📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenKAJIAN BIOKIMIA DAN STRUKTUR ?-AMILASE REKOMBINAN BMAN1 DARI BACILLUS MEGATERIUM NL3
Pati merupakan biopolimer alami yang berperan penting sebagai cadangan energi pada tanaman dan tersimpan dalam bentuk granula di biji, akar, serta umbi. Pati tersusun atas dua komponen utama, yaitu amilosa dan amilopektin. Pati memiliki nilai ekonomi tinggi karena dapat dihidrolisis secara enzimatis menjadi gula sederhana yang berfungsi sebagai bahan baku pada produk pangan, farmasi, tekstil, maupun bioetanol. ?-Amilase (1,4-?-D-glukan-glukanohidrolase, EC 3.2.1.1) adalah salah satu enzim penghidrolisis pati yang paling banyak digunakan. Enzim ini memutus ikatan ?-1,4-glikosidik pada rantai polisakarida sehingga menghasilkan oligosakarida linear maupun bercabang. Menurut basis data CAZy (Carbohydrate-Active enZyme), sebagian besar ?-amilase dikelompokkan dalam keluarga glikosida hidrolase GH 13. Keluarga GH13 dicirikan oleh keberadaan triad katalitik lestari, yaitu aspartat sebagai nukleofil, glutamat sebagai donor proton, dan aspartat kedua sebagai penstabil keadaan transisi. Enzim ini juga memiliki domain katalitik berbentuk (????/????)8-barrel dan conserved sequence regions (CSRs) yang khas. Berdasarkan kemiripan urutan dan fungsi biokimia, GH13 terbagi menjadi 49 subkeluarga, salah satunya adalah GH13_45. Beberapa anggota GH13_45 yang telah dipelajari adalah AmyA, Gt-amyII, ASKA, ADTA, BaqA, dan BmaN1. BmaN1, ?-amilase dari Bacillus megaterium NL3, memiliki kemampuan untuk mendegradasi pati mentah. Anggota subkeluarga GH13_45 mampu menghidrolisis pati mentah tanpa domain pengikat pati (starch-binding domain, SBD), sehingga diperkirakan memiliki mekanisme alternatif melalui surface binding sites (SBS). Hasil kajian bioinformatik menunjukkan bahwa BmaN1 memiliki dua keunikan dibandingkan dengan kebanyakan amilase dari subkeluarga GH13_45, yaitu keberadaan ujung domain C yang kaya dengan residu aromatik lestari dan triad katalitik termodifikasi yang terdiri atas Asparta–Glutamat–Histidin menggantikan Aspartat–Glutamat–Aspartat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran 45 residu ujung domain C BmaN1 terhadap aktivitas dan kestabilan enzim, serta mempelajari residu Asp203, Glu231, His294, dan Lys202 yang terdapat pada kantung katalitik BmaN1. Penelitian dilakukan melalui pendekatan eksperimen yang meliputi ekspresi, pemurnian, serta karakterisasi biokimia BmaN1 dan BmaN1?C, serta konstruksi mutan katalitik BmaN1?C (Asp203Ala, Glu231Gln, His294Asp, Lys202Ala, dan Lys202Asp). Di sisi lain, pendekatan in silico melibatkan pemodelan struktur tiga dimensi, penambatan substrat analog akarbosa, serta simulasi dinamika molekul untuk memahami dampak mutasi terhadap interaksi enzim-substrat. BmaN1 diekspresikan dalam bentuk badan inklusi dengan ukuran sekitar 56 kDa, sedangkan BmaN1?C (~49 kDa) lebih banyak ditemukan pada fraksi terlarut. Pemurnian melalui kromatografi afinitas Ni-NTA menghasilkan protein dengan aktivitas spesifik 1,54 ± 0,23 U/mg untuk BmaN1 yang sudah mengalami pelipatan ulang dan 1,69 ± 0,16 U/mg untuk BmaN1?C. Kedua enzim memiliki pH dan suhu optimum yang sama (pH 6,5 dan 50 °C), aktif pada rentang pH 4,5–9,5, serta stabil pada suhu 40–80 °C. Uji degradasi pati mentah menunjukkan bahwa BmaN1 mampu mengadsorpsi pati jagung dan singkong dengan tingkat adsorpsi masing-masing 34% dan 41%. Jumlah gula pereduksi yang dihasilkan BmaN1 dalam menghidrolisis pati mentah jagung dan singkong adalah 6,92 ± 2,30 mM dan 8,02 ± 1,71 mM, dengan persen derajat hidrolisis masing-masing sebesar 3,1% dan 3,6%. Sebaliknya, BmaN1?C tidak mampu mengadsorpsi pati mentah, meskipun tetap aktif terhadap pati larut. Hal ini menunjukkan bahwa 45 residu C-terminal berperan penting dalam interaksi dengan granula pati. Karakterisasi lebih lanjut memperlihatkan bahwa BmaN1?C lebih stabil daripada BmaN1. Setelah inkubasi 4 jam pada kondisi optimum, BmaN1?C mempertahankan 83% aktivitas, sedangkan BmaN1 hanya 50%. Selain itu, baik BmaN1 maupun BmaN1?C memiliki 60% aktivitas terhadap SDS dan EDTA hingga konsentrasi 2,5 mM. Parameter kinetik kedua enzim menunjukkan bahwa BmaN1 memiliki nilai kcat/KM 1,3 lebih tinggi dibandingkan BmaN1?C. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa keberadaan 45 residu asam amino di ujung domain C BmaN1 berperan penting dalam afinitas pengikatan, efisiensi degradasi pati, dan kestabilan enzim. Pemodelan struktur tiga dimensi menunjukkan bahwa BmaN1?C mempertahankan kerangka domain A, B, dan C khas ?