📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PURWARUPA ALAT UKUR GETARAN UNTUK PEMANTAUAN KONDISI MODA TRANSPORTASI REL BERBASIS IT

Getaran merupakan fenomena gerakan berulang dalam interval waktu tertentu sering telibat dalam aktivitas manusia. Dalam moda transportasi rel, getaran yang muncul akibat gaya eksitasi dari luar mengindikasikan terdapat masalah. Masalah pertama dapat bersumber dari bogie yang memiliki komponen-komponen kritis, seperti peredam sekunder, karakteristik adhesi, dan bentuk geometri dari kontak roda dengan rel. Masalah kedua dapat bersumber dari jalan rel, seperti sambungan rel, profil permukaan rel dan kecacatan rel. Getaran ini dapat menyebabkan poor ride quality hingga derailment. Secara fungsi, alat ukur getaran yang digunakan untuk memantau kondisi rel dapat digunakan juga untuk memantau kondisi bogie menggunakan akselerometer untuk mengukur karakteristik getaran dan GPS sebagai sensor kedua untuk mendapatkan informasi mengenai lokasi dari getaran yang terukur. Oleh karena itu, penelitian ini diadakan untuk mendapatkan rancangan susunan sensor akselerometer, GPS, dan mikrokontroler dalam tempat yang kompak (compact). Lalu, penelitian ini juga dapat menghasilkan rancangan program dari masing-masing sensor dan mendapatkan data yang sesuai antara akselerometer dan GPS berdasarkan domain waktu. Hasil penelitian ini adalah purwarupa alat ukur getaran yang kompak (compact) dan dapat digunakan untuk pengukuran karakteristik getaran dari moda transportasi rel

2025
👤 Penulis: Rizky Aulia Rahman
🏷️ Getar 🏷️ Moda Transportasi Rel 🏷️ Sensor Getar

DESAIN LAYOUT DAN PEKERJAAN PENGERUKAN ALUR PELAYARAN DAN KOLAM PUTAR PELABUHAN TELUK BARA, BURU, MALUKU

Pelabuhan Teluk Bara merupakan salah satu akses utama distribusi barang di Kabupaten Buru. Namun, pelabuhan ini belum memiliki kedalaman yang memadai untuk mendukung aktivitas pelayaran secara optimal. Kabupaten Buru, Maluku, merupakan wilayah dengan potensi besar di sektor pertanian sehingga diperlukan pengembangan infrastruktur pelabuhan untuk menunjang kelancaran distribusi barang dan meningkatkan daya saing komoditas daerah. Oleh karena itu, perlu dilakukan pekerjaan pengerukan pada alur pelayaran dan kolam putar di Pelabuhan Teluk Bara agar dapat memfasilitasi kapal yang akan bersandar. Kapal terbesar yang direncanakan bersandar adalah kapal curah berkapasitas 40.000 DWT dengan draft 11,5 meter. Tugas akhir ini membahas perencanaan desain layout alur pelayaran dan kolam putar, estimasi volume pengerukan, pemilihan jenis serta jumlah kapal keruk, dan estimasi biaya pekerjaan. Berdasarkan hasil perancangan, diperoleh lebar alur pelayaran sebesar 145 m dengan kedalaman 13 m dari LWS. Kolam putar memiliki diameter sebesar 390 m dan kedalaman 13 m dari LWS. Nilai slope atau kemiringan tanah sebesar 10° dari garis horizontal. Dengan menggunakan metode cross-section, diperolah estimasi volume pengerukan sebesar 812,354.47 m3. Pekerjaan pengerukan dilakukan menggunakan satu unit kapal CSD Queen Victoria 8 dengan bantuan empat unit hopper barge. Estimasi durasi pekerjaan pengerukan adalah 66 hari termasuk mobilisasi dan demobilisasi. Pekerjaan pengerukan memerlukan estimasi biaya sebesar Rp80,964,925,215.91 atau Rp99,667 per m3.

