📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenSINTESIS AFATINIB DAN DACOMITINIB SERTA TURUNANNYA SEBAGAI INHIBITOR TIROSIN KINASE EGFR
Afatinib (1) dan dacomitinib (2) merupakan inhibitor tirosin kinase irreversibel yang menargetkan Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) dan digunakan sebagai terapi target kanker paru-paru non-sel kecil (NSCLC). Pada penelitian ini, sintesis afatinib (1) dan dacomitinib (2) melalui pendekatan elektrokimia berhasil dikembangkan. Integrasi elektrokimia dalam reaksi organik, termasuk pada sintesis senyawa-senyawa ini memberikan keunggulan sebagai metode sintesis yang lebih berkelanjutan dan efisien. Selain itu, telah disintesis tiga puluh enam senyawa turunan afatinib (1) dan dacomitinib (2) sebagai upaya menemukan kandidat inhibitor tirosin kinase (ITK) EGFR yang lebih aktif, mengingat tantangan resistensi obat dan mutasi pada kanker paru-paru. Afatinib (1) dan dacomitinib (2) disintesis dari prekursor yang sama melalui delapan tahap reaksi, dua di antaranya menggunakan elektrokimia. Tahap pertama melibatkan amidasi asam 2-amino-4-fluorobenzoat (3) menggunakan amonia, menghasilkan 2-amino-4-fluorobenzamida (4) dengan rendemen 81%. Tahap kedua adalah siklisasi senyawa 4 dengan formaldehida menggunakan elektrokimia, yang menghasilkan 7-flurokuinazolin-(3H)-4-on (5) dengan rendemen HPLC 87%. Pada tahap ketiga, senyawa 5 dinitrasi menggunakan asam nitrat dan asam sulfat untuk membentuk 7-fluro-6-nitrokuinazolin-(3H)-4-on (6) dengan rendemen 83%. Tahap keempat klorinasi senyawa 6 menggunakan tionil klorida yang menghasilkan 4-kloro-7-fluoro-6-nitrokuinazolin (7) dengan rendemen 95%. Tahap kelima adalah substitusi nukleofilik senyawa 7 dengan 3-kloro-4- fluoroanilin, yang menghasilkan N-(3-kloro-4-fluorofenil)-7-fluoro- 6nitrokuinazolin-4-amin (8) dengan rendemen 94%. Tahap keenam substitusi nukleofilik aromatik dengan dua jenis alkohol yang berbeda. Substitusi atom fluor posisi C-7 pada senyawa 8 dengan (S)-tetrahidrofuran-3-ol membentuk (S)-N-(3- kloro-4-fluorofenil)-6-nitro-7-((tetrahidrofuran-3-il)oksi)kuinazolin-4-amin (9) dengan rendemen 90%. Sedangkan substitusi atom fluor posisi C-7 pada senyawa 8 dengan metanol membentuk N-(3-kloro-4-fluorofenil)-6-nitro-7- metoksi)kuinazolin-4-amin (10) dengan rendemen 96%. Tahap ketujuh melibatkan reduksi gugus nitro menggunakan elektrokimia, reduksi senyawa 9 menghasilkan (S)-N-(3-kloro-4-fluorofenil)-7-((tetrahidrofuran-3-il)oksi)kuinazolin-4,6-diamin (11) dengan rendemen 83%. Sementara itu, reduksi gugus nitro senyawa 10 menghasilkan N-(3-kloro-4-fluorofenil)-7-metoksi)kuinazolin-4,6-diamin (12) dengan rendemen 78%. Tahap terakhir melibatkan amidasi senyawa 11 dengan asam 4-(dimetilamino)but-2-enoat yang sebelumnya diklorinasi dengan tionil klorida, menghasilkan afatinib (1) dengan rendemen 7%, dan amidasi senyawa 12 dengan asam 4-(piperidin-1-il)but-2-enoat yang sebelumnya diklorinasi dengan oksalil klorida, menghasilkan dacomitinib (2) dengan rendemen 32%. Rendemen total yang diperoleh melalui jalur ini adalah 4% untuk afatinib (1), dan 13% untuk dacomitinib (2). Struktur semua senyawa dikarakterisasi menggunakan titik leleh, UV, IR, NMR, MS, dan single-crystal XRD. Sebanyak tiga puluh enam senyawa turunan (9-44) berhasil disintesis dengan variasi substituen pada posisi C-4 (N-fenil), C-6 (nitro, amino, atau enamida), dan C-7 (alkoksi) pada kerangka kuinazolin. Senyawa turunan tersebut diantaranya: (S)- N-(4-fluoro-3-klorofenil)-6-nitro-7-((tetrahidrofuran-3-il)oksi)kuinazolin-4-amina (9), N-(4-fluoro-3-klorofenil)-7-metoksi-6-nitrokuinazolin-4-amina (10), (S)-N-(4- fluoro-3-klorofenil)-7-((tetrahidrofuran-3-il)oksi)kuinazolin-4,6-diamina (11), N- (4-fluoro-3-klorofenil)-7-metoksikuinazolin-4,6-diamina (12), N-(4-fluoro-3- klorofenil)-7-etoksi-6-nitrokuinazolin-4-amina (13), 7-(alliloksi)-N-(4-fluoro-3- klorofenil)-6-nitrokuinazolin-4-amina (14), N-(4-fluoro-3-klorofenil)-7- isopropoksi-6-nitrokuinazolin-4-amina (15), N-(4-fluoro-3-klorofenil)-7-(2- etoksietoksi)-6-nitrokuinazolin-4-amina (16), (S)-6-nitro-N-fenil-7- ((tetrahidrofuran-3-il)oksi)kuinazolin-4-amina (17), (S)-N-(3-klorofenil)-6-nitro-7- ((tetrahidrofuran-3-il)oksi)kuinazolin-4-amina (18), (S)-N-(4-metoksifenil)-6- nitro-7-((tetrahidrofuran-3-il)oksi)kuinazolin-4-amina (19), (S)-1-(4-((6-nitro-7- ((tetrahidrofuran-3-il)oksi)kuinazolin-4-il)amino)fenil)etan-1-on (20), (S)-1-(3- ((6-nitro-7-((tetrahidrofuran-3-il)oksi)kuinazolin-4-il)amino)fenil)etan-1-on (21), N4-(4-fluoro-3-klorofenil)-7-etoksikuinazolin-4,6-diamina (22), N-(4-fluoro-3- klorofenil)-7-propoksikuinazolin-4,6-diamina (23), N-(4-fluoro-3-klorofenil)-7- isopropoksikuinazolin-4,6-diamina (24), N-(4-fluoro-3-klorofenil)-7-(2- etoksietoksi)kuinazolin-4,6-diamina (25), (E)-N-(7-metoksi-4- (fenilamino)kuinazolin-6-il)-4-(piperidin-1-il)but-2-enamida (26), (E)-N-(4-((4- klorofenil)amino)-7-etoksikuinazolin-6-il)-4-(piperidin-1-il)but-2-enamida (27), (E)-N-(4-((4-klorofenil)amino)-7-propoksikuinazolin-6-il)-4-(piperidin-1-il)but-2- enamida (28), (E)-N-(4-((3-klorofenil)amino)-7-metoksikuinazolin-6-il)-4- (piperidin-1-il)but-2-enamida (29), (E)-N-(4-((3-klorofenil)amino)-7- etoksikuinazolin-6-il)-4-(piperidin-1-il)but-2-enamida (30), (E)-N-(4-((4- bromofenil)amino)-7-isopropoksikuinazolin-6-il)-4-(piperidin-1-il)but-2-enamida (31), (E)-N-(4-((2,4-diklorofenil)amino)-7-etoksikuinazolin-6-il)-4-(piperidin-1- il)but-2-enamida (32), (E)-N-(4-((2,4-diklorofenil)amino)-7-propoksikuinazolin-6- il)-4-(piperidin-1-il)but-2-enamida (33), (E)-N-(4-((2,4-diklorofenil)amino)-7-(2- metoksietoksi)kuinazolin-6-il)-4-(piperidin-1-il)but-2-enamida (34), (S,E)-N-(4- ((2,4-diklorofenil)amino)-7-((tetrahidrofuran-3-il)oksi)kuinazolin-6-il)-4- (piperidin-1-il)but-2-enamida (35), (E)-N-(7-etoksi-4-((4- (trifluorometil)fenil)amino)kuinazolin-6-il)-4-(piperidin-1-il)but-2-enamida (36), (E)-N-(4-((4-fluoro-3-klorofenil)amino)-7-isopropoksikuinazolin-6-il)-4- (piperidin-1-il)but-2-enamida (37), (E)-N-(4-((4-fluoro-3-klorofenil)amino)-7-(2- metoksietoksi)kuinazolin-6-il)-4-(piperidin-1-il)but-2-enamida (38), (S,E)-N-(4- ((4-fluoro-3-klorofenil)amino)-7-((tetrahidrofuran-3-il)oksi)kuinazolin-6-il)-4- (piperidin-1-il)but-2-enamida (39), (E)-N-(4-((3,4-dimetilfenil)amino)-7-(2- metoksietoksi)kuinazolin-6-il)-4-(piperidin-1-il)but-2-enamida (40), (E)-N-(4- ((3,4-dimetilfenil)amino)-7-(2-etoksietoksi)kuinazolin-6-il)-4-(piperidin-1-il)but- 2-enamida (41), (S,E)-N-(4-((4-sianofenil)amino)-7-((tetrahidrofuran-3- il)oksi)kuinazolin-6-il)-4-(piperidin-1-il)but-2-enamida (42), (S,E)-N-(4-((4- metoksifenil)amino)-7-((tetrahidrofuran-3-il)oksi)kuinazolin-6-il)-4-(piperidin-1- il)but-2-enamida (43), dan (S,E)-4-((6-(4-(piperidin-1-il)but-2-enamido)-7- ((tetrahidrofuran-3-il)oksi)kuinazolin-4-il)amino)benzamida (44). Sebanyak tujuh belas senyawa turunan (9-25) diuji aktivitas sitotoksiknya terhadap sel kanker paru A549 sebagai uji pendahuluan, dengan afatinib (1) sebagai kontrol positif. Hasil pengujian menunjukkan bahwa enam senyawa (11, 12, 15, 22-24) memiliki aktivitas kuat dengan nilai IC50 masing-masing 24,1 ?M, 45,5 ?M, 29,4 ?M, 25,9 ?M, dan 18,3 ?M, sedangkan afatinib memiliki nilai IC50 sebesar 8,9 ?M. Sementara itu, sembilan belas senyawa (26-44) diuji aktivitasnya sebagai inhibitor EGFR, dan empat senyawa paling aktif (27, 28, 30, dan 38) menunjukkan aktivitas sangat kuat dengan nilai IC?? masing-masing 6,0 nM, 4,2 nM, 6,1 nM, dan 3,9 nM, lebih baik dibandingkan dacomitinib (2) yang memiliki IC50 sebesar 7,6 nM. Studi penambatan molekul terhadap EGFR (PDB: 4G5J) menunjukkan bahwa senyawa 27, 28, 30, dan 38 membentuk ikatan hidrogen dengan residu Met793 pada hinge region. Interaksi halogen dengan Leu788 dan Glu762 (pada senyawa 30 dan 38), serta ikatan hidrogen dengan Thr854 pada hydrophobic region (pada senyawa 27 dan 28) turut memperkuat ikatan ligan-reseptor. Selain itu karbon ? pada gugus enamida senyawa 30 dan 38 menunjukkan adanya interaksi sterik (unfavorable bump) dengan residu Cys797, yang menandakan jarak interaksi yang sangat dekat (~2,3 Å) atau potensi pembentukan ikatan kovalen antara karbon ? enamida dan atom sulfur Cys797. Sementara itu, simulasi dinamika molekul menunjukkan bahwa keempat senyawa tersebut (27, 28, 30, dan 38) stabil selama simulasi dalam medium berair, dengan nilai RMSD dan RMSF < 2 Å, menandakan kestabilan interaksi di hinge region maupun hydrophobic region. Kajian DFT memperlihatkan bahwa senyawa 27, 28, 30, dan 38 memiliki nilai energi gap 4,076-4,091 eV yang sebanding dengan dacomitinib (1), menandakan kestabilan elektronik dan reaktivitas yang serupa. Visualisasi HOMO-LUMO menunjukkan gugus enamida pada senyawa 27, 28, 30, dan 38 pada daerah LUMO yang menandakan sebagai salah satu pusat elektrofilik yang dapat berikatan kovalen residu Cys797. Evaluasi ADMET menunjukkan bahwa senyawa 27, 28, dan 30 memenuhi aturan Lipinski dan tidak menunjukkan potensi toksisitas yang berarti, sehingga ketiganya berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai kandidat inhibitor EGFR.
MEMBRAN DAN POLIMER TERCETAK MOLEKUL TIRUAN BERBASIS ANTRON UNTUK ANALISIS FLUORENA DAN FENANTRENA DALAM AIR SUNGAI
Hidrokarbon Aromatik Polisiklik (Polycyclic Aromatic Hydrocarbon, PAH) merupakan kelompok polutan organik hidrofobik yang banyak ditemukan di lingkungan perairan akibat aktivitas antropogenik, seperti pembakaran bahan bakar fosil, emisi industri, dan limpasan permukaan. Di antara senyawa-senyawa tersebut, fluorena dan fenantrena termasuk PAH bermassa molekul rendah yang paling sering terdeteksi di air sungai maupun air permukaan. Karena memiliki kestabilan kimia yang tinggi dan sifat lipofilik, keduanya sulit terurai secara hayati serta cenderung terakumulasi dalam sedimen dan organisme perairan, sehingga berpotensi menyebabkan pencemaran jangka panjang. Lebih jauh lagi, fluorena dan fenantrena diketahui bersifat toksik dan diduga memiliki potensi mutagenik atau karsinogenik. Oleh karena itu, pemantauan kedua senyawa ini dalam sampel air lingkungan menjadi penting untuk menjamin keamanan kualitas air. Analisis fluorena dan fenantrena dalam air sungai umumnya dilakukan menggunakan kromatografi gas atau kromatografi cair kinerja tinggi, yang diawali dengan tahapan preparasi awal sampel seperti ekstraksi cair–cair dan clean up. Konsentrasi fluorena dan fenantrena yang sangat rendah dalam matriks sampel yang kompleks menyebabkan tahapan preparasi awal tersebut berpotensi menurunkan akurasi dan presisi hasil analisis. Untuk mengatasi kelemahan tersebut, pendekatan yang banyak dikembangkan adalah penggunaan materi tercetak molekul pada saat preparasi sampel menggunakan teknik ekstraksi fase padat. Bahan ini dirancang dengan menciptakan situs pengenalan yang komplementer terhadap analit target, baik dari segi bentuk maupun interaksi fungsional. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa materi tercetak molekul mampu memberikan afinitas dan selektivitas tinggi. Materi tercetak molekul konvensional yang disintesis dengan menggunakan analit asli yang berbahaya sebagai cetakan memiliki dua kelemahan: pertama, adanya risiko keamanan akibat penggunaan langsung molekul target berbahaya; dan kedua, kemungkinan terjadinya template bleeding, yaitu pelepasan residu molekul cetakan yang masih terperangkap di dalam materi dapat terlepas selama analisis, sehingga menghasilkan sinyal positif palsu yang menurunkan keakuratan hasil analisis. Sebagai solusi, dikembangkan strategi material tercetak molekul tiruan, yaitu pendekatan pencetakan molekul menggunakan molekul analog yang lebih aman sebagai pengganti molekul target berbahaya. Dalam penelitian ini digunakan antron yang memiliki kemiripan struktur dengan fluorena dan fenantrena sebagai molekul cetakan tiruan yang aman. Tahapan penelitian diawali dengan pemilihan pasangan beberapa monomer– molekul cetakan antron, fluorena dan fenantrena menggunakan pendekatan komputasi. Perhitungan Density Functional Theory (DFT) dengan metode PBEh- 3c digunakan untuk mengevaluasi energi ikatan dan kestabilan kompleks monomer–molekul cetakan. Selanjutnya dilakukan verifikasi eksperimental melalui titrasi UV-Vis, lalu data dianalisis menggunakan model Benesi–Hildebrand untuk menghitung konstanta ikatan, persamaan Hill untuk menilai kooperativitas interaksi, serta plot Job untuk menentukan rasio stoikiometri kompleks monomer – molekul cetakan. Stirena merupakan monomer fungsional terpilih yang dapat berinteraksi dengan antron, fluorena dan fenantrena. Stirena sebagai monomer fungsional berinteraksi dengan antron memberikan nilai energi ikatan (?E) dan energi bebas Gibbs standar (?G°) berturut-turut sebesar -13,23 kcal/mol dan - 12,174 kcal/mol. Berdasarkan analisis Hill dan plot Job, rasio 1:2 kompleks antron – stirena memberikan hasil terbaik. Berdasarkan hasil kajian komputasi dan verifikasi tersebut, membran tercetak molekul tiruan atau Dummy Molecularly Imprinted Membrane (DMIM) disintesis melalui polimerisasi in situ berbasis jaring polimer semi-interpenetrasi (semi-IPN) dengan membran polivinilidena fluorida (PVDF), antron sebagai molekul cetakan tiruan, stirena sebagai monomer fungsional, etilen glikol dimetakrilat (EGDMA) sebagai pengikat silang, benzoil peroksida (BPO) sebagai inisiator dan asetonitril sebagai porogen. Proses ini memungkinkan terbentuknya situs cetakan di sekitar serat tanpa merusak morfologi, sehingga dihasilkan membran komposit tercetak molekul dengan luas permukaan tinggi, stabilitas mekanik baik, dan kemampuan pengikatan yang selektif terhadap fluorena dan fenantrena. Membran PVDF yang digunakan sebagai membran pendukung dalam sintesis DMIM diperoleh melalui proses elektrospinning pada kondisi optimum, yaitu konsentrasi larutan PVDF 20% b/v dalam dimetilformamida, tegangan 16 kV, jarak kolektor 18 cm, dan laju alir 0,5 mL/jam. Kombinasi parameter tersebut menghasilkan keseimbangan yang baik antara kestabilan semburan, penguapan pelarut, dan viskositas larutan, sehingga terbentuk membran dengan serat halus, distribusi diameter yang seragam, serta struktur pori terbuka yang sesuai untuk mendukung pembentukan situs cetakan pada DMIM. Sebagai pembanding, polimer tercetak molekul tiruan atau Dummy Molecularly Imprinted Polymer (DMIP) berbentuk serbuk polimer, disintesis melalui metode presipitasi dengan komposisi yang sama dengan DMIM tanpa komponen membran PVDF. Karakterisasi material dilakukan untuk menunjukkan performa DMIM dan DMIP. Hasil FTIR mengonfirmasi keberhasilan pembentukan polimer. SEM memperlihatkan morfologi materi membran dan polimer. Uji TGA membuktikan stabilitas termal, dan analisis BET–BJH menunjukkan pori dan luas permukaan yang berkontribusi pada kapasitas adsorpsi. Analisis PSA hanya digunakan untuk menentukan distribusi ukuran partikel DMIP. Studi isoterm adsorpsi menunjukkan membran DMIM memiliki kapasitas maksimum adsorpsi sebesar 130,86 mg/g untuk fluorena dan 453,03 mg/g untuk fenantrena, dengan Imprinting Factor (IF) masing-masing 2,01 untuk fluorena dan 2,17 untuk fenantrena. Adsorpsi fluorena pada membran DMIM mengikuti model Freundlich (R² = 0,9998), sedangkan adsorpsi fenantrena sesuai dengan model Langmuir (R² = 0,9999). Sedangkan DMIP memiliki kapasitas adsorpsi maksimum berturut-turut sebesar 12,22 mg/g untuk fluorena dan 16,48 mg/g untuk fenantrena, dengan IF masing-masing 1,16 untuk fluorena dan 1,09 untuk fenantrena, Adsorpsi fluorena pada DMIP paling sesuai dengan model Langmuir (R² = 0,9988), sedangkan adsorpsi fenantrena sesuai dengan model Freundlich (R² = 0,9997). Studi kinetika DMIM dan DMIP mengikuti model pseudo second order (PSO) dengan konstanta laju adsorpsi (k2) DMIM untuk fluorena dan fenantrena menunjukkan nilai 0,0026 g·mg?¹·menit?¹ untuk keduanya. Sedangkan DMIP menunjukkan nilai k? sebesar 0,0059 g·mg?¹·menit?¹ untuk fluorena dan 0,0261 g·mg?¹·menit?¹ untuk fenantrena. Analisis sampel air sungai simulasi menggunakan ekstraksi fase padat sistem dispersif DMIM dan HPLC menggunakan kolom C-18, fase gerak campuran asetonitril-air (70:30), laju alir 1 mL/menit, volume injeksi 50 µL dan deteksi UV- 254 nm menunjukkan nilai perolehan kembali 86,61–112,42% dengan simpangan baku relatif 1,34-4,06% untuk fluorena, serta nilai perolehan kembali 88,83– 92,40% dan simpangan baku relatif 3,20-4,70 % untuk fenantrena. Analisis sampel air sungai simulasi menggunakan DMIP sebagai sorben ekstraksi fase padat sistem kartrid dan HPLC dengan sistem kromatografi yang sama menunjukkan nilai perolehan kembali 91,44–105,84% dengan simpangan baku relatif 1,54-4,23% untuk fluorena serta nilai perolehan kembali 97,25–99,85% dengan simpangan baku relatif 0,81-2,93% untuk fenantrena. Penelitian ini juga membuktikan bahwa DMIM dan DMIP merupakan alternatif sorben yang aman dan selektif untuk preparasi sampel dalam analisis pemantauan polutan fluorena dan fenantrena di lingkungan perairan. Dengan hasil tersebut, DMIM dan DMIP berbasis antron berpotensi dikembangkan lebih lanjut untuk analisis polutan PAH berbahaya lainnya di berbagai matriks lingkungan.
