📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenINVESTIGASI MEKANISME PENINGKATAN PEROLEHAN MINYAK DENGAN SOPHOROLIPID PADA BATUAN KARBONAT
Remaining Oil in Place (ROIP) dari reservoir batuan karbonat umumnya masih cukup besar. Hal ini dikarenakan batuan karbonat mempunyai kecenderungan wettability yaitu oil wet. Karena sifatnya yang membasahi batuan maka minyak sisa akan menempel pada pori-pori batuan dan sulit untuk diproduksikan ke permukaan. Salah satu usaha peningkatan perolehan minyak tahap lanjut adalah dengan injeksi kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas injeksi biosurfaktan sophorolipid dalam meningkatkan perolehan minyak pada batuan karbonat dan menginvestigasi mekanisme dominan yang bekerja selama proses injeksi tersebut. Sophorolipid merupakan biosurfaktan dari jamur yang memiliki sifat-sifat surfaktan pada umumnya namun belum diketahui mekanisme dominan yang bekerja dalam proses peningkatan produksi minyak. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dan metode simulasi dengan tahapan utama yaitu pengujian pada sistem crude oil-rock-brine (CORB), uji coreflooding dan simulasi coreflooding. Pengaruh dari pH, salinitas dan ion divalen (kalsium dan magnesium) dianalisis dan selanjutnya dilakukan uji coreflooding dengan core Indiana Limestone. Pada pemodelan simulasi coreflooding dilakukan sensitivitas parameter input untuk mendapatkan parameter yang dominan dari sophorolipid. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum dari sophorolipid pada batuan karbonat yaitu dengan konsentrasi 0,5% pada Critical Micelle Concentration (CMC), salinitas sedang (10.000 ppm) dengan karakteristik minyak sedang. Hasil sensitivitas coreflooding menunjukkan parameter dominan adalah trapping number nonwetting (DTRAPN) yang berkaitan erat dengan mekanisme wettability alteration dan viskositas emulsi. Kenaikan Recovery factor (RF) hasil optimasi simulasi coreflooding mencapai 19%-33%.
MANAJEMEN TALENTA, TALENT POOL, PEMETAAN TALENTA
PT Nanotech Indonesia Global (PT NIG) merupakan perusahaan perseroan yang berfokus pada bidang riset dan inovasi. Saat ini, PT NIG mengalami permasalahan terkait dengan pengelolaan sumber daya manusia (SDM) perusahaan. Data internal jumlah karyawan menunjukkan bahwa terdapat kenaikan jumlah karyawan yang keluar dari tahun 2022 sampai dengan 2024. Hal tersebut menimbulkan kekosongan beberapa posisi jabatan strategis pada perusahaan. Berdasarkan hasil wawancara, belum terdapat calon karyawan pengganti yang cukup kompeten untuk menempati posisi jabatan strategis yang sedang kosong. Selain itu, saat ini belum terdapat metode untuk identifikasi calon karyawan potential leader dan promosi jabatan karyawan dilakukan dengan cara konvensional. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan rancangan sistem manajemen talenta untuk membantu mengidentifikasi calon karyawan pengganti yang kompeten untuk posisi yang sedang kosong dan selaras dengan kebutuhan perusahaan. Sistem manajemen talenta yang diusulkan pada pengelolaan SDM PT NIG adalah membentuk talent pool perusahaan. Usulan ini mengacu kepada lima tahapan program manajemen talenta, dengan berfokus pada penetapan kriteria talenta (talent criteria). Tahapan ini dimulai dengan menentukan kebutuhan kunci manajemen terhadap organisasi yang akan memperjelas hubungan antara strategi bisnis dan kebutuhan manajemen talenta. Selanjutnya, dilakukan pembentukan kelompok level untuk pusat pengembangan talenta. Tahap terakhir, dilakukan penetapan sasaran pengembangan kompetensi untuk setiap level kelompok pusat pengembangan talenta. Selain itu, usulan berikutnya adalah membuat metode pemetaan talenta untuk pengembangan karyawan dengan mengacu kepada strategi pengembangan berdasarkan hasil mapping. Usulan dalam penelitian ini menghasilkan tiga kompetensi kunci terdiri dari achievement orientation, relationship building, dan teamwork, dan terdapat tiga kelompok level pusat pengembangan talenta sesuai dengan struktur organisasi.
