📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPERANCANGAN SISTEM PROTEKSI PETIR EKSTERNAL FASILITAS INDUSTRI MINYAK DAN GAS PADA KILANG DUMAI, RIAU
Sistem proteksi petir fasilitas migas di Indonesia umumnya mengadopsi standar internasional seperti NFPA 780 dan IEC 62305. Namun, insiden kebakaran tangki tetap terjadi karena standar subtropis tersebut belum efektif mengantisipasi karakteristik petir tropis yang memiliki arus puncak dan kecuraman jauh lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan merancang sistem proteksi petir eksternal yang adekuat, menyimulasikan radius perlindungan berbasis parameter lokal, serta menyusun rekomendasi desain sebagai dasar standar nasional. Metodologi yang digunakan adalah kuantitatif-simulatif dengan menerapkan metode bola gelinding 3D menggunakan perangkat lunak Rhinoceros 3D pada 22 tangki di Kilang Dumai, Riau. Evaluasi dilakukan pada skenario Lightning Protection Level (LPL) III (10 kA) dan LPL IV (18 kA) yang dikalibrasi dengan kurva petir tropis Indonesia. Hasil menunjukkan konfigurasi terpilih secara optimal berhasil melindungi seluruh tangki melalui kombinasi FSM dan EMT yang memenuhi kriteria probabilitas perlindungan arus puncak masing-masing sebesar 95% dan 85% untuk kedua tingkat proteksi. Analisis tekno-ekonomis menunjukkan LPL IV memerlukan investasi Rp3.388.419.000, lebih efisien Rp336.719.000 dibanding LPL III yang cenderung overdesign. Parameter ini divalidasi oleh data sambaran aktual Riau (11,8 kA–28,83 kA). Sebagai kontribusi regulatif, seluruh parameter teknis ini diformulasikan menjadi Draft Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) tentang Sistem Proteksi Petir pada Tangki Penyimpanan Minyak dan Gas guna mewujudkan kemandirian standardisasi industri vital nasional.
KUANTIFIKASI PERTUMBUHAN DAN HASIL BIOMASSA TANAMAN BAYAM (AMARANTHUS VIRIDIS) SEBAGAI RESPONS TERHADAP APLIKASI BIOSTIMULAN EKSTRAK DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) SECARA SOIL APPLICATION
Penurunan produktivitas tanaman hortikultura, khususnya bayam hijau (Amaranthus viridis), menjadi tantangan serius yang memerlukan solusi budidaya lebih efektif dan ramah lingkungan. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Hortikultura (2024), terjadi penurunan produktivitas hortikultura nasional sebesar 4,34%, yaitu dari 15.270.427 ton pada tahun 2022 menjadi 14.607.750 ton pada tahun 2023. Penurunan ini juga diperparah dengan berkurangnya luas panen bayam di Indonesia dari 47.049 ha menjadi 46.810 ha dalam periode yang sama. Salah satu upaya untuk mengatasi hal ini adalah penggunaan biostimulan alami dari ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) guna menunjang pertumbuhan tanaman tanpa ketergantungan pada pupuk kimia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh aplikasi ekstrak daun kelor melalui tanah (soil application) dengan konsentrasi berbeda terhadap pertumbuhan, kandungan pigmen (klorofil dan karotenoid), serta hasil biomassa tanaman bayam, sekaligus menentukan konsentrasi optimalnya. Penelitian dilaksanakan di Screenhouse Laboratorium Teknik IA, SITH ITB Jatinangor. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal yang terdiri dari empat tingkat konsentrasi: B0 (kontrol), B1 (1:10), B2 (1:20), dan B3 (1:30), dengan lima kali ulangan. Data hasil pengamatan dianalisis secara statistik menggunakan uji One-Way ANOVA pada taraf kepercayaan 95%. Jika terdapat pengaruh nyata, analisis dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun kelor berpengaruh signifikan (p < 0,05) terhadap pertumbuhan vegetatif, kandungan pigmen, dan biomassa terutama pada fase vegetatif lanjut. Pada pengamatan 35 HST, tinggi tanaman dengan perlakuan biostimulan mencapai 36,33–37,00 cm, secara nyata lebih tinggi dibandingkan kontrol yang hanya 31,63 cm. Selain itu, jumlah daun tertinggi mencapai 18 helai dan diameter batang mencapai 11,18 mm pada perlakuan optimal. Dari sisi hasil, biomassa v segar total tertinggi diperoleh pada perlakuan B2 (1:20) sebesar 51,93 g, meningkat signifikan dibanding kontrol yang sebesar 36,89 g. Berdasarkan hasil analisis statistik, konsentrasi B2 (1:20) diidentifikasi sebagai perlakuan paling optimal karena secara konsisten memberikan pengaruh positif terbaik terhadap seluruh parameter pertumbuhan dan hasil biomassa. Penggunaan biostimulan ini terbukti efektif sebagai inovasi teknologi untuk meningkatkan produktivitas tanaman bayam secara berkelanjutan
