📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

MENGOPTIMALKAN TRANSISI: MEMPERKUAT KESIAPAN KARYAWAN PASCA OJT DI COLLINS AEROSPACE

On-the-Job Training (OJT) merupakan salah satu mekanisme utama dalam pengembangan kompetensi tenaga kerja, khususnya pada organisasi manufaktur yang beroperasi dalam lingkungan dengan tuntutan keselamatan, kualitas, dan kepatuhan yang tinggi. Meskipun banyak organisasi telah memiliki sistem OJT yang terstruktur, permasalahan sering muncul pada tahap implementasi, seperti ketidaksesuaian antara desain pelatihan dan kondisi operasional di lapangan, inkonsistensi dalam proses evaluasi, serta variasi kualitas pembelajaran yang diterima oleh peserta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas sistem OJT yang diterapkan pada sebuah organisasi manufaktur dengan meninjau bagaimana program tersebut dirancang, dijalankan, dan dialami oleh para pemangku kepentingan utama. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada temuan berbagai isu operasional yang berkaitan dengan pelatihan, antara lain permasalahan kualitas produk, kejadian near-miss keselamatan, serta ketidakkonsistenan proses kerja. Isu-isu tersebut mengindikasikan adanya potensi kesenjangan antara prosedur pelatihan formal yang telah ditetapkan dengan praktik aktual di shopfloor. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi sistem OJT yang tidak hanya berfokus pada kepatuhan terhadap prosedur, tetapi juga memahami dinamika implementasi dan pengalaman pembelajaran di lapangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengintegrasikan data primer dan data sekunder untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif. Data primer dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap tiga kelompok responden utama, yaitu personel Human Resources, trainer/mentor, dan peserta OJT. Data wawancara dianalisis menggunakan metode Gioia untuk menghasilkan first-order concepts, second-order themes, dan aggregate dimensions yang merepresentasikan perspektif informan serta interpretasi peneliti. Sementara itu, data sekunder berupa standar operasional prosedur, kurikulum pelatihan, dashboard internal, dan dokumen pendukung lainnya dianalisis menggunakan content analysis. Selanjutnya, dilakukan triangulasi metodologis untuk membandingkan dan mengintegrasikan temuan dari data primer dan sekunder guna meningkatkan validitas dan kredibilitas hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem OJT secara struktural telah dirancang dengan baik, ditandai dengan tahapan pembelajaran yang jelas, jalur pengembangan kompetensi yang progresif, serta penekanan yang kuat pada keselamatan kerja dan kepatuhan terhadap prosedur. Namun demikian, efektivitas sistem tersebut masih dibatasi oleh berbagai tantangan pada tahap pelaksanaan. Tantangan utama yang diidentifikasi meliputi ketidaksesuaian antara materi pelatihan kelas dengan praktik aktual di lapangan, inkonsistensi dalam proses penilaian dan pemantauan kompetensi, lemahnya koordinasi antara HR, trainer, mentor, dan pimpinan produksi, serta keterlambatan pembaruan kurikulum akibat perubahan proses operasional. Selain itu, tekanan operasional seperti kebutuhan tenaga kerja dan target produksi juga memengaruhi durasi dan kualitas pelaksanaan OJT, yang dalam beberapa kasus menyebabkan percepatan pelatihan tanpa pengendalian yang memadai. Meskipun terdapat berbagai keterbatasan sistemik, penelitian ini menemukan bahwa efektivitas pembelajaran pada tingkat individu relatif tetap terjaga. Mekanisme pembelajaran berbasis pengalaman, seperti praktik langsung, pendampingan mentor, umpan balik secara real-time, serta kepatuhan terhadap instruksi kerja dan prosedur keselamatan, berperan penting dalam mengompensasi kelemahan sistem formal. Akibatnya, sebagian besar peserta OJT menyatakan memiliki tingkat kepercayaan diri dan kesiapan yang memadai untuk bekerja secara mandiri setelah menyelesaikan program OJT. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan sejumlah solusi bisnis yang bersifat praktis, antara lain penguatan tata kelola OJT, standarisasi alat evaluasi dan pemantauan, mekanisme sinkronisasi kurikulum secara berkala, peningkatan kapabilitas mentor melalui program sertifikasi, serta penguatan dokumentasi dan ketertelusuran kompetensi. Selain itu, disusun pula rencana implementasi menggunakan pendekatan 5W + 1H untuk memastikan keterlaksanaan dan keselarasan dengan kepentingan para pemangku kepentingan. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada penyediaan pemahaman yang mendalam dan berbasis bukti mengenai kesenjangan antara desain formal dan pelaksanaan sistem OJT, serta pentingnya pendekatan kualitatif dan triangulasi dalam evaluasi sistem pelatihan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi organisasi dalam meningkatkan efektivitas OJT, memperkuat kinerja keselamatan dan kualitas, serta mendukung pengembangan kapabilitas tenaga kerja secara berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Candra Tricahya Haryanto
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Pendidikan Kerja

