📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPENGELOLAAN KELEBIHAN LISTRIK PADA INDUSTRI DI AREA TERPENCIL: STUDI KASUS DI PT. PERTAMINA EP CEPU – LAPANGAN DONGGI MATINDOK
Kajian ini berfokus pada system pembangkit listrik di lapangan Donggi Matindok (DMF) yang merupakan salah satu unit usaha Pertamina (Persero) dibawah pengelolaan Sub Holding Upstream (SHU), sejak awal digunakan pembangkit di DMF belum beroperasi secara optimal karena listrik yang diutilisasi hanya sebesar 40% dari kapasitas terpasangnya sehingga memilik kelebihan listrik sebesar 4-6 MW yang belum termanfaatkan dengan nilai ekonomi sekitar 33,9 milyar rupiah per tahun. Untuk memastikan keberlanjutan bisnis perusahaan, lapangan Donggi Matindok perlu terus berinovasi dalam rangka meningkatkan pendapatan ataupun menurunkan biaya operasinya agar menjadi lebih optimal. Data skunder berupa laporan operasi, laporan kajian internal, data teknis dan data catatan perbaikan dari perusahaan digunakan sebagai data kuantitatif menjadi data awal untuk merumuskan permasalahan dan dasar untuk analisis. Sedangkan data primer diperoleh dengan pengumpulan data kualitatif melalui diskusi kelompok terfokus (FGD), kuisioner dan interview, hasil FGD bersama ahli-ahli dibidang pengoperasian dan pemeliharaan pembangkit listrik dilakukan untuk mengetahui pilihan area-area yang menungkinkan untuk dikembangkan. Selanjutnya Kepner-Tregoe design thinking digunakan untuk memilah area pengambangan mana yang paling mungkin dilaksanakan. Analisa SWOT dan PESTEL dilakukan untuk mengevaluasi kondisi secara mikro serta makro dan dengan menggunakan pendekatan Value Focused Thinking (VFT), brainstorming dengan para ahli menghasilkan berbagai kriteria dan sub-kriteria untuk menemukan alternatif solusi yang layak untuk diterapkan. Analytical Hierarchy Process (AHP) kemudian digunakan untuk memilih solusi terbaik dari sejumlah alternatif yang ditemukan oleh para ahli. Analisis data AHP menunjukkan bahwa melakukan pertukaran listrik dengan PLN merupakan solusi terbaik untuk dapat meningkatkan efisiensi pada system pembangkit listik di DMF. Untuk mengimplementasikan pertukaran listrik ini memerlukan waktu yang cukup lama dan melibatkan banyak pemangku kepentingan karena merupakan model kerjasama yang jarang digunakan di perusahaan besar seperti Pertamina dan PLN, hal ini dapat menjadi contoh untuk diterapkan pada bidang usaha lain dengan kondisi permasalahan yang sama dimasa mendatang.
POST PROCESSING EFFECTS ON INTERLAMINAR PROPERTIES OF 3D-PRINTED CONTINUOUS CARBON FIBER LAMINATED COMPOSITES
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh proses post-processing terhadap sifat antarlapis komposit laminasi serat karbon kontinu hasil pencetakan 3D. Spesimen dibuat menggunakan mesin Markforged® Mark Two dengan metode Fused Deposition Modeling (FDM) dan material Onyx resin serta serat karbon kontinu, kemudian sebagian diberi perlakuan kompresi panas pada 145 °C dan tekanan 2,5 MPa selama 30 menit untuk menurunkan kadar void. Uji Double Cantilever Beam (DCB) dilakukan untuk mengukur ketangguhan retak Mode I (GIC), sedangkan analisis mikroskopik digunakan untuk mengevaluasi void dan kualitas antarmuka serat–matriks. Hasil menunjukkan bahwa proses kompresi menurunkan kandungan void namun juga mengurangi ketangguhan antarlapis akibat berkurangnya efektivitas mekanisme fiber bridging. Spesimen tanpa kompresi menunjukkan nilai GIC lebih tinggi dengan perilaku R-curve meningkat, sedangkan spesimen terkompresi memiliki nilai GIC yang lebih rendah dengan mekanisme fiber bridging yang lebih sedikit. Temuan ini menegaskan adanya trade-off antara pengurangan void dan ketahanan delaminasi pada komposit cetak 3D.
