📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenRANCANG BANGUN DAN ANALISIS PERFORMA TERMAL APARATUS UJI GARAM CAIR KNO3+NANO3 GUNA MEMAHAMI KARAKTERISTIK PENDINGIN PADA REAKTOR GARAM CAIR
Penelitian ini bertujuan untuk merancang, membangun, dan menguji kinerja aparatus uji perpindahan panas vertikal menggunakan campuran eutektik garam nitrat (KNO3+NaNO3) sebagai fluida pengganti pendingin Molten Salt Reactor (MSR). Pemilihan campuran ini didasarkan pada karakteristik temperatur lebur yang rendah dan profil keamanan yang sesuai untuk pengujian skala laboratorium. Metodologi penelitian diawali dengan tahap validasi desain menggunakan simulasi numerik berbasis Computational Fluid Dynamics (CFD) pada perangkat lunak COMSOL Multiphysiscs dengan kondisi adiabatik untuk memperoleh profil distribusi suhu ideal. Selanjutnya, aparatus fisik dibangun menggunakan pipa vertikal setinggi 20 cm yang dilengkapi dengan tiga zona pemanas kawat nikrom independen dan empat titik sensor suhu (termokopel) dengan interval jarak 5 cm. Hasil penelitian menujukan bahwa aparatus mampu memetakan sebaran temperatur aksial secara konsisten pada berbagai variasi fluks panas. Meskipun terdapat deviasi temperatur antara hasil eksperimen dan simulasi numerik akibat kehilangan panas (heat loss) ke lingkungan pada sistem non-isolasi, pola distribusi suhu secara kualitatif menunjukkan kesesuaian dengan model referensi. Titik bacaan temperatur pada area tengah pipa menunjukkan stabilitas termal yang lebih tinggi dibandingkan area ujung pipa yang dipengaruhi oleh efek konduksi struktur. Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa aparatus buatan sendiri ini valid dan reliabel untuk digunakan dalam studi awal fenomena termal garam cair, serta memberikan basis data penting bagi pengembangan sistem manajemen panas pada teknologi reaktor nuklir generasi IV.
ANALISIS PROYEK INVESTASI PENGEMBANGAN LAPANGAN GAS BETA: STUDI PERBANDINGAN DUA SKENARIO KOMERSIAL
Pengembangan Lapangan Gas Beta di Blok Celebes menghadapi keputusan komersialisasi kritis antara dua strategi di bawah kerangka Gross Split PSC Indonesia. Penelitian ini membandingkan dua skenario: integrasi Beta ke Lapangan Alfa yang terhubung ke infrastruktur eksisting untuk penjualan langsung ke PLN mulai tahun 2026, versus pengembangan Lapangan Beta saja yang menunggu penyelesaian infrastruktur mini-LNG di tahun 2028. Studi ini bertujuan untuk menentukan strategi komersialisasi optimal dengan mengevaluasi kinerja finansial, mengidentifikasi variabel risiko kritis, dan memberikan rekomendasi strategis. Studi ini menggunakan pemodelan finansial rinci dengan analisis deterministik, analisis sensitivitas, dan simulasi Monte Carlo melalui 1.000 skenario di bawah kerangka Gross Split PSC dengan tingkat diskonto 12,68%. Temuan menunjukkan bahwa menghubungkan Beta ke Lapangan Alfa jelas lebih unggul, menghasilkan NPV USD 77,75 juta dibandingkan USD 64,69 juta untuk Beta saja (20% lebih baik), dengan tingkat pengembalian lebih tinggi yaitu IRR 49,70% versus 43,18%, dan pemulihan modal lebih cepat 3,38 tahun versus 3,93 tahun. Hasil yang lebih baik ini berasal dari produksi gas yang lebih banyak (119,78 BSCF versus 102,01 BSCF) selama umur lapangan 13 tahun yang lebih panjang dan pendapatan yang lebih tinggi (USD 628,71 juta versus USD 520,27 juta) dengan memulai produksi lebih awal. Analisis risiko mengungkapkan bahwa volume produksi memiliki dampak terbesar terhadap kesuksesan proyek, dimana perubahan 20% dapat mengayunkan NPV sebesar USD 21 juta, diikuti oleh harga gas yang mempengaruhi NPV sebesar USD 17-19 juta. Simulasi menguji 1.000 skenario berbeda dan menemukan kedua opsi tetap menguntungkan, dengan Beta ke Alfa menunjukkan hasil yang lebih konsisten dan dapat diprediksi. Studi ini menyimpulkan bahwa integrasi Beta ke Lapangan Alfa adalah strategi optimal dengan keuntungan finansial yang superior dan risiko lebih rendah. Penelitian merekomendasikan eksekusi proyek segera dengan target produksi awal tahun 2026, memantau progres mini-LNG, memperbarui evaluasi ekonomi secara berkala, menegosiasikan perpanjangan kontrak PLN setelah 2029, dan mengimplementasikan program optimasi produksi serta kontrol biaya.
