📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPERANCANGAN STRATEGI RETENSI PELANGGAN BERDASARKAN PERILAKU KONSUMEN DI TOKO DAGING NUSANTARA SOREANG
Industri ritel daging di Indonesia terus mengalami pertumbuhan konsisten seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat. Toko Daging Nusantara (TDN) merupakan salah satu pemain industri yang mengusung konsep ritel modern dalam mendistribusikan daging segar dan olahan kepada konsumen akhir. TDN juga memperluas lini produk ke berbagai bahan pangan lain sehingga beroperasi layaknya supermarket. Penelitian ini dibatasi pada TDN cabang Soreang, yang dipilih karena memiliki performa omset dan akuisisi pelanggan yang rendah. TDN Soreang mengalami permasalahan nilai CRR (customer retention rate) yang rendah sebesar 36% dibandingkan CRR global (63%). Masalah ini diperkuat dengan temuan bahwa 61,5% pelanggan tidak kembali berbelanja selama lebih dari lima bulan sejak transaksi terakhir. Penelitian ini bertujuan merancang strategi retensi berdasarkan eksplorasi terhadap perilaku pelanggan. Model perilaku yang digunakan mencakup teori Stimulus-Organism-Response (SOR), serta empat model lain yang relevan dengan pembelian ulang di gerai ritel supermarket, yaitu model Chatzoglou, dkk (2022), Anene (2022), Hilal (2022), dan Fitri & Mardikaningsih (2023). Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap 12 pelanggan dari empat segmen yang dipilih menggunakan teknik judgemental dan convenience sampling. Kemudian, data wawancara dianalisis menggunakan metode analisis tematik induktif dan deduktif. Hasil analisis digunakan untuk menyusun daftar kebutuhan pelanggan yang diklasifikasi dengan model Kano. Daftar kebutuhan akan menjadi dasar perumusan strategi retensi berdasarkan kerangka marketing mix 7P. Alternatif strategi dievaluasi menggunakan matriks penilaian ICE untuk memilih strategi yang paling relevan bagi masing-masing segmen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan faktor yang memengaruhi pembelian kembali pada segmen akibat kebutuhan yang berbeda.
HUBUNGAN LITOFASIES DAN ASOSIASI FASIES TERHADAP ROCK TYPE PADA ZONA POTENSIAL HIDROKARBON RESERVOIR E3140 FORMASI BALIKPAPAN, LAPANGAN BERAS, CEKUNGAN KUTAI
Reservoir E3140 Formasi Balikpapan, Lapangan Beras, Cekungan Kutai yang terdapat di tepi bagian timur, Kalimantan Timur merupakan salah satu cekungan sedimen penghasil hidrokarbon di Indonesia yang saat ini dikelola oleh PT Pertamina Hulu Indonesia Zona 9. Menurunnya laju produksi pada reservoir E3140 menjadi tantangan pada tahap pengembangan sehingga dibutuhkan model geologi reservoir 3D yang mampu menjelaskan tingkat karakteristik heterogenitas reservoirnya. Penelitian ini menentukan analisis litofasies, asosiasi fasies serta lingkungan pengendapan, analisis rock type serta penyebarannya dengan multi resolution graph-based clustering (MRGC) dan prediksi permeabilitas dari hubungan permeabilitas dan porositas berdasarkan pengelompokan rock type, dan pemodelan geologi reservoir 3D dari dari reservoir E3140 Formasi Balikpapan, Cekungan Kutai. Hasil analisis deskripsi inti batuan dari analogi sumur Lapangan Mutiara dan log elektrofasies pada reservoir batupasir E3140 merupakan asosiasi fasies distributary channel pada lingkungan pengendapan delta, bagian delta plain yang dipengaruhi pasang surut. Selain itu, reservoir batupasir E3140 Formasi Balikpapan, Lapangan Beras yang merupakan asosiasi fasies distributary channel tersusun atas beberapa litofasies dari hasil analogi deskripsi inti batuan pada sumur MUT0530 reservoir G3140 Formasi Balikpapan, Lapangan Mutiara yaitu (1) Litofasies Batupasir Planar Cross Bedding, (2) Litofasies Batupasir Planar Cross Bedding Bioturbation, (3) Litofasies Batupasir Cross Lamination With Mud Drapes, (4) Litofasies Batupasir Wavy Ripple Cross-Lamination With Mud Drapes Bioturbation, (5) Litofasies Batupasir Wavy Ripple Cross-Lamination With Mud Flasher. Analisis rock type (RT) dari reservoir batupasir E3140, Formasi Balikpapan terdiri dari 5 rock type. Salah satunya pada sumur BRS030 yang memiliki data routine core analysis (RCAL) dan memiliki data nilai produksi kumulatif minyak 6.722.949 STB dan kumulatif gas 1.560.048 MScf, pada asosiasi fasies distributary channel sebagai penghasil hidrokarbon utama dapat dibagi menjadi 3 rock type (RT) yaitu RT 01 yang memiliki kualitas yang sangat baik dengan nilai FZI ? 6,278, nilai porositas 32,30% – 32,5% dan nilai permeabilitas 2830,5 mD – 444,3 mD, RT 02 dengan kualitas baik dengan nilai FZI 3,62 – 6,03, nilai porositas 30,2% - 35,7%, dan nilai permeabilitas 772 mD – 2955 mD, dan RT03 dengan kualitas sedang dengan nilai FZI 0,223 – 3,603, nilai porositas 27,7% –34,7% dan nilai permeabilitas 277 mD – 1256 mD. Hasil analisis dari rock type ini juga nantinya akan digunakan untuk melakukan prediksi permeabilitas berdasarkan hasil klasifikasi RT-nya dengan menggunakan hubungan antara nilai permeabilitas dari data routine core analysis (RCAL) dan normalized porosity. Rock type pada sumur-sumur reservoir E3140 Formasi Balikpapan yang tidak memiliki data routine core analysis (RCAL) diprediksi dengan menggunakan multi resolution graph-based clustering (MRGC). Pemodelan properti reservoir seperti pemodelan penyebaran rock type, pemodelan penyebaran volume shale, pemodelan penyebaran porositas, dan pemodelan penyebaran prediksi permeabilitas berdasarkan klasifikasi rock type dikontrol oleh pemodelan asosiasi fasies pada reservoir E3140, Formasi Balikpapan, Lapangan Beras. Hal ini diharapkan mampu menghasilkan model geologi reservoir E3140, Formasi Balikpapan yang mampu menggambarkan tingkat karakteristik heterogenitas reservoirnya.