DESIGN, MANUFACTURE, AND CONTROL SYSTEM OF MINI-3-POINT BENDING TESTING MACHINE FOR PLA/HA BONE SCAFFOLD
Abstrak bisa dilihat di filenya
STUDI POTENSI HAYATI FUNGI SKLEROTIUM LOKAL INDONESIA
Fungi merupakan salah satu kelompok organisme yang dikenal sebagai produsen senyawa aktif dengan bioaktivitas luas. Sebagian besar studi eksplorasi fungi di Indonesia masih berfokus pada kelompok fungi seperti fungi endofit, fungi laut, serta makrofungi. Di sisi lain, terdapat satu kelompok fungi dengan potensi bioaktivitas yang masih jarang dieksplorasi, yaitu fungi pembentuk sklerotium. Fungi sklerotium merupakan fungi yang dapat memproduksi struktur persisten sklerotium. Sklerotium menghasilkan beragam metabolit yang selain digunakan fungi untuk bertahan di alam, juga diduga mengandung aneka metabolit yang memiliki aktivitas biologis beragam. Proses diferensiasi miselium menjadi sklerotium melibatkan perubahan metabolit dominan dari masing-masing tahapan perubahan biomassa. Di alam, fungi harus dapat bertahan dari cekaman biotik (mikroba lain) dan abiotik yang menyebabkan stres oksidatif. Hal ini membuat fungi sklerotium dapat menjadi target perolehan sumber agen metabolit bioaktif antimikroba dan antioksidan. Selain itu, sklerotium terbentuk dari proses agregasi hifa yang memerlukan senyawa perekat aglutinin dalam prosesnya. Aglutinin adalah senyawa aktif yang dapat mengenali dan berikatan dengan struktur karbohidrat, sehingga dapat diaplikasikan untuk mendeteksi penyakit dengan biomarker berbasis glikan. Hal ini mengindikasikan sklerotium juga berpeluang untuk dimanfaatkan dalam memperoleh senyawa aktif aglutinin. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji fungi sklerotium lokal dan potensi bioaktivitasnya yang dapat dimanfaatkan pada bidang kesehatan dan bioteknologi. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap yaitu tahap I : melakukan karakterisasi morfologi, identifikasi molekuler, serta fisiologis yang ditinjau dari penambahan karbon dan nitrogen, juga menentukan keberadaan aglutinin pada isolat fungi sklerotium lokal Indonesia. Tahap II : mengevaluasi kemampuan bioaktivitas antioksidan dan antibakteri ekstrak fungi sklerotium melalui pendekatan proses diferensiasi miselium-sklerotium. Tahap III : melakukan purifikasi serta identifikasi senyawa aktif yang memiliki bioaktivitas paling signifikan. Isolat lokal fungi sklerotium pada penelitian tahap I menunjukkan karakteristik mikroskopis adanya clamp connection dan karakteristik makroskopis miselium berwarna putih dengan kemunculan sklerotium secara bertahap, yang teridentifikasi secara molekuler sebagai Sclerotium rolfsii (S. rolfsii IDN1). Pembentukan sklerotium pada S. rolfsii IDN1 optimal pada media dengan penambahan karbon dekstrosa 2% dan nitrogen pepton 0,5%. Pada tahap ini, juga dilaporkan keberadaan aglutinin dalam ekstrak sklerotium S. rolfsii IDN1, yang memiliki preferensi pengikatan terhadap glikoprotein asialofetuin (minimum inhibitory concentration (MIC) 2,5 mg/mL), sehingga berpotensi untuk dimanfaatkan dalam pengembangan deteksi penyakit dengan biomarker berbasis glikan. Hasil penelitian tahap II menunjukkan S. rolfsii IDN1 memiliki aktivitas antibakteri yang potensial. Uji inhibisi ekstrak metanol miselium dan sklerotium S. rolfsii IDN1 menunjukkan adanya aktivitas antibakteri terhadap bakteri Bacillus subtilis dan Escherichia coli dengan zona diameter terbesar mencapai 15 mm dari ekstrak miselium hari ke-3. Uji MIC terhadap E. coli dan B. subtilis menunjukkan konsentrasi terendah ekstrak miselium S. rolfsii IDN1 hari ke-3 mencapai 0,39 mg/ml, sementara ekstrak sklerotium hari ke-12 1,56 mg/mL dan 0,65 mg/ml. Sementara itu, teramati bentuk sel bakteri yang mengalami perubahan morfologi ketika dikontakkan dengan ekstrak, dibandingkan dengan kontrol (metanol) pada pengamatan scanning electron microscope (SEM). Pada tahapan ini juga dilakukan pengujian aktivitas antioksidan dengan metode 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH) yang tidak signifikan, dengan aktivitas tertinggi antioksidan pada ekstrak sklerotium hari ke-21 (konsentrasi 50 mg/ml) yang menunjukkan persen inhibisi 54%. Bioaktivitas antibakteri dengan aktivitas paling signifikan dipilih untuk dianalisis lebih lanjut pada tahap penelitian III. Hasil menunjukkan senyawa dengan aktivitas antibakteri dari miselium S. rolfsii IDN1 terdapat pada fraksi n-heksan dengan MIC 0,2 mg/mL terhadap bakteri B. subtilis dan E. coli. Senyawa aktif ini (isolat-01) terisolasi dengan nilai retention factor (Rf) 0,15 pada eluen n-heksan-etil asetat (9:1), serta memiliki bentuk murni kristal jarum putih. Hasil elusidasi struktur isolat-01 menggunakan nuclear magnetic resonance (NMR) 1H-NMR dan 13C-NMR mengidentifikasi isolat-01 sebagai senyawa golongan steroid, yaitu ergosterol (ergosta-5,7,22-trien-3?-ol) dengan MIC 0,09 mg/ml terhadap bakteri B. subtilis dan E. coli. Senyawa ini diperoleh dari biomassa miselium pada hari ketiga, ketika morfologinya menunjukkan fase awal pembentukan sklerotium. Ergosterol yang berperan dalam menjaga integritas dinding sel pada fungi, kemungkinan memfasilitasi pembentukan sklerotium dengan mendukung stabilitas struktur fungi selama pembentukan sklerotium. Namun, studi lebih lanjut perlu mengkaji mekanisme detail bagaimana ergosterol berkontribusi terhadap pembentukan sklerotium sebagai tahap perkembangan fungi. Pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa fungi sklerotium lokal Indonesia S. rolfsii IDN1 mengandung senyawa aktif yang memiliki aktivitas hemaglutinasi dan antibakteri. Temuan ini diharapkan dapat membuka jalan bagi penelitian yang lebih luas mengenai diferensiasi sklerotium sebagai fenomena menarik dari perkembangan fungi dan asal usul senyawa bioaktif.
