📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenBUSINESS MODEL INNOVATION: REVENUE STREAMS- BASED REDESIGN FOR SUSTAINABLE GROWTH OF BOO DIGITAL PLATFORM
Platform konten digital telah mengalami ekspansi pesat yang didorong oleh interaksi audiens dan penggandaan konten. Namun demikian, mengubah keterlibatan tersebut menjadi pendapatan yang berkelanjutan tetap menjadi masalah yang signifikan, terutama untuk platform yang baru muncul dan independen. BOO, sebuah platform digital yang didedikasikan untuk pendidikan kewirausahaan dan pembuatan konten, menunjukkan kondisi ini. Meskipun BOO telah mengalami pertumbuhan audiens dan metrik keterlibatan yang signifikan, platform ini gagal membangun model bisnis yang dapat menghasilkan pendapatan yang berkelanjutan dan dapat diprediksi. Model bisnis platform saat ini sebagian besar bergantung pada sponsor non-berulang dan kemitraan insidental, yang menyebabkan arus kas yang fluktuatif dan ketergantungan terus-menerus pada keuangan pribadi para pendirinya. Situasi ini menghadirkan tantangan komersial yang kritis: kurangnya model pendapatan yang mampu memastikan kelangsungan operasional BOO dalam jangka panjang. Studi ini bertujuan untuk memeriksa kendala struktural model pendapatan BOO saat ini dan untuk mengembangkan inovasi model bisnis yang berfokus pada pendapatan yang mendorong pertumbuhan berkelanjutan. Studi ini secara terbuka memprioritaskan logika pendapatan sebagai penekanan analitis utama, daripada menyelidiki penciptaan nilai atau keterlibatan audiens sebagai pendorong utama. Studi ini menggunakan metodologi studi kasus kualitatif, dengan memanfaatkan BOO sebagai unit analitis, untuk menyelidiki munculnya kesulitan monetisasi dalam lingkungan bisnis digital berbasis konten. Data primer diperoleh melalui wawancara komprehensif dengan pemangku kepentingan internal (pendiri dan anggota tim inti) dan pemangku kepentingan eksternal (mitra, klien, dan praktisi industri). Data tersebut dilengkapi dengan sumber sekunder, seperti dokumen kinerja internal, analitik platform, laporan industri, dan literatur akademis yang relevan. Analisis data dilakukan dengan analisis konten kualitatif, yang mencakup pengkodean, kategorisasi, dan interpretasi transkrip wawancara dan materi tambahan secara cermat. Metode analitis diarahkan oleh kerangka kerja konseptual yang mensintesis keberlanjutan pendapatan, masalah monetisasi di platform konten digital, dan inovasi model bisnis dari sudut pandang yang berpusat pada pendapatan. Hasilnya menunjukkan kesenjangan sistemik antara kinerja operasional BOO dan hasil keuangannya. Meskipun pembuatan konten dan keterlibatan audiens berfungsi sebagai mekanisme penciptaan nilai yang sangat baik, kurangnya strategi monetisasi langsung dan teratur menghambat kemampuan platform untuk mengubah nilai ini menjadi uang. Pengaturan sponsor saat ini membuat BOO rentan terhadap fluktuasi pasar eksternal, pola periklanan musiman, dan daya tawar yang terbatas, sehingga membatasi perkiraan keuangan dan potensi pertumbuhan jangka panjang. Baik informan internal maupun eksternal terusmenerus menyoroti bahwa keterlibatan saja tidak memberikan basis pendapatan yang berkelanjutan tanpa strategi monetisasi yang jelas dan sesuai dengan keinginan pelanggan untuk membayar. Laporan ini menganjurkan inovasi model bisnis yang berpusat pada pendapatan yang memprioritaskan konfigurasi ulang aliran pendapatan sebagai mekanisme utama transformasi. Inovasi yang disarankan bertujuan untuk mendiversifikasi sumber pendapatan dengan menekankan metode pendapatan langsung, berulang, dan independen, sambil secara bijaksana memodifikasi elemen lain dari model perusahaan agar selaras dengan strategi pendapatan baru. Strategi yang diusulkan bukanlah untuk sepenuhnya mengubah model bisnis BOO, tetapi untuk meningkatkan keselarasan antara aktivitas penghasil nilai dan mekanisme penghasil pendapatan. Penelitian ini memperkaya literatur akademis dengan mengklarifikasi kontras antara keterlibatan audiens dan keberlanjutan pendapatan di perusahaan konten digital, dan dengan mengilustrasikan pentingnya inovasi model bisnis berbasis pendapatan sebagai kerangka kerja analitis dan praktis. Studi ini memberikan wawasan praktis bagi platform konten digital yang menghadapi kesulitan monetisasi serupa, terutama platform dengan tingkat keterlibatan tinggi namun kerangka pendapatan yang tidak memadai. Laporan ini menekankan bahwa pertumbuhan berkelanjutan di platform digital tidak hanya bergantung pada penciptaan nilai, tetapi juga pada penetapan metode yang eksplisit dan kuat untuk mengubah nilai tersebut menjadi uang.
