📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

FORMULASI DAN OPTIMASI NANOEMULSI EKSTRAK DAUN KEMANGI (OCIMUM AMERICANUM L.) DENGAN SAKARIDA UBI CILEMBU SERTA UJI AKTIVITAS NEFROPROTEKTIF PADA MODEL HEWAN GAGAL GINJAL

Latar belakang dan tujuan: Kerusakan ginjal yang dipicu oleh stres oksidatif dan inflamasi merupakan salah satu mekanisme utama pada berbagai kondisi nefropati, sehingga diperlukan strategi terapi suportif yang mampu menargetkan kedua proses tersebut. Penelitian ini bertujuan memformulasikan dan mengoptimalkan nanoemulsi ekstrak daun kemangi (Ocimum americanum L.) dengan sakarida ubi Cilembu serta mengevaluasi respons molekuler jaringan ginjal tikus Wistar guna menilai potensi efek nefroprotektif sediaan tersebut. Metode: Nanoemulsi disiapkan melalui pendekatan bottom-up dengan pembentukan koloid polifenol yang diinduksi pemanasan, diikuti proses emulsifikasi. Optimasi dilakukan menggunakan metode One Factor At a Time (OFAT), desain faktorial, dan Box–Behnken Design (BBD) berdasarkan respons ukuran partikel. Formula terpilih dikarakterisasi dan diuji in vivo melalui biomarker stres oksidatif–inflamasi, analisis ekspresi gen, dan histopatologi ginjal. Hasil: Formula optimal diperoleh pada kombinasi faktor sakarida, heksilen glikol, dan gliserin pada Box–Behnken Design, yang setelah dikonfirmasi secara eksperimental menghasilkan ukuran partikel sebesar 174,20 ± 4,59 nm. Pada pengujian in vivo, pemberian formula optimum menurunkan kadar MDA dan TNF-?serta meningkatkan kapasitas antioksidan total (CUPRAC). Selain itu, kondisi stres oksidatif, inflamasi, dan apoptosis ginjal yang meningkat pada kelompok induksi mengalami perbaikan, yang ditunjukkan oleh penurunan signifikan ekspresi gen penanda cedera tubulus dan apoptosis (KIM-1, vimentin, Casp3, dan Capn1), disertai peningkatan signifikan ekspresi gen pertahanan antioksidan (Nrf2 dan HO-1) dan penurunan aktivitas jalur inflamasi NF-?B. Perubahan molekuler tersebut menunjukkan perbaikan kondisi stres oksidatif, inflamasi, dan kerusakan tubulus ginjal, yang selaras dengan pemulihan struktur jaringan ginjal pada analisis histopatologi PAS.

2026
👤 Penulis: Tengku Ruhul Fajria
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

INDEKS PERSAHABATAN DARI GRAF HASIL OPERASI TAMBAH DAN KARAKTERISASI GRAF YANG MEMILIKI KARDINALITAS INDEKS PERSAHABATAN KECIL

Perkembangan teori pelabelan graf dimulai dengan konsep ?-valuation yang diperkenalkan oleh (Rosa, 1967), yang kemudian dipopulerkan oleh (Golomb, 1972) dengan sebutan pelabelan anggun (graceful labeling). Evolusi konsep ini melahirkan pelabelan harmoni (harmonious labeling) (Graham dan Sloane, 1980a) dan pelabelan Kordial (cordial labeling) (Cahit, 1987). Kemudian (Lee dan Ng, 2008) memperkenalkan konsep indeks persahabatan (friendly index) sebagai generalisasi kuantitatif dari pelabelan kordial. Secara formal, indeks persahabatan dari suatu graf G didefinisikan sebagai himpunan FI(G) = {N(f) : f pelabelan persahabatan}, dengan N(f) = |ef (1) ? ef (0)| mengukur selisih jumlah sisi berlabel 1 dan 0 dari pelabelan persahabatan f : V (G) ? {0, 1}. Meskipun penelitian tentang indeks persahabatan telah berkembang cukup pesat, kajian literatur menunjukkan adanya dua celah penelitian (research gaps), yaitu pengaruh operasi graf terhadap indeks persahabatan dan karakterisasi graf berdasarkan kardinalitas indeks persahabatan. Dalam tesis ini akan dibahas indeks persahabatan untuk operasi tambah G+H, yang menghubungkan setiap titik di G dengan setiap titik di H. Pembahasan ini dibentuk dari sifat-sifat FI(G+H) terhadap pelabelan G dan H yang terinduksi. Kemudian penelitian ini juga akan membahas karakterisasi graf G yang memiliki kardinalitas indeks persahabatan kecil, yaitu |FI(G)| = 1 atau |FI(G)| = 2 dengan menentukan hubungan pertukaran label titik -titik di G terhadap indeks dari pelabelan persahabatan G.

