📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPENGEMBANGAN PROGRAM MANAJEMEN PENUAAN MELALUI SISTEM INFORMASI PERAWATAN REAKTOR SERBA GUNA G.A. SIWABESSY
Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (RSG-GAS) telah beroperasi sejak tahun 1987 sebagai fasilitas utama pendukung riset nuklir, produksi radioisotop, dan layanan teknologi nuklir di Indonesia. Seiring dengan usia operasi yang melampaui 35 tahun, isu penuaan struktur, sistem, dan komponen (SSK) menjadi faktor penting yang berpengaruh terhadap keselamatan dan keberlanjutan operasi. Sesuai dengan ketentuan IAEA SSR-3, SSG-10 (Rev 1), dan NP-T-5.5, penerapan Program Manajemen Penuaan (Ageing Management Programme/AMP) dan kesiapan Operasi Jangka Panjang (Long-Term Operation/LTO) memerlukan dokumentasi teknis yang komprehensif, keterlacakan data perawatan, serta dukungan kajian rekayasa seperti Analisis Penuaan Berbatas Waktu (Time-Limited Ageing Analysis/TLAA) dan Penilaian Keselamatan Berkala (Periodic Safety Review /PSR). Namun, sistem pengelolaan data perawatan RSG-GAS masih didominasi oleh pencatatan manual yang terfragmentasi, sehingga membatasi analisis degradasi secara sistematis dan berbasis data. Disertasi ini bertujuan mengembangkan Sistem Informasi Perawatan (SIP) (Maintenance Information System/MIS), berbasis web untuk mendukung digitalisasi program manajemen penuaan (Aging Management Programme/AMP).. Sistem dirancang secara modular dengan basis data relasional PostgreSQL dan pengkodean Kraftwerk-Kennzeichen-System (KKS), serta dilengkapi mekanisme kontrol akses berbasis peran (Role Base Access Control/RBAC), jejak audit, dan alur persetujuan. Pengembangan sistem dilakukan mengikuti metodologi Waterfall dalam Siklus Hidup Pengembangan Perangkat Lunak hingga tahap Uji Penerimaan Pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan SIP meningkatkan keteraturan dokumentasi, keterlacakan data, dan konsistensi pengelolaan perawatan, sehingga memberikan dukungan teknis yang relevan bagi implementasi AMP dan kesiapan RSG-GAS menuju operasi jangka panjang.
ISOLASI SENYAWA ALKALOID CAULERPIN DARI ANGGUR LAUT (CAULERPA RACEMOSA)
Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan senyawa obat berbasis bahan alam laut karena merupakan salah satu negara maritim terbesar di dunia. Biota laut menghasilkan metabolit sekunder yang unik serta memiliki potensi farmakologi yang jarang ditemukan pada biota darat. Hal itu disebabkan oleh kondisi lingkungan laut yang relatif lebih ekstrem. Namun, pengembangan obat berbasis sumber daya laut di Indonesia masih tergolong minim. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan sebagai upaya awal pengembangan bioprospeksi dengan sumber daya laut Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi senyawa caulerpin dari makroalga anggur laut Caulerpa racemosa yang ditemukan di pesisir lautan dangkal. Sebanyak 30 kilogram sampel di keringkan menggunakan oven pada suhu 50° C kemudian diekstraksi dengan pelarut etanol 96% menggunakan metode microwave assisted extraction (MAE). Ekstrak hasil dipantau menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) dan menunjukkan keberadaan caulerpin ditandai dengan bercak merah setelah penyemprotan penampak bercak Ce(SO?)?. Ekstrak selanjutnya difraksinasi dengan metode ekstraksi cair-cair dengan pelarut bertingkat n heksana,diklorometana,etil asetat,dan air (1:1). Hasil pemantauan KLT menunjukkan senyawa caulerpin terdapat di fraksi n heksana. Fraksi tersebut kemudian disubfraksinasi menggunakan kromatografi cair vakum dan dilanjutkan kromatografi radial sehingga didapat 4 subfraksi gabungan. Subfraksi yang mengandung caulerpin dimurnikan menggunakan KLT preparatif dan menghasilkan isolat caulerpin sebanyak 13 mg. Uji kemurnian dilakukan menggunakan KLT dua dimensi (2D). Karakterisasi isolat menggunakan spektroskopi FTIR menunjukkan pola serapan khas gugus fungsi caulerpin. Identifikasi dilakukan dengan Analisis KCKT yang menunjukkan waktu retensi pada 4,621 menit, sedangkan analisis UV menunjukkan nilai panjang gelombang maksimum (?maks) pada 220,6 nm dan 313,3 nm. Hasil karakterisasi dan identifikasi tersebut mendukung isolat yang diperoleh senyawa caulerpin.
