📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenANALISIS TINGKAT WALKABILITY DAN KARAKTERISTIK PEJALAN KAKI PADA KAWASAN TOD BLOK M MELALUI PENGUKURAN OBJEKTIF (ATRIBUT LINGKUNGAN BINAAN) DAN SUBJEKTIF (PERCEIVED WALKABILITY)
Kawasan Blok M yang seharusnya mendukung penerapan konsep Transit-Oriented Development (TOD) sebagaimana ditetapkan dalam RTRW Provinsi DKI Jakarta masih menghadapi berbagai kendala, seperti rendahnya inklusivitas, terbatasnya penyediaan perumahan terjangkau, serta keberadaan parkir on-street yang berlebihan dan tidak tertata. Kondisi tersebut menunjukkan pengembangan kawasan belum sepenuhnya berorientasi pada peralihan penggunaan kendaraan pribadi menuju transportasi umum, sehingga masih memicu kemacetan dan mengganggu aksesibilitas pejalan kaki (Manurung & Yusuf, 2025). Oleh karena itu, keberadaan infrastruktur transit di Kawasan TOD Blok M belum mampu mendukung kualitas berjalan kaki secara optimal. Pengalaman berjalan kaki dipengaruhi oleh kondisi fisik lingkungan yang mencakup aspek kenyamanan, keamanan, dan kemudahan akses (He et al., 2024). Selain itu, lingkungan binaan berperan melalui karakteristik fisik, seperti aksesibilitas, keramahan berjalan kaki (walkability), dan keterhubungan antarpenggunaan lahan, serta melalui persepsi subjektif pejalan kaki terhadap kualitas lingkungan berjalan kaki (He et al., 2024).Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik lingkungan binaan dalam pendekatan objektif dan subjektif (persepsi pejalan kaki) dalam pengukuran walkability di Kawasan Blok M yang ditetapkan sebagai kawasan berbasis TOD. Pengukuran karakteristik lingkungan binaan dilakukan menggunakan prinsip 5D (Density, Diversity, Design, Distance to Accessibility, dan Distance to Transit) serta Neighborhood Environment Walkability Scale (NEWS). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis Sistem Informasi Geografis (GIS) dan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan variabel-variabel NEWS dapat diterapkan di Indonesia dengan nilai reliabilitas lebih dari 0,60 dan nilai validitas lebih dari 0,238 pada setiap variabel. Setiap variabel dalam konsep 5D juga menunjukkan hasil yang sejalan dan saling mendukung dengan variabel NEWS. Kedua pendekatan tersebut menghasilkan temuan yang saling melengkapi karena NEWS mampu menangkap aspek-aspek yang tidak dapat diukur secara objektif, seperti kualitas infrastruktur pejalan kaki. Variabel kepadatan (Density dan Residential Density) menunjukkan adanya kepadatan hunian pada lokasi tertentu denganv dominasi hunian horizontal. Variabel keberagaman (Diversity) menunjukkan keberagaman aktivitas yang cukup tinggi, terutama pada kawasan yang didominasi oleh fungsi permukiman, perkantoran, serta perdagangan dan jasa (mixed-use). Variabel desain (Design) menunjukkan tingkat konektivitas yang tinggi, terutama pada kawasan dengan intensitas aktivitas yang tinggi. Akses terhadap layanan dasar (basic services) dan transportasi umum juga tergolong baik, dengan jangkauan sekitar 100–500 meter atau waktu tempuh berjalan kaki selama 5–20 menit. Variabel kualitas infrastruktur pejalan kaki dan lalu lintas (Infrastructure and Traffic) menunjukkan kondisi yang tergolong baik. Namun, masyarakat masih cenderung menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan berjalan kaki. Kondisi tersebut tercermin dari banyaknya parkir yang tidak tertata dan memanfaatkan ruang pejalan kaki. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pejalan kaki berasal dari berbagai kelompok umur, jenis kelamin, tingkat pendapatan, jumlah anggota keluarga, serta tingkat kepemilikan SIM dan kendaraan pribadi. Berdasarkan kecenderungan jarak dan waktu berjalan kaki rata-rata harian, terdapat indikasi bahwa penyediaan layanan di Kawasan Blok M telah mampu menjangkau berbagai tujuan dalam rentang standar TOD, yaitu sekitar 5–20 menit atau 500–800 meter berjalan kaki. Hasil pengukuran walkability menunjukkan bahwa Kawasan TOD Blok M memperoleh nilai walkability objektif sebesar 53,63 dan walkability subjektif sebesar 59,59. Kedua nilai tersebut termasuk dalam kategori "Cukup Baik" berdasarkan Pedoman Pengukuran Indeks Kelayakan Berjalan di Kawasan Perkotaan yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR, Tahun 2023. Meskipun demikian, Kawasan TOD Blok M masih belum sepenuhnya memenuhi karakteristik kawasan TOD yang kompak, inklusif, dan terintegrasi secara optimal dengan sistem transit.