PERAN “SRIKANDI” DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI PEREMPUAN DI INDUSTRI PERTAMBANGAN:STUDI KASUS PT BUKIT ASAM TBK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas Program Srikandi PT Bukit Asam (PTBA) dalam meningkatkan partisipasi, kepemimpinan, dan kesempatan setara bagi perempuan di sektor pertambangan; mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan maupun hambatan implementasinya; serta merumuskan model keberlanjutan pengarusutamaan gender (gender mainstreaming) yang selaras dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dan roadmap keberlanjutan perusahaan. Pendekatan penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan metode wawancara mendalam, analisis dokumen, serta triangulasi data melalui SWOT dan PESTEL analysis. Kerangka analisis yang digunakan mengacu pada konsep Four Frames of Gender (Ashcraft & Mumby, 2004), yaitu Fix the Women, Value the Feminine, Create Equal Opportunity, dan Assess & Review Work Culture. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Srikandi PTBA telah efektif dalam memperkuat kapasitas kepemimpinan dan kepercayaan diri perempuan, terutama melalui pelatihan seperti Woman Leadership Series, Financial Acumen for NonFinance Professionals, dan Coaching Pra-Assessment Srikandi. Selain itu, terbentuknya Harmony Hub dan program Woman Support Woman menjadi ruang penting dalam memperkuat jejaring profesional dan dukungan psikososial antarpegawai perempuan. Namun demikian, efektivitas program masih belum sepenuhnya tercermin dalam peningkatan representasi perempuan di bidang teknis dan posisi strategis, karena sebagian besar intervensi masih berfokus pada pengembangan individu (Fix the Women) dan belum sepenuhnya menyentuh aspek struktural serta budaya kerja organisasi. Faktor keberhasilan program dipengaruhi oleh dukungan kuat dari kebijakan nasional dan manajemen puncak, integrasi dengan program TJSL dan ESG perusahaan, serta kemitraan dengan organisasi eksternal seperti Women in Mining & Energy (WIME) dan UN Women. Sementara itu, hambatan utama berasal dari budaya kerja maskulin, stereotip gender terhadap pekerjaan teknis, ketimpangan fasilitas ramah keluarga antar-site, dan kurangnya sistem evaluasi budaya kerja berbasis data. Untuk menjawab tantangan tersebut, penelitian ini merekomendasikan pengembangan model integratif gender mainstreaming yang menggabungkan keempat frames of gender ke dalam kebijakan dan sistem tata kelola PTBA, termasuk pembentukan Center for Gender & Inclusion (CGI) sebagai unit permanen di bawah Divisi SDM Strategik yang bertugas melakukan policy audit, gender data analytics, dan pengembangan kepemimpinan inklusif. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa Program Srikandi PTBA memiliki peran strategis sebagai katalis transformasi budaya organisasi menuju kesetaraan dan keberlanjutan. Agar lebih relevan di masa depan, program ini perlu bertransformasi dari paradigma “memberdayakan perempuan agar siap bersaing” menuju “membangun sistem yang inklusif dan setara bagi semua gender.” Dengan mengintegrasikan kesetaraan gender dalam prinsip ESG dan roadmap keberlanjutan, PTBA berpotensi menjadi pelopor BUMN sektor pertambangan yang berhasil mewujudkan praktik inclusive leadership dan sustainable gender governance sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDG 5 dan SDG 13) serta target nasional Net Zero Emission 2060
PERHITUNGAN WAKTU TINGGAL (RESIDENCE TIME) DI PERAIRAN TELUK BANTEN
Teluk Banten berpotensi mengalami akumulasi polutan dan penurunan kualitas perairan. Salah satu parameter penting untuk menilai kerentanan tersebut adalah Residence Time (RT), yaitu waktu tinggal partikel sebelum keluar dari suatu sistem perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung RT di Teluk Banten dengan mengasumsikan pergerakan partikel berupa sampah plastik, serta menganalisis pengaruh pasang surut dan debit sungai terhadap nilainya. Pemodelan hidrodinamika dilakukan menggunakan Delft3D-FLOW dua dimensi barotropik dengan metode particle tracking. Domain model dibangun berdasarkan data batimetri dari PUSHIDROSAL, garis pantai, komponen pasang surut dari Tidal