KOREKSI DATA SUHU DAN PH LAUT MARINE COPERNICUS UNTUK PERAIRAN CIREBON
Perairan Cirebon di utara Pulau Jawa merupakan perairan dangkal yang dipengaruhi banyak muara sungai dan aktivitas manusia. Kondisi ini menyebabkan dinamika oseanografi yang kuat, terutama pada parameter suhu dan pH yang berperan penting dalam kualitas perairan. Pengukuran in situ memberikan data yang akurat, namun memerlukan biaya tinggi, sehingga data reanalisis CMEMS banyak digunakan sebagai alternatif. Namun, karena berskala global, data tersebut berpotensi tidak sepenuhnya merepresentasikan kondisi lokal pesisir sehingga perlu dievaluasi dan dikoreksi. Penelitian ini bertujuan menganalisis distribusi vertikal suhu dan pH di perairan Cirebon, mengevaluasi kesesuaian data CMEMS terhadap data in situ, serta menyusun model koreksi. Pengamatan in situ dilakukan pada lima stasiun dari dekat pantai hingga lepas pantai dan diperoleh menggunakan sensor MIDAS CTD+ Valeport, sedangkan data pembanding berasal dari produk CMEMS. Analisis dilakukan menggunakan distribusi vertikal, korelasi Pearson, serta pemodelan regresi dengan evaluasi kinerja berdasarkan nilai korelasi dan RMSE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi vertikal suhu perairan Cirebon menunjukkan nilai minimum pada musim barat–timur (28,22–28,41°C) dan maksimum pada musim peralihan I–II (31,46–31,47°C), dengan kisaran pH 7,16–8,43. Data suhu CMEMS memiliki kesesuaian tinggi terhadap data in situ (R = 0,917), sedangkan data pH menunjukkan kesesuaian rendah (R = ?0,2089). Model koreksi terbaik untuk suhu diperoleh dari regresi polinomial orde dua dengan R = 0,921. Untuk pH, meskipun polinomial orde tiga memberikan R tertinggi (R = 0,222) dan regresi linier lebih praktis (R = 0,212), belum diperoleh model koreksi yang memadai.
INTEGRASI ANALISIS KAUSAL KE DALAM MANAJEMEN RISIKO PENGADAAN: KERANGKA KERJA PENUNJUKAN LANGSUNG PADA BUMN
Penunjukan Langsung merupakan metode pengadaan yang paling umum digunakan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia, khususnya untuk transaksi non-konstruksi dengan nilai Rp100-200 juta. Namun, manajemen risiko untuk metode ini cenderung bersifat reaktif. Fokus manajemen risiko pada pengadaan ini biasanya hanya menilai pada tingkat keparahan risiko secara individual, tanpa melihat bagaimana risiko saling memengaruhi satu sama lain. Hal ini membuat organisasi menjadi cukup rentan terhadap kegagalan dalam mematuhi aturan, adanya temuan audit, dan inefisiensi anggaran. Tesis ini menyusun kerangka manajemen risiko proaktif untuk pengadaan Penunjukan Langsung di unit Perusahaan pada suatu BUMN di Indonesia, dengan tujuan mencapai target mendekati zero non-conformity. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan metode campuran (mixed-methods). Data dikumpulkan melalui tinjauan regulasi, data risiko historis internal perusahaan, analisis literatur, dan wawancara semi-terstruktur dengan enam praktisi pengadaan. Responden mencakup pihak-pihak dari unit pengendalian anggaran, penjaminan mutu, operasional pengadaan, dan pengguna. Dari sisi kuantitatif, penilaian Likelihood × Impact konvensional dikombinasikan dengan analisis kausal DEMATEL (Decision Making Trial and Evaluation Laboratory). Keduanya kemudian diintegrasikan melalui Significance Index yang menghasilkan gambaran tingkat keparahan risiko berdampak biaya langsung maupun tidak langsung. Dari sisi kualitatif, Directed Content Analysis digunakan untuk mengidentifikasi akar penyebab menggunakan data dari transkrip wawancara. Kerangka kerja ini mengikuti prinsip manajemen risiko ISO 31000:2018. Hasil analisis memvalidasi adanya delapan risiko kritis. Kelompok Risiko Kriteria Pengadaan mencakup pemilihan dan justifikasi kriteria Penunjukan Langsung, sedangkan Risiko Proses berfokus pada kualitas pelaksanaan dan dokumentasi pada pengadaan. Pemetaan kausal DEMATEL mengklasifikasikan lima risiko sebagai Risiko Penyebab yang mendorong munculnya risiko lain, dan tiga lainnya sebagai Risiko Akibat yang dipengaruhi oleh risiko penyebab. Significance Index menunjukkan bahwa risiko Kebocoran Informasi Anggaran memiliki prioritas tertinggi (SI = 9,06) karena pengaruh kausal dan kontribusi biayanya yang kuat, meskipun tidak memiliki skor keparahan tertinggi. Ini menunjukkan bahwa prioritisasi risiko berbasis keparahan dengan metode konvensional dapat melewatkan risiko yang penting. Dari analisis kualitatif, teridentifikasi 30 sub-kode akar penyebab dalam enam tema. Di antaranya, risiko Kesenjangan Dokumentasi dan risiko Standardisasi terlihat sebagai pola yang memengaruhi beberapa risiko sekaligus. Ditemukan juga rantai kausal dari risiko Kualitas Justifikasi yang Tidak Memadai ke risiko Amandemen Kontrak, yang berarti risiko hilir bisa ditekan dengan menangani penyebabnya di hulu. Kerangka kerja terintegrasi ini mencakup proses identifikasi, analisis, penanganan, dan pemantauan, di mana strategi mitigasi ditentukan berdasarkan klasifikasi kausalnya. Risiko penyebab (Cause risks) ditangani melalui pengendalian preventif yang menyasar akar masalah, sedangkan risiko akibat (Effect risks) dikelola melalui intervensi hulu atau pengendalian detektif-korektif. Pengendalian yang diusulkan ini diproyeksikan mampu menurunkan skor risiko inheren rata-rata sebesar 37%. Secara khusus, standardisasi template justifikasi menjadi solusi yang efisien karena mampu memitigasi berbagai risiko sekaligus. Selain itu, alur implementasi tiga fase beserta metrik keberhasilannya turut disusun untuk mendukung adopsi sistem yang selaras dengan kapasitas organisasi saat ini. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dengan mendemonstrasikan penerapan analisis interdependensi kausal dalam manajemen risiko pada pengadaan, serta pemanfaatan Significance Index sebagai metode prioritisasi risiko secara hibrida. Secara praktis, kerangka kerja ini menawarkan intervensi konkret bagi organisasi yang menjadi objek studi, di mana metodologinya dapat diadaptasi untuk proses pengadaan di BUMN sejenis. Kendati temuan riset ini bersifat spesifik pada konteks kasus tersebut, pendekatan analitis yang digunakan tetap dapat direplikasi pada lingkungan dengan regulasi serupa.