ANALISIS KOMPARATIF MODEL FRAGMENTASI KUZ-RAM DAN SWEBREC TERHADAP DISTRIBUSI UKURAN FRAGMENTASI BATUAN AKTUAL HASIL PELEDAKAN BAWAH TANAH SITE GUDANG HANDAK PT ANTAM TBK. UBPE PONGKOR.
Kegiatan peledakan pada tambang bawah tanah berpengaruh langsung terhadap kualitas fragmentasi batuan dan efisiensi proses produksi. PT ANTAM Tbk. UBPE Pongkor menetapkan ukuran fragmentasi dominan ? 40 cm untuk mendukung kelancaran operasi, namun pada site Gudang Handak masih ditemukan fragmentasi oversize yang menghambat produktivitas. Penelitian ini bertujuan membandingkan akurasi serta melakukan modifikasi model kurva fragmentasi Kuz-Ram dan Swebrec terhadap distribusi fragmentasi aktual hasil peledakan pada tambang bawah tanah site Gudang Handak PT ANTAM Tbk. UBPE Pongkor. Penelitian dilakukan melalui pengambilan data geometri peledakan, analisis citra digital menggunakan Split Desktop V2.0, serta pemodelan dan modifikasi model kurva distribusi fragmentasi menggunakan penyesuaian nilai faktor pengali. Hasil prediksi kedua model dievaluasi terhadap data aktual menggunakan parameter statistik Root Mean Square Error (RMSE) dan koefisien determinasi (R²). Hasil penelitian menunjukkan bahwa modifikasi model kurva berhasil meningkatkan akurasi prediksi secara signifikan, menghasilkan bentuk kurva yang sangat selaras dan representatif terhadap distribusi aktual di lapangan. Model Swebrec menunjukkan tingkat kesesuaian yang lebih baik dibandingkan model Kuz-Ram. Penggunaan model kurva prediksi yang telah dimodifikasi ini diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi operasi tambang bawah tanah.
PERANCANGAN KAWASAN CAGAR BUDAYA TUGU PERJUANGAN RAKYAT DESA CIJAMBU, KECAMATAN CIPONGKOR, KABUPATEN BANDUNG BARAT SEBAGAI OBJEK WISATA
Sektor pariwisata budaya semakin diakui sebagai penggerak pembangunan ekonomi lokal, khususnya di wilayah perdesaan yang menyimpan warisan sejarah, karena tidak hanya berkontribusi terhadap pendapatan pariwisata, tetapi juga memperkuat identitas lokal dan membuka lapangan kerja baru. Desa Cijambu di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, merupakan salah satu kantong kemiskinan, tergolong dalam kuadran High-High pada analisis Local Indicator of Spatial Autocorrelation (LISA), yang sesungguhnya memiliki potensi sejarah melalui keberadaan Tugu Perjuangan Rakyat di Bukit Pasir Kentit, sebuah monumen yang memperingati perlawanan rakyat terhadap agresi militer Belanda. Peristiwa perlawanan tersebut merupakan bagian dari rangkaian sejarah kekerasan pada masa Agresi Militer Belanda di wilayah Cipongkor, sehingga monumen ini menyimpan nilai memori kolektif yang penting bagi masyarakat setempat. Akan tetapi, monumen tersebut berada dalam kondisi terbengkalai dengan aksesibilitas yang buruk, ketiadaan fasilitas pendukung, serta belum adanya batas zonasi yang melindungi nilai sakralnya, sehingga potensi ekonomi wisata yang dimiliki belum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Penelitian ini bertujuan merancang kawasan Tugu Perjuangan Rakyat Desa Cijambu sebagai kawasan pariwisata budaya yang merespons persoalan kawasan, mengoptimalkan potensi kawasan dan warga sekitar, serta memenuhi kebutuhan pengguna. