📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

ANALISIS FAKTOR PENYEBAB UNSAFE ACTION PEKERJA KONSTRUKSI GEDUNG PADA PERUSAHAAN ”PT X” BUMN JASA KONSTRUKSI

Industri konstruksi gedung bertingkat merupakan salah satu sektor dengan tingkat risiko kecelakaan kerja tertinggi, di mana berbagai insiden yang tercatat di lapangan menunjukkan bahwa perilaku tidak aman (unsafe action) menjadi pemicu utama terjadinya kecelakaan. Pada proyek konstruksi gedung PT “X”, pola kecelakaan yang berulang selama beberapa tahun terakhir mengindikasikan bahwa tindakan tidak aman masih muncul dalam berbagai bentuk, meskipun perusahaan telah menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) dan Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK). Fakta ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pengaturan keselamatan dalam dokumen formal dan perilaku aktual pekerja. Kondisi tersebut menegaskan perlunya kajian komprehensif untuk memahami bentuk unsafe action yang terjadi serta faktor-faktor penyebab yang memengaruhi perilaku tersebut. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi unsafe action yang sering muncul pada proyek konstruksi gedung skala besar, menentukan indikator penyebab dominan berdasarkan empat perspektif utama: kondisi objektif, manajemen keselamatan, persepsi individu, dan pengaruh kelompok, serta merumuskan rekomendasi penguatan RKK melalui optimasi program yang sudah berjalan dan pengembangan program baru agar lebih efektif dalam mengendalikan risiko perilaku pekerja. Rumusan tujuan ini disusun untuk menjawab kebutuhan industri konstruksi akan pemahaman yang lebih mendalam terkait akar penyebab perilaku tidak aman, sehingga upaya mitigasi risiko dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran dan berkelanjutan. Metode penelitian meliputi studi literatur, validasi indikator oleh lima ahli K3 konstruksi, kuesioner pilot study, dan pengumpulan data utama melalui kuesioner. Responden terdiri dari 178 pekerja yang mengisi kuesioner cetak dan 119 personel manajemen proyek yang mengisi melalui Google Forms. Uji validitas dan reliabilitas menunjukkan bahwa seluruh instrumen layak digunakan dengan nilai Cronbach’s Alpha >0,7. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan analisis deskriptif untuk unsafe action yang sering dilakukan pekerja dan Relative Importance Index (RII) untuk faktor-faktor penyebab unsafe action, sedangkan analisis kualitatif dilakukan melalui focus group discussion (FGD) dengan para ahli K3 PT “X” untuk memvalidasi prioritas unsafe action dan menilai hubungan temuan dengan riwayat kecelakaan nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsafe action pada proyek tidak hanya berkaitan dengan pelanggaran prosedural seperti ketidakpatuhan penggunaan APD atau penempatan material yang tidak sesuai, tetapi juga dipengaruhi oleh tekanan pekerjaan, beban target waktu, kondisi fisik dan mental pekerja, serta keterbatasan pemahaman terhadap prosedur keselamatan. Selain itu, norma kelompok kerja termasuk keteladanan mandor, pola interaksi antar pekerja, dan kebiasaan kerja yang terbentuk secara informal terbukti memiliki pengaruh terhadap munculnya tindakan tidak aman. Faktor manajerial seperti kurangnya konsistensi pengawasan, tidak optimalnya koordinasi, serta keterbatasan penyediaan sarana keselamatan turut memperkuat kecenderungan tersebut. Temuan ini menegaskan bahwa unsafe action dalam konteks proyek gedung bersifat multidimensi dan dipengaruhi interaksi antara faktor teknis, sosial, psikologis, dan manajerial. Kebaruan penelitian ini terletak pada tahapan tiga sumber data hasil survei berskala besar, validasi ahli melalui FGD, dan pemetaan historis kecelakaan kerja yang menghasilkan prioritas unsafe action berbasis bukti empiris yang kuat. Selain itu, penelitian ini menghadirkan orisinalitas melalui pemetaan langsung antara penyebab unsafe action dan kesenjangan implementasi RKK, sehingga rekomendasi yang disusun dapat diimplementasikan secara operasional oleh kontraktor. Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi ilmu keselamatan konstruksi dengan menyajikan kerangka analisis perilaku tidak aman secara lebih menyeluruh. Temuan penelitian ini memperkuat pemahaman mengenai faktor-faktor yang memengaruhi perilaku pekerja pada proyek gedung bertingkat, serta memberikan dasar empiris untuk merancang intervensi berbasis perilaku yang lebih efektif. Intervensi tersebut diharapkan dapat meningkatkan penerapan RKK dan mengurangi kecelakaan kerja yang disebabkan oleh unsafe action di sektor konstruksi.

2026
👤 Penulis: Markus Abu Bagyo
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Keselamatan Konstruksi 🏷️ Hidrologi