Model Driver (TMD), dan debit enam sungai utama. Simulasi dijalankan selama periode 1–31 Oktober 2019 dengan lima skenario debit sungai, yaitu: (1) tanpa debit sungai, (2) debit rata-rata, (3) debit minimum, (4) debit maksimum, dan (5) debit observasi Oktober 2019, serta dianalisis pada dua kondisi purnama dan dua kondisi perbani. Verifikasi model dilakukan dengan membandingkan elevasi muka air hasil simulasi terhadap data konstanta dan observasi pasang surut di Pulau Pamujan Besar. Hasil verifikasi menunjukkan tingkat akurasi yang tinggi dengan nilai Root Mean Square Error (RMSE) sebesar 0,05 m, koefisien korelasi 0,94, serta bias sebesar 0,008 dan 0,006 untuk dua perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai RT di Teluk Banten dipengaruhi oleh kombinasi pasang surut, debit sungai, dan posisi awal pelepasan partikel. Pada seluruh skenario, partikel bergerak lebih cepat pada kondisi purnama dibandingkan perbani akibat amplitudo pasang surut yang lebih besar, yang meningkatkan kecepatan arus sebesar 0,01–0,1 m/s. Skenario debit maksimum (Skenario 4) menghasilkan nilai RT tercepat, berkisar antara 23–271 jam (1–11 hari), sedangkan debit kecil (Skenario 1, 3, dan 5) memperpanjang RT hingga 23–803 jam (1–34 hari). Debit sungai berpengaruh secara lokal terhadap RT di Teluk Banten, sedangkan pasang surut berpengaruh secara keseluruhan terhadap sistem perairan. Temuan ini menegaskan bahwa RT dapat digunakan sebagai indikator utama dalam menilai potensi akumulasi polutan di perairan semi-tertutup seperti Teluk Banten, serta menjadi dasar ilmiah bagi pengelolaan lingkungan, strategi konservasi, dan mitigasi pencemaran di wilayah pesisir tersebut.
ANALISIS KINERJA MOTOR BAKAR DENGAN BAHAN BAKAR CAMPURAN METANA DAN HIDROGEN
Sektor transportasi, energi, dan industri semuanya bergantung pada motor bakar. Tantangan terbesar dari motor bakar adalah emisinya. Emisi ini menimbulkan dampak negatif untuk lingkungan. Hidrogen berpotensi menjadi solusi untuk masalah emisi ini, karena hidrogen adalah bahan bakar non-karbon. Meskipun demikian, hidrogen juga memiliki sisi negatif. Berhubungan dengan hal tersebut, penelitian mengenai dampak pembakaran campuran hidrogen dengan metana — salah satu bahan bakar dengan kinetika kimia paling diteliti — dilakukan menggunakan simulasi Ansys Forte. Simulasi pada penelitian ini dimodelkan berdasarkan mesin Kubota WG1605-N-E3. Konfigurasi utama dari simulasi yang digunakan untuk penelitian ini adalah diameter silinder 79 mm, langkah piston 78,4 mm, sudut sektor 22,5°, dan ukuran mesh 0,8 mm. Pembakaran disimulasikan utamanya pada rasio ekuivalensi = 1 dengan bahan bakar murni metana, campuran 25% H2, campuran 50% H2, campuran 75% H2, dan murni Hidrogen. Simulasi menggunakan set mekanisme kimia dari Ansys Forte dengan kinetika kimia 29 spesies dan 137 spesies. Data yang didapat dari simulasi meliputi data dalam silinder sepanjang sudut engkol, data metrik kinerja dan emisi dari forte.log, dan data teresolusi spasial dalam bentuk peta kontur. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kinerja mesin meliputi kerja indikasi kotor, daya indikasi kotor, dan IMEP menurun secara bertahap seiring peningkatan komposisi hidrogen, dengan pengurangan berkisar sebesar 0,33% dengan 25% H2, 2,08% dengan 50% H2, 5,53% dengan 75% H2, dan 47,74% dengan 100% H2. Emisi seperti jelaga, CO, VOC, mengalami penurunan, emisi UHC mengalami kenaikan, dan emisi NOx menurun sebelum naik kembali. Selain dari hasil-hasil tersebut, ditemukan bahwa set mekanisme kimia 29 spesies tidak berhasil mewakili semua reaksi pada bahan bakar campuran dengan baik, menyebabkan hal kontradiktif seperti melambatnya pembakaran seiring peningkatan komposisi hidrogen. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa pencampuran hidrogen ke bahan bakar metana mengurangi kinerja sedikit, tetapi menghasilkan emisi yang lebih rendah. Dampak penambahan hidrogen ke bahan bakar bersifat kompleks, sangat bergantung dengan kondisi awal dan kondisi batas, serta geometri dari mesin itu sendiri. Penelitian lanjutan diperlukan untuk melengkapi data, dan untuk implementasi pencampuran hidrogen ke dunia nyata.