2026
👤 Penulis: Abdul Majid
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

APAKAH 'BUATAN INDONESIA' PENTING? STUDI TENTANG PERSEPSI ASAL MEREK PADA MEREK FESYEN INDONESIA: STUDI KASUS SUKO

Penelitian ini menyelidiki apakah negara asal (COO) produk fesyen secara signifikan mempengaruhi niat pembelian konsumen di Indonesia, khususnya menguji merek lokal SUKO. Studi ini mengatasi tantangan bisnis kritis yang dihadapi Matahari Department Store: meskipun SUKO memiliki keunggulan kompetitif termasuk distribusi ritel strategis di 142 toko di 79 kota dan kontrol vertikal penuh rantai pasokan, merek ini kesulitan mengonversi kesadaran konsumen menjadi niat pembelian. Masalah inti berasal dari kesenjangan persepsi-kualitas, di mana konsumen Indonesia mungkin secara sistematis meremehkan kualitas SUKO karena bias COO yang menguntungkan merek asing dan kepercayaan xenosentrisme konsumen bahwa produk asing secara inheren lebih unggul daripada alternatif domestik. Penelitian ini menggunakan desain penjelasan kuantitatif yang memanfaatkan Pemodelan Persamaan Struktural Kuadrat Terkecil Parsial (PLS-SEM) untuk menguji kerangka konseptual yang didasarkan pada teori Country-of-Origin, Theory of Planned Behavior, dan konstruk kualitas yang dirasakan. Data dikumpulkan dari 230 responden beragam usia di Jabodetabek yang memiliki kesadaran tentang merek SUKO melalui kuesioner daring terstruktur. Kerangka kerja mengusulkan lima hubungan yang dihipotesiskan: (H1) persepsi negara-asal secara signifikan mempengaruhi kualitas yang dirasakan; (H2) superioritas/inferioritas produk secara signifikan mempengaruhi kualitas yang dirasakan; (H3) persepsi marketing mix yang dirasakan (4Ps) secara signifikan mempengaruhi kualitas yang dirasakan; (H4) perceived quality secara signifikan mempengaruhi sikap terhadap pembelian; dan (H5) sikap terhadap pembelian secara signifikan mempengaruhi niat pembelian. Temuan penelitian diperkirakan akan mengungkapkan isyarat ekstrinsik dan intrinsik mana yang paling kuat membentuk persepsi kualitas konsumen dan niat pembelian berikutnya untuk SUKO. Hasil dari penilaian model pengukuran mengkonfirmasi reliabilitas kuat dan validitas konvergen di semua konstruk. Namun, analisis validitas diskriminan menggunakan rasio Heterotrait-Monotrait (HTMT) mengungkapkan tumpang tindih konseptual yang substansial antara beberapa konstruk, menunjukkan bahwa dimensi perseptual mengenai elemen bauran pemasaran dan atribut merek sangat saling terkait dalam kognisi konsumen. Penilaian model struktural akan mengevaluasi kekuatan relatif setiap jalur dalam memprediksi niat pembelian, dengan demikian mengidentifikasi mekanisme psikologis dominan di mana COO dan faktor perseptual mempengaruhi perilaku konsumen di pasar fesyen cepat lokal. Penelitian ini berkontribusi secara teoritis dengan memperluas penelitian COO ke konteks spesifik pasar berkembang Asia Tenggara dan kompetisi merek lokal, sambil menerangi bagaimana Attitude towards purchase beroperasi dalam perilaku konsumen fesyen. Secara manajerial, studi ini menyediakan Matahari dengan rekomendasi strategis untuk memposisikan SUKO guna mengatasi kewajiban COO dan memanfaatkan tren lokalisme yang mendukung merek domestik. Penelitian mengidentifikasi bahwa mayoritas responden menemukan SUKO melalui platform media sosial (khususnya Instagram dan TikTok), mengungkapkan peluang pemasaran digital yang kritis. Analisis deskriptif konsumen menunjukkan pasar target mayoritas terdiri dari konsumen milenial dan Gen Z yang sensitif harga dengan lebih dari setengah membeli fesyen satu hingga dua kali sebulan dan kebanyakan mengeluarkan kurang dari Rp150.000 per bulan untuk fesyen. Rekomendasi strategis akan mengatasi penentuan posisi, komunikasi pemasaran, sinyal kualitas produk, dan integrasi ritel omnisaluran yang diperlukan agar SUKO membangun persepsi kualitas kredibel dan konversi di antara konsumen milenial Indonesia meskipun persaingan merek internasional.

2026
👤 Penulis: Nikolas Dalle Bimo Natawiria
🏷️ Kepatuhanan Merek 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan 🏷️ Perilaku Konsumen

OPTIMISASI STRATEGI PEMASARAN HIJAU BERBASIS MEDIA SOSIAL UNTUK MENINGKATKAN KETERLIBATAN PELANGGAN: STUDI KASUS SARIAYU MARTHA TILAAR