PERAN PEMASARAN DIGITAL DALAM AKUISISI PASIEN: STUDI KASUS DDS JIVAS GROUP

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi yang digunakan oleh DDS Jivas dalam pemasaran digitalnya mampu melakukan akuisisi pasien. Untuk mengevaluasi efektivitas berbagai saluran digital dalam menarik pasien baru, menggunakan kerangka kerja corong AIDA. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Jenis data menggunakan data primer dengan kuesioner. Sumber data primer kedua adalah wawancara. Data Sekunder, Data sekunder diperoleh dari sumber perantara, seperti: laporan internal DDS JIVAS, termasuk wawasan Instagram, Google Analytics, data lalu lintas situs web, dan demografi pasien. Data historis kunjungan pasien dan kinerja kampanye pemasaran. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh populasi pasien DDS JIVAS. Sampel sebanyak 41 responden atau pasien DDS JIVAS. Metode Analisis Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Structural Equation Modeling (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengujian hipotesis menggunakan koefisien jalur melalui proses bootstrapping menunjukkan bahwa faktor-faktor yang dapat memengaruhi pelanggan di DDS Jivas Group adalah kesadaran merek (X1), kehadiran situs web (X3), kredibilitas klinik (X6), kehadiran Instagram (X4), perilaku konten (X8), dan akuisisi pasien (Y). Namun, penggunaan media sosial (X2), visibilitas (X7), konsistensi pesan (X5), esensi konten (X9), penargetan (X10), dan kesesuaian strategis (X11) bukanlah faktor yang secara signifikan memengaruhi keputusan pelanggan untuk mengunjungi DDS Jivas Group. Dapat diamati bahwa keberadaan situs web, khususnya, merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi pelanggan untuk datang ke DDS Jivas Group..

2026
👤 Penulis: Tazchya Sana Raintung
🏷️ Pemasaran Digital 🏷️ Akuisisi Pasien 🏷️ Structural Equation Modeling

ORKESTRASI TRANSFORMASI DIGITAL MELALUI SISTEM BISNIS TERINTEGRASI UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI OPERASIONAL DAN PENGALAMAN PELANGGAN PT. BATUR ARTHA YULIS

PT. Batur Artha Yulis merupakan perusahaan manufaktur berbasis proyek yang bergerak di bidang produk besi dan konstruksi, yang saat ini masih menjalankan sebagian besar proses bisnisnya secara manual dan berbasis komunikasi informal seperti WhatsApp. Kondisi tersebut menyebabkan berbagai permasalahan operasional, antara lain keterlambatan proses penawaran, tidak adanya visibilitas progres produksi secara real-time, duplikasi dan inkonsistensi data, serta rendahnya transparansi informasi bagi pelanggan. Dari sisi pelanggan, kondisi ini menimbulkan ketidakpastian terhadap status pesanan, keterlambatan konfirmasi, dan pengalaman layanan yang kurang profesional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan operasional dan customer experience yang ada, serta merancang solusi transformasi digital yang terintegrasi dengan menggunakan kerangka kerja Digital Transformation Orchestra (DTO) dan pendekatan Design Thinking. Metode penelitian yang digunakan adalah Kualitatif dengan pengumpulan data primer melalui wawancara mendalam kepada manajemen internal dan pelanggan eksternal, serta data sekunder dari dokumen perusahaan dan literatur terkait. Analisis dilakukan melalui pemetaan proses bisnis, customer journey, analisis tematik, dan perumusan solusi berbasis ideation dan prototyping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akar permasalahan utama terletak pada ketiadaan sistem terintegrasi yang menghubungkan fungsi penjualan, produksi, gudang, dan keuangan. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan sebuah ekosistem digital terintegrasi yang terdiri dari ERP sebagai tulang punggung operasional, CRM untuk pengelolaan pelanggan dan penawaran, database terpusat untuk pesanan dan desain, sistem pelacakan pesanan internal dan eksternal, serta dashboard KPI sebagai alat monitoring kinerja. Selain itu, program pelatihan dan pendampingan staf juga dirancang untuk memastikan keberhasilan adopsi sistem. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa transformasi digital tidak hanya berdampak pada peningkatan efisiensi operasional dan akurasi data, tetapi juga secara signifikan meningkatkan transparansi, koordinasi antar departemen, serta kualitas pengalaman pelanggan. Dengan implementasi yang konsisten dan bertahap, PT. Batur Artha Yulis memiliki potensi untuk bertransformasi menjadi organisasi yang lebih sistematis, berbasis data, dan berorientasi pada pelanggan.

2026
👤 Penulis: Muchammad Alif Halilintar
🏷️ Transformasi Digital 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Pengalaman Pelanggan

DESAIN DAN MANUFAKTUR SISTEM OTOMASI PENGHISAP SERANGGA PREDATOR PEMBASMI HAMA DENGAN MEMANFAATKAN EFEK VENTURI DARI PRINSIP BERNOULLI UNTUK REVOLUSI PERTANIAN BERKELANJUTAN

Sektor pertanian Indonesia menghadapi kendala besar berupa hama yang merusak tanaman, di mana penggunaan pestisida kimia secara masif telah menimbulkan dampak negatif bagi ekosistem dan kesehatan manusia. Sebagai solusi alternatif yang lebih ramah lingkungan, pemanfaatan serangga predator hidup dapat digunakan sebagai agen hayati untuk menjaga keseimbangan populasi hama secara alami. Namun, permasalahan utama muncul pada sulitnya melakukan penangkapan manual tanpa merusak integritas fisik serangga tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalisasi desain dan manufaktur sistem penghisap serangga predator berbasis otomasi cerdas yang mampu menangkap subjek dalam kondisi hidup dan utuh. Metodologi penelitian ini dimulai dengan perancangan geometri nozzle menggunakan perangkat lunak SolidWorks untuk mendapatkan profil aerodinamis yang optimal guna memfasilitasi efek Venturi. Komponen mekanik kemudian diproduksi melalui teknologi 3D printing menggunakan material PLA+ yang memiliki ketangguhan mekanik tinggi untuk menahan getaran operasional. Sistem ini mengintegrasikan teknologi jet fan berkecepatan tinggi dengan sistem kendali berbasis Arduino Uno yang dilengkapi dua sensor tekanan berbasis modul TM7711 untuk pemantauan parameter secara real-time dalam sistem jerat tertutup (closed-loop). Hasil pengujian eksperimental menunjukkan bahwa sistem yang ditenagai oleh jet fan 110.000 RPM mampu menghasilkan penurunan tekanan statis yang signifikan, dari 101,3 kPa menjadi 96,65 kPa pada bagian leher (throat) Venturi. Selisih tekanan sebesar 4,65 kPa tersebut menginduksi kecepatan aliran udara sebesar 87,15 m/s, yang secara signifikan melampaui target awal penelitian sebesar 30 m/s. Analisis unjuk kerja membuktikan alat ini memberikan daya hisap yang stabil dan aman melalui optimasi aliran laminer, dengan durasi operasional baterai mencapai 12,87 menit. Penelitian ini berhasil menciptakan alat bantu pertanian presisi portabel yang efisien untuk mendukung prinsip pertanian berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Naufal Mahardhika
🏷️ Desain Dan Manufaktur Sistem Otomasi 🏷️ Pertanian Berkelanjutan 🏷️ Venturi Prinsip

