📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenSTUDI INTERAKSI PADATAN FAVIPIRAVIR DENGAN BEBERAPA SENYAWA VITAMIN, ANTIRADANG, DAN ANTIBIOTIKA DAN PENGARUHNYA TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA SERTA PREDIKSI TOKSISITASNYA
Favipiravir merupakan antiviral pilihan utama dalam pengobatan COVID-19, yang biasanya digunakan bersama dengan vitamin dan antiradang untuk mempercepat penyembuhan, serta antibiotika untuk mencegah komplikasi infeksi sekunder. Namun demikian, penggunaan kombinasi tersebut berpotensi menimbulkan interaksi fisika-kimia pada fase padat yang dapat mempengaruhi stabilitas, kelarutan dan keamanan obat serta potensi menjadikannya sediaan kombinasi dosis tetap masih sangat terbatas. Pemahaman yang komprehensif mengenai jenis interaksi padatan dengan obat-obat pendamping yang lazim digunakan secara klinis tersebut menjadi sangat penting. Sehingga dapat diketahui apakah kombinasi tersebut memang aman dan efektik atau tidak. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi kombinasi obat mana saja yang memungkinkan dibuat sediaan dosis tetap. Penelitian ini bertujuan mengamati interaksi fisika dan kimia favipiravir dengan vitamin (nikotinamid/vitamin B3 dan asam askorbat/vitamin C), antiradang non- steroid (asam mefenamat dan indometasin), serta antibiotika siprofloksasin. Tujuan secara lebih detail adalah menetapkan jenis interaksi dan mengamati pengaruhnya terhadap sifat fisikokimia padatan obat, yaitu stabilitas dan kelarutan, serta melakukan prediksi toksisitasnya secara in silico. Penetapan jenis interaksi dan kesetimbangan molar pembentukan interaksi dari masing-masing pasangan obat dilakukan dengan membuat diagram fasa. Selanjutnya sistem interaksi dipreparasi dengan penggerusan dibantu dengan penetesan sedikit pelarut etanol. Bahan awal, campuran fisik, dan hasil penggerusan dikarakterisasi secara elektrotermal, Differential Scanning Calorimetry (DSC) Powder X-Ray Diffractometry (PXRD). Sedangkan penetapan jenis interaksi sistem biner dilakukan dengan analisis Fourier Transform Infrared (FTIR) dan Proton Nuclear Magnetic Resonance (H-NMR). Uji kelarutan dilakukan dengan metode spektrofotometri UV derivatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa favipiravir membentuk campuran eutektikum dengan seluruh pasangan obat pada rasio molar 1:2, kecuali dengan asam askorbat yang menunjukkan interaksi terkuat pada perbandingan 1:1. Campuran eutektikum menunjukkan penurunan suhu lebur yang khas dan hanya melibatkan pembentukan ikatan hidrogen lemah tanpa terbentuknya fase kristalin baru. Sebaliknya, sistem favipiravir–siprofloksasin membentuk garam yang terkonfirmasi melalui perubahan signifikan pada data Differential Scanning Calorimetry (DSC), Powder X-Ray Diffractometry (PXRD), Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), dan Proton Nuclear Magnetic Resonance Spectroscopy (H-NMR). Pembentukan campuran eutektikum dan garam secara umum meningkatkan stabilitas fisik sistem dan secara signifikan meningkatkan kelarutan pasangan obat, sementara kelarutan favipiravir relatif tidak berubah. Studi in silico menunjukkan penurunan potensi toksisitas, terutama pada sistem favipiravir–nikotinamid (1:2). Berdasarkan penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa favipiravir mampu membentuk interaksi padatan yang berbeda dengan obat-obat pendampingnya, berupa campuran eutektikum atau garam, yang secara signifikan memodulasi sifat fisikokimia, terutama stabilitas dan kelarutan pasangan obat, tanpa menurunkan karakteristik favipiravir itu sendiri. Temuan ini memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan sediaan dosis tetap kombinasi berbasis favipiravir dengan profil stabilitas dan kinerja farmasetik yang lebih baik. Selain itu, peningkatan kelarutan dan stabilitas pasangan obat berpotensi memungkinkan penyederhanaan regimen terapi, sehingga mendukung peningkatan kepatuhan pasien dan efektivitas pengobatan secara keseluruhan.
