📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

OPTIMISASI TERINTEGRASI KEBIJAKAN INVENTORI, PEMILIHAN MODA BUNKERING, PENJADWALAN DERMAGA, DAN BUNKER VESSEL ROUTING DI BAWAH PERMINTAAN INTERMITTENT

Operasi pengisian bahan bakar kapal (bunkering) menyumbang porsi besar pada biaya operasional pelayaran, sehingga kegagalan pasokan, keterlambatan layanan, maupun stok berlebih berdampak langsung pada total biaya logistik maritim. Penelitian ini mengkaji operasi bunkering Low Sulphur Fuel Oil 180 (LSFO 180) Perusahaan X di Pelabuhan Tanjung Priok, sebuah sistem dengan pola permintaan intermittent dan waktu antar-kedatangan yang tidak terdistribusi merata. Permasalahan dirumuskan sebagai Maritime Inventory Routing Problem (MIRP) yang secara simultan menetapkan kebijakan persediaan tangki darat, pemilihan moda bunkering Port-to-Ship (PTS) atau Ship-to-Ship (STS), alokasi dermaga, dan penjadwalan rute Bunker Vessel. Dua kebijakan persediaan dievaluasi melalui dua model Mixed Integer Linear Programming (MILP) yaitu Model (s,S) dengan tinjauan kontinu (s,S) dan Model (R,S) dengan tinjauan periodik (R,S), masing-masing memuat 39 kelompok kendala. Penyelesaian dilakukan dengan matheuristik hybrid MILP-ALNS yang mendekomposisi subproblem routing ke Adaptive Large Neighborhood Search dan subproblem persediaan ke MILP, dilengkapi validasi solusi diukur melalui optimality gap terhadap solusi optimal MILP serta parameterisasi algoritma melalui orthogonal array Taguchi L27. Model diuji pada 30 instance terstratifikasi ke kategori permintaan High, Normal, dan Low dengan horizon 120 hari. Pada horizon 120 hari, hybrid MILP-ALNS memperbaiki solusi warmstart Model (s,S) rata-rata 30,28% (Low), 87,10% (Normal), dan 86,68% (High), dengan fill rate 100% tercapai pada 28 dari 30 instance dan waktu komputasi 1,6 – 145,4 detik, dibandingkan MILP murni yang mencapai 4.611 detik tanpa memenuhi target gap. Model (s,S) menghasilkan biaya total lebih rendah pada kategori Low dan Normal, sedangkan Model (R,S) lebih cepat secara komputasi dan kompetitif pada horizon pendek. Kebijakan (s,S) dengan pendekatan hybrid direkomendasikan untuk horizon perencanaan ? 60 hari dengan pola permintaan intermittent, sementara (R,S) tetap relevan untuk horizon pendek yang membutuhkan prediktabilitas jadwal pemesanan.

2026
👤 Penulis: Whendy Margareta
🏷️ Optimisasi Persediaan Dan Operasi Bunkering 🏷️ Maritime Inventory Routing Problem (Mirp)

PENINGKATAN STABILITAS GEL CINCAU HIJAU (PREMNA OBLONGIFOLIA) MELALUI PENAMBAHAN KAPPA KARAGENAN, KONJAK GLUKOMANAN, DAN KALSIUM KLORIDA UNTUK PRODUKSI SKALA INDUSTRI

Green grass jelly is a food product made from the leaf extract of Premna oblongifolia, which is rich in pectin. However, its industrial-scale utilization is still constrained by low gel stability, characterized by a high degree of syneresis and weak texture (hardness), which hinders product quality consistency during storage. This study was conducted in two phases. The first phase evaluated the effects of leaf drying pretreatment (55°C, 24 hours) and variations in extraction temperature (65°C, 70°C, 75°C, 80°C, and 85°C) on the hardness, cohesiveness, and syneresis of the gel over 14 days of storage, in order to determine the best control condition. The second phase evaluated the effects of adding kappa-carrageenan, Konjac Glucomannan (KGM), and calcium chloride (CaCl?) at a total concentration of 1.0% (w/w) using a Mixture Design approach on the same three parameters, in order to obtain an optimal stabilizer formulation. The results showed that an extraction temperature of 85°C without drying pretreatment (85F) produced the best syneresis stability among all treatment combinations in the first phase, and was therefore selected as the control for the second phase. Based on the Mixture Design optimization, the best composition for producing a grass jelly gel with optimal stability was a combination of 25.28% kappa-carrageenan, 52.53% KGM, and 22.19% CaCl?. This formulation successfully reduced the syneresis value from 26.42% in the control to 20.05% (a reduction of approximately 24%), with a cohesiveness value of 0.9144, which was relatively equivalent to the control (a difference of less than 2%). However, the hardness value obtained was 54.78 g, slightly lower (by approximately 12%) than the control value of 62.3 g. Therefore, the combination of kappa-carrageenan, KGM, and CaCl? at this proportion is recommended as the optimal formulation for improving the storage stability of green grass jelly gel, although improvement in hardness still requires further research.

2026
👤 Penulis: Rafif Ramdhany Harahap
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

TRANSFORMASI ELEMEN-ELEMEN FASAD UTAMA RUMAH KALANG DI PULAU JAWA DAN BALI PADA PERIODE ABAD 17 HINGGA AWAL ABAD 20

Penelitian ini berfokus pada transformasi elemen-elemen fasad utama rumah Kalang di Pulau Jawa dan Bali sejak abad ke-17 hingga awal abad ke-20, dengan fasad utama sebagai unit analisis yang merepresentasikan pengetahuan membangun masyarakat Kalang. Transformasi fasad utama membuka ruang kajian kritis mengenai kontinuitas dan diskontinuitas elemen arsitektural dalam lintasan sejarah. Konsep transformasi dipahami sebagai proses perubahan yang berlangsung melalui interaksi antara dinamika internal dan eksternal dari faktor pembentuknya. Fasad utama, sebagai elemen arsitektur yang berada di antara ranah privat dan publik, tidak hanya berfungsi sebagai batas fisik, tetapi juga sebagai medium komunikasi arsitektural yang dapat mengartikulasikan identitas sosial, ideologi, dan pemikiran pada setiap zaman, sekaligus merefleksikan strategi adaptasi masyarakat vernakuler dalam merespons perubahan budaya dan lingkungan. Masyarakat Kalang sebagai pembangun rumah Kalang, merupakan sub-etnis di pulau Jawa dan Bali yang dikenal memiliki keahlian dalam bidang perkayuan, pembangunan, serta niaga. Meski di beberapa wilayah masyarakat Kalang dipandang sebagai kelompok marginal, jejak eksistensinya dapat ditelusuri sejak abad ke-9 Masehi melalui prasasti yang mencatat peran mereka berkaitan dengan bangunan. Salah satu bukti tertua adalah Inskripsi Kuburan Candi yang berangka tahun 753 Saka (831 M) dan Prasasti Papringan yang berangka tahun 804 Saka (882 M), yang menyebut pejabat pedesaan (wanua) yang berpangkat “Kalang” sebagai orang yang berkewajiban memimpin masyarakat setempat dalam urusan bangunan. Pada akhir abad ke-19 M, keahlian dan pengetahuan membangun mereka dikodifikasikan ke dalam Serat Kawruh Kalang, sebuah manuskrip yang digunakan sebagai panduan membangun rumah tradisional Jawa, yang kini tersimpan di Keraton Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran, serta di Museum Radya Pustaka, Surakarta. Pada masa pemerintahan kolonial di Pulau Jawa, masyarakat Kalang berperan sebagai pengelola hutan serta pemasok bahan baku berupa kayu, sebagaimana tercatat dalam Plakaatboek yang dituliskan oleh pemerintah Hindia-Belanda. Peran ini memperlihatkan keterhubungan mereka dengan sistem ekonomi kolonial sekaligus memperkuat posisi mereka sebagai penyedia material konstruksi. Dalam rentang waktu yang panjang, karakteristik arsitektur rumah Kalang terus bertransformasi. Sebagai masyarakat vernakuler, mereka menunjukkan pola kehidupan yang berhubungan dengan keterpencilan, memiliki adat istiadat yang berorientasi kepada alam, pemanfaatan sumber daya alam, serta kemampuan mengoptimalisasi keterampilan dan pengetahuan membangun dalam beradaptasi melewati berbagai zaman. Keahlian kelompok Kalang tidak hanya berkaitan dengan konstruksi fisik, tetapi juga sebagai bagian dari sistem tatanan sosial dan budaya yang mengatur keberlangsungan masyarakat Kalang secara organik. Jejak kesejarahan ini teridentifikasi melalui arsitektur rumah Kalang yang masih bertahan sejak abad ke?17 hingga awal abad ke?20. Disertasi ini bertujuan untuk: (1) memetakan jejak daerah persebaran permukiman masyarakat Kalang di Jawa dan Bali; (2) mengidentifikasi bangunan serta ragam elemen, material, dan ornamentasi fasad utama rumah Kalang; dan (3) mengungkap pola transformasi fasad utama serta faktor dominan yang memengaruhi karakteristiknya lintas waktu dan tempat. Kajian ini dirancang untuk mengisi kesenjangan pengetahuan mengenai spektrum jejak persebaran masyarakat Kalang, data empirik berkaitan dengan arsitektur Kalang, serta transformasi fasad utama hunian mereka, yang hingga kini belum menjadi fokus kajian arsitektur tersendiri. Metode penelitian bersifat kualitatif dengan mengintegrasikan strategi naratif dan pendekatan historis. Fasad utama dijadikan objek formal untuk menelusuri pola transformasi, sementara rumah Kalang dijadikan objek material. Data dikumpulkan melalui triangulasi: studi literatur (artikel ilmiah, naskah akademik, laporan arkeologis, manuskrip), observasi lapangan dilakukan dengan metode kasus bertujuan (purposive cases), serta wawancara mendalam (in-depth interview) dengan keturunan masyarakat Kalang dan ahli terkait. Hal ini sesuai dengan strategi naratif-historis, bukti penelitian yang dikumpulkan berupa bukti determinatif (arsip), kontekstual dan rekolektif (wawancara), serta inferensial (observasi lapangan). Data yang telah dihimpun kemudian dianalisis menggunakan pendekatan diakronik dan sinkronik dengan menggunakan triangulasi metode, yaitu metode pemetaan, metode kodifikasi, dan metode linimasa. Bentuk analisis berupa analisis per-kasus (within case) serta antar-kasus (cross-cases). Hasil analisis berupa: (1) pemetaan jejak daerah persebaran permukiman masyarakat Kalang di Pulau Jawa dan Bali; (2) kodifikasi elemen-elemen arsitektur pada fasad utama rumah Kalang di Pulau Jawa dan Bali; dan (3) linimasa transformasi elemen-elemen fasad utama. Temuan penelitian mengungkap bahwa fasad utama rumah Kalang mempertahankan sejumlah teknik konstruksi tradisional sekaligus mengalami transformasi pada susunan elemen struktural, perubahan material, dan ornamentasi sepanjang periode kajian. Transformasi elemen arsitektur rumah Kalang pada setiap daerah mengartikulasikan dinamika budaya hunian yang berlangsung secara berkesinambungan, sekaligus menunjukkan adanya perubahan kontekstual dalam lintasan waktu. Fasad utama rumah Kalang terbukti menjadi locus penting dalam membaca transformasi pengetahuan membangun: dari representasi tradisi lokal menuju hibridisasi, hingga menjadi medium ekspresi identitas sosial dan budaya. Hasil penelitian Disertasi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada kajian arsitektur vernakuler di Nusantara dengan menempatkan fasad utama rumah Kalang sebagai artefak pengetahuan yang hidup. Hasil penelitian diharapkan dapat membuka ruang dialog mengenai peran masyarakat Kalang sebagai kelompok vernakuler yang berkontribusi dalam pembangunan dan perkembangan arsitektur tradisional, serta memperkaya diskursus dekolonisasi arsitektur dengan menyoroti transformasi fasad sebagai medium komunikasi budaya.