KARAKTERISTIK DIMENSI RENDAH DUA SILINDER TANDEM MELALUI PROPER ORTHOGONAL DECOMPOSITION
Aliran di sekitar benda tumpul umum dijumpai dalam rekayasa, dengan silinder tandem digunakan sebagai model minimal untuk mengkaji gangguan aliran belakang yang memengaruhi gaya aerodinamik dan frekuensi dominan. Metode snapshot POD diterapkan pada simulasi CFD dua dimensi tak tunak untuk Re = {100, 200} dan L/D = {2, 3, 5}. Data dihasilkan melalui LBM berbatas terbenam, dengan 1.500 snapshot terakhir (kecepatan dan ?z) diuraikan menggunakan snapshot SVD; FFT dari koefisien temporal memberikan St yang divalidasi silang dengan Cl/Cd. Pada Re = 100 energi terkonsentrasi pada sedikit mode, sedangkan pada Re = 200—khususnya L/D = 5—lebih banyak mode terlibat. POD berbasis vortisitas menyoroti lapisan geser dengan energi tersebar, sementara POD berbasis kecepatan lebih kompak. Jarak memengaruhi interaksi: interferensi kuat (L/D = 2), transisi (L/D = 3), dan pelepasan hampir independen (L/D = 5). Nilai St hasil POD konsisten dengan acuan berbasis gaya, menunjukkan bahwa mode dominan menangkap dinamika utama di seluruh kasus. Temuan ini merangkum regime interferensi serta menyoroti wilayah berenergi tinggi dan frekuensi dominan yang relevan untuk penempatan sensor atau actuation.
OPTIMASI PRODUKSI EKSOPOLISAKARIDA (EPS) DARI AZOTOBACTER CHROOCOCCUM DENGAN PENDEKATAN RESPONSE SURFACE METHODOLOGY (RSM) SERTA KARAKTERISASI POTENSI FUNGSIONALNYA
Azotobacter chroococcum merupakan bakteri tanah penghasil eksopolisakarida (EPS) yang berpotensi luas pada berbagai industri, namun eksplorasi produksi EPS oleh A. chroococcum masih terbatas. Pada produksi EPS konvensional, penggunaan media kimia sering kali meningkatkan biaya proses, sehingga pemanfaatan molase dapat menjadi alternatif yang lebih efisien secara ekonomi. Optimasi biosintesis EPS yang dipengaruhi komposisi media, pH, dan inokulum dapat dilakukan melalui Response Surface Methodology (RSM), metode statistik untuk memodelkan, mengevaluasi, dan menentukan kondisi optimal respon. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini yaitu: (1) menentukan profil pertumbuhan A. chroococcum pada media berbasis molase sebagai substrat produksi EPS; (2) menentukan kondisi optimal fermentasi untuk meningkatkan produksi EPS melalui kultivasi dua tahap; dan (3) melakukan karakterisasi sifat fisikokimia serta aktivitas biologis EPS yang dihasilkan pada kondisi optimum. Pada media Ashby N-Free, pertumbuhan eksponensial terjadi hingga 24 jam dengan laju 0,168/jam dan waktu generasi (GT) 4,1 jam, serta mencapai biomassa maksimum pada 120 jam. Pada media molase, A. chroococcum tumbuh dengan laju lambat (? = 0,09/jam; GT = 7 jam), namun produksi EPS sudah terdeteksi sejak fase eksponensial dan meningkat konsisten hingga fase transisi stasioner. Optimasi dilakukan dengan RSM-Box Behnken Design (BBD) dengan tiga faktor: rasio CN (14-21), pH (6-8), dan konsentrasi inokulum (5-8%). Kondisi optimum untuk memaksimalkan hasil dan konsentrasi EPS oleh A. chroococcum adalah: C/N ratio 21, pH 8, dan konsentrasi inokulum 5%. Pada kondisi ini, diperoleh hasil EPS 0,89 ± 0,028 g/L dan konsentrasi EPS 99,28 ± 4,09 mg/L. Hasil karakterisasi fisikokimia menunjukkan bahwa viskositas suspensi EPS meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi EPS. Monosakarida penyusun EPS terdiri atas glukosa, xylosa dan fruktosa menunjukkan bahwa EPS yang dihasilkan berjenis heteropolisakarida. EPS dari A. chroococcum menunjukkan kemampuan antioksidan melalui aktivitas penangkapan radikal DPPH (2,2-diphenyl-1-picrihidrazyl) sebesar 16–93% serta aktivitas antibakteri kategori sedang–kuat terhadap E. coli dan B. subtilis. Karakterisasi ini mengindikasikan peluang pemanfaatan EPS dari A. chroococcum sebagai bahan tambahan dengan aktivitas bioaktif dalam pangan, kosmetik maupun kesehatan.
