📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenUSULAN STRATEGI PEMASARAN UNTUK BISNIS SONGKET TRADISIONAL: MELESTARIKAN WARISAN BUDAYA DI ERA FASHION MODERN
Penelitian ini mengkaji penurunan penjualan yang dialami Olivi Songket, sebuah brand fashion budaya yang berfokus pada warisan Batak, di tengah meningkatnya minat terhadaot fashion berkelanjutan dan produk autentik. Meskipun Olivi Songket memiliki keunggulan kompetitif dalam kualitas tenun, identitas budaya, dan kolaborasi dengan pengrajin, strategi pemasaran yang diterapkan belum sepenuhnya selaras dengan perubahan perilaku konsumen, peningkatan kompetisi digital, serta maraknya produk substitusi yang lebih terjangkau. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang memengaruhi penurunan penjualan serta merumuskan rekomendasi strategi pemasaran yang mampu menjaga nilai budaya sekaloigus meningkatkan kinerja bisnis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan dukungan analisis Porter’s Five Forces, VRIO, SWOT-TOWS, dan Marketing Mix 7Ts. Analisis tematik menggunakan NVivo mengidentifikasi sejumlah tema utama yang memengaruhi persepsi dan perilaku pembelian konsumen: persepsi brand, persepsi produk, pengembangan produk, persepsi harga, promosi, komunikasi dan media sosial, distribusi, serta pengalaman layanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan penjualan terjadi akibat lemahnya visibilitas digital, terbatasnya inovasi produk, komunikasi yang belum konsisten, serta ketidaksesuaian antara positioning budaya tradisional dan ekspektasi konsumen milenial serta Gen Z. Meskipun konsumen menghargai keaslian, kualitas, dan makna budaya produk, mereka juga mengharapkan desain yang lebih modern, adaptasi fungsional, kejelasan nilai harga, serta keterlibatan yang lebih konsisten melalui media sosial. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan strategi pemasaran terpadu menggunakan kerangka 7Ts yang mencakup inovasi produk, peningkatan kualitas layanan, penguatan storytelling berbasis budaya, komunikasi nilai yang lebih jelas, keterlibatan digital yang konsisten, serta penguatan saluran distribusi. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa penyelarasan antar keaslian budaya dan relevansi pasar modern merupakan kunci bagi pertumbuhan berkelanjutan Olivi Songket tanpa mengesampingkan nilai budaya yang diusung.
KERANGKA KO-KREASI TERINTEGRASI UNTUK UMKM KULINER: BUKTI EMPIRIS DARI PRAKTIK RANTAI NILAI, RESPONS KONSUMEN, DAN KINERJA BISNIS
Usaha Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memegang peranan strategis dalam perekonomian Indonesia, khususnya melalui subsektor kuliner yang menjadi kontributor terbesar dalam ekonomi kreatif serta penghubung langsung antara sistem produksi pangan dan pengalaman konsumsi. Meskipun menunjukkan ketahanan dan pertumbuhan yang kuat, UMKM kuliner menghadapi tantangan ilmiah dan praktis berupa meningkatnya intensitas persaingan, homogenisasi produk, serta keterbatasan diferensiasi yang sulit dijawab melalui strategi konvensional berbasis harga dan efisiensi. Kondisi ini menimbulkan kebutuhan akan pendekatan strategis alternatif yang mampu menjelaskan bagaimana nilai dapat diciptakan secara kolaboratif dan berkelanjutan dalam konteks UMKM. Co- creation telah diakui dalam literatur sebagai pendekatan strategis untuk menciptakan nilai bersama dengan pelanggan dan mitra eksternal. Namun, kajian co-creation pada UMKM, khususnya UMKM kuliner, masih menghadapi keterbatasan konseptual dan empiris. Studi-studi sebelumnya cenderung terfragmentasi, berfokus pada praktik co-creation yang terisolasi, menekankan satu tahap interaksi tertentu, atau bersifat konseptual tanpa memetakan cocreation secara sistematis di sepanjang rantai nilai. Selain itu, masih terbatas pemahaman mengenai mekanisme psikologis konsumen yang menjembatani cocreation dan hasil relasional, serta bagaimana co-creation berfungsi sebagai kapabilitas organisasi usaha UMKM kuliner yang mendorong diferensiasi strategis dan kinerja bisnis multidimensional. Kesenjangan inilah yang mendasari pentingnya penelitian ini dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka co-creation yang integratif dan kontekstual bagi UMKM kuliner di Indonesia dengan menggabungkan empat dimensi utama, yaitu: (1) pemetaan tipologi co-creation di sepanjang rantai nilai UMKM kuliner, (2) pengujian mekanisme psikologis konsumen sebagai penghubung antara co-creation dan hasil relasional, (3) analisis nilai kolaboratif yang dipersepsikan konsumen dalam kemitraan dan kolaborasi merek, serta (4) peran kapabilitas co-creation sebagai kapabilitas organisasi usaha yang mendorong diferensiasi dan kinerja bisnis multidimensional. Penelitian ini dibangun melalui beberapa tahapan riset yang saling terintegrasi. Tahap pertama merupakan studi kualitatif untuk memetakan tipologi co-creation di sepanjang rantai nilai UMKM kuliner, meliputi tahap pengadaan, produksi, pengembangan produk, pemasaran, distribusi, dan interaksi dengan pelanggan. Tahap ini didasarkan pada proposisi bahwa co-creation tidak bersifat tunggal, melainkan tertanam sebagai praktik yang berbeda pada setiap tahapan rantai nilai dengan aktor dan logika penciptaan nilai yang beragam. Tahap kedua dan ketiga merupakan studi kuantitatif yang menguji hipotesis mengenai pengaruh cocreation terhadap keterlibatan, kepuasan, dan kepercayaan konsumen, serta peran nilai kolaboratif yang dipersepsikan dalam memengaruhi niat beli dan evaluasi merek. Tahap terakhir menguji asumsi bahwa kapabilitas co-creation, ketika didukung oleh enabler kolaborasi dan digitalisasi, berfungsi sebagai sumber daya tidak berwujud yang sulit ditiru dan berdampak signifikan pada diferensiasi serta kinerja bisnis UMKM kuliner. Secara metodologis, penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed-method). Data kualitatif dianalisis melalui pendekatan tematik untuk menghasilkan pemetaan tipologi co-creation berbasis rantai nilai, sedangkan data