MEMERINGKAT PERTIMBANGAN INVESTASI UTAMA DI KALANGAN MODAL VENTURA DALAM KEPUTUSAN PENDANAAN STARTUP TAHAP AWAL DI INDONESIA MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)
Penelitian ini didorong oleh pesatnya pertumbuhan ekosistem startup di Indonesia, yang dikarakterisasi oleh tingkat ketidakpastian yang tinggi serta asimetri informasi yang signifikan dalam pendanaan tahap awal. Dalam kondisi pasar yang volatil ini, manajer modal ventura harus melakukan penyaringan secara ketat terhadap berbagai kriteria investasi yang saling bersaing, sehingga diperlukan pemetaan prioritas strategis guna memberikan transparansi bagi para pendiri startup mengenai ekspektasi investor. Untuk menangkap prioritas tersebut, studi ini menerapkan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) yang melibatkan lima pemodal ventura untuk menyusun pengambilan keputusan VC ke dalam hierarki dua tingkat. Hasil penelitian mengidentifikasi 'Atribut Wirausaha dan Tim' sebagai prioritas utama (Peringkat 1), diikuti oleh 'Atribut Produk dan Layanan' (Peringkat 2), 'Pertimbangan Keuangan' (Peringkat 3), dan 'Faktor Pasar' (Peringkat 4). Pada tingkat sub-faktor, prioritas tertinggi adalah: Pengalaman dan Rekam Jejak Pendiri; Proposisi Nilai; Kejelasan Inovasi dan Diferensiasi; serta Kelayakan Teknis dan Skalabilitas. Sebaliknya, Intensitas Persaingan dan Lanskap Pasar, bersama dengan Lingkungan Eksternal dan Kondisi Sektor, menempati peringkat terendah, di mana seluruh penilaian berpasangan telah memenuhi standar reliabilitas (CR < 0,10). Wawasan kualitatif mengonfirmasi pola pikir yang mengutamakan pendiri, di mana ketangguhan kepemimpinan dan kredibilitas berfungsi sebagai perlindungan utama bagi keberhasilan investasi. Meskipun hierarki memberikan landasan strategis, wawasan para ahli menunjukkan bahwa faktor kontekstual seperti jaringan elit pendiri atau perubahan regulasi yang drastis dapat mengesampingkan protokol evaluasi standar secara sementara. Temuan ini memberikan prioritas yang jelas mengenai kriteria keputusan VC tahap awal di Indonesia, yang menunjukkan bahwa evaluasi tersebut pada dasarnya berpusat pada figur pendiri dan bergantung pada konteks.
STRATEGI PENINGKATAN RANTAI PASOKAN KOPI BERKELANJUTAN BERBASIS PEMBERDAYAAN PETANI LOKAL (STUDI KASUS DI ALLNESIA COFFEE)
Inkonsistensi kualitas dan tingkat cacat yang tinggi merupakan masalah umum dalam rantai pasokan kopi yang bergantung pada petani kecil, terutama pada tahap pengolahan awal. Studi ini mengeksplorasi bagaimana perbedaan praktik pengolahan di tingkat petani dan koperasi memengaruhi tingkat cacat dan mengidentifikasi strategi peningkatan mana yang harus diprioritaskan untuk mengurangi cacat dan memperkuat pemberdayaan petani. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang didukung oleh data tingkat cacat, yang dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara semi-terstruktur, dan catatan produksi dari petani dan koperasi. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar cacat berasal dari tingkat pertanian, khususnya selama panen dan aktivitas pasca panen awal. Praktik-praktik seperti pemetikan ceri campuran, pengeringan yang tidak konsisten, dan tidak adanya pengendalian mutu preventif menciptakan cacat yang tidak dapat sepenuhnya diperbaiki pada tahap selanjutnya. Meskipun koperasi membantu meningkatkan konsistensi kualitas, peran mereka terutama bersifat korektif dan memiliki dampak terbatas pada cacat yang sudah terjadi di hulu. Berdasarkan temuan ini, empat intervensi strategis dievaluasi menggunakan metode prioritas berbasis SMART. Hasilnya menunjukkan bahwa pengembangan modal manusia yang ditargetkan yang berfokus pada penyebab cacat utama adalah intervensi yang paling penting, diikuti oleh penerapan manajemen mutu preventif di tingkat pertanian. Kedua strategi ini saling mendukung, karena pelatihan memungkinkan petani untuk menerapkan praktik kualitas standar secara konsisten. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi berbasis kemampuan di hulu lebih efektif daripada tindakan korektif di hilir dalam mengurangi cacat dan meningkatkan kinerja rantai pasokan. Temuan ini menawarkan panduan praktis bagi koperasi dan manajer rantai pasokan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas secara berkelanjutan melalui pemberdayaan petani. Kata kunci:
PRAKTIK LINDUNG NILAI KORPORASI PADA PERUSAHAAN NON-KEUANGAN DI INDONESIA SEBAGAI EKSPOSUR TERHADAP TARIF AMERIKA SERIKAT TAHUN 2025
Penelitian ini mengkaji hubungan antara praktik lindung nilai korporasi dan kinerja perusahaan di tengah meningkatnya risiko perdagangan yang dihadapi oleh perusahaan non-keuangan di Indonesia. Dengan menggunakan data panel terhadap 38 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2015–2024 (342 observasi perusahaan-tahun), analisis ini mengevaluasi empat kategori lindung nilai, yaitu lindung nilai nilai tukar, komoditas, suku bunga, dan operasional, terhadap enam indikator keuangan yang mencerminkan profitabilitas, kemampuan menghasilkan kas, struktur permodalan, dan likuiditas, meliputi return on assets, return on equity, free cash flow, leverage, current ratio, dan EBITDA margin. Model regresi dengan efek tetap perusahaan dan tahun digunakan untuk mengendalikan heterogenitas yang tidak teramati serta kondisi makroekonomi umum. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan. Pertama, lindung nilai nilai tukar berasosiasi dengan penurunan return on assets dan peningkatan leverage, yang mengindikasikan bahwa meskipun praktik lindung nilai mendukung kapasitas neraca dan pemanfaatan utang, praktik tersebut dapat menekan kinerja akuntansi jangka pendek akibat biaya lindung nilai dan ketidaksesuaian waktu. Kedua, lindung nilai komoditas berasosiasi positif dengan return on assets dan EBITDA margin, terutama pada sektor pertambangan dan pertanian yang memiliki volatilitas harga yang tinggi. Ketiga, lindung nilai suku bunga dan lindung nilai operasional tidak menunjukkan pengaruh kinerja yang konsisten di seluruh spesifikasi model.
