📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenANALISIS PENGARUH FAKTOR-FAKTOR TERHADAP PERILAKU SHOPPING CART ABANDONMENT KONSUMEN PADA SHOPEE
Pertumbuhan e-commerce di Indonesia mendorong peningkatan aktivitas belanja daring, namun shopping cart abandonment masih menjadi tantangan utama bagi marketplace. Meskipun konsumen menunjukkan niat beli dengan memasukkan produk ke dalam keranjang, banyak transaksi tidak diselesaikan sehingga menyebabkan potensi penjualan yang tidak terealisasi, khususnya pada platform Shopee. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh emotional ambivalence, hesitation at checkout, payment intention, choice overload, comparison with other websites, perceived transaction inconvenience, perceived cost, dan perceived risk terhadap perilaku shopping cart abandonment pada pengguna Shopee, serta mengidentifikasi faktor yang paling dominan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap 150 pengguna Shopee di Indonesia yang pernah mengalami shopping cart abandonment. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hesitation at checkout, choice overload, dan perceived risk memiliki pengaruh signifikan terhadap shopping cart abandonment. Di antara faktor tersebut, hesitation at checkout merupakan faktor yang paling kuat, menunjukkan bahwa keraguan konsumen pada tahap pembayaran akhir berperan penting dalam terjadinya shopping cart abandonment. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dalam kajian perilaku konsumen e-commerce serta implikasi praktis bagi platform dan penjual dalam meningkatkan tingkat konversi.
MENGEMBANGKAN RANTAI PASOKAN BIJIH BAUKSIT UNTUK TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN MENGGUNAKAN SOFT SYSTEM METHODOLOGY: STUDI KASUS PERTAMBANGAN MEMPAWAH, KALIMANTAN BARAT, INDONESIA
Strategi industrialisasi berkelanjutan Indonesia berfokus pada pentingnya memajukan rantai nilai aluminium domestik melalui hilirisasi bauksit. Namun demikian, kegiatan pertambangan di Mempawah, Kalimantan Barat, saat ini masih menghadapi tantangan seperti kurangnya koordinasi, lemahnya keterlibatan pemangku kepentingan, dan belum efektifnya korelasi antara tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dengan kebutuhan masyarakat setempat. Studi yang diusulkan ini akan (1) menghasilkan model konseptual yang mendasari rantai pasok bijih bauksit berkelanjutan yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), dan (2) menghasilkan respons yang secara sistematis diinginkan dan layak secara budaya untuk mewujudkan operasi pertambangan berkelanjutan selama masa operasional tambang. Studi ini menggabungkan informasi kualitatif tentang tiga puluh pemangku kepentingan, yang merupakan perwakilan dari lembaga pemerintah, perusahaan, dan masyarakat setempat, menggunakan Soft Systems Methodology (SSM). Proses SSM enam langkah telah digunakan, yaitu mengidentifikasi dan menyusun situasi masalah, mendefinisikan akar permasalahan pada kerangka kerja CATWOE, menyusun model konseptual, membandingkannya dengan praktik dunia nyata, dan merumuskan tindakan perbaikan yang layak. Wawancara semi-terstruktur, observasi lapangan, dan analisis kebijakan digunakan dalam pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola pertambangan saat ini belum terkoordinasi, lintas sektor, dan belum adaptif dalam memastikan efektivitas ekonomi, tanggung jawab sosial, dan lingkungan. Untuk meningkatkan keselarasan antar aktor di sepanjang rantai nilai pertambangan, model konseptual yang diusulkan menyajikan mekanisme tata kelola partisipatif, indikator kinerja terkait SDG, dan perencanaan CSR berbasis budaya. Secara praktis, penelitian ini memberikan peta jalan adaptif bagi pemangku kepentingan dalam menerapkan praktik pertambangan bauksit berkelanjutan, sementara secara teoritis memperkuat penerapan SSM sebagai pendekatan sistemik dalam merancang rantai pasok berorientasi keberlanjutan di sektor industri yang kompleks.
DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT HIJAU DAN PRAKTIK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP KINERJA KEUANGAN BANK DI INDONESIA
Penelitian ini mengkaji dampak dari kebijakan kredit hijau (Green Credit Policies) terhadap kinerja keuangan (Financial Performance) yang berperan sebagai variable moderasi. Studi ini menggunakan kerangka teori pemangku kepentingan (Stakeholder Theory) dan teori legitimasi untuk menganalisis sejauh mana inisiatif kredit hijau berpengaruh terhadap indicator utama kinerja keuangan seperti Return on Equity (ROE), Earning per Share (EPS), dan Tobin’s Q. Data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup 34 bank yang ada di Inonesia selama periode 2020 sampai 2024. Dengan memanfaatkan data tersebut, peneliti menerapkan model regresi untuk menguji hubungan antar variabel. Hipotesis yang diajukan berkaitan dengan pengaruh positif dari CCP yang mencerminkan transparansi dalam operasional bank, yang pada akhirnya memperkuat ketahanan finansial dan keberlanjutan jangka panjang. Untuk memastikan validitas hasil dan menghindari bias kausalitas terbalik maupun endogenitas, penelitian ini juga melakukan uji robustitas. Hal ini menjadi penting karena penelitian ini memberikan kontribusi terhadap literatur keuangan berkelanjutan dengan menyajikan bukti empiris mengenai manfaat finansial dari penerapan GCP. Temuan dari studi ini diharapkan memberikan implikasi kebijakan yang substansial, khususnya dalam mendorong kerangka regulasi yang mendukung transparansi dalam keuangan hijau. Bagi institusi perbankan, hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya keunggulan kompetitif yang diperoleh melalui integrasi aspek keberlanjutan dalam strategi Perusahaan yang berdampak pada peningkatan valuasi pasar dan profitabilitas
ANALISIS MANAJEMEN PERSEDIAAN PADA PELUMAS LOKOMOTIF DILOKA (STUDI KASUS DARI DAOP 1 JAKARTA PT KERETA API INDONESIA (PERSERO))
Meningkatnya permintaan layanan transportasi kereta api di Indonesia menjadikan pentingnya manajemen inventaris untuk suku cadang perawatan yang kritis, terutama pelumas lokomotif. Di antara seluruh inventaris, inventaris kereta api Bernama Diloka memberikan kontribusi nilai penggunaan tertinggi di semua wilayah operasional PT Kereta Api Indonesia (Persero), termasuk di Daop 1 Jakarta. Studi ini menganalisis praktik manajemen inventaris pelumas lokomotif Diloka di Daop 1 Jakarta, yang telah diidentifikasi terjadi kekurangan stock berulang dan tingkat layanan yang tidak terpenuhi antara tahun 2021 hingga 2024. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan bagaimana analisis manajemen inventaris dapat mengoptimalkan tingkat inventaris, meningkatkan tingkat layanan, dan mengurangi biaya inventaris. Metodologi penelitian ini menggabungkan pendekatan analisis ABC, analisis tingkat layanan, pengukuran lead time, perhitungan stok pengaman, dan model kuantitas pesanan ekonomis. Temuan menujukan bahwa metode tersebut dapat meningkatkan tingkat layanan dan mengurangi biaya persediaan. Tingkat persediaan optimal Diloka untuk meningkatkan tingkat layanan dari 78% menjadi 98% di Daop 1 Jakarta Adalah dengan menyediakan stok pengaman sebanyak 5.007 liter, dengan titik pemesanan ulang sebesar 16.366 liter. Selain itu, dengan menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ), biaya persediaan dapat dikurangi sebesar Rp 112.085.709.
PORTOFOLIO SAHAM–ASET DEFENSIF OPTIMAL DI SIKLUS PASAR FLUKTUATIF INDONESIA: PENDEKATAN PERAMALAN DAN OPTIMISASI MARKOWITZ (2021–2025)
Pasar modal Indonesia mengalami fase penguatan dan pelemahan di tahun 20212025. Pemulihan pascapandemi, tekanan inflasi, perubahan suku bunga, dan ketidakpastian geopolitik termasuk hal yang memicu fase tersebut. Investor menjadi kesulitan untuk mengelola risiko yang setara dengan imbal hasil yang positif karena siklus pasar yang volatile. Secara umum pasar saham dapat memberikan potensi keuntungan tetapi juga memiliki volatilitas yang relative tinggi. Di sisi lain, aset defensif seperti emas dan deposito berjangka bank menawarkan perlindungan modal dan kestabilan. Strategi investasi dengan menggabungkan keduanya dalam satu portofolio memungkinkan investor untuk memanfaatkan peluang sekaligus meminimalisir risiko. Riset ini menganalisis empat belas saham dari Indeks LQ45 di berbagai sektor seperti perbankan, telekomunikasi, barang konsumen, properti, infrastruktur, energi, pertambangan, kesehatan, dan ritel, juga menyertakan emas dan deposito bank sebagai komponen defensif. Data bulanan dari Januari 2021 hingga Agustus 2025 digunakan untuk menangkap kondisi tren naik dan turunnya harga. Pendekatan Exponential Smoothing, khususnya metode Holt-Winters digunakan untuk memprediksikan imbal hasil tiap bulan dari setiap aset sampai Desember 2025. Model ini menangkap tren dan musiman untuk mengestimasi prospektif. Hasil peramalan digabungkan dengan data varians dan kovarians dalam kerangka Optimisasi Mean-Variance Markowitz untuk menentukan alokasi aset optimal. Optimisasi dilakukan satu langkah dengan pengintegrasian saham dan aset defensif ke dalam satu portofolio. Pendekatan ini memastikan keputusan alokasi dengan pertimbangan korelasi antar aset dan resiko-imbal hasil portofolio secara menyeluruh, dengan tujuan memaksimalkan rasio Sharpe. Studi ini bertujuan mengembangkan strategi alokasi investasi yang praktis dan berbasis data untuk mendapatkan resiko dan imbal hasil yang optimum dengan mengombinasikan peramalan ETS dan optimisasi portofolio Markowitz, dengan menawarkan kerangka terstruktur bagi investor yang mencari pertumbuhan sekaligus ketahanan di tengah volatilitas pasar.