ANALISA PREFERENSI INVESTOR RITEL DI DKI JAKARTA TERHADAP SAHAM IPO DI BURSA EFEK INDONESIA

Seiring berkembangnya pasar modal Indonesia dan meningkatnya partisipasi investor ritel, bukti empiris mengenai faktor-faktor yang mendorong investor individu untuk berlangganan saham initial public offering (IPO) masih terbatas. Penelitian ini menganalisis pengaruh Persepsi Risiko, Reputasi Perusahaan, dan Persepsi Pertimbangan Fundamental Keuangan terhadap preferensi (niat) investor ritel untuk membeli saham IPO di Bursa Efek Indonesia, dengan fokus pada investor yang berdomisili di DKI Jakarta. Dengan menggunakan desain survei potong lintang kuantitatif eksplanatori, data primer dikumpulkan melalui kuesioner daring dari 312 investor ritel yang dipilih secara purposif dan memenuhi kriteria inklusi yang diterapkan: investor saham BEI berdomisili di DKI Jakarta dengan minimal lima tahun pengalaman investasi saham serta minimal lima kali partisipasi IPO. Konstruk diukur menggunakan skala Likert 5 poin dan dievaluasi melalui uji reliabilitas dan validitas sebelum analisis. Hasil regresi linier berganda menunjukkan bahwa Persepsi Risiko berpengaruh negatif dan signifikan terhadap preferensi membeli saham IPO, sedangkan Reputasi Perusahaan dan Persepsi Pertimbangan Fundamental Keuangan berpengaruh positif dan signifikan. Model secara keseluruhan signifikan secara statistik dan mampu menjelaskan 39,5% variasi preferensi membeli saham IPO (R2 = 0,395). Temuan ini mengindikasikan bahwa niat berlangganan IPO pada investor ritel Jakarta dibentuk secara bersama oleh persepsi ketidakpastian, isyarat kredibilitas, serta sejauh mana investor mengandalkan fundamental dalam pengambilan keputusan. Penelitian ini menekankan pentingnya penguatan kredibilitas emiten dan kualitas pengungkapan, perbaikan komunikasi risiko, serta dukungan edukasi investor dan fitur pendukung keputusan pada platform investasi digital untuk mendorong partisipasi IPO yang lebih informasional dan berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Muhammad Tristan Budiman
🏷️ Investor Ritel Indonesia 🏷️ Analisis Preferensi Investasi 🏷️ Pasar Modal Indonesia

PERANCANGAN DAN EVALUASI SISTEM OBJECTIVES AND KEY RESULTS (OKR) BERBASIS DESIGN THINKING UNTUK KESELARASAN STRATEGIS PADA USAHA KECIL DAN MENENGAH

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memiliki peran penting dalam perekonomian, namun sering menghadapi tantangan dalam menerjemahkan visi strategis ke dalam pelaksanaan operasional yang terstruktur dan konsisten. Keterbatasan sumber daya, tingkat kematangan manajerial yang beragam, serta proses perencanaan yang cenderung informal menyebabkan kesenjangan antara strategi dan eksekusi. Kondisi ini berdampak pada rendahnya keselarasan antar fungsi, kurangnya kejelasan prioritas, serta kesulitan dalam memantau capaian kinerja secara terintegrasi. Dalam konteks tersebut, Objectives and Key Results (OKR) muncul sebagai kerangka manajemen kinerja yang adaptif dan berorientasi pada tujuan. Namun, implementasi OKR di lingkungan UKM tidak selalu berjalan efektif karena sering kali dirancang tanpa mempertimbangkan konteks organisasi, kesiapan pengguna, dan dinamika pemangku kepentingan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengevaluasi sistem Objectives and Key Results (OKR) yang kontekstual dan dapat dioperasikan secara efektif oleh UKM melalui pendekatan Design Thinking. Design Thinking digunakan sebagai kerangka perancangan karena menekankan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan pengguna, kolaborasi lintas pemangku kepentingan, serta proses iteratif dalam pengembangan solusi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif terapan dengan studi kasus pada Twostrap sebagai representasi UKM. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semiterstruktur dengan pemangku kepentingan kunci, observasi aktivitas organisasi, analisis dokumen internal, lokakarya kolaboratif, serta pengumpulan umpan balik pasca implementasi prototipe sistem OKR. Proses perancangan sistem OKR dilakukan melalui lima tahapan Design Thinking, yaitu empathize, define, ideate, prototype, dan test. Tahap empathize difokuskan pada eksplorasi pengalaman dan tantangan pemangku kepentingan dalam pengelolaan tujuan dan kinerja. Tahap define merumuskan permasalahan inti terkait keselarasan strategis. Tahap ideate menghasilkan alternatif desain sistem OKR yang relevan dengan konteks UKM. Selanjutnya, prototipe sistem OKR dikembangkan dan diuji secara terbatas. Evaluasi sistem dilakukan menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) untuk menilai persepsi kegunaan dan kemudahan penggunaan dari perspektif pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan Design Thinking memungkinkan integrasi perspektif pemangku kepentingan ke dalam perancangan sistem OKR, sehingga memperkuat keselarasan antara tujuan strategis dan aktivitas operasional sehari-hari. Evaluasi menunjukkan bahwa sistem OKR yang dirancang dipersepsikan relevan, mudah dipahami, dan mendukung kejelasan arah strategis, akuntabilitas, serta koordinasi lintas fungsi. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis berupa model perancangan dan evaluasi sistem OKR yang human-centered dan aplikatif bagi UKM, serta kontribusi akademik dengan memperkaya kajian mengenai adopsi OKR melalui pendekatan Design Thinking dalam konteks organisasi berskala kecil dan menengah.

2025
👤 Penulis: Geris Pradhana Anindhiya
🏷️ Design Thinking 🏷️ Objectives And Key Results (Okr) 🏷️ Manajemen Strategis Ukm

STRATEGI PERILAKU LAND REPRESENTATIVES DALAM MENGHADAPI PEMILIK LAHAN YANG SULIT: ANALISIS BERBASIS DISC UNTUK PROYEK ENVIRONMENTAL REMEDIATION DI PT. PERTAMINA HULU ROKAN