2026
👤 Penulis: Nicolaus Aji Kusuma Rah Utama
🏷️ Arsitektur Vernakuler 🏷️ Perubahan Budaya 🏷️ Masyarakat Kalang

PERANCANGAN SISTEM PASCAPANEN PEPAYA CALIFORNIA (CARICA PAPAYA L. VAR. CALINA) SKALA INDUSTRI MENENGAH DENGAN INOVASI RIPENING MENGGUNAKAN GAS ETILEN DAN CAHAYA LIGHT EMITTING DIODE (LED) MERAH UNTUK MENINGKATKAN KESERAGAMAN KEMATANGAN

Pepaya (Carica papaya L.) merupakan komoditas buah tropis Indonesia dengan produksi nasional mencapai 12.813.072,37 kuintal pada tahun 2025. Salah satu varietas pepaya yang banyak dibudidaya dan dikonsumsi masyarakat Indonesia adalah pepaya calina (Carica papaya L. var calina) atau sering disebut sebagai pepaya california. Komoditas ini bernilai ekonomi tinggi karena kandungan vitamin C, karotenoid, dan enzim papain yang tinggi, serta masa panen awal 7-9 bulan setelah tanam. Tantangan utama dalam pascapanen pepaya california adalah ketidakseragaman kematangan (uneven ripening) yang ditandai belang warna dan pelunakan tidak merata, sehingga menurunkan daya tarik visual dan harga jual pada segmen pasar premium. Permasalahan ini mendorong perancangan sistem pascapanen dengan inovasi berupa proses ripening menggunakan gas etilen dan cahaya LED merah pada Pressurized Ripening Room (PRR) untuk menghasilkan pepaya matang secara seragam. Gas etilen meningkatkan laju respirasi, aktivitas enzim pendegradasi dinding sel, konversi pati menjadi gula sederhana, dan perubahan warna kulit buah. Penyinaran LED merah mengaktifkan dan meningkatkan biosintesis karotenoid sehingga mempercepat dan menyeragamkan perubahan warna hijau menjadi warna kuning atau jingga pada kulit pepaya. Pemilihan inovasi berdasarkan pada analisis komparatif Gross Profit Margin (GPM) terhadap 3 alternatif proses pematangan (ripening). Proses ripening alur eksisting dilakukan setelah proses pengemasan dan secara konvensional (tanpa kontrol distribusi gas etilen dan suhu) menghasilkan warna dan tingkat kematangan yang tidak seragam sehingga menurunkan harga jual. Pascapanen pepaya pada kondisi eksisting menghasilkan GPM sebesar 13,14%. Proses ripening alur inovasi I dilakukan sebelum proses pengemasan serta menggunakan gas etilen dan LED merah tanpa Pressurized Ripening Room (PRR). Inovasi I dapat meningkatkan GPM menjadi 21,31%, namun kematangan antar buah masih belum seragam karena proses ripening dilakukan secara konvensional sehingga distribusi etilen dan suhu tidak merata di setiap bagian buah. Proses ripening alur inovasi II menggunakan gas etilen dan LED merah dalam PRR, kemudian dilanjutkan proses grading II berbasis warna. Buah disusun di atas rak di dalam PRR sebelum proses pengemasan sehingga seluruh permukaan buah terpapar gas etilen, suhu, dan cahaya secara merata melalui sistem sirkulasi udara bertekanan positif. Inovasi II dapat menghasilkan GPM tertinggi sebesar 36,85%. Peningkatan ini dicapai karena PRR memastikan distribusi gas etilen dan suhu yang homogen, serta meningkatkan jumlah buah yang masuk ke kualitas premium dengan harga jual lebih tinggi. Berdasarkan hal tersebut, inovasi II dipilih sebagai rancangan industri pascapanen pepaya california. Inovasi II pada perancangan industri ini juga menerapkan sistem pascapanen iv terintegrasi yang terdiri dari 12 unit operasi dengan menerapkan Good Handling Practices (GHP), Good Manufacturing Practices (GMP), dan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP). Alur produksi dimulai dari unit penerimaan bahan baku pepaya segar sebesar 6.700 kg per hari dari petani mitra, unit sortasi dengan berdasarkan standar panen 120-125 Hari Setelah Antesis (HSA) atau warna 25% kuning, unit pencucian, unit perlakuan air panas (Hot Water Treatment, HWT), dan penirisan. Setelah itu, buah melewati grading I berdasarkan bobot (grade S: 1-1,5 kg dan grade A: 0,8-0,99 kg), unit pematangan Pressurized Ripening Room dengan inovasi gas etilen dan LED merah. Setelah pematangan, buah melewati unit grading II berdasarkan keseragaman warna (grade S1: bobot 1-1,5 kg dengan warna ?75% kuning/jingga, grade A1: bobot 0,8-0,99 kg dengan warna ?75% kuning/jingga, grade S2: bobot 1,0-1,5 kg dengan warna 50-74,99% kuning/jingga, dan grade A2: bobot 0,8-0,99 kg dengan warna 50-74,99% kuning/jingga), unit pelabelan buah, unit pengemasan dalam kardus corrugated fiber board, unit penyimpanan, dan unit distribusi menggunakan mobil truk berpendingin ke supermarket modern dan toko buah premium. Kapasitas produksi pepaya grade S1 sebesar 4.899,96 kg atau 4.083 buah per hari dan grade A1 sebesar 1.633,39 kg atau 1.815 buah per hari sebagai produk premium. Sekitar 10% output pematangan merupakan grade S2 dan A2 yang belum memenuhi standar kualitas keseragaman warna untuk grade S1 dan A1, sehingga dilakukan proses pematangan kembali hingga mencapai kualitas premium. Pepaya california grade S1 disuplai dengan harga dasar Rp21.000 per buah dan grade A1 dijual dengan harga dasar Rp18.000 per buah. Kedua grade tersebut memenuhi persyaratan Extra Class standar internasional Codex Alimentarius (CXS 183-1993) dan Kelas Super SNI 4230-2009. Setiap buah dilengkapi label merek "Calinova Freshindo" dan dikemas dalam kardus corrugated fiber board. Proses produksi dan produk pepaya yang dihasilkan dirancang untuk memenuhi sertifikasi ISO 22000, ISO 45001, GHP, HACCP, BPOM, dan Sertifikat Prima Produk Bahan Pangan (SPPB). Total investasi awal perancangan industri ini sebesar Rp6.368.073,76. Biaya operasional tahunan dari industri ini mencapai Rp33.818.815.591. Total proyeksi pendapatan per tahun sebesar Rp42.076.126.463 dari penjualan grade S1 dan A1, setelah memperhitungkan PPN 11% dan faktor inflasi harga pangan 2,9%. Hasil analisis kelayakan finansial menunjukkan Net Present Value (NPV) positif sebesar Rp7.257.530.270, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 42% yang lebih besar dari cost of capital 5,75%, Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C) sebesar 2,14, dan Payback Period selama 1,98 tahun. Break Even Point unit dan harga grade S1 masing-masing tercapai pada 969.946 kg/tahun dan Rp19.473.537.278/tahun, sedangkan Break Even Point unit dan harga grade A1 masing-masing tercapai pada 431.087 kg/tahun dan Rp8.654.905.457/tahun. Analisis sensitivitas menunjukkan usaha masih layak hingga terjadi kenaikan biaya bahan baku maksimum sebesar 19%, namun dengan penurunan harga jual dan/atau volume produksi maksimum sebesar 5%. Secara keseluruhan, rancangan industri ini memiliki profitabilitas dan ketahanan finansial yang baik dan layak diimplementasikan sebagai industri pascapanen pepaya berskala komersial.

2026
👤 Penulis: Andian Sandi Pamungkas
🏷️ Pascapanen Buah 🏷️ Inovasi Ripening 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

DARI PASAR KAPTIF KE NON-KAPTIF: PEMANFAATAN INTEGRASI VERTIKAL UNTUK EKSPANSI PASAR DI PT. PETRO ENERGY (PERUSAHAAN PERDAGANGAN BAHAN BAKAR)

Penelitian ini bertujuan untuk menjawab tantangan strategis krusial yang dihadapi oleh PT. Petro Energy, sebuah perusahaan perdagangan bahan bakar yang beroperasi melayani pelanggan kaptif (pihak berelasi), sehingga menghadapi risiko eksistensial akibat dari kebergantungan terhadap penerimaan pendapatan dari satu pelanggan, di mana lebih dari 95% penjualan perusahaan berasal dari pelanggan pihak berelasi. Ketergantungan yang panjang ini telah mencapai titik kritis setelah didorong dengan terjadinya integrasi vertikal melalui penggabungan usaha dengan perusahaan jasa manajemen bahan bakar per 1 Januari 2025, sehingga membawa fasilitas penyimpanan bahan bakar berserta infrastruktur terkait ke dalam perusahaan. Langkah strategis ini memberikan PT. Petro Energy kapasitas operasional untuk melayani pelanggan non-kaptif dan diikuti dengan perubahan struktur biaya operasional yang sebelumnya variable menjadi biaya tetap. Meskipun demikian, pada saat yang bersamaan biaya atas kepemilikan menjadi lebih rendah dibandingkan sebelumnya yang menggunakan skema sewa dan biaya pengelolaan dengan PT. Storindo. Perubahan ini juga meningkatkan operating leverage dan meningkatkan sensitivitas perusahaan terhadap fluktuasi volume penjualan. Maka dari itu, ekspansi pasar tidak lagi sekedar peluang untuk pertumbuhan bagi perusahaan, tetapi menjadi kebutuhan yang sangat penting untuk keberlangsungan usaha, mitigasi risiko keuangan, dan keberlanjutan bisnis jangka panjang. Permasalahan utama dalam penilitian ini adalah mengevaluasi kesenjangan antara kondisi PT. Petro Energy saat ini sebagai pemasok untuk pelanggan kaptif dengan aset baru hasil dari integrasi vertikal dengan PT. Storindo dengan visi PT. Petro Energy untuk menjadi pemain kompetitif di pasar terbuka dengan portofolio pelanggan yang terdiversifikasi. Tujuan utama penelitian ini adalah menyusun kerangka strategi yang komprehensif dan aplikatif untuk PT. Petro Energy dalam menjalani proses transformasi secara efektif dan terstruktur. Penelitian ini berupaya menyajikan perspektif yang terintegrasi antara dinamika industry eksternal, kapabilitas perusahaan pada tingkat internal, serta kesiapan dan keselarasan organisasi untuk menuju ke arah strategis yang kohesif. Penilitian ini disusun untuk menjawab empat pertanyaan utama, yaitu: 1) Seberapa menarik pasar non-kaptif bagi PT. Petro Energy beserta kebutuhan, karakteristik, dan tuntutan spesifik dari segmen pasar tersebut? 2) Apa saja peluang dan ancaman pasar eksternal serta kapabilitas internal yang dibutuhkan PT. Petro Energy untuk memasuki dan bersaing seacara efektif di pasar non-kaptif? 3) Strategi apa yang paling optimal bagi PT. Petro Energy untuk ekspansi pasar dari kaptif ke non-kaptif, dengan mempertimbangkan posisi perusahaan, struktur industri, dan potensi pemanfaatan asset yang didapatkan dari integrasi vertikal? 4) Bagaiman sebaiknya PT. Petro Energy mengimplementasikan strategi yang diusulkan agar tercapai keselarasan organisasi, perubahan budaya yang dibutuhkan, dan pertumbuhan yang berkelanjutan bagi perusahaan? Keempat pertanyaan ini bertujuan untuk memastikan bahwa analisis mampu menangkap secara seimbang kondisi eksternal pasar dan internal organisasi yang esensial untuk keberhasilan transformasi yang strategis. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan beberapa metedologi yang mengombinasikan perspektif Industrial Organization dan Resourced-Based View (RBV). Analisis yang digunakan dalam penelitian ini mencakup VRIO dan analisis Value Chain untuk menilai sumber daya serta kapabilitas yang dimiliki perusahaan. PESTEL dan Porter’s Five Forces untuk menilai lingkungan eksternal, struktur industri dan intensitas persaingan. STP dan Marketing Mix untuk merancang strategi go-to-market yang tepat bagi PT. Petro Energy dalam memasuki segmen non-kaptif yang diprioritaskan. Analisis SWOT-TOWS digunakan untuk mensintesis berbagai temuan menjadi opsi strategis dan merumuskan inisiatif yang memanfaatkan kekuatan dan peluang, sekaligus mengatasi kelemahan dan ancaman. McKinsey 7S dan Kotter’s 8-Step Change Model digunakan untuk menilai keselarasan organisasi dan kebutuhan manajemen perubahan, sehingga struktur sistem, gaya kepemimpinan, sumber daya manusia, keterampilan, strategi, dan nilai-nilai bersama sesuai dengan arah strategis baru dan mendukung proses transformasi yang disiplin. Analisis penilitian ini juga didukung oleh analisis rasio keuangan untuk menilai daya saing finansial, efisiensi operasional, serta ketahanan likuiditas. Didukung oleh wawancara mendalam dengan dewan direksi, manajemen, dan pelanggan kaptif untuk memperoleh bukti kualitatif yang melengkapi dan mendukung temuan kuantitatif, serta memperkuat kerangka strategi yang diusulkan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi bisnis yang berlandaskan teori namun tetap praktis bagi PT. Petro Energy, menyediakan tahapan eksekusi dan rencana bisnis yang jelas sehingga dapat diimplementasikan untuk mitigasi risiko konsentrasi pendapatan, meningkatkan pemanfaatan asset setelah integrasi vertikal, dan mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan melalui akuisisi pelanggan non-kaptif. Solusi bisnis yang diusulkan bermaksud untuk menjadi panduan dalam pengambilan keputusan strategis terkait penentuan target segmen non-kaptif, perumusan proposisi nilai, penyusunan pendekatan komersial, serta penguatan kesiapan organisasi, sehingga rencana strategis dapat dihubungkan langsung dengan tindakan yang dapat dieksekusi dan dimonitor. Kontribusi utama dari penelitian ini adalah terciptanya rencana strategis yang holistic dan dapat diimplementasikan, menjembatani teori manajemen strategis dengan praktik nyata perusahaan perdangan bahan bakar yang beropasi dalam pasar kaptif dan mengahadapi krisis setelah integrasi vertikal. Penelitian ini juga diharapkan tidak hanya relevan untuk PT. Petro Energy, namun juga untuk perusahaan lainnya yang ingin bertransformasi dari ketergantungan pada pelanggan kaptif menuju basis pelanggan yang lebih terdiversifikasi serta kompetitif di pasar non-kaptif.