DEVELOPING A VIRTUAL POWER PLANT BUSINESS MODEL AND IMPLEMENTATION FRAMEWORK TO MITIGATE REVENUE LOSS FROM ROOFTOP SOLAR PV PENETRATION IN PLN UID JAWA BARAT
Adopsi PLTS atap yang semakin cepat di Indonesia menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi PLN. Di Jawa Barat, penetrasi PLTS pelanggan berkembang pesat dan menyebabkan penurunan konsumsi listrik dari jaringan serta meningkatnya kompleksitas operasional. Kondisi ini menimbulkan risiko terhadap keberlanjutan pendapatan PLN dan menyoroti kebutuhan akan inovasi model bisnis yang mampu mengintegrasikan sumber energi terdistribusi (DER) ke dalam operasi dan layanan PLN. Tesis ini mengeksplorasi bagaimana PLN UID Jawa Barat dapat merespons penetrasi PLTS melalui pengembangan model bisnis dan kerangka implementasi Virtual Power Plant (VPP). Pendekatan penelitian bersifat kualitatif dengan memanfaatkan Business Model Canvas (BMC), penilaian kesiapan VPP berbasis lima tingkat kematangan, wawancara semi-terstruktur dengan informan kunci, analisis dokumen, serta pemodelan dampak pendapatan berbasis skenario. Hasil penelitian mengidentifikasi sejumlah kesenjangan kesiapan, termasuk keterbatasan visibilitas DER, integrasi AMI–SCADA yang belum optimal, ketiadaan telemetri inverter, serta belum adanya regulasi mengenai aggregator dan demand response. Penelitian ini juga menilai kesiapan pelanggan dan organisasi, serta menekankan pentingnya koordinasi lintas unit dan peningkatan kapabilitas digital. Tesis ini menghasilkan roadmap implementasi VPP bertahap, dimulai dari pilot teknis di wilayah industri berpenetrasi PLTS tinggi hingga kesiapan prakomersial. Secara keseluruhan, VPP memberikan jalan bagi PLN untuk memitigasi kehilangan pendapatan, meningkatkan fleksibilitas sistem, dan menempatkan PLN sebagai orkestrator energi digital di era transisi energi Indonesia.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI CADANGAN DEVISA INDONESIA DAN KETERKAITANNYA DENGAN LIKUIDITAS USD: BUKTI DARI MODEL OLS MAKROFINANSIAL
Cadangan devisa Indonesia dan likuiditas USD antarbank domestik merupakan instrumen penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan ketahanan sistem keuangan. Dalam beberapa tahun terakhir, pengetatan kondisi moneter global, volatilitas siklus komoditas, serta meningkatnya frekuensi episode risk-off telah memperbesar tekanan eksternal yang dihadapi negara berkembang, termasuk Indonesia. Pada saat yang sama, perubahan struktural di pasar keuangan domestik, seperti meningkatnya partisipasi investor ritel dan berkembangnya platform investasi digital, telah memperkuat permintaan jangka pendek terhadap likuiditas USD. Perkembangan ini menimbulkan pertanyaan kebijakan yang penting mengenai bagaimana guncangan keuangan global dan kondisi domestik secara bersama-sama memengaruhi cadangan devisa dan likuiditas USD. Penelitian ini menganalisis dinamika bersama antara cadangan devisa dan likuiditas USD antarbank dengan mengintegrasikan kerangka precautionary reserve motive, global financial cycle, dan dollar liquidity. Dengan menggunakan data makro-keuangan bulanan periode 2010 hingga 2024, analisis dilakukan menggunakan metode Ordinary Least Squares (OLS) multivariat. Model cadangan devisa diestimasi menggunakan OLS standar, sementara model likuiditas USD menggunakan koreksi standar error Newey–West untuk mengatasi adanya autokorelasi. Selain itu, penelitian ini memasukkan kontrol musiman dan dummy pandemi untuk menangkap gangguan struktural. Hasil penelitian menunjukkan dampak yang bermakna secara ekonomi dan relevan bagi kebijakan. Cadangan devisa sangat dipengaruhi oleh penguatan USD global dan tekanan pendanaan global, sementara kinerja ekspor berperan sebagai penyangga domestik yang menstabilkan melalui arus masuk devisa struktural. Sebaliknya, likuiditas USD antarbank menunjukkan volatilitas jangka pendek yang lebih tinggi dan merespons secara cepat terhadap perubahan tekanan keuangan global, pergerakan harga komoditas, dan sentimen domestik. Bahkan peningkatan moderat dalam kondisi risiko global dikaitkan dengan kontraksi likuiditas USD yang cukup besar, menegaskan perannya sebagai saluran transmisi yang bergerak cepat. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan adanya mekanisme ganda dalam menjaga stabilitas eksternal Indonesia, di mana cadangan devisa berfungsi sebagai penyangga yang menyesuaikan secara lebih lambat dan dikelola melalui kebijakan, sementara likuiditas USD mencerminkan tekanan pasar yang bergerak cepat. Asimetri ini mendukung perlunya kerangka pemantauan makro-keuangan berbasis data guna memperkuat respons kebijakan dini terhadap kerentanan eksternal.