EFEKTIVITAS BIAYA BERBASIS RISIKO PADA PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI MELAYU KOTA BIMA
Kota Bima merupakan salah satu wilayah yang secara berulang mengalami kejadian banjir hampir setiap tahun. Peristiwa banjir besar yang terjadi pada tahun 2016 dikategorikan sebagai bencana hidrometeorologi yang signifikan karena menimbulkan kerusakan pada infrastruktur, kawasan permukiman, serta mengganggu aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Salah satu faktor utama penyebab banjir adalah keterbatasan kapasitas Sungai Melayu dalam menampung debit aliran yang berasal dari bagian hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Melayu, sehingga menyebabkan terjadinya limpasan ke wilayah sekitarnya. Sebagai bagian dari upaya pengendalian banjir, Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara I (BBWS NT I) telah menerapkan penanganan struktural berupa normalisasi Sungai Melayu sepanjang ±6,6 km serta pembangunan parapet pada beberapa segmen yang memiliki tingkat kerawanan banjir tinggi dengan total panjang sekitar ±1,9 km. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas biaya dari penerapan penanganan tersebut dalam mengurangi potensi kerugian banjir pada berbagai kala ulang debit banjir, yaitu 2, 5, 10, 25, dan 50 tahun. Selain penanganan yang telah dilaksanakan oleh BBWS NT I, penelitian ini juga menganalisis beberapa alternatif penanganan banjir lainnya sebagai pembanding guna menilai tingkat efektivitas biaya dan kelayakan ekonomi masing-masing penanganan. Evaluasi dilakukan menggunakan pendekatan Cost Effectiveness Ratio (CER) dan Benefit–Cost Ratio (BCR) guna menilai tingkat efisiensi masing-masing skenario penanganan. Kajian ini dilakukan pada segmen Sungai Melayu sepanjang ±6,6 km. Analisis diawali dengan karakterisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk menentukan debit aliran masuk menggunakan perangkat lunak HEC-HMS. Penentuan debit banjir rencana dilakukan melalui analisis hidrologi berdasarkan data curah hujan stasiun pengamatan (groundstation) selama periode 2011–2024 (14 tahun). Debit banjir rencana untuk kala ulang 2, 5, 10, 25, dan 50 tahun diperoleh melalui pemodelan HEC-HMS dengan menggunakan Metode Soil Conservation Service Curve Number (SCS-CN) yang telah dikalibrasi terhadap debit bankfull sungai. Selanjutnya, analisis hidraulika dilakukan dengan menggunakan debit rencana masing-masing kala ulang, yaitu sebesar 30,7 m³/det untuk kala ulang 2 tahun, 49,4 m³/det untuk 5 tahun, 62,9 m³/det untuk 10 tahun, 80,7 m³/det untuk 25 tahun, dan iii 94,4 m³/det untuk 50 tahun. Pemodelan hidraulika dilakukan menggunakan HEC-RAS 2D untuk memperoleh sebaran luas genangan dan kedalaman genangan banjir. Simulasi dilakukan pada 4 (empat) skenario, yaitu skenario 1 berupa kondisi eksisting, skenario 2 berupa normalisasi sungai, skenario 3 berupa kombinasi normalisasi dan parapet serta skenario 4 berupa kombinasi normalisasi, parapet, dan kolam retensi. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa luas dan kedalaman genangan banjir meningkat seiring bertambahnya kala ulang pada seluruh skenario. Pada kondisi eksisting (Skenario 1), luas genangan meningkat dari 177,79 ha (Q2) menjadi 287,87 ha (Q50) dengan kedalaman maksimum dari 3,70 m menjadi 4,60 m. Penerapan normalisasi sungai (Skenario 2) mampu menurunkan luas genangan menjadi 76,41–217,72 ha dan kedalaman menjadi 2,58–3,93 m. Penambahan parapet (Skenario 3) menghasilkan luas genangan sebesar 74,19–212,23 ha dengan kedalaman 2,56–3,80 m, menunjukkan penurunan yang relatif terbatas dibandingkan Skenario 2. Kombinasi normalisasi, parapet, dan kolam retensi (Skenario 4) memberikan hasil paling optimal dengan luas genangan terendah, yaitu 71,18–140,01 ha dan kedalaman maksimum 2,22–3,29 m pada seluruh kala ulang. Berdasarkan hasil analisis ekonomi, Skenario 2 (normalisasi) menunjukkan kinerja paling efisien dengan nilai CER berkisar antara Rp107,04–154,70 juta/ha dan BCR sebesar 0,69–1,40, di mana kelayakan ekonomi mulai tercapai pada kala ulang Q10 hingga Q50 (BCR > 1). Skenario 3 (kombinasi normalisasi dan parapet) memiliki nilai CER lebih tinggi, yaitu sekitar Rp124,12–170,19 juta/ha, dengan BCR sebesar 0,59–1,26, yang menunjukkan kelayakan ekonomi terbatas dan umumnya baru tercapai pada kala ulang menengah hingga besar. Sementara itu, Skenario 4 (kombinasi normalisasi, parapet dan kolam retensi) meskipun memberikan efektivitas teknis tertinggi, menunjukkan CER paling besar yakni sekitar Rp362,90–509,38 juta/ha dan BCR sangat rendah sebesar 0,15–0,34, sehingga dinilai tidak layak secara ekonomi. Dengan demikian, dari perspektif efisiensi biaya dan kelayakan ekonomi, Skenario 2 merupakan alternatif paling rasional dibandingkan skenario penanganan lainnya. Secara keseluruhan, hasil evaluasi menunjukkan bahwa penerapan Skenario 3, yang mengombinasikan normalisasi sungai dengan pembangunan parapet, belum memberikan peningkatan kinerja yang berarti dibandingkan Skenario 2 yang hanya menerapkan normalisasi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa keberadaan parapet belum bekerja secara optimal dalam mereduksi genangan banjir, sehingga diperlukan kajian lebih lanjut terkait penentuan lokasi, elevasi, dan konfigurasi parapet agar fungsinya dapat lebih efektif. Di sisi lain, penambahan kolam retensi terbukti mampu menurunkan debit puncak banjir pada wilayah hulu dan tengah daerah aliran sungai, namun belum sepenuhnya mengatasi genangan di bagian hilir yang masih dipengaruhi oleh kondisi pasang surut. Oleh karena itu, diperlukan penerapan strategi penanganan tambahan yang terintegrasi di wilayah hilir guna meningkatkan kinerja pengendalian banjir secara menyeluruh.
KONSEP PERANCANGAN TRANSFORMASI KAWASAN STASIUN DEPOK BARU MENJADI KAWASAN TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT (TOD) DENGAN PENDEKATAN HUMAN CENTERED DESIGN (HCD)
Kota Depok merupakan salah satu kota penyangga Jakarta dengan tingkat mobilitas komuter yang tinggi. Sebagai simpul transportasi utama, Stasiun Depok Baru melayani lebih dari 5.500 penumpang per hari dan terintegrasi dengan Terminal Depok serta rencana jaringan Light Rail Transit (LRT), sehingga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan Transit Oriented Development (TOD). Meskipun telah ditetapkan sebagai kawasan TOD dalam RTRW Kota Depok Tahun 2022–2042, pencapaian kondisi ideal TOD memerlukan proses transformasi yang berlangsung dengan transisi karena kawasan telah berkembang, memiliki struktur kepemilikan lahan yang kompleks, serta menghadapi berbagai keterbatasan implementasi. Penelitian terdahulu umumnya berfokus pada pemenuhan indikator normatif TOD tanpa mempertimbangkan proses transformasi maupun kebutuhan pengguna sebagai dasar perancangan. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi dan konsep perancangan transformasi Kawasan Stasiun Depok Baru menuju TOD melalui pendekatan Human-Centered Design (HCD). Metode penelitian menggunakan pendekatan mixed methods yang mengombinasikan analisis kuantitatif terhadap indikator spasial kawasan dengan analisis kualitatif melalui observasi, kuesioner pengguna KRL, serta wawancara dengan masyarakat sekitar dan pedagang kaki lima untuk mengidentifikasi kebutuhan, preferensi, dan persepsi pengguna. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kawasan Stasiun Depok Baru masih memiliki karakteristik Transit Adjacent Development (TAD), ditandai oleh dominasi kendaraan pribadi, rendahnya kualitas aksesibilitas pejalan kaki, lemahnya konektivitas antarmoda, penggunaan lahan yang belum optimal, fragmentasi kawasan, serta konflik pemanfaatan ruang. Struktur persoalan kawasan tidak hanya disebabkan oleh ketidaksesuaian dengan prinsip TOD, tetapi juga oleh kesenjangan antara kebutuhan pengguna dan kondisi fisik kawasan. Kebutuhan utama pengguna meliputi peningkatan kualitas jaringan pedestrian, integrasi antarmoda, ruang terbuka publik, penataan aktivitas ekonomi informal, sistem wayfinding, serta ruang publik yang mendukung interaksi sosial. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian merumuskan strategi transformasi kawasan yang mempertimbangkan analisa kondisi eksisting, struktur kepemilikan lahan, keterbatasan implementasi, dan kebutuhan pengguna. Strategi tersebut diterjemahkan ke dalam konsep perancangan berupa pengembangan tata guna lahan campuran, peningkatan intensitas kawasan di sekitar simpul transit, penguatan jaringan pedestrian, integrasi antarmoda, penyediaan ruang terbuka hijau dan biru, penataan ekonomi lokal, serta penguatan ruang publik. Kebaruan penelitian terletak pada integrasi pendekatan HCD dalam kerangka transformasi dari TAD menuju TOD yang menghasilkan strategi perancangan yang lebih adaptif, realistis, dan berorientasi pada pengguna.