2026
👤 Penulis: Lailly Novila Hakim
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Strategi Bisnis 🏷️ Transformasi Perusahaan

PELUANG PENGEMBANGAN BISNIS STRATEGIS UNTUK EKSPANSI PASAR ENERGY SERVICE COMPANY (ESCO) DI INDONESIA: ANALISIS STRATEGIS UNTUK PT. DDS INDONESIA

Perubahan dalam transisi energi global, tingginya biaya operasional untuk sumber energi, dan peningkatan perhatian terhadap aspek ESG telah secara signifikan memengaruhi cara manajemen energi di sektor manufaktur dan gedung komersial. Seiring dengan berlanjutnya urbanisasi, pembangunan infrastruktur, dan proses industrialisasi di Indonesia, permintaan energi semakin meningkat secara signifikan di sektor manufaktur serta bangunan komersial. Beban biaya energi yang semakin tinggi, dikombinasikan dengan peningkatan regulasi dari pemerintah Indonesia, perhatian dari investor asing, serta tuntutan pelaporan keberlanjutan, mendorong perusahaan untuk secara konsisten mengoptimalkan penggunaan energi mereka dan juga meningkatkan efisiensi operasional. Oleh karena itu, faktor-faktor struktural yang ada saat ini menciptakan suatu lingkungan yang sangat mendukung bagi perkembangan bisnis ESCO di Indonesia. Penelitian ini memiliki tiga tujuan utama: (1) menilai daya tarik sektor ESCO dan efisiensi energi di Indonesia; (2) mengidentifikasi peluang serta tantangan yang memengaruhi kemajuan ESCO; dan (3) menyusun konsep pengembangan bisnis strategis untuk PT DDS Indonesia. DDS Group adalah perusahaan global terkemuka dalam penyediaan produk dan teknologi untuk efisiensi energi. PT DDS Indonesia merupakan entitas yang telah berpengalaman dalam menawarkan berbagai produk dan perangkat efisiensi energi kepada klien di sektor industri serta komersial. Dengan demikian, PT DDS Indonesia memiliki keahlian teknis yang kuat, keterampilan rekayasa yang mumpuni, serta hubungan baik dengan pelanggan untuk menyediakan layanan ESCO yang menyeluruh dan solusi manajemen energi berbasis kinerja di Indonesia. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif yang menggabungkan data dari sumber primer dan sekunder. Kerangka analisis ini mencakup beberapa metode, termasuk ukuran pasar yang dianalisis melalui Total Addressable Market (TAM), Serviceable Available Market (SAM), dan Serviceable Obtainable Market (SOM). Selain itu, analisis PESTEL serta Pendekatan Lima Kekuatan Porter juga diterapkan dalam evaluasi eksternal. Analysis Summary of External Factors (EFAS), Value Chain Analysis, VRIO Framework, Internal Factor Analysis Summary (IFAS), SWOT Analysis, TOWS Matrix, and Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Penelitian menunjukkan bahwa pasar ESCO di Indonesia memiliki daya tarik yang cukup tinggi dan menawarkan peluang pertumbuhan jangka panjang yang substansial. Faktor utama yang mendorong pasar antara lain adalah kenaikan biaya listrik dan adanya regulasi konservasi energi yang mengatur fasilitas dengan konsumsi energi di atas 6000 ton TOE setiap tahunnya untuk menjalankan program konservasi energi. Permintaan pelaporan terkait ESG dan keberlanjutan semakin meningkat, bersamaan dengan adopsi yang lebih luas terhadap teknologi bangunan pintar dan solusi manajemen energi digital. Hasil analisis EFAS menunjukkan skor tertimbang 3,41, yang mencerminkan bahwa lingkungan eksternal cukup mendukung. Di sisi lain, analisis IFAS menghasilkan skor 3,58, menandakan bahwa PT DDS Indonesia memiliki posisi strategis internal yang solid. Posisi ini didukung oleh pengetahuan yang mendalam dalam efisiensi energi, jaringan pelanggan industri dan komersial yang luas, serta unggul dalam teknologi otomasi dan manajemen energi digital. Selain itu, merek kami juga memiliki reputasi yang solid di sektor efisiensi energi Indonesia. Namun, penelitian ini juga menemukan beberapa tantangan yang berasal dari dalam, seperti keterbatasan kemampuan pendanaan ESCO, kurangnya pengalaman dalam menerapkan proyek berbasis Energy Performance Contracting (EPC) di Indonesia, serta ketergantungan pada mitra luar dalam pelaksanaan proyek. skala besar, dan model bisnis yang lebih menekankan pada penyediaan alat serta teknologi ketimbang layanan yang didasarkan pada kinerja. Dengan menganalisis TOWS Matrix, telah dirumuskan delapan alternatif strategi yang kemudian diprioritaskan menggunakan QSPM berdasarkan kesepakatan dari para pemangku kepentingan internal. Strategi yang memiliki prioritas tertinggi adalah SO-1 Target Kepatuhan Regulasi (skor QSPM: 6,76). Strategi ini berfokus pada pemanfaatan keahlian teknis serta hubungan pelanggan yang dimiliki DDS Indonesia untuk menargetkan fasilitas industri yang harus mematuhi regulasi terkait audit energi dan konservasi energi. Strategi prioritas kedua adalah SO-2 ESG Digitalization Platform (skor QSPM: 6,42). Strategi ini bertujuan untuk menciptakan sistem pemantauan energi yang berbasis Internet of Things (IoT), menyediakan solusi pelaporan ESG secara otomatis, serta menawarkan layanan manajemen energi dalam format digital. membangun pendapatan yang konsisten sambil memenuhi tuntutan kepatuhan terhadap keberlanjutan yang semakin mendesak. Strategi tambahan lainnya mencakup ST-2 Audit Energi Pre-emptif dan ST-1 Program Edukasi Keuangan Eksekutif. Kedua inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran di pasar serta memperkuat kepercayaan pelanggan terhadap model bisnis ESCO dalam jangka waktu pendek hingga menengah. Sementara itu, inisiatif yang dirancang untuk jangka menengah hingga panjang, seperti Pembentukan Konsorsium Strategis (WO-1), Pengembangan Unit Bisnis ESCO (WO-2), Kemitraan Pendanaan Hijau Alternatif (WT-1), dan Penataan Ulang Mitra Dekarbonisasi (WT-2) menyediakan rencana pengembangan yang terorganisir untuk memperl. Ulasan mengenai kemampuan ESCO di PT DDS Indonesia. Akhirnya, penelitian ini menghasilkan peta jalan untuk penerapan strategi secara bertahap dalam periode 2027–2032. Peta jalan ini memberikan kerangka kerja yang praktis dan dapat diterapkan bagi PT DDS Indonesia guna memperkuat daya saingnya. serta memanfaatkan kesempatan yang ada di pasar efisiensi energi dan transisi keberlanjutan yang berkembang pesat di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Kurniawan Wijaya
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Efisiensi Energi 🏷️ Strategi Bisnis

EVALUASI STRATEGI KUANTIFIKASI EMISI METANA UNTUK DEKARBONISASI PADA INDUSTRI HULU MINYAK DAN GAS BERDASARKAN KERANGKA OGMP 2.0: ANALISIS PENGAMBILAN KEPUTUSAN DI PT BLUE ENERGI

Metana adalah gas rumah kaca yang sangat kuat dengan potensi pemanasan global lebih dari 80 kali dibandingkan karbon dioksida dalam periode 20 tahun, sehingga mitigasi emisi metana menjadi prioritas utama untuk mencapai dekarbonisasi jangka pendek di industri minyak dan gas bumi. PT Blue Energi, salah satu perusahaan hulu energi terkemuka di Indonesia, menjadi anggota Oil and Gas Methane Partnership (OGMP) 2.0 pada tahun 2025 dan menargetkan pencapaian Gold Standard Level 5, yaitu tingkat pelaporan tertinggi dalam kerangka OGMP 2.0. Untuk mencapai tujuan tersebut, perusahaan harus meningkatkan metodologi kuantifikasi metana dari pelaporan berdasarkan kategori emisi (Level 2) dan sumber emisi generik (Level 3) menuju kuantifikasi sumber emisi spesifik dan pengukuran langsung (Level 4), serta pengukuran tingkat lokasi (site-level measurement) dan rekonsiliasi inventaris (Level 5) sesuai dengan kerangka pelaporan OGMP 2.0. Ketiadaan kerangka pengambilan keputusan yang terstruktur untuk mengevaluasi strategi kuantifikasi emisi metana menjadi tantangan dalam menentukan metodologi maupun teknologi yang paling tepat guna mendukung target dekarbonisasi dan pencapaian Gold Standard OGMP 2.0. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi strategi kuantifikasi emisi metana untuk implementasi Level 4 dan Level 5 serta mengidentifikasi teknik kuantifikasi yang paling sesuai dalam mendukung pengelolaan emisi metana dan pemenuhan persyaratan pelaporan OGMP 2.0. Penelitian menggunakan pendekatan metode kombinasi yang mengintegrasikan analisis situasional kualitatif dan analisis pengambilan keputusan multikriteria secara kuantitatif. Analisis SWOT dan metode Kepner-Tregoe digunakan untuk mengevaluasi kondisi eksisting pengelolaan emisi metana serta mengidentifikasi tantangan utama implementasi. Selanjutnya, metode Analytical Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk mengevaluasi dan memprioritaskan alternatif strategi kuantifikasi pada Level 4 dan Level 5 OGMP 2.0. Data primer diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan kuesioner perbandingan berpasangan (pairwise comparison) yang melibatkan para ahli dari fungsi Corporate HSE/GHG, Facilities Engineering, dan Spesialis Teknologi yang memiliki pengalaman industri yang signifikan. Penilaian individu digabungkan menggunakan metode geometric mean, bobot prioritas dihitung berdasarkan principal eigenvector, dan consistency ratio (CR) dihitung pada setiap matriks untuk memastikan reliabilitas hasil. Panel ahli membuat kerangka keputusan dua tingkat yang selaras dengan tahapan pencapaian tingkat pelaporan tertinggi dalam OGMP 2.0. Pada keputusan Level 4 yang berfokus pada kuantifikasi tingkat sumber emisi (source-level), empat kriteria utama digunakan, yaitu risiko HSE dan operasional (28,1%), efektivitas biaya (25,3%), kemudahan implementasi dan kematangan teknologi (23,9%), serta kinerja kuantifikasi (22,7%). Sementara itu, pada keputusan Level 5 yang berfokus pada pengukuran tingkat lokasi (site-level), ditambahkan satu kriteria tambahan yaitu kesesuaian rekonsiliasi dan kelengkapan sumber emisi, sehingga bobot kriteria menjadi risiko HSE dan operasional (25,4%), efektivitas biaya (21,1%), kemudahan implementasi dan kematangan teknologi (19,8%), kinerja pengukuran (17,7%), serta kesesuaian rekonsiliasi dan kelengkapan sumber emisi (16,0%). Karena metode yang paling sesuai berbeda untuk setiap jenis sumber emisi, alternatif Level 4 dievaluasi secara terpisah untuk emisi fugitive, flare, dan venting. Untuk Level 5, empat strategi independen dibandingkan, yaitu pengamatan satelit, survei pesawat udara, drone atau kendaraan udara tanpa awak, dan Continuous Monitoring System (CMS) atau sensor tetap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa solusi yang paling tepat bersifat spesifik terhadap jenis sumber emisi dan tingkat pelaporan, bukan menggunakan satu metodologi atau teknologi yang seragam untuk seluruh kebutuhan. Pada Level 4, Quantitative Optical Gas Imaging (QOGI) menempati peringkat pertama untuk emisi fugitive (34,7%), simulasi proses menggunakan UniSim untuk emisi flare (35,1%), serta perhitungan teknik (engineering calculation) yang dikombinasikan dengan QOGI untuk emisi venting (40,1%). Untuk keputusan Level 5 pada tingkat lokasi, teknologi drone memperoleh peringkat tertinggi (35,3%), diikuti oleh pengamatan satelit (31,5%), survey pesawat udara (18.7%) dan Continuous Monitoring System atau sensor tetap (14,5%). Hasil tersebut mencerminkan kemampuan drone dalam memperoleh pengukuran fluks metana secara dekat pada tingkat fasilitas yang dapat direkonsiliasi dengan inventaris bottom-up Level 4. Seluruh matriks perbandingan berpasangan memenuhi persyaratan konsistensi (CR < 0,10), dan hasil peringkat tetap stabil berdasarkan analisis sensitivitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi yang komprehensif, spesifik terhadap tingkat pelaporan dan sumber emisi—yaitu QOGI untuk emisi fugitive, simulasi proses untuk flare, serta perhitungan teknik yang dikombinasikan dengan QOGI untuk venting pada Level 4, dan program pengukuran tingkat lokasi berbasis drone pada Level 5 yang didukung oleh kemampuan rekonsiliasi data dan jaminan kualitas data merupakan pendekatan yang layak dan memiliki dasar yang kuat bagi PT Blue Energi untuk mencapai inventaris Level 5 yang telah direkonsiliasi. Peta jalan implementasi bertahap yang diusulkan juga selaras dengan jadwal pelaporan OGMP 2.0 dan target perusahaan untuk menurunkan emisi metana absolut sebesar 37% pada tahun 2030. Dengan menggunakan metode pengambilan keputusan yang transparan dan berbasis penilaian ahli dalam proses pemilihan teknologi, penelitian ini memperkuat aspek tata kelola dalam kinerja ESG perusahaan serta menyediakan kerangka kerja yang dapat direplikasi oleh operator hulu migas lainnya yang ingin menerapkan pelaporan emisi metana berbasis pengukuran dan perhitungan.