PENGEMBANGAN PRODUK BARU YANG DIUSULKAN UNTUK PEMPEK SEHAT MENGGUNAKAN PENDEKATAN METODE CAMPURAN TERTANAM DAN PENYEBARAN FUNGSI KUALITAS (CASE STUDY: RASA RAYA)
Pertumbuhan tren hidup sehat di kota-kota besar Indonesia membuka peluang untuk memposisikan ulang makanan tradisional menjadi produk yang lebih sehat namun tetap praktis dan terjangkau. Tesis ini bertujuan mengembangkan konsep produk pempek sehat berbasis kebutuhan konsumen untuk merek Rasa Raya, sebagai bagian dari strategi pivot dari usaha Pempek Ethnik menuju segmen makanan sehat siap santap. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi kebutuhan dan ekspektasi konsumen terhadap pempek sehat, (2) merumuskan konsep produk baru yang relevan dengan kebutuhan tersebut, dan (3) menerjemahkan suara konsumen ke dalam spesifikasi teknis menggunakan Quality Function Deployment (QFD) dan House of Quality (HOQ). Penelitian menggunakan desain mixed methods tertanam (embedded), dengan data primer yang dikumpulkan melalui survei online semi-terbuka kepada 213 responden di Surabaya yang mengonsumsi pempek, mengombinasikan pertanyaan skala Likert dan pertanyaan terbuka, serta wawancara semi-terstruktur dengan seorang ahli gizi. Data kualitatif dianalisis menggunakan thematic analysis (open, axial, dan selective coding) untuk menggali tema inti mengenai definisi “pempek sehat”, sedangkan data kuantitatif diolah secara deskriptif dan diprioritaskan menggunakan Relative Importance Index (RII) untuk menentukan atribut Critical to Quality (CTQ). Atribut CTQ tersebut kemudian dimasukkan ke dalam House of Quality untuk menyusun prioritas teknis dan mengarahkan tahapan concept generation, concept selection, serta penyusunan Product Innovation Charter (PIC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen mendefinisikan “pempek sehat” sebagai pempek dengan kandungan ikan lebih tinggi, tepung dan minyak yang dikurangi, gula dan natrium cuko yang lebih terkontrol, penggunaan MSG dan bahan tambahan yang diminimalkan, label gizi yang jelas, serta jaminan higienitas, tanpa mengorbankan rasa gurih dan tekstur kenyal khas pempek, dan tetap dengan harga yang terjangkau. Atribut CTQ dengan prioritas tertinggi meliputi value for money, kualitas bahan baku, kadar ikan tinggi, rendah minyak, kejelasan label gizi, dan higienitas bahan. Analisis HOQ menegaskan beberapa respon teknis utama, yaitu peningkatan rasio ikan terhadap tepung, perubahan metode pengolahan menjadi lebih rendah minyak (kukus, rebus, panggang, air fryer), reformulasi bumbu untuk mengurangi MSG dan gula, serta standarisasi parameter gizi dan keamanan pangan. Berdasarkan temuan tersebut, konsep produk yang diusulkan berfokus pada varian pempek tinggi ikan dan rendah minyak (misalnya tekwan kuah bening serta pempek panggang/air fryer) dengan label gizi yang transparan dan harga premium yang masih dapat diterima segmen sasaran. Penelitian ini berkontribusi secara praktis dengan menyediakan roadmap terstruktur bagi UMKM untuk mempivot makanan tradisional ke produk yang lebih sehat, serta secara teoretis dengan menunjukkan integrasi mixed methods tertanam dan QFD dalam pengembangan produk baru berbasis konsumen untuk makanan tradisional sehat.
ADOPSI LMS DI UNIVERSITAS KORPORAT: TEMUAN DARI EVALUASI SUS DAN ANALISIS KUALITATIF BERBASIS UTAUT
Penelitian ini mengeksplorasi adopsi Learning Management System (LMS) dalam konteks Corporate University dengan menggunakan pendekatan mixed-methods. Studi ini juga memberikan kontribusi praktis bagi organisasi yang sedang mengembangkan universitas korporat dan mengoptimalkan implementasi LMS melalui pendekatan berbasis data serta teori adopsi teknologi. Tahap pertama penelitian dilakukan melalui survei anonim untuk menilai pengalaman karyawan, hambatan yang dihadapi, serta tingkat usability LMS. Pengukuran usability LMS dilakukan menggunakan standar System Usability Scale (SUS). Sebanyak 102 responden berpartisipasi dalam survei ini. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa LMS dikategorikan pada tingkat “D” berdasarkan skala penilaian Sauro–Lewis. Hal ini mengindikasikan bahwa sistem masih dapat digunakan namun belum optimal dari sisi kemudahan penggunaan. Menyadari bahwa adopsi teknologi tidak hanya dipengaruhi oleh karakteristik sistem, tetapi juga oleh faktor organisasi dan sosial, tahap kedua penelitian dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai persepsi pengguna. Sepuluh karyawan dipilih menggunakan purposive sampling dengan strategi maximum variation, berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan seperti intensitas penggunaan LMS, peran pekerjaan, dan partisipasi dalam aktivitas pembelajaran korporat, dengan koordinasi manajerial yang dibatasi hanya pada fasilitasi akses. Data wawancara dianalisis menggunakan kerangka Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) yang diperluas melalui analisis tematik. Hasil analisis tematik menunjukkan bahwa Social Influence merupakan pendorong terkuat partisipasi karyawan dalam aktivitas Corporate University. Tim HR serta atasan langsung secara aktif mendorong partisipasi dan membangun budaya belajar. Dalam konteks korporat, social influence mencakup aspek hierarki organisasi, mekanisme penghargaan, serta peran pimpinan sebagai teladan. Seluruh responden memandang materi pembelajaran sebagai sesuatu yang berguna dan relevan bagi pengembangan diri mereka, yang menunjukkan bahwa Performance Expectancy merupakan faktor pendorong adopsi yang kuat. Minat belajar meningkat ketika pengajar memiliki tingkat keahlian yang solid. Meskipun demikian, sebagian besar partisipan menyampaikan kebutuhan akan pelatih eksternal tambahan. Materi yang tersedia dinilai masih terlalu umum, khususnya bagi karyawan dengan latar belakang teknik dan kesehatan, sehingga mereka menuntut konten yang lebih spesifik dan relevan dengan peran pekerjaan masingmasing. Responden menunjukkan niat belajar yang tinggi dan menilai kelas sebagai pengalaman yang segar serta bermakna secara personal. Hal ini menegaskan bahwa aktivitas pembelajaran dalam Corporate University dapat dipersepsikan bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai bentuk “istirahat produktif”. Venkatesh et al. (2003) menyatakan bahwa niat perilaku memengaruhi penggunaan aktual, namun temuan penelitian ini menunjukkan adanya kesenjangan, di mana dalam konteks Corporate University, tingkat niat perilaku yang tinggi tidak sepenuhnya tercermin dalam tingkat penggunaan LMS akibat keterbatasan beban kerja. Responden menilai Effort Expectancy berada pada tingkat yang memadai, meskipun masih terdapat tantangan terkait usability dan akses melalui perangkat seluler. Beberapa responden survei menyebutkan bahwa hambatan bahasa mengganggu penggunaan LMS dan mengusulkan penggunaan bahasa Indonesia alih-alih bahasa Inggris. Akses seluler dinilai sangat penting dalam lingkungan korporat, mengingat sebagian karyawan memiliki tingkat mobilitas kerja yang tinggi. Dimensi berikutnya adalah Facilitating Conditions. Ketersediaan perangkat dan konektivitas internet dipersepsikan cukup memadai, namun masih terdapat kelemahan pada aspek penjadwalan, pengingat otomatis, integrasi kalender, serta penyesuaian dengan beban kerja. Dari sisi kualitas informasi dalam LMS, pengguna menilai masih belum mencukupi. Mereka lebih mengandalkan grup WhatsApp untuk memperoleh pembaruan informasi karena informasi di LMS dinilai tidak lengkap atau sulit ditemukan, termasuk riwayat kelas yang telah diikuti. Hal ini menunjukkan bahwa LMS saat ini belum berfungsi sebagai pusat utama aktivitas pembelajaran sebagaimana yang diharapkan. Kelemahan pada dimensi Instructional Assessment juga menghambat adopsi LMS, yang tercermin dari tindak lanjut tugas yang lemah, minimnya umpan balik dari pengajar, serta ketiadaan notifikasi yang menyebabkan peserta tidak menyadari keberadaan tugas. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa meskipun fleksibilitas pembelajaran digital, seperti konten yang dapat ditonton ulang, diapresiasi oleh peserta, mereka tidak sepenuhnya menyukai format pembelajaran yang sepenuhnya asinkron. Banyak pengguna masih menilai sesi tatap muka atau kelas daring langsung lebih bernilai karena memungkinkan terjadinya interaksi langsung, diskusi, serta tingkat fokus yang lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa dalam konteks saat ini, pembelajaran digital berbasis video berfungsi sebagai pelengkap, bukan sebagai metode pembelajaran utama, dengan implikasi terhadap bagaimana LMS seharusnya mendukung keterlibatan dan interaksi pengguna. Analisis lebih lanjut mengidentifikasi adanya kesenjangan antara peran LMS yang dirancang dengan ekspektasi pengguna, khususnya dalam hal kemudahan penggunaan sistem, kualitas informasi, integrasi dengan proses pembelajaran, serta dukungan instruksional. Akibatnya, LMS belum sepenuhnya berfungsi sebagai platform pembelajaran utama dalam Corporate University, sehingga pengguna masih bergantung pada saluran komunikasi alternatif. Rekomendasi strategis diajukan untuk memperkuat kemudahan penggunaan dan adopsi LMS guna mendukung inisiatif pembelajaran digital yang dapat diskalakan.