PENGARUH JENIS NANOPARTIKEL MAGNETIK FE3O4 DAN NIFE2O4 SERTA MEDAN MAGNET EKSTERNAL NON-HOMOGEN TERHADAP TRANSFER KALOR DAN DINAMIKA MELTING PADA KOMPOSIT ASAM LAURAT
Penelitian disertasi ini mengkaji pengaruh jenis nanopartikel magnetik terhadap dinamika proses pencairan pada material penyimpan energi termal berbasis phase change material (PCM) dengan matriks asam laurat (lauric acid/LA). Kajian dilakukan pada dua kondisi, yaitu tanpa medan magnet dan dengan penerapan medan magnet eksternal non-homogen yang searah dengan arah aliran kalor. Setiap sampel didefinisikan sebagai komposit LA dan komposit-magnetik LA. Selain itu, penelitian ini mempelajari konduktivitas termal dan viskositas dalam kaitannya dengan proses pencairan. Nanopartikel magnetik yang ditambahkan ke dalam matriks asam laurat adalah Fe?O? dan NiFe?O?, keduanya memiliki sifat superparamagnetik, dengan fraksi massa sebesar 2%. Besar medan magnet yang digunakan pada pengukuran konduktivitas termal dan viskositas disesuaikan dengan kondisi eksperimen proses pencairan yang diperoleh dari konfigurasi magnet permanen. Hasil pengukuran menggunakan Differential Scanning Calorimetry (DSC) menunjukkan bahwa LA murni memiliki nilai entalpi sebesar 179 J/g, sedangkan pada komposit LA/Fe?O4 dan LA/NiFe?O? nilai entalpinya masing-masing menurun menjadi 167 J/g dan 165 J/g. Pengukuran konduktivitas termal pada fase padat menunjukkan bahwa komposit LA/Fe?O? mengalami peningkatan sebesar 6,13%, sedangkan komposit LA/NiFe?O? meningkat sebesar 3,68% dibandingkan LA murni. Pada fase cair (T = 55?°C), peningkatan konduktivitas termal tercatat sebesar 2,9% untuk komposit LA/Fe?O? dan 2,2% untuk komposit LA/NiFe?O? dibandingkan LA murni. Selain itu, pengaruh medan magnet terhadap konduktivitas termal menghasilkan peningkatan sekitar 2,3% untuk kedua komposit-magnetik LA dibandingkan kondisi tanpa medan magnet. Di sisi lain, pengukuran viskositas menunjukkan bahwa komposit LA/Fe?O? mengalami peningkatan sebesar 11,73%, sedangkan komposit LA/NiFe?O? meningkat sebesar 11,12% dibandingkan LA murni. Dalam kondisi penerapan medan magnet, viskositas komposit-magnetik LA/Fe?O? meningkat sekitar 5,28%, sedangkan komposit-magnetik LA/NiFe?O? meningkat sekitar 2% dibandingkan kondisi tanpa medan magnet Hasil eksperimen proses pencairan menunjukkan bahwa penambahan nanopartikel magnetik pada matriks LA dapat mempercepat laju pencairan dan memperjelas zona mushy. Dibandingkan dengan asam laurat murni, laju pencairan meningkat masing-masing sebesar 9% pada LA/Fe?O? dan 3% pada LA/NiFe?O?. Hal ini menunjukkan bahwa komposit LA/Fe?O? mengalami percepatan pencairan lebih tinggi dibandingkan komposit LA/NiFe?O?, yang berkaitan dengan peningkatan transfer kalor konduksi dan konveksi yang lebih signifikan. Di sisi lain, penerapan medan magnet eksternal non-homogen pada komposit-magnetik LA menyebabkan perlambatan proses pencairan. Perlambatan ini disebabkan oleh gaya Kelvin yang sejajar dengan arah aliran kalor. Selain itu, penerapan medan magnet mempertebal zona mushy, khususnya pada komposit LA/Fe?O?, yang menunjukkan resistansi lebih besar terhadap perubahan fase serta modifikasi dinamika antarmuka padatcair akibat efek konveksi termomagnetik. Secara kuantitatif, total waktu pencairan meningkat sebesar -40% untuk komposit LA/Fe?O? dan -12,5% untuk komposit LA/NiFe?O? dibandingkan dengan kondisi tanpa medan magnet. Hasil penelitian disertasi ini menunjukkan bahwa dinamika pencairan komposit LA dapat dikendalikan melalui karakteristik nanopartikel magnetik serta pengaruh medan magnet eksternal. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan potensi aplikasi dalam pengembangan perangkat termomagnetik, khususnya dalam pemanfaatan energi termal melalui perubahan sifat magnetik material. Selain itu, berkontribusi terhadap upaya penyediaan energi bersih dan terjangkau (Sustainable Development Goals No. 7) serta mitigasi perubahan iklim (Sustainable Development Goals No. 13).