Penelitian ini mengkaji penerapan strategi green marketing berbasis media sosial dalam meningkatkan customer engagement, dengan studi kasus pada Sariayu Martha Tilaar. Dalam beberapa tahun terakhir, percepatan digitalisasi di industri kecantikan Indonesia telah menjadikan media sosial sebagai faktor penentu daya saing merek, khususnya di kalangan konsumen muda seperti Generasi Z dan Milenial yang menaruh perhatian besar pada keaslian, keberlanjutan, serta kecepatan interaksi digital. Meskipun Sariayu memiliki kredibilitas institusional yang kuat, sejarah merek yang panjang, serta komitmen terhadap kecantikan alami dan etis melalui Martha Tilaar Innovation Center dan program keberlanjutan Kampoeng Djamoe Organik, kinerja digital merek ini masih tergolong rendah. Ketidaksesuaian antara nilai hijau yang kuat dengan tingkat engagement digital yang lemah menunjukkan adanya permasalahan strategis yang memerlukan analisis sistematis. Sejalan dengan isu bisnis tersebut, penelitian ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, mengidentifikasi strategi pemasaran terintegrasi yang dapat diterapkan oleh Sariayu untuk memperkuat customer engagement sekaligus menjaga relevansi jangka panjang di tengah persaingan industri kecantikan yang semakin ketat. Kedua, menganalisis keterkaitan antara elemen pemasaran utama yaitu social media marketing, online marketing, brand ambassador, dan brand community dengan tingkat customer engagement yang dilaporkan oleh konsumen terhadap merek Sariayu. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berfokus pada evaluasi hubungan statistik antarvariabel, tetapi juga menghasilkan rekomendasi strategis yang aplikatif bagi pengembangan bisnis. Penelitian ini menggunakan desain mixed-method. Pendekatan kuantitatif dilakukan melalui survei daring terhadap konsumen Generasi Z dan Milenial di Indonesia yang aktif menggunakan media sosial. Data kuantitatif dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling untuk menguji keterkaitan antara stimulus pemasaran dan customer engagement. Sementara itu, pendekatan kualitatif dilakukan melalui analisis internal dan eksternal, termasuk observasi konten digital Sariayu, benchmarking dengan merek pesaing, serta kajian tren industri kecantikan berkelanjutan. Kombinasi kedua pendekatan ini memungkinkan triangulasi temuan dan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap permasalahan yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan adanya engagement paradox. Meskipun model penelitian memiliki kemampuan prediktif yang kuat terhadap customer engagement, variabel psikologis yang sebelumnya diasumsikan sebagai mediator—seperti sikap terhadap engagement dan norma subjektif—tidak terbukti berperan signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa engagement konsumen, khususnya Generasi Z, lebih bersifat respons langsung terhadap stimulus digital dibandingkan sebagai hasil dari proses psikologis yang terencana. Selain itu, aktivitas brand community ditemukan memiliki hubungan negatif dengan sikap terhadap engagement, yang mengarah pada kemungkinan terjadinya kejenuhan konten atau persepsi kurangnya keaslian dalam aktivitas komunitas yang dijalankan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rendahnya engagement Sariayu terutama disebabkan oleh faktor organisasi dan eksekusi, khususnya keterbatasan digital agility serta ketidakmampuan menerjemahkan nilai keberlanjutan berbasis heritage ke dalam format konten yang relevan dengan platform digital. Berdasarkan analisis TOWS, penelitian ini merekomendasikan penerapan strategi terintegrasi yang mencakup pemanfaatan micro-influencer, optimalisasi kanal real-time commerce, penguatan storytelling hijau yang autentik, serta peningkatan intensitas dan konsistensi aktivasi digital untuk meningkatkan engagement dan daya saing di platform berbasis algoritma.

2026
👤 Penulis: Sekar Soraya Maheswari
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

STUDI KOMPARASI MODEL CAPM DAN FAMA-FRENCH PADA SAHAM SYARIAH DI INDONESIA (JAKARTA ISLAMIC INDEX)

Jakarta Islamic Index (JII) berfungsi sebagai tolok ukur utama untuk ekuitas yang sesuai dengan prinsip Syariah di Indonesia. Namun, atribusi kinerjanya sering kali hanya bergantung pada perbandingan faktor tunggal, yang berpotensi menyembunyikan premi risiko spesifik yang melekat pada pasar negara berkembang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kerangka kerja penentuan harga aset (asset pricing) yang paling akurat dalam menjelaskan excess return saham JII melalui analisis komparatif langsung antara Capital Asset Pricing Model (CAPM), model Fama-French Tiga Faktor (FF3F), dan model Fama-French Lima Faktor (FF5F). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi runtun waktu (time-series regression) berdasarkan metode Ordinary Least Squares (OLS). Periode pengamatan mencakup Januari 2016 hingga Desember 2024 (108 observasi bulanan). Dataset terdiri dari portofolio berbobot nilai (value-weighted) yang dikonstruksi dari 22 perusahaan JII yang terdaftar secara berkelanjutan, sedangkan faktor risiko independen dikonstruksi dari semesta saham non-keuangan yang lebih luas di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hasil empiris menunjukkan bahwa Risiko Pasar merupakan pendorong dominan pengembalian JII, dengan signifikansi statistik yang tinggi di seluruh model. Faktor Nilai (HML) ditemukan memiliki signifikansi marginal (p < 0.10), yang mengindikasikan bahwa JII tidak secara konsisten menangkap premi nilai yang kuat. Sebaliknya, faktor Ukuran (SMB), Profitabilitas (RMW), dan Investasi (CMA) ditemukan tidak signifikan secara statistik; hasil ini dikaitkan dengan penyaringan likuiditas ketat pada JII yang secara inheren memilih perusahaan mapan berkapitalisasi besar. Analisis komparatif menunjukkan bahwa meskipun model FF5F memberikan daya penjelasan tertinggi (Adjusted R2 sebesar 44,5%), peningkatannya dibandingkan model FF3F (43,7%) sangat kecil. Studi ini menyimpulkan bahwa investor tidak dapat hanya mengandalkan JII untuk paparan faktor risiko strategis dan menyarankan manajer dana Syariah untuk beralih ke strategi multifaktor aktif guna menangkap peluang Alpha yang tidak tersedia dalam tolok ukur tersebut.