COMPUTATIONAL STUDY OF CALLUS EVOLUTION FROM REPAIR TO REMODELLING IN INTRAMEDULLARY-NAILED FEMUR FRACTURES
Penyembuhan tulang setelah fiksasi intramedullary nailing tidak berhenti saat jembatan tulang pertama kali terbentuk, karena callus masih harus beradaptasi terhadap lingkungan mekanis selama remodelling jangka panjang. Penelitian ini mengembangkan kerangka komputasional untuk menghubungkan fase perbaikan dan remodelling pada fraktur femur yang ditangani dengan intramedullary nail. Model fraktur femur berbasis CT diberi kondisi pembebanan berjalan fisiologis. Fase perbaikan disimulasikan menggunakan algoritma mechanoregulation yang dimodifikasi hingga terbentuk jembatan tulang kontinu. Morfologi callus yang dihasilkan kemudian ditransfer ke simulasi remodelling yang dikendalikan oleh stimulus strain energy density dan microdamage. Model ini digunakan untuk mengevaluasi perubahan morfologi callus, distribusi sifat material, daerah tidak aktif, serta pembagian beban antara callus dan implan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa jembatan callus bagian tengah mengalami peningkatan kekakuan dan densitas secara bertahap, sedangkan daerah callus perifer dengan stimulus mekanis rendah cenderung mengalami resorpsi. Temuan ini menunjukkan bahwa remodelling pasca-perbaikan berlangsung tidak seragam secara spasial dan sangat dipengaruhi oleh transfer beban lokal di sekitar intramedullary nail. Kerangka ini dapat menjadi dasar untuk mengevaluasi pengaruh skenario rehabilitasi atau pembebanan yang berbeda terhadap penyembuhan fraktur jangka panjang dan stress shielding akibat implan.
MODEL STOKASTIK DAN KONTROL OPTIMAL DALAM RISIKO PENJUALAN PRODUK PREMIUM
Penjualan produk premium dipengaruhi oleh berbagai faktor yang bersifat dinamis dan tidak pasti, seperti perubahan tren pasar, perilaku konsumen, dan kondisi lingkungan pemasaran, sehingga dinamika pelanggan sulit dijelaskan hanya menggunakan model deterministik. Oleh karena itu, penelitian ini mengintegrasikan model deterministik, model stokastik berbasis Persamaan Diferensial Stokastik (Stochastic Differential Equation, SDE), strategi kontrol optimal, serta evaluasi pengaruh berbagai distribusi gangguan acak terhadap performa kontrol untuk menganalisis dinamika pelanggan pada penjualan produk premium. Model deterministik dibangun berdasarkan tiga kompartemen, yaitu pelanggan potensial (Potential Customers), pelanggan yang mempertimbangkan pembelian (Considers), dan pembeli (Buyers), kemudian dianalisis melalui penentuan titik keseimbangan, kestabilan, dan sensitivitas parameter. Model stokastik dikembangkan dengan memasukkan gangguan acak menggunakan proses Wiener dan disimulasikan menggunakan metode Euler–Maruyama, sedangkan strategi kontrol optimal ditentukan menggunakan Prinsip Minimum Pontryagin dan metode Forward–Backward Sweep, lalu dievaluasi melalui simulasi stokastik menggunakan distribusi Normal, Eksponensial, dan Gamma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model memiliki dua titik keseimbangan yang kestabilannya ditentukan oleh suatu parameter ambang, serta simulasi stokastik mampu merepresentasikan pengaruh ketidakpastian tanpa mengubah kecenderungan rata-rata sistem. Penerapan kontrol optimal meningkatkan populasi pelanggan peminat dibandingkan tanpa kontrol sekaligus mempertahankan kestabilan sistem pada kondisi adanya gangguan acak. Dengan demikian, model yang dibangun dapat digunakan sebagai kerangka kuantitatif untuk menentukan strategi pemasaran adaptif dan mengevaluasi efektivitas pengendalian pada kondisi pasar yang tidak pasti.
CELAH STRUKTURAL PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR LINTAS-DAERAH : ANALISIS HAMBATANKOORDINASI HORIZONTAL DAN KERANGKA ALTERNATIF AGREGASI VERTIKAL
Penelitian ini menguji kelayakan model Build-Transfer-Lease (BTL) dalam kerangka KPBU Indonesia untuk pembiayaan infrastruktur daerah, serta merumuskan prinsip reformasi regulasi jika model tersebut tidak dapat diterapkan. Penelitian dilatarbelakangi oleh celah struktural yang teridentifikasi melalui Indeks Kesenjangan Implementasi (IGI) sebesar 86,6% terdiri dari Fiscal Gap (86%), Scale Gap (93%), Coordination Gap (100%), dan Regulatory Gap (67,5%) serta keterbatasan model KPBU Indonesia yang berbasis BOT termodifikasi untuk infrastruktur skala kecil dan non-revenue-generating. Dengan pendekatan kuantitatif deskriptif-komparatif menggunakan data sekunder dari DJPK Kementerian Keuangan, Bappenas PPP Book, dokumen proyek SPAM Tuk Jambe, dan regulasi KPBU, serta survei kepada 35 ahli KPBU, penelitian menemukan bahwa model BTL tidak dapat diterapkan di bawah regulasi KPBU saat ini. Analisis konten terhadap Peraturan Menteri PPN/Kepala Bappenas Nomor 9 Tahun 2025 menunjukkan bahwa regulasi tidak mengadopsi transfer aset di awal disertai pembayaran sewa berkala, tetap mensyaratkan koordinasi horizontal, dan membatasi Availability Payment sebagai pembayaran satu arah. Kasus Tuk Jambe diframing ulang sebagai ilustrasi counterfactual BTL, di mana koordinasi horizontal bukan akar masalah melainkan konsekuensi dari syarat konsolidasi kepemilikan dalam model saat ini. Simulasi Discounted Cash Flow (DCF) empiris membuktikan bahwa agregasi vertikal melalui entitas pembiayaan pusat (BUMN) menjadi prasyarat mutlak kelayakan finansial. Dengan tarif dasar pro-rakyat (Rp 4.784/m³), proyek standalone hanya menghasilkan IRR 7,96% di bawah WACC daerah 8,90%, sehingga menjadi tidak layak. Kelayakan marjinal (IRR 7,96%, NPV positif) hanya tercapai melalui kombinasi suntikan belanja modal APBN sebagai hibah (grant) dan penurunan WACC menjadi 7,63% melalui agregasi BUMN. Penelitian merumuskan tiga prinsip reformasi directional: perluasan definisi Availability Payment (multi-pihak), pengaturan timing transfer aset di awal, dan pelonggaran syarat sektoral BUMN sebagai PJPK.