2026
👤 Penulis: William Sukyono
🏷️ Metode Kuantifikasi Emisi Metana 🏷️ Oil And Gas Methane Partnership (Ogmp) 2.0 🏷️ Penilaian Teknologi Esg

MENINGKATKAN KUALITAS PENGAMBILAN KEPUTUSAN INVESTASI MELALUI PENILAIAN KUANTITATIF RISIKO PROYEK DI PERUSAHAAN PT CAKRAWALA MINERAL HOLDING

Melakukan investasi pada industri pertambangan memiliki risiko yang tinggi. Proyek-proyek di industry pertambangan membutuhkan modal yang besar dan menghadapi tantangan volatilitas harga komoditas dan kondisi pasar yang tinggi, operasional yang kompleks, dan regulasi yang acap kali mengalami perubahan. Untuk sebuah perusahaan holding dengan banyak anak perusahaan, tantangannya tidak hanya pada kelayakan proyek secara individu. Tantangan yang dihadapi juga mencakup kemampuan untuk menilai dan memutuskan proyek mana yang akan didanai dan proyek mana yang akan ditunda untuk seluruh portofolio perusahaan. Studi ini mengkritisi perhitungan hurdle rate yang digunakan dalam evaluasi proyek, dimana premi risiko sebagai salah satu komponen hurdle rate ditentukan dengan menggunakan asumsi standar berupa prosentase yang sama untuk semua tipe proyek. Metode ini mengabaikan perbedaan karakter risiko dalam setiap proyek yang seharusnya mempertimbangkan beberapa risiko, antara lain, volatilitas pasar dan ekonomi makro, kegagalan teknikal dan finansial, perubahan hukum dan peraturan, dan risiko terkait lainnya. Kegagalan untuk memasukkan risiko-risiko tersebut dalam penilaian dapat mengakibatkan keputusan investasi tidak mencerminkan kelayakan proyek yang sebenarnya. Oleh karena itu, studi ini juga mengajukan kerangka kerja penilaian risiko kuantitatif untuk pengambilan keputusan investasi pada perusahaan holding pertambangan. Kerangka kerja penilaian risiko ini juga harus sejalan dengan prinsip tata kelola perusahaan. Studi ini mengadopsi kerangka kerja yang terinspirasi oleh S&P’s Project Finance Framework Methodology (2014) untuk metodologi penilaian risiko kredit dan proyek, yang disesuaikan untuk sektor pertambangan dalam mengevaluasi dan menguantifikasi risiko proyek. Dengan menggunakan metrik kualitatif dan kuantitatif, S&P framework menawarkan metode yang jelas dan terstruktur untuk mengukur dan mengagregasi risiko terkait. Evaluasi kriteria risiko utama seperti desain dan teknologi, konstruksi, kinerja, pasar, manajemen proyek, pendanaan, dan risiko terkait lainnya, memungkinkan penilaian kualitatif diubah menjadi skor risiko yang terukur dan dapat dibandingkan. Studi ini menggunakan pendekatan mixed methods, di mana temuan kualitatif dikembangkan terlebih dahulu dan kemudian didukung oleh analisis kuantitatif untuk membangun kerangka pengambilan keputusan yang terintegrasi. Pada tahap kualitatif, data diperoleh melalui wawancara mendalam dan Focus Group Discussion dengan para pemangku kepentingan di tingkat holding maupun anak perusahaan. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan framework analysis untuk mengidentifikasi dan menyusun faktor-faktor risiko yang perlu dipertimbangkan dalam proses gate-review. Triangulasi dari berbagai sumber data digunakan untuk memperkuat kredibilitas temuan. Pada tahap kuantitatif, metode Analytic Hierarchy Process (AHP) diterapkan untuk menentukan bobot prioritas dari setiap faktor risiko melalui perbandingan berpasangan, sehingga menghasilkan penilaian risiko proyek yang lebih terstruktur. Selanjutnya, analisis eksperimental dilakukan pada beberapa proyek pengolahan hilir di anak perusahaan holding untuk menguji kesesuaian kerangka tersebut terhadap aturan evaluasi yang berlaku di perusahaan. Hasilnya, penerapan kerangka S&P dapat meningkatkan transparansi dalam proses pengambilan keputusan dan memudahkan manajemen dalam membandingkan tingkat risiko antarproyek. Selain itu, melalui AHP, parameter risiko, sub-kriteria, dan kriteria dalam kerangka S&P dapat diberi bobot berdasarkan tingkat kepentingannya. Proses ini membantu perusahaan memprioritaskan risiko secara lebih objektif dengan tetap mempertimbangkan pengalaman dan pengetahuan profesional para responden. Analisis dilakukan pada dua faktor risiko S&P, yaitu faktor risiko konstruksi dan faktor risiko operasional. Setiap faktor terdiri dari beberapa kriteria risiko, sub-kriteria, dan parameter. Faktor risiko konstruksi dianggap lebih penting daripada faktor risiko operasional. Untuk faktor risiko konstruksi, kriteria risiko desain dan teknologi, yang terdiri dari sub-kriteria variasi biaya desain dan risiko teknologi, dipandang sedikit lebih penting daripada kriteria risiko konstruksi lainnya. Kedua kriteria risiko tersebut akan memengaruhi pemenuhan biaya proyek, jadwal proyek, dan spesifikasi sesuai rencana. Sementara untuk faktor risiko operasional, risiko pasar yang mencakup dua sub-kriteria risiko, yaitu eksposur pasar (harga komoditas yang bergejolak dan kondisi pasar) dan posisi kompetitif dianggap lebih penting dibandingkan risiko kinerja. Kedua sub-kriteria risiko ini memengaruhi stabilitas pendapatan operasional dan dipengaruhi oleh ketergantungan proyek terhadap volatilitas pasar. Bersama dengan risiko yang disebutkan di atas, risiko regulasi atau perizinan dan risiko terkait pendanaan memengaruhi kemungkinan penyelesaian proyek sesuai rencana. Model ini menawarkan pandangan praktis untuk menyeimbangkan portofolio secara keseluruhan dengan mengukur faktor risiko, kriteria, dan sub-kriteria berdasarkan masing-masing parameter risiko terkait, Sebagai kesimpulan, penelitian ini memberikan perbaikan praktis mengenai cara perusahaan membuat keputusan investasi dengan mengadaptasi model risiko S&P ke dalam kerangka kuantitatif yang dirancang untuk perusahaan. Dengan melakukan evaluasi aspek financial dan melakukan penilaian Risiko kuantitatif, pengambilan keputusan investasi menjadi jauh lebih kuat, transparan dan akuntabel. Model ini juga menawarkan cetak biru yang jelas kepada kelompok perusahaan manapun untuk membuat pengukuran risiko yang terstruktur dalam perencanaan investasi perusahaan.

2026
👤 Penulis: Nareswari Dyah Wijayaningrum
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Risiko 🏷️ Pertambangan

MODEL BRANDING SPASIAL-SENSORI-KULTURAL (SSCBM): PENGEMBANGAN MODEL KONSTRUKSI NILAI UNTUK MEREK KECANTIKAN BERBASIS WARISAN BUDAYA