2026
👤 Penulis: Bagus Bagaskara
🏷️ Jakarta Islamic Index 🏷️ Analisis Kuantitatif 🏷️ Model Fama-French

USULAN STRATEGI BISNIS UNTUK MEMPERKUAT DAYA SAING DALAM LINGKUNGAN INDUSTRI KEBUGARAN DI PASAR SKALA KECIL MELALUI PENYEMPURNAAN BISNIS MODEL KANVAS: STUDI KASUS AW FITNESS CENTER

AW Fitness Center telah menjadi satu-satunya pusat kebugaran di Nanga Pinoh selama lebih dari sebelas tahun, sehingga memiliki monopoli alami dan basis pelanggan di pasar lokal yang kecil. Situasi ini berubah pada Juni 2025 ketika pesaing baru dan lebih modern masuk ke wilayah tersebut, sehingga pendapatan AW Fitness Center turun sekitar 40%. Perubahan mendadak ini membuat ekspektasi pelanggan menjadi jelas dan bagaimana AW Fitness Center perlu merevisi model bisnisnya untuk tetap relevan. Studi ini berfokus pada faktor internal dan eksternal yang memengaruhi tantangan saat ini yang dihadapi oleh gym dan bertujuan untuk menawarkan model bisnis yang lebih sesuai untuk lingkungan kompetitif baru. Penelitian ini menggunakan studi kasus kualitatif dengan 15 peserta dari pemangku kepentingan internal dan eksternal. Mengimplementasikan analisis Lima Kekuatan Porter, analisis VRIO, dan pemetaan Business Model Canvas untuk memahami kondisi bisnis saat ini. Temuan menunjukkan kekuatan mulai dari hubungan berbasis kepercayaan dan layanan fleksibel, hingga kelemahan utama seperti fasilitas yang sudah tua, operasi informal, dan kapasitas staf yang terbatas. Dengan menggunakan analisis SWOT-TOWS, studi ini merumuskan 14 arah strategis yang diterjemahkan menjadi 32 perbaikan dalam Business Model Canvas yang dirancang ulang. Model yang diusulkan menyediakan jalur yang praktis dan realistis bagi AW Fitness Center untuk meningkatkan daya saingnya, memberikan pengalaman anggota yang lebih baik, dan mencapai keberlanjutan dalam lingkungan pasar yang kecil.

2026
👤 Penulis: Winina Fitri
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Pemasaran Digital 🏷️ Kecerdasan Buatan

MEMPERKUAT PENCEGAHAN RISIKO KECURANGAN MELALUI ANALISIS PROSES BISNIS: STUDI KASUS PADA PT GLOBAL INTAN TEKNINDO

Kecurangan merupakan risiko signifikan bagi UKM, terutama perusahaan dengan pola komunikasi informal, dokumentasi terbatas, dan kontrol internal yang lemah. Penelitian ini bertujuan memperkuat pencegahan risiko kecurangan pada PT Global Intan Teknindo (GIT) dengan mengidentifikasi penyebab utama fraud, merancang strategi pencegahan melalui perbaikan proses, dan menilai kapabilitas organisasi yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan manajemen risiko fraud yang kredibel. Pendekatan studi kasus kualitatif digunakan melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen, serta didukung literatur dan benchmarking. Triangulasi memastikan validitas temuan.Hasil analisis menunjukkan bahwa risiko fraud muncul dari inquiry yang tidak tercatat, komunikasi vendor informal, quotation tanpa persetujuan, PO melalui saluran pribadi, invoice tanpa otorisasi, dan pembayaran ke rekening pribadi. Kondisi ini diperburuk oleh lemahnya kontrol preventif dan minimnya verifikasi digital. Rekomendasi mencakup perancangan ulang proses, digitalisasi dokumentasi, penguatan kontrol, pembentukan Internal Controller, serta pengembangan kapabilitas people, tools, systems, dan structure.

2026
👤 Penulis: Adhitya Ferdian Adha
🏷️ Manajemen Risiko 🏷️ Kecurangan Bisnis 🏷️ Proses Bisnis

MENGEMBANGKAN STRATEGI PEMASARAN FREIGHT FORWARDING UNTUK MENARIK PELANGGAN BARU BAGI PT SAFE LOGISTICS INTERNATIONAL

Penelitian ini bertujuan untuk merancang strategi pemasaran guna menarik pelanggan baru bagi PT Safe Logistics International (PT SLI), sebuah perusahaan freight forwarding berbasis di Jakarta yang menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang stabil namun mengalami stagnasi dalam perolehan pelanggan baru. Industri freight forwarding saat ini menghadapi perubahan signifikan akibat meningkatnya persaingan, digitalisasi, dan perubahan ekspektasi pelanggan business-to-business (B2B), khususnya terkait responsivitas layanan, transparansi, dan keandalan operasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan satu calon pelanggan industri dan Direktur PT SLI, sedangkan data sekunder dikumpulkan dari literatur akademik, laporan industri, indeks logistik, serta dokumen perusahaan. Analisis data dilakukan menggunakan analisis pasar, analisis eksternal dan internal, yang kemudian disintesis melalui analisis SWOT dan TOWS untuk merumuskan alternatif strategi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT SLI memiliki kekuatan pada kapabilitas operasional, hubungan jangka panjang dengan pelanggan, serta keandalan dokumentasi. Namun, perusahaan menghadapi keterbatasan dalam visibilitas merek, struktur pemasaran, dan kapabilitas digital. Berdasarkan analisis TOWS, strategi diferensiasi yang menekankan responsivitas layanan, hubungan berbasis kepercayaan, dan komunikasi yang transparan merupakan arah strategis yang paling sesuai untuk meningkatkan akuisisi pelanggan dan daya saing perusahaan.

