📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPENGARUH PERILAKU KONSUMEN PADA PENGADAAN SUKU CADANG AFTERMARKET DAN NON-ORISINAL PADA INDUSTRI ALAT BERAT DAN PERTAMBANGAN DI INDONESIA
Kerusakan pada alat berat dalam operasi pertambangan akan berdampak pada biaya ribuan dolar per jam, terlepas dari perbaikan terjadwal atau yang tidak terjadwal. Lokasi yang terpencil membuat logistic dan rantai pasokan menjadi tantangan tersendiri. Kualitas perawatan, peramalan, kondisi lingkungan, ketersediaan anggaran, sifat pembayaran, kemampuan vendor, dan penyebaran lokasi terpencil merupakan tantangan lain dalam mengelola inventori dalam bisnis pertambangan. Dalam situasi lain, tekanan untuk selalu beroperasi dengan biaya yang efisien wajib dilakukan untuk dapat bertahan di operasional, dan situasi ini mendorong beberapa strategi guna mengurangi biaya konsumsi suku cadang. Oleh karena itu, memastikan ketersediaan suku cadang sangat strategis. Sementara produsen peralatan asli (OEM) secara alami mendominasi ruang ini, banyak merek purnajual telah muncul, menjanjikan masa pakai yang diharapkan, kualitas kinerja yang serupa dengan barang asli dengan harga lebih rendah, Terutama, setelah lepas masa garansinya. Studi ini menyelidiki bagaimana perilaku konsumen B2B yang memengaruhi niat untuk membeli suku cadang purnajual dan non-asli untuk armada alat berat di pertambangan. Berdasarkan teori perilaku terencana seperti risiko downtime yang dirasakan, sensitivitas total biaya kepemilikan (TCO), dan kualitas hubungan pemasok, penelitian ini mempertanyakan faktor kontrol apa yang paling kuat memengaruhi niat pengadaan, antara preferensi asli dan non-asli, dan faktor apa yang memengaruhi keinginan pengadaan untuk beralih ke merek non-asli atau purnajual. Memahami keinginan dan alasan di balik keputusan tersebut akan bermanfaat bagi industri dalam rangka mempersiapkan strategi keterlibatan yang tepat dan penetrasi pasar, serta mengelompokkan perusahaan berdasarkan niat tersebut.
MENGOPTIMALKAN PRAKTIK MANAJEMEN TALENTA: STUDI KASUS KANTOR PUSAT PT X PADA SEKTOR KEHUTANAN INDONESIA
PT X merupakan perusahaan kehutanan yang menghadapi tantangan dalam pengelolaan talenta akibat keterbatasan sumber daya manusia, luasnya wilayah operasional, dan kebutuhan regenerasi kepemimpinan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk sekaligus mengidentifikasi tantangan utama pada sistem manajemen talenta di PT X, menganalisis akar penyebab tantangan utama, dan merumuskan rekomendasi perbaikan berbasis keadilan organisasi. Pendekatan dan metode yang digunakan dalam melakukan penelitian adalah pendekatan kualitatif dan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan sebelas narasumber dari berbagai tingkatan organisasi serta analisis dokumen internal perusahaan. Analisis yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidaksetaraan struktural dalam proses rekrutmen, mobilitas karier, pengembangan karyawan, promosi, dan perencanaan suksesi. Situasi ini dapat menimbulkan ketidaksetaraan dalam peluang kemajuan karier dan berpotensi mengganggu jalur pengembangan karier. Penelitian menemukan bahwa akar penyebab berbagai permasalahan ini adalah karena tidak adanya Human Resource Information System (HRIS) yang terintegrasi yang menghambat pengelolaan data, pengembangan karyawan, dan pengambilan keputusan sumber daya manusia secara sistematis. Sebagai solusi, penelitian ini mengusulkan pengembangan sistem manajemen talenta berbasis keadilan melalui implementasi HRIS terintegrasi, penyusunan jalur karier yang terstruktur, dan peningkatan transparansi dalam pengelolaan talenta. Rekomendasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan keadilan organisasi, memperkuat mobilitas karier, dan mendukung keberlanjutan sumber daya manusia di PT X.