SEROPREVALENSI DAN RISIKO TOKSOPLASMOSIS PADA KOMUNITAS ITB KAMPUS GANESHA SERTA KAITANNYA DENGAN KESEHATAN MENTAL
Toksoplasmosis masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan prevalensi tertinggi dilaporkan di Pulau Jawa (53,2%). Keberadaan dan kepadatan populasi kucing sebagai inang definitif Toxoplasma gondii di berbagai lingkungan, termasuk kawasan kampus, perlu mendapat perhatian karena berpotensi meningkatkan paparan terhadap parasit ini. Selain itu, toksoplasmosis dalam beberapa tahun terakhir juga banyak dikaitkan dengan dampak neurologis dan kesehatan mental. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seroprevalensi toksoplasmosis pada komunitas Institut Teknologi Bandung (ITB) kampus Ganesha, mengidentifikasi faktor risiko terkait, serta mengevaluasi hubungan antara seropositivitas toksoplasmosis dengan status kesehatan mental menggunakan instrumen Self-Reporting Questionnaire-20 (SRQ-20). Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang pada 262 subjek (ukuran sampel dihitung menggunakan Epi Info TM dari CDC), dan analisis dilakukan menggunakan uji Chisquare serta regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan seroprevalensi toksoplasmosis di ITB kampus Ganesha sebesar 41,6%. Peluang seropositivitas meningkat seiring bertambahnya usia (OR = 1,04; 95% CI: 1,01–1,08; p = 0,025), lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan (OR = 2,18; 95% CI: 1,10– 4,32; p = 0,026), serta paling tinggi dan sangat bermakna pada pekerja luar ruangan dibandingkan pekerja di dalam ruangan (OR 4,05; 95% CI: 2,29–7,18; p < 0,001). Hasil analisis SRQ-20 menunjukkan subjek yang cenderung mengalami masalah kesehatan mental (skor ?6) sebesar 26,7% dan 28,6% diantaranya mengalami seropositif IgG toksoplasma. Tidak ditemukan hubungan bermakna secara statistik antara faktor perilaku yang diteliti maupun status kesehatan mental berdasarkan SRQ-20 dengan seropositivitas IgG T. gondii. Temuan ini menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran warga ITB dan upaya pencegahan toksoplasmosis yang berfokus pada pengendalian paparan lingkungan serta perlindungan kelompok pekerja berisiko.
AUTOMATION OF MAXILLA AND MANDIBLE REPOSITIONING WITH ELASTICNET REGRESSION MODEL
Bedah ortognatik adalah prosedur yang dirancang untuk mengoreksi deformitas rahang atas dan bawah guna mencapai oklusi gigi yang ideal. Untuk mendapatkan hasil yang ideal dari bedah ortognatik, terdapat dua jenis alat bantu bedah yang digunakan; templat dan wafer. Dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Muhammad Yusril Sulaiman, sebuah metode untuk mendesain alat bantu bedah tersebut dibuat dengan bantuan pencetakan 3D. Seluruh proses pembuatan template dan wafer terdiri dari perencanaan, desain, dan proses manufaktur. Proses perencanaan bedah yang ketat ini dilakukan untuk pasien tertentu dan saat ini masih dilakukan secara manual. Perkembangan pembelajaran mesin memungkinkan berbagai disiplin ilmu untuk memecahkan masalah hanya dengan membangun model berdasarkan kumpulan data yang dipilih. Dalam studi ini, metode regresi digunakan untuk memodelkan hubungan antara penanda kraniofasial yang telah dianotasi dan pergerakan pasca operasi. Sebuah sistem sistematis dan otomatis untuk perencanaan bedah ortognatik juga diperkenalkan. Ditulis dalam Python, alur kerja sistem ini mengintegrasikan ekstraksi penanda rahang atas dan bawah yang terstandarisasi serta model pembelajaran ElasticNet sekuensial untuk memprediksi posisi penanda pasca-bedah. Untuk memastikan relevansi klinis dari model yang dilatih, sistem ini menggabungkan serangkaian proses validasi data yang dilakukan untuk membandingkan hasil prediksi model dengan data sebenarnya. Dengan mengotomatiskan proses ini, beban kerja manual diharapkan akan berkurang secara signifikan dan reproduktibilitas meningkat.