2026
👤 Penulis: Rizka Amalia
🏷️ Freight Forwarding 🏷️ Manajemen Strategi Pemasaran 🏷️ Digitalisasi Industri

PERUBAHAN MAKROEKONOMI DAN SENSITIVITAS HARGA DALAM EDTECH VOKASIONAL: IMPLIKASI BAGI STRATEGI BISNIS PADA SCHOTERS BY RUANGGURU WORK ABROAD PROGRAM

Tesis ini mengkaji Schoters by Ruangguru Work Abroad Program, dengan fokus pada bagaimana menjaga pertumbuhan dan profitabilitas di tengah meningkatnya sensitivitas harga dan ketidakpastian makroekonomi di Indonesia. Ketika inflasi, stagnasi upah, dan perubahan aspirasi generasi muda membentuk ulang perilaku konsumen, EdTech vokasional dituntut untuk beradaptasi melalui inovasi strategi harga dan positioning yang tepat. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-method. Secara kuantitatif, analisis dilakukan dengan menerapkan Price Sensitivity Meter dan Conjoint Analysis untuk menangkap kesediaan membayar (willingness to pay) serta pertukaran preferensi atribut. Secara kualitatif, wawancara pengguna dengan thematic coding memberikan pemahaman yang lebih mendalam terkait motivasi, hambatan, dan segmentasi psikografis. Metode scenario planning kemudian digunakan untuk membangun alternatif masa depan berdasarkan dinamika makroekonomi dan konsumen. Dari skenario tersebut, rekomendasi strategis diformulasikan dengan mengacu pada kerangka teori dan strategi manajemen bisnis yang mapan. Penelitian ini berkontribusi dengan menghubungkan teori manajemen strategis, ekonomi perilaku, dan segmentasi psikografis dalam konteks pasar berkembang. Selain itu, penelitian ini menawarkan wawasan praktis bagi perusahaan EdTech dalam menghadapi ketidakpastian sekaligus mendorong pertumbuhan berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Najla Rasikha Putri Harza
🏷️ Analisis Sensitivitas Harga 🏷️ Segmentasi Psikografis Konsumen

STRATEGI TOWER BERSAMA GROUP DI 5G/6G ERA: ANALISIS MERGER & INFRASTRUKTUR HOST NETRAL

Konsolidasi operator seluler di Indonesia serta dorongan menuju teknologi 5G/6G telah memengaruhi tingkat persaingan dan meningkatkan tekanan harga pada para penyedia menara telekomunikasi. Bagi Tower Bersama Group (TBG) sebagai salah satu pemain penyedia menara terbesar di Indonesia, kondisi ini memberikan tekanan terhadap harga sewa, potensi pembongkaran site, serta meningkatnya kebutuhan investasi untuk infrastruktur 5G dan 6G di masa mendatang. Tantangan utama yang muncul adalah menjaga tingkat tenancy, efisiensi biaya, dan stabilitas finansial jangka panjang. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi strategi bisnis yang dapat membantu TBG tetap kompetitif dalam era 5G/6G dan konsolidasi besar di industri operator seluler. Studi ini mengevaluasi pilihan strategi bagi TBG dengan menggunakan pendekatan mixed method yang mengintegrasikan wawancara manajemen, content analysis, financial modelling, dan simulasi Monte Carlo. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konsolidasi operator seluler meningkatkan kekuatan tawar pembeli, namun juga membuka peluang bentuk kolaborasi baru, khususnya melalui infrastruktur neutral host. Dua strategi muncul sebagai opsi yang layak bagi TBG, yaitu melakukan konsolidasi selektif antar penyedia menara untuk mencapai skala dan optimalisasi aset serta mengembangkan Neutral Host Infrastructure. Analisis finansial menunjukkan bahwa model neutral host layak dijalankan dalam skenario dasar, dengan menghasilkan nilai kini bersih (NPV) positif dan tingkat pengembalian internal (IRR) yang berada di atas weighted average cost of capital (WACC) TBG. Penelitian ini menyimpulkan bahwa menggabungkan merger dan konsolidasi yang terarah dengan penyedia menara lain serta implementasi layanan neutral host infrastructure akan membantu TBG tetap kompetitif dan mendukung prioritas pembangunan infrastruktur digital nasional dalam lingkungan industri yang terus berubah ini.

2026
👤 Penulis: Clinton Misi Yoshua
🏷️ Konsolidasi Operator Seluler 🏷️ Infrastruktur Host Netral 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Telekomunikasi