HIERARCHICAL TRANSFER LEARNING FRAMEWORK FOR PREDICTING TRANSVERSE DAMAGE IN UNIDIRECTIONAL FIBER-REINFORCED THERMOPLASTIC COMPOSITES
Prediksi kerusakan transversal pada komposit termoplastik yang diperkuat serat searah (FRTP) merupakan tantangan karena perilaku matriksnya yang nonlinier dan bergantung pada tekanan, serta tingginya biaya komputasi dari simulasi mikromekanik berbasis finite element method (FEM). Penelitian ini memperkenalkan kerangka kerja hierarchical transfer learning yang mengintegrasikan data hasil FEM dengan machine learning (ML) untuk memperoleh prediksi cepat dan akurat terhadap respons tegangan–regangan transversal dari citra mikrostruktur. Model hibrid CNN–LSTM yang diusulkan dilatih secara bertahap: tahap awal menggunakan kontur tegangan hasil FEM untuk menangkap pola deformasi fundamental, kemudian disempurnakan dengan citra mikrostruktur biner guna meningkatkan kemampuan prediksi. Validasi terhadap hasil FEM menunjukkan kesesuaian yang sangat baik (MARE < 0,05) dengan waktu komputasi yang lebih efisien. Kerangka pembelajaran hierarkis terbukti efektif dalam mengurangi variasi error dalam prediksi, menghasilkan nilai R² hampir empat kali lebih tinggi (0,6708) dibandingkan kerangka non-hierarkis (0,1689). Kerangka ini menawarkan pengganti yang andal dan skalabel untuk simulasi mikromekanik berbasis FEM serta memajukan analisis berbasis data pada komposit termoplastik.
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI SUPERELASTIC NITINOL ALLOY
Penelitian ini membahas pembuatan dan karakterisasi paduan Nikel–Titanium (Nitinol) dengan sifat superelastis. Penelitian ini bertujuan untuk membuat paduan nitinol dengan merekayasa balik produk stent yang sudah ada untuk peninjauan awal kapasitas produksi produk stent di skala laboratorium. Dilakukan juga karakterisasi dari paduan dalam kondisi setelah dilelehkan dan setelah dihomogenisasi untuk melihat pengaruh perlakuan panas terhadap paduan yang dihasilkan. Nitinol dibuat melalui proses vacuum arc melting dan dibiarkan membeku di atmosfer vakum. Selanjutnya dilanjutkan perlakuan panas homogenisasi untuk meningkatkan homogenitas dan stabilitas fasa. Karakterisasi dilakukan dengan metode metalografi, SEMEDS, XRD, serta DSC untuk mempelajari struktur mikro, fasa-fasa yang terbentuk, serta temperatur transformasi paduan. Paduan yang dibuat dengan metode vacuum arc melting menunjukkan penyimpangan pada komposisi unsur dari yang seharusnya 51%at. titanium menuju sekitar 53%at. titanium. Ditemukan juga keberadaan fasa martensit dan NiTi2 yang tidak diinginkan, serta temperatur transformasi austenit yang masih jauh di atas temperatur operasional seharusnya, dengan spesimen as-cast D15 sebesar 206,21? dan D30 sebesar 185,02?. Hasil perlakuan panas menunjukkan penurunan jumlah fasa NiTi2 dari sekitar 12%vol. menjadi sekitar 7%vol. namun masih menunjukkan juga keberadaan fasa martensit. Perlakuan panas juga mengakibatkan penurunan dari temperatur transformasi austenit menjadi 132,42?. Penelitian ini menunjukkan bahwa paduan bisa dibuat di skala laboratorium saat ini namun diperlukan kontrol yang lebih ketat untuk mencegah perubahan komposisi dan perlakuan panas yang lebih tepat untuk fasa intermetalik NiTi2 dengan pelarutan kembali ke matriks NiTi serta meningkatkan kestabilan fasa NiTi austenit.