Penelitian ini mengkaji bagaimana branding terintegrasi dapat memengaruhi persepsi nilai di bidang industri kecantikan Indonesia yang sedang berkembang, dengan fokus spesifik pada merek kecantikan berbasis warisan budaya yang ingin bersaing di pasar global. Sektor kecantikan dan kesehatan sedang mengalami peningkatan yang semakin kompetitif, didorong oleh permintaan konsumen akan produk yang tidak hanya memberikan manfaat fungsional tetapi juga menawarkan keterikatan emosional dan simbolis. Di pasar internasional, pembeli kini menilai merek kecantikan berdasarkan otentisitas, narasi, signifikansi budaya, dan keunggulan dalam pengalaman membeli ataupun menggunakan, melebihi efektivitas semata. Transformasi ini mendorong perusahaan-perusahaan kecantikan global untuk berlomba melampaui metode pemasaran tradisional, seperti melakukan strategi branding terintegrasi yang dapat membangun ikatan emosional dan loyalitas yang lebih dalam. Meskipun merek kecantikan Indonesia memiliki efektivitas fungsional yang tinggi, aksesibilitas terhadap sumber daya alam, dan warisan budaya berlimpah, banyak dari merek kecantikan tersebut belum mampu mencapai pengakuan global yang signifikan. Terlepas dari kekayaan warisan budaya Indonesia—yang dapat dimanfaatkan sebagai pembeda otentisitas dalam branding—kekuatan ini seringkali kurang dimanfaatkan dalam strategi merek. Hal ini disebabkan oleh seringnya penggunaan metode pemasaran yang terfragmentasi—mengandalkan kampanye influencer atau iklan tunggal yang gagal menciptakan identitas merek yang kohesif dalam jangka panjang. Akibatnya, konsumen mungkin menerima upaya promosi tanpa sepenuhnya memahami atau mengerti identitas dan makna sesungguhnya dari merek tersebut. Studi ini berpendapat bahwa inti masalah tersebut berasal dari kurangnya model sistematis yang dapat menyelaraskan berbagai elemen merek, khususnya isyarat spasial, sensorik, dan budaya, menjadi pengalaman merek yang terintegrasi. Mengatasi hal tersebut, studi ini mengusulkan dan secara eksploratif memvalidasi Model Branding Spasial-Sensori-Budaya (SSCBM). Model ini dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana integrasi berbagai dimensi dapat bekerja bersama dalam menciptakan persepsi nilai merek lebih kuat dan pengalaman merek yang lebih bermakna. Studi ini meneliti apakah integrasi ketiga dimensi tersebut meningkatkan nilai merek secara lebih efektif daripada pendekatan merek satu dimensi, dan bagaimana konsumen secara emosional dan kognitif memproses pengalaman terintegrasi tersebut. Persepsi nilai diukur melalui lima dimensi nilai, yang meliputi dimensi fungsional, emosional, sosial, otentisitas, dan simbolik. Dengan menggunakan kerangka Design Thinking, penelitian ini memiliki lima tahap proses- empati, definisi, ideasi, prototipe, dan pengujian - dengan metode kualitatif yang diikuti dengan analisis tematik dan penalaran abduktif. Penggunaan Design Thinking memungkinkan penelitian ini ketat namun tetap berpusat pada konsumen, sekaligus mendukung pengembangan konseptual iteratif sepanjang penelitian. Wawancara konsumen di tahap awal mengungkapkan bagaimana orang menginterpretasi isyarat merek, yang menjadi dasar pengembangan "How Might We". Melalui analisis abduktif, hasil tersebut kemudian digunakan untuk menyempurnakan SSCBM. Pada fase pengujian, lima skenario penggunaan merek—kondisi plasebo, kondisi dimensi tunggal terisolasi (spasial, sensorik, dan budaya), dan kondisi SSCBM terintegrasi—dibuat prototipenya menggunakan Heiress of Java Island (HOJI), sebuah merek berbasis warisan lokal yang sedang dikembangkan oleh PT Karya Unggul Anugrah. Partisipan terlibat oleh semua prototipe melalui simulasi pameran yang diikuti dengan wawancara untuk mendapatkan data yang lebih mendalam. Kondisi prototipe dikontrol dengan sengaja untuk memungkinkan perbandingan langsung dan eksplorasi mendalam tentang bagaimana kombinasi isyarat merek yang berbeda memengaruhi konstruksi persepsi nilai serta interpretasi kognitif dan emosional. Studi ini mengungkapkan bahwa elemen merek yang terintegrasi secara konsisten menghasilkan persepsi nilai lebih tinggi daripada metode terfragmentasi. Partisipan umumnya menggambarkan pengalaman terintegrasi sebagai lebih kredibel secara kognitif, menarik secara emosional, imersif, dan mudah diingat daripada pendekatan merek yang terisolasi. Meskipun kepercayaan fungsional tetap menjadi dasar, integrasi elemen merek menciptakan efek sinergis yang memperkuat imersi emosional, resonansi simbolik, signifikansi sosial, dan persepsi otentisitas secara bersamaan. Hasil studi menunjukkan bahwa konsumen memproses dimensi branding secara berurutan, di mana isyarat yang dipimpin oleh spasial mengaktifkan perhatian perseptual, isyarat yang dipimpin oleh sensori mendukung imersi pengalaman, dan isyarat yang dipimpin oleh budaya memfasilitasi makna simbolik dan pembentukan kepercayaan. Hasil lebih lanjut menunjukkan bahwa konsumen memproses nilai ini melalui dua jalur: jalur kognitif (berfokus pada koherensi dan kredibilitas) dan jalur emosional (berfokus pada identitas dan keterikatan). Terakhir, studi ini menunjukkan bahwa konsumen lebih cenderung merasakan nilai premium ketika elemen branding tampak koheren dan saling terkait di berbagai titik kontak, daripada branding yang terisolasi. Secara teoritis, penelitian ini menambah literatur tentang merek dengan menggeser fokus merek dari konsep-konsep elemen terisolasi ke dalam sistem persepsi merek yang lebih terpadu. Secara manajerial, penelitian ini memberikan implikasi strategis bagi merek-merek kecantikan berbasis warisan budaya yang berupaya melakukan diferensiasi untuk bersaing di pasar internasional. Terakhir, penelitian ini menunjukkan bagaimana metode kualitatif berbasis desain dapat memvalidasi teori-teori branding yang kompleks.

2026
👤 Penulis: Anya Arqia Anugrah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGEMBANGAN TALENTA STRATEGIS UNTUK SUKSESI MANAJER RIG LOKAL: MEMBANGUN KETAHANAN TERHADAP KETIDAKPASTIAN PASAR (STUDI KASUS PT. OMBAK BIRU OFFSHORE)

Industri pengeboran lepas pantai Indonesia menghadapi kontradiksi struktural: ketergantungan pada model operasi yang membutuhkan ekspatriat, yang sebelumnya membantu memastikan kontinuitas kinerja, namun kini membuat industri tersebut rentan terhadap tiga jenis ketidakpastian pasar. PT. Ombak Biru Offshore (PT. OBO), anak perusahaan Morghulis Limited (NYSE: MOR) di Indonesia, memiliki 100% ketergantungan pada Rig Manager yang ekspatriat dan tidak memiliki infrastruktur suksesi lokal secara formal. Terdapat tiga risiko dalam kerentanan ini. The cost of expatriate labour is high at USD 285,000 to 320,000 per year, and this is not economically viable during the downturn in oil prices, while the cost of national labour is around USD 90,000 to 110,000 per year, which is also significant over several years. Seiring dengan diaktifkan kepatuhan tenaga kerja TKDN dari sekadar pedoman menjadi kewajiban komersial yang mengikat melalui SKK Migas yang diaktifkan pada 4 April 2023, dengan bobot evaluasi tender sebesar 15% dan juga sanksi Kartu Kuning, Kartu Merah, dan Kartu Hitam, volatilitas dalam penegakan regulasi meningkat secara material. The third worrisom trend is the age of the median cross-over worker, who is now over 55, and for which the expected time for the first wave of mass pensions is 2025-2030, while the supply of expatriates in the world is declining. PT. OBO tidak memiliki rekam jejak suksesi lokal, dan beroperasi sebagai "penyewa kapabilitas" yang menanggung seluruh biaya untuk mendatangkan keahlian Command Core impor, tanpa membangun kompetensi institusional residual ke dalam modal manusianya sendiri. Tiga pertanyaan penelitian yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah: Arsitektur kompetensi yang mendefinisikan peran Rig Manager di PT; Keuatan yang saat ini menghambat dan/atau mendorong pengembangan pipeline suksesi lokal; dan Model strategis pengembangan talenta seperti apa yang dapat menciptakan ketahanan biaya, ketahanan regulasi, dan ketahanan operasional secara terintegrasi untuk menghadapi ketiga sumber ketidakpastian pasar tersebut. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus tunggal eksploratif kualitatif dengan kerangka kerja Strategic Foresight yang terdiri dari 5 fase yang ditawarkan oleh Hines dan Bishop (2015). Penarikan data kompetensi dilakukan dengan Behavioral Event Interview (BEI) dengan informan Rig Manager yang aktif, wawancara terstruktur dengan informan senior organisasi dan Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) dengan 12 insinyur PT. OBO. Data yang diperoleh dari transkrip wawancara, dokumen regulasi, data tolok ukur industri dan Laporan SDM Internal Perusahaan ditriangulasi lintas sumber. Integrasi teoretis diambil dari model Resource Based View (Barney, 1991), Dynamic Capabilities (Teece, Pisano & Shuen, 1997), dan Kerangka 7S McKinsey, dan model konversi pengetahuan SECI (Nonaka & Takeuchi, 1995). Hasil dari penelitian pertama menghasilkan matriks kompetensi yang terdiri dari 8 domain yaitu Operasi Teknis, Kepemimpinan Keselamatan, Ketajaman Komersial, Keterampilan Non-Teknis, Penilaian Krisis, Manajemen Klien dan Institusional, Kepatuhan Regulasi, dan Tata Kelola Transfer Pengetahuan. Sementara kompetensi yang bersifat tasit (*tacit*) diperoleh dari pengalaman lapangan, diperkirakan sekitar 75-80% kompetensi Rig Manager bersifat tasit, dan kompetensi seperti itu membutuhkan pengalaman di lapangan sebesar 150 sumur. Secara struktural, para insinyur OBO tidak mendapatkan paparan terhadap komando operasional saat bertugas, dan mereka tertahan oleh glass ceiling pada tingkatan Toolpusher, yang menimbulkan Paradoks Kompetensi-Legitimasi. Analisis medan kekuatan (force field analysis) untuk pertanyaan penelitian kedua menunjukan kondisi yang mendekati ekuilibrium, dengan 21 faktor pendorong (driving forces) dibalansikan dengan 23 faktor penghambat (restraining forces), yang tersebar dalam empat kategori hambatan: Kesenjangan Kapabilitas, Defisit Arsitektur Organisasi, Kendala Sertifikasi dan Biaya, serta Tarikan Pasar-Lokasi dengan penawaran premi upah sebesar 40-60% dari operator pengeboran di Timur Tengah. Analisis VRIO menunjukkan bahwa pipeline Rig Manager lokal akan memenuhi VRIO (Berharga, Langka, dan Sulit Ditiru — Valuable, Rare, and Inimitable), namun belum memenuhi Organisasi. Menurut teori pencapaian keunggulan kompetitif yang berkelanjutan adalah hal yang memungkinkan, tetapi belum terjadi di dalam organisasi ini. Arsitektur Jalur Ganda (*Dual-Pathway Architecture*) is a result of the third question posed in the research. Jalur Akselerasi (Accelerated Pathway) selama 48 bulan dirancang untuk para insinyur yang telah memiliki minimal 7 tahun pengalaman operasional di PT. OBO untuk diangkat menjadi Rig Manager pada kuartal keempat tahun 2030. Program Pelatihan Insinyur (Engineering Trainee Program) yang berlangsung selama 122 bulan sedang berjalan, dengan harapan keseluruhan pipeline siap pada akhir tahun 2036. Arsitektur Organisasi, yang melibatkan Komite Pengarah Manajemen Talenta, Sistem Informasi Manajemen Talenta dan kerangka akuntabilitas kinerja, Pengembangan Modal Manusia, yang melibatkan model progresi jalur ganda, Dana Pengembangan Lokal, dan Mekanisme Poros Penurunan (Downturn Pivot Mechanism) yang mengalihkan kontraksi pendapatan siklikal menjadi jendela transfer pengetahuan yang terstruktur alih-alih menghentikan pengembangan sama sekali, dan Sistem Transfer Pengetahuan yang terdiri dari 4 modul berjenjang KT-1 sampai KT-4. Targeting of the full Lokalisasi Command Core, excluding Rig Managers, Operations Installation Managers and Drilling Superintendents expatriates, was achieved in 2037. Model terintegrasi ini menawarkan ketahanan biaya, karena tidak mengharuskan pengeluaran untuk ekspatriat berbiaya tinggi, ketahanan regulasi karena kepatuhan proaktif terhadap PTK-007 Revisi 5, dan ketahanan operasional karena pemisahan PT. OBO dari pasar kontraktor ekspatriat global. Teori RBV yang dikembangkan dalam kajian ini adalah dengan menggabungkan teori Dynamic Capabilities dalam konteks institusional anak perusahaan multinasional (MNC) di bawah kondisi regulatif yang bernuansa nasionalis sumber daya. Konstruk "penyewa kapabilitas" (*capability renter*) is offered as a conceptual contribution that can be applied to an organization in which the functions of the "Command Core" are systematically moved out of the organization, so that no long-term learning of the organization or competitiveness is taken out of the investment of the organization's activities. Hasil penelitian ini mempunyai implikasi terhadap perancangan kebijakan oleh SKK Migas, kebijakan modal manusia di Morghulis Limited, dan tantangan kebijakan modal manusia bagi para operator hulu Indonesia dalam konteks kewajiban nasionalisasi modal manusia yang sesuai dengan persyaratan PTK-007 Revisi 5.