Proyek remediasi lingkungan, dan khususnya rehabilitasi tanah yang terkena dampak minyak bumi, merupakan masalah penting untuk tujuan kebersihan lingkungan dan penggunaan lahan yang produktif. Di Blok Rokan, Indonesia, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) diwajibkan untuk melakukan pemulihan kontaminasi minyak bumi yang dimulai sejak operasi eksplorasi dan eksploitasi migas Standard Oil of California, Caltex Pacific Indonesia, dan Chevron Pacific Indonesia yang terkait dengan eksploitasi minyak dan gas selama beberapa dekade. Salah satu masalah yang paling bertahan lama sejak penugasan operator dari Chevron ke PHR pada tahun 2021, adalah mendapatkan hak akses dari pemilik tanah yang tidak kooperatif atau menolak untuk terlibat dalam program remediasi. Kecenderungan perilaku pemilik tanah, metode komunikasi, dan disposisi emosional berpengaruh signifikan terhadap hasil negosiasi dalam pembebasan lahan. Untuk mendapatkan wawasan tentang dinamika tersebut, karya ini mencirikan LOS yang Sulit melalui model perilaku DISK: Dominasi (D), Pengaruh (I), Kemantapan (S), dan Kesadaran (C). Setiap kuadran adalah kategori perilaku. Pemilik tanah yang memiliki ciri Dominance (D) akan percaya diri, berwibawa, dan tidak kooperatif hingga mendapatkan apa yang diinginkannya. Pengaruh (I) individu cenderung menjadi orang yang emosional, banyak bicara, berorientasi pada emosi yang menghargai hubungan dan interaksi dengan orang lain. Tuan tanah dengan ciri S tertentu bersifat konservatif, konformis pasif, mencari kenyamanan, dan sering raguragu atau terpengaruh oleh orang lain. Di sisi lain, pemilik SLO yang memiliki C tinggi cenderung analitis, berorientasi pada detail, dan lebih legalistik atau berorientasi pada prosedur. Mengetahui perbedaan perilaku ini dapat mengarah pada identifikasi komunikasi yang benar dan taktik negosiasi. Penelitian ini bersifat mixed methods. Wawancara mendalam dilakukan dengan Perwakilan Pertanahan (LRS) untuk mendapatkan data kualitatif, untuk mengembangkan pemahaman tentang pengalaman mereka dalam mengelola LOS yang Sulit dan penilaian DISK dilakukan dengan semua LRS sebagai sumber data kuantitatif. Analisis tematik dilakukan untuk mengidentifikasi pola perilaku yang menonjol dalam LOS, sedangkan skor DISC diperiksa untuk menggambarkan profil LR dan hubungan perilaku tersebut terhadap efektivitas negosiasi. Hasilnya menunjukkan bahwa Pemilik Tanah yang Sulit memang memiliki profil perilaku DISK yang berbeda, yang memengaruhi pendekatan mereka terhadap negosiasi. Dalam hal sikap akses, pemilik tanah tipe-D menolak akses karena kekuatan posisi; Pemilik tanah tipe-I banyak menggunakan ekspresi emosi; Pemilik tanah tipe-S mudah terpengaruh oleh pendapat dari keluarga atau masyarakat luar; dan pemilik tanah tipe-C perlu memiliki justifikasi melalui proses administrasi yang rumit. Pekerjaan Perwakilan Pertanahan juga menunjukkan implikasi profil DISK yang beragam terhadap gaya negosiasi mereka. Interaksi antara profil LR dan LO menunjukkan efek substansial dari kesesuaian LR-LO pada hasil negosiasi. Menurut temuan ini, penelitian ini menyarankan beberapa rekomendasi untuk PHR: mengembangkan kursus pelatihan berbasis DISK untuk LR, merancang pedoman pencocokan LR-LO, dan mengadopsi strategi negosiasi berbasis perilaku menuju komunikasi yang efektif. Pendekatan berbasis aktivitas ini menambah efisiensi pada negosiasi akses ke lahan dan petunjuk praktis untuk perbaikan lingkungan yang lebih baik.

2025
👤 Penulis: Kevin Razadi
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

EKSPLORASI PERSEPSI PELAKU USAHA MIKRO DI JAKARTA TERHADAP TEKNOLOGI PEMBAYARAN SOUNDBOX: TANTANGAN, PENDORONG, DAN FAKTOR PENENTU ADOPSI

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia, namun tingkat adopsi pembayaran digital oleh usaha mikro masih terbatas akibat kurangnya kepercayaan dan kesulitan operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana usaha mikro di Jakarta menghadapi tantangan dalam penggunaan pembayaran digital serta bagaimana mereka memandang perangkat soundbox sebagai solusi untuk mengatasi tantangan tersebut. Sebanyak 21 pemilik usaha mikro di Jakarta yang telah menerapkan metode pembayaran QRIS diwawancarai menggunakan wawancara semi-terstruktur. Temuan mengidentifikasi 3 masalah utama; pembatasan dalam alur kerja yang mengurangi kemampuan verifikasi pembayaran real-time, penipuan seperti penipuan screenshot, serta kelemahan infrastruktur seperti keterlambatan transaksi dan koneksi jaringan yang tidak stabil. Menurut pedagang yang mengadopsi soundbox pada tahap awal, penggunaannya meningkatkan efisiensi operasional, menurunkan kecurangan, dan memperkuat kepercayaan terhadap transaksi digital. Kelompok early majority bersifat heterogen dalam keterbatasan informasi, kapabilitas, dan kepuasan terhadap praktik yang ada. Penelitian ini mengidentifikasi tiga jalur adopsi—pengalaman kecurangan, observasi rekan, dan promosi langsung—yang mengatasi hambatan psikologis implementasi. Dengan mengaitkan tantangan operasional dan kesenjangan persepsi, studi ini menawarkan strategi penerapan kontekstual. Relevansi soundbox bergantung pada konteks penggunaan: lalu lintas transaksi tinggi menunjukkan kebutuhan verifikasi kuat, sementara konteks rendah menunjukkan permintaan terbatas. Wawasan ini membantu penyedia fintech memfokuskan penerapan, menyesuaikan pemasaran bagi early majority, dan menyediakan dukungan terarah untuk mendorong inklusi keuangan usaha mikro dengan tantangan verifikasi.

