📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

DESAIN DAN MANUFAKTUR PHANTOM PEMBULUH KORONER JANTUNG UNTUK PELATIHAN TINDAKAN PERCUTANEOUS CORONARY INTERVENTION (PCI)

Penyakit jantung koroner merupakan penyebab kematian tertinggi di dunia, dengan Percutaneous Coronary Intervention (PCI) sebagai salah satu prosedur penanganan utama. Keberhasilan prosedur ini sangat bergantung pada keterampilan operator dalam menavigasi instrumen melalui pembuluh darah yang panjang dan berliku. Oleh karena itu, diperlukan media pelatihan yang mampu merepresentasikan kondisi anatomi dan sifat mekanik pembuluh darah secara realistis, mengingat pelatihan langsung pada pasien memiliki keterbatasan dari aspek etika dan keselamatan. Namun, phantom pembuluh koroner yang tersedia saat ini umumnya masih bersifat kaku atau hanya mereplikasi geometri anatomi. Penelitian ini bertujuan merancang dan memanufaktur phantom pembuluh koroner berbasis Polyvinyl Alcohol Hydrogel (PVA-H) yang mereplikasi anatomi Left Coronary Artery (LCA), Right Coronary Artery (RCA), jalur akses subklavia– aorta, serta geometri stenosis. Phantom difabrikasi menggunakan metode hybrid sacrificial molding dengan inti PVA larut air hasil pencetakan Fused Deposition Modeling (FDM) dan cetakan luar berbahan PLA. Validasi dilakukan terhadap geometri, compliance, dan evaluasi kualitatif oleh dokter spesialis jantung. Hasil menunjukkan sudut bifurkasi LAD–LCx memiliki deviasi sebesar ?3,6% terhadap target desain, sedangkan pola tapering diameter berhasil direplikasi secara konsisten pada seluruh segmen koroner. Nilai compliance sebesar 0,1268±0,0301%/mmHg pada RCA dan 0,1694±0,1929%/mmHg pada LCA berada dalam rentang referensi berbasis IVUS. Geometri stenosis menghasilkan reduksi lumen aktual sebesar 48,4%, yang masih termasuk kategori stenosis intermediate. Evaluasi oleh dokter spesialis jantung menunjukkan kemiripan anatomi yang baik serta mengonfirmasi bahwa area stenosis memiliki kekakuan lebih tinggi dibandingkan segmen pembuluh sehat di sekitarnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa phantom berbasis PVA-H yang dikembangkan mampu mengintegrasikan kompleksitas anatomi, karakteristik mekanik pembuluh darah, dan geometri stenosis dalam satu sistem, sehingga berpotensi menjadi media simulasi dan pelatihan prosedur PCI yang lebih realistis.

2026
👤 Penulis: Amelia Dina Savitri
🏷️ Kardiologi Intervensi 🏷️ Rekayasa Biomodel 🏷️ Hidrogel Biomedis

PENGEMBANGAN METODE MOLDING PHANTOM PEMBULUH DARAH BERBASIS POLYVINYL ALCOHOL - HYDROGEL (PVA - H) MENGGUNAKAN KALSIUM SULFAT DIHIDRAT/CASO4.2H2O (GIPSUM) SEBAGAI SACRIFICIAL CORE

Model tiruan pembuluh darah (phantom) berbasis Polyvinyl Alcohol Hydrogel (PVA-H) banyak digunakan untuk pelatihan bedah, pengembangan alat medis, hingga studi hemodinamika, karena kemiripan sifat mekaniknya dengan jaringan pembuluh darah asli. Salah satu tantangan utama dalam fabrikasi phantom PVA-H adalah pembentukan lumen berongga pada geometri yang bercabang, yang sulit dicapai dengan metode cetakan langsung. Penelitian ini mengembangkan metode sacrificial molding menggunakan gipsum (Kalsium Sulfat Dihidrat/CaSO?·2H?O) sebagai inti cetakan untuk membentuk phantom pembuluh lurus (straight vessel: Abdominal Aorta, Common Iliac, dan Brachialis) serta pembuluh bercabang (bifurcation: sudut 45°, 60°, dan 75°). Tahapan penelitian meliputi pemilihan komposisi gipsum melalui uji waktu pengerasan, uji pelemahan inti, dan uji kekuatan patah, dilanjutkan dengan fabrikasi phantom melalui proses casting dan freeze–thaw PVA-H, kemudian validasi geometri menggunakan Confocal Laser Scanning Microscope (CLSM) untuk ketebalan dinding dan jangka sorong digital untuk diameter dalam lumen. Hasil pengujian menunjukkan bahwa deviasi diameter dalam lumen terhadap desain digital berhasil memenuhi kriteria keberhasilan (<10%), dengan nilai deviasi berkisar 1,22%–8,80% pada seluruh varian yang telah diuji. Sebaliknya, deviasi ketebalan dinding belum memenuhi kriteria tersebut, dengan deviasi 16,20%–23,82% pada varian pembuluh lurus dan 55,84%–101% pada varian bifurkasi, yang diduga disebabkan oleh penyusutan (shrinkage) PVA-H yang tidak seragam selama freeze–thaw serta keterbatasan presisi cetakan inti gipsum bercabang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode sacrificial molding berbasis gipsum layak digunakan untuk membentuk geometri lumen yang presisi, namun memerlukan optimasi lebih lanjut pada pengendalian ketebalan dinding, khususnya untuk geometri bercabang.

