📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

ASSESSING THE POTENTIAL UTILIZATION OF POI DATA FOR ZONE FORMULATION IN DETAILED SPATIAL PLAN: A CASE STUDY IN PEKANBARU, INDONESIA

This study explores the use of Point of Interest (POI) data as a planning support tool within the Detailed Spatial Plan (DSP) framework. While POI data has been widely used in urban research, its integration into regulatory zoning remains limited. Using a case study in Pekanbaru, Indonesia, POI-based zones were developed from Google Maps data and assessed for reliability, spatial distribution, and planning relevance. Functional classification was conducted using the Category-to-Ratio (CR) Index and Simpson Index. To address data sparsity and capture complex spatial patterns, Graph Attention Networks (GAT) were applied to generate synthetic POI embeddings and simulate activity scenarios across different urban contexts. Validation included manual POI checks and assessment of zoning outcomes through green area comparison, alignment with regional plans, and usability via the Analytic Hierarchy Process (AHP), focusing on efficiency, legality, availability, and reliability. Findings demonstrate the value of POI-based zoning for highlighting urban structure and diversity, especially in early planning stages. The model offers a spatially grounded, transferable approach aligned with Planning Support Science, bridging data-driven tools with institutional processes.

2025
👤 Penulis: Zahra Witsqa Maghfira
🏷️ Geografi Urban 🏷️ Analisis Kualitatif-Quantitatif 🏷️ Kecerdasan Buatan

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETERLIBATAN MEREK PELANGGAN DI INSTAGRAM PADA GENERASI Z DAN MILENIAL DI INDUSTRI PAKAIAN OLAHRAGA DAN FASHION INDONESIA

Instagram merupakan salah satu platform media sosial yang paling banyak digunakan oleh Gen Z dan Millennials. Platform ini digunakan oleh merek untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan audiens mereka, namun dalam konteks industri fashion-sportswear, faktor yang mempengaruhi keterlibatan pelanggan terhadap konten merek masih belum jelas. Studi ini bertujuan untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen (Gen Z dan Millennials) untuk berinteraksi dengan konten merek di Instagram. Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif, melibatkan 202 responden berusia 17 hingga 35 tahun yang tinggal di Jabodetabek dan Bandung. Data dikumpulkan melalui kuesioner online yang didistribusikan melalui platform media sosial dan dianalisis menggunakan Regresi Linier Berganda (MLR) di SPSS. Hasil menunjukkan bahwa baik jenis konten maupun jenis media secara signifikan mempengaruhi Customer Brand Engagement (CBE), dengan interaktivitas muncul sebagai sub-variabel yang paling berpengaruh. Meskipun kejelasan juga menunjukkan signifikansi statistik, dampaknya terhadap keterlibatan paling lemah. Dalam dimensi jenis konten, konten remuneratif secara konsisten menunjukkan tingkat signifikansi tertinggi di seluruh model, sedangkan konten hiburan memiliki pengaruh yang lebih kuat secara keseluruhan terhadap CBE, menyoroti efektivitasnya dalam menarik perhatian pengguna dan mendorong interaksi. Penelitian ini berkontribusi pada literatur akademik dengan memperluas penerapan kerangka kerja Cvijikj & Michahelles (2013) dalam konteks Instagram untuk industri fashion-sportswear, serta memberikan wawasan praktis bagi bisnis, terutama dalam industri sportswear tahap awal, dalam merancang strategi konten berbasis bukti yang memanfaatkan konten dan faktor media berdampak tinggi untuk memaksimalkan keterlibatan.

2025
👤 Penulis: Nadine Cinta Putri J
🏷️ Instagram 🏷️ Fashion-Sportswear 🏷️ Customer Brand Engagement

STUDI KELAYAKAN UNTUK PERTUMBUHAN BISNIS YANG OPTIMAL PADA BISNIS BARU: STUDI KASUS BACH SPORTSWEAR

Terdapat peluang yang terus berlangsung di pasar pakaian olahraga dan athleisure Indonesia, seiring dengan pertumbuhannya yang berkesinambungan, khususnya bagi pendatang baru yang bertujuan memenuhi kebutuhan Generasi Z dan Milenial akan pakaian athleisure yang lebih dari sekadar fungsional. Laporan ini merupakan studi kelayakan komprehensif untuk BACH Sportswear, sebuah perusahaan baru yang bertujuan mengisi celah pasar ini dengan menawarkan pakaian olahraga modern yang menampilkan desain tradisional Indonesia. Fokus penelitian ini adalah untuk menentukan kelayakan bisnis melalui penilaian perencanaan strategis, kelayakan finansial, dan proyeksi finansial. Penilaian dilakukan berdasarkan data survei primer dan laporan industri sekunder. Berdasarkan analisis yang dilakukan, bisnis ini layak dengan rencana strategis yang dibentuk di atas empat pilar utama: penyempurnaan desain produk, integrasi cerita budaya Indonesia ke dalam pemasaran, penerapan struktur penetapan harga berjenjang, dan peningkatan operasional bisnis yang lebih formal. Strategi- strategi ini didukung oleh data finansial yang kuat, termasuk Net Present Value (NPV) positif sebesar Rp 275.033.305, Internal Rate of Return (IRR) 20%, Profitability Index (PI) sebesar 1,98, dan discounted payback period yang cepat selama 7,56 bulan. Lebih lanjut, perkiraan finansial menunjukkan pertumbuhan dan profitabilitas yang stabil di tahun-tahun awal perusahaan. Studi ini menyimpulkan bahwa BACH Sportswear merupakan usaha yang layak dan menjanjikan, yang menawarkan roadmap strategis yang jelas untuk dieksekusi oleh manajemen sambil menyoroti area fokus penting untuk memitigasi risiko dan mencapai pertumbuhan jangka panjang. Kata