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan normatif, menggunakan metode perancangan Fragmental (Shirvani, 1985) dan teknik Problem Solving (Lynch, 1984). Data primer dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh dari studi literatur, peraturan perundang-undangan, serta preseden kawasan sejenis. Analisis dilakukan melalui kajian deskriptif kualitatif dan analisis tapak terhadap delapan elemen perancangan kota, dengan membandingkan kondisi aktual kawasan terhadap prinsip normatif yang telah dirumuskan untuk mengidentifikasi potensi dan persoalan kawasan. Analisis tapak juga mengacu pada variabel kajian Edward T. White (1986) yang mencakup aspek visual, sirkulasi, fitur alami, serta konteks lingkungan dan sosial-budaya kawasan.iv Penelitian menghasilkan tiga temuan utama sesuai sasarannya. Pertama, teridentifikasi tujuh prinsip perancangan kawasan wisata budaya, yakni keselamatan, atraksi dan keindahan, aksesibilitas, kenyamanan dan amenitas, keamanan, kebersihan, serta preservasi fisik dan keasrian lingkungan. Kedua, teridentifikasi potensi kawasan berupa Tugu Perjuangan Rakyat sebagai landmark bernilai sejarah, bentang alam perbukitan dengan sawah terasering dan hutan, serta potensi ekonomi lokal melalui kerajinan golok dan kuliner khas; sementara persoalan utamanya meliputi ketiadaan zonasi yang jelas, aksesibilitas yang buruk tanpa kantong parkir, jalur pejalan kaki yang tidak inklusif, minimnya fasilitas dan elemen penanda, serta degradasi fisik tugu. Ketiga, dirumuskan konsep perancangan yang membagi kawasan menjadi tiga zona, yaitu Zona Inti (tugu dan pelataran monumental), Zona Penyangga (ruang terbuka hijau dan Heritage Trail), serta Zona Pengembangan (sentra UMKM, kantong parkir, dan fasilitas pendukung). Konsep tersebut diwujudkan melalui Heritage Trail sepanjang kurang lebih 600 meter yang dilengkapi ramp berkelandaian maksimal 8% guna menjamin aksesibilitas universal, plaza monumen berperkerasan andesit, restorasi nondestruktif terhadap tugu, serta retensi permukiman warga berbasis pendekatan Living Heritage. Keputusan mempertahankan atau membongkar bangunan permukiman aktual ditetapkan melalui lima parameter penilaian kelayakan yang mengacu pada ketentuan zonasi cagar budaya serta kriteria Rumah Tidak Layak Huni. Perancangan ini berkontribusi sebagai model penataan kawasan cagar budaya berbasis lanskap perbukitan pada konteks perdesaan yang mengintegrasikan upaya pelestarian, pengembangan pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Pendekatan Living Heritage yang diterapkan menempatkan masyarakat sebagai bagian integral dari pelestarian, sehingga Tugu Perjuangan Rakyat tidak menjadi monumen yang statis, melainkan cagar budaya yang hidup bersama masyarakatnya.
STUDI EKSPERIMENTAL KINETIKA DAN EVOLUSI FASA REDUKSI BIJIH NIKEL SAPROLIT DALAM ATMOSFER 5% H2–95% N2
Nikel merupakan logam strategis yang digunakan dalam industri baja tahan karat, paduan, pelapisan, katalis, dan material baterai. Indonesia memiliki posisi penting dalam industri nikel karena didukung oleh sumber daya dan cadangan yang didominasi bijih laterit. Bijih saprolit umumnya diolah melalui jalur pirometalurgi konvensional, tetapi proses tersebut masih menghadapi tantangan konsumsi energi dan emisi gas rumah kaca. Hidrogen sebagai reduktan menjadi alternatif untuk menghasilkan proses reduksi beremisi lebih rendah. Penelitian ini bertujuan menganalisis tahapan reduksi non-isotermal, menentukan parameter kinetika reduksi isotermal, serta mengevaluasi evolusi fasa dan morfologi bijih nikel saprolit dalam atmosfer 5% H2–95% N2. Sampel bijih saprolit dikeringkan, diremuk, digerus, diayak hingga fraksi ?200 mesh, lalu dikalsinasi pada 700 °C selama 4 jam. Produk kalsinasi direduksi menggunakan thermogravimetric analyzer dengan massa sampel 300 mg dan laju alir gas 250 mL/menit. Percobaan non-isotermal dilakukan hingga 900 °C pada laju pemanasan 10 °C/menit, sedangkan percobaan isotermal dilakukan pada 500, 600, 700, 800, dan 900 °C selama 3 jam. Data perubahan massa dikonversi menjadi derajat reduksi, kemudian dianalisis menggunakan metode isokonversi isotermal dan pemodelan kinetika. Model difusi tiga dimensi