ANALISIS KEMAGNETAN BATUAN DAN GEOKIMIA UNTUK MEMAHAMI KARAKTERISTIK DANAU VULKANIK ALKALI: STUDI KASUS DANAU BATUR, BALI, INDONESIA
Danau Batur merupakan danau vulkanik tertutup bersifat alkali yang terletak di Pulau Bali, Indonesia. Sebagai sistem danau vulkanik aktif, sedimen dan air danau ini berpotensi merekam proses perubahan yang terjadi di lingkungan kaldera vulkanik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan antara sifat kemagnetan sedimen, komposisi mineralogi, dan karakteristik hidrogeokimia Danau Batur sebagai respons terhadap proses geogenik dan antropogenik yang berlangsung pada lingkungan danau vulkanik tropis. Studi dilakukan melalui analisis kemagnetan batuan, X-ray diffraction (XRD), geokimia air dan sedimen, serta analisis statistik multivariat untuk menelusuri evolusi hidrogeokimia, sumber logam berat, dan indikasi aktivitas hidrotermal bawah permukaan. Hasil analisis kemagnetan batuan menunjukkan bahwa sedimen Danau Batur didominasi oleh magnetit dan titanomagnetit, dengan kontribusi fase minor seperti titanomaghemite dan magnesioferrite. Karakter domain magnetik berada pada rentang pseudo-single domain (PSD) hingga single domain (SD), dengan kehadiran fraksi superparamagnetik (SP). Distribusi spasial suseptibilitas magnetik memperlihatkan nilai tertinggi di bagian utara danau, yang berkorelasi dengan peningkatan kadar Fe dan Ti, mengindikasikan pengaruh pelapukan batuan vulkanik di sekitar kaldera. Analisis mineralogi mengidentifikasi mineral nonmagnetik berupa andesin, albit, augit, zeolit, aragonit, montmorilonit, kalsium klorit, dan anortit, yang mencerminkan interaksi air dan batuan serta pengaruh proses hidrotermal. Analisis hidrogeokimia menunjukkan bahwa air Danau Batur tergolong tipe natrium-klorida (Na-Cl) steam-heated dengan pH alkali (>9) dan nilai total dissolved solids (TDS) >1000 mg/L. Adanya peningkatan konsentrasi Mg²?, Na?, HCO??, dan SO?²?, serta penurunan Ca²? dan K? pada air danau, menunjukkan perubahan kimia air yang dipengaruhi oleh pelapukan silikat dan karbonat, serta kontribusi fluida hidrotermal dan gas magmatik dari sistem Gunung Batur. Keberadaan mineral aragonit (CaCO?) memperkuat indikasi reaksi karbonasi pada lapisan bawah kaldera yang berperan dalam mempertahankan sifat alkalinitas dan karakter danau vulkanik alkali.ii Analisis geokimia sedimen menunjukkan bahwa pelapukan batuan vulkanik merupakan proses utama yang memengaruhi karakteristik hidrogeokimia Danau Batur. Sementara itu, hasil analisis Enrichment Factor (EF), Geo-accumulation Index (Igeo), Contamination Factor (CF), dan Pollution Load Index (PLI) mengindikasikan adanya pencemaran logam berat, dengan Cu, Cr, dan V sebagai polutan utama. Analisis statistik multivariat membedakan sumber litogenik (Fe, Mn, Ti) yang berkaitan dengan pelapukan batuan vulkanik dan sumber antropogenik (Cu, Cr, V) yang berasosiasi dengan aktivitas keagamaan dan pariwisata di sekitar danau. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik kemagnetan dan geokimia Danau Batur dikendalikan oleh interaksi antara pelapukan batuan vulkanik, aktivitas hidrotermal bawah permukaan, dan tekanan antropogenik. Temuan ini memberikan pemahaman mengenai sistem danau vulkanik alkali di lingkungan tropis. Selain itu, hasil penelitian ini mendukung pemanfaatan parameter kemagnetan dan geokimia sebagai indikator perubahan lingkungan serta dasar pengelolaan sistem danau vulkanik alkali di wilayah tropis.
