📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPENINGKATAN KANDUNGAN FILANTIN PADA PHYLLANTHUS NIRURI L. MELALUI ELISITASI DENGAN JAMUR ENDOFIT DAN INDUKSI CEKAMAN KEKERINGAN
Phyllanthus niruri (meniran) merupakan salah satu tanaman obat yang mengandung berbagai senyawa dengan potensi farmakologis, seperti fenol, flavonoid, dan lignan. Salah satu senyawa lignan yang menjadi senyawa penanda penting dalam penilaian kualitas meniran adalah filantin. Senyawa ini memiliki berbagai aktivitas farmakologis, seperti hepatoprotektif, antioksidan, dan imunomodulator pada manusia. Pada tanaman, lignan berfungsi sebagai metabolit sekunder yang berperan dalam respons pertahanan terhadap cekaman lingkungan. Biosintesis dan akumulasi metabolit sekunder pada tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Oleh karena itu, peningkatan kandungan filantin pada meniran dapat dicapai melalui rekayasa kondisi lingkungan tempat tumbuhanya tanaman, salah satunya dengan penggunaan elisitor abiotik dan biotik. Mekanisme sinyal elisitasi tersebut perlu dipelajari secara mendalam melalui pendekatan integratif yang mencakup analisis pertumbuhan, fisiologi, metabolomik, metagenomik, dan transkriptomik. Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh elisitasi sinergis antara jamur endofit dan mikroba rizosfer yang diisolasi dari meniran, dikombinasikan dengan induksi cekaman kekeringan, terhadap aspek pertumbuhan, perkembangan dan akumulasi metabolit sekunder. Parameter yang diamati meliputi kandungan filantin, fenol total, flavonoid total, akumulasi ROS (H2O2), serta aktivitas enzim antioksidan SOD, APX dan CAT. Selain itu, penelitian ini juga mengevaluasi pengaruh elisitasi sinergis pada meniran melalui pendekatan multiomik. Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan, antara lain: (1) elisitasi jamur endofit, mencakup eksplorasi, isolasi, uji potensi, identifikasi molekuler, analisis koeksistensi, dan uji kokultivasi pada meniran; (2) seleksi level cekaman kekeringan; (3) elisitasi sinergis jamur endofit dan cekaman kekeringan terpilih; (4) analisis fisiologis dan biokimia melalui analisis kandungan filantin, flavonoid total, fenol total, akumulasi H2O2, dan aktivitas enzim antioksidan SOD, APX, dan CAT; serta (5) analisis metabolomik, metagenomik, dan transkriptomik untuk menjelaskan mekanisme molekuler yang mendasari respons tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi dengan jamur Fusarium sp. dan pemberian cekaman kekeringan sebesar 55% Kapasitas Lapang (KL) pada 7 minggu setelah tanam (MST) memicu peningkatan kandungan H2O2, sebagai sinyal cekaman, yang diikuti oleh peningkatkan aktivitas enzim antioksidan (APX, CAT, SOD), prolin, flavonoid total, kandungan filantin, dan rendemen filantin. Peningkatan kandungan filantin ini disertai dengan penurunan senyawa penanda cekaman seperti eicosane dan 7,9-Di-tert-butyl-1-oxaspiro(4,5)deca-6,9-diene-2,8- dione. Elisitasi sinergis tidak hanya meningkatkan akumulasi senyawa antioksidan dan filantin, tetapi juga mengaktivasi jalur biosintesis metabolit sekunder seperti ubiquinone, terpenoid- quinon, steroid, sesquiterpenoid, triterpenoid, serta metabolisme primer seperti glikolisis dan piruvat, yang mendukung ketahanan tanaman terhadap cekaman. Analisis metagenomik menunjukkan bahwa kokultivasi Fusarium sp. dan cekaman kekeringan 55% KL membentuk kembali komunitas mikroba di tajuk, akar, dan rizosfer dengan keberhasilan introduksi Fusarium delphinoides yang sebelumnya tidak terdeteksi pada kontrol. Perubahan komunitas jamur ini disertai dengan peningkatan kelimpahan kelas jamur seperti Dothideomycetes, Saccharomycetes, dan Sordariomycetes, yang berpotensi meningkatkan toleransi cekaman dan berperan sebagai agen biokontrol. Korelasi antar genus jamur menunjukkan bahwa Fusarium dapat bertindak sebagai pemicu suksesi komunitas mikroba spesifik . Analisis transkriptomik menunjukkan bahwa perlakuan sinergis meningkatkan ekspresi 1.669 gen yang terkait dengan respons pertahanan kompleks, termasuk aktivasi jalur fitohormon, metabolisme primer dan sekunder, serta regulasi pertumbuhan. Jalur fenilpropanoid terinduksi secara spesifik, termasuk biosintesis flavonoid dan lignan. Meskipun gen PAL mengalami penurunan ekspresi, gen kunci dalam sintesis lignan seperti 4CLL1, CCR1, CADH, HST, CSE, LAC14, LAC9, C81Q2, dan SILD mengalami peningkatan ekspresi, yang mengindikasikan aktivasi jalur pinoresinol/secoisolariciresinol menuju akumulasi filantin. Respons cekaman juga melibatkan aktivasi jalur biosintesis senyawa pertahanan lainnya seperti terpenoid (GTOMC, TOCC), steroid (DET2, VEP1, HSD1b, HSD6), dan triterpenoid (BAMS, LUPS). Walaupun beberapa gen flavonoid seperti CHSY, CHIL2, dan F3PH mengalami penurunan ekspresi, kandungan total flavonoid tetap meningkat, menunjukkan adanya regulasi diferensial pada tingkat transkripsi dan metabolisme. Perubahan ekspresi gen yang terkonsentrasi pada apoplas (ruang antar sel), dinding sel, kloroplas, dan vakuola, menunjukkan adanya restrukturisasi sel dan peningkatan metabolisme energi, sintesis protein, serta interaksi tanaman-mikroba sebagai respons adaptif terhadap elisitasi dan cekaman. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan informasi penting mengenai respons fisiologis dan molekuler meniran terhadap elisitasi sinergis melalui inokulasi jamur endofit dan cekaman kekeringan, yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut untuk budidaya tanaman obat berkualitas tinggi.