PEMANTAUAN KADAR ANTIBIOTIK MEROPENEM DALAM DARAH PASIEN PNEUMONIA RAWAT INAP DI RSUP DR.HASAN SADIKIN
Untuk mencapai efektivitas serta keamanan yang baik, meropenem harus berada pada rentang kadar terapeutik sesuai dengan target farmakokinetik/farmakodinamik (PK/PD). Pemantauan kadar meropenem berperan penting dalam optimalisasi terapi pada pasien pneumonia yang sering mengalami perubahan farmakokinetik. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi ketercapaian parameter PK/PD yaitu dengan ditentukan oleh lamanya waktu kadar obat berada di atas nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dari patogen yang dituju (%fT > MIC) diantaranya pada 50% fT > MIC, 75% fT > MIC, 100% fT > MIC serta 50% fT > 4 x MIC, 75% fT > 4 x MIC, 100 % fT > 4 x MIC dengan pendekatan perhitungan proposi ketercapaian terapi pada pasien menggunakan metode % Probability of Target Attainment (PTA). Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Pendidikan (RSUP) Dr. Hasan Sadikin Bandung pada pasien pneumonia rawat inap yang menerima antibiotik Meropenem. Penelitian observasional deskriptif potong lintang pada 30 pasien ini melibatkan pengambilan sampel darah pada jam ke-4, ke-6, dan ke-8 setelah pemberian dosis meropenem 1 g setiap 8 jam. Kadar meropenem dianalisis menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) yang telah tervalidasi sesuai pedoman European Medicine Agency (EMA). Hasil penelitian menunjukkan adanya variabilitas kadar meropenem antarindividu, terutama dipengaruhi oleh fungsi ginjal. Pasien dengan penurunan fungsi ginjal menunjukkan kadar yang lebih tinggi dan bertahan lebih lama, sedangkan pasien dengan fungsi ginjal baik dan Augmented Renal Clearance (ARC) mengalami penurunan kadar yang lebih cepat. Pemberian melalui Extended Infusion 3 jam cenderung menghasilkan kadar plasma yang terjaga lebih lama dibandingkan Intermittent Infusion 1 jam. Ketercapaian klinis PTA ?90% pada semua subjek penelitian dengan seluruh rate infuse untuk dosis Meropenem 1 g setiap 8 jam i.v hingga 8 jam efektif terhadap MIC patogen ?2 mg/L. Analisis PTA menunjukkan bahwa ketercapaian target tertinggi diperoleh pada MIC ? 4 mg/L dengan target 50% fT>MIC pada PTA 100%. Extended Infusion cenderung memberikan PTA yang lebih tinggi dibandingkan Intermittent infusion, terutama pada target PK/PD yang tinggi. Untuk memperoleh ketercapaian kadar terapeutik yang lebih lama dapat disarankan pemberian Meropenem secara Extended Infus selama 3 jam. Pada penelitian selanjutnya dapat dilakukan penelitian untuk penentuan kadar meropenem pada pasien yang menerima Extended Infus dan Intermittent Infus dengan jumlah populasi dan pengelompokan yang sesuai dengan desain studi lanjutan.
KAJIAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN OTONOMI DESA DI INDONESIA: STUDI KASUS PROGRAM TEKNOLOGI SMART FARMING DI DESA CIBODAS
Semenjak era reformasi di tahun 1999, desa di Indonesia ditetapkan menjadi daerah otonomi untuk mengembangkan lokalitas desa berupa asal-usul desa, adat istiadat, prakarsa Masyarakat yang sudah terbentuk dan melekat di desa sejak dulu. Bersamaan dengan itu, perkembangan teknologi digital dalam revolusi industri 4.0 dirujuk sebagai arah pembangunan global untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi perekonomian. Arah pembangunan global di adopsi menjadi kebijakan pembangunan di Indonesia yang mengarah ke desa, salah satunya kebijakan digitalisasi desa. Di sisi lain, kebijakan digitalisasi desa berpotensi mengganggu kebijakan otonomi desa itu karena kebijakan agenda global yang berasal dari luar diterapkan di desa dapat membentuk berbagai aspek dari perdesaan itu sendiri, seperti aspek sosial, budaya, teknologi, dan sebagainya. Kajian dilakukan terhadap teknologi smart farming di Desa Cibodas dalam program desa digital dengan analisis Multi-Level Perspective untuk melihat transisi dari praktik digitalisasi yang terjadi di Desa Cibodas dan implikasi kebijakan digitalisasi desa terhadap kebijakan otonomi desa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan teknologi digital di Desa Cibodas merubah arah pembangunan desa ke arah pembangunan teknologi digital. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyak masyarakat yang berurusan dengan teknologi digital sehingga menggeser aktivitas utama Desa Cibodas yang sudah melekat selama berabad-abad dan kebijakan pembangunan berbasis agenda global tanpa mempertimbangkan unsur lokalitas desa menggeser konsep otonomi desa di Indonesia.