DESAIN SGRNA DAN UJI AKTIVITAS ENDONUKLEASE CRISPR-CAS9 RNP YANG MENARGETKAN GEN PENGKODE DOMAIN KINASE ERBB2
Ekpresi protein ERBB2 yang berlebih merupakan salah satu pemicu kanker payudara agresif melalui aktivasi jalur MAPK dan PI3K/Akt. Meskipun terapi anti-HER2 telah dikembangkan, resistansi dan kekambuhan masih menjadi kendala sehingga diperlukan pendekatan yang lebih spesifik dan presisi. Teknologi CRISPR-Cas9 menawarkan strategi menjanjikan untuk menonaktifkan gen penyebab kanker secara terarah. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain gRNA spesifik terhadap domain kinase gen ERBB2 serta menentukan efisiensi pemotongan kompleks CRISPR-Cas9 RNP terhadap domain tersebut secara in vitro. Pada penelitian ini dirancang sgRNAexon25, yang menargetkan exon 25 pengkode domain kinase ERBB2, dan menguji aktivitas pemotongannya secara in vitro. Validasi in vitro sangat perlu dilakukan untuk menilai efisiensi sgRNA. Fragmen exon 25 sepanjang 933 bp berhasil diamplifikasi dari sel SKOV3 dan digunakan sebagai target uji. Desain sgRNA dengan menggunakan program CHOPCHOP menghasilkan sgRNA dengan GC 60% dan efisiensi prediksi 69,79%, sementara analisis RNAfold menunjukkan tiga stem-loop stabil yang penting bagi pengikatan Cas9. Berdasarkan hasil Electrophoretic Mobility Shift Assay EMSA, Cas9 mampu mengenali dan mengikat sgRNAexon25, yang ditunjukkan oleh pergeseran mobilitas elektroforetik sebagai indikasi terbentuknya kompleks RNP. Uji endonuklease kompleks Cas9-RNP menunjukkan bahwa kontrol positif (sgRNA196) berhasil memotong target, tetapi sgRNAexon25 tidak menunjukkan pemotongan. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh tingginya GC pada wilayah PAM-proximal, penggunaan PAM CGG yang kurang optimal, serta potensi misfolding sgRNA. Dapat disimpulkan bahwa sgRNAexon25 berhasil dirancang dan mampu membentuk kompleks RNP dengan Cas9 (dibuktikan melalui EMSA).
A HISTORICAL DATA-DRIVEN APPROACH FOR PRELIMINARY WORKOVER ASSESSMENT IN MATURE OIL FIELDS USING AN INTEGRATED LSTM-BASED MODEL AND SUPERVISED CLASSIFICATION
X Field is a mature oil field that has been producing since 1972 and now requires extensive workover activities to maintain and improve production efficiency. Although a significant volume of hydrocarbons remains unrecovered, declining well performance makes it increasingly important to identify workover candidates in a timely and systematic manner. This study proposes a data-driven framework to support workover planning using limited historical production data. The proposed framework integrates production forecasting and supervised classification into a single workflow. Long Short-Term Memory (LSTM) models are employed to forecast future oil and water production. The forecasted outputs are then used as inputs for a supervised classification model to determine the required workover type. The study focuses on five representative wells (XX003, XX004, XX015, XX016, and XX017) which are selected based on data quality, data quantity, and monthly average production. Meanwhile, there are four types of workover job incorporated, including re-perforation, revised packer, water shut off, and open new zone which will divided into Water shut off (WSO) and Perforation job. These jobs are selected based on the effectiveness to increase oil production rate and its operational frequency. This paper is divided into three main parts. First, the data is prepared by cleaning and selecting the most relevant features. Second, an LSTM-based model is developed to predict future oil and water production. Finally, a classification model is built and combined with the forecasting model to support decision making. Data involved encompassing monthly production data, workover history, and reservoir properties which proceed to create a unified and standardized data set for further analysis. In addition, the feature selection results indicate that future oil production is predicted using the most recent oil rate from well tests together with porosity, while water production is predicted to be using only the latest water rate from well tests. For the classification task, the model uses the predicted oil and water rates, as well as the most recent oil and water gradients to classify the data into “WSO”, “Perforation” and “NO” labels. The forecasting models are evaluated using MAPE, MAE, and RMSE metrics. A detailed error analysis is also conducted to distinguish error patterns between high and low target values. The results show that the forecasting model provides reliable predictions for up to three months ahead. For wells with high production rates, the average prediction error ranges from 0.1% to 9% for oil and 0.1% to 7% for water. For moderate to low-rate wells, the deviations are approximately 20 STBD for oil and between 138 and 300 STBD for water. The classification model was developed using a wrapper approach, in which multiple algorithms were evaluated. Based on the performance metrics—accuracy, precision, recall, and F-score. The Extra Trees Classifier achieved the best results, with an overall accuracy of up to 80.3%. on both the training and validation datasets. It successfully predicts the required workover type for wells XX003, XX004, XX015, and XX016, while it shows limitations in identifying water shut-off requirements for well XX017 when using forecasted inputs because the data availability to train “WSO” class is much lower than the other class. This means with larger number of sample and training data, it can robust the model’s performance. Overall, the proposed framework demonstrates strong potential as a practical and efficient decision-support tool for optimizing workover planning in mature oil fields, while reducing human intervention and maintaining consistent decision quality.