STUDI GEOLOGI DAN GEOKIMIA FLUIDA MANIFESTASI PANAS BUMI DAERAH CIANJUR BAGIAN SELATAN, JAWA BARAT
Beberapa manifestasi panas bumi ditemukan di daerah Cianjur bagian selatan, khususnya Tanggeung, Cibungur, Leles, dan Panyindangan. Tujuan penelitian ini adalah memahami kondisi geologi yang mengontrol keluaran manifestasi, mengetahui asal; karakteristik; dan pola aliran fluida bawah permukaan, serta mengetahui model geokimia sistem geotermal daerah penelitian. Secara geologi, daerah penelitian terdiri atas tujuh satuan batuan, yaitu: Satuan Breksi Volkanik, Breksi Tuf, Batupasir, Batupasir Karbonatan, Diorit, dan Andesit. Adapun struktur geologi di daerah penelitian meliputi: sesar naik, Sesar Geser Mengiri Cibungur, Sesar Geser Mengiri Leles, Sesar Geser Menganan Leuwilutung, dan Sesar Geser Menganan Sukajadi. Struktur geologi diduga menjadi pengontrol sistem geotermal di daerah penelitian Hasil analisis geokimia menunjukan bahwa terdapat 5 reservoir di daerah penelitian. Sistem geotermal Tanggeung memiliki kolam air panas (PTG) bertemperatur 63,9°C dan pH 7,8. Reservoir sistem geotermal Tanggeung memiliki temperatur 120±10°C di kedalaman 18 meter pada Satuan Batuan Breksi Tufan. Sistem geotermal Cibungur memiliki dua kolam air panas dan satu kolam air hangat (PPG, PCB, dan PCH) dengan temperatur dan pH masing-masing: 55,2°C, 53,5°C, dan 41,3°C serta 8,3, 8,5 dan 8,6. Seluruh manifestasi berasal dari reservoir yang sama. Reservoir tersebut memiliki temperatur 120±10°C di kedalaman 18 meter pada Satuan Batuan Breksi Tufan. Sistem geotermal Leles memiliki tiga kolam air panas (PL1, PL2, dan PL4) dengan temperatur dan pH masing-masing: 65,7°C, 65,3°C, dan 57°C serta 7,7 di seluruh manifestasi. Manifestasi PL1 dan PL2 berasal dari reservoir yang sama, sedangkan manifestasi PL4 berasal dari reservoir yang berbeda. Kedua reservoir tersebut memiliki temperatur 110±10°C di kedalaman 10 meter pada Satuan Batupasir Karbonatan. Sistem geotermal Panyindangan memiliki kolam air hangat bertemperatur 38,9°C, pH 7,75, dan debit 1 liter/detik. Reservoir sistem geotermal Panyindangan memiliki temperatur 110±10°C di kedalaman 10 meter pada Satuan Batupasir Karbonatan.
SEGMENTASI GRUP FASIES SEISMIK PADA DATA 3D POST-STACK DENGAN MENERAPKAN CONVOLUTIONAL NEURAL NETWORK
Segmentasi grup fasies seismik secara konvensional merupakan proses manual yang memakan waktu, subjektif, dan sulit diaplikasikan pada data seismik 3D bervolume besar. Penelitian ini mengusulkan penerapan metode deep learning untuk mengotomatisasi proses tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengimplementasikan dan membandingkan performa dua arsitektur Convolutional Neural Network (CNN) untuk tugas segmentasi fasies seismik. Model pertama arsitektur CNN sekuensial dasar, sedangkan model kedua mengadopsi arsitektur encoder-decoder lebih kompleks. Kedua model dilatih dan diuji menggunakan set data publik Blok F3 Lepas Pantai Belanda yang memiliki label fasies terinterpretasi. Optimasi hyperparameter, seperti laju pembelajaran dan jumlah filter, dilakukan untuk memperoleh arsitektur terbaik. Evaluasi model didasarkan pada kemampuannya dalam memvalidasi data latih dan memprediksi fasies pada data uji yang belum pernah terlihat sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model dengan arsitektur encoder-decoder secara signifikan mengungguli model CNN dasar. Model encoder-decoder mampu menghasilkan peta segmentasi fasies yang lebih detail dan akurat, serta konsisten dengan label interpretasi manual. Hasil ini membuktikan potensi arsitektur encoder-decoder sebagai alat bantu yang efektif, cepat, dan objektif untuk interpretasi fasies seismik skala besar.