MODEL PENGGANTI (SURROGATE MODELLING) SIMULASI COMPUTATIONAL FLUID DYNAMICS (CFD) KENDARAAN MELALUI MODIFIKASI TRIPNET
Penelitian ini dilakukan untuk menerapkan teknik surrogate modelling berbasis machine learning untuk mereplikasi hasil simulasi computational fluid dynamics (CFD) pada kendaraan, dengan metode yang digunakan merupakan modifikasi dari kajian TripNet agar bisa dijalankan pada Google Colab. Geometri kendaraan direpresentasikan menggunakan triplanes atau potongan-potongan geometri dua dimensi yang digenerasi melalui Neural Field Diffusion (NFD) dan dimodifikasi melalui penyesuaian algoritma neural network yang digunakan. Representasi ini digunakan sebagai masukan bagi dua model utama yakni convolutional neural network (CNN) untuk prediksi koefisien gesekan udara dan kombinasi U-Net–MLP untuk pemodelan velocity flow field dan surface pressure. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa model CNN menghasilkan % MAE sebesar 1.45% dengan koefisien determinasi R² ~0.80 untuk prediksi koefisien gesekan udara. Sementara itu, model U-Net–MLP menghasilkan % MAE rata-rata sebesar 15.71% untuk velocity flow field dan 16.85% untuk surface pressure. Dibandingkan dengan studi TripNet, perbedaan terutama muncul dari teknik normalisasi yang digunakan, di mana penelitian ini menekankan preservasi data untuk memodelkan nilai ekstrem meskipun berdampak pada penurunan akurasi di daerah bernilai kecil. Selain itu, triplanes yang teradaptasi juga berperan dalam perbedaan dengan hasil TripNet ini di mana triplanes yang diperoleh lebih rendah secara detil dan noisy dibandingkan hasil pada TripNet. Hasil ini menunjukkan bahwa surrogate modelling berbasis ML memiliki potensi sebagai alternatif komputasi CFD yang lebih ringan sekaligus menyoroti adanya kompromi antara akurasi di nilai ekstrem dan akurasi di nilai kecil beserta kompromi performa terhadap kualitas dalam generasi triplanes.
PERANCANGAN ALAT BANTU KEPATUHAN MINUM OBAT BAGI KARYAWATI PENDERITA TUBERKULOSIS SENSITIF OBAT USIA 22–25 TAHUN
uberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia, dengan jumlah kasus mencapai 821.200 pada tahun 2023. Salah satu tantangan dalam pengobatan TBC adalah ketidakpatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat yang berlangsung selama enam bulan. Dalam masa pengobatan dibutuhkan konsistensi untuk mengkonsumsi obat pada jam yang sama di setiap harinya dan wajib dikonsumsi dalam keadaan perut kosong. Kepatuhan pengobatan tidak dapat dinilai dan diukur semata-mata hanya melalui niat dan kedisiplinan pasien. Tetapi, desain obat anti tuberkulosis (OAT) yang tidak ramah pengguna juga dapat mempengaruhi tingkat kepatuhan. Tidak hanya itu, sebesar 80% pekerja formal penderita TBC mengalami stigma sosial negatif di tempat kerja. Tindakan seperti pengucilan, munculnya anggapan negatif, isolasi, hingga pemutusan hubungan kerja sepihak. Hal ini dapat mempengaruhi kondisi psikologis pasien dan berdampak pada ketidakpatuhan pengobatan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merancang alat bantu kepatuhan minum obat yang sesuai dengan perilaku dan kebutuhan pengguna, dalam hal ini adalah seorang karyawati berusia 22-25 tahun. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur serta pendekatan contextual design untuk pengembangan produk yang menekankan pada portabilitas produk dan invisibilitas untuk memberikan rasa aman kepada pengguna.