MENINGKATKAN UTILISASI ASET UNTUK PRODUKSI OVERBURDEN MELALUI PENDEKATAN LEAN SIX SIGMA: STUDI KASUS PADA PT MINING CONTRACTOR SITE X4
Pada saat yang bersamaan, industri batubara global mencatat permintaan tertinggi sepanjang sejarah pada tahun 2025, sementara para produsen Indonesia menghadapi tekanan akibat penurunan harga batubara pada pasar acuan. Dalam kondisi ini, kemampuan operasi pertambangan batubara terbuka untuk beroperasi secara efisien menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlangsungan operasi yang menguntungkan. Sepanjang tahun anggaran 2025, PT Mining Contractor mencatat kinerja produksi di bawah target pada Site X4. Realisasi produksi overburden tercatat sebesar 76.326.326 bank cubic meter, sementara target yang direncanakan adalah 98.494.361 bank cubic meter, sehingga terdapat selisih sebesar 22.168.035 bank cubic meter dari target dan estimasi pendapatan yang tidak terealisasi sebesar USD 58.966.973. Selisih ini terutama disebabkan oleh inefisiensi operasional yang menghambat pencapaian target Jam Kerja Efektif. Penelitian ini menerapkan kerangka Lean Six Sigma Define-Measure-Analyze untuk mengidentifikasi akar penyebab dan menyusun rencana perbaikan yang terprioritasi. Analisis Pareto, analisis word cloud, dan Focus Group Discussion (FGD) bersama pemangku kepentingan utama digunakan untuk menganalisis data Fleet Management System. Ditemukan delapan Undesirable Effects pada tiga subsistem operasional. Kedelapan inisiatif perbaikan tersebut dikonsolidasikan menjadi empat skenario implementasi dan diprioritaskan menggunakan Analytical Hierarchy Process. Penilaian risiko pra-implementasi dilakukan dan mengidentifikasi 15 risiko yang dapat dikelola. Dengan asumsi yang paling konservatif, implementasi ini diproyeksikan dapat memulihkan 8.428.226 bank cubic meter dan USD 22.427.510, setara dengan 38 persen dari kerugian peluang pada tahun anggaran 2025.
EFEKTIVITAS KOMUNIKASI DAN KESADARAN PUBLIK DI LEMBAGA PENGAWASAN PUBLIK: STUDI KASUS OMBUDSMAN INDONESIA
Pengawasan layanan publik tetap menjadi tantangan krusial di Indonesia, di mana rendahnya literasi kelembagaan terus menghambat kemampuan masyarakat untuk mengakses mekanisme pengaduan. Ombudsman Republik Indonesia (ORI) lembaga negara independen yang diberi mandat untuk mengawasi layanan publik dan menangani pengaduan maladministrasi masih kurang dikenal luas oleh masyarakat; hanya 34% penduduk Indonesia yang mengetahui keberadaan dan fungsinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh saluran Komunikasi Pemasaran Terpadu (IMC) terhadap kesadaran masyarakat mengenai Ombudsman serta menganalisis bagaimana kesadaran tersebut mendorong keterlibatan publik, dengan tujuan akhir merekomendasikan strategi komunikasi yang optimal bagi lembaga tersebut. Dengan menggunakan pendekatan metode campuran (mixed-methods), data kuantitatif dikumpulkan melalui survei terstruktur terhadap 248 responden di Jakarta dan Bandung serta dianalisis menggunakan metode PLS-SEM dengan perangkat lunak SmartPLS 4.0. Sementara itu, data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dengan Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan TI ORI dan divalidasi melalui triangulasi dengan hasil kuantitatif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pemasaran digital (? = 0,362) memberikan pengaruh signifikan terkuat terhadap kesadaran masyarakat, diikuti oleh hubungan masyarakat (? = 0,228) dan pemasaran langsung (? = 0,190), sedangkan periklanan dan penjualan personal tidak menunjukkan dampak yang signifikan. Kesadaran masyarakat juga terbukti memiliki pengaruh positif yang kuat terhadap keterlibatan publik (? = 0,586, R² = 0,352). Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan tiga pilar strategis: optimalisasi konten digital yang menyasar segmen usia produktif melalui Instagram dan TikTok; perluasan kemitraan kelembagaan dan program hubungan masyarakat yang terstruktur; serta integrasi saluran pengaduan yang sebelumnya terfragmentasi menjadi satu titik akses terpadu guna mengurangi hambatan partisipasi publik.
ANALISIS ORGANISASIONAL TERHADAP KOMUNIKASI INTERNAL DAN KEPEMIMPINAN INKLUSIF DALAM KAITANNYA DENGAN KINERJA KARYAWAN: STUDI KASUS PADA PT SSC
Sektor manufactor Indonesia tetap menjadi salah satu kontributor utama terhadap output nasional dan penyerapan tenaga kerja. Namun, daya saing sektor ini semakin bergantung tidak hanya pada skala produksi, tetapi juga pada bagaimana organisasi mengelola komunikasi, kepemimpinan, dan pelaksanaan kerja sehari hari. Dalam konteks tersebut, PT SSC, perusahaan manufaktur seat cover dengan investasi Jepang, berhasil mencapai lebih dari 100% target penjualan pada tahun 2024. Namun, pencapaian komersial ini belum sepenuhnya tercermin dalam hasil produksi harian. Pada tahun 2025, produktivitas produksi rata-rata berada pada kisaran 93% hingga 94% dibandingkan target 98%, tingkat Non-Good (NG) sering mencapai 6% hingga 8% dibandingkan batas 3%, dan pendapatan per karyawan menurun dari Rp11,5 juta menjadi antara Rp5,7 juta hingga Rp9 juta per bulan. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa kinerja karyawan tidak hanya dipengaruhi oleh faktor teknis, tetapi juga oleh bagaimana komunikasi internal dan kepemimpinan inklusif diterapkan di area produksi. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif untuk menganalisis kondisi organisasional di balik kesenjangan kinerja tersebut. Data dikumpulkan dari 14 informan, yang terdiri dari Department Heads, Section Heads, Line Leaders, dan Operators, melalui wawancara semi-terstruktur, observasi kerja, dan dokumen internal perusahaan. Data dianalisis menggunakan analisis tematik dan triangulasi metodologis. Hasil penelitian menunjukkan tiga isu utama: pemahaman operasional yang belum merata, praktik kepemimpinan inklusif yang belum konsisten, serta kesenjangan kapabilitas tenaga kerja dalam manajemen kinerja karyawan. Akar masalah yang disempurnakan adalah belum adanya sistem pelaksanaan people-performance yang terintegrasi. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan tiga pilar yang saling terhubung: verifikasi komunikasi, pengembangan dan pengakuan kepemimpinan inklusif, serta pengembangan kapabilitas dan kesesuaian peran tenaga kerja, yang diterapkan melalui pendekatan bertahap berbasis pilot.