KOMPOSISI SPESIES DAN STRUKTUR KOMUNITAS BURUNG DI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO TNGGP, JAWA BARAT
Tekanan antropogenik di kawasan konservasi seperti Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dapat mengubah tutupan lahan hutan sehingga berdampak pada keanekaragaman hayati, salah satunya kelompok burung. Penelitian ini dilakukan untuk menginventarisasi kekayaan spesies burung, menghitung keanekaragaman spesies burung, serta membandingkan tipe komunitas burung pada tiga tipe tutupan lahan yang berbeda di tiga lokasi (jarak antar titik ±300 m; total sembilan titik), yaitu area Lapangan Golf-Balai TNGGP (LB), Telaga Biru (TB), dan Rawa Gayonggong–Curug Cibeureum (CB) pada bulan April– Agustus 2025. Parameter yang dicatat selama periode pengamatan adalah nama spesies burung dan jumlah individu; karakter morfologi dan suara diamati untuk mengidentifikasi spesies burung. Faktor lingkungan seperti suhu udara (oC), kelembapan (%), dan intensitas cahaya (lux) diukur menggunakan data logger. Data komposisi spesies burung dan jumlah individu dianalisis untuk menghitung Indeks Nilai Penting (INP), indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’), dominansi (D), dan kemerataan (E). Analisis Non-metric Multidimensional Scaling (NMDS) dilakukan untuk menggambarkan komunitas burung di area penelitian, PERMANOVA untuk membandingkan antar lokasi penelitian, dan Distance-Based Redundancy Analysis (dbRDA) dilakukan untuk melihat kesamaan komposisi spesies burung di tiga lokasi. Sebanyak 1.981 individu dari 85 spesies (37 famili), dan 23 morfospesies burung yang belum teridentifikasi tercatat selama pengamatan. Apodidae dan Muscicapidae merupakan famili burung yang umum dijumpai di ketiga lokasi. Area hutan pegunungan (CB) dengan berbagai habitat mikro yang diciptakan dari kompleksitas tumbuhan memiliki kekayaan spesies burung tertinggi (58 spesies, H’= 3,058), kemudian TB (55 spesies, H’= 2,924), dan LB (39 spesies, H’= 2,496). Feeding guild burung didominasi oleh insektivora (49,07%). Tipe komunitas burung di CB adalah Phylloscopus–Collocalia (INP = 8,65%; 6,07%), sedangkan di TB Psilopogon–Orthotomus (INP = 12,08%; 8,75%), dan LB Passer– Collocalia (INP = 26,39%; 16,46%). Sebanyak enam spesies tergolong terancam menurut IUCN masih ditemukan di lokasi pengambilan data. Komunitas burung di TNGGP berbeda signifikan (p<0,05) pada tipe tutupan lahan yang berbeda, terlihat pada hasil analisis NMDS yang membentuk tiga kelompok komunitas burung. Variasi komunitas tersebut selain dipengaruhi sumber daya dan kompleksitas habitat, juga dipengaruhi oleh faktor mikroklimat sebesar 41,1%. Informasi kekayaan spesies burung ini penting bagi pengelola kawasan Taman Nasional untuk data inventarisasi terbaru dan pengelolaan kawasan.
IMPLEMENTASI DEEP BOLTZMANN MACHINE UNTUK PENINGKATAN KUALITAS DAN KLASIFIKASI CITRA X- RAY DALAM DETEKSI KANKER PARU-PARU
Deteksi dini kanker paru-paru melalui citra X-ray menghadapi berbagai tantangan signifikan, mulai dari resolusi citra yang rendah hingga keterbatasan data medis yang berlabel. Penelitian ini mengembangkan pendekatan berbasis Deep Boltzmann Machine (DBM) dan Deep Belief Network (DBN) untuk meningkatkan kualitas dan akurasi klasifikasi citra X-ray dalam konteks diagnosis kanker paruparu. Tiga pendekatan utama diterapkan: (1) super resolution berbasis DBN yang dikombinasikan dengan transformasi domain frekuensi Discrete Cosine Transform (DCT), (2) klasifikasi citra X-ray menggunakan fitur yang diekstraksi oleh DBN dan CRBM (Convolutional Restricted Boltzmann Machine) dengan algoritma machine learning seperti Random Forest, SVM, dan k-NN, serta (3) transfer learning menggunakan DBM dengan pretraining dari dataset non-medis (MNIST dan CIFAR-10) yang dilanjutkan fine-tuning pada dataset radiologis JSRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DBN mampu meningkatkan kualitas citra Xray secara signifikan, dengan rata-rata PSNR > 39 dB dan SSIM mendekati 1. Untuk klasifikasi, kombinasi fitur DBN dan algoritma Random Forest menghasilkan akurasi tertinggi hingga 82.8%. Visualisasi fitur menggunakan PCA dan t-SNE juga menunjukkan separabilitas yang baik antara citra kanker dan nonkanker. Selain itu, strategi transfer learning berbasis DBM dari CIFAR-10 memberikan hasil klasifikasi yang lebih baik dibanding MNIST, dengan peningkatan akurasi hingga 89.4% setelah iterasi mean-field sebanyak 10 langkah. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan sistem diagnosis otomatis berbasis citra X-ray, khususnya pada kondisi dengan keterbatasan data dan sumber daya komputasi. Kebaruan penelitian terletak pada integrasi DBN-DCT untuk super resolution serta pemanfaatan korelasi visual dalam pemilihan dataset sumber untuk transfer learning DBM. Rekomendasi pengembangan selanjutnya mencakup integrasi model secara end-to-end, validasi klinis, dan perluasan ke modality citra medis lain seperti CT atau MRI.