EVALUASI EFEKTIVITAS BIOSURFAKTAN SOPHOROLIPID DAN RHAMNOLIPID DALAM PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK TAHAP LANJUT PADA BATU PASIR BEREA
Biosurfaktan merupakan senyawa aktif yang dihasilkan secara alami oleh mikroorganisme, memiliki struktur amfipatik yang terdiri dari bagian hidrofilik dan hidrofobik. Dalam metode peningkatan perolehan, biosurfaktan bekerja dengan mekanisme utama yaitu menurunkan tegangan antarmuka minyak-air dan mengubah wettability batuan dari oil-wet menjadi water-wet. Penelitian ini menggunakan biosurfaktan sophorolipid dan rhamnolipid yang memiliki keunggulan biodegradabilitas tinggi, toksisitas rendah, serta tetap stabil pada temperatur reservoir. Sophorolipid dari Candida bombicola menunjukkan struktur molekul kompleks dengan gugus sophorose, sedangkan rhamnolipid dari Pseudomonas aeruginosa memiliki struktur lebih sederhana dengan gugus rhamnose. Pengujian dilakukan pada batuan pasir Berea dengan variasi konsentrasi 0-0,5%b/b dan salinitas 10.000, 20.000, dan 30.000 ppm. Hasil pengujian menunjukkan sophorolipid mencapai penurunan tegangan antarmuka yaitu 0,83 mN/m pada 0,1%b/b sedangkan rhamnolipid mencapai penurunan tegangan antarmuka yang lebih signifikan yaitu 0,188 mN/m pada 0,05%b/b. Analisis sudut kontak juga menunjukkan kedua biosurfaktan mampu mengubah intermediate-wet menjadi lebih water-wet. Pada pengujian adsorpsi menunjukkan nilai lebih tinggi untuk sophorolipid yaitu 3,78-3,87 mg/g karena struktur molekul yang lebih kompleks. Uji imbibisi spontan dilakukan pada konsentrasi 0,5% untuk memastikan ketersediaan biosurfaktan aktif yang cukup dan meminimalkan pengaruh adsorpsi. Hasil imbibisi rhamnolipid menunjukkan peningkatan perolehan minyak dibandingkan salinitas, sejalan dengan penurunan sudut kontak yang menunjukkan perubahan wettability.
STUDI KELEMBAGAAN PENGELOLAAN WILAYAH PERI URBAN WAY HUWI SEBAGAI KAWASAN CEPAT TUMBUH
Perluasan pertumbuhan kawasan perkotaan yang melampaui batas administratif mendorong terbentuknya wilayah transisi yang berkembang cepat dengan dinamika spasial, sosial, dan ekonomi yang kompleks. Wilayah tersebut kerap menghadapi persoalan pengelolaan karena mekanisme perencanaan dan kelembagaan yang ada masih berorientasi pada batas kewenangan formal, sementara aktivitas dan keterkaitan wilayah bersifat lintas sektor dan lintas wilayah. Kondisi ini menjadikan wilayah pinggiran kota rentan terhadap alih fungsi lahan yang tidak terkendali, tekanan terhadap lingkungan, serta keterbatasan layanan dasar. Fenomena tersebut terlihat pada Desa Way Huwi di Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, yang berkembang pesat seiring keterkaitannya secara fungsional dengan Kota Bandar Lampung dan keberadaan infrastruktur strategis di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi pengelolaan wilayah yang tumbuh cepat serta memahami bentuk dan dinamika kelembagaan yang terlibat dalam pengelolaannya. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan aktor kunci yang terlibat dalam pengelolaan wilayah. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif untuk menggambarkan kondisi pengelolaan wilayah, serta analisis isi untuk mengidentifikasi pola kelembagaan dan hubungan antar aktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah studi mengalami perubahan signifikan yang ditandai oleh alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan terbangun, berkembangnya aktivitas perdagangan dan jasa, munculnya bangunan informal, serta meningkatnya permasalahan lingkungan. Namun, pengelolaan wilayah masih didominasi oleh pendekatan normatif dan sektoral yang bertumpu pada pembagian kewenangan administratif. Koordinasi antar aktor belum terbangun secara efektif dan belum didukung oleh mekanisme pengelolaan kawasan yang terintegrasi.
APLIKASI NANOPARTIKEL PERAK HASIL GREEN SYNTHESIS YANG DIMEDIASI OLEH FUSARIUM SOLANI PADA SEMAI GAHARU GYRINOPS VERSTEEGII (GILG.) DOMKE
Gaharu merupakan tumbuhan penghasil resin aromatik dengan nilai ekonomi tinggi yang dimanfaatkan sebagai bahan baku industri terutama industri farmasi dan parfum. Resin gaharu terbentuk karena adanya induksi berupa stres fisik yang diikuti oleh infeksi mikroba. Metode induksi resin gaharu yang ada saat ini seperti metode konvensional (perlukaan fisik) dan non-konvensional (kimia dan biologi) masih memiliki beberapa keterbatasan seperti risiko terjadinya kerusakan jaringan, kematian tanaman, kualitas resin yang tidak konsisten, serta terbatasnya mobilitas senyawa penginduksi. Salah satu alternatif penginduksi yang berpotensi digunakan adalah nanopartikel karena lebih mudah ditransportasikan dan dapat memicu respons fisiologis tanaman. Pada penelitian ini, digunakan nanopartikel perak (AgNP) sebagai marker translokasi yang secara alami tidak terdeteksi pada gaharu. AgNP dapat diproduksi melalui metode green synthesis dengan menggunakan Fusarium solani yang merupakan endofit alami gaharu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sifat fisikokimia AgNP hasil green synthesis oleh Fusarium solani serta mengevaluasi distribusi dan pola translokasinya dalam jaringan gaharu. AgNP diaplikasikan dengan cara injeksi pada batang semai gaharu dengan beberapa variasi konsentrasi (5%, 25%, 50%, dan 100%) dan variasi durasi paparan (6, 12, 18, dan 24 jam). Pengambilan sampel dilakukan pada 4 titik yaitu titik injeksi (5cm diatas tanah) dan 10, 20, dan 30 cm diatas titik injeksi. Selain itu dilakukan pengamatan pengaruh aplikasi AgNP terhadap perubahan visual struktur interxylary phloem batang gaharu sebagai indikasi awal terjadinya pembentukan resin gaharu. Hasil karakterisasi fisikokimia menunjukkan bahwa AgNP yang disintesis memiliki stabilitas koloid yang baik dengan distribusi ukuran hidrodinamik dalam rentang cukup luas yaitu 171,65–244,53 nm dan zeta potential berada dalam rentang -33,17 sampai -38,33 mV yang menunjukkan stabilitas nanopartikel yang baik. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa distribusi dan translokasi AgNP hingga batang atas gaharu berlangsung secara sistemik melalui xilem. Selain itu, peningkatan konsentrasi AgNP dan durasi paparan menimbulkan gradien konsentrasi Ag yang semakin tinggi di batang gaharu. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa aplikasi AgNP pada batang gaharu memicu terjadinya perubahan visual pada interxylary phloem sehingga tampak lebih banyak dan tegas dibandingkan kontrol. Hal ini kemungkinan mengindikasikan adanya aktivasi awal sistem pertahanan gaharu berupa produksi senyawa resin gaharu.