2025
👤 Penulis: Sara Petrina Kembaren
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

STRATEGI PENGEMBANGAN IDENTITAS MEREK UNTUK RM. LAKSANA

Industri Food and Beverage (F&B) pasca-pandemi di Jawa Barat mencatatkan pertumbuhan agresif sebesar 15,53%, namun membawa tantangan saturasi pasar yang tinggi. RM. Laksana, sebuah restoran warisan (heritage) di Kuningan, menghadapi masalah strategis berupa "Kebingungan Merek" (Brand Confusion) akibat penggunaan nama generik yang serupa dengan kompetitor tidak terafiliasi di Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis posisi merek RM. Laksana dalam benak konsumen dan merumuskan strategi identitas merek untuk memperkuat diferensiasi. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif yang didukung oleh analisis deskriptif (descriptive analysis). Tahap diagnostik dilakukan secara deskriptif menggunakan instrumen Pemetaan Perseptual (Perceptual Mapping) terhadap 42 pelanggan internal dan 32 responden eksternal untuk memetakan dimensi Harga dan Autentisitas. Tahap formulasi strategi dilakukan secara kualitatif melalui wawancara mendalam (in-depth interview) dengan pemilik menggunakan kerangka kerja Strategic Branding Balakrishnan. Hasil analisis deskriptif mengungkap adanya "Kekosongan Pemasaran" (Marketing Void); pelanggan internal memposisikan merek sebagai High Genuineness (Kuadran 1) dengan skor kredibilitas tinggi (6,31), sementara persepsi eksternal menganggapnya sebagai "Komoditas Generik" dengan autentisitas rendah (3,96). Merespons temuan ini, penelitian merumuskan strategi "The Guardian of Heritage". Strategi ini mentransformasi integritas operasional internal, seperti larangan penggunaan ikan mati dan bumbu instan, menjadi diferensiator eksternal utama. Implementasi mencakup strategi harga Confidence Pricing, narasi komunikasi "Taste Never Lies", dan identitas visual hibrida. Solusi ini dirancang untuk menarik segmen Quality Seekers dan mengeliminasi kebingungan pasar tanpa mengubah nama historis restoran.

2025
👤 Penulis: Jaka Syaugi
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA STRATEGIS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEGAWAI: STUDI KASUS TENTANG USAHA UNPAD UNTUK MENINGKATKAN PERINGKAT UNIVERSITAS INTERNASIONAL

Internasionalisasi semakin dipandang sebagai strategi penting bagi perguruan tinggi dalam memperkuat kehadiran dan daya saing di tingkat global. Namun, kajian ilmiah di bidang ini masih banyak menyoroti peran dosen dan peneliti, sementara kontribusi staf non-akademik dalam mendukung operasional internasionalisasi belum banyak dibahas. Penelitian ini mengkaji tingkat kesiapan staf non-akademik di Universitas Padjadjaran—yang saat ini tengah berupaya memperkuat performa internasional—dalam menjalankan proses internasionalisasi yang berlangsung di balik layar. Penelitian menggunakan pendekatan sequential explanatory mixed methods. Tahapan diawali dengan penyusunan kerangka kompetensi yang dirumuskan melalui telaah literatur, praktik benchmarking, serta wawancara awal. Kerangka tersebut digunakan untuk menyusun instrumen survei berisi 72 butir pernyataan yang diberikan kepada 113 responden dan telah terbukti reliabel serta valid. Wawancara singkat dilakukan untuk memperjelas temuan survei dan memastikan bahwa interpretasi hasil selaras dengan konteks kelembagaan. Hasil penelitian menunjukkan pola yang konsisten. Staf non-akademik telah memiliki kesiapan perilaku yang kuat—antara lain motivasi, orientasi layanan, kemampuan beradaptasi, dan inisiatif. Namun, kemampuan operasional yang berkaitan dengan prosedur internasional, komunikasi bahasa Inggris, administrasi digital, layanan mobilitas internasional, dan interaksi lintas budaya masih perlu diperkuat. Kesenjangan tersebut lebih banyak bersumber dari sistem organisasi dibandingkan faktor individu. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan pengembangan Strategic Human Capital Management sebagai panduan peningkatan kompetensi, yang selaras dengan arah internasionalisasi dan dapat memperkuat kinerja global perguruan tinggi.

2025
👤 Penulis: Denden Firman Arief
🏷️ Manajemen Sumber Daya Manusia 🏷️ Internasionalisasi Perguruan Tinggi 🏷️ Kepemimpinan Organisasi

KETIDAKPASTIAN DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI ASIA TENGGARA (2018-2022): MENGUJI PEMBIAYAAN HIJAU SEBAGAI MODERATOR YANG BERGANTUNG PADA KRISIS