Jander digunakan untuk mengevaluasi interval reduksi aktif. Evolusi fasa dianalisis menggunakan X-ray diffraction (XRD), sedangkan morfologi dan distribusi unsur diamati menggunakan scanning electron microscopy–energy dispersive spectroscopy (SEM–EDS). Reduksi non-isotermal menunjukkan dua tahap utama. Tahap 300–600 °C menghasilkan kehilangan massa aktual 3,15% dibandingkan nilai teoritis 4,43% dan diinterpretasikan berkaitan dengan reduksi awal spesies nikel serta transformasi hematit menuju magnetit dan/atau oksida antara. Tahap 600–900 °C menghasilkan kehilangan massa aktual 4,90% dibandingkan nilai teoritis 7,75% dan berkaitan dengan reduksi lanjutan oksida besi menuju Fe melalui FeO. Pada kondisi isotermal, kenaikan temperatur mempercepat reduksi awal, tetapi tidak selalu meningkatkan derajat reduksi akhir. Energi aktivasi tampak meningkat dari 28,07 kJ/mol pada ? ? 0,1 menjadi 69,45 kJ/mol pada ? ? 0,3, kemudian berada pada 63,34–63,50 kJ/mol hingga ? ? 0,5. Model Jander memberikan energi aktivasi tampak 57,1–73,7 kJ/mol pada 500–800 °C, sedangkan nilai negatif pada 800–900 °C menunjukkan ketidaksesuaian model untuk mekanisme suhu tinggi. XRD dan SEM–EDS menunjukkan magnetit pada 500 °C, fayalit sejak temperatur rendah, taenite pada 700 °C, serta penguatan fasa silikat dan koalesensi mikrostruktur pada 800– 900 °C yang membatasi reduksi lanjutan.
PEMBANGUNAN DASHBOARD GENERALISASI PENYAJIAN GARIS PANTAI
Kebijakan Satu Peta (KSP) mengamanatkan tersedianya peta dasar multiskala yang konsisten di seluruh wilayah Indonesia. Proses generalisasi kartografi diperlukan untuk menurunkan peta dari skala besar ke skala lebih kecil, namun keragaman morfologi garis pantai Indonesia, meliputi bentuk memanjang (elongated), bentuk lebar (broad), bentuk bergerigi (rugged), bentuk halus (smooth) yang relatif lurus, hingga bentuk ortogonal (orthogonal), menuntut pendekatan yang adaptif, bukan seragam. Capstone ini membangun sebuah dashboard penyajian generalisasi garis pantai yang mengintegrasikan segmentasi morfologi otomatis berbasis model deep learning BendSeqLSTM, otomatisasi generalisasi adaptif per tipe morfologi, serta antarmuka visualisasi dan pengunduhan hasil. Model BendSeqLSTM mengklasifikasikan segmen garis pantai menggunakan jaringan BiLSTM, sehingga setiap segmen memperoleh parameter generalisasi yang tepat sesuai karakteristiknya. Produk akhir berupa model deep learning segmentasi morfologi garis pantai, plugin generalisasi garis pantai, dan dashboard visualisasi dan distribusi produk.
PEMBANGUNAN DASHBOARD GENERALISASI PENYAJIAN GARIS PANTAI
Kebijakan Satu Peta (KSP) mengamanatkan tersedianya peta dasar multiskala yang konsisten di seluruh wilayah Indonesia. Proses generalisasi kartografi diperlukan untuk menurunkan peta dari skala besar ke skala lebih kecil, namun keragaman morfologi garis pantai Indonesia, meliputi bentuk memanjang (elongated), bentuk lebar (broad), bentuk bergerigi (rugged), bentuk halus (smooth) yang relatif lurus, hingga bentuk ortogonal (orthogonal), menuntut pendekatan yang adaptif, bukan seragam. Capstone ini membangun sebuah dashboard penyajian generalisasi garis pantai yang mengintegrasikan segmentasi morfologi otomatis berbasis model deep learning BendSeqLSTM, otomatisasi generalisasi adaptif per tipe morfologi, serta antarmuka visualisasi dan pengunduhan hasil. Model BendSeqLSTM mengklasifikasikan segmen garis pantai menggunakan jaringan BiLSTM, sehingga setiap segmen memperoleh parameter generalisasi yang tepat sesuai karakteristiknya. Produk akhir berupa model deep learning segmentasi morfologi garis pantai, plugin generalisasi garis pantai, dan dashboard visualisasi dan distribusi produk.