PENERAPAN MANAJEMEN PROYEK PADA PROYEK PEMASANGAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN (EBT) OLEH SOCIETY OF RENEWABLE ENERGY (SRE) INDONESIA
Peningkatan implementasi proyek pembangkit energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia mendorong perlunya pengelolaan proyek yang terstruktur agar pelaksanaan proyek dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Society of Renewable Energy (SRE) Indonesia sebagai organisasi yang aktif melaksanakan proyek pemasangan pembangkit EBT di berbagai lokasi masih menghadapi kendala dalam penjadwalan, penyusunan anggaran, pengalokasian sumber daya, serta pengendalian proyek yang belum terintegrasi. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan keterlambatan pelaksanaan, ketidakefisienan penggunaan sumber daya, serta kesulitan dalam mengevaluasi kinerja proyek. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan manajemen proyek pada proyek pemasangan EBT oleh SRE Indonesia. Tahapan penelitian diawali dengan mengidentifikasi peluang dan perumusan kebutuhan analisis dan sintesis, pembangkitan dan pemilihan solusi, evaluasi solusi terpilih, dan pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan dengan mempertimbangkan risiko dan dampak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan manajemen proyek mampu mengintegrasikan penyusunan jadwal, anggaran, alokasi sumber daya, serta proses monitoring dan controlling menggunakan Microsoft Project. Beban kerja aktual dianalisis berdasarkan jumlah hari pengerjaan ke lapangan. Kinerja durasi dan biaya aktual proyek juga dianalisis menggunakan grafik-grafik Earned Value Management. Penerapan strategi yang diusulkan berhasil mempercepat durasi survei dari 24 menjadi 9 hari dan durasi pemasangan dari 98 menjadi 85 hari, sehingga proyek selesai 11 hari lebih cepat dari jadwal. Selain itu, biaya aktual proyek sebesar Rp13,29 miliar lebih rendah dibandingkan anggaran sebesar Rp13,35 miliar. Selain meningkatkan efisiensi waktu dan biaya, penerapan manajemen proyek juga menghasilkan pembagian beban kerja yang lebih merata bagi seluruh Tim Engineer. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan manajemen proyek dapat meningkatkan efisiensi pelaksanaan proyek pemasangan EBT dan berpotensi menjadi acuan bagi proyek sejenis di masa mendatang.
UJI KETAKINTEGRALAN SISTEM PERSAMAAN DIFERENSIAL NON-LINEAR DENGAN PENDEKATAN GELOMBANG BERJALAN
Pengujian keterintegralan suatu sistem pada umumnya memerlukan identifikasi struktur khusus yang terkait dengan keterintegralannya, seperti pasangan Lax, struktur bi- Hamilton, atau kuantitas konservatif, yang mana merupakan proses yang panjang dan sulit. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji ketidakterintegralan suatu sistem melalui pendekatan yang lebih sederhana dibandingkan dengan uji keterintegralan. Uji dilakukan dengan memandang sistem sebagai sistem dinamik yang dapat diamati evolusinya terhadap waktu. Untuk melakukan hal tersebut, sistem akan ditransformasi dengan menggunakan ansatz gelombang berjalan untuk membentuk moving coordinate frame dan menghasilkan kondisi awal untuk mengintegrasikan persamaan diferensial secara numerik terhadap spasial menggunakan Fast Fourier Transform (FFT) dan Inverse Fast Fourier Transform (IFFT), dan terhadap waktu menggunakan Runge-Kutta Orde 4. Setelah itu, dilakukan simulasi satu gelombang dan simulasi interaksi dua gelombang dari formula yang sama untuk mengamati perilaku sistem setelah tumbukan. Sistem terintegralkan umumnya menunjukkan perilaku khusus tertentu. Oleh karena itu, apabila hasil simulasi menunjukkan perilaku yang menyimpang dari karakteristik tersebut, maka hal tersebut dapat dijadikan indikasi bahwa sistem yang ditinjau tidak terintegralkan.