PERANCANGAN TAS MEDIS UNTUK PERAWAT HOME VISIT ATAU HOME CARE
Home Care merupakan pelayanan pelayanan kesehatan profesional yang dilakukan oleh tenaga medis secara langsung di lingkungan domestik atau rumah pasien. Karakteristik kerja ini menuntut perawat untuk bermobilisasi tinggi menggunakan kendaraan beroda dua, sehingga memunculkan kebutuhan akan sarana bawa perlatan medis yang adaptif dan efisien. Namun, tas medis yang tersedia di pasaran belum mencukupi kebutuhan serta mampu mengakomodasi kapasitas, keamanan, dan kemudahan akses peralatan secara optimal. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki tujuan untuk merancang serta mengevaluasi sebuah desain tas medis yang ergonomis guna mendukung efisiensi kerja dan mengurangi beban fisik pada perawat home care yang bermobilitas tinggi. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan pendekatan User-Centered Design (UCD), melalui pendekatan ini penulis melakukannya dengan tahapan wawancara mendalam, studi literatur, simulasi penanganan pada pasien, serta pengujian ketahanan material terhadap lingkungan luar (outdoor). Hasil akhir dari penelitian ini menghasilkan sistem bawa tas medis yang flesibel, menyediakan dua tipe tas utama yaitu backpack dan handbag. Kedua tas tersebut dilengkapi dengan sistem peletakan yang dibagi menjadi tiga zona yaitu zona A, zona B, dan zona C. Pembagian zona ini digunakan sebagai pemisah alat medis berkategori steril dan non-steril berdasarkan tingkat urgensi tindakan,, sekaligus berfungsi menjaga keamanan selama proses bermobilisasi menuju rumah pasien maupun sebaliknya. Sebagai kesimpulan, implementasi dari perancangan tas medis ini terbukti signifikan dapat meningkatkan kenyamanan pengguna secara ergonomi bagi pengguna, menjaga sterilitas alat dari kontaminasi lingkungan, serta mampu untuk memperkuat citra profesional tenaga medis di mata pasien maupun masyarakat luas.
INTERPRETASI CANDI PRAMBANAN PADA KEBAYA JANGGAN KONTEMPORER MENGGUNAKAN PEWARNA ALAM INDIGOFERA DAN BORDIR
Candi Prambanan merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki kekayaan visual berupa relief, ragam hias, dan arca yang berpotensi menjadi sumber inspirasi dalam perancangan busana. Penelitian ini bertujuan menginterpretasikan elemen visual Candi Prambanan ke dalam kebaya janggan kontemporer melalui penerapan prinsip mode berkelanjutan menggunakan pewarna alam Indigofera tinctoria dan teknik bordir. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif melalui studi literatur, observasi, wawancara, eksplorasi material, dan proses perancangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen visual Candi Prambanan, seperti Kalpataru, Kinara-Kinari, bunga lotus, sulur, motif geometris, dan arca, dapat diadaptasi menjadi motif bordir pada kebaya janggan kontemporer. Eksplorasi pewarna alam Indigofera tinctoria menghasilkan variasi warna biru yang mendukung praktik mode berkelanjutan. Penelitian ini menghasilkan empat karya kebaya janggan kontemporer yang memadukan nilai budaya, inovasi desain, dan keberlanjutan.