PERANCANGAN KONSEP PENGEMBANGAN LAYANAN THE ROOM 19 BERDASARKAN PREFERENSI PENGGUNA RUANG KETIGA MENGGUNAKAN CHOICE-BASED CONJOINT
The Room 19 merupakan perpustakaan independen di Kota Bandung yang berfungsi sebagai ruang ketiga (third place), yaitu ruang di luar rumah dan kampus/kantor yang dimanfaatkan untuk beraktivitas secara fleksibel, baik untuk bersosialisasi maupun belajar dan bekerja. The Room 19 menghadapi tantangan dalam memaksimalkan pendapatan karena didominasi pelanggan pelajar dan mahasiswa dengan daya beli relatif rendah, sehingga kunjungan cenderung fluktuatif pada masa libur dan kontribusi layanan tambahan rendah. Untuk meningkatkan keberlanjutan bisnis, diperlukan strategi penetrasi pasar melalui pengembangan layanan dan penetapan harga berbasis preferensi konsumen. Penelitian ini mengidentifikasi atribut layanan yang memengaruhi keputusan konsumen, membentuk segmentasi pelanggan, serta menentukan rentang harga optimal layanan The Room 19. Metode choice-based conjoint (CBC) digunakan untuk menganalisis delapan atribut layanan (estimasi utilitas: hierarchical Bayes (HB); segmentasi: latent class regression (LCR)). Analisis harga dilakukan menggunakan Van Westendorp’s price sensitivity meter (PSM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jam operasional, sistem penyewaan seating, dan insentif penggunaan layanan merupakan atribut paling berpengaruh. Segmentasi menghasilkan tiga kelompok pelanggan dengan kebutuhan berbeda, dengan kombinasi atribut paling disukai meliputi jam operasional 08.00–20.00, shift fleksibel 4 jam, insentif gratis 1 shift setiap 5 kunjungan, tarif peminjaman buku harian, serta bundling layanan seating dan peminjaman buku. Analisis PSM menunjukkan harga eksisting layanan seating dan peminjaman buku impor sedikit di atas harga optimal namun masih dapat diterima, sedangkan harga peminjaman buku lokal berada di bawah harga optimal sehingga terdapat ruang kenaikan harga secara terbatas.
PERANCANGAN PANDUAN PENCEGAHAN KECELAKAAN KERJA DAN PENYAKIT AKIBAT KERJA DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
Perkebunan kelapa sawit Indonesia merupakan perkebunan terbesar di seluruh dunia. Sektor ini menyumbangkan produk domestik bruto (PDB) yang tinggi bagi Indonesia. Namun, sektor ini masih dihadapkan pada tantangan keselamatan dan kesehatan Kerja (K3). Tingkat kecelakaan kerja (KK) di sektor perkebunan mencapai 60,5% dari total kasus nasional. Penyakit akibat kerja (PAK) juga tidak luput dari perhatian walaupun terjadi underreporting di Indonesia. Kondisi ini juga disebabkan oleh pekerjaan di perkebunan yang masih padat karya dan minim penggunaan teknologi. Selain itu, tidak adanya panduan resmi terkait implementasi K3 di perkebunan kelapa sawit di Indonesia juga berkontribusi pada hal ini. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor risiko KK dan PAK yang dihadapi pekerja perkebunan kelapa sawit dan merancang panduan pencegahan yang relevan. Pada penelitian ini, data primer dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara terstruktur, job hazard analysis (JHA), dan focus group discussion (FGD) dengan berbagai pemangku kepentingan. Data FGD yang diperoleh selanjutnya diolah melalui analisis tematik untuk mengidentifikasi faktor risiko yang ada dan perumusan intervensi yang dibutuhkan. Perancangan panduan dilakukan dengan benchmark panduan terkait K3 yang relevan. Panduan kemudian divalidasi oleh stakeholder untuk memperoleh feedback sebagai perbaikan. Hasil penelitian menunjukkan beragam faktor risiko yang dihadapi pekerja, meliputi safety hazard (misal: penggunaan alat tajam), ergonomic hazard (misal: postur janggal), psychosocial hazard (misal: tekanan manajerial), biological hazard (misal: gigitan serangga), chemical hazard (misal: pestisida), dan physical hazard (paparan suhu panas). Faktor risiko ini berpotensi menimbulkan gangguan muskuloskeletal, masalah pernapasan, hingga cedera langsung. Berdasarkan temuan dalam penelitian, dihasilkan panduan pencegahan KK dan PAK di perkebunan kelapa sawit dengan tujuh elemen utama program K3. Panduan ini telah mendapatkan respons positif dari stakeholder dan diharapkan dapat mendukung upaya pencegahan KK dan PAK.