PEMBANGUNAN DASHBOARD GENERALISASI PENYAJIAN GARIS PANTAI
Kebijakan Satu Peta (KSP) mengamanatkan tersedianya peta dasar multiskala yang konsisten di seluruh wilayah Indonesia. Proses generalisasi kartografi diperlukan untuk menurunkan peta dari skala besar ke skala lebih kecil, namun keragaman morfologi garis pantai Indonesia, meliputi bentuk memanjang (elongated), bentuk lebar (broad), bentuk bergerigi (rugged), bentuk halus (smooth) yang relatif lurus, hingga bentuk ortogonal (orthogonal), menuntut pendekatan yang adaptif, bukan seragam. Capstone ini membangun sebuah dashboard penyajian generalisasi garis pantai yang mengintegrasikan segmentasi morfologi otomatis berbasis model deep learning BendSeqLSTM, otomatisasi generalisasi adaptif per tipe morfologi, serta antarmuka visualisasi dan pengunduhan hasil. Model BendSeqLSTM mengklasifikasikan segmen garis pantai menggunakan jaringan BiLSTM, sehingga setiap segmen memperoleh parameter generalisasi yang tepat sesuai karakteristiknya. Produk akhir berupa model deep learning segmentasi morfologi garis pantai, plugin generalisasi garis pantai, dan dashboard visualisasi dan distribusi produk.
PEMBANGUNAN DASHBOARD PENYAJIAN GENERALISASI GARIS PANTAI
Kebijakan Satu Peta (KSP) mengamanatkan tersedianya peta dasar multiskala yang konsisten di seluruh wilayah Indonesia. Proses generalisasi kartografi diperlukan untuk menurunkan peta dari skala besar ke skala lebih kecil, namun keragaman morfologi garis pantai Indonesia, meliputi bentuk memanjang (elongated), bentuk lebar (broad), bentuk bergerigi (rugged), bentuk halus (smooth) yang relatif lurus, hingga bentuk ortogonal (orthogonal), menuntut pendekatan yang adaptif, bukan seragam. Capstone ini membangun sebuah dashboard penyajian generalisasi garis pantai yang mengintegrasikan segmentasi morfologi otomatis berbasis model deep learning BendSeqLSTM, otomatisasi generalisasi adaptif per tipe morfologi, serta antarmuka visualisasi dan pengunduhan hasil. Model BendSeqLSTM mengklasifikasikan segmen garis pantai menggunakan jaringan BiLSTM, sehingga setiap segmen memperoleh parameter generalisasi yang tepat sesuai karakteristiknya. Produk akhir berupa model deep learning segmentasi morfologi garis pantai, plugin generalisasi garis pantai, dan dashboard visualisasi dan distribusi produk.
ANALISIS DINAMIKA KAPITALISASI PASAR DAN TOTAL KREDIT PERBANKAN DENGAN PENDEKATAN SISTEM DINAMIK
Kapitalisasi pasar dan total kredit perbankan merupakan dua indikator utama yang mencerminkan kondisi sektor keuangan Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika hubungan antara kapitalisasi pasar dan total kredit perbankan Indonesia menggunakan pendekatan sistem dinamik. Model dibangun berdasarkan sistem persamaan diferensial linear non-homogen yang merepresentasikan interaksi antara kedua variabel tersebut, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sentimen pasar, nilai tukar uang, dan arus investasi asing. Data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup periode 2007–2023 yang diperoleh dari sumber data sekunder. Parameter model diestimasi menggunakan metode Ordinary Least Squares (OLS), dan analisis kestabilan dilakukan melalui perhitungan nilai eigen dari matriks Jacobian sistem. Simulasi sistem dinamik dilakukan untuk memvisualisasikan perilaku jangka panjang sistem. Hasil analisis menunjukkan bahwa sistem memiliki titik kesetimbangan yang bersifat saddle point, mengindikasikan adanya ketidakstabilan struktural dalam hubungan jangka panjang antara kapitalisasi pasar dan total kredit perbankan. Temuan ini memberikan implikasi penting bagi kebijakan sektor keuangan, khususnya dalam memahami keterkaitan antara pasar modal dan sektor perbankan di Indonesia
PEMELIHARAAN JALAN DENGAN IRMS V3 BERDASARKAN PERTUMBUHAN LALU LINTAS KONSTAN DAN PEMBEBANAN JARINGAN JALAN