kuantitatif dianalisis menggunakan structural equation modeling (PLS-SEM) untuk menguji hubungan antar konstruk pada tingkat konsumen dan organisasi usaha UMKM kuliner. Pendekatan ini memungkinkan integrasi antara pemahaman prosesual dan pengujian hubungan kausal secara empiris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa co-creation merupakan praktik multidimensional yang tertanam di sepanjang rantai nilai UMKM kuliner. Pada level konsumen, co-creation terbukti meningkatkan keterlibatan, kepuasan, dan kepercayaan yang berperan sebagai mekanisme psikologis kunci dalam memperkuat hubungan dan perilaku konsumen. Dalam konteks kolaborasi dan kemitraan merek, nilai kolaboratif yang dipersepsikan konsumen terbukti berkontribusi signifikan terhadap niat beli dan evaluasi merek. Pada level organisasi usaha, kapabilitas co-creation, yang diperkuat oleh tata kelola kolaborasi dan digitalisasi, mendorong diferensiasi serta kinerja bisnis multidimensional UMKM kuliner. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan literatur cocreation dengan memperluas perspektif dari pendekatan berbasis interaksi yang terfragmentasi menuju kerangka berbasis rantai nilai dan kapabilitas organisasi. Secara praktis, penelitian ini memberikan implikasi strategis bagi pelaku UMKM kuliner dan pembuat kebijakan dalam merancang dan mengimplementasikan strategi co-creation yang terstruktur, kontekstual, dan berkelanjutan untuk memperkuat daya saing UMKM di pasar berkembang.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MENENTUKAN PREFERENSI PASIEN DALAM MEMILIH PERAWATAN KESEHATAN PRIMER: STUDI PEMODELAN PILIHAN MENGGUNAKAN ANALISIS CONJOINT TENTANG STRATEGI PEMOSISIAN PASAR PADA KLINIK INDEPENDEN
Lanskap kesehatan di Indonesia saat ini mengalami pergeseran kompetitif yang signifikan, ditandai dengan perluasan jaringan rumah sakit korporat yang agresif. Lembaga-lembaga berskala besar ini, dilengkapi dengan fasilitas padat modal dan kemitraan asuransi yang luas, menimbulkan ancaman eksistensial bagi keberlanjutan penyedia perawatan primer independen. Penelitian ini didorong oleh fenomena bisnis kritis yang diamati di Klinik Bidan Eli Hidayat, praktik kebidanan mandiri yang sudah lama berdiri di Wilayah Bandung. Setelah pendirian rumah sakit perusahaan besar di dekatnya, klinik tersebut mengalami penurunan drastis dalam volume pasien, anjlok dari rata-rata 20 persalinan bulanan menjadi hanya 2. Penurunan tajam ini menyoroti kesenjangan mendasar dalam pemahaman: secara tradisional, klinik independen mengandalkan kedekatan emosional dan kearifan lokal, tetapi proposisi nilai ini tampaknya tidak cukup dalam menghadapi pesaing modern. Akibatnya, penyelidikan ilmiah sangat diperlukan untuk mendekonstruksi penentu aktual dari preferensi pasien di pasar yang diperebutkan ini dan untuk menentukan apakah klinik independen harus terlibat dalam perang harga atau transformasi yang mahal untuk bertahan hidup. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengukur atribut kunci yang relatif penting dari layanan kesehatan primer, yang mendorong pilihan pasien dan untuk merumuskan strategi pembalikan kompetisi berbasis bukti. Penelitian ini berhipotesis bahwa biaya adalah faktor penting yang menentukan, segmen tertentu dapat mengutamakan kesinambungan perawatan di atas fasilitas (Hipotesis 1) dan bahwa status pekerjaan secara signifikan mengubah sensitivitas waktu tunggu (Hipotesis 3). Untuk mencapai tujuan ini, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif menggunakan analisis Choice-Based Conjoint (CBC). Data primer dikumpulkan dari 107 responden, yang terdiri dari perempuan usia reproduksi atau suami di wilayah Bandung. Data dianalisis menggunakan estimasi Hierarchical Bayes (HB) untuk mencari nilai utilitas bagian individu, diikuti oleh simulasi pasar untuk memprediksi pangsa preferensi dalam berbagai skenario kompetitif. Hasil empiris mengungkapkan, realitas pasar yang bertentangan dengan asumsi tradisional. Analisis mengidentifikasi Biaya Layanan (38,2%) dan Fasilitas Klinik (17,8%) sebagai pendorong pilihan yang dominan. Bertentangan dengan asumsi bahwa pasien kebidanan memprioritaskan hubungan pribadi kesinambungan perawatan, penelitian ini menemukan bahwa atribut "Kesinambungan Perawatan" adalah sekunder dari faktor ekonomi dan infrastruktur, yang mengarah pada penolakan Hipotesis 1. Penemuan kritis adalah fenomena penetapan harga psikologis; data utilitas menunjukkan bahwa tarif Rp 120.000 menghasilkan preferensi yang jauh lebih tinggi daripada tarif terendah Rp 75.000, menunjukkan bahwa harga yang terlalu rendah menandakan kualitas yang lebih rendah bagi konsumen modern. Selain itu, penelitian ini menegaskan bahwa segmen pekerja sangat sensitif terhadap waktu tunggu, sangat tidak menyukai penundaan waktu tunggu. Analisis segmentasi perilaku lebih lanjut mengungkapkan bahwa pasien "Tradisionalis" mengandalkan isyarat fisik yang nyata, seperti peralatan modern, untuk menilai kualitas klinis, daripada faktor relasional murni. Berdasarkan temuan, penelitian ini mengusulkan "Strategi Sweet Spot" yang memanfaatkan kerangka kerja Segmentasi, Penargetan, dan Pemosisian (STP). Simulasi pasar menunjukkan bahwa strategi status quo menghasilkan utilitas total negatif (-26,36). Namun, dengan memposisikan ulang klinik untuk menyasar segmen "Modern Pragmatist", menaikkan harga ke level optimal Rp 120.000, berinvestasi pada modernisasi diagnostik standar (USG 2D), dan menjamin waktu tunggu 1 hari, klinik ini diprediksi akan memulihkan pangsa pasarnya menjadi 48,8%. Kinerja ini mengungguli pesaing rumah sakit premium dan klinik tingkat menengah. Penelitian ini berkontribusi pada ilmu pemasaran dengan bernuansa segmentasi berdasarkan perilaku dalam perawatan kesehatan dan menawarkan peta jalan strategis praktis untuk pemilik klinik independen, membuktikan bahwa mereka tidak perlu terlibat dalam perang harga yang merusak tetapi harus menempati ceruk "modernitas yang terjangkau."
