📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

PENGAMBILAN DATA 2,5D UNTUK VISUALISASI KOTA 3D

Proses penentuan beda tinggi dari suatu objek bangunan yaitu dengan cara menumpangsusunkan data dari foto udara dengan data Digital Terrain Model (DTM). Ada beberapa metode interpolasi yang digunakan untuk menentukkan posisi dari koordinat gedung pada sistem koordinat piksel antara lain metode interpolasi tetangga terdekat (Nearest Neighbor Interpolation), metode interpolasi empat tetangga terdekat (Cubic Interpolation), dan metode interpolasi enam belas tetangga terdekat (Bicubic Interpolation). Dari hasil pengolahan di dapat suatu analisis bahwa untuk daerah yang memiliki kontur curam lebih baik menggunakan metode cubic interpolation dibandingkan metode Nearest Neighbor Interpolation karena metode Cubic Interpolation lebih teliti dibandingkan dengan metode Nearest Neighbor Iinterpolation. Ketelitian inilah yang diperlukan untuk menentukan posisi dari gedung dengan tepat. Tetapi metode cubic interpolation lebih rumit dalam penghitungannya. Sedangkan untuk metode BiCubic Interpolation beda tinggi yang dihasilkan sangat ekstrim dibandingkan kedua metode di atas.

2026
👤 Penulis: FARRID RAFSANJANI OP (NIM 15102009)
🏷️ Geometri Digital 🏷️ Analisis Sistem Visualisasi Kota 3D

ANALISIS HARMONIK DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK KUADRAT TERKECIL UNTUK PENENTUAN KOMPONEN-KOMPONEN PASUT DI PERAIRAN DANGKAL DARI DATA TOPEX/POSEIDON

Teknologi satelit altimetri mempunyai peran penting dalam studi oseanografi dan hidrografi di perairan Indonesia. Pada banyak aplikasi pemanfaatan teknologi satelit altimetri, sinyal yang disebabkan oleh pasut laut harus dihilangkan dari data pengamatan satelit altimetri. Biasanya informasi dari sinyal pasut laut ini diperoleh dari model pasut laut global. Namun, model pasut global tersebut tidak dapat digunakan wilayah perairan Indonesia yang mempunyai karakteristik beragam. Oleh karena itu, diperlukan adanya informasi sinyal pasut lokal untuk menggantikan model pasut global di wilayah perairan Indonesia. Tugas akhir ini membahas mengenai penggunaan data TOPEX/Poseidon untuk menentukan komponen-komponen pasut laut di daerah perairan dangkal menggunakan analisis harmonik. Metode kuadrat terkecil digunakan dalam penentuan komponen-komponen pasut laut tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa data satelit altimetri dapat digunakan untuk menghitung konstanta-konstanta pasut di perairan Indonesia. Namun masih terdapat masalah yang ditemui dalam penelitian ini yaitu pada penentuan fase komponen pasut yang mempunyai perbedaan cukup besar pada data pass ascending dan descending. Yang menjadi masalah dari perbedaan ini yaitu apabila dari hasil proses analisis harmonik menggunakan TOPEX/Poseidon ini akan dibuat co-tidal chart. Tetapi untuk keperluan prediksi pasut hal ini sudah dapat digunakan.

2026
👤 Penulis: FANANI HENDY KHUSUMA (NIM 15104011)
🏷️ Analisis Harmonik 🏷️ Data Satelit Altimetri 🏷️ Perairan Indonesia

PENYERAGAMAN SIMBOLISASI GRAFIS PETA MULTIGUNA SKALA 1 : 1000

Realitas yang ada saat ini, setiap instansi memiliki simbol grafis yang berbeda-beda sehingga instansi yang satu tidak bisa menggunakan simbol grafis instansi yang lain karena adanya perbedaan simbol ini. Oleh karena itu, dibutuhkan penyeragaman simbolisasi grafis yang dapat digunakan oleh berbagai pihak untuk berbagai keperluan. Metode yang dilakukan pada penelitian tugas akhir ini adalah studi dan perbandingan simbol dari beberapa instansi dan referensi untuk menghasilkan simbol yang seragam serta melakukan transformasi peta untuk menghasilkan peta multiguna. Hasil dari penelitian tugas akhir ini yaitu simbol/data grafis yang seragam dan peta multiguna kelurahan Sarijadi skala 1 : 1000.