VALUASI OPSI RIIL ATAS PROYEK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA TERAPUNG DAN SISTEM PENYIMPANAN ENERGI BATERAI: STUDI KASUS PADA VOID PASCATAMBANG DI INDONESIA
Keputusan investasi pada sistem fotovoltaik terapung yang terintegrasi dengan sistem penyimpanan energi baterai (FPV-BESS) di void pascatambang memiliki ketidakpastian majemuk, mencakup variabilitas hasil energi, perkembangan tarif listrik, dan arah perkembangan biaya teknologi. Analisis arus kas terdiskonto (DCF) yang bersifat deterministik tidak dapat menggambarkan nilai strategis dari fleksibilitas manajerial dalam investasi tersebut. Studi ini mengembangkan kerangka penilaian opsi riil (ROV) untuk proyek FPV berkapasitas 9,9 MWp yang terintegrasi dengan BESS berkapasitas 36,4 MWh di void bekas tambang batu bara di Kalimantan Utara, Indonesia. Simulasi Monte Carlo dengan 10.000 percobaan digunakan untuk mendapatkan distribusi nilai proyek dan mengkalibrasi volatilitas (?), menghasilkan nilai ? sebesar 11,05% untuk penilaian latis binomial. Dua opsi manajerial dikuantifikasi: opsi gaya Amerika untuk menunda investasi, yang dinilai sebesar USD 2,29 juta, dan opsi gaya Eropa untuk ekspansi kapasitas menjadi 20 MWp pada tahun ke-6, yang dinilai sebesar USD 0,79 juta. Nilai Sekarang Bersih yang Diperluas (ENPV) yang dihasilkan sebesar USD 3,08 juta melampaui NPV kasus dasar deterministik yang bernilai nol, sehingga membuktikan bahwa fleksibilitas memberikan nilai ekonomis yang signifikan dibandingkan dengan DCF statis. Temuan ini menegaskan pentingnya memasukkan analisis opsi riil dalam penilaian investasi FPV-BESS, khususnya untuk proyek energi terbarukan berbasis kontrak dengan skema behind-the-meter di negara berkembang. Studi ini menyajikan penerapan baru Penilaian Opsi Riil (ROV) pada sistem fotovoltaik apung yang terintegrasi dengan sistem penyimpanan energi baterai (FPV-BESS) dan merupakan penerapan ROV pertama untuk studi FPV-BESS di Indonesia. Kebaruan ini menjawab kesenjangan dalam literatur yang ada, yang sebagian besar berfokus pada analisis investasi PV saja, FPV saja, atau penyimpanan energi secara independen. Studi ini mengintegrasikan keterkaitan antara FPV dan BESS di bawah ketidakpastian operasional dan pasar, sehingga memungkinkan fleksibilitas manajerial untuk dievaluasi dalam kerangka yang terpadu.
KUANTIFIKASI PERTUMBUHAN, HASIL BIOMASSA, DAN NERACA MASSA DAN ENERGI BUDIDAYA TANAMAN BAYAM MERAH (AMARANTHUS TRICOLOR L.) DENGAN MEDIA TANAM KOMPOS LIMBAH BAGLOG JAMUR TIRAM (PLEUROTUS OSTREATUS)
Tanaman bayam merah (Amaranthus tricolor L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki kandungan antioksidan, vitamin, dan mineral tinggi sehingga banyak dikonsumsi masyarakat. Namun, peningkatan produksi bayam merah masih menghadapi kendala berupa penurunan kualitas tanah akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan serta belum optimalnya pemanfaatan limbah organik pertanian. Salah satu limbah organik yang berpotensi dimanfaatkan sebagai media tanam alternatif adalah limbah baglog jamur tiram (Pleurotus ostreatus) karena masih mengandung bahan organik dan unsur hara yang dapat mendukung pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan kompos limbah baglog jamur tiram terhadap pertumbuhan, hasil biomassa, serta neraca massa dan energi pada budidaya bayam merah. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, yaitu P0 (tanah + NPK), P1 (100% kompos limbah baglog), P2 (40% kompos + 60% tanah), dan P3 (60% kompos + 40% tanah) dengan enam kali pengulangan. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, kandungan klorofil, biomassa basah dan kering, rasio akar-tajuk, serta neraca massa dan energi sistem budidaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P0 menghasilkan pertumbuhan dan biomassa tertinggi secara keseluruhan. Namun, pada perlakuan berbasis kompos limbah baglog jamur tiram, perlakuan P3 menunjukkan hasil terbaik dibandingkan perlakuan lainnya dengan tinggi tanaman sebesar 30,46 ± 1,74 cm, jumlah daun sebanyak 12,89 ± 0,76 helai, luas daun sebesar 62,96 ± 4,72 cm2, kandungan klorofil sebesar 35,21 ± 0,66 mg/L, biomassa basah sebesar 20,13 ± 2,30 g, dan biomassa kering sebesar 1,60 ± 0,28 g. Selain itu, perlakuan P3 juga menunjukkan efisiensi neraca massa dan energi yang lebih baik dibandingkan perlakuan kompos lainnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kombinasi kompos limbah baglog jamur tiram dan tanah mampu memberikan hasil pertumbuhan, biomassa, serta efisiensi sistem budidaya terbaik pada perlakuan berbasis kompos sehingga berpotensi digunakan sebagai media tanam alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