AKTIVITAS ANTIMIKROBA, ANTIOKSIDAN, SERTA PROFIL ASAM LEMAK PADA EKSTRAK DAN HIDROLISAT MINYAK LARVA LALAT TENTARA HITAM (HERMETIA ILLUCENS) DARI BERBAGAI STRAIN
Secara global, limbah organik kota mencapai sekitar 900 juta ton per tahun dan diperkirakan meningkat 70% pada tahun 2050, menekankan perlunya strategi pengelolaan yang berkelanjutan. Larva lalat tentara hitam (LLTH) adalah serangga yang mampu mengonversi limbah organik menjadi biomassa bernilai tambah yang kaya akan nutrisi. Meskipun kaya nutrisi, komponen minyak LLTH masih belum banyak diteliti, khususnya terkait potensinya dalam produksi senyawa bioaktif. LLTH diketahui mengandung asam lemak fungsional dengan sifat antimikroba dan antioksidan. Meskipun minyak LLTH memiliki potensi menjanjikan untuk aplikasi industri, informasi mengenai profil asam lemak dan bioaktivitasnya dari berbagai strain dan jenis pakan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi proksimat dan profil asam lemak minyak LLTH dari berbagai strain dan jenis pakan, mengevaluasi aktivitas antimikroba serta antioksidan, serta mengkaji potensi peningkatan bioaktivitas melalui hidrolisis enzimatik menggunakan WCB dari R. oryzae. Hasil uji proksimat LLTH pada penelitian ini menunjukkan kadar air, abu, protein, minyak, dan karbohidrat yang berturut-turut berkisar antara 2.22–4.44%, 6.30–16.97%, 31.74–47.13%, 18.78–50.03%, serta 5.35–17.73%. Komposisi asam lemak LLTH pada penelitian ini didominasi oleh asam laurat (C12:0), asam palmitat (C16:0), asam oleat (C18:1) dan asam linoleat (C18:2). Hasil produksi WCB dari R. oryzae memiliki aktivitas lipase sebesar 134.44 U/g. Hidrolisis minyak LLTH menggunakan WCB dari R. oryzae menghasilkan asam lemak bebas dengan persentase hidrolisis sebesar 79,63 – 87,67%. Ekstrak minyak LLTH memiliki aktivitas antimikroba terhadap B. cereus dengan zona inhibisi sebesar 6.80–12.11 mm yang meningkat pada hidrolisat minyak menjadi 9.38 –16.61 mm, sedangkan pada P. aeruginosa zona inhibisinya sebesar 6.97 – 10.20 mm dan meningkat pada hidrolisat minyak menjadi 8.10 –12.00 mm. Selain itu, nilai IC50 pada aktivitas antioksidan ekstrak minyak LLTH berkisar antara 35.3 – 108.2 mg/mL, sedangkan pada hidrolisat minyak berkisar antara 28.37 – 109.65 mg/mL. Temuan ini menunjukkan bahwa pelepasan asam lemak bebas spesifik melalui hidrolisis dapat meningkatkan aktivitas antimikroba pada seluruh minyak BSFL serta meningkatkan aktivitas antioksidan pada sebagian besar sampel, menyoroti hidrolisis enzimatik sebagai strategi utama untuk mengoptimalkan potensinya sebagai sumber senyawa bioaktif bernilai tinggi.
MENGEMBANGKAN ATRIBUT DESTINASI PARIWISATA UNTUK MARLINA GROUP GUNA MENINGKATKAN NIAT KUNJUNGAN PELANGGAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan atribut destinasi wisata pada Marlina Group di Lemahsugih, Majalengka, guna meningkatkan niat berkunjung wisatawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixedmethod) yang mengombinasikan eksplorasi kualitatif dan validasi kuantitatif. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan utama,termasuk praktisi pariwisata, perwakilan pemerintah, dan manajemen Marlina Group, untuk mengidentifikasi kesenjangan dan peluang pada enam atribut destinasi wisata: Accessibility, Attraction, Activities, Available Packages, Ancillary Services, dan Amenities (6A). Data kuantitatif diperoleh dari 376 responden melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling dengan Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk menguji hubungan antara atribut-atribut tersebut dengan niat berkunjung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Accessibility, Attractions, dan Activities merupakan faktor paling berpengaruh dalam membentuk niat berkunjung wisatawan, sedangkan Ancillary Services, Amenities, dan available packages berperan sebagai pendukung daripada menjadi pendorong utama. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan memperluas kerangka atribut destinasi wisata dalam konteks pariwisata pedesaan, serta kontribusi praktis berupa strategi terstruktur bagi Marlina Group untuk mentransformasi Lemahsugih dari kawasan pendukung agrowisata menjadi destinasi pariwisata pedesaan yang kompetitif
PERANCANGAN SARANA PERMAINAN PUBLIK UNTUK ANAK-ANAK DI PERKAMPUNGAN PADAT PENDUDUK (STUDI KASUS LEBAK SILIWANGI, BANDUNG)
Bandung merupakan kota dengan kepadatan penduduk yang sangat tinggi. Pemukiman padat penduduk tersebar di seluruh wilayah Kota Bandung. Dengan padatnya perkampungan, ketersediaan lahan juga makin terbatas, termasuk lahan untuk anak-anak bermain. Padahal bermain bukan hanya kegiatan untuk mengisi waktu luang, melainkan juga berperan penting bagi perkembangan kognitif, motorik,serta kemampuan sosial anak. Dengan tidak adanya lahan bermain, hasrat bermain anak jadi kurang tersalurkan. Anak jadi jarang keluar rumah, lebih banyak bermain gadget, atau bermain di tempat yang berbahaya seperti jalan raya. Hal inilah yang terjadi di Kelurahan Lebak Siliwangi, Coblong, Kota Bandung. Padatnya penduduk, terutama anak-anak, diperparah dengan sempitnya lahan kosong dan topografi lembah yang naik turun. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan pengumpulan data melalui studi literatur, observasi lapangan, dan wawancara pihak terkait. Hasil penelitian ini adalah pengembangan sarana bermain publik atau playground yang sesuai dengan karakter wilayah dan anak-anak di perkampungan padat penduduk. Diharapkan dari penelitian ini, anak-anak di perkampungan padat penduduk tetap bisa mendapatkan hak bermainnya dan berkembang secara optimal.