-amilase. Superimposisi dengan GTA (PDB: 4E2O) menunjukkan kesamaan spasial residu katalitik, meskipun Asp203 bergeser ke posisi i+1, Glu231 menempati posisi donor proton, dan His294 menggantikan Asp konservatif sebagai penstabil transisi. Mutasi residu pada kantung katalitik menghasilkan dampak signifikan terhadap aktivitas BmaN1?C. Mutan Asp203Ala dan Glu231Gln kehilangan seluruh aktivitas enzimatis. Hasil ini menunjukkan peran Asp203 sebagai nukleofil dan Glu231 sebagai donor proton. Mutasi His294Asp menurunkan aktivitas hingga 80% yang menunjukkan bahwa His294 berfungsi sebagai penstabil keadaan transisi menggantikan peran Asp pada ?-amilase GH13 lain. Mutan Lys202Ala mempertahankan 45% aktivitas, sedangkan Lys202Asp kehilangan seluruh aktivitas, menegaskan peran Lys202 dalam menjaga konformasi kantung pusat aktif. Hasil eksperimen ini membuktikan peran Asp203–Glu231–His294 sebagai triad katalitik serta keterlibatan Lys202 dalam mendukung orientasi residu katalitik. Penambatan akarbosa menunjukkan interaksi erat antara residu pada kantung katalitik dengan ligan, dengan jarak ikatan hidrogen dan interaksi elektrostatis dalam kisaran yang relevan. Selanjutnya, simulasi dinamika molekul dilakukan pada model struktur BmaN1?C dan varian mutan untuk mengevaluasi dampak perubahan struktural akibat mutasi residu katalitik terhadap kinerja enzim. Mutasi Asp203Ala dan Glu231Gln diperkirakan menghilangkan kemampuan enzim untuk menyerang karbon anomerik dan melakukan protonasi terhadap ikatan glikosidik, sehingga reaksi hidrolisis pati tidak berlangsung. Mutasi His294Asp menyebabkan terganggunya jarak ikatan hidrogen, disertai pergeseran posisi residu-residu katalitik menuju lokasi +1 dan +2 dari ikatan glikosidik pati, yang berdampak pada penurunan efisiensi katalitik. Mutasi Lys202Ala masih terdapat aktivitas parsial karena konfigurasi triad katalitik tetap terjaga, sedangkan substitusi dengan asam amino bermuatan negatif seperti aspartat (Lys202Asp) mengganggu aktivitas secara signifikan. Perubahan muatan residu dari positif ke negatif, serta perbedaan ukuran dan orientasi rantai samping, diduga mengganggu posisi residu dan distribusi muatan di sekitar sisi katalitik, sehingga memengaruhi substrat menjauhi sisi katalitik. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan beberapa sumbangan pengetahuan mengenai struktur dan fungsi ?-amilase subkeluarga GH13_45, khususnya BmaN1 dari Bacillus megaterium NL3. Pertama, ujung domain C BmaN1 berperan penting dalam adsorpsi dan degradasi pati mentah, kemungkinan melalui surface binding sites yang tersusun atas residu aromatik. Kedua, BmaN1 memiliki komposisi triad katalitik yang unik Asp-Glu-His, dengan His294 menggantikan Asp konservatif sebagai penstabil transisi. Hal ini menunjukkan adanya variasi mekanisme katalisis di subkeluarga GH13_45 yang belum banyak dilaporkan. Kombinasi keunikan domain C-terminal dan triad katalitik atipikal tidak hanya penting untuk pemahaman dasar biokimia enzim, tetapi juga membuka peluang aplikasi bioteknologi yang lebih luas dalam pengolahan pati, produksi bioenergi, maupun industri pangan.
PEMODELAN SKENARIO KEBIJAKAN DAN DINAMIKA PASAR SERTIFIKAT ENERGI TERBARUKAN DI INDONESIA: PENDEKATAN DINAMIKA SISTEM
Komitmen Indonesia untuk mencapai target energi terbarukan dan dekarbonisasi nasional menuntut adanya instrumen kebijakan yang mampu mendorong investasi swasta sekaligus menjaga stabilitas pasar. Meskipun Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, realisasi pengembangannya masih tertinggal akibat tingginya biaya investasi awal, periode pengembalian yang panjang, serta keterbatasan fiskal pemerintah dalam menyediakan subsidi langsung secara berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, Renewable Energy Certificate (REC) diperkenalkan sebagai instrumen berbasis pasar yang bertujuan menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi pengembang energi terbarukan serta mendukung permintaan sukarela dari konsumen listrik, khususnya sektor korporasi. Namun demikian, sebagai pasar yang masih berada pada tahap awal pengembangan, pasar REC di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, termasuk volatilitas harga, lemahnya sinyal investasi, serta terbatasnya efektivitas intervensi kebijakan yang diterapkan secara parsial. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi bagaimana berbagai skenario kebijakan REC memengaruhi stabilitas pasar serta pengembangan kapasitas energi terbarukan di Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan system dynamics yang memungkinkan analisis interaksi dinamis dan bergantung waktu antara permintaan REC, penawaran REC, perilaku harga, alokasi keuntungan, serta keputusan investasi energi terbarukan. Berbeda dengan pendekatan statis atau equilibrium, system dynamics mampu merepresentasikan mekanisme umpan balik (feedback loops), keterlambatan konstruksi, dan perilaku adaptif pasar yang menjadi karakteristik utama pasar sertifikat energi terbarukan pada tahap awal. Model system dynamics yang