π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPEMANFAATAN DATA GPS KONTINYU MENUJU SURVEI BATIMETRIK REAL TIME
Survei batimetri merupakan salah satu dari pekerjaan hidrografi, aplikasi dari survei batimetri sudah banyak dimanfaatkan untuk keperluan kerekayasaan ataupun keperluan praktis. Saat ini pelaksanaan survei batimetri tidak bisa menghasilkan hasil ukuran yang didapatkan secara real time, untuk mendukung semakin berkembangnya kemanfaatan survei batimetrik maka dengan memanfaatkan teknologi yang ada survei batimetri secara real time akan bisa dilakukan. Sistem satelit GPS yang merupakan sistem penentuan posisi yang bisa menghasilkan data posisi secara real time. Dengan memanfaatkan sistem pengamatan GPS pada survei batimetrik akan bisa didapatkan hubungan matematis untuk mendefinisikan kedalaman ukuran menjadi kedalaman yang bereferensi terhadap bidang referensi kedalaman atau kedalaman sebenarnya.
PERANCANGAN SISTEM INFORMASI PASUT BERBASIS WEB
Data dan informasi pasut dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang kelautan. Dalam tugas akhir ini data dan informasi pasut difokuskan untuk keperluan navigasi (keselamatan pelayaran) dan keperluan kerekayasaan laut. Dengan adanya teknologi internet untuk mempermudah akses data dan informasi pasut, maka dalam tugas akhir ini akan dilakukan perancangan sistem informasi pasut berbasis web yang dapat memberikan informasi dasar mengenai pasut, stasiun pasut, komponen harmonik pasut, dan prediksi pasut.
PEMODELAN SPASIAL LAJU EKSPOR SEDIMEN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI KRUENG ACEH
Penurunan luas vegetasi merupakan masalah serius pada ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS). Tutupan lahan berupa vegetasi berfungsi sebagai pertahanan DAS terhadap proses erosi. DAS yang tidak terlindung oleh vegetasi memudahkan gaya pembangkit erosi yang berasal dari curah hujan maupun limpasan aliran air menumbuk permukaan tanah. Penelitian ini akan menerapkan model proses erosi untuk mengestimasi total sedimen yang diekspor DAS Krueng Aceh. Ekspor sedimen merupakan produk dari laju erosi dan sediment delivery ratio (SDR). Laju erosi dibangun untuk menghitung besarnya partikel tanah yang terkelupas dari sumbernya yang dipengaruhi oleh panjang aliran, kemiringan, tutupan lahan, jenis tanah, dan curah hujan. SDR menyatakan efisiensi untuk mengangkut partikel tanah yang tererosi. SDR dibangun berdasarkan proses fisik angkutan sedimen yang merupakan fungsi dari waktu tinggal sedimen. Total sedimen yang diekspor DAS Krueng Aceh sekitar 2.4ΓΖΓΖΓβΓβ106ton/tahun. Distribusi spasial ekspor sedimen digunakan untuk memeriksa kekritisan DAS terhadap erosi. Sedimen terbanyak dipasok oleh subDAS Krueng Jreue, Inong, dan Keumireu. Ketiga subDAS tersebut merupakan daerah dengan topografi curam dan tutupan lahan yang didominasi lahan terbuka. Kualitas model diuji dengan hasil model proses erosi DAS Citarum Hulu.
PEMODELAN GEMPA BENGKULU 2007 BERDASARKAN DATA GPS
Sumatera merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki aktivitas tektonik paling aktif di dunia. Sumatera dilewati jalur subduksi antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia, hal ini memicu potensi Gempabumi bila terjadi pergerakan di dalam struktur bumi akibat sifat bumi yang dinamis. Pada 12 September 2007, Gempabumi besar dengan kekuatan M8.5 mengguncang wilayah pantai barat sumatera, sebelah barat daya Bengkulu. Gempabumi Bengkulu M8.5 September tahun 2007 dimodelkan untuk mempelajari mekanisme pada saat kejadian gempa serta untuk mengetahui pola pergeseran akibat gempa di wilayah barat daya Sumatera. Studi ini memperkenalkan salah satu metode yang dapat digunakan dalam memodelkan parameter mekanisme gempabumi berdasarkan data pergeseran permukaan. Paramater-parameter ini dihitung untuk memecahkan model dislokasi yang dimanfaatkan pada zona subduksi, seperti di Sumatera. Pola pergeseran gempabumi diketahui melalui pengamatan GPS. Pemodelan ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam upaya mitigasi bencana Gempabumi dan sekaligus kewaspadaan terhadap ancaman bahaya tsunami untuk meminimalisasi korban jiwa.