2025
👤 Penulis: Ahmad Abid. M
🏷️ Desain Layout Pelabuhan 🏷️ Pengembangan Infrastruktur Pertanian 🏷️ Analisis Biaya Pekerjaan Konstruksi

DESAIN LAYOUT DAN PEKERJAAN PENGERUKAN KOLAM PUTAR DAN ALUR PELAYARAN PADA PELABUHAN NAMLEA

Pelabuhan memiliki peran strategis dalam mendukung konektivitas dan distribusi barang antarwilayah. Salah satu faktor utama yang menentukan kapasitas pelabuhan adalah kedalaman alur pelayaran dan dimensi kolam putar. Pada Pelabuhan Namlea, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, kondisi perairan alami belum memadai untuk melayani kapal general cargo 30.000 DWT, sehingga diperlukan pekerjaan pengerukan. Penelitian ini bertujuan merancang layout alur pelayaran dan kolam putar, menghitung volume material keruk, menentukan jenis kapal keruk yang sesuai, serta mengestimasi durasi dan biaya pengerukan. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, pengolahan data batimetri, pasang surut, angin, gelombang, serta dimensi kapal rencana. Perhitungan desain mengacu pada British Standard 6349-1:2000 dan OCDI (2020), sedangkan analisis produktivitas dan biaya berdasarkan Dredging: A Handbook for Engineers (Bray dkk., 1995). Hasil perencanaan menunjukkan kolam putar berdiameter 348 m dengan kedalaman 12 m, sementara alur pelayaran memiliki lebar 168 m dan kedalaman 12 m. Volume material keruk diperkirakan 348.007,9 m³. Pekerjaan menggunakan Cutter Suction Dredger (CSD) Puncak Besar dengan dukungan empat unit split hopper barge 1.000 m³. Produktivitas mencapai 712 m³/jam dengan total durasi 42 hari, dan estimasi biaya Rp39,69 miliar.

2025
👤 Penulis: Raja Najogi Simbolon
🏷️ Desain Layout 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

DESAIN DAN ANALISIS PIPA BAWAH LAUT 16” PROYEK ABC DI PERAIRAN KEPULAUAN ANAMBAS, KEPULAUAN RIAU

Energi menjadi salah satu kebutuhan yang vital bagi kehidupan manusia. Dalam pemenuhannya, eksploitasi sumber daya untuk energi menjadi hal yang perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan yang ada. Oleh karena itu pembangunan infrastruktur untuk menunjang proses eksploitasi migas di lepas pantai perlu untuk dilakukan, salah satunya adalah pipa bawah laut. Tugas akhir ini bertujuan untuk merancang pipa bawah laut yang memenuhi kriteria desain yang ada dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar pipa dan kondisi pipa sebelum dan saat beroperasi sehingga bisa memenuhi kriteria selama masa layannya. Tugas akhir ini juga menjelaskan tentang metodologi desain pipa bawah laut yang mencakup pengolahan data lingkungan, perhitungan tebal dinding pipa bawah laut sesuai standar DNV-ST-F101, ASME B31.8, dan API RP 1111, analisis kestabilan pipa bawah laut berdasarkan DNV-RP-F109, perencanaan konfigurasi lay barge yang aman, dan perhitungan panjang bentang bebas maksimum yang diizinkan. Pengolahan data lingkungan dilakukan dengan Uji Kolmogorov-Smirnov dengan distribusi Normal, Lognormal, Gumbel, dan Weibull, kemudian didapatkan parameter data lingkungan untuk periode ulang 1,10, dan 100 tahun. Perhitungan tebal dinding pipa bawah laut memperhitungkan kriteria tekanan internal, tekanan eksternal, propagation buckling, combined loading, dan hoop stress. Didapatkan nilai tebal dinding pipa sebesar 14.275 mm menyesuaikan spesifikasi API 5L. Analisis kestabilan pipa bawah laut dihitung untuk stabilitas vertikal dan absolute static stability dengan didapatkan nilai tebal selimut beton sebesar 45 mm. Analisis instalasi dilakukan dengan menggunakan konfigurasi lay barge yang aman dan memenuhi kriteria desain DNV-ST-F101. Analisis bentang bebas dihitung untuk kriteria screening fatigue dan ultimate limit state dengan didapatkan nilai panjang bentang bebas maksimum yang diizinkan adalah 23.32 m.

2025
👤 Penulis: Theodorus Noel Ambarita
🏷️ Desain Pipa Bawah Laut 🏷️ Analisis Kestabilan Pipa 🏷️ Konfigurasi Lay Barge