2026
👤 Penulis: Yazid Nur Hidayat
🏷️ Phantom Pembuluh Darah 🏷️ Teknik Sacrificial Molding 🏷️ Material Hidrogel Polivinil Alkohol

PERANCANGAN PERBAIKAN ANTARMUKA PERANGKAT LUNAK PENILAIAN POSTUR KERJA DENGAN PENDEKATAN USER-CENTERED DESIGN

Gangguan otot rangka akibat kerja (Work-related Musculoskeletal Disorders/WMSDs) merupakan ancaman kesehatan kerja kronis pada berbagai sektor pekerjaan fisik. Metode penilaian risiko ergonomi konvensional yang observasional rentan subjektivitas dan sulit diterapkan konsisten. Teknologi berbasis sensor wearable dikembangkan untuk menghasilkan pengukuran yang lebih objektif. Kapabilitas teknis semata tidak menjamin pemanfaatan yang optimal. Antarmuka yang tidak dirancang berdasarkan kebutuhan pengguna dapat menghambat pemanfaatan tersebut. Oleh karena itu evaluasi dan perbaikan antarmuka menjadi penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi usabilitas antarmuka existing sebuah perangkat lunak asesmen risiko ergonomi, merancang perbaikan, dan memvalidasi rancangan melalui pendekatan User-Centered Design (UCD). Evaluasi existing melibatkan tujuh partisipan yang memahami keilmuan ergonomi sekaligus berperan sebagai pengguna awam, sehingga temuan mencakup baik pemahaman konseptual maupun kendala pengguna baru. Data kuantitatif diperoleh melalui Task Completion Rate (TCR), Wrong Clicks, Time on Task (ToT), dan System Usability Scale (SUS) untuk mengukur efektivitas, efisiensi, dan kepuasan, sementara data kualitatif diperoleh melalui Retrospective Think Aloud (RTA) untuk menggali alasan di balik temuan kuantitatif tersebut. Perancangan perbaikan dilakukan kolaboratif dan iteratif bersama tim perancang visual hingga dihasilkan prototipe high-fidelity, yang kemudian divalidasi melalui dyadic interview bersama seorang akademisi ergonomi dan praktisi K3. Evaluasi existing menunjukkan bahwa antarmuka membutuhkan perbaikan. Task Completion Rate (TCR) mencapai 100% namun disertai 25 klik keliru. Hal ini menunjukkan keberhasilan tugas dicapai melalui proses coba-coba, bukan karena navigasi mudah dipahami pengguna.. Time on Task (ToT) pada tugas T4 dan T2 masing-masing mencapai 34,77 detik dan 21,09 detik, melampaui ambang 16,24 detik dan menunjukkan kesulitan pengguna menemukan fitur. Skor System Usability Scale (SUS) rata-rata sebesar 52,50. Triangulasi data mengidentifikasi dua akar masalah sistemik, yaitu arsitektur informasi yang tidak mencerminkan model mental pengguna dan sistem pelabelan yang tidak mencerminkan fungsi spesifik elemen. Prototipe high-fidelity yang dirancang kemudian divalidasi melalui dyadic interview yang menunjukkan penerimaan positif dari kedua narasumber dan mengonfirmasi keberhasilan rancangan.

2026
👤 Penulis: M. Derbyanoe Lexa Justicio
🏷️ Ergonomi Postur Kerja 🏷️ Desain Antarmuka Pengguna 🏷️ Usabilitas Perangkat Lunak

PREDIKSI INTERFERENSI DOWNLINK SATELIT LEO TERHADAP TERMINAL GEO PADA PITA KU MENGGUNAKAN BIDIRECTIONAL LSTM

Pertumbuhan pesat konstelasi satelit Low Earth Orbit (LEO) dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatkan potensi interferensi terhadap sistem satelit Geostationary Earth Orbit (GEO), terutama pada pita Ku yang digunakan secara bersama. Hingga tahun 2025 tercatat lebih dari 7.473 satelit LEO aktif di orbit, dengan konstelasi Starlink sebagai kontributor terbesar. Ketika satelit Starlink melintas dekat arah pancar antena terminal GEO seperti Telkom-3S, sinyal downlink-nya dapat menimbulkan interferensi yang direpresentasikan melalui parameter Equivalent Power Flux Density (EPFD), yang batas serta prosedur validasinya diatur dalam regulasi ITU-R. Sebagian besar kajian terdahulu menghitung EPFD melalui pendekatan analitik dan simulasi deterministik untuk konfigurasi geometri tertentu. Pendekatan ini akurat, namun umumnya diterapkan untuk konfigurasi geometri tertentu dan belum menyediakan sarana prediksi EPFD yang berkelanjutan berbasis data historis, dan sejauh ini belum ada penelitian yang memanfaatkan machine learning untuk memprediksi nilai EPFD interferensi downlink LEO-GEO secara kontinu. Kondisi ini menjadi penting karena studi internasional menunjukkan bahwa terminal GEO dapat mengalami hingga ribuan gangguan singkat per hari akibat lintasan konstelasi LEO, sehingga berdampak langsung pada keandalan layanan komunikasi satelit yang masih menjadi tulang punggung konektivitas di wilayah terpencil Indonesia. Tugas akhir ini bertujuan merancang dan merealisasikan sistem prediksi nilai EPFD interferensi downlink satelit LEO terhadap terminal GEO pada pita Ku berbasis machine learning yang akurat dan mampu memprediksi nilai EPFD interferensi secara kontinu. Sistem dibangun dalam tiga subsistem yang saling terintegrasi. Subsistem pertama membangkitkan dataset dengan mempropagasi data Two-Line Element (TLE) menggunakan model SGP4 untuk menghitung parameter geometri, seperti sudut separasi, jarak, dan gain antena off-axis, dari seluruh satelit Starlink yang terlihat dari Stasiun Bumi Klapanunggal. Model gain antena mengacu pada Rekomendasi ITU-R S.1428-1 dan perhitungan EPFD mengikuti Rekomendasi ITU-R S.1503-3. Dataset yang dihasilkan terdiri atas 46.080 baris dengan interval pengambilan sampel 60 detik selama 32 hari pengamatan. Subsistem kedua merupakan model prediksi berbasis arsitektur Bidirectional Long Short-Term Memory (BiLSTM) dengan mekanisme Multi-Head Attention yang dilengkapi 18 fitur, termasuk fitur geometri masa depan hasil propagasi SGP4. Sebagai pembanding digunakan model Random Forest. Subsistem ketiga berupa dashboard berbasis Streamlit yang menampilkan hasil prediksi, status interferensi, grafik, serta fitur ekspor data. Hasil pengujian pada data uji menunjukkan model BiLSTM mencapai nilai RMSE sebesar 0.618 dBW, koefisien determinasi (R-squared) sebesar 0.9754, dan MAPE sebesar 0.30 persen, dengan akurasi penentuan tingkat interferensi tiga kategori sebesar 92.17 persen. Model Random Forest memberikan kinerja yang setara dengan nilai R-squared sebesar 0.9776, sehingga memperkuat bahwa hubungan antara fitur geometri orbit dan EPFD memang dapat dipelajari secara konsisten oleh dua arsitektur yang berbeda. Pengujian pada skenario sistem terintegrasi di luar rentang data pelatihan turut menghasilkan kinerja yang konsisten, yaitu R-squared sebesar 0.9754 dan MAPE sebesar 0.287 persen. Analisis feature importance menunjukkan bahwa fitur-fitur geometri mendominasi kontribusi terhadap prediksi, yang menegaskan bahwa model telah menangkap hubungan fisik yang relevan, bukan sekadar pola temporal harian. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendekatan machine learning mampu memprediksi nilai EPFD interferensi downlink LEO-GEO pada pita Ku secara akurat dan efisien tanpa harus mengulang simulasi fisika yang berat. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengintegrasian propagator orbit deterministik SGP4 dengan model deep learning untuk memprediksi nilai EPFD secara kontinu, bukan sekadar mendeteksi ada atau tidaknya interferensi seperti pada penelitian sebelumnya. Sistem yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi alat bantu pengambilan keputusan bagi operator satelit maupun regulator dalam mengidentifikasi periode kritis interferensi serta merancang langkah mitigasi yang tepat.