KARAKTERISASI MEKANIK PLASTIK KEMASAN VAKUM
Pemanfaatan material dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari pemahaman mengenai sifat mekanik material. Untuk mengetahui sifat tersebut, salah satu cara yang digunakan adalah dengan melakukan uji tarik, yaitu spesimen ditarik secara perlahan hingga mengalami deformasi dan akhirnya putus. Respons material saat diberikan tarikan dan sejauh mana material bertambah panjang dapat diketahui. Dalam aplikasi kemasan vakum pada industri makanan, plastik berfungsi untuk menahan beban mekanik selama proses pengemasan, penyimpanan, hingga distribusi. Material akan mengalami tarikan dan tekanan yang menyesuaikan dengan bentuk produk. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik mekanik dari tiga jenis plastik kemasan vakum. Eksperimen dilakukan dengan pengambilan data sebanyak satu kali untuk tiap plastik kemasan vakum dengan tebal 0,038 mm, 0,085 mm, dan 0,132 mm. Data uji tarik tersebut diolah, sehingga didapatkan kurva tegangan-regangan dan nilai dari sifat tarik, di antaranya tensile strength, ductility, yield strength, modulus elastisitas, dan modulus resilience. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa plastik kemasan vakum 1 dengan ketebalan 0,038 mm adalah plastik paling ulet dan kaku dengan nilai ductility dan modulus elastisitas berturut-turut sebesar 165% dan 1060,1 MPa. Plastik kemasan vakum 2 dengan ketebalan 0,085 mm memiliki nilai tensile strength tertinggi sebesar 31,177 MPa. Plastik kemasan vakum 3 dengan ketebalan 0,132 mm adalah plastik yang paling elastis dengan modulus elastisitas terendah sebesar 244,41 MPa. Masingmasing jenis plastik memiliki karakteristik mekanik yang berbeda, sehingga performa mekanik dan potensi aplikasinya dapat diketahui.
AKSELERASI PERTUMBUHAN BISNIS MELALUI PROGRAM ENTREPRENEUR HUB OLEH KEMENTERIAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH.
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia berkontribusi sekitar 61-63% terhadap PDB nasional dan menyerap 97% tenaga kerja, namun sebagian besar masih stagnan dan belum mampu berkembang menjadi entitas yang kompetitif. Para pengusaha UMKM umumnya beroperasi tanpa arah strategis, minim jaringan profesional, dan mengandalkan intuisi dalam pengambilan keputusan. Merespons hal ini, Kementerian UMKM meluncurkan program Entrepreneur Hub yang mengintegrasikan coaching dan mentoring, inkubasi bisnis, formalisasi legal, akses pembiayaan, perluasan pasar, dan integrasi ekosistem. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kualitatif berganda yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur pada bulan Januari dan Maret 2026 dan dianalisis menggunakan analisis tematik dengan didasarkan pada tiga kerangka teori, yaitu Teori Modal Manusia, Teori Pertumbuhan Perusahaan Penrose, dan Kerangka Ekosistem Kewirausahaan. Temuan menunjukkan bahwa coaching dan mentoring merupakan kekuatan utama yang mendorong pertumbuhan bisnis di keenam UMKM yang diteliti, menghasilkan transformasi arah pikir, membuka akses jaringan, dan mendukung pertumbuhan sesuai tahap perkembangan bisnis lintas faktor. Penelitian ini juga mengidentifikasi tiga kesenjangan implementasi struktural, yaitu ketidakpastian jadwal program, ketiadaan standar kompetensi, dan kuangnya kontinuitas pasca-program. Solusi yang diusulkan adalah platform digital terintegrasi. Meskipun demikian, implementasi platform ini menghadapi beberapa kendala yang perlu diantisipasi, termasuk kompleksitas birokrasi dan regulasi dalam proses pengadaan, begitu juga dengan kebutuhan akan pendanaan pemerintah yang berkelanjutan guna memastikan keberlangsungan operasionalnya dalam jangka panjang. Temuan ini memberikan bukti empiris mengenai efektivitas program mentoring yang dipimpin oleh pemerintah dan menyampaikan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti untuk mentransformasi Entrepreneur Hub menjadi ekosistem kewirausahaan yang berkelanjutan.