STRUKTUR PEMBIAYAAN OPTIMAL UNTUK PROYEK JALAN ANGKUT BATUBARA: ANALISIS KOMPARATIF CORPORATE FINANCE DAN PROJECT FINANCE DI PT ATLAS RESOURCES TBK

Tesis ini membahas dilema strategis dalam pendanaan Proyek Hauling Road Segmen H3 pada PT Atlas Resources Tbk, yang dinilai krusial untuk menghilangkan ketergantungan perusahaan terhadap jalan angkut milik pihak ketiga. Permasalahan utama terletak pada keputusan antara mendanai proyek menggunakan sumber daya internal melalui skema Corporate Finance atau memanfaatkan sumber pendanaan eksternal melalui penerapan Project Finance dengan skema Build–Operate–Transfer (BOT) dalam kemitraan private-to-private. Oleh karena itu, penelitian ini menerapkan analisis valuasi keuangan dan risiko, serta membandingkan hasil kedua skenario untuk menentukan alternatif pendanaan yang mampu memberikan nilai tertinggi yang telah disesuaikan dengan risiko bagi perusahaan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik capital budgeting sebagai alat analisis utama. Analisis dilakukan berdasarkan valuasi Discounted Cash Flow (DCF) yang dilengkapi dengan analisis sensitivitas, analisis skenario, dan simulasi Monte Carlo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua skenario pendanaan layak secara finansial. Skenario Corporate Finance menghasilkan Net Present Value (NPV) yang lebih tinggi sebesar Rp 1.243 miliar dengan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 48,33%. Di sisi lain, skenario Project Finance (BOT) menghasilkan NPV yang sedikit lebih rendah sebesar Rp 1.183 miliar, namun memberikan isolasi risiko melalui pengalihan risiko konstruksi dan operasional kepada Special Purpose Vehicle (SPV). Penelitian ini menyimpulkan bahwa skema Project Finance (BOT) merupakan alternatif yang paling tepat bagi PT Atlas Resources Tbk. Perbedaan nilai finansial sekitar 4,8% dipandang sebagai trade-off atas manfaat segregasi risiko pada tingkat proyek, yang meningkatkan fleksibilitas keuangan perusahaan induk serta membatasi eksposur perusahaan terhadap risiko spesifik proyek. Oleh karena itu, direkomendasikan agar PT Atlas Resources Tbk melanjutkan proyek dengan menggunakan model BOT, yang didukung oleh perjanjian konsesi yang terstruktur dengan baik terkait mekanisme pengalihan aset pada akhir masa konsesi.

2026
👤 Penulis: Vinsensius Paul Goodman
🏷️ Kepembiayaan Proyek 🏷️ Analisis Corporate Finance Dan Project Finance 🏷️ Manajemen Risiko Keuangan

PENGARUH PENAMBAHAN NANOPARTIKEL LOGAM FE DAN CO SEBAGAI TRACE ELEMENT TERHADAP PEMBENTUKAN BIOHIDROGEN PADA PENGOLAHAN LIMBAH CAIR KELAPA SAWIT SECARA ANAEROB

Pengolahan anaerobik palm oil mill effluent (POME) berpotensi menghasilkan biohidrogen sebagai sumber energi bersih, namun performa proses sangat dipengaruhi ketersediaan trace element. Penelitian ini menganalisis pengaruh penambahan nanopartikel Fe dan Co sebagai trace element terhadap produksi biohidrogen serta parameter operasi proses anaerobik. Percobaan dilakukan pada circulating bed reactor dengan volume kerja ± 5 L, pH 5,5–6,5, flushing N? 3 L/menit selama 15 menit, dan dioperasikan secara batch selama 48 jam pada suhu 25–27°C. Variasi konsentrasi Fe (0; 5; 10 mg/L) dan Co (0; 1; 2 mg/L) dikombinasikan dalam beberapa reaktor dan dibandingkan dengan kontrol. Parameter COD terlarut, pH, total asam volatil (TAV), dan biomassa (MLVSS) dianalisis, serta kinetika pembentukan H? dimodelkan menggunakan model Gompertz. Hasil menunjukkan bahwa penambahan nanopartikel meningkatkan efisiensi degradasi bahan organik, ditandai oleh penurunan COD yang lebih tinggi dibanding kontrol. Penurunan COD maksimum terjadi pada kombinasi Fe 5 mg/L dan Co 1 mg/L dengan efisiensi 44,602%, sedangkan reaktor kontrol hanya 6,971%. Selama proses, pH juga menurun hingga 5,10–5,30 yang mengindikasikan aktivitas fermentasi dan kecenderungan sistem menuju fase asidogenesis. Berdasarkan uji ANOVA two-way, interaksi Fe–Co berpengaruh signifikan terhadap COD, sementara Fe dan Co berpengaruh signifikan terhadap MLVSS; namun pengaruh terhadap TAV tidak signifikan. Kombinasi Fe 5 mg/L dan Co 1 mg/L teridentifikasi sebagai kondisi optimum dengan produksi biohidrogen sebesar 8,95% v/v dan kecenderungan laju pembentukan hidrogen maksimum (Rm) yang lebih tinggi serta lebih stabil dibanding kontrol berdasarkan pemodelan Gompertz. Konsentrasi optimum selanjutnya digunakan untuk pengujian lanjutan pada POME asli guna verifikasi pada kondisi yang lebih representatif.