INTEGRASI SPASIAL EKOSISTEM KOTA KREATIF: EVALUASI KONEKTIVITAS TRANSPORTASI PUBLIK MENUJU KOMUNITAS SENI RUPA DI JAKARTA SELATAN
Transisi paradigma pembangunan DKI Jakarta menuju Kota Global mendudukkan ekonomi kreatif, terkhusus subsektor seni rupa, sebagai jangkar utama pembangunan kota yang berkelanjutan. Kota Administrasi Jakarta Selatan memang telah diakui sebagai episentrum organik kegiatan kreatif sekaligus ditetapkan sebagai model Kota Seni Rupa nasional; meskipun demikian, realitas keruangannya justru memperlihatkan ancaman struktural terhadap keberlanjutan ekosistem tersebut. Komunitas seni rupa akar rumput (grassroots) kini berhadapan dengan tekanan gentrifikasi lahan yang menggeser posisi mereka dari koridor utama ke kawasan sekunder maupun periferal kota. Hambatan keruangan itu diperberat oleh kesenjangan prasarana konektivitas makro: sebagian besar komunitas mengalami isolasi spasial karena tidak terjangkau jaringan transportasi massal utama, yaitu koridor MRT, LRT, maupun BRT TransJakarta pada tahap integrasi first-mile dan last-mile. Evaluasi Jakarta Selatan sebagai Kota Kreatif yang dilakukan Nathania (2022) masih menyisakan celah kritis, yakni terbatasnya analisis pada dimensi spasial, tidak adanya evaluasi terhadap prasarana fisik seni rupa yang resmi, serta belum terpetakannya ketercapaian konektivitas keruangan. Oleh sebab itu, kebaruan (novelty) sekaligus orisinalitas studi ini terletak pada pendekatan kuantitatif spasial yang memetakan koordinat absolut kelompok komunitas akar rumput secara empiris, mengukur ketercapaian fisiknya terhadap simpul mobilitas makro secara matematis melalui Sistem Informasi Geografis (SIG), serta merumuskan kerangka penataan ruang preskriptif berwawasan Transit-Oriented Creativity (TOC) yang belum pernah dikaji dalam literatur studi wilayah serupa. Tujuan yang hendak dicapai adalah merumuskan arahan optimasi tata ruang kreatif inklusif berbasis integrasi konektivitas transportasi publik bagi keberlanjutan ekosistem komunitas seni rupa di Jakarta Selatan. Studi ini dijalankan sebagai penelitian deskriptif analitis yang bertumpu pada pendekatan kuantitatif spasial bersifat cross-sectional, dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) sebagai instrumen pengolahannya. Sebaran 51 titik ruang aktivitas komunitas seni rupa diuji secara statistik melalui metode Average Nearest Neighbor (ANN) untuk membuktikan bentuk pola aglomerasi keruangannya. Tingkat aksesibilitas komunitas terhadap simpul transportasi selanjutnya dinilai melalui Buffer Spatial Analysis pada dua ambang batas jarak pejalan kaki, yakni 400 meterv sebagai radius nyaman berjalan kaki dan 800 meter sebagai radius toleransi maksimum. Kedua keluaran tersebut kemudian disintesiskan melalui teknik tumpang susun (overlay) spasial terhadap zonasi Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) eksisting sehingga menghasilkan arahan kebijakan penataan ruang. Pengujian statistik memperlihatkan bahwa 51 komunitas seni rupa tidak membentuk klaster aglomerasi fisik yang mengelompok, melainkan menyebar merata (dispersed) secara signifikan dengan Nearest Neighbor Ratio (R) sebesar 1,155 dan p-value 0,033. Dari sisi aksesibilitas, ketimpangan keruangan terkonfirmasi: sebanyak 43,14% komunitas (22 titik) berstatus terisolasi spasial karena berada di luar radius pelayanan 800 meter dari simpul transit makro. Isolasi ganda tersebut secara spesifik terjadi pada kantong distrik Kemang serta kawasan periferal Jagakarsa dan Pesanggrahan yang justru menaungi mayoritas sanggar seni berbasis budaya lokal. Evaluasi regulasi zonasi turut menunjukkan tidak tersedianya kategori peruntukan spesifik yang melindungi ruang seni mandiri di dalam dokumen pengendalian tata ruang eksisting. Sebagai sintesis, penelitian ini merekomendasikan intervensi tata ruang berbasis konsep Transit-Oriented Creativity (TOC). Arahan kebijakannya mencakup perluasan rute layanan angkutan pengumpan (feeder) MikroTrans/JakLingko menuju kantong komunitas yang terisolasi, disertai penerapan instrumen creative incentive zoning melalui pendayagunaan perangkat Teknik Pengaturan Zonasi, antara lain Zona Bonus dan Zona Pengendalian Pertumbuhan, sebagai perlindungan ruang kreatif aktif dari tekanan konversi komersial. Kontribusi keilmuan studi ini terletak pada upayanya menautkan dua ranah yang selama ini berjalan terpisah dalam Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), yaitu perencanaan sistem transportasi perkotaan dan preservasi ruang budaya. Wacana teoretis creative placemaking (Markusen & Gadwa, 2010) diperkaya, penerapan Teori Aksesibilitas Spasial (Hansen, 1959) diperluas, dan prinsip hak atas kota (Lefebvre, 1968) dioperasionalkan ke dalam kerangka keadilan spasial yang inklusif.
REVITALISASI KAWASAN TAMAN KARTINI TEMANGGUNG BERBASIS KONSEP EDUPARK
Taman kota sebagai RTH publik memiliki peranan penting dalam fungsinya sebagai pendukung ekologis, sosial, rekreasi, dan edukasi masyarakat. Taman Kartini Temanggung merupakan salah satu taman kota di Kabupaten Temanggung yang kini kondisinya menurun atau mengalami penurunan vitalitas akibat menurunnya kualitas dan fungsi taman sehingga taman tidak lagi mampu menjadi ruang publik yang optimal. Penelitian ini memiliki tujuan menyusun rancangan revitalisasi Taman Kartini Temanggung berbasis konsep edupark sebagai upaya menghidupkan kembali vitalitas taman sekaligus mengoptimalkan fungsi rekreasi dan edukasi. Metode penelitian yang dipakai adalah metode kualitatif yang dilakukan menggunakan pendekatan eksploratif deskriptif. Analisis dilakukan melalui empat tahap dalam pemenuhan sasaran yaitu identifikasi faktor-faktor normatif penerapan konsep edupark pada taman kota, identifikasi faktor penyebab penurunan vitalitas kawasan, identifikasi potensi dan permasalahan pengembangan kawasan, serta penyusunan rancangan revitalisasi menggunakan teknik perancangan kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi taman yang didasarkan pada elemen perancangan kota dan faktor penyebab penurunan vitalitas taman dipengaruhi oleh menurunnya kualitas taman secara keseluruhan berdasarkan aspek atau indikator vitalitas kawasan. Berdasarkan hasil analisis yang mempertimbangkan potensi serta masalah yang ada pada taman, dihasilkan rancangan revitalisasi bertema cultural edupark yang mengintegrasikan fungsi rekreasi, edukasi, dan pelestarian budaya lokal melalui penataan zonasi berdasarkan kelompok usia, penyediaan fasilitas ramah anak dan inklusif, optimalisasi ruang terbuka hijau, peningkatan aksesibilitas, penyediaan media edukasi budaya Temanggung, serta penguatan identitas kawasan melalui elemen interpretasi sejarah.