INTEGRASI MACHINE LEARNING PADA IMPUTASI LOG SONIC DAN DENSITAS UNTUK PEMODELAN IMPEDANSI AKUSTIK
Karakterisasi reservoir melalui inversi seismik membutuhkan kelengkapan data log densitas (RHOB) dan sonik (DT). Namun, kendala biaya dan kondisi lubang bor buruk sering menyebabkan kekosongan data. Penelitian ini menerapkan algoritma Machine Learning (ML), yaitu Random Forest (RF) dan XGBoost, untuk mengimputasi nilai hilang log DT dan RHOB menggunakan skema cross-feature. Model dilatih dengan data 8 sumur KGS di Kabupaten Cheyenne dan divalidasi menggunakan skema Leave-One-Well-Out Cross-Validation (LOWO-CV) untuk menguji generalisasi pada sumur baru. Sebagai pembanding, digunakan Persamaan Wyllie dan Gardner terkalibrasi lokal serta Regresi Linear (LR) sebagai baseline statistik multi-variat. Hasil LOWO-CV menunjukkan pendekatan ML jauh lebih superior. Pada prediksi DT, RF mencapai rata-rata R 2 = 0,806 dan XGBoost mencapai R 2 = 0,796. Pada prediksi RHOB, XGBoost mencapai R 2 = 0,693 dan RF mencapai R 2 = 0,690. Dekomposisi nilai ?R 2 membuktikan peningkatan akurasi model ensemble bersumber utama dari kemampuan menangkap hubungan petrofisika non-linear. Profil Impedansi Akustik (AI) sintetik dari RF memberikan akurasi tertinggi (R 2 = 0,9452; RMSE = 2.626,6 g/cc·ft/s), mengungguli metode tradisional (R 2 = 0,8973) dan mencegah akumulasi galat multiplikatif ekstrem dari LR (R 2 = 0,7234). Rekonstruksi berbasis ML ini terbukti andal untuk menyediakan profil properti batuan sintetik bagi studi geofisika lanjutan.
PERAN PEMBELAJARAN ORGANISASI DAN MANAJEMEN PENGETAHUAN DALAM MENDORONG KINERJA ESG: STUDI KASUS PADA KONGLOMERASI JASA ALAT BERAT DI INDONESIA
Bagi perusahaan multi-entitas terutama pada sektor dengan risiko operasional, lingkungan, dan keselamatan kerja yang tinggi, kinerja ESG menjadi salah satu tolak ukur penting dalam memastikan keberlanjutan bisnis. Dalam konteks konglomerasi, tantangan utama dalam mencapai kinerja ESG yang baik secara konsisten terletak pada kemampuan organisasi dalam menerjemahkan arahan ESG di berbagai entitas dengan karakter bisnis yang berbeda. PT United Tractors Tbk (UT), sebagai korporasi multi-entitas yang menjalankan operasi melalui anak usaha lintas sektor, juga menghadapi tantangan yang serupa. Sustainability Index, yang menjadi indikator internal Grup UT dalam menilai kinerja ESG, menunjukkan bahwa klaster non-coal mining pada tahun 2024 mencapai 110,43%, lebih rendah dari target manajemen sebesar 125%. Kesenjangan tersebut menunjukkan adanya heterogenitas kinerja ESG antar entitas, meskipun Grup UT telah memiliki struktur tata kelola ESG, cascading KPI, dan mekanisme pelaporan berjenjang dari tingkat operasional ke tingkat holding. Oleh karena itu, penelitian ini melihat performance gap bukan hanya sebagai persoalan capaian angka, tetapi sebagai indikasi adanya perbedaan mekanisme internal dalam mengubah pembelajaran ESG menjadi praktik yang konsisten. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana mekanisme Organizational Learning (OL) dan Knowledge Management (KM) membentuk heterogenitas kinerja ESG, sekaligus mengidentifikasi mekanisme internal yang menjelaskan persistensi gap antar entitas. Dalam penelitian ini, KM diposisikan sebagai mekanisme internal yang mengkonversi pembelajaran organisasi menjadi pengetahuan yang dapat disimpan, dicari, digunakan ulang, ditransfer, dan diperbarui. Studi ini menggunakan pendekatan qualitative single embedded case study pada tiga unit analisis sebagai representative analytical contrast, yaitu UT Holding sebagai fungsi tata kelola korporat, UTCM sebagai business unit operasional single-entity dengan ESG maturity yang relatif matang, dan PT Anindita Multi Industri (PT AMI; nama disamarkan untuk menjaga kerahasiaan) sebagai sub-holding multi-entity dengan portofolio yang heterogen. Data dikumpulkan melalui semi-structured interviews terhadap tujuh key informants dan review dokumen internal, kemudian dianalisis menggunakan thematic analysis, cross-entity comparison, dan pattern matching terhadap kerangka konseptual OL–KM–ESG. Pendekatan ini memungkinkan penelitian menangkap perbedaan pola pembelajaran, pengelolaan pengetahuan, dan praktik ESG pada level korporat maupun operasional secara lebih utuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola ESG dan KPI embedding di UT Group sudah relatif kuat, tetapi pembelajaran ESG belum secara konsisten dikonversi menjadi reusable organizational knowledge. Akar masalah ini termanifestasi dalam empat bentuk yang saling memperkuat, yaitu Vision-Internalization Asymmetry, Person-Dependent Capability, Knowledge Codification Gap, dan Cross-Entity Connectivity Gap. Knowledge Codification Gap diidentifikasi sebagai primary intervention lever karena menjelaskan mengapa