MENINGKATKAN KEAMANAN DIGITAL MENGGUNAKAN KERANGKA PENILAIAN KEMATANGAN KEAMANAN SIBER DI TELKOMSIGMA

Mengingat lingkungan cybersecurity yang rumit akibat pesatnya perkembangan teknologi digital, teknologi perlindungan tingkat lanjut sangat diperlukan. Tingkat kesiapan cybersecurity di Indonesia masih belum merata, di mana banyak organisasi beroperasi pada tingkat kematangan (maturity level) yang rendah dan sangat rentan terhadap ancaman. Studi ini berfokus pada salah satu perusahaan TIK terkemuka di Indonesia yang menghadapi masalah skor dasar Cyber Maturity Assessment (CMA) yang rendah, yaitu 1.44, yang menunjukkan postur keamanan yang ad hoc dan reaktif. Untuk memverifikasi perubahan yang terukur, studi ini bertujuan mengidentifikasi masalah mendasar yang menyebabkan skor rendah, menyusun rencana perbaikan yang terfokus, dan menilai keberhasilan kegiatan yang telah diimplementasikan. Penelitian ini menggunakan desain riset campuran, yaitu kualitatif-kuantitatif. Data kualitatif dikumpulkan melalui Focus Group Discussions (FGDs) dengan stakeholders terpilih dan penilaian menyeluruh terhadap dokumentasi internal organisasi. Sementara itu, analisis kuantitatif menggunakan formula penilaian Cyber Maturity Assessment (CMA) dari Global Consulting Company untuk menilai domain-domain kerangka kerja dalam peringkat kematangan maturity ratings. Berdasarkan hasil ini, dibuatlah solusi bisnis yang terfokus dan strategi implementasi menyeluruh untuk meningkatkan kematangan siber. Diagnosis awal menemukan kesenjangan kritis di setiap domain. Domain Legal and Compliance (Hukum dan Kepatuhan) dan Business Continuity Management (Manajemen Kelangsungan Bisnis) mendapatkan skor terendah karena rencana pemulihan yang belum teruji dan kurangnya proses berbasis teknologi yang terformalisasi. Sebagai respons, dikembangkan roadmap prioritas selama tiga tahun, yang berfokus pada dokumentasi dan integrasi strategis. Setelah inisiatif-inisiatif ini diterapkan dan divalidasi melalui evaluasi, skor kematangan total organisasi meningkat dari 1.44 menjadi 2.50. Studi ini menyimpulkan bahwa implementasi peta jalan secara sistematis dan bertahap terbukti sangat efektif, berhasil memvalidasi pendekatan tesis untuk meningkatkan kematangan siber. Studi ini menawarkan landasan yang bermanfaat bagi perusahaan TIK untuk beralih dari postur keamanan yang ad hoc dan reaktif menjadi postur yang Defined (Terdefinisi) dan Managed (Terkelola). Hasil ini juga menunjukkan bahwa meskipun domain operasional dapat ditingkatkan secara signifikan, domain strategis seperti Legal and Compliance memerlukan komitmen berkelanjutan dari eksekutif setelah dokumentasi awal untuk mencapai kematangan penuh (full maturity).

2026
👤 Penulis: Rifqi Ramadhan Tussardi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

DIVERSIFIKASI STRATEGIS PADA PERUSAHAAN KONSTRUKSI MENENGAH: MENYEIMBANGKAN PERTUMBUHAN DENGAN PELESTARIAN KOMPETENSI INTI – STUDI KASUS WSA CONSTRUCTION + PLANNING

Perusahaan konstruksi di Indonesia semakin berupaya menyesuaikan bidang operasinya dengan keunggulan kompetitif yang dimiliki. Ketiadaan strategi yang relevan menjadi perhatian utama bagi perusahaan yang berusaha menganalisis kapabilitas operasionalnya di pasar tertentu. WSA Construction + Planning menjadi acuan utama dalam penelitian ini. Strategi pertumbuhan yang dapat diimplementasikan dikembangkan melalui kombinasi penelitian kualitatif (wawancara dengan pemangku kepentingan sebanyak n=6) dan metodologi kuantitatif (n=87) berdasarkan jalur diversifikasi WSA. WSA membutuhkan strategi dan kerangka kerja yang lebih baik untuk menganalisis perusahaan konstruksi dan pertumbuhan pasar. Menurut kerangka Porter’s Five Forces, pembangunan fasilitas kesehatan memiliki potensi pertumbuhan tertinggi dibandingkan tiga sektor konstruksi yang dianalisis. WSA dapat memanfaatkan dinamika pertumbuhan sektor konstruksi melalui pendekatan kompetitif multifaset karena proyeksi peningkatan pembangunan di segmen kesehatan. WSA memiliki pendekatan yang tepat dalam konstruksi melalui pengembangan kapabilitas dinamis (sensing, seizing, transforming), namun perlu memperdalam pengetahuan terkait konstruksi fasilitas kesehatan dan kepatuhan terhadap standar yang berlaku. Strategi yang diusulkan berfokus pada spesialisasi konstruksi fasilitas kesehatan (60% dari total investasi diversifikasi, dengan target kontribusi pendapatan 33% pada tahun 2029 sebesar Rp70 miliar) serta konsultasi berbasis keberlanjutan (40% dari total investasi diversifikasi, dengan target kontribusi pendapatan 16% pada tahun 2029 sebesar Rp33,5 miliar). Kombinasi ini menciptakan posisi pasar unik sebagai sustainable healthcare construction specialist. Kerangka implementasi lima tahun memperkirakan peningkatan pendapatan dari Rp82 miliar (2024) menjadi Rp215 miliar (2029), mencerminkan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 21% dengan internal rate of return antara 32–38% . Celah penelitian terletak pada integrasi teori Resource-Based View, Dynamic Capabilities Theory, dan Core Competence Theory dalam konteks diversifikasi industri konstruksi, pengembangan metode baru berbasis validasi pemangku kepentingan (stakeholder-validated market framework), serta diversifikasi kompetitif berkelanjutan berbasis keunggulan operasional. Dengan mengindeks strategi tersebut dalam konteks industri konstruksi, temuan ini memperluas kerangka kerja bagi perusahaan konstruksi menengah untuk menjalankan diversifikasi strategis yang berkelanjutan di pasar yang terus berkembang.