2026
👤 Penulis: Tiara Salsabila Putri
🏷️ Biohidrogen 🏷️ Palm Oil Mill Effluent (Pome) 🏷️ Analisis Ketersediaan Trace Element

PERANCANGAN MODEL PREDICTIVE CONTROL BERBASIS MODEL DATA-DRIVEN UNTUK KENDALI SUHU PADA PROSES REAKTOR BATCH

Salah satu reaktor yang umum dipakai dalam industri kimia terutama produksi kimia adalah proses batch (batch prosess). Proses reaktor batch bekerja tanpa aliran masuk ataupun keluar. Reaktor ini umum digunakan untuk produksi dalam jumlah kecil namun dengan nilai tinggi seperti obat-obatan dalam industri farmasi. Karakteristik dalam proses batch salah satunya adalah dinamika yang berubah terhadap waktu, serta permasalahan pada pemodelan secara analitis. Kemudian, terdapat reaktor batch yang beroperasi secara non-adiabatic yaitu dinamika suhunya dipengaruhi oleh perpindahan panas antara sistem dan lingkungan. Hal ini menyebabkan adanya thermal losses serta pengaruh inersial termal dari reaktor. Akibatnya, kondisi tersebut mengakibatkan terjadinya respons suhu yang lambat dan overshoot. Dalam praktiknya, pengendalian suhu pada reaktor batch umumnya masih dilakukan menggunakan metode kendali feedback konvensional seperti Proportional-Integral-Derivative (PID). Meskipun metode ini banyak digunakan karena struktur yang sederhana serta kemudahan dalam implementasi, PID memiliki keterbatasan dalam mengatasi karakteristik integrating pada reaktor batch yaitu sulit untuk mencapai kestabilan, serta bergantungnya pada proses tuning. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengevaluasi Model Predictive Control (MPC) berbasis model data-driven untuk pengendalian suhu pada proses pemanasan reaktor batch. Pendekatan model datadriven dilakukan sebagai alternatif pemodelan karena mampu merepresentasikan dinamika sistem tanpa memerlukan pemodelan fisis yang paramaternya sulit untuk diidentifikasi. Model sistem diperoleh melalui proses identifikasi sistem menggunakan data hasil akuisisi dari plant reaktor batch skala laboratorium milik P2MI LSKK STEI ITB yang dioperasikan melalui HMI/SCADA LabVIEW dengan waktu sampling sebesar 1 detik. Beberapa struktur model linear dan nonlinear, seperti process models, transfer function, state-space, ARX dan Nonlinear ARX (NARX). Kinerja masing-masing model tersebut dievaluasi berdasarkan metrik peforma untuk menentukan model yang sesuai sebagai dasar perancangan pengendali. Selanjutnya, MPC dirancang menggunakan model linear state-space diskrit terpilih yang merepresentasikan dinamika sistem di sekitar titik operasi tertentu. Pada perancangan MPC tersebut, diterapkan formulasi fungsi objektif MPC yang mempertimbangkan kesalahan pelacakan suhu terhadap referensi, serta laju perubahan sinyal kendali dengan pengaturan bobot yang sesuai. Selain itu, batasan (constraints) pada variabel manipulasi dan variabel proses dipertimbangkan untuk memastikan kinerja kendali yang aman dan sesuai dengan karakteristik proses. Pengujian kinerja MPC dilakukan melalui simulasi di MATLAB dengan berbagai konfigurasi parameter kendali dan batasan operasional untuk mengevaluasi terhadap respons sistem. Diberikan pembanding dengan metode kendali PI, PID, dan PID yang di-tuning menggunakan Ziegler-Nichols. Evaluasi kinerja kendali dilakukan menggunakan beberapa metrik overshoot, settling time, dan Root Mean Squared Error (RMSE). Hasil simulasi menunjukkan bahwa MPC mampu menghasilkan respons suhu yang lebih stabil dibandingkan kendali PI, PID, dan PID-ZN. Secara kuantitatif, MPC menghasilkan dengan overshoot (10,85%), settling time (1831 detik) yang lebih cepat, dan RMSE (4.5874) yang lebih rendah, serta mampu menjaga suhu tetap berada dalam batas operasi yang telkah ditetapkan. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan MPC berbasis model data-driven memberikan kinerja yang lebih pengendalian suhu yang lebih baik dibandingkan PI, PID, PID-ZN, sehingga berpotensi untuk diterapkan sebagai alternatif metode kendali suhu pada reaktor batch non-adiabatic.