NUMERICAL INVESTIGATION OF MANUFACTURING- INDUCED PROPERTIES ON THE DRIVING BEHAVIOR OF SUBMERGED ARC WELDED HELICAL PIPES
Penelitian ini secara numerik mengkaji pengaruh sifat yang diinduksi oleh proses manufaktur terhadap perilaku pemancangan pipa baja Submerged Arc Welded Helical (SAWH). Empat parameter utama dianalisis, yaitu variasi sudut heliks, distribusi tegangan sisa akibat pengelasan, anisotropi material lokal, dan berat ram palu. Simulasi elemen hingga tiga dimensi dilakukan menggunakan Abaqus/Explicit untuk memodelkan interaksi tanah–pipa. Model numerik divalidasi terhadap hasil eksperimen, dengan galat relatif sebesar 3,75% pada gaya maksimum dan 4,41% pada perpindahan maksimum. Studi parametrik menunjukkan bahwa variasi sudut heliks, tegangan sisa pengelasan, dan anisotropi material memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap gaya puncak dan perpindahan maksimum, dengan deviasi di bawah 3%. Namun demikian, parameter-parameter tersebut berpengaruh signifikan terhadap perpindahan akhir (SET). Peningkatan sudut heliks dari 40° menjadi 60° meningkatkan perpindahan plastis akhir dari 2,65 mm menjadi 7,33 mm, yang dikaitkan dengan perubahan komponen tegangan sisa aksial dan keliling. Tegangan sisa akibat pengelasan dengan offset +20% terbukti meningkatkan SET dari 3,91 menjadi 5,36 mm jika dibandingkan dengan offset -20%, yang menunjukkan perannya yang krusial dalam perkembangan deformasi plastis. Sebaliknya, peningkatan berat ram palu dari 7 ton menjadi 14 ton menyebabkan kenaikan gaya puncak sebesar 24,36% dan SET sebesar 34,18%, yang mengindikasikan bahwa karakteristik palu mendominasi respons dinamik global selama proses pemancangan.
KATALASE HPII STAPHYLOCOCCUS EQUORUM DAN KERATINASE BACILLUS VELEZENSIS REKOMBINAN: KONSTRUKSI ENZIM DENGAN FUSI POLIHISTIDIN PADA C-TERMINAL
Pemurnian protein merupakan tahap pen4ng dalam bioteknologi, dengan teknik kromatografi yang umum digunakan untuk memisahkan protein target dari residu seluler. Immobilised Metal A?nity Chromatography (IMAC) dengan penggunaan tag polihis4din (His-tag) sering dimanfaatkan pada tahap awal penangkapan protein. His-tag umumnya ditempatkan pada ujung N-terminal atau C-terminal, bergantung pada orientasi yang memas4kan paparan permukaan yang cukup untuk berikatan dengan resin Ni-NTA tanpa mengganggu ak4vitas enzim. Peneli4an ini berfokus pada enzim katalase HPII seq dan kera4nase, yang sebelumnya 4dak dapat mengikat resin secara efisien menggunakan kromatografi Ni-NTA ke4ka diekspresikan dengan His-tag pada N-terminal. Tujuan peneli4an ini adalah mengembangkan sistem ekspresi E. coli untuk kedua enzim tersebut dengan memindahkan His-tag ke C-terminal, sehingga meningkatkan efisiensi pengikatan tanpa menurunkan fungsi enzima4k. Gen target dikloning ke dalam backbone plasmid pET16b_rec menggunakan metode QuickStep Cloning, yaitu teknik PCR tanpa restriksi yang memanfaatkan megaprimer. Op4masi PCR dicapai pada suhu annealing 60°C dengan rasio primer (cterm:mega) 2:1 untuk katalase dan 10:1 untuk kera4nase. Keberhasilan pemindahan 8x His-tag ke C-terminal dikonfirmasi melalui analisis migrasi gel, pemetaan restriksi, dan sekuensing DNA. Setelah diekspresikan pada E. coli BL21(DE3), protein rekombinan— katalase HPII seq berukuran 77 kDa dan kera4nase matur berukuran 29 kDa—berhasil tertahan pada resin Ni-NTA. Uji ak4vitas kualita4f menunjukkan bahwa kedua enzim tetap mempertahankan fungsi biologisnya: katalase menunjukkan ak4vitas katali4k, sedangkan kera4nase menunjukkan ak4vitas kaseinoli4k dan kera4noli4k. Temuan ini menunjukkan bahwa penambahan His-tag pada C-terminal mampu mengatasi keterbatasan pengikatan yang muncul pada His-tag N-terminal, tanpa mengganggu integritas struktural maupun ak4vitas enzima4k.