KESIAPAN ORGANISASI UNTUK PERUBAHAN DAN DESAIN MENGGUNAKAN GALBRAITH'S STAR MODEL: STUDI KASUS DIGITALISASI PADA USAHA KECIL DAN MENENGAH (UKM)
Pasar pakaian di Indonesia merupakan kontributor ekonomi yang signifikan, namun bisnis keluarga tradisional di sektor ini menghadapi tantangan besar dalam beradaptasi dengan lanskap digital yang berkembang pesat. Penelitian ini meneliti strategi digitalisasi pada CV XYZ, sebuah bisnis keluarga generasi kedua yang bergerak di bidang aksesoris garmen yang mengalami stagnasi penjualan, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan hanya sebesar 3,9% dari tahun 2021 hingga 2024. Meskipun penetrasi pasar e-commerce di Indonesia diproyeksikan tumbuh hingga 34,84% pada tahun 2029, CV XYZ masih bergantung sepenuhnya pada toko fisik dan promosi dari mulut ke mulut, sehingga gagal menangkap peluang yang ditawarkan oleh platform digital. Masalah ilmiah yang diangkat dalam studi ini adalah kesenjangan kritis antara keinginan organisasi untuk melakukan modernisasi dan kurangnya kapabilitas internal, khususnya ketiadaan keterampilan digital, alur kerja yang terstruktur, dan kepemimpinan yang efektif. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menilai tingkat kesiapan organisasi saat ini untuk digitalisasi di CV XYZ dan mengusulkan inisiatif komprehensif untuk mendukung implementasi adopsi e-commerce dan media sosial. Untuk mencapai tujuan tersebut, studi ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dengan pemilik dan karyawan untuk menilai kesiapan, diikuti dengan Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) untuk memvalidasi inisiatif yang diusulkan. Kerangka teoritis menggunakan teori Kesiapan Organisasi untuk Perubahan dari Weiner untuk menganalisis kondisi saat ini, dan Model Bintang (Star Model) dari Galbraith untuk merancang solusi bisnis. Analisis tematik data mengungkapkan kondisi organisasi yang spesifik: meskipun CV XYZ memiliki valensi perubahan (change valence) yang tinggi, yang berarti para pemangku kepentingan sangat menghargai manfaat digitalisasi dan berkomitmen pada gagasan tersebut, organisasi ini memiliki efikasi perubahan (change efficacy) yang rendah. Rendahnya efikasi ini disebabkan oleh hambatan signifikan, termasuk gaya kepemimpinan otokratis di mana pemilik membuat semua keputusan, kurangnya keterampilan digital khusus di kalangan karyawan, dan struktur organisasi informal yang mengakibatkan ambiguitas peran dan budaya saling menyalahkan. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan solusi bisnis akhir yang disusun berdasarkan lima komponen Model Bintang: Strategi, Struktur, Proses, Penghargaan (Rewards), dan Orang (People). Strategi berfokus pada penggunaan platform digital bukan untuk menggantikan, tetapi untuk melengkapi toko fisik, sehingga menciptakan keunggulan kompetitif melalui perluasan pasar. Secara struktural, penelitian ini merekomendasikan peralihan dari model terpusat ke struktur fungsional yang memperkenalkan "Manajer Operasional Digital" baru untuk mengawasi e-commerce, media sosial, dan akuntansi, bersama dengan "Supervisor Penjualan" khusus produk. Dalam hal proses, studi ini memisahkan alur kerja pemasaran online dari aktivitas penjualan tradisional untuk memastikan fokus operasional. Komponen "Orang" menekankan pergeseran menuju kepemimpinan transformasional untuk mendorong keterlibatan karyawan dan program pelatihan "belajar sambil bekerja" (learning-by-doing) untuk menjembatani kesenjangan keterampilan. Terakhir, komponen "Penghargaan" memperkenalkan sistem insentif berbasis kinerja yang dikaitkan dengan Indikator Kinerja Utama (KPI) untuk menyelaraskan motivasi karyawan dengan tujuan organisasi. Penelitian ini diakhiri dengan rencana implementasi rinci yang dijadwalkan untuk tahun fiskal 2026, yang dibagi menjadi fase Inisiasi, Persiapan, Peluncuran, dan Struktur Organisasi. Kontribusi dari penelitian ini terletak pada penyediaan peta jalan yang dapat disesuaikan dan ditindaklanjuti bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) tradisional yang memiliki kemauan untuk berubah tetapi tidak memiliki kesiapan struktural untuk melakukannya. Dengan mengatasi nuansa spesifik dinamika bisnis keluarga—seperti gaya kepemimpinan dan struktur informal— studi ini menunjukkan bagaimana kerangka kerja teoritis yang mapan dapat diterapkan secara praktis untuk mentransisikan perusahaan tradisional menjadi organisasi yang terintegrasi secara digital, yang pada akhirnya bertujuan untuk memutus siklus stagnasi penjualan dan memastikan keberlanjutan jangka panjang.
MENELUSURI KEAMANAN PSIKOLOGIS DAN KINERJA KARYAWAN DI PERUSAHAAN TEKNIK BANDUNG
Keamanan psikologis (keyakinan bersama bahwa tempat kerja aman untuk mengambil risiko interpersonal) telah diakui dan menjadi faktor kritis yang memengaruhi komunikasi, pembelajaran, dan koordinasi dalam lingkungan kerja kompleks. Perusahaan teknik di Indonesia, meskipun patuh terhadap regulasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3), sebagian besar mengabaikan keamanan psikologis meskipun pengaruhnya terhadap kinerja dalam lingkungan kerja berbasis presisi dan saling bergantung. Kesenjangan ini sangat mencolok pada perusahaan yang mengalami transisi kepemimpinan dan mempekerjakan tenaga kerja multi-generasi. Penelitian ini mengkaji bagaimana keamanan psikologis memengaruhi kinerja karyawan dalam perusahaan teknik Indonesia dengan berbagai ukuran organisasi dan mengidentifikasi praktik manajerial yang memperkuat hubungan tersebut. Pendekatan metode campuran kualitatifkuantitatif digunakan. Wawancara semi-terstruktur dengan lima partisipan tingkat manajerial di empat perusahaan teknik (satu perusahaan besar dan tiga kecilmenengah) mengeksplorasi praktik kepemimpinan dan mekanisme keamanan psikologis melalui analisis tematik. Data survei dari 80 karyawan mengukur keamanan psikologis (skala 7-item Edmondson) dan kinerja karyawan, dianalisis melalui analisis korelasi dan uji reliabilitas (Cronbach's ? = 0,855). Analisis tematik mengidentifikasi tiga tema yang saling terkait: Perilaku Kepemimpinan, Kejelasan Komunikasi, dan Inisiatif Keamanan Psikologis. Analisis kuantitatif mengonfirmasi korelasi positif signifikan antara keamanan psikologis dan kinerja karyawan (r = 0,496, p < 0,001). Analisis terintegrasi mendukung bahwa praktik manajerial (dorongan untuk bersuara, orientasi pembelajaran, distribusi beban kerja yang adil, pengelolaan kesalahan konstruktif) memperkuat hubungan keamanan psikologis-kinerja. Keamanan psikologis secara signifikan memprediksi kinerja karyawan melalui perilaku bersuara, pelaporan kesalahan, dan pemecahan masalah kolaboratif. Terdapat tiga solusi diusulkan: rutinitas komunikasi terstruktur, praktik berorientasi pembelajaran, dan pengembangan kapabilitas kepemimpinan.