2026
👤 Penulis: Alvino Resa Julian Kesaulya
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PENGEMBANGAN SISTEM KEMASAN AKTIF ETHYLENE SCAVENGER BERBASIS EKONOMI SIRKULER: STUDI KASUS PADA TOMAT

Produksi tomat di Indonesia mencapai 1,15 juta ton pada 2024 dengan tren yang terus meningkat. Walaupun demikian, potensi ekonomi dari komoditas ini masih terkendala oleh tingginya angka kehilangan pascapanen. Secara fisiologis, penyebab utamanya adalah percepatan pematangan buah akibat akumulasi gas etilen di dalam ruang kemasan. Pengendalian gas etilen telah menjadi strategi utama dalam mempertahankan kualitas produk hortikultura. Namun, penjerap etilen (ethylene scavenger) konvensional berbasis oksidasi masih terkendala biaya produksi tinggi dan isu keamanan pangan. Di sisi lain, proses budidaya tomat menghasilkan limbah biomassa lignoselulosa yang sangat melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal. Menjawab tantangan tersebut, penelitian ini menerapkan pendekatan ekonomi sirkuler yang mengintegrasikan upaya perlindungan kualitas produk hortikultura dengan strategi valorizasi limbah pertanian. Secara spesifik, penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem kemasan penjerap etilen berbasis adsorpsi dengan memanfaatkan limbah biomassa tomat. Kebaruan riset ini terletak pada integrasi material dan teknologi keberlanjutan, di mana keseluruhan komponen penjerap etilen disintesis dari limbah tanaman tomat untuk kemudian diaplikasikan kembali guna melindungi buah tomat. Secara sistematis, penelitian ini distrukturkan ke dalam empat tahapan utama. Tahap pertama difokuskan pada pemodelan kinetika produksi etilen guna mengidentifikasi keterkaitan etilen dengan karakteristik fisiologis pematangan buah. Tahap kedua dan ketiga mencakup sintesis adsorben etilen berbasis karbon melalui pirolisis, serta fabrikasi matriks biokomposit melalui jalur biodelignifikasi. Pengujian secara komprehensif dilakukan pada setiap fase material untuk mempelajari karakteristik struktural dan kapasitas adsorpsi guna memahami sinergi fungsionalnya. Tahap akhir melibatkan integrasi material aktif adsorben dan biokomposit menjadi sistem lembaran biokomposit adsorben etilen (BAE). Validasi kinerja BAE dilakukan melalui pengujian umur simpan pada komoditas tomat, uji regenerasi untuk menentukan potensi penggunaan ulang (reusability) BAE, serta uji biodegradabilitas guna memastikan dampak lingkungan yang minimal setelah masa pakai berakhir. Tahap pertama berfokus pada pengembangan model matematis untuk mengestimasi laju akumulasi etilen netto (net accumulation) pada tomat dalam kemasan tertutup. Pengukuran akumulasi etilen dan evaluasi proses pematangan tomat dilakukan dengan variasi massa atau jumlah buah (1, 3, dan 6 buah), dan varietas (Optima, Dokter benih, dan Servo). Hasil penelitian menunjukkan bahwa akumulasi etilen mengikuti kinetika orde satu semu (pseudo-first-order), dengan konsentrasi puncak berkisar antara 1,7 hingga 6,43 ?L/L yang dipengaruhi secara signifikan oleh variasi massa buah, sementara faktor varietas tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Proses pematangan ditengarai dengan perubahan warna hijau menjadi kekuningan yang terjadi bertepatan dengan puncak akumulasi etilen. Pematangan terus berlanjut, meskipun konsentrasi etilen terus menurun seiring waktu penyimpanan. Simulasi pemanfaatan adsorben dalam kemasan membuktikan bahwa kapasitas dan kuantitas adsorben berperan krusial dalam mereduksi konsentrasi etilen dan menunda fase pematangan. Pemodelan ini memberikan basis kuantitatif dalam menentukan strategi manajemen etilen yang presisi untuk mencapai target perpanjangan masa simpan. Tahap kedua difokuskan pada valorisasi limbah lignoselulosa tanaman tomat menjadi adsorben berbasis material karbon, yang diklasifikasikan sebagai biochar atau karbon aktif sesuai dengan metode aktivasi yang diterapkan. Untuk menghasilkan adsorben yang andal, sintesis dilakukan melalui dua fase sistematis yaitu eksplorasi dan optimasi. Fase eksplorasi menguji pengaruh suhu pirolisis lanjut (600 dan 800 oC), durasi penggilingan (1 dan 5 menit), serta pengaruh aktivasi kimia menggunakan asam sitrat dan natrium bikarbonat, terhadap karakteristik adsorben. Temuan menunjukkan bahwa peningkatan suhu pirolisis ke 800 °C tidak secara linier meningkatkan kapasitas adsorpsi, mengisyaratkan adanya titik jenuh pada stabilitas struktur karbon. Terkait aspek fisik, durasi penggilingan selama 5 menit justru menurunkan kemampuan adsorpsi dibandingkan durasi 1 menit, yang mengindikasikan bahwa reduksi ukuran partikel yang berlebihan dapat mengganggu integritas struktur fungsional adsorben. Dari sisi modifikasi kimia, penggunaan asam sitrat terbukti lebih efektif dalam menginduksi pembentukan pori dan situs aktif spesifik etilen dibandingkan natrium bikarbonat. Hasil karakterisasi BET menunjukkan fenomena tidak biasa di mana kapasitas adsorpsi tidak berbanding lurus dengan luas permukaan maupun volume pori. Indikasi-indikasi tersebut menunjukkan bahwa aktivasi fisik-termal mampu menghasilkan kinerja adsorpsi yang kompetitif dibandingkan dengan karbon aktif dengan aktivasi kimia maupun karbon aktif komersial, meskipun kedua varian terakhir memiliki luas permukaan yang lebih besar. Data tahap eksplorasi tersebut, dan dikembangkan dengan kajian literatur, mendasari tahap optimasi yang difokuskan pada pengembangan biochar, yakni material karbon yang disintesis tanpa aktivasi kimia, dengan mengevaluasi variabel ukuran partikel bahan baku, suhu pirolisis, dan perlakuan microwave. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengaruh ukuran partikel bahan baku tidak berbeda signifikan, sementara suhu pirolisis dan perlakuan microwave memberikan efek sinergis terhadap sifat adsorptif material. Biochar yang dihasilkan mencapai kapasitas adsorpsi etilen yang lebih tinggi dibanding tahap eksplorasi, yaitu sebesar 38,8-44,8 ?L/g, yang dipengaruhi oleh perpaduan sifat kimia permukaan dan struktur pori, melampaui dominasi faktor luas permukaan. Mempertimbangkan efisiensi produksi dan performa adsorpsi, suhu pirolisis 350°C tanpa perlakuan microwave ditetapkan sebagai kondisi operasi optimum. Tahap ketiga bertujuan menyintesis matriks biokomposit pembawa biochar (adsorben etilen) melalui pre-treatment biodelignifikasi limbah lignoselulosa tanaman tomat oleh Marasmius sp. dan Trametes versicolor. Analisis komponen kimia dan gugus fungsi permukaan mengonfirmasi bahwa kedua jamur secara selektif mendegradasi lignin dengan efektivitas sebanding, meskipun melalui mekanisme berbeda. Marasmius sp. berkolonisasi via pertumbuhan hifa permukaan secara ekstensif, sementara T. versicolor dominan secara enzimatis ke dalam matriks. Biomassa terdelignifikasi tersebut kemudian diformulasi dengan pengikat menjadi biokomposit. Evaluasi fisik-mekanik menunjukkan bahwa matriks berbasis Marasmius sp. secara signifikan lebih tipis, kompak, dan kohesif dibandingkan T. versicolor yang memiliki gramatur tinggi dan kurang padat. Biodelignifikasi meningkatkan ketahanan terhadap kelembapan, namun disertai penurunan kekuatan tarik. Secara keseluruhan, formulasi optimum diperoleh pada kombinasi biomassa Marasmius sp. dengan formulasi pengikat tanpa gliserol, yang menghasilkan matriks dengan ketahanan kelembapan tinggi. Sebagai bentuk agregasi atas capaian ketiga tahap penelitian, pada tahap akhir dilakukan integrasi material fungsional biochar dengan biokomposit menjadi lembaran Biokomposit Adsorben Etilen (BAE). Material ini selanjutnya dievaluasi secara komprehensif melalui uji aplikasi pengemasan tomat, regenerasi, dan biodegradabilitas. Hasil pengujian menunjukkan BAE yang diproduksi dengan teknik imobilisasi biochar ke permukaan biokomposit tercatat mampu mempertahankan lebih dari 80% kapasitas adsorpsi etilen material biochar murni, yang mengindikasikan minimnya penyumbatan pori (pore blocking). Pada simulasi aplikasi kemasan, penggunaan BAE dalam kondisi awal, BAE-fresh (BAE-F), secara signifikan menekan puncak akumulasi etilen dan menghambat laju pematangan tomat. Hal ini ditandai dengan tertahannya transisi warna tomat dari fase breaker-turning pada fase turning-pink selama tujuh hari observasi. Sebaliknya, pada perlakuan kontrol tanpa penambahan BAE, tomat telah mencapai fase merah tua dalam durasi penyimpanan yang sama. Evaluasi aplikasi penyimpanan tomat menggunakan BAE-regenerasi (BAE-R) menunjukkan persistensi kinerja adsorpsi, dengan deviasi minimal dibandingkan BAE-F. Kapasitas retensi yang signifikan ini mengonfirmasi resiliensi fungsional BAE-F serta peluang implementasi material secara berulang (reusability). Meskipun terdapat indikasi bahwa prosedur regenerasi saat ini belum memulihkan arsitektur pori dan situs aktif secara utuh, temuan ini memberikan landasan saintifik bagi pengembangan prosedur pemulihan yang lebih presisi. Potensi keberlanjutan BAE dibuktikan melalui kemampuan biodegradasinya yang cepat, yakni mencapai ±90% dalam 32 hari. Temuan ini mengonfirmasi bahwa BAE dapat berperan sebagai kemasan aktif berbasis limbah yang bersifat closed-loop, mendukung ekonomi sirkuler melalui pengurangan limbah dan peningkatan nilai guna biomassa. Secara keseluruhan, disertasi ini berhasil merumuskan teknologi pengemasan aktif ethylene scavenger yang layak secara teknis dan efektif dalam memperpanjang masa simpan produk hortikultura. Teknologi ini memanfaatkan biomassa limbah produk hortikultura sebagai bahan baku sehingga mendukung penerapan ekonomi sirkuler melalui valorizasi biomassa serta pengurangan kehilangan pascapanen.

2026
👤 Penulis: Rifah Ediati
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

DAMPAK KEBIJAKAN PENINGKATAN KUALITAS PERMUKIMAN KUMUH TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT DI JAWA BARAT

Kawasan permukiman kumuh merupakan permasalahan struktural yang dihadapi oleh sebagian besar kota-kota di negara berkembang, termasuk Indonesia, yang berdampak langsung terhadap degradasi kualitas lingkungan permukiman dan derajat kesehatan masyarakat. Kondisi infrastruktur dasar yang tidak memadai di kawasan kumuh, seperti keterbatasan akses air bersih, sanitasi yang buruk, dan pengelolaan limbah yang tidak layak, diketahui berkontribusi signifikan terhadap tingginya prevalensi penyakit berbasis lingkungan di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah. Dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah Indonesia telah mengimplementasikan kebijakan peningkatan kualitas permukiman kumuh melalui berbagai program, termasuk Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU), yang mencakup perbaikan infrastruktur dasar permukiman secara terpadu di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak program peningkatan kualitas permukiman kumuh terhadap dua dimensi, yaitu kondisi lingkungan permukiman dan kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menganalisis perubahan pada delapan indikator lingkungan permukiman yang meliputi ketersediaan tempat buang sampah, bank sampah, Tempat Pembuangan Sementara (TPS), sumber air minum layak, sumber air bersih layak, tempat pembuangan akhir tinja layak, fasilitas buang air besar layak, dan indeks lingkungan permukiman sebagai variabel komposit. Pada dimensi kesehatan masyarakat, penelitian ini menganalisis enam variabel meliputi jumlah kasus diare, Demam Berdarah Dengue (DBD), malaria, hepatitis E, difteri, dan total kasus penyakit sebagai variabel agregat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Difference-in-Differences (DiD) untuk mengidentifikasi dampak kausal program secara empiris. Kelompok perlakuan (treatment group) terdiri dari 123 kawasan kumuh setingkat desa dan kelurahan yang telah menerima intervensi program dari tahun 2020 hingga tahun 2022, sementara kelompok pembanding (control group) terdiri dari 965 kawasan kumuh yang belum menerima intervensi sepenuhnya, sehingga total unit analisis berjumlah 1.088 desa dan kelurahan di Provinsi Jawa Barat. Data yang digunakan bersumber dari Pendataan Potensi Desa (Podes) yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (BPS RI) pada tahun 2019 dan 2020 sebagai data kondisi before, serta tahun 2024 sebagai data kondisi after intervensi program. Data intervensi diperoleh dari Dinas Perumahan dan Permukiman Provinsi Jawa Barat. Estimasi dampak terhadap indikator lingkungan permukiman dilakukan menggunakan model regresi Ordinary Least Squares (OLS) dengan robust standard error, sementara indikator kesehatan masyarakat diestimasi menggunakan model Zero-Inflated Negative Binomial (ZINB) yang dipilih berdasarkan karakteristik data kesehatan yang berbentuk count data dengan dominasi nilai nol (excess zeros) dan kecenderungan overdispersion. Validitas internal model DiD diverifikasi melalui uji parallel trends pada data sebelum intervensi menggunakan spesifikasi dengan dan tanpa variabel kontrol, serta melakukan verifikasi ketahanan hasil estimasi DiD melalui pendekatan Clustered Standard Error pada tingkat kecamatan dan Propensity Score Matching (PSM) sebagai metode tambahan dalam kerangka robustness check untuk mengatasi potensi selection bias yang timbul akibat perbedaan karakteristik awal antar kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program peningkatan kualitas permukiman kumuh belum terbukti memberikan dampak yang signifikan secara statistik terhadap seluruh indikator lingkungan permukiman yang dianalisis dalam periode pengamatan penelitian ini. Koefisien DiD pada seluruh indikator fasilitas persampahan, fasilitas sumber air, fasilitas pembuangan limbah, maupun indeks lingkungan permukiman secara agregat tidak signifikan secara statistik (p-value > 0.05), mengindikasikan bahwa perubahan kondisi infrastruktur lingkungan permukiman memerlukan rentang waktu yang lebih panjang untuk dapat terdeteksi secara empiris. Sementara itu, pada dimensi kesehatan masyarakat, hasil estimasi DiD+ZINB menunjukkan bahwa program terbukti secara signifikan berkontribusi pada penurunan kasus diare (? = ?3.376, p-value = 0.001) sebagai representasi waterborne disease yang paling erat kaitannya dengan perbaikan infrastruktur sanitasi dan air bersih. Berdasarkan nilai Incidence Rate Ratio (IRR) yang diperoleh dari exp(?3.376) = 0.034, program peningkatan kualitas permukiman kumuh menurunkan rate kasus diare pada kelompok perlakuan menjadi sekitar 3.4% dari rate yang diperkirakan terjadi tanpa adanya program. Temuan ini konsisten dan robust lintas seluruh spesifikasi model yang digunakan, termasuk estimasi DiD dengan robust standard error, Clustered Standard Error pada tingkat kecamatan, maupun pendekatan Propensity Score Matching (PSM-DiD). Namun demikian, program intervensi belum terbukti berpengaruh signifikan terhadap kasus DBD (p-value = 0.393) dan total kasus penyakit (p-value = 0.405), sementara kasus malaria, hepatitis E, dan difteri tidak dapat diestimasi secara reliabel akibat keterbatasan data. Hasil uji parallel trends mengonfirmasi bahwa asumsi tren paralel terpenuhi secara penuh pada indikator DBD dan total kasus penyakit, sementara untuk indikator diare asumsi tersebut hanya terpenuhi secara kondisional ketika variabel kontrol diikutsertakan dalam model. Secara umum, penelitian ini menunjukkan bahwa dampak program peningkatan kualitas permukiman kumuh di Jawa Barat masih bersifat terbatas dan selektif, dengan pengaruh signifikan terutama pada indikator kesehatan yang berkaitan langsung dengan sanitasi dan air bersih. Oleh karena itu, diperlukan penguatan intervensi pada aspek sanitasi dan air bersih, integrasi dengan pemberdayaan masyarakat, peningkatan koordinasi lintas sektor, serta evaluasi jangka panjang yang lebih komprehensif.