2025
👤 Penulis: Muhammad Nauval Al Jopany Bey
🏷️ Bisnis Baru 🏷️ Pertumbuhan Bisnis 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STUDI KUALITATIF BERBASIS DESIGN THINKING TENTANG BUSANA LUAR KONVERTIBEL: DARI KESESUAIAN MASALAH–SOLUSI (PSF) KE KESESUAIAN PRODUK–PASAR (PMF) DI PASAR PEREMPUAN URBAN INDONESIA

Industri outerwear di Indonesia, khususnya pada segmen urban, menghadapi peningkatan permintaan terhadap produk yang mengintegrasikan fungsionalitas, adaptabilitas, dan gaya. Namun, banyak usaha rintisan di bidang fesyen yang mengalami kesulitan menjembatani kesenjangan antara identifikasi kebutuhan pasar dengan penyediaan produk yang benar-benar memenuhinya, sehingga adopsi pasar menjadi terbatas dan pertumbuhan terhambat. Penelitian ini mengkaji Chute Up, sebuah startup berbasis di Bandung yang mengkhususkan diri pada jaket tahan air konvertibel 3-in-1, melalui lensa Problem–Solution Fit (PSF) sebagai tahap dasar menuju Product–Market Fit (PMF). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang berlandaskan kerangka kerja Design Thinking, penelitian ini mengintegrasikan data dari dua tahap: wawancara mendalam (in-depth interviews / IDI) pada tahap Empathise untuk menangkap kebutuhan dan masalah pengguna, serta evaluasi prototipe ketiga pada tahap Prototype & Test dalam kondisi penggunaan nyata. Data dianalisis melalui open coding, axial coding, dan selective coding, serta ditriangulasi dengan masukan ahli dan analisis konteks pasar untuk mengidentifikasi kekuatan produk yang telah tervalidasi sekaligus area yang memerlukan perbaikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Chute Up telah mencapai PSF, dengan fitur multifungsi, kemampuan beradaptasi terhadap cuaca, dan penyimpanan terintegrasi yang divalidasi sebagai atribut bernilai tinggi bagi perempuan urban di Indonesia. Pengguna secara khusus mengapresiasi kemampuan produk ini dalam mengurangi kompleksitas perencanaan pakaian dan beradaptasi dengan berbagai skenario mobilitas. Namun, ditemukan pula sejumlah celah kegunaan, termasuk tingkat kejelasan mekanisme perubahan mode, kenyamanan serta distribusi berat pada mode tas, dan ketidaksempurnaan kecil pada perangkat keras dan penyelesaian akhir seperti kelancaran resleting dan penyegelan jahitan. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan penyempurnaan berbasis bukti seperti mekanisme transformasi yang lebih jelas, penyesuaian ergonomis, dan peningkatan ketahanan terhadap air untuk memperkuat peluang adopsi dan posisi kompetitif. Studi ini selaras dengan Customer Development Model dari Blank (2013) dan prinsip iterative prototyping dari Brown v (2009) serta Plattner dkk. (2010), yang menunjukkan bahwa umpan balik pengguna secara berkelanjutan dapat dioperasionalkan untuk mengurangi risiko inovasi. Secara strategis, Chute Up berada pada ceruk pasar dengan potensi keunggulan first-mover di industri outerwear konvertibel Indonesia, selama keunggulan eksekusi dan iterasi yang disiplin dapat dipertahankan.

2025
👤 Penulis: Syafina Putri Dinanti
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGARUH PENERAPAN SLURRY ALUMINIZING TERHADAP PERILAKU OKSIDASI TEMPERATUR TINGGI PADUAN ENTROPI TINGGI AL0,75COCRFENI PADA TEMPERATUR 1200°C