MENILAI KELAYAKAN ELEKTRIFIKASI PERTAMBANGAN DALAM MENDUKUNG INSIATIF DEKARBONISASI PT BUKIT ASAM TBK MELALUI RETSCREEN EXPERT
Seiring Indonesia bergerak menuju masa depan rendah karbon, perusahaan pertambangan mengubah cara mereka menggunakan energi. Studi ini berfokus pada area pertambangan batubara utama di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, di mana kendaraan bertenaga diesel masih banyak digunakan. Dengan menggunakan RETScreen Expert, studi ini meneliti kepraktisan dan efektivitas biaya peralihan ke kendaraan listrik di Indonesia. Temuan menunjukkan manfaat lingkungan yang substansial: emisi tahunan dapat turun dari 10,53 juta tCO2e menjadi 4,89 juta tCO2e, pengurangan sekitar 53,5%. Namun, elektrifikasi akan meningkatkan penggunaan listrik tambang menjadi hampir 900 juta kWh per tahun dan membutuhkan investasi awal yang signifikan sekitar USD 484 juta. Proyek ini diperkirakan memiliki tingkat pengembalian internal (IRR) ekuitas sebelum pajak sebesar 12% dan periode pengembalian modal selama 13,1 tahun. Analisis sensitivitas dan simulasi Monte Carlo menunjukkan bahwa hasilnya sangat bergantung pada harga diesel, tarif listrik, dan biaya modal. Studi ini menyoroti pertimbangan yang jelas: elektrifikasi menawarkan manfaat lingkungan yang stabil, tetapi keberhasilan finansialnya bergantung pada biaya dan dukungan kebijakan. Seiring Indonesia mengejar tujuan emisi nol bersih, hasil ini menggarisbawahi perlunya insentif strategis dan opsi pembiayaan tambahan untuk membantu perusahaan pertambangan mengadopsi teknologi yang lebih bersih.
HUBUNGAN FAKTOR ORGANISASI TERHADAP PRODUKTIVITAS MODAL INSANI: PERAN MEDIASI EFEKTIVITAS PEMANFAATAN MANUFACTURING EXECUTION SYSTEM (MES)
Transformasi digital di sektor manufaktur menuntut kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam mengadopsi teknologi berbasis sistem seperti Manufacturing Execution System (MES) 3.0. PT XYZ sebuah perusahaan manufaktur yang sedang mengimplementasikan MES 3.0 menghadapi tantangan dalam mengoptimalkan produktivitas karyawan di tengah perubahan proses kerja digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor organisasi yang meliputi Modal Insani, Budaya Organisasi, Infrastruktur Teknologi, dan Kepemimpinan terhadap produktivitas SDM, serta menguji peran mediasi efektivitas pemanfaatan MES 3.0 dalam hubungan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Structural Equation Modeling Partial Least Squares (SEM-PLS). Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada karyawan PT XYZ yang terlibat langsung dalam penggunaan sistem MES 3.0. Variabel penelitian meliputi empat faktor organisasi sebagai variabel independen, efektivitas pemanfaatan MES sebagai variabel mediasi, dan produktivitas modal insani sebagai variabel dependen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi produktivitas modal insani, baik secara langsung maupun melalui peran efektivitas pemanfaatan MES. Modal insani dan infrastruktur teknologi memberikan pengaruh positif namun terbatas, sedangkan budaya organisasi menunjukkan pengaruh negatif, menandakan masih adanya resistensi terhadap perubahan digital. Efektivitas pemanfaatan MES terbukti berperan sebagai mediator signifikan yang menghubungkan faktor organisasi dengan produktivitas modal insani. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan implementasi MES 3.0 tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kualitas kepemimpinan, kesiapan modal insani, dan budaya organisasi yang mendukung inovasi serta pembelajaran berkelanjutan.
USULAN PROGRAM RETENSI TALENTA STRATEGIS UNTUK MEMPERKUAT SISTEM MANAJEMEN TALENTA: STUDI KASUS PT KERETA API INDONESIA (PERSERO)
PT Kereta Api Indonesia (Persero) sedang dalam pergerakan pada transformasi digital dan operasional dengan skala nasional, yang membutuhkan Sistem Manajemen Bakat (TMS) yang kuat yang mampu mempertahankan bakat manajerialnya yang penting. Saat ini perusahaan telah mencapai target pemenuhan tenaga kerjanya, namun keberlanjutan jalur bakatnya masih rentan karena kesenjangan yang terus-menerus dalam mengisi posisi penting dan meningkatnya risiko kehilangan pemimpin masa depan yang berpotensi tinggi. Masalah inti terletak pada tidak adanya Program Retensi Bakat Strategis yang terintegrasi dan formal, yang mengakibatkan fokus reaktif pada penggantian lowongan daripada keamanan bakat jangka panjang yang proaktif. Jika tidak ditangani, kesenjangan desain strategis ini mengancam kemampuan PT KAI untuk mempertahankan inovasi, keandalan operasional, kinerja keselamatan, dan kepercayaan publik di sepanjang perjalanan prosesnya. Tesis ini bertujuan untuk mengusulkan program retensi bakat strategis untuk memperkuat TMS PT KAI, memastikan kesinambungan peran penting dan keselarasan antara prioritas sumber daya manusia Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan memanfaatkan data primer yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dengan lima talenta tingkat BOD-3 terpilih yang mewakili posisi manajerial kunci dalam organisasi. Data wawancara dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif untuk menangkap pengalaman, persepsi, dan wawasan peserta mengenai praktik manajemen dan retensi talenta yang ada. Temuan ini mengungkapkan bahwa meskipun banyak praktik manajemen bakat dipersepsikan positif, tiga dimensi mewakili prioritas peningkatan penting untuk mengurangi risiko retensi: Keseimbangan Kehidupan Kerja, Karier & Pengembangan, dan Penghargaan & Pengakuan. Berdasarkan temuan ini, studi ini mengusulkan delapan Program Retensi Bakat Strategis, termasuk inisiatif prioritas seperti Program Mobilitas Kepemimpinan Siap Masa Depan dan Program Integrasi & Kesejahteraan Kehidupan Kerja. Inisiatif ini bertujuan untuk mengubah TMS dari sistem administratif reaktif menjadi kerangka kerja strategis proaktif yang memperkuat ketahanan organisasi dan mendukung hasil transformasi berkelanjutan. Studi ini berkontribusi secara teoritis dengan menunjukkan dampak strategis dari praktik manajemen bakat yang berfokus pada retensi di perusahaan milik negara.