2026
👤 Penulis: Vlaradhia Sakura Annisa G.
🏷️ Kawasan Permukiman Kumuh 🏷️ Peningkatan Kualitas Lingkungan 🏷️ Kesehatan Masyarakat

ANALISIS SUMBER SULFIDA DAN MEKANISME FENOMENA TUBO BELERANG DI DANAU MANINJAU, SUMATRA BARAT

Danau Maninjau merupakan danau vulkanik di Sumatra Barat yang berperan penting sebagai sumber perikanan, pembangkit listrik tenaga air, dan pariwisata. Dalam beberapa dekade terakhir, kualitas air Danau Maninjau mengalami penuruan seperti: peningkatan nutrien yang ditandai oleh eutrofikasi, peningkatan bahan organik, penipisan lapisan oksik, dan meningkatnya frekuensi fenomena tubo belerang, yaitu naiknya sulfida dari lapisan dasar ke permukaan yang sering memicu kematian massal ikan di Keramba Jaring Apung (KJA). Fenomena tersebut diduga merupakan hasil interaksi antara proses biogeokimia, kondisi meteorologis, dan dinamika hidrodinamika. Keberadaan sulfida di Danau Maninjau telah menjadi perhatian dalam sejumlah penelitian sebelumnya. Beberapa studi mengaitkan pembentukan sulfida dengan aktivitas biotik, terutama proses reduksi sulfat oleh bakteri pada kondisi anoksik, sedangkan studi lainnya mengindikasikan adanya kontribusi faktor abiotik yang berasosiasi dengan aktivitas vulkanik. Meskipun demikian, hingga saat ini belum terdapat kesimpulan yang komprehensif mengenai faktor utama yang berpotensi menjadi sumber sulfida. Selain itu, mekanisme transport sulfida dari lapisan hipolimnion menuju lapisan permukaan yang menjadi pemicu langsung terjadinya tubo belerang juga masih belum dikaji secara khusus. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sumber sulfida di Danau Maninjau serta mengkaji mekanisme pergerakannya di dalam kolom air secara terpadu, sehingga dapat memberikan dasar ilmiah bagi pemahaman proses terjadinya tubo belerang dan pengembangan strategi mitigasi dampaknya. Penelitian dilakukan melalui survei lapangan, analisis hidrogeokimia, dan pemodelan numerik. Survei kualitas air dilaksanakan pada November 2022 dan Agustus 2023 di tujuh stasiun dengan pengukuran suhu, pH, TDS (Total Dissolved Solid), ORP (Oxidation Reduction Potential) dan DO (Dissolved Oxygen) serta analisis sulfida, sulfat, klorida, bikarbonat, besi, mangan, dan bahan organik pada air dan sedimen. Sumber sulfida diidentifikasi melalui karakteristik ion utama serta hubungan karbon–sulfur dalam sedimen. Dinamika kolom air dianalisis menggunakan data suhu kolom air dan meteorologi tahun 2015–2017, sedangkan proses fisik dan dinamika sulfida masing-masing disimulasikan menggunakan model hidrodinamika tiga dimensi HAMSOM dan model reaksi–difusi satu dimensi. Hasil analisis hidrogeokimia menunjukkan bahwa sistem perairan Danau Maninjau tidak dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik aktif. Perairan memiliki pH netral hingga basa (6,5 – 8,9), TDS rendah (<0,105 g/L), dan didominasi ion bikarbonat yang mencerminkan sistem penyangga karbonat. Sulfida terakumulasi di lapisan hipolimnion dengan konsentrasi maksimum 0,425 mg/L. Korelasi positif antara karbon dan sulfur (r = 0,73, p = 0,016) dalam sedimen menunjukkan bahwa sulfida terutama dihasilkan oleh reduksi sulfat secara biotik yang memanfaatkan bahan organik dari aktivitas KJA, bukan dari sumber magmatik. Stratifikasi termal kolom air dikendalikan oleh kondisi meteorologis, terutama suhu udara, radiasi matahari, dan kecepatan angin. Peningkatan suhu udara dan masukan panas dari radiasi matahari memperkuat stratifikasi, sedangkan penurunan suhu udara dan peningkatan angin mendorong pencampuran vertikal. Secara musiman, stratifikasi umumnya menguat pada pertengahan tahun dan melemah pada awal serta akhir tahun. Nilai Indeks stratifikasi (SI/Stratification index)) tertinggi terjadi pada Juni 2015, Mei 2016, dan Juni 2017, masing-masing sebesar 1962,20 J/m2, 2393,22 J/m2, dan 1181,84 J/m2. Rata-rata tahunan menunjukkan kecenderungan melemah dari 1416,57 J/m2 (2015) menjadi 1038,00 J/m2 (2016) dan 788,38 J/m2 (2017). Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa pada kecepatan angin rendah, suhu udara menjadi pengendali utama pembentukan stratifikasi, sedangkan pencampuran lebih mudah terjadi ketika Tmax ? 25,7 °C dan kecepatan angin ? 2 m/s. Simulasi hidrodinamika menunjukkan bahwa distribusi suhu dan arus sangat dipengaruhi oleh angin. Model mampu mereproduksi suhu hasil observasi dengan baik, dengan Root Mean Square Error (RMSE) 0,052–0,095 °C dan skill score (SS) 0,890–0,984. Stratifikasi terkuat terjadi pada Mei–Juni, ditandai gradien suhu permukaan barat–timur hingga 0,18 °C dan termoklin pada kedalaman sekitar 30 m. Sebaliknya, pada Oktober dan Desember stratifikasi melemah dengan gradien suhu maksimum sekitar 0,04 °C. Angin dominan yang berhembus dari barat ke timur mendorong arus permukaan ke arah yang sama. Pada Oktober dan Desember, kondisi ini menyebabkan distribusi stratifikasi menjadi tidak merata secara spasial. Bagian barat danau menunjukkan suhu kolom air yang lebih homogen, sehingga berpotensi lebih tinggi mengalami umbalan sulfida. Simulasi dinamika sulfida menunjukkan bahwa faktor biogeokimia, terutama bahan organik, berperan dominan dalam mengontrol konsumsi oksigen dan akumulasi sulfida Keluaran model umumnya lebih rendah dibandingkan hasil pengamatan, dengan RMSE DO 0,11 mg/L, Fe 0,38 mg/L, dan Mn 0,77 mg/L. Dekomposisi bahan organik menyumbang 98,899–99,290% dari total konsumsi oksigen, sehingga menjadi penyebab utama terbentuknya kondisi anoksik di kolom air. Namun, naiknya sulfida ke lapisan atas dihambat oleh proses oksidasi, terutama oleh MnO? (89,974–90,658%), sedangkan kontribusi FeOOH lebih kecil (8,283 8,938%). Oleh karena itu, penurunan oksigen terlarut tidak selalu diikuti oleh kemunculan sulfida di permukaan. Secara spasial, wilayah dengan kepadatan KJA tinggi menunjukkan risiko peningkatan sulfida yang lebih besar akibat tingginya beban bahan organik. Secara keseluruhan, fenomena tubo belerang di Danau Maninjau merupakan hasil interaksi antara produksi sulfida secara biotik, dinamika stratifikasi yang dikendalikan faktor meteorologis, dan proses hidrodinamika yang mengatur pergerakan massa air. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pengendalian beban bahan organik serta pemahaman terhadap dinamika cuaca dan proses fisik danau sebagai dasar mitigasi kejadian kematian massal ikan di Danau Maninjau.

2026
👤 Penulis: Taofik Jasalesmana
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

EFEK KARAKTERISTIK VEGETASI, BANK BIJI TANAH, DAN HUJAN BIJI TERHADAP POTENSI REGENERASI HUTAN EUCALYPTUS UROPHYLLA YANG TERDAMPAK KEBAKARAN DI KAWASAN HUTAN MUTIS NUSA TENGGARA TIMUR