PENGEMBANGAN DAN KARAKTERISASI SNEDDS BERBASIS EKSTRAK ORYZA SATIVA VAR. GLUTINOSA BLANCO SEBAGAI KANDIDAT NUTRASETIKAL: EVALUASI AKTIVITAS HEPATOPROTEKTIF DAN BIODISTRIBUSI IN VIVO-EX VIVO
Ekstrak beras ketan hitam (EKH; Oryza sativa var. glutinosa Blanco) diketahui kaya akan senyawa bioaktif, terutama polifenol, flavonoid, dan antosianin, yang berperan sebagai antioksidan dan memiliki potensi hepatoprotektif. Namun, keterbatasan kelarutan air, stabilitas, dan bioavailabilitas oral menjadi kendala utama dalam pengembangan ekstrak ini sebagai produk nutrasetikal. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi sistem penghantaran berbasis Self-Nanoemulsifying Drug Delivery System (SNEDDS) dan bentuk padatnya (Solid-SNEDDS/S-SNEDDS) guna meningkatkan kinerja biofarmasetika dan efektivitas hepatoprotektif ekstrak ketan hitam. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi etanol dan dilakukan metabolite profiling menggunakan Ultra Performance Liquid Chromatography Tandem Mass Spectrometry (UPLC- MS/MS), yang mengidentifikasi sianidin-3-o-glukosida (13,87 ± 0,12 mg/g) dan kuersetin (24,10 ± 1,34 mg/g) sebagai senyawa penanda utama. Formulasi SNEDDS dikembangkan menggunakan minyak jagung, Tween® 80, dan propilen glikol, kemudian dioptimalkan melalui diagram fase pseudoternary dan disolidifikasi dengan Neusilin® US2 untuk menghasilkan S-SNEDDS. Karakterisasi meliputi ukuran droplet, waktu emulsifikasi, potensial zeta, stabilitas termodinamik, serta analisis fisikokimia menggunakan TEM, SEM, FTIR, DSC, dan XRD. Hasil menunjukkan bahwa SNEDDS menghasilkan nanoemulsi dengan ukuran droplet sekitar 15 nm, emulsifikasi cepat, dan peningkatan kelarutan serta laju disolusi pada berbagai kondisi pH (1,2; 4,5; dan 6,8). Aktivitas antioksidan meningkat secara signifikan pada formulasi SNEDDS-EKH (IC??32,6 ????g/mL) dibandingkan EKH (IC??47,4 ????g/mL). Evaluasi in vivo pada model cedera hati yang diinduksi karbon tetraklorida (CCl?) menunjukkan bahwa SNEDDS EKH pada dosis 100 dan 200 mg/kg BB secara signifikan menurunkan kadar ALT, AST, ALP, GGT, dan bilirubin total, serta menormalkan kadar albumin. Pemeriksaan histopatologi mengonfirmasi perbaikan struktur jaringan hati melalui penurunan nekrosis hepatosit dan infiltrasi inflamasi. Studi biodistribusi in vivo dan ex vivo menggunakan In Vivo Imaging System (IVIS) dan Ex Vivo Imaging System (EVIS) menunjukkan bahwa SNEDDS EKH terdistribusi secara cepat dan selektif ke jaringan hati setelah pemberian oral, dengan intensitas sinyal fluoresens tertinggi pada fase awal dan penurunan progresif seiring waktu. Pola biodistribusi ini mengkonfirmasi sifat hepatoselektif sistem SNEDDS tanpa adanya akumulasi persisten pada organ nontarget, sehingga mendukung aspek keamanan sistem penghantaran. Secara keseluruhan, integrasi standarisasi ekstrak, formulasi SNEDDS dan S-SNEDDS, serta evaluasi aktivitas hepatoprotektif dan biodistribusi in vivo-ex vivo membuktikan bahwa sistem SNEDDS merupakan pendekatan yang efektif dan rasional untuk meningkatkan bioavailabilitas, efikasi, dan keamanan ekstrak ketan hitam sebagai kandidat nutrasetikal hepatoprotektif berbasis teknologi nano.