pembelajaran, praktik baik, dan pengalaman korektif belum dapat direplikasi secara sistematis lintas entitas. Sebagai solusi bisnis, penelitian ini mengusulkan ESG Learning-to-Practice Mechanism dengan Codification Core sebagai engine utama. Mekanisme ini dijalankan melalui lima operating modules, yaitu Learning-to-Standard Pipeline, ESG Knowledge Registry, Cross-Entity Learning Forum, Structured Handover Protocol, dan Ownership and Refresh Routine. Solusi ini dirancang sebagai enabler-level intervention untuk memperkuat rutinitas ESG yang sudah ada, bukan membentuk layer tata kelola baru. Kontribusi penelitian ini terletak pada penjelasan empiris mengenai bagaimana OL dan KM bekerja dalam konteks ESG pada konglomerasi jasa alat berat di Indonesia, serta pada penempatan knowledge codification sebagai lever spesifik dalam hubungan OL–KM–ESG. Penelitian ini menggunakan selected entities sebagai representative analytical contrast, sehingga temuan ditujukan untuk analytical generalization, bukan statistical generalization.
ANALISIS STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS 2D UNTUK MITIGASI RISIKO GEMPA DI ZONA PENGARUH SESAR LEMBANG, PARONGPONG BANDUNG BARAT
Indonesia merupakan wilayah dengan tingkat aktivitas geologi dan tektonik yang sangat tinggi akibat interaksi tiga lempeng tektonik utama, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Interaksi tersebut menghasilkan berbagai struktur geologi aktif seperti sesar, lipatan, dan gunung api, yang menjadikan Indonesia rawan terhadap bencana geologi, khususnya gempa bumi. Salah satu struktur geologi aktif yang memiliki potensi kebencanaan tinggi di Jawa Barat adalah Sesar Lembang, yang membentang di bagian utara Cekungan Bandung dan melintasi wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Daerah Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, terletak pada bagian barat zona pengaruh Sesar Lembang dan tersusun oleh endapan vulkanik kuarter yang bersifat lapuk, berpori, serta jenuh air, sehingga berpotensi memperkuat dampak aktivitas seismik. Namun demikian, kajian struktur bawah permukaan di wilayah Parongpong masih relatif terbatas dibandingkan segmen lain dari Sesar Lembang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi resistivitas bawah permukaan di wilayah Parongpong menggunakan metode geolistrik resistivitas 2D, serta menginterpretasikan keterkaitannya dengan zona pengaruh Sesar Lembang sebagai upaya mendukung mitigasi risiko gempa. Penelitian ini secara khusus membandingkan hasil pengukuran menggunakan dua konfigurasi elektroda, yaitu konfigurasi Wenner dan konfigurasi Schlumberger, guna memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai karakteristik bawah permukaan. Metode penelitian meliputi pengukuran geolistrik resistivitas 2D pada satu lintasan pengukuran yang berorientasi utara-selatan, tegak lurus terhadap arah umum Sesar Lembang yang berorientasi barat-timur. Akuisisi data dilakukan menggunakan resistivity meter AGI Super Sting R8 IP dengan jarak antar elektroda sebesar 25 meter. Data resistivitas semu yang diperoleh kemudian diolah menggunakan perangkat lunak RES2DINV melalui tahapan pemodelan ke depan (forward modelling) dan pemodelan inversi (inverse modelling) berbasis optimasi least squares hingga diperoleh model distribusi resistivitas bawah permukaan dua dimensi yang representatif. Interpretasi hasil dilakukan dengan mengacu pada model arsitektur zona sesar Caine et al. (1996) dan dikorelasikan dengan peta geologi regional Silitonga (1973) serta peta jalur Sesar Lembang. Hasil inversi menunjukkan rentang nilai resistivitas 4,44–830 ?m dengan variasi lateral dan vertikal yang signifikan pada kedua penampang. Nilai absolute error sebesar 8,9% untuk konfigurasi Schlumberger dan 9,5% untuk konfigurasi Wenner menunjukkan kesesuaian yang baik antara data terukur dan model terhitung. Zona resistivitas sangat rendah (<20 ?m) pada jarak 180 m, 300 m, dan 425 m diinterpretasikan sebagai indikasi inti sesar (fault core) berupa lempung jenuh fluida, sedangkan zona 20–40 ?m di sekitarnya diinterpretasikan sebagai zona kerusakan (damage zone) akibat deformasi sesar. Resistivitas 40–100 ?m yang mendominasi sebagian besar penampang diinterpretasikan sebagai batuan induk (protolith) berupa satuan tuf dan tuf pasiran. Zona resistivitas tinggi (>100 ?m) yang muncul secara setempat diinterpretasikan sebagai batuan vulkanik yang lebih kompak. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa wilayah Parongpong berada dalam zona pengaruh langsung Sesar Lembang dengan kondisi bawah permukaan yang berpotensi memperkuat amplifikasi gelombang seismik, sehingga diperlukan langkah mitigasi yang memadai mencakup zonasi rawan bencana dan penerapan standar konstruksi bangunan tahan gempa di wilayah tersebut.