2026
👤 Penulis: Alhakim Refiyandra Hidayat
🏷️ Kontrol Proses 🏷️ Model Data-Driver 🏷️ Reaktor Batch Non-Adiabatic

MITIGASI PERUBAHAN KUALITAS FISIK-KIMIAWI AIR TANAH DALAM POTENSI KEBOCORAN CO2 PADA APLIKASI CARBON CAPTURE, UTILIZATION & STORAGE (CCUS) MELALUI REKAYASA ADSORBEN PENGHALANG

Implementasi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) menyimpan resiko alterasi kualitas air tanah dangkal akibat potensi kebocoran CO2 pada penyimpanan onshore, formasi storage geologi heterogen dan injeksi tekanan tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisa proses mitigasi perubahan fisikkimiawi air tanah terhadap kebocoran CO? melalui adsorbsi kation. Simulasi uji kebocoran CO2 sistem batch selama 14 hari dengan laju aliran CO2(g) 100 mL/menit dan dilanjutkan uji adsorbsi menggunakan 3 adsorben (sekam padi, zeolit dan bentonite clay). Hasil uji kebocoran menunjukkan penurunan pH menuju 6.5, ORP menuju -39,5 mV, DO menuju 2 mg/L dan peningkatan parameter ionic strength (TDS, salinity dan EC) 33,2 – 34,5 %. Di sisi lain, peningkatan signifikan terhadap Fe, Mn, Al, Mg dan Zn terjadi, namun berdasarkan kecenderungan mobilisasi pada pH 6,5 ditetapkan fokus studi ini pada kation Fe+2 dengan peningkatan 22 kali lipat dan Mn+2 6 kali lipat. Pemilihan adsorben didasarkan pada karakterististik inert dan performa pemulihan berupa potensi adsorpsi dan kestabilan pH. Analisis kualitatifkuantitatif dilakukan dengan FTIR (Fourier Transform Infra Red) dan Cation Exchange Capacity (CEC) yang menunjukkan bahwa tiap adsorben berpotensi menjadi adsorben berdasarkan kehadiran situs aktif dan rentang CEC 15,75-99,67 meq/100g. Uji adsorpsi menunjukkan rentang efisiensi optimum 47 – 55 % (sekam padi), 90–97% (zeolit) dan 91-93% (bentonite clay), uji kinetika menunjukkan kapasitas adsorpsi optimum kation Fe+2 0,40 mg/g (bentonit), 0,47 mg/g (sekam padi), 11,18 mg/g (zeolit) serta untuk kation Mn+2 1,81 mg/g (sekam padi), 3,42 mg/g (bentonite clay) dan 11,29 mg/g (zeolit). Hasil tersebut digunakan untuk menetapkan ketebalan lapisan adsorben dalam sistem barrier berdasarkan nilai kontribusi. Analisa performa barrier dengan menggunakan air destilasi dan air tanah sintetik jenuh CO2 menunjukkan adsorpsi tidak dapat dijelaskan dengan baik pada kation Fe+2 dengan analisa Model Thomas Non Linear. Analisa keandalan model tersebut iv menghasilkan nilai koefisien determinasi (R 2 ) -0,821dan 0,458 serta Overall Relative Error 4,958 – 40,357. Di sisi lain, adsorpsi kation Mn+2 dapat dijelaskan dengan lebih baik dengan model tersebut sehingga menghasilkan nilai keandalan model berupa nilai R 2 0,910 dan 0,536 serta Overall Relative Error 3,578 – 12,540. Selanjutnya, terkait performa penyisihan didapatkan rentang laju adsorpsi (Kth) Fe+2 pada tiap variasi air kontaminan adalah 0,00013 mL/min/g serta laju adsorpsi Mn+2 dalam rentang 0,0019 mL/min/g. Kapasitas adsorpsi maksimum (qth) Fe+2 pada tiap variasi air kontaminan adalah 0,119 mg/g serta pada Mn+2 0,229 dan 0,273 mg/g. Selanjutnya, pendekatan beban kation (time series-cation load) juga dilakukan untuk melihat persentase penyisihan Fe+2 dan Mn+2 pada masing-masing kondisi air. Efisiensi penyisihan kation Mn+2 jauh lebih baik dibandingkan Fe+2 dengan rentang 40,78 % - 53,58 % sedangkan Fe+2 bernilai -9,37 % - 3,33 % akibat masifnya proses leaching Fe+2 dari adsorben. Fenomena leaching kation Fe+2 dapat dijelaskan dengan pengukuran AAS (Atomic Adsorption Spectrophotometry) yang memvalidasi kehadiran kation Fe pada adsorben senilai 1,973 mg/L jika terlarut sempurna di sepanjang kontak. Analisa diagram solubility menghasilkan kesimpulan dengan rentang pH 6-7 dan kondisi suboksik Fe masih dapat hadir dalam fase terlarut sebelum perlahan teroksidasi jika nilai potensi reduksi fuktuatif. Pengaruh nilai teknis yang didapat juga disebabkan oleh nilai (EBCT/Empty Bed Contact Time) berada dalam rentang 2,8 – 22,7 menit. Jika dianalisa lebih lanjut dengan pendekatan volume pori, waktu kontak aktual hanya 5-20 detik per adsorben yang mengindikasikan bahwa sebaran kontak tidak merata (chanelling). Kesimpulan yang dapat disusun dari semua analisa kuantitatif dan kualitatif pada barrier elementer ini, barrier yang dikembangkan belum optimal menahan lonjakan fisik-kimawi secara umum namun dapat memitigasi lonjakan konsentrasi Mn+2 agar tidak melewati baku mutu dengan umur teknis singkat yaitu 92 hari (konversi pada skala lapangan). Oleh sebab itu, barrier adsorben berikutnya yang akan dikembangkan perlu kajian teknikal-normatif terkait potensi leaching, aktivasi lanjuta dan rekayasa stabilisasi bed mencegah chanelling sehingga mengoptimalkan kapasitas adsorpsi dan waktu kontak polutan dengan barrier.