PENGARUH PENAMBAHAN SELULOSA CLADOPHORA SP. TERHADAP SIFAT FISIK DAN MEKANIK SERAT KARBON BERBASIS LIGNIN

Serat karbon merupakan material dengan kekuatan dan kekakuan tinggi namun berbobot ringan, sehingga banyak digunakan dalam industri dirgantara, otomotif, hingga energi. Produksi serat karbon konvensional umumnya berbasis poliakrilonitril (PAN) yang mahal dan tidak ramah lingkungan. Lignin, sebagai biopolimer melimpah dari limbah industri pulp (black liquor), berpotensi menjadi prekursor alternatif karena kandungan karbonnya tinggi. Akan tetapi, lignin murni memiliki keterbatasan berupa spinnability rendah dan sifat mekanik serat yang kurang optimal. Penelitian ini mengkaji pengaruh penambahan selulosa dari alga Cladophora sp. yang memiliki kristalinitas hingga 95%—ke dalam sistem ligninpolivinil alkohol (PVA) untuk menghasilkan prekursor serat karbon dengan sifat fisik dan mekanik yang lebih baik. Prekursor disintesis melalui metode wet spinning dengan variasi kandungan selulosa 0%, 5%, 10%, dan 15% (b/b). Karakterisasi dilakukan menggunakan SEM, FTIR, CHNS/O elemental analyzer, TGA-DSC, uji densitas, serta uji tarik. Hasil menunjukkan bahwa penambahan selulosa mampu meningkatkan stabilitas bentuk serat, persentase pori, kadar karbon, serta kekuatan tarik hingga batas optimum. Namun, pada komposisi selulosa 15% terjadi fenomena pore sealing effect yang menurunkan jumlah pori dan kandungan karbon akibat densifikasi serat. Selain itu, peningkatan temperatur karbonisasi berkontribusi pada kenaikan kristalinitas serat karbon meskipun tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar karbon. Dengan demikian, blending lignin-PVA-selulosa berpotensi menjadi pendekatan berkelanjutan untuk menghasilkan serat karbon berbasis biomassa, sekaligus mendukung pengurangan limbah industri dan ketahanan material nasional.

2025
👤 Penulis: Jhosephine Estefani Riscila
🏷️ Karbonisasi Biomassa 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi Industri

STUDI EKSPERIMENTAL PENGGUNAAN BAJA TULANGAN BJTS 550 TERHADAP PERFORMA SEISMIK KOLOM PERSEGI

Seiring dengan berkembangnya desain struktur bangunan gedung yang semakin tinggi dan struktur jembatan yang semakin panjang di Indonesia mengakibatkan kebutuhan akan elemen struktur yang memiliki kapasitas tahanan yang tinggi dan sustainable semakin meningkat. Penggunaan baja mutu biasa pada elemen struktur ini akan menyulitkan pada proses konstruksi akibat konfigurasi tulangan yang lebih rapat dan padat untuk memenuhi kebutuhan struktur-struktur tersebut. Mengacu kepada SNI 2847:2019, kuat leleh baja tulangan pada sistem seismik khusus masih dibatasi pada 420 MPa, kecuali sebagai pengekang yang diizinkan sampai kuat leleh 700 MPa. Namun jika mengikuti ketentuan dalam ACI 318-19, penggunaan baja tulangan dengan kuat leleh 550 MPa pada sistem seismik sudah diijinkan walaupun masih terbatas pada komponen tertentu. Pada ketentuan dalam AASHTO LRFD Bridge Design Specifications edisi ke-9 tahun 2020, baja tulangan dengan kuat leleh 75 – 100 ksi (520 – 700 MPa) juga sudah diperbolehkan untuk digunakan dalam desain jembatan meskipun masih dibatasi terutama untuk tulangan pada daerah sendi plastis. Masalah umum yang membatasi penggunaan baja mutu tinggi dalam desain struktur adalah permasalahan daktilitas karena batas aktual kekuatan dan daktilitas yang masih belum terdefinisi dengan baik. Selain itu, terdapat permasalahan perbedaan perilaku lekatan atau bond antara beton dan baja tulangan mutu tinggi. Permasalahan inilah yang mengakibatkan penggunaan baja tulangan mutu tinggi masih sangat terbatas penerapannya dalam desain struktur di Indonesia. Karena keterbatasan pengetahuan akan perilaku baja tulangan mutu tinggi, perlu dilakukan pengujian secara eksperimental pada elemen-elemen struktur yang menggunakan baja mutu tinggi untuk memastikan performa daktilitas yang cukup dari elemen-elemen tersebut terutama ketika mengalami gempa besar. Pengujian secara eksperimental dalam penelitian ini dilakukan pada sampel kolom dengan dimensi 750 × 750 × 2200 mm3 yang berada di atas pile cap dengan ukuran 1500 × 1500 × 800 mm3 dengan kuat tekan beton fc’ 40 MPa (K-400) dan kuat leleh baja tulangan fy 550 MPa (BJTS. 550). Pengujian dilakukan dengan memberikan pembebanan siklik searah sehingga didapatkan kurva gaya-deformasi kolom, pola keruntuhan kolom, dan pola tegangan-regangan baja tulangan yang digunakan. Melalui hasil pengujian ini dapat ditentukan bagaimana perilaku degradasi kekuatan baja tulangan akibat pembebanan siklik dan daktilitas kolom dengan baja tulangan BJTS 550. Berdasarkan hasil tersebut dapat ditentukan bagaimana performa seismik elemen kolom persegi dengan baja tulangan BJTS 550.