PENDEKATAN REAL OPTIONS DALAM INVESTASI SELEKTIF KOMPRESOR LLP UNTUK MENDUKUNG PRODUKSI BERKELANJUTAN DI PT HULU SUNGAI
PT Hulu Sungai mengoperasikan Gas Block “M”, sebuah aset gas lepas pantai yang kritis dan saat ini mengalami penurunan produksi akibat deplesi reservoir. Untuk mempertahankan output dan meningkatkan perolehan, PT Hulu Sungai mengevaluasi penempatan kompresor low-low pressure (LLP) pada beberapa anjungan lepas pantai untuk menurunkan tekanan well head. Namun, evaluasi cadangan terbaru menunjukkan bahwa hanya tiga dari empat anjungan yang diusulkan memberikan Net Present Value (NPV) positif, sementara satu anjungan lainnya berpotensi menimbulkan biaya tenggelam (sunk cost) hingga USD 16 juta jika kompresor dipasang terlalu dini. Penelitian ini mengembangkan strategi investasi dan pengadaan yang fleksibel berbasis data, dengan menerapkan Real Options Analysis (ROA) untuk mengoptimalkan penempatan kompresor melalui keseimbangan antara kelayakan ekonomi, pemanfaatan modal, dan kesiapan teknis. Penelitian ini menjawab tiga pertanyaan utama. Pertama, anjungan mana yang menunjukkan kelayakan ekonomi berdasarkan data cadangan dan proyeksi produksi terbaru? Kedua, bagaimana potensi anjungan marginal untuk mencapai tambahan perolehan dan NPV positif jika kompresor dialihgunakan kembali (redeployment) setelah tahun 2026? Ketiga, bagaimana urutan pengadaan serta rencana perpindahan aset yang dapat memaksimalkan tingkat pengembalian investasi sekaligus meminimalkan risiko aset terlantar? Tujuan penelitian meliputi analisis NPV dan Internal Rate of Return (IRR), penerapan ROA untuk memodelkan fleksibilitas manajerial, serta perumusan strategi pengadaan bertahap yang dapat menyesuaikan dengan dinamika subsurface. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga anjungan ekonomis untuk pemasangan kompresor antara tahun 2025 hingga 2027, masing-masing menghasilkan NPV sebesar USD 5 hingga 10 juta. ROA mendukung kemungkinan redeployment kompresor ke anjungan marginal, yang dapat mengubah investasi yang sebelumnya tidak layak menjadi menguntungkan jika pembaruan cadangan mendukung pengembangan lebih lanjut. Masukan pemangku kepentingan memvalidasi kelayakan teknis dan logistik dari rencana redeployment. Strategi yang diusulkan memungkinkan PT Hulu Sungai menghindari potensi sunk cost hingga USD 16 juta serta mendukung penciptaan nilai jangka panjang di Gas Block M. Penelitian ini menawarkan kerangka kerja terstruktur untuk investasi selektif pada aset gas brownfield. Dengan mengintegrasikan pemodelan ekonomi dan pendekatan real options, penelitian ini memberikan alat bantu pengambilan keputusan bagi PT Hulu Sungai untuk mempertahankan produksi, mengelola ketidakpastian, dan memperpanjang umur ekonomis lapangan lepas pantai yang sudah matang.
KEPEMIMPINAN BERBASIS BARAKAH: PERANCANGAN KERANGKA KEPEMIMPINAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN DI SAKEENA FAMILY
Industri buku anak di Indonesia mengalami penurunan selama era pandemi. Valuasi industri anjlok dari Rp16 triliun menjadi hanya Rp1,3 triliun, memaksa hampir 95% penerbit menjadi tidak aktif (dari 1.870 menjadi 107 penerbit) pada tahun 2022. Namun, di tengah kontraksi historis ini, Sakeena (sebuah bisnis keluarga yang berakar pada spiritualitas Islam) justru menantang kemustahilan dengan pertumbuhan yang mengejutkan hingga 600%. Sayangnya, kesuksesan ini menyimpan kerapuhan yang paradoksal. Pertumbuhan tersebut bertumpu hampir sepenuhnya pada kelelahan, intuisi, dan karisma personal para pendirinya, menciptakan "kekosongan tata kelola" yang berbahaya. Saat ini, organisasi tidak memiliki kerangka struktural yang memadai untuk bertahan tanpa kehadiran mereka. Penelitian ini memecahkan sebuah teka-teki krusial: Bagaimana cara menginstitusionalisasikan Barakah (sebuah konsep spiritual Islam yang tak kasat mata) menjadi sistem operasional yang kaku demi menjamin keberlanjutan? Menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif yang dikombinasikan dengan action research, proyek ini mendiagnosis gejala "ketergantungan pada pendiri" di Sakeena dan merancang solusi untuk memutusnya. Penelitian ini memberikan tiga kontribusi utama yang selaras dengan tujuannya. Pertama, untuk menjamin keberlanjutan nilai selama suksesi, penelitian ini merumuskan Konsep Suksesi Terintegrasi Nilai (Value-Integrated Succession Concept), yang memperkenalkan Barakah Integrated Ownership System (BIOS) dan Model Tata Kelola Empat Ruang yang disesuaikan untuk memperjelas hak kepengurusan (stewardship). Kedua, untuk mengatasi kesenjangan kualitas pengambilan keputusan, penelitian ini menetapkan Sistem Pengambilan Keputusan Selaras Nilai (Value-Aligned Decision-Making System) yang menyediakan kerangka struktural untuk mengubah kognisi kepemimpinan dari reaktif menjadi integratif. Ketiga, penelitian ini mensintesiskan elemen-elemen tersebut menjadi Barakah-Based Business Framework, sebuah model baru nan holistik yang mengoperasionalisasikan nilai-nilai spiritual ke dalam fungsi bisnis yang nyata serta metrik yang terukur. Secara akademis, penelitian ini mengisi kesenjangan kritis dalam literatur dengan mengintegrasikan spiritualitas, suksesi, dan pengambilan keputusan ke dalam satu model yang kohesif bagi perusahaan berbasis nilai. Secara praktis, penelitian ini menawarkan peta jalan yang dapat diterapkan bagi Sakeena dan bisnis keluarga serupa untuk mengamankan keberlanjutan sembari menjaga identitas spiritual dan etis mereka. Secara sosial, penelitian ini menunjukkan bagaimana bisnis dapat mewujudkan semangat rahmatan lil ‘aalamin, menyeimbangkan profitabilitas, keberlanjutan, dan Barakah sebagai model universal untuk pertumbuhan yang etis dan berdampak. Pada akhirnya, tesis ini membuktikan bahwa bagi Perusahaan, keberlanjutan bukan sekadar soal keuntungan, melainkan tentang membangun sebuah bahtera yang mampu membawa nilai-nilainya secara mandiri, terlepas dari siapa nakhodanya.