Penelitian ini menguji apakah pembiayaan hijau memoderasi hubungan antara ketidakpastian dan hasil pembangunan berkelanjutan di delapan negara Asia Tenggara selama periode 2018- 2022. Menggunakan analisis data panel dengan estimasi Fixed Effects, Random Effects, dan Panel-Corrected Standard Error pada 40 observasi negara-tahun, penelitian ini menguji apakah ketidakpastian merusak pembangunan berkelanjutan dan apakah pembiayaan Mitigasi Perubahan Iklim meredam dampak negatif tersebut. Temuan mengungkapkan heterogenitas temporal yang mendalam yang bertentangan dengan asumsi hubungan yang stabil. Analisis PCSE sampel penuh menunjukkan ketidakpastian memberikan efek tidak signifikan (? = - 0,015, p > 0,10), sementara pembiayaan Mitigasi Perubahan Iklim menunjukkan kontribusi signifikan (? = 0,023, p < 0,05). Efek moderasi terbukti sangat bergantung pada krisis dan bukan bersifat universal. Periode pra-COVID (2018-2019) tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan koefisien bertanda salah (? = -0,025, p > 0,10). Subsampel era COVID (2020-2022) mengungkapkan ketidakpastian secara signifikan merusak pembangunan berkelanjutan (? = -0,182, p < 0,05), pembiayaan iklim menunjukkan efek positif yang kuat (? = 0,106, p < 0,05), dan moderasi mendekati signifikansi (? = 0,047, p = 0,067), melemahkan dampak ketidakpastian sekitar 65 persen pada tingkat pembiayaan rata-rata. Pembiayaan Mitigasi Perubahan Iklim secara konsisten mengungguli Dana Lingkungan, menunjukkan koefisien yang stabil sementara ENV menunjukkan ketidakstabilan arah. Pertumbuhan PDB menunjukkan hubungan negatif dengan pembangunan berkelanjutan (? = -0,001, p < 0,05), mengonfirmasi trade-off pertumbuhan-keberlanjutan. Ketimpangan pembiayaan iklim yang ekstrem menjadi ciri kawasan, berkisar dari $1,25 juta per tahun (Malaysia) hingga $408 juta (Filipina). Temuan menantang kerangka moderasi seragam, mengungkapkan kapasitas penyangga pembiayaan hijau teraktivasi secara khusus selama episode ketidakpastian ekstrem ketika pembiayaan konvensional berkontraksi. Hasil penelitian menyarankan arsitektur pembiayaan iklim harus menekankan mekanisme countercyclical, memprioritaskan instrumen spesifik-iklim yang tertarget, dan mengatasi ketimpangan akses yang membatasi ketahanan krisis.

2025
👤 Penulis: Kezia Gohanna Pratiwi Silaban
🏷️ Ketidakpastian Ekonomi 🏷️ Hidrologi Lingkungan 🏷️ Pembiayaan Hijau

PERBANDINGAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DAN REGRESI LOGISTIK DALAM PREDIKSI KESULITAN KEUANGAN PADA INDUSTRI FARMASI INDONESIA

Kesulitan keuangan di perusahaan sering terjadi selama krisis keuangan besar, termasuk yang disebabkan oleh pandemi COVID-19. Fenomena ini dapat memengaruhi perusahaan yang terdaftar di bursa saham dan memiliki dampak yang lebih luas pada para pemangku kepentingan yang terlibat. Perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (IDX) telah menunjukkan tandatanda mengalami kesulitan keuangan. Arus kas operasional dan margin laba bersih industri tersebut tampak menurun selama beberapa tahun terakhir. Ketergantungan pada impor bahan baku Bahan Aktif Farmasi (API) juga menyebabkan kesulitan bagi industri, baik selama maupun setelah pandemi. Namun, model prediksi kesulitan keuangan (FDP) yang andal dapat membantu perusahaan mengelola risiko dan menghindari hasil negatif sebelum krisis terjadi. Model FDP telah berkembang dari metode statistik dan banyak pendekatan saat ini menggunakan pembelajaran mesin (ML). Jaringan Saraf Buatan (ANN) dan Regresi Logistik (Logit) diterapkan untuk memprediksi kesulitan keuangan dalam industri farmasi untuk melihat kinerja masing-masing dan menemukan metode prediksi yang paling akurat. Penelitian ini dilakukan dengan menentukan kriteria kesulitan keuangan dan mengumpulkan data dari perusahaan farmasi yang terdaftar di IDX pada kuartal pertama tahun 2017 hingga kuartal keempat tahun 2024. Variabel keuangan independen meliputi Rasio Cepat (Quick Ratio/QR), Rasio Cakupan Bunga (Interest Coverage Ratio/ICR), Margin Laba Operasi (EBIT Margin/EBITM), Rasio Utang terhadap Ekuitas (Debt-to-Equity Ratio/DER), dan Rasio Perputaran Total Aset (Total Assets Turnover Ratio/TATR). Variabel makro meliputi inflasi, PDB per kapita, dan suku bunga. Dalam penelitian ini, Logit menunjukkan kinerja yang lebih baik daripada ANN, mencapai akurasi tertinggi dan tingkat kesalahan klasifikasi terendah. Temuan Logit menunjukkan bahwa QR, EBITM, ICR, dan TATR berhubungan dengan kesulitan keuangan. Sementara itu, ANN yang dikombinasikan dengan SHapley Additive exPlanations (SHAP) mengungkapkan arah positif dan negatif dengan tiga fitur utama yaitu QR, EBITM, dan DER yang menjelaskan kesulitan keuangan di industri farmasi.

2025
👤 Penulis: Khairina Hasna Dzaidah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Keuangan 🏷️ Hidrologi

STRATEGI UNTUK MENGHILANGKAN MATERIAL ASING UNTUK MENINGKATKAN KEHANDALAN DARI BELT CONVEYOR

Tesis ini menyelidiki masalah kerusakan ban berjalan yang sering terjadi akibat material asing di fasilitas penanganan batubara perusahaan pertambangan Indonesia (PT. ABC). Insiden robekan ban tidak hanya mengurangi keandalan konveyor dan meningkatkan biaya perawatan, tetapi juga menimbulkan risiko operasional dan keselamatan yang signifikan, terutama di area berproduktivitas tinggi seperti stasiun pemuatan kereta. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi akar penyebab robekan ban akibat material asing dan mengevaluasi strategi perbaikan. Pendekatan keunggulan operasional diadopsi, dengan menggabungkan analisis kuantitatif data historis (frekuensi kerusakan, durasi, biaya perawatan, dan penyebab kegagalan untuk 2021 – 2024) dengan wawasan kualitatif dari wawancara semi-terstruktur dan observasi lapangan. Penelitian ini secara konseptual didasarkan pada Keunggulan Operasional (Operational excellence). Dalam fase Analisis, akar penyebab robekan ban diidentifikasi dan diprioritaskan menggunakan alat seperti diagram pareto dan analisis current reality tree, dan ditemukan bahwa akar penyebab kerusakan ban berjalan adalah kontaminan dari material asing seperti batubara tersilisifikasi, pelat logam, dan material oversize. Beberapa solusi alternatif kemudian dievaluasi menggunakan analisis keputusan multi-kriteria dengan mempertimbangkan Kualitas, Biaya, dan Pengiriman. Hasilnya menunjukkan bahwa pemasangan Selective Breaker Rotary untuk mencegah dan menghilangkan material asing sebelum mencapai konveyor merupakan strategi yang paling layak untuk mengurangi risiko robekan ban dan meningkatkan keandalan. Studi ini menyumbangkan kerangka pengambilan keputusan terstruktur dan desain konseptual untuk mengintegrasikan Selective Breaker Rotary ke dalam operasi penanganan batubara yang ada, mendukung pendekatan yang lebih proaktif dan meningkatkan keandalan ban berjalan.