2026
👤 Penulis: Nasywa Kamila Rahman
🏷️ Interferensi Satelit Leo-Geo 🏷️ Pembelajaran Mendalam 🏷️ Propagasi Orbit Satelit

KUANTIFIKASI KUALITAS PRODUKSI BIOMASSA SELADA MERAH (LACTUCA SATIVA} L.) MENGGUNAKAN PENCAHAYAAN BUATAN

Sistem plant factory with artificial lighting (PFAL) memungkinkan pengendalian lingkungan secara presisi, di antaranya melalui kontrol spektrum cahaya untuk mengoptimalkan produksi tanaman. Kondisi ini menimbulkan keperluan untuk melakukan pendekatan kuantifikasi kualitas tanaman secara komprehensif terhadap pengaruh perbedaan spektrum cahaya. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh komposisi spektrum cahaya terhadap total akumulasi fitokimia, kualitas visual daun, serta efisiensi penggunaan energi. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan spektrum light emitting diode, yaitu P1 (warm white 3000 K), P2 (neutral white 6000 K), P3 (cool white 8000 K), P4 (rasio merah:biru 1:1), dan P5 (rasio merah:biru 3:1), masing-masing dengan empat ulangan, pada sistem hidroponik deep water culture dalam ruang terkendali. Parameter daily light integral dikontrol konstan sebesar 12 mol m?² hari?¹. Data dikumpulkan melalui pengukuran biomassa, analisis citra digital, serta analisis biokimia, kemudian data dianalisis menggunakan uji ANOVA, uji Tukey’s HSD, serta Kruskal–Wallis dan uji Dunn. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan perlakuan P5 menghasilkan total akumulasi fitokimia tertinggi, yaitu antosianin sebesar 1.77 ± 0.51 mg tanaman?¹, fenol 25.84 ± 7.37 Abs320 nm tanaman?¹, dan vitamin C 0.37 ± 0.11 mg tanaman?¹, serta persentase luasan daun merah sebesar 72.23%. Selain itu, P5 menunjukkan efisiensi penggunaan energi terbaik sebesar 1.06 ± 0.30 mg antosianin kWh?¹. Sebagai simpulan, kombinasi spektrum merah dan biru rasio 3:1 (P5) mampu menghasilkan kualitas biokimia dan visual selada merah dengan efisiensi energi yang tinggi serta relevan untuk diterapkan pada produksi skala industri berbasis PFAL.

2026
👤 Penulis: Rian Albar Insani
🏷️ Plant Factory With Artificial Lighting 🏷️ Optimasi Spektrum Cahaya Tanaman 🏷️ Metabolit Sekunder Tanaman

PENGEMBANGAN ARSITEKTUR PLATFORM DATAOPS DAN MLOPS TERINTEGRASI PADA KUBERNETES DENGAN PEMANFAATAN OPEN SOURCE TOOLS

Penerapan DataOps dan MLOps secara berdampingan masih menghadapi fragmentasi tools dan pemisahan kerja antara tim data dan tim machine learning. DataOps memperkuat kualitas dan kecepatan alur data, sementara MLOps memperkuat keandalan model lifecycle, namun keduanya sering tumbuh terpisah sehingga lineage, deteksi drift, dan feature serving antara mode batch dan streaming tidak konsisten lintas siklus. Berlangganan layanan terkelola memangkas konfigurasi, tetapi biaya operasionalnya tinggi dan menimbulkan keterikatan terhadap satu penyedia. Berdasarkan masalah tersebut, penelitian ini melakukan pengembangan arsitektur platform DataOps dan MLOps terintegrasi pada Kubernetes dengan pemanfaatan open source tools. Metode Design Science Research Methodology (DSRM) dipakai secara berurutan, mulai dari identifikasi masalah, penyusunan tujuan artefak, perancangan, implementasi berbasis GitOps, sampai evaluasi dengan use case pasar aset kripto sebagai kasus verifikasi karena beroperasi tanpa henti dengan distribusi data yang nonstasioner. Rancangan yang dihasilkan menyatukan sembilan layer arsitektur pada satu control plane, mulai dari orchestration and infrastructure sampai security. Pemanfaatan open source tools pada tiap layer ditetapkan melalui penilaian berkriteria agar arsitektur tetap dapat dipakai lintas domain dan tiap tools dapat diganti tanpa mengubah rancangan. Hasil evaluasi menunjukkan keempat tujuan platform terpenuhi secara fungsional dan struktural pada lingkungan node tunggal, mencakup rekonstruksi seluruh komponen dari satu sumber Git, tata kelola otomatis sepanjang pipeline, trigger retraining oleh deteksi drift, serta layanan fitur dual-store dengan kontrak yang konsisten antara training dan inference. Perbandingan biaya tiga opsi penyediaan platform menunjukkan rancangan open source menekan biaya jangka panjang dibanding layanan terkelola. Karakterisasi beban kuantitatif pada cluster multi-node menjadi arah pengembangan lanjutan.