FABRIKASI SERAT NANO TALAS (COLOCASIA ESCULENTA (L.) SCHOTT) TERMUATI EKSTRAK DAUN BELUNTAS (PLUCHEA INDICA L.) MELALUI TEKNIK PEMINTALAN ELEKTRIK SERTA POTENSI APLIKASINYA SEBAGAI KEMASAN AKTIF
Kemasan pangan tidak hanya berfungsi sebagai pelindung fisik, tetapi juga berperan penting dalam menjaga mutu, keamanan, dan memperpanjang umur simpan produk. Seiring meningkatnya kebutuhan akan produk pangan segar dan bebas bahan pengawet sintetis, konsep kemasan aktif berkembang sebagai solusi inovatif. Kemasan aktif dirancang untuk berinteraksi dengan produk atau lingkungannya melalui mekanisme pelepasan atau penyerapan zat tertentu, sehingga mampu memberikan perlindungan tambahan terhadap oksidasi, pertumbuhan mikroba, maupun perubahan mutu pangan. Pendekatan ini dinilai lebih ramah lingkungan dan relevan dengan tren pemanfaatan sumber daya hayati lokal. Dalam penelitian ini dikembangkan membran serat nano berbasis biopolimer pati talas (Colocasia esculenta L. Schott) yang dimodifikasi dengan ekstrak beluntas (Pluchea indica L.) sebagai kandidat kemasan pangan aktif. Fabrikasi dilakukan menggunakan metode pemintalan elektrik dengan pelarut DMSO. Kondisi optimum pemintalan untuk menghasilkan serat halus pati talas diperoleh pada tegangan 17 kV, laju alir 0,8 mL/jam, jarak jarum ke kolektor 16 cm, diameter jarum 21 G, suhu proses 65 °C, dan konsentrasi larutan pati talas 14 %b/b. Untuk meningkatkan kestabilan dan kinerja membran, dibuat komposit pati talas–selulosa asetat dengan perbandingan 60:40 dan dimuati ekstrak beluntas dengan konsentrasi 50 %b/b. Komposit ini menunjukkan morfologi serat yang lebih seragam pada pemuatan ekstrak beluntas dalam serat nano. Hasil karakterisasi fungsional menunjukkan bahwa membran serat nano dengan kandungan ekstrak beluntas memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi dengan kapasitas hambat radikal DPPH mencapai 89%. Selain itu, uji anti mikroba memperlihatkan kemampuan penghambatan signifikan terhadap Bacillus subtilis ATCC 6633 sebesar 98% serta Aspergillus niger ATCC 9029 sebesar 87%. Uji aplikasi pada model pangan membuktikan bahwa membran serat nano pati talas/selulosa asetat dengan ekstrak beluntas efektif menekan pertumbuhan jamur hingga 15 hari masa penyimpanan. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan potensi serat nano berbasis biopolimer pati talas yang diperkaya ekstrak beluntas sebagai material kemasan aktif yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga efektif memperpanjang umur simpan pangan. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi alternatif kemasan hijau berbasis sumber daya lokal sekaligus mendukung pengembangan teknologi pangan berkelanjutan.