PENGEMBANGAN ELEKTRODA CETAK-LAYAR BERBASIS KARBON AKTIF/VIRGIN COCONUT OIL/LILIN LEBAH UNTUK APLIKASI BIOSENSOR ASAM URAT
Perkembangan teknologi di bidang kesehatan mendorong kebutuhan akan perangkat diagnostik yang aman, efektif, dan berkelanjutan. Biosensor elektrokimia non-invasif menjadi solusi menjanjikan untuk pemantauan kondisi kesehatan karena kemudahan penggunaan, sensitivitas tinggi, dan biaya yang relatif rendah. Namun, sebagian besar elektroda yang digunakan masih mengandung bahan toksik, sehingga kurang ideal untuk aplikasi medis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan pasta karbon berbasis bahan alami dan berkelanjutan sebagai elektroda kerja pada elektroda karbon cetak-layar berbasis kain, yang difabrikasi menggunakan metode stensil. Pasta karbon diformulasikan dari karbon aktif (AC), virgin coconut oil (VCO), dan lilin lebah (beeswax/BW), dengan komposisi optimal pada 40–60 wt% AC dan rasio VCO:BW sebesar 1:1. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa penambahan BW meningkatkan konduktivitas dan adhesi pasta terhadap substrat kain. Eletroda yang dihasilkan (CP/Fabric) menunjukkan morfologi permukaan yang mendukung konduktivitas serta ketahanan kimia yang baik dalam berbagai pelarut, termasuk larutan KCl, buffer fosfat, dan air suling. Performa elektrokimia CP/Fabric dioptimalkan melalui penerapan penghalang hidrofobik dan penggunaan konektor berbahan pasta perak. Pengujian untuk deteksi asam urat (UA) menggunakan voltammetri pulsa diferensial (DPV) menunjukkan sensitivitas sebesar 18,977 ?A/mM, rentang linier 10–1000 ?M (R2 = 0,997), batas deteksi (LOD) sebesar 4,38 ?M, serta reproduksibilitas dan repeatabilitas yang baik setelah 30 kali pengukuran tanpa perubahan signifikan. Untuk meningkatkan performa sensor, permukaan elektroda CP/Fabric dimodifikasi dengan nanopartikel perak (AgNPs) yang disintesis melalui metode sintesis hijau menggunakan madu sebagai agen pereduksi dan penstabil. Karakterisasi menggunakan TEM, XRD, UV-Vis, dan DLS mengonfirmasi pembentukan AgNPs dengan ukuran partikel yang menurun seiring meningkatnya konsentrasi madu. Modifikasi AgNPs pada CP/Fabric menyebabkan peningkatan rasio ID/IG pada spektroskopi Raman, serta mengonfirmasi keberadaan Ag melalui analisis SEM-EDX. Elektroda hasil modifikasi (AgNPs/CP/Fabric) menunjukkan sensitivitas yang lebih tinggi dalam deteksi UA, dengan dua rentang linearitas: 33,329 ?A/mM (0,010–1,00 mM) dan 5,021 ?A/mM (1,00–5,00 mM), serta LOD masing-masing sebesar 1,13 ?M dan 7,47 ?M. Elektroda ini juga menunjukkan reproduksibilitas yang baik dengan nilai deviasi standar relatif (RSD) sebesar 4,04%, dan uji Tukey menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antar elektroda. Uji repeatabilitas selama 30 kali pengukuran juga menunjukkan stabilitas memadai yang berada pada kisaran 92% hingga 105%. Selain itu, respon arus terhadap keberadaan analit pengganggu (glukosa, urea, asam askorbat, asam laktat, dan etanol) menunjukkan perubahan di kisaran 10%, yang masih berada dalam batas toleransi dan tidak menunjukkan perbedaan signifikan menurut uji Tukey. Uji biokompatibilitas menunjukkan bahwa seluruh formulasi pasta karbon, termasuk yang dimodifikasi dengan AgNPs, tidak bersifat toksik terhadap sel normal, dengan tingkat viabilitas >70%. Secara keseluruhan, elektroda CP/Fabric dan AgNPs/CP/Fabric memiliki potensi besar sebagai platform biosensor ramah lingkungan yang sensitif, stabil, dan aman untuk aplikasi deteksi biomolekul seperti asam urat.
ANALISIS STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DENGAN MENGGUNAKAN DATA GRAVITASI PADA DAERAH PANAS BUMI CUBADAK, KABUPATEN PASAMAN, SUMATERA BARAT
Daerah panas bumi Cubadak, Kecamatan Duo Koto, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat merupakan salah satu area prospek panas bumi yang menarik untuk diteliti berdasarkan kondisi geologi dan manifestasi permukaannya. Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur bawah permukaan berdasarkan data anomali gravitasi untuk memahami keterkaitan variasi densitas batuan terhadap sistem panas bumi. Data yang digunakan berupa data sekunder hasil survei gravitasi Pusat Sumber Daya Geologi - Badan Geologi (2008) sebanyak 219 titik pengukuran. Pengolahan data dilakukan melalui serangkaian koreksi hingga diperoleh peta anomali Bouguer lengkap (Complete Bouguer Anomaly/CBA), kemudian dipisahkan menjadi anomali regional dan residual melalui metode moving average berdasarkan lebar jendela hasil analisis spektral. Distribusi anomali Bouguer dan anomali regional di daerah penelitian menunjukkan variasi densitas batuan bawah permukaan yang berkaitan dengan litologi. Anomali tinggi kemungkinan berasosiasi dengan batuan gunungapi dan metamorf yang berdensitas tinggi, anomali sedang kemungkinan didominasi batuan gunungapi andesit hingga basalt, sedangkan anomali rendah kemungkinan berkaitan dengan sedimen berdensitas rendah, yang memanjang berarah barat laut-tenggara. Adapun anomali residual tinggi terletak di bagian utara-timurlaut yang berasosiasi dengan keberadaan batuan beku atau intrusi. Pada zona ini terdapat manifestasi mata air panas Cubadak dan Sawah Mudik, anomali sedang mendominasi wilayah penelitian dan diperkirakan tersusun oleh batuan gunungapi andesit hingga basaltik, anomali rendah dijumpai di bagian selatan, tersusun oleh batuan aluvium dan endapan danau. Hasil pemodelan kemungkinan menunjukkan keberadaan intrusi granodiorit sebagai sumber panas sebagai kemenerusan sumber panas dari arah utara dan timur lapangan panas bumi Cubadak dengan kontras densitas +0,28 gr/cc. Hal ini didukung oleh informasi data geologi bahwa ditemukan intrusi granodiorit pada bagian utara dan timur lapangan panas Cubadak. Satuan batusabak sebagai batuan dasar dengan kontras densitas +0,04 gr/cc, serta satuan aliran piroklastik sebagai reservoir dengan kontras densitas -0,11 gr/cc, lapisan caprock berupa endapan danau dengan kontras densitas -0,05 gr/cc.