2026
👤 Penulis: Wahyu Surya Agung
🏷️ Strategi Diversifikasi Industri Konstruksi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Dinamika Pertumbuhan Dan Keberlanjutan

TRANSFORMASI SOLUSI SUMBER DAYA MANUSIA STRATEGIS DI KORPORASI PELABUHAN : PENDEKATAN SKENARIO

Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji kompatibilitas perencanaan skenario dalam menyiapkan strategi yang tepat bagi perusahaan pembelajaran dan konsultasi bagian dari grup operator pelabuhan badan usaha milik negara (BUMN), dalam mengembangkan kemampuannya untuk menghadapi tantangan dalam memenuhi mandat perusahaan induk sebagai penyedia solusi sumber daya manusia (SDM). Penelitian kualitatif ini dimulai dengan menggabungkan analisis lingkungan eksternal menggunakan PESTEL dan evaluasi sumber daya internal dengan model VRIO untuk mengidentifikasi ketidakpastian penting yang memengerauhi arah strategis perusahaan, diperkuat dengan Diskusi Kelompok Terfokus (FGD) yang melibatkan tim operasional internal untuk mengidentifikasi masalah yang dirasakan dan faktor pendorong, diikuti dengan wawancara semi-terstruktur dengan pemangku kepentingan manajerial dan strategis untuk memvalidasi dan menyempurnakan skenario yang muncul. Dari rangkaian faktor pendorong yang lebih luas, dua ketidakpastian kritis diidentifikasi: tingkat otonomi strategis yang diberikan kepada perusahaan dalam kelompok BUMN dan tingkat keterbukaan pasar di luar ekosistem operator pelabuhan internal. Ketidakpastian ini menjadi dasar matriks empat skenario yang dikembangkan dengan narasi terperinci, implikasi strategis, sinyal peringatan dini, dan opsi tanggapan. Pendekatan ini memfasilitasi formulasi opsi strategis yang tidak dioptimalkan untuk masa depan tunggal, melainkan tangguh di berbagai lingkungan yang dimungkinkan. Studi ini menyimpulkan bahwa perencanaan skenario memainkan peran kritis sebagai alat strategi perusahaan sekaligus menyoroti pentingnya pembangunan kemampuan secara bertahap yang selaras dengan rencana jangka panjang perusahaan dan batasan tata kelola perusahaan. Tiga rekomendasi strategis inti diusulkan: mengadopsi perencanaan skenario sebagai mekanisme strategi korporat yang berulang, menerapkan pengembangan kemampuan secara bertahap dan terstruktur sesuai dengan kematangan organisasi yang realistis, serta mengelola ketergantungan pihak ketiga melalui strategi kemitraan selektif daripada internalisasi penuh. Secara kolektif, rekomendasi ini menyediakan kerangka kerja praktis dan berbasis teori untuk perusahaan pembelajaran dan konsultasi yang berafiliasi dengan BUMN yang ingin berkembang menjadi pelabuhan kelas dunia yang didukung oleh sumber daya manusia kelas dunia.

2026
👤 Penulis: Giswari Meisya Nabilah
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Strategis

ANALISIS PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS PADA PRIORITISASI PRODUK DI BATTERSPOON BY MULIA MENGGUNAKAN ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP)

Penelitian ini mengeksplorasi proses pengambilan keputusan strategis dalam Batterspoon by Mulia, sebuah usaha mikro berbasis bakery, untuk memprioritaskan penawaran produk menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP). Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengatasi masalah utama, yaitu stagnasi penjualan meskipun usaha telah dilakukan untuk meningkatkan merek, sertifikasi, dan penawaran produk. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat memberikan kerangka kerja yang sistematis untuk membantu bakery dalam mengoptimalkan penawaran produk melalui strategi pengembangan produk dan mengalokasikan sumber daya yang terbatas secara efisien. Batterspoon by Mulia pertama kali dimulai sebagai usaha kecil berbasis rumah yang beroperasi di wilayah Jakarta dan Depok, dengan fokus pada produk seperti cheesesticks, éclair/choux, kue bolu, puding, dan kue kering. Meskipun usaha ini sempat sukses di awal, tantangan yang dihadapi adalah memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan penjualan. Meskipun sudah mendaftarkan merek dan memperoleh sertifikasi halal untuk produk utama cheesesticks, bakery ini mengalami stagnasi dalam pertumbuhannya. Stagnasi ini terjadi karena beberapa faktor, seperti strategi pemasaran yang kurang berkembang, kurangnya proses operasional yang formal, dan kapasitas produksi yang terbatas. Ketergantungan pada sistem made-to-order dan produksi manual juga menyulitkan kemampuan untuk berkembang secara efisien. Penelitian ini berfokus pada Manajemen Siklus Produk (PLM) pada tahap inovasi untuk memprioritaskan pemilihan produk, serta mengusulkan ide-ide tentang bagaimana melanjutkan investasi di masa depan. Penelitian dimulai dengan mengidentifikasi tantangan saat ini dalam bisnis melalui analisis akar penyebab, dengan masalah utama stagnasi penjualan yang mengungkapkan bahwa bisnis ini memiliki banyak masalah dalam operasional yang dapat diperbaiki melalui investasi yang terarah dengan memahami setiap produk yang tersedia. Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats) menunjukkan faktor internal dan eksternal bisnis melalui perspektif internal, sedangkan analisis PESTLE (Politik, Ekonomi, Sosial, Teknologi, Hukum, dan Lingkungan) memberikan wawasan yang secara spesifik fokus pada faktor makro-lingkungan yang memengaruhi bisnis. Analisis matriks TOWS digunakan untuk menciptakan tindakan strategis berdasarkan faktor internal dan eksternal dari analisis SWOT. Analisis selanjutnya berfokus pada metode AHP yang membantu dalam pemilihan produk berdasarkan kriteria dan sub-kriteria yang diberi bobot yang diperoleh dari hasil wawancara dan analisis makro-lingkungan yang diperoleh dari analisis sebelumnya. Hasil wawancara dikumpulkan dari stakeholder internal dan eksternal untuk menggali wawasan mengenai pentingnya setiap kriteria. Model AHP memiliki lima kriteria: 1) karakteristik produk, dengan dua sub-kriteria, kualitas produk dan diferensiasi produk, 2) permintaan pasar, 3) profitabilitas, 4) faktor eksternal, dengan dua sub-kriteria, lingkungan kompetitif dan persyaratan regulasi & sertifikasi, 5) kemampuan operasional, dengan dua sub-kriteria, kelayakan dan stabilitas rantai pasokan. Responden yang sama kemudian akan mengisi kuesioner untuk mengumpulkan data perbandingan berpasangan untuk memberi bobot pada setiap kriteria dan sub-kriteria. Hasil analisis AHP menunjukkan bahwa faktor yang paling penting dalam pemilihan produk adalah karakteristik produk, diikuti oleh profitabilitas dan permintaan pasar. Di antara produk-produk yang dipertimbangkan sebagai alternatif, cheesesticks dianggap sebagai prioritas utama karena masa simpan yang panjang, sertifikasi halal, dan permintaan pasar. Diikuti oleh éclair/choux, meskipun sudah memiliki pasar yang ada dalam bisnis, tantangan yang dihadapinya adalah masa simpan yang pendek dan kompleksitas produksinya. Puding menduduki peringkat ketiga, dengan masalah yang mirip dengan éclair/choux. Baik kue kering maupun kue bolu menduduki peringkat lebih rendah. Analisis sensitivitas dilakukan untuk menguji ketahanan dari prioritas untuk memastikan bahwa peringkat tersebut tetap stabil dalam berbagai situasi. Berdasarkan temuan-temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan rencana implementasi untuk Batterspoon by Mulia melalui strategi pengembangan produk. Implementasi ini memprioritaskan cheesesticks, lalu éclair/choux, dan puding secara bersamaan setelah cheesesticks, sedangkan kue kering dan kue bolu akan dianalisis setelahnya. Penelitian ini memberikan kontribusi utama dalam hal pemilihan produk dan pengambilan keputusan dalam usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sebagai kesimpulan, penelitian ini memberikan wawasan yang dapat ditindaklanjuti untuk Batterspoon by Mulia dalam mengatasi stagnasi penjualan dan mendorong pertumbuhan di masa depan. Dengan memprioritaskan produk berdasarkan alat pengambilan keputusan strategis seperti AHP, bakery ini dapat meningkatkan daya saing dan memperluas jangkauan pasar secara berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Farah Fabriana
🏷️ Manajemen Siklus Produk (Plm) 🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