Peningkatan temperatur serta penggunaan material yang mampu tahan pada proses bertemperatur tinggi merupakan tuntutan pengembangan sistem yang efisien bagi aplikasi mesin panas ataupun proses-proses terkait pemanfaatan energi. Paduan entropi tinggi, salah satunya Al0,75CoCrFeNi, selama dua dekade terakhir banyak diteliti sebagai material alternatif baik diperuntukkan sebagai komponen ataupun lapisan protektif pada aplikasi temperatur tinggi. Terlepas dari kestabilan dan ketahanan oksidasi paduan ini, pada aplikasinya paduan ini akan tetap mengalami degradasi signifikan akibat oksidasi apabila diaplikasikan pada temperatur yang semakin tinggi. Oleh sebab itu, pengaplikasian lapisan protektif dinilai dapat meningkatkan ketahanan oksidasi serta memperluas potensi pengaplikasian paduan entropi tinggi Al0,75CoCrFeNi pada aplikasi temperatur tinggi. Penelitian ini ditujukan untuk mempelajari potensi dan penerapan slurry aluminization pada paduan entropi tinggi Al0,75CoCrFeNi dan pengaruhnya terhadap perilaku oksidasi paduan ini pada temperatur 1200°C. Penelitian dilakukan dalam tiga tahap: sintesis paduan, penerapan slurry aluminization, dan pengujian oksidasi isotermal pada temperatur 1200°C. Percobaan dimulai dengan peleburan paduan Al0.75CoCrFeNi menggunakan tanur busur listrik dalam kondisi inert yang dilanjutkan dengan homogenisasi pada temperatur 1100°C selama 10 jam. Selanjutnya, paduan hasil lebur dalam bentuk button dipotong terlebih dahulu membentuk coupon dengan menggunakan wire electric discharge machine. Pada tahap kedua, dilakukan diffusion coating aluminium dengan metode slurry deposition pada sampel coupon menggunakan kuas dengan variasi temperatur aluminizing 900°C maupun 1000°C selama 2, 3,5, dan 6 jam. Terakhir, sampel yang sudah terlapisi selanjutnya dimasukkan ke dalam tanur horizontal dan dilakukan pengujian oksidasi isotermal pada temperatur 1200°C dengan variasi waktu 5, 12, dan 30 jam pada atmosfer ruang. Setelah pengujian, dilakukan perhitungan perubahan berat sampel lalu karakterisasi sampel as-homogenized, as-coated, dan as-oxidized menggunakan OM, XRD, dan SEM- EDS. Karakterisasi menunjukkan bahwa Al0,75CoCrFeNi memiliki struktur mikro yang terdiri dari fasa A1-FCC kaya unsur Fe-Cr dan fasa B2-BCC kaya unsur Ni-Al yang membentuk struktur windmanstatten atau lamellar. Proses aluminide coating dengan menggunakan metode slurry aluminization berhasil menghasilkan lapisan aluminide dua lapis untuk variasi langkah aluminizing pada temperatur 900°C berupa diffusion zone (DZ) dengan konsentrasi Al lebih dari 65 at% dan interdiffusion zone (IDZ) dengan konsentrasi Al dibawah 50 at% sedangkan untuk variasi aluminizing pada temperatur 1000°C dihasilkan lapisan aluminide tunggal dengan konsentasi Al berkisar 43-50 at%. Secara umum lapisan aluminide yang terbentuk didominasi oleh fasa intermetalik NiAl dan Ni3Al. Berdasarkan karakterisasi yang dilakukan, dapat diketahui bahwa peningkatan waktu aluminizing secara keseluruhan meningkatan tebal lapisan aluminide dan memengaruhi partisi unsur-unsur dalam lapisan. Berdasarkan tinjauan kinetika diketahui proses slurry aluminization mengikuti hukum laju parabolik dengan konstanta pembentukan lapisan aluminide (Kp) untuk variasi aluminizing temperatur 900°C senilai 0,327 ?m2/detik sedangkan untuk variasi aluminizing temperatur 1000°C senilai 0,288 ?m2/detik. Hasil pengujian menunjukkan pelapisan aluminide pada paduan Al0,75CoCrFeNi dapat meningkatkan ketahanan oksidasi paduan melalui pembentukan oksida ?-Al2O3 serta tinjauan kinetika yang menunjukkan oksidasi aluminide coated Al0,75CoCrFeNi pada temperatur 1200°C mengikuti hukum laju parabolik dengan konstanta pertumbuhan oksida (kp) senilai 10 x 10-6 mg2.cm-4.detik-1 untuk paduan hasil slurry aluminization variasi aluminizing temperatur 900°C selama 2 jam dan senilai 20 x 10-6 mg2.cm-4.detik-1 untuk paduan dari variasi aluminizing temperatur 1000°C.

2025
👤 Penulis: Yedija Adelbert Purba
🏷️ Alumunium 🏷️ Paduan Entropi Tinggi Al0,75Cocrfeni 🏷️ Oksidasi Isotermal

ANALISIS PENGARUH NITRAT DAN FOSFAT TERHADAP PRODUKTIVITASIKAN BUDIDAYA BERDASARKAN DATA TIME SERIES (STUDI KASUS:WADUK SAGULING, CIRATA DAN JATILUHUR)

Penelitian mengenai analisis pengaruh kandungan nitrat dan fosfat terhadap produktivitas ikan budidaya berdasarkan data time series telah dilakukan di Waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dan membandingkan nitrat dan fosfat di Waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur serta pengaruhnya terhadap produktivitas ikan serta tingkat penerimaan pembudidaya ikan. Metode yang digunakan dalam penenlitian ini adalah survey dan analisis secara statistik. Analisis statistik untuk membandingkan konsentrasi nitrat dan fosfat di ketiga waduk menggunakan analisis Anova satu arah dan Uji T independen. Sementara untuk melihat berbagai pengaruh yang terjadi digunakan analisis regresi sederhana maupun berganda dengan uji asumsi klasik. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa ketiga waduk menghasilkan rata-rata konsentrasi nitrat yang berbeda-beda (p < 0,05), namun tidak terdapat perbedaan yang bermakna untuk rata-rata konsentrasi fosfat di Waduk Saguling dengan Waduk Cirata. Nitrat dan fosfat secara bersama-sama di ketiga waduk tidak berpengaruh terhadap produktivitas ikan (p > 0,05). Selain itu nitrat & fosfat dengan produktivitas ikan di ketiga waduk memiliki hubungan yang lemah (R < 0,5) serta hanya sebagian kecil saja produktivitas ikan yang dapat dijelaskan oleh nitrat dan fosfat secara bersama-sama. Hasil analisis statistic juga menunjukkan bahwa produktivitas ikan di ketiga waduk berpengaruh terhadap tingkat penerimaan pembudidaya ikan.