APLIKASI MACHINE LEARNING UNTUK PREDIKSI LOG VP/VS DAN PENGGUNAAN CPEI DAN PEIL UNTUK MENGETAHUI KAPASITAS PENYIMPANGAN CO2 PADA LAPANGAN CCS GUNDIH, JAWA TIMUR
Prediksi log Vp/Vs merupakan langkah krusial dalam analisis potensi penyimpanan karbon dioksida (Carbon Capture and Storage/CCS), khususnya dalam mengevaluasi karakteristik mekanik reservoir bawah permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model prediktif log Vp/Vs berdasarkan data log sumur sekitarnya, seperti log densitas, log resistivitas, dan log kecepatan gelombang kompresi (Vp). Data log ini digunakan sebagai parameter input untuk memodelkan hubungan non-linear antara sifat fisik batuan dan kecepatan gelombang geser. Dalam penelitian ini, metode machine learning diterapkan untuk membangun model prediksi yang andal dan akurat. Dengan memanfaatkan optimizer adam dan Activation ReLU, diharapkan model machine learning ini mampu mengintegrasikan data log multi-dimensional untuk menghasilkan estimasi log Vp/Vs yang sesuai dengan karakteristik geologi lokal. Studi kasus dilakukan pada area dengan data log yang lengkap, dan hasil validasi menunjukkan bahwa model yang dikembangkan mampu menghasilkan prediksi log Vp/Vs dengan tingkat akurasi tinggi. Dalam penelitian ini juga akan digunakan Machine Learning untuk membantu dalam melakukan prediksi Log tersebut. Didapatkan korelasi sebesar 0.8024 pada log Vs saat dibandingkan dengan data log asli pada sumur KTB-2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam mendukung analisis reservoir untuk CCS, termasuk evaluasi kapasitas injeksi dan kestabilan mekanik formasi batuan. Pendekatan ini juga berpotensi untuk diterapkan pada wilayah lain dengan kondisi geologi yang serupa, sehingga mendukung pengembangan teknologi CCS yang berkelanjutan
PENGARUH MANAJEMEN PENGETAHUAN TERHADAP MANAJEMEN PERUBAHAN SETELAH REBRANDING: STUDI KASUS TAMARIN HOTEL JAKARTA
Rebranding dalam industri perhotelan merupakan bentuk transformasi strategis yang tidak hanya berkaitan dengan perubahan visual atau reposisi pemasaran, tetapi juga mencerminkan perubahan organisasi yang lebih mendasar. Proses ini menuntut kemampuan adaptasi karyawan, komunikasi internal yang selaras, serta pembelajaran berkelanjutan agar kualitas layanan dan kesesuaian budaya tetap terjaga. Pasca pandemi COVID-19, hotel yang beralih dari jaringan internasional menuju merek independen menghadapi tekanan yang lebih intens untuk menyelaraskan kembali sistem internal, membangun ulang identitas, dan menjaga performa operasional. Kondisi tersebut menjadi konteks penelitian ini, yang bertujuan menelaah bagaimana struktur pengetahuan dan mekanisme pembelajaran berperan dalam kesiapan organisasi selama proses rebranding. Penelitian ini mengangkat dua permasalahan utama, yaitu apakah manajemen pengetahuan (KM) berpengaruh signifikan terhadap manajemen perubahan (CM) dan sejauh mana KM berkontribusi terhadap efektivitas implementasi perubahan organisasi di Tamarin Hotel Jakarta setelah peralihannya dari jaringan internasional menjadi hotel butik independen. Penelitian ini didasarkan pada kerangka teori Resource-Based View (RBV) dan Brandology. RBV memandang pengetahuan sebagai sumber daya tak berwujud yang memiliki nilai strategis dan sulit ditiru, sehingga memperkuat kapasitas adaptif organisasi. Sementara itu, Brandology mengonseptualisasikan transformasi merek sebagai fenomena organisasi yang terintegrasi dan memerlukan koordinasi perubahan budaya, manajerial, serta komunikasi. Kedua landasan teoretis ini melahirkan proposisi bahwa praktik KM—terutama penciptaan, penyimpanan, pembagian, dan pemanfaatan pengetahuan—menjadi mekanisme dasar yang memungkinkan karyawan dan pemimpin menginternalisasi identitas merek baru. Berdasarkan asumsi tersebut, penelitian ini menyusun dua hipotesis yang memprediksi adanya pengaruh signifikan KM terhadap CM dan efektivitas CM pasca rebranding. 5 Pendekatan kuantitatif eksplanatori digunakan untuk menguji hipotesis melalui Structural Equation Modeling dengan teknik Partial Least Squares (PLS-SEM). Populasi penelitian terdiri dari 113 karyawan operasional dan manajerial yang mengalami proses rebranding pada periode 2022–2024. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang mengoperasionalkan KM melalui indikator penciptaan pengetahuan, berbagi pengetahuan, penyimpanan pengetahuan, dan pemanfaatan pengetahuan. Sementara itu, CM diukur melalui indikator adaptabilitas, kejelasan komunikasi, komitmen kepemimpinan, dan keterlibatan karyawan. Pengujian model pengukuran menunjukkan terpenuhinya validitas konvergen, validitas diskriminan, dan reliabilitas komposit, sehingga memastikan bahwa konstruk yang digunakan terukur secara konsisten. Model struktural selanjutnya digunakan untuk mengevaluasi hubungan kausal antara KM dan CM melalui analisis jalur. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh kuat dan signifikan dari KM terhadap CM, ditunjukkan oleh koefisien jalur sebesar 0,902 dengan nilai p 0,000. Nilai R² sebesar 0,811 mengonfirmasi bahwa 81,1% variasi efektivitas manajemen perubahan dijelaskan oleh praktik KM. Temuan ini menunjukkan bahwa penciptaan pengetahuan yang konsisten, mekanisme berbagi pengetahuan yang terstruktur, serta pemanfaatan pengetahuan organisasi secara efektif mampu memperkuat kemampuan adaptasi, memperjelas komunikasi, dan meningkatkan keselarasan kepemimpinan selama transisi. Analisis deskriptif juga memperlihatkan tingginya tingkat keterlibatan karyawan serta partisipasi dalam pelatihan, yang berkontribusi pada internalisasi nilai-nilai merek baru di seluruh departemen. Tinjauan teoretis singkat menempatkan temuan ini dalam diskusi yang lebih luas mengenai pembelajaran organisasi, kapasitas adaptif, dan transformasi berbasis pengetahuan di sektor perhotelan. Kontribusi akademik penelitian ini tercermin dari bukti empiris bahwa ekosistem pengetahuan berfungsi sebagai infrastruktur kognitif yang mendukung keberhasilan rebranding, sehingga memperkuat aplikasi RBV dan Brandology dalam konteks perubahan organisasi. Secara praktis, penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan platform pengetahuan terpadu, keberlanjutan pelatihan internal, serta penguatan komunikasi kepemimpinan untuk mengintegrasikan identitas merek baru ke dalam operasional sehari-hari. Dengan mengaitkan struktur pengetahuan dan transformasi organisasi secara empiris, penelitian ini memberikan wawasan bagi organisasi perhotelan yang ingin membangun resiliensi jangka panjang dan menjaga koherensi selama proses transisi merek.
PEMODELAN RESERVOIR STATIS 3D DAN ESTIMASI KAPASITAS PENYIMPANAN CO2 PADA FORMASI TALANGAKAR BAWAH, LAPANGAN PARONGPONG, CEKUNGAN SUMATRA SELATAN
Komitmen Indonesia terhadap Net Zero Emission (NZE) 2060 menjadikan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) sebagai teknologi mitigasi iklim krusial, terutama dengan memanfaatkan reservoir migas yang sudah deplesi. Studi ini berfokus pada pemodelan reservoir statis 3 dimensi pada reservoir Formasi Talangakar Bawah di Lapangan Parongpong, sebuah lapangan gas deplesi di Cekungan Sumatra Selatan yang memiliki potensi penyimpanan CO2 terbesar kedua di Indonesia (LEMIGAS, 2018). Tujuan pemodelan ini adalah untuk mendapatkan pemahaman geologi dan karakteristik reservoir yang komprehensif, esensial untuk mengestimasi kapasitas penyimpanan CO2 secara akurat. Metode penelitian mencakup studi geologi regional, analisis fasies, pemodelan reservoir statis, dan estimasi kapasitas penyimpanan CO2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa area studi merupakan bagian dari Subcekungan Jambi, Cekungan Sumatra Selatan, dengan struktur utama berupa sesar normal. Interval penelitian terfokus pada reservoir silisiklastik Formasi Talangakar Bawah yang terbentuk dalam lingkungan pengendapan fluvio-tidal, terdiri dari empat asosiasi fasies utama: fluvial channel, overbank, floodplain, dan tidal bar. Pemodelan reservoir statis 3D mengonfirmasi bahwa distribusi reservoir mengikuti arah pengendapan yang berorientasi timur laut – barat daya. Distribusi properti petrofisika (porositas dan permeabilitas) sangat dipengaruhi oleh fasies dan rock type, di mana Zona Y menunjukkan kualitas properti yang lebih baik dibandingkan Zona X. Berdasarkan perhitungan volumetrik pada model reservoir statis yang dihasilkan, estimasi kapasitas penyimpanan CO2 pada reservoir Formasi Talangakar Bawah di Lapangan Parongpong adalah sebesar 5,85 Juta ton CO2, dengan asumsi Recovery Factor sebesar 90%.