USULAN STRATEGI MANAJEMEN PERUBAHAN DALAM MENDUKUNG IMPLEMENTASI ERP-SAP DI PT BUKIT ASAM
Implementasi Enterprise Resource Planning (ERP) menyebabkan perubahan radikal dalam organisasi. Perubahan ini berdampak pada proses bisnis, arsitektur data, peran, serta perilaku karyawan. Sejumlah studi menunjukkan bahwa sebagian besar proyek ERP tidak gagal karena kendala teknologi, melainkan disebabkan oleh rendahnya kesiapan organisasi dan lemahnya pengelolaan perubahan. Penelitian ini mengkaji implementasi sistem ERP-SAP di PT Bukit Asam (PTBA) yang dilaksanakan berdasarkan mandat dari perusahaan induk, MIND ID, sebagai upaya untuk menggantikan sistem ERP lama, yaitu Ellipse. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesiapan individu dan kesiapan organisasi, mengidentifikasi pemangku kepentingan yang terlibat, serta merumuskan pendekatan manajemen perubahan yang disesuaikan untuk mendukung implementasi ERP di PTBA. Metode penelitian yang digunakan merupakan kombinasi metode kuantitatif dan kualitatif. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan melalui survei menggunakan model ADKAR untuk menilai kesiapan individu serta instrumen kesiapan organisasi. Selain itu, data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan business process data owners dan key users. Proses triangulasi digunakan untuk mengintegrasikan hasil survei, temuan wawancara, dan perspektif teori yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan individu di PTBA tergolong relatif tinggi, terutama pada dimensi Kesadaran, Kemauan, Pengetahuan, dan Kemampuan. Namun demikian, dimensi Penguatan memperoleh skor terendah, yang mengindikasikan adanya risiko dalam mempertahankan perilaku baru setelah tahap go-live ERP. Kesiapan organisasi berada pada tingkat sedang dan tidak merata antar dimensi. Meskipun visi dan komunikasi pimpinan terkait implementasi ERP relatif jelas, masih terdapat kelemahan pada aspek strategi perubahan dan komitmen organisasi, yang menunjukkan adanya kesenjangan antara arah strategis dan kesiapan operasional. Temuan wawancara juga mengungkapkan tantangan yang masih berlanjut terkait efisiensi alur kerja, koordinasi lintas fungsi, integrasi sistem, dan kompetensi pengguna. Temuan-temuan tersebut mengindikasikan bahwa meskipun PTBA memiliki kondisi awal yang cukup mendukung untuk adopsi ERP, keberlanjutan pemanfaatan ERP–SAP masih berisiko tanpa penguatan mekanisme reinforcement, kejelasan komitmen organisasi, serta peningkatan koordinasi antar pemangku kepentingan. Berdasarkan hasil penelitian, studi ini mengusulkan strategi manajemen perubahan yang terarah dan disusun berdasarkan lima pilar utama, yaitu: mekanisme komunikasi dan penyelarasan, mempertahankan keinginan, membangun kemampuan, pemberdayaan dan tata kelola, serta mengelola peran pemangku kepentingan. Strategi yang diusulkan diharapkan dapat mendukung implementasi ERP–SAP yang berkelanjutan di PTBA.
EVALUASI CUSTOMER RELATIONSHIP MANAGEMENT DAN PERSEPSI KUALITAS LAYANAN DI PALARI COFFEE & EATERY
Penelitian ini mengevaluasi efektivitas penerapan Customer Relationship Management (CRM) di Palari Coffee & Eatery, sebuah bisnis F&B yang mengalami tingkat kunjungan pelanggan baru yang tinggi namun kunjungan ulang yang rendah. Observasi awal menunjukkan adanya kesenjangan antara pengalaman layanan yang positif dan rendahnya retensi perilaku pelanggan, yang berdampak pada penurunan profitabilitas dari waktu ke waktu. Penelitian ini memiliki tiga tujuan: (1) menganalisis pengaruh CRM terhadap kepuasan pelanggan; (2) mengidentifikasi area CRM terlemah dalam mendukung kualitas layanan melalui analisis internal; dan (3) menyusun rencana perbaikan CRM yang terstruktur. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-method. Data kuantitatif diperoleh dari survei Likert terhadap 100 responden dan dianalisis menggunakan PLS-SEM untuk menilai pengaruh pemanfaatan pengetahuan pelanggan, praktik interaksi layanan, dan CRM berbasis teknologi terhadap kepuasan pelanggan. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara semiterstruktur untuk menggambarkan keterbatasan CRM, serta didukung oleh data transaksi internal untuk menganalisis perilaku retensi aktual. Analisis kapabilitas strategis dilakukan menggunakan VRIO dan Resource-Based View. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh praktik CRM berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan, dengan pengelolaan pengetahuan pelanggan sebagai faktor terkuat. Namun, tingkat retensi tetap rendah (19,3%), yang mencerminkan kesenjangan antara nilai yang dirasakan dan kunjungan ulang. Temuan kualitatif menunjukkan praktik interaksi layanan dan koordinasi internal mendukung pengalaman layanan yang positif, sementara pengelolaan pengetahuan pelanggan dan penggunaan teknologi masih belum terstruktur. Analisis RBV– VRIO menegaskan bahwa kapabilitas CRM berbasis pengetahuan dan teknologi memiliki potensi strategis tinggi, namun belum dimanfaatkan secara optimal akibat keterbatasan organisasi. Penelitian ini mengusulkan model penguatan CRM yang bersifat praktis melalui sepuluh inisiatif terintegrasi untuk meningkatkan pengambilan keputusan berbasis data dan memperkuat retensi pelanggan.