ANALISIS DISTRIBUSI KEPADATAN PENDUDUK MENGGUNAKAN CITRA QUICKBIRD DENGAN METODE PEMBOBOTAN LAND USE DENSITY
Data kependudukan di Indonesia yang disajikan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) diperoleh melalui sensus penduduk. Namun data kependudukan ini hanya bersifat tekstual dan belum mewakili keadaan sebenarnya. Mengingat kependudukan merupakan aspek penting dalam pertumbuhan pembangunan di Indonesia, maka pemerintah memerlukan informasi yang jelas mengenai data kependudukan. Penelitian ini mencoba untuk memanfaatkan teknologi penginderaan jauh untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pada penalitian ini digunakan teknologi penginderaan jauh dengan memanfaatkan citra Satelit Quickbird, yaitu citra dengan resolusi yang sangat tinggi sehingga bisa digunakan untuk mengidentifikasi objek kecil seperti perumahan. Dengan menggunakan metode pembobotan land use density, maka tipe perumahan yang diidentifikasi dapat digunakan untuk menggambarkan distribusi penduduk dalam bentuk peta distribusi kepadatan penduduk yang mewakili keadaan yang sebenarnya.
VISUALISASI PRE-DISASTER MAP BERBASIS WEB MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK MAPSERVER (STUDI KASUS WILAYAH CEKUNGAN BANDUNG)
Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, setidaknya terjadi tiga bencana besar yang melanda Indonesia, yaitu gempa yang diikuti tsunami Aceh (2004), gempa Yogyakarta (2005) dan banjir Jakarta (2007). Hal ini menunjukkan bahwa Negara Indonesia berada pada wilayah rawan bencana alam. Untuk mengantisipasi datangnya bencana, maka diperlukan sebuah pre-disaster map yang mudah diakses oleh semua pihak. Dengan memanfaatkan teknologi internet, suatu pre-disaster berbasis web diharapkan dapat mendukung hal tersebut. Tugas akhir ini menjelaskan mengenai bencana, jenis bencana, jenis peta bencana dan cara penyajian visualisasinya pada web.
IDENTIFIKASI DAERAH BENCANA GEMPA MENGGUNAKAN KOMBINASI INFORMASI SPEKTRAL DAN TEKSTUR CITRA SPOT 4 DAN IKONOS
Pada tanggal 27 Mei 2006 terjadi gempa bumi di D.I. Yogyakarta yang merupakan gempa bumi terkuat yang mengguncang daerah tersebut. Gempa bumi ini menewaskan lebih dari 6.000 jiwa serta kerusakan bangunan yang sangat parah terutama di Kabupaten Bantul yang merupakan daerah yang paling parah terkena bencana ini. Pada penelitian ini digunakan citra penginderaan jauh pra gempa yaitu citra SPOT 4 dan pasca gempa yaitu citra IKONOS yang merupakan alat yang cukup cepat dan efisien dalam mengidentifikasi daerah mana saja yang mengalami kerusakan akibat bencana ini terutama di daerah sebagian besar Kabupaten Bantul yang merupakan cakupan dari penelitian ini dengan penggunaan kombinasi informasi spektral dan tekstur, sehingga dengan mengetahui informasi dari hasilnya tersebut dapat dilakukan pemetaan daerah bencana untuk dapat memfasilitasi manajemen respon terhadap bencana secara cepat.