STUDI SHUNT ACTIVE POWER FILTER BERBASIS METODE KESETARAAN DAYA UNTUK PERBAIKAN KUALITAS DAYA
Beban nonlinier berbasis penyearah pada sistem satu fasa menyebabkan distorsi harmonisa arus yang menurunkan kualitas daya, meningkatkan rugi-rugi sistem, serta mempercepat degradasi peralatan listrik. Penelitian ini merancang dan mengevaluasi kinerja Shunt Active Power Filter (SAPF) berbasis metode kesetaraan daya untuk menghasilkan arus sumber yang sinusoidal dan sefasa dengan tegangan melalui injeksi arus kompensasi. Metode kesetaraan daya digunakan untuk membangkitkan arus referensi dengan pendekatan yang lebih sederhana, karena hanya memerlukan estimasi daya aktif rata-rata untuk menentukan amplitudo arus kompensasi tanpa transformasi koordinat. Sistem SAPF direalisasikan menggunakan inverter H-bridge bertipe Voltage Source Inverter (VSI) dan dikendalikan dengan Hysteresis Current Control (HCC) agar arus injeksi mampu mengikuti arus referensi secara cepat dan presisi. Evaluasi dilakukan melalui simulasi dan pengujian prototipe pada sistem satu fasa 110 V, 50 Hz dengan beban nonlinier, serta pengembangan ke sistem tiga fasa empat kawat. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada kondisi tanpa SAPF, THD arus sumber mencapai 18,35% dan menurun menjadi 5,78% setelah SAPF diaktifkan, serta 1,80% pada kondisi beban bervariasi dengan faktor daya meningkat hingga 1,00. Pada sistem tiga fasa empat kawat, THD arus sumber turun menjadi 2,33% sampai dengan 2,41% dengan arus netral mendekati nol dan faktor daya 1,00 pada setiap fasa. Pengujian prototipe memverifikasi hasil simulasi, di mana arus sumber setelah kompensasi menjadi sinusoidal dan sefasa dengan tegangan, sedangkan arus beban tetap nonlinier. Hasil ini membuktikan bahwa SAPF berbasis metode kesetaraan daya efektif, adaptif, dan valid secara eksperimental untuk peningkatan kualitas daya pada sistem tegangan rendah.
OPTIMASI PENGENDALIAN LAJU DEFORMASI PADA UJI KONSOLIDASI TANAH MENGGUNAKAN DEEP REINFORCEMENT LEARNING
Pengujian konsolidasi Constant Rate of Deformation (CRD) mampu memperpendek durasi pengujian dari sekitar 20 hari menjadi 48 jam dibandingkan metode pembebanan inkremental konvensional, namun validitas hasilnya sangat bergantung pada kemampuan menjaga rasio tekanan pori berlebih (excess pore pressure ratio, Ru) dalam rentang 3 ? 15% sebagaimana ditetapkan dalam ASTM D4186. Pendekatan laju regangan statis menghadapi trilema fundamental: tidak terdapat satu laju tunggal yang secara simultan mampu meminimalkan durasi pengujian, memenuhi batasan Ru, dan menghasilkan estimasi indeks kompresi (Cc) yang akurat, karena laju optimal bergantung pada sifat tanah yang tidak diketahui sebelumnya dan berevolusi selama proses konsolidasi. Penelitian ini memformulasikan pengujian CRD sebagai Constrained Markov Decision Process dan mengembangkan strategi kendali adaptif berbasis deep reinforcement learning dengan ruang aksi kontinu. Tiga algoritma actor–critic, yaitu Soft Actor-Critic (SAC), Twin Delayed Deep Deterministic Policy Gradient (TD3), dan Proximal Policy Optimization (PPO), dilatih untuk menyesuaikan laju regangan secara dinamis berdasarkan observasi sensor waktu nyata tanpa memerlukan pengetahuan eksplisit mengenai parameter tanah. Proses pelatihan dilakukan menggunakan digital twin berketelitian tinggi yang didasarkan pada teori konsolidasi regangan hingga, dengan domain randomization yang mencakup variasi sifat tanah, derau sensor, dan keterlambatan aktuator guna menjamin kekokohan kebijakan. Fungsi reward dirancang menggunakan single-sided logarithmic barrier dengan pusat pada target #! yang dipilih berdasarkan analisis pengujian laju statis, sehingga durasi pengujian diminimalkan secara implisit sekaligus penegakan batasan dilakukan secara eksplisit. Hasil evaluasi pada kondisi nominal (tanah lempung Bandung) menunjukkan bahwa PPO memberikan kinerja terbaik dengan durasi pengujian 31,1 jam (reduksi 29.3% dibandingkan laju statis 44,4 jam), Ru maksimal = 0,353 yang berada di bawah ambang 0,50, serta galat estimasi CC sebesar 0,1%. Evaluasi kekokohan menunjukkan bahwa SAC mempertahankan tingkat keberhasilan 73,3% di bawah ketidakpastian parameter, sementara PPO mencapai 85% dengan stabilitas tertinggi. Formulasi aksi kontinu berhasil mengeliminasi discretization loss dan menghasilkan perilaku adaptif yang cerdas.