2026
👤 Penulis: Bryan P. Hutagalung
🏷️ Dataops 🏷️ Mlops 🏷️ Arsitektur Sistem Cloud-Native

KUANTIFIKASI PERTUMBUHAN, HASIL BIOMASSA, DAN NERACA MASSA ENERGI BUDIDAYA TANAMAN SELADA (LACTUCA SATIVA L.VAR NEW GRAND RAPIDS) DENGAN MEDIA TANAM BIOCHAR SEKAM PADI DAN PLANT GROWTH-PROMOTING RHIZOBACTERIA (PGPR)

Kawasan perkotaan menghadapi tantangan besar dalam penyediaan pangan segar akibat pesatnya urbanisasi dan semakin terbatasnya lahan produktif. Konsumsi selada hijau di Indonesia meningkat dari 94,8 gram/orang/minggu (2021) menjadi 100,0 gram/orang/minggu (2022), namun produktivitasnya terancam oleh degradasi kualitas tanah perkotaan. Pemanfaatan agen hayati berbasis Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR) dan pembenah tanah biochar sekam padi menjadi solusi potensial yang berkelanjutan untuk mengatasi keterbatasan ini. Penelitian ini mengkaji pengaruh perlakuan media tanam berbasis PGPR dan biochar sekam padi terhadap kuantifikasi pertumbuhan, hasil biomassa, dan neraca massa energi tanaman selada (Lactuca sativa L. var. New Grand Rapids). Penelitian dilaksanakan di Screen House Labtek 1A Kampus ITB Jatinangor pada bulan Oktober 2025 hingga Maret 2026 menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan lima ulangan: P1 (PGPR 15 g/m²), P2 (Biochar sekam padi 900 g/m²), dan P3 (Kombinasi PGPR + Biochar). Data dianalisis menggunakan uji ANOVA satu arah dan uji lanjut Duncan pada taraf signifikansi 5%. Analisis neraca massa nitrogen menunjukkan keseimbangan sistem dengan total input sebesar 3,60 g-N dan total output sebesar 3,60 g-N, nilai akumulasi nitrogen sebesar ?1,65 g-N. Serapan bersih nitrogen oleh sistem tanaman sejalan dengan peran PGPR sebagai bakteri pemacu pertumbuhan melalui mekanisme fiksasi nitrogen biologis. Neraca massa fosfat menunjukkan sistem yang seimbang dengan total input dan output masing-masing sebesar 0,0150 g-P, nilai akumulasi fosfat sebesar ?0,8780 g-P. Neraca massa air menunjukkan keseimbangan sistem yang baik dengan total input sebesar 6.309,50 g-H?O dan total output sebesar 6.309,50 g-H?O, nilai akumulasi air sebesar 0,245 g-H?O.. Populasi bakteri fiksasi N dan pelarut P tertinggi dicapai oleh P3 di seluruh fase pengamatan. Perlakuan PGPR tunggal terbukti sebagai perlakuan paling optimal untuk pertumbuhan dan produksi biomassa selada.

2026
👤 Penulis: Janeeta Faiza
🏷️ Mikrobiologi Pertanian 🏷️ Biochar Pertanian 🏷️ Fisiologi Dan Nutrisi Tanaman

ANALISIS TEKNO-EKONOMI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA TERMAL CSP SOLAR TOWER DENGAN SISTEM PENYIMPANAN ENERGI TERMAL DI KUPANG, NUSA TENGGARA TIMUR