TREATMENT TECHNOLOGY REQUIREMENTS FOR OVERCOMING BARRIERS TO SEWAGE SLUDGE UTILIZATION IN THE BANDUNG METROPOLITAN AREA, INDONESIA
Indonesia confronts the dual crises of inadequate urban sanitation infrastructure and soil fertility degradation due to a long-term reliance on chemical fertilizers. Although reusing faecal sludge as organic fertilizer offers a promising circular economy solution, widespread adoption is significantly hindered by the religious classification of human excreta as najis(impure) by the Muslim majority. This research evaluates the technological feasibility, economic viability, and religious acceptability of implementing sludge reuse systems in the Bandung Metropolitan Area. Adopting a mixed-methods approach, the study combined quantitative perception surveys of 311 residents with in-depth qualitative interviews involving 26 ulama (Islamic scholars). Five distinct treatment scenarios were analyzed, ranging from simple drying to advanced phosphorus extraction. Statistical analysis revealed a robust positive correlation (p <.001) between technological sophistication and public acceptance. Specifically, "High" public worry levels plummeted from 72.5% for untreated sludge to 17.9% for extracted phosphorus, confirming that establishing a "perceptual distance" from raw waste is essential for social acceptance. Theologically, the study identified the Islamic principle of Istihalah (complete transformation) as the decisive factor for legitimacy. The ulama consensus indicated that only technologies capable of fundamentally altering the material's essence (e.g., phosphorus recovery) render the product religiously pure (halal). Sociologically, an "Education-Acceptance Paradox" was observed: highly educated urban respondents remained skeptical, whereas rural groups demonstrated greater pragmatism. Economically, however, the fertilizer is perceived as an "inferior good," with 86.5% of respondents demanding price discounts. Consequently, the study concludes that sustainable sanitation requires high-tech nutrient recovery systems to satisfy strict religious criteria, supported by government subsidies to bridge the structural gap between high processing costs and low market willingness-to-pay. Keywords: Sustainable Sanitation, E
SISTEM WRENCH FAULT DALAM PEMBENTUKAN DAN DEFORMASI CEKUNGAN BELAKANG BUSUR TERSIER SUMATRA: STUDI KASUS CEKUNGAN SUMATRA UTARA
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran sistem wrench dalam pembentukan dan deformasi cekungan belakang busur Tersier Sumatra, dengan fokus khusus pada Cekungan Sumatra Utara. Pendekatan penelitian dilakukan melalui integrasi analisis geologi permukaan, interpretasi data bawah permukaan (seismik), restorasi palinspastik 2D, serta simulasi fisik menggunakan Analogue Sandbox Modeling (ASM). Berdasarkan hasil pemetaan digital di sepanjang Sesar Sumatra dan sesar mendatar regional lainnya di Sundaland, sistem wrench fault terintegrasi mulai dari Pegunungan Himalaya ke Asia Tenggara, membuktikan keberadaan sesar mendatar sebagai hasil tektonik ekstrusi (extrusion tectonic). Tektonik ini terjadi pada Kala Eosen ketika Lempeng India bertumbukan dengan Lempeng Eurasia yang menghadirkan sesar-sesar mendatar berskala besar di Asia Tenggara (Sundaland) yang bertindak sebagai far-field stress.Penelitian ini juga membuktikan bahwa Sesar Sumatra bertindak sebagai tectonic boundary yang menyebabkan sistem shearing berhenti dan pembentukan cekungan terbatas di bagian timur dari Sesar Sumatra. Berhentinya pertumbuhan sesar-sesar (graben) berarah N-S di sisi utara Sesar Sumatra menjadikan cekungan-cekungan yang berada di belakang busur Sumatra terisolasi. Adanya pola kelurusan graben yang berbeda-beda pada cekungan belakang busur Sumatra berumur Tersier sangat dipengaruhi oleh konfigurasi struktur batuan dasar (pre-existing structure). Secara khusus di daerah Gurami-Tamiang, pola graben berarah utara-selatan dikontrol oleh keberadaan Sesar Lokop-Kutacane, sesar mendatar menganan berarah hampir utara-selatan, dan dibatasi oleh Sesar Sumatra dan Sesar MSTZ ke arah selatan. Dalam perjalanan penelitian, ditemukan juga bentuk sesar dan graben pada Zona Sesar Sumatra yang menunjukkan adanya tujuh domain struktural yang mencakup 53 pull-apart graben. Secara geometris, graben tersebut memiliki bentuk elipsoid dengan rasio panjang terhadap lebar yang konsisten sebesar 4:1, mengikuti pola linier formula y = 0.2563x (R² = 0.8389). Temuan ini mengonfirmasi bahwa pola dan geometri graben dikontrol oleh sistem sesar mendatar (wrench system) yang berkembang searah dengan bidang konvergensi oblique Sumatra sejak Paleogen hingga saat ini. Pada studi kasus di Area Gurami-Tamiang, Cekungan Sumatra Utara, integrasi data menunjukkan bahwa pembentukan cekungan dimulai pada kala Eosen (~45 Ma) melalui mekanisme wrench yang menghasilkan struktur bunga negatif (negative flower structure) pada batuan dasar. Analisis restorasi palinspastik mengidentifikasi tiga fase tektonik utama: (1) Fase Ekstensional (45–32 Ma) dengan regangan positif hingga 11,64%; (2) Fase Transisi (32–22 Ma) yang menunjukkan skenario regangan campuran (mixed-strain); dan (3) Fase Kontraksional (22 Ma–sekarang) yang dicirikan oleh inversi struktur. Validasi melalui pemodelan analog (ASM) memperkuat bukti bahwa kehadiran sesar mendatar seperti Sesar Lokop-Kutacane dan Sesar MSTZ berperan krusial dalam mengontrol bukaan graben secara spasial. Analisis komprehensif dari tujuh simulasi Analogue Sandbox Modeling (ASM), yang masing-masing terdiri dari tujuh tahapan pergerakan inkremental, menunjukkan bahwa inisiasi graben terjadi secara spesifik selama tahap 5 hingga 7. Interval ini merepresentasikan fase pergerakan sesar mendatar miring (oblique strike-slip motion), berfungsi sebagai analog mekanis untuk defleksi (pembelokan) ke arah timur Sesar Sumatra di dalam Zona Tektonik Medial Sumatra (Medial Sumatra Tectonic Zone, MSTZ). Kebaruan (novelty) penelitian ini membuktikan secara empiris bahwa rasio geometri graben bawah permukaan di Area Gurami-Tamiang memiliki konsistensi linier yang sangat kuat, berupa formula y = 0.2448x (R² = 0.9971), selaras dengan pola geologi permukaannya. Secara implikatif, sisi selatan Gurami-Tamiang Deep diidentifikasi sebagai pusat pengendapan (depocenter) utama yang potensial bagi sistem hidrokarbon. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sistem wrench merupakan mekanisme fundamental dalam evolusi arsitektur cekungan belakang busur di Sumatra yang dikontrol oleh pre-existing structure pada batuan dasar, tektonik ekstrusi (extrusion tectonic) sebagai far-field stress, dikombinasikan dengan oblique convergence pada jalur subduksi Sumatra yang menghasilkan Sesar Sumatra menjadi tectonic boundary bagi pertumbuhan graben di cekungan belakang busur Sumatra berumur Tersier.