2025
👤 Penulis: Ainun Ahmad Dzikri Jatmiko
🏷️ Keputusan Operasional 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Batubara 🏷️ Analisis Kualitatif-Kuantitatif

MEREKOMENDASIKAN GAYA KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA ORGANISASI YANG EFEKTIF UNTUK MENINGKATKAN KINERJA ORGANISASI: KASUS PT TUNGGAL RITEL INDONESIA

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tantangan kinerja yang terus-menerus dihadapi PT Tunggal Ritel Indonesia (HULM), sebuah perusahaan fesyen berskala menengah di Indonesia yang beroperasi dalam pasar yang dinamis dan kompetitif. Analisis awal mengungkapkan bahwa perusahaan mengalami volatilitas dalam pendapatan. Ketidakpuasan juga disampaikan oleh CEO, yang menyatakan adanya kesenjangan yang semakin melebar antara target penjualan dan realisasi. Selain itu, para manajer melaporkan bahwa karyawan merasa tidak puas akibat lemahnya koordinasi lintas fungsi, arahan yang tidak jelas, keterbatasan apresiasi, serta keterlibatan kerja yang rendah. Penelitian ini berangkat dari proposisi bahwa berbagai permasalahan tersebut mencerminkan adanya ketidaksesuaian antara budaya organisasi dan pendekatan kepemimpinan yang diterapkan. Berdasarkan literatur perilaku organisasi, penelitian ini mengasumsikan bahwa gaya kepemimpinan memengaruhi kinerja secara langsung maupun tidak langsung melalui budaya organisasi yang dialami karyawan. Dalam konteks tersebut, penelitian ini memiliki dua tujuan utama, yaitu menilai budaya organisasi saat ini dan yang diharapkan di HULM, serta merekomendasikan gaya kepemimpinan yang selaras dan mendukung perubahan budaya organisasi yang diusulkan. Integrated Culture Framework digunakan sebagai kerangka utama, yang mengonseptualisasikan delapan gaya budaya berdasarkan dimensi interaksi antarmanusia dan respons terhadap perubahan. Penelitian ini menggunakan survei kuantitatif dengan skala Likert. Pendekatan sensus diterapkan, di mana seluruh 84 karyawan HULM diundang untuk mengisi kuesioner yang disusun berdasarkan Integrated Culture Framework. Responden menilai setiap pernyataan dua kali pada skala Likert: pertama, sejauh mana pernyataan tersebut menggambarkan kondisi saat ini, dan kedua, sejauh mana mereka mengharapkan pernyataan tersebut menggambarkan organisasi di masa depan. Analisis data dilakukan dalam beberapa tahap. Uji reliabilitas dan analisis data eksploratori dilakukan pada tingkat komposit dan atribut dengan menggunakan median, persentase top-two-box, rata-rata, dan rentang interkuartil. Karakteristik distribusi serta efek floor dan ceiling kemudian diperiksa. Karena asumsi parametrik tidak sepenuhnya terpenuhi, uji Wilcoxon signedrank digunakan untuk mengevaluasi apakah perbedaan antara skor budaya saat ini dan yang diharapkan bermakna secara statistik. Pada tahap akhir, profil budaya yang diharapkan dicocokkan secara konseptual dengan karakteristik berbagai gaya kepemimpinan yang diidentifikasi dalam literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karyawan memersepsikan budaya yang saat ini dominan di HULM sebagai budaya “order”, sedangkan budaya yang diharapkan mencerminkan kombinasi empat gaya budaya, yaitu “caring”, “order”, “safety”, dan “learning”. Kesenjangan antara skor budaya saat ini dan yang diharapkan pada keempat gaya tersebut terbukti signifikan secara statistik, yang mengindikasikan adanya kebutuhan yang jelas, menurut persepsi karyawan, untuk melakukan penyesuaian budaya. Proses pencocokan kata kunci antara atribut budaya yang diharapkan dan karakteristik beberapa gaya kepemimpinan menunjukkan bahwa servant leadership merupakan gaya kepemimpinan yang paling selaras dan paling mendukung perubahan budaya organisasi yang diusulkan. Penekanannya pada kemampuan mendengar, memberdayakan orang lain, memberikan dukungan, serta memprioritaskan pertumbuhan pengikut selaras dengan kombinasi budaya yang diinginkan. Berdasarkan kesimpulan tersebut, penelitian ini mengusulkan sebuah program perubahan budaya yang distrukturkan ke dalam lima langkah dalam Culture Cascade Framework, mulai dari penyelarasan kepemimpinan hingga pelembagaan komunikasi dua arah. Secara konseptual, penelitian ini menunjukkan bagaimana keselarasan budaya–kepemimpina dapat dicapai pada sebuah usaha fesyen berskala menengah dengan menyelaraskan kombinasi gaya budaya tertentu dengan pendekatan servant leadership dan mengoperasionalkan keselarasan tersebut melalui suatu kerangka perubahan budaya. Secara praktis, penelitian ini menawarkan HULM sebuah metode terstruktur untuk bergeser dari budaya yang didominasi “order” menuju lingkungan kerja yang lebih berpusat pada manusia dan berorientasi pada pembelajaran, yang dari waktu ke waktu diharapkan dapat meningkatkan kinerja organisasi.