Indonesia menargetkan pencapaian Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 sehingga pengembangan energi terbarukan menjadi salah satu strategi utama dalam mendukung transisi energi nasional. Energi surya memiliki potensi yang sangat besar di Indonesia, namun pembangkit listrik tenaga surya berbasis photovoltaic (PV) memiliki karakteristik intermitensi yang bergantung pada kondisi radiasi matahari dan memerlukan sistem penyimpanan energi untuk meningkatkan keandalannya. Sebagai alternatif, teknologi Concentrated Solar Power (CSP) Solar Tower yang dilengkapi Thermal Energy Storage (TES) mampu menyediakan energi secara lebih stabil dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan teknis dan ekonomi CSP Solar Tower di Kupang, Nusa Tenggara Timur, membandingkannya dengan sistem PV-Battery Energy Storage System (BESS), serta mengevaluasi dampaknya terhadap sistem kelistrikan PLN NTT. Penelitian dilakukan dengan merancang CSP Solar Tower berkapasitas 50 MWe menggunakan SolarPILOT untuk optimasi heliostat field dan System Advisor Model (SAM) untuk simulasi kinerja tahunan serta analisis ekonomi dengan variasi solar multiple (SM) dan durasi TES. Selanjutnya, analisis aliran daya (load flow), simulasi quasi dynamic, dan simulasi stabilitas dinamis RMS dilakukan menggunakan DIgSILENT PowerFactory untuk mengevaluasi pengaruh integrasi pembangkit terhadap sistem kelistrikan NTT. Hasil penelitian berdasarkan simulasi tahunan menunjukkan bahwa konfigurasi optimum sistem diperoleh pada SM 2,6 dengan tinggi tower 150 m, radius maksimum 1.050 m, dan durasi TES 8 jam menghasilkan energi listrik tahunan sebesar 216,93 GWh dengan capacity factor 50,5%. Konfigurasi ini menghasilkan LCOE sebesar 11,25 ¢/kWh dengan CAPEX USD 346 juta, NPV USD 31,1 juta, IRR 12%, dan PPA sebesar 15,63 ¢/kWh. Hasil perbandingan menunjukkan bahwa PV+BESS memiliki LCOE lebih rendah pada penyimpanan jangka pendek (<4 jam), sedangkan CSP+TES lebih kompetitif untuk kebutuhan penyimpanan energi jangka panjang (>4 jam). Analisis sistem tenaga menunjukkan bahwa pada skenario kehilangan pembangkit CSP secara tiba-tiba (instant power loss), sistem masih dapat dipertahankan oleh PLTU Timor 1–2. Namun, kondisi tersebut ii menyebabkan penurunan frekuensi hingga 47,82 Hz, kenaikan tegangan sampai 153,7 kV, serta memerlukan pelepasan beban (load shedding) akibat keterbatasan sistem kelistrikan NTT. Sedangkan pada skenario penurunan daya CSP secara bertahap (50% dalam waktu 15 detik), sistem masih mampu mempertahankan stabilitas dengan frekuensi minimum sebesar 49,29 Hz dan tegangan maksimum sebesar 154 kV, sistem masih mampu mempertahankan kestabilan tanpa pelepasan beban dengan beroperasinya PLTU Timor 1-2 untuk memenuhi kebutuhan beban sistem. Pengoperasian CSP Solar Tower secara penuh sebagai pengganti pembangkit PLTU berbahan bakar fosil berpotensi menurunkan emisi CO? sistem kelistrikan NTT sebesar 151,9 ribu ton CO? per tahun, sehingga dapat mendukung pencapaian target Net Zero Emission (NZE) Indonesia.

2026
👤 Penulis: Yanuar Rizal Eka S B
🏷️ Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terkonsentrasi 🏷️ Penyimpanan Energi Termal 🏷️ Stabilitas Sistem Tenaga Listrik

ANALISIS TEKNO-EKONOMI CO-FIRING HIDROGEN PADA TURBIN GAS PLTGU PRIOK BLOK 1-2

Hidrogen dipandang sebagai salah satu sumber energi alternatif ramah lingkungan untuk bisa menurunkan emisi karbon pada sistem pembangkit listrik. Salah satu metode pemanfaatan hidrogen adalah melalui skema co-firing dengan gas alam yang dilakukan pada pembangkit listrik eksisting. Namun di sisi lain, pencampuran hidrogen yang memiliki karakteristik berbeda dengan gas alam dapat memengaruhi batas operasi dan sisi keekonomian pembangkit listrik sehingga memerlukan kajian lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh co-firing gas alam - hidrogen terhadap kinerja teknis dan keekonomian pada PLTGU Priok Blok 1-2 dengan membandingkan pendekatan pencampuran berbasis massa dan molar pada massa alir bahan bakar tetap. Pada kedua pendekatan, massa alir bahan bakar dipertahankan tetap sebagai variabel kontrol untuk mengevaluasi pengaruh perubahan kualitas energi akibat penambahan hidrogen. Simulasi dilakukan menggunakan perangkat lunak Aspen HYSYS v15 pada variasi rasio hidrogen 0- 100% pada kondisi beban penuh turbin gas yaitu 130 MW. Analisis penelitian mencakup Lower Heating Value (LHV), Temperature Inlet Turbine (TIT), Temperature After Turbine (TAT), daya pembangkit, Specific Fuel Consumption (SFC), emisi CO2, dan biaya produksi listrik yang dinyatakan dalam Biaya Pokok Produksi (BPP). Model simulasi terlebih dahulu divalidasi menggunakan data commissioning pada kondisi beban 100% dengan deviasi hasil simulasi terhadap data aktual masih berada di bawah 10%. Validasi tersebut menunjukkan bahwa model mampu merepresentasikan kondisi operasi aktual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan rasio hidrogen meningkatkan LHV, TIT, TAT, dan daya pembangkit serta menurunkan emisi CO2 dan SFC dari pembangkit. Pada pencampuran berbasis massa dengan massa alir bahan bakar 8,193 kg/s, penambahan hidrogen 5% menghasilkan TAT sebesar 562 °C yang mendekati batas operasi turbin gas 565 °C, sedangkan pada pencampuran berbasis molar TAT hanya mencapai 535,2 °C. Berdasarkan batas TAT tersebut, rasio hidrogen maksimum pada massa alir bahan bakar tetap adalah sekitar 5% untuk basis massa dan 30% untuk basis molar mengikuti batasan operasi TAT. Peningkatan rasio hidrogen juga meningkatkan daya turbin uap karena kenaikan temperatur dan energi gas buang meningkatkan perpindahan panas pada (Heat Recovery Steam Generator) HRSG serta energi uap yang masuk ke turbin uap. ii Untuk memungkinkan penggunaan hidrogen yang lebih tinggi tanpa melampaui batas operasi, massa alir bahan bakar yang masuk ke dalam turbin gas perlu diturunkan dari 8,193 kg/s menjadi 3,210 kg/s pada kondisi 100% hidrogen. Dari sisi ekonomi, biaya produksi listrik berbasis hidrogen masih lebih tinggi dibandingkan dengan gas alam. BPP meningkat dari Rp1.960,45/kWh pada penggunaan 100% gas alam lalu meningkat menjadi Rp11.864,46/kWh pada skenario penggunaan 100% green hydrogen. Dengan menggunakan estimasi harga hidrogen pada tahun 2050 dan didukung dengan insentif karbon yang memadai, harga BPP turun menjadi Rp2.829,50/kWh. Oleh karena itu, prospek penerapan bahan bakar hidrogen perlu mempertimbangkan penurunan harga hidrogen, dukungan insentif karbon, dan pertimbangan dari usia operasi pembangkit. Analisis sensitivitas ekonomi juga menunjukkan bahwa biaya bahan bakar yang masuk dalam komponen Operational Expenditure (OPEX) merupakan komponen yang paling signifikan dalam menentukan BPP listrik. Secara keseluruhan, hasil penelitian menegaskan bahwa pemilihan basis pencampuran berpengaruh langsung terhadap batas rasio hidrogen dan kinerja pembangkit. Penerapan co-firing hidrogen pada PLTGU eksisting secara teknis memungkinkan dalam batas operasi tertentu, tetapi kelayakan implementasinya sangat bergantung pada strategi pengaturan massa alir bahan bakar, penurunan harga hidrogen, dukungan insentif karbon, serta sisa usia operasi pembangkit.