2025
👤 Penulis: Azis Pusakantara
🏷️ Analisis Nutrisi Air 🏷️ Kontrol Kualitas Air Waduk 🏷️ Produktivitas Budidaya Ikan

PEMANFAATAN PISTIA STRATIOTES DAN LEMNA MINOR DALAMMENURUNKAN KADAR LOGAM CU DAN ZN PADA KEGIATAN JARING APUNGDI WADUK CIRATA

Waduk Cirata merupakan sentra budidaya ikan air tawar di Jawa Barat dengan menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA). Ikan hasil budidaya tersebut mengandung logam Cu dan Zn yang telah melewati baku mutu. Hal ini harus dihindari karena dapat membahayakan kesehatan manusia apabila dikonsumsi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tanaman Pistia stratiotes dan Lemna minor dalam menurunkan konsentrasi Cu dan Zn pada air Waduk Cirata dan ikan nila (Oreochromis niloticus) yang dibudidayakan di Waduk Cirata. Penelitian dilaksanakan di KJA Waduk Cirata yang dimiliki oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT), Sukabumi. Sampel air, ikan dan tanaman diambil dari jaring kecil yang diletakkan di KJA sebanyak 4 kali, setiap 3 minggu dalam kurun waktu 9 minggu. Pistia stratiotes paling efektif menurunkan Cu dan Zn di air pada minggu 3 dengan rata-rata nilai persentase penurunan sebesar 69,7% untuk Cu dan 77,05% untuk Zn. Lemna minor paling efektif menurunkan Cu dan Zn pada minggu 3 dengan rata-rata nilai persentase penurunan sebesar 33,35% untuk Cu dan 11,25% untuk Zn. Penurunan konsentrasi Cu dan Zn di ikan paling besar terjadi pada minggu 3 dengan rata-rata nilai persentase penurunan sebesar 60,4% untuk Cu dan 67,2% untuk Zn. Keberadaan tanaman menurunkan faktor bioakumulasi Cu dan Zn di ikan,.

2025
👤 Penulis: Indah Kartika Sari Lubis
🏷️ Pestiria Stratitotes 🏷️ Lemna Minor 🏷️ Bioakumulasi Logam

AKUMULASI DAN DEPURASI TEMBAGA (CU) DAN SENG (ZN) PADA IKAN MAS (CYPRINUS CARPIO L) HASIL BUDIDAYA JARING APUNG WADUK CIRATA DAN KOLAM AIR DERAS

Kontaminasi tembaga (Cu) dan seng (Zn) di sungai-sungai DAS Citarum sebagai sumber air bagi Waduk Cirata dan kolam air deras karena limbah domestik, industri, dan pertanian telah meningkatkan resiko terjadinya akumulasi Cu dan Zn pada ikan budidaya. Tujuan penelitian ini untuk dapat mengetahui potensi bioakumulasi tembaga (Cu) dan seng (Zn) pada ikan mas (Cyprinus carpio L.) yang dibudidayakan di Waduk Cirata (WC) dan kolam air deras (KAD), selain itu juga ingin diketahui efektivitas proses depurasi sebagai usaha untuk meningkatkan mutu ikan budidaya. Sampel air dan ikan diperoleh dari Waduk Cirata dan kolam air deras dengan frekuensi pengambilan sampel sebanyak 4 kali dalam kurun waktu 9 minggu dengan selang antar pengambilan 3 minggu. Sampel ikan pada pengambilan terakhir ditempatkan di laboratorium untuk percobaan depurasi. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa pada tahap akumulasi, rata-rata konsentrasi Cu dan Zn di Waduk Cirata sebesar 0,0093 mg/L dan 0,073 mg/L sedangkan rata-rata konsentrasi Cu dan Zn di kolam air deras, yaitu sebesar 0,0065 mg/L dan 0,037 mg/L. Analisa statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaaan konsentrasi Cu dan Zn yang signifikan pada kedua lokasi tersebut. Konsentrasi Cu di ikan memiliki perbedaan yang signifikan antara WC dengan KAD, dengan rata-rata konsentrasi sebesar 4,35 mg/kg (WC) dan 3,41 mg/kg (KAD), sedangkan konsentrasi Zn di ikan tidak berbeda secara signifikan pada kedua lokasi tersebut, dengan rata-rata konsentrasi sebesar 276,14 mg/kg (WC) dan 294,45 mg/kg (KAD). Pada tahap depurasi, konsentrasi Cu dan Zn di air akuarium depurasi dengan ikan yang berasal dari Cirata tidak berbeda signifikan dengan kolam air deras, dengan rata-rata konsentrasi Cu di air sebesar 0,017 mg/L (WC); 0,0205 mg/L (KAD) dan rata-rata konsentrasi Zn di air sebesar 0,256 mg/L (WC) dan 0,352 mg/L (KAD). Sedangkan konsentrasi Cu dan Zn di ikan pada tahap depurasi memiliki perbedaan yang signifikan diantara kedua lokasi tersebut, rata-rata konsentrasi Cu dan Zn di akuarium depurasi Cirata, yaitu 5,64 mg/kg dan 471,54 mg/kg, selain itu rata-rata konsentrasi Cu dan Zn di akuarium depurasi KAD, yaitu 3,88 mg/kg dan 347,22 mg/kg. Urutan konsentrasi Cu dan Zn dari yang terbesar hingga yang terkecil pada tahap akumulasi di kedua lokasi tersebut, yaitu hati, insang, otot, dan sisik. Sedangkan pada tahap depurasi urutan konsentrasi Cu di organ ikan pada kedua lokasi tersebut, yaitu: hati > insang > otot > sisik; sedangkan untuk Zn, yaitu: hati > insang > otot > sisik (WC); insang > hati > sisik > otot (KAD).