ANALISIS POLA METILASI PADA SUBTIPE KANKER PARU-PARU ADENOCARCINOMA (LUAC) DAN SQUAMOUS CELL (LUSC) SECARA IN SILICO
Diagnosis subtipe kanker non-small cell lung cancer (NSCLC), khususnya adenokarsinoma (LUAC) dan karsinoma sel pipih (LUSC), masih menghadapi tantangan dalam akurasi dan konsistensi. Tantangan utama dalam diagnosis kedua subtipe ini adalah metode imunohistokimia (IHK) yang diketahui memiliki tingkat kesalahan akibat subjektivitas hingga 40%. Kesalahan tersebut dapat memicu keterlambatan penanganan serta komplikasi akibat biopsi berulang. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pola metilasi DNA menggunakan Random Forest (RF) dan Artificial Neural Network (ANN), serta mengidentifikasi gen-gen baru yang berpotensi menjadi marker tambahan untuk membedakan LUAC dan LUSC. Data genom LUAC (n=473) dan LUSC (n=369) dikumpulkan dari The Cancer Genome Atlas (TCGA) dan diproses menggunakan pustaka Sesame (R). Seleksi fitur terhadap titik metilasi dilakukan dengan RF menggunakan pendekatan Local False Discovery Rate (LFDR). CpG terseleksi dari RF (n=2396) digunakan untuk melatih ANN dan diuji pada dataset GSE158422 dan GSE180060. Performa algoritma diperoleh dalam bentuk matriks akurasi, Receiver Operator Curve (ROC), dan Area Under Curve (AUC). Gen-gen terkait CpG utama yang digunakan oleh ANN diidentifikasi dan diuji korelasinya terhadap data mRNA menggunakan metode Spearman. Dari uji eksternal, ANN mencapai akurasi umum 92% dengan AUC sebesar 85,8% dalam membedakan kedua subtipe. Sebanyak 13 gen teridentifikasi dari CpG utama ANN, dengan ZNF750, SHISA4, dan TNS4 menunjukkan korelasi metilasi-ekspresi yang sangat kuat serta pola ekspresi yang konsisten antar subtipe. Titik metilasi pada ZNF650 dan TNS4 teramati mengalami hipermetilasi (beta >0,8) pada LUAC, sementara SHISA4 mengalami hipometilasi pada LUAC (beta <0,3). Ketiga gen tersebut diketahui berperan dalam regulasi fenotip kedua subtipe serta kemampuan metastasis. Namun, pola kontras dan korelasi produk protein dari gen-gen ini pada kedua subtipe perlu dikonfirmasi lebih lanjut. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pendekatan RF dan ANN memiliki potensi untuk digunakan pada masa mendatang dalam pencarian marker metilasi serta membantu membedakan subtipe dalam diagnosis LUSC dan LUAC.
STUDI PENGARUH KONDISI OPERASI TAHAP PERLAKUAN ASAM PADA PROSES PRODUKSI ALGINAT DARI RUMPUT LAUT COKELAT (SARGASSUM SP.)
Natrium alginat merupakan salah satu hidrokoloid yang banyak digunakan sebagai pengental, pembentuk gel, penstabil, dan pengemulsi dalam industri pangan. Natrium alginat ini dapat diperoleh dari rumput laut cokelat dan banyak terkandung di dinding sel dalam bentuk kalsium alginat. Pada tahun 2019, Indonesia mengimpor 1.600 ton asam alginat, tetapi pada tahun yang sama, PT. Panorama Laut Indah mampu mengekspor rumput laut coklat Sargassum sp. sebesar 2.000 ton ke Tiongkok. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar bahan baku penghasil alginat tetapi belum dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan alginat dalam negeri. Secara umum, proses produksi natrium alginat terdiri atas tahap perlakuan awal, perlakuan asam, ekstraksi basa, presipitasi, pemurnian, dan pengeringan. Rendemen serta karakteristik natrium alginat bergantung pada beberapa hal, seperti spesies rumput laut dan kondisi operasi yang ditetapkan. Penelitian ini berfokus pada tahap perlakuan asam yang bertujuan untuk menentukan pengaruh kondisi operasi pada tahap perlakuan asam terhadap rendemen dan karakteristik natrium alginat. Rancangan percobaan penelitian ini adalah faktorial desain 3 faktor, 2 level, dengan 3 center point. Faktor tersebut meliputi konsentrasi HCl (0,1 M; 0,2 M; 0,3 M), waktu perlakuan asam (1 jam, 2 jam, 3 jam), dan suhu perlakuan asam (30°C, 45°C, 60°C). Natrium alginat yang dihasilkan kemudian dihitung nilai rendemen dan diuji karakteristik fisik dan kimianya, meliputi viskositas, gel strength, kemurnian, kadar abu, whiteness index, dan kadar air. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi HCl pada tahap perlakuan asam berpengaruh signifikan terhadap gel strength dan whiteness index; waktu perlakuan asam berpengaruh signifikan terhadap gel strength, whiteness index, dan kadar abu; serta suhu perlakuan asam berpengaruh signifikan terhadap rendemen, viskositas, gel strength, kemurnian, whiteness index, dan kadar abu. Sedangkan interaksi antar faktor secara umum hanya memengaruhi gel strength dan whiteness index. Kadar air lebih dipengaruhi oleh proses pengeringan dibandingkan oleh tahap perlakuan asam. Natrium alginat terbaik pada rentang variasi penelitian ini diperoleh pada variasi 0,3 M; 3 jam, 30°C yang menghasilkan rendemen 20,52%, viskositas 46,7 cP, gel strength 89,95 g/cm2, kemurnian 89,95%, kadar abu 22,95%, whitenees index 21,41, dan kadar air 11,93%.