2026
👤 Penulis: FADLAN NASUTION (NIM 15101032)
🏷️ Geografi Digital 🏷️ Simbolisasi Peta

ASPEK GEOLOGI PENENTUAN LANDAS KONTINEN

Landas Kontinen merupakan wilayah dasar laut di luar wilayah Laut Teritorial tempat suatu negara pantai memiliki hak berdaulat untuk memanfaatkan sumber daya alam yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itu, kepastian hukum atas suatu wilayah Landas Kontinen yang dapat ditarik melebihi jarak 200 mil laut ini, akan sangat mendukung suatu negara pantai, termasuk Indonesia untuk memanfaatkan segala sumber daya alam yang ada. Salah satu kriteria penarikan batas Landas Kontinen ini adalah berdasarkan aspek geologi, yaitu dengan menarik garis yang perbandingan ketebalan sedimennya dengan jarak horisontal dari kaki lereng kontinen bernilai 1%. Aspek geologi ini diharapkan mampu membuat batas Landas Kontinen Indonesia menjadi maksimum. Kriteria berdasarkan aspek geologi tersebut, telah diterapkan pada daerah selatan Sumbawa, yang menghasilkan batas Landas Kontinen Indonesia menjadi kurang dari 200 mil laut. Keadaan ini membuat upaya dalam menarik Landas Kontinen tambahan tidak dapat dilakukan. Sehingga, sebaiknya penerapan kriteria berdasarkan aspek geologi pada daerah selatan Sumbawa tidak digunakan.

2026
👤 Penulis: ERICK SEBASTIAN (NIM 15102011)
🏷️ Geofisika 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

TATA CARA DAN ATURAN PENENTUAN BATAS WILAYAH ADAT BERDASARKAN HUKUM ADAT

Batas wilayah merupakan suatu hal yang sangat penting dalam menentukan wilayah administrasi suatu daerah. Dengan jelasnya batas wilayah suatu daerah, maka dapat dijadikan acuan dalam menentukan pemanfaatan dari wilayah tersebut. Konflik seringkali muncul akibat ketidak-jelasan batas wilayah administrasi suatu daerah. Hal yang sama berlaku pada wilayah adat. Hukum adat masih diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagian masyarakat Indonesia. Masyarakat adat memiliki aturan baku dalam menerapkan aturan hukumnya. Dengan demikian, perlu dilakukan identifikasi konsep penentuan batas wilayah adat berdasarkan hukum adat yang berlaku di wilayah tersebut. Ciptagelar merupakan suatu daerah yang kaya akan budaya dan menggunakan hukum adat dalam mengatur kehidupan sehari-hari penduduknya. Sebagai daerah yang berpedoman kepada hukum adat, tentunya daerah ini memiliki aturan-aturan khusus dalam menentukan batas wilayah adatnya. Salah satu pengimplementasian dari aturan adat tersebut di Ciptagelar adalah pola hidup yang semi nomaden. Aturan adat tersebut memiliki nilai sosial, budaya dan hukum yang sangat mengutamakan nilai kearifan lingkungan. Dalam rangka mengidentifikasi konsep penentuan batas wilayah adat Kasepuhan Ciptagelar, diperlukan proses identifikasi dari hukum adat tersebut, terutama mengenai tata cara dan aturan penentuan batas wilayah adat di Kasepuhan Ciptagelar. Proses identifikasi tersebut dilakukan melalui pengumpulan data yang mendukung terhadap proses identifikasi tersebut. Data tersebut selanjutnya dibandingkan dengan tata cara dan aturan penentuan batas wilayah yang berlaku di Indonesia. Dari hasil penelitian ini didapatkan beberapa faktor yang berpengaruh pada tata cara dan aturan penentuan batas wilayah adat Kasepuhan Ciptagelar, seperti pola perpindahan pusat pemerintahan Kasepuhan Ciptagelar serta pola penyebaran lokasi kampung-kampung yang termasuk dalam Kasepuhan Ciptagelar. Pemanfaatan tata cara dan aturan penentuan batas wilayah adat di Kasepuhan Ciptagelar ternyata sangat berwawasan lingkungan. Namun, di lain sisi, status hukum wilayah adat Kasepuhan Ciptagelar belum jelas akibat terjadinya tumpang tindih peraturan perundangan-undangan serta belum ada pengakuan atas batas wilayah adat Kasepuhan Ciptagelar secara nasional.