STRATEGI PENGENDALI GERAK FORKLIFT OTONOM DENGAN METODE DYNAMIC WINDOW ADAPTIF
Forklift otonom merupakan salah satu aplikasi robot bergerak yang berperan penting dalam otomasi pergudangan modern. Teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi distribusi barang serta mengurangi risiko kecelakaan kerja. Namun, tantangan utamanya adalah merancang strategi pengendali gerak yang adaptif terhadap kondisi gudang yang kompleks, seperti lorong sempit dan tata letak rak yang padat. Dynamic Window Approach (DWA) merupakan metode populer untuk penjejak jalur karena mampu menghasilkan perintah gerak yang dapat dicapai dan layak secara kinematis. Meski demikian, performa DWA sangat dipengaruhi oleh bobot fungsi objektif, yang pada DWA konvensional nilanya tetap sehingga kurang adaptif pada kondisi yang bervariasi. Penelitian ini mengusulkan Q-Learning Dynamic Window Approach (Q-DWA), yaitu integrasi Q-Learning sebagai mekanisme adaptasi bobot DWA. Q-Learning melatih forklift melalui interaksi dengan lingkungan simulasi gudang sehingga dapat menyesuaikan bobot berdasarkan kondisi orientasi terhadap target, kecepatan forklift, dan kepadatan hambatan. Algoritma A* juga digunakan sebagai perencana jalur global untuk menemukan jalur tercepat. Metode penelitian meliputi pemodelan kinematika forklift, perancangan Q-table, serta pelatihan sebanyak 1.000-episode menggunakan strategi ?-greedy. Simulasi dilakukan pada empat skenario khas pergudangan. Hasil uji menunjukkan bahwa Q-DWA mampu menyelesaikan semua skenario dengan tingkat keberhasilan lebih dari 98%, sedangkan DWA konvensional hanya berhasil 91% dan 74%. Q-DWA menghasilkan perintah gerak yang lebih halus namun tetap menjaga akurasi penjejakan dengan RMSE 0,118. Kebaruan penelitian ini adalah penerapan Reinforcement Learning sebagai mekanisme tuning bobot DWA secara online untuk mengikuti waypoints/lintasan dari A*. Kontribusi utamanya memperkaya literatur adaptive path planning, sekaligus membuktikan bahwa Q-Learning dapat mengatasi keterbatasan DWA konvensional.
PENGEMBANGAN ALGORITMA OPTIMASI MULTI-OBJECTIVE ADAPTIVE FUZZY UNTUK KENYAMANAN TERMAL DAN EFISIENSI ENERGI PADA BANGUNAN GEDUNG CERDAS DENGAN PENDEKATAN DIGITAL TWIN
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji model optimasi multi-objektif berbasis pendekatan evolusioner dalam rangka mengoptimalkan penghematan energi HVAC dan kenyamanan penghuni di Bangunan Gedung Cerdas (BGC). Dengan mengadopsi model Digital twin dan sensor IoT real-time, penelitian ini menghadirkan solusi inovatif dalam pengelolaan energi dinamis di gedung cerdas, dengan fokus pada efisiensi operasional sistem Heating, Ventilation, and Air Conditioning (HVAC). Tiga metode optimasi diuji, yaitu NSGA-II, MOPSO, dan formulasi berbasis adaptive Fuzzy, yang masing-masing bertujuan mencapai solusi Pareto-optimal antara dua tujuan utama: minimisasi konsumsi energi dan maksimisasi kenyamanan termal. Evaluasi dilakukan menggunakan data real-time dari platform Simulator Smart Building di Gd. ITB Innovation Park lantai 9. Hasil menunjukkan bahwa pendekatan Fuzzy mampu menghasilkan efisiensi energi HVAC hingga 25% dibandingkan metode lain, sambil mempertahankan kenyamanan dengan skor di atas 83%. Digital twin yang dibangun mengintegrasikan data sensor aktual, simulasi EnergyPlus, dan pengambilan keputusan otomatis berbasis model Fuzzy. Sistem ini mampu merespons perubahan lingkungan secara real-time dan menyesuaikan pengaturan HVAC secara adaptif. Model ini menunjukkan potensi besar untuk diimplementasikan pada sistem manajemen energi bangunan secara otonom dan berkelanjutan.