dikembangkan merepresentasikan sistem perdagangan REC di Indonesia dalam horizon waktu 2025–2035. Model ini disusun berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari PT PLN (Persero), Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, serta berbagai literatur akademik dan laporan kebijakan, serta dilengkapi dengan wawancara pemangku kepentingan untuk keperluan validasi model. Sebanyak tiga belas skenario kebijakan dianalisis, yang terdiri atas satu skenario dasar (Business-as-Usual), lima skenario intervensi kebijakan tunggal, dan tujuh skenario kebijakan multi-faktor. Instrumen kebijakan yang diuji meliputi peningkatan kemauan beli konsumen, perilaku pembelian ulang REC, alokasi reinvestasi keuntungan REC ke proyek energi terbarukan, serta dukungan subsidi pemerintah. Kinerja masing-masing skenario dievaluasi menggunakan lima indikator utama, yaitu tingkat harga REC, volatilitas harga REC, volume perdagangan REC kumulatif, keuntungan REC kumulatif, serta total kapasitas terpasang energi terbarukan hingga tahun 2035. Hasil simulasi menunjukkan bahwa skenario intervensi kebijakan tunggal hanya menghasilkan perbaikan marginal dan tidak mampu mengatasi permasalahan mendasar terkait ketidakstabilan pasar. Sebaliknya, skenario kebijakan multi-faktor menunjukkan kinerja yang jauh lebih kuat melalui aktivasi mekanisme umpan balik penguatan antara kinerja pasar dan investasi energi terbarukan. Di antara seluruh skenario yang diuji, skenario High Intervention Strategy menunjukkan hasil paling optimal. Pada skenario ini, harga REC mencapai Rp95.639, keuntungan REC terakumulasi melampaui Rp6,22 triliun, volume perdagangan kumulatif melebihi 103 juta sertifikat, dan kapasitas terpasang energi terbarukan meningkat hingga 55,81 GW pada tahun 2035. Temuan ini menegaskan pentingnya desain kebijakan yang terintegrasi, di mana insentif sisi permintaan, dukungan fiskal, dan mekanisme reinvestasi diterapkan secara simultan, bukan secara terpisah. Secara khusus, reinvestasi keuntungan dari perdagangan REC terbukti menjadi mekanisme kunci dalam menerjemahkan aktivitas pasar menjadi pertumbuhan kapasitas energi terbarukan yang berkelanjutan, meskipun terdapat keterlambatan akibat proses konstruksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas pasar REC di Indonesia tidak ditentukan oleh satu instrumen kebijakan secara individual, melainkan oleh keselarasan dan interaksi berbagai instrumen kebijakan. Pasar REC yang dirancang dengan baik dan didukung oleh intervensi kebijakan yang terkoordinasi serta mekanisme stabilisasi harga yang memadai berpotensi berfungsi sebagai instrumen pelengkap kebijakan energi nasional, termasuk RUKN dan RUPTL. Dengan menyediakan sinyal investasi yang kredibel dan meningkatkan tingkat kematangan pasar, REC dapat berkontribusi secara signifikan terhadap pencapaian transisi energi terbarukan jangka panjang di Indonesia. Penelitian ini memberikan kontribusi akademik dengan menghadirkan salah satu kajian awal berbasis system dynamics yang secara komprehensif mengevaluasi skenario kebijakan pasar REC di Indonesia. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pembuat kebijakan dan pelaku pasar dalam merancang kebijakan REC yang efektif, adaptif, dan berkelanjutan secara finansial di pasar energi terbarukan yang sedang berkembang.
PERAN KETERLIBATAN KOMUNITAS DALAM MENINGKATKAN EKUITAS MEREK MELALUI PEMBENTUKAN KEPERCAYAAN MEREK: STUDI PADA KOMUNITAS BARUDAK KALUNAR
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran community engagement dalam meningkatkan brand equity melalui brand trust pada komunitas Barudak Kalunar. Secara khusus, penelitian ini menguji pengaruh participation, interaction, dan emotional value terhadap community engagement, serta bagaimana community engagement meningkatkan brand trust dan implikasi strategis dari peran brand trust dalam memperkuat brand equity. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS). Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur kepada 200 anggota komunitas Barudak Kalunar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emotional value dan participation berpengaruh signifikan terhadap community engagement, sedangkan interaction tidak berpengaruh signifikan. Community engagement terbukti meningkatkan brand trust secara signifikan, dan brand trust memiliki peran penting dalam memperkuat brand equity. Temuan ini mengindikasikan bahwa keterikatan emosional dan partisipasi aktif lebih berpengaruh dalam membangun engagement dan trust dibandingkan sekadar frekuensi interaksi. Penelitian ini memberikan implikasi strategis bagi pengelolaan komunitas berbasis merek, dengan menekankan pentingnya mekanisme pembangunan kepercayaan secara sistematis sebagai jalur utama dalam meningkatkan brand equity secara berkelanjutan.