2026
👤 Penulis: Herland Triadi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

HUBUNGAN PAJANAN KEBISINGAN TERHADAP PENURUNAN FUNGSI PENDENGARAN DAN GANGGUAN PSIKOLOGIS PEKERJA INDUSTRI PVC COMPOUND (STUDI KASUS: PT.X KOTA TANGERANG)

Kebisingan merupakan faktor bahaya fisik yang umum dijumpai di lingkungan kerja industri dan dapat menimbulkan dampak auditif maupun non-auditif. Industri PVC compound menggunakan mesin yang beroperasi secara kontinu sehingga berpotensi menghasilkan kebisingan melebihi Nilai Ambang Batas (NAB). Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara pajanan kebisingan dengan penurunan fungsi pendengaran dan gangguan psikologis pada pekerja industri PVC compound di Kota Tangerang. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan 40 responden yang terdiri atas 30 orang pekerja kelompok terpapar dan 10 pekerja kelompok kontrol. Kebisingan tempat kerja diukur menggunakan Sound Level Meter sedangkan pajanan kebisingan personal diukur menggunakan noise dosimeter. Fungsi pendengaran dinilai melalui audiometri nada murni (Pure Tone Average/PTA), dan gangguan psikologis dinilai menggunakan General Health Questionnaire (GHQ-28). Analisis data dilakukan secara deskriptif, bivariat, serta multivariat dengan bantuan RStudio dan Jamovi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebisingan di area produksi berkisar antara 66–103 dB(A). Analisis bivariat menunjukkan bahwa lingkungan tempat tinggal dekat sumber bising berhubungan signifikan dengan penurunan fungsi pendengaran pekerja (p < 0,05). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa usia dan tempat tinggal berpengaruh signifikan terhadap penurunan fungsi pendengaran setelah dikontrol oleh variabel intensitas kebisingan, masa kerja, penggunaan alat pelindung telinga, hobi terkait kebisingan, dan riwayat bekerja di tempat bising (p < 0,05). Intensitas kebisingan kerja hanya menunjukkan hubungan yang signifikan dengan gangguan psikologis pada aspek disfungsi sosial (p < 0,05). Dapat disimpulkan, variabel tempat tinggal berhubungan secara signifikan terhadap penurunan pendengaran dan intensitas bising berpengaruh signifikan pada disfungsi sosial pekerja.

2026
👤 Penulis: Oriza Aprieni
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS PENGARUH PEMBUBUHAN MIKRONUTRIEN PADA PENGOLAHAN LIMBAH POME TERHADAP PEMBENTUKAN BIOETANOL : METAANALISIS

Peningkatan kebutuhan energi yang terus meningkat dari sektor industri maupun sektor domestik, telah mendorong penelitian terkait sumber energi alternatif yang bisa digunakan menjadi energi terbarukan dan lebih ramah lingkungan. Bioetanol dapat menjadi salah satu sumber energi terbarukan yang dihasilkan dari pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME). Salah satu usaha dalam optimalisasi pembentukan bioetanol adalah dengan penambahan mikronutrien sebagai kofaktor enzim untuk meningkatkan efisiensi pengolahan limbah secara anaerob. Penelitian dilakukan dalam rangka melakukan analisis pengaruh penambahan mikronutrien terhadap penyisihan senyawa organik (Chemical Oxygen Demand), pembentukan Total Asam Volatil (TAV), dan produksi bioetanol dari limbah POME. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi korelasi antara variabel tersebut berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dalam sepuluh tahun terakhir sehingga dapat menjadi rekomendasi berdasarkan hasil meta-analisis yang dilakukan. Metodologi yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan Systematic Literature Review (SLR) yang dilanjutkan dengan analisis meta-analisis korelasional. Data diperoleh dari literatur yang relevan dan telah memenuhi kriteria inklusi, seperti kesamaan substrat, metode anaerobik, serta tersedianya data kuantitatif mengenai mikronutrien dan hasil fermentasi etanol. Dalam proses analisis, data yang diperoleh diekstraksi untuk kemudian dihitung persentase pengurangan COD, pembentukan TAV, dan produksi bioetanol. Selanjutnya, dilakukan uji korelasi dan perhitungan effect size yang ditransformasikan menggunakan metode Fisher’s z untuk mengevaluasi hubungan antar variabel. Hasil meta-analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi yang signifikan antara penambahan mikronutrien terhadap pembentukan etanol. Nilai summary effect yang didapatkan pada meta analisis adalah sebesar 0,1 dan model effect size adalah fixed effect model. Hasil meta-analisis tersebut dilakukan uji verifikasi di laboratorium dengan dosis optimum pembentukan etanol. Pada pengujian laboratorium terdapat dua variasi yakni kombinasi Fe2+ dengan Zn2+ dan kombinasi antara Cu2+, Mn2+, dan Mg2+ . Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa kombinasi Fe2+ dengan Zn2+ meningkatkan nilai etanol sebesar 94% pada jam ke-72 dengan konsentrasi etanol sebesar 180,96 mg/L. Sedangkan kombinasi antara Cu2+, Mn2+, dan Mg2+ memberikan peningkatan pembentukan etanol sebesar 96% pada jam ke-72 yakni sebesar 120,81. Sedangkan pada reaktor kontrol hanya memberikan peningkatan sebesar 39%.