EKSPLORASI NIKEL LATERIT MENGGUNAKAN METODE GROUND PENETRATING RADAR DI LAPANGAN
Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, merupakan salah satu daerah dengan potensi endapan nikel laterit yang besar karena tersusun oleh batuan ultramafik sebagai batuan induk. Penelitian ini dilakukan di Lapangan “MARINA”, Tapunopaka, dengan tujuan untuk memetakan distribusi lapisan nikel laterit bawah permukaan serta mengidentifikasi batas antar lapisan topsoil, limonit, saprolit, dan bedrock menggunakan metode Ground Penetrating Radar (GPR). Metode GPR dipilih karena memiliki resolusi tinggi pada kedalaman dangkal hingga menengah serta bersifat cepat dan non-destruktif, sehingga sesuai untuk eksplorasi awal endapan nikel laterit. Akuisisi data GPR dilakukan menggunakan peralatan MALA Rough Terrain Antenna (RTA) dengan frekuensi 25 MHz pada enam lintasan pengukuran, yaitu lintasan 5, 6, 9A, 9B, 10A, dan 10B, dengan panjang lintasan bervariasi antara 253 m hingga 393 m. Data hasil akuisisi diolah menggunakan perangkat lunak ReflexW melalui beberapa tahapan, meliputi Dewow, Static Correction, Automatic Gain Control (AGC), Bandpass Butterworth filter, Background Removal, FK-filter, Running Average, serta koreksi topografi. Hasil pengolahan selanjutnya dianalisis dan diinterpretasikan dalam bentuk radargram dan diagram pagar untuk menggambarkan kontinuitas lateral lapisan laterit. Hasil interpretasi radargram menunjukkan adanya kontras amplitudo refleksi yang jelas antara zona laterit dan batuan dasar ultramafik. Lapisan topsoil–limonit umumnya teridentifikasi pada kedalaman 0–14 m, lapisan saprolit berada pada kedalaman sekitar 6–60 m dengan ketebalan yang bervariasi secara lateral, sedangkan bedrock mulai muncul pada kedalaman 30–68 m. Zona saprolit menunjukkan refleksi yang relatif heterogen akibat pengaruh variasi kandungan lempung dan kadar air, namun tetap menjadi zona target utama eksplorasi nikel laterit. Korelasi antara hasil interpretasi GPR dan data bor menunjukkan kesesuaian yang baik pada lapisan topsoil dan limonit, sementara pada lapisan saprolit terdapat perbedaan kedalaman yang dipengaruhi oleh heterogenitas material bawah permukaan. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa metode GPR dengan antena frekuensi 25 MHz efektif untuk memetakan distribusi dan ketebalan lapisan nikel laterit pada kedalaman dangkal hingga menengah. Integrasi data GPR dan data borii sangat penting untuk meningkatkan keakuratan interpretasi bawah permukaan, sehingga metode ini dapat menjadi pendukung yang andal dalam tahap awal eksplorasi nikel laterit di daerah tropis seperti Sulawesi Tenggara.
PENGARUH TINGKAT ANTROPOMORFIK CHATBOT KONSELING TERHADAP PREFERENSI MAHASISWA: PERAN KARAKTERISTIK PSIKOLOGIS DAN GENDER
Perkembangan teknologi digital mendorong pemanfaatan chatbot sebagai media interaksi dalam berbagai layanan berbasis daring, termasuk layanan konseling. Meskipun chatbot menawarkan kemudahan dan efisiensi, efektivitas interaksi chatbot dalam layanan konseling juga perlu diperhatikan, karena preferensi pengguna terhadap chatbot mencerminkan sejauh mana interaksi tersebut sesuai dengan kebutuhan masing-masing pengguna. Preferensi ini tidak bersifat seragam, sehingga variasi respons dapat diamati lebih jelas ketika pengguna dibedakan berdasarkan demografi tertentu. Meskipun sejumlah penelitian telah mengkaji preferensi pengguna terhadap chatbot dan peran karakteristik psikologis dalam interaksi manusia dan teknologi, kajian yang menelaah pola preferensi pada masing-masing kelompok gender serta mengaitkannya langsung dengan perancangan alur interaksi chatbot konseling masih terbatas. Penelitian ini memberikan perspektif tambahan dengan menempatkan fokus analisis pada preferensi terhadap tingkat antropomorfisme chatbot konseling pada masing- masing kelompok gender dan mengaitkannya dengan implikasi perancangan alur interaksi chatbot konseling. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola preferensi pengguna terhadap chatbot konseling berdasarkan karakteristik psikologis pengguna dalam masing-masing kelompok gender. Penelitian melibatkan 188 responden mahasiswa dengan dua variabel psikologis, yaitu social anxiety dan neuroticism. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola preferensi pengguna terhadap tingkat antropomorfisme chatbot konseling berbeda antar kelompok gender. Studi ini memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan kajian interaksi manusia dan chatbot melalui pendekatan psikologis, serta kontribusi praktis bagi pengembang layanan konseling digital dalam merancang chatbot yang lebih sesuai dengan preferensi pengguna.
MENGEMBANGKAN STRATEGI PEMASARAN YANG EFEKTIF UNTUK MENARIK DAN MEMPERTAHANKAN PENGUNJUNG: STUDI KASUS SELASAR SUNARYO ART SPACE
Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) yang beroperasi lebih dari 20 tahun dalam Kota Kreatif UNESCO Bandung menghadapi tantangan keterlibatan pengunjung yang mempengaruhi institusi budaya, yaitu ketidakkonsistenan kehadiran, jangkauan demografis terbatas (terutama terdiri dari profesional muda dan individu berkaitan dengan seni), dan kurangnya kesadaran di luar audiens saat ini. Penelitian ini menyelidiki aktivitas pemasaran saat ini, motivasi pengunjung, dan kesenjangan misi SSAS yang tidak terpenuhi menggunakan penelitian metode campuran yang terdiri dari survei (n=162), wawancara dengan pengunjung dan non-pengunjung (n=11), data institusional, dan laporan publik melalui bauran pemasaran 7Ps, STP, dan teori perilaku pengunjung. Analisis menunjukkan bahwa pemasaran bersifat reaktif tetapi tidak strategis, terlihat pada Instagram yang tidak memiliki konten konversi. Kesenjangan infrastruktur meliputi kurangnya petunjuk lokasi dan bantuan interpretatif yang terbatas. Penargetan terjadi secara implisit dibandingkan eksplisit. Meskipun SSAS memiliki keunggulan unik termasuk keunikan arsitektur, perbukitan alami, lingkungan kontemplatif, pemasaran tidak sejalan dengan keunggulan eksperiensial ini. Rencana yang diusulkan memposisikan SSAS sebagai pelarian kontemplatif alihalih galeri klasik dan berfokus pada para Pencari Pengalaman (pengunjung yang mengutamakan pengalaman daripada pengetahuan tentang seni), mengeluarkan program keanggotaan, dan mengatasi kekurangan infrastruktur. Studi ini menunjukkan bahwa strategi berbasis bukti yang dapat dikembangkan oleh organisasi budaya dengan sumber daya terbatas dapat menghasilkan pertumbuhan audiens berdasarkan misi institusional serta meningkatkan keterlibatan komunitas.