2026
👤 Penulis: Ikhe Athifiyah Syah Putra
🏷️ Co-Firing Hidrogen 🏷️ Termodinamika Turbin Gas 🏷️ Ekonomi Energi

PENGEMBANGAN MODEL TRANSFORMER DAN N-GRAM UNTUK PENGENALAN BAHASA ISYARAT INDONESIA BERKELANJUTAN BERBASIS POSE

Pengenalan Bahasa Isyarat Indonesia, khususnya Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI), pada tingkat kalimat masih terhambat oleh keterbatasan dataset kontinu yang merepresentasikan kondisi visual dunia nyata serta oleh dekoding berbasis Connectionist Temporal Classification (CTC) yang tidak memodelkan ketergantungan linguistik antar-gloss. Penelitian ini membangun dataset SIBI kontinu tingkat kalimat (Cicendo) dengan variasi latar belakang dan mengimplementasikan arsitektur Transformer berbasis pose yang dilatih dengan CTC untuk tugas Sign-to-Gloss. Masukan model berupa fitur pose 177 dimensi per frame hasil ekstraksi keypoints MediaPipe, bukan piksel mentah. Sebagai kontribusi utama, tahap dekoding ditambahkan komponen linguistik berupa rescoring trigram n-gram language model atas daftar N-best hasil beam search—sebuah teknik yang diadaptasi dari bidang Automatic Speech Recognition—tanpa melatih ulang jaringan visual. Evaluasi dilakukan secara signer-independent pada tiga dataset: Cicendo, SIBI Darmawan, dan PHOENIX- 2014T. Model usulan secara konsisten mencapai Word Error Rate (WER) terendah, yaitu 2,33% pada Cicendo, 0,97% pada SIBI Darmawan, dan 54,91% pada PHOENIX-2014T. Rescoring language model terbukti menurunkan WER pada setiap pengujian, dengan penurunan relatif terhadap beam search mencapai 61,0% pada Cicendo dan 49,1% pada SIBI Darmawan, namun hanya 3,6% pada PHOENIX-2014T yang berkosakata besar. Analisis kesalahan mengungkap bahwa rendahnya WER pada kedua dataset SIBI sebagian disebabkan keterbatasan variasi kalimat sehingga model cenderung menghafal pola kalimat, sedangkan PHOENIX-2014T memperlihatkan pengenalan per-gloss yang sesungguhnya. Hasil ini menunjukkan efektivitas integrasi n-gram language model pada dekoding CTC Transformer berbasis pose sekaligus arah perbaikan berupa pengayaan variasi kalimat dataset SIBI.

2026
👤 Penulis: Yusuf Ardian Sandi
🏷️ Pengenalan Bahasa Isyarat Indonesia 🏷️ Arsitektur Transformer 🏷️ Pemodelan Bahasa N-Gram

KUANTIFIKASI PERTUMBUHAN, HASIL BIOMASSA, DAN NERACA AIR, NITROGEN, DAN FOSFOR BUDIDAYA TANAMAN SAWI HIJAU ( BRASSICA JUNCEA L. ) DENGAN MEDIA TANAM BIOCHAR SEKAM PADI DAN PLANT GROWTH PROMOTING RHIZOBACTERIA (PGPR)

Indonesia mengalami peningkatan jumlah penduduk yang berdampak pada lonjakan permintaan pangan. Rata-rata konsumsi sawi hijau per kapita pada tahun 2023 stabil di angka 1,511 kg/tahun. Namun, tingginya permintaan tidak diimbangi dengan stabilitas produksi, terbukti dari penurunan produksi nasional dari 760.608 ton pada tahun 2022 menjadi 538.000 ton pada tahun 2023, padahal luas panen meningkat menjadi 8,02 juta hektar. Salah satu cara mengatasi inefisiensi produksi ini adalah pemanfaatan rekayasa media tanam. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan kuantitas pertumbuhan, hasil biomassa, dan neraca massa energi budidaya sawi hijau ( Brassica juncea L.) dengan penambahan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dan biochar sekam padi. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga perlakuan, yaitu PGPR (15 g/m²), biochar sekam padi (900 g/m²), dan kombinasinya, dengan 6 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan berpengaruh nyata dengan penambahan biochar tunggal maupun kombinasi dengan PGPR memacu tinggi tanaman (12,47 cm dan 12,75 cm) di 4 MST dan kadar klorofil relatif yang lebih tinggi dibandingkan PGPR tunggal. Perlakuan biochar tunggal memberikan hasil terbaik pada parameter jumlah daun dan akumulasi biomassa (bobot segar 5,22 g; bobot kering 0,81 g). Secara efisiensi neraca massa, biochar tunggal menjadi sistem paling efisien dengan serapan aktual biomassa tercatat, yakni 4,41 g-H?O, 0,0030 g-N, dan 0,0003 g-P. Walaupun pengaruhnya belum mendominasi seluruh parameter pertumbuhan, kapasitas biochar dalam meningkatkan retensi hara di media tanam menjadikan perlakuan ini sebagai yang terbaik secara efisiensi neraca massa. Penelitian menyimpulkan bahwa meskipun perlakuan belum memberikan pengaruh dominan pada seluruh parameter hasil, aplikasi Biochar menunjukkan hasil data terbaik dibandingkan perlakuan lainnya.