2026
👤 Penulis: EKO WAHYU WISUDAWANTO (NIM 15103023)
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENENTUAN ZENITH TROPOSPHERIC DELAY MENGGUNAKAN TEKNIK GPS DAN PERMASALAHANNYA

Zenith Tropospheric Delay (ZTD) dapat ditentukan dengan teknik GPS. Informasi tersebut diperlukan untuk mengkoreksi efek troposfer pada penentuan posisi geodetik 3 dimensi dengan GPS, terutama dalam komponen tinggi. Teknik GPS ini mendapatkan nilai ZTD dengan sedemikian rupa mengkoreksi dan mengeliminasi kesalahan dan bias lainnya sehingga hanya tertinggal delay troposfer. Salah satu faktor yang mempengaruhi akurasi pengestimasian ZTD dengan GPS adalah informasi orbit yang digunakan. Pada penelitian ini diteliti pemanfaatan informasi orbit teliti yang dikenal dengan istilah ultra rapid ephemeris. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan ultra rapid ephemeris memiliki kualitas mendekati akurasi pengestimasian nilai ZTD mengunakan final ephemeris. Diharapkan hasil ini dapat menjadi pertimbangan untuk penelitian serupa di masa akan datang.

2026
👤 Penulis: DHOTA PRADIPTA (NIM 15104040)
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

APLIKASI MULTIBEAM ECHOSOUNDER SYSTEM (MBES) UNTUK KEPERLUAN BATIMETRIK

Standar ketelitian survei hidrografi untuk orde spesial (2008) mensyaratkan penggunaan teknologi multibeam. Di Indonesia penggunaan teknologi multibeam masih terkendala terhadap jumlah dan penguasaan alat (sumber daya manusia). Pemahaman serta penguasaan teknologi multibeam ini merupakan hal yang sangat penting, oleh karena itu di masa mendatang dalam tuntutan kebutuhan survei hidrografi (orde spesial) di Indonesia akan semakin meningkat. Dalam skripsi ini akan dikaji tentang aplikasi Multibeam Sonar Echosounder System (MBES) tipe SIMRAD EM 3002 berdasarkan buku-buku petunjuk (manual), studi literature serta para nara sumber, melakukan uji coba lapangan (sea trial) serta pengolahan sampel data didalam menghasilkan data yang bebas dari kesalahan sistematik maupun blunder. Tujuan penulisan dimaksudkan untuk memperkenalkan teknologi Multibeam Sonar Echosounder (MBES) untuk berbagai keperluan sesuai prosedur survei batimetrik dan kalibrasi yang tepat.