ESTIMASI KONSENTRASI SEDIMEN TERSUSPENSI MENGGUNAKAN INSTRUMEN HIDRO-AKUSTIK (Studi Kasus: Muara Gembong, Bekasi)
Tugas akhir ini membahas teknik pengukuran, keterandalan instrumen dan persamaan empirik yang digunakan untuk estimasi konsentrasi sedimen tersuspensi. Area studi tugas akhir ini terletak di Muara Gembong, Bekasi. Instrumen hidroΓΖΓβΓβΓΒakustik yang digunakan adalah Acoustic Doppler Current profiler (ADCP) berfrekuensi 600 kHz. Selain kecepatan arus, ADCP juga mengukur intensitas pantulan balik. Intensitas pantulan balik tersebut merupakan nilai relatif konsentrasi sedimen tersuspensi. Penggunaan ADCP juga harus dikalibrasi dengan pengambilan sampel (direct sampling) sedimen tersuspensi. Persamaan empirik digunakan untuk mengubah intensitas pantulan balik menjadi konsentrasi sedimen tersuspensi. Konstanta persamaan empirik tersebut merupakan hasil kalibrasi di Meldorf Bight, Laut Utara Jerman. Persamaan empirik dievaluasi dengan membandingkan hasil estimasi ADCP dan direct sampling. Hasil evaluasi menunjukkan kesalahan rata-rata absolut = 0,06 kg/m3, kesalahan rata-rata relatif = 74%, dan tingkat kesesuaian faktor 2 = 64%. Berdasarkan hasil evaluasi, konstanta persamaan empirik hasil kalibrasi pengukuran di Meldorf Bight dapat digunakan untuk pengukuran di Muara Gembong.
PERMASALAHAN DALAM PENENTUAN KARAKTERISTIK GELOMBANG SEISMIK GEMPA YOGYAKARTA MEI 2006 DARI DATA GPS HIGH-RATE BASELINE PANJANG
Gempa yang terjadi di Yogyakarta pada tanggal 26 Mei 2006 disebabkan oleh pergerakan sesar Opak akibat penujaman lempeng tektonik pada zone subduksi lempeng Australia dan lempeng Eurasian. Gempa bumi tersebut mengakibatkan getaran gelombang yang disebut gelombang seismik. Pada saat ini karakteristik gelombang seimik dapat dipelajari dari solusi koordinat kinematik stasiun GPS High-Rate interval 1 detik. Dengan menggunakan metode pengolahan Pseudo Kinematik Software Bernese dari data GPS High-Rate antara stasiun Yogyakarta (JOG2) dengan stasiun Diego Garcia (DGAR) yang berjarak sekitar 4000 Km, diteliti permasalahan yang terjadi akibat pengaruh basline yang panjang. Dari hasil pengolahan data GPS High-Rate tersebut dapat disimpulkan bahwa permasalahan utama untuk menentukan karakteristik gelombang seismik dari baseline panjang GPS adalah pada data penentuan resolusi ambiguitas fase karena masih signifikannya residu kesalahan dan bias (Contoh : Bias Ionosfer, Bias Troposfer, Kesalahan Orbit) serta pengaruh dari residu kesalahan bias tersebut pada solusi koordinat.
KAJIAN SISTEM KONVERSI HAK ATAS TANAH ADAT DI JAWA BARAT MENGACU PADA KETENTUAN KONVERSI UUPA DAN PP NO. 24/1997 (Studi Kasus: Kampung Naga dan Kasepuhan Ciptagelar)
Beberapa masyarakat adat, seperti Kampung Naga dan Kasepuhan Ciptagelar belum mendaftarkan hak atas tanah yang mereka miliki. Sebagian besar tanah tersebut kurang didukung oleh bukti-bukti kepemilikan yang kuat, sehingga hak atas tanahnya belum jelas secara hukum di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan aturan yang mengatur tentang perubahan hak atas tanah, dari hak atas tanah adat ke hak atas tanah yang baru menurut UUPA. Aturan tersebut dijelaskan melalui suatu sistem konversi hak atas tanah adat. Dalam upaya pelaksanaan konversi tersebut, diperlukan penelitian mengenai karakteristik masyarakat adat beserta penguasaan atas tanahnya. Kegiatan yang dilakukan dalam mengkaji sistem konversi hak atas tanah adat, yaitu dengan mengidentifikasi komponen yang diperlukan dalam pelaksanaan konversi. Komponen tersebut yaitu keberadaan masyarakat, status tanah, jenis hak atas tanah dan alat bukti kepemilikan tanah adat. Kemudian, komponen tersebut dihubungkan dengan hukum pertanahan nasional yang ada yaitu UUPA untuk melihat perbandingannya. Hasil penelitian yaitu diperoleh suatu sistem konversi yang sesuai untuk diterapkan di Kampung Naga dan Kasepuhan Ciptagelar. Konversi tersebut mengacu kepada ketentuan yang terdapat dalam PMPA No.2 tahun 1962 tentang Penegasan Konversi dan Pendaftaran Bekas Hak Indonesia atas Tanah; dan PP No.24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, yang meliputi mekanisme pengakuan hak dan penegasan hak. Dalam pelaksanaan konversinya, hak ulayat masyarakat adat Kampung Naga dan Kasepuhan Ciptagelar dikonversi menjadi hak milik bersama.