2026
👤 Penulis: Erica Nadia Putrie
🏷️ Hortikultura Sayuran 🏷️ Biochar 🏷️ Neraca Hara Tanaman

PRODUKSI LOGAM TANAH JARANG NEODIMIUM DARI ND_2O_3 MENGGUNAKAN HYDROGEN PLASMA SMELTING REDUCTION (HPSR)

Kebutuhan global neodimium (Nd) sebagai bahan baku utama magnet permanen meningkat dari tahun ke tahun. Kebutuhan magnet permanen diproyeksikan meningkat sebesar 95% pada tahun 2050 seiring dengan meningkatnya produksi kendaraan listrik dan berlangsungnya transisi energi berkelanjutan. Satu megawatt turbin tenaga bayu membutuhkan sekitar 145 kg-160 kg Nd, sedangkan satu motor kendaraan listrik membutuhkan sekitar 0,58-1,6 kg Nd. Namun, proses yang digunakan saat ini di industri untuk produksi Nd dapat menghasilkan perfluorocarbon (PFC) yang setara dengan 700 kg CO2-eq/kg produksi Nd. Proses fluorinasi juga memerlukan gas HF yang bersifat toksik dan korosif sehingga menimbulkan risiko keselamatan serta permasalahan lingkungan. Oleh karena itu, hydrogen plasma smelting reduction (HPSR) berpotensi menjadi solusi ideal berkat sifat nol karbonnya. Produk samping hasil reduksi menggunakan HPSR berupa berupa uap air (H2O) sehingga tidak menghasilkan emisi terhadap lingkungan. Serangkaian proses percobaan diawali dengan karakterisasi awal serbuk Nd2O3 menggunakan X-ray diffraction (XRD) sebagai validasi fasa Nd2O3. Proses reduksi dilakukan di dalam reaktor HPSR dengan variasi waktu reduksi 2, 4 dan 6 menit serta jumlah gas H2 sebanyak 80% terhadap Ar (total laju alir 5 liter/menit). Sampel hasil reduksi langsung disimpan dalam botol kaca 20 ml yang sudah diisi minyak parafin supaya sampel tidak teroksidasi sebelum analisis dilakukan. Analisis dilakukan dengan menggunakan scanning electron microscope-energy dispersive spectroscopy (SEM-EDS) dan electron probe micro-analyzer (EPMA) untuk data kuantitatif dan pemetaan unsur. Hasil percobaan menunjukkan peningkatan waktu reduksi menaikkan kehilangan berat sampel hingga 44,74% sekaligus meningkatkan derajat reduksi. Berdasarkan analisis SEM-EDS pada 2, 4 dan 6 menit, didapatkan kadar Nd dengan preparasi mounting secara berturut-turut sebesar 92,15%, 98,44% dan 99,16% dan tanpa preparasi mounting sebesar 93,31%, 97,49% dan 97,98%. Selain itu, persentase penghilangan oksigen pada 2, 4 dan 6 menit didapatkan secara berturut-turut sebesar 62,18%, 93,28% dan 96,76% serta jumlah Nd yang tervolatilisasi sebesar 26,17%, 29,39% dan 36,08%. Analisis EPMA dilakukan pada variasi waktu reduksi 2 menit dan 4 menit untuk memvalidasi hasil analisis SEM-EDS. Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar Nd berturut-turut mencapai 90,72% dan 97,36%.

2026
👤 Penulis: Deaz Rezaldi Taufik
🏷️ Metalurgi Neodimium 🏷️ Reduksi Plasma Hidrogen 🏷️ Karakterisasi Material Maju

ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN FASA CO2 SELAMA DEKOMPRESI TERHADAP PENURUNAN KETANGGUHAN DAN PERAMBATAN RETAK MATERIAL API 5L X65 AKIBAT DUCTILE-TO-BRITTLE TRANSITION TEMPERATURE PADA PIPELINE CO2 DENSE PHASE

Pengembangan Carbon Capture and Storage (CCS) meningkatkan kebutuhan sistem transportasi CO? berkapasitas besar yang aman dan andal. Pada kondisi dense-phase atau supercritical, dekompresi akibat kebocoran dapat menyebabkan perubahan fasa CO?, penurunan temperatur yang signifikan, serta menurunkan ketangguhan material sehingga meningkatkan risiko ductile-to-brittle transition (DBTT), Leak Before Break (LBB), dan Running Ductile Fracture (RDF). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh penurunan ketangguhan material akibat DBTT terhadap integritas fraktur pipeline CO? dense-phase berbahan API 5L X65. Penelitian dilakukan menggunakan data desain dan kondisi operasi sistem transportasi CO? serta pengujian impak Charpy V-Notch pada berbagai temperatur. Ketebalan minimum pipeline dihitung berdasarkan SNI 3473 dan SNI 3474 kemudian diverifikasi menggunakan DNV-ST-F101. Nilai energi impak kemudian dikonversi menjadi fracture toughness untuk evaluasi Failure Assessment Diagram (FAD) berdasarkan BS 7910. Analisis Leak Before Break (LBB) dilakukan pada berbagai geometri retak, sedangkan evaluasi kemampuan penghentian propagasi retak dilakukan menggunakan kurva hubungan Rf-R?. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan temperatur menurunkan fracture toughness API 5L X65 seamless dari 214,3 menjadi 59,2 MPa.m1/2 dan API 5L X65 rolled dari 123,38 menjadi 13,55 MPa.m1/2. Evaluasi FAD menunjukkan pipeline masih memenuhi kriteria BS 7910 pada kondisi existing flaw. Pada kondisi limiting flaw, energi impak Charpy minimum agar pipeline tetap memenuhi kriteria penerimaan adalah 26 J untuk Section A dan 27 J untuk Section B. Analisis LBB menunjukkan bahwa seluruh geometri retak pada daerah upper shelf memenuhi kriteria LBB pada kondisi existing flaw, sedangkan pada kondisi limiting flaw hanya geometri retak tertentu yang masih memenuhi kriteria tersebut. Evaluasi kurva hubungan Rf–R? menunjukkan bahwa penurunan ketangguhan material menggeser kondisi menuju wilayah tidak pasti dan wilayah propagasi retak, dengan kebutuhan energi impak Charpy minimum sebesar 117,99 J berdasarkan DNV RPF104 sebagai kriteria paling konservatif.