SISTEM MONITORING REAL-TIME BERBASIS IOT UNTUK INTERNAL COMBUSTION ENGINE GENERATOR MENGGUNAKAN ARSITEKTUR MULTI-MIKROKONTROLER
Tugas akhir ini menyajikan desain dan implementasi sistem monitoring real-time berbasis Internet of Things (IoT) untuk generator Internal Combustion Engine (ICE) yang memanfaatkan arsitektur multi-mikrokontroler. Sistem ini mengintegrasikan Engine Control Unit (ECU) Speeduino berbasis Arduino Mega, pengontrol sinkronisasi ESP32, dan node monitoring ESP32 melalui jalur komunikasi UART. Node monitoring bertugas menerima data operasional mesin, kelistrikan, dan parameter sinkronisasi, kemudian memvalidasi dan diagregasi menjadi rekaman data per satu detik. Pemantauan sistem terbagi menjadi jalur lokal yang menggunakan antarmuka TFT/LCD dan cadangan data offline pada SD card, serta jalur jarak jauh (remote) yang mengirimkan data telemetri ke peladen menggunakan protokol MQTT. Pemrosesan jarak jauh diimplementasikan menggunakan broker MQTT, backend worker, database NoSQL MongoDB, dan dashboard web. Evaluasi eksperimental menunjukkan bahwa sistem mampu beroperasi dengan interval frame UART rata-rata sebesar 205,22 ms dan tingkat keberhasilan transmisi 100%. Waktu tunda (latency) end-to-end yang diukur dari pengiriman data hingga tampil pada dashboard web mencapai rata-rata 1255 ms, yang dinilai sangat memadai untuk aplikasi pemantauan jarak jauh. Spesifikasi manajemen data juga terpenuhi dengan baik; estimasi kebutuhan kapasitas penyimpanan SD card selama 7 hari adalah 100 MB (dari target maksimum <344 MB), sedangkan estimasi kebutuhan penyimpanan dokumen MongoDB selama 10 tahun mencapai 138 GB (dari target maksimum <180 GB). Hasil ini menunjukkan bahwa arsitektur yang diusulkan secara efektif mendukung visualisasi onsite, pencadangan data offline, pemantauan jarak jauh, serta manajemen data historis secara efisien.
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM PANDUAN RITME NAPAS DAN ANTARMUKA LAYAR PADA PERANGKAT WEARABLE BERBASIS LOCOMOTOR-RESPIRATORY COUPLING (LRC)
Pelari amatir kerap mengalami kesulitan menyinkronkan ritme pernapasan dengan kadens langkah kaki secara mandiri; survei terhadap 66 pelari menunjukkan bahwa 74,2% di antaranya gagal mempertahankan pola Locomotor-Respiratory Coupling (LRC) tanpa bantuan eksternal, akibat tingginya beban kognitif untuk menghitung langkah dan mengatur napas secara bersamaan. Sistem panduan yang telah ada umumnya bersifat reaktif dan bergantung pada smartphone, sehingga instruksi yang diberikan terlambat akibat latensi transmisi Bluetooth A2DP yang berkisar 150–170 ms. Tugas Akhir ini merancang dan mengimplementasikan tiga subsistem pada purwarupa wearable berbasis ESP32: Subsistem Panduan Ritme yang membangkitkan sinyal audio secara pre-emptive menggunakan mesin penjadwalan prediktif (filter Simple Moving Average N=5 dan kompensasi latensi -170 ms), Subsistem Antarmuka Tampilan berbasis layar OLED yang dikendalikan Finite State Machine delapan-tahapan, serta arsitektur inti mikrokontroler dengan skema single-boot dualradio yang memisahkan operasi Bluetooth Classic (A2DP) dan Bluetooth Low Energy (BLE) melalui NVS untuk mengatasi konflik alokasi memori heap. Pengujian osiloskop pada kecepatan lari 120–200 SPM menunjukkan deviasi waktu pemicuan konstan pada -174,25 ms (pola 3:2) dan -174,80 ms (pola 2:1), masih di dalam toleransi ±30 ms. Uji ketahanan penyimpanan biner berkerapatan 6-byte pada LittleFS berhasil menampung 200.000 kejadian langkah (10 sesi) hanya dalam 1,14 MB dari kapasitas 1,96 MB tanpa kehilangan data. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh spesifikasi teknis sistem tercapai, membuktikan kelayakan arsitektur perangkat tertanam non-blocking berbasis dual-core FreeRTOS untuk aplikasi panduan pernapasan lari secara real-time.