PENYELARASAN INDIKATOR PELAPORAN EKSTERNAL MENJADI KERANGKA STRATEGI DAN MANAJEMEN KINERJA INTERNAL MELALUI BALANCED SCORECARD DAN NINE STEPS TO SUCCESS™ DI RSUD JAMPANGKULON
RSUD Jampangkulon dituntut untuk meningkatkan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) dan memenuhi Indikator Nasional Mutu (INM) oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Namun secara internal, strategi untuk mencapainya belum tergambar jelas, baik mengenai langkah yang perlu dilakukan maupun siapa yang harus bertanggung jawab. Di sisi lain, indikator kinerja yang dilaporkan ke pihak eksternal sudah banyak, tetapi praktiknya masih berfokus pada kepatuhan pelaporan. Indikator tersebut belum dimanfaatkan sebagai bahan monitoring dan evaluasi internal, sehingga masalah yang muncul, akar penyebabnya, serta kontribusi tiap unit terhadap masalah tersebut sulit ditelusuri dan ditindaklanjuti secara konsisten. Penelitian ini bertujuan merancang kerangka strategi dan manajemen kinerja yang ringan, berbasis KPI yang sudah familiar, serta dapat di cascade dari level rumah sakit ke bagian, bidang, dan unit kerja. Metode yang digunakan menggabungkan Systematic Literature Review dan Value Focused Thinking untuk memilih pendekatan, kemudian menyusun Balanced Scorecard sebagai strategy framework dengan panduan Nine Steps to Success melalui analisis dokumen, pemetaan proses, dan diskusi terarah dengan pemangku kepentingan. Hasil penelitian berupa strategy map dan strategic objectives, pemilihan KPI inti beserta KPI dictionary, serta rancangan cascading yang memperjelas pembagian peran dan akuntabilitas. Kesimpulannya, rancangan ini mengubah KPI dari sekadar angka pelaporan eksternal menjadi alat kontrol dan pengarah strategi, sekaligus memperjelas kepemilikan KPI dalam pengelolaan kinerja internal
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL PABRIK MANUFAKTUR AUTOCLAVED AERATED CONCRETE (AAC) DI MUARA BADAK KALIMANTAN TIMUR (STUDI KASUS PT ANTO JAYA MANUFAKTUR)
Penelitian ini bertujuan untuk menilai kelayakan finansial pembangunan pabrik Autoclaved Aerated Concrete (AAC) tipe greenfield di Muara Badak, Kalimantan Timur, oleh PT Anto Jaya Manufaktur. Proyek ini didukung oleh kondisi backlog perumahan struktural, pertumbuhan kredit properti yang berkelanjutan, serta agenda pembangunan jangka panjang terkait Ibu Kota Nusantara (IKN). Namun, struktur pendanaan yang direncanakan bersifat leveraged dengan komposisi 80% utang, sehingga meningkatkan risiko finansial. Analisis dilakukan menggunakan model keuangan terintegrasi selama 10 tahun yang mencakup proyeksi laporan laba rugi, neraca, dan arus kas. Evaluasi investasi menggunakan indikator Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period, Profitability Index (PI), serta Equity IRR, dengan tingkat diskonto berdasarkan Weighted Average Cost of Capital (WACC). Analisis risiko dilakukan melalui uji sensitivitas dan simulasi Monte Carlo. Hasil menunjukkan bahwa dalam skenario dasar, proyek layak secara finansial dengan NPV sebesar Rp 104,86 miliar dan IRR 20,69%, lebih tinggi dari WACC sebesar 10,06%. Nilai PI sebesar 1,58 dan Payback Period 5,3 tahun (6,8 tahun secara diskonto) menunjukkan penciptaan nilai yang memadai. Equity IRR mencapai 52,84%, dengan rasio DSCR di atas 1,0x dan LLCR di atas 1,5x. Meskipun leverage meningkatkan imbal hasil pemegang saham, analisis risiko menunjukkan sensitivitas terhadap perubahan pendapatan dan biaya, dengan probabilitas NPV positif sebesar 69,4%. Oleh karena itu, pengendalian biaya dan stabilitas utilisasi menjadi kunci keberlanjutan finansial proyek.
DESIGNING A SOCIAL BUSINESS MODEL TO EMPOWER PERSONS WITH DISABILITIES THROUGH ART THERAPY-BASED COMMUNITY ENGAGEMENT.
Amisbudi, sebuah inisiatif berbasis seni di bawah naungan Yayasan Our Dream Indonesia, memberdayakan remaja neurodivergen—terutama penyandang autisme dan Down Syndrome, melalui kegiatan melukis dan ekspresi kreatif. Penelitian ini membahas keterbatasan operasional Amisbudi saat ini, seperti ketergantungan berlebih pada satu pendiri dan ketiadaan model bisnis formal. Dengan mengusulkan kerangka Social Business Model Canvas (SBMC) dan Social Return on Investment (SROI), penelitian ini bertujuan menciptakan sistem yang berkelanjutan dan dapat direplikasi yang mengedepankan keterlibatan komunitas, diversifikasi pendapatan, dan dampak sosial yang terukur. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran melalui wawancara pemangku kepentingan, survei, benchmarking, serta analisis internal-eksternal. Hasil penelitian menghasilkan rancangan strategis SBMC serta data kerangka SROI untuk Amisbudi, menawarkan jalur pengembangan melalui kolaborasi program CSR dan perluasan berbasis relawan. Tesis ini memberikan kontribusi pada wacana kewirausahaan sosial inklusif di Indonesia, khususnya dalam ranah terapi seni untuk penyandang disabilitas.
MERANCANG EXTENDED PRODUCER RESPONSIBILITY (EPR) YANG EFEKTIF DI INDONESIA: ANALISIS KOMPARATIF DENGAN EPR DI JEPANG