PENGEMBANGAN MODEL MACHINE LEARNING UNTUK GENERALISASI PERANGKAT KERAS RADAR SEBAGAI DOMAIN PADA KLASIFIKASI AKTIVITAS MANUSIA BERBASIS RADAR
Klasifikasi aktivitas manusia menggunakan radar telah meningkat dalam popularitas karena potensi aplikasinya dalam bidang kesehatan, terutama ambient assisted living (AAL) yang bertujuan untuk membantu manusia lanjut usia (manula) dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu masalah dalam implementasi praktis teknologi tersebut adalah variasi karakteristik perangkat keras radar. Variasi ini banyak berpengaruh terhadap keluaran gambar radar hasil pengolahan data mentah radar. Penelitian ini bertujuan mengukur besar dampak dari variabilitas tersebut terhadap akurasi klasifikasi aktivitas manusia dengan menggunakan data 17 subjek dan 10 kelas aktivitas yang diukur oleh 4 jenis radar berbeda: Texas Instruments FMCW IWR1843, Infineon BGT60TR13C, Novelda UWB XeThru X4M03, dan Walabot Developer. Model VGG-19 dilatih menggunakan skema pelatihan pendekatan naif, yaitu model dilatihkan terhadap data dari tiga jenis radar sebagai data latih dan diuji terhadap satu jenis radar sebagai data uji, dan skema pelatihan pakar domain, yaitu model dilatihkan terhadap data dari satu jenis radar saja sebagai data latih dan diuji terhadap setiap jenis radar secara terpisah. Selain itu, skema pelatihan Deep CORAL juga diimplementasikan untuk mengukur performa generalisasi domain radar dengan metode ini dibandingkan dengan pendekatan naif dan pakar domain. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa keempat perangkat keras radar tidak dapat digeneralisasi ke radar lainnya yang digunakan. Selain itu, ditemukan terdapat kesamaan dan ketidaksamaan signifikan antara jenis radar yang dapat menjadi dasar penelitian lebih lanjut. Terakhir, Deep CORAL yang diimplementasikan tidak menunjukkan kenaikan performa dibandingkan dengan pendekatan naif. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa terdapat pergeseran domain berarti antara jenis perangkat keras radar yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan melakukan covariate alignment.
EVALUASI KEANDALAN MONOCULAR DEPTH ESTIMATION BERBASIS DEEP LEARNING TERHADAP ADVERSARIAL PATCH
abstrak dapat dilihat di file nya
PROTOTIPE SISTEM PEMBELAJARAN DIGITAL DENGAN PERSONALISASI TONE OF VOICE
Platform pembelajaran digital umumnya menggunakan sebuah tone of voice yang bersifat statis dan tetap dalam penyampaian teks antarmuka. Padahal, pengguna memiliki preferensi yang beragam dalam menyerap informasi yang disampaikan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengevaluasi sebuah prototipe sistem pembelajaran digital yang menerapkan personalisasi tone of voice pada teks antarmuka sesuai dengan preferensi. Penelitian ini menggunakan pendekatan user-centered design (UCD) dan analisis linguistik pada tingkat sintaksis. Variasi tone of voice diadopsi berdasarkan rumusan Nielsen Norman Group dan diimplementasikan dengan memodifikasi sintaks dan leksikal dalam bahasa Indonesia tanpa mengubah makna dasar teks. Personalisasi diterapkan pada beberapa pola teks antarmuka. Prototipe high-fidelity dikembangkan dalam bentuk aplikasi berbasis web dan dibangun melalui dua iterasi desain untuk menghasilkan lingkungan pengujian yang terkontrol. Evaluasi dilakukan menggunakan metode A/B Testing dengan melibatkan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) yang menguji versi dipersonalisasi dan versi kontrol. Aspek kebergunaan dan pengalaman pengguna diukur menggunakan tingkat keberhasilan tugas, time on task, System Usability Scale (SUS) , kuesioner skala Likert, serta subskala terpilih dari Intrinsic Motivation Inventory (IMI). Analisis statistik juga dilakukan untuk mengidentifikasi signifikansi perbedaan antar kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa personalisasi tone of voice memiliki kecenderungan positif terhadap peningkatan efisiensi penggunaan dan motivasi intrinsik pengguna, khususnya pada dimensi interest/enjoyment. Namun, perbedaan yang ditemukan belum mencapai tingkat signifikansi statistik yang disebabkan oleh keterbatasan jumlah partisipan.