IMPLEMENTASI MASK HOLDER, WAFER CHUCK, DAN MEKANISME ROTASI UNTUK MASK ALIGNER
Proses fotolitografi dalam manufaktur semikonduktor merupakan salah satu tahapan fundamental yang menentukan kualitas dan akurasi pembentukan pola pada permukaan substrat. Proses ini membutuhkan sistem alignment dengan tingkat presisi tinggi untuk memastikan posisi relatif antara mask dan wafer tetap sesuai selama proses eksposur berlangsung. Kesalahan kecil dalam penyelarasan dapat menyebabkan terjadinya pergeseran pola (overlay error) yang berdampak langsung terhadap kualitas perangkat mikroelektronika yang dihasilkan. Pada sistem mask aligner komersial, kebutuhan terhadap akurasi dan stabilitas mekanis umumnya dipenuhi menggunakan mekanisme presisi tinggi dengan biaya investasi yang besar. Oleh karena itu, pengembangan sistem alignment manual yang ekonomis namun tetap memiliki performa mekanis yang baik menjadi tantangan penting, khususnya untuk kebutuhan laboratorium pendidikan dan penelitian. Tugas akhir ini membahas perancangan, implementasi, dan evaluasi empiris terhadap sistem vacuum clamping dan kinematic positioning yang terintegrasi pada sebuah prototipe mask aligner manual. Penelitian ini berfokus pada pengembangan subsistem mekanik yang berperan langsung dalam mempertahankan posisi mask berdimensi 7,5 x 7,5 cm dengan ketebalan 2 mm serta wafer silikon berukuran 2x2 cm selama proses alignment. Subsistem yang dikembangkan mencakup mask holder, wafer chuck, serta mekanisme rotasi pada stage wafer chuck yang digunakan untuk melakukan penyesuaian orientasi sudut secara presisi. Perancangan dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan utama proses fotolitografi, yaitu kestabilan posisi, pengurangan kemungkinan pergeseran lateral, serta kemampuan melakukan koreksi orientasi dengan resolusi tinggi. Sistem fiksasi substrat menggunakan pendekatan dual vacuum clamping dengan jalur vakum terpisah untuk mask holder dan wafer chuck. Konsep ini dirancang untuk menghasilkan distribusi gaya penahanan yang lebih merata sehingga mask dan wafer dapat terkunci secara stabil terhadap permukaan dudukan. Gaya akibat tekanan negatif yang dihasilkan oleh sistem vakum berfungsi untuk mencegah perpindahan mekanis akibat gangguan eksternal maupun gaya selama proses pengoperasian. Selain itu, desain sistem juga mempertimbangkan aspek sealing, kompatibilitas material, serta minimisasi kebocoran udara agar tekanan vakum dapat dipertahankan secara konsisten. Berdasarkan hasil pengujian eksperimental, ii sistem vacuum clamping mampu mempertahankan tekanan operasional negatif pada rentang -10 hingga -12 cmHg dengan hasil yang cukup stabil terhadap posisi substrat. Selain itu, sistem juga memiliki planaritas dengan deviasi yang kecil sebesar 0.05°. Hasil tersebut menunjukkan bahwa mekanisme fiksasi yang dirancang mampu memberikan kestabilan yang memadai untuk aplikasi alignment skala laboratorium. Selain sistem vakum, kegiatan ini juga mengembangkan mekanisme kinematic positioning untuk pengaturan orientasi sudut antara mask dan wafer. Mekanisme rotasi dirancang menggunakan prinsip konversi gerak linear menjadi gerak rotasi melalui elemen mekanik yang memiliki hubungan kinematik. Pendekatan tersebut memungkinkan proses penyetelan sudut dilakukan secara lebih presisi dibandingkan mekanisme rotasi lainnya yang lebih kompleks dalam beberapa aspek. Sistem ini juga dilengkapi dengan metode pengurangan backlash untuk meningkatkan kestabilan posisi akhir dan menjaga konsistensi hasil penyelarasan. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa mekanisme rotasi yang dikembangkan mampu mencapai akurasi posisi sudut hingga 0.011589°, sehingga memenuhi kebutuhan penyesuaian orientasi pada proses alignment manual. Integrasi antara sistem vacuum clamping dan kinematic positioning menghasilkan sebuah platform alignment yang memiliki kestabilan mekanis tinggi dengan desain yang relatif sederhana dan ekonomis. Sistem yang dikembangkan mampu memberikan solusi alternatif terhadap kebutuhan mask aligner skala laboratorium dengan tetap mempertahankan prinsip rekayasa presisi. Hasil pelaksanaan tugas akhir menunjukkan bahwa kombinasi kedua mekanisme tersebut sudah cukup fungsional dalam meningkatkan keamanan fiksasi substrat serta meningkatkan kemampuan penyelarasan sudut secara akurat. Dengan demikian, prototipe yang dikembangkan dapat menjadi dasar pengembangan perangkat fotolitografi berbiaya rendah untuk mendukung kegiatan penelitian, pendidikan, dan eksperimen awal dalam bidang teknologi semikonduktor.