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM BERBASIS MULTIPLEKSER UNTUK PENGUJIAN PCBA SEMI-OTOMATIS
Verifikasi Printed Circuit Board Assembly (PCBA) merupakan proses yang penting untuk memastikan kualitas dan keandalan produk pada sistem elektronik. Di PT Nicslab Global Industry (NGI), proses verifikasi awal saat ini masih dilakukan secara manual menggunakan multimeter digital, sehingga membutuhkan waktu pengujian yang relatif lama dan meningkatkan ketergantungan terhadap tenaga ahli. Makalah ini menyajikan perancangan dan implementasi subsistem kontrol dan pemantauan untuk platform verifikasi PCBA semiotomatis berbasis bed-of-nails. Subsistem yang diusulkan mengintegrasikan fungsi transfer data, unit pemrosesan, dan antarmuka pengguna untuk memungkinkan pemilihan titik uji secara otomatis, akuisisi pengukuran, pemrosesan data, serta visualisasi hasil pengujian. Arsitektur switching berbasis multiplekser digunakan untuk menghubungkan instrumen pengukuran secara dinamis dengan titik uji yang dipilih, sedangkan mikrokontroler mengoordinasikan urutan verifikasi dan mengelola penyimpanan data. Sistem ini mendukung pengukuran kontinuitas dan tegangan melalui subsistem akuisisi data berbasis ADS8689. Evaluasi eksperimental dilakukan menggunakan papan kalibrasi resistansi dan tegangan khusus, dengan hasil pengukuran dibandingkan terhadap multimeter digital Keithley DMM7510. Prosedur kalibrasi diterapkan untuk mengompensasi kesalahan pengukuran sistematis yang disebabkan oleh penguatan dan offset ADC serta resistansi dalam kondisi aktif pada multiplekser. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kalibrasi resistansi berhasil menurunkan nilai mean absolute error dari 120,91? menjadi 0,31? , yang setara dengan peningkatan sebesar 99,75% . Sementara itu, kalibrasi tegangan menurunkan nilai mean absolute error dari 0,1344???? menjadi 0,0559???? , yang setara dengan peningkatan sebesar 58,43%. Selain itu, hasil pengukuran setelah kalibrasi menunjukkan linearitas yang sangat baik dengan nilai ????2 masing-masing sebesar 1,0000 dan 0,9999 untuk pengukuran resistansi dan tegangan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa subsistem yang diusulkan mampu menghasilkan pengukuran yang akurat dan andal untuk digunakan dalam aplikasi verifikasi PCBA otomatis, sekaligus mengurangi kebutuhan terhadap proses pengujian manual.
POLA INTERAKSI SOSIAL DAN PEMANFAATAN RUANG INFORMAL SEBAGAI INFRASTRUKTUR SOSIAL BERDASARKAN TINGKAT URBAN LONELINESS MAHASISWA DI KAMPUS ITB
Fenomena urban loneliness atau kesepian perkotaan semakin mendapat perhatian dalam kajian kesehatan dan pembangunan kota. Data WHO (2025) menunjukkan bahwa kelompok usia muda 13-29 tahun merupakan kelompok yang paling banyak mengalami loneliness secara global, dengan prevalensi 17-21%. Di lingkungan kampus, persoalan ini relevan untuk dikaji karena mahasiswa dapat berada dalam ruang yang padat secara fisik, tetapi tidak selalu merasakan keterhubungan sosial yang bermakna. Dari perspektif Perencanaan Wilayah dan Kota, persoalan tersebut berkaitan dengan fungsi ruang informal kampus sebagai infrastruktur sosial. Penelitian ini mengisi celah kajian dengan menghubungkan urban loneliness mahasiswa dengan pola interaksi sosial dan pemanfaatan ruang informal kampus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola interaksi sosial dan pemanfaatan ruang informal Kampus ITB Ganesha berdasarkan tingkat urban loneliness mahasiswa. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif komparatif dengan mixed method melalui kuesioner UCLA Loneliness Scale versi 3 serta observasi behavior mapping untuk memvalidasi temuan. Responden penelitian berjumlah 102 responden mahasiswa aktif di ITB Ganesha yang menggunakan tiga ruang informal, yaitu Campus Center Timur, Campus Center Barat, dan Beranda 80. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 68,63% mahasiswa berada pada kategori loneliness sedang, dengan rata-rata skor UCLA sebesar 45,14. Pola interaksi didominasi oleh kelompok kecil dalam jaringan sosial yang sudah terbentuk, terutama teman satu jurusan. Pemanfaatan ruang juga masih lebih berorientasi akademik daripada sosial, ditunjukkan oleh rendahnya proporsi interaksi spontan sebesar 7,78%. Temuan ini menunjukkan bahwa intensitas penggunaan ruang tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas keterhubungan sosial yang dirasakan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ruang informal Kampus ITB Ganesha sudah inklusif secara spasial, tetapi belum sepenuhnya inklusif secara sosial. Kebaruan penelitian terletak pada pembacaan fungsi infrastruktur sosial kampus melalui analisis komparatif berdasarkan tingkat urban loneliness mahasiswa, sehingga dapat menjadi dasar pengembangan ruang informal kampus yang lebih peka terhadap variasi kebutuhan sosial mahasiswa.
ANALISIS RISIKO SISTEMIK PASAR SAHAM SYARIAH INDONESIA MENGGUNAKAN METODE HUTAN DARI SELURUH POHON MERENTANG MINIMUM
Pasar saham syariah di Indonesia rentan terhadap risiko sistemik akibat meningkatnya keterkaitan antarsaham yang dapat mempercepat penyebaran guncangan di pasar. Namun, penelitian terdahulu umumnya hanya menganalisis struktur keterkaitan antarsaham atau karakteristik volatilitas secara terpisah sehingga belum memberikan gambaran yang komprehensif mengenai risiko sistemik. Penelitian ini bertujuan mengintegrasikan analisis jaringan dinamis dan pemodelan volatilitas untuk mengidentifikasi penyebaran serta persistensi risiko sistemik pada pasar saham syariah Indonesia. Penelitian menggunakan data harga penutupan harian 45 saham yang tergabung dalam Jakarta Islamic Index (JII) selama periode Desember 2020 hingga November 2024. Jaringan saham dikonstruksi menggunakan metode Hutan dari Seluruh Pohon Merentang Minimum (Forest of All Minimum Spanning Trees/FaMST) berbasis Ultrametrik Subdominan (Subdominant Ultrametric/SDU) dengan teknik jendela geser (sliding window), sedangkan volatilitas saham dianalisis menggunakan model heteroskedastik GARCH dan EGARCH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika keterkaitan antarsaham membentuk tiga kondisi pasar berdasarkan perubahan rerata jarak jaringan. Perubahan tersebut dimodelkan menggunakan ARIMA(1,1,0) untuk menghasilkan proyeksi dinamika keterkaitan antarsaham dalam jangka pendek. Analisis jaringan mengidentifikasi enam saham yang secara konsisten menempati posisi sentral pada lebih dari separuh periode pengamatan, yaitu ANTM, SMGR, ADRO, PTBA, TKIM, dan INDY. Posisi ini menunjukkan bahwa enam saham tersebut memiliki peran penting dalam penyebaran risiko sistemik. Pemodelan volatilitas menunjukkan bahwa lima saham tidak menunjukkan asimetri volatilitas sehingga lebih sesuai dimodelkan menggunakan GARCH(1,1), sedangkan PTBA menunjukkan pola yang berbeda, yaitu kenaikan harga justru memicu volatilitas yang lebih besar dibandingkan penurunan harga dengan besaran yang sama sehingga lebih sesuai dimodelkan menggunakan EGARCH(1,1). Evaluasi persistensi volatilitas menunjukkan bahwa lama bertahan dari pengaruh guncangan terhadap volatilitas berbeda pada setiap saham. ANTM memiliki persistensi volatilitas tertinggi, yaitu sekitar 258 hari perdagangan hingga pengaruh guncangan terhadap volatilitas berkurang menjadi separuhnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sentralitas jaringan dan persistensi volatilitas merupakan dua dimensi risiko yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Sentralitas jaringan menunjukkan potensi suatu saham dalam menyebarkan guncangan kepada saham lain. Adapun persistensi volatilitas menunjukkan lama guncangan tetap bertahan pada saham tersebut. Dengan mempertahankan dua dimensi tersebut secara bersamaan, diperoleh penilaian risiko sistemik yang lebih komprehensif. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengambilan keputusan investasi serta perumusan kebijakan untuk mendukung stabilitas pasar saham syariah di Indonesia.