2025
👤 Penulis: Felicia Gondo Saputra
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

STRATEGI UNTUK MENINGKATKAN MANAJEMEN MATERIAL GUNA MENINGKATKAN EFISIENSI PROSES DI PT ABC

Efisiensi proses manajemen material sangat penting untuk mengurangi ketidaksesuaian pengiriman material yang berulang. Tesis ini menyelidiki strategi untuk meningkatkan manajemen material guna meningkatkan inefisiensi proses yang telah diidentifikasi. Penelitian ini menggunakan metode Analisis Akar Penyebab (RCA) melalui Diagram Tulang Ikan (Ishikawa) untuk membuat rekomendasi yang secara langsung mengatasi akar penyebab. Pentingnya efisiensi proses dipaparkan, karena Staf Rantai Pasokan memiliki beban kerja yang tinggi, dan ketidaksesuaian pengiriman material dijelaskan, dengan merinci kasus-kasus ketidaksesuaian pengiriman yang berulang. Hal ini menunjukkan inefisiensi proses dalam manajemen material saat ini. Metrik pengadaan diukur dan dianalisis, pada 36 Pesanan Pembelian (PO) dan 158 pemasok aktif. Alur proses manajemen material saat ini dan tanggapan wawancara juga dianalisis. RCA kemudian dilakukan, mengkategorikan akar penyebab untuk diselaraskan dengan solusi yang diusulkan. Solusi yang diusulkan meliputi penguatan IC, pengembangan program pelatihan, penambahan tenaga kerja, sistem tender pemasok, dan evaluasi kinerja pemasok. Analisis biaya manfaat (CBA) dilakukan untuk membenarkan biaya, dengan mempertimbangkan perkiraan biaya tahunan untuk perbedaan pengiriman (IDR 230.666.250), biaya pengujian laboratorium (IDR 23.850.000), biaya tenaga kerja tambahan (IDR 130.000.000), dan jumlah rata-rata PO pupuk (90 PO). Rencana jangka waktu implementasi menciptakan struktur untuk implementasi rekomendasi, dan memastikan bahwa peningkatan manajemen material dapat dilaksanakan dalam jangka panjang.

2025
👤 Penulis: Hana Mazaya
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Efisiensi Proses 🏷️ Analisis Biaya Manfaat

PENGARUH STRATEGI ADOPSI KENDARAAN LISTRIK TERHADAP PROFITABILITAS DAN NILAI PERUSAHAAN DALAM INDUSTRI OTOMOTIF ASIA

Pergeseran menuju mobilitas listrik menjadi katalis utama yang merevolusi industri manufaktur otomotif di Asia. Pasar otomotif global mengalami perubahan dinamika pasar karena pemerintah di berbagai negara telah menetapkan tujuan untuk mencapai akses listrik penuh di beberapa wilayah mereka sebagai bentuk kontribusi komitmen pengurangan emisi. Namun strategi elektrifikasi ini dapat menjadi tantangan finansial tersendiri bagi industri otomotif ataupun menjadi strategi bisnis berkelanjutan utama untuk mencapai kesuksesan jangka panjang. Dalam konteks ini, studi ini bertujuan untuk menyelidiki sejauh mana berbagai indikator strategi adopsi kendaraan listrik (EV) terkait dengan profitabilitas dan nilai perusahaan dalam lingkungan dinamis seperti industri saat ini.. Studi ini menggunakan pendekatan data kuantitatif dengan pengujian regresi data panel. Pengamatan dilakukan pada tingkat perusahaan untuk 21 produsen otomotif yang terdaftar secara publik di Asia. Periode pengamatan dilakukan pada tahun 2018 hingga 2024 yang mencakup laju perkembangan EV selama periode tersebut. Tiga indikator digunakan untuk mengukur strategi adopsi EV: Rasio Penjualan EV, Keragaman Produk EV, dan Paten EV. Profitabilitas diukur menggunakan return on assets (ROA) dan nilai perusahaan dikur menggunakan Tobin’s Q. Untuk memisahkan pengaruh strategi EV dari perbedaan struktural antar perusahaan, ukuran perusahaan, usia perusahaan, leverage, produk domestik bruto, inflasi, dan perubahan harga minyak mentah digunakan sebagai variabel kontrol. Hasil studi ini menunjukan implikasi keuangan yang beragam dari ketiga indikator strategi adopsi EV. Rasio Penjualan EV menunjukan pengaruh negatif yang signifikan terhadap profitabilitas, artinya peningkatan pangsa penjualan EV memberikan tekanan jangka pendek pada kinerja operasional daripada manfaat. Namun Keragaman Produk EV dan Paten EV tidak berpengaruh terhadap profitabilitas, yang menunjukan bahwa penawaran model EV yang lebih beragam dan dampak sumber daya teknologi seperti paten tidak dirasakan secara langsung memberikan manfaat keuangan. Hasil lain menunjukkan bahwa Rasio Penjualan EV dan Keragaman Produk EV tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan, hal ini menyiratkan bahwa pasar modal belum mempertimbangkan secara sistematis elemen strategi EV ini dalam hal nilai perusahaan. Namun, Paten EV menunjukkan dampak positif yang signifikan terhadap nilai perusahaan, karena mewakili persepsi investor terhadap aset teknologi terkait EV sebagai peningkatan nilai. Kesimpulan ini sejalan dengan pandangan bahwa paten dapat berfungsi sebagai bentuk aset yang bertindak sebagai indikator awal inovasi yang dapat melindungi keunggulan kompetitif di masa depan dan berkontribusi pada sentimen pasar terhadap posisi jangka panjang. Secara ringkas, studi ini menunjukkan transisi menuju EV akan menjadi beban keuangan bagi perusahaan tanpa adanya perencanaan dan strategi yang matang, sementara aset berorientasi inovasi, terutama paten, mulai berubah menjadi nilai tambah perusahaan. Adapun implikasi bisnis bagi manajer untuk menyeimbangkan ekspansi EV dengan keberlanjutan keuangan, dan bagi pembuat kebijakan untuk memfasilitasi kemampuan industri yang akan memungkinkan mereka tetap kompetitif dalam jangka panjang di tengah perkembangan EV.