MODIFIKASI PELAPISAN PERMUKAAN POLYACRILIC ACID (PAA) PADA KATODE LINI0,9MN0,05AL0,05O2 (NMA) UNTUK MENINGKATKAN KETAHANAN STABILITAS TERHADAP KELEMBAPAN DALAM APLIKASI BATERAI ION LITIUM
Katode bebas kobalt berbasis LiNixMnyAlzO2 (NMA) merupakan kandidat material yang menjanjikan karena memiliki densitas energi tinggi dan biaya produksi yang lebih rendah dibandingkan katode berbasis kobalt. Namun, kandungan nikel yang tinggi menyebabkan material rentan mengalami degradasi, akibat paparan kelembapan udara yang memicu pembentukan residual lithium compounds (RLCs), seperti LiOH dan Li?CO?. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan meningkatkan stabilitas penyimpanan katode NMA melalui pelapisan permukaan menggunakan 2 wt% Polyacrylic acid (PAA). Material NMA-pristine disintesis melalui metode kopresipitasi dan kalsinasi, kemudian dilapisi PAA untuk menghasilkan NMA-PAA. Karakterisasi dilakukan menggunakan X-Ray Diffraction (XRD) dan Rietveld refinement, Scanning Electron Microscope (SEM), Fourier-transform infrared spectroscopy (FTIR), Electrochemical Impedance Spectroscopy (EIS), dan pengujian Charge-Discharge (CDC). Stabilitas penyimpanan dievaluasi setelah material disimpan pada kelembapan relatif sekitar 80% selama 3 dan 7 hari. Hasil XRD menunjukkan bahwa NMA-pristine dan NMA-PAA memiliki struktur heksagonal berlapis ?-NaFeO? dengan grup ruang R3?m, ditandai oleh peak splitting yang jelas pada bidang (006)/(102) dan (108)/(110). Kedua material memiliki rasio c/a > 4,9, rasio intensitas I(003)/I(104) > 1,2, serta nilai R-factor masing-masing sebesar 0,399 dan 0,420, yang mengindikasikan struktur berlapis yang stabil dengan tingkat pencampuran kation Ni²?/Li? yang rendah. Selanjutnya, pengamatan SEM menunjukkan bahwa kedua material tersusun atas partikel submikron berbentuk spiral, dan pelapisan PAA tidak mengubah morfologi awal material. Namun, setelah penyimpanan 3 dan 7 hari, permukaan NMA-pristine menjadi semakin kasar, sedangkan NMA-PAA tetap mempertahankan morfologi awalnya. Temuan tersebut didukung oleh hasil FTIR yang menunjukkan pita serapan karbonat pada 865, 1438, dan 1496 cm?¹, dengan intensitas yang lebih rendah pada NMA-PAA setelah penyimpanan 7 hari, sehingga mengindikasikan pembentukan Li?CO? yang lebih sedikit. Sejalan dengan hasil tersebut, pengujian EIS menunjukkan bahwa nilai resistansi transfer muatan (Rct) awal NMA-PAA sebesar 44,7 ?, lebih rendah dibandingkan NMA-pristine sebesar 106,4 ?. Setelah penyimpanan 3 hari, nilai Rct iii meningkat menjadi 74,6 ? pada NMA-PAA dan 120,4 ? pada NMA-pristine, kemudian mencapai 120,4 ? dan 151,2 ? setelah 7 hari penyimpanan. Adapaun hasil elektrokimia, kapasitas pengisian spesifik awal NMA-pristine dan NMA-PAA masing-masing sebesar 275,85 dan 191,89 mAh g?¹, sedangkan kapasitas pengosongan spesifik awalnya sebesar 209,90 dan 177,76 mAh g?¹. Meskipun kapasitas awal NMA-pristine lebih tinggi, efisiensi Coulombic awalnya hanya 76,1%, lebih rendah dibandingkan NMA-PAA yang mencapai 92,6%. Selain itu, kurva dQ/dV menunjukkan bahwa pelapisan PAA tidak mengubah mekanisme interkalasi/deinterkalasi ion Li?. Pada pengujian kemampuan laju, NMA-PAA menghasilkan kapasitas yang lebih tinggi pada 5C, yaitu 111,8 mAh g?¹ dibandingkan NMA-pristine sebesar 106,8 mAh g?¹, serta menunjukkan retensi kapasitas yang lebih baik setelah 100 siklus, yaitu 66,17% dibandingkan 61,2%. Setelah penyimpanan, NMA-pristine mengalami penurunan kapasitas pengosongan spesifik awal dari 209,90 mAh g?¹ menjadi 99,47 mAh g?¹ (?52,6%) setelah 3 hari dan 53,65 mAh g?¹ (?74,4%) setelah 7 hari, disertai penurunan efisiensi Coulomb awal dari 76,1% menjadi 68,6% dan 27,3%. Sebaliknya, NMA-PAA menunjukkan penurunan yang lebih kecil, yaitu dari 177,76 mAh g?¹ menjadi 138,76 mAh g?¹ (?21,9%) setelah 3 hari dan 86,95 mAh g?¹ (?51,1%) setelah 7 hari, dengan efisiensi Coulombic awal yang tetap lebih tinggi, yaitu 72,6% dan 60,3%. Pengujian siklus pada laju 0,5C dalam rentang tegangan 2,75–4,3 V juga menunjukkan bahwa NMA-PAA mempertahankan kapasitas pelepasan yang lebih tinggi dibandingkan NMA-pristine setelah penyimpanan. Dengan demikian, pelapisan permukaan menggunakan PAA terbukti efektif dalam mengurangi pembentukan pengotor permukaan, menekan peningkatan hambatan transfer muatan, serta meningkatkan stabilitas struktur dan ketahanan penyimpanan katode NMA pada kondisi kelembapan tinggi.