2026
👤 Penulis: DENNY KURNIA SASMITA (NIM 15104062)
🏷️ Hidrologi 🏷️ Teknologi Perkapalan 🏷️ Analisis Data Geofisika

APLIKASI TEKNIK MAKSIMUM KORELASI UNTUK PENCOCOKAN CITRA DIJITAL (DIGITAL IMAGE MATCHING) PADA CITRA FOTO HOMOGEN

Maksimum korelasi merupakan salah satu teknik dalam pencocokan citra. Biasanya teknik maksimum korelasi diterapkan dalam pencocokan citra dengan domain spasial. Namun, teknik maksimum korelasi bisa pula diterapkan dalam pencocokan citra pada domain frekwensi. Caranya adalah merubah sinyal data citra dari domain spasial menjadi domain frekwensi menggunakan algoritma Fast Fourier Transform.Dengan perubahan domain tersebut diharapkan bisa meningkatkan nilai korelasi pada pencocokan citra daerah homogen. Namun, dengan berbagai percobaan yang dilakukan, penggunaan domain frekwensi dalam pencocokan citra homogen tidak mempermudah pencarian titik sekawan antara dua citra yang homogen.

2026
👤 Penulis: DAVID CHANDRA WIBOWO (NIM 15103045)
🏷️ Analisis Citra Digital 🏷️ Fast Fourier Transform 🏷️ Pencocokan Citra Homogen

PENGOLAHAN DATA MULTIBEAM ECHOSOUNDER MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK HIPS

Survei batimetri merupakan survei yang bertujuan untuk memetakan topografi dasar perairan. Seiring dengan kemajuan teknologi, metode survei batimetri ikut mengalami perkembangan. Salah satu instrumen yang digunakan untuk akuisisi data kedalaman ialah multibeam echosounder, dimana instrumen ini memanfaatkan teknologi gelombang akustik. Karena terdiri atas sejumlah transduser yang memiliki pancaran gelombang akustik berbentuk kipas, multibeam echosounder mampu memetakan dasar perairan tanpa adanya gap. Volume data yang besar hasil survei multibeam, menjadikan pengolahan data secara manual menjadi tidak efisien. Oleh karena itu, diperlukan perangkat lunak dan perangkat keras komputer yang khusus ditujukan untuk pengolahan data multibeam. Salah satu perangkat lunak ini adalah Caris HIPS (Computer Aided Resource Information System, Hydrographic Information Processing System). Skripsi ini membahas mengenai kemampuan pengolahan data multibeam melalui modul-modul yang disediakan oleh perangkat lunak HIPS.

2026
👤 Penulis: BIMO PARIKESIT (NIM 15102025)
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data Kompleks 🏷️ Teknologi Gelombang Akustik

ANALISIS PERBANDINGAN DELINEASI BATAS LAUT DENGAN MENGGUNAKAN METODE GRAFIK DAN NUMERIK

Dalam delineasi batas laut, terdapat dua metode penentuan batas laut yang dapat digunakan, yaitu metode grafik dan numerik. Metode grafik yaitu dengan melakukan proses penggambaran batas laut dengan bantuan software penggambaran di komputer dan metode numerik dengan menggunakan rumus-rumus penentuan posisi geodetik. Pada tulisan ini dijelaskan penentuan posisi secara grafik dan numerik dan membandingkan hasil batas-batas laut kedua metode dengan memakai acuan titik-titik dasar di PP No. 38/2002 yang ada di wilayah Pulau Nias dan sekitarnya. Dengan hasil perbandingan, pemakaian metode grafik lebih diunggulkan dari metode numerik karena dengan metode tersebut negara pantai akan mendapat wilayah yang lebih luas dibandingkan dengan memakai metode numerik, dimana hal tersebut merupakan salah satu tujuan setiap negara pantai untuk menentukan batas laut negaranya.