EKSTRAKSI DEM DARI DATA ALOS PRISM
Permukaan bumi dapat didekati dengan berbagai model. Kepentingan untuk membuat model permukaan bumi adalah sebagai pendekatan dalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan topografi sebagai variabel yang mempengaruhi keputusan. Aplikasi DEM sangatlah luas, mengingat berbagai pekerjaan tidak dapat lepas dari data topografi daerah yang bersangkutan. Untuk mendekati permukaan bumi (berbentuk surface), pengukuran terestrial mengukur titik-titik tinggi yang signifikan perubahan tingginya sesuai dengan ketelitian peta yang akan dihasilkan. Data titik-titik tinggi ini kemudian digunakan untuk membuat serangkaian garis yang memiliki ketinggian yang sama (kontur). Kontur inilah yang menjadi data bagi pembuatan DEM topografi. Selain dengan cara terestrial, akuisisi data untuk pembuatan DEM dapat dilakukan dengan menggunakan metode Penginderaan Jauh. ALOS PRISM merupakan salah satu misinya adalah pembuatan citra tiga dimensi (topografi) suatu permukaan bumi secara digital. Data yang didapatkan berbentuk raster dan mewakili permukaan bumi dengan tiap sel raster yang memiliki data tingginya masing-masing. Dari DEM yang dihasilkan nanti dapat dihitung ketelitian tingginya dengan mengacu pada DEM dari peta topografi sehingga dapat ditentukan skala dari DEM tersebut.
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN BERDASARKAN KARAKTERISTIK FISIK DAN SOSIOEKONOMI WILAYAH BODETABEK
Wilayah Bodetabek adalah wilayah yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, dimana terjadi interaksi secara langsung antara keduanya. Terus meningkatnya kebutuhan lahan di DKI Jakarta, untuk menunjang berbagai kegiatan ekonomi dan kebutuhan tempat tinggal, tidak di imbangi jumlah lahan yang tersedia, hal ini mendorong pengembangan lebih lanjut terhadap lahan yang ada di wilayah sekitar DKI Jakarta, khususnya wilayah Bodetabek. Dalam proses pengembangan lebih lanjut terhadap lahan yang ada di wilayah Bodetabek ini, perlu dilakukan proses analisis kesesuaian lahan untuk mengetahui jumlah lahan yang tersedia dan tingkat kesesuaiannya, dalam proses analisis kesesuaian lahan ini didasarkan pada karakteristik yang dimiliki tiap wilayah, dimana dipilih karakteritik fisik dan sosioekonomi, yang dianggap mampu menggambarkan ketersediaan lahan dan kebutuhan lahan.
ANALISIS PENCARIAN JALUR JALAN DALAM KAMPUS ITB DENGAN MENGGUNAKAN BASIS DATA SPASIAL 3 DIMENSI
Pencarian jalur jalan merupakan salah satu analisis yang dilakukan dalam SIG. Analisis penelusuran jalur saat ini masih menggunakan data 2D yang tidak mencukupi untuk melakukan analisis keadaan dunia nyata (3D), karena objek 3D yang direpresentasikan dalam 2D akan mengalami kekurangan informasi spasial beserta hubungan dengan objek lainnya. Penelusuran jalur pada SIG secara konseptual memiliki prinsip dasar yang sama, yaitu menerapkan teori Graf kedalam jaringan jalan. Untuk melakukan analisis pencarian jalur jalan, digunakan algoritma Dijkstra, A* dan Shooting*. Kemudian dibentuk sebuah purwarupa database untuk keperluan navigasi di kampus ITB. Dari proses ini pencarian jalur 3D dapat dilakukan dalam sebuah SIG.