KARAKTERISTIK SIRKULASI ANGIN LAUT DI PESISIR UTARA JAWA BAGIAN TENGAH BERDASARKAN DATA OBSERVASI PERMUKAAN DAN RADAR CUACA
Sirkulasi angin laut (sea breeze circulation, SBC) merupakan fenomena atmosfer berskala meso yang muncul akibat perbedaan pemanasan antara daratan dan lautan. Perbedaan suhu tersebut menimbulkan gradien tekanan horizontal yang memicu aliran udara dari laut menuju darat pada siang hari dan sebaliknya pada malam hari. Sistem ini berperan penting dalam mengatur kondisi cuaca pesisir, memodulasi suhu permukaan, meningkatkan kelembapan, serta memicu pembentukan awan konvektif. Di wilayah pesisir tropis seperti Indonesia, yang memiliki garis pantai panjang dan kepadatan penduduk tinggi, pemahaman mengenai karakteristik dan dinamika SBC menjadi penting bagi kegiatan operasional meteorologi, peringatan dini cuaca lokal, dan keselamatan penerbangan. Meskipun demikian, kajian observasional yang menguraikan struktur temporal, spasial, dan vertikal dari sirkulasi ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik sirkulasi angin laut di wilayah pesisir utara Jawa bagian tengah dengan memanfaatkan data observasi permukaan dan radar cuaca. Kajian dilakukan untuk menentukan waktu onset, kecepatan propagasi, jarak intrusi, panjang front, dan variasi musiman SBC serta hubungan fenomena tersebut dengan kondisi sinoptik latar. Pendekatan yang digunakan melibatkan metode penyaringan berbasis fisik (filter method) untuk menyeleksi hari-hari dengan potensi sea breeze day (SBD), diikuti dengan analisis spasial dan vertikal menggunakan produk radar cuaca. Data yang digunakan meliputi pengamatan Automatic Weather Station (AWS) dengan interval 10 menit untuk mendeteksi perubahan arah angin, suhu, dan kelembapan; data reanalisis ERA5 pada lapisan 700 hPa sebagai proksi kondisi sinoptik; serta data radar cuaca C-Band yang diolah menjadi produk Multiple Plan Position Indicator (MPPI) dan Volume Velocity Processing (VVP) guna mengidentifikasi struktur horizontal dan vertikal sirkulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SBC berkembang terutama pada kondisi angin sinoptik lemah (< 11 m/s) dan kontras suhu darat–laut (?T) ? 3 °C. Sirkulasi ini umumnya mulai terbentuk pada pukul 08.00–10.00 LT, mencapai puncak pada 13.00–15.00 LT, dan melemah menjelang malam hari. Intrusi udara laut ke darat mencapai 15–30 km dengan kecepatan 2–8 m/s dan kedalaman lapisan sekitar 1 km. Distribusi musiman memperlihatkan bahwa frekuensi tertinggi terjadi pada musim peralihan kedua (SON), diikuti musim kemarau (JJA), sedangkan pada musim hujan (DJF) fenomena ini jarang muncul akibat dominasi monsun barat yang memperkecil gradien termal. Perubahan arah angin permukaan lebih dari 30°, peningkatan kelembapan 5–10%, dan penurunan suhu udara siang hari menjadi indikator khas dari onset SBC. Analisis radar memperlihatkan dua lapisan utama sirkulasi, yaitu aliran darat–laut di lapisan bawah (0–1,2 km) dan aliran balik (return flow) di lapisan atas (1,8–2 km). Nilai vertical shear di lapisan bawah berkisar antara 2–9 (m/s)/km (?0,002–0,009 s?¹) dan mencapai maksimum sekitar 20 (m/s)/km (?0,02 s?¹) pada ketinggian 0–0,25 km. Nilai ini menunjukkan zona konvergensi kuat akibat perbedaan momentum horizontal antara udara darat dan laut, yang berperan dalam memperkuat pembentukan front dan proses konveksi lokal. Sistem yang terbentuk paling kuat muncul pada kondisi ?T besar dan kecepatan angin sinoptik lemah, menghasilkan sirkulasi stabil dengan lapisan onshore yang dalam serta aktivitas konvektif di wilayah pesisir. Hasil ini menegaskan bahwa interaksi antara kontras termal darat–laut, kondisi angin sinoptik, dan struktur vertikal atmosfer menjadi pengendali utama dinamika sirkulasi angin laut di wilayah pesisir utara Jawa bagian tengah.