2025
👤 Penulis: Alicia Lidwina Andriani
🏷️ Baja Tulangan 🏷️ Desain Struktur Gedung Tinggi 🏷️ Hidrologi

STRATEGI TRANSFORMASI PENGELOLAAN HUTAN BERSAMA MASYARAKAT (PHBM) MENUJU KEMITRAAN KEHUTANAN PERHUTANI PRODUKTIF (KKPP): STUDI KASUS LMDH LEMBAH HARAPAN JAYA, DESA JAYAGIRI, LEMBANG, BANDUNG BARAT

Transformasi Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) menuju Kemitraan Kehutanan Perhutani Produktif (KKPP) sebagaimana diatur dalam PermenLHK No. 4 Tahun 2023 merupakan kebijakan strategis untuk memperkuat kelembagaan masyarakat desa hutan sekaligus mengatasi kelemahan PHBM, seperti rendahnya transparansi, dominasi elit, dan lemahnya kapasitas Kelompok Tani Hutan (KTH). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor penentu, menganalisis peran stakeholder, dan merumuskan strategi transformasi PHBM menuju KKPP melalui studi kasus pada LMDH Lembah Harapan Jaya, Desa Jayagiri, Lembang. Metode yang digunakan adalah mixed method exploratory case study dengan data primer berupa wawancara semi-terstruktur dan kuesioner likert kepada 18 stakeholder (Perhutani, LMDH-Koperasi, KTH, pemerintah desa, dan mitra) serta data sekunder dari regulasi dan dokumen kelembagaan. Analisis dilakukan melalui milestone regulasi, analisis tematik Braun & Clarke dengan kerangka Edwards III, pemetaan stakeholder dengan Power–Interest Grid, dan formulasi strategi melalui analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan faktor internal berupa legalitas kelembagaan, kapasitas SDM, tata kelola transparan, dan pemberdayaan KTH, serta faktor eksternal berupa dukungan regulasi, pendanaan, peran teknis stakeholder, dan dinamika antaraktor. Hambatan yang dihadapi terdiri dari empat aspek, yaitu keterbatasan kapasitas organisasi/SDM, rendahnya partisipasi masyarakat, konflik kelembagaan, dan kompleksitas hubungan antaraktor. Analisis stakeholder menempatkan KRPH Lembang, Ketua KTH Wisata, KTH Wisata, dan pemerintah desa sebagai aktor kunci (key players), sedangkan sebagian besar KTH masih berperan pendukung. Analisis SWOT menghasilkan empat strategi, yaitu SO (memanfaatkan legalitas dan dukungan regulasi), WO (peningkatan kapasitas SDM dan inklusi KTH), ST (penguatan kelembagaan menghadapi ketidakpastian regulasi), dan WT (mitigasi konflik internal serta transparansi tata kelola). Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan transformasi PHBM menuju KKPP hanya dapat dicapai melalui kolaborasi seimbang antaraktor, pendampingan kelembagaan berkelanjutan, dan keterlibatan aktif KTH untuk mewujudkan tujuan perhutanan sosial berupa keadilan, kesetaraan, dan kemandirian masyarakat desa hutan.

2025
👤 Penulis: Mahadewi Sukmaputri
🏷️ Kemitraan Kehutanan Perhutani Produktif (Kkpp) 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ANALISIS DESAIN PIPA BAWAH LAUT DIAMETER 12.75 IN PADA PROYEK SEABHEX DI PERAIRAN BAWEAN

