransi dimensi dan geometrik, sehingga mesin yang dirancang memiliki kualitas geometrik yang memadai dan memenuhi persyaratan standar ISO 1708.
PENGEMBANGAN APLIKASI ANDROID UNTUK KLASIFIKASI GAMBAR ANIME BERBASIS DEEP LEARNING DALAM MEMBEDAKAN GAMBAR MANUAL BUATAN ILUSTRATOR DENGAN GAMBAR BUATAN AI
Artificial intelligence (AI) sudah mampu menghasilkan gambar, khususnya gambar ilustrasi anime/gambar anime. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terkait isu hak cipta yang merugikan illustrator karena gambar anime oleh AI begitu mirip dengan gambar ilustrator secara manual. Kusuma dkk. (2024) dan Johan dkk. (2025) melakukan penelitian terkait masalah ini dengan memanfaatkan model MobileNet. Zhu dkk. (2025) mengembangkan model khusus dengan dataset generator gambar anime. Namun, belum ada implementasi dalam bentuk aplikasi android yang dinilai lebih praktis digunakan. Aplikasi android klasifikasi gambar anime dibangun dengan model MobileNetV3Large sebagai basis model. Model tersebut dilatih dengan total 5597 gambar ilustrasi bergaya anime dengan teknik single splitting per labelnya dengan rasio 60:20:20 untuk data latih, validasi, dan uji. Dataset diambil hampir seluruhnya dari dataset yang digunakan Zhu dkk. (2025) dan sumber terbuka seperti Kaggle. Model yang dilatih mampu mencapai hasil akurasi 90.09%. Lalu, konversi dan kuantisasi model dilakukan agar model dapat digunakan di aplikasi android. Model versi INT8 digunakan setelah mengungguli model versi FLOAT32 dalam akurasi dan ukuran model dengan masing-masing nilai 90.18% dan 6.94 MB. Waktu inferensi model INT8 mencapai 0.0197 detik, 0.0007 detik lebih lambat dari model FLOAT32. Namun, dataset yang digunakan masih imbalanced dengan jumlah gambar bertipe pemandangan, chibi, dan gambar berwarna hitam-putih masih sedikit pada dataset sehingga dibutuhkan penambahan dataset yang dapat dilakukan dengan data augmentation. Penambahan dataset juga dibutuhkan untuk penambahan data uji di luar domain dataset yang ada untuk memvalidasi keandalan model dari segi akurasi. Klasifikasi gambar anime ini juga belum menerapkan fitur visualisasi area yang menentukan hasil klasifikasi gambar seperti Grad-CAM. Aplikasi masih belum memiliki fitur feedback pengguna berdasarkan hasil klasifikasi serta penerapan federated learning berdasarkan feedback tersebut. Kata kunci: klasifikasi, gambar anime, MobileNet, artificial intelligence, ilustrator
ANALISIS LINE OF SIGHT DISPLACEMENT TEKNIK QUASI-PS INSAR DARI CITRA SENTINEL-1A PADA AREA VEGETASI PADAT DAN TOPOGRAFI KOMPLEKS, CASE STUDY: LAPANGAN GEOTERMAL ULUMBU
Lapangan Geotermal Ulumbu memiliki potensi sekitar 40 MWe namun baru termanfaatkan ±25%, sehingga masih terdapat peluang eksplorasi lebih lanjut dengan zona permeabel sebagai target utama. Analisis standar deviasi laju deformasi vertikal berbasis InSAR merupakan pendekatan yang relevan pada tahap eksplorasi, karena perubahan deformasi dapat mencerminkan aktivitas rekahan dan dinamika tekanan fluida. Vegetasi padat serta topografi kompleks di Ulumbu menimbulkan temporal decorrelation, namun kombinasi teknik Quasi PS InSAR dan integrasi data geosains tetap mampu mengekstraksi informasi deformasi yang diperlukan untuk mempersempit penelusuran zona permeabel . Dataset penelitian terdiri atas 40 citra Sentinel 1A orbit ascending dan 40 descending. Pemrosesan Quasi PS InSAR meliputi seleksi kandidat persistent scatterer (PS) berbasis stabilitas amplitudo dan koherensi temporal, disertai dekomposisi laju deformasi line of sight (LOS) menjadi komponen vertikal dan horizontal. Hasil deformasi vertikal kemudian diintegrasikan dengan peta Fault Fracture Density (FFD), NDVI, struktur geologi, seismisitas mikro, serta rasio Na/Ca untuk memperkuat interpretasi zona permeabel sebagai jalur fluida geotermal mengalir. Hasil menunjukkan bahwa Quasi PS InSAR efektif pada kondisi koherensi parsial, menghasilkan distribusi PS yang memadai dengan hasil pemodelan presisi dengan standar deviasi <2 mm. Integrasi data mengidentifikasi Lungar sebagai zona permeabel utama, ditandai oleh standar deviasi deformasi vertikal ±11,5 mm/tahun, nilai FFD >670 m/km², serta karakter upflow yang selaras dengan trajektori sumur ULB E1 yang menjadi rekomendasi kajian sebelumnya. Pada Wewo, hasil penelitian juga mengarah ke zona permeabilitas sesuai trajektori sumur ULB 02 yang telah terbukti mendukung produksi PLTP. Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi Quasi PS InSAR dan data geosains efektif memperkecil radius penelusuran zona prospek geotermal di Ulumbu.