Indonesia saat ini menghadapi tantangan kritis terkait polusi plastik laut, dan menempati peringkat sebagai salah satu kontributor terbesar di dunia untuk sampah plastik yang tidak terkelola. Untuk mengatasi krisis ini, pemerintah Indonesia memberlakukan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 75/2019 (Permen LHK No. 75/2019), yang mewajibkan produsen untuk mengurangi sampah sebesar 30% pada tahun 2029. Namun, kerangka peraturan saat ini sebagian besar beroperasi sebagai pendekatan "soft-law" tanpa mekanisme pendanaan wajib atau Organisasi Tanggung Jawab Produsen (Producer Responsibility Organization/PRO) yang ditunjuk, yang mengarah pada inisiatif yang terfragmentasi dan kepatuhan yang terbatas. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan institusional dan fiskal dalam menerapkan sistem Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas (Extended Producer Responsibility/EPR) yang efektif untuk kemasan plastik di Indonesia dengan menggunakan Undang-Undang Daur Ulang Wadah dan Kemasan Jepang sebagai tolok ukur yang matang. Penelitian ini menjawab tiga pertanyaan utama: (1) Apa perbedaan arsitektur utama dalam sistem EPR antara Indonesia dan Jepang? (2) Sejauh mana kontribusi produsen dapat menutupi biaya pengumpulan dan pemilahan di Indonesia (didefinisikan sebagai "EPR Revenue Gap")? dan (3) Faktor struktural apa yang menghambat penerapan penuh EPR di Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, studi ini menggunakan pendekatan metode campuran yang menggabungkan analisis SWOT komparatif, simulasi analisis kesenjangan (gap analysis) kuantitatif, dan analisis PESTEL kualitatif. Analisis SWOT komparatif mengungkapkan adanya "kekosongan institusional" (institutional void) yang mendasar di Indonesia. Tidak seperti Jepang, di mana Asosiasi Daur Ulang Wadah dan Kemasan Jepang (JCPRA) berfungsi sebagai perantara pusat untuk mengumpulkan dana dan mengoptimalkan logistik, model "Tanggung Jawab Produsen Individu" di Indonesia bergantung pada peta jalan (roadmap) tingkat perusahaan yang terputus-putus. Fragmentasi ini mengakibatkan biaya transaksi yang tinggi dan mencegah skala ekonomi yang diperlukan untuk pengelolaan sampah yang efisien. Simulasi kuantitatif memperkenalkan konsep baru "EPR Revenue Gap," yang didefinisikan sebagai selisih antara potensi pendapatan EPR yang dikumpulkan dari produsen dan pengeluaran yang diperlukan untuk pengumpulan dan pemilahan sampah. Dengan memodelkan dua skenario institusional—Skenario 1 (Gaya Jepang, hanya mencakup biaya daur ulang) dan Skenario 2 (Cakupan biaya penuh)—dan melakukan analisis sensitivitas pada tingkat kontribusi dan cakupan penjualan, studi ini memberikan bukti empiris tentang keberlanjutan fiskal. Hasilnya menunjukkan bahwa bahkan di bawah asumsi yang paling optimis, di mana tingkat kontribusi digandakan dan kepatuhan dimaksimalkan, pendapatan EPR saja secara struktural tidak mencukupi untuk menutupi biaya penuh pengumpulan dan pemilahan di Indonesia. Temuan ini menantang penerapan prinsip "Pemulihan Biaya Penuh" (Full Cost Recovery) dalam konteks Indonesia. Selanjutnya, analisis PESTEL mengidentifikasi hambatan struktural multidimensi yang melanggengkan kesenjangan ini. Secara ekonomi, pasar didominasi oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) informal, yang menciptakan masalah "penumpang gelap" (free-rider) yang masif dan membatasi basis pendapatan yang dapat dikumpulkan. Secara lingkungan, geografi kepulauan Indonesia secara inheren meningkatkan biaya logistik untuk rantai pasokan balik (reverse supply chain). Secara sosial, ketergantungan sistem yang besar pada sektor informal (pemulung) menciptakan struktur ganda yang sulit diintegrasikan ke dalam kerangka hukum formal tanpa menggusur mata pencaharian. Berdasarkan temuan ini, studi ini menyimpulkan bahwa upaya untuk menerapkan model EPR mandiri dengan biaya penuh adalah tidak realistis secara finansial bagi Indonesia dalam jangka pendek. Sebagai gantinya, studi ini mengusulkan transisi ke arsitektur "Tata Kelola Hibrida" (Hybrid Governance). Model ini merekomendasikan: (1) pembentukan PRO semi-publik untuk memusatkan administrasi dan mengurangi biaya transaksi; (2) mengadopsi pendekatan "Tanggung Jawab Bersama" (Shared Responsibility) di mana produsen membiayai daur ulang sementara dana publik mendukung pengumpulan; dan (3) mengontrak sektor informal secara formal untuk mengoptimalkan biaya dan memastikan inklusi sosial. Penelitian ini berkontribusi pada literatur dengan memberikan dasar kuantitatif untuk desain kebijakan EPR di negara-negara berpenghasilan menengah, menggeser perdebatan dari apakah akan memperkenalkan EPR menjadi bagaimana merancang arsitektur yang berkelanjutan secara fiskal yang mengakomodasi kendala struktural.
DIGITAL MARKETPLACE MARKETING STRATEGY FOR UNDERPERFORMING HERBAL TEA PRODUCTS
Studi ini meneliti strategi optimasi visibilitas pasar untuk JSR Rimpang Tea, minuman kesehatan herbal yang berkinerja buruk yang dijual di platform Shopee di Indonesia. Meskipun persepsi kualitas produknya kuat, JSR Rimpang Tea mengalami kinerja penjualan yang lemah terutama karena visibilitas algoritmik yang terbatas, penemuan organik yang rendah, dan kurangnya bukti sosial, bukan karena kekurangan produk. Menggunakan pendekatan studi kasus metode campuran, penelitian ini mengintegrasikan data kinerja pasar kuantitatif dari Shopee Analytics, survei konsumen terhadap 200 responden, benchmarking kompetitif menggunakan kerangka kerja bauran pemasaran 4P, dan wawasan kualitatif dari wawancara terstruktur dengan pemilik bisnis. Temuan menunjukkan bahwa mekanisme algoritmik Shopee—khususnya peringkat pencarian, sinyal keterlibatan, dan sistem rekomendasi—memainkan peran penting dalam mendorong perilaku pembelian semi-impulsif dalam konteks UKM yang terbatas sumber daya. Studi ini mengembangkan kerangka kerja optimasi visibilitas pasar yang diprioritaskan dan berorientasi pada UKM yang menekankan strategi berdampak tinggi dan berbiaya rendah seperti optimasi kata kunci, akumulasi ulasan sistematis, penyesuaian harga berdasarkan tingkatan nilai, partisipasi dalam flash sale, dan kolaborasi influencer selektif. Kerangka kerja ini memberikan panduan praktis bagi UKM dengan anggaran dan kapasitas organisasi terbatas untuk meningkatkan visibilitas dan kinerja penjualan. Studi ini memberikan wawasan spesifik konteks tentang dinamika e-commerce Indonesia dan menawarkan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti untuk meningkatkan kinerja pasar digital dalam kategori minuman herbal fungsional.