2026
👤 Penulis: BELFRY PARULIAN PANDIANGAN (NIM 15103035)
🏷️ Geodesi 🏷️ Analisis Batas Laut

STUDI PEMANFAATAN BAND YANG BERBEDA PADA INSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar)

Pencitraan radar dapat dikatakan baru mulai bangkit bila dibandingkan dengan teknologi sensor optis. Namun jika kita mengingat negara Indonesia yang beriklim tropis dimana sebagian areanya (17%) tertutup awan sepanjang tahun, pencitraan radar dapat lebih diunggulkan dibanding sensor optis. Kemampuan panjang gelombang yang digunakan sistem radar membuat sifat pencitraannya mampu menembus awan, kabut, ataupun hujan. Selain itu juga, teknik ini dapat dioperasikan baik siang maupun malam karena radar bersifat aktif atau tidak tergantung pada matahari. Perkembangan teknologi radar yang menjanjikan saat ini adalah Radar Apertur Sintetik Interferometri (Interferometric Synthetic Aperture Radar-INSAR) dengan wahana pesawat terbang, khususnya dengan penggunaan dua band yang berbeda (multiband) pada satu pesawat terbang. Pemanfaatan band yang berbeda pada INSAR seperti band X dan band P dapat dijadikan salah satu metode untuk monitoring sumber daya alam khususnya kawasan hutan Indonesia. Perbedaan tinggi antara DSM (dari band X) dan DTM (dari band P) dapat dijadikan sebagai parameter untuk mengestimasi kondisi biomass dari area yang bervegetasi padat, seperti jumlah pohon, tinggi pohon, dan volume hutan.

2026
👤 Penulis: AYU HERNASARI HARDI (NIM 15104049)
🏷️ Interferometri Synthetic Aperture Radar (Insar) 🏷️ Pencitraan Radar 🏷️ Monitoring Sumber Daya Alam

PENGEMBANGAN SISTEM GPS REALTIME UNTUK PENGAMATAN TROPOSFER DAN IONOSFER

Pada perambatannya, sinyal GPS melewati lapisan ionosfer dan troposfer yang mempengaruhi kecepatan dan arah dari sinyal tersebut. Perubahan kecepatan dan arah sinyal GPS mempengaruhi jarak ukuran yang dihasilkan dan menyebabkan kesalahan pada koordinat yang dihasilkan. Dengan teknik inverse problem dari penentuan posisi dengan GPS maka bisa didapat besarnya bias pada kedua lapisan atmosfer di atas dan secara stokastik karakter kedua lapisan tersebut dapat diestimasi dengan diwakili oleh nilai PWV (Precipitable Water Vapour) pada troposfer dan TEC (Total Electron Content) pada ionosfer. Dengan memanfaatkan data pengamatan GPS realtime stasiun CORS (Continuously Operating Reference Station) maka bisa dibuat sebuah sistem otomatisasi dengan algoritma pemrograman yang berbasiskan waktu sehingga bisa mendapatkan hasil berupa karakter dari troposfer dan ionosfer secara realtime mengingat bahwa nilai PWV dan TEC bervariasi secara temporal. Pembahasan akan diarahkan pada masalah pembangunan sistem realtime GPS tersebut beserta mekanisme dan algoritmanya yang diawali dengan proses akuisisi data, persiapan pengolahan, pemprosesan data, dan visualisasi data hasil berupa nilai dari PWV dan TEC pada kondisi realtime dengan segala kelebihan dan kelemahan dari hasil yang diperoleh.

2026
👤 Penulis: ARI YANUAR NUGRAHA (NIM 15104020)
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

STUDI DEFORMASI GUNUNG API BATUR DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI SAR INTERFEROMETRI (InSAR)