TRADISI UNDAGI DALAM METODOLOGI PERANCANGAN BANGUNAN MASA KINI DI BALI
Metodologi perancangan pada arus utama global cenderung berbasis tradisi barat yang rasionalistik dan teknokratik sehingga meminggirkan sistem pengetahuan lokal. Di Bali, undagi sebagai master builder mewarisi sistem pengetahuan rancang-bangun arsitektural yang menyatukan fungsi, estetika, kosmologi, dan spiritualitas, yang telah berlangsung sejak abad ke-9. Tradisi undagi mewariskan sistem desain arsitektural yang tidak hanya bersifat fungsional dan estetis, tetapi juga spiritual dan kosmologis. Orientasi ruang pada Gunung Agung (konsep Padma Bhuwana), penggunaan ukuran modulasi, pelibatan ritus dalam tahapan pembangunan, serta aktivasi energi taksu, merupakan bagian integral dari sistem epistemologi rancang bangun yang berakar kuat pada nilai lokal. Sistem ini terbukti menciptakan lingkungan binaan yang harmonis secara sakala–niskala, serta menyatu dengan struktur sosial dan spiritual masyarakat Bali. Namun, dalam dinamika pembangunan kontemporer, posisi undagi semakin tersubordinasi sistematis. Proyek-proyek arsitektur di Bali saat ini lebih banyak dikerjakan oleh arsitek dan desainer lulusan pendidikan formal berbasis metodologi modern. Peraturan Daerah No. 5 Tahun 2005 tentang Arsitektur Bangunan Gedung memang mengatur pentingnya filosofi dan identitas lokal, tetapi belum mengarusutamakan peran undagi sebagai pewaris otoritatif tradisi perancangan. Hal ini berdampak pada melemahnya kontinuitas nilai-nilai spasial dan spiritual yang mendasari tata ruang Bali. Penelitian ini bertujuan (1) merumuskan secara sistematis sistem pengetahuan undagi dan (2) memetakan unsur-unsur yang tetap relevan untuk membentuk metodologi perancangan bangunan masa kini. Riset menggunakan pendekatan kualitatif-interpretatif dengan strategi etnografis-historis (penelusuran dari abad ke 9 hingga kini) dan studi kasus kualitatif pada bangunan kontemporer di Bali. Analisis berpijak pada hermeneutika filosofis (Gadamer–Ricoeur) untuk menjembatani horizon emic (tradisi undagi) dan etic (akademik modern), semiotika untuk mengode tanda arsitektur (ikon–indeks–simbol; denotasi–konotasi–mitos), serta analisis spasial Lefebvre (conceived–perceived–lived space). Data primer mencakup observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan undagi, arsitek, dan pemangku adat; data sekunder meliputi lontar (Ashta Kosala-Kosali, Ashta Bh?mi), arsip, dan dokumentasi proyek. Kredibilitas dijaga melalui triangulasi sumber–metode dan audit trail. Temuan utama: (a) tersusun Construct 1—rumusan sistem pengetahuan undagi (tala/proporsi tubuh, orientasi kaja–kelod, hirarki tri mandala/tri angga, ritus siklus ruang, dan taksu sebagai daya ruang); (b) terpetakan pola kesinambungan transformasi pada studi kasus kontemporer (adopsi prinsip kosmologis dengan adaptasi tipologi, material, dan manajemen proyek modern); (c) terformulasi Construct 2—peta metodologi perancangan berbasis budaya yang operasional untuk kolaborasi undagi–arsitek, mengikat makna kosmologis sekaligus memenuhi kinerja teknis dan regulatif. Kontribusinya memperkaya teori metodologi desain (di luar hegemoni rasionalisme Barat) dan menawarkan pedoman implementatif bagi pendidikan, kebijakan, serta praktik metodologi perancangan (design-build approach) berkelanjutan di Bali.
MODEL PENENTUAN JUMLAH PASOKAN OPTIMAL SERBUK GERGAJI MELALUI MINIMISASI BIAYA PENGADAAN, TRANSPORTASI, DAN PENYIMPANAN
Pemanfaatan biomassa, khususnya serbuk gergaji (sawdust), sebagai bahan baku co-firing di PLTU Adipala merupakan salah satu strategi PT PLN (Persero) untuk mempercepat transisi energi hijau dan mengurangi ketergantungan pada batu bara. Namun, implementasi strategi ini menghadapi tantangan pada aspek rantai pasok, khususnya terkait biaya pengadaan, transportasi, dan penyimpanan biomassa yang efisien. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana merancang model penentuan jumlah pasokan optimal serbuk gergaji dengan meminimalkan biaya pengadaan, transportasi, dan penyimpanan agar mampu mendukung kelancaran program co-firing secara berkelanjutan. Model hasil pengembangan ini selanjutnya diterapkan untuk PLTU Adipala. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode linear programming (LP) yang dirancang dalam skema single-item. Data yang digunakan berasal dari delapan pemasok sawdust di wilayah sekitar Cilacap (Ngelosari, Pagelarang, Alas Malang, Purwasaba, Jatiroto, Jatijajar, Kutaliman, dan Wates) dengan periode observasi 2022–2024. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan data, penentuan parameter, serta uji coba model untuk menilai efisiensi biaya pengadaan, transportasi, dan penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model mampu meminimalkan total biaya sekaligus menentukan jumlah pasokan biomassa yang optimal, termasuk skenario pemilihan pemasok terbaik ketika terjadi kekurangan pasokan di salah satu lokasi pada periode 2022–2024. Hasil uji coba menunjukkan bahwa model mampu menurunkan total volume pasokan biomassa hingga 10,8% pada tahun 2024, setelah sebelumnya mencatat kenaikan pasokan sebesar 5–8% pada periode 2022–2023 sebagai respons terhadap peningkatan jumlah pemasok. Penurunan volume pada tahun terakhir disertai dengan efisiensi biaya total sebesar 13,2%, yang menunjukkan bahwa model berhasil memberikan hasil yang optimal antara kapasitas pasokan dan efisiensi biaya distribusi biomassa. Secara praktis, temuan ini memberikan implikasi manajerial dalam memilih kombinasi pemasok paling efisien dan merencanakan distribusi biomassa (rute pengiriman dan volume pasokan) secara lebih terstruktur dalam rangka meminimalkan biaya tambahan akibat fluktuasi atau ketidakteraturan pasokan.