2026
👤 Penulis: Muhammad Ikrar Lalijo
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PEMODELAN DAN KARAKTERISASI SEL BATERAI LITHIUM-ION NMC811 21700 MENGGUNAKAN ELECTROCHEMICAL IMPEDANCE SPECTROSCOPY

Baterai lithium-ion dengan katoda NMC811 banyak digunakan pada kendaraan listrik karena densitas energi yang tinggi. Namun, karakteristik impedansi dan dinamika elektrokimia internal sel sangat dipengaruhi oleh kondisi operasi, khususnya state of charge (SOC) dan laju pengosongan (C-rate). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik impedansi sel lithium-ion NMC811 tipe silinder 21700 menggunakan metode electrochemical impedance spectroscopy (EIS) pada rentang SOC 20–90% dan variasi C-rate 0,2C hingga 3C pada suhu ruang. Hasil pengujian EIS menunjukkan bahwa variasi SOC dan C-rate berpengaruh signifikan terhadap karakteristik impedansi sel, yang tercermin pada perubahan resistansi ohmik, respon charge transfer, serta perilaku difusi ion lithium. Respon impedansi tersebut dimodelkan menggunakan pendekatan Equivalent Circuit Model (ECM) yang terdiri atas elemen induktansi, resistansi ohmik, jaringan paralel resistansi charge transfer dan constant phase element, serta elemen Warburg. Parameter model diekstraksi melalui proses fitting terhadap data EIS, dengan nilai RMSE rata-rata sebesar 4,89×10?? ?. Hasil validasi menunjukkan bahwa variasi parameter ECM terhadap SOC dan C-rate mampu merepresentasikan karakteristik utama respon impedansi sel pada berbagai kondisi operasi, dengan nilai RMSE berada pada orde 10?? ? dan rata-rata sebesar 3,26×10?? ?. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan pemodelan berbasis EIS–ECM mampu merepresentasikan perilaku listrik sel NMC811 secara konsisten pada kondisi pengujian yang dilakukan.

2026
👤 Penulis: Nurul Fitri Muthmainnah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

STUDI TINGKAT KEBAHAGIAAN SUBJEKTIF DAN LIVABILITY KOTA SURAKARTA

Kualitas hidup perkotaan menjadi isu penting dalam perencanaan kota, seiring meningkatnya kompleksitas permasalahan perkotaan dan tuntutan masyarakat terhadap lingkungan hidup yang layak dan berkelanjutan. Kualitas hidup tidak hanya ditentukan oleh indikator objektif perkotaan (livability), tetapi juga oleh kesejahteraan subjektif masyarakat yang tercermin melalui tingkat kebahagiaan. Kota Surakarta dikenal memiliki capaian kualitas perkotaan yang relatif baik, namun kajian yang mengintegrasikan livability dan kebahagiaan masyarakat pada skala intra-kota masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengkaji kualitas hidup perkotaan di Kota Surakarta melalui pengukuran tingkat kebahagiaan subjektif masyarakat serta penelaahan keterkaitannya dengan kondisi livability kota. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan dukungan analisis spasial. Pengukuran kebahagiaan dilakukan menggunakan kerangka Indeks Kebahagiaan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencakup dimensi kepuasan hidup, perasaan (affective), dan makna hidup (eudaimonia), berdasarkan data survei kuesioner masyarakat. Sementara itu, livability dianalisis menggunakan kerangka Most Livable City Index (MLCI) sebagai representasi kondisi objektif perkotaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebahagiaan masyarakat Kota Surakarta berada pada kategori tinggi dan melampaui rata-rata nasional, meskipun terdapat variasi spasial antar kecamatan. Kota Surakarta juga diklasifikasikan sebagai kota dengan livability dan kebahagiaan tinggi. Temuan ini menunjukkan adanya keterkaitan antara kualitas lingkungan perkotaan dan kesejahteraan subjektif masyarakat, serta menegaskan pentingnya pemerataan kualitas hidup dalam perencanaan kota.

2026
👤 Penulis: Revasari Puspita Basrum
🏷️ Kepuasan Hidup 🏷️ Perkotaan 🏷️ Analisis Spasial

PENGARUH GANGGUAN ELEKTRIK ARCING TERHADAP TEGANGAN TEMBUS DAN ANALISIS GAS TERLARUT PADA BERBAGAI JENIS ISOLASI MINYAK TRANSFORMATOR

Transformator merupakan komponen penting dalam sistem tenaga listrik yang keandalannya sangat bergantung pada kualitas minyak isolasi sebagai media isolasi dan pendingin. Gangguan elektrik arcing dapat mempercepat degradasi minyak dan memicu kegagalan transformator, sehingga diperlukan kajian komparatif terhadap ketahanan berbagai jenis minyak transformator terhadap pengaruh elektrik arcing. Metode yang digunakan adalah dengan pengujian pemberian gangguan arcing dengan berbagai parameter seperti durasi, tegangan dan jarak elektroda untuk menguji tegangan tembus dan analisis gas terlarut dengan beberapa metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gangguan arcing menyebabkan penurunan signifikan nilai tegangan tembus pada seluruh jenis minyak isolasi. Minyak natural ester mengalami penurunan terbesar dari 52,35 kV menjadi 27,10 kV, diikuti minyak GTL dari 43,20 kV menjadi 23,28 kV dan minyak mineral dari 38,20 kV menjadi 22,33 kV, yang menunjukkan ketahanan sedang terhadap stres arcing. Sebaliknya, minyak sintetik ester mengalami penurunan paling kecil dari 39,87 kV menjadi 26,47 kV, menandakan stabilitas dielektrik terbaik. Analisis gas terlarut mengonfirmasi terjadinya arcing pada seluruh minyak melalui dominasi gas asetilena (C?H?) dan hidrogen (H?), dengan kemunculan gas minor seperti etilena (C?H?) dan karbon monoksida (CO). Hasil Segitiga Duval menunjukkan mayoritas sampel berada pada zona D1, sementara metode TDCG mengindikasikan tingkat keparahan tinggi akibat dominasi C?H? dan H2. Temuan ini menegaskan hubungan langsung antara intensitas arcing yang semakin besar dengan penurunan nilai tegangan tembus dan peningkatan gas terlarut.