PENGEMBANGAN STRATEGI PEMASARAN UNTUK MENINGKATKAN KINERJA OKUPANSI: STUDI KASUS VILA ATMOSFERA DE LEMBANG
Meskipun industri perhotelan Jawa Barat tumbuh kuat dan jumlah wisatawan naik 25,93% (YoY), Atmosfera de Lembang justru mengalami penurunan okupansi yang tajam. Okupansi tertinggi senilai 85% pada 2022 turun menjadi sekitar 7–8 malam per kuartal pada pertengahan 2024. Penurunan ini terjadi meskipun kepuasan pelanggan sangat tinggi (4,9/5) dan kualitas layanan dinilai sangat baik (6,41/7). Kondisi ini menunjukkan adanya masalah bisnis yang serius dan perlu dianalisis secara sistematis. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengidentifikasi penyebab penurunan okupansi, menilai efektivitas pemasaran yang berjalan, menyusun ulang positioning, dan merumuskan solusi pemasaran yang lebih menyeluruh. Penelitian ini memakai metode konvergensi dengan gabungan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui survei terhadap 125 calon pengunjung dan 25 tamu yang pernah menginap untuk menganalisis pasar dan kualitas layanan saat ini. Wawancara juga dilakukan dengan pemilik vila dan agen vila di Lembang. Analisis data menggunakan kmeans (divalidasi Ward) untuk segmentasi, SERVPERF untuk kualitas layanan, RBV dan VRIO untuk analisis internal, Porter’s Five Forces untuk analisis eksternal, serta SWOT dan TOWS untuk perumusan strategi. Hasil penelitian menunjukkan penyebab utama penurunan okupansi adalah kesenjangan antara awareness dan kinerja. Atmosfera mencatat kepuasan produk sangat tinggi (6,42/7) dan kepuasan layanan 6,41/7, dengan 96% tamu puas. Namun, awareness berada pada level rendah, yaitu 3,95/7. Hanya 7,9% responden mengenali Atmosfera secara spontan, jauh di bawah pesaing (25,4%). Data digital juga menunjukkan pengelolaan Instagram yang belum teroptimasi: impresi turun 49,7%, frekuensi unggahan turun dari 10 konten per tahun menjadi 1 konten per tahun, dan pertumbuhan akun sangat rendah selama dua tahun terakhir. Analisis VRIO menegaskan kelemahan utama ada pada pemasaran, yang mengarah pada gap kemampuan dan pengetahuan pemasaran di tingkat manajemen. Analisis klaster menghasilkan tiga segmen. Segmen Premium Comfort Families dipilih sebagai target utama karena mewakili 61% sampel. Segmen ini berasal dari kelas menengah atas, usia 30–50 tahun, dan berdomisili di Bandung serta Jakarta. Positioning yang diusulkan, “Luxury That Feels Like Home”, menutup celah pasar karena pesaing umumnya menonjolkan kemewahan atau kenyamanan secara terpisah, bukan keduanya sekaligus. Strategi pemasaran disusun dengan kerangka 7Ps. Dengan focus meliputi penguatan pengalaman tamu tanpa belanja modal, harga premium dengan promosi early booking, perluasan OTA dengan fotografi profesional, pemasaran digital terkoordinasi (anggaran Rp4 juta) untuk iklan berbayar, promosi ulasan, dan kolaborasi influencer. Selain itu, dilakukan peningkatan kapabilitas karyawan lewat pelatihan positioning dan pelatihan daring, perbaikan touchpoint tanpa perubahan sistem besar, serta penguatan bukti fisik melalui desain logo. Analisis Economic Value Added (EVA) mengungkapkan bahwa strategi ini mengubah Atmosfera dari kondisi penurunan nilai yang parah (-IDR 518-550 juta per tahun) menjadi peningkatan nilai (+IDR 34-114 juta pada Tahun ke-3), menunjukkan bahwa pendekatan ini mengoptimalkan penggunaan modal melampaui sekadar peningkatan profitabilitas. Dari perspektif manajemen berbasis nilai, strategi ini mengubah aset yang berkinerja buruk menjadi perusahaan yang menciptakan nilai. Rencana implementasi 12 bulan diproyeksikan menaikkan okupansi dari 4–5 malam per bulan menjadi 12–14 malam per bulan. Dampaknya, pendapatan tahunan diperkirakan naik dari Rp216–270 juta menjadi Rp720–840 juta. Dengan investasi tahun pertama Rp84–95 juta, laba bersih diproyeksikan naik Rp107–280 juta, dengan ROI 187–298%, dan titik impas yang mulai tercapai pada bulan ke-8 sampai ke-9. Kelayakan finansial didukung margin laba kotor 60%, berdasarkan biaya operasional sekitar Rp2 juta per malam dan tarif Rp4,5–5 juta per malam. Penelitian ini diharapkan memberi kerangka kerja yang praktis untuk mengenali dan menutup kesenjangan awareness–kinerja pada bisnis boutique hospitality. Temuan ini menegaskan bahwa usaha kecil dapat meningkatkan pengenalan pasar dengan memaksimalkan keunggulan layanan dan menjalankan pemasaran secara konsisten serta terencana.