PENGEMBANGAN SISTEM REKOMENDASI FILM BERBASIS PERSONALIZED PAGERANK DENGAN CONSTRAINT OPTIMIZATION PROBLEM UNTUK OPTIMASI DIVERSITY DAN SERENDIPITY
Sistem rekomendasi film berbasis collaborative filtering dan content-based filtering memiliki keterbatasan dalam menghasilkan rekomendasi yang beragam (diversity) dan mengandung unsur kejutan (serendipity). Penelitian ini mengusulkan sistem rekomendasi dua lapis yang mengintegrasikan Personalized PageRank (PPR) pada graf heterogen dengan n tipe simpul sebagai pembangkit kandidat, yang dalam implementasi ini n = 6, dengan Constraint Optimization Problem (COP) sebagai pengoptimasi diversity dan serendipity. Graf dibangun dari dataset MovieLens 25M yang diintegrasikan dengan metadata TMDb. PPR dihitung menggunakan power iteration pada GPU untuk menghasilkan 200 kandidat per pengguna, kemudian COP memilih sepuluh rekomendasi final melalui tiga fase: Greedy Construction, Local Search, dan Maximum Marginal Relevance. Evaluasi pada 137.436 pengguna terjangkau menunjukkan bahwa COP berhasil meningkatkan Intra-List Distance (ILD@10) sebagai ukuran diversity konten antarfilm dalam satu daftar rekomendasi dari 0,7788 menjadi 0,9096 (+16,8%) dan Cakupan Katalog dari 1,61% menjadi 2,40% (+49,1%). Untuk aspek serendipity, persentase item long-tail meningkat 66,7% meskipun skor serendipity kuantitatif mengalami penurunan kecil akibat dominasi bobot relevansi. Normalized Discounted Cumulative Gain (NDCG@10) sebagai ukuran akurasi peringkat rekomendasi mengalami penurunan dari 0,1038 menjadi 0,0659, sesuai dengan accuracy-diversity dilemma yang diakui literatur.
PENGEMBANGAN SISTEM REKOMENDASI FILM BERBASIS PERSONALIZED PAGERANK DENGAN CONSTRAINT OPTIMIZATION PROBLEM UNTUK OPTIMASI DIVERSITY DAN SERENDIPITY
Sistem rekomendasi film berbasis collaborative filtering dan content-based filtering memiliki keterbatasan dalam menghasilkan rekomendasi yang beragam (diversity) dan mengandung unsur kejutan (serendipity). Penelitian ini mengusulkan sistem rekomendasi dua lapis yang mengintegrasikan Personalized PageRank (PPR) pada graf heterogen dengan n tipe simpul sebagai pembangkit kandidat, yang dalam implementasi ini n = 6, dengan Constraint Optimization Problem (COP) sebagai pengoptimasi diversity dan serendipity. Graf dibangun dari dataset MovieLens 25M yang diintegrasikan dengan metadata TMDb. PPR dihitung menggunakan power iteration pada GPU untuk menghasilkan 200 kandidat per pengguna, kemudian COP memilih sepuluh rekomendasi final melalui tiga fase: Greedy Construction, Local Search, dan Maximum Marginal Relevance. Evaluasi pada 137.436 pengguna terjangkau menunjukkan bahwa COP berhasil meningkatkan Intra-List Distance (ILD@10) sebagai ukuran diversity konten antarfilm dalam satu daftar rekomendasi dari 0,7788 menjadi 0,9096 (+16,8%) dan Cakupan Katalog dari 1,61% menjadi 2,40% (+49,1%). Untuk aspek serendipity, persentase item long-tail meningkat 66,7% meskipun skor serendipity kuantitatif mengalami penurunan kecil akibat dominasi bobot relevansi. Normalized Discounted Cumulative Gain (NDCG@10) sebagai ukuran akurasi peringkat rekomendasi mengalami penurunan dari 0,1038 menjadi 0,0659, sesuai dengan accuracy-diversity dilemma yang diakui literatur.
STUDI TEKNO-EKONOMI PEMANFAATAN POTENSI ENERGI SURYA MELALUI PLTS TERAPUNG DI DANAU LUT TAWAR YANG DIINTEGRASIKAN DENGAN PLTA PEUSANGAN 1 DAN 2 SERTA SISTEM PENYIMPANAN ENERGI BATERAI (BESS)
Danau Lut Tawar di Kabupaten Aceh Tengah memiliki nilai Global Horizontal Irradiance (GHI) tahunan sebesar 1.761,1 kWh/m² sehingga dipilih sebagai lokasi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung pada penelitian ini. Penelitian ini bertujuan menganalisis aspek teknis dan keekonomian integrasi PLTS Terapung dengan PLTA Peusangan 1 dan 2 serta Battery Energy Storage System (BESS) pada sistem kelistrikan Aceh. Metode penelitian dilakukan menggunakan perangkat lunak PVsyst untuk menentukan kapasitas desain dan produksi energi PLTS Terapung, HOMER Pro untuk menganalisis kinerja operasi sistem, keekonomian, emisi CO2, dan analisis sensitivitas, serta DIgSILENT PowerFactory untuk menganalisis load flow, quasi dynamic, dan simulasi Root Mean Square (RMS). Hasil simulasi PVsyst menunjukkan bahwa PLTS Terapung memiliki kapasitas desain sebesar 120 MWp yang terdiri atas 166.752 