DEVELOPMENT AND EXPERIMENTATION OF A WHEELCHAIR PROTOTYPE FOR INDOOR MAPPING USING LIDAR-BASED SLAM
Mobilitas mandiri sangat krusial bagi perkembangan kognitif dan fisik anak-anak dengan disabilitas fisik, namun mengoperasikan kursi roda standar dapat berdampak pada kelelahan fisik dan mental yang menghambat partisipasi sosial. Meskipun teknologi navigasi otonom menawarkan solusi menjanjikan untuk mengurangi kelelahan, sistem yang ada saat ini seringkali bersifat umum, sulit dijangkau karena biaya perangkat keras yang tinggi, atau kurang mempertimbangkan desain spesifik yang dibutuhkan anak-anak. Akibatnya, masih terdapat kesenjangan yang signifikan dalam pengembangan alat bantu mobilitas otonom yang aksesibel dan berpusat pada anak yang dapat beroperasi secara andal di lingkungan dalam ruangan (indoor). Untuk mengatasi tantangan ini, penelitian ini merinci pengembangan dan integrasi prototipe kursi roda otonom yang dirancang untuk pemetaan dalam ruangan yang tangguh. Sistem ini beroperasi pada arsitektur Robot Operating System 2 (ROS 2), yang menggabungkan data dari sensor 2D Light Detection and Ranging (LiDAR), Inertial Measurement Unit (IMU), dan sensor efek Hall untuk bernavigasi secara efektif. Extended Kalman Filter (EKF) digunakan untuk menggabungkan data proprioseptif dari odometri roda dan IMU, guna memitigasi efek selip roda dan penyimpangan (drift) untuk memberikan estimasi posisi (pose) yang akurat. Fusi sensor ini mendukung algoritma Simultaneous Localization and Mapping (SLAM) berbasis LiDAR, yang memungkinkan kursi roda membangun peta occupancy grid yang presisi di lingkungan yang tidak diketahui. Validasi eksperimental memverifikasi kemampuan sistem dalam memberikan performa navigasi dengan presisi tinggi. Uji gerak linier menunjukkan linearitas pengukuran yang tinggi (R² ? 0.999) setelah kalibrasi untuk kesalahan sistematis radius roda, sementara konsistensi pemetaan diverifikasi secara kuantitatif melalui uji coba berulang menggunakan Structural Similarity Index Measurement (SSIM), yang menghasilkan skor kemiripan antara 0,66 dan 0,77. Hasil ini mengonfirmasi bahwa sistem SLAM berbasis LiDAR yang dikembangkan dapat membangun peta dalam ruangan yang konsisten secara andal, sehingga menetapkan landasan fungsional dan tangguh bagi kursi roda bantu otonom di masa depan.
DESIGN AND SIMULATION OF PLC ISOLATED INPUT AND OUTPUT CIRCUITS
Penelitian ini menyajikan pengembangan arsitektur perangkat keras pada tingkat rangkaian (circuit-level) untuk programmable logic controller (PLC) berbasis mikrokontroler dengan penekanan pada integritas sinyal, isolasi listrik, dan konfigurabilitas pada tingkat skematik. Penelitian sebelumnya di universitas menghasilkan prototipe awal PLC berbasis mikrokontroler, namun evaluasi prototipe tersebut mengidentifikasi beberapa keterbatasan pada tingkat sirkuit terkait pengkondisian sinyal, isolasi listrik, dan antarmuka yang andal dengan tingkat tegangan industri. Penelitian ini berangkat dari keterbatasan yang diidentifikasi pada prototipe PLC sebelumnya dan bertujuan membangun fondasi skematik yang terstruktur untuk pengembangan lanjutan. Metodologi penelitian terdiri atas empat tahapan berurutan, yaitu analisis kelemahan pada prototipe sebelumnya, perumusan ulang design requirements and objectives (DR&O), kajian referensi desain PLC dan PLC berbasis mikrokontroler, serta pengembangan rangkaian subsistem meliputi input–output digital, input–output analog, manajemen catu daya, dan antarmuka komunikasi. Mikrokontroler ESP32-S3 dipilih sebagai pengendali utama karena kemampuan pemrosesan, fitur komunikasi, dan fleksibilitas GPIO yang dimilikinya. Setiap subsistem I/O dirancang dengan isolasi galvanik menggunakan optokopler seri PC817 atau HCNR200, serta rangkaian pengkondisi sinyal untuk mendukung logika digital 24 V dan sinyal analog 0–10 V. Perilaku rangkaian dievaluasi melalui simulasi LTspice yang mencakup analisis DC sweep, transien, respons frekuensi, dan gangguan noise. Hasil simulasi menunjukkan bahwa rancangan rangkaian yang diusulkan selaras dengan DR&O yang ditetapkan dalam hal akurasi sinyal, karakteristik isolasi, kompatibilitas tegangan, dan respons dinamis pada kondisi simulasi. Skematik akhir yang dihasilkan merepresentasikan arsitektur perangkat keras PLC yang modular dan dapat dikembangkan, serta berfungsi sebagai referensi teknis untuk implementasi PCB, integrasi firmware, dan validasi eksperimental pada tahap penelitian selanjutnya.