WIRED TO HIRE: KESIAPAN HR TERHADAP REKRUTMEN BERBASIS KECERDASAN BUATAN DI PERUSAHAAN TEKNOLOGI INDONESIA
Adopsi Artificial Intelligence (AI) dalam proses rekrutmen semakin berkembang di sektor teknologi Indonesia, namun pemahaman mengenai bagaimana HR mengalami, menafsirkan, dan menyesuaikan diri dengan perubahan ini masih terbatas. Penelitian ini mengkaji kesiapan HR dalam menggunakan rekrutmen berbasis AI melalui pendekatan kualitatif abductive, berdasarkan wawancara mendalam dengan 11 perekrut dari perusahaan teknologi dengan tingkat kematangan yang beragam. Dengan menggunakan metodologi Gioia, analisis mengidentifikasi bagaimana AI dipersepsikan dan digunakan pada tahapan sourcing, screening, dan selecting, serta bagaimana kesiapan terbentuk melalui komponen ADKAR. Temuan menunjukkan bahwa AI diterima sebagai asisten yang efektif pada tahap awal rekrutmen, ketika kecepatan dan efisiensi menjadi prioritas. Namun, keterbatasannya dalam akurasi dan penilaian kontekstual membuat pengawasan manusia tetap diperlukan terutama pada tahap seleksi akhir, yang tetap didominasi penilaian manusia. Kesiapan terlihat kuat pada aspek awareness dan desire, tetapi tidak merata pada aspek knowledge dan ability, yang banyak dipengaruhi oleh pembelajaran informal, dukungan rekan kerja, dan kemudahan sistem dibandingkan pelatihan formal. Komponen reinforcement menjadi yang paling kompleks, dipengaruhi oleh budaya organisasi, variasi adopsi antar tim, pembatasan privasi data, dan regulasi industri. Penelitian ini juga menunjukkan bagaimana AI mengubah peran HR: mengurangi beban administratif, memperkuat fokus pada interaksi manusia, dan menghadirkan kompetensi baru seperti prompting, literasi digital, dan evaluasi kritis terhadap keluaran AI. Secara teoretis, penelitian ini menawarkan perspektif bertahap (stage-based) mengenai adopsi AI dalam rekrutmen, memperluas pemahaman tentang kesiapan perubahan sebagai konstruksi yang bergantung pada konteks, serta memperkaya literatur mengenai konfigurasi peran manusia–AI. Secara praktis, temuan ini menegaskan bahwa integrasi AI yang efektif membutuhkan bukan hanya investasi teknologi, tetapi juga keselarasan budaya, pengembangan kapabilitas, dan tata kelola yang menghargai baik penilaian manusia maupun batasan kontekstual. Hasil penelitian menempatkan AI bukan sebagai pengganti perekrut, melainkan sebagai katalis yang mereposisi dan pada akhirnya memperkuat dimensi manusia dalam pekerjaan rekrutmen.
MOTIVATION, ENGAGEMENT, AND PERFORMANCE DYNAMICS IN THE GIG ECONOMY: UNDERSTANDING REAL ESTATE AGENTS BEYOND FORMAL EMPLOYMENT
Perkembangan ekonomi gig telah mendorong munculnya berbagai bentuk kerja non-formal berbasis kemitraan, termasuk dalam industri properti. Dalam konteks ini, agen properti beroperasi tanpa ikatan kontrak kerja formal, tidak menerima gaji tetap, serta sangat bergantung pada sistem komisi, fleksibilitas waktu, dan inisiatif pribadi. Model kerja tersebut menawarkan peluang kemandirian dan potensi pendapatan yang tinggi, namun sekaligus menciptakan ketidakpastian struktural yang berdampak pada stabilitas keterlibatan dan kinerja agen. Data industri (2024) menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil agen yang mampu berkontribusi secara konsisten setiap bulan, sekitar 8,2%-17,4%, sedangkan sebagian besar lainnya tidak aktif atau performanya kecil. Fenomena ini mengindikasikan adanya kesenjangan kritis antara motivasi awal untuk bergabung dan kemampuan agen untuk mempertahankan keterlibatan kerja secara berkelanjutan dalam sistem kerja berbasis kemitraan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam bagaimana motivasi, keterlibatan, dan kinerja dibangun, dialami, serta dipertahankan oleh agen properti yang beroperasi dalam ekonomi gig. Fokus penelitian diarahkan pada proses psikologis dan perilaku yang membedakan agen yang mampu mempertahankan kontribusi secara konsisten dengan agen yang menunjukkan pola kerja fluktuatif. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penyelidikan naratif dan analisis tematik untuk menangkap pengalaman subjektif, makna kerja, serta dinamika internal yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan melalui indikator kinerja kuantitatif. Data utama diperoleh melalui wawancara mendalam tidak terstruktur terhadap 12 agen dari 4 perusahaan agency properti yang terdaftar di AREBI Jawa Timur, dengan perbedaan konsistensi kinerja mereka. Wawancara dilakukan untuk menggali deskripsi agen mengenai praktik kerja mereka dalam sistem kemitraan properti, dengan menyoroti motivasi, keterlibatan, dan kinerja dari waktu ke waktu. Untuk memperkuat kredibilitas dan validitas temuan, penelitian ini dilengkapi dengan triangulasi data melalui wawancara dengan dua koordinator lapangan, dua kepala cabang perusahaan agency properti, dan satu perwakilan asosiasi profesi (AREBI) Jawa Timur, sehingga perspektif agen dapat dikonfirmasi dalam konteks organisasi dan ekosistem kemitraan yang lebih luas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan ekonomi merupakan pemicu utama partisipasi awal agen dalam pekerjaan berbasis kemitraan. Namun, faktor tersebut tidak cukup untuk menjelaskan keberlanjutan kontribusi dalam jangka panjang. Agen yang konsisten menunjukkan proses internalisasi tanggung jawab personal, kemampuan pengaturan diri yang lebih matang, serta kesadaran akan pentingnya membangun ritme kerja yang stabil. Keterlibatan kerja muncul sebagai konstruk multidimensional yang mencakup dimensi emosional, perilaku, dan kognitif. Ketiga dimensi ini saling berinteraksi dan berfungsi sebagai jembatan utama antara motivasi dan kinerja dalam lingkungan kerja tanpa struktur formal dan pengawasan langsung. Penelitian ini juga menemukan bahwa kinerja agen properti dalam ekonomi gig tidak semata-mata ditentukan oleh capaian penjualan jangka pendek, melainkan oleh konsistensi aktivitas, keberlanjutan proses kerja, serta kontribusi kontekstual terhadap ekosistem kemitraan. Agen yang konsisten memperlihatkan keterlibatan kerja yang terintegrasi, pengaturan diri yang stabil, serta kemampuan menjaga momentum kerja di tengah ketidakpastian pasar. Sebaliknya, agen yang tidak konsisten menunjukkan keterlibatan kerja yang terfragmentasi, ketergantungan tinggi pada faktor eksternal, dan pola kerja yang mudah terputus. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan tiga solusi praktis, yaitu program aktivasi agen baru, sistem dukungan keterlibatan agen, dan program pembelajaran serta kolaborasi. Ketiga solusi ini dirancang untuk mendukung proses adaptasi awal agen, menjaga keterlibatan kerja yang berkelanjutan, serta memperkuat kolaborasi dan pembelajaran kontekstual dalam lingkungan kerja berbasis kemitraan. Secara teoretis, studi ini memperkaya literatur mengenai dinamika motivasi, keterlibatan, dan kinerja dalam konteks ekonomi gig. Secara praktis, temuan penelitian ini memberikan implikasi penting bagi asosiasi profesi (AREBI Jawa Timur) dan perusahaan agency properti dalam merancang sistem pengelolaan agen yang berkelanjutan, adaptif, dan selaras dengan karakteristik kerja berbasis kemitraan.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN MANAJERIAL UNTUK OPTIMASI PROSES DI OPERASIONAL TEKSTIL CV JAYA MANDIRI