MENGEMBANGKAN STRATEGI PEMASARAN BERDASARKAN SEGMENTASI, PENARGETAN, PENENTUAN POSISI (STP): SEBUAH STUDI KASUS DI JERNIP KENCANA
Jernip Kencana merupakan sebuah usaha keluarga yang telah beroperasi sejak 1996 di Kuningan, Jawa Barat, meproduksi sirup jeruk nipis alami melaui bisnis UMKM. Meskipun mendapatkan ulasan pelanggan yang sangat baik dengan rating antara 4,2 hingga 4,8 daris kala 5,0, Perusahaan mengalami penurunan penjualan yang drastic sebesar 61,7% dari kuartal kedua 2021 hingga kuartal keempat 2024. Perusahaan mempertahankan posisinya sebagai pioneer dengan pengalaman 29 tahun di industry ini, namun menghadapi tantangan pemasaran yang serius dimana kualitas produk yang sangat baik tidak diimbangi dengan eprforma penjualan yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mnegidentifikasi akar peneybab penurunan penjualan dan mengembanngkan startegi pemasaran yang komprehensif dan dapat diimpelementasikan oleh UMKM. Tujuan spesifik penelitian mencakup analisis factor internal dan eksternal yang mempengaruhi startegi pemasaran, segmentasi dan identifikasi target pasar yang paling pontesial, pengembangan positioning yang tepat untuk membedakan Jernip Kencana dari kompetitor, serta merumuskan rekomendasi tsrategi pemasaran yang actionable. Penelitian ini menggunakan desian mixed-method dengan mengombinasikan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pemilik dan staf, observasi langsung, serta kuesioner terhadap 285 responden yang dipilih secara purposive di wilayah Kuningan, Bandung, dan Jbodetabek. Analisis ini dilakukan menggunakan K-means clustering untuk segmentasi konsumen, VRIO untuk mengidentifikasi keunggulan kompetitif, Porter’s five forces untuk analisis industry, PESTLE untuk lingkuangn makro, serta marketing Mix 7Ps dan matriks TOWS untuk perumusan strategi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara internal Jenrip Kencana memiliki keunggulan kompetitif berkelanjutan berupa pengalaman usaha selama 29 tahun dan konsistensi kualitas produk. Namun, keunggulan tersebut belum didukung oleh strategi pemasaran yang efektif, ditandai dengan rendahnya brand awareness, pemasaran digital yang tidak konsisten, desain kemasan yang kurang menarik, serta tidak adanya pengelolaan data pelanggan. Dari sisi eksterna; peluang berasal dari meningkatnya kesadaran Kesehatan, penetrasi digital, dan dukungan institusi, sementara ancama utama berasal dari persaingan yang ketat dengan merek yang lebih kuat secara digital serta ketergantungan tinggi pada distributor. Analisis segmentasi mengidentifikasi lima segmen konsumen, dengan segmen 5 dipilih sebagai target utama karena memiliki daya beli yang memadai, kesadaran s=Kesehatan tinggi, serta perilaku digital yang aktif. Berdasarkan analisis positioning, Jenrip Kencana direkomendasikan untuk menempati posisi “heritage premium natural wellness” dengan diferensiasi utama pada warisan usaha sejak 1996 dan proses produksi artisanal. Strategi pemasaran yang diusulkan difromulasikan dengan pendekatan TOWS dan diimpelemntasikan dalam marketing mix 7Ps, dengan focus pada penguatan brand awareness, peningkatan akseibilitas porduk, penguatan pemasaran digital, serta pengelolaan sumber daya secara bertahap. Rencana implementasi dirancang dalam empat fase selama 24 bulan dengan prioritas pada strategi berdampak tinggi dan biaya relative rendah sesuai dengan keterbatssan UMKM
MENINGKATKAN AMBIDEKSTERITAS ORGANISASI PADA PT TOYOTA MOTOR MANUFACTURING INDONESIA
Perusahaan beroperasi di lingkungan yang dinamis dan penting bagi perusahaan untuk menjaga efisiensi operasional (exploitation) sekaligus mengembangkan kapabilitas baru secara simultan (exploration). Baik eksploitasi maupun eksplorasi telah menempatkan ambideksteritas organisasi sebagai strategi untuk perusahaan multinasional dan affiliate lokal. Riset sebelumnya mempelajari ambidexterity di level struktural yang lebih banyak fokus pada perusahaan multinasional (MNE), yang mana tesis ini lebih fokus kepada affiliate lokal dan bagaimana ambideksteritas organisasi diinstitusionalisasikan di dalam organisasi, dengan contoh kasus PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia. Studi ini bertujuan untuk menjawab dua pertanyaan: (1) Bagaimana para pemimpin memaknai dan menerapkan ambideksteritas dalam peran manajerial mereka sehari-hari di PT TMMIN, dan (2) bagaimana ambideksteritas organisasi dapat lebih lanjut dilembagakan untuk mendukung transformasi strategis jangka panjang di PT TMMIN, dengan metode mewawancarai 9 informan yang dipilih berdasarkan purposive sampling. Temuan menunjukkan bahwa PT TMMIN sudah menerapkan ambideksteritas struktural dan sekuensial, namun, ambideksteritas organisasi belum sepenuhnya terinstitusionalisasi. Rekomendasi berupa kerangka konseptual untuk menginstitusionalisasikan ambideksteritas di PT TMMIN.