PERANCANGAN STRATEGI PENGELOLAAN PELANGGAN CV BAROKAH MARDHIYYA UNTUK MENINGKATKAN PENJUALAN PRODUK MINYAK BALUR ZUMOIL
Zumoil merupakan perusahaan yang bergerak di industri kosmetik dan kecantikan dengan fokus pada kategori perawatan bayi dan anak. Perusahaan ini lahir dari CV Barokah Mardhiyya, yang didirikan pada tahun 2021 dengan model bisnis berbasis B2B (Business-to-Business). Didorong oleh aspirasi pemilik untuk menghadirkan produk herbal yang aman bagi anak, Zumoil diluncurkan pada 6 November 2023 yaitu Minyak Balur yang dikembangkan melalui riset formulasi herbal menggunakan teknologi nano. Namun, sejak peluncurannya, performa penjualan Zumoil tidak mencapai target yang telah ditetapkan dan cenderung mengalami stagnasi. Permasalahan ini diperburuk dengan tingkat churn pelanggan yang sangat tinggi, mencapai rata-rata 80%, menunjukkan bahwa pelanggan tidak membeli kembali produk Zumoil. Menghadapi situasi ini, Zumoil memerlukan strategi pengelolaan pelanggan yang komprehensif dan terukur untuk membangun hubungan jangka panjang yang kuat dengan pelanggannya. Penelitian ini ditujukan ntuk merancang strategi pengelolaan pelanggan usulan yang diawali dengan mengidentifikasi strategi pengelolaan pelanggan yang ada saat ini lalu dilanjut dengan audit strategi pengelolaan pelanggan menggunakan kerangka CRM Payne (2005). Kemudian dari hasil tersebut dilakukan evaluasi strategi pengelolaan pelanggan untuk meninjau gap antara kondisi ideal dan yang ada saat ini. Analisis RFM (Recency, Frequency, Monetary) digunakan sebagai dasar segmentasi untuk rancangan usulan strategi pengelolaan pelanggan yang diikuti oleh hasil evaluasi strategi pengelolaan pelanggan. Zumoil berada pada tingkat maturitas “membangun data repositori”, sehingga pemanfaatan data pelanggan perlu ditingkatkan dengan fokus pada retensi. Selain itu, hasil audit strategi pengelolaan pelanggan menunjukkan bahwa Zumoil perlu memperbaiki aspek Kepemimpinan Strategis yang salah satu komponennya berupa strategi pelanggan. Dengan demikian, Zumoil membutuhkan pengembangan strategi yang lebih jelas dan jangka panjang. Oleh karena itu, dibuat rancangan usulan strategi pengelolaan pelanggan pada pelanggan bernilai berdasarkan segmen RFM terpilih yaitu “Can’t Lose Them”, “Loyal Customers”, dan “Champions” berupa strategi retensi seperti program loyalty, education untuk dapat meningkatkan loyalitas dan profitabilitas Zumoil.
PENERAPAN MEASUREMENT SYSTEM ANALYSIS ATRIBUT UNTUK MENURUNKAN TINGKAT KOMPLAIN CUSTOMER AKIBAT CACAT ATRIBUT DI CV ARJUNA PLASTIK
CV Arjuna Plastik merupakan perusahaan manufaktur berbasis make-to-order yang mengalami peningkatan komplain pelanggan akibat cacat atribut pada produk, khususnya tutup Pot A2 yang digunakan untuk kebutuhan sektor farmasi. Cacat yang lolos inspeksi ditemukan berasal dari ketidakkonsistenan kinerja inspeksi visual operator, sehingga diperlukan evaluasi terhadap sistem inspeksi yang dilakukan. Penelitian ini menerapkan Measurement System Analysis (MSA) atribut dengan pendekatan DMAIC untuk mengevaluasi tingkat akurasi dan konsistensi checker dalam melakukan inspeksi produk. Pengujian dilakukan menggunakan 30 sampel dengan tiga operator dan dua kali pengulangan untuk menghitung nilai effectiveness dan nilai Kappa. Hasil awal menunjukkan adanya checker yang belum memenuhi kriteria akurasi > 90% dan konsistensi >0,75 sehingga sistem inspeksi belum reliabel. Berdasarkan temuan tersebut, dirancang lima usulan perbaikan meliputi pelatihan checker, sosialisasi MSA atribut, pelaksanaan MSA ulang, penyusunan visual reference card, serta monitoring berkala. Setelah implementasi, hasil evaluasi ulang MSA atribut menunjukkan peningkatan nilai effectiveness dan nilai Kappa pada seluruh checker hingga mencapai kategori dapat diterima, serta terjadi penurunan jumlah komplain pelanggan untuk produk tutup Pot A2. Dengan demikian, penerapan MSA atribut dapat membuktikan bahwa terjadi peningkatan kapabilitas inspeksi visual, perbaikan kualitas proses inspeksi, dan adanya penurunan komplain pelanggan.