OPTIMALISASI PENGGUNAAN INSTAGRAM UNTUK MENINGKATKAN PEROLEHAN LEAD B2B: STUDI KASUS TELKOM DWS

Media sosial banyak digunakan dalam pemasaran B2B, terutama di sektor telekomunikasi grosir, di mana audiens teknis dan profesional menjadi target. Telekom DWS menggunakan Instagram untuk pemasaran digital, meskipun dampaknya terhadap minat audiens dan prospek di tahap awal belum diketahui. Konten Instagram menarik audiens B2B dan menghasilkan prospek awal dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode campuran penjelasan sekuensial. Uji Wilcoxon Signed-Rank membandingkan kategori konten Produk, Orang, Perspektif, dan Kemajuan dalam analisis kuantitatif awal. Hasil dikumpulkan secara kualitatif dari wawancara mendalam dengan manajemen prospek internal dan pemangku kepentingan pemasaran. Metrik kinerja Instagram dan data wawancara dievaluasi secara tematik. Tidak ditemukan perbedaan yang signifikan dalam analisis Wilcoxon pada tingkat ? = 0.05. Menurut tren baru, konten perspektif, yang memberikan wawasan pendidikan dan industri, outperformed konten produk dalam jumlah tampilan profil, menunjukkan minat pada tahap awal. Serupa dengan posting komersial, materi progresif memiliki interaksi audiens yang lebih tinggi. Wawancara menunjukkan bahwa demografi target seperti penyedia layanan internet (ISP) baru, organisasi IT, dan perusahaan digital lebih menghargai konteks industri, keahlian, dan relevansi dengan layanan grosir daripada pesan promosi. Penelitian ini mengidentifikasi masalah operasional meskipun ada antusiasme. Informasi instruksional yang menarik perhatian dan berbasis wawasan memiliki dampak yang terbatas. Kemampuan manusia, klasifikasi prospek, dan ketidakhadiran dasbor pelacakan terintegrasi menghambat potensi komersial dari minat awal. Selain pengembangan konten, kesiapan internal organisasi dalam merespons interaksi audiens memengaruhi kekuatan bisnis-ke-bisnis Instagram. Sistem manajemen prospek yang terorganisir dan responsif harus mendukung strategi konten yang informatif dan berfokus pada kredibilitas untuk memaksimalkan peran Instagram dalam pipeline prospek. Telkom DWS menggunakan studi ini untuk menerapkan rekomendasi berkelanjutan dan strategi pemasaran digital berbasis konten untuk B2B, terutama industri telekomunikasi grosir.

2026
👤 Penulis: Muthia Rizqika Fatiha
🏷️ Optimisasi Pemasaran Digital Melalui Instagram 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Telekomunikasi Grosir 🏷️ Analisis Data Konten Media Sosial
Halaman 207 dari 6754
💬