PERENCANAAN PENANGANAN KAWASAN PERMUKIMAN KUMUH DENGAN PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN DI KAWASAN BUDIRAJA-LAWANG GEDE, DESA MERTASINGA, KABUPATEN CIREBON
Lahan merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia dan pemenuhannya menjadi tanggung jawab pemerintah. Di Indonesia, keterbatasan lahan serta tingginya urbanisasi tanpa hunian layak menimbulkan permukiman kumuh. Kawasan Budiraja–Lawang Gede di Kabupaten Cirebon termasuk wilayah prioritas untuk ditangani dan termasuk dalam daftar lokasi program pemerintah peningkatan kualitas lingkungan permukiman kumuh. Namun, penanganan kawasan ini belum memiliki rencana penanganan detail. Penelitian ini bertujuan menyusun rencana penanganan kawasan kumuh tersebut melalui pendekatan mixed methods deskriptif dengan tahapan pengumpulan data primer dan sekunder, analisis relevansi preseden, analisis permasalahan, identifikasi jenis penanganan, analisis kawasan, identifikasi jenis peremajaan kawasan, perumusan kebijakan dan prinsip perancangan, perumusan kompensasi dan kebutuhan lahan, serta penyusunan konsep perencanaan dan perancangan kawasan. Penelitian ini mengacu pada berbagai pustaka, preseden, dan data lapangan yang menunjukkan bahwa penanganan kawasan kumuh Budiraja–Lawang Gede idealnya memadukan penataan ulang lahan dengan partisipasi masyarakat serta pelestarian bangunan bersejarah. Permasalahan utama yang ditinjau dari kriteria kumuh direspon melalui metode penanganan peremajaan kawasan. Dari kondisi kawasan yang memiliki potensi ekonomi, budaya, dan pariwisata untuk mendukung pengembangannya direspon dengan jenis peremajaan rekonstruksi. Dengan visi mewujudkan lingkungan hunian yang nyaman, apik, dan inklusif melalui tujuh prinsip perancangan, menggunakan konsep Urban Development Through Local Partnership dirumuskan kebutuhan hunian sejumlah 30 tower rumah susun lengkap dengan fasilitas penunjang. Dari hasil analisis tersebut, tersusunlah konsep kawasan yang terbagi menjadi lima zona, disertai ilustrasi simulasi penerapan prinsip perancangannya. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berfokus pada penyelesaian permasalahan fisik, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan pengembangan potensi kawasan. Hasil penelitian menunjukkan relevansi dengan kondisi eksisting berdasarkan data yang ditemukan di lapangan.
ANALISIS SENSITIVITAS STOKASTIK KOMPREHENSIF DALAM MODEL ASET TERINTEGRASI UNTUK OPTIMASI DAN PENGENDALIAN CERDAS: STUDI KASUS PADA LAPANGAN BAWAH LAUT X
Conventional decoupled reservoir modeling systematically underestimates asset potential by neglecting critical feedback mechanisms between subsurface and surface components, leading to suboptimal field development strategies. This study presents a novel Integrated Asset Modeling (IAM) framework that dynamically couples highfidelity reservoir simulation with surface production network constraints while explicitly incorporating an autonomous subsea choke control mechanism to capture emergent system behaviors. Latin Hypercube Sampling (LHS) enables computationally efficient uncertainty quantification across many operational control scenarios, maintaining statistical robustness within practical computational constraints. Probabilistic forecasting demonstrates that intelligent choke management alone enhances recovery factor by 2.7%, validating the economic significance of integrated optimization over traditional sequential workflows. A subsequent global sensitivity analysis deconstructed this variance, identifying four of the ten production wells as the dominant control levers that collectively govern over 70% of the system’s variability. Targeted optimization of these high-leverage control parameters yields 43 MMSTB incremental recovery beyond the 337 MMSTB deterministic baseline—a 12.8% uplift representing $2.15 billion additional value at $50/bbl. The probabilistic IAM framework quantifies previously unrecognized value creation opportunities in complex subsea architectures by capturing nonlinear system interactions and operational feedback loops that conventional decoupled approaches inherently cannot resolve. This rigorously validated methodology empowers operators with decisionsupport tools for designing adaptive automation strategies, optimizing capital allocation, and executing risk-informed asset lifecycle management. The integrated approach directly addresses the industry's dual imperative of maximizing hydrocarbon recovery while ensuring economic resilience in capital-intensive subsea developments facing volatile market conditions.