Pertumbuhan lalu lintas memengaruhi laju penurunan kondisi perkerasan dan kebutuhan pemeliharaan jalan. Namun, IRMS V.3 sebagai pavement management system yang digunakan dalam pengelolaan jalan nasional di Indonesia masih menggunakan faktor pertumbuhan lalu lintas konstan. Pendekatan tersebut belum sepenuhnya menggambarkan perubahan pola pergerakan akibat pembangunan jaringan jalan baru. Penelitian ini bertujuan membandingkan prediksi kondisi perkerasan dan kebutuhan biaya pemeliharaan berdasarkan pertumbuhan lalu lintas konstan MDP 2024 dengan volume lalu lintas hasil pembebanan jaringan jalan. Analisis dilakukan pada ruas Jalan Lingkar Cianjur, Batas Kota Cianjur–Citarum, dan Jalan Raya Rajamandala untuk periode 2026–2035. Proyeksi lalu lintas dinamis diperoleh melalui pemodelan jaringan menggunakan PTV VISUM dengan mempertimbangkan pembangunan Jalan Tol Bocimi, Sukabumi–Ciranjang, dan Ciranjang–Padalarang. Hasil proyeksi kemudian digunakan sebagai input IRMS V.3 untuk memprediksi nilai IRI, kebutuhan penanganan, dan biaya pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume lalu lintas hasil pembebanan jaringan lebih mampu menggambarkan kondisi aktual karena mempertimbangkan perpindahan arus kendaraan ke jalan tol. Pada ruas yang mengalami pengalihan arus, peningkatan IRI menjadi lebih lambat dibandingkan skenario pertumbuhan lalu lintas konstan. Perbedaan proyeksi lalu lintas juga memengaruhi waktu, jenis, dan biaya penanganan. Total kebutuhan biaya pemeliharaan pada skenario unconstrain pada pertumbuhan lalu lintas konstan sebesar Rp114,65 miliar, sedangkan pada pembebanan jaringan sebesar Rp68,10 miliar. Pendekatan pembebanan jaringan menghasilkan penghematan sebesar Rp46,55 miliar atau 40,61%.
MODEL PEMBIAYAAN KPR SYARIAH MENGGUNAKAN AKAD MURABAHAH DAN MUSYARAKAH MUTANAQISAH NISBAH PROPORSIONAL
Pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) syariah merupakan salah satu alternatif pembiayaan yang menerapkan prinsip syariah melalui akad jual beli maupun kemitraan. Dalam praktiknya, kemampuan nasabah dalam membayar angsuran dipengaruhi oleh fluktuasi pengh asilan sehingga diperlukan suatu model matematis yang dapat menggambarkan mekanisme pembiayaan dengan mempertimbangkan ketidakpastian tersebut. Penelitian ini bertujuan membangun model pembiayaan KPR syariah menggunakan akad Murabahah dan Musyarakah Mutanaqisah (MMQ) berbasis nisbah proporsional, membandingkan karakteristik kedua model, serta menganalisis pengaruh rata - rata pertumbuhan penghasilan dan volatilitas penghasilan terhadap hasil pembiayaan. Penghasilan nasabah dimodelkan menggunakan Geometric Brownian Motion (GBM), sedangkan analisis sensivitas dilakukan dengan metode Monte Carlo. Perbandingan imbal hasil pada pembiayaan dengan periode yang berbeda dilakukan menggunakan Holding Period Return (HPR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model Murabahah menghasilkan imbal hasil Bank Syariah sebesar 4,40% dan indikator kesejahteraan nasabah sebesar 34,09%, sedangkan model MMQ berbasis nisbah proporsional menghasilkan imbal hasil Bank Syariah sebesar 11,39% dan indikator kesejahteraan nasabah sebesar 53,00 %. Pada kondisi volatilitas penghasilan yang lebih tinggi ( ???? = 0 , 65 ) , model MMQ tetap mampu mengarahkan perpindahan kepemilikan rumah kepada nasabah dengan masa pembiayaan selama 187 bulan, menghasilkan imbal hasil Bank Syariah sebesar 10,92% dan indikator kesejahteraan nasabah sebesar 41,59%. Hasil analisis sensitivitas me nunjukkan bahwa peningkatan rata - rata pertumbuhan penghasilan ( ???? ) meningkatkan imbal hasil Bank Syariah dan indikator kesejahteraan nasabah, sedangkan peningkatan volatilitas penghasilan ( ???? ) meningkatkan risiko pembiayaan, memperbesar kemungkinan pembentukan utang, serta memperlambat proses perpindahan kepemilikan rumah. Secara keseluruhan, model MMQ berbasis nisbah proporsional memberikan kinerja yang lebih baik dibandingkan model Murabahah maupun KPR konvensional.