STUDI KOMPUTASI DESAIN KATALIS PDZN BERBASIS PERMUKAAN DAN KLASTER BERPENYANGGA PADA MEKANISME REAKSI HIDROGENASI KARBON DIOKSIDA MENJADI ASAM FORMAT
Reaksi reduksi konversi CO2 menjadi berbagai macam turunannya merupakan salah satu upaya dalam mengurangi tingkat emisi gas rumah kaca, sekaligus memanfaatkan hasil turunannya pada berbagai macam sektor (industri, energi, dan lain-lain). Salah satu produk konversi CO2 ini, yakni asam format (HCOOH), mempunyai banyak kegunaan seperti sebagai carrier salah satu bahan bakar energi terbarukan dan ramah lingkungan berupa hidrogen, preservasi anti bakteri, dan prekursor sintesis. Katalis memegang peranan penting dalam reaksi konversi karena stabilitas dari ikatan antar atom-atom CO2 yang kuat sehingga mempunyai energi aktivasi atau barrier yang tinggi. Berbagai macam katalis homogen dan heterogen telah banyak digunakan, diteliti, dan dikembangkan hingga saat ini, dengan kelebihan dan tantangannya masing-masing. Katalis heterogen mempunyai kelebihan separasi yang relatif lebih mudah dan stabilitas yang tinggi, namun mempunyai kelemahan berupa selektivitas yang lebih rendah daripada jenis homogen. Modifikasi situs aktif katalis heterogen berbasis klaster berpenyangga sangat penting untuk merancang sistem katalis yang mempunyai aktivitas, stabilitas, dan selektivitas lebih baik. Paduan logam Pd dan Zn yang disangga dengan material ZrO2 adalah salah satu objek rancangan yang menjanjikan untuk katalis reaksi hidrogenasi CO2 menjadi HCOOH. Di samping itu, situs aktif katalitik aktif dan mekanisme reaksi detail masih belum diketahui. Dua model sistem katalis representatif diteliti dalam studi disertasi ini: permukaan PdZn(101) dan klaster subnanometer berpenyangga Pd5Zn/ZrO2. Kalkulasi basis DFT yang dikombinasikan dengan simulasi mikrokinetika digunakan untuk mengidentifikasi struktur dan konfigurasi optimal reaksi. Dari hasil kalkulasi dan simulasi, didapatkan bahwa Pd5Zn/ZrO2 memberikan konfigurasi adsorpsi dan pembentukan spesies intermediet yang jauh lebih stabil secara termodinamika. Lebih lanjut, rute format lebih dominan terjadi pada permukaan PdZn(101), berbeda dengan klaster Pd5Zn/ZrO2 yang mempunyai preferensi jalur karboksil pada mekanisme hidrogenasi CO2 menjadi HCOOH. Analisis struktur elektronik mengungkapkan karakteristik preferensi adsorpsi keadaan transisi dan intermediet yang terpusat pada atom-atom Pd-Zn-Zr di situs antarmuka klaster-penyangga, yang memberikan selektivitas terhadap jalur karboksil pada Pd5Zn/ZrO2. Perbandingan hasil simulasi mikrokinetika menunjukkan preferensi pembentukan COOH pada Pd5Zn/ZrO2 dibandingkan PdZn(101) pada suhu sedang hingga tinggi. Sistem katalis Pd5Zn/ZrO2 juga memproduksi paling banyak HCOOH dibanding permukaan PdZn pada suhu di atas 400 K, dengan reaksi pembentukan HCOO* adalah rate-determining step dari keseluruhan reaksi. ?
USULAN IMPLEMENTASI TRUCK BOOKING SYSTEM UNTUK MEMINIMASI WAKTU PUTAR TRUK EKSTERNAL IMPOR DAN DEMURRAGE COST DALAM PENGAMBILAN PETI KEMAS DI TPK KOJA DENGAN SIMULASI BERBASIS AGEN
Terminal Peti Kemas (TPK) Koja di Pelabuhan Tanjung Priok menghadapi peningkatan throughput tahunan di tengah keterbatasan lahan, sehingga diperlukan optimasi berbasis peralatan yang ada. Akar permasalahan teridentifikasi pada tingginya waktu putar truk eksternal impor akibat potensi reshuffling serta pola kedatangan truk yang tidak merata dan terkonsentrasi pada malam hari. Dalam menjawab permasalahan tersebut, TPK Koja sebenarnya mengusulkan solusi berupa implementasi Truck Booking System (TBS), tetapi mendapatkan pertentangan dari pelanggan karena sifat TBS yang membatasi kedatangan sehingga peluang terjadinya keterlambatan pengambilan peti kemas dalam bentuk demurrage cost dapat meningkat. Maka dari itu, digunakan waktu putar truk eksternal impor dan demurrage cost sebagai kedua metrik untuk melihat keberhasilan dalam pengimplementasian TBS. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengimplementasian TBS menggunakan kedua metrik tersebut. Digunakan metode simulasi berbasis agen karena kemampuamnya dalam merepresentasikan atribut dan perilaku yang dimiliki oleh suatu agen/entitas. Model simulasi dikembangkan berdasarkan pendefinisian sistem operasional yang jelas dan dibangun menggunakan perangkat lunak simulasi Dengan menggunakan simulasi, dapat digunakan metode eksperimen berupa penerapan TBS dalam bentuk penentuan durasi jendela waktu dan tingkat implementasi terhadap demand impor saat ini. Dari hasil eksperimen ditentukan, dengan catatan tanpa adanya buffer untuk TBS seperti kondisi saat ini, durasi jendela waktu yang efektif dalam menurunkan kedua metrik di atas meliputi 15 menit; 20 menit; dan 30 menit. Masing-masing durasi ini setidaknya perlu diimplementasikan dengan cukup besar supaya signifikan dalam mengurangi kedua metrik yang ditinjau, yaitu sebesar 85% untuk demurrage cost dan 95% untuk kedua output. Khususnya di tingkat implementasi 95%, pengurangan nilai rata-rata waktu putar truk eksternal impor dapat mencapai 26,13% dan pengurangan nilai total demurrage cost dapat mencapai 97,07%. Namun apabila buffer untuk TBS dapat segera diakomodasi, maka penggunaan durasi jendela waktu tidak berpengaruh terhadap kedua metrik tersebut dan diperkirakan tingkat implementasi yang diperlukan juga menurun.
ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAN PENILAIAN KESULITAN KEUANGAN (STUDI KASUS PADA PT ACSET INDONUSA TBK PERIODE 2020–2024)
Industri konstruksi memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi Indonesia melalui penyediaan infrastruktur, penciptaan lapangan kerja, dan pembentukan modal. Namun, dalam beberapa tahun terakhir industri ini menghadapi tekanan keuangan yang semakin besar akibat volatilitas makroekonomi, pengetatan anggaran infrastruktur pemerintah, kenaikan biaya material, serta meningkatnya intensitas persaingan. Kondisi tersebut meningkatkan kerentanan keuangan perusahaan konstruksi berbasis proyek yang memiliki fleksibilitas harga terbatas dan tingkat eksposur yang tinggi terhadap risiko pembengkakan biaya. PT Acset Indonusa Tbk (ACST) merupakan salah satu contoh menonjol dari penurunan kinerja keuangan yang berkepanjangan, yang ditandai dengan kerugian persisten, melemahnya struktur permodalan, serta meningkatnya ketergantungan terhadap liabilitas, sehingga relevan untuk dianalisis secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja keuangan ACST dan menilai tingkat financial distress yang dialami selama periode 2020–2024. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus manajerial, penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan melalui analisis rasio keuangan dan analisis DuPont, (2) menilai tingkat financial distress menggunakan model prediksi kebangkrutan yang telah mapan, (3) mengidentifikasi faktor-faktor keuangan utama yang berkontribusi terhadap kelemahan struktural dan kerugian berkepanjangan, serta (4) merumuskan solusi bisnis berbasis bukti untuk mendukung pengambilan keputusan manajerial dan keberlanjutan jangka panjang. Penelitian ini didasarkan pada proposisi bahwa kerugian berkepanjangan dan erosi modal merupakan pendorong utama terjadinya financial distress pada perusahaan konstruksi berbasis proyek yang beroperasi dalam lingkungan persaingan dan tekanan biaya yang tinggi. Untuk memberikan konteks strategis, penelitian ini mengintegrasikan analisis lingkungan eksternal dan industri menggunakan kerangka PESTEL dan Porter’s Five Forces. Analisis keuangan internal dilakukan dengan menggunakan data sekunder yang bersumber secara eksklusif dari laporan keuangan konsolidasian ACST yang telah diaudit untuk periode 2020–2024. Kinerja keuangan dievaluasi melalui rasio likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan aktivitas, sementara analisis DuPont digunakan untuk menguraikan Return on Equity (ROE) ke dalam komponen profitabilitas, efisiensi aset, dan leverage keuangan. Penilaian financial distress selanjutnya dilakukan menggunakan model Altman Z-Score, Ohlson O-Score, dan Zmijewski XScore. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ACST mengalami kondisi financial distress yang berkelanjutan sepanjang periode pengamatan. Rasio profitabilitas yang secara konsisten bernilai negatif mencerminkan ketidakmampuan perusahaan dalam menghasilkan tingkat pengembalian yang memadai atas aset dan ekuitasnya. Analisis DuPont menunjukkan bahwa nilai ROE yang tidak normal pada tahuntahun tertentu lebih disebabkan oleh kondisi ekuitas negatif dibandingkan oleh perbaikan kinerja operasional. Indikator likuiditas dan solvabilitas juga menunjukkan keterbatasan fleksibilitas keuangan jangka pendek serta struktur permodalan yang rapuh akibat akumulasi kerugian. Analisis pembandingan terhadap PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) dan Obayashi CoRporation menunjukkan bahwa kondisi keuangan ACST secara struktural lebih lemah dibandingkan dengan perusahaan sejenis baik di tingkat domestik maupun internasional, yang mengindikasikan bahwa financial distress yang dialami bersifat struktural, bukan siklikal. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan solusi bisnis terintegrasi yang berfokus pada restrukturisasi modal untuk memulihkan solvabilitas, penguatan tata kelola risiko proyek untuk mencegah erosi margin, serta optimalisasi modal kerja guna meningkatkan likuiditas jangka pendek. Solusi tersebut diimplementasikan melalui rencana implementasi bertahap yang memprioritaskan stabilisasi keuangan dalam jangka pendek, disiplin operasional dalam jangka menengah, dan ketahanan struktural dalam jangka panjang. Penelitian ini berkontribusi pada literatur manajemen keuangan terapan dengan menunjukkan kerangka terintegrasi yang mengombinasikan analisis strategis eksternal, diagnostik keuangan internal, dan pembandingan lintas perusahaan dalam penanganan financial distress pada perusahaan konstruksi berbasis proyek, serta memberikan implikasi praktis bagi pemulihan koRporasi dan peningkatan kinerja yang berkelanjutan.