PENERAPAN METODE INTELLIGENT AUTOMATIC OPERATIONAL MODAL ANALYSIS UNTUK IDENTIFIKASI PARAMETER MODAL PADA STRUKTUR JEMBATAN
Identifikasi parameter modal berupa frekuensi alami, rasio redaman, dan mode shape merupakan dasar dari berbagai implementasi sistem pemantauan kesehatan struktur berbasis getaran. Operational Modal Analysis (OMA) merupakan metode yang banyak digunakan karena mampu mengestimasi parameter modal hanya dari respons getaran akibat beban ambien tanpa memerlukan pengukuran gaya eksitasi secara langsung. Namun, pendekatan konvensional pada OMA masih sangat bergantung pada interpretasi manual pengguna sehingga bersifat subjektivitas dan dapat menimbulkan ketidakkonsistenan hasil identifikasi. Penelitian ini menerapkan dan mengevaluasi metode Intelligent Automatic Operational Modal Analysis (i-AOMA) untuk mengidentifikasi parameter modal secara otomatis pada dua jenis data yang berbeda, yakni data hasil simulasi model jembatan beton prategang berbasis FEM dan data pengukuran akselerasi struktur aktual di lapangan. Penelitian ini memperluas penerapan i-AOMA pada struktur jembatan beton prategang dan mengkaji pengaruh variasi jumlah data pelatihan terhadap akurasi, efisiensi komputasi, dan konsistensi hasil identifikasi. Hasil pada data simulasi menunjukkan bahwa i-AOMA mampu mengestimasi frekuensi alami, mode shape, dan rasio redaman dengan akurasi tinggi terhadap analisis eigen FEM, dengan error relatif frekuensi di bawah 0.4%, error absolut rasio redaman di bawah 0.5%, serta nilai Modal Assurance Criterion (MAC) melebihi 0.95 untuk seluruh mode dominan. Variasi jumlah data pelatihan model machine learning diketahui dapat memengaruhi durasi komputasi karena berpengaruh terhadap jumlah simulasi yang mengalami kegagalan eksekusi, tetapi tidak berdampak signifikan terhadap akurasi hasil identifikasi yang dihasilkan. Penerapan pada data pengukuran lapangan juga berhasil mengidentifikasi mode dominan secara konsisten pada rentang frekuensi 2.14 Hz hingga 6.20 Hz dengan redaman antara 0.7% hingga 2.4%.
STUDI PERAN TENAGA AHLI INTERNAL DALAM PROSES PENGADAAN JASA KONSTRUKSI DI LEMBAGA PERGURUAN TINGGI
Pengadaan jasa konstruksi memegang peranan krusial dalam proses pengembangan infrastruktur, namun prosesnya sering kali menghadapi berbagai kendala. Perguruan tinggi sebagai pusat keahlian memiliki tenaga ahli internal dari sivitas akademika yang berpotensi meningkatkan kualitas proses pengadaan, namun peran dan pengaruhnya dalam hal ini belum teridentifikasi secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran keberadaan tenaga ahli internal sivitas akademika dan pengaruhnya terhadap proses pengadaan jasa konstruksi di perguruan tinggi. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara keseluruhan, tenaga ahli internal dipersepsikan berkontribusi positif, namun terdapat perbedaan fundamental antara PTN dan PTS. Di lingkungan PTN, persepsi keterlibatan tenaga ahli secara konsisten berada pada kategori "Kuat" di seluruh tahapan (77%-91%). Sebaliknya, di PTS, persepsi "Kuat" hanya ditemukan pada tahap perencanaan (76%) dan menurun menjadi "Moderat" pada tahap-tahap teknis berikutnya (hingga 63,39%). Uji Komparatif mengonfirmasi bahwa perbedaan ini signifikan secara statistik pada tahap persiapan hingga pelaksanaan. Selanjutnya, Analisis Korelasi membuktikan adanya hubungan positif yang sangat kuat antara keterlibatan ahli dan kualitas hasil pengadaan pada tahap perencanaan (?=0,969), persiapan (?=0,909), dan persiapan pemilihan (?=0,899). Hubungan ini melemah pada tahap pelaksanaan pemilihan (?=0,517). Secara ringkas, tenaga ahli internal terbukti berkontribusi positif dalam proses pengadaan jasa konstruksi, namun pola keterlibatannya berbeda antara PTN dan PTS karena efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh tata kelola dan regulasi di masing-masing institusi.
PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN KEUANGAN ANAK PERUSAHAAN MIND-ID PASCA PEMBENTUKAN MIND-ID: ANALISIS BERDASARKAN STANDAR KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA
Pembentukan holding MIND ID bertujuan untuk mendorong sinergi antar anak perusahaan dan kinerja finansial perusahaan pertambangan milik negara di bawah pemerintahan Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis dampak pembentukan MIND ID terhadap kesehatan keuangan tiga perusahaan pertambangan terbesar yang terdaftar di bursa saham, yaitu PT. ANTAM Tbk., PT. Bukit Asam Tbk., dan PT. Timah Tbk. menggunakan kriteria kesehatan perusahaan BUMN berdasarkan Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-100/MBU/2002. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan menggunakan data sekunder berupa laporan keuangan yang diterbitkan oleh ketiga perusahaan tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan kesehatan finansial sebelum pembentukan MIND ID dari tahun 2015 hingga 2019 dan Kesehatan finansial setelah pembentukan MIND ID dari tahun 2020 hingga 2024. Rasio finansial yang digunakan adalah Return on Equity (ROE), Return on Investment (ROI), Cash Ratio, Current Ratio, Collection Period, Inventory Turnover, Total Assets to Total Asset Turnover (TATO), dan Total Equity to Total Assets (TE/TA). Penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan MIND ID memberikan dampak positif terhadap stabilitas keuangan dan kinerja ketiga anak perusahaan tersebut. PT. ANTAM Tbk. dan PT. Timah Tbk., yang sebelumnya menunjukkan kinerja keuangan yang volatile dan tidak stabil sebelum Pembentukan MIND ID, mengalami peningkatan yang signifikan dalam profitabilitas dan efisiensi setelah pembentukan MIND ID. Sementara itu, PT. Bukit Asam Tbk. di bawah MIND ID mampu mempertahankan kinerja perusahaan yang kuat dan konsisten. Singkatnya, penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan MIND ID telah meningkatkan sinergi perusahaan, efisiensi operasional, dan keberlanjutan keuangan di sektor pertambangan perusahaan milik negara Indonesia. Temuan ini memberikan wawasan penting bagi para pembuat kebijakan di Indonesia dan juga peneliti di masa yang akan datang untuk melakukan penelitian lebih dalam mengenai dampak jangka panjang pembentukan holding di sektor pertambangan.