STRATEGI PENGEMBANGAN PARIWISATA DESA SETIANEGARA DI KABUPATEN KUNINGAN BERDASARKAN KLASIFIKASI DAN KETERCAPAIAN INDIKATOR SEBAGAI DESA WISATA
Seiring dengan kontribusi sektor pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia serta adanya pergeseran tren wisata berbasis alam dan perdesaan, Desa Setianegara di Kabupaten Kuningan mempunyai potensi pengembangan desa wisata. Hal tersebut diperkuat dengan diarahkannya Desa Setianegara untuk menjadi desa wisata dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten (RIPPARKAB) Kuningan 2020-2028. Namun, hingga saat ini belum diketahui klasifikasi desa wisatanya, padahal pengembangan desa wisata seharusnya didasarkan pada klasifikasinya dan memperhatikan prinsip-prinsip desa wisata berkelanjutan agar desa wisata mampu bertahan dalam jangka panjang. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi klasifikasi dan ketercapaian indikator desa wisata di Desa Setianegara untuk menjadi dasar dalam perumusan strategi pengembangannya. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan mixed method. Data dikolektifkan dengan cara observasi, wawancara, dan studi dokumentasi lalu dilakukan analisis dengan analisis skoring, analisis deskriptif kualitatif, analisis gap, analisis SWOT dan IFAS-EFAS. Hasil dari penelitian menunjukkan Desa Setianegara termasuk ke dalam klasifikasi desa wisata berkembang. Hasil identifikasi menunjukkan sebanyak 14 dari 31 sub indikator desa wisata berkembang belum terpenuhi dan sebanyak 18 dari 26 indikator desa wisata berkelanjutan belum terpenuhi sehingga masih terdapat kesenjangan terutama dalam pemenuhan indikator yang sesuai dengan prinsip desa wisata berkelanjutan. Hasil penilaiain IFAS-EFAS menunjukkan Desa Setianegara berada pada kuadran III dengan strategi WO yaitu pemanfaatan peluang untuk menangani kelemahan desa.
KONSTRUKSI PENDANAAN PENSIUN DOSEN PEGAWAI NEGERI SIPIL PADA PERGURUAN TINGGI NEGERI MENGGUNAKAN METODE ENTRY AGE NORMAL BERBASIS MODEL SUKU BUNGA COX-INGERSOLL-ROSS
Penelitian ini bertujuan mengonstruksi pendanaan pensiun dosen Pegawai Negeri Sipil pada perguruan tinggi negeri menggunakan metode Entry Age Normal dengan tingkat suku bunga yang dimodelkan menggunakan Cox–Ingersoll–Ross. Data penelitian terdiri atas 130 dosen PNS aktif, riwayat pengangkatan dan golongan, tabel gaji pokok, tabel mortalitas, serta data suku bunga Bank Indonesia. Perjalanan karier dosen disimulasikan berdasarkan usia masuk, kenaikan golongan, masa kerja, status Guru Besar, dan usia pensiun. Manfaat pensiun dihitung berdasarkan gaji terakhir dan Final Average Salary lima tahun terakhir. Hasil estimasi model CIR menghasilkan parameter ???? sebesar 0,276714, ???? sebesar 0,045655, dan ???? sebesar 0,028501, dengan nilai MAPE sebesar 7,47%. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa pendekatan gaji terakhir umumnya menghasilkan Normal Cost dan Actuarial Liability yang lebih besar daripada pendekatan Final Average Salary. Proyeksi pendanaan periode 2026–2045 menghasilkan nilai Unfunded Actuarial Liability negatif, yang menunjukkan kondisi surplus. Dengan demikian, akumulasi dana yang terbentuk mampu memenuhi kewajiban aktuaria peserta aktif hingga akhir periode proyeksi.
KAJIAN WALKABILITY KAWASAN SEKITAR STASIUN MRT BLOK M DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN KAWASAN TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT (TOD)
Kawasan Transit-Oriented Development (TOD) memerlukan tingkat walkability yang baik agar pejalan kaki dapat mengakses simpul transportasi secara aman dan nyaman. Penelitian ini mengkaji walkability kawasan TOD Stasiun MRT Blok M di Jakarta Selatan menggunakan dua instrumen, yaitu Global Walkability Index (GWI) untuk mengukur kualitas fisik jalur pejalan kaki dan space syntax untuk menganalisis struktur jaringan pergerakan melalui Angular Segment Analysis di DepthmapX. Hasil kedua instrumen diintegrasikan melalui spatial join menjadi empat pola perbandingan, yang dipetakan ke dalam matriks struktur persoalan 3×3 berbasis tipologi design problems dan policy problems. Skor GWI berkisar antara 54 hingga 83 dengan rata-rata kawasan 73,75 (highly walkable). Sebanyak 12 dari 16 segmen masuk kategori highly walkable, sementara 4 segmen masuk kategori waiting to walk. Analisis space syntax menghasilkan empat tipologi, yaitu aksesibel (46,81%) untuk segmen yang mudah dijangkau namun bukan jalur utama, marginal (40,75%) untuk segmen berperan rendah dalam jaringan, dan strategis (12,44%) untuk segmen yang mudah dijangkau dan menjadi jalur lintasan utama, dan bottleneck (0%) untuk segmen jalur utama namun sulit dijangkau. Perbandingan GWI dan space syntax mengidentifikasi dua segmen Mismatch Kritis, yaitu segmen 6 (Jl. Wijaya dan permukiman sekitarnya) dan segmen 9 (area Blok M Square). Kedua segmen tersebut memiliki nilai integration radius 800 meter di atas rata-rata kawasan namun kualitas fisik jalur rendah, dengan skor GWI masing-masing adalah 54 dan 55. Kondisi ini paling merugikan karena pejalan kaki tidak memiliki alternatif selain melewati jalur berkualitas buruk tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi GWI dan space syntax menghasilkan diagnosis walkability yang lebih komprehensif dibandingkan penggunaan satu instrumen secara terpisah. Matriks struktur persoalan menunjukkan bahwa sebagian besar persoalan walkability di kawasan studi bersifat lintas kewenangan serta membutuhkan koordinasi antara beberapa instansi dan pengelola kawasan privat, karena peningkatan walkability tidak dapat dilakukan hanya melalui intervensi fisik, tetapi juga memerlukan sinergi antar pemangku kepentingan.