PEMBANGUNAN DASHBOARD GENERALISASI PENYAJIAN GARIS PANTAI
Kebijakan Satu Peta (KSP) mengamanatkan tersedianya peta dasar multiskala yang konsisten di seluruh wilayah Indonesia. Proses generalisasi kartografi diperlukan untuk menurunkan peta dari skala besar ke skala lebih kecil, namun keragaman morfologi garis pantai Indonesia, meliputi bentuk memanjang (elongated), bentuk lebar (broad), bentuk bergerigi (rugged), bentuk halus (smooth) yang relatif lurus, hingga bentuk ortogonal (orthogonal), menuntut pendekatan yang adaptif, bukan seragam. Capstone ini membangun sebuah dashboard penyajian generalisasi garis pantai yang mengintegrasikan segmentasi morfologi otomatis berbasis model deep learning BendSeqLSTM, otomatisasi generalisasi adaptif per tipe morfologi, serta antarmuka visualisasi dan pengunduhan hasil. Model BendSeqLSTM mengklasifikasikan segmen garis pantai menggunakan jaringan BiLSTM, sehingga setiap segmen memperoleh parameter generalisasi yang tepat sesuai karakteristiknya. Produk akhir berupa model deep learning segmentasi morfologi garis pantai, plugin generalisasi garis pantai, dan dashboard visualisasi dan distribusi produk.
MATEMATIKA KEUANGAN SYARIAH
Pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) syariah merupakan salah satu alternatif pembiayaan yang menerapkan prinsip syariah melalui mekanisme jual beli maupun bagi hasil. Penelitian ini bertujuan membangun model pembiayaan KPR syariah menggunakan akad Murabahah dan Musyarakah Mutanaqisah (MMQ) dengan pendekatan nisbah kesepakatan, menentukan nisbah optimal, serta membandingkan kinerjanya dengan KPR konvensional. Penelitian dilakukan melalui pemodelan matematika dan simulasi numerik. Penghasilan bulanan nasabah dimodelkan menggunakan Geometric Brownian Motion (GBM), sedangkan prediksi imbal hasil obligasi Indonesia dilakukan menggunakan model Vasicek sebagai acuan keuntungan Bank Syariah. Penentuan nisbah kesepakatan dilakukan menggunakan optimasi multiobjektif Pareto dengan dua fungsi objektif, yaitu memaksimumkan imbal hasil Bank Syariah dan keuntungan nasabah. Selanjutnya, seluruh solusi Pareto disetarakan menggunakan pendekatan Holding Period Return (HPR) agar dapat dibandingkan pada periode pembiayaan yang sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model Murabahah menghasilkan imbal hasil Bank Syariah sebesar 4,70% dan imbal hasil nasabah sebesar 34,09%. Sementara itu, model MMQ menghasilkan nisbah kesepakatan optimal sebesar 48,10% dengan imbal hasil Bank Syariah sebesar 10,11% dan imbal hasil nasabah sebesar 48,48%. Optimasi menghasilkan 19 solusi Pareto optimal dengan periode pembiayaan antara 180–382 bulan. Setelah dilakukan transformasi menggunakan holding period return, seluruh solusi dapat dibandingkan secara objektif dan menunjukkan bahwa nisbah 48,10% tetap menjadi solusi yang memberikan keseimbangan terbaik antara keuntungan Bank Syariah dan nasabah. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa peningkatan tingkat pertumbuhan pendapatan (?) cenderung meningkatkan imbal hasil Bank Syariah dan nasabah, sedangkan peningkatan volatilitas pendapatan (?) menyebabkan penyebaran imbal hasil semakin besar, meningkatkan ketidakpastian pembiayaan, dan menurunkan imbal hasil yang diterima kedua belah pihak.