PENGEMBANGAN MODEL AGILE BUSINESS PROCESS MANAGEMENT (BPM) SEBAGAI MEDIATOR DALAM HUBUNGAN STRATEGIC AGILITY DAN ORGANIZATIONAL PERFORMANCE DENGAN MODERASI NETWORKING CAPABILITY PADA UMKM RAJUT BINONG JATI, KOTA BANDUNG
UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional dengan kontribusi 61,07% terhadap PDB RI. Fesyen merupakan subsektor utama dalam ekspor ekonomi kreatif Indonesia, mencapai 61,60%. Namun, subsektor ini terdampak dinamika lingkungan bisnis yang bersifat RUPT (Rapid, Unpredictable, Paradoxical, dan Tangled), sehingga mendorong kebutuhan untuk mengembangkan agility sebagai bentuk dynamic capability dalam menghadapi lingkungan eksternal. Berdasarkan literatur, strategic agility dapat meningkatkan organizational performance. Selain itu, penelitian empiris kuantitatif yang mengembangkan dan menguji variabel agile BPM masih terbatas. Selain itu, keterbatasan sumber daya dan kapabilitas pada UMKM menjadikan networking capability sebagai faktor penting dalam mendukung organizational performance. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model agile BPM dalam memediasi hubungan strategic agility dan organizational performance dengan moderasi networking capability. Tahapan dalam penelitian ini yaitu melakukan operasionalisasi variabel dan indikator yang disesuaikan dengan konteks UMKM rajut, validasi kuesioner, pengumpulan data, serta pengolahan data dengan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Populasi dalam penelitian adalah UMKM Rajut Binong Jati, Bandung. Responden penelitian merupakan pemilik, pengelola, maupun karyawan UMKM Rajut Binong Jati yang terlibat dalam proses bisnis inti, meliputi penyediaan bahan baku, pembuatan desain, produksi, pengelolaan pembayaran, dan pengelolaan keluhan pelanggan. Jumlah sampel yang terkumpul sebanyak 101 UMKM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategic agility berpengaruh positif dan signifikan terhadap organizational performance UMKM produk rajutan melalui mediasi agile BPM. Strategic agility dan agile BPM berpengaruh positif signifikan terhadap organizational performance. Strategic agility berpengaruh positif signifikan terhadap agile BPM. Efek moderasi networking capability UMKM berpengaruh positif terhadap hubungan antara: (1) agile BPM dan organizational performance, (2) strategic agility dan organizational performance, serta (3) strategic agility dan agile BPM.
EVALUASI KESTABILAN LERENG MENGGUNAKAN ANALISIS BALIK LONGSORAN PADA PIT "G" TAMBANG AIR LAYA, PT BUKIT ASAM TBK, KABUPATEN MUARA ENIM, SUMATRA SELATAN
Kestabilan lereng merupakan faktor krusial dalam kegiatan pertambangan terbuka, terutama di wilayah dengan kondisi geologi yang kompleks. Ketidakstabilan lereng dapat menyebabkan longsoran yang berisiko terhadap keselamatan pekerja, peralatan tambang, dan kelangsungan operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kestabilan lereng di Jalan "X" PIT "G" Tambang Air Laya PT Bukit Asam Tbk yang mengalami kejadian longsoran pada 5 Maret 2025 dengan material longsoran berupa satuan batulempung karbonan (KE2-BE) dan satuan batulempung pasiran (BE-BU). Model geometri lereng diperoleh dari pemodelan stratigrafi berbasis data bor geoteknik dan analisis kestabilan dilakukan menggunakan perangkat lunak Slide2. Pendekatan utama dalam studi ini adalah analisis balik untuk menentukan kondisi kritis aktual lereng saat longsoran dengan variasi kondisi kejenuhan muka airtanah dan beban eksternal. Analisis awal menggunakan Metode Morgenstern-Price menunjukkan bahwa pada kondisi normal, lereng memiliki nilai Faktor Keamanan (FK) sebesar 1,46 yang tergolong stabil sehingga dilakukan analisis balik untuk mengetahui penyebab terjadinya longsoran. Kemudian, dilakukan analisis dengan beberapa kondisi muka airtanah yaitu kering sebagian dan jenuh total dengan berbagai skenario beban alat angkut tambang, beban seismik, dan pengaruh hujan selama 30 hari. Hasil analisis balik menunjukkan bahwa longsoran terjadi akibat kondisijenuh total ketika curah hujan tinggi dengan nilai FK 0,96. Infiltrasi air hujan menyebabkan peningkatan tekanan air pori yang menyebabkan penurunan kohesi dan sudut geser dalam material penyusun lereng. Material yang awalnya mampu menahan beban dalam kondisi kering mengalami penurunan kekuatan geser secara signifikan saat kondisi jenuh. Akibatnya, gaya penahan massa tanah dan batuan menjadi lebih kecil dibandingkan gaya penggerak sehingga kestabilan lereng menurun serta berpotensi menimbulkan longsoran.