Kebakaran merupakan salah satu hal yang mengancam keanekaragaman hayati terutama pada hutan tropis. Namun kebakaran juga bermanfaat secara ekologi seperti memicu pembungaan atau perkecambahan biji. Kebakaran berulang dapat memengaruhi vegetasi, dinamika biji melalui bank biji tanah (soil seed bank), dan hujan biji (seed rain). Salah satu hutan dengan kebakaran berulang adalah hutan Mutis, kawasan dengan nilai ekonomi tinggi di Nusa Tenggara Timur-Indonesia. Meskipun kawasan ini menerima curah hujan relatif tinggi dibandingkan wilayah lain di Pulau Timor, kondisi iklimnya didominasi musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan musim hujan. Kebakaran terjadi secara tidak merata pada seluruh kawasan dan berpotensi mengancam keberlanjutan Eucalyptus urophylla, spesies asli yang menurut daftar IUCN terancam punah meskipun dominan di wilayah ini. Mengingat bahwa kebakaran juga dapat berperan positif terhadap ekologi, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji peran kebakaran terhadap keberlanjutan E. urophylla melalui regenerasi alami pada wilayah hutan Mutis. Penelitian terdahulu mengenai E. urophylla lebih berfokus pada pemanfaatan kayu, karbon, sifat genetik biji, dan dilakukan pada perkebunan. Sementara itu penelitian E.urophylla pada habitat alami masih terbatas. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi peran kebakaran terhadap kondisi vegetasi dan dinamika biji pada bank biji tanah dan hujan biji di kawasan hutan Mutis serta menganalisis upaya konservasi untuk keberlanjutan E. urophylla. Penelitian terdiri dari tiga tahap, yaitu analisis kondisi vegetasi, bank biji tanah, dan hujan biji. Tahapan pertama dilakukan pada Februari 2023 hingga Maret 2023. Data vegetasi dikumpulkan dari 50 plot (10 x 10) m di setiap area dengan mengukur pohon yang memiliki DBH (diameter at breast height, 1,3 m di atas permukaan tanah) ? 3 cm dan vegetasi bawah yaitu anakan pohon dan herba/perdu dari 50 sub plot (1x1 m). Pengukuran kondisi fisika-kimia tanah dan ph tanah juga dilakukan pada tahap ini. Tahapan kedua dilakukan pengumpulan sampel tanah secara purposive sampling pada bulan Februari 2023 (bulan basah) dan September 2023 (bulan kering), menggunakan alat besi berukuran (15x15x6) cm dengan total 60 titik sampel tanah. Tahapan ketiga, dilakukan pada Februari 2023 hingga September 2023 dengan mengumpulkan biji menggunakan 50 perangkap biji (Ø 50 cm) di setiap area. Namun, selama periode penelitian, banyak perangkap biji yang rusak karena aktivitas manusia maupun faktor alami. Pengumpulan biji pada awalnya direncanakan setiap 10 hari, namun karena kondisi cuaca dan keterbatasan sumber daya manusia, maka hanya dapat dilakukan selama 12 kali pencuplikan biji selama tujuh bulan. Perumusan strategi konservasi untuk keberlanjutan ekosistem hutan Mutis, dibuat berdasarkan hasil interpretasi data kondisi vegetasi, bank biji tanah, dan hujan biji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebakaran tidak selalu berdampak negatif terhadap kondisi vegetasi dan ketersediaan biji. Pada lokasi terbakar, E.urophylla dengan DBH > 40 cm memiliki kerapatan tertinggi. Hal ini menunjukkan kemampuan E.urophylla terutama dengan DBH besar untuk bertahan hidup sekalipun ada kebakaran. Kebakaran berulang juga dapat merangsang pertumbuhan tunas epikormik pada E.urophylla sehingga mampu bertahan terhadap kebakaran. Pada lokasi tidak terbakar, Dacrycarpus imbricatus memiliki kerapatan tertinggi, namun, Indeks Nilai Penting (INP) menunjukkan bahwa E.urophylla memiliki INP tertinggi baik pada lokasi terbakar (177,05%) maupun lokasi tidak terbakar (115,70%). Meskipun kerapatan E.urophylla dengan DBH > 3 cm tinggi, namun kerapatan anakan E.urophylla rendah, diduga berkaitan dengan mortalitas akibat kebakaran, persaingan, dan penyakit. Hal ini mengindikasikan regenerasi alami E.urophylla mengkhawatirkan. Pada bank biji tanah ditemukan biji E.urophylla, Pittosporum timorense, Olea paniculata, dan jenis biji tak teridentifikasi. Kerapatan biji total pada lokasi terbakar lebih tinggi (1508,2 biji/m²) dibandingkan kerapatan total biji pada lokasi tidak terbakar (1128,8 biji/m²). Kerapatan biji E.urophylla cenderung mengalami peningkatan pada bulan September dibandingkan pada bulan Februari. Meskipun secara statistik terdapat perbedaan signifikan bank biji tanah di kedua lokasi, namun kerapatan biji yang diasumsikan masih mampu beregenerasi alami hanya mencapai 103,7 biji/m2 di lokasi terbakar dan 94,8 biji/m2 di lokasi tidak terbakar. Nilai ini tergolong rendah jika dibandingkan kerapatan bank biji tanah di beberapa wilayah hutan lain. Sehingga upaya regenerasi alami E. urophylla tidak dapat hanya mengandalkan bank biji tanah. Pada hujan biji ditemukan empat spesies biji yaitu E. urophylla, Olea paniculata, Pittosporum timorense, dan Rapanea hasseltii. Biji E.urophylla mendominasi dikedua lokasi, namun pada lokasi terbakar lebih tinggi (369,4 biji/m²) dibandingkan lokasi tidak terbakar (200 biji/m²). Biji E. urophylla yang ditemukan pada pencuplikan ke-12 (September 2023) merupakan pencuplikan dengan biji tertinggi selama penelitian. Kondisi ini mengindikasikan bahwa penyebaran biji sangat tinggi terjadi pada akhir periode pencuplikan. Namun biji E. urophylla yang secara fisik masih utuh dan diasumsikan mampu beregenerasi alami hanya 40,76 biji/m² pada lokasi terbakar dan 38,22 biji/m² pada lokasi tidak terbakar. Nilai ini termasuk rendah dibandingkan kerapatan biji pada hujan biji di beberapa wilayah lain. Kondisi vegetasi, bank biji tanah, dan hujan biji pada lokasi penelitian dapat berpotensi mengancam keberlanjutan regenerasi E. urophylla. Rendahnya anakan E. urophylla yang ditemukan, rendahnya biji E. urophylla yang masih utuh, tidak rusak secara fisik, dan diasumsikan masih dapat beregenerasi alami, dari bank biji tanah dan hujan biji, mengindikasikan bahwa regenerasi alami pada hutan Mutis mengkhawatirkan. Regenerasi alami E. urophylla tidak dapat hanya mengandalkan masukan biji dari bank biji tanah maupun hujan biji. Implementasi upaya konservasi dapat dilakukan untuk menjaga keberlanjutan regenerasi alami hutan dengan cara pengumpulan biji E. urophylla pada bulan April hingga Mei, budidaya E. urophylla pada lokasi target untuk pemulihan pasca kebakaran, dan menerapkan strategi pengelolaan kebakaran di kawasan hutan Mutis.

2026
👤 Penulis: Demak Ely Riana Damanik
🏷️ Kebakaran Hutan 🏷️ Regenerasi Eucalyptus Urophylla 🏷️ Hidrologi Vegetasi

SISTEM WEARABLE BERBASIS IMU UNTUK KLASIFIKASI DAN KINERJA TENDANGAN SENI BELA DIRI MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN MESIN DAN METODE BERBASIS ATURAN

Pengenalan pola gerak merupakan salah satu aspek fundamental dalam analisis biomekanika manusia yang memiliki peran penting dalam berbagai bidang, termasuk kesehatan, rehabilitasi, dan olahraga. Dalam konteks olahraga bela diri, khususnya pada teknik tendangan, kemampuan untuk mengenali jenis gerakan serta mengevaluasi kualitas pelaksanaannya menjadi sangat krusial bagi pelatih dan atlet dalam meningkatkan performa secara objektif dan terukur. Namun demikian, proses evaluasi teknik tendangan hingga saat ini masih banyak bergantung pada pengamatan visual yang bersifat subjektif, sehingga rentan terhadap inkonsistensi dan bias penilaian. Metode analisis gerak berbasis video maupun sistem motion capture memang mampu memberikan informasi biomekanik yang akurat. Namun demikian, metode tersebut memiliki sejumlah keterbatasan, antara lain biaya yang tinggi, kompleksitas sistem, serta kebutuhan akan lingkungan laboratorium yang terkontrol. Selain itu, proses pengukuran dan analisis yang relatif rumit menyebabkan metode ini tidak praktis untuk digunakan secara mandiri oleh atlet maupun pelatih dalam kegiatan latihan sehari-hari. Kondisi ini mengakibatkan keterbatasan dalam melakukan evaluasi performa secara berkelanjutan dan berbasis data, sehingga diperlukan suatu pendekatan alternatif yang lebih sederhana, portabel, dan mudah digunakan tanpa mengurangi kualitas informasi biomekanik yang dihasilkan Seiring dengan perkembangan teknologi sensor dan komputasi, penggunaan Inertial Measurement Unit (IMU) menjadi alternatif yang menjanjikan dalam analisis gerakan manusia. Sensor IMU yang terdiri dari akselerometer dan giroskop mampu merekam percepatan linier dan kecepatan sudut tendangan secara real-time, serta memiliki keunggulan dalam hal portabilitas, biaya yang relatif rendah, dan kemudahan integrasi dalam perangkat wearable. Hal ini membuka peluang untuk melakukan analisis gerakan secara langsung di lapangan tanpa ketergantungan pada sistem optik. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem pendeteksian elektronik berbasis sensor IMU yang mampu mengenali pola gerakan tendangan, mengklasifikasikan jenis tendangan, serta mengevaluasi kualitas tendangan secara kuantitatif, termasuk estimasi kekuatan tendangan. Metode yang diusulkan dalam penelitian ini mengintegrasikan beberapa pendekatan analisis, yaitu pembelajaran mesin untuk klasifikasi jenis tendangan, model regresi berbasis deep learning untuk estimasi kekuatan tendangan, serta pendekatan berbasis aturan (rule-based) untuk mendeteksi kejadian dan siklus gerakan tendangan. Data yang digunakan diperoleh dari sensor IMU yang dipasang pada segmen tungkai bawah atlet, dengan parameter utama berupa percepatan dan kecepatan sudut pada tiga sumbu. Data yang direkam kemudian melalui tahapan praproses yang meliputi segmentasi, normalisasi, dan resampling untuk menghasilkan data dengan panjang yang seragam. Selanjutnya, data digunakan untuk melatih model klasifikasi menggunakan algoritma k-NN, SVM, dan Random Forest, serta model regresi berbasis \CNN untuk prediksi kekuatan tendangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan berbasis IMU mampu memberikan kinerja yang baik dalam klasifikasi jenis tendangan. Algoritma SVM menunjukkan performa terbaik dengan akurasi mencapai 0,967, diikuti oleh k-NN dengan akurasi sekitar 0,924, serta Random Forest dengan akurasi sekitar 0,900. Hasil ini menunjukkan bahwa sinyal IMU mengandung informasi kinematik yang cukup untuk membedakan karakteristik berbagai jenis tendangan, seperti maegeri, shokuto, dan mawashi, yang memiliki pola percepatan dan kecepatan sudut yang berbeda. Selain itu, analisis ruang fitur menunjukkan bahwa meskipun data tidak sepenuhnya terpisah secara linear, terdapat pola distribusi yang cukup jelas untuk membedakan masing-masing jenis tendangan. Dalam hal estimasi kekuatan tendangan, model CNN berbasis sinyal deret waktu menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan pendekatan berbasis ekstraksi fitur konvensional. Hal ini disebabkan oleh kemampuan CNN dalam menangkap pola temporal lokal dari sinyal IMU yang bersifat nonlinier dan transient, khususnya pada fase impak tendangan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model CNN memberikan performa terbaik pada data yang dipisahkan berdasarkan jenis tendangan, dengan nilai Mean Absolute Error (MAE) sebesar 7,94 kg, Root Mean Squared Error (RMSE) sebesar 9,48 kg, dan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,615 untuk tendangan mawashi. Sebaliknya, ketika data dari berbagai jenis tendangan digabungkan, performa model menurun secara signifikan (R² mendekati nol atau negatif), yang menunjukkan bahwa estimasi kekuatan tendangan sangat bergantung pada karakteristik biomekanik spesifik dari masing-masing jenis tendangan. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan movement-specific modeling, di mana klasifikasi jenis tendangan perlu dilakukan terlebih dahulu sebelum proses estimasi kekuatan. Selain itu, pendekatan berbasis aturan yang dikembangkan dalam penelitian ini mampu mendeteksi kejadian tendangan serta menentukan awal dan akhir siklus gerakan dengan tingkat kesalahan yang relatif rendah dibandingkan dengan metode berbasis video sebagai ground truth. Hasil pengujian menunjukkan nilai RMSE sekitar 0,68 dan MAE sekitar 0,63, yang mengindikasikan bahwa sistem mampu merepresentasikan dinamika temporal gerakan tendangan secara cukup akurat. Integrasi antara metode klasifikasi, estimasi kekuatan, dan deteksi siklus gerakan menghasilkan suatu kerangka analisis yang komprehensif dalam mengevaluasi performa tendangan secara objektif. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan sensor IMU yang dikombinasikan dengan metode pembelajaran mesin dan pendekatan berbasis aturan dapat menjadi solusi yang efektif untuk analisis gerakan tendangan secara otomatis, objektif, dan real-time. Sistem yang dikembangkan tidak hanya mampu mengklasifikasikan jenis tendangan, tetapi juga mengevaluasi kualitas performa secara kuantitatif, sehingga berpotensi menjadi alat bantu yang bermanfaat dalam pelatihan atlet bela diri. Selain itu, pendekatan ini menawarkan alternatif yang lebih praktis dan portabel dibandingkan metode berbasis laboratorium, serta membuka peluang pengembangan sistem analisis gerakan berbasis wearable yang lebih efisien dan aplikatif di masa mendatang.

2026
👤 Penulis: Rudy Gunawan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Gerak Manusia 🏷️ Teknik Tendangan Bela Diri
Halaman 49 dari 6754
💬