2025
👤 Penulis: Nopi Stiyati Prihatini
🏷️ Bioakumulasi 🏷️ Depurasi Air 🏷️ Hidrologi

DEPURASI KANDUNGAN LOGAM BERAT PADA IKAN NILA (OREOCHROMIS NILOTICUS) YANG TERPAPAR DARI PERAIRAN UMUM WADUK CIRATA, JAWA BARAT DENGAN PERLAKUAN NA2 EDTA DAN CHLORELLA SP

Ikan dan produk perikanan merupakan komoditas perdagangan yang prospektif. Waduk Cirata adalah waduk yang potensial menghasilkan produksi perikanan melalui budidaya di keramba jaring apung (KJA). Namun budidaya ini menghadapi permasalahan lingkungan dari pencemaran logam berat yang telah banyak terdapat di perairan dan terakumulasi dalam ikan (Kompas, 22 Maret 2010 dan BBPBAT Sukabumi, 2009). Untuk itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pola pemaparan logam berat pada ikan di KJA dan mengetahui efektifitas depurasi melalui perlakuan chelating agent Na2EDTA, Chlorella sp dan kombinasi keduanya. Tahap pertama penelitian ini adalah pemaparan ikan nila (Oreochromis niloticus) secara alami di Waduk Cirata selama 7 bulan dan tahap kedua adalah perlakuan depurasi setiap hari dengan variasi 2 taraf Na2EDTA (N1 12,5 mg/L dan N2 25 mg/L); 2 taraf Chlorella sp (C1:kepadatan 105 dan C2:106 ); serta perlakuan kombinasi 2 faktorial Na2EDTA dan Chlorella sp pada masing-masing taraf. Hasil pemaparan logam Zn memberikan nilai rataan faktor bioakumulasi 335,13 dengan akumulasi Zn pada ginjal>hati>insang>otot, sedangkan logam Cu memberikan rataan faktor bioakumulasi 457,58 dengan akumulasi Cu hati> ginjal > insang > otot. Hasil depurasi Zn pada perlakuan tunggal menunjukkan kemampuannya menurunkan konsentrasi Zn pada ikan sebesar 51% (N2) dengan kemampuan mengkelat N2>N1>C2>C1 sedangkan pada perlakuan kombinasi, dengan efek interaksi yang berpengaruh nyata, mampu menurunkan konsentrasi Zn sebesar 50% (N1C2) dengan kemampuan mengkelat N2C2>N2C1>N1C2>N1C1. Hasil depurasi Cu pada perlakuan tunggal mampu menurunkan konsentrasi Cu sebesar 83% (N1) dengan N1>N2>C1>C2 sedangkan pada perlakuan kombinasi menunjukkan efek Na2EDTA yang berpengaruh nyata mampu menurunkan konsentrasi Cu sebesar 95% (N1C1) dengan N1C1>N1C2>N2C2>N2C1. Perlakuan zat pengkelat yang paling efektif untuk mendepurasi kedua logam Zn dan Cu adalah perlakuan N2 ( tunggal) dan N2C2 (perlakuan kombinasi).

2025
👤 Penulis: Tri Wahyuni
🏷️ Depurasi Kandungan Logam Berat 🏷️ Budidaya Ikan Di Waduk 🏷️ Chelating Agent Na2Edta

MANAGING DEMURRAGE USING FMEA (FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS) – A CASE STUDY OF COAL MINING CORPORATION IN INDONESIA