Indonesia merupakan salah satu negara didunia yang memiliki bencana alam tinggi yang diakibatkan oleh aktifitas gunung api, Fenomena gunung api dapat mengakibatkan dampak kerusakan, kerugian materi dan korban jiwa. Salah satu gunung api aktif di Indonesia adalah gunung api Batur (Bali). Dalam sejarahnya dari tahun 1804 sampai saat ini telah terjadi letusan beberapa kali dan membentuk 4 kawah yaitu kawah 1, kawah 2, kawah 1994, dan kawah 1998. Pemantauan deformasi gunung Batur telah dilakukan dengan beberapa metode geodetik, dimana salah satunya adalah InSAR. InSAR adalah teknologi pencitraan radar kesamping dengan memanfaatkan informasi fase, amplitudo dan panjang gelombang dalam pengolahannya untuk mendapatkan topografi dan defomasi. Metode pengolahan yang dilakukan untuk mendapatkan deformasi yaitu dengan differential intereferometri, dengan metode two-pass yang menggunakan data eksternal DEM sebagai salah satu interferogramnya untuk penghapusan unsur topografi. Data yang digunakan dalam pengolahan ini adalah citra SAR ERS-1 dan ERS-2 sebanyak 15 data, dengan perekaman dari tahun 1996 sampai 2001. Hasilnya diperoleh model deformasi tahun 1996-2000 dari hasil pengolahan pasangan citra 19960423-19960424 dengan menginformasikan kenaikan (inflasi) muka gunung api sebesar 0.04-0.1 meter, juga diperoleh model deformasi tahun 1998-2000 dari hasil pengolahan pasangan citra 19980114-20000119 dengan menginformasikan penurunan (deflasi) muka gunung api sebesar 0.01-0.02 meter.

2026
👤 Penulis: ARIEF KUSMAN (NIM 15104002)
🏷️ Deformasi Gunung Api 🏷️ Teknologi Sar Interferometri (Insar) 🏷️ Analisis Geodetik

APLIKASI CLOSE RANGE PHOTOGRAMMETRY DALAM PEMETAAN BANGUN REKAYASA DENGAN KAMERA DIJITAL NON METRIK TERKALIBRASI

Penggunaan kamera dijital non metrik untuk aplikasi fotogrametri makin berkembang, dengan didukung oleh perkembangan perangkat lunak yang tersedia dan turunnya harga kamera dijital non metrik, teknik fotografi khususnya metode Close Range Photogrammetry menjadi salah satu teknik alternatif yang menjanjikan untuk diterapkan pada pekerjaan – pekerjaan pemetaan seperti menentukan dimensi fisik sebuah objek, penggambaran, maupun menyajikan informasi visual yang cepat dan akurat. Untuk ini maka dilakukan sebuah uji coba dengan menggunakan metode Close Range Photogrammetry dalam aplikasi pemetaan bangun rekayasa. Dengan uji coba ini diharapkan pekerjaan pemetaan situasi dapat dilakukan lebih cepat, murah dan mudah dan jenis data yang didapatkan bisa lebih banyak dibandingkan dengan metode konvensional.Hasil dari uji coba ini ada peta 3D dari gedung LABTEK IX C.

2026
👤 Penulis: ANDHIKA KUSUMADARMA (NIM 15102016)
🏷️ Close Range Photogrammetry 🏷️ Pemetaan Bangun Rekayasa 🏷️ Teknologi Digital Non Metrik

KAJIAN PENCOCOKAN CITRA DIGITAL SETELAH LOW PASS FILTER DAN SETELAH HIGH PASS FILTER DENGAN TEKNIK KORELASI

Transformasi Fourier telah berkembang menjadi alternatif solusi untuk memecahkan masalah dalam beberapa bidang keilmuan. Salah satunya pada otomatisasi fotogrametri yang berhubungan dengan pencocokan citra secara digital. Fast Fourier Transform merubah citra dari domain spasial menjadi citra dalam domain frekuensi. Citra dalam domain frekuensi dapat memberikan informasi spektrum sinyal suatu citra. Informasi spektrum sinyal dapat memberikan informasi suatu citra yang tidak terlihat secara visual dalam domain spasial, sehingga lebih memudahkan dalam melakukan proses pengolahan, analisis, dan perbaikan suatu citra. Terdapat beberapa metode perbaikan citra dalam domain frekuensi yang diantaranya adalah low pass filter dan high pass filter. Dengan data citra yang telah dilakukan filtering dalam domain frekuensi, nilai korelasi pada pencocokan citra dapat ditingkatkan.

2026
👤 Penulis: AHMAD NIAM AZMY (NIM 15103034)
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Citra Digital 🏷️ Hidrologi
Halaman 252 dari 6754
💬