PENGARUH PAPARAN PERBANDINGAN SOSIAL DI TIKTOK TERHADAP NIAT PEMBELIAN PADA GENERASI Z DI INDONESIA DENGAN PERAN MEDIASI FEAR OF MISSING OUT (FOMO)
Platform media sosial telah mengubah perilaku konsumen dengan menciptakan lingkungan di mana paparan perbandingan sosial memicu Fear of Missing Out (FoMO) yang mendorong keputusan pembelian berbeda tergantung jenis produk. Menggunakan desain kuantitatif dengan 247 pengguna media sosial dan dianalisis menggunakan PLS-SEM, penelitian ini menguji bagaimana paparan perbandingan sosial memengaruhi niat beli melalui tiga dimensi FoMO, Social, Transactional, dan Informational FoMO, sambil menguji apakah jenis produk (hedonis vs. utilitarian) memoderasi hubungan tersebut. Hasil menunjukkan paparan perbandingan sosial memengaruhi niat beli baik langsung (? = 0,361-0,385, p < 0,001) maupun tidak langsung melalui FoMO. Hanya Social FoMO dan Transactional FoMO yang memprediksi niat beli, sementara Informational FoMO tidak signifikan. Social FoMO muncul sebagai mediator terkuat (? = 0,207-0,202, p < 0,005) dengan mediasi penuh di kedua konteks, sementara Transactional FoMO memediasi hanya pada konteks hedonis. Model menunjukkan daya penjelas kuat dengan R2 = 0,770 untuk hedonis dan R2 = 0,748 untuk utilitarian. Jenis produk hanya memoderasi hubungan Transactional FoMO-niat beli pada produk hedonis (? = 0,178, p = 0,011). Temuan menunjukkan konsumen membeli terutama untuk mempertahankan keterhubungan sosial daripada alasan informasional, mengungkapkan peluang strategis bagi merek untuk menekankan keterlibatan komunitas dalam pemasaran media sosial, sementara penelitian masa depan sebaiknya mengeksplorasi mekanisme psikologis tambahan.
BUSINESS STRATEGY FOR INCREASING SALES CONVERTION RATE IN PT. TIGA MITRA INTERNUSA
PT Tiga Mitra Internusa (TMI) adalah perusahaan maufaktur dan pemasok barang enjinering yang didirikan pada tahun 2018. TMI berfokus pada produk Fastening Sistem, Flexible Joint, Thermal Insulation, Corrosion Protection, Sealing Equipment, dan Piping Equipment lainnya. TMI memiliki segment pasar yang bergerak dibidang energy seperti Oil & Gas, Power Plant, dan Industri lainnya yang menggunakan system pemipaan untuk proses operasinya. Berdasarkan segment pasar tersebut, TMI bertransaksi secara B2B dikarenakan tipikal pelanggan yang sudah memiliki regulasi secara sistematis pada regulasi proses pengadaan barang dan jasa. Dalam proses pengedaan barang dan jasak tingkat keberhasilan (win rate) dalam proses penawaran masih relatif rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi factor faktor utama internal dan eksternal yang memengaruhi rendahnya win rate TMI, mengevaluasi strategi bisnis perusahaan dibandingkan dengan para pesaing, serta merumuskan strategi bisnis yang terintegrasi untuk meningkatkan kinerja penjualan dan memperkuat posisi kompetitif perusahaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan metode kualitatif, yang didukung oleh analisis data internal perusahaan dan wawancara mendalam dengan manajemen serta pihak terkait. Analisis lingkungan eksternal dilakukan menggunakan kerangka PESTEL dan Porter’s Five Forces, sementara analisis internal menggunakan Resource Based View (RBV), Value Chain Analysis (VCA), dan BCG Matrix. Hasil analisis menunjukkan bahwa keunggulan utama TMI terletak pada fleksibilitas produk, kemampuan kustomisasi, jaringan pemasok yang adaptif, serta pemahaman teknis terhadap kebutuhan pelanggan. Namun, perusahaan masih menghadapi tantangan berupa tekanan harga, keterbatasan efisiensi proses penawaran, serta ketergantungan pada spesifikasi yang ditentukan oleh pelanggan dan pemasok eksisting. Berdasarkan sintesis analisis internal dan eksternal, disusun strategi melalui TOWS Matrix yang berfokus pada diferensiasi berbasis produk, optimalisasi struktur biaya, dan penguatan hambatan masuk pelanggan melalui pendekatan teknis dan relasional. Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas proses penawaran, memperbaiki win rate, serta memposisikan TMI sebagai mitra engineering yang bernilai tambah dan berkelanjutan.
PEMILIHAN LOKASI BENGKEL LAYANAN MENGGUNAKAN MCLP BERBASIS JARINGAN DAN ANALISIS KEPUTUSAN MULTI-KRITERIA: MENGINTEGRASIKAN AKSESIBILITAS, KESESUAIAN INDUSTRI, DAN PENILAIAN RISIKO BANJIR DI JAWA TIMUR
Lokasi fasilitas merupakan salah satu tantangan strategis terpenting yang dihadapi oleh usaha kecil dan menengah (UKM), terutama yang berfokus pada jasa, karena mereka perlu mengelola efisiensi operasional, kesesuaian pasar, dan faktor lingkungan. PT Cahaya Amanah Nusantara (PT CAN), sebuah perusahaan kecil di Indonesia yang menyediakan jasa perawatan dan perbaikan pendingin, tertarik untuk memperluas lokasi bengkelnya di seluruh Jawa Timur, yang memiliki beragam jaringan jalan, distribusi industri yang tidak konsisten, dan tingkat paparan lingkungan yang bervariasi. Perusahaan akan membutuhkan proses analitis terstruktur untuk mengevaluasi opsi lokasi selain penilaian intuitif atau perhitungan jarak sederhana. Studi ini menggunakan analisis lokasi fasilitas, model berbasis jaringan untuk mengevaluasi akses, dan analisis keputusan multi-kriteria (MCDA) dengan pengukuran geospasial. Penelitian ini menggunakan kerangka kerja tiga bagian yang berurutan, yang mengintegrasikan evaluasi kinerja aksesibilitas, evaluasi konteks strategis, dan evaluasi risiko spasial ke dalam satu alur kerja analitis. Kerangka kerja ini mendukung peran penilaian manajerial sebagai bagian dari keputusan lokasi fasilitas secara konsisten di seluruh indikator spasial dan