HUBUNGAN PENILAIAN KEPRIBADIAN MYERS-BRIGGS TYPE INDICATOR (MBTI) TERHADAP KINERJA KARYAWAN DI PT JAYA REAL PROPERTY TBK
Kinerja karyawan menentukan keberhasilan jangka panjang organisasi, namun banyak organisasi mengabaikan faktor seperti kepribadian. PT Jaya Real Property Tbk pernah menggunakan Myers?Briggs Type Indicator (MBTI) untuk rekrutmen dan pelatihan, tetapi kaitannya dengan kinerja karyawan belum pernah dievaluasi. Setelah beralih ke DiSC atas keputusan dewan, wawancara awal menunjukkan pertanyaan tentang apakah MBTI masih dapat memberikan wawasan dalam kolaborasi, konflik kepemimpinan, dan gaya kerja antargenerasi. Penelitian tentang validitas prediktif MBTI masih langka, terutama di sektor properti Indonesia, sehingga menciptakan celah yang ingin diisi oleh studi ini. Penelitian ini menanyakan: Apakah MBTI menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kinerja karyawan di PT Jaya Real Property Tbk? Untuk menjawabnya, studi ini hanya memfokuskan pada karyawan perusahaan. Sampel 84 responden dari populasi 513 orang ditentukan menggunakan rumus Slovin. Responden mengisi kuesioner MBTI dan adaptasi Indonesia dari Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ), yang mengukur kinerja tugas, kinerja kontekstual, dan perilaku kerja kontraproduktif. Uji reliabilitas menunjukkan dimensi IWPQ konsisten. Data dianalisis menggunakan Independent Samples T?Tests, One?Way ANOVA, perbandingan post hoc Tukey HSD, dan uji nonparametrik Kruskal–Wallis untuk membandingkan kinerja antar dikotomi MBTI dan enam belas tipe kepribadian. Semua uji inferensial menghasilkan nilai p lebih besar dari 0,05, menunjukkan bahwa tipe kepribadian MBTI, baik sebagai dikotomi maupun tipe utuh, tidak secara signifikan memprediksi hasil kinerja karyawan. Hasil ini memberikan bukti empiris bagi hipotesis nol bahwa tidak ada hubungan signifikan antara tipe kepribadian MBTI dan kinerja karyawan di PT Jaya Real Property Tbk. Dengan demikian, keputusan perusahaan untuk memprioritaskan DiSC dibenarkan. MBTI masih dapat berguna sebagai alat reflektif atau pengembangan dalam lokakarya dan pembangunan tim, tetapi tidak boleh digunakan sebagai prediktor kinerja formal. Inisiatif sumber daya manusia sebaiknya memprioritaskan intervensi yang terkait dengan motivasi, pengembangan keterampilan, dan kepemimpinan, sambil terus mengevaluasi alat penilaian. Studi ini memperjelas peran prediktif MBTI yang terbatas dan memberikan bukti dari sektor properti Indonesia. Penelitian di masa depan perlu memperluas ukuran sampel, membandingkan MBTI dengan kerangka lain seperti Big Five atau HEXACO, mengeksplorasi hubungan longitudinal, dan memasukkan variabel seperti kecerdasan emosional dan budaya organisasi untuk memperkaya pemahaman.
EFEK FERMENTASI KACANG HIJAU DAN KACANG MERAH MENGGUNAKAN LACTOBACILLUS ACIDOPHILUS DAN STREPTOCOCCUS THERMOPHILUS TERHADAP KANDUNGAN NUTRISI DAN AKTIVITAS ANTIMIKROBA
Kacang-kacangan merupakan bahan makanan bergizi tinggi. Fermentasi kacang-kacangan diharapkan dapat menghasilkan produk yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh fermentasi terhadap kandungan nutrisi dan aktivitas antimikroba produk fermentasi. Pada penelitian ini, kacang merah dan kacang hijau difermentasi menggunakan Lactobacillus acidophilus dan Streptococcus thermophilus kemudian ditentukan kandungan nutrisi sebelum dan setelah fermentasi, serta diuji aktivitas antimikroba produk fermentasi. Kandungan protein produk fermentasi meningkat secara bermakna (p<0,05) berturut-turut sebesar 10,7% dan 13,1% untuk kacang hijau dan kacang merah, sedangkan kandungan karbohidrat dan lemak menurun secara bermakna (p<0,05) 51,5% dan 47,4% untuk karbohidrat dan 54,0% dan 15,1% untuk lemak. Produk fermentasi kacang hijau dan kacang merah yang setara dengan 1,1 mg kacang mentah, menghambat pertumbuhan Escherichia coli dengan diameter hambat berturut-turut 22,8±0,7 mm dan 16,0±1,8 mm, terhadap Salmonella typhimurium 30,5±0,8 mm dan 19,0±0,3 mm yang lebih kecil dibandingkan diameter hambat siprofloksasin hidroklorida 50 µg/mL. Produk fermentasi tidak berkhasiat terhadap Candida albicans.