MODEL KONSEPTUAL GENETIK REE (RARE EARTH ELEMENTS): INTEGRASI PENDEKATAN GEOKIMIA, MINERALOGI, DAN PENGINDERAAN JAUH (STUDI KASUS KALIMANTAN BARAT, SULAWESI BARAT, DAN BANGKA-BELITUNG)
Rare earth elements (REE) merupakan komoditas strategis untuk teknologi maju dan transisi energi. Di Indonesia, REE banyak dijumpai pada sistem pelapukan granitoid di lingkungan tropis, tetapi keterkaitan antara sumber, proses pelapukan, media retensi, dan sebaran spasialnya masih terbatas. Penelitian ini menyusun model konseptual genetik REE pada Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, dan Bangka–Belitung melalui integrasi geokimia (XRF dan ICP-MS), mineralogi (petrografi/mineragrafi dan XRD), serta pengindraan jauh (Sentinel-2). Mineral pembawa REE dominan yang teridentifikasi meliputi monazite, allanite, zircon, xenotime, serta fase sekunder (kaolinite–halloysite dan oksida/hidroksida Fe–Al) sebagai media retensi. Data geokimia yang heterogen dianalisis menggunakan PCA, korelasi non-parametrik (spearman), dan klasterisasi untuk mengungkap asosiasi REE dengan derajat pelapukan dan fase mineral pembawanya pada horizon O–A–B–C. Hasil menunjukkan dua sistem utama: (i) ion-adsorption pada regolit granitoid (Kalbar–Sulbar–Bangka) yang dikontrol pelepasan REE dari mineral aksesori dan retensi pada lempung/oksihidroksida, serta (ii) placer/pengolahan di Bangka–Belitung yang menghasilkan anomali lokal sangat tinggi akibat pengayaan mineral berat. Secara spasial, integrasi NDVI sebagai kontrol vegetasi dan Clay Mineral Index (CMI) sebagai indikator relatif lempung/alterasi digunakan untuk menyeleksi zona permukaan yang berpotensi, dan diverifikasi dengan data mineralogi–geokimia. Model konseptual yang dihasilkan menjelaskan mekanisme pembentukan, pengayaan, serta pola distribusi REE secara vertikal dan lateral pada wilayah studi.
IDENTIFIKASI KOMUNITAS SERANGGA FORENSIK PADA KARKAS KELINCI DI LOKASI YANG BERBEDA DENGAN MENGGUNAKAN ANALISIS MORFOLOGI DAN ANALISIS DNA METABARCODING
Perpindahan karkas pascakematian dapat memengaruhi pola kolonisasi serangga forensik dan durasi dekomposisi karena setiap lingkungan memiliki karakteristik ekologi yang berbeda. Perbedaan tersebut ditentukan oleh faktor biotik seperti serangga yang dijumpai pada karkas dan abiotik, seperti suhu, kelembaban, kecepatan angin, dan pH tanah. Oleh karena itu, investigasi terhadap kondisi lokasi peristiwa kematian dapat dilakukan melalui identifikasi jenis serangga forensik yang ditemukan pada karkas tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan pengaruh perbedaan lokasi dekomposisi karkas kelinci terhadap durasi pembusukan dan struktur komunitas serangga forensik menggunakan pendekatan morfologi serangga ordo diptera dan coleoptera, serta DNA metabarcoding ordo diptera. Kedua analisis dilakukan terhadap serangga forensik yang dikoleksi dari karkas kelinci yang terdekomposisi di area kampus, hutan, dan sungai, pasca kematian di area kampus. Analisis morfologi dilakukan pada imago menggunakan mikroskop stereo dan mengacu pada referensi ilmiah, sedangkan analisis molekuler dilakukan terhadap larva serangga forensik (ordo diptera) melalui pendekatan DNA metabarcoding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses dekomposisi berlangsung 66 jam lebih cepat di area kampus dibandingkan hutan dan sungai. Dekomposisi karkas di kampus berlangsung selama 240 jam, sedangkan hutan dan sungai berlangsung selama 306 jam. Berdasarkan analisis morfologi, terdapat empat spesies serangga dari ordo diptera dengan spesies yang mendominasi adalah Chrysomya megacephala dan dua spesies dari ordo coleoptera. Hasil analisis morfologi imago dan DNA metabarcoding larva dari ordo diptera menunjukkan perbedaan pola dominansi dan keanekaragaman. Analisis morfologi imago mengidentifikasi Chrysomya megacephala sebagai spesies dominan, sedangkan analisis DNA metabarcoding larva menunjukkan dominasi Hemipyrellia ligurriens. Selain itu, analisis DNA metabarcoding mengungkapkan keanekaragaman diptera yang lebih tinggi dibandingkan analisis morfologi yang diduga disebabkan oleh imago yang telah meninggalkan karkas pada fase dekomposisi lanjut. Selain itu, pada setiap lokasi didapatkan serangga oportunis dari ordo hymnoptera, yaitu Oecophylla smaragdina, Camponotus singularis, Polyrhachis illaudata, dan Anoplolepis gracilipes. Analisis kelimpahan serangga forensik (diptera) menunjukkan bahwa rarefaction curve menggambarkan variasi richness spesies tertinggi pada lokasi sungai (S1, S2, S3), diikuti kampus (K1, K2, K3) dan terendah di hutan (H1, H2, H3). Pendekatan Principal Coordinate Analysis (PCoA) berbasis indeks Bray-Curtis mendukung perbedaan komposisi komunitas serangga forensik di tiga lokasi secara terpisah. Analisis beta diversity menggunakan indeks Bray-Curtis menunjukkan bahwa komunitas serangga antar lokasi memiliki tingkat perbedaan sangat tinggi (indeks = 1) yang mengindikasikan komposisi serangga sangat dipengaruhi kondisi ekosistem lokal, sedangkan ulangan teknis dalam lokasi yang sama memiliki perbedaan sedang hingga tinggi (0,816) karena variasi spesies pada taxa minor. Penelitian ini menunjukkan bahwa keanekaragaman serangga forensik berbeda antar lokasi yang dipengaruhi oleh parameter microclimate (suhu, pH, kelembaban, dan kecepatan angin). Perbedaan komposisi komunitas dan durasi dekomposisi dapat menjadi referensi dasar untuk mendeteksi perpindahan karkas pasca kematian dalam investigasi serangga forensik di lingkungan tropis dengan karakteristik habitat yang serupa.