modul PV dan 32 unit inverter dengan kapasitas sisi AC sebesar 105,6 MWac. Sistem tersebut menghasilkan energi listrik sebesar 164,663 GWh/tahun dengan Performance Ratio sebesar 78,1%. Hasil simulasi HOMER Pro menunjukkan bahwa integrasi PLTS Terapung meningkatkan renewable fraction sistem kelistrikan Aceh dari 8,8% pada kondisi eksisting menjadi 13,2% pada Skenario 1 (S1) dan 13,1% pada Skenario 2 (S2) tanpa unmet electric load maupun capacity shortage. Skenario 1 memberikan kinerja ekonomi terbaik di antara skenario yang dianalisis dengan Net Present Cost (NPC) sebesar Rp60,290 triliun, Levelized Cost of Energy (LCOE) sebesar Rp1.397,44/kWh, Return on Investment (ROI) sebesar 11%, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 13%, dan Simple Payback Period (SPP) selama 8,3 tahun. Integrasi PLTA Peusangan 1 dan 2, PLTS Terapung, dan BESS menurunkan emisi CO2 sistem kelistrikan Aceh dari 4,716 juta ton/tahun pada Skenario 0 (S0) menjadi 4,221 juta ton/tahun pada Skenario 0’ (S0’), kemudian menjadi 3,972 juta ton/tahun pada Skenario 1 (S1) dan 3,977 juta ton/tahun pada Skenario 2 (S2). ii Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa capital cost PLTS Terapung merupakan parameter yang paling berpengaruh terhadap perubahan nilai Levelized Cost of Energy (LCOE) dan Internal Rate of Return (IRR) pada Skenario 1 (S1) dan Skenario 2 (S2). Sementara itu, perubahan parameter biaya operasi dan pemeliharaan maupun komponen biaya BESS memberikan pengaruh yang lebih kecil terhadap perubahan indikator keekonomian sistem. Hasil analisis menggunakan DIgSILENT PowerFactory menunjukkan bahwa profil tegangan pada busbar GI Takengon dan GI Peusangan berada dalam batas operasi yang diizinkan berdasarkan hasil analisis load flow. Simulasi quasi dynamic menunjukkan bahwa PLTS Terapung menghasilkan daya maksimum sebesar 100,6 MW. Pada simulasi RMS kehilangan daya PLTS Terapung secara instan, frekuensi sistem turun hingga sekitar 49,86 Hz sebelum kembali mendekati frekuensi nominal 50 Hz dengan osilasi teredam. Pada simulasi RMS perubahan keluaran PLTS Terapung secara bertahap (ramp down dan ramp up) secara berulang dengan durasi 30 detik pada setiap siklus perubahan daya, frekuensi sistem berada pada kisaran 49,91–50,05 Hz, sedangkan tegangan sistem tetap berada dalam batas operasi yang diizinkan. Berdasarkan hasil evaluasi teknis dan ekonomi, Skenario 1 (S1) memberikan kinerja terbaik di antara skenario yang dianalisis.
KUANTIFIKASI PENGARUH KEPADATAN SPIKELET TERHADAP KEMUNCULAN IMAGO DAN REPRODUKSI ELAEIDOBIUS KAMERUNICUS PADA PEMELIHARAAN EX SITU
Elaeidobius kamerunicus merupakan penyerbuk utama kelapa sawit yang berperan penting dalam meningkatkan fruit set dan produktivitas. Pembiakan massal secara ex situ memerlukan optimasi sistem pemeliharaan, termasuk penentuan kepadatan spikelet sebagai media. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh kepadatan spikelet terhadap deteriorasi media, dinamika kemunculan imago, sex ratio, dan survival rate kumbang dalam kondisi laboratorium. Penelitian dilakukan menggunakan enam tingkat kepadatan spikelet (1, 2, 4, 6, 8, dan 10 per unit) dengan lima ulangan selama 21 hari. Analisis data menggunakan ANOVA, uji Kruskal-Wallis, dan korelasi Spearman. Kondisi mikroklimat berada pada suhu 24,4–30,2°C dan kelembapan 68–75%, sesuai dengan kebutuhan habitat E. kamerunicus. Hasil menunjukkan bahwa waktu pengamatan berpengaruh sangat signifikan terhadap kemunculan imago (p < 0,001), dengan puncak pada hari ke-12 hingga ke-15, sesuai siklus hidup (8–20 hari). Sebaliknya, kepadatan spikelet tidak berpengaruh signifikan terhadap kemunculan imago maupun sex ratio. Sex ratio berkorelasi negatif kuat terhadap waktu (? = ?0,805; p < 0,001), dengan dominansi betina di awal dan jantan di akhir. Survival rate mencapai 100% hingga hari ke-12, dengan nilai tertinggi pada kepadatan 6 spikelet di hari ke-15 (93,1%), kemudian menurun seiring deteriorasi media. Pada analisis destruksi spikelet, kepadatan berpengaruh signifikan terhadap jumlah pupa dan imago akhir, dengan kisaran optimal 4–8 spikelet, meskipun terdapat kecenderungan penurunan survival rate. Hasil ini berpotensi memberikan dasar ilmiah dalam optimasi sistem pemeliharaan massal E. kamerunicus secara ex situ untuk mendukung keberlanjutan penyerbukan kelapa sawit.