ANALISIS KONSENTRASI PM2.5 DI DALAM RUANG KELAS SEKOLAH DASAR DI JAKARTA TIMUR
Studi ini menganalisis konsentrasi PM?.? di dalam ruang pada dua sekolah dasar di Jakarta Timur dengan strategi ventilasi yang berbeda, yaitu ventilasi alami dan ventilasi mekanis. Pengukuran PM?.?, suhu, kelembapan, tingkat hunian, dan rasio bukaan ventilasi dilakukan secara kontinu untuk mengkarakterisasi pola konsentrasi serta mengidentifikasi faktor-faktor dominan yang memengaruhinya. Ruang kelas dengan ventilasi alami di Sekolah A menunjukkan konsentrasi PM?.? yang lebih tinggi dan lebih bervariasi, dengan nilai rerata per jam umumnya berkisar antara 30–50 µg/m³ serta puncak yang jelas pada pagi dan tengah hari selama jam sekolah. Konsentrasi pada koridor semi-terbuka menunjukkan pola temporal yang serupa, yang mengindikasikan pengaruh kuat dari sumber luar ruang. Sebaliknya, ruang kelas dengan ventilasi mekanis di Sekolah B mempertahankan konsentrasi PM?.? yang lebih rendah dan lebih stabil, umumnya berada pada kisaran 12–24 µg/m³ sepanjang hari. Analisis korelasi Spearman dan regresi linear berganda menunjukkan adanya perbedaan faktor pengendali PM?.? pada masingmasing rezim ventilasi. Di Sekolah A, konsentrasi PM?.? terutama dipengaruhi oleh rasio bukaan ventilasi dan kedekatan dengan sumber emisi luar ruang, sedangkan di Sekolah B, rasio hunian muncul sebagai prediktor utama. Rasio dalam–luar (I/O) di Sekolah A lebih tinggi dan lebih bervariasi dibandingkan Sekolah B, yang menunjukkan infiltrasi PM?.? dari luar ruang yang lebih besar pada kondisi ventilasi alami. Temuan ini menunjukkan bahwa strategi ventilasi sangat memengaruhi paparan PM?.? di dalam ruang pada sekolah dasar di kawasan perkotaan.
MICROPLASTIC REMOVAL FROM WATER USING FERROFLUID AND MAGNETS
Meningkatnya keberadaan mikroplastik di lingkungan perairan telah menjadi perhatian global yang kritis karena persistensi, potensi toksisitas, dan dampak ekologisnya yang luas. Proses pengolahan air konvensional seringkali gagal menghilangkan mikroplastik secara efektif, terutama yang berukuran di bawah 5 mm. Penelitian ini mengeksplorasi metode yang inovatif dan terukur untuk menghilangkan mikroplastik menggunakan ferofluida, suspensi koloid nanopartikel magnetik yang dikombinasikan dengan medan magnet eksternal. Dengan memanfaatkan interaksi hidrofobik antara mikroplastik dan ferofluida berbasis magnetit, partikel mikroplastik dapat diikat dan diekstraksi secara selektif dari air. Eksperimen skala laboratorium dilakukan untuk mengevaluasi efisiensi penghilangan dalam berbagai konsentrasi dan dinamika fluida. Hasilnya menunjukkan bahwa ferofluida, terutama yang disintesis menggunakan magnetit (Fe?O?) dan distabilkan dengan surfaktan yang tepat, dapat mencapai efisiensi penangkapan mikroplastik yang tinggi di berbagai rentang ukuran. Studi ini menyoroti potensi pemisahan berbantuan magnet sebagai metode hemat energi, dapat diatur, dan non-invasif untuk meningkatkan remediasi mikroplastik dalam sistem pengolahan air. Penelitian lebih lanjut mengenai daur ulang ferofluida dan keamanan lingkungan direkomendasikan untuk mendukung penerapan praktis.
REPRESENTASI VISUAL FENOMENA SOSOK PEREMPUAN SEBAGAI TOKOH HANTU DALAM FILM HOROR INDONESIA
Film horor merupakan salah satu genre yang memiliki posisi penting dalam perkembangan sinema Indonesia, baik sebagai hiburan populer maupun sebagai medium ekspresi budaya. Sejak 1940-an, representasi sosok hantu mengalami transformasi estetika dan naratif yang signifikan, tidak hanya pada alur cerita, tetapi juga pada desain visual yang meliputi: tata artistik, kostum, dan kompleksitas karakter. Dalam konteks budaya Indonesia, hantu dipahami bukan sekadar figur menakutkan, tetapi sebagai simbol yang memuat makna sosial, religius, dan moral. Fenomena ini paling menonjol pada representasi hantu perempuan yang secara konsisten mendominasi film horor Indonesia. Dominasi tersebut menunjukkan bahwa tubuh perempuan diposisikan sebagai medium visual yang efektif untuk membangun ketakutan sekaligus menyampaikan pesan ideologis tertentu. Visualisasi hantu perempuan umumnya ditampilkan sebagai figur monstrous feminine: perempuan berambut panjang, berpakaian putih, bertubuh utuh, dan bergerak layaknya manusia biasa, tetapi direpresentasikan sebagai sosok mengejutkan, mengerikan, dan hina. Narasi pemerkosaan, pelecehan, dan ketidakadilan gender kerap menjadi latar yang melahirkan motif balas dendam, sehingga hantu perempuan identik dengan kekerasan retributif. Perkembangan genre menunjukkan dinamika karakter tersebut. Pada 1970-an, hantu digambarkan sebagai pengganggu bagi individu tertentu; pada 1980-an, sebagai sosok pendendam dengan tindakan pembunuhan selektif yang sering diimbangi dengan figur ustaz sebagai penakluk; dan pada 2000-an, berkembang menjadi monster yang menyerang siapa pun, termasuk tokoh religius, yaitu ustaz, sebagaimana dalam Pengabdi Setan (2017). Pergeseran ini menandai transisi horor Indonesia dari nuansa