ESTIMASI NILAI PERCAMPURAN VERTIKAL PADA PERIODE UPWELLING DI LAUT BANDA
Laut Banda merupakan lokasi pertemuan massa air dari Pasifik Utara dan Pasifik Selatan yang kemudian mengalir keluar menuju Samudra Hindia melalui Cekungan Aru dan Laut Timor. Interaksi kedua massa air tersebut menghasilkan transformasi massa air baru, yaitu Banda Sea Water (BSW), dengan karakteristik salinitas sekitar 34,5 psu dari lapisan termoklin hingga dasar laut. Secara musiman, fenomena upwelling teridentifikasi di Laut Banda dan mencapai intensitas maksimum pada musim timur. Karakteristik oseanografi tersebut, ditambah dengan bentuk topografi batimetri yang kompleks, menjadikan proses percampuran vertikal di Laut Banda sangat dinamis dan rumit. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa upwelling dapat memicu peningkatan turbulensi dan gelombang internal yang berkontribusi terhadap transformasi massa air. Namun demikian, pengaruh upwelling terhadap intensitas percampuran vertikal di Laut Banda belum terungkap secara spesifik.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh upwelling terhadap percampuran vertikal di Laut Banda. Data yang digunakan meliputi data re-analisis CMEMS berupa suhu, salinitas, klorofil-a. Data kecepatan angin zonal dan meridional pada lapisan 10 m selama periode 1993 didapatkan dari ECMWF. Selain itu, digunakan juga data observasi Ekspedisi Arlindo-Mixing pada Agustus 1993 dan Februari 1994 yang mencakup sembilan pasang stasiun pengamatan dengan lokasi yang sama pada kedua musim. Analisis dilakukan melalui tiga tahap: (1) identifikasi upwelling berdasarkan analisis spasial-vertikal temperatur, salinitas, klorofil-a dan perhitungan Ekman pumping velocity (????????); (2) estimasi intensitas percampuran vertikal turbulen melalui perhitungan parameter Brunt–Väisälä (????2), perpindahan Thorpe (????????), disipasi energi kinetik (????), dan difusivitas vertikal (?????????????) secara vertikal dan spasial; serta (3) perbandingan analisis hasil estimasi antara musim timur dan musim barat untuk mengidentifikasi pola dan perbedaannya selama periode upwelling.Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara spasial, upwelling di Laut Banda teridentifikasi secara musiman pada periode Juni–Agustus (JJA) dan mencapai maksimum pada Agustus, sebagaimana ditunjukkan oleh distribusi SST, SSS, dan klorofil-a. Secara vertikal, fenomena upwelling juga teramati kuat pada lapisan termoklin selama musim timur (JJAS). Nilai (????????) maksimum terjadi pada Juni–September, dengan puncaknya pada Agustus (1 × 10?4 m/s). Parameter ???? dan ?????????o menunjukkan nilai tertinggi pada lapisan termoklin, baik pada musim timur maupun barat, yang mengindikasikan bahwa lapisan ini merupakan zona paling turbulen. Menariknya, nilai rata-rata ???? dan ????????????? pada musim barat sedikit lebih besar dibanding musim timur. Secara spasial, nilai ???? dan ????????????? tinggi ditemukan di lapisan permukaan (<50 m). Pada musim timur, nilai maksimum terjadi di stasiun A-59 dan A-60 yang berlokasi di dekat pulau dan selat sempit, sedangkan pada musim barat nilai tinggi teramati di stasiun F-137, F-138, dan F-139 yang berada di bagian selatan Laut Banda (laut lepas). Secara umum, hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ???? dan ????????????? sebagai indikator percampuran vertikal tidak secara langsung dipengaruhi oleh upwelling. Percampuran vertikal di Laut Banda lebih dipengaruhi oleh proses internal kolom air, seperti ketidakstabilan stratifikasi dan pertemuan massa air dari pada dinamika upwelling permukaan yang dipicu oleh angin.