Indonesia sebagai negara maritim memiliki potensi cadangan minyak dan gas bumi lepas pantai yang besar, namun masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan energi domestik. Salah satu upaya pengembangan dilakukan melalui proyek SEABHEX di perairan Bawean yang merencanakan pembangunan pipa bawah laut sepanjang 38 km untuk menyalurkan minyak dari platform menuju daratan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan menganalisis pipa bawah laut berdiameter 12,75 in berdasarkan standar internasional agar memenuhi aspek keamanan dan keandalan operasional. Tahapan penelitian diawali dengan analisis data lingkungan berupa gelombang, arus, dan storm surge menggunakan distribusi probabilitas untuk mendapatkan parameter desain periode ulang 1, 10, dan 100 tahun. Selanjutnya dilakukan perhitungan ketebalan dinding pipa dengan acuan standar DNV-ST-F101, ASME B31.4 dan API-RP-1111, dilanjutkan dengan analisis stabilitas onbottom sesuai DNV-RP-F109 untuk menentukan kebutuhan selimut beton. Analisis instalasi pipa dilakukan secara statik dan dinamik untuk mengevaluasi konfigurasi roller, tensioner, dan stinger pada kapal lay barge agar tegangan dan regangan tetap dalam batas aman sesuai DNV-ST-F101. Analisis bentang bebas dilakukan berdasarkan DNV-RP-F105 untuk menilai risiko kegagalan akibat kelelahan maupun limit state. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketebalan dinding pipa yang dibutuhkan adalah 12,7 mm, sedangkan kebutuhan selimut beton untuk menjamin stabilitas adalah 40 mm dengan trenching. Konfigurasi instalasi yang disimulasikan dinyatakan aman terhadap kriteria tegangan dan regangan. Panjang bentang bebas maksimum yang diizinkan adalah 19,12 m untuk kriteria screening fatigue dan 28,18 m untuk ultimate limit state. Dengan demikian, desain pipa bawah laut pada proyek SEABHEX di perairan Bawean dinyatakan layak secara teknis untuk dioperasikan dengan aman dan andal.

2025
👤 Penulis: Hilmy Ausyaf
🏷️ Desain Pipa Bawah Laut 🏷️ Analisis Keamanan Operasional 🏷️ Stabilitas Onbottom

DESAIN DAN ANALISIS POTENSI PROPAGASI RETAK PADA PIPA BAWAH LAUT DI LAUT JAWA MENGGUNAKAN EXTENDED FINITE ELEMENT METHOD

Pipa bawah laut memiliki kerentanan terhadap kerusakan struktural, salah satunya berupa retak yang dapat memicu kegagalan. Untuk mengevaluasi integritas pipa, dilakukan analisis mekanika retak dengan parameter utama Stress Intensity Factor (SIF). Pada penelitian ini dilakukan pemodelan retak semi-elliptical arah longitudinal pada pipa NPS 16 dengan tebal dinding 12.7 mm menggunakan Extended Finite Element Method (XFEM) di ABAQUS. Variasi kasus dilakukan berdasarkan panjang retak (50 mm, 75 mm, 100 mm), kedalaman retak (0.3t dan 0.7t), serta tekanan internal (9,928 MPa, 14,892 MPa, dan 19,856 MPa). Validasi hasil pemodelan terhadap perhitungan teoritis menunjukkan selisih yang kecil (0,17%-2,7%), sehingga menegaskan akurasi metode XFEM. Hasil pemodelan memperlihatkan bahwa kedalaman retak merupakan parameter yang paling dominan dalam meningkatkan nilai SIF. Pada retak dengan panjang 100 mm, peningkatan kedalaman dari 3,81 mm menjadi 8,89 mm menyebabkan nilai SIF naik sebesar 126 hingga 128 persen dibandingkan kondisi awal pada kedalaman 3,81 mm. Parameter panjang retak dan internal pressure juga mampu meningkatkan nilai SIF, tetapi tidak sesignifikan parameter kedalaman retak. Untuk parameter panjang retak, kenaikan niali SIF berkisar antara 18%-28% dibandingkan kondisi retak terpendek yaitu 50 mm. Untuk parameter internal pressure, kenaikan tekanan dari 9,928 MPa ke 14,892 MPa meningkatkan nilai SIF antara 49%-50% dibandingkan kondisi awal, sedangkan kenaikan tekanan hingga 19,856 MPa, mampu meningkatkan nilai SIF hingga 33% dibandingkan kondisi sebelumnya. Kedalaman retak menjadi faktor paling berpengaruh terhadap kenaikan SIF, diikuti panjang retak dan tekanan internal. Perbandingan SIF dengan fracture toughness material pipa bawah laut menunjukkan seluruh kasus masih berada di bawah batas kegagalan, sehingga retakan tidak berpropagasi.