religius-populer menjadi kekerasan fisik dan psikologis yang lebih dominan, sekaligus menunjukkan pelepasan unsur moralitas ketimuran. Pada saat yang sama, pelabelan perempuan dengan atribut mistisisme dan bahaya menguatkan hegemoni patriarki dalam konstruksi budaya. Penelitian ini berangkat dari fenomena representasi hantu perempuan yang secara konsisten muncul lintas dekade dan berfungsi sebagai artikulasi ketegangan sosial—mulai dari ketidakadilan gender, residu kepercayaan lokal, dinamika spiritualitas, hingga perubahan nilai dalam keluarga modern. Meskipun kajian tentang horor Indonesia telah banyak membahas aspek naratif dan ideologi, penelitian mengenai desain visual hantu perempuan—terutama analisis tanda visual, atribut busana, ekspresi wajah, warna, dan estetika tubuh—masih terbatas. Hal ini menegaskan adanya research gap dalam kajian sinema horor Indonesia, yaitu kurangnya pendalaman analisis visual-semiotis yang komprehensif terhadap konstruksi perempuan sebagai figur hantu. Penelitian ini bertujuan untuk: mengidentifikasi elemen-elemen visual yang membentuk representasi hantu perempuan dalam film horor Indonesia, dengan menganalisis tingkatan dan relasi tanda yang diterapkan pada ketiga sosok hantu perempuan, dengan menganalisis makna denotatif, konotatif, dan ideologis dari tanda-tanda visual tersebut; menganalisis pesan dan makna dari tingkatan dan relasi tanda ketiga sosok hantu dari ketiga film horor serta mengungkap nilai kultural yang tercermin dalam visualisasi hantu perempuan sebagai representasi dinamika sosial, budaya, dan religius. Pendekatan yang digunakan adalah studi budaya yang dipopulerkan Stuart Hall dengan metode interdisipliner, menggabungkan semiotika visual Roland Barthes sebagai teori utama, teori retorika visual, serta teori film yang menekankan analisis tentang mise-en-scène meliputi; framing, pencahayaan, kostum, dan gestur. Tiga film lintas dekade dijadikan objek kajian, yaitu Si Manis Jembatan Ancol (1973), Ratu Buaya Putih (1980-an), dan Pengabdi Setan (2017), yang masing-masing merepresentasikan dan mewakili karakter sosok hantu secara umum yang ditampilkan pada film horor Indonesia, serta tipologi hantu perempuan yang berbeda: korban ketidakadilan sosial, ratu mistik sakral, dan ibu yang kehilangan kesucian spiritual.
PENGEMBANGAN MODEL PREDIKSI KUALITAS CPO BERBASIS SPEKTROSKOPI RAMAN DENGAN VARIABILITAS DATA MULTI-INSTRUMEN DAN MULTIBATCH
Minyak kelapa sawit merupakan komoditas strategis utama di Indonesia dengan volume produksi dan ekspor yang menempati posisi teratas di dunia. Untuk menjaga daya saing di pasar global, kualitas minyak sawit terutama minyak sawit mentah (CPO) perlu dikendalikan secara akurat melalui parameter seperti asam lemak bebas (FFA) dan kadar air. Metode spektroskopi Raman yang dikombinasikan dengan machine learning menawarkan analisis yang cepat dan non-destruktif untuk penentuan kualitas CPO. Namun dalam pengujian kualitas dapat menggunakan instrumen spektroskopi Raman dengan jenis yang berbeda atau variasi batch produksi CPO menyebabkan adanya variabilitas data spektrum Raman. Sehingga diperlukan pengembangan model prediksi kualitas CPO yang mampu menangani variabilitas data multi-instrumen dan multi-batch. Data spektrum Raman diperoleh menggunakan dua jenis instrumen, yaitu HORIBA MacroRAM™ dan YIXIST Portable Raman Spectrometer. Sampel CPO dikelompokkan ke dalam tiga batch utama yang merepresentasikan variasi sumber produksi serta perbedaan konfigurasi pengukuran instrumen. Tahapan penelitian terdiri dari preparasi, preprocessing¸ pembagian data sesuai variabilitas data multiinstrumen dan multi-batch, uji korelasi untuk spektrum Raman multi-instrumen, pengembangan model prediksi dengan menggunakan berbagai macam algoritma machine learning, serta evaluasi model menggunakan MAE untuk regresi dan skor F1 untuk klasifikasi. Hasil uji korelasi spektrum Raman multi-instrumen di rentang 0,72 – 0,77 menunjukkan adanya tingkat kemiripan pola spektral yang cukup kuat, meskipun belum mencerminkan kesesuaian yang sangat tinggi antara spektrum yang dihasilkan oleh kedua instrumen. Analisis model regresi menunjukkan bahwa algoritma decision tree merupakan algoritma terbaik sebagai dalam memprediksi FFA dan kadar air baik pada skenario multi-instrumen (rentang kesalahan rata-rata prediksi sebesar 0% sampai 22,2% untuk FFA dan 0% sampai 1,3% untuk kadar air) dan multi-batch (rentang kesalahan rata-rata prediksi sebesar 1,05% hingga 2,72 untuk FFA dan 1,01% hingga 1,1%untuk kadar air). Analisis model klasifikasi menunjukkan bahwa algoritma random forest merupakan algoritma terbaik sebagai dalam memprediksi FFA dan kadar air baik pada skenario multi-instrumen maupun multi-batch dengan skor F1 sama dengan 1 dan akurasi mencapai 100%. Selain itu, hasil penggunaan dataset gabungan baik sebagai data latih maupun data prediksi pada variabilitas multi-instrumen atau multi-batch terbukti mampu meningkatkan kestabilan dan kemampuan generalisasi model.