PEMODELAN TRANSPORT SIANIDA (CN-) PADA ZONA TAK JENUH UNTUK EVALUASI METODE PENIMBUNAN TAILING DI TAMBANG EMAS, PALU, SULAWESI TENGAH
Kegiatan penambangan dan pengolahan emas menghasilkan tailing yang berpotensi mengandung senyawa berbahaya bagi lingkungan, salah satunya sianida (CN?) yang digunakan dalam proses pelindian emas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh metode penimbunan tailing terhadap jarak sebaran kontaminan sianida pada zona tak jenuh di tambang emas Palu, Sulawesi Tengah, serta menentukan metode penimbunan tailing dengan tingkat risiko pencemaran airtanah paling rendah. Tiga metode penimbunan yang dianalisis meliputi landfill, backfill, dan dam tailing yang diatur dalam Permen LHK Nomor 6 Tahun 2021. Penelitian menggunakan pemodelan numerik dengan perangkat lunak MODFLOW-SURFACT. Pemodelan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah simulasi aliran airtanah kondisi steady state untuk kalibrasi model berdasarkan data muka airtanah hasil pengukuran lapangan. Hasil simulasi steady state digunakan sebagai kondisi awal (initial heads) pada simulasi transien transport kontaminan. Transport sianida dimodelkan menggunakan pendekatan adveksi–dispersi. Sumber kontaminan dimodelkan sebagai konsentrasi konstan dengan nilai yang diperoleh dari data uji TCLP tailing. Hasil simulasi menunjukkan bahwa metode penimbunan tailing memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pola dan kedalaman migrasi kontaminan sianida. Pada skenario dam tailing, kontaminan sianida mampu bermigrasi hingga menembus lapisan pasir–konglomerat yang berperan sebagai akuifer, dengan kedalaman maksimum migrasi mencapai sekitar 150 m. Sementara itu, pada skenario landfill, kontaminan sianida hanya terdistribusi pada lapisan-lapisan atas dan tidak mampu menembus lapisan silt–clay.
STRATEGI PENGENDALIAN KAPITAL POTENSIAL DAN KREDIT POTENSIAL MELALUI TEORI KONTROL OPTIMAL DAN KONTROL SLIDING MODE
Perkembangan pesat layanan pinjaman digital seperti pinjaman online dan paylater telah mendorong peningkatan permintaan kredit yang dapat menekan stabilitas kapital perusahaan fintech. Kredit macet (Non-Performing Loans/NPL) turut menyebabkan berkurangnya ketersediaan kapital dan berpotensi menurunkan ekuitas perusahaan. Penelitian ini menerapkan modifikasi model Lotka-Volterra yang terdiri atas instrumen kapital dan kredit. Selanjutnya dilakukan analisis interaksi antara kredit potensial dan kapital potensial dengan melihat kestabilan dan sensitivitas parameter. Strategi kontrol optimal berbasis kampanye edukasi diterapkan untuk menguatkan kapital dan mempertahankan sistem yang keberlanjutan dari layanan pinjaman digital. Masalah kontrol optimal diselesaikan menggunakan Prinsip Minimum Pontryagin (PMP) dengan meminimumkan fungsi biaya yang diselesaikan menggunakan metode numerik Forward-Backward Sweep. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kontrol optimal mampu meningkatkan kapital sebesar 28.32% dan mengurangi kredit potensial sebesar 31.21% dibandingkan sistem tanpa kontrol dengan biaya yang efisien. Lebih lanjut model dikembangkan dengan menambahkan variabel ekuitas dan memasukkan ketidakpastian parameter akibat adanya NPL. Kontrol sliding mode diterapkan untuk menjamin kekokohan terhadap gangguan eksternal dan ketidakpastian parameter, dengan mengarahkan selisih kapital dan kredit bergerak menuju sliding surface agar kapital selalu dapat memenuhi permintaan kredit dalam jangka panjang. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kontrol sliding mode dengan fungsi referensi sinusoidal memberikan peningkatan kapital sebesar 65.99%, peningkatan ekuitas sebesar 2.53%, serta menjaga perbedaan kapital–kredit mendekati nilai target dengan biaya kontrol yang lebih rendah dibandingkan menggunakan fungsi referensi eksponensial.