PENGEMBANGAN LAYANAN PEMERINGKATAN PROFIL PENGGUNA LINKEDIN PADA SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN SELEKSI PEKERJA BERDASARKAN DIGITAL FOOTPRINT PELAMAR KERJA
Sumber Daya Manusia sebagai komponen penting penggerak perusahaan dengan kunci utama menciptakan SDM profesional terletak pada proses rekrutmen dan seleksi. Seiring pertumbuhan pengguna internet Indonesia yang mencapai 210 juta pada tahun 2022, platform LinkedIn dimanfaatkan sekitar 29,4% pengguna untuk membangun personal branding, membentuk digital footprint yang merepresentasikan riwayat profesional seseorang yang berpotensi membantu seleksi SDM berkualitas. Berdasarkan analisis kebutuhan, sistem dirancang untuk melakukan pemeringkatan kandidat menggunakan pendekatan machine learning dengan arsitektur bi-encoder. Model IndoBERT dipilih karena kemampuannya memproses teks berbahasa Indonesia, sedangkan mContriever dipilih sebagai pembanding karena merupakan model multilingual berbasis information retrieval. Evaluasi menggunakan metrik NDCG yang dinilai sesuai untuk mengukur kualitas pemeringkatan. Eksperimen dilakukan dengan menerapkan domain adaptive pre-training pada IndoBERT dan mContriever menggunakan data profil LinkedIn. Kedua model menghasilkan representasi vektor melalui mean pooling, kemudian pemeringkatan dilakukan berdasarkan cosine similarity antara vektor deskripsi pekerjaan dan vektor profil kandidat. Hasil eksperimen menunjukkan IndoBERT mencapai skor NDCG 0.78 berdasarkan ground truth yang dilabeli praktisi HR, lebih unggul dibandingkan mContriever yang memiliki waktu inferensi tercepat (11.4 detik versus 13.96 detik). Hasil evaluasi menunjukkan domain adaptive pre-training pada IndoBERT efektif untuk pemeringkatan kandidat berbasis digital footprint, mampu menempatkan kandidat relevan pada posisi atas secara konsisten. Sementara itu, mContriever menawarkan kecepatan 18% lebih cepat sehingga cocok untuk skenario screening awal dengan volume besar. Saran untuk penelitian selanjutnya meliputi pemanfaatan data keputusan HR sebagai pelabelan data baru, integrasi data postingan LinkedIn untuk memperkaya representasi kandidat, serta eksplorasi arsitektur transformer decoder yang menunjukkan kemampuan reasoning lebih baik.
DESAIN PERANCANGAN BIDIRECTIONAL AC-DC CONVERTER UNTUK DC MICROGRID CLUSTER
Sumber energi terbarukan di Indonesia memiliki potensi yang besar untuk dapat dimanfaatkan sebagai sumber kelistrikan, terutama di daerah 3T. Untuk mengelola sumber energi di daerah-daerah tersebut, salah satu solusi yang bisa dipilih adalah dengan mengaplikasikan konsep DC Microgrid dengan topologi Cluster. Namun, ada kalanya terjadi sebuah kondisi dimana pemerintah setempat melakukan ekspansi jaringan listrik AC (satu fasa) untuk meningkatkan reliabilitas suplai kelistrikan di daerah 3T tersebut. Hal tersebut akan menimbulkan suatu masalah baru karena ekspansi dari AC Grid dengan DC Microgrid yang telah dibangun tidak saling terintegrasi dan malah beroperasi masing-masing sehingga tidak optimal. Untuk mengatasi masalah tersebut, diusulkan sebuah desain rancangan konverter AC-DC dua arah atau bidirectional AC-DC converter. Dengan adanya bidirectional AC-DC converter, jaringan listrik dari sisi AC grid dapat menjadi backup ketika terjadi kekurangan daya dari sisi DC Microgrid, serta AC grid dapat menyerap kelebihan daya yang ada di DC Microgrid sehingga sumber energi terbarukan dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Desain bidirectional AC-DC converter yang dirancang telah berhasil diwujudkan dan diverifikasi menggunakan MATLAB Simulink. Hasil simulasi menunjukkan bahwa desain konverter AC-DC yang dirancang berhasil mengalirkan daya secara dua arah berdasarkan kondisi masing-masing DC Microgrid sehingga AC Grid dan DC Microgrid Cluster dapat terintegrasi dengan baik.