OPTIMASI TCP EBPF DI LINUX KERNEL UNTUK KASUS COLLOCATED PROGRAMS/CONTAINERS
Overhead protokol TCP pada komunikasi antarkontainer yang berada pada satu host (collocated containers) dapat menurunkan kinerja sistem, terutama pada skenario aplikasi dengan lalu lintas tinggi, karena paket data tetap harus melewati seluruh lapisan protokol TCP/IP di kernel meskipun tujuan akhirnya lokal. TCP eBPF, secara teori, bisa mengoptimasi overhead tersebut tetapi benchmark menunjukkan kinerja tidak lebih baik dibandingkan TCP reguler. Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan data path TCP BPF di Linux kernel untuk kasus collocation. Solusi yang diusulkan berupa perubahan struktur pemanggilan program eBPF untuk kasus collocation, efisiensi sinkronisasi, dan optimasi proses socket accounting. Selain itu, pendekatan ini memperkenalkan backlog queue dalam kernel yang disinkronisasi dengan lock terpisah, serta mengurangi durasi critical section pada socket lock untuk meminimalkan lock contention. Hasil pengujian menunjukkan bahwa optimasi TCP BPF yang diusulkan mampu meningkatkan throughput dan menurunkan latensi komunikasi yang bersifat collocated secara signifikan dibandingkan TCP reguler maupun implementasi TCP BPF sebelumnya.
REKONSTRUKSI SINYAL ECG BERBASIS CITRA KERTAS MENGGUNAKAN TRANSFORMER
Digitasi sinyal electrocardiogram (ECG) dari citra kertas merupakan tantangan penting dalam pengolahan sinyal medis, terutama untuk mempertahankan integritas morfologi dan konsistensi temporal sinyal yang bernilai klinis. Variasi kualitas citra akibat distorsi visual, degradasi kertas, dan perbedaan metode akuisisi sering menyebabkan penurunan akurasi rekonstruksi pada pendekatan konvensional. Penelitian ini mengembangkan sistem digitasi ECG berbasis arsitektur Transformer untuk merekonstruksi sinyal ECG digital langsung dari citra kertas. Tiga arsitektur dibandingkan secara sistematis, yaitu Transformer konvensional, Transformer dengan mekanisme Dynamic Tanh, dan Temporal Convolutional Network (TCN). Evaluasi kuantitatif dilakukan pada test set terkontrol yang mencakup kondisi acuan serta berbagai distorsi visual, menggunakan metrik Pearson Correlation Coefficient (PCC), Root Mean Square Error (RMSE), dan Signal-to-Noise Ratio (SNR). Hasil menunjukkan bahwa Transformer konvensional memberikan kualitas rekonstruksi paling konsisten dengan nilai rata-rata PCC 0.9419, RMSE 4.1567 mV, dan SNR 10.7089 dB, melampaui arsitektur pembanding. Analisis visual pada variasi kondisi distorsi mengonfirmasi ketahanan Transformer dalam mempertahankan struktur morfologi global sinyal. Temuan ini menegaskan bahwa arsitektur Transformer merupakan pendekatan yang paling andal untuk digitasi ECG berbasis citra ketika kualitas rekonstruksi menjadi prioritas utama.