2025
👤 Penulis: Joshua Glorius Kelman Harahap
🏷️ Mekanika Retak 🏷️ Analisis Struktur Pipa Bawah Laut 🏷️ Metode Extended Finite Element Method

VIDEO MOMENT RETRIEVAL MENGGUNAKAN PENDEKATAN SEGMENTASI PADA VIDEO LLM

Diberikan sebuah video, moment retrieval atau pengembalian momen adalah tugas pengembalian rentang waktu sebuah query aktivitas berupa kalimat lengkap atau frase sederhana dalam video tersebut. Permasalahan ini seringkali diselesaikan dengan model DETR (Detection Transformer) dan hanya segelintir yang menggunakan LLM generatif. Penggunaan LLM untuk menyelesaikan masalah ini biasanya memodelkan masalah sebagai masalah sequence to sequence atau causal language modelling. Pemodelan ini berusaha memprediksi luaran timestamp sesuai dengan input video dan query yang diberikan, misalnya [[0,42],[60,84]]. Sementara itu, pada dunia segmentasi gambar, LLM mulai digunakan sebagai segmentator dan dilatih agar memberikan luaran yang dapat diubah menjadi segmentation mask. Namun, pada model moment retrieval dengan video LLM, tidak ada penggunaan LLM sebagai segmentator seperti ini. Maka dari itu, pada tugas akhir ini, dicoba pemodelan masalah ini sebagai masalah segmentasi dan digunakan arsitektur video LLM BLIP 3. Video LLM ini dilatih menggunakan region loss dan pixel loss bersama denganlosscausallanguagemodelling selamapelatihan. Ditunjukkan bahwa loss gabungan ini dapat dioptimasi menggunakan optimizer AdamW. Pada dataset QVHighlights, dicapai skoryangmampumelebihiskorbaselinepadabenchmark QVHighlights. Skor ini dicapai dengan durasi pelatihan dan jumlah frame input yang jauh lebih sedikit dari metode LLM lainnya, hanya 25 frame dan 11 epoch. Model moment retrieval dengan LLM lainnya, meskipun memiliki skor lebih besar, memerlukan pelatihan yang jauh lebih lama, misalnya dengan jumlah frame 60 dan jumlah epoch 50 pada model Mr. BLIP.

2025
👤 Penulis: I Putu Andika Bagas Jiwanta
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Segmentasi Video 🏷️ Retrieval Momen

DESAIN LAYOUT DAN PEKERJAAN PENGERUKAN ALUR PELAYARAN DAN KOLAM PELABUHAN PATIMBAN TAHAP 1 FASE 2

Pelabuhan Patimban, Subang, merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dirancang untuk mendukung sistem logistik Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan pada Pelabuhan Tanjung Priok. Pada Tahap 1 Fase 2, pelabuhan ini ditargetkan mampu menampung arus peti kemas hingga 3,3 juta TEUs dan kendaraan hingga 291 ribu CBU. Dengan draft kapal maksimal 14 meter. Untuk mencapai target tersebut, diperlukan pekerjaan pengerukan alur pelayaran, kolam tambat, dan kolam putar agar dapat melayani kapal-kapal berukuran besar. Dari hasil perancangan diperoleh kemiringan dasar laut sebesar 5° dari garis horizontal. Alur pelayaran direncanakan dengan kedalaman 15,5 meter dan lebar 260 meter. Terdapat enam kolam tambat dengan dimensi yang berbeda-beda sesuai kebutuhan masing-masing dermaga, serta tiga kolam putar yang terdiri atas dua kolam berdiameter 584 meter dan satu kolam berdiameter 414 meter.Dengan perhitungan volume menggunakan metode cross section, diperoleh total volume pengerukan sebesar 23.365.167 m³. Material hasil kerukan dimanfaatkan untuk area reklamasi sebesar 5.742.000 m³, sedangkan sisanya dialokasikan ke area pembuangan lepas pantai. Pekerjaan pengerukan dilaksanakan oleh tiga unit kapal grab dredger untuk kebutuhan reklamasi, yaitu Grab Dredger Harita 88, Grab Dredger Queen Elizabeth II, dan Grab Dredger King Kong, serta dua unit kapal TSHD untuk kebutuhan capital dredging, yaitu TSHD Waterway dan TSHD Brabo. Pekerjaan pengerukan ini memiliki durasi total 632 hari dan memerlukan estimasi biaya sebesar Rp1.409.871.863.732 atau setara dengan Rp60.430,76/m³.