ANALISIS PENERAPAN PEMBELAJARAN MESIN UNTUK PREDIKSI MORTALITAS PASIEN NEUROKRITIKAL
Pasien neurokritikal memiliki risiko mortalitas yang tinggi dan membutuhkan pengambilan keputusan klinis yang cepat. Sistem skor belum selalu mampu menangkap kompleksitas klinis pasien neurokritikal yang heterogen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan Machine Learning (ML) dalam model prediksi mortalitas pasien neurokritikal, mengevaluasi performanya, serta mengidentifikasi fitur klinis utama yang berkontribusi terhadap prediksi mortalitas. Penelitian ini menggunakan dataset rumah sakit yang terdiri atas 548 pasien dan 145 variabel awal. Variabel dependen adalah mortalitas selama perawatan rumah sakit. Dataset diproses melalui pembersihan data, standardisasi, pembagian data latih dan data uji terstratifikasi, seleksi fitur berbasis Least Absolute Shrinkage and Selection Operator (LASSO), penerapan model, hyperparameter tuning, analisis SHapley Additive exPlanations (SHAP), dan evaluasi setiap diagnosis. Model yang dikembangkan meliputi Logistic Regression (LR), Random Forest (RF), support vector machine (SVM), decision tree (DT), gradient boosting, Adaptive Boosting (AdaBoost), dan Extreme Gradient Boosting (XGBoost). Dua skenario pemodelan dilakukan, yaitu pemodelan dengan seluruh fitur dan seleksi fitur berbasis LASSO. Pada skenario seluruh fitur, model RF dengan 5 fitur menunjukkan sensitivitas teringgi, yaitu 0,933, dengan akurasi 0,800, presisi 0,757, F1-score 0,836, dan ROC-AUC 0,900. Sementara itu, skenario dengan seleksi fitur berbasis LASSO menghasilkan model SVM dengan 24 fitur memiliki sensitivitas tertinggi, yaitu 0,932, disertai akurasi 0,818, presisi 0,775, F1-score 0,846, dan ROC-AUC 0.875. Fitur-fitur utama yang berkontribusi terhadap prediksi mortalitas meliputi terapi suportif, skor Sequential Organ Failure Assessment (SOFA), skor Acute Physiology and Chronic Health Evaluation (APACHE) II, fungsi ginjal, dan reaktivitas pupil. Dengan demikian, model pembelajaran mesin sangat berpotensi untuk membantu identifikasi dini pasien neurokritikal dengan risiko mortalitas tinggi.
PERANCANGAN FONDASI DAN PERBAIKAN TANAH PADA SUATU PROYEK BANDARA
Proyek Bandara XXX merupakan proyek pengembangan fasilitas berupa penambahan terminal dan area apron. Berdasarkan hasil penyelidikan tanah, lapisan tanah hingga kedalaman 20 meter didominasi oleh tanah lunak dengan daya dukung rendah, kompresibilitas tinggi, dan potensi penurunan konsolidasi yang besar. Kondisi tersebut mendasari perlunya perancangan fondasi dalam pada area terminal serta perbaikan tanah pada area apron menggunakan kombinasi Prefabricated Vertical Drain (PVD) dan vacuum preloading. Perancangan fondasi dilakukan melalui analisis daya dukung aksial dan lateral tiang tunggal, daya dukung kelompok tiang, penurunan, dan penulangan dengan bantuan perangkat lunak LPILE dan GROUP, sedangkan perancangan perbaikan tanah dilakukan dengan metode manual dan metode elemen hingga (FEM). Hasil perancangan menunjukkan fondasi berupa tiang bor berdiameter 0.6 meter dan kedalaman 35 meter, kelompok tiang berkonfigurasi 2x2 sebanyak 4 tiang dengan spasi 2 meter, tulangan longitudinal 10D22, tulangan transversal D13-100 pada zona confinement dan D13-200 di luar zona tersebut, serta pile cap berdimensi 3.2 m × 3.2 m × 1.2 m. Perbaikan tanah dirancang menggunakan vacuum preloading dengan tekanan vakum 80 kPa, timbunan setinggi 1 meter, PVD berdimensi a=100 mm dan b=3 mm dengan spasi 1.3 meter dan panjang 23 meter, cutoff wall sepanjang 17 meter, serta durasi vakum selama 4 bulan. Setelah perbaikan tanah, stabilitas daya dukung dan penurunan tanah memenuhi kriteria desain.