FORMULASI STRATEGI UNTUK SPIN-OFF : STUDI KASUS SBU AEROSTRUCTURE PADA PERUSAHAAN AEROSPACE INDONESIA
Indonesian Aerospace Company merupakan salah satu perusahaan strategis di Indonesia yang berperan penting dalam pengembangan industri dirgantara serta peningkatan teknologi nasional. Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), perusahaan ini beroperasi di sektor pertahanan dan transportasi, serta mengekspor produknya ke pasar internasional. Salah satu divisi utamanya adalah Strategic Business Unit (SBU) Aerostructure, yang bertanggung jawab dalam produksi komponen penting pesawat terbang seperti bagian badan pesawat (fuselage), struktur sayap, dan bagian-bagian perakitan. Penelitian ini mengkaji kesiapan dan formulasi strategi Unit Bisnis Strategis (SBU) Aerostruktur di Indonesian Aerospace Company dalam mempersiapkan diri untuk pemisahan menjadi entitas independen. Dengan menggunakan kerangka kerja manajemen strategis, penelitian ini mengintegrasikan penilaian kesiapan, analisis SWOT, matriks evaluasi faktor internal dan eksternal, serta matriks Internal-Eksternal (IE) untuk menganalisis kemampuan organisasi dan peluang eksternal. Temuan menunjukkan bahwa SBU Aerostructure memiliki komitmen manajerial yang kuat dan kapasitas operasional yang baik, sementara kemandirian finansial mungkin menjadi tantangan utama yang perlu diatasi sebelum pemisahan. Formulasi strategi menempatkan SBU Aerostructure pada jalur pertumbuhan, merekomendasikan strategi agresif yang mengarah pada penetrasi pasar dan diversifikasi, ketahanan rantai pasok melalui integrasi mundur, keunggulan operasional yang didukung oleh teknologi Industri 4.0, serta aliansi strategis yang didukung oleh manajemen aset. Integrasi ke dalam aktivitas purna jual dan codesign, serta keberlanjutan keuangan melalui struktur modal yang dioptimalkan dan pendanaan jangka panjang, ditekankan untuk memperkuat daya saing dan kemandirian. Proses pemisahan (spin-off) dapat dilakukan, asalkan kemandirian keuangan diperkuat. Hal ini memberikan rekomendasi praktis bagi pemangku kepentingan untuk mendukung proses restrukturisasi.
STRATEGI POSITIONING SELERA ACEH SEBAGAI MEREK MIE ACEH TOP OF MIND DI BANDUNG
Pasar mi Aceh di Kota Bandung semakin kompetitif seiring maraknya kuliner daerah. Selera Aceh, pelaku kafe-style, belum menjadi merek top-of-mind saat konsumen memikirkan "mi Aceh di Bandung". Penelitian ini menganalisis cara Selera Aceh memperkuat positioning menuju top-of-mind melalui identifikasi faktor kunci persepsi konsumen, penilaian ekuitas merek dengan Customer-Based Brand Equity (CBBE) Keller, dan rumusan strategi positioning serta perbaikan pemasaran. Pendekatan studi kasus kualitatif digunakan melalui wawancara mendalam dengan 15 pelanggan Selera Aceh, dilengkapi observasi dan data sekunder. Analisis tematik memetakan temuan ke dimensi CBBE (Salience, Performance, Imagery, Judgements, Feelings, Resonance) dan prinsip Integrated Marketing Communication (IMC) untuk arahan strategis. Enam tema utama ditemukan. Rasa autentik menjadi pendorong utama kunjungan ulang, didukung pengalaman nyaman dan homey yang memperkuat keterikatan emosional serta persepsi value for money. Kesadaran merek terbentuk melalui kanal gerai, aplikasi pesan-antar, media sosial, dan aktivitas komunitas. Gap teridentifikasi pada identitas visual, nuansa budaya Aceh, serta komunikasi relevansi mi Aceh bagi warga Bandung luas. Penelitian mengusulkan reposisi Selera Aceh sebagai “Kafe Mi Aceh Autentik di Bandung”dengan keunggulan rasa sebagai janji utama. Lima solusi bisnis terintegrasi direkomendasikan: positioning rasa melalui standardisasi resep dan menu andalan; penguatan gerai sebagai tempat nongkrong bergaya Aceh inklusif; rencana IMC multi-kanal (signage, digital, konten merek); promosi dan loyalitas untuk kunjungan ulang; serta panduan identitas merek dengan kampanye “More Acehnese, More Comfortable” dan implementasi satu tahun. Strategi ini diharapkan memaksimalkan kekuatan produk dan pengalaman untuk mencapai top-of-mind di pasar mi Aceh Bandung.