Penelitian ini membahas tentang inefisiensi operasional yang dialami oleh CV Jaya Mandiri, yang merupakan sebuah perusahaan tekstil dan desain interior. Inefisiensi operasional ini berfokus pada lamanya waktu proses dari pertama kali order masuk hingga order selesai. Dengan semakin meningkatnya ekspektasi pelanggan, persaingan yang semakin ketat, dan digitalisasi yang semakin cepat, waktu proses yang lama menjadi hambatan dalam mempertahankan daya saing dan kualitas layanan perusahaan. Selain itu, perusahaan juga bergantung pada alur kerja manual, mekanisme koordinasi informal, dan prosedur yang tidak standar yang berkontribusi pada lamanya durasi pemrosesan pesanan pelanggan hingga mencapai waktu dua minggu. Kondisi ini menunjukkan perlunya melakukan investigasi terstruktur pada penyebab keterlambatan operasional dan mengusulkan perbaikan yang sesuai dengan kondisi perusahaan di lingkup UMKM. Motivasi untuk melakukan penelitian ini muncul dari ketidakselarasan antara model operasional tradisional perusahaan dengan kondisi pasar saat ini, yang menjadikan tuntutan untuk mendesain ulang proses bisnis yang didukung oleh pengambilan keputusan manajerial. Penelitian ini dimulai dengan melakukan wawancara awal dengan CEO perusahaan untuk mendapatkan gambaran umum tantangan operasional dan prioritas dari perusahaan. Berdasarkan wawancara ini diketahui bahwa waktu proses yang lama sebagai masalah utama yang dialami. Selanjutnya, dengan dilakukan analisis akar penyebab dengan menggunakan metode 5 why untuk memeriksa mengapa membutuhkan waktu proses yang lama untuk menyelesaikan setiap order. Analisis tersebut mengungkapkan bahwa kurangnya sistem terintegrasi, koordinasi pengadaan yang tidak memadai, dan aliran informasi yang tidak konsisten antar departemen merupakan penyebab utama keterlambatan proses. Temuan ini menjadi dasar untuk analisis selanjutnya. Untuk mencapai tujuan penelitian, studi ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur dengan para pemangku kepentingan internal utama dan observasi lapangan langsung. Selanjutnya digunakanlah kerangka kerja Manajemen Proses Bisnis untuk memetakan proses bisnis "apa adanya", mengidentifikasi hambatan, dan mengklasifikasikan aktivitas menjadi komponen yang memberikan nilai tambah atau tidak memberikan nilai tambah. Analisis ini memungkinkan pembuatan desain ulang proses bisnis "yang akan datang", yang bertujuan untuk menyederhanakan alur kerja, meningkatkan efisiensi koordinasi, dan mengurang waktu proses. Dua alternatif desain ulang dihasilkan, masing masing berbeda dalam hal cakupan, perubahan struktural, dan kebutuhan sumberdaya. Alternatif pertama berfokus pada penghapusan aktivitas yang redundan dan tidak memberikan nilai tambah, sementara alternatif kedua menggunakan sistem manajemen inventaris untuk meminimalkan keterlambatan pengadaan. Untuk menentukan alternatif desain ulang proses bisnis mana yang menawarkan kesesuaian strategis dan operasional terkuat, penelitian ini menggunakan Simple Multi Attribute Rating Technique (SMART). Metode ini dipilih karena transparansinya, kesesuaiannya dengan konteks pengambilan keputusan UKM, dan kemampuannya dalam mengintegrasikan berbagai kriteria evaluasi. Alternatif tersebut dinilai berdasarkan faktor-faktor seperti kecepatan proses, kemampuan beradaptasi, ketahanan operasional, keunggulan kompetitif, biaya investasi awal, dan biaya operasional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perancangan ulang proses bisnis yang didukung oleh pengambilan keputusan manajerial yang sistematis dapat secara signifikan mengurangi waktu proses. Hasil penelitian ini berkontribusi pada pemahaman akademis dengan menunjukkan bagaimana BPM dan SMART dapat diintegrasikan dalam konteks umkm untuk mendukung perbaikan proses berbasi bukti. Selain itu, penelitian ini memberikan peta jalan praktis untuk merampingkan alur kerja dan membuat keputusan operasional yang terstruktur dalam lingkungan dengan sumber daya terbatas.
BUSINESS DECISION FOR OPTIMAL LOCATION OF GUDEG YU NAP IN BANDUNG: VALUE FOCUSED THINKING (VFT) – ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)
Gudeg Yu Nap adalah usaha kuliner rumahan yang menawarkan kuliner tradisional Yogyakarta di Bandung sejak tahun 2006. Perubahan perilaku konsumen, meningkatnya persaingan di bisnis kuliner, dan keinginan untuk membuka cabang baru sebagai bagian dari strategi ekspansi telah mendorong pemilik untuk mempertimbangkan lokasi cabang yang lebih strategis daripada hanya mengandalkan intuisi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi lokasi-lokasi yang paling diprioritaskan bagi Gudeg Yu Nap untuk berekspansi di wilayah Bandung Raya. Tiga alternatif dikaji: Arcamanik, Cimahi Pusat, dan Taman Kopo Indah. Penulis menggunakan pendekatan Analisis Keputusan Multi-Kriteria (MCDA), dengan menggunakan Value-Focused Thinking (VFT) untuk mengidentifikasi tujuan dan kriteria, Proses Hirarki Analitik (AHP) untuk pembobotan dan penentuan prioritas, serta analisis spasial, berdasarkan Teori Tempat Sentral Christaller, untuk mengkaji cakupan wilayah permukiman dan pusat layanan. Penelitian ini menggunakan data dari wawancara, observasi lapangan, dan kuesioner perbandingan berpasangan, yang kemudian dianalisis dengan uji konsistensi dan sensitivitas. Hasil tesis ini menunjukkan bahwa Taman Kopo Indah muncul sebagai lokasi prioritas tertinggi, dengan area hunian yang luas, akses yang relatif mudah, dan tingkat persaingan langsung yang cukup baik. Namun, pemilik harus melakukan studi kelayakan finansial dan survei pasar sebagai dasar pertimbangan sebelum mengambil keputusan akhir. Penelitian selanjutnya dapat diperluas dengan analisis finansial yang lebih mendalam atau dengan menerapkan pendekatan serupa pada jenis bisnis dan kota lain untuk menilai konsistensi.