MODIFIKASI KARAKTERISTIK FARMASETIKA METOKLOPRAMID MELALUI PEMBENTUKAN GARAM DENGAN ASAM FUMARAT
Metoklopramid (MCP) merupakan obat antiemetik yang memiliki keterbatasan karakteristik farmasetik seperti kelarutan, laju disolusi, dan sifat mekanik yang buruk. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pembentukan kristal multikomponen pada MCP dan MCP-HCl dengan koformer asam oksalat dan galat dapat memodifikasi karakteristik farmasetik MCP. Oleh karena itu, rekayasa kristal melalui pembentukan kristal multikomponen merupakan strategi efektif untuk memodifikasi karakteristik farmasetik. Penelitian ini bertujuan untuk memodifikasi karakteristik farmasetik MCP melalui pembentukan garam dengan asam fumarat (FUM). MCP memiliki gugus amina tersier yang mudah terprotonasi, sedangkan FUM memiliki dua gugus karboksilat yang mendukung terjadinya transfer proton. Screening berbagai rasio stoikiometri, pelarut, dan metode dilakukan untuk memperoleh kondisi optimum. Kristal MCP-FUM berhasil diperoleh melalui metode slurry dengan pelarut metanol dalam rasio stoikiometri MCP:FUM 2:1. Analisis PXRD menunjukkan pola difraksi baru pada 2?= 8,83????, 17,81????, 20,22????, 23,36°, 25,53° dan 26,77° yang mengonfirmasi terbentuknya fase kristalin baru. Analisis struktur kristal menggunakan SCXRD menunjukkan bahwa MCP-FUM membentuk kristal garam hidrat dalam sistem monoklinik dengan space group P2?. Karakterisasi garam MCP-FUM menggunakan DSC, TGA, FT-IR, dan SEM menunjukkan perubahan profil termal, perubahan spektra IR, dan perubahan morfologi kristal. Pembentukan garam MCP-FUM dapat meningkatkan kelarutan hingga 117 kali dan laju disolusi intrinsik hingga 57 kali dalam akuades dibandingkan dengan MCP, serta memperbaiki sifat tabletabilitas yang ditunjukkan dengan peningkatan tensile strength.
USULAN DESAIN PERFORMANCE MANAGEMENT SYSTEM UNTUK PROSES PENGADAAN PRA-KONTRAK DI PERUSAHAAN KONSTRUKSI
Dengan kontribusi sekitar 9,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2023–2024, sektor konstruksi merupakan salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Dalam operasional kontraktor, precontract procurement mencakup perencanaan kebutuhan, penyusunan spesifikasi teknis dan Bill of Quantities (BOQ), evaluasi vendor, negosiasi, serta finalisasi kontrak. Tahap ini bersifat strategis karena menentukan kesiapan proyek. Namun, sebagai perusahaan konstruksi milik negara, PT XY masih menghadapi permasalahan berupa lemahnya pengendalian kinerja, keterbatasan integrasi lintas fungsi, ketidaksiapan proses yang tidak merata, serta ketergantungan pada lagging indicators. Kondisi ini menunjukkan belum adanya mekanisme yang terstruktur untuk menegakkan compliance, accountability, dan early performance control, sehingga permasalahan kinerja baru teridentifikasi setelah berdampak pada procurement cycle time dan kesiapan proyek. Oleh karena itu, diperlukan Performance Management System (PMS) yang terstruktur dan berbasis pengetahuan. Penelitian ini menggunakan paradigma Knowledge-Based Performance Management System (KBPMS) untuk merancang PMS terintegrasi pada proses pre-contract procurement di PT XY. Analisis lingkungan internal dan eksternal dilakukan menggunakan PESTEL, SWOT–TOWS, dan Porter’s Five Forces. Selanjutnya, survei kuantitatif terhadap 55 responden dari Divisi Supply Chain, Divisi Operasi, dan tim proyek dilakukan untuk menilai tingkat kepentingan Key Performance Indicators (KPI) dengan metode Relative Importance Index (RII), yang kemudian diperingkat menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Untuk melengkapi analisis kuantitatif, dilakukan wawancara mendalam dengan tiga pemangku kepentingan kunci dari tiga divisi. Wawancara ini digunakan untuk memvalidasi KPI terpilih, mengidentifikasi permasalahan operasional, serta menerjemahkan kesenjangan kinerja ke dalam kebutuhan desain PMS dan proses digital pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 29 KPI yang dikelompokkan ke dalam tiga perspektif—Business Results, Internal Processes, dan Resource Capabilities— belum secara konsisten memenuhi target kinerja. Hal ini menegaskan perlunya sistem pemantauan yang lebih proaktif dan terintegrasi untuk meningkatkan kepatuhan, efektivitas proses, kualitas data, dan kapabilitas organisasi. Penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya berfokus pada proses precontract internal di satu perusahaan BUMN dan keterbatasan lingkup analisis kualitatif. Meskipun demikian, penelitian ini mengusulkan rencana implementasi PMS selama sembilan bulan yang mencakup tahap evaluasi, perencanaan, implementasi, dan penilaian, yang meliputi perancangan ulang alur kerja eProcurement, pengembangan dashboard kinerja, pelatihan pengguna, pilot testing, serta penguatan fitur digital untuk meningkatkan pengelolaan kinerja pre-contract procurement.