2026
👤 Penulis: Pebi Wahyudin
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ANALISIS PERGESERAN GENERASI DALAM KEPUTUSAN PEMBELIAN RUMAH: STUDI MULTIDIMENSI TERHADAP PEMBELI RUMAH PERTAMA DI BANDUNG RAYA

Pasar perumahan di Indonesia tengah mengalami pergeseran signifikan seiring dominasi milenial dan Generasi Z sebagai pembeli rumah pertama. Penelitian ini berangkat dari masalah bisnis yang dihadapi SEKA Living, pengembang perumahan di Bandung yang menghadapi rendahnya konversi penjualan meskipun potensi pasar besar, akibat penurunan daya beli generasi muda. Fenomena ini menciptakan paradoks terhadap teori modal manusia tradisional, di mana kapasitas pendapatan tidak lagi sejalan dengan kenaikan harga properti yang hiper-inflasi. Meskipun studi terdahulu telah menelaah keterjangkauan, pengaruh sosiologis, dan adopsi teknologi secara parsial, terdapat celah kebaruan (novelty gap) dalam mengintegrasikan ketiga dimensi tersebut ke dalam satu kerangka kerja komprehensif. Penelitian ini mengisi celah tersebut dengan menguji faktor eko- politik, sosiologis, dan teknologis sebagai prediktor kolektif keputusan pembelian hunian. Secara metodologis, studi ini menggunakan desain korelasi lintas- seksional kuantitatif dengan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) terhadap 217 responden di Bandung Raya. Analisis data menunjukkan bahwa model ini mampu menjelaskan 36% varians keputusan pembelian rumah. Faktor eko-politik (0,409) teridentifikasi sebagai gatekeeper utama, mengonfirmasi bahwa kesiapan finansial dan dukungan kebijakan tetap menjadi determinan primer. Menariknya, faktor teknologi (0,200) memberikan pengaruh yang lebih kuat dibandingkan tekanan sosiologis (0,178), menandakan pergeseran perilaku di mana utilitas digital kini lebih diutamakan oleh generasi digital-native. Rekomendasi strategis mencakup pengembangan skema pembiayaan adaptif serta integrasi fitur teknologi pada produk hunian guna menjembatani kesenjangan antara teori ekonomi dan realitas praktik pasar modern.

2026
👤 Penulis: Maria Virginiaputri Indriyani
🏷️ Perubahan Generasi 🏷️ Pertumbuhan Digital 🏷️ Manajemen Pasar Properti

EVALUASI EFEKTIVITAS KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PERENCANAAN TATA RUANG PADA RTRW KOTA MANADO

Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) merupakan instrumen kebijakan yang dirancang untuk mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam proses perencanaan tata ruang. Namun, dalam praktiknya, efektivitas KLHS sering kali dipertanyakan, terutama terkait sejauh mana rekomendasinya benar-benar memengaruhi substansi teknis Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas KLHS dalam meningkatkan kualitas perencanaan tata ruang pada RTRW Kota Manado. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode evaluatif. Pengumpulan data dilakukan melalui analisis dokumen KLHS dan RTRW Kota Manado, perbandingan substansi RTRW sebelum dan sesudah integrasi KLHS, serta wawancara mendalam dengan aktor kunci yang terlibat dalam proses penyusunan KLHS dan RTRW. Analisis data dilakukan menggunakan analisis konten dan analisis tematik untuk menilai efektivitas proses dan efektivitas produk (outcome) KLHS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan KLHS pada RTRW Kota Manado tergolong efektif secara prosedural. Seluruh tahapan penyusunan KLHS telah dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan dan dilakukan secara paralel dengan proses penyusunan RTRW. Namun demikian, dari sisiiii efektivitas substantif, integrasi rekomendasi KLHS ke dalam substansi RTRW masih bersifat parsial dan cenderung normatif. Rekomendasi KLHS lebih banyak memengaruhi arah kebijakan umum, seperti pengendalian intensitas pemanfaatan ruang, tetapi belum secara konsisten diterjemahkan ke dalam ketentuan teknis tata ruang yang operasional dan terdiferensiasi secara spasial, khususnya pada pengaturan struktur ruang dan pola ruang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan KLHS tidak dapat diukur hanya berdasarkan kepatuhan prosedural, melainkan harus dinilai dari kemampuannya mengarahkan pengambilan keputusan spasial secara strategis. Oleh karena itu, penguatan peran KLHS sebagai instrumen substantif diperlukan agar dapat berfungsi tidak hanya sebagai prasyarat perencanaan, tetapi sebagai pengendali utama kualitas kebijakan tata ruang yang berkelanjutan dan adaptif terhadap risiko lingkungan.

2026
👤 Penulis: Dwight V A Mambu
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Kebijakan
Halaman 181 dari 6754
💬