2025
👤 Penulis: Farhan Dwiputranto Fadli
🏷️ Desain Arsitektur Pelabuhan 🏷️ Pekerjaan Pengerukan 🏷️ Reklamasi Dan Pengelolaan Limbah

ANALYSIS OF TAILING RESUSPENSION DUE TO HYPOTHETICAL TSUNAMI IN SOUTHERN INDIAN OCEAN OFF SUMBAWA ISLAND

Deep-Sea Tailing Placement (DSTP) merupakan metode rekayasa untuk pembuangan limbah tambang yang menawarkan keunggulan operasional dan lingkungan. Namun, stabilitas jangka panjangnya masih belum pasti di wilayah yang terpapar bahaya tsunami. Kajian ini menyelidiki potensi resuspensi material tailing akibat gelombang tsunami di Samudera Hindia Selatan lepas pantai Pulau Sumbawa, sebuah kawasan yang dicirikan oleh aktivitas seismik tinggi karena kedekatannya dengan Busur Sunda. Simulasi numerik dikembangkan menggunakan software MIKE, yang menggabungkan data batimetri, pasang surut, gelombang, arus laut, parameter seismik, data salinitas dan suhu, serta karakteristik endapan tailing. Validasi model terhadap observasi dari stasiun pasang surut, stasiun gelombang, dan ADCP menunjukkan akurasi yang memuaskan, dengan error sebesar 2,29% untuk simulasi pasang surut dan 11,40% untuk simulasi gelombang. Sebaliknya, simulasi kecepatan arus menunjukkan disparitas yang lebih besar, dengan error terkecil sebesar 23,78%. Skenario tsunami yang didasarkan pada gempa berkekuatan 8,3 SR pada kedalaman hiposenter 25 km menghasilkan tinggi gelombang awal sebesar 5,43 m. Propagasi tsunami dianalisis sepanjang dua transek. Transek pertama membentang dari sumber gempa ke arah Teluk Cempi, sementara transek kedua melintasi endapan tailing menuju garis pantai di daerah tanjung. Sepanjang Transek 1, elevasi tsunami tertinggi tercatat di titik P11 pada ketinggian 10,31 m, yang terletak 550 m dari garis pantai. Sepanjang Transek 2, elevasi tertinggi adalah 2,71 m di titik T9, yang berada 2 km dari lepas pantai. Hasil simulasi menunjukkan bahwa tidak terjadi resuspensi tailing akibat tsunami. Hasil ini dapat diatribusikan pada tinggi tsunami yang relatif kecil yang diamati di atas endapan tailing, jika dibandingkan dengan yang terjadi di dalam Teluk Cempi. Profil laju arus mendukung temuan ini: pada titik T8, yang terletak pada kedalaman 800 m, di lokasi penempatan tailing terdekat dengan garis pantai, kecepatan arus maksimum hanya 0,164 m/s, yang tidak cukup untuk memulai resuspensi sedimen tailing.

2025
👤 Penulis: Felix
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

KESTABILAN ROLLOVER FORKLIFT OTONOM: PEMODELAN MULTI-INPUT DAN KENDALI OPTIMAL

Rollover merupakan mode kegagalan kritis pada forklift, terutama saat bermanuver dengan variasi kecepatan dan beban. Tesis ini mengusulkan Sistem Regulasi Kestabilan Roll untuk forklift otonom berbasis pemodelan multi-input dengan dua masukan: sudut kemudi ? dan torsi penggerak Tm. Fokus utama adalah penyusunan model dinamika kendaraan terintegrasi yang memadukan dinamika lateral, yaw, roll, dan kecepatan longitudinal Vx. Model nonlinier diturunkan dari persamaan gerak dengan pendekatan ban linier (sudut kecil), memasukkan efek geometri (lf , lr, HR) serta aerodinamika dan resistansi gelinding pada arah longitudinal. Model kemudian diekspresikan dalam bentuk state-space dan dilinierkan di sekitar titik kerja untuk keperluan perancangan kontrol. Sebagai indeks keselamatan, Load Transfer Ratio (LTR) digunakan semata- mata sebagai keluaran yang diamati. Pengendali yang diterapkan adalah LQR berbasis umpan-balik keadaan penuh (full-state feedback) untuk state stabilization; LTR tidak dikontrol secara langsung, melainkan dipantau melalui matriks keluaran. Evaluasi melalui sejumlah skenario beban menunjukkan bahwa pengendali menurunkan puncak LTR pada berbagai kondisi operasi. Kontribusi utama karya ini meliputi: (i) model state-space terunifikasi yang secara eksplisit mengaitkan kopling longitudinal–lateral–yaw–roll pada forklift, (ii) alur kerja linearization-to-control yang sistematis untuk implementasi di Simulink, dan (iii) strategi LQR dengan pemantauan LTR yang kompatibel dengan aktuasi ? dan Tm.