OPTIMASI EKSTRAKSI VITEXIN DARI LANDOLTIA PUNCTATA YANG DIELISITASI KITOSAN MENGGUNAKAN METODE MASERASI DENGAN PELARUT DEEP EUTECTIC SOLVENT (DES) KOLIN KLORIDA : UREA
Viteksin adalah senyawa flavonoid dengan banyak manfaat kesehatan bagi manusia. Senyawa C-glikosil dan trihidroksiflavon yang memiliki rumus molekuler C21H20O10 ini memiliki banyak manfaat kesehatan bagi manusia, seperti sifat bioaktif viteksin yang meliputi antioksidan, anti-inflamasi, antikanker, perlindungan saraf, dan perlindungan kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan ekstraksi viteksin dari tanaman L. punctata yang dielsitasi kitosan dengan menggunakan DES ChCl:Urea. Proses kultivasi L. punctata pada penelitian ini berjalan selama 21 hari menggunakan medium AB Mix yang ditambahkan dengan 50 mg/L elisitor kitosan. Ekstraksi viteksin dilakukan dengan metode maserasi dengan perancangan Response Surface Methodology (RSM). Parameter maserasi yang dioptimasi melalui RSM adalah kadar air DES yang digunakan, rasio pelarut DES dengan biomassa, dan temperatur maserasi. Penelitian ini juga melakukan penentuan perolehan viteksin dengan parameter maserasi optimal serta penentuan parameter kinetika maserasi viteksin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air DES paling optimal untuk maserasi adalah 33,73%, rasio pelarut DES dengan dry mass Landoltia punctata (RPB) paling optimal untuk maserasi adalah 56,66 mL/g dry mass, dan temperatur maserasi paling optimal adalah 49,5?. Penelitian juga menunjukkan bahwa maserasi dengan parameter optimal tersebut memberikan yield viteksin saat ekstraksi mencapai fasa equilibrium sebesar 0,255 µg/mg dan konstanta transfer massa zat viteksin saat proses ekstraksi dijalankan sebesar 0,133 µg/min.
MODEL DAN ALGORITMA ADAPTIVE LARGE NEIGHBORHOOD SEARCH UNTUK PEMECAHAN MASALAH RUTE KENDARAAN HETEROGEN DENGAN MEMPERTIMBANGKAN RUTE MAJEMUK, JENDELA WAKTU, AKSESIBILITAS, DAN WAKTU PERJALANAN BERGANTUNG WAKTU
Industri ekspedisi di Indonesia mengalami pertumbuhan pesat seiring perkembangan penjualan daring, yang menciptakan tantangan kompleks dalam optimasi biaya operasional, terutama pada tahap penjemputan first mile. Perusahaan ekspedisi menghadapi permasalahan ketidakefisienan rute, gagal penjemputan, dan distribusi beban kerja yang tidak seimbang. Seiring meningkatnya kompleksitas operasional dan kebutuhan efisiensi, optimasi rute menjadi pendekatan strategis yang berpotensi menghasilkan penghematan biaya operasional yang signifikan melalui perencanaan rute sistematis dan pemilihan kendaraan yang tepat. Penelitian ini mengembangkan model optimasi Multi-Trip Heterogeneous Vehicle Routing Problem (MTHVRP) untuk penjemputan first mile yang mempertimbangkan jendela waktu, aksesibilitas kendaraan, dan waktu perjalanan bergantung waktu (time-dependent travel time). Model matematis diselesaikan menggunakan solver Gurobi untuk instance kecil, sementara algoritma Adaptive Large Neighborhood Search dengan Simulated Annealing (ALNS-SA) dikembangkan untuk menyelesaikan masalah skala besar secara efisien. Hasil pengujian menunjukkan algoritma ALNS-SA mencapai solusi optimal pada 8 dari 10 instance dengan gap rata-rata 2.28%. Efisiensi komputasi meningkat signifikan dengan waktu penyelesaian 32.9 detik untuk instance 20 pelanggan, dibandingkan 914.1 detik menggunakan solver matematis. Implementasi pada data riil menghasilkan pengurangan jarak tempuh 6.4%, peningkatan service level dari 96% menjadi 100%, dan penghematan biaya operasional bulanan sebesar 11.7%. Perbandingan dengan Record-to-Record Travel menunjukkan keunggulan ALNS-SA sebesar 20-23% pada dataset clustered, mengkonfirmasi efektivitas Simulated Annealing sebagai acceptance criterion.