PENGARUH GREEN LITERACY TERHADAP NIAT BERINVESTASI GENERASI Z
Hadirnya ancaman krisis iklim turut mendorong upaya global untuk menerapkan pembangunan berkelanjutan, dengan pasar modal menjadi salah satu medium paling penting bagi implementasi keuangan hijau untuk mendanai berbagai proyek pembangunan berkelanjutan tersebut. Komitmen Indonesia untuk menjadi negara bebas karbon (net zero) pada tahun 2060 telah memicu pengembangan instrumen investasi hijau, termasuk Sukuk Tabungan Hijau (Green Savings Sukuk). Meskipun lebih dari separuh investor pasar modal Indonesia merupakan Generasi Z, partisipasi mereka dalam instrumen investasi hijau tetap lebih rendah jika dibandingkan dengan generasi lain. Padahal, Generasi Z dianggap sebagai generasi dengan tingkat kesadaran lingkungan paling tinggi. Meskipun kesadaran lingkungan terbukti dimiliki oleh kalangan Generasi Z, terdapat kesenjangan signifikan antara sikap (attitude) dengan perilaku (behavior) investasi mereka. Penelitian ini lantas berupaya untuk mengkaji kesenjangan antara sikap dengan perilaku ini dengan menyelidiki bagaimana green literacy memengaruhi niat investasi Generasi Z terhadap produk keuangan hijau, khususnya melalui lensa teoritis Theory of Planned Behavior. Penelitian ini menerapkan desain mixed-methods yang menggabungkan analisis konten (content analysis) kualitatif dari materi promosi dengan pemodelan persamaan struktural kuantitatif (SEM). Analisis kualitatif dalam penelitian ini menelaah konten promosi Instagram dari platform investasi dan perusahaan sekuritas dalam rangka mengidentifikasikan praktik industri terkini dalam mengomunikasikan informasi investasi hijau kepada Generasi Z. Sementara itu, bagian analisis kuantitatif menggunakan metode SEM-PLS untuk menguji enam hipotesis yang melibatkan hubungan antara green literacy, perceived benefits, sikap (attitude), subjective norms, perceived behavioral control, dan niat investasi hijau (green investing intention). Dengan demikian, kerangka konseptual yang digunakan dalam penelitian ini berupaya untuk mengembangkan Theory of Planned Behavior dengan menggabungkan green literacy sebagai variabel eksternal yang penting dalam memengaruhi pembentukan sikap (attitude) dan niat investasi langsung (direct investment intention). Hasil dari penelitian ini mendapati bahwa green literacy muncul sebagai prediktor terkuat di antara variabel lain dengan menunjukkan pengaruh yang besar pada pembentukan sikap. Perceived benefits lantas secara signifikan membentuk sikap positif terhadap investasi hijau. Selanjutnya, sikap (attitude) secara positif memengaruhi niat investasi, kendati hubungannya bersifat moderat. Subjective norms, khususnya pengaruh media sosial dan rekomendasi teman sebaya, secara signifikan turut dapat memprediksi niat investasi di kalangan Generasi Z. Namun, perceived behavioral control yang menunjukkan pengaruh tidak signifikan pada niat investasi mengindikasikan bahwa kepercayaan diri serta ketersediaan sumber daya finansial bukan merupakan hambatan utama untuk membentuk niat berinvestasi. Selain itu, penting untuk menggarisbawahi bahwa turut terdapat disparitas yang antara strategi promosi platform investasi dengan hasil analisis. Ini mengindikasikan bahwa penerapan strategi promosi yang memuat green literacy, melingkupi aspek finansial dan keberlanjutan lingkungan, dapat menjadi strategi yang lebih efektif. Penelitian ini lantas berkontribusi untuk memperkaya literatur dalam lingkup keuangan berkelanjutan dengan memberikan bukti empiris tentang peran penting green literacy dalam membentuk perilaku investasi hijau di kalangan Generasi Z. Temuan tersebut menjadi wawasan yang dapat ditindaklanjuti bagi platform investasi, perusahaan sekuritas, dan lembaga keuangan mengenai kebutuhan akan program pendidikan green literacy secara komprehensif yang mengintegrasikan pengetahuan keuangan dengan pemahaman keberlanjutan lingkungan. Dengan meningkatkan green literacy melalui konten edukasi yang ditujukan secara tepat, platform investasi dapat memperkuat sikap Generasi Z terhadap investasi berkelanjutan dan mengubah nilai dan prinsip kelingkungan mereka menjadi keputusan investasi yang nyata. Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam mengatasi kesenjangan antara sikap dengan perilaku, tidak hanya dibutuhkan peningkatan kesadaran tentang adanya peluang investasi hijau, tetapi juga peningkatan literasi keuangan dan lingkungan untuk memungkinkan pengambilan keputusan investasi yang terinformasi dan sejalan dengan nilai dan prinsip yang dimiliki.