KAJIAN KOMPUTASI STRUKTUR MAGNETIK MATERIAL TOPOLOGICAL SEMIMETAL DAN ANOMALOUS HALL CONDUCTIVITY GDPTBI
Anomalous Hall conductivity (AHC) umumnya diasosiasikan dengan sistem feromagnetik yang memiliki magnetisasi remanen besar sehingga efek Hall dapat muncul walaupun tanpa pemberian medan magnetik eksternal. Namun, pemahaman AHC berbasis kurvatur Berry pada material topological semimetal (TSM) menunjukkan bahwa sistem antiferomagnetik (AFM) juga dapat memiliki nilai AHC yang signifikan walaupun hampir tidak memiliki magnetisasi remanen. Fenomena ini diamati pada material TSM AFM non-collinear Mn3Sn dan TSM AFM collinear GdPtBi. Secara khusus, keberadaan AHC pada material Mn3Sn telah diamati secara eksperimen dengan nilai yang berkorelasi terhadap perubahan struktur magnetiknya. Namun, berbagai studi terkait struktur magnetik Mn3Sn masih menunjukkan hasil yang beragam dalam hal kestabilan konfigurasi magnetik, sehingga diperlukan kajian sistematik untuk memperoleh validasi terhadap konfigurasi yang telah dilaporkan. Di sisi lain, fenomena perubahan AHC pada variasi struktur magnetik GdPtBi belum pernah dilaporkan. Hal tersebut menjadi dasar motivasi dalam penelitian ini untuk mempelajari struktur magnetik Mn3Sn dan GdPtBi serta kemungkinan kontrol AHC pada GdPtBi melalui variasi struktur magnetik AFM. Dalam studi ini, struktur magnetik dipelajari menggunakan pendekatan nilai medan magnetik internal yang dibandingkan dengan hasil eksperimen muon spin relaxation (????SR) dari literatur. Nilai medan magnetik internal dihitung secara numerik berbasis pendekatan medan magnetik dipolar pada posisi henti muon yang diestimasi sebelumnya dengan density functional theory (DFT). Pada Mn3Sn, posisi henti muon diperoleh pada posisi di antara dua konfigurasi segitiga atom Sn. Pada posisi tersebut medan magnetik internal dihitung dalam dua model struktur inverse triangular yaitu pada struktur dengan space group magnetik Pc’mm’ (AFM-1) dan Pcm’m’ (AFM-2) serta masing-masing variasinya terhadap sudut luar bidang (????) untuk menggambarkan struktur commensurate (???? = 90? ) dan incommensurate (???? ? 90? ). Hasil perhitungan medan magnetik internal kedua struktur membentuk pola sinusoidal dengan rentang ekstremum 0,46 T untuk struktur AFM-1 dan 2,7 T untuk AFM-2. Hasil tersebut akan dibandingkan dengan hasil eksperimen dari sampel polikristal. Pada material GdPtBi, penentuan posisi henti muon menunjukkan keberadaan dua kemungkinan posisi dengan konfigurasi oktahedral pada subkisi kosong dari kisi Bravais FCC. Dari kedua kemungkinan posisi, salah satunya memiliki medan magnetik internal yang sesuai dengan literatur. Kecocokan tersebut berada pada konfigurasi AFM dengan momen magnetik Gd berorientasi dengan sudut bidang (????) 30? . Hasil ini konsisten dengan data difraksi neutron yang telah dilaporkan, sehingga memvalidasi AFM dengan ???? = 30? sebagai keadaan dasar GdPtBi. Selanjutnya, efek perubahan struktur magnetik GdPtBi terhadap nilai AHC dipelajari menggunakan analisis struktur pita elektronik berbasis DFT dan formula Kubo berbasis interpolasi Wannier. Analisis struktur pita memperlihatkan adanya persilangan tiga pita di sekitar energi Fermi yang mengindikasikan material ini sebagai triple-point semimetal (TPSM). Variasi orientasi momen AFM dari ???? = 0 ? , 15? , 30? memodifikasi kekuatan spin–orbit coupling (SOC) yang menggeser energi titik triple secara signifikan dari keadaan tak terhuni menuju ke keadaan terhuni. Perhitungan AHC dengan formula Kubo menunjukkan bahwa hal ini berimplikasi langsung pada perubahan transpor AHC dengan perbedaan nilai mencapai 75,06 ??¹cm?¹. Hasil tersebut menunjukkan struktur pita berperan langsung terhadap AHC sehingga pengaturan struktur magnetik dapat digunakan sebagai mekanisme untuk meningkatkan performa AHC.