PENGEMBANGAN MODEL MATURITAS MANAJEMEN PERUBAHAN DALAM TRANSFORMASI DIGITAL PADA UMKM
Transformasi digital merupakan keharusan bagi setiap industri untuk meningkatkan daya saing, namun tingginya tingkat kegagalan implementasi menjadi masalah krusial yang seringkali disebabkan oleh kelemahan manajerial. Dalam konteks transformasi digital pada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), banyak penelitian yang berfokus pada adopsi teknologi, tetapi masih terdapat celah pada ketersediaan alat ukur yang dapat menilai kematangan proses manajemen perubahan itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah model maturitas manajemen perubahan dalam konteks transformasi digital pada UMKM dengan mengintegrasikan teori manajemen perubahan Kotter dan faktor-faktor keberhasilan kritis, serta menguji validitas dan reliabilitas model yang dikembangkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metodologi pengembangan model maturitas dari De Bruin dkk. (2005). Indikator model dieksplorasi melalui Tinjauan Literatur Sistematis terhadap Faktor Keberhasilan Kritis manajemen perubahan dalam transformasi digital. Model yang dihasilkan kemudian divalidasi melalui wawancara semi-terstruktur pada tiga perusahaan di Kota Bandung dengan menguji validitas isi dan validitas tampang untuk memastikan relavansi dengan UMKM. Hasil penelitian ini adalah sebuah model maturitas yang terdiri 26 faktor keberhasilan yang dipetakan pada 8 tahapan perubahan Kotter dengan 5 level kematangan. Model ini terbukti memiliki validitas konten yang sangat tinggi (CVI = 1.0). Hasil penilaian kematangan tahap perubahan menunjukkan bahwa UMKM umumnya berada pada level kematangan awal (Informal dan Systematic) yang mengindikasikan perlunya formalisasi proses perubahan. UMKM disarankan untuk menggunakan model ini sebagai alat diagnostik untuk menyusun peta jalan perbaikan secara bertahap. Penelitian selanjutnya direkomendasikan untuk melakukan validasi kuantitatif dengan sampel yang lebih luas dan memperkaya model dengan pemangku kepentingan eksternal.
EKSPLORASI PREFERENSI PRODUK MINUMAN HERBAL DAN JENIS MEDIA SOSIAL DALAM MENINGKATKAN PENERIMAAN PASAR
Minuman herbal memiliki potensi pasar yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Namun, penerimaan pasar terhadap produk minuman herbal di Indonesia masih dipengaruhi berbagai faktor yang belum banyak di kaji pada penelitian meliputi tingkat pengetahuan konsumen, pola konsumsi, preferensi atribut produk, efektivitas pemasaran melalui media sosial, serta distribusi produk minuman herbal. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan eksplorasi preferensi konsumen terhadap produk minuman herbal dan peran jenis media sosial dalam meningkatkan penerimaan pasar di Indonesia. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif cross-sectional. Data dikumpulkan melalui survei daring di platform Populix (lembaga survei independen) pada 386 responden ?18 tahun yang telah menyetujui informed consent di Indonesia. Analisis preferensi atribut produk dilakukan menggunakan metode choice-based conjoint (CBC) dengan estimasi model multinomial logit (MNL) untuk mengukur nilai utilitas, kepentingan relatif, kesediaan membayar (willingness to pay), simulasi pangsa pasar, dan elastisitas harga. Atribut produk yang dianalisis meliputi harga, kepemilikan merek, informasi pada label, tipe kantong teh, dan rasa. Selain itu, dilakukan analisis tingkat