PT CMC (Coal Mining Corporation) merupakan perusahaan pertambangan batubara di Indonesia yang berperan dalam memenuhi kebutuhan energi domestik dan ekspor. Saat ini, jadwal bongkar muat kapal mengalami tumpang tindih akibat jadwal kapal yang terlalu panjang sehingga meningkatkan biaya demurrage. Kapal yang datang sering menumpuk dan menyebabkan antrean serta keterlambatan proses bongkar muat. Situasi ini tidak hanya berdampak langsung pada biaya demurrage tetapi juga mengurangi efisiensi operasional pelabuhan dan meningkatkan risiko operasional. Untuk mengatasi tantangan bisnis tersebut, tujuan dari penelitian ini antara lain mengidentifikasi risiko operasional dan mengusulkan strategi perbaikan yang efektif untuk mengurangi demurrage. Kerangka kerja penelitian ini menggunakan gap analysis dengan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk mengurangi demurrage. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer menggunakan kuesioner yang dikembangkan berdasarkan FMEA untuk mengukur tingkat keparahan, kejadian, dan deteksi. Kuesioner diberikan kepada 15 responden yang terdiri dari tiga tim distribusi, tujuh tim dermaga Palembang, dan lima tim penanganan transportasi. Data sekunder menggunakan data historis operasional selama tiga tahun dari tahun 2022 sampai 2024. Metode analisis data menggunakan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dan Root Cause Analysis (RCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis akar penyebab dengan menggunakan 5 why root cause analysis, terdapat 25 akar penyebab permasalahan. Berdasarkan RPN (risk priority number), urutan atau prioritas risiko yang dapat dikendalikan adalah sebagai berikut: (1) Menunggu tongkang kargo (tongkang kargo belum tersedia), (2) Kapal datang bersamaan (overlapping time arrival), (3) Floating crane tidak tersedia karena belum selesai melayani kapal sebelumnya, (4) Antrean karena prioritas pemuatan untuk kapal domestik, (5) Target loading rate tidak tercapai. Rekomendasi yang diajukan meliputi: memprioritaskan area berdampak tinggi dengan segera berfokus pada penanganan isu-isu yang paling mendesak, yaitu alokasi sumber daya tongkang, implementasi sistematis, mendorong kolaborasi lintas fungsi antara tim distribusi, tim dermaga Palembang, dan tim penanganan transportasi untuk memastikan implementasi yang terintegrasi dan efektif, serta strategi bertahap dalam implementasi jangka pendek, menengah, panjang, dan pemantauan kinerja berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Dian purnamasari
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PENGARUH PENAMBAHAN GETAH DAMAR SEBAGAI COUPLING AGENT TERHADAP SIFAT MEKANIK BIOKOMPOSIT POLYLACTIC ACID (PLA) BERPENGUAT SERAT RAMI.

Meningkatnya kesadaran lingkungan dan menipisnya sumber daya fosil saat ini mengakibatkan penelitian material komposit berbasis bio (biokomposit) semakin berkembang, salah satunya yaitu biokomposit Polylactic Acid (PLA) berpenguat serat rami. Namun, perbedaan sifat antara PLA yang cenderung hidrofobik dan serat rami yang hidrofilik akan menyebabkan kekuatan antarmuka yang kurang baik. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan penggunaan coupling agent. Pada penelitian ini, getah damar akan digunakan sebagai coupling agent pada biokomposit PLA berpenguat serat rami. Getah damar berpotensi sebagai coupling agent karena memiliki gugus aktif yang bersifat hidrofilik dan juga hidrofobik. Penambahan getah damar dilakukan dengan variasi fraksi massa 0 %, 10%, 20%, 30%, dan 40% terhadap matriks PLA pada biokomposit berpenguat serat rami. Pengujian tarik dan karakterisasi mikrostruktur hasil perpatahan dilakukan untuk melihat sifat mekanik dan kekuatan adhesi antarmuka yang dihasilkan. Nilai kekuatan tarik biokomposit tanpa getah damar didapatkan sebesar 42,86 MPa sedangkan kekuatan tarik biokomposit fraksi massa 10% getah damar lebih rendah, yaitu sebesar 37,51 MPa. Namun, ketika kekuatan tarik hasil uji dibandingkan dengan nilai rule of mixture, biokomposit dengan fraksi massa getah damar 10% memiliki selisih terkecil yaitu sebesar 0,4 MPa sedangkan tanpa penambahan getah damar sebesar 14,59 MPa. Semakin kecil selisih antara hasil uji dengan nilai ROM tersebut menandakan bahwa ikatan antarmuka semakin baik. Hal ini juga didukung dengan hasil mikrostruktur perpatahan dimana tanpa penambahan getah damar terdapat gap antara serat dan matriksnya sedangkan dengan penambahan fraksi massa getah damar 10% tidak terdapat gap antara serat dan matriksnya.

2025
👤 Penulis: Ugroseno Sejati
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

KARAKTERISASI AUSTENIT SISA PADA BAJA PERKAKAS BOHLER K110

Keberadaan karbon 1,55%wt sebagai unsur penstabil austenit pada baja perkakas Böhler K110 (karbon 1,55wt%) dapat menurunkan temperatur martensite finish hingga - 125?, sehingga akan meningkatkan fraksi volume austenit sisa yang mungkin terbentuk. Pada penelitian ini, dilakukan proses quenching dari 1080? menggunakan media oli lalu dilanjut tempering dengan variasi temperatur pada 150?, 300?, dan 450? selama 2 jam sebagai upaya pengurangan fraksi volume austenit sisa yang terbentuk saat quenching. Fasafasa yang terbentuk pada sampel hasil proses quenching dan tempering dikarakterisasi dengan metalografi kuantitatif dan difraksi sinar-X (XRD). Metode yang digunakan pada metalografi kuantitatif adalah manual point count dan area fraction calculation dengan aplikasi ImageJ. Harga kekerasan makro sampel diukur dengan alat uji keras Rockwell C sedangkan kekerasan fasa-fasa yang terbentuk diukur dengan alat uji keras Mikrovickers HV0,05. Hasil penelitian menunjukkan metode paling efektif dalam menghitung fraksi volume austenit sisa setelah quenching-tempering adalah dengan kombinasi metalografi kuantitatif dan XRD. Metalografi kuantitatif dengan area fraction calculation menggunakan aplikasi ImageJ dapat dipilih sebagai alternatif manual point count. Selain itu, untuk mendapatkan mikrostruktur dengan kandungan austenit sisa yang rendah, disimpulkan bahwa proses tempering sebaiknya dilakukan pada temperatur 450°C.