KARAKTERISTIK SERTA MEKANISME PEMICU MARINE HEATWAVES (MHWS) SIGNIFIKAN DI SELAT MAKASSAR
Seiring dengan meningkatnya suhu permukaan laut (SPL) akibat pemanasan global, kejadian marine heatwaves (MHWs) diproyeksikan akan lebih sering terjadi dan dengan durasi yang lebih panjang pula. Laju peningkatan SPL di Indonesia lebih tinggi dari rata-rata global, yang memiliki implikasi negatif terhadap ekosistem dan perekonomian Indonesia. Sebagai kawasan ekonomi produktif, Selat Makassar memiliki kerentanan yang tinggi terhadap MHWs. Guna memitigasi dampak MHWs terhadap aktivitas ekonomi Selat Makassar, dibutuhkan penelitian terhadap kejadian MHWs. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dilakukan penelitian untuk mengetahui karakteristik MHWs (durasi, frekuensi, intensitas, dan tren) dan mekanisme pembentukan MHWs di Selat Makassar. Penelitian juga mengidentifikasi kejadian MHWs signifikan yang berpotensi merusak ekosistem laut. Data SPL digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik kejadian MHWs di Selat Makassar secara spasial dan temporal. Persamaan mixed layer heat budget digunakan untuk mengidentifikasi kontribusi proses net surface heat flux, adveksi horizontal, dan entrainment dalam pembentukan MHWs signifikan. Penelitian dilakukan untuk rentang waktu 28 tahun (1993–2020).Hasil penelitian menunjukkan bahwa MHWs dengan frekuensi tinggi dan intensitas rendah ada di pesisir, sedangkan karakteristik MHWs yang berkebalikan ditemukan di laut lepas. Perhitungan tren linear menunjukkan tren positif untuk frekuensi dan durasi. Tren negatif ditemukan untuk intensitas rata-rata dan maksimum, sedangkan tren linear dari intensitas kumulatif adalah kombinasi dari tren linear durasi dan intensitas rata-rata. Melalui analisis temporal, ditemukan 66 kejadian MHWs di Selat Makassar. Analisis secara musim menunjukkan bahwa kejadian MHWs di musim peralihan I dan musim timur adalah kejadian dengan intensitas kumulatif yang relatif tinggi sehingga kedua musim tersebut diklasifikasikan sebagai musim dengan kerentanan tinggi terhadap MHWs. Kejadian MHWs signifikan terjadi pada tahun 1998 dan 2016, yaitu kejadian MHWs 25 Juli–10 Agustus 1998 dan kejadian MHWs 30 Juni–18 Agustus 2016. MHWs signifikan terjadi akibat kombinasi antara anomali pemanasan mixed layer oleh net surface heat flux dan anomali positif SPL di tahun 1998 dan 2016. Nilai net surface heat flux yang tinggi diakibatkan oleh peningkatan sinar matahari yang diterima laut dan penurunan kecepatan angin selama El Niño kuat.
DISTRIBUSI MIKROPLASTIK PADA AIR DAN SEDIMEN SUNGAI CIWALENGKE, MAJALAYA
Mikroplastik berukuran 50-2000 µm ditemukan berada di Sungai Ciwalengke, Majalaya. Rata-rata sekitar 5,85 ± 3,28 partikel per liter dan 3,03 ± 1,59 partikel mikroplastik per 100 gram sedimen kering ditemukan pada air dan sedimen Sungai Ciwalengke berturut-turut. Bentuk partikel mikroplastik yang dominan ditemukan adalah fiber, 65% di air dan 91% di sedimen, dengan bentuk lain seperti fragmen atau granul. Jumlah mikroplastik ditemukan terbanyak berada pada titik industri baik pada sampel air maupun sedimen. Uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan jumlah partikel mikroplastik terhadap lokasi sampling pada sampel sedimen (p-value < 0,05), tetapi tidak signifikan pada sampel air (p-value > 0,05). Segmen lokasi dengan jumlah industri lebih dominan memberikan perbedaan median jumlah mikroplastik paling signifikan dibandingkan dengan segmen lokasi lain pada sampel sedimen (Two sample Wilcoxon test, p-value < 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa lokasi industri memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsentrasi mikroplastik di Sungai Ciwalengke. Hal ini dibuktikan pula dengan pengujian Raman terhadap beberapa sampel mikroplastik yang mengindikasikan jenis mikroplastik poliester yang ditemukan. Jenis polimer plastik tersebut dominan berasal dari pencucian kain pada industri maupun domestik.