PEMETAAN IDENTIFIKASI UNSUR-UNSUR DAERAH ALIRAN SUNGAI PENYEBAB KERUSAKAN KONDISI WILAYAH PESISIR BERKAITAN DENGAN PENGEMBANGAN ASPEK EKONOMI DAN SOSIAL MASYARAKAT PESISIR
Indonesia memiliki potensi sumber daya wilayah pesisir dan laut, tetapi sebagian besar masyarakat pesisir hidup di dalam kemiskinan. Salah satu penyebabnya adalah kerusakan kondisi lingkungan wilayah pesisir. Daerah Aliran Sungai (DAS), sebagai salah satu unsur yang mempengaruhi kondisi wilayah pesisir, turut memberikan kontribusi atas terjadinya kerusakan tersebut. Kerusakan lingkungan pesisir berdampak secara multidimensional. Namun, pembahasan pada Tugas Akhir ini dibatasi pada aspek ekonomi dan sosial masyarakat pesisir. Untuk mengkaji dan menangani masalah tersebut di atas, pada Tugas Akhir ini, akan diidentifikasi unsur-unsur DAS penyebab kerusakan kondisi wilayah pesisir. Metode identifikasi yang digunakan adalah analisis hubungan sebab-akibat dengan pendekatan matriks korelasi. Kemudian, kerusakan kondisi wilayah pesisir akan dikaitkan dengan aspek ekonomi dan sosial agar dapat diketahui dengan jelas dampak kerusakan lingkungan terhadap masyarakat wilayah pesisir. Berdasarkan pengkajian dan penelitian ini, unsur-unsur DAS penyebab kerusakan wilayah pesisir adalah curah hujan, jaringan sungai, topografi, kondisi tanah, vegetasi, dan penggunaan lahan DAS. Kerusakan lingkungan wilayah pesisir akibat DAS berdampak pada penurunan daya beli masyarakat pesisir (dampak ekonomi) dan terganggunya tatanan kehidupan sosial masyarakat pesisir, seperti aspek kesehatan, dan pendidikan.
PEMETAAN ENTITAS-ENTITAS EKOSISTEM DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN WILAYAH PESISIR
Pengelolaan wilayah pesisir merupakan kegiatan yang meliputi pemanfaatan ruang, sumber daya dan atau ekosistem pada wilayah pesisir. Salah satu bentuk kegiatan yang diperlukan untuk mengoptimalkan proses pengelolaan wilayah pesisir adalah melalui pengembangan basis data ekosistem. Dengan pengembangan basis data ini, berbagai dampak positif yang diakibatkan oleh pembangunan dalam pengelolaan wilayah pesisir dapat dioptimalkan dan berbagai dampak negatif yang diakibatkan oleh pembangunan dalam pengelolaan wilayah pesisir dapat diminimalkan. Pemetaan entitas-entitas ekosistem merupakan salah satu tahap dasar dalam menghasilkan suatu basis data yang bermanfaat dalam mengetahui komponen-komponen penyusun basis data yang diperlukan. Tugas akhir ini disusun untuk mengetahui entitas-entitas ekosistem yang yang diperlukan dengan menggunakan klasifikasi pendekatan berbagai disiplin ilmu yang dapat menunjang pembangunan di wilayah pesisir yang berkelanjutan. Dikarenakan karakteristik setiap ekosistem bersifat unik, maka entitas-entitas ekosistem yang dipetakan pun berbeda. Sehingga penanganan kebijakan perencanaan pembangunan harus mempertimbangkan karakteristik wilayah pesisir dan masyarakat pesisir dengan bertitik tolak pada keterbedaan entitas ekosistem wilayah tersebut.