2025
👤 Penulis: Lidya Gita Ronauly
🏷️ Kontrol Autopenggerak 🏷️ Model Dinamika Kendaraan 🏷️ Optimalisasi Keamanan

UJI RUN-UP GELOMBANG PADA MODEL FISIK BREAKWATER DENGAN ARMOR PENTACONE TIPE ACAK

Perlindungan pantai menggunakan breakwater sangat bergantung pada efektivitas lapisan pelindung (armor) dalam meredam energi gelombang. Penelitian ini bertujuan untuk menguji tinggi run-up gelombang pada breakwater dengan armor Pentacone tipe acak, menganalisis hubungannya dengan bilangan Iribarren (?), membandingkan kinerjanya dengan Tetrapod, serta mengekstrapolasi penerapannya pada kondisi prototipe. Pengujian dilakukan menggunakan model fisik dua dimensi di wave flume Laboratorium Teknik Kelautan ITB dengan skala 1:25. Data elevasi muka air diperoleh dari wave probe dan dianalisis dengan metode zero-upcrossing. Hasil menunjukkan bahwa run-up pada model sebesar 0,03–0,11 m atau setara dengan 0,7–2,6 m pada prototipe. Tinggi gelombang model 0,05–0,12 m setara dengan 1,2–2,9 m pada prototipe, dengan perioda 0,8–1,5 s yang bertransformasi menjadi 4–7,5 s. Nilai Iribarren maksimum mencapai ? ? 5, dengan grafik Ru/H terhadap ? memperlihatkan bahwa Tetrapod lebih efektif dalam mereduksi run-up dibandingkan Pentacone. Semakin besar tinggi gelombang (H), nilai Iribarren cenderung menurun dan run-up Pentacone lebih besar dibandingkan Tetrapod. Sebaliknya, pada gelombang kecil (? tinggi), perbedaan run-up keduanya semakin mengecil hingga menunjukkan kinerja yang relatif serupa. Meskipun menghasilkan run-up relatif tinggi, Pentacone masih berpotensi menjadi alternatif armor, khususnya pada kondisi desain yang menekankan stabilitas. Penelitian lebih lanjut diperlukan dengan memperluas variasi bilangan Iribarren, menguji konfigurasi yang lebih berongga atau sistem interkoneksi, serta mencakup analisis overtopping dan uji tiga dimensi agar efektivitasnya dapat dinilai secara lebih menyeluruh.

2025
👤 Penulis: Romadlona Erfida Al Jamroni
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

DETEKSI KECURANGAN UJIAN BERBASIS KAMERA PONSEL DENGAN INFERENSI AI DALAM PERANGKAT

Pada era pendidikan digital saat ini, hadirnya ujian daring menggunakan ponsel membawa tantangan baru dalam menjaga integritas ujian. Deteksi kecurangan ujian berbasis kamera ponsel dengan inferensi kecerdasan buatan (AI) dalam perangkat diusulkan digunakan pada pengawasan ujian untuk mencegah kecurangan sehingga integritas ujian dapat terjaga. Dengan penggunaan kamera, visi komputer (computer vision) menjadi implementasi AI yang paling mudah untuk dipahami dalam mendeteksi kecurangan ujian. Kemudian, inferensi AI dalam perangkat memungkinkan data sensitif diproses secara lokal, mengurangi risiko privasi dan keamanan data. Tantangan keterbatasan perangkat keras perangkat ponsel untuk melakukan inferensi AI dalam perangkat dan keragaman pada perangkat keras perangkat ponsel menjadi pertimbangan penting dalam mendesain aplikasi deteksi kecurangan ujian. Untuk itu, kerangka kerja lintas platform (cross-platform framework) digunakan untuk menyediakan pengalaman pengguna yang konsisten di seluruh sistem operasi (OS) dengan satu basis kode. Dengan menggunakan metode Design Research Methodology (DRM), penelitian ini berfokus pada pengembangan deteksi kecurangan ujian berbasis kamera ponsel dengan inferensi kecerdasan buatan dalam perangkat. Analisis visual digunakan untuk mendeteksi kecurangan menggunakan teknik deteksi pemalsuan wajah (face antispoofing) dan pelacakan tatapan mata (eye tracking). Deteksi pemalsuan wajah menggunakan MiniFASNet, sedangkan pelacakan tatapan mata menggunakan face landmark untuk estimasi tatapan mata (eye gaze). Hasil penelitian menunjukan bahwa sistem yang diajukan memiliki kemudahan penggunaan dengan kinerja deteksi kecurangan yang cukup baik.

2025
👤 Penulis: Rahmat
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Pendidikan Digital 🏷️ Integritas Ujian
Halaman 279 dari 6754
💬