pengetahuan, pola konsumsi, preferensi media sosial sebagai sarana pemasaran, serta preferensi tempat memperolah produk minuman herbal berdasarkan kelompok umur. iii Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden terhadap produk minuman herbal sangat tinggi (99,74%), namun pola konsumsi produk minuman herbal masih tergolong rendah pada semua kelompok umur berada pada tangka konsumsi ringan (<1 gelas/bulan dan 1-3 gelas/bulan). Atribut produk yang paling memengaruhi preferensi konsumen adalah harga, diikuti oleh kepemilikan merek dan tipe kantong teh. Harga Rp20.000,- per kemasan merupakan tingkat harga yang paling disukai, sementara kepemilikan merek yang telah dikenal luas memberikan nilai utilitas dan kesediaan membayar tertinggi. Tipe kantoh teh dengan tali serta pencantuman informasi komposisi pada label meningkatkan preferensi konsumen. Sedangkan rasa original cenderung kurang disukai dibandingkan varian rasa buah. Media sosial, khususnya TikTok, berperan penting dalam meningkatkan pengenalan produk, membangun kepercayaan, dan memengaruhi keputusan pembelian konsumen pada produk minuman herbal. Toko organik menjadi saluran distribusi yang paling diminati oleh seluruh kelompok usia. Secara keseluruhan, penelitian ini menggambarkan penerimaan pasar minuman herbal dapat ditingkatkan melalui kombinasi atribut produk yang sesuai dengan preferensi konsumen, strategi harga yang tepat, pemanfaatan media sosial secara efektif, serta pemilihan saluran distribusi yang dipercaya konsumen. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan strategi pemasaran dan inovasi produk minuman herbal di Indonesia.
SISTEM ANALISIS KODE STATIS UNTUK MENDETEKSI KERENTANAN KEAMANAN PADA SMART CONTRACT DI ETHEREUM
abstrak dapat dilihat di file nya
ANALISI PENGETAHUAN DAN SIKAP SISWA SMA DI KAWASAN BANDUNG RAYA TERKAIT PENGGUNAAN OBAT ANTINYERI
Analgesik merupakan salah satu obat yang digunakan secara umum di masyarakat, termasuk kelompok remaja. Maka dari itu pengetahuan dan pemahaman remaja terkait analgesik dinilai penting untuk menghindari terjadinya risiko penggunaan obat yang tidak tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pengetahuan dan sikap siswa SMA terhadap penggunaan obat antinyeri, serta menganalisis asosiasi antara pengetahuan serta sikap siswa SMA di Kawasan Bandung Raya terkait penggunaan obat antinyeri. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan pada bulan September hingga Desember 2025 dengan menyebarkan kuesioner yang telah divalidasi. Didapatkan jumlah sampel minimal sebanyak 423. Dari total 474 responden yang mengisi kuesioner, sebanyak 22 tidak termasuk ke dalam kriteria inklusi, sehingga jumlah total responden yang dianalisis adalah 452 orang. Hasil menunjukkan sebanyak 69,91% responden berjenis kelamin perempuan, dan sebanyak 30,09% merupakan laki-laki. Rentang usia responden berkiast antara 15-19 tahun. Sebanyak 24,34% responden memiliki tingkat pengetahuan tinggi dan sebanyak 75,66% responden memiliki tingkat pengetahuan rendah. Sebanyak 97,79% responden memiliki sikap yang positif, dan sebanyak 2,21% memiliki sikap negatif. Uji korelasi Spearman menunjukkan hubungan antara pengetahuan dengan sikap yang sangat lemah (r=0,029) dan tidak signifikan secara statistik (p-value = 0,536). Maka, tidak terdapat hubungan atau asosiasi antara tingkat pengetahuan dengan sikap siswa SMA di Kawasan Bandung Raya terkait penggunaan antinyeri.