2025
👤 Penulis: Nanda Ismi Kumalawati
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN SISTEM MANAJEMEN KINERJA DENGAN MENGGUNAKAN BALANCE SCORECARD SEDERHANA DAN PENDEKATAN BERBASIS KOMPETENSI: STUDI KASUS PADA PERUMDA AIR MINUM TIRTA JAYA MANDIRI (PDAM) KABUPATEN SUKABUMI

Organisasi dituntut untuk memastikan akuntabilitas, kualitas layanan, dan keselarasan strategis guna menjaga keberlangsungan perusahaan. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pengelolaan kinerja karyawan yang efektif. Namun, pada banyak organisasi pelayanan publik, termasuk PDAM Kabupaten Sukabumi, evaluasi kinerja karyawan masih bersifat administratif. Kondisi ini membatasi kemampuan organisasi dalam mengaitkan strategi organisasi dengan kinerja individu serta pengembangan karyawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan direktur utama dan kepala divisi, serta didukung oleh dokumen organisasi dan laporan kinerja sekunder. Data dianalisis menggunakan analisis tematik dan triangulasi untuk mengidentifikasi kesenjangan antara praktik manajemen kinerja yang berjalan dengan karakteristik sistem manajemen kinerja yang ideal. Berdasarkan hasil analisis tersebut, penelitian ini merancang Sistem Manajemen Kinerja (PMS) terintegrasi dengan mengombinasikan Balanced Scorecard untuk pengukuran kinerja berbasis Key Performance Indicators (KPI) dan pendekatan berbasis kompetensi untuk menilai potensi karyawan. Strategi organisasi diterjemahkan ke dalam KPI dan persyaratan kompetensi yang terdefinisi, kemudian diintegrasikan menggunakan kerangka McKinsey 9-Grid sebagai alat analisis. Luaran penelitian ini berupa rancangan sistem penilaian kinerja terstruktur yang dapat menjadi dasar penerapan manajemen kinerja yang lebih sistematis, objektif, dan berorientasi pada pengembangan di PDAM Kabupaten Sukabumi.

2025
👤 Penulis: Farhan muhammad raihan
🏷️ Manajemen Karyawan 🏷️ Sistem Manajemen Kinerja (Pms) 🏷️ Balanced Scorecard

MENGEMBANGKAN STRATEGI AKUISIS PELANGGAN UNTUK WISATA GASTRONOMI PEDESAAN: STUDI KASUS PADA SAREMA

Pariwisata global pasca-pandemi telah mengalami pergeseran paradigma, ditandai dengan meningkatnya minat akan pengalaman perjalanan yang otentik, mendalam, dan berkelanjutan. Terlepas dari kondisi makro, Sarema, sebagai operator pariwisata skala kecil menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan skala model bisnis ditandai denga rendahnya tingkat okupansi. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kemampuan internal Sarema dan lingkungan persaingan eksternal, mengevaluasi komponen penting yang memengaruhi keputusan pelanggan tentang wisata minat khusus ini, dan mengembangkan strategi akuisisi pelanggan yang menyeluruh untuk meningkatkan jangkauan pasar. Penelitian ini mengintegrasikan analisis kualitatif dan kuantitatif untuk memberikan diagnosis komprehensif terhadap permasalahan bisnis. Hasil empiris mengungkapkan bahwa variabel bauran pemasaran tradisional, khususnya Produk, Tempat, Promosi, Orang, dan Proses, ditemukan memiliki dampak langsung yang tidak signifikan terhadap Sikap Pelanggan. Sebaliknya, studi ini mengidentifikasi bahwa Harga, Bukti Fisik, dan Motivasi Pendorong dan Penarik merupakan prediktor terkuat dari sikap positif dan minat pembelian. Studi ini menggabungkan hasil dengan matriks TOWS dan menghasilkan langkah strategis yang berpusat pada empat inisiatif utama: membangun Sarema sebagai destinasi regional Garut Utara; menggabungkan konten secara menyeluruh untuk menjadikan Sarema sebagai destinasi regional; mengatasi kendala skalabilitas dengan mengalihkan model pendapatan ke program pendidikan B2B dengan volume tinggi; mengatur unit SDM untuk memanfaatkan tren viral; dan membangun jaringan afiliasi terdesentralisasi dari Key Opinion Consumer (KOC) untuk menjembatanai kebutuhan marketing dnegan anggaran yang terbatas. Studi ini membantu bidang akademis dengan menunjukkan bahwa motivasi dan psikologis konsumen seringkali lebih penting daripada strategi pemasaran fungsional sebagai pendorong utama dalam perjalanan pengalaman khusus. Secara praktis, studi ini memberikan Sarema rencana implementasi yang dapat ditindaklanjuti dan berbasis data, memastikan bahwa strategi yang diusulkan terukur, tepat waktu, dan selaras dengan visi jangka panjang organisasi untuk menjadi pelopor dalam pariwisata gastronomi pedesaan berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Sri Wahyuni
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Pariwisata Gastrodomik Pedesaan 🏷️ Psikologi Konsumen
Halaman 257 dari 6754
💬