PENGARUH SEED COATING TRICHODERMA HARZIANUM SEBAGAI BIOKONTROL TERHADAP PERKECAMBAHAN, PERTUMBUHAN, DAN KUANTIFIKASI KANDUNGAN NITROGEN SERTA FOSFOR PADA PEMBIBITAN CABAI RAWIT (CAPSICUM FRUTESCENS L.) YANG DIINOKULASIKAN FUSARIUM OXYSPORUM
Tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan komoditas hortikultura penting yang rentan terhadap penyakit layu fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum, yang dapat menurunkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman secara hingga 20-50%. Penggunaan agens hayati seperti Trichoderma harzianum dengan aplikasi seed coating merupakan salah satu alternatif preventif pengendalian penyakit yang ramah lingkungan, karena mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman sekaligus menekan perkembangan patogen pada fase awal pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh Trichoderma harzianum terhadap viabilitas dan vigor benih, pertumbuhan bibit, serta ketersediaan dan serapan nitrogen (N) dan fosfor (P) pada bibit cabai rawit (Capsicum frutescens L.) yang diinokulasi Fusarium oxysporum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Fusarium oxysporum menurunkan daya berkecambah menjadi 50,00% dan laju perkecambahan menjadi 0,48 biji/hari, serta menurunkan pertumbuhan bibit yang ditunjukkan oleh tinggi tanaman sebesar 2,43 cm, jumlah daun 4 helai, diameter batang 0,94 mm, dan kejadian damping-off sebesar 18,75%. Sebaliknya, aplikasi Trichoderma harzianum mampu meningkatkan perkecambahan dan pertumbuhan bibit dengan peningkatan tinggi tanaman sebesar 21,51%, jumlah daun sebesar 23%, dan diameter batang sebesar 20,89%, serta menekan kejadian damping-off hingga 50% dan meningkatkan ketersediaan serta serapan unsur hara N dan P dibandingkan perlakuan dengan patogen. Dengan demikian, aplikasi Trichoderma harzianum berpotensi sebagai agen hayati yang efektif dalam meningkatkan pertumbuhan bibit dan ketersediaan unsur hara serta menekan dampak infeksi Fusarium oxysporum pada tanaman cabai rawit.