2025
👤 Penulis: Gina Levina Syarif
🏷️ Baja Perkakas 🏷️ Austenit Sisa 🏷️ Metalografi Kuantitatif

KAUSALITAS CQ TERHADAP KINERJA KERJA, KETAHANAN DIRI, DAN PENGEMBANGAN KOMPETENSI DIRI PADA EKSPATRIAT DI QATAR

Meningkatnya globalisasi di tempat kerja telah menyebabkan peningkatan penugasan ekspatriat, khususnya di wilayah dengan keragaman budaya seperti Timur Tengah, khususnya Qatar. Ekspatriat sering mengalami guncangan budaya karena sifat peran mereka yang mengharuskan perjalanan jauh dan interaksi di lingkungan dengan bahasa, peraturan, dan norma budaya yang berbeda. Kecerdasan Budaya (CQ) telah muncul sebagai kompetensi penting, yang memungkinkan ekspatriat untuk menangani dan menghadapi perbedaan budaya secara efektif. CQ mengacu pada kemampuan individu untuk bekerja dalam berbagai konteks budaya, termasuk lingkungan kerja dan sosial. Meskipun memiliki peran penting, CQ sering kali diabaikan oleh individu dan organisasi, terutama pada tahap penyesuaian awal. Ekspatriat Indonesia menghadapi beberapa tantangan bisnis yang meliputi persaingan ketat dari ekspatriat lain, ketidakcocokan budaya, dan terbatasnya peluang untuk pengembangan karier. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara CQ, sebagai variabel independen dan hasil profesional utama di kalangan ekspatriat dengan fokus pada kinerja kerja, ketahanan diri, dan pengembangan kompetensi diri sebagai variabel dependen. Pendekatan penelitian kuantitatif dilakukan dengan mengumpulkan data dari 100 ekspatriat melalui kuesioner yang dirancang untuk mengukur empat dimensi pengaruh CQ terhadap hasil. Analisis data dilakukan menggunakan SmartPLS dan Microsoft Excel. Wawancara mendalam dengan tiga orang perwakilan ekspatriat Indonesia dengan pengalaman lebih dari 5 tahun dilakukan secara kualitatif. Hasil analisis menunjukkan adanya korelasi positif yang kuat dan pengaruh antara CQ dengan variabel dependennya, hasil tersebut juga digunakan untuk mengidentifikasi kesenjangan seperti faktor pendukung dan kelemahan. Hasil akhir menekankan perlunya rencana pelaksanaan proyek dengan menyesuaikan program pelatihan pra-keberangkatan dan pasca-keberangkatan yang dirancang melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga, dan sektor swasta mengikuti model Triple-Helix.

2025
👤 Penulis: Rahma Kamila Ahmad
🏷️ Kecerdasan Budaya 🏷️ Manajemen Karir Ekspatriat 🏷️ Hidrologi Bisnis

Industri perhotelan dan pariwisata semakin menjadi sektor strategis dalam upaya diversifikasi ekonomi, khususnya bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berupaya mengoptimalkan pemanfaatan aset tidak produktif. PT Bukit Asam Tbk (PTBA), sebagai perusahaan tambang batu bara terkemuka di Indonesia, tengah mengkaji potensi pengembangan hotel bintang 4 di atas lahan menganggur miliknya yang berlokasi di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kelayakan proyek yang diusulkan dari berbagai dimensi, yaitu permintaan pasar, kesiapan teknis, kelayakan finansial, serta profil risiko investasi. Analisis diawali dengan identifikasi terhadap aspek legalitas, status kepemilikan lahan, dan ketentuan tata ruang berdasarkan Peraturan Bupati Muara Enim Nomor 1 Tahun 2023. Selanjutnya, dilakukan kajian pasar untuk memahami dinamika permintaan di kawasan Tanjung Enim yang didominasi oleh stakeholder yang terkait dengan aktivitas operasional PTBA. Analisis kelayakan finansial dilakukan menggunakan pendekatan capital budgeting melalui indikator utama seperti Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period. Hasil analisis menunjukkan bahwa proyek menghasilkan NPV sebesar Rp17,29 miliar, IRR sebesar 14,80%, dan periode pengembalian investasi selama 8,88 tahun, yang mencerminkan tingkat profitabilitas yang memberikan prospek sangat baik. Untuk menilai ketahanan proyek terhadap ketidakpastian, dilakukan analisis sensitivitas dan simulasi Monte Carlo. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel harga kamar, tingkat hunian, dan volatilitas suku bunga memiliki pengaruh paling signifikan terhadap kinerja finansial proyek. Selanjutnya, dilakukan penilaian risiko yang mengklasifikasikan tingkat urgensi risiko dan merumuskan strategi mitigasi seperti penerapan harga dinamis, peningkatan efisiensi operasional, serta optimalisasi strategi pemasaran untuk menjaga tingkat hunian. Secara keseluruhan, hasil kajian menunjukkan bahwa pembangunan hotel bintang 4 di Tanjung Enim layak untuk direalisasikan dan sejalan dengan strategi jangka panjang PTBA dalam melakukan diversifikasi usaha di luar sektor batu bara serta mendukung pertumbuhan ekonomi regional.