operasional. Studi ini terdiri dari tiga fase analitis. Kerangka kerja 1 mengevaluasi aksesibilitas menggunakan waktu tempuh jaringan jalan berdasarkan data OpenStreetMap dan area layanan SLA (SLA) berbobot permintaan untuk mengembangkan daftar pendek lokasi hub kandidat berdasarkan jarak tempuh dari area pengaruh masingmasing hub menggunakan teknik penyaringan MCLP. Kerangka kerja 2 menentukan kesesuaian spasial dengan menggabungkan tingkat aktivitas industri menjadi indeks untuk area tersebut dikombinasikan dengan paparan banjir pesisir yang digunakan untuk mengembangkan dua indeks yang dinormalisasi, yaitu indeks strategis dan indeks lingkungan. Kerangka kerja 3 menggunakan proses Analisis Keputusan Multikriteria tipe Kombinasi Linier Berbobot (WLC), yang pertama-tama menerapkan teknik normalisasi pada semua indikator kemudian memberi bobot pada indikator berdasarkan prioritas operasional manajer. Menurut hasil analisis, Kabupaten Gresik menempati peringkat tertinggi pada skor komposit (0,937016) berdasarkan akses komunikasi yang kuat dan faktor strategis yang kompatibel bila dinilai menurut asumsi pemodelan yang digunakan dalam penelitian ini. Kerangka kerja ini memberikan panduan kepada manajemen PT CAN untuk membuat keputusan implementasi berdasarkan dokumentasi, metodologi pendukung keputusan yang konsisten secara internal, dan bukan menggunakan penilaian pribadi untuk membuat keputusan implementasi akhir. Studi ini mendukung hipotesis bahwa kerangka kerja perencanaan lokasi fasilitas geospasial yang terstruktur, sumber terbuka, dan berorientasi pada UKM dapat dikembangkan dan diterapkan untuk membantu UKM di lingkungan yang heterogen dan rawan risiko.
USULAN PERANCANGAN SISTEM MANAGEMEN KINERJA PERUSAHAAN MENGGUNAKAN KERANGKA KNOWLEDGE- BASED PERFORMANCE MANAGEMENT SYSTEM PADA PT WLL
Industri manufaktur makanan dan minuman merupakan salah satu kontributor utama bagi perekonomian Indonesia, namun banyak perusahaan masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan kinerja. PT WLL, sebuah perusahaan manufaktur makanan berskala menengah yang berlokasi di Bandung, mengalami penurunan volume penjualan kecap di wilayah Jawa Barat dari 3 juta liter pada tahun 2019 menjadi 2,3 juta liter pada tahun 2024, meskipun beroperasi di pasar yang besar dan matang. Sistem evaluasi kinerja perusahaan masih didominasi oleh indikator keuangan, sehingga kurang mampu menangkap faktor pendorong kinerja operasional dan organisasi secara menyeluruh, serta menunjukkan perlunya sistem manajemen kinerja yang lebih komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk merancang Knowledge-Based Performance Management System (KBPMS) bagi PT WLL. Kerangka konseptual terintegrasi digunakan dengan mengombinasikan analisis eksternal menggunakan Five Forces Porter, analisis internal melalui kerangka VRIO, serta diagnosis akar masalah menggunakan Current Reality Tree (CRT). Penelitian ini menggunakan data kualitatif dan kuantitatif. Data primer dikumpulkan melalui focus group discussion (FGD) terstruktur yang melibatkan direktur dan lima manajer fungsional, sedangkan data sekunder diperoleh dari laporan keuangan perusahaan, catatan produksi dan operasional, serta dokumen internal perusahaan. Key Performance Indicators (KPI) dikembangkan dalam tiga perspektif, yaitu Business Result, Internal Process, dan Resource Capability, dan Analytical Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk menentukan prioritas KPI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenjangan utama kinerja PT WLL terletak pada belum adanya KPI non-keuangan yang terstruktur dan terintegrasi yang menghubungkan strategi dengan pelaksanaan operasional. KBPMS yang diusulkan menyediakan dasar yang sistematis untuk pemantauan kinerja, penyelarasan strategi, dan perbaikan berkelanjutan bagi perusahaan manufaktur berskala menengah.
ANALISIS KESENJANGAN KETERLIBATAN DAN KONVERSI DI TIKTOK: STRATEGI PEMASARAN DIGITAL BERBASIS AISAS UNTUK FOTOHOKKIE
Pertumbuhan pesat platform video berdurasi pendek telah menciptakan kontradiksi dalam kinerja pemasaran digital, di mana tingginya tingkat keterlibatan audiens tidak selalu menghasilkan outcome bisnis yang terukur. Salah satu manifestasi dari fenomena tersebut adalah kesenjangan keterlibatan–konversi, yaitu kondisi ketika metrik interaksi yang kuat tidak mampu menghasilkan trafik website maupun konversi pemesanan secara optimal. Penelitian ini mengkaji kesenjangan keterlibatan–konversi yang dialami oleh Fotohokkie, sebuah perusahaan jasa fotografi di Indonesia. Meskipun Fotohokkie mencatat tingkat jangkauan For You Page (FYP) rata-rata di atas 90% di TikTok, platform tersebut hanya berkontribusi kurang dari 5% terhadap total trafik website dan kinerja pemesanan, yang mengindikasikan ketidakefisienan dalam mengonversi keterlibatan menjadi outcome bisnis yang berkualitas. Penelitian ini menggunakan model AISAS (Attention, Interest, Search, Action, Share) sebagai kerangka teoritis utama untuk menganalisis perilaku pengambilan keputusan konsumen dalam lingkungan digital. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi tahapan proses pengambilan keputusan konsumen yang dialami oleh pengguna TikTok saat berinteraksi dengan konten Fotohokkie, (2) menguji hubungan antara atribut konten TikTok, termasuk format konten dan gaya call-toaction (CTA), dengan perilaku click-through menuju website Fotohokkie, serta (3) merumuskan strategi pemasaran TikTok berbasis data yang dapat meningkatkan trafik website berkualitas dan kinerja konversi pemesanan. Selain itu, persepsi usefulness dan informativeness digunakan untuk menjelaskan evaluasi audiens terhadap efektivitas konten. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods eksplanatori. Data kuantitatif diperoleh melalui analitik performa TikTok, metrik referral website, data kinerja pemesanan selama periode enam bulan, serta survei terhadap pengikut TikTok Fotohokkie (N = 213) menggunakan skala Likert 7 poin. Uji reliabilitas menggunakan Cronbach’s Alpha menunjukkan bahwa seluruh konstruk memiliki konsistensi internal yang memadai. Analisis statistik inferensial digunakan untuk menguji hubungan antara atribut konten dan indikator perilaku click-through. Data kualitatif dianalisis menggunakan thematic analysis terhadap wawancara dengan pemangku kepentingan internal dan umpan balik terbuka audiens untuk memberikan penjelasan kontekstual terhadap temuan kuantitatif. Triangulasi data diterapkan untuk memperkuat validitas penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konten TikTok efektif dalam menghasilkan perhatian dan minat audiens, namun memiliki keterbatasan dalam mendorong transisi ke tahap pencarian dan tindakan. Hasil survei menunjukkan tingkat niat pemesanan yang tinggi (nilai rata-rata > 6 dari 7), tetapi perilaku click-through relatif lebih rendah dibandingkan indikator keterlibatan, yang mencerminkan adanya diskontinuitas perilaku antara konsumsi konten dan perpindahan platform. Temuan kualitatif juga menunjukkan bahwa inkonsistensi implementasi CTA, fragmentasi informasi lintas platform, serta persepsi kompleksitas proses pemesanan menjadi faktor utama yang membatasi kinerja konversi. Temuan ini mengonfirmasi bahwa TikTok saat ini berfungsi terutama sebagai kanal awareness dan engagement tingkat awal bagi Fotohokkie. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, rekomendasi strategis diformulasikan melalui standarisasi CTA, perencanaan konten berbasis tahapan funnel AISAS, serta optimasi jalur konversi guna meningkatkan kontribusi TikTok terhadap trafik website berkualitas dan kinerja pemesanan.
REPOSISI LEGO DI PASAR AMERIKA SERIKAT: MENAVIGASI KEBERLANJUTAN, SENTIMEN KONSUMEN, DAN KELELAHAN MEREK (2014–2020)
Tesis ini membahas reposisi merek LEGO di Amerika Serikat pada periode 2014–2020 sebagai respons terhadap kejenuhan merek, tuntutan keberlanjutan, dan meningkatnya persaingan dari perusahaan mainan berbasis digital. Penelitian ini menganalisis bagaimana LEGO menanggapi penurunan keterlibatan konsumen dalam pasar mainan yang terdigitalisasi dan semakin kompetitif. Reposisi merek LEGO dilakukan melalui tiga inisiatif utama, yaitu branding naratif melalui The LEGO Movie, ekspansi merek digital melalui LEGO Life, serta upaya keberlanjutan dengan penggunaan material berbasis tanaman. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis data sekunder, hasil penelitian menunjukkan bahwa reposisi ini berhasil mengubah persepsi LEGO dari produsen mainan tradisional menjadi merek yang berorientasi pada tujuan dan terintegrasi secara digital. Namun demikian, upaya keberlanjutan LEGO masih memerlukan pengembangan lebih lanjut karena ketergantungan pada plastik berbasis minyak bumi. Keberlanjutan merek LEGO ke depan bergantung pada percepatan adopsi material berkelanjutan dan pemeliharaan kepercayaan konsumen.
MENEMUKAN KESEIMBANGAN ANTARA KETERLIBATAN DAN KEASLIAN: STRATEGI PHYGITAL DALAM ORGANISASI SENI PERTUJUNKAN
The Integrasi teknologi digital yang semakin berkembang dalam pertunjukan langsung telah mendorong organisasi seni pertunjukan untuk mengadopsi strategi phygital yang menggabungkan pengalaman fisik dan digital. Meskipun pendekatan ini menawarkan peluang baru dalam hal keterlibatan audiens, aksesibilitas, dan penciptaan pendapatan, strategi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terkait pelestarian keaslian artistik dan esensi kehadiran langsung (liveness). Ketegangan ini menyoroti kebutuhan penting untuk memahami bagaimana inovasi digital dapat diintegrasikan secara strategis tanpa menggerus nilai-nilai artistik inti dalam seni pertunjukan. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana organisasi seni pertunjukan menyeimbangkan keterlibatan dan keaslian melalui strategi phygital, dengan fokus pada balet, opera, dan tari kontemporer. Menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dan komparatif, studi ini menganalisis kasus-kasus dari Eropa dan Asia Tenggara melalui wawancara dan data sekunder. Hasil penelitian mengungkapkan dua pendekatan dominan: digital extension, yang mempertahankan pertunjukan panggung tradisional, dan digital creation, yang mendefinisikan ulang pertunjukan melalui teknologi imersif. Konteks budaya muncul sebagai faktor kunci yang membentuk strategi institusional maupun persepsi audiens terhadap keaslian. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi phygital yang berhasil memerlukan kompromi yang disadari, di mana keterlibatan dan keaslian dinegosiasikan, bukan dimaksimalkan secara bersamaan. Kontribusi penelitian ini terletak pada penyediaan kerangka kerja yang berlandaskan konteks budaya untuk memahami strategi phygital dalam seni pertunjukan, serta menunjukkan bagaimana organisasi dapat membuat pilihan strategis yang tepat antara digital extensiondan digital creation guna menyeimbangkan keterlibatan dan keaslian. Dengan menyoroti peran konteks budaya dalam pengambilan keputusan tersebut, penelitian ini memberikan wawasan praktis bagi organisasi seni pertunjukan yang ingin mengintegrasikan inovasi digital tanpa mengorbankan integritas artistik.