PENGARUH PERUBAHAN IKLIM TERHADAP KARAKTERISTIK HUJAN DI TIGA WILAYAH HUJAN DOMINAN INDONESIA
Perubahan iklim dapat mengubah karakteristik hujan ekstrem dan menurunkan keandalan hujan rancangan yang disusun hanya berdasarkan data historis. Penelitian ini menganalisis pengaruh perubahan iklim terhadap karakteristik hujan di tiga wilayah hujan dominan Indonesia, yaitu Region A yang diwakili Stasiun Meteorologi Tanjung Priok, Region B yang diwakili Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda, dan Region C yang diwakili Stasiun Meteorologi Sultan Babullah. Data observasi BMKG periode 1990–2020 digunakan sebagai baseline lokal, sedangkan proyeksi perubahan iklim diperoleh dari keluaran CMIP6 skenario SSP2-4.5 pada periode historical (1990–2014), near future (2030–2060), dan far future (2070–2100). Analisis dilakukan melalui validasi model historis, pendekatan delta change, Annual Maximum Series (AMS), distribusi probabilitas ekstrem, kurva Intensity-DurationFrequency (IDF), indikator I90 dan I90c, jumlah hari ekstrem, time series total hujan tahunan, Probability Distribution Function (PDF), skewness, nilai kuantil, serta kontribusi bottom 25%, bottom 50%, middle 50%, dan top 10% kejadian hujan. Hasil validasi menunjukkan bahwa data historical CMIP6 mampu merepresentasikan pola intensitas hujan rancangan dengan nilai NSE sebesar 0,777 pada Region A, 0,965 pada Region B, dan 0,985 pada Region C. Hasil evaluasi nilai absolut menunjukkan PBIAS sebesar ?31,49% pada Region A, ?8,13% pada Region B, dan 3,39% pada Region C, yang secara berurutan menunjukkan underestimation cukup besar pada Region A, underestimation lebih rendah pada Region B, dan overestimation ringan pada Region C. Region A menunjukkan penurunan IDF pada near future dan perubahan yang lebih lemah pada far future, tetapi indikator ekstrem harian dan bagian atas distribusi tetap menunjukkan peningkatan. Region B memperlihatkan sinyal peningkatan hujan ekstrem yang paling konsisten, terutama pada far future dan periode ulang yang lebih besar. Region C menunjukkan respons yang lebih kompleks, dengan karakter hujan basah dan kontribusi hujan intensitas tinggi yang tetap dominan. Analisis PDF menunjukkan bahwa distribusi curah hujan harian pada ketiga region bersifat right-skewed. Kelompok kejadian top 10% menyumbang sekitar 35,03–40,18% dari total volume hujan, jauh lebih besar daripada kelompok bottom 25% dan bottom 50%, serta secara umum sebanding dengan kelompok middle 50%. Region B menunjukkan penguatan ekor kanan distribusi paling jelas, ii Region A menunjukkan penguatan bagian atas distribusi terutama pada far future, sedangkan Region C mempertahankan karakter distribusi basah dan right-skewed sejak periode historical. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya memengaruhi hujan rancangan pada kurva IDF, tetapi juga mengubah struktur distribusi curah hujan harian. Oleh karena itu, evaluasi dan pembaruan dasar hujan rancangan perlu mempertimbangkan perbedaan sistem hujan dominan, perubahan struktur distribusi hujan harian, indikator ekstrem harian, serta ketidakpastian model iklim untuk mendukung perencanaan drainase dan infrastruktur air hujan yang lebih adaptif.
ANALISIS TEKNOLOGI DAN EKONOMI PADA REAKTOR PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR MAJU
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) menjadi salah satu alternatif energi rendah karbon yang dipertimbangkan Indonesia untuk mendukung ketahanan energi dan pencapaian target Net Zero Emission (NZE) 2060. Penelitian ini bertujuan membandingkan kelayakan teknologi APR1400, SMART100, dan NuScale untuk diterapkan pada sistem ketenagalistrikan Indonesia. Metode yang digunakan meliputi analisis Levelized Cost of Electricity (LCOE) untuk mengevaluasi aspek ekonomi serta analisis PESTEL (Political, Economic, Social, Technological, Environmental, Legal) untuk menilai faktor eksternal yang memengaruhi implementasi PLTN. Hasil analisis menunjukkan bahwa APR1400 memiliki nilai LCOE terendah sebesar 72,5 USD/MWh sehingga menjadi teknologi paling ekonomis dibandingkan SMART100 sebesar 102,5 USD/MWh dan NuScale sebesar 115 USD/MWh. Namun, hasil analisis PESTEL menunjukkan bahwa SMART100 memperoleh skor tertinggi karena memiliki kapasitas yang lebih sesuai dengan karakteristik sistem kelistrikan Indonesia, kebutuhan investasi yang lebih rendah, serta sistem keselamatan pasif yang modern. Berdasarkan hasil penelitian, SMART100 direkomendasikan sebagai pilihan implementasi awal PLTN di Indonesia, sedangkan APR1400 lebih sesuai untuk pengembangan jangka panjang pada sistem interkoneksi besar seperti Jawa–Bali.
MODIFIKASI PROSES GRAM-SCHMIDT PADA RUANG SEMI HASIL KALI DALAM
Ruang semi hasil kali dalam merupakan generalisasi dari ruang hasil kali dalam yang memiliki sifat-sifat khusus. Dalam ruang semi hasil kali dalam, semi norma suatu vektor dapat bernilai nol meskipun vektor tersebut bukan vektor nol, yang menghasilkan konsep unsur netral. Penelitian ini membahas modifikasi algoritma Gram-Schmidt untuk ruang semi hasil kali dalam dan menunjukkan bahwa setiap ruang semi hasil kali dalam berdimensi hingga memiliki basis m-ortonormal. Teorema utama yang dibuktikan menyatakan bahwa proses Gram-Schmidt yang dimodifikasi menghasilkan himpunan ortogonal dengan tepat n?m unsur netral, dimana m = dim(V)?dim(V0).