2025
👤 Penulis: Hudan Asharyanto
🏷️ Perhotelan 🏷️ Analisis Kelayakan Investasi 🏷️ Diversifikasi Usaha Bumn

PENGARUH VARIASI KONSENTRASI ION SR2+ PADA KEKUATAN MEKANIK DAN SIFAT OSTEOKONDUKTIF BIOMATERIAL BIFASIK KALSIUM FOSFAT

Bifasik kalsium fosfat (BCP) merupakan biomaterial yang tersusun dari campuran fasa hidroksiapatit (HA) dan ?-trikalsium fosfat (?-TCP). BCP memiliki sifat biokompatibel dan osteokonduktif, sehingga berpotensi sebagai material regeneratif tulang dan jaringan keras. Biokompatibilitas dan osteokonduktivitas BCP dapat ditingkatkan dengan melakukan substitusi kation pada struktur HA atau ?-TCP. Adapun beberapa jenis kation yang digunakan sebagai substituen diantaranya adalah Mg2+, Sr2+, Ag+, Zn2+, Ba2+, Fe2+, Ti4+, dan lain-lain. Kation-kation tersebut akan menggantikan ion Ca2+ pada struktur HA atau ?-TCP. Substitusi dilakukan dengan metode reaksi pengendapan bersama (ko-presipitasi) dan impregnasi. Umumnya, ion Sr2+ ditambahkan pada fasa HA dengan rentang 0,5 hingga 30% mol terhadap ion Ca2+. Namun, tidak banyak yang melaporkan jumlah ion Sr2+ yang dapat menggantikan ion Ca2+ pada HA atau ?-TCP. Pada penelitian ini telah dilakukan preparasi BCP dengan menggunakan campuran ?-TCP dan HA yang telah disubstitusi oleh kation Sr2+ dan Ag+. HA dan ?-TCP masing-masing disintesis dengan metode pengendapan bersama dari reaksi antara Ca(NO3).4H2O dan (NH4)2HPO4 dengan rasio molar Ca/P 1,67 untuk HA dan 1,5 untuk ?-TCP. Sintesis HA tersubstitusi dilakukan dengan variasi konsentrasi ion Sr2+ sebanyak 5, 10, dan 15% terhadap mol ion Ca2+. Selain substitusi ion Sr2+, dilakukan substitusi ion Ag+ dengan penambahan sebanyak 2% mol terhadap ion Ca2+. Substitusi dilakukan dengan metode pengendapan bersama. Preparasi BCP dari campuran HA tersubstitusi dan ?-TCP (3:2) dilakukan dengan metode pencampuran fisik dan di-sintering pada 800 oC. Masing-masing produk diberi label BCP-0, BCP-1, BCP-2, dan BCP-3. Hasil refinement difraktogram sinar-X menunjukkan BCP-1, BCP-2, dan BCP-3 berturut-turut memiliki kandungan ion Sr2+ sebesar 3,16; 5,64; dan 6,02% terhadap mol ion Ca2+. Kadar ini lebih kecil dari jumlah ion Sr2+ yang ditambahkan saat reaksi pengendapan berlangsung. Penambahan ion Sr2+ menyebabkan peningkatan parameter kisi pada sumbu a pada fasa HA dan ?-TCP untuk ketiga sampel. Peningkatan parameter kisi pada sumbu a terjadi seiring meningkatnya kandungan Sr2+ dalam BCP. Selain itu, pengaruh penambahan ion Sr2+juga diamati pada perubahan komposisi HA dan ?-TCP untuk sampel BCP-0, BCP-1, dan BCP-2. Hasil uji tekan menunjukkan adanya penurunan kekuatan tekan sampel BCP yang mengandung ion Sr2+ (BCP-1, BCP-2, dan BCP-3). Kekuatan tekan masing-masing sampel BCP-0, BCP-1, BCP-2, dan BCP-3 berturut-turut sebesar 1,94; 1,41; 1,47; 0,98 MPa. Analisis morfologi dengan SEM menunjukkan sampel BCP-1 dan BCP-2 memiliki morfologi yang teraglomerasi dibandingkan BCP-0 dan BCP-3. Studi osteokonduktifivitas BCP dilakukan dengan menggunakan larutan simulated body fluid (SBF). Studi tersebut mengevaluasi pembentukan lapisan apatit pada permukaan sampel yang divisualisasikan dengan SEM. Dari keempat sampel BCP, hanya dua sampel BCP yang menunjukkan pembentukan lapisan apatit pada permukaan sampel, yaitu sampel BCP-1 dan BCP-2. Hasil spektrum EDS menunjukkan adanya perubahan rasio Ca/P yang menunjukkan osteokonduktivitas sampel BCP-1 dan BCP-2.

2025
👤 Penulis: Sabila Bermawi
🏷️ Kalsium Fosfat 🏷️ Substitusi Ion Kation Pada Biomaterial 🏷️ Analisis Osteokonduktif
Halaman 319 dari 6754
💬