2026
👤 Penulis: Zulfikar Saifuddin
🏷️ Mekanika Fraktur Baja Pipa 🏷️ Dekompresi Karbon Dioksida Fase Padat 🏷️ Evaluasi Integritas Pipa Karbon Dioksida

STUDI PENGARUH VARIASI WAKTU PEMANASAN RAPID TEMPERING PADA RAPID HEAT TREATMENT TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN STRUKTUR MIKRO BAJA JIS S50C

Industri baja merupakan penyumbang emisi karbon global yang signifikan. Salah satu cara tidak langsung untuk menekan emisi ini adalah dengan meningkatkan sifat mekanis baja agar umur pakainya lebih panjang sehingga mengurangi permintaan produksi baru. Akan tetapi, metode perlakuan panas konvensional memakan waktu proses yang relatif lama dan energi dalam jumlah relatif besar. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek perlakuan panas cepat, khususnya waktu pemanasan tempering terhadap struktur mikro dan sifat mekanis baja karbon menengah JIS S50C, serta membandingkannya dengan metode konvensional. Penelitian dilakukan melalui proses austenisasi yang diikuti tempering menggunakan dua metode, yaitu konvensional dan rapid. Proses rapid heat treatment dilakukan menggunakan induction heating, sedangkan perlakuan panas konvensional menggunakan muffle furnace. Tempering konvensional dilakukan pada temperatur 200, 400, dan 600 °C, sedangkan rapid tempering dilakukan dengan waktu pemanasan 4, 7, dan 10 detik pada temperatur puncak yang serupa dengan tempering konvensional. Seluruh spesimen kemudian dikarakterisasi melalui pengujian kekerasan Vickers, pengujian impak Charpy, pengamatan struktur mikro menggunakan optical microscope (OM) dan scanning electron microscope (SEM), serta analisis fraktografi menggunakan SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh variasi rapid tempering menghasilkan kekerasan yang lebih tinggi dibandingkan metode konvensional, sedangkan ketangguhan impak yang paling tinggi diperoleh dari metode konvensional. Kekerasan tertinggi setelah tempering diperoleh pada rapid tempering dengan waktu pemanasan 4 detik, yaitu sebesar 668 HV dengan ketangguhan impak 9,80 J/cm². Sebaliknya, ketangguhan impak tertinggi diperoleh pada tempering konvensional 600 °C, yaitu sebesar 86,71 J/cm² dengan kekerasan 253 HV. Pengamatan struktur mikro menunjukkan bahwa rapid tempering mampu mempertahankan martensit dari proses dekomposisi serta menghasilkan presipitasi karbida yang lebih halus dibandingkan metode konvensional. Hasil tersebut menunjukkan bahwa rapid tempering berpotensi menghasilkan peningkatan kombinasi sifat mekanik dengan waktu proses yang lebih singkat dan konsumsi energi yang lebih rendah dibandingkan tempering konvensional.

2026
👤 Penulis: Nathanael A. W. S.
🏷️ Perlakuan Panas Cepat Baja 🏷️ Metalurgi Fisik Baja

PERHITUNGAN PELUANG RUIN BPJS KETENAGAKERJAAN MENGGUNAKAN MONTE CARLO BERBASIS MODEL SURPLUS SYARIAH

BPJS Ketenagakerjaan sebagai Badan Penyelenggara program Jaminan Sosial di Indonesia memiliki peran krusial dalam menjaga stabilitas ekonomi pekerja, sehingga evaluasi solvabilitas programnya menjadi sangat vital. Kendati demikian, kajian akademis mengenai risiko kebangkrutan pada BPJS Ketenagakerjaan ini masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini akan memberikan usulan model-model arus kas untuk Dana Jaminan Sosial (DJS) pada BPJS Ketenagakerjaan dari kelima program yang ada lalu menganalisis peluang kebangkrutannya (peluang ruin), dengan skema dana talangan pemerintah. Adapun pemodelan arus kas dalam penelitian ini mengadaptasi struktur model surplus asuransi syariah (Hybrid-Takaful), yang pada dasarnya memisahkan akun surplus, investasi, dan akun Qard Hasan sebagai representasi dari dana talangan pemerintah. Metode Monte Carlo kemudian dipilih untuk mengestimasi peluang ruin, dengan validasi terhadap solusi analitik dari model Cram´er-Lundberg yang terbukti konvergen. Dari penelitian ini, dapat terlihat dampak dana talangan, kenaikan kontribusi peserta, dan performa investasi sebagai pilihan mitigasi risiko kebangkrutan. Hasil simulasi juga menunjukkan bahwa mitigasi yang bersifat struktural seperti kenaikan premi program atau performa investasi dapat dipilih untuk mencegah kebangkrutan (insolvency) pada jangka panjang.

2026
👤 Penulis: Muhamad Lutfi Annilah
🏷️ Aktuaria Jaminan Sosial 🏷️ Aktuaria Syariah 🏷️ Simulasi Monte Carlo
Halaman 8 dari 6754
💬