DESIGNING BUSINESS MODEL INNOVATION AND COMPETENCY FRAMEWORK FOR SOCIAL ENTERPRISE SUSTAINABILITY AT SEKOLAH JUARA
Dengan diterapkannya program wajib belajar 13 tahun di Indonesia, sekolah negeri menjadi semakin mudah diakses dan sepenuhnya disubsidi, sehingga memunculkan persepsi publik bahwa penyediaan pendidikan dasar sepenuhnya telah menjadi tanggung jawab negara. Pergeseran persepsi ini secara tidak langsung menimbulkan tantangan bagi sekolah filantropi yang mengandalkan donasi seperti Sekolah Juara yang didirikan untuk menyediakan pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana Sekolah Juara dapat merancang ulang dan mengimplementasikan model bisnis berbasis inovasi guna mencapai keberlanjutan finansial jangka panjang di tengah menurunnya dukungan donatur dan meningkatnya kompetisi dari sekolah negeri yang semakin membaik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dengan pimpinan yayasan, kepala sekolah, dan pemangku kepentingan operasional untuk memahami dinamika organisasi serta tantangan strategis yang dihadapi. Wawancara tersebut dilengkapi dengan analisis dokumen resmi untuk menelusuri perubahan struktur operasional dan finansial Sekolah Juara. Selain itu, kajian literatur dilakukan untuk memetakan teori-teori terkait inovasi model bisnis, kepemimpinan pendidikan, dan keberlanjutan organisasi sosial. Seluruh sumber data ini menghasilkan pemahaman yang komprehensif tentang tekanan internal dan eksternal yang memengaruhi keberlanjutan sekolah. Hasil penelitian mengidentifikasi empat inisiatif strategis utama yang diperlukan untuk mendorong inovasi model bisnis Sekolah Juara, yaitu transformasi kualitas guru, strategi penempatan berbasis keunggulan, pengembangan sumber pendapatan berbasis kualitas, dan pembangunan ekosistem investasi berkelanjutan. Penelitian ini juga merumuskan kerangka kompetensi kepala sekolah yang diperlukan untuk menggerakkan seluruh inisiatif tersebut secara efektif di tingkat jaringan sekolah. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian merekomendasikan penyusunan dan penerapan program pengembangan kompetensi yang terstruktur bagi para pemimpin sekolah untuk memastikan kesiapan mereka dalam memimpin transformasi menuju perusahaan sosial pendidikan berkelanjutan.
MODEL DINAMIKA SISTEM TRANSISI BAURAN ELEKTRIFIKASI DI SEKTOR PEMBANGKIT DI INDONESIA TERHADAP KETERJANGKAUAN LISTRIK SEKTOR RUMAH TANGGA
Komitmen Indonesia untuk mencapai net-zero emission pada tahun 2060 menuntut transformasi besar dalam sektor ketenagalistrikan. Namun, dampak dari transisi energi ini terhadap keterjangkauan dan ketahanan energi rumah tangga belum sepenuhnya dipahami, khususnya dalam konteks perubahan kebijakan seperti reformasi subsidi dan insentif energi terbarukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan membangun model dinamika sistem yang mensimulasikan dampak jangka panjang dari dekarbonisasi sektor kelistrikan terhadap akses dan biaya energi di tingkat rumah tangga. Penelitian dimulai dengan mengidentifikasi faktor-faktor kebijakan utama dan hubungan umpan balik sosial-ekonomi yang memengaruhi harga listrik dan stabilitas pasokan. Diasumsikan bahwa reformasi struktural dalam subsidi energi dan peningkatan penetrasi energi terbarukan akan berinteraksi dengan dinamika pasar secara non-linear, menghasilkan dampak yang kompleks terhadap keterjangkauan dan keadilan energi. Hipotesis utama yang diuji adalah bahwa jalur kebijakan tertentu dapat mendorong dekarbonisasi tetapi berpotensi mengurangi keterjangkauan atau keamanan energi rumah tangga. Metode yang digunakan adalah pemodelan system dinamik karena mampu merepresentasikan keterkaitan dan mekanisme umpan balik yang kompleks dalam jangka waktu panjang. Skenario simulasi dibangun untuk mengevaluasi bagaimana kombinasi intervensi kebijakan memengaruhi hasil energi rumah tangga hingga tahun 2060. Kajian pustaka dan masukan dari para ahli digunakan dalam kalibrasi dan validasi model agar sesuai dengan konteks energi dan kebijakan di Indonesia. Hasil yang diharapkan adalah skenario kebijakan yang sensitif terhadap dinamika sosial, menunjukkan berbagai trade-off dan sinergi antara tujuan dekarbonisasi dan keadilan sosial. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah terhadap pemahaman transisi energi yang adil di negara berkembang, serta menyediakan alat praktis bagi pembuat kebijakan dalam merancang strategi energi yang lebih responsif dan berkeadilan sesuai dengan komitmen iklim nasional.