NUMERICAL SIMULATION OF VERTICAL MULTISTAGE SOLAR STILL
Kekurangan air bersih merupakan tantangan yang semakin mendesak, terutama di wilayah yang sulit menerapkan teknologi desalinasi modern karena kebutuhan energi dan infrastruktur yang tinggi. Distilasi surya menawarkan alternatif yang lebih sederhana dan berkelanjutan, dengan Vertical Multistage Solar Still (VSS) mampu meningkatkan produktivitas melalui mekanisme daur ulang panas laten. Dalam penelitian ini, model numerik Vertical Solar Still (VSS) dikembangkan menggunakan perangkat lunak COMSOL Multiphysics dan divalidasi terhadap data eksperimental. Model tersebut menunjukkan kesesuaian yang baik dengan sebuah hasil publikasi, dengan galat sebesar 7,6% pada laju evaporasi total dan galat RMS temperatur sebesar 2,4 °C. Selanjutnya dilakukan studi parametrik untuk meneliti pengaruh jumlah tahap, jarak antar pelat, dan ketebalan isolasi. Optimasi desain menghasilkan peningkatan produktivitas sebesar 258% dibandingkan dengan desain acuan satu tahap, yang menunjukkan potensi besar konfigurasi multistage serta parameter-parameter tersebut. Penelitian ini menunjukkan bahwa simulasi numerik merupakan alat yang berguna untuk menganalisis dan mengoptimasi kinerja VSS, serta memberikan landasan teoritis untuk mendukung pengembangan eksperimen lanjutan dan aplikasi nyata teknologi desalinasi surya.
TRANSFORMASI ESTETIK-TEMATIK DAN INTERTEKSTUALITAS PADA MOTIF WASTRA PUCUK REBUNG TENUN SIAK SRI INDRAPURA
Sumatera merupakan Pulau di Indonesia yang memiliki keberagaman warisan budaya yang dipertahankan. Salah satunya adalah kain tenun atau wastra. Dalam Sanskerta, wastra diartikan sebagai sehelai kain yang diproduksi dengan menggunakan peralatan, bahan, dan struktur kain tradisional berdasarkan adat. Wastra Sumatera memiliki beberapa keunikan, antara lain, memiliki motif pucuk rebung yang berbentuk geometris pada wastra tenun Siak Sri Indrapura. Ragam motif pucuk rebung pada wastra tenun Siak Sri Indrapura merujuk pada berbagai dimensi makna, yakni spiritual, translingual, dan kebudayaan. Wastra tenun Siak Sri Indrapura dengan motif khas pucuk rebung diawali dari genus tenun Terengganu. Percampuran kebudayaan Terengganu dan Siak Sri Indrapura memiliki karakteristik khas. Berdasarkan dari latar belakang dan keunikan di atas, penelitian ini dibatasi pada struktur motif, aspek tematik motif, dan transformasi tenun Siak Sri Indrapura. Untuk menganalisis permasalahan tersebut digunakan metode penelitian transformasi estetik-tematik dan intertekstualitas. Langkah kerja dalam metode ini adalah; (1) Analisis struktur estetik pada bentuk dasar (geometris) yang terdapat dalam sehelai kain tenun Siak Sri Indrapura dalam rentan waktu 1889 – 2024. (2) Analisis kontekstual (Latar belakang budaya) pada motif pucuk rebung tenun Siak Sri Indrapura. (3) Analisis transformasi tenun Siak Sri Indrapura dengan teks-teks terdahulu (perubahan dan pergeseran) kontekstual. Berdasarkan langkah kerja metode tersebut di temukan beberapa hal menarik, antara lain, relasi antar struktur motif menghasilkan pola sebagai kepala kain. Struktur motif pucuk rebung geometris segitiga sama kaki dipertahankan sebagai motif khas dari Siak Sri Indrapura hingga saat ini. Di balik struktur tersebut ditemukan tema tentang kesuburan budaya yang kokoh berdiri di atas segitiga sama kaki sebagai penanda semiotik tentang fondasi budaya. Makna pada masa Kerajaan Siak Sri Indrapura adalah representasi dari pengarajin (Masajo) yang memberikan harapan dan doa pada tiap tenunan yang diciptakan. Dalam periode masa kini tenun bertransformasi baik dari makna, fungsi dalam budaya, dan estetik beradapatasi dengan kultur masa kini. Penelitian ini berkontribusi untuk memberikan pedoman dalam meneliti motif-motif lainnya. Di samping itu, penelitian ini juga berkontribusi dalam upaya menggali dan memahami nilai wastra beserta sejarah dan nilai estetik yang terkandung didalamnya. Perlu di pahami bahwa dalam setiap perjalanan transformasi sejarah tetap memiliki nilai adat sebagai acuan tenun Siak Sri Indrapura dengan motif pucuk rebung yang bertahan dalam kurun 1889 hingga 2024.